Ringkasan Buku Penerapan Teori dalam Pen

METODOLOGI PENELITIAN HUKUM
(Ringkasan Buku Penerapan Teori dalam Tesis dan Disertasi)

DOSEN PENGASUH :
Dr. R. J. Akyuwen, S.H., M.Hum

O
L
E
H

Nama : Onifaris Mildrik Matjora
Nim : 136 9315 093
Kelas : C

Kementrian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi
Pasca Sarjana Universitas Pattimura
Prodi Ilmu Hukum
Ambon

2015

SUMBER-SUMBER PENELITIAN HUKUM

A. Bahan Hukum Primer dan Sekunder
Bahwa peneltian hukum tidak mengenal adanya data. Sumber-sumber penelitian
hukum dapat dibedakan menjadi :
1. Sumber-sumber penelitian yang berupa bahan-bahan hukum primer, yang merupakan
bahan hukum yang bersifat autoritatif, artinya mempunyai otoritas. Bahan-bahan
hukum primer terdiri dari perundang-undangan, catatan-catatan resmi, atau risalah
dalam pembuatan perundang-undangan, dan putusan-putusan hakim.
2. Bahan-bahan hukum sekunder, terdiri dari semua publikasi tentang hukum yang
bukan merupakan sokumen-dokumen resmi. Publikasi tentang hukum merupakan
dokumen-dokumen resmi. Publikasi tentang hukum meliputi buku-buku teks, kamuskamus hukum, dan komentar-komentar atas putusan pengadilan.
Mengingat indonesia merupakan bekas jajahan Belanda sehingga Indonesia
merupakan penganut civil law system, maka bahan-bahan hukum primer yang terutama
bukanlah putusan peradilan atau yurisprudensi melainkan perundang-undangan. Sedangkan
bahan hukum sekundernya yang terutama adalah buku teks karena buku teks berisi mengenai
prinsip-prinsip dasar ilmu hukum dan pandangan klasik para sarjana yang mempunyai
kualifikasi tinggi. Oleh sebab itu, dianjurka buku teks yang digunakan adalah buku teks yang
ditulis oleh penulis dari eropa kontinental.
Disamping sumber-sumber penelitian yang berupa bahan-bahan hukum, peneliti
hukum juga dapat menggunakan bahan-bahan nonhukum apabila dipandang perlu. Bahanbahan nonhukum dapat berupa buku-buku mengenai ilmu politik, ekonomi, sosiologi, filsafat,

kebudayaan ataupun laporan-laporan penelitian nonhukum dan jurnal-jurnal nonhukum
sepanjang mempunyai relevansi dengan topik penelitian.
Perlu dikemukakan bahwa jangan sampai bahan-bahan non hukum menjadi sangat
dominan sehingga penelitian itu kehilangan artinya sebagai penelitian hukum. Hal ini sering
terjadi pada mereka yang melakukan penelitian empiris yang tanpa disadari terjerembab ke
dalam penelitian sosial. Akibatnya, temuan-temuan yang terjadi tidak mempunyai makna
hukum. Sekali lagi ditekankan bahwa bahan bahan-bahan nonhukum merupakan pelengkap,
bukan yang utama.

B. Peraturan Perundang-undangan Sebagai Bahan Hukum Primer
Di Indonesia, bahan-bahan hukum primer yang terutama bukanlah putusan peradilan
atau yurisprudensi, melainkan peraturan perundang-undangan, karena Indonesia merupakan
bekas jajahan Belanda yang menganut sistem hukum Civil Law. Menurut Pasal 1 angka 2 UU
No. 12 Tahun 2011, perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang memuat norma
hukum yang mengikat secara umum dan dibentuk atau ditetapkan oleh lembaga negara atau
pejabat yang berwenang melalui prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundangundangan. Dari pengertian tersebut, yang dapat dijadikan bahan hukum primer berupa
legislasi dan regulasi.
Adapun di dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara terdapat keputusan yang di
terbitkan oleh pejabat administrasi untuk masalah yang bersifat kongkret dan khusus yang
lazim disebut beschikkiang/decree, misalnya Keputusan presiden, keputusan mentri,
keputusan bupati, dan keputusan suatu badan tertentu. Jika pasal 1 angka 2 UU No. 12 Tahun
2011, produk tersebut tidak dapat dijadikan bahan hukum primer, karena bukan peraturan
perundang-undangan. Dalam hal demikian produk yang berupa beschikkiang/decree itu justru
menjadi opjek gugatan dalam peradilan tata usaha negara atau boleh jadi menjadi objek

