PERBEDAAN GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DITINJAU DARI PERSEPSI TENTANG GAYA KEPEMIMPINAN OTORITER ATASAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manajer adalah orang yang menjalankan kegiatan manajemen. Dalam
berbagai jenis organisasi, istilah manajer dapat direpresentasikan oleh istilah lain,
seperti presiden, ketua, wakil presiden, wakil ketua, kepala bagian, dan seterusnya.
Beberapa keahlian diperlukan agar para manajer dapat menjalankan fungsi-fungsi
manajernya dengan baik. Keahlian-keahlian tersebut diantaranya adalah keahlian
teknis, keahlian konseptual, keahlian berkomunikasi dan berinteraksi, keahlian dalam
pengambilan keputusan, keahlian dalam pengaturan waktu, keahlian dalam
manajemen global, serta keahlian dalam teknologi.
Menurut tingkatannya manajer dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu top
manager, middle manager dan first line manager / lower manager. Top
manager bertanggung jawab terhadap perusahaan secara keseluruhan. Tugas mereka
adalah menetapkan tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan secara umum, yang
kemudian akan diterjemahkan lebih spesifik oleh manajer di bawahnya. Contoh dari
tugas-tugas top manager adalah membuat kebijakan mengenai rencana perluasan
pasar (expantion), kebijakan mengenai kesejahteraan karyawan dan menetapkan
besarnya penjualan yang dicapai.
Sedangkan middle manager bertugas mengawasi beberapa unit kerja dan
menerapkan rencana sesuai dengan tujuan dan tingkatan yang lebih tinggi.

Selanjutnya mereka melaporkan hasil pekerjaannya kepadaTop manager. Contohnya
adalah kepala klinik suatu rumah sakit, dekan pada suatu universitas, manajer divisi.
Posisi Middle manager berada di antara top manager dan lower manager.
Lower managerMerupakan tingkatan yang paling bawah dalam suatu
organisasi, yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional. Sebutan lain
untuk jabatan ini, antara lain supervisor, kepala departemen, dan mandor (foreman).
Mereka bertanggung jawab atas satu unit kerja dan diharapkan mampu
menyelesaikan tugas dengan tujuan jangka pendek yang sesuai dengan rencana top
manager dan middle manager.

1

2

Meskipun tugas dari setiap tingkatan manajer berbeda-beda, namun manajer
disetiap tingakatan memiliki suatu tugas yang sama namun berbeda kapasitas dan
tingkatan keputusan yang diambil. Pengambilan keputusan merupakan hal penting
dalam sebuah organisasi, karena pengambilan keputusan akan menjadi awal dari
berbagai kegiatan perusahaan atau organisasi. Selain sebagai awal dari berbagai
kegiatan, pengambilan keputusan juga berfungsi sebagai solusi dari permasalahan

yang sedang dihadapi dalam organisasi atau perusahaan.
Penyelesaian masalah dalam kelompok ditentukan oleh sumber daya
manusia yang ada dalam kelompok tersebut. Bukan hanya itu saja, posisi pimpinan
sebagai pembuat keputusan pun sangat menentukan dalam penyelesaian masalah
dalam kelompok. Hayati (2002) mendefinisikan pengambilan keputusan adalah
pemilihan tindakan dari sejumlah alternatif yang ada. Mereka juga memandang
pengambilan keputusan sebagai fungsi dasar kepemimpinan. Karena kepemimpinan
merupakan intisari keseluruhan proses administrasi (Lipham, 1974), maka berarti
bahwa pengambilan keputusan merupakan inti keseluruhan administrasi.
Nawawi dan Hadari (2000) menjelaskan bahwa pengambilan keputusan
merupakan hal yang penting dalam organisasi dan akan mempengaruhi kualitas
organisasi. Pengambilan keputusan

yang akan diwujudkan menjadi kegiatan

kelompok merupakan hak dan kewajiban pucuk pimpinannya. Pengambilan
keputusan yang menjadi wewenang pimpinan dapat dibedakan dalam dua bentuk,
terdiri atas keputusan yang bersifatm apriori dan keputusan apostriori. Keputusan
apriori tidak berlangsung dalam bentuk proses, karena hanya dilakukan dengan
mengulangi kembali keputusan yang pernah ditetapkan dan ternyata tepat atau

berhasil dalam pelaksanaannya. Keputusan yang bersifat apriori ditetapkan juga
dengan mencontoh/meniru keputusan orang lain yang dinilai baik , untuk diwujudkan
menajdi kegiatan dilingkungan suatu kelompok. Keputusan ini juga berbentuk
mengikuti suatu keyakinan sebagai yang paling benar, sehingga dinilai keliru jika
membuat keputusan yang lain atau bertentangan dengan keyakinan itu.
Pengambilan keputusan yang bersifat apostriori oleh seorang pemimpin
selalu merupakan proses, baik yang langsung dalam pikiran maupun dalam kegiatan
operasional pemecahan masalah. Harus diakui bahwa seorang pemimpin setiap saat

3

menghadapi keharusan membuat keputusan, baik besar maupun kecil, penting atau
tidak penting, secara cepat dan tepat, agar segera dapat diwujudkan menjadi
kegiatan. Keputusan-keputusan seperti itu jarang sekali berbentuk tertulis, akan tetapi
proses nya tidaklah berbeda dengan pengambilan keputusan yang dituangkan secara
tertulis. Dalam kegiatan seperti itulah pada seorang pemimpin dituntut memiliki
intelegensi yang memadai atau relatif lebih baik dari anggota kelompok lainnya,
disamping perlu memiliki wawasan yang cukup luas.
Sehubungan dengan risiko yang dapat terjadi dalam pengambilan keputusan,
setiap pemimpin dituntut tanggung jawabnya, dengan tidak mengelak dan mencari

kambing hitam dengan menyalahkan orang lain apabila terjadi kekeliruan atau
kesalahan. Untuk itulah dalam kepemimpinan yang efektif, pengambilan keputusan
tidak sekedar harus cepat, tetapi juga hati-hati dan cermat, agar diperoleh keputusan
yang tepat. Namun setiap pemimpin juga harus berusaha agar kecermatan dan
ketelitian itu tidak mengarah pada kelambanan dan birokrasi (Nawawi dan Hadari,
2000).
Pengambilan keputusan yang keliru oleh pimpinan berpotensi menyebabkan
konflik. Misalnya saat anggota kelompok harus menjalankan dua keputusan yang
bertentangan dari pimpinannya, sehingga timbul ketidakcocokan antara kedua belah
pihak. Pemimpin dalam waktu yang relaitf sama telah memerintahkan dua kegiatan.
Dalam kenyataannya perintah kedua seluruhnya atau sebagian akan menghambat
pelaksanaan perintah yang pertama. Kebimbangan dan ketidakpuasan pasti timbul
pada anggota tersebut (Nawawi dan Hadari, 2000).
Sebagai contoh (Adair, 1992) mengatakan, beberapa tahun yang lalu sebuah
perusahaan mesin memutuskan untuk mengadakan percobaan dengan beberapa
mesin baru dengan kontrol angka didalam ruang alat. Serikat pekerja telah diajak
berunding, dan mereka setuju tanpa berkeberatan tentang tempat percobaan. Namun
tidak ada yang bersusah-susah untuk menyampaikan keputsuan atau alasan untuk itu
kepada tenaga kerja. Ketika pegawai kembali bekerja setelah liburan musim panas,
mereka melihat mesin-mesin tersebut sekilas dan berjalan keluar lagi. Walau

bagaimana kerasnya manajemen dan serikat pekerja memprotes bahwa mesin ada

4

disana hanya sebagai percobaan, tenaga kerja tentu saja percaya bahwa ada sesuatu
yang curang terjadi sebab tidak ada yang memberi mereka peringatan atau
penjelasan.
Untuk menghasilkan keputusan yang efektif seorang pimpinan harus
melalui proses pengambilan keputusan. Saat pemimpin memiliki hak penuh untuk
mengambil keputusan tanpa keikiutsertaan anggotanya ia pun tetap dituntut untuk
melalui semua proses pengambilan keputusan agar menghasilkan keputusan yang
tepat. Bila yang terjadi adalah pemimpin yang berwenang mengambil keputusan
justru tidak melalui proses tersebut karena kepentingan-kepentingan pribadi atau
karena tergesa-gesa dan diburu waktu dalam prosesnya, maka hal ini akan sangat
berpotensi menimbulkan konflik dan ketegangan dalam kelompok.
Para manajer apapun tingakatannya, pasti menggunakan gaya-gaya tertentu
dalam pengambilan keputusan. Gaya-gaya yang dipakai dalam pengambilan
keputusan tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh beberapa faktor.Atmosudirdjo
(1971) mengatakan faktor terpenting dalam pengambilan keputusan adalah faktor
manusia, baik sebagai pemimpin, staffer, pelaksana, maupun pemakai hasil

(langganan, dan sebagainya). Dengan perkataan lain, semakin pelik masalah yang
dihadapi, makin diperlukan manusia yang maju dan modern untuk menanganinya.
Salah satu faktor yang mempengaruhi gaya pengambilan seorang manajer
tengah adalah penilaiannya tentang gaya kepemimpinan otoriter atasannya. Gaya
kepemimpinan merupakan suatu cara yang dipilih seseorang dalam memimpinsuatu
organisasi tertentu. Hal ini sesuai dengan definisi menurut Thoha (2002)
mendefinisikan gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh
seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain
seperti yang ia lihat dalam upaya unutk menselaraskan persepsi diantara orang yang
akan mempengaruhi perilaku

dengan orang lain

yang perilakunya akan

mempengaruhi menjadi amat penting kedudukannya.
Nawawi (2000) menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan memiliki tiga pola
dasar, yang secara terinci dijabarkan lagi menjaid delapan pola. Tiga pola dasar itu
adalah gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan pelaksanaan tugas, gaya


5

kepemimpinan yang berpola mementingkan pelaksanaan hubungan kerja sama dan
gaya kepemimpinan yang berpola mementingkan hasil yang dapat dicapai. Salah satu
gaya kepemimpinan yang dijabarkan dari tiga pola dasar adalah gaya kepemimpinan
otoriter. Tipe kemepimpinan ini merupakan tipe yang paling tua dikenal oleh
manusia. Kepemimpinan ini menempatkan kekuasaan ditangan satu orang atau
sekelompok kecil yang diantara mereka tetap ada seseorang yang paling berkuasa.
Pemimpin bertindak sebagai penguasa tunggal. Orang-orang yang dipimpin, yang
jumlahnya lebih banyak, merupakan pihak yang dikuasai, yang disebut bawahan atau
anak buah. Kedudukan dan tugas anak buah (bawahan) semata-mata sebagai
pelaksana keputusan, perintah dan bahkan kehendak pimpinan.
Djatmiko (2003) mengatakan bahwa pengambilan keputusan seorang
manajer yang otoratik (otoriter) akan bertindak sendiri dan memberitahukan kepada
bawahannya bahwa ia telah mengambil keputusan tertentu dan para bawahannya itu
hanya berperan sebagai pelaksana karena mereka tidak dilibatkan sama sekali dalam
proses pengambilan keputusan. Luthans (2005) menjabarkan bahwa salah satu peran
pemimpin adalah peran pengambilan keputusan. Dalam peran pengambilan
keputusan, manajer bertindak berdasarkan informasi.
Apapun gaya kepemimpinan atasan dapat dipersepsikan secara berbeda oleh

masing-masing bawahannya. Persepsi terhadap sesuatu dipengaruhi oleh latar
belakang individu, sehingga ada kemungkinan perbedaan persepsi pada suatu
stimulus yang sama. Perilaku seseorang sebagai reaksi dari persepsi mereka pun
secara otomatis akan berbeda satu sama lain. Begitu juga dengan gaya
kepemimpinan. Dalam suatu organisasi, seluruh karyawan dihadapkan pada satu
stimulus yang sama yaitu gaya kepemimpinan atasan. Namun meskipun mereka
dihadapkan pada kesamaan stimulus mereka dapat memiliki persepsi yang berbeda
satu sama lain. Gaya kepemimpinan yang dipersepsikan positif oleh bawahan akan
membuat merasa aman, nyaman, dihargai, dan diperhatikan. Persepsi itulah yang
akhirnya akan berpengaruh pada proses dan hasil kerja seseorang. Dimana
pengambilan keputusan merupakan salah satu proses kerja yang akan menghasilkan
suatu keputusan untuk memulai suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu masalah.

