Keefektifan Perangkap Likat Berwarna untuk Pemantauan Trips pada Pertanaman Cabai (Capsicum annuum) di Bogor

KEEFEKTIFAN
N PERANGKAP LIKAT BERWARN
NA UNTUK
PEMAN
NTAUAN TRIPS PADA PERTANAM
MAN
CAB
BAI (Capsicum annuum) DI BOGOR
R

AHMAD KHOERUDIN LATIP

DEPA
ARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
N
FAKULTAS PERTANIAN
IN
NSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

ABSTRAK
AHMAD KHOERUDIN LATIP. Keefektifan Perangkap Likat Berwarna untuk
Pemantauan Trips pada Pertanaman Cabai (Capsicum annuum) di Bogor. Di
bimbing oleh DEWI SARTIAMI dan ALI NURMANSYAH.
Trips adalah serangga berukuran kecil dan merupakan salah satu organisme
pengganggu utama tanaman cabai. Salah satu cara pemantauan hama ini yang
sedang dikembangkan adalah menggunakan perangkap likat berwarna. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan perangkap likat warna biru, kuning
dan putih terhadap hama trips pada pertanaman cabai. Penelitian dilakukan di
pertanaman cabai milik petani di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung dan
Desa Situ Gede, Kecamatan Darmaga. Penelitian dilakukan dengan memasang
ketiga warna perangkap likat tersebut pada dua ukuran petak berbeda, yaitu
ukuran petak 5 m x 5 m dan 7 m x 7 m. Pada setiap jenis ukuran petak, ketiga
jenis warna perangkap likat tersebut juga dipasang selama 8 kali dengan interval 1
minggu pada fase vegetatif dan generatif. Trips yang tertangkap pada setiap
warna perangkap likat dihitung dan diidentifikasi spesiesnya. Ukuran perangkap
likat yang digunakan adalah 15 cm x 21.5 cm. Hasil penelitian memperlihatkan
efektivitas yang sama antara perangkap likat warna biru dan putih untuk hama
spesies Thrips parvispinus, dan Thrips palmi. Jumlah trips yang tertangkap pada
perangkap likat warna biru dan putih nyata lebih tinggi daripada jumlah trips yang
terperangkap pada perangkap likat warna kuning. Trips Microcephalothrips
abdominalis dan Mymarothrips bicolor tertangkap pada semua jenis warna
perangkap likat. Antara ukuran petak 5 m x 5 m dan 7 m x 7 m tidak
memperlihatkan perbedaan hasil tangkapan trips yang nyata pada ketiga jenis
warna perangkap likat yang dipasang. Secara umum, pada kedua lokasi
penelitian, rata-rata hasil tangkapan pada fase vegetatif lebih rendah daripada hasil
tangkapan pada fase generatif, walaupun hasil tangkapan di Desa Sukagalih lebih
berfluktuasi daripada hasil tangkapan di Desa Situ Gede.
Kata kunci: Thrips parvispinus, thripidae, perangkap likat, cabai
 

KEEFEKTIFAN PERANGKAP LIKAT BERWARNA UNTUK
PEMANTAUAN TRIPS PADA PERTANAMAN
CABAI (Capsicum annuum) DI BOGOR

AHMAD KHOERUDIN LATIP
A34070041

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul Skripsi

: Keefektifan Perangkap Likat Berwarna untuk Pemantauan
Trips pada Pertanaman Cabai (Capsicum annuum) di Bogor
Nama Mahasiswa : Ahmad Khoerudin Latip
NIM
: A34070041

Disetujui,
Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Dra. Dewi Sartiami, MSi
NIP.19641204199103 2 001 

Dr. Ir. Ali Nurmansyah, MSi
NIP. 19630212 199002 1 001 

Diketahui,
Ketua Departemen

Dr. Ir. Abdjad Asih Nawangsih, MSi
NIP. 19650621 198910 2 001
 

Tanggal Lulus:

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Karawang, Jawa Barat pada tanggal 8 Juli 1989.
Penulis adalah anak kelima dari lima bersaudara dari pasangan Bapak H. Sopyan
Anshory dan Ibu Hj. Yoyoh Masruroh.
Pada tahun 2004 penulis menjalani pendidikan Madrasah Aliyah di MAN 2
Kota Bogor dan lulus pada tahun 2007. Pada tahun yang sama penulis diterima di
Departemen Proteksi tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI).
Selama menjalani pendidikan di IPB, pada tahun 2007-2012 penulis aktif di
Unit Kegiatan Mahasiswa bela diri Taekwondo. Kemudian pada tahun 2008/2009
penulis aktif di Lembaga Kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga
Mahasiswa (BEM KM IPB) sebagai staff Departemen Budaya Olahraga Seni
(BOS). Pada tahun yang sama penulis juga aktif dalam OMDA Panatayuda
Karawang sebagai Ketua Umum. Pada tahun 2009/2010 penulis aktif di
Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (HIMASITA) sebagai ketua divisi
Human Resources Development (HRD). Pada tahun 2009 penulis mengikuti
program magang di Balai Penelitian Tanaman Tropika (BALITRO) selama 1
bulan di Cimanggu-Bogor. Tahun 2009 penulis menjadi asisten praktikum mata
kuliah Vertebrata Hama semester genap. Kemudian Pada tahun 2011 penulis juga
menjadi asisten praktikum mata kuliah Dasar-dasar Proteksi Tanaman semester
genap. Pada tahun yang sama juga penulis menjadi asisten praktikum mata kuliah
Proteksi Tanaman di program Diploma 3 IPB Baranangsiang semester ganjil.
Prestasi yang pernah diraih penulis selama menuntut ilmu di IPB adalah
mendapatkan juara 3 lomba Taekwondo IPB Cup tingkat senior, Juara 1 Futsal
dalam kegiatan Porsita, Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Penelitian dan
bidang Pengabdian Masyarakat berhasil didanai oleh DIKTI tahun 2009 dan pada
tahun 2010 Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Penelitian kembali berhasil
didanai oleh DIKTI.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan
hidayah-Nya yang telah diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan
tugas akhir yang berjudul “Keefektifan Perangkap Likat Berwarna untuk
Pemantauan Trips pada Pertanaman Cabai (Capsicum annuum) di Bogor”.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga,
sahabat serta para umatNya.
Penelitian dan penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Pertanian di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan di Desa Sukagalih,
Kecamatan Megamendung, dan Desa Situ Gede, Kecamatan Darmaga, serta
Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen Proteksi Tanaman dari bulan
Maret sampai September 2011.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1. Dra. Dewi Sartiami, MSi dan Dr. Ir. Ali Nurmansyah, MSi selaku dosen
pembimbing yang telah memberikan banyak ilmu, pengetahuan, saran, dan
motivasi.
2. Efi Toding Tondok, SP, MSc selaku dosen penguji tamu yang telah
memberikan saran dan motivasi.
3. Dr. Endang Sri Ratna selaku dosen pembimbing akademik yang telah
memberikan saran dan arahan.
4. Kedua orang tua, dan kakak tercinta Deden Saepudin, Ahmad Saprudin, Siti
Habsoh, dan Asep Kamaludin yang selalu memberikan dukungan dan
motivasi
5. Sahabat kontrakan yang selalu memberikan motivasi Miftahul Bakhir Rozaq,
Haveel Luthfirakhman, Arif Budi P, dan Triya Adhesi Holqi.
6. Teman-teman seperjuangan Proteksi Tanaman angkatan 44 Rizki Ramadhan,
Julius Dika Ciptadi, Mey Fitriani, Gamatriani Markhamah, Irma Utami, Anik
Nurhayati, Sherli Anggraeni, Radhian Ardi Prabowo dan yang lainnya.
7. Anggota Laboratorium Biosistematika Serangga Ibu Aisyah, Ibu Atik, Yani
Maharani, dan Lia Nurulalia.
8. Rasa terima kasih penulis sampaikan juga kepada seluruh mahasiswa
Departemen Proteksi Tanaman yang selalu memberikan semangat dan
dukungannya.
Penulis menyadari bahwa dalam skripsi ini masih terdapat banyak
kekurangan untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Bogor, 24 Februari 2012

Ahmad Khoerudin Latip

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .....................................................................................

vi 

DAFTAR GAMBAR ................................................................................

vi 

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................

vii 

PENDAHULUAN ....................................................................................
Latar Belakang .................................................................................
Tujuan Penelitian .............................................................................
Manfaat Penelitian ...........................................................................






TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................
Pengaruh Serangan OPT pada Cabai ...............................................
Teknik Pengendalian OPT pada Cabai ............................................
Hama Trips ......................................................................................
Perbedaan Subordo Terebrantia dan Tubulifera ..............................
Perangkap Likat ...............................................................................








BAHAN DAN METODE .........................................................................
Tempat dan Waktu Penelitian ..........................................................
Bahan dan Alat ................................................................................
Pembuatan Perangkap Likat ............................................................
Pemasangan Perangkap Likat pada Pertanaman Cabai ...................
Identifikasi dan Penghitungan Kepadatan Trips ..............................
Rancangan Percobaan ......................................................................









HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................
Kondisi Umum Pertanaman .............................................................
Identifikasi Trips ..............................................................................
Populasi Trips Berdasarkan Warna Perangkap dan Waktu
Pengamatan ......................................................................................
Populasi Trips Berdasarkan Luas Lahan .........................................

10 
10 
12 

KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................
Kesimpulan ......................................................................................
Saran ................................................................................................

24 
24 
24 

DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................

25 

LAMPIRAN ..............................................................................................

27 

19 
23 

DAFTAR TABEL
Halaman
1 Klasifikasi Ordo Thysanoptera ............................................................
2 Jumlah trips yang tertangkap perangkap likat berdasarkan warna
perangkap dan waktu pengamatan di Desa Sukagalih, Kecamatan
Megamendung, Bogor ..........................................................................
3 Jumlah trips yang tertangkap perangkap likat berdasarkan warna
perangkap dan waktu pengamatan di Desa Situ Gede, Kecamatan
Darmaga Bogor ....................................................................................

6

20

21

 
 

DAFTAR GAMBAR

1 Lokasi tanaman cabai di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung

10

2 Lokasi tanaman cabai di Desa Situ Gede, Kecamatan Darmaga .........

11

3 Spesies Thrips parvispinus ...................................................................

13

4 Spesies Thrips palmi ............................................................................

14

5 Spesies Microcephalothrips abdominalis ............................................

16

6 Spesies Mymarothrips bicolor .............................................................

17

7 Spesies Subordo Tubulifera .................................................................

18

8 Spesies kategori trips tidak teridentifikasi ...........................................

19 

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1

Rata-rata jumlah trips yang tertangkap pada perangkap likat warna
kuning di Desa Situ Gede, Kecamatan Darmaga, Bogor ...................

28

Rata-rata jumlah trips yang tertangkap pada perangkap likat warna
putih di Desa Situ Gede, Kecamatan Darmaga, Bogor ......................

28

Rata-rata jumlah trips yang tertangkap pada perangkap likat warna
Biru di Desa Situ Gede, Kecamatan Darmaga, Bogor .......................

29

Rata-rata jumlah trips yang tertangkap pada perangkap likat warna
kuning di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Bogor .........

29

Rata-rata jumlah trips yang tertangkap pada perangkap likat warna
putih di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Bogor ............

30

Rata-rata jumlah trips yang tertangkap pada perangkap likat warna
biru di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Bogor ..............

30

Analisis ragam perlakuan perangkap likat berdasarkan luas petak
lahan 5 m x 5 m dan 7 m x 7 m Desa Sukagalih, Kecamatan
Megamendung ....................................................................................

31

Analisis ragam perlakuan perangkap likat berdasarkan luas petak
lahan 5 m x 5 m dan 7 m x 7 m Desa Situ Gede, Kecamatan
Darmaga . ............................................................................................

35

Kondisi lahan cabai ............................................................................

42

10 Fase Vegetatif .....................................................................................

42

11 Fase Generatif ....................................................................................

42

12 Pemasangan perangkap likat ..............................................................

42

13 Keberadaan trips .................................................................................

43

14 Akibat serangan trips pada tanaman cabai .........................................

43 

2
3
4
5
6
7

8

9

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tanaman cabai merupakan salah satu komoditas unggulan hortikultura di
Indonesia.

Buah cabai yang pedas mengandung capsaicin berkadar tinggi

sehingga banyak disukai oleh masyarakat. Namun demikian dalam memenuhi
tingginya permintaan buah cabai, budidaya tanaman cabai yang umumnya
dilakukan oleh petani masih menghadapi banyak kendala dalam meningkatkan
produksinya. Salah satu kendala yang dihadapinya adalah adanya serangan hama
trips. Vos (1994) mengatakan bahwa hama trips yang menyerang tanaman cabai
adalah Thrips parvispinus (Thysanoptera: Thripidae). Menurut Yulianti (2008)
spesies trips yang terdapat pada cabai diantaranya Megalurothrips usiatus,
M. abdominalis, Thrips hawaiiensis, T. palmi, T. parvispinus, Haplothrips
froggatti, H. ganglebaueri, H. gowdeyi, dan Nesothrips lativentris. Selain trips,
hama yang menyerang tanaman cabai adalah kutu daun, tungau, dan ulat grayak
(Prabaningrum & Moekasan 2007).
Hama trips menyerang daun tanaman cabai dengan cara memarut menghisap yang mengakibatkan kerusakan pada daun seperti bercak berwarna
putih keperakan. Daun yang terserang oleh trips mengalami perubahan bentuk
dan warna sehingga tidak bisa melakukan fotosintesis dengan optimal. Serangan
yang tinggi dapat mengakibatkan tanaman cabai menjadi mati. Kerusakan akibat
dari serangan hama ini sangat bervariasi, mulai tingkat ringan sampai berat hingga
dapat mengakibatkan kehilangan hasil panen yang serius (Lewis 1973). Sebagai
pembanding kehilangan hasil panen akibat serangan T. parvispinus pada cabai
paprika berkisar antara 10% - 25% pada musim hujan dan 40% - 55% pada musim
kemarau (Prabaningrum 2005).

Trips berpotensi sebagai hama penting pada

pertanaman cabai karena bersifat polifag, dan daya adaptasi yang tinggi terhadap
inangnya.