kajian akademis. Di sini jelas bahwa beschikkiang/decree bukan merupakan bahan hukum
primer tetapi menjadi opjek yang diteliti. Bahan hukum primer yang digunakan untuk
meneliti beschikkiang/decree itu adalah peraturan perundang-undangan yang dijadikan
landasan terjadinya keputusan tersebut. Mengenai hieraki peraturan perundang-undangan
tertuang di dalam Pasal 7 (1) UU No. 12 Tahun 2001. Oleh karena dalam menggunakan
bahan hukum primer yang berupa peraturan perundang-undangan, peneliti bukan saja melihat
kepada bentuk peraturan perundang-undangan saja, melainkan juga menelaah materi
muatannya.
C. Putusan Pengadilan Sebagai Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer berikutnya yang perlu dirujuk oleh peneliti hukun adalah
putusan-putusan pengadilan yang berkaitan dengan isu hukum yang dihadapi. Untuk
memperoleh arti penting dirujuknya putusan pengadilan perlu dikutip ucapan portalis, salah
seorang perancang code civil, dalam discrous preliminaire du projek de code civil tahun 1804
sebagai berikut:
(Terjemahan Bebas: “Suatu kitab hukum betapapun kelihatan lekap, didalam pratik,
tidak akan menjawap apabila beribu-ribu masalah yang tidak di duga diajukan kepada hakim.
Oleh karena itulah undang-undang, sekali ditulis, tetapi seperti apa yang ditulis, sebaliknya
manusia manusia tidak pernah berhenti bergerak”.)
Dari apa yang dikemukakan oleh porltalis ini, perancang code civil ini mengakui
bahwa didalam pratik pengadilan, sangat mungkin timbul masalah-masalah baru yang tidak
ditampung oheh kodifikasi sekalipun. Secara tidak langsung, portalis memberikan keempatan
kepada hakin untuk memberikan pemecahan masalah sesuai dengan kewenangannya.
Antara Robespirre dan Portalis memang terdapat perbedaan pandangan yang
mendasar. Robespirre sebagai proponen dari revolusi prancis berpendapat bahwa apa yang
tertulis di dalam undang-undang merupakan yang dikehendaki oleh rakyat melalui wakil-

wakilnya. Oleh karena itulah tidak boleh ditafsirkan oleh hakim. Sebaliknya portalis bersikap
realitis. Ia berpendapat bahwa tidak mungkin pembentuk undang-undang mengetahui
segalah hal.
Apa yang dikemukakan oleh portalis tersebut sebenarnya menunjukan bahwa prinsipprinsip yang melandasi undang-undang itu merupakan suatu landasan bagi hakim untuk
menyelesaikan kasus tertentu. Oleh karena itulah menurut portalis, putusan pengadilan
bukanlah penerapan suatu teks undang-undang secara tepat melainkan merupakan beberapa
teks yang membimbing kearah putusan, meskipun tidak lagi berisi teks-teks itu.
Tidak dapat disangkal bahwa pertimbangan Hoge Raad memang sudah menjadi
kewajiban setiap orang yang mengerti untuk menghargai putusan pengadilan atas perkara
yang diputusakan. Sebagaimana tertuang dalam pasal 5 code civil, yaitu melarang
diterapkannya putusan hakim terdahulu terdahulu untuk perkara lainya. Hal yang sama
sebenarnya juga dilakukaan oleh belanda akan tetapi didalam praktik tidak demikianya
halnya. Di dalam persidangan terlihat bahwa betapa kuat rasa percaya diri seorang advodkat
apabila ia merujuk kepada purusan-putusan Hoge Raad . Tidak dapat disangkal di belanda
terdapat himpunan yurisprudensi. Hal yang sama juga terdapat di indonesia. Oleh karena
itulah terbuka intuk melakukan studi perbandingan antara putusan masa kini dan putusan
yang dijatuhkan pada masa-masa lalu.
Di dalam ajaran preseden, lazimya hakim terikat akan putusan pengadian terdahulu.
Hal ini pada dasarnya merupakan bagian dari seistemcammon law. Sebaliknya dalam sistim
civil law hakim tidak terikat pada preseden. Melakukan pengujian putusan pengadilan bukan
terhadap rumusan undang-undang mealainkan terhadap apa yang telah diputuskan
sebelumnya. Suatu kasus menarik adalah ketika pada tahun 1919 hogeraad membuat suatu
putusan yang monunental tentang pengertian onrecthmatige daad. Ketika pada tahun 1928
dihadapkan masalah mengenai ytindakan negara yang dapat dipandang seanagiai suatu

perbuatan hukum, hogerat membuat rumusan sendiri layaknya undang-undang, yaitu apabila
perbuatan itu bertentangan dengan prinsip kehati hatian sesuai dengan pergaulan masarakat.
Geny, ahli hukum prancis berpendapat bahwa apabila ditinjau dari segi lembaga
negara, dapat dikatakan bahwa putusan pengadilan bukanlah sumber hukum. Pengadilan
dilarang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan
dalih bahwa, bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa
dan mengadilinya. Pasal 5 ayat 1 undang-undang itu berbunyi;” hakim dan hakim konstitusi
wajib mengadili, megiuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang dalam
masaralat. Kedua ketentuan itu merupakan landasan bagi hakim untuk melakukan
rechtsvinding (penemuan hukum). Hasil dari kegiatan rechtvindingtersebut berupa putusan
pengadilan mempunyai nilai autoratatif itulah sebabnya putusan pengadilan merupakan bahan
hukum primer dalam penelitian hukum.
Seyogyanya putusan pengadilan yang dijadikan bahan hukum primer adalah yang
telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap (in kracht van gewijsde) dan tidak harus
putusan mahkamah agung. Akan tetapi apabila terhadap isu yang dihadapi belum ada
ketentuan yang mengaturnya, peneliti tidak dapat mengatakan bahwa untuk isu tersebut
dilakukan statute approach, melainkan conceptual approach dan yang namanya konsep
tersebut dapat diketemukan lewat putusan pengadilan dari negara lain.
D. Bahan Hukum Sekunder
Sebagai bahan hukum sekunder yang terutama adalah buku-buku hukum termasuk
skripsi, tesis, disertasi hukum, dan jurnal-jurnal hukum (termasuk yang on-line). Disamping
itu juga, kamus-kamus hukum, dan komentar-komemtar pengadilan. Kegunaan bahan hukum
sekunder adalah memberikan kepada peneliti semacam ”petunjuk” ke arah mana peneliti
melangkah apabilah tulisan itu berupa tesis, disertasi, atau artikel di jurnal hukum, memberi
inspirasi menberikan kepada peneliti untuk meencari titik anjak dalam memulai penelitian.

