Strategi Restorasi Habitat Bekantan Di Suaka Margasatwa Kuala Lupak Berdasarkan Karakteristik Habitat Referensi

STRATEGI RESTORASI HABITAT BEKANTAN DI SUAKA
MARGASATWA KUALA LUPAK BERDASARKAN
KARAKTERISTIK HABITAT REFERENSI

MILA RABIATI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Saya dengan ini menyatakan bahwa tesis berjudul Strategi Restorasi Habitat
Bekantan di Suaka Margasatwa Kuala Lupak berdasarkan Karakteristik Habitat
Referensi adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan
belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Saya dengan ini melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut

Pertanian Bogor.
Bogor, Februari 2016
Mila Rabiati
NIM E351130061

RINGKASAN
MILA RABIATI. Strategi Restorasi Habitat Bekantan di Suaka Margasatwa
Kuala Lupak berdasarkan Karakteristik Habitat Referensi. Dibimbing oleh AGUS
PRIYONO KARTONO dan BURHANUDDIN MASY’UD.
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi restorasi habitat
bekantan di Suaka Margasatwa Kuala Lupak (SMKL) berdasarkan hasil
identifikasi kondisi habitat dan populasi bekantan di habitat referensi serta
persepsi masyarakat aktor konversi lahan terhadap pelestarian bekantan.
Penelitian dilaksanakan di SMKL, Kalimantan Selatan pada Februari-April
2015. Areal penelitian adalah habitat bekantan pada formasi Sonneratia-Avicennia
di hutan mangrove Blok Hutan Tanjung Pedada Tua seluas ±195 ha.
Pengumpulan data dilaksanakan di tiga lokasi, yakni: 1) areal bervegetasi baik dan
disukai bekantan seluas ±72.77 ha sebagai tapak referensi, 2) areal bervegetasi
dan kurang disukai bekantan seluas ±33.96 ha sebagai areal model 1, dan 3) areal
bervegetasi terganggu yang terletak dekat dengan pemukiman seluas ±19.71 ha

sebagai areal model 2.
Peubah komponen fisik habitat yang diamati meliputi kondisi iklim mikro,
tanah serta perairan sungai. Data komponen biotik habitat bekantan meliputi
komposisi dan struktur vegetasi, pohon tidur dan jenis satwa kompetitor.
Pengumpulan data vegetasi dilakukan dengan menerapkan metode jalur berpetak.
Pengamatan dan penghitungan jumlah populasi dilakukan dengan metode
terkonsentrasi dengan kriteria kelas umur bekantan mengikuti kriteria dari Yeager
(1990), Murai (2004), Murai (2006) dan Stark et al. (2012).
Data persepsi masyarakat diperoleh dengan mewawancarai 33 responden
yang merupakan pelaku konversi lahan. Persepsi masyarakat yang digali meliputi:
1) Pengetahuan, terdiri atas: (a) pengetahuan tentang keberadaan bekantan
termasuk jenis tumbuhan yang menjadi pakan bekantan, pohon yang dipilih
sebagai pohon tidur serta anggapan terhadap bekantan sebagai sumber gangguan,
(b) pengetahuan tentang status perlindungan bekantan, dan (c) pengetahuan
tentang status kawasan SMKL, serta pengetahuan responden tentang konsekuensi
hukum bagi aktivitas menggarap lahan di SMKL; 2) Sikap, meliputi: (a) sikap
penerimaan terhadap kegiatan rehabilitasi yang sudah dilaksanakan sebelumnya
dan (b) sikap dukungan atau kesediaan untuk terlibat dalam program/kegiatan
restorasi yang akan dilaksanakan selanjutnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bekantan di SMKL menempati hutan

mangrove formasi Sonneratia-Avicennia yang didominasi oleh Sonneratia
caseolaris (INP=273.98%) dan Avicennia alba (INP=189.01%). Jumlah jenis
vegetasi yang ditemukan sebanyak 17 jenis terdiri atas 7 jenis habitus pohon dan
10 jenis habitus tumbuhan bawah. Indeks keanekaragaman jenis vegetasi di areal
bervegetasi baik dan disukai oleh bekantan adalah H’=0.58, areal bervegetasi
kurang disukai sebesar H’=0.79, dan areal bervegetasi terganggu sebesar
H’=0.38. Jenis S. caseolaris merupakan vegetasi sumber pakan utama dan
digunakan sebagai pohon tidur oleh bekantan. Jenis ini mengalami hambatan
regenerasi alami akibat dominansi tumbuhan bawah Derris trifoliata yang
menghalangi pertumbuhan anakan S. caseolaris. Dominansi D. trifoliata

merupakan indikator ekosistem mangrove yang mengalami kerusakan.
Dugaan populasi bekantan di SMKL adalah 139±43 individu dengan kepadatan
81 individu/km2 dan nisbah kelamin dewasa 1:3.09. Struktur populasi bekantan
menunjukkan jumlah populasi yang terkonsentrasi pada kelompok usia
menengah-dewasa.
Pengetahuan masyarakat tentang keberadaan bekantan dan status
perlindungannya cukup tinggi (>50%), tetapi sikap penerimaan dan dukungan
terhadap kegiatan restorasi masih rendah (50%), but the acceptance attitude and the
willingness to support the restoration program are low (1.5 m sampai anakan

