Discourse, power, and practice on rural poverty

DISKURSUS, KEKUASAAN DAN PRAKTIK
KEMISKINAN DI PEDESAAN

IVANOVICH AGUSTA

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA DISERTASI YANG
BERJUDUL DISKURSUS, KEKUASAAN DAN PRAKTIK KEMISKINAN DI
PEDESAAN BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI, DAN TIDAK
MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU
DITERBITKAN OLEH PIHAK LAIN BAIK OLEH PERGURUAN TINGGI
ATAU LEMBAGA MANAPUN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN
YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. DEMIKIAN PERNYATAAN INI
SAYA BUAT DENGAN SESUNGGUHNYA DAN SAYA BERSEDIA
BERTANGGUNG JAWAB ATAS PERNYATAAN INI.
Bogor, Januari 2012
IvanovichAgusta
A 162050071

ABSTRACT

IVANOVICH AGUSTA. Discourse, Power, and Practice on Rural Poverty.
Supervised by ENDRIATMO SOETARTO, DJUARA P. LUBIS, IRWAN
ABDULLAH
Poverty is analyzed together with complexity of mutual relations and
influences between discourses. As power is integrated in every social interaction,
the relationships among and between level of discourses and practices should be
seen as power relations as well. Power operates in enabling surface of emergence
discourse and practice of poverty reduction. In line with the emergence of a
particular discourse, it also emerges the certain poor. The will to overcome
poverty further directs power to operate, manage or eliminate the poor that has
emerged. Efforts to reduce poverty in Indonesia has been shaped by a variety of
discourse and practice of poverty, namely surplus sharing, poverty of race and
ethnicity, desiring modesty, socialist poverty, potential of the poor, and poverty of
production. This study also examines power to dominate others. War discourse
and practice is always shaped relationship of actions and reactions that are
difficult to stop. The victory of the discourse to actively interpret poverty is
dynamic, because at the same time also emerged a reaction from other discourses
and practices in the form of manipulation of interpretation.Thus the victory of the
discourse and practice in this war is always delayed, not total and complete
victory. In accordance with the nature of discourse that builds space for power,
the stronger the poverty discourse develops, then the bodies of the poor more and
more emerges. Consequently, expansion poverty domain –from individual
domains to families, groups, small businessmen, and local government—will also
grow number of poor to more and more parties. The next operation of power
seeks will manage, reduce or eliminate the poor body. The body of the poor just
keeps emerging and active in the discourse and practice of socialist poverty and
potential of the poor. Through the power of solidarity point of view, only within
the potential of the poor power operates to emerge the poor, developing habitus to
believe the poor, and create fields for emergence and activity or movement of the
poor body.
Keywords: discourse analysis, habitus, field

RINGKASAN

IVANOVICH AGUSTA. Diskursus, Kekuasaan dan Praktik Kemiskinan di
Pedesaan. Di bawah bimbingan ENDRIATMO SOETARTO, DJUARA P.
LUBIS, IRWAN ABDULLAH
Penelitian ini hendak menjawab pertanyaan penelitian, yaitu, pertama,
mengapa kekuasaan yang beroperasi belum mampu menanggulangi kemiskinan di
pedesaan. Kedua, bagaimana kekuasaan beroperasi dengan membentuk dan
mengelola beragam diskursus dan praktik kemiskinan di pedesaan. Ketiga,
mengapa perang antar diskursus dan praktik kemiskinan berlangsung secara terus
menerus.
Penelitian ini juga memiliki tujuan yang ingin dicapai, yaitu, pertama,
menginterpretasi

kemunculan

kekuasaan,

praktik

dan

keragaman

pengelolaan

diskursus,

kemiskinan

strategi
di

penggunaan

pedesaan.

Kedua,

menginterpretasi hubungan kekuasaan dalam perang antar diskursus dan praktik
kemiskinan di pedesaan. Ketiga, memunculkan golongan miskin untuk
menanggulangi kemiskinannya sendiri.
Penelitian dilakukan dengan metode diskursus praktik, yang terdiri atas
metode diskursus, metode praktik, dan metode perang diskursus. Metode
diskursus meliputi arkeologi dan genealogi. Metode praktis meliputi refleksif dan
obyektivisasinya. Metode perang diskursus mengarah pada interaksi yang
berisikan kekuasaan di dalam sekelompok diskursus praktik tertentu, maupun
interaksi antar sekelompok lainnya.
Pengambilan data lapangan pada level nasional terutama dilaksanakan di
Kantor Pemberdayaan Masyarakat Desa di Pasar Minggu, Jakarta. Di sini dikaji
diskursus kemiskinan produksi dan potensi golongan miskin. Penelitian terhadap
diskursus berbagi kelebihan, menginginkan kesederhanaan, kemiskinan ras dan
etnis dilakukan di Dusun Kalioso, Desa Karangrowo, Kabupaten Kudus, Provinsi
Jawa Tengah. Diskursus kemiskinan sosialis dipelajari dari analisis dokumen.
Kemiskinan dianalisis bersamaan dengan kompleksitas saling hubung dan
pengaruh antar diskursus. Oleh karena kekuasaan terintegrasi dalam setiap

interaksi, maka hubungan antar diskursus maupun antara tataran diskursif dan
praktik juga berupa hubungan kekuasaan. Kekuasaan beroperasi sesuai dengan
kehendak untuk memunculkan landasan bagi berlangsungnya diskursus dan
praktik (enabling surface of emergence) penanggulangan kemiskinan. Sejalan
dengan kemunculan diskursus tertentu mula-mula golongan miskin tertentu
memang muncul. Kehendak untuk menanggulangi kemiskinan selanjutnya
mengarahkan kekuasaan untuk beroperasi mengelola atau menghilangkan
kemiskinan yang telah muncul tersebut. Upaya penanggulangan kemiskinan di
Indonesia telah dibentuk oleh beragam diskursus dan praktik kemiskinan, yaitu
berbagi kelebihan, kemiskinan ras dan etnis, menginginkan kesederhanaan,
kemiskinan sosialis, potensi golongan miskin, dan kemiskinan produksi.
Di samping kekuasaan untuk memunculkan diskursus dan praktik tersebut,
dalam penelitian ini kekuasaan juga dikaji dalam mendominasi pihak lain. Perang
diskursus dan praktik selalu berbentuk hubungan aksi dan reaksi yang sulit
berhenti. Kemenangan satu diskursus untuk aktif menafsir kemiskinan bersifat
dinamis, karena pada saat yang sama juga muncul reaksi dari diskursus dan
praktik lain dalam bentuk manipulasi tafsir.
Hubungan kekuasaan antara satu diskursus dan praktik kemiskinan dengan
lainnya tidak hanya mendominasi, melainkan sekaligus membuka permukaan bagi
manipulasi tafsir baru yang menguntungkan diskursus dan praktik lainnya.
Dengan demikian kemenangan satu diskursus dan praktik dalam perang ini selalu
bersifat tertunda, bukan kemenangan total dan selesai.
Sesuai dengan sifat diskursus yang membangun ruang untuk berkuasa,
semakin kuat diskursus kemiskinan berkembang, maka tubuh-tubuh miskin
semakin banyak muncul. Konsekuensinya, perluasan domain kemiskinan –dari
individu bertambah keluarga, kelompok, usahawan kecil, hingga pemerintah
daerah—kian banyak memberikan identitas miskin kepada semakin banyak pihak.
Penguatan diskursus kemiskinan sekaligus menunjukkan peningkatan kebutuhan
akan tubuh-tubuh miskin.
Operasi kekuasaan berikutnya berupaya pengelolaan, pengurangan atau
penghilangan jumlah tubuh miskin. Tubuh orang miskin hanya terus muncul dan
aktif dalam diskursus serta praktik kemiskinan sosialis dan potensi golongan

miskin. Melalui sudut pandang kekuasaan untuk bersolidaritas, hanya potensi
golongan miskin yang dapat mengoperasikan kekuasaan untuk memunculkan
golongan miskin, mengembangkan habitus untuk mempercayai golongan miskin,
serta menciptakan arena bagi kemunculan dan aktivitas atau gerakan tubuh-tubuh
miskin.

