Dedalu Perkasa

Dedalu Perkasa

AKHIR liburan musim panas datang terlalu cepat bagi Harry. Dia memang senang kembali ke Hogwarts, tetapi sebulan bersama keluarga Weasley merupakan saat paling menyenangkan dalam hidupnya. Susah untuk tidak iri kepada Ron kalau dia teringat keluarga Dursley dan macam sambutan yang bisa diharapkannya

kalau dia muncul kembali di Privet Drive kali berikutnya.

Pada malam terakhir mereka, Mrs Weasley menyihir makan malam mewah yang mencakup semua ma- kanan favorit Harry ditutup dengan puding karamel yang menimbulkan air liur. Fred dan George meng- akhiri malam itu dengan memasang kembang api Filibuster. Kembang api itu memenuhi dapur dengan bintang-bintang merah dan biru yang memantul dari langit-langit ke dinding selama sedikitnya setengah jam. Kemudian tiba saatnya untuk minum secangkir cokelat panas sebelum tidur.

Perlu waktu lama untuk siap berangkat keesokan harinya. Mereka sudah bangun bersamaan dengan kokok ayam pagi-pagi sekali, tetapi rasanya banyak sekali yang harus dilakukan. Mrs Weasley berkelebat

ke sana kemari sambil ngomel, mencari kaus kaki dan pena cadangan. Orang-orang tak hentinya bertabrakan di tangga, berpakaian setengah-lengkap, dengan se- potong roti di tangan, dan Mr Weasley nyaris patah leher karena terantuk ayam tersesat ketika dia me- nyeberangi halaman dengan membawa koper Ginny ke mobil.

Harry tidak mengerti bagaimana nanti delapan orang, enam koper besar, dua burung hantu, dan seekor tikus bisa muat dalam Ford Anglia kecil. Dia tidak memperhitungkan, tentu saja, keistimewaan khu- sus yang telah ditambahkan Mr Weasley.

"Jangan bilang apa-apa kepada Molly," bisiknya ke- pada Harry ketika dia membuka -bagasi dan me- nunjukkan bagaimana bagasi itu sudah dibesarkan dengan sihir sehingga bisa memuat koper-koper.

Ketika akhirnya mereka semua sudah masuk mobil, Mrs Weasley melirik ke tempat duduk belakang, di mana Harry, Ron, Fred, George, dan Percy duduk nyaman bersebelahan, dan berkata, "Muggle benar- benar mampu melakukan lebih banyak daripada yang kita kira. Kita suka meremehkan mereka." Dia dan Ginny masuk dan duduk di tempat duduk depan,

yang sudah dipanjangkan sehingga mirip bangku taman. "Maksudku, dari luar kita tidak menyangka

selega ini, kan?"

Mr Weasley menyalakan mesin dan mobil meluncur Mr Weasley menyalakan mesin dan mobil meluncur

berputar balik. Kembang api Filibuster George ke- tinggalan. Lima menit sesudah itu, mereka menyentak berhenti di halaman supaya Fred bisa berlari mengam-

bil sapunya. Mereka sudah hampir tiba di jalan tol ketika Ginny memekik buku hariannya ketinggalan. Saat dia naik kembali ke mobil, mereka sudah sangat terlambat, dan semua orang sudah jengkel dan mau- nya marah.

Mr Weasley melirik arlojinya dan kemudian istrinya. "Molly sayang..." "Tidak, Arthur." "Tak akan ada yang lihat. Tombol kecil ini—Buster

Tidak Tampak—pendorong yang akan membuat mobil tidak kelihatan—yang sekaligus akan membuatnya ter- angkat ke atas. Kemudian kita akan terbang di atas awan. Kita akan tiba di sana dalam waktu sepuluh menit dan tak akan ada orang yang tahu..."

"Kubilang tidak, Arthur, tidak di siang bolong." Mereka tiba di King's Cross pukul sebelas kurang seperempat. Mr Weasley melesat menyeberang jalan, mengambil troli untuk koper-koper mereka, dan me- reka semua bergegas masuk stasiun.

Harry sudah pernah naik Hogwarts Express tahun sebelumnya. Bagian yang sulit adalah menuju ke peron sembilan tiga perempat, yang tidak tampak

bagi mata Muggle. Yang harus kaulakukan hanyalah berjalan menembus palang rintangan yang memisah- kan peron sembilan dan sepuluh. Tidak sakit, tetapi bagi mata Muggle. Yang harus kaulakukan hanyalah berjalan menembus palang rintangan yang memisah- kan peron sembilan dan sepuluh. Tidak sakit, tetapi

"Percy duluan," kata Mrs Weasley, gugup me- mandang jam di atas yang menunjukkan mereka ting- gal punya waktu lima menit untuk menghilang de-

ngan santai melewati palang rintangan.

Percy melangkah cepat dan menghilang. Mr Weasley berikutnya, disusul Fred dan George. "Aku akan membawa Ginny dan kalian berdua langsung menyusul," Mrs Weasley berkata kepada Harry dan Ron, menggandeng tangan Ginny dan

berangkat. Dalam sekejap mereka sudah menghilang.

"Ayo masuk bareng, kita cuma punya waktu se- menit," kata Ron kepada Harry.