berdiameter kurang dari 10 cm
c. Pohon
: pohon berdiameter 10 cm atau lebih
d. Tumbuhan bawah : tumbuhan selain permudaan pohon (rumput, herba,
semak belukar)
Data yang dikumpulkan untuk tingkat pertumbuhan pohon dan pancang
adalah jenis pohon dan diameter. Untuk tingkat pertumbuhan pancang dan semai
data yang diambil meliputi jenis dan jumlah individu setiap jenis. Pengukuran
diameter dilakukan pada tinggi 1.3 m dari atas permukaan tanah dan atau 30 cm di

12
atas banir (untuk pohon dari marga Bruguiera) dan akar tunjang (untuk pohon dari
marga Rhizophora).
Data jenis vegetasi pakan bekantan diperoleh dari pengamatan dan
pencatatan jenis vegetasi yang bagiannya (daun, buah, bunga) dimanfaatkan oleh
bekantan sebagai sumber pakan. Untuk pohon tidur, data yang diambil meliputi
jenis pohon, tinggi, jarak dari tepi sungai dan jarak dengan pohon tidur terdekat
(Bernard et al. 2011).
Satwa kompetitor dan predator
Pengumpulan data jenis-jenis satwa yang merupakan kompetitor dan

predator dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data vegetasi. Satwa
kompetitor dan atau predator yang dijumpai di areal pengamatan dicatat jenis dan
jumlahnya.

Pengumpulan Data Populasi Bekantan
Penghitungan populasi bekantan dilakukan dengan menggunakan metode
terkonsentrasi (Alikodra 1990), dengan asumsi bahwa bekantan adalah jenis satwa
yang memiliki perilaku berkumpul di lokasi tidurnya di tepi sungai pada sore hari
sampai dengan pagi hari keesokan harinya. Pengamatan dilakukan pada pagi hari
antara jam 06:00 - 09:00 dan sore hari antara jam 16:00 - 18:30.
Pengamatan dan penghitungan populasi dilakukan oleh tiga orang pengamat
selama 3 hari pengamatan, dengan total ulangan sebanyak 6 kali di dua titik
konsentrasi yakni di tapak referensi dan tapak model 1, sedangkan di tapak model
2 selama periode penelitian tidak terdapat konsentrasi bekantan.
Jenis data yang dicatat meliputi jumlah individu, komposisi umur dan jenis
kelamin untuk bekantan dewasa. Kriteria kelas umur yang digunakan mengacu
pada pembagian berdasarkan ciri-ciri menurut Yeager (1990) sebagai berikut :
1. Jantan dewasa: hidung besar (telah berkembang sempurna), alat kelamin luar
tampak jelas, bobot badan besar sekitar 20-22 kg, terdapat warna putih
berbentuk segitiga pada bagian pinggul, lapisan lemak terlihat jelas di bagian

punggung, dan berkembang otot paha yang kuat.
2. Jantan setengah dewasa: ukuran tubuhnya sama atau lebih besar daripada
betina dewasa, alat kelamin luar tampak jelas, otot bagian paha lebih
berkembang dibandingkan dengan betina dewasa, hidung mulai membesar,
tidak ada lapisan lemak di bagian punggungnya.
3. Betina dewasa: bobot badan relatif lebih kecil dibandingkan bobot badan
jantan dewasa (10-12 kg), puting susu tampak jelas, hidung lebih kecil dan
runcing.
4. Betina setengah dewasa: ukuran tubuh lebih dari ¾ dewasa, hampir sama
dengan betina dewasa.
5. Remaja: ukuran tubuh setengah atau dua per tiga dari ukuran tubuh betina
dewasa. Sudah dapat berdiri (berjalan) sendiri, tetapi masih tidur dengan
induknya.
6. Anak/bayi: berumur ≤ 1.5 tahun. Bayi yang baru lahir memiliki warna yang
lebih gelap dan muka berwarna gelap tetapi terus memudar. Selalu dekat dan
bergantung atau digendong oleh induknya.

