Selektivitas Infeksi Cendawan Metarhizium sp. terhadap Hama Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål (Hemiptera: Delphacidae) dan Predator Paederus fuscipes Curtis (Coleoptera: Staphylinidae)

1

SELEKTIVITAS INFEKSI CENDAWAN Metarhizium sp.
TERHADAP HAMA WERENG BATANG COKELAT
Nilaparvata lugens Stål (HEMIPTERA: DELPHACIDAE) DAN
PREDATOR Paederus fuscipes Curtis (COLEOPTERA:
STAPHYLINIDAE)

AGUS SETIAWAN

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

2

ABSTRAK

AGUS SETIAWAN. Selektivitas Infeksi Cendawan Metarhizium sp. terhadap
Hama Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål (Hemiptera: Delphacidae)
dan Predator Paederus fuscipes Curtis (Coleoptera: Staphylinidae). Dibimbing
oleh ENDANG SRI RATNA dan TEGUH SANTOSO.
Wereng batang cokelat (WBC) Nilaparvata lugens Stål merupakan salah
satu hama penting yang dapat menurunkan produksi padi di Indonesia. Tingkat
serangan hama yang cukup tinggi dapat mengakibatkan tanaman puso. Di
lapangan, musuh alami yang berpotensi menurunkan populasi WBC di antaranya
cendawan entomopatogen dan kumbang Paederus fuscipes Curtis. Penelitian ini
bertujuan menguji infektivitas cendawan entomopatogen Metarhizium sp. dalam
menekan populasi hama WBC dan implikasinya terhadap kumbang predator
P. fuscipes. Uji pendahuluan dilakukan dengan mengisolasi dan mengidentifikasi
virulensi cendawan yang berasal dari WBC terinfeksi dari pertanaman padi petani
Muara Bogor. Isolat murni cendawan infektif terpilih diujikan pada WBC untuk
diamati tingkat keefektifannya terhadap WBC dan tingkat infeksinya terhadap
kumbang P. fuscipes. Tiga konsentrasi suspensi cendawan yaitu 106, 107, dan 108
konidia/ml akuades disemprotkan pada setiap 20 ekor imago WBC yang baru
eklosi, dan dua konsentrasi 106 dan 108 konidia/ml akuades disemprotkan pada
setiap 20 ekor imago P. fuscipes. Perlakuan masing-masing diulang empat kali.
Mortalitas WBC diamati pada hari pertama sampai 6 hari setelah perlakuan (HSP)
dan mortalitas kumbang diamati sampai 10 HSP. Hasil pengujian menunjukkan
bahwa cendawan Metarhizium sp. isolat CE 3 Muara efektif menekan populasi
WBC ditunjukkan dengan nilai mortalitasnya pada LC50 berkisar antara 1.1 x 105
hingga 6.5 x 105 konidia/ml dan Nilai LC95 berkisar antara 3.2 x 108 hingga 8.2 x
108 konidia/ml. Semakin tinggi konsentrasi perlakuan cendawan Metarhizium sp.
diaplikasikan, maka semakin cepat terjadi kematian WBC ditunjukkan dengan
nilai LT50 pada konsentrasi 106, 107, dan 108 konidia/ml sebesar 1.6, 1.1, dan 1.2
hari, dan nilai LT95 sebesar 5.5, 3.2, dan 3.8 hari. Pada konsentrasi perlakuan 106
dan 108 konidia/ml, cendawan Metarhizium sp. nyata tidak infektif menyerang
kumbang P. fuscipes, yaitu berkisar antara 1.3-2.5% dibandingkan terhadap
inangnya WBC sebesar 52-95%.
Kata kunci : Metarhizium sp., Nilaparvata lugens, Paederus fuscipes, mortalitas.

3

SELEKTIVITAS INFEKSI CENDAWAN Metarhizium sp.
TERHADAP HAMA WERENG BATANG COKELAT
Nilaparvata lugens Stål (HEMIPTERA: DELPHACIDAE) DAN
PREDATOR Paederus fuscipes Curtis (COLEOPTERA:
STAPHYLINIDAE)

AGUS SETIAWAN
A34070068

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
di Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

4

Judul Skripsi

Nama Mahasiswa
NIM

: Selektivitas Infeksi Cendawan Metarhizium sp. terhadap
Hama Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål
(Hemiptera: Delphacidae) dan Predator Paederus
fuscipes Curtis (Coleoptera: Staphylinidae)
: Agus Setiawan
: A34070068

Disetujui,
Dosen Pembimbing I

Dosen Pembimbing II

Dra. Endang Sri Ratna, PhD
NIP. 19580120 198203 2 001

Dr. Ir. Teguh Santoso, DEA
NIP. 19570907 198003 1 006

Diketahui,
Ketua Departemen

Dr. Ir. Abdjad Asih Nawangsih, MSi
NIP. 19650621 198910 2 001

Tanggal lulus:

5

RIWAYAT HIDUP

Agus Setiawan lahir di Cirebon pada tanggal 28 Juli 1988. Penulis
merupakan putra keempat dari empat bersaudara, dari pasangan ayahanda Pulung
Tosin dan almarhumah ibunda Santinah. Pendidikan formal penulis ditempuh di
TK Nusa Indah pada tahun 1994, TK Al-Qur’an Al-Ukhuwwah pada tahun 1994
sampai 1995, SDN 3 Ciawigajah pada tahun 1995 sampai 2001, MTs Husnul
Khatimah Kuningan Jawa Barat pada tahun 2001 sampai 2004, dan SMA
Muhammadiyah Cirebon pada tahun 2004 sampai 2007. Selain itu penulis
mengikuti pendidikan informal di TPA Al-Ukhuwwah periode tahun 1996-1997,
Madrasah Dinniyah Mathla’ul ‘Ulum periode tahun 1997-2001. Pada tahun 2007
penulis diterima di IPB melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) pada
program studi Mayor Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian dengan
program Minor Ekonomi Pertanian, Departemen Ekonomi Sumberdaya dan
Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Selama menjalani masa perkuliahan penulis memperoleh beasiswa
pendidikan dari Yayasan POM mulai tahun 2007 hingga 2009 dan beasiswa
PIJAR mulai tahun 2009 hingga 2012. Penulis aktif sebagai anggota DKM AlHurriyah, Ikatan Kekeluargaan Muslim TPB (IKMT), dan Forum Silaturahim
Mahasiswa IPB-ESQ165 periode tahun 2007-2008. Penulis pernah menjadi
anggota dan pengurus Himpunan Profesi Mahasiswa Proteksi Tanaman
(HIMASITA) periode tahun 2008-2009 dan 2009-2010, organisasi mahasiswa
daerah Ikatan Kekeluargaan Cirebon (IKC), dan Organic Farming Club periode
tahun 2008-2009, 2009-2010, dan 2010-2011. Penulis pernah mengikuti program
magang di Laboratorium Bakteriologi Tumbuhan Departemen Proteksi Tanaman
IPB pada tahun 2009 dan menjadi Ketua Pelaksana Program Kreatifitas
Mahasiswa dalam bidang Penelitian pada tahun 2010, berjudul “Formulasi
Bacillus subtilis pada Air Limbah Olahan Tebu (Saccharum officinarum L.)
sebagai Probiotik Tanaman Potensial”. Penulis aktif sebagai asisten praktikum
pada mata kuliah Pemanfaatan dan Pengelolaan Pestisida dan Pendidikan Agama
Islam periode tahun 2010-2011. Penulis juga bekerja sebagai guru pengajar privat
di bawah manajemen Bimbingan Belajar SIMPLE Percepatan Belajar-ILNA
periode tahun 2011-2012.