Setelah memastikan sangkar Hedwig sudah ter- pasang aman di atas kopernya, Harrry mendorong trolinya untuk menembus palang. Dia merasa sangat

percaya diri. Ini lebih nyaman dibanding meng- gunakan bubuk Floo. Mereka berdua membungkuk rendah di atas pegangan troli dan berjalan man tap ke arah palang rintangan, makin lama makin cepat. Kira- kira semeter dari palang mereka berlari dan...

GUBRAK. Kedua troli menabrak palang rintangan dan me-

mantul balik. Koper Ron jatuh dengan suara keras. Harry terjatuh dan sangkar Hedwig terguling ke lantai

yang licin lalu menggelinding. Hedwig menjerit-jerit marah. Orang-orang menonton dan seorang penjaga

di dekat palang berteriak marah, "Kalian ini ngapain?" "Kehilangan kendali troli," kata Harry tersengal, memegangi tulang rusuknya sambil berdiri. Ron berlari di dekat palang berteriak marah, "Kalian ini ngapain?" "Kehilangan kendali troli," kata Harry tersengal, memegangi tulang rusuknya sambil berdiri. Ron berlari

"Kenapa kita tidak bisa tembus?" desis Harry kepada Ron. "Entahlah..." Ron memandang berkeliling dengan cemas. Kira-

kira selusin orang masih memandang mereka dengan ingin tahu.

"Kita akan ketinggalan kereta," bisik Ron. "Aku tak mengerti kenapa gerbang masuk ini terkunci..."

Harry memandang jam raksasa dengan hati men- celos. Sepuluh detik... sembilan detik...

Dia mendorong trolinya ke depan dengan hati-hati sampai menempel ke palang dan mendorong sekuat tenaga. Logam palang tetap kokoh.

Tiga detik... dua detik... satu detik... "Keretanya berangkat," kata Ron panik. "Keretanya

sudah berangkat. Bagaimana kalau Mum dan Dad tidak bisa menembus gerbang kembali ke kita? Kau punya uang Muggle?"

Harry tertawa hambar. "Sudah kira-kira enam tahun ini keluarga Dursley tidak memberiku uang saku." Ron menempelkan telinganya ke palang yang dingin.

"Tidak kedengaran apa-apa," ka.tanya tegang. "Apa yang akan kita lakukan? Aku tak tahu berapa lama lagi Mum dan Dad bisa kembali ke kita."

Mereka memandang berkeliling. Orang-orang masih mengawasi mereka, terutama gara-gara teriakan- teriakan Hedwig yang tak kunjung berhenti.

"Kurasa lebih baik kita menunggu di mobil," kata Harry. "Kita menarik terlalu banyak perhat..." "Harry!" seru Ron, matanya berbinar. "Mobil." "Kenapa mobilnya?" "Kita bisa menerbangkannya ke Hogwarts!" "Tapi bukankah..." "Kita ketinggalan kereta, betul? Dan kita harus ke

sekolah, kan? Dan bahkan penyihir di bawah umur diizinkan menggunakan sihir, kalau keadaan benar- benar darurat, pasal sembilan belas atau entah berapa dalam Pembatasan Hal-hal..."

Kepanikan Harry mendadak berubah menjadi ke- gairahan. "Kau bisa menerbangkannya?" "Tidak masalah," kata Ron, memutar trolinya meng-

hadap pintu keluar. "Ayo, cepat, kalau bergegas kita masih akan bisa mengikuti Hogwarts Express."

Mereka melewati kerumunan Muggle-muggle yang ingin tahu, keluar dari stasiun dan kembali ke tepi jalan tempat Ford Anglia tua diparkir.

Ron membuka bagasinya yang luas dengan sederet ketukan tongkatnya. Dengan susah payah mereka me- masukkan kembali koper-koper mereka, meletakkan Hedwig di tempat duduk belakang, dan duduk di tempat duduk depan.

"Periksa apa ada yang melihat," kata Ron, meng- hidupkan mesin dengan ketukan tongkatnya juga. Harry menjulurkan kepala ke luar jendela. Jalan raya di depan cukup ramai, tetapi jalan tempat mereka

berada kosong. "Oke," katanya.

Ron menekan tombol perak kecil di dasbor. Mobil- mobil di sekitar mereka lenyap—begitu juga mereka. Harry bisa merasakan tempat duduknya bergetar, men- dengar derum mesinnya, merasakan tangannya di lututnya dan kacamata yang bertengger di hidungnya,

tetapi rasanya dia sudah berubah menjadi sepasang bola mata saja, melayang kira-kira semeter di atas tanah di jalan kumuh yang dipenuhi mobil-mobil yang parkir.

"Kita berangkat," terdengar suara Ron dari sebelah kanannya.

Tanah dan bangunan-bangunan kotor di kanan-kiri mereka terjatuh dan menghilang dari pandangan ketika mobil mengangkasa. Dalam beberapa detik saja

seluruh London terhampar berkabut dan berkilau di bawah mereka.

Kemudian terdengar bunyi pop dan mobil, Harry, serta Ron kelihatan lagi.

"Uh, oh," kata Ron, menekan-nekan Buster Tidak Tampak. "Rusak rupanya..."