DISKURSUS, KEKUASAAN DAN PRAKTIK
KEMISKINAN DI PEDESAAN

IVANOVICH AGUSTA

Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor
pada Program Studi Sosiologi Pedesaan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

Penguji pada Ujian Tertutup

: Prof. Dr. Ir. Didin S. Damanhuri, MS, DEA
(Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor)

Dr. Rilus A. Kinseng
(Staf Pengajar Fakultas Ekologi Manusia, Institut
Pertanian Bogor)

Penguji pada Ujian Terbuka

: Prof. Dr. Didin S. Damanhuri, MS, DEA
(Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Institut Pertanian Bogor)

Drs. Sumedi Andono Mulyo, MA, Ph.D
(Kepala Sub-Direktorat Analisa Sosial dan
Ekonomi Regional Bappenas Jakarta)

Judul Disertasi: Diskursus, Kekuasaan, dan Praktik Kemiskinan di Pedesaan
Nama
: Ivanovich Agusta
NIM
: A 162050071

Disetujui
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Endriatmo Soetarto, MA
Ketua

Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS
Anggota

Prof. Drs. Irwan Abdullah, Ph.D
Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi
Sosiologi Pedesaan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Arya H. Dharmawan, MSc

Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr

Tanggal Ujian: 11 Januari 2012

Tanggal Lulus:

KATA PENGANTAR

Hanya atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa disertasi berjudul
Diskursus, Kekuasaan dan Praktik Kemiskinan di Pedesaan dapat diselesaikan.
Karya ilmiah ini dimaksudkan sebagai landasan untuk mengatasi permasalahan
sosial bersama golongan yang kekurangan di pedesaan.
Kemiskinan di pedesaan telah menjadi kajian peneliti sejak tahun 1997
hingga kini. Sejak krisis moneter pada tahun 1998, penelitian perihal kemiskinan
dan pemberdayaan masyarakat berkembang secara luas. Peneliti hampir setiap
tahun turut serta dalam penelitian kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat –
sebagian besar menjadi ketua tim— di Bappenas, Kementerian Dalam Negeri,
Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan
Menengah, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, di samping di dalam
Institut Pertanian Bogor sendiri.
Suatu ketika, pada tahun 2005 peneliti mendapatkan tugas dari Bappenas
untuk menyelidiki paradigma pemberdayaan dan penanggulangan kemiskinan di
Indonesia. Hasil kajian tersebut memberikan pengetahuan awal tentang
keragaman cara pandang dan praktik penanggulangan kemiskinan.
Hasil kajian tersebut terus diperdalam selama peneliti menjalani
perkuliahan program doktoral di Institut Pertanian Bogor. Pilihan analisis
diskursus dan praktik didasarkan pada jenis analisis mutakhir dalam sosiologi
pedesaan. Harapannya dapat menempatkan sosiologi pedesaan pada posisi
termaju dalam kancah ilmu-ilmu sosial. Sebenarnya analisis diskursus dan praktik
hanya digunakan untuk mengkritik teori dan konsep dari Barat, dan selanjutnya
peneliti mengembangkan konsep dan teori dari pedesaan Indonesia sendiri.
Kami menyadari bahwa karya ini masih mengandung beragam retakan
kekurangan. Kritik dan saran dari Pembaca budiman sangat kami hargai.

Bogor, Januari 2012
Ivanovich Agusta
A 162050071

RIWAYAT HIDUP
Ivanovich Agusta dilahirkan di Kudus, Jawa Tengah, pada tanggal 16
Agustus 1970. Anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Alex Achlish
dan Hartati. Riwayat pendidikan yang ditempuh adalah Program Sarjana pada
Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor dan lulus pada tahun 1993; Program Magister pada Program
Studi Sosiologi Pedesaan, Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor dan
lulus pada tahun 1997. Pada saat ini penulis bekerja sebagai staf pengajar pada
Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi
Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Tulisan-tulisan penulis disajikan dalam berbagai seminar nasional dan
internasional. Makalah dari berbagai bagian disertasi ini telah disertakan dalam
seminar kajian strategis di IPB Bogor tahun 2007, International Conference of
Asian Scholar tahun 2009, seminar penanggulangan kemiskinan di Kementerian
Dalam Negeri tahun 2010 dan 2011. Bagian dari disertasi ini juga telah dimuat
dalam Journal of Asia Pacific Studies, Jurnal Sodality IPB Bogor, Jurnal Wacana
Universitas Indonesia, Jurnal Studi Ekonomi Universitas Atmajaya Yogyakarta,
Jurnal Jantra Yogyakarta, serta akan dimuat dalam Jurnal Fajar UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Sebagian disertasi dalam versi ringkas telah dimuat
beberapa kali dalam koran Kompas.

UCAPAN TERIMAKASIH

Peneliti mengucapkan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada
1. Berbagai pihak yang bersedia melakukan rembugan di lapangan, yaitu Fuji
Artanto, Anom Surya Putra, Indra Kwarnas, Aries, Hery, Wahono, Tino,
Irwan, Suntono, Nurhadi, Safwan, Wargono, Gunretno, Gunondo, Sugiri,
Leginah, Sarpan.
2. Promotor yang telah memberikan berbagai saran perbaikan disertasi, yaitu
Prof. Dr. Drs. Endriatmo Soetarto, MA, Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS, dan Prof.
Drs. Irwan Abdullah, Ph.D.
3. Para penguji pada ujian tertutup, yaitu Prof. Dr. Ir. Didin S. Damanhuri, MS,
DEA, dan Dr. Ir. Rilus A. Kinseng, MA.
4. Para penguji pada ujian terbuka, yaitu Prof. Dr. Ir. Didin S. Damanhuri, MS,
DEA, dan Drs. Sumedi Andono Mulyo, MA, Ph.D.
5. Pejabat Sekolah Pascasarjana IPB, yaitu Prof. Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr,
Prof. Dr. Ir. Marimin, MSc
6. Pejabat dan mantan pejabat Program Studi Sosiologi Pedesaan, yaitu Dr. Ir.
Arya H. Dharmawan, MSc, Dr. Ir. Rilus A. Kinseng, MA, Dr. Ir. M.T. Felix
Sitorus, MS, dan Dr. Nurmala K. Panjaitan, MS, DEA.
7. Dr. Ir. M.T. Felix Sitorus, MS yang telah memberikan kesempatan untuk
bersekolah di Program Studi Sosiologi Pedesaan.
8. Prof. Dr. Ir. Sajogyo, Prof. Dr. Sediono M.P. Tjondronegoro, Prof. Dr. Amri
Marzali, yang telah memberikan rekomendasi untuk bersekolah di Sekolah
Pasca Sarjana IPB Bogor
9. Dosen-dosen di Program Studi Sosiologi Pedesaan, yaitu Dr. Ir. M.T. Felix
Sitorus, MS, Dr. Ir. Lala M. Kolopaking, MS, Dr. Ir. Rilus A. Kinseng, MA,
Prof. Dr. Drs. Endriatmo Soetarto, MA, Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS, Dr.
Nurmala K. Panjaitan, MS, DEA, Dr. Ir. Ekawati Sri Wahyuni, MS, Dr. Ir.
Titik Sumarti, MS, Dr. Ir. Arya H. Dharmawan, MSc.