6

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya, sehingga dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Selektivitas
Infeksi Cendawan Metarhizium sp. terhadap Hama Wereng Batang Cokelat
Nilaparvata lugens Stål (Hemiptera: Delphacidae) dan Predator Paederus fuscipes
Curtis (Coleoptera: Staphylinidae)”. Shalawat dan salam semoga selalu
tersampaikan kepada Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan
para pengikutnya yang setia.
Penelitian dilaksanakan di laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga
dan laboratorium Patologi Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Ucapan terima kasih penulis sampaikan
kepada:
1. Dra. Endang Sri Ratna, PhD dan Dr. Ir. Teguh Santoso, DEA yang senantiasa
memberikan bimbingan kepada penulis. Dr. Ir. Supramana M.Si yang telah
bersedia sebagai dosen penguji tamu dan memberikan saran serta perbaikan
laporan skripsi. Dr. Ir. R. Yayi Munara Kusumah, MSi yang telah memberikan
saran pada seminar hasil penelitian S1.
2. Keluarga tercinta ayah Pulung Tosin, almarhumah ibunda Santinah, kakak
Uug Nugraha, ST., Alis Aliyanto, SP., dan Dadan Sunandar, SPi.,
Herty Aprilianty, ST., Yanti Rismayanti, keponakan Ayasha Rifdah Salsabila,
Akhdan Khairu Nabiha, Aliya Zharifah Farasy, Almira Nuf’ah Qanita,
Afifah Hasna Munfida, dan Kakek Ikhsan atas do’a, kasih sayang serta
motivasi kepada penulis.
3. Bapak Agus Sudrajat, bapak Endang Mustari, Dr. Muhammad Sayuthi, Lutfi
Afifah SP, Rizky Arifiansyah SP, anggota Laboratorium Patologi Serangga
dan Fisiologi dan Toksikologi Serangga, yang telah membantu yang
kelancaran penelitian.
4. Teman-teman seperjuangan, kakak dan adik kelas di Departemen Proteksi
Tanaman yang telah memberikan motivasi yang sangat berharga.
Semoga skripsi ini bermanfaat.

Bogor, Maret 2012
Agus Setiawan

7

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ...................................................................................

viii

DAFTAR GAMBAR ..............................................................................

viii

DAFTAR LAMPIRAN ...........................................................................

ix

PENDAHULUAN ..................................................................................

1

Latar Belakang ...............................................................................
Tujuan Penelitian ...........................................................................
Manfaat Penelitian .........................................................................

1
2
2

TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................

3

Wereng Batang Cokelat .................................................................
Musuh Alami WBC .......................................................................
Predator WBC ................................................................................
Cendawan Entomopatogen .............................................................

3
4
5
6

BAHAN DAN METODE .......................................................................

9

Tempat dan Waktu Penelitian ........................................................
Bahan .............................................................................................
Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens ...........................
Predator Paederus fuscipes .....................................................
Metode ...........................................................................................
Preparasi Cendawan Entomopatogen .......................................
Penentuan Kerapatan Konidia Stok Suspensi
Cendawan Uji ...........................................................................
Pengujian Infektivitas Cendawan terhadap WBC . ...................
Pengujian Infektivitas Cendawan terhadap Kumbang
Predator P. fuscipes ..................................................................
Rancangan Percobaan .....................................................................

9
9
9
10
10
10

13
13

HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................................

14

Morfologi dan Infektivitas Cendawan Entomopatogen .................
Mortalitas Kumbang P. fuscipes oleh Metarhizium sp. .................

14
17

KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………… ...............

19

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................

20

LAMPIRAN ............................................................................................

23

11
12

ix

DAFTAR TABEL

Halaman
1

Virulunsi koloni cendawan isolat Muara Bogor ...................................

14

2

Respon mortalitas imago WBC terhadap konsentrasi pemaparan
suspensi cendawan Metarhizium sp. isolat CE 3 Muara .......................

15

Respon mortalitas imago WBC terhadap waktu pemaparan suspensi
cendawan Metarhizium sp. isolat CE 3 Muara .......................................

16

Infektivitas cendawan Metarhizium sp. terhadap mortalitas kumbang
P. fuscipes ..............................................................................................

17

3
4

DAFTAR GAMBAR

Halaman
1

Kurungan perbanyakan WBC ...........................................................

9

2

Wadah pemeliharaan kumbang P. fuscipes ......................................

10

3

Tabung pengujian suspensi cendawan terhadap WBC .....................

12

4

Cawan pengujian kumbang predator P. fuscipes ...............................

13

5

Cendawan Metarhizium sp. isolat CE 3 Muara umur 7 hari .............

14

x

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1

Analisis probit menggunakan POLO-PC untuk data uji cendawan
Metarhizium sp. isolat CE 3 terhadap imago WBC pada 2 HSP .....

25

Analisis probit menggunakan POLO-PC untuk data uji cendawan
Metarhizium sp. isolat CE 3 terhadap imago WBC pada 3 HSP .....

27

Analisis probit menggunakan POLO-PC untuk data uji cendawan
Metarhizium sp. isolat CE 3 terhadap imagoWBC pada 4 HSP ......

29

Analisis probit menggunakan POLO-PC untuk data uji cendawan
Metarhizium sp. isolat CE 3 terhadap imago WBC pada 5 HSP .....

31

Analisis probit menggunakan POLO-PC untuk data uji cendawan
Metarhizium sp. isolat CE 3 terhadap imago WBC pada 106 ..........

33

Analisis probit menggunakan POLO-PC untuk data uji cendawan
Metarhizium sp. isolat CE 3 terhadap imago WBC pada 107 ..........

35

Analisis probit menggunakan POLO-PC untuk data uji cendawan
Metarhizium sp. isolat CE 3 terhadap imago WBC pada 108 ..........

37

Hasil analisis ragam pada uji lanjutan cendawan Metarhizium sp.
isolat CE 3 terhadap imago WBC pada hari ke-1 ............................

39

Hasil analisis ragam pada uji lanjutan cendawan Metarhizium sp.
isolat CE 3 terhadap imago WBC pada hari ke-2 ............................

40

10 Hasil analisis ragam pada uji lanjutan cendawan Metarhizium sp.
isolat CE 3 terhadap imago WBC pada hari ke-3 ............................

41

11 Hasil analisis ragam pada uji lanjutan cendawan Metarhizium sp.
isolat CE 3 terhadap imago WBC pada hari ke-4 ............................

42

12 Hasil analisis ragam pada uji lanjutan cendawan Metarhizium sp.
isolat CE 3 terhadap imago WBC pada hari ke-5 ............................

43

13 Hasil analisis ragam pada uji lanjutan cendawan Metarhizium sp.
isolat CE 3 terhadap imago WBC pada hari ke-6 ............................

44

2
3
4
5
6
7
8
9

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Wereng

batang

cokelat

(Nilaparvata

lugens

Stål)

(Hemiptera:

Delphacidae) merupakan hama penting tanaman padi di Indonesia. Hama ini
cukup sulit diatasi karena memiliki pertumbuhan populasi sangat tinggi,
mempunyai kemampuan memencar cepat, dan memiliki daya adaptasi yang
tinggi, sehingga dapat membentuk populasi cukup tinggi dalam waktu singkat
serta merusak semua fase pertumbuhan tanaman padi (BBPOPT 2008a).
Kerusakan tanaman disebabkan oleh kegiatan makan dengan menghisap cairan
pembuluh tapis pada pangkal pelepah tanaman padi. Pada populasi yang sangat
tinggi, wereng memperluas habitat dan tempat hidupnya hingga memenuhi
permukaan helaian daun yang mengakibatkan warna daun dan batang tanaman
padi berubah menjadi kuning, kemudian cokelat jerami, dan pada akhirnya
seluruh bagian tanaman mengering dan mati atau sering disebut hopper burns.
Pada musim tanam tahun 2011 serangan hama wereng di Indonesia mencapai
218 060 ha, termasuk 34 932 ha mengalami puso (Baehaki & Mejaya 2011).
Kerapatan populasi WBC ini dilaporkan mencapai kisaran antara 1200-1450 ekor
per rumpun (Diratmaja & Permadi 2005).
Untuk

pengendalian

WBC

hingga

sekarang

masih

diutamakan

menggunakan varietas tanaman tahan serta penyemprotan insektisida kimia
sintetis (Suryadi & Kadir 2007). Insektisida kimia sintetis dapat menyebabkan
resistensi

dan

resurjensi

hama,

pencemaran

mengakibatkan kematian musuh alami.

lingkungan,

serta

dapat

Oleh karena itu, perlu upaya

pengembangan cara pengendalian lain seperti pengendalian hayati menggunakan
predator dan cendawan entomopatogen sebagai kontribusi dalam pengendalian
hama terpadu (PHT) (Ambethgar 2009).

Penggunaan agens hayati dalam

pengendalian hama menjadi hal yang penting untuk dikembangkan dan diteliti
mengingat berbagai kejadian akibat bahaya atau efek samping penggunaan bahan
kimia sintetis (Hu 2005; Maranga et al. 2005). Di lapangan, salah satu predator
yang berpotensi mengendalikan hama WBC adalah Paederus fuscipes Curtis
(Coleoptera: Staphylinidae) (Kalshoven 1981, Kartohardjono 2011). Kumbang

2

ini mampu memangsa WBC 2-8 ekor per hari (Arifin et al. 1997).

WBC

seringkali dijumpai terserang cendawan entomopatogen dari genus Metarhizium
(BPTP 2002).

Suspensi biakan murni M. anisopliae dilaporkan mampu

membunuh 40-45% populasi WBC pada percobaan di rumah kaca (Suryadi &
Kadir 2007). Pada kondisi tropis, cendawan ini efektif menekan populasi WBC di
lapangan, yaitu saat cuaca panas dan lembab karena lebih memudahkan proses
infeksi spora, pertumbuhan dan perkembangan miselia di dalam tubuh WBC.
Berkenaan dengan pentingnya potensi kedua musuh alami tersebut di atas, maka
cendawan Metarhizium sp. asal sumber inokulum habitat asli perlu dieksplorasi
dan kemampuan infeksinya diujikan pada WBC, dan dievaluasi untuk tidak
menginfeksi predator P. fuscipes.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan menguji infektivitas cendawan entomopatogen
Metarhizium sp. isolat lapangan terhadap populasi WBC dan kumbang P. fuscipes
di laboratorium.

Manfaat Penelitian
Cendawan Metarhizium sp. isolat lapangan yang telah teruji infektif
terhadap populasi WBC serta virulensinya lemah terhadap predator P. fuscifes
diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai agens pengendalian hayati WBC di
lapangan.

3

TINJAUAN PUSTAKA
Wereng Batang Cokelat
Wereng batang cokelat (WBC) Nilaparvata lugens Stål, pertama kali
dilaporkan sebagai hama pada tanaman padi di Indonesia pada tahun 1854.
Serangannya mulai meningkat secara drastis setelah penanaman kultivar padi
PB5, Pelita I-1, dan C4 (Siampat) pada tahun 1971. Ledakan populasi WBC yang
terjadi pada tahun 1979 menimbulkan kerusakan tanaman padi seluas 794.650 ha.
Serangan baru dapat ditekan setelah diberlakukan program pengendalian hama
terpadu (PHT) pada tahun 1986 (Oka & Bahagiawati 1987).
Klasifikasi WBC adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Hemiptera

Subordo

: Auchenorrhyncha

Superfamili : Fulgoroidea
Famili

: Delphacidae

Genus

: Nilaparvata

Spesies

: Nilaparvata lugens Stål (CAB International 2005)

Meskipun saat ini serangan populasi WBC hanya bersifat sporadis di
daerah-daerah endemis, bahaya ledakannya harus tetap diwaspadai karena WBC
termasuk serangga yang memiliki pola pertumbuhan populasi r strategis. Tipe ini
dicirikan oleh aktivitas serangga yang aktif, daya adaptasi cepat, dan
perkembangan populasi tinggi. Kebijakan pola tanam yang intensif untuk memacu
produksi padi, diduga akan memicu perkembangan populasi WBC yang cepat.
Seperti kejadian pada tahun 1997/1998, pola intensifikasi lahan diikuti perluasan
pertanaman padi memicu areal serangan WBC di pulau Jawa yang mencapai
100.000 ha (BBPOPT 2008b).

4

Musuh Alami WBC
Pengendalian hayati menggunakan musuh alami hama seringkali
dilibatkan dalam komponen pengendalian hama terpadu (PHT) (Pedigo 1999).
Pemanfaatan musuh alami ini bila ditinjau dari ranah ekologi tidak menimbulkan
pencemaran lingkungan, sehingga bila dikaitkan dengan nilai ekonomi dianggap
sebagai pengendalian yang relatif murah. Pengendalian hayati melibatkan kinerja
faktor biotis seperti parasitoid, predator, dan patogen untuk dapat mengendalikan
populasi mangsa atau hama, sehingga menghasilkan suatu keseimbangan jumlah
populasi hama yang lebih rendah daripada keadaan umum yang tidak
dikendalikan. Pengendalian hayati ini merupakan salah satu pengendalian yang
dinilai cukup aman, ditinjau dari beberapa kelebihannya yaitu selektivitas tinggi
serta tidak memicu pembentukan hama baru, organisme yang digunakan sudah
tersedia di alam, dan hama tidak menjadi resisten (Lubis 2005).
Musuh alami yang tercatat menyerang hama WBC ada 79 jenis yang
mencakup 34 parasitoid, 37 predator, dan 8 patogen (Laba 2001 dalam Lubis
2005).

Keberadaan musuh alami tersebut sangat penting dalam menentukan

fluktuasi populasi hama. Parasitoid dan predator dapat menurunkan langsung
kepadatan populasi hama, sedangkan infeksi patogen serangga selain dapat
memperlambat perkembangan populasi dan mematikan hama juga dapat
menurunkan ketahanan hama, sehingga berpengaruh terhadap sinergisme kinerja
predator, parasitoid, dan patogen lainnya (Wardojo 1986).
Berbagai jenis predator telah tercatat sebagai pemangsa WBC, namun
hanya beberapa spesies yang berpotensi menurunkan populasi WBC di lapangan.
Seperti contohnya adalah Paederus fuscipes (Coleoptera: Staphylinidae),
Cyrtorhinus lividipennis (Hemiptera: Miridae), dan Verenia lineate (Coleoptera:
Cocccinellidae) berturut-turut mampu memangsa WBC 5, 4, dan 2.8 ekor/hari
(Laba & Kilin 1994). Menurut Arifin et al. (1997), kumbang P. fuscipes mampu
memangsa WBC 2-8 ekor/hari. Selain itu, Lycosa pseudoannulata (Araneida:
Lycosidae) dan Ophionea sp. (Coleoptera: Carabidae), masing-masing mampu
memangsa 4 dan 2.73 ekor/hari (Arifin et al. 1997).
Keberadaan cendawan patogen serangga dilaporkan berperan penting
dalam menekan tingkat populasi hama (Dwiastuti et al. 2007; Soetopo &

5

Indrayani 2007; Bai et al. 2010; Vijayani et al. 2010). Cendawan yang berpotensi
menginfeksi nimfa dan imago WBC di antaranya adalah Metarhizium anisopliae,
Beauveria bassiana, dan Hirsutella citriformis (Dwiastuti et al. 2007). Suryadi &
Kadir (2007) melaporkan bahwa M. anisopliae dapat mengendalikan WBC yang
diamati pada tanaman padi di rumah kaca.

Predator WBC
Paederus fuscipes Curtis adalah kumbang predator yang seringkali
dijumpai saat populasi WBC cukup tinggi pada pertanaman padi di Indonesia
(Kalshoven 1981; CAB International 2005). Kumbang berukuran 10 mm, tubuh
berbentuk silindris dengan ujung abdomen meruncing, tubuh berwarna cokelat
kemerahan, kepala serta beberapa ruas ujung abdomen berwarna hitam, pronotom
oval, berwarna cokelat kemerahan dan elitra berwarna biru mengkilap (Taulu
2001 dalam Widya 2005).

Ketiga pasang tungkai berwarna kuning, kecuali

bagian ujung femur hingga tarsus berwarna hitam. Elitra bertekstur relatif keras,
berbentuk menyerupai perisai dan berukuran pendek yaitu hanya mencapai ruas
abdomen pertama atau ketiga. Pangkal elitra berjarak sangat dekat dengan tepi
belakang pronotum, sehingga elitra tampak seperti menempel pada pronotum.
Sayap belakang membraneus.
Klasifikasi P. fuscipes adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Order

: Coleoptera

Famili

: Staphylinidae

Genus

: Paederus

Spesies

: Paederus fuscipes Curtis (CAB International 2005)

Imago kumbang ini tergolong aktif, berjalan sangat cepat dan lincah, dan
sesekali terbang. Kumbang tertarik cahaya lampu di waktu sore dan malam hari,
sehingga seringkali masuk terperangkap ke dalam rumah dengan jumlah yang
relatif banyak. Apabila tubuh kumbang terganggu, maka akan melakukan reaksi
refleksi pendarahan.

Hemolimfa ini mengandung molekul protein kompleks

6

pederin yang apabila bersinggungan dengan kulit manusia dapat menyebabkan
iritasi (CAB International 2005; Quinn 2010).
Di Indonesia, populasi kumbang sering ditemukan di pembibitan padi dan
jagung, sedang di Cina banyak ditemukan pada pertanaman padi dan kapas.
Serangga dewasa dilaporkan menyerang telur, larva dan pupa penggerek batang
padi, walaupun mangsa utamanya adalah nimfa dan imago berbagai jenis wereng
dan kutu tanaman (Kalshoven 1981; CAB International 2005).

Selain pada

pertanaman padi, kumbang ini memangsa hama telur dan larva ulat penggerek
Helicoverpa armigera pada pertanaman kedelai (Winasa et al. 2007).
Seekor imago betina P. fuscipes meletakkan 106 butir telur dengan
fertilitas 90.2% (Laba & Kilin 1994). Telur diletakkan satu-persatu di permukaan
tanah yang lembab. Stadium telur 4 hari. Larva terdiri atas dua instar, kemudian
menjadi prapupa dan pupa.

Rata-rata stadium larva dengan mangsa WBC,

prapupa, dan pupa berturut-turut 9.2, 1, dan 3.8 hari. Daur hidup kumbang ± 18
hari dengan keberhasilan hidup menjadi dewasa sebesar 77.6%. Lama hidup
kumbang betina 113.8 hari dan kumbang jantan 109.2 hari.

Seekor imago

kumbang mampu memangsa nimfa WBC instar 1, 2, 3, 4, dan 5 berturut-turut 2.3,
3.2, 4.2, 7.5, dan 7.3 ekor/hari. Menurut FAO (1994 dalam Suputa 2008),
kumbang ini efektif memangsa WBC di Bogor dan dimanfaatkan sebagai
pengendali hama pada pertanaman padi melalui metode konservasi.

Cendawan Entomopatogen
Cendawan entomopatogen Genus Metarhizium tergolong ke dalam divisi
Eumycotina. Cendawan ini merupakan cendawan tanah dan hidup sebagai
cendawan saprofit, walaupun demikian dalam kondisi tertentu memiliki
kemampuan menjadi patogen pada beberapa anggota ordo serangga Lepidoptera,
Coleoptera, Hymenoptera, Orthoptera, dan Hemiptera, termasuk nimfa dan imago
WBC. Dua ratus empat jenis isolat cendawan Metarhizium sp. berhasil diisolasi
dari tanah dan ditumbuhkan pada media agar pada suhu optimum 25°C dan pH
berkisar antara 3.3-8.5 (Gunawan et al. 2006). Cendawan genus Metarhizium
memiliki ciri miselium bersekat, berdiameter 1.98-2.97 μm, konidiofor tersusun

7

tegak, berlapis dan bercabang yang pada ujungnya tersusun beberapa konidia.
Konidia bersel satu, berbentuk jorong dengan ukuran 3.96 x 9.94 μm.
Cendawan Metarhizium sp. menginfeksi inang melalui empat tahap yaitu
inokulasi, penempelan, penetrasi, dan destruksi (Ferron 1985 dalam Sayuthi
2011). Studi penetrasi entomopatogenitas cendawan Metarhizium sp. diuraikan
pada caplak Boophilus microplus melalui pengamatan skening mikroskop elektron
(Arruda et al. 2005). Invasi cendawan pada tubuh inang diawali dengan pelekatan
konidia pada permukaan kutikula tubuh. Konidia tersebut mampu melekat di
seluruh bagian lapisan permukaan kutikula, walaupun lebih banyak ditemukan
pada bagian persendian misalnya pada tungkai. Perkecambahan konidia ditandai
dengan penonjolan tabung kecambah. Setiap konidia biasanya menghasilkan satu
tabung kecambah yang panjangnya dapat bervariasi. Ujung tabung kecambah ini
akan memproduksi appressoria berbentuk globuler dan umumnya diselimuti oleh
lapisan jaringan tipis yang tidak beraturan (amorphous mucilage layer) yang
melekatkan appressoria pada bagian permukaan integumen.

Kadangkala

ditemukan juga tabung kecambah yang langsung menembus lapisan kutikula
tanpa membentuk appressoria. Setelah 24 jam kemudian, hampir seluruh konidia
yang melekat pada integumen memulai proses perkecambahan konidia untuk
membentuk appressoria. Appressoria mulai menembus kutikula, yaitu dengan
memberikan tekanan mekanik dalam upaya menembus lapisan epikutikula dan
atau memicu produksi enzim hidrolitik khitinase dan protease dalam upaya
melisiskan lapisan tersebut.
prokutikula.

Hifa berkembang di lapisan transisi epi dan

Hifa selanjutnya berkembang aktif menembus seluruh lapisan

kutikula dan menginvasi hemosoel serta jaringan yang berdekatan. Penetrasi aktif
terjadi pada 48 dan 72 jam setelah inokulasi. Perluasan penetrasi massif dan
proliferasi hifa di dalam hemosoel tubuh caplak teramati pada 72 jam setelah
inokulasi.

Pada 96 jam setelah inokulasi, hifa mulai penetrasi keluar dari

permukaan kutikula membentuk konidia. Lokasi penetrasi keluarnya hifa ini tidak
terdeteksi secara spesifik.
Infeksi cendawan entomopatogen juga dilaporkan pada WBC, yaitu
melalui tahapan perkecambahan spora, kemudian penetrasi hifa, selanjutnya hifa
berkembang dan menyerang seluruh bagian hemolimfa serta isi hemosoel yang

8

pada akhirnya ke luar kembali menembus kutikula tubuh serangga (CAB
International 2005). Hifa cendawan yang memenuhi permukaan tubuh serangga
pada awalnya berwarna putih, kemudia hifa berangsur-angsur menjadi hijau gelap
bersamaan dengan matangnya konidia yang juga berwarna hijau. Oleh karena itu,
koloni cendawan ini dikenal dengan nama umum green muscardin fungus,
sebagai cerminan warna miselia dan konidia yang berwarna hijau.
Klasifikasi Metarhizium sp. adalah sebagai berikut:
Domain : Eucaryota
Filum

: Anamorphic fungy

Kelas

: Deuteromycetes

Ordo

: Moniliales

Famili

: Moniliaceae

Genus

: Metarhizium

Spesies : Metarhizium sp. (CAB International 2005)
Miselia cendawan Metarhizium sp. dilaporkan memproduksi mikotoksin
yang dikenal dengan nama destruksin, yaitu berupa molekul siklodekapeptid yang
mengikat lima asam amino (Roberts 2007). Lima kelompok destruksin, yaitu A,
B, C, D, dan E dilaporkan merusak organel sel target, antara lain mitokondria,
retikulum endoplasma dan membran nukleus, sehingga menyebabkan paralisis sel.
Pada umumnya, toksin ini menyebabkan kelainan fungsi pencernaan bagian
mesenteron, fungsi ekskresi pada tabung Malphigi, dan berpengaruh pada
kandungan hemosit dan serta struktur jaringan otot serangga.
Cendawan Metarhizium sp. setelah diaplikasikan pada pertanaman akan
menonaktifkan wereng dalam waktu dua hari (CAB International 2005). Infeksi
cendawan tersebut teramati secara visual yaitu diawali dengan kematian serangga
pada tujuh hingga sepuluh hari setelah aplikasi. Kemudian tubuh serangga
terinfeksi tampak diselimuti miselium dan konidia yang awalnya berwarna putih
lalu berangsur-angsur menjadi kehijauan (Sayuthi 2011).

Serangga terinfeksi

cendawan tetap melekat pada pertanaman dan spora yang terbentuk akan lepas
dari tubuh serangga, kemudian memencar dan bertahan di pertanaman.
Patogenisitas cendawan terhadap inang target meningkat bila kelembaban udara
mencapai 100% (David et al. 2009).

9

BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian

dilaksanakan

di

Laboratorium

Patologi

Serangga,

dan

Laboratorium Fisiologi dan Toksikologi Serangga, Departemen Proteksi
Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, mulai bulan Maret sampai
Agustus 2011.

Bahan

Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens
Wereng batang cokelat (WBC) biotipe 3 diperoleh dari biakan stok wereng
Kebun Percobaan BB Padi Muara-Bogor. WBC dibiakkan pada tanaman padi
varietas Pelita I-1 di dalam kurungan plastik berbentuk silinder berdiameter 25 cm
dan tinggi 85 cm yang pada permukaan atasnya ditutup kain kasa untuk ventilasi
(Gambar 1). Benih padi diperoleh dari laboratorium pemuliaan tanaman padi,
Kebun Percobaan BB Padi Muara-Bogor. Benih disemai di atas baki plastik
berukuran 40 x 30 x 5 cm yang beralaskan tanah basah secukupnya. Dua hingga
tiga bibit semaian berumur dua minggu, dipindahkan ke dalam sebuah ember
plastik berisi tanah lumpur sawah yang digenangi air.

WBC kemudian

diinfestasikan pada tanaman padi berumur 30-35 hari dan disungkup dengan
plastik mika seperti diuraikan di atas.

Gambar 1 Kurungan perbanyakan WBC

10

Predator Paederus fuscipes
Imago kumbang predator P. fuscipes ditangkap dari pertanaman padi lahan
sawah petani yang berlokasi di Desa Cikarawang-Bogor.

Di laboratorium,

kumbang tersebut dipindahkan ke dalam kotak plastik berukuran 30 x 20 x 20 cm
yang dialasi tanah lembab (Gambar 2). Sebelum diujikan, kumbang dipelihara
dengan diberi mangsa kutudaun Aphis glycines selama 3-4 hari. Penundaan waktu
pengujian ini bertujuan untuk memastikan bahwa kumbang uji yang digunakan
dalam percobaan ini sehat dan terbebas dari infeksi patogen berasal di lapangan.
Kutudaun diperoleh dari pertanaman kacang kedelai di sekitar lahan sawah milik
petani di Cikarawang-Bogor.

Gambar 2 Wadah pemeliharaan kumbang P. fuscipes

Metode

Preparasi Cendawan Entomopatogen
Isolasi cendawan dilakukan dengan cara mengoleksi WBC dari Kebun
Percobaan BB Padi Muara-Bogor dalam keedaan sudah mati dan tubuhnya
mengalami pengerasan seperti mumi, serta diselimuti miselia cendawan berwarna
hijau. Wereng selanjutnya dicuci dengan 1% larutan klorox (Na-hipoklorit) (v/v)
dan dibilas dengan akuades.

Wereng tersebut kemudian diletakkan di atas

permukaan media PDA di dalam cawan petri berdiameter 9 cm. Cendawan yang
berasal dari tubuh WBC akan berkecambah dan berkembang membentuk koloni
miselium baru pada media PDA.

Perkembangan koloni cendawan ini

11

memerlukan waktu 21 hari. Daerah tepi terluar koloni cendawan tersebut berikut
media diiris seluas ± 1 cm2 dan diinokulasikan kembali menggunakan lup
inokulan steril ke dalam media PDA baru. Inokulum cendawan yang tumbuh dan
berkembang berupa miselia dan konidia pada media PDA ini digunakan sebagai
isolat murni pada pengujian selanjutnya.
Sebelum isolat cendawan ini diujicobakan, virulensi isolat diidentifikasi
terlebih dahulu dengan menginokulasikan cendawan yang tumbuh dari media
PDA ke permukaan tubuh 10 ekor WBC sehat. Cendawan virulen menyebabkan
kematian pada WBC. Data kemampuan infeksi ini memberi petunjuk bahwa
konidia tersebut positif entomopatogen dan stok isolat murni tersebut di atas dapat
diisolasikan kembali pada media PDA untuk digunakan pada percobaan
selanjutnya. Bentuk miselia dan konidia cendawan infektif selanjutnya diamati di
bawah mikroskop optik.
Penentuan Kerapatan Konidia Stok Suspensi Cendawan Uji
Beras dicuci, dikukus hingga menjadi setengah matang. Sebanyak 20-30 g
beras dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas, kemudian disterilkan
selama 15 menit pada suhu 121 °C.
Inokulasi cendawan dilakukan dengan cara mengambil ± 1 cm2 luasan
PDA berisi spora dan miselia, kemudian menginokulasikannya di permukaan
media beras. Kultur cendawan diinkubasikan pada suhu kamar atau ± 26 °C
selama 21 hari, hingga tampak seluruh media beras diselimuti miselia dan konidia
cendawan. Beras tersebut dikeluarkan dari kantung plastik dan dituangkan ke
dalam mortar yang berisi 100 ml akuades steril, kemudian ditumbuk hingga rata.
Konidia dikoleksi dari biakan dengan menyaring suspensi tersebut di atas saringan
kain steril berbahan dasar nilon.

Suspensi konidia yang lolos dari saringan

ditambahkan 0.02% larutan Tween 20 (v/v) dalam air dan dikocok menggunakan
vortex selama 30 detik.

Kerapatan konidia di dalam suspensi dihitung

menggunakan haemocytometer Neubauer-improved.
Penghitungan jumlah konidia dilakukan dengan memipet dan meneteskan
suspensi konidia di atas gelas objek haemocytometer, kemudian ditutup dengan
gelas penutup.

Konidia diamati di bawah mikroskop compound dengan

perbesaran 400 kali.

Jumlah konidia yang teramati di dalam kotak skala

12

haemositometer dihitung, kemudian ditera untuk mendapatkan konsentrasi
tertinggi jumlah konidia di dalam stok suspensi uji, yaitu 109 konidia/ml. Stok
suspensi konidia uji diencerkan dengan air yang mengandung 0.02% larutan
Tween melalui pengenceran bertingkat untuk mendapatkan tiga konsentrasi
suspensi uji yang lebih rendah, yaitu 108, 107, dan 106 konidia/ml.

Pengujian Infektivitas Cendawan terhadap WBC
Setiap satu ml dari tiga konsentrasi suspensi uji yaitu 108, 107, dan 106
konidia/ml dan kontrol (tanpa konidia) disemprotkan pada 20 ekor imago WBC
berumur satu hari yang bertengger pada tiga batang tanaman padi dengan
menggunakan sprayer tangan volume semprot ± 5 ml. Tiga konsentrasi perlakuan
isolat ini mengacu pengujian lapang yang diuraikan oleh Jin et al. (2008). WBC
dan tanaman tersebut selanjutnya dipindahkan ke dalam tabung reaksi berdiameter
4 cm (Gambar 3). Setiap pengujian diulang empat kali. Pengamatan dilakukan
setiap hari sampai

6 hari setelah perlakuan. Parameter yang diamati adalah

jumlah mortalitas WBC. Keberadaan infeksi cendawan Metarhizium sp. pada
tubuh wereng yang telah mati diamati di bawah mikroskop stereo.
Persentase mortalitas terkoreksi WBC dilakukan dengan menggunakan
rumus Abbott (1925) sebagai berikut :
Pt = {(P0 – Pc)/(100 – Pc)} x 100%
Pt = % Kematian terkoreksi
P0 = % Kematian kumulatif pada perlakuan
Pc = % Kematian kumulatif pada kontrol

Gambar 3 Tabung pengujian suspensi cendawan terhadap WBC

13

Pengujian Infektivitas Cendawan terhadap P. fuscipes
Setiap 20 ekor kumbang predator P. fuscipes sehat dan bebas cendawan
patogen diambil dan dipindahkan ke dalam cawan plastik berdiameter 6 cm, tinggi
4 cm yang pada permukaan atasnya ditutup dengan kain kasa (Gambar 4a). Dua
perlakuan konsentrasi suspensi cendawan yang teruji infektif pada konsentrasi
terendah dan tertinggi terhadap WBC yaitu 106/ml dan 108 konidia/ml beserta
kontrol disemprotkan pada kumbang predator uji di atas. Perlakuan diujikan
dengan cara menyemprotkan suspensi melalui celah-celah kain kasa penutup
cawan plastik. Kumbang yang telah disemprot dipindahkan ke dalam cawan petri
berdiameter 15 cm yang telah dialasi kertas tissue dan berisi kutudaun beserta
inang daun kedelai (Gambar 4b). Perlakuan diulang 4 kali. Pengamatan kumbang
terinfeksi cendawan dan mortalitasnya dilakukan setiap hari, selama 10 hari.
Persentase mortalitas terkoreksi kumbang P. fuscipes dilakukan dengan
menggunakan rumus Abbott (1925) sama seperti diuraikan di atas.

(a)              
 
 
           (b)
Gambar 4 Cawan pengujian kumbang predator P. fuscipes: (a) cawan plastik
(b) cawan petri berisi pakan kutudaun
Rancangan Percobaan
Data mortalitas WBC pada 2, 3, 4, dan 5 hari diolah melalui analisis Probit
(Finney 1971) dengan menggunakan program POLO PC (LeOra Software 1987).
Hasil analisis probit digunakan untuk menentukan konsentrasi suspensi cendawan
efektif pada LC 50, LC 95, LT 50, dan LT 95.

Data persentase mortalitas

kumulatif kumbang P. fuscipes dianalisis menggunakan program SAS (Statistic
Analysis System) ver 9.1. Perbedaan nilai rata-rata perlakuan dianalisis dengan
pengujian Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%.

14

HASIL DAN PEMBAHASAN
Morfologi dan Infektivitas Cendawan Entomopatogen
Hasil pengamatan pendahuluan menunjukkan bahwa isolasi cendawan
yang menginfeksi tubuh WBC dari Kebun Percobaan BB Padi Muara Bogor
menghasilkan tiga koloni (Tabel 1). Dari tiga koloni yang diujikan virulensinya
terhadap WBC, satu koloni paling infektif menghasilkan kematian 70% dengan
perkembangan lanjut menghasilkan pertumbuhan miselia dan konidia berwarna
hijau di permukaan tubuh serangga (Tabel 1 dan Gambar 5a).
Tabel 1 Virulensi koloni cendawan isolat Muara-Bogor
Kode isolat

Persentase mortalitas WBC (%)

Pertumbuhan koloni

CE 1

10

-

CE 2

30

-

CE 3

70

+

Keterangan
CE = Cendawan Entomopatogen.
- = tidak terdapat miselia pada permukaan tubuh WBC.
+ = terdapat miselia pada permukaan tubuh WBC.

(a)

(b)

Gambar 5 Cendawan Metarhizium sp. isolat CE 3 Muara umur 7 hari.
Keterangan: 1) koloni cendawan pada media PDA; (2) morfologi
bagian tubuh cendawan perbesaran 400 x: a. konidiofor, b. konidia,
c. fialid.

15

Sesuai dengan kunci identifikasi Barnett & Hunter (1972), isolat cendawan
infektif tersebut termasuk genus Metarhizium. Genus ini memiliki ciri morfologi
sebagai berikut: konidiofor hialin, bercabang, bentuk sporulasi bertunas/berlapis,
fialid satu atau sepasang, konidia bersel satu berwarna hialin dan sedikit
berpigmen hijau, dibentuk dalam rantai basipetal dan teratur (Gambar 5b).
Cendawan Metarhizium sp. isolat CE 3 Muara-Bogor paling efektif
mematikan WBC pada hari ke-2 setelah perlakuan (Tabel 2, Lampiran 1, 2, 3, &
4). Kematian meningkat seiring dengan bertambahnya hari pengamatan hingga
hari ke empat setelah perlakuan. Pengaruh infeksi cendawan isolat CE 3 terhadap
mortalitas WBC ditunjukkan dengan nilai Nilai LC50 berkisar antara 1.1 x 105
hingga 6.5 x 105 konidia/ml dan Nilai LC95 berkisar antara 3.2 x 108 hingga 8.2 x
108 konidia/ml pada pengamatan 2-4 HSP dengan nilai g 0.42-0.49 (Tabel
lampiran 1, 2, 3, & 4).

Pada percobaan ini menunjukkan bahwa perlakuan

6

konsentrasi terendah 10 konidia/ml suspensi cendawan Metarhizium sp. telah
menunjukkan efektivitasnya mematikan 50% populasi WBC sebelum hari ke dua
yaitu pada 1.6 HSP dan kematian meningkat hingga 95% pada 5.5 HSP (Tabel 3,
Tabel lampiran 5, 6, & 7). Peningkatan konsentrasi suspensi cendawan uji ini
dapat memperpendek waktu kematian WBC, ditunjukkan dengan LT50 dan LT95
pada konsentrasi 107 dan 108 masing-masing sebesar 1.1-1.2 hari dan 3.2-3.8 hari.
Tabel 2 Respon mortalitas imago WBC terhadap konsentrasi pemaparan suspensi
cendawan Metarhizium sp. isolat CE3 Muara
Pengamatan
hari ke-

Jumlah
WBC

LC50
konidia/ml

LC95
konidia/ml

Persamaan garis
regresi

g

2

80

1.1 x 105

3.2 x 108

y = -2.42 + 0.47x

0.42

3

80

3.7 x 105

6.8 x 108

y = -2.81 + 0.50x

0.48

4

80

5

6.5 x 10

8.2 x 10

8

y = -3.08 + 0.53x

0.49

5

80

1.0 x 106

1.7 x 109

y = -0.26 + 0.26x

3.78

g = Penetapan kesesuaian model probit hasil analisis Pearson chi-square (α = 0.05) dengan
ketentuan nilai g < 1.

16

Virulensi cendawan Metarhizium sangat bervariasi pada serangga, baik
pada serangga hama devoliator maupun serangga penusuk dan penghisap
tanaman. Vijayavani et al. (2010) melaporkan bahwa pemaparan konsentrasi
1.1 x 107 dan 1.1 x 108 konidia/ml suspensi cendawan M. anisopliae mematikan
larva instar 2 Helicoverpa armigera yang diamati pada hari ke 8 setelah
perlakuan. Bai et al. (2010) melaporkan juga bahwa isolat paling patogenik
membunuh larva Spilarctia obliqua terjadi pada LC50 sebesar 2.11 X 105
konidia/ml dan LT50 sebesar 4,6, 5,1, 6,0 dan 7,0 hari pada masing-masing
konsentrasi 1 x 107, 1 x 106, 1 x 105 dan 1 x 104 konidia/ml. Keadaan yang mirip
dengan hasil pengujian pada WBC bahwa makin tinggi konsentrasi konidia yang
digunakan dalam perlakuan, maka makin cepat terjadi kematian wereng.
Perlakuan suspensi M. anisopliae pada konsentrasi 104 dan 107 konidia/ml
akuades dilaporkan membunuh 40% dan 45% jumlah populasi WBC empat hari
setelah dilakukan penyemprotan pada rumpun tanaman padi di rumah kaca
(Suryadi & Kadir 2007). Hal ini berarti bahwa keefektifan perlakuan suspensi
cendawan Metarhizium sp. isolat CE 3 muara, yaitu 1.1 x 105 konidia/ml di
laboratorium hampir mendekati kriteria keefektifan M. anisopliae perlakuan semi
lapang. Jin et al. (2008) melaporkan bahwa isolat M. anisopliae Filipina (ARSEF
456) dan Indonesia (ARSEF 456) dapat membunuh lebih dari 50% nimfa WBC di
lapangan. Perlakuan tiga konsentrasi suspensi cendawan yang disemprotkan pada
tanaman yaitu 1.1 x 106, 1.1 x 107, dan 1.1 x 108 konidia/ml efektif
mengendalikan populasi WBC dengan LC50 sebesar 731 dan 1124 konida/mm2
pada hari ke 7 dan menurun menjadi 284 dan 306 konidia/mm2 pada hari ke 10.
Tabel 3 Respon mortalitas imago WBC terhadap waktu pemaparan suspensi
cendawan Metarhizium sp. isolat CE3 Muara
Konsentrasi perlakuan
Konidia/ml

Jumlah
WBC

LT50
(hari)

LT95
(hari)

106

80

1.6

5.5

y = 0.17 − 0.31x

0.31

10

7

80

1.1

3.8

y = - 0.17 + 3.08x

0.28

108

80

1.2

3.2

y = - 0.30 + 3.76x

0.30

Persamaan garis
regresi

g

g = Penetapan kesesuaian model probit hasil analisis Pearson chi-square (α = 0.05) dengan
ketentuan nilai g < 1.

17

Mortalitas Kumbang P. fuscipes oleh Metarhizium sp.
Hasil uji perlakuan suspensi cendawan Metarhizium sp. terhadap WBC
dan predator P. fuscipes menunjukkan bahwa konsentrasi 106 dan 108 konidia/ml
efektif mematikan WBC, namun virulensinya lemah terhadap kumbang predator
(Tabel 3, Lampiran 8, 9, 10, 11, 12, 13). Pada pengamatan hari pertama, kematian
cendawan rendah pada semua perlakuan baik pada WBC maupun kumbang
P. fuscipes, yaitu berkisar antara 0-21%. Keefektifan cendawan baru tampak pada
hari ke-2 setelah inokulasi, terutama pada konsentrasi rendah 106 konidia/ml nyata
mampu membunuh populasi WBC hingga 60% dibandingkan dengan konsentrasi
tinggi 108 konidia/ml mencapai 90%. Kematian meningkat pada hari ke-5 dan ke6 setelah inokulasi, yaitu pada konsentrasi 106 konidia/ml, cendawan mampu
membunuh

populasi

WBC

hingga

58.8%-87.5%

tidak

berbeda

nyata

dibandingkan dengan konsentrasi tinggi 108 konidia/ml mencapai 85-95.5%.
Keadaan sebaliknya bahwa cendawan Metarhizium sp. nyata tidak efektif
membunuh kumbang predator teramati mulai pada hari ke-2 hingga ke 6 setelah
inokulasi dengan tingkat mortalitas yang rendah hanya mencapai 0.9-2.5%.
Kematian pada kumbang P. fuscipes meningkat hingga akhir pengamatan yaitu
hari ke-10 mencapai 9% pada konsentrasi 106 konidia/ml dan 12.8% pada
konsentrasi dengan 108 konidia/ml, sedangkan kematian WBC tidak teramati
karena seluruh perlakuan kontrol mati akibat keterbatasan lama hidup imago yang
Tabel 4 Infektivitas cendawan Metarhizium sp. terhadap mortalitas kumbang
P. fuscipes
Mortalitas terkoreksi WBC pada perlakuan hari ke- (%)
Perlakuan K
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

60.8b 52.8b 58.8b

58.8a

87.5a









21a

90.0a

87.0a

85.0a

85.0a

95.5a









P. fuscipes 106

0a

0 c

1.3c

1.3c

1.3b

0.9b

2.2

7.0

8.2

9.0

P. fuscipes 108

0a

0 c

0 c

0 c

2.5b

2.5b

4.1

8.7

13.9

12.8

a

WBC

106

9a

WBC

108

Nilai rataan yang diikuti huruf kecil yang sama pada setiap lajur menunjukkan tidak berbeda nyata
menurut uji Duncan pada taraf α = 0,05.
K = konsentrasi suspensi (konidia/ml akuades)

18

lebih pendek dibandingkan kumbang predator. Hasil penelitian pada percobaan
ini menunjukkan bahwa efektifitas cendawan baru tampak menginfeksi pada hari
ke dua. Hal ini diduga bahwa konidia cendawan yang diinokulasikan baru
berkecambah dan membentuk apressoria dan mulai penetrasi antara hari pertama
dan ke dua, kemudian infasi hifa terjadi hari berikutnya yang baru menunjukkan
daya bunuh dan keefektifannya dengan berturut-turut meningkatnya persentase
kematian WBC hingga hari ke-6 dan kumbang predator pada hari ke-10 (Arruda
2005).

19

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Cendawan Metarhizium sp. isolat CE3 Muara efektif menginfeksi hama
WBC Nilaparvata lugens.
Keefektifan cendawan terhadap WBC dinyatakan dengan nilai LC50 sebesar
1.1 x 105 konidia/l dan LC95 sebesar 3.2 x 108.
Cendawan Metarhizium sp. isolat CE3 Muara tidak berpengaruh nyata pada
motalitas kumbang predator P. fuscipes.

Saran
Keefektifan cendawan Metarhizium sp. isolat CE3 Muara terhadap hama
WBC dan predatornya dari hasil penelitian ini perlu diuji lanjut pada percobaan
semi lapang maupun lapangan untuk mendukung program pengendalian terpadu
hama WBC.

20

DAFTAR PUSTAKA

Abbott WS. 1925. A method of computing the effectiveness of insecticide.
Journal of Economic Entomology 18: 265-267.
Ambethgar V. 2009. Potential of entomopathogenic fungi in insecticide
resistance management (IRM): A review. Journal of Biopesticides 2(2):
177-19.
Arifin M, Suryawan IBG, Priyanto BH, Alwi A. 1997. Perkembangan populasi
wereng batang cokelat Nilavarpata lugens Stal.dan predatornya pada
berbagai teknik budidaya padi. Jurnal Pertanian, Fakultas Pertanian
UISU 16(1): 24-32.
Arruda W, Lübeck I, Schrank A, Vainstein MH. 2005. Morphological alterations
of Metarhizium anisopliae during penetration of Boophilus microplus
ticks. Journal Experimental and Applied Acarology 37:231-224.
Baehaki SE, Mejaya IMJ. 2011. Bahaya hama wereng batang cokelat sebagai
hama global, startegi dan bernilai ekonomi tinggi. Di dalam: Seminar
Kajian Strategis Serangan Wereng Batang Cokelat dan Pengaruhnya
terhadap Ketahanan Pangan dan Kestabilan Perekonomian Makro
Nasional. Bogor, 27 November 2011. Bogor: IPB.
Bai NS, Sasidharan TO, Remadevi OK, Rajan PD, Balachander M. 2010.
Virulence of Metharhizium isolates against the polyphagous defoliator
pest, Spilarctia oblique (Lepidoptera: Arctiidae). Journal of Tropical
Forest Science 22(1):74-80.
Barnett HL, Hunter BB. 1972. Ilustrated Genera of Imperfect Fungi. Ed ke-4.
Minnesota: Burgess Publishing Co.
[BBPOPT] Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan. 2008a.
Analisis serangan WBC dan strategi penanggulangannya. SukamandiSubang: Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan.
[BBPOPT] Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan. 2008b.
Peluang pengamatan dan pengendalian wereng batang cokelat.
Sukamandi-Subang: Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu
Tumbuhan.
[BPTP] Balai Penelitian Tanaman Padi. 2002. Refleksi Penelitian Padi 2002.
Sukamandi-Subang: Balai Penelitian Tanaman Padi.

21

[CAB International] Commonwealth Agriculture Bureaux International. 2005.
Crop Protection Compendium. Wallingford, UK: CAB International.
Disajikan dalam 2 compact disc dengan penuntun di dalamnya.
David MB, Knapp M, Boga HI, Wanjoya AK, Maniania NK. 2009. Influence of
temperature on virulence of fungal isolates of Metarhizium anisopliae and
Beauveria bassiana to the two-spotted spider mite Tetranychus urticae.
Journal Mycopathologia 167: 221-227.
Diratmaja A, Permadi K. 2005. Serangan dan populasi wereng batang cokelat
(Nilaparvata lugens Stal.) pada padi di Cirebon, Indramayu dan
Karawang. Jurnal of Agrivigor 5(1): 55-63.
Dwiastuti ME, Nawir W, Wuryantini S. 2007. Uji patogenisits cendawan
entomopatogen Hirsutella citriformis, Beauveria bassiana, dan
Metarhizium anisopliae secara eka dan dwiinfeksi untuk mengendalikan
Diaphorina citri Kuw. Jurnal Hortikultura 17(1):75-80.
Finney DJ. 1971. Probit Analysis. 3rd ed. Cambridge: Cambridge University
Press.
Gunawan AW, Dharmaputra OS, Rahayu G, Sudirman LI, Sukarno N, Listiyowati
S. 2006. Cendawan dalam Praktikum Laboratorium. Bogor: Institut
Pertanian Bogor Press.
Hu G. 2005. Using the Metarhizium anisopliae as amodel system to study the role
of gene duplication, divergence and expression in adapting to
pathogenicity [disertation]. University of Maryland.
Jin S-F, Feng M-G, Chen J-Q. 2008. Selection of global Metarhizium isolates for
the control of the rice pest Nilaparvata lugens (Homoptera: Delphacidae).
Journal Pest Management Science 64: 1008-1014.
Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Laan PA van der,
penerjemah. Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve. Terjemahan dari: De Plagen
van de Cultuurgewassen in Indonesie.
Kartohardjono A. 2011. Penggunaan musuh alami sebagai komponen
pengendalian hama padi berbasis ekologi. Jurnal Pengembangan Inovasi
Pertanian 4(1): 29-46.
Laba IW, Kilin D. 1994. Biologi Paederus fuscipes Curtis dan kemampuannya
memangsa wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens Stal.) (4): 240-245.
Dalam Mochmud (eds). Risalah Hasil Penelitian Tanaman Pangan Bogor.
LeOra Software. 1987. POLO-PC User’sGuide. Berkeley: LeOra Software.

22

Lubis Y. 2005. Peranan keanekaragaman hayati artropoda sebagai musuh alami
pada ekosistem padi sawah. Jurnal Penelitian Bidang ilmu pertanian 3(3):
16-24.
Maranga RO, Kaaya GP, Mueke JM, Hassanali A. 2005. Effects of combining the
fungi Beauveria bassiana and Metarhizium anisopliae on the mortality of
the tick Amblyomma variegatum (Ixodidae) in relation to seasonal
changes. Journal Mycopathologia 159: 527-532.
Oka IN, Bahagiawati. 1987. Perkembangan biotipe wereng cokelat Edisi khusus
No. 1: Wereng Batang Cokelat. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Balittan Bogor. hlm. 31-42.
Pedigo LP. 1999. Entomology and pest management. 3rd Edition. Prentice-Hall,
Englewood Cliffs, NJ. 691.
Quinn M. 2010. How do Paederus beetles cope with pederin. Gertschgroup.
http:// www.spacefly.ru/newssearch.html [1 Maret 2012].
Roberts DW. 2007. Toxin from the entomogenous fungus Metarhizium sp.
Journal of Invertebrate Pathology 8: 212-227.
Sayuthi M. 2011. Kajian cendawan entomopatogen Met

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Selektivitas Infeksi Cendawan Metarhizium sp. terhadap Hama Wereng Batang Cokelat Nilaparvata lugens Stål (Hemiptera: Delphacidae) dan Predator Paederus fuscipes Curtis (Coleoptera: Staphylinidae)