Keduanya memukul-mukul tombol itu. Mobil kem- bali menghilang. Kemudian muncul lagi.

"Pegangan!" teriak Ron, dan dia menekankan kaki- nya ke pijakan gas. Mereka langsung melesat ke dalam awan-awan rendah seperti wol dan segalanya berubah

menjadi suram dan berkabut.

"Sekarang bagaimana?" tanya Harry, menatap dinding awan tebal yang menekan mereka dari segala penjuru.

"Kita perlu melihat kereta apinya agar bisa melihat ke arah mana kita harus pergi," kata Ron. "Turun lagi—cepat..."

Mereka turun lagi ke bawah awan-awan dan me- nyipitkan mata memandang ke bawah... "Aku bisa melihatnya!" Harry berteriak. "Itu dia— itu, di sana!"

Hogwarts Express meluncur di bawah mereka se- perti ular merah. "Ke utara," kata Ron, mengecek kompas di dasbor. "Oke, kita tinggal mengeceknya setengah jam sekali. Pegangan..." Dan mereka melesat menembus awan. Semenit kemudian, mereka muncul dalam cahaya te- rang matahari.

Sungguh dunia yang berbeda. Roda-roda mobil me- luncur di atas lautan awan-awan putih lembut. Langit terhampar biru di bawah sinar matahari yang me- nyilaukan.

"Yang tinggal kita cemaskan hanyalah pesawat," kata Ron. Mereka saling pandang dan mulai tertawa, lama sekali tak bisa berhenti.

Rasanya mereka dijatuhkan ke dalam mimpi yang luar biasa indah. Ini, pikir Harry, jelas satu-satunya cara bepergian; melewati pusaran dan gundukan awan-awan seputih salju, di dalam mobil yang disiram cahaya matahari, dengan bungkusan besar permen di dalam kompartemen, dan harapan melihat wajah iri Fred dan George ketika mereka mendarat dengan mulus dan spektakuler di lapangan rumput di depan

kastil Hogwarts.

Secara teratur mereka mengecek kereta api semen- tara mereka terbang makin lama makin jauh ke utara. Setiap kali menukik ke bawah awan, pemandangan Secara teratur mereka mengecek kereta api semen- tara mereka terbang makin lama makin jauh ke utara. Setiap kali menukik ke bawah awan, pemandangan

Meskipun demikian, setelah beberapa jam tanpa kejadian apa-apa, Harry harus mengakui bahwa se- bagian keasyikannya sudah pudar. Permennya telah membuat mereka haus sekali dan mereka tak punya apa-apa untuk diminum. Dia dan Ron sudah melepas rompi mereka, tetapi T-shirt Harry sudah menempel ke tempat duduknya dan kacamatanya bolak-balik merosot dari hidungnya yang berkeringat. Dia sudah berhenti mengamati bentuk-bentuk awan yang fan- tastis sekarang, dan memikirkan kereta api yang ber-

kilo-kilo meter di bawah mereka. Di dalam kereta mereka bisa membeli jus labu kuning dingin dari troli yang didorong penyihir wanita gemuk. Kenapa mereka tidak bisa menembus palang menuju peron sembilan tiga perempat?

"Pasti tidak jauh lagi, kan?" kata Ron serak, berjam- jam kemudian, ketika matahari sudah mulai terbenam dalam landasan awannya, membuatnya berwarna merah jingga. "Siap mengecek kereta api lagi?"

Kereta apinya masih di bawah mereka, berkelok mengitari gunung yang puncaknya berselimut salju. Di bawah kanopi awan keadaan jauh lebih gelap.

Ron menginjak gas dan membawa mobil naik lagi, tetapi mendadak mesinnya mulai menderu aneh.

Harry dan Ron bertukar pandang gugup. "Mungkin cuma lelah," kata Ron. "Soalnya belum

pernah pergi sejauh ini..."

Dan mereka berdua berpura-pura tidak memper- hatikan deru aneh yang semakin lama semakin keras, sementara langit secara pasti semakin gelap. Bintang-

bintang bermunculan dalam kegelapan. Harry kembali memakai rompinya, berusaha mengabaikan kipas kaca mobil yang sekarang bergerak-gerak lemah, seakan memprotes.

"Tidak jauh lagi," kata Ron, lebih kepada mobilnya daripada kepada Harry. "Tidak jauh lagi sekarang," dan dia membelai dasbor dengan gugup.

Ketika mereka terbang kembali di bawah awan- awan tak lama kemudian, mereka harus menyipitkan mata menembus kegelapan untuk mencari tanda-tanda yang mereka kenal.

"Itu dia!" teriak Harry, membuat Ron dan Hedwig terlonjak kaget. "Di depan!"

Seperti siluet di kaki langit yang gelap, tinggi di atas karang di seberang danau, tampaklah menara- menara kastil Hogwarts.

Tetapi mobil sudah mulai bergetar dan kecepatannya sudah berkurang.

"Ayolah," kata Ron membujuk, menggoyang sedikit roda kemudi, "sudah hampir sampai, ayolah..."

Mesin mengeluh. Semburan-semburan asap ber- munculan dari bawah kap mobil. Harry memegangi tepi tempat duduknya erat-erat ketika mereka terbang menuju danau.

