THE INFLUENCE OF NUTRITION’S COUNSELING TO PREGNANT MOTHER AND ANEMIA IN MINASATENE AND PANGKAJENE DISTRICT OF PANGKAJENE AND ISLAND REGION

PENGARUH KONSELING GIZI PADA IBU HAMIL DENGAN ANEMIA TERHADAP STATUS GIZI DI KECAMATAN MINASATENE DAN KECAMATAN PANGKAJENEKABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN

  1

  2

  3 Farida Tandi Bara , Lidya Fanny , Hidayat Wijayanagara

  1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bakti Pertiwi Luwu Raya

  2 Politeknik Kesehatan Kemenkes Jurusan Gizi , Makassar

  3 Program Pasca Sarjana Kebidanan Universitas Padjajaran, Bandung ABSTRAK

  Status gizi selama kehamilan menjadi tolok ukur kesehatan ibu hamil dan janin yang sedang dikandung. Sampai saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami masalah gizi khususnya gizi kurang seperti Kurang Energi Kronis (KEK) dan Anemia gizi. Upaya untuk meningkatkan status gizi ibu hamil dengan menanggulangi anemi melalui pemberian suplementasi zat besi dan konseling gizi untuk memperbaiki pola konsumsi zat gizi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh konseling gizi pada ibu dengan anemia terhadap kadar hemoglobin ibu hamil anemia, kepatuhan konsumsi tablet Fe serta penambahan berat badan ibu hamil. Metode penelitian adalah studi komparatif dengan desain kuasi ekperimen. Sampel penelitian ibu hamil anemia dengan usia kehamilan 18-20 minggu yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Kelompok yang mendapatkan konseling 32 ibu hamil anemi dan kelompok tanpa konseling 31 ibu hamil anemi. Data diperoleh dengan mengukur kadar hemoglobin, menilai kepatuhan konsumsi tablet Fe dan menimbang berat badan. Analisis data menggunakan uji Chi kuadrat, Mann Whithney, uji t dan uji t berpasangan. Hasil Uji perbandingan dengan menggunakan Mann Whitney dan uji t didapatkan tidak ada perbedaan penambahan kadar Hb

  1 . Pada Pengukuran Hb 2 terdapat perbedaan (p < 0,05) dan pengukuran Hb 3 terdapat perbedan

  yang sangat bermakna (p < 0,001). Penambahan kadar hemoglobin pada kelompok yang mendapatkan konseling dengan 3 kali pengukuran sangat bermakna p < 0,001. Kepatuhan konsumsi tablet Fe pada kedua kelompok terdapat perbedaan dengan nilai p < 0,001. Penambahan berat badan pada ketiga pengukuran terdapat perbedaan dengan p < 0,001. Kesimpulan kadar hemoglobin pada ibu hamil anemia yang mendapatkan konseling lebih tinggi dari yang tidak mendapatkan konseling, Ibu hamil anemia yang mendapatkan konseling lebih patuh mengkonsumsi tablet Fe. Penambahan berat badan lebih tinggi pada kelompok ibu hamil anemia yang mendapatkan konseling.

  Kata kunci : Konseling Gizi, Kadar hemoglobin, tablet Fe dan Berat badan.

  THE INFLUENCE OF NUTRITION’S COUNSELING TO PREGNANT MOTHER AND ANEMIA IN MINASATENE AND PANGKAJENE DISTRICT OF PANGKAJENE AND ISLAND REGION ABSTRACT

  Nutrition status during pregnancy is the bench mark of knowing the health of the pregnant mothers and fetus. Until know there are many pregnant mothers who suffer from nutrition problem, especially lack of nutrition, such as Chronic Strength Lack and nutrition anemia. An effort to increase the pregnant mother nutrition status is by over coming anemia through the giving of Fe supplement and nutrition counseling in order to fix the nutrition pattern of nutrition. The objective of this study is to find out the effect of nutrition counseling on effect of nutrition counseling on over hemoglobin dosage of anemia pregnant mothers, the constant Fe tablet consumption and the weight gain . The method of the comparative study with the design quasi-experiment. The samples of the study were anemia pregnant mothers with pregnancy age 18-20 weeks that fulfilled inclusion and exclusion criteria. The with-counseling group consisted of thirty two anemia pregnant mothers and the without-counseling group consisted of thirty one anemia pregnant mothers. The data were taken by measuring the hemoglobin dosage, examining the constant consumption of Fe tablet, and the weight gain. The data analysis used Chi quadrate test, Mann Whitney, t test and paired t test. The result of comparison study using Mann Whitney and t test found that there were not any differences in the adding of Hb1

  253

  254 dosage. In the measuring of Hb2, there were differences (p < 0,05) and for Hb3 there were significant differences (p < 0,001). The adding of hemoglobin dosage to the with-counseling group by three times measurement was very significant p < 0,001. The constant consumption of tablet Fe to the two groups was significant with score p < 0,001. The weight gain over three measurements were with significant differences with p < 0,001. The conclusion of hemoglobin dosage of with-counseling pregnant mothers was higher than the without-counseling group. The with-counseling anemia pregnant mothers were those who consumed tablet Fe regularly. The weight gain were higher to the with- counseling anemia pregnant mothers group.

