RESUME KTUN AUPB DAN PERADILAN ADMINISTR

NAMA :

SALAHUDIN AL HABIBI

NIM :

02111001053

MATA KULIAH :

HUKUM ADMINISTRASI NEGARA

DOSEN PEMBIMBING :

AGUS NGADINO, SH.,MH

KELAD :

D

TUGAS RESUME KTUN, AUPB, DAN PERADILAN
ADMINISTRASI NEGARA

A. KEPUTUSAN TATA USAHA NEGARA (KTUN)
Keputusan tata usaha negara merupakan sebuah konsep yang berasal dari istilah
ketetapan (Beschikking)

dalam literatur bahasa Belanda, yang mana oleh

E.

Utrecht kemudian dijabarkan sebagai “suatu perbuatan hukum publik bersegi satu yang
dilakukan oleh alat - alat pemerintah berdasarkan suatu kekuasaan istimewa”
Pasal 1 angka (9) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang
perubahan kedua Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan
Tata Usaha Negara, merumuskan:
“Keputusan Tata Usaha Negara adalah penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara berdasarkan
perundang-undangan yang berlaku yang bersifat konkrit, individual, dan tindakan yang
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.”
Perumusan ini mengandung arti bahwa suatu Keputusan Tata Usaha Negara, yang
memenuhi unsur-unsur tersebutlah sebagai syarat formal (kumulatif) yang dapat dimohonkan
penyelesaiannya di Peradilan Tata Usaha Negara.
Yang dipersamakan dengan Keputusan Tata Usaha Negara yaitu Keputusan Tata Usaha
Negara yang tidak ada wujudnya tetapi merupakan suatu sikap diam atau tidak mengeluarkan
keputusan yang telah dimohonkan kepadanya sedangkan hal itu menjadi kewajibannya. Terhadap
sikap Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tersebut dapat dijadikan objek gugatan di Peradilan

Tata Usaha Negara sebagaimana dalam Pasal 3 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5
Tahun 1986. Hal ini disebut Keputusan Fiktif Negatif.
Dengan demikian kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara mempunyai ciri-ciri:
1.

Yang bersengketa adalah orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat

Tata Usaha Negara.
2.

Objek sengketa adalah Keputusan Tata Usaha Negara berupa penetapan tertulis,

termasuk yang dipersamakan dengan Keputusan Tata Usaha Negara, yang dikeluarkan oleh
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.
3.

Keputusan yang dijadikan objek sengketa bersifat konkrit, individual, final, yang

menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
4.

Bukan merupakan keputusan-keputusan sebagaimana diatur dalam Pasal 2 dan 49

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Pengertian Keputusan Tata Usaha Negara (beschikking) menurut Guru Besar Hukum Tata
Negara UGM, Prof. Muchsan adalah “penetapan tertulis yang diproduksi oleh Pejabat Tata
Usaha Negara, mendasarkan diri pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, bersifat
konkrit, individual dan final”. Jika kita melihat definisi tersebut, maka terdapat 4 (empat) unsur
Keputusan Tata Usaha Negara, yaitu:
1. Penetapan tertulis;
2. Dibuat oleh Pejabat Tata Usaha Negara;
3. Mendasarkan diri kepada peraturan perundang-undangan;
4. Memiliki 3 (tiga) sifat tertentu (konkrit, individual dan final).
5. Akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.

A. ASAS-ASAS UMUM PEMERINTAHAN YANG BAIK (AUPB)
Asas-asas umum pemerintahan yang baik adalah asas yang menjunjung tinggi norma
kesusilaan, kepatutan dan aturan hukum. Asas-asas ini tertuang pada UU No. 28/1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN. Dengan diundangkannya UU No. 28
tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN, Asas-asas umum