Mobil berguncang keras. Mengerling ke luar lewat Mobil berguncang keras. Mengerling ke luar lewat

"Ayolah," Ron bergumam. Mereka berada di atas danau... kastil persis di

depan mereka... Ron menginjak pedal gas.

Terdengar bunyi debam keras, bunyi merepet, kemu- dian mesin mati total. "Uh, oh," kata Ron dalam kesunyian. Hidung mobil merendah. Mereka terjatuh, makin

lama makin cepat, menuju tembok kastil yang kokoh.

"Tidaaaaaaaaak!" jerit Ron, membanting setir seratus delapan puluh derajat Mereka lolos dari tembok hanya beberapa senti saja ketika mobil berbelok dalam lengkungan besar, melesat di atas rumah-rumah kaca yang gelap, melewati kebun sayur, dan keluar ke halaman yang gelap, semakin lama semakin rendah.

Ron melepas roda kemudi sepenuhnya dan menarik tongkatnya dari saku belakang.

"STOP! STOP!" dia memekik, memukul-mukul dasbor dan kaca depan, tetapi mereka terus meniikik, daratan serasa terbang ke atas m e n y o n g s o n g mereka....

"AWAS POHON ITU!" Harry berteriak, menyambar roda kemudi, tetapi terlambat... GUBRAK! Bunyi logam menabrak kayu memekakkan telinga

ketika mobil menghantam batang pohon yang besar. Mobil terbanting ke tanah dengan empasan keras.

Asap mengepul dari atapnya yang penyok. Hedwig Asap mengepul dari atapnya yang penyok. Hedwig

"Kau tak apa-apa?" tanya Harry cemas. "Tongkatku," kata Ron dengan suara gemetar. "Lihat

tongkatku." Tongkat itu patah, nyaris menjadi dua. Ujungnya tergantung lunglai, hanya menempel pada seserpih kayu.

Harry membuka mulut untuk mengatakan dia yakin mereka akan bisa membetulkannya di sekolah, tetapi dia tak sempat bicara apa-apa. Tepat pada saat itu sesuatu menghantam mobil di sisi tern pat Harry duduk, dengan kekuatan banteng gila. Harry terlempar

ke arah Ron. Pada saat bersamaan, pukulan yang sama besarnya menghantam atap mobil.

"Apa yang terja...?" Ron ternganga kaget, terbelalak memandang lewat

kaca depan, dan Harry berbalik tepat ketika dahan sebesar ular piton menghantam kaca itu. Pohon yang mereka tabrak menyerang mereka. Batangnya ter- bungkuk nyaris terlipat dua, dan dahan-dahannya yang berbonggol-bonggol memukul-mukul segala bagian mobil yang bisa dicapainya.

"Aaaargh!" jerit Ron ketika dahan bengkok lain menghantam pintu mobilnya sampai melesak. Kaca depan sekarang bergetar di bawah hujan pukulan ranting-ranting—yang bentuknya seperti buku-buku

jari. Dan dahan setebal alu memukul-mukul atap mobil, yang kelihatannya sudah siap ambruk....

"Lari!" Ron berteriak, melempar tubuhnya ke pintu, tetapi detik berikutnya dia sudah dihantam mundur ke pangkuan Harry oleh dahan yang lain lagi.

"Habis deh kita!" erangnya, ketika atap mobil me- lesak, tetapi mendadak lantai mobil bergetar—mesin- nya hidup lagi.

"Mundur!" teriak Harry dan mobil meluncur ke belakang. Pohon itu masih mencoba memukuli mereka. Mereka bisa mendengar akar.-akarnya berkeriut ketika si pohon nyaris mencabut dirinya sendiri dalam usaha- nya memukul mereka yang meluncur menjauh dari

jangkauan.

"Nyaris...," sengal Ron, "...saja. Bagus sekali, Bil." Tetapi si mobil telah kehabisan kesabaran. Dengan

dua bunyi berkelontang, pintu-pintu terbuka dan Harry merasa tempat duduknya terangkat miring, lalu tahu-tahu dia sudah telentang di tanah basah. Bunyi "bag... bug..." keras memberitahunya bahwa mobil sedang mengeluarkan koper-koper mereka dari

bagasi. Sangkar Hedwig melayang di udara dan jatuh terbuka. Burung hantu betina itu terbang keluar de-

ngan jeritan marah dan terbang menuju kastil tanpa menoleh ke belakang. Kemudian, mobil yang sudah melesak, penyok, tergores-gores, dan berasap ini me- luncur ke dalam kegelapan. Lampu belakangnya me- nyorot penuh kemarahan.

"Kembali!" Ron meneriakinya, sambil mengacung- acungkan tongkatnya. "Dad akan membunuhku!"

Tetapi mobil itu menghilang dari pandangan seiring dengusan terakhir knalpotnya.

"Bisakah kaupercayai nasib kita?" ratap Ron merana, "Bisakah kaupercayai nasib kita?" ratap Ron merana,

Dia mengerling lewat bahunya ke pohon tua itu, yang masih melambai-lambaikan dahan-dahannya de- ngan penuh ancaman.

"Ayo," kata Harry letih, "lebih baik kita ke sekolah...." Kedatangan mereka bukanlah kedatangan penuh kejayaan yang mereka bayangkan. Dengan badan kaku, memar, dan kedinginan, mereka meraih ujung koper mereka dan mulai menyeretnya terseok-seok

mendaki bukit berumput, menuju pintu besar dari kayu ek.

"Kurasa pestanya sudah mulai," kata Ron, menjatuh- kan kopernya di kaki undakan dan diam-diam me- nyeberang untuk mengintip dari jendela yang terang benderang. "Hei, Harry, lihat—sedang acara seleksi!"

Harry bergegas mendekat dan berdua mereka mengintip ke dalam Aula Besar.

Lilin-lilin tak terhitung banyaknya beterbangan di atas empat meja panjang, membuat piring-piring dan piala emas di atasnya berkilauan. Di atasnya, langit- langit sihiran tampak persis dengan langit di luar, dengan taburan bintang berkelap-kelip.

Menembus hutan topi kerucut hitam Hogwarts, Harry melihat deretan panjang anak-anak kelas satu yang ketakutan memasuki Aula. Ginny berada di antara mereka, mudah ditemukan karena rambut Weasley-nya yang merah mencolok. Sementara itu, Profesor McGonagall, penyihir wanita berkacamata de- Menembus hutan topi kerucut hitam Hogwarts, Harry melihat deretan panjang anak-anak kelas satu yang ketakutan memasuki Aula. Ginny berada di antara mereka, mudah ditemukan karena rambut Weasley-nya yang merah mencolok. Sementara itu, Profesor McGonagall, penyihir wanita berkacamata de-

Setiap tahun, topi tua ini, yang sudah bertambal, berjumbai, dan kotor, menyeleksi murid-murid baru ke dalam empat asrama Hogwarts (Gryffindor,

Hufflepuff, Ravenclaw, dan Slytherin). Harry ingat betul bagaimana perasaannya ketika dia memakai topi itu, tepat setahun yang lalu, dan dengan ketakutan menunggu keputusan si topi, sementara topi itu ber-

gumam keras ke dalam telinganya. Selama beberapa detik mengerikan dia takut topi itu akan memasuk- kannya ke Slytherin, asrama yang telah menghasilkan lebih banyak penyihir hitam dibanding ketiga asrama lainnya—tetapi ternyata dia terpilih masuk Gryffindor,

bersama Ron,. Hermione, dan anak-anak keluarga Weasley yang lain. Semester yang lalu, Harry dan Ron telah membantu Gryffindor memenangkan Piala Asrama, mengalahkan Slytherin untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun tefakhir.

Seorang anak laki-laki kecil berambut kelabu seperti tikus dipanggil ke depan untuk meletakkan topi itu di kepalanya. Mata Harry memandang melewati anak ini ke tempat Profesor Dumbledore, kepala sekolah, yang duduk menonton seleksi ini dari meja guru,

jenggot panjangnya yang keperakan dan kacamata bulan-separonya berkilauan tertimpa cahaya lilin. Be- berapa kursi dari Dumbledore, Harry melihat Gilderoy Lockhart, memakai jubah berwarna hijau toska. Dan di ujung meja duduk Hagrid, besar dan berbulu, asyik minum dari pialanya.

"Eh...," Harry bergumam kepada Ron. "Ada kursi kosong di meja guru... Di mana Snape?"

Profesor Snape adalah guru yang paling tidak di- sukai Harry. Harry kebetulan juga murid yang paling tidak disukai Snape.' Snape yang kejam, sinis, dan tidak disukai oleh semua anak, kecuali anak-anak

dari asramanya sendiri (Slytherin), mengajar Ramuan. "Mungkin dia sakit!" kata Ron penuh harap. ''Mungkin dia keluar," kata Harry, "karena tidak

terpilih mengajar Pertahanan terhadap Ilmu Hitam lagil"

"Atau siapa tahu dia dikeluarkan!" kata Ron penuh semangat. "Maksudku, semua anak benci padanya..."

"Atau mungkin," kata suara sangat dingin tepat di belakang mereka, "dia sedang menunggu alasan kenapa kalian berdua tidak datang naik kereta api sekolah."

Harry berputar. Di depannya, dengan jubah hitam beriak ditiup angin sepoi, berdiri Severus Snape. Snape bertubuh kurus, dengan kulit pucat, hidung bengkok, dan rambut berminyak sebahu, dan pada saat ini dia sedang tersenyum sedemikian rupa sehingga Harry tahu dia dan Ron dalam kesulitan besar.

"Ikut aku," kata Snape. Bahkan saling pandang pun mereka tak berani.

Harry dan Ron mengikuti Snape menaiki undakan memasuki Aula Depan yang bergema, yang dikelilingi obor. Aroma lezat masakan menguar dari Aula Besar, tetapi Snape membawa mereka menjauh dari ke- hangatan dan cahaya, menuruni tangga batu sempit

yang menuju ke ruang bawah tanah.

Mereka melewati lorong yang gelap dan dingin.

Setelah setengah jalan menyusurinya, terdapat sebuah pintu. "Masuk!" perintah Snape, seraya menunjuk.