  Key words: Nutrition counseling, hemoglobin dosage, tablet Fe and weight gain .

  PENDAHULUAN

  Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat sehingga penentuan status gizi merupakan komponen esensial dalam perawatan antenatal. Status gizi merupakan tolok ukur kesehatan ibu hamil dan janin. Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila tingkat kesehatan dan gizinya berada pada kondisi yang baik. Namun sampai saat ini masih banyak ibu hamil yang mengalami masalah gizi khususnya gizi kurang seperti Kurang Energi Kronis (KEK) dan Anemia gizi.

  Anemi merupakan masalah kesehatan utama pada ibu utamanya dinegara berkembang termasuk Indonesia. SKRT 2001 menunjukkan bahwa prevalensi anemia ibu hamil 40,1%. Menurut WHO jika prevalensinya 40% atau lebih dikategorikan masalah berat. United Nation melaporkan bahwa 50% kematian ibu di Negara berkembang dilator belakangi baik secara langsung maupun tidak langsung oleh anemia. Penelitan Chi, dkk menunjukkan bahwa angka kematian ibu adalah 70% untuk ibu-ibu anemia dan 19,7% untuk ibu yang non anemia. Mechan dan Argawal (1991) melaporkan bahwa19,7% untuk ibu yang non anemia. Mechan dan Argawal (1991) melaporkan bahwa hasil persalinan pada wanita yang menderita anemia defisiensi besi adalah 12-28% angka kematian janin, 30% angka kematian perinatal dan 7-10%a anemia defisiensi besi adalah 12- 28% angka kematian janin, 30% angka kematian perinatal dan 7-10% angka kematian neonatal.

  Dalam kehamilan kebutuhan zat besi yang meningkat serta perubahan fisiologis merupakan penyebab anemi. Perubahan fisiologis yaitu pengenceran darah (hemodilusi) yang dianggap sebagai penyesuaian diri dan bermanfaat bagi ibu hamil. Pertama-tama pengenceran ini meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidraemia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik. Perubahan ini sudah dimulai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan antara 32-36 minggu

  (13, 22) .

  Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan, gangguan proses persalinan, gangguan pada masa nifas, dan gangguan pada janin.

  Kebutuhan zat besi pada wanita hamil tiga kali lebih besar dibandingkan wanita tidak hamil. Penyebab utama anemia pada ibu hamil adalah kurang memadainya makanan sumber Fe, meningkatnya kebutuhan Fe saat hamil dan menyusui dan kehilangan banyak darah. Hanya sekitar 25% WUS memenuhi kebutuhan Fe sesuai AKG (26 mikrogram/ perhari).Secara rata-rata, wanita mengkonsumsi 6,5 g Fe perhari melalui diet makanan. Kebutuhan Fe dalam masa hamil meningkat dua kali lipat menjadi 46 µg/hari

  (8) .

  Tipe Fe yang dikonsumsi dan faktor diet yang mempercepat (enhancer) dan menghambat (inhibitor) penyerapan Fe. Heme iron dari hemoglobin dan mioglobin hewan lebih mudah dicerna dan tidak dipengaruhi oleh inhibitor Fe.

  Defisiensi besi bukan satu-satunya penyebab anemia, tetapi jika prevalensi anemia tinggi defisiensi besi biasanya dianggap sebagai penyebab paling dominan. Pertimbangan ini membuat suplementasi besi dan folat selama ini dianggap sebagai salah satu cara yang sangat bermanfaat dalam mengatasi anemia. Suplementasi besi diberikan secara rutin pada ibu hamil di Puskesmas dan Posyandu untuk menanggulangi anemia defisiensi besi. Sejauh ini hasil yang dicapai belum menggembirakan, terbukti dari prevalensi anemia pada ibu hamil yang masih tinggi. Penanggulangan Anemi pada masa hamil untuk menghindari penyulit akibat anemia pada waktu persalinan maupun pada masa nifas.

  255 Administrative Committe on Coordination Subcommitte on Nutrition

  bahwa konseling individual setiap minggu dapat meningkatkan status gizi dan menurunkan prevalensi anemia pada ibu hamil

  1. Ibu hamil yang menderita anemia karena sebab lain

  6. Ibu hamil yang belum pernah mengonsumsi tablet Fe sebelum usia kehamilan 18-20 minggu. Kriteria eksklusi adalah :

  5. Ibu hamil yang bersedia ikut dalam penelitian.

  4. Ibu hamil yang dapat berinteraksi dengan peneliti

  3. Usia kehamilan saat penelitian dimulai 18-20 minggu

  2. Kehamilan tunggal

  Metode penelitian yang digunakan adalah studi komparatif dengan rancangan kuasi eksperimen. Penelitian dilakukan dari bulan Oktober 2008- Maret 2009. Subjek adalah ibu hamil yang didiagnosis anemia dengan kadar hemoglobin < 11gr/dL. Kriteria inklusi yaitu : 1. Ibu hamil anemia.