6

Seorang pemimpin dalam menjalankan kepemimpinannya atau seorang
manajer dalam menjalankan manajemennya tidak hanya menggunakan satu gaya
kepemimpinan, melainkan menggabungkan dari beberapa gaya kepemimpinan. Hal
inidisebabkan oleh berbagai macam situasi yang akan dihadapi oleh seorang manajer
sebagai pemimpin menuntutnya untuk memberikan perlakuan/ menggunakan gaya

kepemimpinan yang berbeda disetiap situasinya dengan tujuan untuk memberikan
sikap yang tepat dan efektif dalam setiap situasi. Karena itulah penulis ingin
mengetahui adakah perbedaan pengambilan keputusan ditinjau dari persepsi tentang
gaya kepemimpinan otoriter atasan.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan dari penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : apakah ada
perbedaan pengambilan keputusan ditinjau dari persepsi tentang gaya kepemimpinan
otoriter atasan.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui apakah ada perbedaan
pengambilan keputusan ditinjau dari persepsi tentang gaya kepemimpinan otoriter
atasan.

D. Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbnagan untuk
memperkaya literatur dan bacaan dalam kajian ilmu psikologi, khususnya psikologi
industri, serta dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian-penelitian selanjutnya
dalam bidang yang sama.
2. Secara praktis hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi perusahaan,

khususnya pemimpin, tentang pengaruh gaya kepemimpinan otoriter terhadap gaya
pengambilan keputusan bawahannya.

PERBEDAAN GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
DITINJAU DARI PERSEPSI TENTANG GAYA KEPEMIMPINAN
OTORITER ATASAN

SKRIPSI

Disusun oleh :
Dina Nisrina
08810152

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2012

PERBEDAAN GAYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
DITINJAU DARI PERSEPSI TENTANG
GAYA KEPEMIMPINAN OTORITER ATASAN


SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Psikologi Sebagai Salah Satu
Persyaratan Dalam menyelesaikan Program Sarjana
(S-1) Psikologi

Disusun oleh :
Dina Nisrina
08810152

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2012

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji Syukur Penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penyusunan skripsi ini dapat berjalan
dengan lancar dan tepat waktu.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan dapat
terselesaikan tanpa bantuan, bimbingan serta arahan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu penulis menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.

Cahyaning Suryaningrum M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Malang.

2.

Hudaniah M.Si selaku Dosen Pembimbing I yang telah sabar dalam
membimbing, teliti dalam memberi masukan dan arahan kepada peneliti demi
kesempurnaan skripsi yang dikerjakan ini. Serta rasa terimakasih yang teramat
dalam atas waktunya yang sangat berarti buat peneliti saat detik-detik terakhir
menjelang ujian.

3.

Tri Muji Ingatianti, M.Psi. selaku Dosen Pembimbing II, yang telah sabar dalam
membimbing, teliti dalam memberi masukan dan arahan kepada peneliti demi
kesempurnaan skripsi yang dikerjakan ini.

4.

Drs. RR Siti Suminarti Fasikah M.Si. selaku Dosen Wali yang telah banyak
membantu peneliti dalam memberikan motivasi serta masukan-masukan yang
sangat berarti selama penulis menyelesaikan skripsi ini.

5.

Kepada kedua orang tua, mamah dan papah, terimakasih tak terhingga atas cinta
dan kasih sayang, atas pendidikan dan semua pembelajaran sehingga penulis
sampai pada titik ini. Dukungan dan harapan yang mamah papah berikan
senantiasa menjadi pelipur lara dikala aku jauh dari kalian. Untuk kedua adikku,
abang dan ira, terimakasih karena selalu menjadi penghibur dikala sedih dan
pelengkap dikala senang. Serta seluruh keluarga yang menjadikan penulis
merasa lebih berharga dan bahagia.

6.

Tujuh sahabatku,Anis, Bunga, Fina, Nisa, Veny, Rika, Sari terimakasih telah
menjadi sahabat-sahabat yang terbaik dan yang hebat. Semoga perjalanan kita
tidak pernah berakhir meski waktu terus berlalu. Terimakasih atas senyum yang
kalian buat disetiap gundahku. Terimakasih atas setiap dukungan dan
kehangatan. Untuk sahabat yang juga saudariku, Rahayu Yudha terimakasih
untuk hari-hari yang kita lalui.

7.

Kepada Ditya Ardi Nurgoho terimakasih karena telah selalu mendukung bukan
saat penyelesaian skripsi ini dan terimakasih karena tetap menemaniku setalah
banyak hal terjadi. Terimakasih atas semua perhatian dan dukungan.

8.

Untuk semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tugas
akhir ini, yang tentunya tidak bisa disebutkan satu persatu,penulis mengucapkan
terimakasih banyak.

Malang,

Mei 2012
Peniliti

DAFTAR ISI
COVER …………………………………………………………………………

i

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………..

ii

LEMBAR PERSETUJUAN ……………………………………………………

iii

LEMBAR PENGESAHAN ……………………………………………………

iv

SURAT PERNYATAAN ……………………………………………………...

v

KATA PENGANTAR …………………………………………………………

vi

INTISARI ……………………………………………………………………...

viii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………...

ix

DAFTAR TABEL ………………………………………………………………

xii

DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………………

xiii

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………….

1

B. Rumusan Masalah ……………………………………….

6

C. Tujuan Penelitian ………………………………………..

6

D. Manfaat Penelitian …………………………………........

6

LANDASAN TEORI
A. Pengambilan Keputusan …………………………............

7

1. Definisi pengambilan Keputusan …………………….

7

2. Proses Pengambilan Keputusan ………………………

8

3. Model-Model Pengambilan Keputusan ………………

9

4. Gaya Pengambilan Keputusan ………………………..

11

5. Indikator Pengambilan Keputusan ……………………

14

6. Klasifikasi Keputusan ………………………………...

14

7. Pentingnya Pengambilan Keputusan ………………….

15

B. Persepsi tentang Gaya Kepemimpinan Otoriter ………….

16

1. Definisi Gaya Kepemimpinan Otoriter ………………..

16

2. Persepsi tentang Gaya Kepemiminan Otoriter Atasan ...... 19
3. Proses Terjadi Persepsi ………………………………

19

4. Faktor – faktor yang Memepengaruhi Persepsi ..........

21

C. Perbedaan Pengambilan Keputusan Ditinjau dari Persepsi tentang

BAB III

Gaya Kepemimpinan Otoriter ……………………………

22

D. Kerangka Berpikir ……………………………………. …

25

E. Hipotesis …………………………………………………..

26

METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian …………………………………….

27

B. Variabel Penelitian ………………………………………..

27

1. Identifikasi Variabel Penelitian ………………………..

28

2. Definisi Operasional ……………………………………

28

C. Populasi dan Teknik Pengambilan sampel …………………

29

D. Tempat dan Waktu Peneltian ………………………………

30

E. Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data ………………..

30

1. Jenis Data ………………………………………………. 30
2. Metode Pengumpulan Data …………………………….. 30
F. Prosedur Penelitian …………………………………………. 34
G. Validitas dan reliabilitas ……………………………………. 35
1. Validitas ……………………………………………… ..

35

2. Reliabilitas ………………………………………..........

37

H. Analisa Data ………………………………………………… 40
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data ………………………………………………. 41
B. Hasil Analisa Data ………………………………………….. 43
C. Pembahasan ……………………………………………......... 45

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ………………………………………………..

50

B. Saran ……………………………………………………… . 51

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………..

52

LAMPIRAN ……………………………………………………………………

53

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Blue Print Skala Persepsi Gaya Kepemimpinan Otoriter ………………

34

Tabel 2 Hasil Validitas Skala Gaya Pengambilan Keputusan ………………….. 36
Tabel 3 Validitas Skala Persepsi Gaya Kepemimpinan Otoriter Atasan ………..

36

Tabel 4 Blue Print Skala Persepsi Gaya Kepemiminan Otoriter Atasan setelah uji
validitas …………………………………………………………………………

37

Tabel 5 Nilai Reliabilitas Skala Gaya Pengambilan Keputusan ………………..

39

Tabel 6 Nilai Reliabilitas Skala Persepsi Gaya Kepemimpinan Otoriter Atasan .. 40
Tabel 7 Reliabilitas Keseluruhan Skala …………………………………………

40

Tabel 8 Kriteria Pengelompokan T-Skor Persepsi ……………………………

41

Tabel 9 Pengelompokan Persepsi tentang Gaya Kepemimpinan Otoriter Atasan . 42.
Tabel 10 Distribusi Frekuensi Gaya Pengambilan Keputusan ………………….

42

Table 11 Deskripsi Karakteristik Subjek …………………………………….....

43

Tabel 12 Uji Signifikan Mann-Whitney ………………………………………… 44
Tabel 13 Tabulasi Silang Antara Persepsi dengan Gaya Pengambilan Keputusan.. 44

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

Skala Penelitian ……………………………………………. ……

54

Lampian 2

Kunci jawaban Skala Gaya Pengambilan Keputusan …………… 63

Lampiran 3

Tabulasi data Triout Penelitian ………………………………….. 64

Lampiran 4

Hasil Perhitungan Triout Penelitian ……………………………... 68

Lampiran 5

Tabulasi Data Penelitian ………………………………………… 75

Lampiran 6

Hasil Perhitungan Penelitian …………………………………….

78

Lampiran 7

Surat Keterangan Penelitian ……………………………………..

81

Daftar Pustaka

Adair, john. (1992).Pemimpin yang Berpusat pada Tindakan. Jakarta : Binarupa
Aksara.
Anoraga, p. (1992).Psikologi Kepemimpinan. Jakarta: Rineka Cipta.
Atmosudirdjo,Prajudi. (1971).Beberapa Pandangan Umum tentang Pengambilan
Keputusan. Jakarta :Ghalia Indonesia
Azwar, Saifudin. (2009).Sikap Manusia : Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar
Azwar, Saifudin. (2009).Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Djatmiko Hayati, Yayat. (2002).Perilaku Organisasi. Bandung : Alfabeta.
Hersey,

Paul. Blanchard, Ken. (1982). Manajemen Perilaku Organisasi
:Pendayagunaan Sumbe rDaya manusia. Edisi Keempat. Jakarta : Erlangga

Kartono,kartini. (2002), Psikologi Sosial untuk Manajemen Perusahaan dan Industri.
Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Keating,

Charles J. (1991).Kepemimpinan:
Yogyakarta : Kanisius.

Teori

dan

Pengembangannya.

Kossen, Stan (edisiketiga).Aspek Manusiawi dalam Organisasi. Jakarta : Erlangga
Kusnadi, dkk.(2002). Pengantar Manajemen. Malang : Universitas Brawijaya.
Latipun. (2010).Psikologi Eksperimen. Malang: UMM Press.
Nawawi, Hadari. (2000).Kepemimpinan yang Efektif. Yogyakarta : Gajah Mada
University Press.
Robert, Kreitner. Angelo, Kinicki.(2005)Perilaku Organisasi. Yogyakarta: Salemba
Empat
Robbins, Stephen P. (1996).Perilaku Organisasi Edisi Bahasa Indonesia. Jakarta :
PT Prenhallindp.
Siagian P, Sondang. (1999).Teori dan Praktek Kepemimpinan. Jakarta : Rineka
Cipta.
Siegel, Sidne. (1994). Statistik Non parametric untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta : PT.
Gramedia

Stoner.(1996). Manajemen. Jilid 2.Edisi II. Jakarta :Erlangga.
Winarsunu, T. (2002). Statistik dalam penelitian psikologi dan pendidikan. Malang:
UMM Press
Thoha, M. (1999).Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada.
Winardi.(2000). Kepemimpinan Dalam Manajemen. Jakarta: PT Rineka Cipta