Bagi kalangan praktisi, bahan hukum sekunder ini bukan sebagai panduan berpikirdalam
menyusun argumentasi yang akan diajukan dalam persidangan, atau memberikan pendapat
hukum. Begitu juga dangan komentar-komentar atau putusan pengadilan, perlu di seleksi
kasus-kasus yang relevan dengan objek penelitian, buku-buku dan artikel-artikel hukum yang
dirujuk adalah mempunyai relevansi dengan apa yang hendak diteliti hal inilah peneliti di
tuntut ketajaman pemikiran yurdis peneliti dalam menghadapi isu yang ditanganinya.
Bagi penelitian untuk keperluan akademis adalah buku hukum yang di tulis oleh
penulis yang menulis berbagi bidang hukum. Dengan demikian, sebenarnya yang menjadi
ukuran bukan kualifikasi penulis, melainkan karya tulisnya.Suatu ciri khas bahwa suatu
tulisan merupakn tulisan hukum adalah penulisnya akan membahas suatu bidang tertentu
sesuai dengan keahlianya, atau tulisan itu tentang ilmu hukum secara umum, penulisanya
akan berpakal dari karakter keilmuan hukum sebagi norma bukan sebagai gejala sosial. Oleh
karena itulah yang juga perlu dipelajari adalah preface atau voorwoord atau mungkin
introductory notes atau apapun sebutannya, yang jelass merupakan kata pengantar yang berisi
tentang tujuan ditulisnya buku itu dan dari sudut pandang apakah buku itu ditulis.
Sebagai penyimbang buku-buku hukum baik yang klasik maupun yang kontemporeer,
artikel-artikel yang dimuat jurnal-jurnal hukum yang layak dijadikan bahan hukum sekunder.
Bahkan dapatdikatakan bahwa yang dimuat dalam jurnal-jurnal hukum tersebut adalah
pandangan-pandangan baru. Akan tetapi sangat dikatakan baberapa jurnal hukum indonesia
memuat tulisa-tulisan yang bukan merupakan artikel hukum melainkan artikel sosiolegal.
Artikel semacam ini tidak layak di muat di jurnal hukum, mealainkan lebih layak di muat di
jurnal law & society. Untuk memperoleh pandangan-pandangan terbaruh peneliti dapat
mengakses lewat internet US law review atau melanggannya. Untuk bahasa belanda, majalah
ars aequi dan R&R sangat baik untuk menjadi rujukan. Sangat di sayangkan fakultas-fakultas
indonesia tidak memiliki perpustakan tersendiri yang lengkap dengan buku-buku dan jurnal-

jurnal hukum yang akrual dari berbagai negara seperti yang dijumpai di negara-negara lain
seperti malaysia, singapura, dan lain-lainya.
E. Bahan-Bahan Nonhukum
Seorang praktisi hukum yang cerdas adalah yang mempunyai kemampuan untuk
mengidentifikasi dan menganalisis fakta secara akurat dan mnemukan isu hukum atas fakta
tersebut. Akan tetapi fakta yang dihadapi oleh ahli hukum tersebut setingkali kompleks,
sehinga perlu pemahaman tertentu akan masalah itu. Sebagai contoh, sebuah jembatan yang
baru saja di bangun ternyata ambruk karena ada mobil trailer yang lewat. Pemerintah
kabupaten setempat dibagunnya jembatan itu langsung menggugat kontraktor yang
membangunnya meskipun masih masalah layanan paska konstruksi, kuasa hukum penggugat
menduga bahwa kontraksi tersebut tidak wajar karna baru saja dibanggung telah ambruk.
Dalam petitumnya ia menyatakan bahwa kontrakror telah melakukan wan perstasi dan karnah
itulah harus mengembaikan uang yang elah diterimanya dua kali lipat sesuai perjanjian dan
sisa pembayaran yang belum dibayarkan tidak akan dibayarkan. Sebagi penggugat pengacara
tersebut harus membutikan kebenaran dalihnya. Dalam melakukan penelitian inilah
pengacara tersebut memerlukan saksi ahli di bidang teknik sipil. Tidak mungkin seorang
pengacara harus juga belajar teknik sipil sehingga ahli hukum menjadi seorang
megalomaniac, hal yang sama juga terjadi pada pihak lawan pengacara kontraktor membuat
kontra pembuktian yang juga didasarkan atas keahlian tekbnik sipil agar mampu memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang tepat, terarah, dan cerdas, pengacara kedua belak pihak tersebut
ada baiknya membaca-baca buku mengenai teknik sipil. Begitu juga hakim yang menagani
perkara itu, juga perlu membaca buku teknik sipil sehingga dapat menilai kesaksian para ahli
yang telah diarahkan oleh masing-masing pengacara yang juga telah membaca buku teknik
sipil tersebut.