10. Para pejabat Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
IPB Bogor, yaitu Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, MS dan Ir. Fredian Tonny
Nasdian, MS.
11. Kepala Pusat Studi Pembangunan, Pertanian dan Pedesaan IPB Bogor, Dr. Ir.
Lala M. Kolopaking, MS.
12. Teman-teman seangkatan yaitu Dr. Tyas Retno Wulan, Dr. Abdul Malik, Dr.
Pulanggono Setyo Lenggono, Bob Alfiandi, Dr. Maihasni, Dr. Hartoyo.
13. Istri dan anak-anak, yaitu Ir. Ani Tetiani, MSi, Madania Tetiani Agusta,
Karyssa Tetiani Agusta, dan Muhammad Aliansya Agusta.
14. Kedua orang tua, yaitu Alex Achlish, Hartati, Oman Sukmara, Imas Sukaya
15. Adik dan bulik di Kudus, yaitu Helida Heirani, Heri Prasetya, Paramita
Savitri, Arif Purnomo, Durroh.
16. Kerabat di Bandung, yaitu A. Samsi Sahirin, Lilis Tarliani, Yiyi Sri Gustini,
Wawan Somantri, Ida Muliani, Dasep Hilman, Cucu Suryati.

DAFTAR ISI

Halaman
BAB 1 PENDAHULUAN ......................................................................

1

Latar Belakang .........................................................................

1

Perumusan Masalah ..................................................................

6

Tujuan Penelitian .....................................................................

6

BAB 2 PENDEKATAN TEORETIS ......................................................

9

Tinjauan Pustaka ......................................................................

9

Filsafat Kuasa/Pengetahuan ...………………....

9

Pemandangan Baru Sosiologi …………………...

12

Memadukan Teori Diskursus dan Praktik Sosial

15

Diskursus menurut Foucault .................................

17

Pembentukan Diskursus ……………

19

Pengelolaan Diskursus ……………..

21

Diskontinuitas Diskursus …...……...

22

Praktik Sosial menurut Bourdieu ..........................

23

Habitus …………………………......

24

Arena ……………………………....

25

Kemunculan Kekuasaan melalui Interaksi Sosial

26

Kajian Diskursus Kemiskinan secara Dikotomis

28

Kerangka Penelitian .................................................................

29

Konsep Kerja ............................................................................

32

BAB 3 PENDEKATAN LAPANGAN ..................................................

35

Metode Diskursus Praktik ........................................................

35

Lokasi Pengumpulan Data .......................................................

38

Metode Pengumpulan Data ......................................................

47

Metode Analisis Dokumen dan Penemuan
Diskursus Kemiskinan ..........................................

47

Metode "Rembugan" .............................................

51

Metode Pengamatan Berpartisipasi .......................

56

Metode Analisis Data ...............................................................

57

Bias dan Kebaruan Penelitian ...................................................

61

BAB 4 DISKURSUS DAN PRAKTIK BERBAGI KELEBIHAN ……

65

Penyamaran Hierarki/Diferensiasi …………………...............

66

Dinamika Mekanisme Mengutangi/Menabung,
Mengakumulasi/Berbagi, Berbagi/Mengakumulasi …………

70

Ikhtisar ……………………………………………………......

81

BAB 5 DISKURSUS DAN PRAKTIK KEMISKINAN RAS DAN
ETNIS ………………………………………………………….....

83

"Mem-primitif-kan" …………………………………………..

84

Pemberontakan Tubuh Primitif ……………………………

94

Ikhtisar ………………………………………………………

98

BAB 6 DISKURSUS DAN PRAKTIK MENGINGINKAN
KESEDERHANAAN ………………………………………………….

99

Disiplin Pelemahan Daging …………………………………..

100

"Ngrame" Mengabarkan Kebenaran ………………………….

106

Ikhtisar …………………………...…………………………

110

BAB 7 DISKURSUS DAN PRAKTIK KEMISKINAN SOSIALIS ….

113

Menghisap Tubuh …………………………………………….

115

Merebut Hak Tubuh Miskin …...……………………………..

122

Ikhtisar ……………………...………………………………

125

BAB 8 DISKURSUS DAN PRAKTIK POTENSI ORANG MISKIN

127

Mempercayai Tubuh Miskin …………………………………

128

Berkelompok Menghadirkan Kekuasaan …………………….

135

Ikhtisar …………………...…………………………………

138

BAB 9 DISKURSUS DAN PRAKTIK KEMISKINAN PRODUKSI

141

Mengorganisasikan Kemiskinan …………………..................

142

Kehendak Menguasai Pengetahuan Kemiskinan …………….

147

Mendisiplinkan Efisiensi Tubuh Miskin ……………………..

151

Ikhtisar ………………...……………………………………

157

BAB 10 PERANG DISKURSUS DAN PRAKTIK KEMISKINAN ….

159

Penghilangan dan Perluasan Domain Kemiskinan …………

160

Kekuasaan Memanipulasi Tafsir Kemiskinan ………………..

165

Panoptisme Orang Miskin Sedunia ………………………….

180

Ikhtisar ………………………………………………………..

191

BAB 11 KESIMPULAN: KEMBALI KE UUD 1945 ……...................

193

Menjawab Permasalahan dan Tujuan Penelitian ……………..

193

Epilog: Tubuh Miskin dan Konstitusi ………………………..

197

DAFTAR PUSTAKA …….....................................................................

201

LAMPIRAN ……………………………………………………………

211

DAFTAR TABEL

Nomor

Halaman

1

Kesetaraan Analisis antara Foucault dan Bourdieu .................

16

2

Teori Diskursus Foucault, Laclau dan Moffe, serta Habermas

18

3

Kesejajaran Level Analisis Umum dan Formasi Diskursus
Foucault ...................................................................................

19

4

Responden dan Informan ........................................................

53

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1

Perpaduan Teori Diskursus dan Teori Praktik Sosial ………..

16

2

Bentuk Diskursif .....................................................................

20

3

Sirkulasi Diskursus ..................................................................

22

4

Arkeologi Diskursus ................................................................

23

5

Kerangka Penelitian ................................................................