13
Pengumpulan Data Persepsi Masyarakat
Masyarakat responden adalah masyarakat lokal yang terlibat kegiatan

konversi lahan di SMKL, baik pemilik tambak atau lahan maupun pekerja tambak.
Jumlah responden sebanyak 33 orang. Pengumpulan data persepsi masyarakat
dilakukan dengan metode wawancara dengan kuisioner. Data yang dikumpulkan
adalah karakteristik responden dan persepsi. Karakteristik responden untuk
masyarakat lokal meliputi: jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, status lahan,
jumlah anggota keluarga, dan suku/etnis serta lamanya mereka menggarap lahan
di SMKL. Data persepsi masyarakat yang digali meliputi :
1. Pengetahuan, yang terdiri dari atas (a) pengetahuan terhadap keberadaan
bekantan termasuk jenis tumbuhan yang menjadi pakan bekantan, pohon yang
dipilih sebagai pohon tidur serta anggapan tentang bekantan sebagai gangguan
atau tidak, (b) pengetahuan tentang status perlindungan bekantan, dan
(c) pengetahuan tentang status kawasan SM Kuala Lupak, serta apakah
responden mengetahui konsekuensi hukum menggarap lahan di SMKL.
2. Sikap, yang meliputi (a) sikap penerimaan terhadap kegiatan rehabilitasi yang
sudah dilaksanakan sebelumnya dan (b) sikap dukungan atau kesediaan untuk
terlibat dalam program/kegiatan restorasi yang akan dilaksanakan selanjutnya.
3. Sebagai bahan pendukung dilakukan wawancara dengan responden yang
berasal dari stakeholder terkait.
Pengujian dilakukan untuk mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi
persepsi masyarakat, dengan hipotesis awal (H0): bahwa tidak terdapat perbedaan

tingkat persepsi berdasarkan faktor yang diuji. Persepsi stakeholder
dikembangkan dalam diskusi/wawancara yakni pengetahuan tentang keberadaan/
status bekantan dan SM Kuala Lupak, pandangan terhadap kondisi eksisting serta
saran (alternatif solution) terhadap upaya restorasi SM Kuala Luak. Responden
stakeholder terkait dipilih berdasarkan data dari BKSDA Kalsel, instansi/lembaga
mana saja yang selama ini dilibatkan dalam upaya penanganan perambahan dan
rehabilitasi hutan di SMKL, antara lain BPDAS Barito, Balai Penelitian
Kehutanan Banjarbaru, Bappeda Kabupaten Barito Kuala, Dinas Kehutanan
Kabupaten Barito Kuala, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Barito Kuala,
Dinas Pertanian, Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Kabupaten Barito
Kuala dan Camat Tabunganen dan Kepala Desa Sungai Telan.
Pengolahan dan Analisis Data
Komponen Habitat
Komponen fisik habitat di ketiga tapak pengamatan dan diperbandingkan
dan disajikan berdasarkan hasil analisi statistik deskriptif untuk melihat kesamaan
atau perbedaan kondisi, dengan tapak referensi sebagai pembanding atas kedua
tapak model 1 dan tapak model 2.
Indeks kesamaan komunitas digunakan untuk menganalisis kesamaan
vegetasi penyusun habitat bekantan di 3 (tiga) lokasi terpilih yang dilakukan
sampling. Persamaan yang digunakan adalah indeks kesamaan Bray-Curtis

(Ludwig & Reynolds 1988) sebagai berikut:

14
BC=1

min

(

,

)

(

)

Keterangan: Xij = jumlah individu ke-i, pada tipe habitat ke-j, dan Xik = jumlah
individu ke-i, pada tipe habitat ke-k.
Struktur dan komposisi vegetasi

Indeks Nilai Penting. Analisis vegetasi dilakukan untuk mengetahui komposisi
vegetasi yang menyusun komunitas habitat bekantan. Komposisi vegetasi
didapatkan dengan menghitung Indeks Nilai Penting (INP) dari masing-masing
jenis pada setiap tingkatan vegetasi dengan persamaan sebagai berikut
(Soerianegara & Indrawan 1998):
Kerapatan suatu jenis (K)

=

Jumlah individu suatu jenis
Luas petak contoh

Kerapatan relatif suatu jenis (KR) =

Kerapatan suatu jenis
X 100%
Kerapatan seluruh jenis

Frekuensi suatu jenis (F)


Jumlah sub-petak ditemukan suatu jenis
Total seluruh sub-petak contoh

=

Frekuensi relatif suatu jenis (FR) =

Frekuensi suatu jenis
x 100%
Total frekuensi seluruh jenis

Dominansi suatu jenis (D)

Luas bidang dasar suatu jenis
Luas petak contoh

=

Dominansi relatif suatu jenis (DR) =

Dominansi suatu jenis
X 100%
Dominansi seluruh jenis

Luas bidang dasar (lbds) suatu jenis merupakan total luas bidang dasar setiap
individu jenis tertentu yang dihitung dengan menggunakan persamaan:
Lbds =

K2
1
 .D2 atau Ldbs =
4
4

Indeks nilai penting (INP) dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut:
INP untuk tingkat pohon
= KR + FR + DR
INP untuk tingkat semai dan pancang = KR + FR
Kerapatan individu per ha digunakan untuk menganalisis status regenerasi
mangrove berdasarkan kriteria Shankar (2001).
Indeks Keanekaragaman Jenis. Indeks keanekaragaman jenis dihitung
berdasarkan rumus Shanon-Wiener (Ludwig & Reynolds 1988):


Keterangan: H’= indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, Pi= proporsi spesies
ke-i (= ni/N), ni = jumlah individu spesies ke-i, dan N= jumlah individu seluruh
spesies.

15
Populasi Bekantan
Penghitungan populasi menggunakan metode penghitungan terkonsentrasi
(Concentration Count) (Alikodra 1990) dengan persamaan penduga ukuran
populasi yang digunakan adalah sebagai berikut:

∑∑
Keterangan: