Pengaruh faktor-faktor makro–mikro terhadap pertumbuhan investasi sektoral dalam era liberalisasi keuangan: analisis Q–tobin

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR MAKRO-MIKRO
TERHADAP PERTUMBUHAN INVESTASI SEKTORAL
DALAM ERA LIBERALISASI KEUANGAN:
ANALISIS Q-TOBIN

DISERTASI

TRIAS ANDATI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

i

SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam
disertasi saya berjudul:

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR MAKRO-MIKRO
TERHADAP PERTUMBUHAN INVESTASI SEKTORAL
DALAM ERA LIBERALISASI KEUANGAN:
ANALISIS Q-TOBIN

merupakan gagasan atau hasil penelitian disertasi saya sendiri, dengan bimbingan
Komisi Pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya. Disertasi
ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di
perguruan tinggi lain. Semua data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan
jelas dan dapat diperiksa kebenarannya.

Bogor, Januari 2012

Trias Andati
NRP.: H.361060141
ii

ABSTRACT
TRIAS ANDATI. Macro – Micro Factors Effects to Sectoral Investment Growth
in Financial Liberalization Era: Q-Tobin Analysis. (HERMANTO SIREGAR as
Chairman, BONAR M. SINAGA and NOER AZAM ACHSANI as members of
the Advisory Committee)
This research attempts to analyze macro and micro factors affecting the
sectors’ investment growth in the era of financial liberalization. Q-Tobin ratio is
used as an indicator of sectoral investment growth to provide insights into
corporate investment decision. Using annual data of 64 listed company’s
financial report from 2002 to 2009, the results show that the financial
liberalization variables such as Foreign Direct Investment (FDI) and Investment
Portfolio give the positive effects to Q-Tobin agricultural sector, otherwise to
Basic and Chemical Industry and Banking sectors. There were transmition
mechanisms from real sectors to financial sectors but not the other way around.
Increase of financial deepening give positive effect to Q-Tobin of Basic and
Chemical Industry sector and Banking, otherwise to agricultural sector. SBI has
negative effect to Q-Tobin all sectors, while the effect of loan interest rates to
Basic and Chemical and Banking sectors was positive. Money supply has
negative effect to Q-Tobin of Basic and Chemical Industry sector and Banking.
Fixed asset investment of all three sectors has same patterns of Q-Tobin, and
increased from 2002 to 2009, while at the year of 2008, Q-Tobin of all sectors
were experienced decrease due to financial crisis. Company’s loan give positive
effect to Q-Tobin, while total assets give negative effects. Q-Tobin gives negative
effect to real investment growth of Basic and Chemical Industry and Banking
sectors, and also the company’s capital structure of Basic and Chemical Industry
sector. Real loan interest rates give positive effect to real investment growth.
Furthermore, there should be rationing of portfolio investment in agriculture
sector, to prevent the funds flow from real sector to financial sector. Tobin Tax
theory is suggested to be implemented in any financial transactions. Further
research is suggested to analyze the effect of financial liberalization on
agricultural sector private company’s investment.
Keywords: Investment, Financial Liberalization, Q-Tobin, Panel Data.

iii

RINGKASAN
TRIAS ANDATI. Pengaruh Faktor – Faktor Makro – Mikro terhadap
Pertumbuhan Investasi Sektoral dalam Era Liberalisasi Keuangan: Analisis Tobin
– Q. (HERMANTO SIREGAR sebagai Ketua, BONAR M. SINAGA dan NOER
AZAM ACHSANI sebagai Anggota Komisi Pembimbing)
Dalam perekonomian terbuka, liberalisasi keuangan dapat mendorong
aliran modal (kapital), sehingga pada tingkat suku bunga tertentu, sumber dana
eksternal dapat bersaing dengan sumber dana internal. Liberalisasi keuangan di
Indonesia diawali saat reformasi sektor keuangan tahun 1988, 1990 dan 1991
untuk meningkatkan mobilisasi dana dari individu (penabung) demi mendorong
laju investasi pada sektor produktif melalui peran perantara (intermediaries), yang
berlanjut saat terjadi krisis keuangan dan moneter di beberapa negara Asia. Bila
dilihat dari realisasi investasi domestik (PMDN, Penanaman Modal Dalam
Negeri) pada periode 1990-2008 meningkat sepuluh kali (dari Rp 2 398.6 miliar
menjadi Rp 20 363.4 miliar) dan nilai Penanaman Modal Asing (FDI, Foreign
Direct Investment) meningkat duapuluh kali (dari US$ 706 juta menjadi US$ 14
871.4). Namun, pertumbuhan investasi tahunan Indonesia cenderung mengalami
penurunan, dari 14.7 persen (2004) menjadi 2 persen (2007), meskipun tahun
2009 menunjukkan peningkatan. Selain itu, terdapat pola pertumbuhan yang tidak
searah dari realisasi investasi PMDN berdasarkan sektor.
Pada sektor primer, terjadi penurunan nilai realisasi investasi hampir
seperempatnya dari Rp 5 577.2 miliar (2005) menjadi Rp 640 miliar (2008),
sementara untuk industri sekunder misalnya makanan terjadi peningkatan hampir
dua kali lipat dari Rp 4 490.8 miliar (2005) menjadi Rp 8 192 miliar di tahun
2008 (BKPM, Badan Koordinasi Penanaman Modal, 2008). Pada sektor
keuangan, terdapat peningkatan nilai nominal transaksi saham dari Rp 21.7 triliun
(1995) menjadi Rp 300 triliun (2008). Peningkatan transaksi pasar modal sebagai
alternatif sumber pembiayaan bagi swasta, seharusnya memberikan peluang bagi
perusahaan untuk melakukan investasi stok kapital. Namun, perkembangan
sektor keuangan lambat laun meninggalkan sektor riil, dan telah menjadi bisnis
tersendiri. Pasar keuangan tidak lagi sekedar mekanisme untuk menyediakan
tabungan bagi investor sektor produksi, sehingga ada kecenderungan kurang
terkait dengan investasi jangka panjang sektor produksi.
Beberapa masalah pokok yang terjadi mencakup penurunan FDI dan
peningkatan investasi portofolio, sejalan dengan penurunan investasi langsung
dan peningkatan bursa saham Indonesia. Di sisi lain, kebijakan otoritas moneter
berupa suku bunga patokan tidak selalu diikuti oleh perbankan, dengan suku
bunga kredit yang tidak banyak berubah, yang selanjutnya menekan investasi di
sektor riil. Keputusan investasi dapat direpresentasikan dengan nilai Q-Tobin,
yang menunjukkan perbandingan antara nilai pasar perusahaan terhadap biaya
modal. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis pengaruh liberalisasi
keuangan terhadap investasi perusahaan sektor pertanian, industri dasar dan kimia
serta perbankan, dengan indikator nilai rasio Q-Tobin; (2) menganalisis pengaruh
liberalisasi keuangan dan kebijakan moneter terhadap investasi perusahaan sektor
pertanian, industri dasar dan kimia serta perbankan, dengan indikator nilai rasio

