Ujian Nasional 004

Ujian Nasional

  Bab 1 Pendahuluan

  1.1.1 Latar Belakang Ujian Nasional biasa disingkat UN / UNAS adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdiknas di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan. Penentuan standar yang terus meningkat diharapkan akan mendorong peningkatan mutu pendidikan, yang dimaksud dengan penentuan standar pendidikan adalah penentuan nilai batas (cut off score). Seseorang dikatakan sudah lulus/kompeten bila telah melewati nilai batas tersebut berupa nilai batas antara peserta didik yang sudah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta didik yang belum menguasai kompetensi tertentu. Bila itu terjadi pada ujian nasional atau sekolah maka nilai batas berfungsi untuk memisahkan antara peserta didik yang lulus dan tidak lulus disebut batas kelulusan, kegiatan penentuan batas kelulusan disebut standard. Berdasarkan dengan adanya berbagai masalah yang ditimbulkan oleh adanya ujian nasional seperti halnya pelaksanaan UN tingkat SMA sederajat Tahun 2012/2013 di 11 provinsi bergeser dari jadwal semula pada 15 April 2013 menjadi 19 April 2013 dengan alasan pengepakan naskah soal di percetakan mengalami kendala teknis dan pendistribusian ke daerah-daerah yang terlambat. Yang dikhawatirkan, pergeseran jadwal ujian tersebut menimbulkan kebocoran soal, Selain itu rasanya pemerintah harus lebih sering berevaluasi dari banyak kasus setelah UN lihat saja berapa banyak korban UN yang berjatuhan karena merasa frustasi atas kegagalan padahal mereka adalah aset negara, Human Resouces!!! generasi penerus bangsa, siapa lagi kalau bukan mereka yang akan melanjutkan estafeta perjuangan para pejuang. Selain menggangu psikolog siswa itu sendiri, unas menurut kami sangat memboroskan anggaran, bayangkan setelah selesai dilaksanakannya unas, ribuan kertas terbuang sia-sia, dan akomodasi lainnya, tetapi kalau bisa dimanfaatkan “si ngk pha pha”, tetapi bayangkan anggaran untuk unas tahun 2010 saja mencapai 500 milliar lebih. Itu lah beberapa masalah yang disebabkan oleh ujian nasional, masalah itulah yang mengakibatkan kami ingin mencari tahu sebenarnya seberapa banyak manfaat ujian nasional dibanding mudaratnya.

  1.1.2 Rumusan Masalah

  1. Dampak positif dari adanya ujian nasional

  2. Dampak negatif ujian nasional

  3. Solusi dari masalah-masalah ujian nasional

  Bab 2 Permasalahan

  2.1.1 Dampak positif ujian nasional : Dilihat dari asumsi pemerintah, pemerintah mengklaim bahwa dengan sistem UN seperti saat ini para siswa menjadi lebih rajin belajar.

  Dilihat dari Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, terutama pasal 57, 58 dan 59 sebagai upaya peningkatan kualitas hasil pendidikan yang makin merata di seluruh Indonesia adalah melalui UN. UN juga dimaksudkan untuk mengidentifikasikan potensi pendidikan di tiap daerah di seluruh Indonesia. Hal ini sangat penting karena kualitas hasil pendidikan dewasa ini di seluruh daerah di Indonesia terutama di luar Jawa dan Bali masih belum sejajar bukan hanya kualitas peserta didiknya, tetapi juga kualitas gurunya, perpustakaannya, laboratoriumnya, dan sarana prasarana lainnya.

  Dilihat dari siswa siswa akan semangat untuk belajar. siswa akan mulai bersaing dengan murid yang lain untuk mendapatkan nilai ujian nasional yang lebih tinggi. Mengapa demikian? Karena, nilai ujian nasional menentukan apakah kita bisa masuk perguruan tinggi ini atau perguruan tinggi itu. Ujian nasional bisa menjadi peningkat mutu siswa dalam proses pembelajaran untuk menjadi SDM yang bermutu, mungkin dalam proses pembelajaran siswa tidak serius, tetapi setelah mendengar kata ujian nasional siswa akan serius belajar apalagi UN sebagai penentu memasuki perguruan tinggi favorite. Ujian nasional juga bisa sebagai indikator pengukur untuk siswa sudah sampai manakah siswa sudah belajar serius untuk menghadapi masa depan mereka.

  Dengan nilai hasil ujian nasional mereka bisa mengetahuia apakah merekan sudah maksimal atau belum Siswa diajarkan untuk tidak curang, seperti menyontek karena pengawasan yang ketat dan pengawasnya pun bukan dari guru asal sekolah mereka. Menjadikan siswa untuk tidak bergantung pada guru. Dengan begitu murid akan mencari bimbel untuk persiapan UN karena merasa di sekolah belum terlalu mengerti. Dengan adanya UN, akan menciptakan generasi-generasi bangsa kita yang berkompeten. UN telah menyumbang kontribusi dalam rangka penyamaan mutu pendidikan terhadapa dunia internasional. Peraturan dan pelaksanaan UN dapat memacu daya kreativitas dan cara berfikir murid sehingga menjadi generasi yang kreatif.

  2.1.2 Dampak negatif ujian nasional : siswa harus menyiapkan tenaga ekstra untuk mengikuti les atau bimbingan belajar. Sisi negatifnya yang lainnya adalah, siswa kehilangan waktu untuk bermain. Bermain itu penting, namun kita harus tau kapan kita harus berhenti bermain dan belajar itu. Ujian nasional juga dapat membuat siswa tertekan, mengapa? Mungkin karena siswa tersebut belum siap untuk menghadapi ujian nasional. Namun, setiap siswa harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi ujian nasional.

  2. Guru hanya akan mengajarkan beberapa topik dan atau kompetensi yang (berdasarkan panduan SKL) diprediksi bakal keluar dalam UN, dan kemudian cendrung mengabaikan kompetensi lainnya yang diperkirakan tak akan diujikan dalam UN, walaupun sangat mungkin kompetensi itu sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari pasca anak didik keluar dari ruangan ujian. Dalam pengajaran Bahasa Inggris misalnya, hampir bisa dipastikan bahwa guru hanya akan lebih fokus mengajarkan dua skill saja (listening dan reading) menjelang UN, karena dua skill inilah yang diuji dalam UN. Dengan demikian para guru bahasa Inggris cendrung mengabaikan pengembangan skill yang lain, seperti speaking dan writing, walaupun sangat jelas bahwa kemampuan berkomunikasi lisan dan juga tulisan adalah skill yang sangat penting dan diperlukan dalam dunia yang sebenarnya setelah siswa tamat sekolah.

  UN juga berpotensi menyempitkan kurikulum sekolah (curriculum narrowing) dan mendegradasi arti penting mata pelajaran tertentu, karena UN selama ini hanya menguji tiga mata pelajaran (dan sekarang ditambah menjadi enam). Walaupun mata ujian UN telah ditambah menjadi enam, tetap saja kesan bahwa pemerintah mengabaikan mata pelajaran lainnya tak terselesaikan. Pemilihan beberapa mata merefleksikan bahwa mata pelajana non UN adalah ‘kurang penting’. Padahal seseorang anak didik tidak bisa hidup hanya dengan beberapa mata pelajaran yang diUN kan saja.

  4. UN telah membuat para siswa, guru, dan orangtua merasa tertekan, dan stress. Rasa tertekan di kalangan siswa dan guru itu biasanya lebih parah terjadi di sekolah yang lokasinya jauh dari ‘pusat peradaban’ (baca: daerah terpencil). Hal ini mudah dipahami karena disparitas kualitas pengajaran antara sekolah di daerah urban (perkotaan) dengan dengan daerah rural (perkampungan) masih menjadi problema dunia pendidikan kita yang sampai hari ini belum terselesaikan. Maka, ketika standar kelulusan UN menuntut sama untuk semua siswa, tanpa mempertimbangkan objektifitas kualitas pengajaran di sekolah mereka, maka jelas para siswa, guru, dan juga orangtua di daerah terpencil akan merasa tertekan, stress, takut, dan bahkan putus asa perihal kelulusan mereka pada UN. Dan akhirnya memicu mereka untuk mencari jalan pintas.

  5. UN merupakan standar yang ditetapkan pemerintah untuk menentukan siswa berhak lulus atau tidak. Dengan adanya UN, pemerintah akan mengetahui tingkat pendidikan yang telah siswa jalani selama di sekolah. Akan tetapi, tingkat pendidikan setiap daerah di Indonesia tidaklah sama. Masih banyak daerah dengan tenaga pengajar yang tidak sesuai dengan jumlah yang diharapkan. Lalu ketka standar yang sama diiringi dengan tidak samanya pengetahuan yang diterima antar daerah, apakah hal itu dikatakan adil ?

  2.1.3 Manfaat Ujian nasional Dilihat dari kepentingan hasil ujian nasional Penetapan mutu satuan dan atau program pendidikan di seluruh Indonesia, Seleksi masuk jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau berikutnya, Pertimbangan penentuan kelulusan peserta didik dari satuan dan atau program pendidikan, Pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan dan atau program pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan untuk mencapai tingkat kelulusan tertentu, dan Perbaikan sarana dan prasarana untuk guru, laboratorium, perpustakaan, tenaga kependidikan dan keperluan sekolah lainnya.

  2.1.4 Solusi yang akan dicapai untuk penyelesaian masalah ujian nasional

  Keputusan meniadakan UN merupakan suatu kebijakan yang sangat berat. Pemerintah harus memikirkaan dampak-dampak buruk yang akan terjadi. Salah satunya, pemerintah tidak memiliki standar untuk menentukan apakah siswa tersebut telah berhak lulus dari jenjang pendidikan yang sedang dijalani. Maka dari itu, wacana untuk penghapusan UN bukanlah solusi yang terbaik. Hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengevaluasi pelaksanaan ujian nasional, bukan menghapusnya. Penghapusan UN hanya akan membuat sistem pendidikan di Indonesia semakin kacau. Ketika UN ditiadakan, pemerintah akan sulit menentukan seorang siswa telah berhak lulus atau tidak. Maka dari itu, solusi terbaik adalah memperbaiki permasalahan teknis pelaksanaan serta pemerataan kualitas pendidikan di setiap daerah, terutama daerah-daerah terpencil di Indonesia.

  Dengan demikian , UN tidak lagi menjadi “sosok” yang menakutkan bagi siswa yang mengikutinya.

  Bab 3 Kesimpulan Dari permasalahan di atas dapat disimpulkan bahwa ujian nasional memiliki dampak positif maupun negatif yang di mana dampak negatif itu lebih sedikit dari pada dampak positif nya, dan begitu juga dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh salah satu lembaga survei bahwa hanya 40 % mereka tidak setuju dengan ujian nasional dan 60 % mereka yang setuju dengan ujian nasional. Tetapi hal yang terbaik di lakukan adalah pemerintah harus mengevaluasi pelaksanaan ujian nasiona