30

6

Stratifikasi dan Mobilitas Sosial di Dusun Kalioso …………

68

7

Dikotomi Diskursus Berbagai Kelebihan ……………………

69

8

Dikotomi Diskursus Kemiskinan Rasial dan Etnis..…………

89

9

Dikotomi Diskursus Menginginkan Kesederhanaan…………

101

10

Dikotomi Diskursus Kemiskinan Sosialis……………………

116

11

Dikotomi Diskursus Potensi Golongan Miskin ….....………..

129

12

Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia Tahun
1975-2008 ……………………………………………………

144

Perkembangan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia
Tahun 1975-2008 ……………………………………………

145

14

Dikotomi Diskursus Kemiskinan Produksi....………………..

146

15

Evaluasi Kemiskinan Hipotetis ……………………………

148

16

Adaptasi Ekonomi Formal dan Psikologi dalam CDD ……

153

17

Genealogi Diskursus Kemiskinan di Pedesaan Indonesia …...

159

18

Hubungan Terbalik antara Kemiskinan dan Ketimpangan
Sosial …………………………………………………

188

Kejadian Sejarah, Gini Pedesaan, Perkotaan dan Indonesia
1880-2009 …………………………………………………..

189

13

19

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor
1

Halaman
Makalah Enam Diskursus Kemiskinan di Indonesia ………..

211

DAFTAR ISTILAH

Arena

: struktur yang bersifat obyektif, berisikan syarat-syarat obyektif,
yang bisa digunakan individu untuk berinteraksi dengan pihak
lain

Arkeologi diskursus : pembentukan diskursus, pengelolaannya, penormalan pada
saat menemui keretakan epistemologis.
Diskursus

: jenis pernyataan yang memungkinkan sesuatu menjadi muncul,
baik berupa habitus, arena, maupun benda-benda tertentu.

Episteme

: kegiatan untuk menelusuri sejarah timbulnya, berkembangnya,
hingga berubahnya suatu pengetahuan atau disiplin formal dan
bukan-formal tentang kemiskinan.

Genealogi diskursus : operasi kekuasaan untuk menghasilkan diskursus atau
menimbulkan krisis bagi terbentuknya diskursus baru
Habitus

: predisposisi,

pengalaman,

pemikiran

sebelum

melakukan

tindakan
Kekuasaan

: kemampuan

untuk

mendominasi,

namun

juga

untuk

memunculkan solidaritas, dan kekuasaan hanya muncul melalui
interaksi antara habitus, arena, dan diskursus
Modal

: benda dan jasa yang memberi kekuatan habitus atau individu
untuk bertindak

Panoptisme

: operasi kekuasaan untuk mengawasi individu atau kelompok
miskin, juga habitus dan arena

Parrhesia

: kehendak untuk membatasi ketergantungan kepada kebendaan
agar tubuh menjadi suci, serta memunculkan kehendak untuk
mengabarkan kebenaran kepada pihak lain

Perang diskursus : operasi kekuasaan untuk mendominasi diskursus lain, sekaligus
membuka permukaan bagi reaksi diskursus lainnya.
Praktik

: habitus dan arena yang selalu diuji pada setiap kesempatan dan
lokasi yang berbeda.

Tubuh

: jejak dan perwujudan operasi kekuasaan berupa penyusunan
identitas material maupun kultural

Strategi

: kegiatan berinteraksi untuk menyalurkan kekuasaan, baik antar
individu atau kelompok, habitus, arena, dan diskursus

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 menyatakan, bahwa negara
Indonesia dibentuk guna memajukan kesejahteraan umum. Berkaitan dengan hal
tersebut, pembangunan telah dijadikan pilihan mekanisme untuk mengisi
kemerdekaan bangsa (Soeharto 2008: 238).1 Untuk memajukan kesejahteraan
umum, secara khusus pemerintah diwajibkan memelihara fakir miskin,
mengembangkan sistem jaminan sosial, dan memberdayakan masyarakat yang
lemah dan tidak mampu2 (Tim Penyusun Naskah Komprehensif Proses dan Hasil
Perubahan UUD 1945 2010: 766).
Akan tetapi ditemukan berbagai kejanggalan pengelolaan kemiskinan –
yang mencakup pula pengelolaan golongan fakir, lemah dan tidak mampu.
Mungkin karena dipandang bersifat relatif, namun muncul kehendak untuk
mengobyektifikasi ukurannya, kemiskinan telah lama menjadi medan pertarungan
kekuasaan. Operasi kekuasaan telah memunculkan atau menghilangkan topik
kemiskinan, mengurangi atau menambahi jumlah golongan miskin, menentukan
pengelola orang miskin, dan sebagainya. Sajogyo (2006: 257) menjelaskan
sebagai berikut.

Untuk menentukan miskin tidaknya seseorang bukanlah hal
yang mudah, hal ini relatif. Ukuran kemiskinan di tiap daerah
berbeda.
Presiden Soeharto (2008: 415) menyatakan hal serupa.

1

Pembangunan juga menjadi orientasi Presiden Soekarno untuk mengisi kemerdekaan,
sebagaimana tulisannya untuk Pembangunan Semesta Berentjana, Bagian jang Diucapkan pada
rapat pleno Depernas, 28 Agustus 1959, halaman 29.
2
UUD 1945 pasal 34 ayat 1 dan 2.

2

… kita jadi berpikir mengenai ukuran adil dan makmur itu,
dan jawabannya bergantung pada orangnya. Ukuran adil dan
makmur tidak terlepas dari penilaian kita masing-masing. Dan hal
itu harus dilihat juga dari segi kemampuan masing-masing.
Ada batas minimal untuk menyebut bahwa secara lahiriah
seorang itu mestinya sudah harus bisa mengatakan cukup dan
terjamin ketentraman hidupnya. Tetapi inipun menyangkut lagi soal
sikap seseorang.
Dalam dekade terakhir penjajahan Belanda, Soekarno juga pernah
menolak ukuran kecukupan makan senilai sebenggol (f 2,5) sehari yang
dinyatakan direktur Binnenlands Bestuur (BB) dalam sidang legislatif.

… adalah perbedaan besar antara apa yang dikatakan oleh
direktur BB dengan apa yang saya katakan; adalah perbedaan besar
antara perkataan CUKUP dengan perkataan TERPAKSA. Terpaksa
hidup dengan sebenggol, dan cukup hidup dengan sebenggol –di
antara dua ini adalah perbedaan yang sama lebarnya dengan
perbedaan antara sana dan sini, antara kaum penjajah dan kaum
terjajah, antara kaum kolonisator dan kaum gekoloniseerde!
… Pemerintah dengan enormiteit-nya direktur BB itu
bermaksud menunjukkan, bahwa dus kaum Marhaen1 masih
gampang hidup, bahwa dus pemerintah punya krisis-politik adalah
tak merugikan Marhaen (Soekarno 1965: 178).
Dengan dorongan kekuasaan, kemiskinan menjadi topik bermasyarakat
dan bernegara yang berkali-kali dimunculkan atau dihilangkan. Di tengah-tengah
masyarakat sendiri, kemiskinan –atau dengan konsep yang serupa seperti
kekurangan—telah muncul dan diatasi bersama-sama sejak lama (Soedjatmoko
1984: 46). Pemerintah Hindia Belanda membesarkan kemunculannya hingga
meliputi wilayah nusantara untuk menangani kemiskinan khusus pada tubuh kreol
Indo Eropa pada awal abad ke 20 (Gouda 2007: 196). Bersamaan dengan
pernyataan kemerdekaan Indonesia, tubuh orang miskin yang sakit muncul dalam
aturan pemeliharaan Departemen Kesehatan di rumah-rumah sakit pada masa
pemerintahan Presiden Soekarno.2 Hingga dua pertiga masa pemerintahan
1

Dalam penelitian ini digolongan sebagai kelas miskin.
Undang-undang Nomor 18 Tahun 1953 tentang penunjukan rumah-sakit rumah-sakit partikulir
yang merawat orang-orang miskin dan orang-orang yang kurang mampu; Peraturan Pemerintah
Nomor 27 Tahun 1953 tentang penunjukan rumah-rumah sakit partikulir yang merawat orangorang yang miskin dan orang-orang yang kurang mampu; Undang-Undang Darurat Nomor 6
2

3

Presiden Soeharto, fakir miskin secara normatif ditangani oleh Departemen
Sosial.1 Bersama-sama dengan program pemerintah yang didukung utang luar
negeri, sejak tahun 1993 tubuh orang miskin muncul dalam kelompok masyarakat
atau disingkat pokmas (Mubyarto 2000, 1-6). Organisasi yang mengawasi dan
mengorganisasikan program penanggulangan kemiskinan kemudian resmi
dibentuk pemerintah secara beruntun sejak tahun 2000 hingga kini.2
Dalam sifat kemiskinan yang relatif, peperangan terjadi untuk menentukan
jenis dan jumlah orang miskin. Kekuasaan yang lebih dominan memunculkan
makna

kemiskinan

yang

lebih

dominan,

sekaligus

melemahkan

atau

menghilangkan tafsir kemiskinan lainnya. Pada waktu tubuh Indo Eropa
digolongkan miskin, tubuh pribumi dengan tingkat pengeluaran ekonomi lebih
rendah dilepaskan dari taksonomi ini (Gouda 2007: 196). Meskipun akademisi
menegaskan kemiskinan di pedesaan (Geertz 1983: 102; Singarimbun dan Penny,
1976: 50-61), namun semasa pemerintahan Soekarno dan pada awal pemerintah
Soeharto justru kegotongroyongan warga desa dipandang sebagai modal
pembangunan untuk mengimbangi persoalan ketimpangan sosial di perkotaan.3
Saat kemiskinan di pedesaan yang ditangani kelompok masyarakat dimunculkan
lebih kuat pada dekade 1990-an, peran pemerintah daerah diminimalkan (Sajogyo,
ed. 1997: 116-136). Berlawanan dari itu, sejak dekade berikutnya peran
pemerintah, pemerintah daerah dan swasta meninggalkan peran kelompok
masyarakat.4

Tahun 1955 tentang pengubahan dan tambahan pasal 4 undang-undang nomor 18 tahun 1953
(lembaran negara nomor 48 tahun 1953) tentang penunjukan rumah-sakit rumah-sakit partikulir
yang merawat orang-orang miskin dan orang-orang yang kurang mampu.
1
Mandat normatif untuk menangani fakir miskin tertera dalam Garis-garis Besar Haluan Negara
(GBHN) periode 1973-1978, 1978-1983, 1983-1988, 1988-1993, pada arah kebijakan bidang
Kesejahteraan Rakyat, Pendidikan dan Kebudayaan, pada sektor Kesejahteraan Sosial.
2
Melalui pembentukan Badan Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (BKPK) pada tahun 2001,
Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) pada tahun 2001, Tim Koordinasi Penanggulangan
Kemiskinan (TKPK) pada tahun 2005, dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan
(TNP2K) pada tahun 2010.
3
Untuk pandangan Presiden Soekarno lihat Amanat Presiden tentang Pembangunan Semesta
Berentjana, Bagian Tertulis jang Disampaikan kepada Depernas, 28 Agustus 1959, halaman 45;
untuk pandangan pemerintahan Presiden Soeharto lihat Pola Dasar Program Umum Nasional dan
Pola Dasar Rentjana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), 29 Pebruari 1968, halaman 34.
4
Seluruh perencanaan penanggulangan kemiskinan oleh masyarakat disalurkan bersama-sama
perencanaan pemerintah dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Lihat
Panduan Pelaksanaan PNPM PISEW Tahun 2010, halaman 52-53.

4

Peperangan tidak hanya muncul pada tataran tafsir atau diskursus,
melainkan juga dalam praktik. Setiap diskursus yang kuat dikembangkan lebih
lanjut dengan pembentukan lembaga dan organisasi tersendiri. Kelembagaan ini
mendisiplinkan tingkah laku agar berpola sesuai diskursusnya sendiri.
Perkembangan kelompok masyarakat miskin selama tahun 1993-1998 mengarah
untuk membentuk gerakan masyarakat, mengikuti arahan dari pemerintah yang
kuat

menuju

masyarakat

yang

kuat

(Mubyarto

1996:

27-28,

59-60).

Diskontinuitas terjadi ketika muncul arah yang berkebalikan dari Program IDT
tersebut, untuk menguatkan pemerintah daerah hingga pemerintah pusat. Telah
disebutkan di muka, bahwa sejak tahun 2008 penanganan kemiskinan diarahkan
untuk masuk dalam struktur perencanaan pembangunan dari tingkat desa,
kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.
Dengan

meletakkan

kumulasi

maupun

diskontinuitas

penanganan

kemiskinan di pedesaan Indonesia seperti di atas, analisis yang pernah dilakukan
selama ini terlihat mengandung berbagai kelemahan. Analisis budaya sejak awal
sulit memutuskan budaya kemiskinan sebagai faktor penyebab munculnya
masalah sosial lain (Lewis 1993: 6), ataukah kemiskinan menjadi akibat dari
kemunculan masalah sosial yang berbeda (Geertz 1983: 150). Analisis kemiskinan
struktural (Soemardjan 1984: 5-11) sulit mempertimbangkan penciptaan berulang
kali organisasi penanggulangan kemiskinan di tingkat pusat, provinsi, dan
kabupaten/kota sejak tahun 2001 berikut penciptaan puluhan ribu kelompok orang
miskin, namun diikuti dengan peningkatan kemiskinan relatif, sebagaimana
ditunjukkan oleh peningkatan koefisien Gini sebesar 0,33 pada tahun 2001
menjadi 0,37 pada tahun 2009.1 Analisis berbasis agensi sulit mempertimbangkan
persaingan pendefinisian kemiskinan yang terbentuk justru dalam agensi yang
sama. Dalam pemerintahan telah berkembang perbedaan definisi dan jumlah
golongan miskin, seperti perbedaan antara Badan Pusat Statistik, Kementerian
Sosial, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, dan Bappenas. Analisis
ekonomi dalam kaitannya dengan pembangunan sulit menjelaskan jumlah (lebih
dari 17 juta) dan persentase (56 persen) orang miskin jauh lebih tinggi di Jawa
dibandingkan wilayah lain (BPS 2011: 40), padahal industrialisasi dimulai dari
1

Data koefisien Gini menurut pengeluaran rumahtangga yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik
tahun 2003 hingga tahun 2011.