Selain sebagai hama, trips dapat juga berpotensi sebagai vektor

penyakit dan predator (Dibiyantoro 1998).
Berbagai macam cara pengendalian trips sudah dilakukan, di antaranya
adalah menggunakan pengendalian secara hayati, kultur teknis, mekanik, fisik,
dan kimia. Salah satu contoh pengendalian secara fisik yang telah dilakukan pada

2
tanaman manggis adalah menggunakan perangkap likat warna kuning berbentuk
silinder yang dipaku pada tonggak dengan tinggi 3 meter, kemudian ditancapkan
pada tanah ±30 cm di luar kanopi tanaman. Cara ini dapat menurunkan intensitas
burik sebesar 21.65% (Affandi & Emilda 2009). Hasil ini memperlihatkan bahwa
penggunaan perangkat likat warna kuning belum mampu mengendalikan serangan
trips secara nyata. Oleh karena itu perlu dicoba penggunaan perangkat likat
dengan warna lain yang dapat memerangkap trips dalam jumlah yang tinggi. Chu
et al. (2000) menyatakan bahwa perangkap likat dengan warna dasar biru, kuning,
dan putih dapat menangkap imago trips dalam jumlah yang paling tinggi. Selain
itu, perangkap likat dengan warna biru telah diketahui dapat menangkap
Frankliniella occidentalis dan T. palmi (Chu et al. 2006), dan perangkap likat
dengan warna kuning dapat menurunkan gejala burik pada buah manggis untuk
hama trips spesies Scirtothrips dorsalis, Selenothrips rubrocintus, dan tungau
(Affandi & Emilda 2009).

Juga, secara nyata penggunaan perangkap warna

kuning dapat menurunkan populasi lalat Liriomyza sp. (Supriyadi et al. 2000).
Penggunaan perangkap likat warna biru, kuning, atau putih ini untuk memantau
populasi T. parvispinus di pertanaman cabai belum pernah diteliti. Sama halnya
dengan penelitian terhadap luas lahan yang optimal untuk memasang sebuah
perangkap likat juga belum dilakukan. Oleh karena itu perlu adanya penelitian
untuk mengetahui warna perangkap dan luas lahan yang efektif digunakan dalam
pemantauan hama trips.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan perangkap likat warna
kuning, biru, dan putih dalam memerangkap hama trips. Selain itu penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui luas lahan yang optimum digunakan untuk memasang
sebuah perangkap likat di pertanaman cabai.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat diketahui tingkat
keefektifan perangkap likat warna biru, kuning dan putih serta besarnya luas lahan
untuk memasang sebuah perangkap likat.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengaruh Serangan OPT pada Cabai
Menurut Wiryanta (2008) mengklasifikasikan tanaman Cabai (Capsicum
Annum L) sebagai berikut: kingdom Plantae, divisi Spermatophyta, subdivisi
Angiospermae, kelas Dicotyledoneae, ordo Solanales, famili Solanaceae, genus
Capsicum, spesies Capsicum annuum L.
Budidaya tanaman cabai merah memiliki banyak kendala yang dihadapi.
Salah satu diantaranya adalah adanya serangan hama yang dapat menurunkan
hasil panen (Prabaningrum & Moekasan 1996). Kebanyakan petani di Indonesia
menghabiskan biaya bertanam cabai sampai 40% untuk pengendalian hama dan
penyakit. Proses pemupukan dan pemeliharaan merupakan suatu hal yang harus
dilakukan dalam budidaya tanaman cabai. Hasil panen cabai yang berkualitas
bagus tidak hanya bergantung pada pemeliharaan dan pemupukan, juga
bergantung pada cara pengendalian hama dan penyakit yang sering menyerang
tanaman cabai (Wiryanta 2008).
Serangan yang disebabkan oleh Organisme Penggangu Tanaman (OPT)
dapat menimbulkan kerugian dan menurunkan produktivitas cabai. Salah satu
contoh yang disebabkan serangan OPT yaitu daun kerititng pada cabai. Hama
yang termasuk golongan ini termasuk pengganggu berat, sebab dapat merusak
tanaman dan membawa jenis virus keriting daun.

Bila sudah diserang

pengganggu seperti ini maka harapan tanaman untuk hidup, terlebih untuk
berbuah akan sangat kecil (Setiadi 2008). Beberapa jenis OPT yang menyerang
cabai diantaranya adalah kutu daun, trips, lalat buah, ulat grayak, ulat buah, dan
tungau (Prabaningrum & Moekasan 1996).

4
Teknik Pengendalian OPT pada Cabai
Dalam PHT pada tanaman cabai, beberapa komponen pengendalian yang
dapat diterapkan untuk pengendalian OPT yaitu:


Pra tanam
Pengendalian untuk mencegah adanya serangan OPT pada masa pra tanam

diantaranya sanitasi lahan, penggunaan mulsa plastik, tumpang sari, penggunaan
tanaman perangkap, dan perlakuan benih sebelum di tanam.


Tanam dan pemeliharaan tanaman
Setelah tanaman cabai ditanam, dipasang perangkap hama buatan yaitu

menggunakan perangkap likat untuk menekan serangan trips, perangkap ulat
grayak dengan perangkap feromonoid seks S. litura, perangkap baki kuning untuk
menekan serangan kutu daun, atraktan metil eugenol untuk menekan serangan
lalat buah. Selain itu dapat juga dilakukan dengan sanitasi lahan secara teratur,
eradikasi selektif terhadap buah cabai, penggunaan insektisida berdasarkan hasil
pengamatan OPT (Prabaningrum & Moekasan 1996).

Hama Trips
Ordo Thysanoptera adalah serangga kecil yang bertubuh langsing,
panjangnya 0,5-5,0 mm (beberapa jenis daerah tropika panjangnya hampir
14 mm). Ada yang yang bersayap dan tidak bersayap. Sayap bila berkembang
sempurna jumlahnya empat, sangat panjang dan sempit dengan beberapa atau
tidak ada rangka sayap. Bagian-bagian mulut yang meraut - menghisap terdapat
probosis dengan struktur tidak setangkut, gemuk, konis, dan terletak bagian
posterior pada ventral kepala. Terdapat juga stilet, satu mendibel dan lasiniae dari
dua maksila.

Antena pendek, empat sampai Sembilan ruas.

Metamorfosis

pertengahan antara sederhana dan sempurna. Penampilan dua kelamin serangga
hampir sama tapi yang jantan biasanya lebih kecil. Ordo ini dapat berperan
sebagai pemakan tanaman, menyerang bunga-bunga dan daun-daun, memakan
spora-spora jamur, pemangsa arthropoda-arthropoda kecil dan vektor penyakit
tumbuhan.

Thysanoptera terbagi menjadi dua subordo yaitu Terebrantia dan

Tubulifera, perbedaannya terdapat pada bentuk ruas terakhir abdomen dan
perkembangan alat perteluran. Terebrantia mempunyai ruas abdomen terakhir

5
seperti kerucut atau membulat dan betina memiliki ovipositor yang berkembang
baik. Tubulifera mempunyai ruas abdomen terakhir seperti tabung dan betina
tidak memiliki ovipositor (Borror et al. 1989).
Trips biasanya makan di bagian dalam kuncup bunga atau daun yang baru
berkembang. Akibat hisapan trips, jaringan tanaman menjadi kering sehingga
menimbulkan gejala keperakan. Gejala pada bunga berupa bintik-bintik putih.
Gejala berupa bercak berwarna merah juga kadang-kadang muncul pada bunga
atau permukaan daun. Pada keadaan seperti itu hasil panen dapat dikatakan rusak
dan tidak layak untuk dipasarkan (Mound & Kibby 1998).
Trips dapat berperan sebagai hama penting pada tanaman, vektor penyakit
tanaman, serangga predator, dan serangga penyerbuk (polinator) (Dibiyantoro
1998). Trips menjadi hama penting terutama jika menyerang tanaman bernilai
ekonomi tinggi seperti tanaman hias, hortikultura, tanaman buah dan sayuran
(Mound & Kibby 1998). Menurut Dibiyantoro (1998), trips telah menjadi salah
satu masalah serius yang dihadapi para petani sayuran dalam program
pengendalian hama terpadu.
Trips juga berperan sebagai vektor penyakit virus mosaik dan virus keriting
yang menyebabkan tanaman inang menguning dan mati (Lewis 1997). T. palmi
menjadi vektor tospovirus pada tanaman di berbagai Negara.

Trips sebagai

predator biasanya memangsa hewan yang berukuran lebih kecil dari tubuhnya.
Beberapa trips juga dapat memangsa sesama trips.

Trips dapat membantu

tanaman dalam penyerbukan, sehingga trips dapat berperan sebagai penyerbuk.
Hal ini terjadi terutama pada bunga yang berukuran kecil (Dibiyantoro 1998). 
Serangga ordo Thysanoptera yang telah teridentifikasi ada sekitar 6680
spesies.

Dari jumlah tersebut, 93% merupakan famili Thripidae dan

Phlaeothripidae.

Sekitar 3950 spesies trips dideskripsikan ke dalam famili

Phlaeothripidae yang merupakan satu-satunya famili dalam subordo Tubulifera.
Famili Thripidae yang teridentifikasi ada 2338 spesies.

Famili Thripidae

merupakan satu dari delapan famili subordo Terebrantia (Tabel 1) (Mound &
Morris 2007).

6
Tabel 1 Klasifikasi Ordo Thysanoptera
Sub-ordo
Terebrantia

Famili
Merothripidae

Sub-famili

Genus
3

Melanthripidae

4

65

Aeolothripidae

23

190

Fauriellidae

4

5

Adiheterothripidae

3

6

Heterothripidae

4

70

Panchaetothripinae

35

125

Dendrothripinae

13

95

Sericothripinae

3

140

225

1700

1

1

Phlaeotripinae

370

2800

Idolothripinae

80

700

Thripidae

Thripinae
Uzelothripinae
Tubulifera

Spesies
15

Phlaeothripidae

Sumber: Mound & Morris 2007

Perbedaan Subordo Terebrantia dan Tubulifera
Subordo Terebrantia memiliki ciri khas pada bagian ujung abdomen yang
berbentuk kerucut dengan alat reproduksi yang jelas. Famili Thripidae memiliki
karakter tubuh yang berwarna coklat gelap (biasanya betina) dan pucat atau
transparan (biasanya jantan). Antena biasanya terdiri dari tujuh atau delapan ruas,
kadang-kadang ada beberapa spesies dari famili ini yang mempunyai enam atau
sembilan ruas antena.

Kepalanya memiliki tiga oseli (mata tunggal) yang

terangkai di antara mata majemuk.

Rangkaian seta utama terdapat pada

pronotum. Sklerit tengah pada metanotum sering mempunyai bentuk sculpture
dengan rangkaian seta yang berbeda. Sayap dengan tiga baris seta. Pada tergit
VIII memiliki comb, yaitu barisan microtrichia yang teratur.

Trips betina

mempunyai ovipositor yang terdiri dari dua pasang katup seperti gigi, jantan yang
mempunyai aedeagus (Mound 2006).
Subordo Tubulifera memiliki ciri khas pada bagian ujung abdomen yang
berbentuk tabung atau tubul yang membedakannya dengan subordo Terebrantia.
Famili Phlaeothripidae memiliki tubuh yang berwarna gelap. Antenanya terdiri

7
dari delapan ruas, stilet maksila terlihat dengan jelas di bagian kepala. Pada
bagian tarsus depan terdapat tonjolan kuku tarsus.

Sayap depan ada yang

menyempit di tengah dan ada yang paralel. Terdapat posternal basantara yang
tampak jelas di bagian pronotum (Mound 2006).

Perangkap Likat
Perangkap likat secara luas digunakan di dalam rumah kaca, khususnya
pada daerah beriklim sedang. Perangkap ini dapat menurunkan jumlah populasi
hama yang sedang berkembang di kedua tempat tersebut. Secara tradisional,
perangkap warna kuning telah digunakan karena dapat menarik hama serangga.
Perbedaan spesies menjadi salah satu hal yang membedakan terhadap ketertarikan
serangga terhadap warna perangkap likat (Jacobson 1997). Perangkap likat adalah
salah satu cara yang dilakukan dalam mengendalikan hama trips secara fisik
dengan kecenderungan warna putih hingga biru.

Meskipun faktor warna ini

dalam penelitian lain mengatakan bahwa kadar refleksi dan panjang gelombang
cahaya juga akan menentukan jumlah penangkapan (Dibiyantoro 1998). Warna
dan kekontrasan warna digunakan oleh serangga untuk membedakan antara
tanaman inang dan lingkungan sekitar. Komponen warna yang sangat penting
untuk membedakan antara tanaman inang dan bukan inang adalah warna, saturasi,
dan kecerahan (Terry 1997).

Untuk memerangkap Thrips tabaci digunakan

perangkap likat berwarna kuning dan biru, sedangkan untuk F. occidentalis
digunakan warna biru (Prabaningrum & Moekasan 2008).

BAHAN DAN METODE

Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di dua lokasi pertanaman cabai, yaitu di Desa
Sukagalih, Kecamatan Megamendung dan Desa Situ Gede, Kecamatan Darmaga,
serta Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen Proteksi Tanaman,
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dari bulan Maret sampai September
2011.
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah perangkap likat
(sticky trap) warna biru, kuning dan putih yang terbuat dari mika plastik
transparan, lem tikus dan styrofoam warna biru, kuning dan putih, lahan tanaman
cabai, dan ajir kayu. Alat-alat yang digunakan adalah lem tikus, gunting, kuas,
straples, penjepit kertas, mikroskop stereo, mikroskop compound, buku
identifikasi, hand counter.
Pembuatan Perangkap Likat
Perangkap likat yang digunakan menggunakan lem tikus yang ditempelkan
pada plastik mika transparan. Plastik tersebut kemudian ditempelkan pada kertas
berwarna biru, kuning atau putih. Ukuran perangkap likat yaitu 15 cm x 21.5 cm.
Perangkap tersebut diberi ajir untuk dipasang di lahan tanaman cabai.
Pemasangan Perangkap Likat pada Pertanaman Cabai
Sebuah perangkap likat warna biru, kuning atau putih dipasang secara acak
pada sebuah petak tanaman cabai dengan ketinggian 5 cm - 10 cm di atas tajuk.
Chu et al. (2006) menyatakan bahwa perangkap dapat dipasang 5 cm - 10 cm di
atas tajuk tanaman. Pemasangan perangkap likat dilakukan pada fase vegetatif
dan generatif tanaman. Pemasangan perangkap likat dimulai pada saat tanaman
cabai berumur 1 bulan dari persemaian selama 2 hari. Seminggu setelah di ambil
untuk dihitung jumlah tripsnya, perangkap likat baru dipasang kembali pada
posisi yang sama dengan waktu pemasangan yang sama yaitu 2 hari. Dengan cara
yang sama dilakukan pemasangan perangkap likat pada kedua petak luas lahan
5 m x 5 m dan 7 m x 7 m. Untuk peletakan posisi perangkap likat disesuaikan

9
dengan tinggi tanaman, selain itu peletakan perangkap likat dipasang
menyesuaikan dengan arah cahaya matahari. Pemasangan dilakukan sebanyak 3x
ulangan pada setiap petak luas lahan.
Identifikasi dan Penghitungan Kepadatan Trips
Hasil pemasangan perangkap likat pada lahan tanaman cabai dibawa ke
laboratorium untuk diidentifikasi dan dihitung jumlah spesies dan individu per
spesies. Identifikasi dan perhitungan ini dilakukan untuk masing-masing warna
dan luas lahan. Proses identifikasi diawali dengan melakukan pembuatan awetan
preparat menggunakan kaca obyek. Preparat untuk identifikasi trips dilakukan
dengan mengambil spesimen trips yang sudah terperangkap di dalam perangkap
likat dengan cara menggunakan kuas kecil yang telah dilumuri dahulu
menggunakan cairan Carbol Xylene agar trips dapat di lepas dari lem pada
perangkap likat.

Setelah dilakukan pembuatan preparat, kemudian dilakukan

identifikasi trips yang terperangkap. Masing-masing spesies yang terperangkap
perangkap likat diidentifikasi di bawah mikroskop cahaya mulai dari perbesaran
4, 10, dan 40 kali terhadap masing-masing spesimen dengan bantuan literatur
kunci Identifikasi dari Mound & Kibby (1998) dan Moritz et al. (2004).
Rancangan Percobaan
Penelitian dirancang dengan Rancangan Petak Terbagi dalam Rancangan
Acak Kelompok (RAK) dengan pengamatan berulang. Perlakuan meliputi luas
lahan sebagai petak utama, yaitu 5 m x 5 m dan 7 m x 7 m, dan perangkap likat
persegi sebagai anak petak, yaitu perangkap warna biru, kuning dan putih.
Pemasangan perangkap likat dilakukan pada minggu ke: 1, 2, 3, 4 pada bulan
pertama yaitu untuk fase vegetatif dan minggu ke 1, 2, 3, 4 pada bulan kedua
untuk fase generatif. Pemasangan perangkap likat dilakukan selama 48 jam. Data
populasi serangga trips yang tertangkap pada perangkap likat dianalisis dengan
menggunakan program Statistical Analysis System (SAS) versi 9.1.3. Perlakuan
yang berbeda nyata diuji lanjut dengan uji Selang Berganda Duncan pada taraf
nyata 5%. Untuk memenuhi asumsi kehomogenan ragam dalam sidik ragam, data
jumlah trips per perangkap ditransformasi dengan logaritma bilangan dasar 10
(log Y)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Umum Pertanaman
Lokasi pemasangan perangkap likat dilakukan pada dua tempat yang
berbeda di daerah Bogor.

Lokasi pertama yaitu daerah Desa Sukagalih

Kecamatan Megamendung. Pemasangan perangkap likat warna kuning, putih,
dan biru dilakukan pada dua ukuran luas petak lahan yang berbeda yaitu 5 m
x 5 m dan 7 m x 7 m. Kondisi lingkungan di Desa Sukagalih memiliki cuaca yang
cukup dingin karena berdekatan dengan kaki Gunung pangrango.

Menurut

BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) suhu pada saat perlakuan
rata-rata ±21oC. Lokasi di sekitar lahan cabai Desa Sukagalih terdapat banyak
tanaman sayuran hortikultura diantaranya kacang panjang, jagung, terung, talas,
kedelai, pakcoy, dan kacang kapri. Tanaman yang berbatasan langsung dengan
lahan pengamatan adalah tanaman jagung, terung, kacang kapri, dan kacang
panjang (Gambar 1). Tanaman lain yang berada disekitar tanaman cabai bisa
dimanfaatkan trips sebagai tanaman inang alternatif sehingga spesies trips yang
menyerang tanaman inang di petak pengamatan menjadi beragam.

Menurut

Yulianti (2008) terung, dan kacang panjang merupakan jenis tanaman yang
disukai oleh T. parvispinus.

U
JAGUNG

Tanaman

KACANG
KAPRI

pengamatan:

TERUNG

CABAI

KACANG
PANJANG
Gambar 1 Lokasi tanaman cabai di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung

11
Lokasi kedua yang digunakan untuk pemasangan perangkap likat ini yaitu
bertempat di Desa Situ Gede, Kecamatan Darmaga, Bogor. Kondisi di Desa Situ
Gede merupakan daerah yang cukup panas dan merupakan daerah persawahan.
Cuaca pada saat dilakukan perlakuan cukup stabil dan lebih cenderung sesuai
terhadap musim kemarau.

Berdasarkan pengamatan kondisi di Situ Gede

memang cukup panas dan suhu pada saat dilakukan perlakuan perangkap likat
cukup stabil. Menurut data BMKG suhu di Desa Situ Gede rata-rata ±26oC.
Lokasi ini juga dilakukan pemasangan perangkap likat warna biru, kuning, dan
putih dengan dua macam ukuran luas petak lahan yaitu 5 m x 5 m dan 7 m x 7 m.
Lokasi di sekitar lahan cabai tersebut juga banyak ditanam tanaman lain yaitu
diantaranya padi, kacang kedelai, talas, jagung, mentimun, dan paria. Tanaman
yang berbatasan langsung dengan lahan pengamatan di lokasi ini adalah tanaman
padi, talas, dan kacang kedelai (Gambar 2).

U
PADI
 

Tanaman
pengamatan:

TALAS

PADI

CABAI

 

KEDELAI
 

Gambar 2 Lokasi tanaman cabai di Desa Situ Gede, Kecamatan Darmaga

Identifikasi Trips
Thrips parvispinus
Imago trips ini memiliki warna yang khas pada tubuhnya. Pada bagian
tubuhnya memiliki warna coklat, bagian kepala dan toraks warnanya lebih terang
daripada bagian abdomen (Gambar 3a). Untuk warna tubuh pada spesies ini tidak
bisa menjadi patokan utama untuk identifikasi.

Warna tubuh trips memiliki

variasi warna yang cukup besar dan memiliki perbedaan pada ketinggian tertentu
(Magdalena 2008). Pada bagian kepala dengan sisi lebih gelap daripada bagian
tengah. Kepala berukuran lebih lebar, dengan dua pasang seta oseli, seta III
berada di luar garis oseli (Gambar 3c). Seta postokular 1 dan II lebih panjang dan
ramping daripada seta III. Antena terdiri dari tujuh ruas, pada ruas III dan IV
terlihat jelas struktur sense cone yang sederhana dan menggarpu (Gambar 3b).
Pronotum dengan dua pasang seta posteroangular yang panjang, tepi posterior
dengan tiga pasang seta (Gambar 3d). Metanotum dengan retikulasi rata dan
seragam, seta tengah panjang dan terletak dibawah garis anterior (Gambar 3e).
Pada bagian tengah metanotum tidak terdapat campaniform sensilla. Permukaan
sayap pada baris pertama dan kedua dengan seta yang lengkap, clavus dengan
lima seta margin (Gambar 3f).