  Dengan pemberian konseling, ibu hamil. mengenal, memahami tentang peningkatan kebutuhan gizi dalam kehamilan, anemia serta dampaknya pada kehamilan dan janin mengenal penyebab masalah serta potensi dirinya untuk mengatasi masalah kesehatannya. Dengan pemahaman dan pengetahuan yang memadai akan berdampak pada perubahan pola konsumsi pangan yang bergizi dan yang mengandung Fe tinggi, diet yang meningkatkan penyerapan Fe serta lebih patuh dalam mengonsumsi tablet Fe. Peningkatan status gizi dapat dilihat dari peningkatan kadar hemoglobin dan penambahan berat badan selama hamil.

  (10) .

  . Penelitian oleh Kafatos menunjukkan bahwa konseling gizi secara signifikan dapat meningkatkan asupan zat gizi dan pertambahan berat badan ibu hamil

  

(40)

  Nutrition Status in Pregnancy menyimpulkan

  (ACC/SCN) yang bekerjasama dengan Asian

  Konseling yang diberikan pada ibu hamil anemia harus mengarah pada peningkatan pengetahuan yang dapat merubah pola konsumsi yang meningkatkan status gizi dan meningkatkan penyerapan Fe serta keteraturan meminum tablet Fe. Dampak yang diharapkan dari konseling adalah meningkatnya status gizi ibu hamil yang dapat diukur dengan peningkatan kadar hemoglobin dan Penambahan Berat Badan selama hamil. Penelitian Aashima dan Sushma (2006) di India dengan judul Effect of Counseling on

  (9) .

  Pendidikan kesehatan dengan metode konseling merupakan pendekatan yang paling banyak digunakan untuk menolong individu dalam mengatasi masalah kesehatannya. Secara umum konseling bertujuan agar klien mampu mengatasi masalah setelah mengenal, menyadari masalahnya dan kemudian mengarahkan kemampuannya untuk mengatasi masalahnya

  (2) .

  Wignjosastro (1997) mengungkapkan bahwa kurangnya Komunikasi Informasi dan Edukasi/konseling (KIE/K) merupakan penghambat upaya penurunan kejadian anemia. Promosi tentang pencegahan dan penangulangan anemia serta pentingnya minum tablet Fe tidak menjangkau sasaran secara merata. Akibatnya pengetahuan tentang anemia, manfaat dan efek samping tablet Fe kurang dipahami oleh ibu hamil maupun masyarakat

  Upaya lain untuk penanggulangan masalah gizi adalah dengan jalan menyelenggarakan pendidikan gizi masyarakat yang bertujuan untuk mengubah perilaku masyarakat kearah konsumsi pangan yang sehat dan bergizi. Kegiatan untuk meningkatkan status gizi ibu hamil utamanya merupakan kegiatan KIE yaitu promosi atau kampanye tentang gizi ibu hamil serta masalah gizi yang sering dialami seperti anemi pada masyarakat luas, ditunjang dengan kegiatan kampanye tentang anemia pada masyarakat luas, ditunjang dengan kegiatan penyuluhan kelompok serta konseling yang ditujukan langsung pada ibu hamil.

  Laju pertambahan berat badan dalam kehamilan tidak sama pada setiap ibu hamil. Laju pertambahan berat badan ibu hamil merupakan petunjuk yang sama pentingnya dengan pertambahan itu sendiri. Kisaran pertambahan berat badan pada trimester I yaitu 1-2 kg dan untuk trimester II dan III sekitar 0,35 – 0.40 kg perminggu. WHO merekomendasikan penambahan berat badan 10-14 kg selama hamil untuk ibu yang bergizi baik.

  Pentingnya peningkatan berat badan yang sesuai dalam masa kehamilan bukanlah sesuatu yang dilebih-lebihkan. . Peningkatan berat badan masa hamil memberi kontribusi penting terhadap kesuksesan suatu kehamilan.

  (12) .

  sebagian besar ibu kekurangan gizi sejak sebelum hamil yang makin memburuk selama kehamilan. Kira-kira 70% wanita di Asia Selatan dan 40% di Asia Tenggara memiliki berat badan yang kurang (<45 kg)

  Development Bank (ADB), melaporkan bahwa

BAHAN DAN METODE

HASIL PENELITIAN

  5

  2 

  = 2,538 p = 0,468 Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja

  22

  10

  27

  7

  2 

  = 0,301 p = 0,438 Paritas

  1

  2

  3

  4

  14

  6

  6

  8

  2

  2

  13

  6

  5

  5

  1

  1

  2 

  = 3,333 p = 0,649 Tabel 1 memperlihatkan bahwa usia ibu hamil pada kelompok ibu hamil anemia yang mendapatkan konseling berkisar 19 - 41 tahun dan usia ibu hamil anemia yang tidak mendapatkan konseling berkisar 18 – 39 tahun. Jenjang pendidikan yang ditempuh pada kelompok ibu hamil anemia yang mendapatkan konseling dan yang tidak mendapatkan konseling sebagian besar adalah SD. Karakteristik ibu hamil anemia

  4

  256

  2. Ibu hamil yang mengalami komplikasi kehamilan selama penelitian berlangsung Setiap ibu hamil yang berkunjung ke 4

  10

  Puskesmas di wilayah Kecamatan Pangkajene dan Kecamatan Minasatene dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diminta kesediaannya menjadi subjek penelitan dan menandatangani surat kesediaan menjadi subjek penelitian. Ibu hamil yang menjadi subjek penelitian dipersilahkan memasuki ruangan khusus untuk pelaksanaan konseling. Kemudian diberikan konseling sekitar 30-45 menit oleh konselor sesuai dengan materi yang disiapkan. Konseling 1 dilakukan saat kunjungan awal dan konseling 2 dan ke 3 pada setiap kunjungan ulang. Konseling diberikan secara individual pada saat ibu hamil datang memeriksakan diri sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan. Untuk meningkatkan pemaham mengenai materi yang diberikan, maka dilakukan tanya jawab sesuai materi yang sudah dijelaskan. Apabila ibu hamil tidak datang sesuai jadwal yang sudah ditentukan, akan dilakukan kunjungan rumah dan konseling tetap diberikan. Ibu hamil yang berasal dari kelompok kontrol tidak diberikan konseling, tetapi mengikuti prosedur yang biasa dilaksanakan di puskesmas.

  Pengukuran BB dilakukan sebelum konseling dan setiap kunjungan untuk mengetahui penambahan BB ibu hamil. Perhitungan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah yaitu dengan memberikan jadwal berupa catatan harian (Log Book) dan apabila ibu hamil mengkonsumsi tablet tambah darah akan memberikan tanda pada kalender tersebut.

  Tablet Fe yang diberikan mengandung 200 mg Ferro Sulfat dan 0,25 mg asam folat, dalam kemasan yang berisi 30 tablet yang diproduksi oleh PT. Kimia Farma dan diberikan secara rutin kepada setiap ibu hamil di puskesmas.

  Dari 66 ibu hamil anemia yang menjadi subjek penelitian, sebanyak 63 ibu hamil yang mengikuti penelitian sampai selesai.

  Tabel 1. Karakteristik Ibu Hamil Karakteristik

  Kelompok Kemaknaan Konseling

  (n = 32) Kontrol

  (n = 31) Umur X (SD) Median Rentang

  < 25 tahun 25 – 29 tahun 30 – 34 tahun ≥ 35 tahun

  27,91 (6,39)

  26 19 – 41

  11

  5

  14

  6 26,42 (5,93)

  26 18 – 39

  14

  11

  2

  4

  2 

  = 2,078 p = 0,556 Pendidikan SD SMP SMU Akademi/PT

  12

  4

  11

  5

  7

  257

  terdapat kenaikan rata-rata kadar hemoglobin dengan nilai p < 0,001.

  11,85 (0,83) 11,8

  10,2 – 13,6 10,23 (1,08)

  10,2 7,8 – 12,2 t = 6,640 p = 0,000

  Perbandingan kadar hemoglobin sebelum mendapatkan konseling dan setelah mendapatkan konseling (tabel 3) dengan menggunakan uji t berpasangan didapatkan perbedaan yang sangat bermakna pada ketiga pengukuran. Pengukuran Hb awal - Hb

  1

  terdapat kenaikan rata-rata kadar hemoglobin dengan nilai p < 0,001, Pengukuran kadar Hb awal - Hb

  2 terdapat kenaikan rata-rata kadar

  hemoglobin dengan nilai p < 0,001 dan pengukuran kadar Hb - ke Hb

  3

  Tabel 3 Perbandingan Kadar Hemoglobin Sebelum Mendapatkan Konseling Dan Setelah Mendapatkan Konseling

  3 X

  Hb Ibu Hamil Perlakuan t test * Nilai p

  Sebelum Setelah Hb awal – 1

  X (SD)

  Median Rentang

  9,07 (0,96) 9,35 7 – 10,5

  9,67 (1,02) 10,0 7 – 10,9 t = 6,969 p < 0,001

  Hb awal - 2

  X

  (SD) 9,07 (0,96)

  9,35 10,67 (1,06)

  (SD) Median Rentang

  Hb

  berdasarkan pekerjaan pada kelompok ibu hamil anemia yang mendapatkan konseling dan yang tidak mendapatkan konseling sebagian besar tidak bekerja. Berdasarkan jumlah paritas dari ibu hamil anemia pada yang mendapatkan konseling dan yang tidak mendapatkan konseling sebagian besar jumlah paritasnya 0.

  7,5 -10,5 Z MW = 0,985 p = 0,325

  Kadar hemoglobin ibu hamil anemia yang mendapatkan konseling lebih tinggi daripada yang tidak mendapatkan konseling.

  Perbandingan kadar hemoglobin ibu hamil anemia dengan tiga kali pengukuran (tabel 2) didapatkan perbedaan rata-rata kadar hemoglobin pada ibu hamil yang mendapatkan konseling dan yang tidak mendapatkan konseling. Kadar hemoglobin 1 tidak terdapat perbedaan bermakna pada kedua kelompok dengan nilai p = 0,918 > 0,05. Pengukuran kadar hemoglobin2 dan hemoglobin 3 terdapat perbedaan rata-rata pada kedua kelompok ibu hamil yang mendapatkan konseling dan yang tidak mendapatkan konseling dengan nilai p = 0,003 < 0,05 (Hb2) dan nilai p = 0,000 < 0,001 (Hb3).

  Tabel 2 Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil Anemia Hb Ibu Hamil

  Kelompok Kemaknaan

  Konseling Kontrol Hb awal

  X

  (SD) Median Rentang

  9,07 (0,96) 9,35 7 – 10,5

  9,34 (0,80) 9,20

  Hb

  10,1 7,7 – 11,2 t = 3,099 p = 0,003

  1 X (SD)

  Median Rentang

  9,67 (1,02) 10,0 7 – 10,9

  9,68 (0,84) 10,0

  7,5 – 10,7 Z MW = 0,103 p = 0,918

  Hb

  2 X (SD)

  Median Rentang

  10,67 (1,06) 10,75

  8,4 – 13 9,87 (0,98)

  10,75 t = 7,936 p < 0,001 Median 7 – 10,5 8,4 – 13 Rentang Hb awal - 3

  9,07 (0,96) 11,85 (0,83)

  X (SD)

  9,35 11,8 t = 13,308 p < 0,001 Median 7 – 10,5 10,2 – 13,6 Rentang

  Perbandingan kepatuhan konsumsi tablet Fe pada kelompok ibu hamil yang

  tablet Fe pada ibu hamil anemia yang mendapatkan konseling lebih tinggi. Hal ini mendapatkan konseling dan yang tidak dapat dilihat dari pengukuran konsumsi tablet mendapatkan konseling (tabel 4) dengan Fe1, Fe2 dan Fe 3 dengan nilai p (0,000) < menggunakan uji Mann-Whitney pada tiga kali 0,001. pengukuran didapatkan rata-rata konsumsi Tabel

   4 Perbandingan Konsumsi Tablet Fe pada Ibu Hamil Anemia

  Kelompok Konsumsi

  MW

  Z Nilai P Tablet Fe Konseling Kontrol

  1 Fe

  X (SD) 28,06 (2,11) 17,87 (6,28)

  28

  19 Z MW = 6,146 p < 0,001 Median 24 – 30 4 – 30 Rentang

  2 Fe

  28,88 (2,21) 18,35 (5,96) X (SD)

  30

  20 Z MW = 6,376 p < 0,001 Median 20 – 30 7 – 30 Rentang

  3 Fe

  29,31 (1,28) 18,35 (6,49) X (SD)

  MW

  30

  19 Z = 6,645 p < 0,001 Median 26 – 30 5 – 30 Rentang

  Perbandingan penambahan berat pengukuran didapatkan penambahan berat

  badan pada ibu hamil anemia yang badan ibu hamil anemia yang mendapatkan mendapatkan konseling dan yang tidak konseling lebih tinggi dibandingkan dengan mendapatkan konseling dengan kelompok tanpa konseling. Pengukuran BB

  1

  menggunakan uji t (tabel 5) didapatkan hasil nilai p (0,001) < 0,05 , pengukuran BB

  2 nilai p

  3

  terdapat perbedaan antara kedua kelompok. (0,000) < 0,001 dan pengukuran BB nilai p Dengan menggunakan uji t pada tiga kali (0,000) < 0,001 .

  Tabel 5. Perbandingan Penambahan Berat Badan Kelompok

  Penambahan Berat t test Nilai p

  Badan (%) Konseling Kontrol

  awal – 1

  BB 4,8% 3,2% 3,548 < 0,001

  X BB awal – 2 X 10,3% 6,1% 3,999 < 0,001

  BB awal – 3

  X 17,8% 9,4% 5,252 < 0,001 258

  259 PEMBAHASAN

  Konseling melalui pendekatan individu dapat meningkatkan kepatuhan berobat. Ini dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan Prokop dan Bradley (1981) yang menyatakan bahwa semakin sering penyuluhan dilakukan semakin meningkat kepatuhannya

  . Kebutuhan zat gizi selama hamil bervariasi antara individu dan dipengaruhi oleh status gizi sebelumnya dan riwayat kesehatan. Kebutuhan gizi tidak konstan selama perjalanan kehamilan.

  (13)

  Pola penambahan berat badan yang kontinyu lebih penting dari total penambahan berat badan itu sendiri. Ibu hamil perlu disadarkan untuk tidak menjadikan kehamilan untuk makan berlebihan

  (45) .

  . Kepatuhan ibu hamil dalam minum tablet Fe yang diterima selama kehamilannya merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas kehamilannya. Menurut Wiknjosatro, kepatuhan minum tablet Fe apabila ≥ 90 % dari tablet besi yang seharusnya diminum. Kepatuhan ibu hamil minum tablet Fe merupakan faktor penting dalam menjamin peningkatan kadar hemoglobin ibu hamil

  (45)

  (45) .

  Kebutuhan Fe akan meningkat pada trimester II dan III. Janin mengalami pertumbuhan terus dan semakin pesat. Jika ibu hamil tidak mempunyai masukan zat besi yang cukup banyak maka janin akan berperan sebagai parasit. Kadar Hb janin akan dipertahankan normal dengan mengambil cadangan dari ibu kecuali dalam kondisi kadar hemoglobin ibu sangat rendah maka zat besi yang kurang akan berpengaruh pada janin.

  Menurut Sarafino, faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan seseorang dalam berobat yaitu faktor petugas, faktor obat, dan faktor penderita. Karakteristik petugas yang mempengaruhi kepatuhan antara lain : jenis petugas, tingkat pengetahuan, frekuensi penyuluhan yang dilakukan. Faktor obat yang mempengaruhi kepatuhan yaitu pengobatan yang sulit dilaksanakan, tidak menunjukan kearah penyembuhan, waktu yang lama dan efek samping obat.. Faktor penderita, yang dapat mempengaruhi kepatuhan antara lain, umur, jenis kelamin, pekerjaan. Semua itu menjadi penyebab seseorang tidak patuh dalam berobat

  Beberapa jenis makanan juga harus dihindari atau minimal dua jam sebelum atau sesudah mengkonsumsi tablet Fe serta makanan yang harus dikonsumsi bersamaan untuk meningkatkan penyerapannya. Dalam proses penyerapannya zat besi akan dihambat oleh fitat dan polifenol. Fitat banyak ditemukan pada sereal, kacang-kacangan dan beberapa sayuran sedang polifenol dijumpai dalam kopi, teh, sayuran dan kacang.

  (11) .

  Pemahaman tentang kebutuhan gizi yang meningkat selama kehamilan, pengenalan potensi diri untuk meningkatkan status gizi, serta penetapan pemecahan masalah serta penetapan pemecahan masalah oleh ibu hamil anemia tentang anemia melalui koseling akan merubah sikap dan praktek konsumsi zat gizi utamanya yang mengandung Fe serta menghindari makanan yang menghambat penyerapannya. Perubahan ini dilakukan oleh ibu hamil atas kesadaran dan potensi yang dimilikinya. Greaf (1996) mengatakan bahwa perubahan pengetahuan dan sikap merupakan prakondisi bagi perubahan prilaku

  Konseling awal tujuan utamanya adalah menciptakan hubungan saling percaya, memahami kebutuhan gizi dalam kehamilan, anemia serta tablet Fe, menggali penyebab masalah, laju penambahan berat badan dalam kehamilan dengan fokus materi peningkatan kebutuhan gizi ibu hamil, anemia dalam kehamilan, supleman tablet Fe dan efek samping. Konseling 2 untuk mempertahankan hubungan yang telah terjadi, mengenal kendala penyelesaian masalah dan memberikan dukungan pada perubahan yang dilakukan ibu hamil. Fokus materi yaitu gizi seimbang dalam kehamilan, laju penambahan berat badan dalam kehamilan dan dampaknya untuk ibu serta janin, anemia dalam kehamilan (penyebab dan dampaknya) serta makanan yang dapat menghambat dan meningkatkan penyerapan zat besi. Dan konseling 3 untuk menjaga hubungan antara konselor dengan ibu hamil, memberikan dukungan pada perubahan yang dilakukan dan pesan agar memeriksakan kehamilannya secara teratur.