Di dalam penelitian hukum untuk keperluan akadenispun bahan nonhukum dapat
membantu. Misalnya, seorang calon dokror hukum akan menulis eutanasia pasif merupakan
suatu tindakan yang bertentangan dengan hukum. Seorang ahli hukum jelas tidak paham
mengenai eutanasia baik yang aktif maupun yang pasif. Untuk memahami hal itu, ia tidak
perlu belajar di Fakultas kedokteran, tetapi mau tidak mau Ia harus berhubungan dengan
Dokter dan membaca-baca literatur mengenai eutanasia. Sebagai seorang juris di bidang
hukum pidana, calon doktor hukum tersebut telah mempunyai pengetahuan
mengenaipengertian pembunuhan, pembunuhan berencana, atau menghilangkan nyawa orang
laim melalui buku-buku hukum (tretises) dan jurnal-jurnal hukum, dengan berpegang pada
penngetahuan tersebut ia akan mampu untuk menganalisis dan mengidentifikasi apa
sebenarnaya eutanasia itu dari segi hukum dengan demikian ia dapat memberikan jawaban
atas isu hukum, tentang eutanasia tersebut.
F. Wawancara, Dialog, Kesaksian Ahli Hukum Dipengadilan, Seminar, Ceramah
Dan Kuliah
Pertanyaan yang seringkali diajukan didalam pelatihan penelitian hukum adalah
apakah hasil wawancara dapat dijadikan bahan hukum sebagai data dalam penelitian sosial
dan juga memang dapat menjadi bahan hukum, apakah bahan hukum primer, sekunder, atau
mungkin bahan non-hukum.Untuk menjawab pertanyaan tersebut terlebih dahulu
dikemukakan bahwa yang namanya bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat
autoritatif. Hasil wawancara dengan pejabat yang paling punya kewenangan pun bukan
merupakan bahan hukum primer karena hasil wawancara itu tidak bersifat autoritatif. Lalu
jika demikian dapatkah dijadikan bahan hukum sekunder? Sebagaimana dijelaskan diawal
bab ini bahwa bahan-bahan sekunder berupa semua publikasi tentang hukum bukan
merupakan dokumen-dokumen resmi. Dengan demikian apakah wawancara menjadi bahan
non-hukum? Sebenarnya, wawancara memang bukan merupakan bahan hukum.akan tetapi

dapat dimasukan sebagai bahan non-hukum dan ada baiknya kalau peneliti menyusun
beberapa pertanyaan atau mengemukakan isu hukum secara tertulis, sehingga si yang di
wawancarai dapat memberikan pendapatnya secara tertulis. Apabila hal ini dilakukan,
pendapat hukum tersebut dapat menjadi bahan hukum sekunder.
Sama halnya dengan wawancara, hasil dialog juga bukan merupakan bahan hukum.
Akan tetapi apabila subtansinya merupakan subtansi hukum dan bukan yang bersifat
sosiolegal sebagaimana yang sering ditanyakan di televisi, hasil dialog hukum tersebut
kemudian dipublikasikan, sudah barang tentu hasil dialog itu dapat menjadi bahan hukum
sekunder.
Lainhalnya dengan kesaksian dipengadilan. Meskipun kesaksian dipengadilan
berlangsung secara lisan, kesaksian itu selalu dicatat secara cermat. Oleh karena itulah
kesaksian ahli hukum yang menjadi saksi ahli dalam suatu sidang pengadilan dapat menjadi
bahan hukum sekunder.
Begitu pula dengan seminar. Didalam seminar, pemakalah menulis makalah. Apabila
makalah hukum, tentu saja makalah itu dapat dijadikan bahan hukum sekunder. Lalu
bagaimana dengan dialog dengan floor dan penulis? Sekali lagi apabila hasil seminar
termasuk dialog itu dipublikasikan, dapat saja dialog itu menjadi bahan hukum sekunder
lebih-lebih yang berdialog adalah para pakar dibidang hukum tertentu.
Akhirnya mengenai ceramah dan kuliah dapat dijadikan bahan hukum sekunder? Dari
beberapa pengamatan, bahan-bahan kuliah dan ceramah dimanapun menjadi buku.
Contohnya, ceramah Roscoe ppound dihimpun manjadi buku Law Finding Through
Experiance and reasion. Three Lectures yang diterbitkan oleh Uneversitis of Georgia press,
pada tahun 1960. Begitu juga kuliah Prof. Moeljatno diterbitkan sebagai buku diantaranya
berjudul asas-asas hukum pidana. Jika demikian, baik ceramah maupun kuliah yang disusun
secara tertulis dapat dijadikan bahan hukum sekunder. Lalu, apakah kuliah dan ceramah yang

tidak tertulis atau yang hanya dipresentasikan dengan menggunakan power poin merupakan
bahan hukum? Jika masih menggunakan power poin boleh dikatakan masih tertulis sehingga
menjadi bahan hukum sekunder. Adapun yang hanya lisan saja tanpa bahan tertulis sama
sekali tidak mungkin dijadikan bahan hukum sekunder. Jika memang masih harus dijadikan
rujukan, akan menjadi bahan non-hukum.

G. Penelitian Dalam Bidang Hukum Internasional
Hukum internasioal lazimnya diartikan sebagai hukum internasional publik yang
mengatur hubungan antar negara atau antara negara dengan organisasi internasional. Dilihat
dari segi historis, sebenarnya hukum internasional timbul karena adanya kebutuhan akan
mempertahangkan perdamaian dan aturan-aturan dalam perang. Akan tetapi, pada saat ini
hukum internasioanl tidak hanya mengatur masalah-masalah yang berkaitan dengan
kenegaraan, tetapi juga mengatur aktivitas bisnis transnasional.
Meskipun demikian, sebagai sumber-sumber hukum internasional masih diacu
ketentuan pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional. Menurut ketentuan itu sumber-sumber
hukum internasional antara lain :
a. International conventions, whether general or particular, establishing rules
expressly recoughnized by the contesting states;
b. International custom as efidence of a general principle accepted as law;
c. General principles of law recognized by civilized nations;
d. The judicial decision and the teachings of the most highly qualivied publicis of
various nations, as subsidiary means for the determination of the rules of law.

Dari sumber-sumber hukum tersebut, yang mempunyai otoritas tertinggi adalah yang
pertama, yaitu convensi internasional. Hal itu dapat dipahami karena convensi internasional
merupakan perjanjian antar negara. Oleh karena itulah convensi mengikat negara peserta
convensi tersebut. Hal yang sama juga berlaku bagi treaty, yaitu perjanjian antara dua negara
atau lebih yang oleh ketentuan pasal 38 Statuta Mahkamah Internasional tersebut disebut
sebagai particular International convention.
Mengenai kebiasaan-kebiasaan internasional dapat diketemukan di dalam putusanputusan pengadilan domestik tentang perkara-perkara yang berdimensi internasional. Sebagi
contoh dapat dikemukakan putusan King’s Bench Inggris pada tahun 1905 atas kasus Wes
Trand Central Gold Mining v. The King, putusan Distrik Cour Of Jerusalem, Israel tahun
1961 atas Raad Belanda tahun 1959 atas kasus The Nyugat. Akan tetapi, dalam melakukan
penelitian dengan sumber kebiasaan internasional, peneliti perlu melakukan elaborasi adakah
kebiasaan tersebut seiring atau bertentangan dengan hukum domestik tempat pengadilan itu
diselanggarakan.
Selanjutnya apa yang disebut sebagai “General Principles Of Law Recognized by
Civilized Nations” agak sulit ditentukan karena kriteria Civilized Nation yang tidak jelas,
sehingga sulit menentukan yang prinsip hukum mana yang dianggap sebagai General
Principles Of Law dan dapat digunakan sebagai sumber hukum Internasional. Meskipun
banyak ahloi hukum dan diplomat yang mendasarkan gugatan-gugtannya atas “General
Principles Of Law Recognized By Civilized Nations”, pada kenyataannya pengadilan yang
bersifat internasional jarang mendasarkan putusannya atas sumber hukum tersebut.
Mengenai putusan pengadilan dapat dikatakan bukan hanya putusan mahkamah
internasional, melainkan juga putusan-putusan pengadilan domestik, tetapi kasusnya
berdimensi internasional. Putusan mahkamah internasional, misalnya putusan tahun 1970 atas
kasus Barcelona Tratction. Untuk melakukan penelusuran mengenai kasus-kasus yang telah

diputus dan belum yang belum diputus, peneliti dapat menggunakan The Yearbook of
InternationalCour of Justice. Didalam Yearbook tersebut dimuat daftar kasus yang diajikan
kemahkamah internasional. Adapun putusan pengadilan domestik yang dapat dirujukan
dalam penelitian dibidang hukum internasional adalah putusan-putusan yang mengandung
unsur asing, misalnya salah satu pihak dalam sengketa adalah orang atau badan hukum asing
atau mungkin organisasi internasional atau perbuatan diklakukan diluar negeri tetapi
mempunyai akibat didalam teritorial tempat diselanggarakannya peradilan tersebut sebagai
contoh dapat diajukan putusan pengadilan tinggi Arnheem, Belanda tahun 1958 dalam kasus
J. H. Gf. Open Baar Ministerie, putusan pengadilan kasasi Italya tahun 1946 tentang Penati.
Kasus-kasus bukan merupakan sesuatu yang asing didalam studi hukum internasional.
Yang berikutnya adalah ajaran ahli-ahli hukum yang mempunya kualifikasi tinggi.
Kriteria ahli hukum mana yang mempunya kualifikasi tingi sama sulitnya dengan kriteria
tentang Civilezed Nations. Akan tetapi, untuk mengatasi kesulitan itu disarankan kalau
peneliti menunjuk kepada pandangan-pandangan para penulis yang sering dikutib oleh
pengadilan-pengadilan yanbg mengadili sengketa internasional. Apabila peneliti kemudian
menjumpai adanya perbedaan diantara para penulis yang pandangannya menjadi acuan
pengadilan-pegadilan itu, peneliti mungkin akan mempunyai pandangan sendiri yang akan
dituangkan sebagai bagian rekomendasi.

LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN HUKUM

Di dalam penelitian hukum, dilakukan langkah-langkah:
1) Mengidentifikasi fakta hukum dan mengeliminasi hal-hal yang tidak relevan untuk
menetapkan isu hukum yang hendak dipecahkan;
2) Pengumpulan bahan-bahan hukum dan sekiranya dipandang mempunyai relevansi
juga bahan-bahan nonhukum;
3) Melakukan telaah atas isu hukum yang diajukan berdasarkan bahan-bahan yang telah
dikumpulkan;
4) Menarik kesimpulan dalam bentuk argumentasi yang menjawab isu hukum; dan
5) Memberikan preskripsi berdasarkan argumentasi yang telah dibangun di dalam
kesimpulan. Sebagai ilmu yang bersifat prespektif, ilmu hukum mempelajari tujuan
hukum, nilai-nilai keadilan, validasi aturan hukum, konsep-konsep hukum, dan
norma-norma hukum.

A. Mengidentifikasi Fakta Hukum, Mengeliminasi Hal-hal yang Tidak Relevan,
dan Menetapkan Isu Hukum
1. Penelitian Untuk Keperluan Praktik Hukum
Penelitian hukum untuk kegiatan praktik hukum ini akan menghasilkan argumentasi
hukum. Argumentasi hukum ini oleh ahli hukum dituangkan ke dalam Legal Memorandum
yang dibuat untuk sesama ahli hukum dan sarat dengan bahasa hukum. Jika untuk klien,

argumentasi hukum dituangkan di dalam Legal Opinion dengan bahasa yang lebih dimengerti
oleh klien. Apabila untuk keperluan beracara di pengadilan, argumentasi hukum dituangkan
di dalam bentuk eksepsi, pledoi, replik (bagi jaksa), kesimpulan (bagi kuasa penggugat
maupun tergugat), maupun putusan hakim. Sebagai langkah pertama dalam penelitian hukum
untuk keperluan praktis adalah mengidentifikasi fakta hukum dan mengiliminasi hal-hal yang
tidak relevan.
2. Penelitian Untuk Keperluan Akademis
Berbeda dengan penelitian hukum untuk keperluan praktik hukum, penelitian untuk
keperluan akademis digunakan untuk menyusun karya akademis. Posisi peneliti selaku
praktisi hukum berbeda dengan peneliti untuk penulisan karya akademis. Pada penelitian
akademisi, peneliti bersikap netral. Bahkan putusan hakim pun bilamana perlu juga dikritisi
dengan dijadikan sasaran penelitian, yaitu dalam penelitian yang bersifat case studi atau yang
menggunakan caseapproach. Karya akademisi berupa makalah (term paper), skripsi, makalah
dalmseminar akademik, tesis, artikel di jurnal hukum, dan disertasi. Tulisan populer disurat
kabar atau majalah meskipun mengandung penelitian tidak dapat dimasukan sebagai karya
akademis.
Karya akademisi biasanya dimulai dengan “Pendahuluan” yang di Indonesia seakanakan sudah baku minimum harus berisi “Latar Belakang Masalah”, “Rumusan Masalah”,
“Metode Penelitian”, dan “Pertanggungjawaban Sistematika”. Agak berbeda dengan model
penulisan di Amerika Serikat yang Introduction-nya diawali dengan thesessentence yang
berupa pernyataan akan temuan atau argumentasi yang didapatkan dalam penelitian itu. Yang
sangat penting adalah bagian-bagian atau bab-bab pembahasan yang merupakan pemaparan
hasil penelitian. Di sinilah letak pertanggungjawaban akademis peneliti dan metode yang
digunakan dalam penelitian itu.

Untuk karya akademis mahasiswa hukum Indonesia yang disebut skripsi, ada baiknya
dibandingkan dengan karya akademisi Fakulti Undang-undang di Malasya dan tugas akhir
mahasiswa Faculti of Law, National Universiti Singapura. Tugas akhir mahasiswa fakultas
hukum ke dua negeri jiran itu benar-benar merupakan hasil penelitian hukum. Hanya saja
sebagai tipikal dari sistem Anglo-Amerika, pendekatan yang mereka lakukan terutama adalah
pendekatan kasus. Itulah sebabnya di Malasya tidak jarang tugas akhir diawali dengan
beberapa kasus yang di Malasya mereka adaptasi ke dalam bahasa Malasia menjadi Kesdari
bahasa Inggris case.
Di Indonesia, skripsi mahasiswa hukum lebih menampakan diri sebagai hasil studi
social-legal dari pada karya akademis hukum. Begitu juga tesis hukum dan lebih-lebih
disertasi hukum malahan sering kali tidak lebih dari sekedar laporan penelitian. Bahkan tidak
jarang tesis atau disertasi atau malahan juga skripsi yang disertai data statistik untuk memberi
kesan bahwa penelitian yang dilakukan itu benar-benar merupakan kegiatan ilmiah. Karya
akademisi yang demikian sebenarnya bukan merupakan karya akademis hukum, melainkan
karya akademisi yang lain. Sebenarnya, baik skripsi, tesis, maupun disertasi mempunyai alur
yang sama. Yang membedakan adalah lapisan keilmuan yang dijadikan objek studi. Untuk
skripsi hanya menjawab problem yang ada pada tingkat realitas. Pada tesis sudah harus
dipersoalkan masalah-masalah yang bersifat teoritis. Adapun untuk disertasi harus
mengungkap sesuatu yang bersifat filosofis. Hal ini berlaku untuk ilmu apapun.
Pembatasan-pembatasan masalah seperti contoh ada universitas yang menganggap
bahwa masalah hukum yang terjadi di kota/kabupetan hanya layak untuk penulisan tesis,
sedangkan disertasi harusnya di tingkat provinsi, merupakan sesuatu hal yang tidak sesuai
dengan hakekat keilmuan. Suatu isu hukum dapat ditulis sebagai skripsi, tesis, disertasi atau
artikel jurnal akademis atau makalah dalam seminar akademis bergantung pada kedalaman
isu yang diajukan.

B. Pengumpulan Bahan-bahan Hukum
Begitu isu hukum ditetapkan, peneliti melakukan penelusuran untuk mencari bahanbahan hukum yang relevan terhadap isu yang dihadapi. Apabila di dalam penelitian tersebut
penelitian sudah menyebutkan pendekatan perundang-undangan, yang harus dilakukan oleh
peneliti adalah mencari peraturan perundang-undangan mengenai atau berkaitan dengan isu
tersebut. Oleh karena itulah untuk memecahkan suat isu hukum, peneliti mungkin harus
menelusuri sekian banyak berbagai produk peraturan perundang-undangan termasuk produkproduk zaman Belanda. Bahkan undang-undang yang tidak langsung berkaitan tentang isu
hukum yang hendak dipecahkan adakalanya harus juga menjadi bahan hukum bagi penelitian
tersebut.
Apabila peneliti menggunakan pendekatan kasus, ia harus mengumpulkan putusanputusan pengadilan mengenai isu hukum yang dihadapi. Akan tetapi tidak berarti hanya
Landmark decisions yang perlu diacu, melainkan melainkan juga yang mempunyai relevansi
dengan isu yang dihadapi. Begitu juga putusan-putusan pengadilan asing yang dapat
memberikan inspirasi bagi peneliti untuk meminjam ratiodecidendi putusan itu dalam
memecahkan isu yangsedang dihadapi.
Apabila peneliti menggunakan pendekatan historis, bahan hukum yang perlu
dikumpulkan adalah peraturan perundang-undangan, putusan-putusan pengadilan, dan bukubuku hukum dari waktu ke waktu.
Apabila peneliti menggunakan pendekatan komparatif, peneliti harus mengumpulkan
ketentuan perundang-undangan ataupun putusan-putusan pengadilan negara lain mengenai
isu hukum yang hendak dipecahkan. Dalam hal ini disarankan untuk melakukan
perbandingan dengan negara-negara yang mempunyai sistem hukum yang sama, misalnya
Belanda atau Jepang atau negara Eropa dan Amerika Latin.

Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah apabila peneliti menggunakan pendekatan
konseptual, yang harus dikumpulkan lebih dahulu bukan peraturan perundang-undangan
karena belum ada aturan perundang-undangan untuk isu hukum yang hendak dipecahkan. Ia
dapat saja mengumpulkan aturan perundang-undangan negara lain atau putusan-putusan
pengadilan Indonesia yang berkaitan dengan isu hukum itu atau putusan-putusan pengadilan
negara lain yang memang mengenai isu hukum tersebut. Akan tetapi yang lebih esensial
adalah penelusuran buku-buku hukum karena banyak terkandung konsep-konsep hukum.
Sama halnya dengan penelitian untuk keperluan praktik hukum, dalam penelitian
untuk keperluan akademik dengan menggunakan statuteapproach, bahan hukum primer yang
pertama kali harus dikumpulkan adalah peraturan perundang-undangan tentang isu yang
hendak dipecahkan. Hal itu disebabkan isu yang hendak dipecahkan tersebut berkaitan
dengan ketentuan lain, bahkan mungkin berada diluar bidang hukum yang menjadi telaah
utama.
Begitu pulah dengan bahan hukum primer yang berupa putusan pengadilan, yang
dirujuk mungkin lebih banyak dari pada untuk keperluan praktik hukum. Dari telaah tersebut
peneliti dapat menemukan titik pangkal sengketa. Di samping itu juga putusan-putusan
pengadilan asing dapat menjadi inspirasi dalam pemecahan isu yang dihadapi.

C. Melakukan Telaah Atas Isu Hukum yang Diajukan
Ketentuan-ketentuan mengenai hal itu terdapat di dalam buku III BW, karena kasus
itu tidak dapat dilepaskan dari hukum perjanjian yang termuat di dalam buku III BW
mengenai perikatan. Oleh karena itulah sangat dianjurkan kalau peneliti mempelajari serial
assertersebut bagian VerbinteniseRech (hukum perikatan). Atau setidaknya tulisan
Niewenhuis yang berjudul HetVerbintennissenRech. Dari rujukan tersebut peneliti akan
mendapat dasar ontologis dan ration logis ketentuan yang terdapat pada buku II BW