Sternit pada abdomen terdapat seta diskal

(Gambar 3g). Tergit V-VII dengan stenidia di bagian lateral, pada tergit VII
terdapat spirakel dengan posisi posteromesad (Gambar 3h). Posteromargin tergit
VIII hampir tidak ada comb, hanya sedikit terdapat microtrichia di bagian lateral
(Gambar 3i).
Tanaman inang T. parvispinus telah dilaporkan sebagai hama pada beberapa
tanaman di Negara Asia Tenggara, berkembang biak di bunga dan daun muda,
dan juga merusak tanaman Gardenia secara serius di Yunani (Moritz et al. 2004).
Selain itu menurut Terry (1997) tanaman inang dari spesies T. parvispinus adalah
cabai. Berdasarkan hasil penelitian Yulianti (2008) spesies T. parvispinus banyak
menjadi hama pada pada berbagai tanaman inang diantaranya adalah cabai,
terung, pare, oyong, tomat, kacang panjang, buncis, mentimun, caisin, jagung
manis, juga tanaman gulma yaitu Ageratum conyzoides dan Widellia biflora.

13

a

b

c

d

g

e

h

f

i

Gambar 3 Spesies Thrips parvispinus: (a) Imago betina, (b) Antena dengan sense
cone pada segmen III dan IV, (c) Kepala, (d) Pronotum dengan dua
pasang seta posteroangular yang panjang, (e) Metanotum dengan
retikulasi rata dan seragam (equiangular), (f) Sayap depan dengan seta
lengkap, (g) Sternit memiliki seta diskal, (h) Ctenedia dan spirakel,
(i) Tergit VIII tanpa comb
Thrips palmi
Spesies trips ini merupakan salah satu hama yang dapat menyebabkan
kerusakan secara langsung pada tanaman. Selain itu trips ini juga dapat menjadi
vektor virus pada beberapa tanaman. Spesies Thrips tabaci dan T. palmi sebagai
vektor tomato spotted wilt virus (Dibiyantoro 1998). Spesies ini juga banyak
terdapat di beberapa tanaman inang lainnya terutama pada iklim tropis. T. palmi
berasal dari Asia Tenggara, spesies ini sekarang ditemukan dan tersebar di daerah
beriklim tropik basah (Moritz et al. 2004).
Imago trips ini cukup mudah untuk dikenali karena memiliki tubuh
berwarna kuning pada bagian tubuh dan tungkainya yang menjadi ciri khas utama
pada tubuhnya (Gambar 4a). Antena terdiri dari 7 ruas (Gambar 4b). Pada ruas
III dan IV terlihat jelas struktur sense cone yang sederhana dan menggarpu

14
berukuran pendek (G
Gambar 4c). Bagian kepala terdapat dua paasang seta oseli,
seta oseli III lebih panjang
p
dari oseli II, dan posisisnya beradaa di luar margin
segitiga oseli. Pronootum dengan 2 pasang seta posteroangular panjang
p
(Gambar
4d), tepi posterior dengan
d
3 pasang seta. Metanotum dengann sculpture garis
longitudinal tidak beeraturan yang terkumpul pada posterior marggin dengan garis
transversal melengkuung pada anterior, seta tengah berada di sebelah anterior
margin (Gambar 4e).
Bagian setengaah sayap depan bagian distal pada barisan pertama
p
terdapat
3 atau 2 seta, sedangkkan pada barisan kedua terdapat sekitar 15 seta. Tegit V-VIII
dengan stenidia lateraal, dan pada tepi posterior margin VIII terdappat comb lengkap
dengan microtrichia ramping dan panjang (Gambar 4f). Sternitt III-VII dengan
3 pasang seta, sterniit tanpa seta diskal. Imago jantan lebih kecil,
k
tergit VIII
dengan comb lengkapp di tengah, sternit III-VII dengan daerah sempit
s
glandular
transversal.

a

b

d

c

e

f

Gambar 4 Spesies Thhrips palmi: (a) Imago betina, (b) Antena, (c)) Antena dengan
sense conne, (d) Pronotum dengan 2 pasang seta posteroangular
panjang, (e) Metanotum dengan campaniform sensiliaa, (f) Tergit VIII
dengan coomb
Tanaman inangg T. palmi terdapat pada tanaman Cucurbitaceeae dan tanaman
lain di Negara tropiis yang lembab secara menyeluruh (Morittz et al. 2004).
T. palmi merupakan hama penting pada tanaman kentang (Tobinng 1996). Selain
itu, menurut Terry (11997) tanaman inang dari spesies T. palmi yaaitu tedapat pada

15
tanaman sayuran. Berdasarkan penelitian Yulianti (2008) T. palmi menjadi hama
pada beberapa tanaman inang diantaranya cabai, terung, dan tomat.
Microcephalothips abdominalis
Imago spesies trips ini memiliki tubuh berwarna coklat (Gambar 3a). Imago
jantan hampir mirip dengan imago betina tetapi ukurannya lebih kecil, dan
berwarna pucat. Segmen antena terdiri dari 7 segmen (Gambar 3c), pada segmen
III dan IV terdapat sense cone yang berbentuk garpu (Gambar 3d). Kepala
berbentuk memanjang, terdapat dua pasang seta oseli, seta III sangat pendek dan
terletak di depan samping segitiga oseli, seta postokular kecil (Gambar 3b).
Pronotum bagian belakang berbentuk lebih lebar daripada tepi pronotum depan,
dengan 2 pasang seta posteroangular yang pendek, sedangkan pada tepi pronotum
belakang mempunyai 5 pasang seta (Gambar 3e). Prosternum dengan 8 sampai
10 seta mengelompok di antara tungkai depan pada toraks. Metanotum dengan
sculpture linear halus dilengkapi campaniform sensilla (Gambar 3f). Mesofurka
dengan spinula. Permukaan sayap depan pada venasi pertama dengan 3 seta pada
setengah distal, sedangkan pada baris kedua dengan 7 seta, klavus dengan 5 seta
(Gambar 3g). Terdapat seta diskal pada sternit abdomen (Gambar 3h). Tergit
dengan garis sculpture pada anterior tengah tetapi tidak pada bagian tengah
posterior. Struktur comb pada tergit VIII dengan microtrichia langsing dan pada
bagian dasarnya berbentuk segitiga (Gambar 3i).
Tanaman inang M. abdominalis cukup beragam diantaranya Helianthus
annuus, Tanecetum cinerariifolium (Pyrethum), dan tersebar luas pada gulma
spesies Ageratum conyzoides (Moritz et al. 2004).

Berdasarkan penelitian

Yulianti (2008) spesies M. abdominalis ditemukan pada beberapa pada tanaman
inang diantaranya cabai, ubi jalar, juga pada gulma (A. conyzoides dan
W. biflora).

16

a

b

d

c

e

g

f

h

Gambar 5

i

Spesies Microcephalothrips abdominalis: (a) Imago betina,
(b) Kepala, (c) Antena dengan 7 segmen, (d) Pronotum dengan
2 pasang seta posteroangular yang pendek, (e) Antena dengan
sense cone, (f) Metanotum dengan sculpture linear halus dilengkapi
campaniform sensilla, (g) Barisan seta sayap depan venasi pertama
dan kedua tidak lengkap, (h) Seta diskal pada sternit abdomen,
(i) Struktur comb berbentuk segitiga

 

Mymarothrips bicolor
Spesies ini termasuk ke dalam famili Aelothripidae dan subfamili
Aelothripinae, imago dan nimfa tinggal pada permukaan daun dapat diduga
menjadi predator nimfa trips tertentu pada subfamili Panchaetothripinae (Moritz
et al. 2004). Imago betina merupakan makroptera, tubuhnya mempunyai dua
warna dengan kapala dan toraks berwarna coklat akan tetapi berwarna kuning di
bagian tengahnya (Gambar 4b). Pada bagian kepala terdapat 2 pasang seta yang
terletak dibelakang oseli (Gambar 4a).

Antena terdiri dari sembilan segmen

17
(Gambar 4c), segmen II-VII berukuran panjang dan terdapat banyak seta, panjang
segmen VII dan IX lebih pendek dari pada segmen VII, mempunyai warna yang
seragam yaitu coklat tua sampai coklat legam (Moritz et al. 2001).

a
Gambar 6

b

c

Spesies Mymarothrips bicolor: (a) Kepala, (b) Imago betina,
(c) Antena (Moritz et al. 2001)

Tanaman inang M. bicolor pada saat fase imago dan larva diperkirakan
menjadi predator larva Panchaetothripinae yang hidup pada daun tanaman (Moritz
et al. 2001). Berdasarkan penelitian Yulianti (2008) spesies M. bicolor terdapat
pada tanaman inang ubi jalar.

Subordo Tubulifera
Ciri khas dari spesies ini antara lain: imago betina memiliki tubuh dan
tungkai yang berwarna coklat tua (Gambar 7a). Antena terdiri dari 8 segmen,
dengan bagian dasar segmen antena ke-III berwarna coklat muda (Gambar 7c).
Kepala berbentuk lebih panjang, mempunyai seta postocular kapitat yang lebih
pendek daripada mata majemuk bagian dorsal (Gambar 7b). Segmen III lebih
kecil daripada segmen IV dan hanya terdapat satu sense cone, sedangkan pada
segmen IV terdapat empat sense cone (Gambar 7e) pada permukaan sayap
terdapat bagian sisik berwana coklat tua dan mempunyai 8-10 silia duplikat
(Gambar 7f) pada bagian metanotum dengan retikulasi yang halus (Gambar 7d)
pada bagian abdomennya, antara tergit II-VII mempunyai dua pasang seta yang
terlihat jelas di bagian tengah (Gambar 7h).

Tubuh sedikit melancip pada

ujungnya (Gambar 7g).
Menurut Yulianti (2008) beberapa spesies dari subordo Tubulifera yakni
H. froggatti, H. gowdeyi dan H. ganglebaueri dapat ditemukan pada tanaman
cabai, jagung manis, padi, dan gulma. Selain itu Moritz et al. (2001) mengatakan
bahwa beberapa spesies dari subordo Tubulifera menjadi hama pada rumput dan
tanaman serealia.

18

a

b

c

d

e

f

g
Gambar 7

h

Spesies Subordo Tubulifera: (a) Imago betina, (b) Kepala, (c) Antena
dengan 7 segmen, (d) metanotum dengan retikulasi yang halus,
(e) Antena dengan satu sense cone, (f) Sayap seperti sisik, (g) Tubuh
yang melancip seperti tabung pada ujung abdomen, (h) Tergit II-VII
mempunyai dua pasang seta

Trips Tidak Dapat Diidentifikasi
Spesies trips ini merupakan kumpulan dari berbagai macam trips yang
ditemukan pada perangkap likat warna putih, kuning, dan biru.

Trips yang

termasuk kategori ini adalah trips yang memiliki postur tubuh yang tidak lengkap
karena hancur pada saat masuk ke dalam perangkap likat sehingga tidak bisa
dilakukan identifikasi sampai spesies. Akan tetapi dari keseluruhan trips yang
termasuk kategori trips tidak dapat diidentifikasi ada beberapa bagian tubuh yang
dapat terlihat walaupun hanya pada bagian tertentu saja.

Contohnya antena,

kepala, abdomen, sayap, dan lain-lain tertera pada Gambar 8a sampai dengan
Gambar 8e.

19

a

b

c

d

e

Gambar 8 Spesies kategori trips tidak teridentifikasi: (a) Imago trips tidak utuh,
(b) Kepala tidak utuh, (c) Tergit pada abdomen yang kotor, (d) Sisi
tubuh trips dekat pangkal sayap rusak, (e) Sisi tergit yang hancur.
Populasi Trips Berdasarkan Warna Perangkap dan Waktu Pengamatan
Spesies trips yang tertangkap pada perangkap likat di Desa Sukagalih
meliputi 4 spesies dari famili Thripidae subordo Terebrantia dan spesies-spesies
yang termasuk subordo Tubulifera yang dapat diidentifikasi dan spesies lain dari
subordo Terebrantia yang tidak dapat diidentifikasi.

Sementara di Desa Situ

Gede, trips yang tertangkap terdiri atas 5 spesies yang dapat diidentifikasi dan
subordo Terebrantia yang tidak dapat diidentifikasi. Jumlah spesies dari subordo
Terebrantia famili Thripidae yang tertangkap pada perangkap jauh lebih banyak
dibandingkan dengan subordo Tubulifera (Tabel 1 dan 2). Ini sesuai dengan yang
diamati oleh Mound (2006), yang menemukan bahwa anggota trips dari famili
Thripidae banyak menyerang tanaman dan sebagian besar menjadi hama. Untuk
trips tidak dapat diidentifikasi adalah trips yang sulit untuk dilakukan identifikasi
karena kondisi tubuh trips yang tidak utuh setelah terperangkap ke dalam
perangkap likat. Tabel berikut menyajikan rata-rata jumlah trips yang tertangkap
pada perangkap likat ketiga warna yang diuji per waktu pengamatan.

Tabel 2

Jumlah trips yang tertangkap perangkap likat berdasarkan warna perangkap dan waktu pengamatan di Desa Sukagalih, Kecamatan
Megamendung, Bogor

Trips

Rata-rata jumlah trips tertangkap pada waktu minggu ke-1)

Warna perangkap
1

T. parvispinus

T. palmi

M. abdominalis

Subordo Tubulifera

Trips tidak diidentifikasi
1)

Kuning
Putih
Biru
Kuning
Putih
Biru
Kuning
Putih
Biru
Kuning
Putih
Biru
Kuning
Putih
Biru

2

3

4
6.5j
2.2k
8.7j
14.8hi
60.0bcde 37.8efg
49.3cdef 71.2abcd
71.2abcd 32.5fg
41.5efg
41.8def
2.7hi
1.0i
3.5gh
6.4f
13.7de
16.5cd
22.0bcd 39.8ab
18.7cd
19.5cd
23.0abcd 22.5abcd
9.8bcde 14.3abc
16.8abc 10.8cdef
15.7abc 13.0abcd 21.5ab
17.3abcd
8.8cdef
8.2cdef
14.2abc 2.5ghi
0.2b
0.2b
0.2b
0.0b
0.5ab
1.0a
0.0b
0.0b
0.2b
0.5ab
0.2b
0.2b
1.7bcdef 0.8bcdefg 1.2bcdef 2.6bcdef
3.0bcd
3.0cb
1.7bcdef 8.5a
2.8bcdef 3.3b
1.0bcdef 2.3bcde

5
10.5ij
31.2fg
21.8gh
6.2fg
20.3cd
24.5abcd
9.8cdef
12.3abcd
6.7defg
0.0b
0.0b
0.2b
5.7fg
7.7cdefg
6.7defg

6
15.2hi
77.2abc
62.2bcde
8.5ef
43.0a
34.7abc
10.2cdef
25.7a
6.8cdef
0.8ab
0.5ab
0.0b
8.2cdefg
16.0bcdefg
9.0cdefg

7
12.8ij
44.8cdef
43.5cdef
5.0fgh
19.7cd
22.2abcd
6.3efgh
10.5bcde
4.5fghi
0.5ab
0.5ab
0.2b
1.8g
6.8defg
7.5defg

8
29.3fg
108.7a
102.2ab
2.5hi
20.7bcd
30.3abc
1.8i
2.2hi
2.3hi
0.0b
0.3ab
0.5ab
6.0efg
12.2bcdefg
7.2defg

Angka sebaris atau selajur pada setiap jenis trips yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata (uji selang Duncan pada taraf α= 5%)

20

Tabel 3

Jumlah trips yang tertangkap perangkap likat berdasarkan warna perangkap dan waktu pengamatan di Desa Situ Gede, Kecamatan
Darmaga, Bogor

Trips

Rata-rata jumlah trips tertangkap pada waktu minggu ke-1)

Warna perangkap
1

T. parvispinus

T. palmi

M. abdominalis

Mymarothrips bicolor
Subordo Tubulifera

Trips tidak diidentifikasi
1)

Kuning
Putih
Biru
Kuning
Putih
Biru
Kuning
Putih
Biru
Kuning
Putih
Biru
Kuning
Putih
Biru
Kuning
Putih
Biru

0.3i
2.3gh
2.7efg
2.8klm
3.0ijk
10.5efgh
0.3fg
0.2fg
0.8efg
0.0c
0.0c
0.0c
0.8ab
0.5bc
1.7a
1.5efgh i
1.3defgh
2.7cdefgh

2
0.7i
2.2gh
2.5fg
0.2m
5.2hij
14.5def
0.0g
0.5efg
0.7efg
0.0c
0.0c
0.0c
0.0c
0.2bc
0.7bc
0.0i
3.3cde
3.5cdef

3
0.5i
3.2fg
3.7defg
1.2klm
3.5hij
8.0efgh
1.0efg
0.2fg
1.0efg
0.0c
0.0c
0.0c
0.3bc
0.3bc
0.7abc
1.5defgh
1.8cdefgh
2.8cdefg

4
1.0hi
5.2de
5.3d
0.3lm
6.3fghi
15.5de
1.7def
1.7defg
0.5efg
0.0c
0.0c
0.5c
0.0c
0.8ab
0.3bc
0.5hi
3.7cdef
1.3defgh

5
2.8fg
13.0c
16.3c
1.8jkl
6.8fghi
8.2efgh
1.0efg
3.3bcd
1.5defg
0.0c
0.0c
1.7b
0.0c
0.2bc
0.3bc
0.8ghi
3.3cd
2.2defgh

6
4.5def
15.3c
13.8c
2.2ijk
5.3ghij
10.7efg
2.3cde
5.0bc
6.2b
0.3c
0.2c
0.5c
0.5bc
0.2bc
0.3bc
1.2fghi
3.0cde
4.5c

7
11.7c
44.0b
59.2b
8.5ghij
29.7cd
46.5bc
21.5a
21.5a
16.0a
0.2c
0.3c
0.3c
0.2bc
0.7bc
0.3bc
3.0cdefg
4.2cdefg
13.3b

8
40.5b
145.8a
144.5a
20.0efg
69.8ab
122.0a
17.3a
31.0a
24.0a
0.2c
0.2c
3.0a
0.2bc
1.0ab
3.0bc
2.7defgh
24.0a
25.8a

Angka sebaris atau selajur pada setiap jenis trips yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata (uji selang Duncan pada taraf α= 5%)

21

22
Hasil pada kedua tabel di atas menunjukkan bahwa perangkap likat warna
biru dan putih dapat memerangkap trips spesies T. parvispinus dan T. palmi lebih
banyak dari perangkap likat warna kuning baik di Desa Sukagalih maupun Desa
Situ Gede. Jumlah trips yang tertangkap pada perangkap warna biru dan putih
tersebut tidak berbeda nyata (taraf nyata 5%). Hasil ini menunjukkan bahwa
warna biru dan putih merupakan warna yang disukai sedangkan warna kuning
merupakan warna yang kurang disukai oleh kedua spesies trips tersebut. Hal ini
sesuai dengan yang dinyatakan oleh Terry (1997) bahwa warna biru dan putih
adalah warna yang disukai oleh berbagai spesies trips. Hasil penelitian Xian Liu
dan Chu (2004) juga sejalan dengan hasil penelitian ini, yaitu bahwa beberapa
spesies trips lebih tertarik pada warna biru dan putih. Perangkap likat warna
kuning merupakan warna yang kurang disukai oleh trips, termasuk T. parvispinus.
Berdasarkan hasil pengamatan pada perangkap likat warna kuning, seranggga
yang paling banyak terperangkap yaitu berasal dari ordo Diptera, sedangkan untuk
trips hanya terdapat beberapa spesies. Weintraub dan Horowitz (1996)
menggunakan perangkap likat warna kuning untuk melakukan pemantauan
populasi Liriomyza sp. Pernyataaan tersebut didukung oleh penelitian lain yaitu
pemasangan perangkap likat kuning secara nyata dapat menurunkan populasi lalat
Liriomyza sp. (Supriyadi et al. 2000).
Ketiga warna perangkap likat tidak memberikan hasil tangkapan yang
berbeda nyata untuk trips spesies M. abdominalis pada kedua lokasi penelitian
(Desa Sukagalih dan Desa Situ Gede). Dibandingkan dengan banyaknya trips
T. parvispinus dan T. palmi yang tertangkap, jumlah individu M. abdominalis
yang tertangkap pada ketiga perangkap tersebut lebih rendah dari jumlah individu
kedua jenis spesies trips tersebut. Hal ini mengindikasikan dua hal: pertama,
warna biru, kuning, dan putih merupakan warna yang kurang disukai oleh trips
M. abdominalis, dan kedua, populasi trips tersebut yang datang ke pertanaman
cabai lebih rendah dari populasi T. parvispinus dan T. palmi. Keadaan yang sama
dan bahkan dengan tingkat populasi yang lebih rendah lagi terjadi juga dengan
trips dari subordo Tubulifera. Berdasark

Dokumen yang terkait

Dokumen baru