  Konseling diawali dengan tahap persiapan yang dilakukan untuk menciptakan hubungan baik agar tercipta rasa percaya dari ibu hamil anemia. Pada tahap awal diharapkan ibu hamil anemia dapat berperan secara aktif dalam proses konseling dan bekerjasama dalam menyelesaikan masalah. Tahap pelaksanaan konseling merupakan tahap mengenal hakikat masalah, penjelasan dan pemecahan masalah. Tahap ini melalui enam tahap yaitu eksplorasi keadaan ibu hamil, identifikasi masalah dan penyebab, identifikasi alternatif pemecahan, pengujian dan penetapan alternatif pemecahan dan implementasi. Tahap terakhir adalah evaluasi untuk menilai tingkat partisipasi ibu hamil dan evaluasi dampak yang dapat diobservasi langsung.

  Selama trimester kedua, distribusi

  260

  6. WHO. Iron Deficiency Anaemia Assessment, Prevention and Control A guide for Programme Managers. 2001: 14-21.

  13. Bobak, Lowdermilk, Jensen. Keperawatan Maternita, edisi 4. Editor Renata Komalasari. EGC.

  Interventions. United Nation, Administrative Committee on Coordination, Sub-Committee on Nutrition (ACC/SCN), in collaboration with the Asian Development Bank (ADB).2001.

  12. Allenn LH, Gillespie, SR. What Works? A Review of The Efficacy and Effectivness of Nutrition

  10. Arfesta I.. Pengaruh Konseling Gizi Terhadap Pengetahuan, Sikap, dan Praktek Gizi Ibu Nifas Suku Dayak di Kota Palangkaraya. Tesis. Tidak diterbitkan. Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta; 2005 11. Notoatmodjo S. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta. Rineka Cipta. 2007:113-207.

  9. Achadi EL. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta. RajaGrafindo Persada. 2007: 63-7,9

  Folat. Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang; 2007.

  8. Subagio HW. Penanggulangan Anemi Ibu Hamil Tak Cukup Dengan Suplementasi Besi dan

  7. Faktor-faktor Yang Berhubungan dengan Rendahnya Cakupan Fe Ibu Hamil di Kabupaten Bengkulu Selatan Propinsi Bengkulu. Biologi Jurnal Indonesia Vol. 34 : 7-14. 2003.

  5. Amiruddin R, Wahyuddin. Studi Kasus Kontrol Faktor Biomedis Terhadap Kejadian Anemia Ibu

Hamil di Puskesmas Bantimurung Maros. Jurnal Medika Unhas Vol. 2005.

  penambahan berat badan ibu hamil terutama pada cadangan lemak ibu dan jaringan, dan pada trimester ketiga terutama pada janin dan bertambahnya cairan. Kenaikan berat badan ini terutama dalam 20 minggu terakhir. Kecepatan peningkatan berat badan yang direkomendasikan mencapai 1-2 kg selama trimester pertama dan kemudian 0,4 kg perminggu untuk wanita yang memiliki berat standar terhadap tinggi badan

  4. Depkes RI. Anemi Gizi dan Tablet Tambah Darah (TTD) untuk Wanita Usia Subur. Direktorat Gizi Masyarakat. Jakarta. Depkes RI. 2005: 17-21.

  3. Amiruddin R, Syam E, Rusnah, Tolanda S, Damayanti I. Anemi Defisiensi Zat Besi pada Ibu hamil di Indonesia (Evidence Based). Jurnal Medika Unhas Vol 2007.

  2. Riswan M. Anemi Defisiensi Besi pada Wanita Hamil di Beberapa Praktek Bidan Swasta Dalam Kota Madya Medan. Tesis. Program Pascasarjana USU. 2003

  DAFTAR PUSTAKA 1. Depkes RI. Gizi Ibu Hamil dan Menyusui. Jakarta.1996: 5-11.

  Kadar hemoglobin pada ibu hamil anemia yang mendapatkan konseling lebih tinggi dari yang tidak mendapatkan konseling, Ibu hamil anemia yang mendapatkan konseling lebih patuh mengkonsumsi tablet Fe. Penambahan berat badan lebih tinggi pada kelompok ibu hamil anemia yang mendapatkan konseling.

  KESIMPULAN

  (13, 23, 38) .

  Kenaikan berat badan ibu tidak sama, tetapi pada umumnya kenaikan berat badan mulai pada umur kehamilan 16 – 20 minggu, dan kenaikan yang paling rendah pada 10 minggu pertama kehamilan. Kenaikan berat badan dalam kehamilan disebabkan oleh hasil konsepsi berupa plasenta, fetus, liquor amnion dan dari ibu sendiri yaitu uterus dan mammae membesar, peningkatan volume darah, pertambahan protein dan lemak, serta terjadinya retensi cairan. Kenaikan berat badan selama kehamilan sangat mempengaruhi massa pertumbuhan janin dalam kandungan

  Jakarta, 2002 : 84-87, 200 -15.

  261

  Jakarta. EGC. 1995 : 47-50 25. Reksodiputro AH. Mekanisme Anemia Defisiensi Besi. Cermin Dunia Kedokteran No 94 . 1994.

  Program Pasca Sarjana Universitas Udayana Bali. 2003: 56.

  32. Tangking W, Weta IW, Widhiartini IAA. Asupan 90 Tablet Besi Saat Hamil Belum Dapat Mengentaskan Masalah Defisiensi Besi dan Anemia Ibu Hamil. Tesis. Tidak Diterbitkan.

  31. Depkes RI. Pedoman pemberian tablet besi-folat dan sirup besi bagi petugas. Jakarta Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Jakarta. 1999: 11.

  30. Depkes RI. Pedoman Operasional Penanggulangan Anemia Gizi di Indonesia. Jakarta. 1996: 3, 5-8, 17-25.

  Meningkatkan Perilaku Makan Sehat Ibu Selama Hamil dan Menyusui. Balai Penelitian Gizi Makassar. 2001 : 3-10.

  29. Husaini JK, Widodo Y, Salimar. Strategi Baru Penyuluhan Gizi Kesehatan dalam

  Cermin Dunia Kedokteran No. 124; 1999.

  27. Almasiter S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama; 2001 28. Suartika IW. Prevalensi Anemia pada Ibu Hamil di Puskesmas Bualemo, Sulawesi Tengah.

  2008; 18-9.

  rd Edition. Zurich. Uni Med.

  26. Breymann C, Huch R. Anaemia in Pregnancy and Puerperium 3

  24. Gayton AC. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit Edisi III. Alih Bahasa Andrianto P.

  14. Harrisawati H. Konseling Gizi pada Ibu Hamil untuk Perubahan Perilaku Makan dan Status Gizi Selama Kehamilan Di RSB Pertiwi Makassar. Tesis. Program Pascasarjana Unhas. 2007: 5,12, 47-52.

  Obstetrics, 21 st Edition. Mc. Grow Hill. Singapore; 2001.

  23. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap III LC, Hauth JC, Wenstrom KD. Williams

  EGC. Jakarta; 2003.

  22. Varney H, Kriebs JM, Gegor CL. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Alih Bahasa Lusyana A. dkk.

  21. Suwito TH. Penyakit darah dalam Ilmu Kebidanan. YBP-SP. Jakarta; 2005.

  20. Yulifah R, YuswantoTJH, Komunikasi dan Konseling dalam Kebidanan. Jakarta. Salemba Medika. 2008: 86-105.

  19. Sukardi DK, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Rineka Cipta. Jakarta;2008 ; 118-175.

  18. Krisnadi SR. Konseling Keluarga Berencana. Bulletin POGI Jabar. Volume II No. 5. Bandung; 1999.

  2004: 24-7, 54-8.

  17. Prayitno, Amti E. Dasar-dasar bimbingan dan Konseling. Edisi Revisi. Jakarta. Rineka Cipta.

  15. Latipun. Psikologi Konseling. Malang. Universitas Muhammadiyah Malang Press. 2008:12 16. Konseling. Melalui <http://creasfost.wordpress.com> (17/04/2008).

  33. Paath EF, Rumdasih Y, Heryati. Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta. EGC; 2005. 52-4

  34. Lubis Z. Status Gizi Ibu Hamil serta Pengaruhnya Terhadap Bayi Yang Dilahirkan. Melalui <http://towmoutow.net/702_07134/zulhaida_lubis.htm> (25/4/2009).

  35. Supariasa IDN, Bakri B, Fajar I. Penilaian Status Gizi. Jakarta. EGC; 2002.

  36. Suhardjo. Perencanaan Pangan dan Gizi. Bumi Aksara. Jakarta ; 1996.

  37. Arisman, MB. Gizi dalam Daur Kehidupan. EGC Jakarta;2004: 4-7, 20-8.

  38. Shils ME, Olson JA, Shike M, Ross C. Modern Nutrition In Health and Disease. Ninth Edition.

  Lippincott Williams & Wilkins. Baltimore ; 1999 : 821-23 39. Depkes RI. Pedoman Penggunaan LiLA pada WUS : Alat Swa Uji Risiko KEK. Jakarta. 1995.

  40. Aashim G, Sushma K . Effect of counseling on nutritional status during pregnancy. Indian Journal of Pediatrics vol. 73. 2006; 687-692.

  41. Notoatmojdo S. Metode Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta ; 2005.170 42. Sugiyono. Statistik untuk penelitian, CV.Alfabeta, Bandung ; 2008.

  43. Riwidikdo H. Statistik Kesehatan. Jogjakarta. Mitra Cendekia Press; 2007.

  44. Wonatorey, Julia, Adiyanti. Pengaruh Konseling Gizi Individu terhadap Pengetahuan Gizi Ibu dan Perbaikan Status Gizi Balita Gizi Buruk yang Mendapatkan PMT Pemulihan di Kota Sorong Irian Barat. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Gadja Mada. 2006.

  45. Herlina EN, Djamilus F. Faktor Resiko Kejadian Anemia pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Bogor. Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM Kesehatan . Jakarta.

  2006

  262