5

Jawa sejak masa penjajahan dan pembangunan tetap terkonsentrasi di sana hingga
kini.
Dengan menyadari kelemahan analisis selama ini, diperlukan pola analisis
baru yang mampu memperhitungkan beragam makna kemiskinan, hubungan antar
agensi yang melintasi pelapisan sosial, dan diskontinuitas perang antar beragam
makna

kemiskinan.

Penelitian

mengajukan

alternatif

analisis

diskursus

kemiskinan. Dalam membentuk pengetahuan yang kuat, diskursus kemiskinan
secara timbal balik membentuk praktik-praktik khusus. Perang antar diskursus
kemiskinan sekaligus terwujud dalam upaya dominasi antar agensi maupun
struktur sosial.
Analisis diskursus terhadap kemiskinan pada level global sudah dimulai
sejak awal 1990-an. Analisis tersebut telah mampu menunjukkan kekuasaan
pemaknaan kemiskinan oleh donor dan negara maju, yang digunakan untuk
melangsungkan pembangunan di negara-negara miskin (Rahnema 1992: 167169). Telah ditemukan dikotomi antara makna kemiskinan menurut donor dan
negara maju yang berbeda dari makna yang berkembang di negara miskin atau di
tengah masyarakat miskin.
Sayangnya beragam analisis diskursus kemiskinan selama ini masih belum
menggali aneka diskursus kemiskinan lokal, kecuali hanya sebagai satu kutub dari
dikotomi dengan negara maju.1 Masih diperlukan kajian lebih mendalam untuk
mendapatkan beragam diskursus kemiskinan, khususnya yang tercipta di pedesaan
Indonesia. Tertuju pada kritik terhadap dominasi diskursus kemiskinan donor dan
negara maju, jaringan peperangan antar beragam diskursus kemiskinan bahkan
belum digali secara mendalam.
Secara khusus kajian di wilayah pedesaan penting, karena persentase
penduduk miskin di pedesaan mendadak melampaui perkotaan serentak dengan
penerbitan Inpres Nomor 5 Tahun 1993 (Inpres Desa Tertinggal), diikuti dominasi
program pengurangan kemiskinan di pedesaan hingga kini. Akan tetapi undangundang Nomor 13 Tahun 2011 tentang penanganan fakir miskin hendak
memusatkan penanganan kemiskinan perkotaan sebagaimana terbaca dari

1

Lihat contoh pada hasil kajian Levinsohn (2003: 6-9), Mohan (2001: 153-167), Mosse (2001: 1635), Rahnema (1992:169-174).

6

alternatif penanganan melalui rumah singgah, panti, dan sebangsanya, yang biasa
terdapat di perkotaan.

Perumusan Masalah

Meskipun terdapat beragam diskursus dan praktik penanggulangan
kemiskinan, tampaknya kewajiban negara untuk memajukan kesejahteraan umum
dalam Pembukaan UUD 1945 belum terwujud, terutama di pedesaan. Pertanyaan
pokok dan pertama yang diajukan dalam penelitian ini ialah, mengapa kekuasaan
yang beroperasi belum mampu menanggulangi kemiskinan di pedesaan.
Dengan menyadari keberadaan berbagai diskursus kemiskinan yang
memiliki kekuatan untuk mendominasi tafsir kemiskinan, perlu dipelajari proses
pembentukan masing-masing diskursus tersebut. Meskipun muncul beragam
diskursus, namun hal tersebut belum mampu menanggulangi kemiskinan di
pedesaan. Berkaitan dengan itu, rumusan masalah kedua ialah, bagaimana
kekuasaan beroperasi dalam membentuk dan mengelola beragam diskursus dan
praktik kemiskinan di pedesaan.
Dibutuhkan pula pengetahuan perihal perang antara diskursus dan praktik
sosial yang satu dengan lainnya, karena dalam peperangan tersebut upaya
penanggulangan kemiskinan yang satu dapat ditenggelamkan oleh upaya
kemiskinan lainnya. Seluruh pola hubungan tersebut mengikutsertakan kekuasaan,
atau kekuasaan terbangun dari hubungan tersebut. Dalam kaitan ini diajukan
permasalahan ketiga, mengapa perang antar diskursus dan praktik kemiskinan
berlangsung secara terus menerus.

Tujuan Penelitian

Berkaitan dengan beragam permasalahan di atas, penelitian ini memiliki
tujuan yang ingin dicapai, yaitu, pertama, menginterpretasi kemunculan
keragaman diskursus, strategi penggunaan kekuasaan, dan praktik pengelolaan
kemiskinan di pedesaan. Kedua, menginterpretasi hubungan kekuasaan dalam

7

perang antar diskursus dan praktik kemiskinan di pedesaan. Ketiga, memunculkan
golongan miskin untuk menanggulangi kemiskinannya sendiri.

8

BAB 2
PENDEKATAN TEORETIS

Tinjauan Pustaka

Filsafat Kuasa/Pengetahuan

Di tengah kritik lemahnya landasan filosofis karya ilmiah di Indonesia
(Sajogyo, 2006: 65), satu bagian khusus perihal landasan filosofis penelitian ini
perlu disertakan, pertama, untuk mengetengahkan posisi filosofis penelitian,
dengan menunjukkan ide-ide filosofis tertentu yang digunakan dalam penyusunan
teori dan metode. Posisi penelitian ini berada dalam ranah episteme. Kedua, untuk
mengajukan kritik dan membuka peluang penelitian baru dalam ilmu-ilmu sosial.
Kajian beragam diskursus kemiskinan dalam suatu waktu yang sama
dimungkinkan, dengan terlebih dahulu mengetengahkan domainnya yang
berbeda-beda. Adapun interaksi antar beragam diskursus –sebagai konsekuensi
dari kemunculannya dalam waktu yang bersamaan—berpeluang dikaji melalui
konsep kekuasaan dan praktik sosial.
Konsep episteme, yang mula-mula berkembang dalam filsafat Perancis,
digunakan sebagai pangkal tolak pembahasan. Sementara konsep epistemologi –
yang lebih dikenal—menggali berbagai cara yang digunakan manusia untuk
mendapatkan pengetahuan, episteme secara khusus merujuk pada kegiatan untuk
menelusuri sejarah timbulnya, berkembangnya, hingga berubahnya suatu
pengetahuan atau disiplin.1 Dalam penelitian ini episteme diarahkan pada
perkembangan pengetahuan perihal kemiskinan.
Georges Canguilhem menyajikan kekhususan kajian terhadap sejarah
pengetahuan tersebut. Filsuf lainnya membedakan atau menyusun demarkasi
pengetahuan ilmiah dari pengetahuan masyarakat umumnya, dan secara sengaja
hanya mengkaji ilmu pengetahuan yang ilmiah (Popper 2008: viii), namun
episteme sengaja tidak membedakan kedua jenis pengetahuan tersebut. Golongan
1

Pembedaan pengertian ini diambil dari K. Bertens (2006: 178).

10

filsuf yang meninggikan derajat ilmu pengetahuan mendasarkan argumennya pada
pandangan bahwa susunan jenis pengetahuan ini sistematis. Sebaliknya dalam
episteme berkembang pandangan bahwa dalam tiap jenis pengetahuan, termasuk
pengetahuan umum dalam masyarakat, terdapat susunan yang terstruktur dan
sistemik. Struktur tersebut telah ditemukan baik pada masyarakat Barat1 maupun
dalam komunitas tribal.2 Canguilhem (2005: 79) menjelaskannya sebagai berikut.
A culture is a code that orders human experience in three
respects – linguistic, perceptual, practical; a science or a
philosophy is a theory or an interpretation of that ordering. But the
theories and interpretations in question do not apply directly to
human experience. Science and philosophy presuppose the
existence of a network or configuration of forms through which
cultural productions are perceived. These forms already constitute,
with respect to that culture, knowledge different from the knowledge
constituted by sciences and philosophies. This network is invariant
and unique to a given epoch, and thus identifiable through
reference to it.
Diskontinuitas sejarah pengetahuan berkaitan dengan pandangan, bahwa
perkembangan tiap jenis pengetahuan terbatas menurut ruang dan waktu, tidak
bersifat universal baik dalam arti teorinya berguna untuk masyarakat sedunia, atau
teorinya berlaku sepanjang waktu. Konsekuensinya metode untuk menilai atau
mengontrol pengetahuan juga tidak universal, melainkan hanya sesuai dengan
ruang dan waktu perkembangan jenis pengetahuan tersebut.
Konsekuensi yang lebih mendasar muncul dalam perumusan sejarah
pengetahuan. Perkembangan pengetahuan tidak bersifat kumulatif, melainkan
bersifat diskontinu.
Adapun hubungan antar diskursus yang telah memiliki domainnya sendirisendiri dapat dilakukan melalui filsafat kekuasaan. Pengetahuan tidak disusun atas
fakta-fakta obyektif atau realis, melainkan terbatas pada tafsir atas metafora
(Nietzsche 2002: 45-47). Dengan kata lain, pengetahuan menjadi bersifat
imajiner, yang menyembunyikan perspektif dan hasrat penyusunnya. Kesadaran

1

Canguilhem (2005: 90) menunjukkan dikotomi "yang normal" dan "yang abnormal" (atau pernah
disebutnya "yang patologis" (Foucault 2002: 394)) dalam struktur pengetahuan Barat masa kini.
2
Levi Strauss menemukan struktur majemuk dikotomis dalam masyarakat tribal (lihat Levi
Strauss 2005: 375-433).

11

pengetahuan seseorang selalu berupa kesadaran-atas-hierarki antara penafsir yang
lebih kuat dan yang lebih lemah.
Tafsir tidaklah netral atau sekedar sesuai dengan kepentingan pelakunya
sebagaimana pandangan konstruktivisme, namun di sini tafsir terkuat muncul
sebagai tanda bekerjanya kekuasaan tertinggi yang melingkupinya. Tafsir atas
sesuatu diketahui melalui kekuasaan yang dimilikinya atau diekspresikan olehnya.
Dengan demikian kekuasaan mendominasi realitas, sehingga suatu hubungan
antara diskursus dan praktik yang satu dengan lainnya selalu menunjukkan
kekuasaan penafsiran terkuat. Persepsi yang disusun peneliti terhadap realitas
tersebut juga merupakan ekspresi atas kekuasaan-kekuasaan yang membentuk
realitas tersebut. Peneliti dapat menangkap makna dari perang diskursus pada saat
mengetahui kekuasaan utama yang menyusun tafsir tersebut. Suatu kekuasaan
yang ditemukan, sebaliknya, dapat menjadi petunjuk tafsir utama yang mungkin
diambil dari hasil perang diskursus tersebut. Namun demikian, hierarki penafsiran
tidak membuat pemaknaan homogen, namun pemaknaan atas sesuatu senantiasa
bersifat plural. Obyek tidak pasif, namun ia sendiri merupakan kekuasaan, atau
yang mengekspresikan kekuasaan untuk memaknai. Oleh sebab itu terdapat
kekuatan tarik menarik antara obyek dengan kekuatan yang menguasainya
(Nietzsche 2000: 81-83).
Dalam bentuk saling berkaitan atau berinteraksi dengan kekuasaan lain,
kekuatan ini dinamakan sebagai kehendak untuk berkuasa (Nietzsche 2002: 4547). Yang diinginkan oleh kehendak untuk berkuasa ialah menegaskan
perbedaannya, distingsinya, atau diskontinuitasnya dari kekuatan lain. Kelahiran
pembedaan menunjukkan kehendak untuk berkuasa sebagai elemen genealogis,
dengan cara tidak menghapuskan kesempatan (misalnya praktik untuk melarang),
sebaliknya mengimplikasikan peluang berpraktik atau bersifat produktif. Suatu
kesempatan akhirnya membawa kekuasaan dalam suatu hubungan praktis atau
hubungan sosial, dan kehendak untuk berkuasa merupakan prinsip yang
menentukan praktik ini.

12

Pemandangan Baru Sosiologi

Gerakan akademis berupa putaran linguistik (linguistic turn) yang bermula
di Perancis pada dekade 1960-an dan 1970-an telah mengubah karakteristik ilmuilmu sosial masa kini, yang benar-benar berbeda dari era sebelumnya (Ritzer
2006: 1-3; Sutherland 2008: 46-66). Tantangan tidak hanya berlaku pada teoriteori umum, namun juga pada teori-teori yang dikembangkan dari wilayah khusus,
misalnya dari Indonesia (Dhakidae 2002: 60-66; Philpott 2003: 56-67). Pengaruh
putaran linguistik tidak sekedar berupa pengembangan strukturalisme sebagai
konsekuensi dari teori linguistik dari Saussure (1993: 85-101), melainkan hingga
kritiknya dalam bentuk pascastrukturalisme dan pascamodernisme (Hoed 2008:
55-73). Kritik terhadap strukturalisme inilah yang digunakan dalam penelitian ini.
Salah satu konsep dasar Saussure (1993: 85-87) tentang hierarki antara
langue yang lebih umum dan parole yang spesifik diadaptasi dalam menganalisis
hubungan hierarkis antara struktur sosial yang lebih abstrak, lebih umum serta
tahan lama, dan interaksi sosial yang lebih kongkrit, spesifik lokasi dan waktu.1
Selain itu, hubungan antara petanda yang lebih konseptual dan penanda yang lebih
operasional

(Saussure

1993:

145-151)

mengantarkan

pemikiran

untuk

menganalisis hubungan sosial secara lebih mendalam. Hubungan antara petanda
dan penanda sejajar dengan representasi sosial yang bersifat lebih abstrak dalam
hubungannya dengan referen secara fisik, hubungan antara struktur dan agensi,
serta antara habitus dan arena. Analisis tidak hanya diterapkan pada interaksi antar
individu sebagai hubungan sosial primer, melainkan lebih difokuskan pada
hubungan refleksif (Bourdieu 2011: 173-174; Giddens 2003: 49-53) yang mampu
mempertanyakan konsep-konsep dasar dalam kehidupan sosial (Habermas 1996:
94-99) maupun menjelaskan hubungan yang lebih abstrak antar institusi (2002a:
64).
Pengaruh

strukturalisme

telah

melemahkan

posisi

subyek,

menghilangkannya, atau meletakkannya sebagai anonimitas (Habermas 1996: 2841; Bourdieu 2010a: 3-25). Subyek tidak bisa muncul dan bertindak secara bebas
sebagaimana diteorikan oleh tindakan sosial weberian (Weber 1978: 4-26),
1

Tampaknya Saussure menggunakan ide dualisme struktur dan interaksi sosial dari Durkheim
(Kridalaksana 1993: 5)

13

melainkan dimunculkan oleh atau mengambil posisi terbatas dalam institusi atau
arena yang sudah ditentukan (Bourdieu 2010a: 3-25; Foucault 2007: 62-69) atau
berperan sebagai agensi yang dipengaruhi struktur (Giddens 2003: 6-34).
Menggunakan hasil analisis Freud (2003: 140-158) tentang keberadaan id
(ketidakrasionalan) yang mempengaruhi ego, serta hipotesis Darwin (2003: 434461) tentang evolusi manusia dari makhluk yang sederhana, hadir penyangkalan
terhadap dominasi subyek yang rasional sekaligus mempertanyakan rasionalitas,
bahkan meletakkannya di bawah posisi ketidakrasionalan. Sebagai gantinya
dikemukakan kehendak dan kekuasaan sebagai pengarah penting tingkah laku
manusia1

(Foucault

2002d:

65-66,

2008:

120-126).

Sebagian

teoretisi

mengemukakan konsep kesempatan (chance) untuk menjelaskan “ruang kosong”
yang mempengaruhi pilihan dan tindakan individu dan kelompok tersebut (Sibeon
2004: 34-45). Pembalikan posisi subyek rasional di bawah ketidakrasionalan
memungkinkan kajian mendalam terhadap suara lapisan terbawah, seperti sastra
pascakolonial (Said 2001: 3-20), kemiskinan radikal (Rahnema 1992: 158-172),
orang gila (Foucault 2002b: 323-334), homoseksual (Foucault 2008: 56-74), dan
sebagainya.
Pengaruh linguistik saussurean juga menguatkan relasi atau jaringan baik
antar orang atau antar institusi. Satu pihak saja tidak dapat mendefinisikan sesuatu
tanpa berinteraksi dengan pihak lain (Levi-Strauss 2005: 43-73), dan hanya dalam
interaksi itulah dapat dimunculkan pengetahuan, konsensus untuk bersikap atau
bertindak. Konsekuensinya bagi sosiologi mendalam, karena pandangan tersebut
menghancurkan konsep struktur yang kaku dalam bentuk pembagian kerja
(Durkheim 1933: 70-132) atau kelas (Marx dan Engels 1960: 49-67), sebagai
pola-pola yang dapat digunakan untuk memprediksi sikap, tindakan, dan
pemikiran. Pada saat ini paling-paling yang dapat dimunculkan berupa proses
menuju penciptaan struktur namun relatif cair atau mudah berubah, misalnya
berupa strukturasi (Giddens 2003: 19-34) atau arena (Bourdieu 2010a: 5).
Konsekuensi berikutnya berupa semakin pentingnya interaksi sebagai
penghasil konsep kunci sosiologis lainnya. Kekuasaan tidak bisa lagi dialamatkan
pada suatu status, posisi, atau institusi sosial apa adanya (Weber 1958: 180-195;
1

Salah satu pendapat awal tersebut dikemukakan oleh Lacan (Bracher 2009: 29-73)

14

Parsons, 1977: 204-228; Marx dan Engels 1960: 49-67), melainkan kekuasaan
hanya muncul dalam suatu interaksi antar individu atau antar institusi (Foucault,
2002a: 62-65, 2002d: 120-128).
Kekuasaan menjadi muncul di mana-mana, sejauh interaksi sosial
berlangsung. Hal itu mengantarkan pada pemikiran, bahwa kekuasaan melandasi
interaksi sosial. Dalam kaitan dengan tanda-tanda yang dianalisis linguistik
saussurean, kekuasaan ditunjukkan oleh kemampuannya dalam mendominasi
tafsir terhadap tanda tersebut. Sebuah tanda dapat memiliki tafsir yang beragam
dan bertingkat-tingkat, namun pada akhirnya suatu definisi atau makna atas tanda
dalam suatu masyarakat tergantung kepada pemilik kekuatan dominan (Nietzsche
2000: 81-83).
Konsekuensi lebih jauh lagi pada pascastrukturalisme berupa upaya untuk
menunda hubungan langsung antara penanda dan petanda.1 Ruang kosong antara
penanda dan petanda diisi dengan kekuasaan (Foucault 2002d: 120-128), sehingga
pemikiran Nietzsche mendapatkan landasan empirisnya.
Selain menggugat hubungan langsung antara petanda dan penanda, para
penganut pascamodernisme menghilangkan penanda. Ketika suatu petanda
mengemukakan referennya, yang yang dimaksud bukan lagi suatu penanda yang
esensial atau riil, melainkan berupa petanda lainnya. Jaringan hubungan antar
petanda akhirnya membentuk simulakra yang tidak berakhir (Baudrillard 2001:
181-194), sehingga mewujudkan pemikiran antiesensialisme.
Perkembangan sosiologi masa kini memiliki konsekuensi dalam kajian
kemiskinan. Pertama, konsep kemiskinan dapat dianalisis recara refleksif atau
sebagai diskursus. Kedua, refleksi dan diskursus kemiskinan dihasilkan melalui
interaksi sosial. Ketiga, interaksi sosial mengandung kekuasaan untuk
mendominasi pemaknaan dan penciptaan diskursus kemiskinan, serta memerangi
diskursus lainnya. Keempat, golongan miskin, simpatisan atau pengelolanya
dalam suatu kondisi dan waktu tertentu dipandang memiliki diskursus kemiskinan
tersendiri yang sistematis, sehingga salah satu tugas peneliti ialah menemukan
sistem pengetahuan khas tersebut. Kelima, dimungkinkan munculnya beragam
diskursus kemiskinan dari golongan sosial yang berbeda-beda.
1

Sebagaimana diuraikan oleh Derrida (Spivak 2003: 133-156).

15

Memadukan Teori Diskursus dan Praktik Sosial

Analisis sosiologis dapat dilakukan dalam tataran diskursus, refleksif,
struktur sosial, dan pengelolaan benda-benda (Foucault 2002a: 62-65). Saat ini
belum ditemui teori sosiologi yang membicaraan sekaligus keempat tataran
tersebut, sehingga dalam penelitian ini dipadukan teori diskursus dari Foucault
dan teori sosiologi dari Bourdieu. Meskipun Foucault telah menunjukkan keempat
tataran analisis ilmu sosial tersebut, namun ia hanya mengembangkan secara
mendalam teori diskursus. Adapun Bourdieu (2010aa: 9-10) men

Dokumen yang terkait

Discourse, power, and practice on rural poverty