pemerintahan yang baik di Indonesia diidentifikasikan dalam Pasal 3 dirumuskan sebagai Asas
umum Perpenyelenggaraan negara. Meliputi :
a. Asas Kepastian Hukum, yaitu asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan
peraturan perundang-undangan, kepatutan dan keadilan dalam setiap kebijakan Penyelenggara
Negara;
b. Asas Tertib Penyelenggara Negara, yaitu asas yang menjadi landasan keteraturan,
keserasian dan keseimbangan dalam pengendalian Penyelenggara Negara;
c. Asas Kepentingan Umum, yaitu asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan
cara aspiratif, akomodatif, dan selektif;
d. Asas Keterbukaan, yaitu asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk
memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggaraan negara
dengan tetap penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi
pribadi, golongan, dan rahasia negara;
e. Asas Proporsionalitas, yaitu asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak ddan
kewajiban Penyelenggara Negara;
f. Asas Profesionalitas, yaitu asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik
dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan
g. Asas Akuntabilitas, yaitu asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir
dari

kegiatan

dan

hasil

akhir

dari

kegiatan

Penyelenggara

Negara

harus

dapat

dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi
negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

B. PERADILAN ADMINISTRASI NEGARA
Peradilan Tata Usaha Negara atau Peradilan Administrasi Negara adalah lingkungan
peradilan di bawah Mahkamah Agung yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi rakyat
pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara.
Peradilan Tata Usaha Negara meliputi:
1. Pengadilan Tata Usaha Negara, berkedudukan di ibukota kabupaten/kota, dengan daerah

hukum meliputi wilayah kabupaten/kota.

2. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, berkedudukan di ibukota provinsi, dengan daerah

hukum meliputi wilayah provinsi.
3. Pengadilan Khusus (Pengadilan Pajak).
Menurut Sjahran Basah (1985;154), tujuan peradilan administrasi adalah untuk
memberikan pengayoman hukum dan kepastian hukum, baik bagi rakyat maupun bagi
admiistrasi negara dalam arti terjaganya keseimbangan kepentingan masyarakat dan kepentingan
individu. Dari sudut pandang yang berbeda, SF Marbun menyoroti tujuan peadilan administrasi
secara preventif dan secara represif. Tujun Peradilan Administrasi negara secara preventif adalah
mencegah tindakan-tindakan badan/pejabat tata usaha negara yang melawan hukum atau
merugikan rakyat, sedangkan secara represif ditujukan terhadap tindakan-tindakan badan/pejabat
tata usaha negara yang melawan hukum dan merugikan rakyat, perlu dan harus dijatuhi sanksi.
Fungsi Peradilan Tata Usaha Negara adalah sebagai sarana untuk menyelesaikan konflik yang
timbul antara pemerintah (Badan/Pejabat TUN) dengan rakyat (orang perorang/badan hukum
perdata). Konflik disini adalah sengketa tata usaha negara akibat dikeluarkannya Keputusan Tata
Usaha Negara.
Tujuan pembentukan dan kedudukan suatu peradilan administrasi negara (PTUN) dalam
suatu negara, terkait dengan falsafah negara yang dianutnya. Negara Kesatuan Republik
Indonesia merupakan negara hukum berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, oleh karenanya hak
dan kepentingan perseorangan dijunjung tinggi disamping juga hak masyarakatnya. Kepentingan
perseorangan adalah seimbang dengan kepentingan masyarakat atau kepentingan umum. Karena
itu, menurut S.F Marbun (1997 : 27) secara filosofis tujuan pembentukan peradilan administrasi
negara (PTUN) adalah untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak perseorangan dan hakhak masyarakat, sehingga tercapai keserasian, keseimbangan dan keselarasan antara kepentingan
perseorangan dengan kepentingan masyarakat atau kepentingan umum.
Sjachran Basah (1985 : 25) secara gamblang mengemukakan bahwa tujuan pengadilan
administrasi negara (PTUN) ialah memberikan pengayoman hukum dan kepastian hukum, tidak
hanya untuk rakyat semata-mata melainkan juga bagi administrasi negara dalam arti menjaga
dan memelihara keseimbangan kepentingan masyarakat dengan kepentingan individu. Untuk
administasi negara akan terjaga ketertiban, ketentraman dan keamanan dalam melaksanakan