iv

Q-Tobin, dan (3) menganalisis pengaruh nilai Q-Tobin terhadap pertumbuhan riil
investasi sektoral.
Hasil analisis menunjukkan dari aspek makro bahwa FDI maupun
Investasi Portofolio berpengaruh negatif terhadap nilai Q-Tobin sektor industri
dasar dan kimia serta perbankan, akan tetapi berpengaruh positif terhadap nilai QTobin sektor pertanian. Pengaruh dari liberalisasi keuangan terhadap nilai QTobin dari masing-masing sektor dapat dikatakan relatif kecil, khususnya adalah
FDI. Dari aspek mikro, pinjaman perusahaan dan kapitalisasi pasar perusahaan
berpengaruh positif terhadap nilai Q-Tobin, sebaliknya dengan aset perusahaan.
Kesamaan pola diantara sektor perbankan dan industri dasar dan kimia, dapat
dijelaskan dengan adanya hubungan kausal antara nilai Q-Tobin sektor perbankan
yang mempengaruhi nilai Q-Tobin sektor industri dasar dan kimia. Perhitungan
nilai Q-Tobin menunjukkan ada kesamaan pola nilai Q-Tobin dengan investasi
perusahaan di masing-masing sektor.
Pengaruh liberalisasi keuangan bersamaan dengan kebijakan moneter
terhadap nilai Q-Tobin masing-masing sektor menunjukkan adanya pengaruh
nyata dari suku bunga acuan yaitu SBI. Demikian pula dengan kebijakan uang
beredar (money supply, M2), yang berpengaruh nyata terhadap nilai Q-Tobin
sektor industri dasar dan kimia dan sektor perbankan. Dari aspek makro, baik SBI
dan uang beredar, keduanya memberikan pengaruh negatif terhadap nilai Q-Tobin
masing-masing sektor, kecuali pengaruh M2 terhadap nilai Q-Tobin sektor
pertanian. Financial deepening berupa rasio kapitalisasi pasar terhadap Gross
Domestic Product yang mencerminkan besarnya partisipan pasar, berpengaruh
nyata terhadap nilai Q-Tobin sektor pertanian, namun tidak pada kedua sektor
lainnya. Sedangkan rasio kredit terhadap GDP hanya berpengaruh nyata terhadap
sektor perbankan. Besarnya partisipan di pasar modal memberikan pengaruh
negatif terhadap nilai Q-Tobin sektor pertanian, sedangkan jumlah penyaluran
kredit memberikan pengaruh positif terhadap nilai Q-Tobin sektor perbankan.
Artinya, bahwa nilai Q-Tobin dipengaruhi oleh liberalisasi keuangan dan
kebijakan moneter. Dari aspek mikro, pinjaman dan kapitalisasi pasar perusahaan
memberikan pengaruh positif, sebaliknya pada aset perusahaan.
Keputusan investasi di ke-3 (tiga) sektor memiliki pola hubungan negatif
dengan nilai Q-Tobin dari masing-masing sektor, demikian pula dengan struktur
modal. Struktur modal menggambarkan porsi dana internal (ekuitas) terhadap
total aset perusahaan memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan
investasi. Dalam model yang memasukkan pengaruh suku bunga pinjaman riel,
terdapat pengaruh nyata dari variabel ini terhadap pertumbuhan investasi di
masing-masing sektor. Pengaruh dari suku bunga pinjaman riel ini adalah positif
terhadap pertumbuhan investasi. Artinya, bunga pinjaman riil yang tinggi
merupakan insentif untuk melakukan investasi. Liberalisasi keuangan dan
kebijakan moneter tidak langsung berpengaruh terhadap keputusan investasi
perusahaan, sementara struktur permodalan menjadi salah satu pertimbangan
perusahaan untuk melakukan investasi.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa dalam era liberalisasi keuangan,
terdapat pengaruh dari investasi portofolio terhadap nilai Q-Tobin dari masingmasing sektor, demikian pula dengan kebijakan moneter berupa pengaruh negatif
dari SBI terhadap nilai Q-Tobin masing-masing sektor. Namun demikian, tidak
terjadi pengaruh nilai Q-Tobin terhadap pertumbuhan investasi sektoral yang

v

diwakili oleh pertumbuhan investasi korporasi di sektor tersebut. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam era liberalisasi keuangan tidak terjadi
transmisi dari investasi portofolio ke sektor riil, namun sebaliknya justru terjadi
mekanisme transmisi dari sektor riil ke pasar modal berupa penempatan dana
jangka pendek dalam bentuk investasi portofolio.
Guna mengatasi aliran dana dari sektor riil ke investasi portofolio,
khususnya untuk sektor pertanian, maka diperlukan kebijakan khusus di pasar
modal melalui aturan Badan Pengawas Pasar Modal, mengenai pembatasan
kepemilikan saham dalam portofolio investasi oleh pihak investor asing,
khususnya untuk saham-saham emiten sektor pertanian. Hal ini untuk membatasi
investasi portofolio di sektor pertanian, yang pada akhirnya akan mengurangi
minat untuk melakukan investasi langsung di sektor primer ini.
Guna mengatasi volatilitas dari variabel makroekonomi seperti nilai tukar
dikarenakan transmisi gejolak di pasar keuangan, sehingga akan berpengaruh
terhadap kondisi perekonomian, maka diperlukan kebijakan pajak yang seragam
untuk setiap transaksi yang melibatkan nilai tukar di pasar keuangan, demikian
pula yang melibatkan transaksi pasar saham. Kebijakan ini dikenal sebagai teori
Tobin Tax. Pengenaan pajak atas setiap transaksi di pasar modal, akan
mengurangi keuntungan bersih dari investasi portofolio, sehingga menjadi
pertimbangan bagi investor saat menanamkan dananya di instrumen ini.

vi

@ Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, Tahun 2012

Hak cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,
penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik
atau tinjauan suatu masalah
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau
seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

vii

PENGARUH FAKTOR-FAKTOR MAKRO-MIKRO
TERHADAP PERTUMBUHAN INVESTASI SEKTORAL
DALAM ERA LIBERALISASI KEUANGAN:
ANALISIS Q-TOBIN

TRIAS ANDATI

DISERTASI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor
Pada
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

viii

Ujian Tertutup

: Senin, 9 Januari 2012

Penguji Luar Komisi :
1. Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.S.
Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
2. Dr. Ir. Arief Daryanto. M.Ec.
Direktur Program Manajemen Bisnis, Institut Pertanian
Bogor.

Wakil Program Studi : Dr. Ir. Suharno, M.S.
Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi
dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Ujian Terbuka

: Kamis, 19 Januari 2012

Penguji Luar Komisi :
1. Dr. Ir. Himawan Hariyoga, M.Sc.
Kepala Deputy Promosi, Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM)
2. Dr. Ir. Tarmiden Sitorus, M.Sc.
Staf Pengajar Universitas Pelita Harapan
Wakil Program Studi : Dr. Ir. Ratna Winandi, M.S.
Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi
dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

ix

Judul Disertasi

: Pengaruh Faktor-Faktor Makro – Mikro Terhadap
Pertumbuhan Investasi Sektoral Dalam Era
Liberalisasi Keuangan: Analisis Q – Tobin

Nama

: Trias Andati

NRP

: H.361060141

Program Studi

: Ilmu Ekonomi Pertanian

Menyetujui,
1. Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec.
Ketua

Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, M.A.
Anggota

Prof. Dr. Ir. Noer Azam Achsani, M.S.
Anggota

Mengetahui,
2. Ketua Program Studi
Ilmu Ekonomi Pertanian

3. Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, M.A.

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr.

Tanggal Ujian: 19 Januari 2012

Tanggal Lulus:

x

RIWAYAT HIDUP
Penulis merupakan anak ke tiga dari empat bersaudara dari pasangan
Bapak Amak Jahri dan Ibu Sri Jatini. Penulis dilahirkan pada 17 April 1965 di
Magelang, Jawa Tengah. Pada tahun 1994, penulis menikah dengan Herman
Martua dan dikaruniai dua orang putra bernama Hardya Gustada Hikmahrachim
dan Harli Meidian Rahmanhadi.
Penulis menyelesaikan pendidikan S1 pada Jurusan Tanah, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor tahun 1988. Pada tahun 1989 penulis
melanjutkan studi di Program Wijawiyata Manajemen selama satu tahun di
Sekolah Tinggi Manajemen PPM (PPM Business School) di Jakarta dan tahun
1997 meneruskan dan menyelesaikan Program S2 di Institusi yang sama dengan
konsentrasi Manajemen Keuangan.

Pada tahun 1998 penulis mendapatkan

kesempatan melanjutkan studi S2 ke City University Business School (CASS)
London – United Kingdom mengambil Investment Management melalui beasiswa
British Chevening Award dan lulus pada tahun 1999. Kesempatan menempuh S3
diperoleh penulis pada tahun 2006.
Setelah lulus S1 pada tahun 1988 sampai dengan tahun 1989, penulis
bekerja sebagai staf Tanaman pada perkebunan kelapa sawit di PT Lembu Jaya di
Palembang, Sumatera Selatan.

Setelah menyelesaikan Program Wijawiyata

Manajemen, sejak tahun 1990, penulis menjadi Staf Profesional di Lembaga
Manajemen PPM di Jakarta, sampai dengan tahun 2004 dan sejak tahun 2005
sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Manajemen PPM.

Sejak 2006, penulis

mengajar di program Manajemen Bisnis, Institut Pertanian Bogor.

xi

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena hanya dengan rahmat dan
karuniaNya penulis dapat menyelesaikan penelitian dengan judul “Pengaruh
Faktor-Faktor Makro – Mikro terhadap Pertumbuhan Investasi Sektoral dalam Era
Liberalisasi Keuangan: Analisis Q-Tobin.
Penulis mengucapkan terimakasih yang setinggi-tingginya kepada Prof.
Dr. Ir Hermanto Siregar, M.Ec, Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, M.A. dan Prof. Dr.
Ir. Noer Azam Achsani, M.S. selaku ketua dan anggota komisi pembimbing yang
telah mengarahkan dan memberikan masukan dalam proses penelitian dan
pelaksanaan disertasi ini.
Terimakasih juga penulis sampaikan kepada :
1. Prof. Dr. Ir Bonar M. Sinaga, M.A selaku Ketua Program Studi Ekonomi
Pertanian (EPN) dan seluruh staf pengajar yang telah memberikan bimbingan
dan proses pembelajaran selama penulis kuliah.
2. Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec dan Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.S selaku
penguji luar komisi, dan Dr. Ir. Suharno M.S. selaku penguji yang mewakili
program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian dan, Dr. M. Firdaus selaku Pimpinan
Sidang pada ujian tertutup.
3. Dr. Ir. Himawan Hariyoga, M.Sc dan Dr. Ir. Tarmiden Sitorus, M.Sc selaku
penguji luar komisi pada sidang ujian terbuka, dan Dr. Ir. Ratna Winandi,
M.S. selaku penguji yang mewakili program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian
dan, Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec. selaku Pimpinan Sidang pada ujian
terbuka.
4. Suami dan kedua anakku serta kedua orang tua yang telah sabar mendampingi
penulis dalam menyelesaikan studi ini.
5. Mas

Indra

atas

waktunya

untuk

berdiskusi

mengenai

pemodelan

ekonometrika. Ibu Nunu, Bapak Sapto, Bapak Adi dan Bapak Nurul dari
Badan Koordinasi Penanaman Modal atas waktunya untuk berdiskusi
mengenai data-data investasi.
6. Teman-teman program EPN angkatan 2006, Mbak Rubi, Mbak Yani, Mbak
Sofi, Ibu Kokom dan Mas Husein sebagai staf kependidikan program studi

xii

EPN yang senantiasa sabar dan membantu penulis dalam pengurusan
administrasi selama proses menyelesaikan studi.
7. Pihak-pihak lain yang namanya tidak dapat disebutkan satu-persatu namun
telah banyak membantu dan serta memberikan saran dan informasi selama
penulisan disertasi ini.
Semoga Allah SWT menerima karya ini sebagai amal kebaikan dan juga
tanda rasa syukur penulis. Aamiin.

xiii

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL...........................................................................................
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................

xviii



Xx

DAFTAR LAMPIRAN............................................................................................ Xxii
I. PENDAHULUAN ..........................................................................................
1.1.

1

Latar Belakang .....................................................................................

1

1.2. Perumusan Masalah .............................................................................

12

1.3. Tujuan Penelitian .................................................................................

13

1.4. Kegunaan Penelitian ............................................................................

13

1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian .......................................

14

II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................

15

2.1.

Liberalisasi Keuangan...........................................................................

15

2.1.1. Liberalisasi Keuangan dan Pertumbuhan Ekonomi ..................

15

2.1.2. Pengukuran dan IndikatorLiberalisasi Keuangan ....................

18

2.1.3. Isu Kritis dalam Liberalisasi Keuangan ....................................

21

2.1.4. Alokasi Kapital..........................................................................

23

2.1.5. Pasar Modal ...............................................................................

24

2.1.6. Kebijakan dan Transmisi Moneter ............................................

28

2.1.7. Kebijakan Pasar Keuangan .......................................................

30

2.2. Kajian Penelitian Terdahulu .................................................................

32

2.2.1. Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter ........................

32

2.2.2. Liberalisasi Keuangan dan Mekanisme Transmisi Moneter .....

35

2.2.3. Rasio Tobin Q dan Liberalisasi Keuangan................................

36

2.3. Kebijakan pada Sektor Keuangan di Indonesia ....................................

38

2.3.1. Perbankan ..................................................................................

38

2.3.2. Pasar Modal Indonesia ..............................................................

48

2.3.3. Kebijakan Penanaman Modal di Indonesia .................................

54

2.4. Hipotesis ...............................................................................................

58

xiv

2.5. Pemilihan Variabel ...............................................................................

59

2.6. Posisi Penelitian ....................................................................................

60

III. KERANGKA TEORI .....................................................................................

63

3.1. Mobilitas Modal .....................................................................................

63

3.2. Hubungan Antara Uang, Sukubunga dan Nilai Tukar ...........................

66

3.3. Liberalisasi Keuangan dan Pertumbuhan Ekonomi ...............................

69

3.4. Hubungan Investasi dengan Rasio Q-Tobin ..........................................

71

3.4.1. Investasi ......................................................................................

71

3.4.2. Rasio Q-Tobin .............................................................................

74

3.4.3. Pengukuran Q-Tobin ...................................................................

75

3.4.4. Implikasi Model Q ......................................................................

76

3.4.5. Pertumbuhan Output ...................................................................
3.5. Kebijakan dan Transmisi Moneter .........................................................

77
78

3.5.1. Kebijakan Moneter ......................................................................

78

3.5.2. Transmisi Moneter ......................................................................

80

3.5.2.1. Belanja Investasi ............................................................

82

3.5.2.2. Pengeluaran Konsumen .................................................

84

3.5.2.3. Perdagangan Internasional .............................................

85

3.6. Perkembangan Sektor Keuangan dan Mekanisme Transmisi Moneter .
3.7. Kerangka Pemikiran Penelitian .............................................................

87
88

IV. METODOLOGI PENELITIAN .....................................................................

91

4.1. Kerangka Analisis ..................................................................................

91

4.1.1. Pilihan Alat Analisis ...................................................................

91

4.1.2. Analisis untuk Mencapai Tujuan Penelitian ...............................

96

4.2. Spesifikasi Model ..................................................................................

98

4.2.1. Model Liberalisasi Keuangan ....................................................

100

4.2.1.1. Spesifikasi Model Liberalisasi Keuangan .....................

100

4.2.1.2. Data Model Liberalisasi Keuangan ...............................

101

xv

V.

4.2.2. Model Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan
Moneter .......................................................................................

103

4.2.3. Model Pertumbuhan Investasi Sektoral .....................................

104

4.3. Pengorganisasian Model Analisis ..........................................................

104

VARIABEL LIBERALISASI KEUANGAN DAN KEBIJAKAN
MONETER .....................................................................................................

107

5.1. Deskripsi Variabel Penelitian ................................................................

107

5.1.1. Deskripsi Data Liberalisasi Keuangan ........................................

107

5.1.1.1. Deskripsi Data Variabel Investasi Asing Langsung ......

107

5.1.1.2. Deskripsi Data Posisi Pinjaman Rupiah dan Valuta
Asing .............................................................................

108

5.1.1.3. Deskripsi Data Investasi Portofolio ..............................

109

5.1.1.4. Financial Deepening ..............................................

111

5.1.2. Deskripsi Data Variabel Kebijakan Moneter ..............................

113

5.1.2.1. Deskripsi Data Suku Bunga Acuan Bank Indonesia ...

113

5.1.2.2. Deskripsi Data Jumlah Uang Beredar ...........................

114

5.1.3. Deskripsi Data Variabel Makroekonomi ....................................

115

5.1.3.1. Deskripsi Data Nilai Tukar Rupiah terhadap US
Dollar..............................................................................

115

5.1.3.2. Deskripsi Data Cadangan Devisa .................................

116

5.1.3.3. Deskripsi Data Pertumbuhan Ekonomi .........................

117

5.1.3.4. Deskripsi Data Indeks Saham .......................................

118

5.1.3.4.1. Indeks Harga Saham Gabungan .................................

118

5.1.3.4.2. Indeks Harga Saham Sektoral.....................................

120

5.1.4. Deskripsi Data Variabel Emiten..................................................

123

5.1.5. Pengelompokkan Sektor..............................................................

124

5.1.5.1. Sektor Pertanian ............................................................

124

5.1.5.2. Sektor Industri Dasar dan Kimia ..................................

126

5.1.5.3. Sektor Perbankan ..........................................................

127

5.2. Analisis Nilai Q-Tobin dan Keputusan Investasi dan Pendanaan .........

128

5.2.1. Analisis Nilai Q-Tobin ................................................................

128

5.2.1.1. Nilai Q-Tobin Sektor Pertanian .....................................

129

5.2.1.2. Nilai Q-Tobin Sektor Industri Dasar dan Kimia ...........

130

xvi

5.2.1.3. Nilai Q-Tobin Sektor Perbankan ...................................

132

5.2.1.4. Nilai Q-Tobin Tiga Sektor .............................................

133

5.2.2. Keputusan Investasi dan Keputusan Pendanaan Perusahaan

135

5.3. Uji Kausalitas Granger...........................................................................

137

5.4. Intisari Analisis Deskriptif dan Uji Kausalitas Granger ......................

139

VI. PENGARUH LIBERALISASI KEUANGAN DAN KEBIJAKAN
MONETER TERHADAP PERTUMBUHAN INVESTASI SEKTOR
PERTANIAN, INDUSTRI DASAR DAN KIMIA DAN PERBANKAN .....

143

6.1. Pengaruh Liberalisasi Keuangan terhadap Nilai Q-Tobin Sektor
Pertanian, Industri Dasar dan Kimia dan Perbankan ............................

143

6.1.1. Pengaruh Liberalisasi Keuangan terhadap Nilai Q-Tobin
Sektor Pertanian ...........................................................................

144

6.1.2. Pengaruh Liberalisasi Keuangan terhadap Nilai Q-Tobin
Sektor Industri Dasar dan Kimia .................................................

151

6.1.3. Pengaruh Liberalisasi Keuangan terhadap Nilai Q-Tobin
Sektor Perbankan .........................................................................

156

6.2. Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter terhadap
Nilai Q-Tobin Sektor Pertanian, Industri Dasar dan Kimia dan
Perbankan ...............................................................................................

161

6.2.1. Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter
terhadap Nilai Q-Tobin Sektor Pertanian ....................................

163

6.2.2. Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter
terhadap Nilai Q-Tobin Sektor Industri Dasar dan Kimia ...........

167

6.2.3. Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter
terhadap Nilai Q-Tobin Sektor Perbankan .................................

171

6.3. Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter terhadap
Pertumbuhan Investasi Sektor Pertanian, Industri Dasar dan Kimia
dan Perbankan ........................................................................................

177

6.3.1. Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter
terhadap Pertumbuhan Investasi Sektor Pertanian ......................

178

6.3.2. Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter
terhadap Pertumbuhan Investasi Sektor Industri Dasar dan
Kimia ...........................................................................................

180

6.3.3. Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter
terhadap Pertumbuhan Investasi Sektor Perbankan.....................

182

6.3.4. Pengaruh Nilai Q-Tobin terhadap Pertumbuhan Investasi
Sektor Pertanian, Industri Dasar dan Kimia dan Perbankan........

184

xvii

6.4. Intisari Analisis Panel Data
…………………………………………...
VII. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN .......................................

186
189

7.1. Kesimpulan ............................................................................................

189

7.2. Implikasi Kebijakan ...............................................................................

192

7.3. Saran Penelitian Lanjutan ......................................................................

194

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
LAMPIRAN....................................................................................................

xviii

197
205

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Karakteristik Pasar Saham Sebelum dan Sesudah Periode Liberalisasi
Keuangan ........................................................................................................

4

2. Liberalisasi Keuangan di Indonesia ...............................................................

8

3. Dimensi Liberalisasi Keuangan .....................................................................

20

4. Pengukuran Liberalisasi Keuangan ................................................................

20

5. Penelitian-penelitian Liberalisasi Keuangan: Capital Account, Pasar
Saham dan Moneter ........................................................................................

39

6. Ttren Rasio M2, Kredit, Tabungan dan Onvestasi Terhadap Gross
Domestic Product, Tahun 1983 sampai dengan 1997 ....................................

46

7. Variabel Penelitian .........................................................................................

61

8. Inovasi Keuangan dan Mekanisme Transmisi Moneter ..................................

87

9. Pengaruh Perkembangan Pasar Keuangan Terhadap Jalur Mekanisme
Transmisi Moneter .........................................................................................

88

10. Pengorganisasian Model Analisis Pengaruh Liberalisasi Keuangan .............

105

11. Data Perkembangan Rasio M2/GDP, Rasio Kredit/GDP dan Rasio
Kapitalisasi
Pasar/GDP,
periode
2002

2009
...............................................

113

12. Pengelompokkan Saham Berdasarka Industri (Bursa Efek Indonesia)

125

13. Nilai Q-Tobin Sektor Pertanian, Industri Dasar dan Kimia dan Perbankan,
Periode 2002-2009 .........................................................................................

134

14. Nilai Investasi Perusahaan di Subsektor Pertanian, Industri Dasar dan
Kimia dan Perbankan Periode 2002 - 2009 ....................................................

135

15. Keputusan Pendanaan dan Keputusan Investasi Perusahaan di Subsektor
Pertanian, Industri Dasar dan Kimia dan Perbankan, 2002 - 2009 ................

137

16. Pengaruh Liberalisasi Keuangan terhadap Nilai Q-Tobin Sektor Pertanian,
Periode 2002 – 2009, Model Estimasi REM ..................................................

145

17. Pengaruh Liberalisasi Keuangan terhadap Nilai Q-Tobin Sektor Industri
Dasar dan Kimia, periode 2002 – 2009, Model Estimasi REM .....................

151

18. Pengaruh Liberalisasi Keuangan terhadap Nilai Q-Tobin Sektor
Perbankan, periode 2002 – 2009, Model Estimasi REM ...............................

156

19. Ringkasan Pengaruh Liberalisasi Keuangan terhadap Nilai Q-Tobin
Sektor
Pertanian,
Industri
Dasar
dan
Perbankan
......................................................

162

20. Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter terhadap Nilai
Q-Tobin Sektor Pertanian, Periode 2002 – 2009, Model REM .....................

164

xix

21. Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter terhadap Nilai
Q-Tobin Sektor Industri Dasar dan Kimia, Periode 2002 – 2009, Model
REM ...............................................................................................................

168

22. Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter terhadap Nilai QTobin Sektor Industri Perbankan, Periode 2002 – 2009, Model REM ...............

172

23. Ringkasan Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan Moneter terhadap
nilai Q-Tobin sektor Pertanian, Industri Dasar dan Kimia, dan Perbankan
........................................................................................................................

176

24. Pengaruh Nilai Q-Tobin terhadap Pertumbuhan Investasi Riil Sektor
Pertanian, Periode 2002 – 2009, dengan Model Estimasi REM ........................

179

25. Pengaruh Nilai Q-Tobin terhadap Pertumbuhan Investasi Riil Sektor
Industri Dasar dan Kimia, Periode 2002 – 2009 Dengan Model Estimasi
REM ...............................................................................................................

180

26. Pengaruh Nilai Q-Tobin terhadap Pertumbuhan Investasi Riil Sektor
Perbankan, Periode 2002 – 2009 Dengan Model Estimasi REM ..................

182

27. Ringkasan Pengaruh Nilai Q-Tobin terhadap Pertumbuhan Investasi
Sektor Pertanian, Industri Dasardan Kimia dan Perbankan
....................................

183

28.

Pengaruh Nilai Q-Tobin terhadap Pertumbuhan Investasi Riil ke tiga
Sektor, periode 2002 – 2009 dengan model estimasi REM .........................

185

29. Keterkaitan Kebijakan yang Ada dengan Model Estimasi dan Kebijakan
yang Disarankan ...........................................................................................

187

xx

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman

1. Perkembangan Hambatan Mobilitas Modal di Negara-Negara G7
dan Negara Berkembang .................................................................................

3

2. Aktivitas Pasar Saham di Negara-Negara Berkembang Asia .........................

5

3. Rasio Investasi Terhadap Stok Kapital dari Beberapa Sektor di
Indonesia ................................................................................................

9

4. Nilai Rasio Tobin Q dari Beberapa Sektor di Indonesia ................................

10

5. Interaksi Antara Pasar Uang dengan Pasar Barang ................................

31

6. Hubungan Arus Modal Keluar Neto dengan Tingkat Bunga .........................

64

7. Perekonomian Terbuka Kecil dengan Mobilitas Modal Sempurna ................

65

8. Model Jangka Pendek dari Perekonomian Terbuka Besar .............................

67

9. Keseimbangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing ................................

68

10. Pandangan Konvensional: De-represi Keuangan ................................

70

11. Mekanisme Transmisi Moneter dan Pengaruhnya terhadap
Komponen Pengeluaran dan Gross Domestic Product ................................

86

12. Kerangka Alur Pemikiran Penelitian ..............................................................

89

13. Kerangka Operaional Berdasarkan Variabel ..................................................

99

14. Perkembangan FDI Riil dan DDI Riil sejak 1995 sampai 2009

108

15. Pergerakan Kredit Sektor Ekonomi: Pertanian, Perindustrian dan
Jasa Dunia Usaha, Periode Januari 2002 – Desember 2009 ..........................

109

16. Perkembangan Investasi Portofolio Sejak 2001 sampai dengan
2009 ...............................................................................................................

110

17. Pergerakan Rasio M2, Kredit dan Kapitalisasi Pasar terhadap GDP
Periode 2002 sampai dengan 2009 ................................................................

112

18. Perkembangan SBI dan Bunga Investasi sejak 2002 sampai
dengan 2009 ................................................................................................

114

19. Perkembangan Money Supply sejak 2002 sampai dengan 2009 ....................

115

20. Pergerakan Nilai Tukar Rupiah terhadap USD sejak 1997 sampai
dengan 2009 ................................................................................................

115

21. Perkembangan Cadangan Devisa periode 1997 sampai dengan
2009 ................................................................................................................

117

22. Perkembangan Beberapa Variabel Makroekonomi Sejak 1997
sampai dengan 2009........................................................................................

117

23. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di BEI Periode Januari
2001 – Desember 2009 ...................................................................................

119

xxi

24. Pergerakan Kapitalisasi Pasar Indeks Harga Saham Gabungan di
BEI Periode Januari 2001 – Desember 2009 ..................................................

119

25. Perkembangan Indeks Saham Sektor Pertanian (JAKAGRI)
Januari 2001 sampai dengan Desember 2009 .................................................

121

26. Perkembangan Indeks Saham Sektor Industri Dasar dan Kimia
(JAKBIND) Januari 2001 sampai dengan Desember 2009 ............................

122

27. Perkembangan Indeks Saham Sektor Keuangan (JAKFIN) Januari
2001 sampai dengan Desember 2009 .............................................................

123

28. Perkembangan Q-Tobin Beberapa Emiten Sektor Pertanian, Januari
2002 sampai dengan Desember 2009 ................................................................

129

29. Perkembangan Kapitalisasi Saham Sektor Pertanian, Januari 2001
sampai dengan Desember 2009 ................................................................

130

30. Perkembangan Q-Tobin Beberapa Emiten Sektor Industri Dasar
dan Kimia, Januari 2002 sampai dengan Desember 2009 ..............................

131

31. Perkembangan Kapitalisasi Saham Sektor Industri Dasar dan
Kimia, Januari 2001 sampai dengan Desember 2009 ................................

131

32. Perkembangan Q-Tobin Beberapa Emiten Subsektor Perbankan,
Januari 2002 sampai dengan Desember 2009 .................................................

132

33. Perkembangan Kapitalisasi Saham Sektor Keuangan, Januari 2001
sampai dengan Desember 2009 ................................................................

133

34. Perkembangan Q-Tobin dari Sektor Pertanian – Industri Dasar dan
Kimia dan Perbankan, Januari 2002 sampai dengan Desember
2009 ................................................................................................................

134

xxii

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1.

Kerangka Ruang Lingkup Penelitian .......................................

207

2.

Daftar Sampel Perusahaan ................................................................

208

3.

Uji Granger Causality .................................................................................... 209

4.

Model Estimasi Pengaruh Liberalisasi Keuangan terhadap Nilai
Q-Tobin Sektor Pertanian, Industri Dasar dan Kimia dan
perbankan dengan Menggunakan Model Estimasi Pooled Least
Square, Fixed Effect Model, dan Random Effect Model dengan
Program EViews 6 ......................................................................................... 211

5.

Model Estimasi Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan
Moneter terhadap Nilai Q-Tobin Sektor Pertanian, Industri
Dasar dan Kimia dan perbankan dengan Menggunakan Model
Estimasi Pooled Least Square, Fixed Effect Model, dan Random
Effect Model dengan Program EViews 6 ....................................................... 241

6.

Model Estimasi Pengaruh Financial Deepening terhadap Nilai
Q-Tobin Sektor Pertanian, Industri Dasar dan Kimia dan
perbankan dengan Menggunakan Model Estimasi Pooled Least
Square, Fixed Effect Model, dan Random Effect Model dengan
Program EViews 6 .......................................................................................... 273

7.

Model Estimasi Pengaruh Liberalisasi Keuangan dan Kebijakan
Moneter terhadap Pertumbuhan Investasi Sektor Pertanian,
Industri Dasar dan Kimia dan perbankan dengan Menggunakan
Model Estimasi Pooled Least Square, Fixed Effect Model, dan
Random Effect Model dengan Program EViews 6 ................................

xxiii

300

ABSTRACT
TRIAS ANDATI. Macro – Micro Factors Effects to Sectoral Investment Growth
in Financial Liberalization Era: Q-Tobin Analysis. (HERMANTO SIREGAR as
Chairman, BONAR M. SINAGA and NOER AZAM ACHSANI as members of
the Advisory Committee)
This research attempts to analyze macro and micro factors affecting the
sectors’ investment growth in the era of financial liberalization. Q-Tobin ratio is
used as an indicator of sectoral investment growth to provide insights into
corporate investment decision. Using annual data of 64 listed company’s
financial report from 2002 to 2009, the results show that the financial
liberalization variables such as Foreign Direct Investment (FDI) and Investment
Portfolio give the positive effects to Q-Tobin agricultural sector, otherwise to
Basic and Chemical Industry and Banking sectors. There were transmition
mechanisms from real sectors to financial sectors but not the other way around.
Increase of financial deepening give positive effect to Q-Tobin of Basic and
Chemical Industry sector and Banking, otherwise to agricultural sector. SBI has
negative effect to Q-Tobin all sectors, while the effect of loan interest rates to
Basic and Chemical and Banking sectors was positive. Money supply has
negative effect to Q-Tobin of Basic and Chemical Industry sector and Banking.
Fixed asset investment of all three sectors has same patterns of Q-Tobin, and
increased from 2002 to 2009, while at the year of 2008, Q-Tobin of all sectors
were experienced decrease due to financial crisis. Company’s loan give positive
effect to Q-Tobin, while total assets give negative effects. Q-Tobin gives negative
effect to real investment growth of Basic and Chemical Industry and Banking
sectors, and also the company’s capital structure of Basic and Chemical Industry
sector. Real loan interest rates give positive effect to real investment growth.
Furthermore, there should be rationing of portfolio investment in agriculture
sector, to prevent the funds flow from real sector to financial sector. Tobin Tax
theory is suggested to be implemented in any financial transactions. Further
research is suggested to analyze the effect of financial liberalization on
agricultural sector private company’s investment.
Keywords: Investment, Financial Liberalization, Q-Tobin, Panel Data.

i

RINGKASAN
TRIAS ANDATI. Pengaruh Faktor – Faktor Makro – Mikro terhadap
Pertumbuhan Investasi Sektoral dalam Era Liberalisasi Keuangan: Analisis Tobin
– Q. (HERMANTO SIREGAR sebagai Ketua, BONAR M. SINAGA dan NOER
AZAM ACHSANI sebagai Anggota Komisi Pembimbing)
Dalam perekonomian terbuka, liberalisasi keuangan dapat mendorong
aliran modal (kapital), sehingga pada tingkat suku bunga tertentu, sumber dana
eksternal dapat bersaing dengan sumber dana internal. Liberalisasi keuangan di
Indonesia diawali saat reformasi sektor keuangan tahun 1988, 1990 dan 1991
untuk meningkatkan mobilisasi dana dari individu (penabung) demi mendorong
laju investasi pada sektor produktif melalui peran perantara (intermediaries), yang
berlanjut saat terjadi krisis keuangan dan moneter di beberapa negara Asia. Bila
dilihat dari realisasi investasi domestik (PMDN, Penanaman Modal Dalam
Negeri) pada periode 1990-2008 meningkat sepuluh kali (dari Rp 2 398.6 miliar
menjadi Rp 20 363.4 miliar) dan nilai Penanaman Modal Asing (FDI, Foreign
Direct Investment) meningkat duapuluh kali (dari US$ 706 juta menjadi US$ 14
871.4). Namun, pertumbuhan investasi tahunan Indonesia cenderung mengalami
penurunan, dari 14.7 persen (2004) menjadi 2 persen (2007), meskipun tahun
2009 menunjukkan peningkatan. Selain itu, terdapat pola pertumbuhan yang tidak
searah dari realisasi investasi PMDN berdasarkan sektor.
Pada sektor primer, terjadi penurunan nilai realisasi investasi hampir
seperempatnya dari Rp 5 577.2 miliar (2005) menjadi Rp 640 miliar (2008),
sementara untuk industri sekunder misalnya makanan terjadi peningkatan hampir
dua kali lipat dari Rp 4 490.8 miliar (2005) menjadi Rp 8 192 miliar di tahun
2008 (BKPM, Badan Koordinasi Penanaman Modal, 2008). Pada sektor
keuangan, terdapat peningkatan nilai nominal transaksi saham dari Rp 21.7 triliun
(1995) menjadi Rp 300 triliun (2008). Peningkatan transaksi pasar modal sebagai
alternatif sumber pembiayaan bagi swasta, seharusnya memberikan peluang bagi
perusahaan untuk melakukan investasi stok kapital. Namun, perkembangan
sektor keuangan lambat laun meninggalkan sektor riil, dan telah menjadi bisnis
tersendiri. Pasar keuangan tidak lagi sekedar mekanisme untuk menyediakan
tabungan bagi investor sektor produksi, sehingga ada kecenderungan kurang
terkait dengan investasi jangka panjang sektor produksi.
Beberapa masalah pokok yang terjadi mencakup penurunan FDI dan
peningkatan investasi portofolio, sejalan dengan penurunan investasi langsung
dan peningkatan bursa saham Indonesia. Di sisi lain, kebijakan otoritas moneter
berupa suku bunga patokan tidak selalu diikuti oleh perbankan, dengan suku
bunga kredit yang tidak banyak berubah, yang selanjutnya menekan investasi di
sektor riil. Keputusan investasi dapat direpresentasikan dengan nilai Q-Tobin,
yang menunjukkan perbandingan antara nilai pasar perusahaan terhadap biaya
modal. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis pengaruh liberalisasi
keuangan terhadap investasi perusahaan sektor pertanian, industri dasar dan kimia
serta perbankan, dengan indikator nilai rasio Q-Tobin; (2) menganalisis pengaruh
liberalisasi keuangan dan kebijakan moneter terhadap investasi perusahaan sektor
pertanian, industri dasar dan kimia serta perbankan, dengan indikator nilai rasio

ii

Q-Tobin, dan (3) menganalisis pengaruh nilai Q-Tobin terhadap pertumbuhan riil
investasi sektoral.
Hasil analisis menunjukkan dari aspek makro bahwa FDI maupun
Investasi Portofolio berpengaruh negatif terhadap nilai Q-Tobin sektor industri
dasar dan kimia serta perbankan, akan tetapi berpengaruh positif terhadap nilai QTobin sektor pertanian. Pengaruh dari liberalisasi keuangan terhadap nilai QTobin dari masing-masing sektor dapat dikatakan relatif kecil, khususnya adalah
FDI. Dari aspek mikro, pinjaman perusahaan dan kapitalisasi pasar perusahaan
berpengaruh positif terhadap nilai Q-Tobin, sebaliknya dengan aset perusahaan.
Kesamaan pola diantara sektor perbankan dan industri dasar dan kimia, dapat
dijelaskan dengan adanya hubungan kausal antara nilai Q-Tobin sektor perbankan
yang mempengaruhi nilai Q-Tobin sektor industri dasar dan kimia. Perhitungan
nilai Q-Tobin menunjukkan ada kesamaan pola nilai Q-Tobin dengan investasi
perusahaan di masing-masing sektor.
Pengaruh liberalisasi keuangan bersamaan dengan kebijakan moneter
terhadap nilai Q-Tobin masing-masing sektor menunjukkan adanya pengaruh
nyata dari suku bunga acuan yaitu SBI. Demikian pula dengan kebijakan uang
beredar (money supply, M2), yang berpengaruh nyata terhadap nilai Q-Tobin
sektor industri dasar dan kimia dan sektor perbankan. Dari aspek makro, baik SBI
dan uang beredar, keduanya memberikan pengaruh negatif terhadap nilai Q-Tobin
masing-masing sektor, kecuali pengaruh M2 terhadap nilai Q-Tobin sektor
pertanian. Financial deepening berupa rasio kapitalisasi pasar terhadap Gross
Domestic Product yang mencerminkan besarnya partisipan pasar, berpengaruh
nyata terhadap nilai Q-Tobin sektor pertanian, namun tidak pada kedua sektor
lainnya. Sedangkan rasio kredit terhadap GDP hanya berpengaruh nyata terhadap
sektor perbankan. Besarnya partisipan di pasar modal memberikan pengaruh
negatif terhadap nilai Q-Tobin sektor pertanian, sedangkan jumlah penyaluran
kredit memberikan pengaruh positif terhadap nilai Q-Tobin sektor perbankan.
Artinya, bahwa nilai Q-Tobin dipengaruhi oleh liberalisasi keuangan dan
kebijakan moneter. Dari aspek mikro, pinjaman dan kapitalisasi pasar perusahaan
memberikan pengaruh positif, sebaliknya pada aset perusahaan.
Keputusan investasi di ke-3 (tiga) sektor memiliki pola hubungan negatif
dengan nilai Q-Tobin dari masing-masing sektor, demikian pula dengan struktur
modal. Struktur modal menggambarkan porsi dana internal (ekuitas) terhadap
total aset perusahaan memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan
investasi. Dalam model yang memasukkan pengaruh suku bunga pinjaman riel,
terdapat pengaruh nyata dari variabel ini terhadap pertumbuhan investasi di
masing-masing sektor. Pengaruh dari suku bunga pinjaman riel ini adalah positif
terhadap pertumbuhan investasi. Artinya, bunga pinjaman riil yang tinggi
merupakan insentif untuk melakukan investasi. Liberalisasi keuangan dan
kebijakan moneter tidak langsung berpengaruh terhadap keputusan investasi
perusahaan, sementara struktur permodalan menjadi salah satu pertimbangan
perusahaan untuk melakukan investasi.
Secara umum, dapat disimpulkan bahwa dalam era liberalisasi keuangan,
terdapat pengaruh dari investasi portofolio terhadap nilai Q-Tobin dari masingmasing sektor, demikian pula dengan kebijakan moneter berupa pengaruh negatif
dari SBI terhadap nilai Q-Tobin masing-masing sektor. Namun demikian, tidak
terjadi pengaruh nilai Q-Tobin terhadap pertumbuhan investasi sektoral yang

iii

diwakili oleh pertumbuhan investasi korporasi di sektor tersebut. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam era liberalisasi keuangan tidak terjadi
transmisi dari investasi portofolio ke sektor riil, namun sebaliknya justru terjadi
mekanisme transmisi dari sektor riil ke pasar modal berupa penempatan dana
jangka pendek dalam bentuk investasi portofolio.
Guna mengatasi aliran dana dari sektor riil ke investasi portofolio,
khususnya untuk sektor pertanian, maka diperlukan kebijakan khusus di pa

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pengaruh faktor-faktor makro–mikro terhadap pertumbuhan investasi sektoral dalam era liberalisasi keuangan: analisis Q–tobin