Peran Lingkungan Keluarga UPAYA-UPAYA UNTUK MENGEMBANGKAN KECERDASAN

minuman yang dimaksud. Dengan demikian, ia tidak salah lagi menentukan pilihannya. 16 Pengambilan keputusan anak ini berhubungan dengan hati nuraninya. Bila anak merasa senang melakukannya, ia akan mengambil keputusan itu. Tetapi, bila ia tidak menyukainnya, ia tidak akan melakukannya. Walau demikian sebaiknya orang tua mengajarkan bagaimana anak mengolah rasa dalam mengambil keputusan. Cobalah untuk mengajarkan anak budi pekerti. Orang tua dapat menanamkan budi pekerti melalui cerita ataupun larangan serta alasan atas larangan tersebut. Orang tua boleh melarang anak untuk tidak bermain di terik matahari terlalu lama, namun sebutkan alasan yang tepat sehingga anak juga tahu alasannya. Dengan demikian, anak pun dapat mengembangkan perasaannya berdasarkan hati nuraninya untuk mengambil keputusan dengan baik.

B. Peran Lingkungan Keluarga

Peran lingkungan keluarga untuk mengembangkan kecerdasan emosional anak diantaranya: 1. Suasana yang baik dalam lingkungan keluarga Hal ini terutama bergantung pada bapak dan ibu sebagai pengatur keluarga. Dasar dari pendidikan keluarga ialah perasaan cinta mencintai. Orang tua agar selalu berusaha agar di dalam lingkungan keluarga selalu terdapat tolong menolong, kasih sayang antara anggota-anggota keluarga, dan harus diliputi suasana kegembiraan dan ketentraman. Perlu diingatkan di sini bahwa kesenangan dan ketentraman keluarga itu tidak hanya bergantung kepada banyak sedikitnya harta benda yang dipunyai atau yang 16 Al.Tridhonanto, Melejitkan Kecerdasan Emosi EQ ……………………hal. 58 dapat diusahakan oleh keluarga itu. Di dalam suatu keluarga yang baik selalu akan terdapat kejujuran, kesetiaan, keteguhan hati, kesabaran, kerajinan, kerapian, dan kebersihan di antara anggota-anggota keluarganya. 2. Tiap-tiap anggota keluarga belajar berpegang pada hak dan tugas kewajiban masing-masing Hal ini terutama menurut kedudukan dan umurnya masing-masing. Tidak mungkin seorang anak kecil akan sama hak maupun kewajibannya dengan anak yang sudah besar. Orang tua harus berusaha agar anak-anaknya sedikit demi sedikit secara berangsur-angsur tahu akan kewajibnnya sebagai anggota keluarga. Untuk itu, anak- anak perlu dibiasakan melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti mengenakan pakaian sendiri, mandi, tidur, makan pada waktunya, mengasuh adik, membantu ibu dan ayah, pekerjaan membereskan dan mengatur kebersihan rumah tangga. Jika tiap-tiap anggota keluarga sudah tahu dan menjalankan tugas kewajibannya masing-masing menurut aturan-aturan yang berlaku dalam keluarga itu, akan terciptalah ketertiban dan kesenangan serta ketentraman dalam keluarga itu. 17 3. Orang tua serta orang dewasa lainnya dalam keluarga mengetahui tabiat dan watak anak-anak Hal ini mudah diusahakan karena orang-orang tualah yang setiap hari bergaul dan bermain dengan anak-anaknya. Dari pergaulan dan dari ikut serta bermain dengan anak-anak, orang tua dapat mengetahui bagaimana sifat-sifat dan tabiat anaknya masing-masing. Pengetahuan ini sungguh merupakan harta yang tak ternilai harganya untuk mendidik anak kea rah kedewasaan. Seorang pendidik akan dapat lebih berhasil usahannya jika ia dapat mengetahui siapa dia. 17 M.Ngalim Poerwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung : PT.Remaja Rosdakarya, 1995, cet.Ke‐8, h.87 Lagi pula, adanya pengetahuan orang tua tentang watak anak-anaknya dan adanya saling mengetahui tabiat masing-masing akan dapat menghindarkan perselisihan dan mendatangkan kerukunan serta ketentraman dalam keluarga. 4. Menghindari segala sesuatu yang dapat merusak pertumbuhan jiwa anak- anak Orang tua dan anggota keluarga lainnya tidak mengejek atau mengecilkan hati anak-anak Karena ada ungkapan ”Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyayangi diri. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.” . 18 Orang tua harus membesarkan hati anak-anak dalam segala usahannya yang baik. Beri anak- anak pujian, anjurkan kepada mereka bahwa apa yang dapat dikerjakan orang lain, dia pun dapat mengerjakannya. Orang tua jangan selalu melarang atau menegur jika memang tidak perlu. Lebih bijaksana jika larangan-larangan itu diganti dengan suruhan. Sebagai contoh, jangan mengatakan: “Jangan bermain-main dengan pisau, nanti teriris jarimu” Lebih baik jika orang tua katakan: “Tolonglah Nak, simpankan pisau itu di atas meja, tentu kamu pandai menyimpannya, bukan?” dan sebagainya. 19 Demikian pula, orang tua tidak boleh menggunakan hukuman itu sebagai alat pendidikan satu-satunya. Anak-anak yang sering mendapat hukuman akhirnya bahkan akan kebal terhadap hukuman itu, dan tidak akan menjadi anak yang patuh dan 18 H.A. Fulex Bisri, Ketika Orang Tua Tak Lagi Dihormati, Mujahid Grafis: Bandung, 2004, hal. 5 19 M.Ngalim Poerwanto, Ilmu Pendidikan ………………………………….., hal.87 menurut, tetapi bahkan sebaliknya. Orang tua harus hemat dalam memberi hukuman dan teguran atau larangan. 5. Membiarkan anak-anak bergaul dengan teman-temanya di luar lingkungan keluarga. Masih ada beberapa orang tua yang merasa khawatir anak-anaknya akan mendapat pengaruh buruk dari teman-temannya. Ini sungguh keliru. Anak-anak adalah calon manusia dewasa yang akan hidup dalam masyarakat yang bermacam- macam corak ragamnya. Pergaulan dengan teman-teman sebaya pertumbuhan jiwa anak-anak, terutama pertumbuhan perasaan sosialnya dan pertumbuhan wataknya. 20 Orang tua tidak boleh mengurung anak-anak di lingkungan rumah sendiri saja. Memberi kesempatan anak-anak bermain dengan teman-temannya ialah hal yang harus diprioritaskan orang tua. Jika sampai waktunya, masukkan anak-anak ke sekolah taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Karena di sekolah, anak-anak akan mendapatkan pengalaman sosial yang lebih banyak. 20 M.Ngalim Poerwanto, Ilmu Pendidikan ………………………………….., hal.88

BAB VI PENUTUP

Dokumen yang terkait

Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Sikap Siswa dalam Pembelajaran Bermuatan Multikultural di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM)

0 47 150

Hubungan Kecerdasan Emosional Ibu dengan Perilaku Memelihara Kesehatan Gigi dan Mulut Serta Indeks Plak Gigi Anak di TK.Y.P Kristen Andreas Medan

1 42 53

Komunikasi Antar Pribadi Ayah Dan Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Remaja (Studi Korelasional tentang Pengaruh Komunikasi Antar Pribadi Ayah terhadap Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak Remaja di SMA Swasta Al- Ulum, Medan)

0 44 140

Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Perilaku Delinkuen Pada Remaja Laki-Laki

8 51 85

Pengaruh Kecerdasan Emosional Dan Spiritual Terhadap Sikap Etis Mahasiswa Akuntansi Dipandang Dari Segi Gender (Studi Pada Perguruan Tinggi Negeri Di Kota Medan)

8 82 161

IMPLEMENTASI POLA ASUH SINGLE PARENT TERHADAP PERKEMBANGAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK PRA IMPLEMENTASI POLA ASUH SINGLE PARENT TERHADAP PERKEMBANGAN KECERDASAN EMOSIONAL ANAK PRA SEKOLAH DI TK PERTIWI REMBUN NOGOSARI BOYOLALI.

0 1 12

PERANAN ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK Peranan Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Kelompok B Di TK Pertiwi 1 Sine Sragen Tahun Ajaran 2011/2012.

0 1 15

PERANAN ORANG TUA TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL EMOSIONAL ANAK Peranan Orang Tua Terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Kelompok B Di TK Pertiwi 1 Sine Sragen Tahun Ajaran 2011/2012.

0 0 16

Perkembangan Kecerdasan Emosional and Mo

0 0 21

Peranan Keluarga dalam Pendidikan Emosional Anak

0 0 10