Mereka masuk ke kantor Snape, gemetar. Dinding- nya yang remang-remang dikelilingi rak penuh staples kaca besar. Di dalam staples-staples itu mengapung berjenis-jenis benda menjijikkan yang namanya tak ingin diketahui Harry saat ini. Perapiannya gelap dan kosong. Snape menutup pintu dan berbalik meman- dang mereka.

"Jadi," katanya pelan, "kereta api tidak cukup baik untuk Harry Potter yang terkenal dan sahabat setia- nya, Weasley. Ingin datang dengan sambutan meriah, begitu, ya?"

"Tidak, Sir, penyebabnya palang rintangan di King's Cross. Palang itu..."

"Diam!" bentak Snape dingin. "Kauapakan mobilnya?" Ron menelan ludah. Ini bukan pertama kalinya

Snape memberi kesan bahwa dia bisa membaca pi- kiran. Tetapi sesaat kemudian, ketika Snape membuka Evening Prophet—koran sihir sore terbitan hari itu, dia pun mengerti.

"Ada yang melihat kalian," dia mendesis, menunjuk- kan kepala beritanya: FORD ANGLIA TERBANG MEMBUAT TAKJUB MUGGLE. Dia mulai membacanya keras-keras. "Dua Muggle di London yakin mereka melihat sebuah mobil tua terbang di atas menara Kantor Pos... pada siang hari di Norfolk, Mrs Hetty Bayliss, ketika sedang menjemur cucian... Mr Angus Fleet di Peebles melapor kepada polisi... enam atau tujuh Muggle totalnya. Bukankah ayahmu bekerja di Kantor Penyalahgunaan Barang-barang Muggle?" kata- "Ada yang melihat kalian," dia mendesis, menunjuk- kan kepala beritanya: FORD ANGLIA TERBANG MEMBUAT TAKJUB MUGGLE. Dia mulai membacanya keras-keras. "Dua Muggle di London yakin mereka melihat sebuah mobil tua terbang di atas menara Kantor Pos... pada siang hari di Norfolk, Mrs Hetty Bayliss, ketika sedang menjemur cucian... Mr Angus Fleet di Peebles melapor kepada polisi... enam atau tujuh Muggle totalnya. Bukankah ayahmu bekerja di Kantor Penyalahgunaan Barang-barang Muggle?" kata-

Harry merasa seakan perutnya baru saja dihantam salah satu dahan besar pohon gila itu. Jika sampai ketahuan Mr Weasley telah menyihir mobil itu... dia tidak memikirkan ini sebelumnya....

"Kuperhatikan, sewaktu aku mencari di halaman, bahwa kerusakan cukup besar telah menimpa pohon Dedalu Perkasa yang sangat berharga," Snape me-

neruskan. "Pohon itu merusak kami lebih banyak daripada kami...," Ron menyela. "Diam!" bentak Snape lagi. "Sayang sekali kalian tidak di asramaku dan keputusan untuk mengeluarkan kalian tidak ada padaku. Aku akan memanggil orang- orang yang punya kekuasaan menyenangkan itu. Kalian tunggu di sini."

Harry dan Ron saling pandang, wajah mereka pucat. Harry tidak merasa lapar lagi. Dia malah merasa sangat mual. Dia berusaha tidak melihat sesuatu yang

besar berlendir dalam cairan hijau di rak di belakang meja Snape. Kalau Snape memanggil Profesor

McGonagall, kepala asrama Gryffindor, nasib mereka tak akan lebih baik. Dia mungkin lebih adil daripada Snape, tetapi disiplinnya ketat sekali.

Sepuluh menit kemudian, Snape muncul kembali, dan benar saja, Profesor McGonagall-lah yang me- nemaninya. Harry sudah pernah melihat Profesor

McGonagall marah dalam beberapa kesempatan, tetapi entah apakah dia sudah lupa betapa tipisnya bibir Profesor McGonagall kalau sedang marah, atau Harry McGonagall marah dalam beberapa kesempatan, tetapi entah apakah dia sudah lupa betapa tipisnya bibir Profesor McGonagall kalau sedang marah, atau Harry

"Duduk," katanya, dan mereka berdua mundur untuk duduk di kursi di dekat perapian.

"Jelaskan," katanya, kacamatanya berkilat-kilat me- nyeramkan.

Ron langsung bercerita, mulai dengan palang rin- tangan di stasiun yang menolak mereka lewati.

"...jadi kami tak punya pilihan, Profesor, kami tidak bisa naik kereta api."

"Kenapa kalian tidak mengirim surat lewat burung hantu? Bukankah kau punya burung hantu?" Profesor McGonagall berkata dingin kepada Harry.

Harry ternganga. Setelah Profesor McGonagall me- ngatakannya, baru terpikir itulah yang seharusnya mereka lakukan.

"Saya—saya tidak berpikir..." "Jelas sekali kau memang tidak berpikir," kata

Profesor McGonagall.

Terdengar ketukan di pintu kantor dan Snape, yang sekarang kelihatan lebih senang dari sebelumnya, membukanya. Di depan pintu berdiri kepala sekolah, Profesor Dumbledore.

Seluruh tubuh Harry langsung kaku. Dumbledore kelihatan muram, tidak seperti biasanya. Dia me- nunduk memandang mereka lewat hidung bengkok- nya dan Harry mendadak ingin sekali dirinya dan Ron masih dipukuli oleh si Dedalu Perkasa.

Sunyi lama sekali. Kemudian Dumbledore "berkata, "Tolong jelaskan kenapa kalian melakukan ini."

Akan lebih baik jika dia berteriak. Harry membenci kekecewaan dalam suaranya. Entah karena apa, dia tidak sanggup menatap mata Dumbledore, maka dia

bicara kepada lututnya. Dia menceritakan segalanya kepada Dumbledore, kecuali bahwa Mr Weasley-lah pemilik mobil tersihir itu. Dia menceritakannya se- demikian rupa, sehingga seakan-akan dia dan Ron kebetulan menemukan mobil terbang diparkir di luar stasiun. Dia tahu Dumbledore akan segera tahu hal yang sebenarnya, tetapi Dumbledore tidak bertanya apa-apa soal mobil ini. Ketika Harry sudah selesai bercerita, Dumbledore hanya terus memandang me- reka lewat kacamatanya.

"Kami akan mengambil barang-barang kami," kata Ron dengan suara putus asa. "Kau bicara apa, Weasley?" bentak Profesor McGonagall. "Bukankah kami dikeluarkan?" kata Ron. Harry cepat-cepat memandang Dumbledore. "Tidak hari ini, Mr Weasley," kata Dumbledore.

"Tetapi aku harus menekankan kepada kalian berdua betapa seriusnya tindakan kalian. Aku akan menulis kepada keluarga kalian berdua malam ini. Aku juga harus memperingatkan kalian bahwa jika kalian me- lakukan hal seperti ini lagi, aku tak akan punya pilihan selain mengeluarkan kalian."

Snape tampak kecewa sekali. Dia berdeham dan berkata, "Profesor Dumbledore, kedua anak ini telah melanggar Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi

Penyihir di Bawah Umur, menyebabkan kerusakan serius pada pohon tua yang sangat berharga... tentu- nya kesalahan seperti ini..."

"Profesor McGonagall-lah yang berhak memutuskan

h u k u m a n untuk anak-anak ini, Severus," kata Dumbledore tenang. "Mereka anak asramanya dan karena itu menjadi tanggung jawabnya." Dia berpaling kepada Profesor McGonagall. "Aku harus kembali ke pesta, Minerva, aku harus menyampaikan beberapa pengumuman. Ayo, Severus, ada puding lezat yang

ingin kucicipi." Snape melempar pandang sengit kepada Harry dan Ron sebelum dia keluar dari kantornya, me- ninggalkan mereka sendirian d e n g a n Profesor McGonagall, yang masih mengawasi mereka seperti elang murka.

"Kau sebaiknya segera ke rumah sakit, Weasley, kau berdarah."

"Tidak banyak," kata Ron, buru-buru menyeka luka di atas matanya dengan lengannya. "Profesor, saya ingin melihat adik saya diseleksi..."

"Upacara seleksi sudah selesai," kata Profesor McGonagall. "Adikmu masuk Gryffindor juga." "Oh, bagus," kata Ron. "Dan ngomong-ngomong soal Gryffindor..." Pro-

fesor McGonagall berkata tajam. Tetapi Harry menyela, "Profesor, sewaktu kami naik mobil itu, sekolah belum dimulai, jadi—jadi Gryffindor belum punya angka yang bisa dikurangi, kan?" katanya seraya memandang Profesor McGonagall dengan cemas.

Profesor McGonagall memandangnya tajam, tetapi

Harry yakin dia nyaris tersenyum. Paling tidak bibir- nya kelihatan tidak setipis tadi.

"Aku tidak akan mengurangi angka Gryffindor," katanya, dan hati Harry langsung jauh lebih ringan. "Tetapi kalian berdua akan mendapat detensi."

Itu lebih baik daripada yang diduga Harry. Sedang- kan soal Dumbledore yang akan menulis kepada ke- luarga Dursley, itu bukan apa-apa. Harry tahu betul mereka malah akan kecewa Dedalu Perkasa tidak menghajarnya sampai mati.

Profesor McGonagall mengangkat tongkatnya lagi dan mengarahkannya ke meja Snape. Sepiring besar sandwich, dua piala perak, dan seteko jus labu kuning dingin muncul seiring bunyi "plop".

"Kalian makan di sini dan kemudian langsung ke kamar," katanya. "Aku juga harus kembali ke pesta."

Setelah pintu tertutup di belakangnya, Ron menge- luarkan suitan panjang namun pelan.

"Kukira tadi tamatlah riwayat kita," katanya seraya meraih sandwich.

"Kukira juga begitu," kata Harry, juga mengambil sandwich.

"Nasib kita sungguh sulit dipercaya, ya?" kata Ron dengan mulut penuh roti dan daging. "Fred dan George sudah menerbangkan mobil itu paling tidak lima atau enam kali, dan tak ada Muggle yang pernah melihat mereka." Dia menelan dan menggigit sepotong

besar sandwich lagi. "Kenapa kita tidak bisa melewati palang rintangan?

Harry mengangkat bahu. "Yang jelas mulai sekarang kita harus hati-hati," katanya, meneguk jus labunya Harry mengangkat bahu. "Yang jelas mulai sekarang kita harus hati-hati," katanya, meneguk jus labunya

"Profesor McGonagall tak ingin kita pamer," kata Ron bijaksana. "Tak mau orang-orang berpikir ini ide bagus, datang dengan mobil terbang."

Setelah makan sandwich sebanyak mereka sanggup (piringnya terus-menerus terisi kembali), mereka bang- kit dan meninggalkan kantor itu, berjalan melewati lorong yang sudah mereka kenal menuju ke Menara Gryffindor. Kastil sudah sepi, rupanya pesta sudah usai. Mereka melewati lukisan-lukisan yang berbisik-

bisik dan baju-baju zirah yang berkelontangan. Mereka menaiki beberapa tangga sempit, sampai akhirnya mereka tiba di lorong tempat pintu rahasia untuk masuk ke Menara Gryffindor tersembunyi, di belakang lukisan cat minyak seorang nyonya amat gemuk yang memakai gaun sutra merah jambu.

"Kata kunci?" kata si Nyonya Gemuk ketika mereka mendekat. "Eh...," kata Harry. Mereka tidak tahu kata kunci di awal tahun ajaran

baru ini, karena belum bertemu Prefek Gryffindor, tetapi bantuan muncul tak terduga. Mereka men- dengar langkah-langkah bergegas mendekat di bela- kang mereka dan ketika menoleh, mereka melihat Hermione berlari mendatangi.

"Di sini rupanya! Di mana kalian tadi? Ada desas- desus sangat tidak masuk akal—ada yang bilang kalian berdua dikeluarkan karena menabrakkan mobil ter-

bang."

"Kami tidak dikeluarkan," Harry meyakinkannya.

"Kau tidak bermaksud bilang kau benar-benar ter- bang ke sini?" kata Hermione, kedengarannya segalak Profesor McGonagall.

"Tidak perlu ceramah," kata Ron tak sabar, "dan beritahu kami kata kunci barunya."

'"Gelambir kalkun'," kata Hermione tak sabar, "tapi bukan itu pokok masalahnya..."

Kata-katanya terputus, karena lukisan si Nyonya Gemuk mengayun terbuka dan mendadak terdengar gemuruh tepukan. Rupanya seluruh penghuni asrama Gryffindor belum tidur. Mereka berdesakan di ruang

bundar rekreasi, berdiri di atas meja miring dan kursi- kursi tangan empuk, menunggu kedatangan Harry

dan Ron. Lengan-lengan terjulur melalui lubang lukisan, menarik Harry dan Ron masuk, membiarkan Hermione memanjat sendiri sesudah mereka.

"Brilian!" seru Lee Jordan. "Ide gemilang! Ke- datangan yang luar biasa! Naik mobil terbang me- nabrak Dedalu Perkasa, orang-orang akan terus mem- bicarakannya selama bertahun-tahun!"

"Hebat," kata seorang anak kelas lima yang belum pernah bicara dengan Harry. Ada yang menepuk- nepuk punggungnya seakan dia baru saja memenang- kan maraton. Fred dan George berdesakan sampai ke depan kerumunan dan berkata bersamaan, "Kenapa kalian tidak . memanggil kami kembali, eh?" Wajah Ron merah padam, dia nyengir malu-malu, tapi Harry

bisa melihat satu orang yang sama sekali. tidak ke- lihatan senang. Percy tampak di atas kepala anak- anak kelas satu yang bergairah, dan dia kelihatannya mencoba maju cukup dekat untuk menyuruh mereka bisa melihat satu orang yang sama sekali. tidak ke- lihatan senang. Percy tampak di atas kepala anak- anak kelas satu yang bergairah, dan dia kelihatannya mencoba maju cukup dekat untuk menyuruh mereka

"Harus naik—sudah lelah," katanya, dan keduanya menyelip-nyelip ke arah pintu di seberang ruangan, yang menuju ke tangga spiral dan kamar-kamar tidur.

"Malam," Harry berseru kepada Hermione, yang wajahnya sama cemberutnya seperti Percy.

Mereka berhasil sampai di seberang ruangan, pung- gung mereka masih ditepuk-tepuk, dan baru aman setelah tiba di tangga yang sepi. Mereka bergegas naik dan akhirnya tiba di pintu kamar mereka yang lama, yang sekarang dipasangi tulisan berbunyi "kelas dua". Mereka memasuki ruangan bundar yang sudah mereka kenal, dengan lima tempat tidur besar ber-

kelambu beludru merah dan jendela-jendela yang tinggi dan sempit. Koper-koper mereka sudah dibawa naik dan diletakkan di kaki tempat tidur masing- masing.

Ron tersenyum pada Harry dengan perasaan ber- salah.

"Aku tahu seharusnya tidak boleh menikmati sam- butan atau apa pun namanya itu, tapi..."

Pintu kamar mendadak terbuka dan masuklah ketiga anak laki-laki kelas dua Gryffindor lainnya, Seamus Finnigan, Dean Thomas, dan Neville Longbottom.

"Tak bisa dipercaya!" Seamus nyengir. "Cool," kata Dean.

"Menakjubkan," kata Neville, terpesona. Harry tak tahan. Dia ikut nyengir.

eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.

nurulkariem@yahoo.com

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23