tugas-tugasnya demi terwujudnya pemerintahan yang kuat bersih dan berwibawa dalam negara
hukum berdasarkan Pancasila.
Dengan demikian lembaga pengadilan administrasi negara (PTUN) adalah sebagai salah
satu badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman, merupakan kekuasaan yang
merdeka yang berada di bawah Mahkamah Agung dalam rangka menyelenggarakan peradilan
guna menegakkan hukum dan keadilan. Penegakan hukum dan keadilan ini merupakan bagian
dari perlindungan hukum bagi rakyat atas perbuatan hukum publik oleh pejabat administrasi
negara yang melanggar hukum.
Berdasarkan hal tersebut, maka peradilan administrasi negara (PTUN) diadakan dalam
rangka memberikan perlindungan (berdasarkan keadilan, kebenaran dan ketertiban dan kepastian
hukum) kepada rakyat pencari keadilan (justiciabelen) yang merasa dirinya dirugikan akibat
suatu

perbuatan hukum publik oleh pejabat administrasi negara, melalui pemeriksaan,

pemutusan dan penyelesaian sengketa dalam bidang administrasi negara.
Atas dasar keserasian hubungan berdasarkan asas kerukunan, maka sedapat mungkin
penyelesaian sengketa dilakukan melalui cara musyawarah dan peradilan merupakan sarana
terakhir. Hal itu karena musyawarah sebagai cerminan perlindungan hukum preventif berupa
pemberian kesempatan kepada rakyat untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum
pemerintah memberikan keputusan yang definitif. Musyawarah sangat besar artinya ditinjau dari
perbuatan pemerintahan yang didasarkan pada kebebasan bertindak karena pemerintah akan
terdorong untuk mengambil sikap hati-hati, sehingga sengketa yang kemungkinan dapat terjadi
dapat dicegah.
Sengketa yang dimaksud adalah berdasarkan Pasal 1 butir 4 UU No.5 Tahun 1986 Jo UU
No. 9 Tahun 2004, yang menyebutkan bahwa :
“Sengketa tata usaha negara (sengketa administrasi negara) adalah sengketa yang timbul
dalam bidang tata usaha negara (administrasi negara) antara orang atau badan hukum
perdata dengan badan atau pejabat tata usaha negara (pejabat administrasi negara) baik di
pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara
(keputusan administrasi negara), termasuk kepegawaian berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.”

Dalam kaitan dengan pengadilan administrasi negara sebagai salah satu badan peradilan
yang menjalankan “kekuasaan kehakiman yang bebas” sederajat dengan pengadilan-pengadilan
lainnya dan berfungsi memberikan pengayoman hukum akan bermanfaat sebagai:
1. Tindakan pembaharuan bagi perbaikan pemerintah untuk kepentingan rakyat;
2. Stabilisator hukum dalam pembangunan;
3. Pemelihara dan peningkat keadilan dalam masyatakat;
4. Penjaga keseimbangan antara kepentingan perseorangan dan kepentingan umum
(Sjachran Basah, 1985 : 25).
Berdasarkan kenyataan tersebut dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa di samping
peradilan umum, peradilan administrasi negara (PTUN) merupakan sarana perlindungan hukum
represif, yang memberikan perlindungan hukum bagi rakyat dengan mengemban fungsi
peradilan. Fungsi tersebut dilaksanakan sedemikian rupa sehingga senantiasa menjamin dan
menjaga keserasian hubungan antara rakyat dengan pemerintah berdasarkan asas kerukunan yang
tercermin dalam konsep negara hukum di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Basah, Sjachran. 1987. Hukum Acara Pengadilan dalam Lingkungan Peradilan Administrasi
(HAPLA). Jakarta: Rajawali Press.
Marbun, SF. 2003. Peradilan Administrasi Dan Upaya Administratif Di Indonesia. Yogyakarta:
UII Press.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

RESUME KTUN AUPB DAN PERADILAN ADMINISTR