Indonesia tersebut. Akan tetapi, apabila ditelaah ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam
BW, dapat dipastikan peneliti tidak akan menemukan hubungan antara produsen dan
pemasang watertreatment karena hal itu berada di luar BW. Di dalam kasus itu jelas tidak ada
perjanjian tertulis antarapemasangwatertreatment, yaitu Riswanto dengan pengusaha tahu, si
klien, oleh karena itulah dapat dipastikan bahwa BW saja tidak mampu menjawab isu
tersebut.
Apabila dilihat dari sudut pandang BW, perjanjian antara pengusaha dan produsen
watertretment adalah perjanjian jual beli. Adapun antara produsen alat tersebut dengan
tukang pasang alat itu tidak mempuinyai hubungan hukum dalam bentuk perjanjian, bahkan
salesman yang bernama Yongky hanya memberikan rujukan untuk menggunakan Riswanto.
Dengan demikian, sebenarnya telah terjadi perjanjian tidak tertulis antara pengusaha tahu
dengan tukar pasang watertreatment. Akan tetapi mungkinkah konsep demikian tertuang di
dalam BW.
Mengingat Belanda telah mempunyai NieuwBurgerlijkWetboek(NBW), ada baiknya
kalau peneliti dalam membangun argumentasinya mengenai adanya tanggung gugat produsen
Water Treatmentdalam kasus tersebut peneliti merujuk kepada NBW yang tidak lain daripada
updatingdari BW. Dari NBW yang mengandung komentar dari salah seorang yang ikut
menyiapkannya, yaitu Hartkamp, peneliti akan memperoleh dasar ontologi NBW dan
ratiolegis adanya ketentuan-ketentuan yang berada dengan yang terdapat pada buku III BW
Indonesia yang saat ini masih dipakai.
Dalam hal bahan hukum yang berupa peraturan perundang-undangan terbatas, peneliti
yang dalam kasus ini praktisi hukum perlu merujuk kepada klausul-klausul perjanjian jual
beli watertreatment antara produsen alat tersebut dan si klien, yaitu pengusaha tahu. Di dalam
perjanjian tersebut sudah barang tentu terdapat klausul mengenai “Garansi” atau kalau dalam
bahasa inggris disebut Warranty.

Mengingat di dalam kasus tersebut ternyata bahwa alatnya tidak rusak tetapi salah
pemasangan, proposisi untuk menyatakan bahwa produsen telah melakukan wanprestasi tidak
dapat di terima. Oleh karna itulah dalam kasus ini, pengacara yang menangani kasus tersebut
perlu merujuk ke UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Dalam hal ini dapat
juga ditelaah pandangan-pandangan yang telah berkembang mengenai perlindungan hukum
terhadao konsumen. Apabila pengacara tersebut merujuk kepada pandang-pandangan
tersebut,pendekatan yang bdilakukan oleh praktisi hukum itu bukan sekedar pendekatan
pendekatan perundang-undangan, melainkan juga pendekatan konseptual selanjutnya untuk
memperkukuh argumentasinya bahwa produsen watertreatmenttelah melakukan wanprestasi,
pengacara tersebut perlu juga menelaah kasus yang pernah terjadi di negara-negara lain yang
dapat membangun hubungan antara produsen alat itu dan tukang pasangnya sebagai apparent
Agency.

D. Menarik Kesimpulan Yang Menjawab Isu Hukum
Dengan menggunakan bahan-bahan hukum dan bilamana perlu juga non hukum
sebagai penunjang penelitian akan dapat menarik kesimpulan yang menjawab isu yang
diajukan.
Untuk contoh kasus telah diajukan empat isu hukum yaitu:
1) Apakah di dalam perjanjian jual beli antara penjual waterThreatmentdengan klien
dituangkan kasus mengenai garansi, dan jika ya, apakah bentuik garansi itu!
2) Mengingat menurut salesman tidak ada kerusakan terapi salah pemasangan apakah hal
itu masuk ke dalam garansi?
3) apakah bentuk hubungan hukum antara riswanto dan penjual watertreatment?

4) Apakah penjual watertreatment bertanggung gugat atas kerugian yang diderita oleh
klien?
Dalam menjawab isu pertama, peneliti yang dalam hal ini lawyerdalam kedudukannya
sebagai kuasa penggugat, setelah menelaah ketentuan-ketentuan BW terutama pasal 1320,
1337, dan 1338, perlu menegok ke klausul-klausul perjanjian teersebut untuk mencari adakah
klausul tentang garansi (warranty) dan apa bentuk garansi tersebut. Jawaban atas isu hukum
tersebut tidak dapat diperoleh dari bahan hukum primer saja, baik berupa undang-undang
maupun putusan pengadilan. Dalam mencari pemecahan atas isu tersebut, perlu diacu bahan
hukum sekunder. Dari literatur hukum inilah dapat diperoleh jawaban atas isu tersebut.
Bahkan untuk yang tidak ada klausul garansi pun, bahan hukum sekunder yang berupa
literatur hukum dapat menjawabnya.

E. Memberikan Preskripsi
Baik untuk keperluan praktik hukum maupun penulisan akademis, memberikan
preskripsi mengenai apa yang seharusnya merupakan esensial dari penelitian hukum, karena
untuk hal itulah penelitian tersebut dilakukan. Berpegang pada karakteristik ilmu hukum
sebagai ilmu terapan, preskripsi yang diberikan di dalam kegiatan penelitian hukum harus
dapat dan mungkin untuk diterapkan. Dengan demikian, preskripsi yang diberikan bukan
merupakan sesuatu yang telah diterapkan atau yang sudah ada. Oleh karena itulah yang
dihasilkan oleh penelitian hukum sekalipun bukan asas hukum yang baru atau teori baru,
paling tidak argumentasi baru. Bertolak dari argumentasi itulah, diberikan preskripsi,
sehingga preskripsi tersebut bukan merupakan suatu fantasi atau angan-angan kosong.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru