MAKALAH PENGANTAR PSIKOLOGI KEDUDUKAN PS

MAKALAH
PENGANTAR PSIKOLOGI
KEDUDUKAN PSIKOLOGI BAGI ILMU – ILMU LAIN DAN RUANG
LINGKUP ILMU PSIKOLOGI
DOSEN :
ILHAM HAMID, M.Ag

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK II






NURLAILA
NUR WAHYUDIN REZKYAWAN
WIWI HIJRANA
WIDYA RESKY NANDA

50700117056
50700117048
50700117069
50700117078

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI B

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2017

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kita ucapkan kehadirat Allah SWT tuhan semesta alam,
yang telah memberikan kita kesehatan sehingga kita dapat melaksanakan aktifitasaktifitas dengan segala manfaat yang ada, yang telah memberikan kita kecerdasan dalam
berfikir, sehingga dengan kecerdasan itu kita dapat memberikan karya-karya terbaik kita
untuk agama, bangsa dan tanah air. Shalawat serta salam tak lupa juga kita haturkan
kepada junjungan kita Nabi Muhamad SAW beserta keluarganya, sahabat, dan orangorang yang selalu istiqomah.
Dalam penyusunan makalah ini, kami tidak lupa mengucapkan banyak terimakasih pada
semua teman yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini sehinggga
kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.Dan tidak lupa juga kami ucapkan
terima kasih kepada Dosen kami ILHAM HAMID, M.Ag yang telah membimbing kami.
Dalam penyusunan makalah ini, kami berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita semua.
Gowa, 27 Oktober 2017
Kelompok II.

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................................................ iii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah............................................................................................. 1
1.3. Tujuan............................................................................................................... 1

Bab II

PEMBAHASAN

2.1. Kedudukan Psikologi Bagi Ilmu-ilmu lain…………………............................ 2
2.2. Ruang Lingkup Psikologi................................................................................... 18

BAB III PENUTUP
Kesimpulan....................................................................................................... 20-21

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 22

iii

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Sesuai dari katanya bahwa psikologi terdiri dari dua kata yang mempunyai arti.Psikologi ini
merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Dimana ilmu ini sangat penting untuk
kita pelajari sebagai mahasiswa dan mahasiswi Pendidikan Agama Islam yang akan di
aplikasikan nanti kalau sudah masuk dunia mengajar dan terjun di masyarakat.
Perhatian pada psikologi yang terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu
dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada
pengalaman-pengalaman mereka sendiri.Maka bagaimana perhatian tentang perhatian psikologi
umum.
Pengamatan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang cerdas.terjadi terhadap suatu
proses dengan maksud merasakan dan memahami pengetahuan dari
sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan.
Penanggapan itu umumnya pengahajatan kembali bekas-bekas yang diterima dahulu dari
pengamatan, yang sekarang digambarkan kembali dalam kesadaran.
Dalam makalah ini akan dibahas satu persatu tentang perhatian terhadap psikologi umum
beserta pengamatan dan tanggapannya.
1.2.Rumusan Masalah
Sesuai dengan pemilihan judul di atas, yang menjadi Rumusan masalah adalah sebagai
berikut :
1. jelaskan kedudukan psikologi bagi ilmu-ilmu lain ?
2. jelaskan ruang lingkup psikologi?

1.3.Tujuan dan Manfaat Makalah
1. Untuk mengetahui bagaimana kedudukan Ilmu Psikologi dengan ilmu-ilmu lain
2. Untuk menambah wawasan penulis serta pembaca
3. Untuk memahami bagaimana ruang lingkup dalam Ilmu Psikologi

1

BAB II

PEMBAHASAN
2.1. KEDUDUKAN PSIKOLOGI BAGI ILMU-ILMU LAIN
Psikologi beserta sub-sub ilmunya, pada dasarnya mempunyai hubungan yang sangat erat
dengan ilmu-ilmu lain. Hubungan itu biasanya bersifat timbale balik. Psikologi memerlukan
bantuan ilmu-ilmu lain, dan sebaliknya, ilmu-ilmu lain juga memerlukan bantuan psikologi.
Psikologi merupakan ilmu yang telah mandiri, tidak tergabung dengan ilmu-ilmu lain.
Namun demikian tidak boleh dipandang bahwa psikologi itu sama sekali terlepas dari ilmu-ilmu
lain. Dalam hal ini psikologi masih mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu tersebut.
Psikologi sebagai ilmu yang meneropong atau mempelajari keadaan manusia, sudah tentu
psikologi mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain yang sama-sama mempelajari tentang
keadaan manusia. Hal ini akan memberi gambaran bahwa manusia sebagai makhluk hidup tidak
hanya dipelajari oleh psikologi saja, tetapi juga dipelajari oleh ilmu-ilmu lain. Manusia sebagai
makhluk budaya maka psikologi akan mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu kebudayaan,
dengan filsafat, dengan antropologi. Berikut penjelasan mengenai hubungan psikologi dengan
beberapa ilmu pengetahuan.
a. Hubungan Psikologi dengan Biologi
Biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang kehidupan. Semua benda yang hidup
menjadi objek dari biologi. Oleh karena biologi berobjekkan benda-benda yang hidup, maka
cukup banyak ilmu yang tergabung di dalamnya. Oleh karena itu baik biologi maupun psikologi
sama-sama membicarakan manusia. Sekalipun masing-masing ilmu tersebut meninjau dari sudut
yang berlainan, namun pada segi-segi yang tertentu kadang-kadang kedua ilmu itu ada titik-titik
pertemuan. Biologi, khususnya antropobiologi tidak mempelajari tentang proses-proses
kejiwaan, dan inilah yang dipelajari oleh psikologi.
Seperti telah dikemukakan d atas, di samping adanya hal-hal yang berlainan tampak pula
adanya hal-hal yang sama-sama dipelajari atau diperbincangkan oleh kedua ilmu itu, misalnya
soal keturunan. Mengenai soal keturunan baik psikologi ataupun antropobiologi juga
membicarakan mengenai hal ini. Soal keturunan ditinjau dari segi biologi ialah hal-hal yang
2

berhubungan dengan aspek-aspek kehidupan yang turun temurun dari suatu generasi ke
generasi
lain; mengenai soal ini misalnya yang terkenal adalah hukum Mendel. Soal keturunan juga
dipelajari oleh psikologi antara lain misalnya sifat, intelegensi, bakat. Karena itu kuranglah
sempurna biologi khususnya antropobiologi maupun fisiologi, justru karena ilmu-ilmu ini
membantu di dalam orang mempelajari psikologi.
Sejauh mana hubungan psikologi dengan biologi? Biologi mempelajari kehidupan
jasmaniah manusia atau hewan, yang bila dilihat dari objek materialnya, terdapat bidang yang
sama dengan psikologi; hanya saja objek formalnya berbeda. Objek formal biologi adalah
kehidupan jasmaniah (fisik), sedangkan objek formal psikologi adalah kegiatan atau tingkah laku
manusia.
Menurut Bonner (dalam Sarwono, 1997:17), perbedaan psikologi dan biologi adalah
sebagai berikut. Psikologi merupakan ilmu yang subjektif, sedangkan biologi adalah ilmu yang
objektif. Psikologi disebut ilmu subjektif karena mempelajari penginderaan (sensation) dan
persepsi manusia sehingga manusia dianggap sebagai subjek atau pelaku, bukan objek.
Sebaliknya, biologi mempelajari manusia sebagai jasad atau objek. Jadi, perbedaan selanjutnya
antara psikologi dan biologi adalah psikologi mempelajari nilai-nilai yang berkembang dari
persepsi subjek, sementara biologi mempelajari fakta yang diperoleh dari penelitian terhadap
jasad manusia. Yang terakhir adalah psikologi mempelajari perilaku secara “molar” (perilaku
penyesuaian diri secara menyeluruh), sementara biologi (termasuk ilmu faal) mempelajari
perilaku manusia secara “molekular”, yaitu mempelajari molekul-molekul (bagian-bagian) dan
perilaku berupa garakan, refleks, proses ketubuhan, dan sebagainya.
Menurut jurnal dari Jean Piaget yang berjudul “Relation Between Psychology and other
science” hubungan psikologi dengan biologi sebagai berikut :
In the relations between psychology and biology these two-way exchanges are particularly
striking. It might seem that psychology was completely subordinated to such sciences of organic
life as physiology, studies of epigenesis and genetics (extending to analysis of the genome). But
we now know well that there is much feedback from behavior to details of organization of the
brain and nervous system (see among others the research of Rosenzweig, Krech and Bennett;
3

this and related work is reviewed in the chapter by Hunt in this volume). Psychosomatic
medicine shows the existence of even more extensive interactions. Ethology is a branch of both
psychology and general biology. As to heredity, it is not clear that its mechanisms are exactly the
same for transmission of purely morphological characteristics (a color, the form of a particular
organ, etc) or for the formation of general organs that condition behavior (locomotion, etc).
We know now that behavior is not simply a result of evolution but is one of the factors that
govern evolution. I have in fact written a small book-rather speculative, it is true-to argue that
behavior actually is the main driving force behind evolution. It therefore seems probable that the
better one knows these connections, the greater will be the influence of causal explanations from
psychology on the interpretation of the central mechanisms that biology studies. In turn it seems
evident to me that if contemporary psychologists had more knowledge of biology, there would be
fewer partisans of pure behaviorism, and Skinner's "black box" would be furnished with more
fruitful hypotheses.
Dalam hubungan antara psikologi dan biologi pertukaran dua arah ini sangat mencolok .
Ini mungkin tampak bahwa psikologi benar-benar tunduk kepada ilmu-ilmu seperti hidup
organik sebagai fisiologi , studi epigenesis dan genetika ( memperluas analisis genom ) . Tapi
kita sekarang tahu dengan baik bahwa ada banyak umpan balik dari perilaku rincian organisasi
otak dan sistem saraf (lihat antara lain penelitian Rosenzweig , Krech dan Bennett , ini dan
kerja terkait ditinjau dalam bab oleh berburu dalam buku ini ) . Obat psikosomatis menunjukkan
adanya interaksi yang lebih luas . Etologi adalah cabang dari kedua psikologi dan biologi
umum . Seperti faktor keturunan , tidak jelas bahwa mekanisme yang persis sama untuk
transmisi karakteristik murni morfologi ( warna , bentuk organ tertentu , dll ) atau
untuk pembentukan organ umum dalam perilaku kondisi ( gerak , dll) .
Kita tahu sekarang bahwa perilaku bukan hanya hasil dari evolusi tetapi merupakan salah
satu Faktor-faktor yang mengatur evolusi . Saya sebenarnya menulis buku - agak spekulatif , itu
benar - berdebat perilaku yang benar-benar merupakan kekuatan pendorong utama di balik
evolusi kecil . Karena itu tampaknya mungkin bahwa satu lebih baik tahu hubungan ini ,
semakin besar akan menjadi pengaruh penjelasan kausal dari psikologi pada interpretasi
4

mekanisme sentral bahwa studi biologi . Pada gilirannya tampak jelas bagi saya bahwa jika
psikolog kontemporer memiliki pengetahuan lebih tentang biologi , akan ada lebih sedikit
partisan behaviorisme murni , dan " kotak hitam " Skinner akan dilengkapi dengan hipotesis
lebih bermanfaat .
b. Hubungan Psikologi dengan Sosiologi
Manusia sebagai makhluk sosial juga menjadi objek dari sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu
pengetahuan yang berhubungan dengan manusia, mempelajari manusia di dalam hidup
bermasyarakatnya. Karena itu baik psikologi maupun sosiologi yang membicarakan manusia,
tidaklah mengherankan kalau pada suatu waktu adanya titik-titik pertemuan di dalam meninjau
manusia itu, misalnya soal perilaku. Tinjauan sosiologi yang penting ialah hidup
bermasyarakatnya, sedang tinjauan psikologi adalah bahwa perilaku sebagai manifestasi hidup
kejiwaan, yang di dorong oleh motif tertentu hingga manusia itu berperilaku atau berbuat.
Karena ada titik-titik kesamaan maka timbulah cabang ilmu pengetahuan dalam psikologi
yaitu psikologi sosial yang khusus meneliti dan mempelajari perilaku manusia dalam hubungan
dengan situasi-situasi sosial. Menurut Gerungan pertemuan antara psikologi dan sosiologi itulah
merupakan daerah dari psikologi sosial.
Perilaku manusia tidak terlepas dari keadaan sekitarnya, karena itu tidaklah sempurna
meninjau manusia berdiri sendiri terlepas dari masyarakat yang melatar belakanginya.
c. Hubungan Psikologi dengan Antropologi
Harus kita akui bahwa bantuan psikologi terhadap antropologi sangatlah besar, sehingga
dalam perkembangannya yang terakhir, lahir suatu sub-ilmu ataub spesialisasi dari antropologi
yang disebut etnopsikologi (ethnopsychology), atau anthropology psikologikal (psychological
anthropology), atau juga studi kebudayaan dan kepribadian (study of culture and personality),
disamping spesialisasi anthropology in mental health (Hsu,1961;Bornouw, 1963;Clifton,
1968;Koentjaraningrat 1980; Effendi & Praja, 1993).
Sejak setengah abad lalu, di Amerika Serikat dan Inggris telah berkembang berbagai
penelitian yang dalam analisisnya menggunakan banyak konsep psikologi.berbagai penelitian itu
dimulai karena timbulnya perhatian terhadap tiga masalah, yaitu:
5

1. Masalah “kepribadian bangsa”;
2. Masalah peranan individu dalam proses perubahan adat istiadat; dan
3. Masalah nilai universal dari konsep-konsep psikologi.
Persoalan “kepribadian bangsa” muncul tatkala hubungan antarbangsa mulai kian intensif,
terutama sesudah Perang Dunia ke-1. Sebelum itu, orang Eropa juga menaruh perhatian terhadap
masalah kepribadian bangsa-bangsa ditanah jajahan mereka. Deskripsi tentang kepribadian suatu
bangsa dalam karangan-karangan etnografi zaman lampau itu biasanya menggunakan berbagai
konsep dan istilah yang tak cermat dan kasar. Istilah tersebut mengenai menggunakan metodemetode ilmu social untuk menopang kesimpulan umum yang bersifat subjektif tentang perbedaan
jenis kepribadian antarmasyarakat yang kompleks. Orang Belanda yang menjajah bangsa
Indonesia misalnya, melukiskan kepribadian suku bangsa Jawa sebagai malas, tak aktif, tak
bergairah dalam tindakan (indolent), dan tidak jujur. Selain cirri-ciri kepribadian yang negative,
tiap konsepyang dipakai dalam pelukisan seperti itu pun tidak cermat dipandang dari sudut ilmu
psikologi. Istilah “tidak jujur”, misalnya sangat tidak cermat bila dipandang dari sudut psikologi.
Menyadari kekurangan ini, ada beberapa ahli antropologi, sekitar tahun1920, yang
berhasrat untuk mendeskripsi kepribadian bangsa dengan lebih cermat. Selain itu, mereka juga
mempersoalkan secara ilmiah, apakah konsep “kepribadian bangsa” itu bener-benar ada. Sebab,
dalam kenyataannya tentu ada orang Jawa yang mempunyai etos kerja tinggi, jujur, lincah dan
bergairah dalam tindakan-tindakannya; lalu timbullah pertanyaan, bilamana suatu ciri bangsa
atau suku bangsa, dan sampai berapa jauhkah perkecualian terhadap kepribadian umum pada
individu tertentu sebagai warga bangsa itu? Untuk mempelajari persoalan seperti itu, seorang ahli
antropologi tentu perlu mengetahui banyak tentang ilmu psikologi serta konsep dan teori-teori
yang dikembangkan didalamnya.
Studi tentang “kepribadian bangsa” ini juga disinggung oleh Carol R.Ember dan Melvin
Ember (Ihromi,1981). Dalam tulisannya, “Theory and Method in Cultural Anthropology”,
khususnya mengenai hubungan kebudayaan dan kepribadian, disebutkan bahwa focus yang
khusus dari studi-studi permulaan, awal tahun 1920-an, adalah tentang pengalaman masa kanakkanak dan bahwa pengalaman tersebut tampaknya mempengaruhi perilaku setelah dewasa.
6

Sebelum ini, tutur mereka, para ahli anthropology tidak mencatat kebiasaan-kebiasaan
pengasuh anak-anak sebagai aspek penting dari kebudayaan tetapi kemudian dibawah pengaruh
Freud dan penulis mengenai teori pendidikan, John Dewey, para ahli antropologi menjadi tertarik
pada lingkungan kebudayaan dari bayi atau kanak-kanak, dan masa itu dianggap sangat penting
artinya bagi pembentukan kepribadian dewasa yang khas dalam suatu masyarakat.
Pada tahun 1930-an dan 1940-an, dalam seminar di Universitas Columbia,Ralph Linton,
seorang ahli antropologi dan Abram Kardiner, seorang ahli psikologi analisis, mengembangkan
sejumlah pemikiran untuk studi kebudayaan dan kepribadian. Yang terpenting adalah pemikiran
Kardiner. Yang mengutarakan bahwa semua warga masyarakat memiliki struktur kepribadian
yang sama karena para warga masyarakat itu cendrung menjalani latihan yang sama mengenai
cara buang air besar/kecil, menjalani cara menertibkan yang sama dalam masa kanak-kanak, cara
menyapih yang sama dan sebagainya, sebagai orang dewasa, mereka cenderung mempunyai
unsure-unsur kepribadian yang sama.
Menurut Ember & Ember, selama Perang Dunia ke-2, dan tidak lama sesudahnya, orientasi
studi kebudayaan dan kepribadian itu diterapkan pada masyarakat yang kompleks. Hamper
semua penelitian yang mendalami “kepribadian bangsa” menyimpulkan bahwa cirri-ciri
kepribadian yang tampak berbeda, pada bangsa dunia-dunia ini, bersumber pada cara
pengasuhan masa kanak-kanak. Misalnya, dalam tiga penelitian dikemukaakan bahwa orang
yang dewasa menjadi bersifat memaksakan kehendaknya karena ketatnya latihan mengenai caracara buang air, yang mereka terima pada masa kanak-kanaknya. Demikian pula emosi manic
depresif yang dianggap biasa diantara orang-orang Rusia menurut Gorer dan Richman,
bersumber pada cara pemeliharaan bayi, yaitu “dibedong” sejak saat kelahiran. Membedong
adalah meliliti bayi dengan carikan-carikan kain sedemikian rupa, sehingga tangan dan kaki bayi
tidak dapat bergerak bebas, dan ini katanya menyebabkan kemarahan dan frustasi pada bayi yang
kemudian hari, setelah dewasa, diekspresikan dalam manic depresif.
Saying, kata Ember & Ember, bahwa para peneliti tentang sifat keras orang Jepang
tersebut tidak dapat melaksanakan penelitian lapangan lebih lanjut karena meletusnya Perang
Dunia ke-2. Ahli Antropologi yang mempelajari kepribadian orang Rusia, karena perang terpaksa
juga memakai metode penelitian yang langsung.
7

Kemudian,setelah para peneliti sudah dapat lagi mengumpulkan data dari tangan pertama
dan mencari sampel yang lebih baik, ditemukan bahwa kesimpulan-kesimpulan penelitian di
atas, tidak selalu dapat diandalkan. Contohnya, ternyata tidak benar apabila orang Jepang
menjalani latihan yang ketat sekali mengenai cara-cara buang air. Pendek kata, penelitian mulamula tentang kepribadian bangsa adalah percobaan yang masih “kasar”.
Dalam perkembangannya kemudian,focus pendekatan psikologis pada keanekaragaman
kebudayaan,berubah. Perhatian pada teori-teori Freud dan minat terhadap hubungan antara
pengasuhan semasa anak-anak dan kepribadian setelah dewasa, tetap dipertahankan, namun
beberapa orang ahli antropologi mulai meneliti factor-faktor penentu apa saja yang mungkin
menjadi penyebab dari kebiasaan pengasuhan anak-anak yang beraneka ragam itu.
Disamping penjajagan factor-faktor determinan dari pola pengasuhan anak yang beraneka
ragam dalam melatih anak tersebut, studi akhir-akhir ini mengemukakan bahwa sifat kepribadian
dan prosesnya mungkin menjadi penyebab hubungan tertentu antara beberapa pola kebudayaan.
Cara berpikirnya adalah kebudayaan tertentu menghasilkan karekteristik psikologi tertentu, yang
pada gilirannya menimbulkan cirri budaya lainnya.
Kesimpulan yang dibeikan Ember & Ember mengenai pendekatan psikologis dalam
antropologi budaya adalah dengan menghubungkan variasi-variasi dalam pola-pola budaya
dengan masa pengasuhan anak, kepribadian, kebiasaan, dan kepercayaan yang mungkin menjadi
konsekuensi dari factor psikologis dan prosesnya.
Hubungan psikologi dengan antropologi, seperti telah disebutkan dimuka, juga dalam hal
munculnya cabang baru antropologi, yaitu anthropology in mental health.
Bidang penelitian dan pembahasan anthropology in mental health ini lebih difokuskan
pada emosi-emosi yang tertekan. Di antar berbagai penyakit jiwa (psikiater), ternyata ada yang
tidak disebabkan oleh kelainan-kelainan biologis atau kerusakan dalam organism, melainkan
karena jiwa dan emosi tertekan. Dan, keadaan jiwa yang yang tertekan ini lebih disebabkan oleh
aspek-aspek social budaya. Aspek social budaya yang melatarbelakangi inilah yang merupakan
kajian dari anthropology in mental health.

8

d. Hubungan Psikologi dengan Filsafat
Manusia sebagai makhluk hidup juga merupakan objek dari filsafat yang antara lain
membicarakan soal hakikat kodrat manusia, tujuan hidup manusia, dan sebagainya. Sekalipun
psikologi pada akhirnya memisahkan diri dari filsafat, karena metode yang ditempuh sebagai
salah satu sebabnya, tetapi psikologi masih tetap mempunyai hubungan dengan filsafat.
Bahkan sebetulnya dapat dikemukakan bahwa ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari
filsafat itupun tetap masih ada hubungan dengan filsafat terutama mengenai hal-hal yang
menyangkut sifat hakikat dan tujuan dari ilmu pengetahuan itu.
Filsafat adalah hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan
sedalam-dalamnya.
Dalam penyelidikannya, filsafat memang berangkat dari apa yang dialami manusia, karena
tak ada pengetahuan jika tidak bersentuhan lebih dahulu dengan indra, sedangkan ilmu yang
hendak menelaah hasil pengindraan itu tidak mungkin mengambil keputusan dengan
menjalankan pikiran, tanpa menggunakan dalil dan hukum pikiran yang tidak mungkin
dialaminya. Bahkan, ilmu dengan amat tenang, menerima sebagai kebenaran bahwa pikiran
manusia itu ada serta mampu mencapai kebenaran; dan tidak pernah diselidiki oleh ilmu, sampai
dimana dan bagaimana budi manusia dapat mencapai kebenaran itu.
Sebaliknya, filsafat pun memerlukan data dari ilmu. Jika, ahli filsafat manusia hendak
menyelidiki manusia itu serta hendak menentukan apakah manusia itu, ia memang harus
mengetahui gejala tindakan manusia. Dalam hal ini, ilmu yang bernama psikologi akan
menolong filsafat sebaik-baiknya dengan hasil penyelidikannya. Kesimpulan filsafat tentang
kemanusiaan akan sangat pincang dan mungkin jauh dari kebenaran jika tidak menghiraukan
hasil psikologi (Poedjawijatna, 1991).
Dalam berbagai literatur disebutkan, sebelum menjadi disiplin ilmu yang sendiri, psikologi
memiliki akar-akar yang kuat dalam ilmu kedokteran dan filsafat yang hingga sekarang masih
tampak pengaruhnya. Dalam ilmu kedokteran, psikologi berperan menjelaskan apa-apa yang
terpikir dan terasa oleh organ-organ biologis (jasmaniah). Adapun dalam filsafat yang
sebenarnya “ibu kandung” psikologi itu, psikologi berperan serta dalam memecahkan masalahmasalah rumit yang berkaitan dengan akal, kehendak, dan pengetahuan.
9

Bruno, seperti dikutip Syah (1995: 8), membagi pengertian psikologi dalam tiga bagian
yang pada prinsipnya saling berhubungan. Pertama, psikologi adalah ilmu pengetahuan
mengenai “roh”. Kedua, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “kehidupan mental”.
Ketiga, psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai “tingkah laku” organisme.
Pengertian pertama merupakan defenisi yang paling kuno dan klasik (bercita rasa tinggi
dan bersejarah) yang berhubungan dengan filsafat Plato (427-437 SM) dan Aristoteles (384-322
SM). Mereka menganggap bahwa kesadaran manusia berhubungan dengan rohnya. Oleh karena
itu, studi mengenai kesadaran dan proses mental manusia merupakan bagian dari studi roh.
e. Hubungan Psikologi dengan Agama
Menurut jurnal “The Psychology of Religion” dari Robert A. Emmons and Raymond F.
Paloutzian.
Religion, among the most powerful of all social forces and here as long as there have been
human beings [e.g., it has been suggested that humans be thought of as Homo religiosus because
religion has been present as long as there have been Homo sapiens (Albright & Ashbrook 2001)]
and showing no sign of going away, is among them. Following the lead of Gordon Allport, in
which religiousness was found to be related in important but nonobvious ways to racial
prejudice (Allport 1954, Allport & Ross 1967), the dramatic recent growth of the field began.
Agama, salah satu yang paling kuat dari semua kekuatan sosial dan di
sini asalkan ada manusia[misalnya, telah menyarankan bahwa manusia dianggap
sebagai Homo religiosus karena agamatelah
hadir selama ada Homo sapiens (Albright Ashbrook & 2001)] dan tidak menunjukkan tandatanda akan pergi, ada di antara mereka. Mengikuti jejak dari Gordon Allport, di
mana religiusitasyang ditemukan berhubungan dengan cara-cara penting namun yang belum
ada prasangka rasial(Allport 1954, Allport & Ross 1967), pertumbuhan barubaru dramatis lapangan dimulai.
Psikologi dan agama merupakan dua hal yang sangat erat hubungannya, mengingat agama
sejak turunnya kepada Rasul diajarkan kepada manusia dengan dasar-dasar yang disesuaikan
10

dengan kondisi dan situasi psikologis pula. Tanpa dasar tersebut agama sulit mendapat tempat di
dalam jiwa manusia. Di dalam agama terdapat ajaran tentang cara agar manusia mau menerima
petunjuk Tuhannya sehingga manusia itu sendiri tanpa paksaan bersedia menjadi hamba-Nya
yang baik dan taat. Itulah sebabnya dapat dikatakan bahwa di dalam agama, penuh dengan unsurunsur pedagogis yang bahkan merupakan esensi pokok dari tujuan agama diturunkan oleh Tuhan
kepada umat manusia. Unsur pedagogis dalam agama tidak dapat mempengaruhi manusia,
kecuali bila disampaikan kepadanya sesuai dengan petunjuk-petunjuk psikologi (dalam hal ini
psikologi pendidikan)
Contoh bahwa psikologi dan agama mempunyai hubungan erat dalam memberikan
bimbingan manusia adalah terhadap manusia yang melanggar norma-norma yang oleh agama
dipandang berdosa. Perasaan berdosa ada manusia yang melanggar norma tersebut dapat
mengakibatkan perasaan nestapa dalam dirinya meskipun hukuman lahiriah tidak diberikan
terhadapnya. Psikologi memandang bahwa orang yang berdosa itu telah menghukum dirinya
sendiri, karena dengan perbuatan pelanggaran tersebut, jiwa mereka menjadi tertekan, kotor dan
gelap apabila yang bersangkutan tidak dapat menyublimasikan (mengalihkan kepada perbuatan
yang lebih baik) perasaannya akan mengakibatkan semacam penyakit jiwa (psichistania) yang
merugikan dirinya sendiri. Dalam hal demikian itulah pendidikan agama sangat diperlukan
memberikan jalan sublimatif serta katalisasi (pembersihan jiwa) orang yang menderita dosa.
Maka mengingat eratnya hubungan antar keduanya itu, akhirnya lahirlah psikologi agama
(Psychology of Religion), yang objek pembahasannya antara lain bagaimanakah perkembangan
kepercayaan kepada Tuhan dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan kapan terjadi kemantapan
hidup keagamaan seseorang, bagaimana perbedaan tingkah laku orang yang beragama dengan
yang tidak beragama dan lain sebagainya.
f. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Alam
Pada permulaan abad ke-19, psikologi dalam penelitiannya banyak terpengaruh oleh ilmu
alam. Psikologi disusun berdasarkan hasil eksperimen, sehingga lahirlah, antara lain Gustav
Fechner, Johannes Muller, Watson, dan lain-lain (Effendi & Praja, 1993:8-9). Namun kemudian,
psikologi menyadari bahwa objek penyelidikannya adalah manusia dan tingkah lakunya yang
hidup dan selalu berkembang sedangkan objek ilmu alam adalah benda mati. Oleh sebab itu,
11

metode ilmu alam yang dicoba diharapkan dalam psikologi, dianggap kurang tepat. Karena itu,
psikologi mencari metode lain yang sesuai dengan sifat keilmuannya sendiri, yaitu antara lain
metode”fenomenologi”, suatu metode penelitian yang menitikberatkan gejala hidup kejiwaan.
Pada dasarnya, psikologi secara prinsipil dan secara metodik, sangat berbeda dengan ilmu
alam. Sebabnya antara lain, pada ilmu pengetahuan alam orang meneliti objek secara ilmiah
dengan menggunakan hokum-hukum dan gejala-gejala penampakan yang bisa diamati dengan
cermat.
Pada peristiwa-peristiwa ilmu alam, terdapat unsur-unsur kemantapan, konstansi dan
kosistensi yaitu semua gejalanya bisa berlangsung secara berulang-ulang dan bisa tetap sama.
Dengan cirri-ciri inilah, orang bisa mengamati dan memperhitungkan dengan cermat, dan
membuat hokum-hukum alam. Lebih –lebih dengan bantuan pengertian logis serta perhitungan
ilmu pasti, orang mencoba memahami sifat dan hakikat objek penelitiannya.
Sebaliknya, psikologi berusaha mempelajari diri manusia, tidak sebagai “objek” murni
tetapi dalam bentuk kemanusiaannya mempelajari manusia sebagai subjek yang aktif dan
mempunyai sifat-sifat tertentu sebjek yang aktif itu diartikan sebagai pelaku yang dinamis,
dengan segala macam aktivitas dan pengalamannya. Dengan demikian, untuk mampu memahami
semua kegiatan manusia itu, orang berusaha dengan melihat “partisipasi social” nya lalu
berusaha menjadikan pengalaman orang lain sebagai pengalaman dan pemiliknya sendiri.
Ilmu pengetahuan alam mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan
psikologi. Dengan memisahkan diri dari filsafat, ilmu pengetahuan alam mengalami kemajuan
yang cukup cepat, hingga ilmu pengetahuan alam menjadi contoh bagi perkembangan ilmu-ilmu
lain, termasuk psikologi, khususnya metode ilmu pengetahuan alam mempengaruhi
perkembangan metode dalam psikologi. Karenanya sementara ahli beranggapan kalau psikologi
ingin mendapatkan kemajuan haruslah mengikuti cara kerja yang ditempuh oleh ilmu
pengetahuan alam. Apa yang ditempuh oleh Weber, Fechner, Wundt sangat dipengaruhi oleh
metode yang digunakan dalam lapangan ilmu pengetahuan alam. Metode yang ditempuh oleh
Fechner yang dikenal dengan metode psikofisik, suatu metode yang tertua dalam lapangan
12

psikologi eksperimental, banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam (Woodworth, 1951).
Merupakan suatu kenyataan karena pengaruh ilmu pengetahuan alam, psikologi mendapatkan
kemajuan yang cukup cepat, sehingga akhirnya dapat diakui sebagai suatu ilmu yang berdiri
sendiri terlepas dari filsafat; walaupun akhirnya ternyata bahwa metode ilmu pengetahuan alam
kurang mungkin digunakan seluruhnya terhadap psikologi, disebabkan karena perbedaan dalam
objeknya. Ilmu pengetahuan alam berobjekkan benda-benda mati, sedangkan psikologi
berobjekkan manusia yang hisup, sebagai makhluk yang dinamis, makhluk yang berkebudayaan,
makhluk yang berkembang dan dapat berubah setiap saat.

g. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pendidikan
Sebenarnya, psikologi dan ilmu pendidikan tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Mengapa? Karena keduanya mempunyai hubungan timbal balik. Ilmu pendidikan sebagai suatu
disiplin bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak ia lahir sampai mati. Pendidikan
tidak akan berhasil dengan baik bilaman tida berdasarkan kepada psikologi perkembangan.
Demikian pula watak dan kepribadian seseorang ditunjukkan oleh psikologi. Karena begitu
eratnya tugas anatara psikologi dan ilmu pendidikan, kemudian lahirlah suatu subdisiplin
psikologi pendididkan (educational psychology).
Reber(1998) menyebut psikologi pendidikan sebagai subdisiplin ilmu psikologi yang
berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal berikut:
1. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas.
2. Pengembangan dan pembaruan kurikulum.
3. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan.
4. Sosialisasi proses-proses dan interaksi dengan pendayagunaan ranah kognitif.
5. Penyelenggaraan pendidikan keguruan.
13

Dengan batasan atau pengertian di atas, Reber tampaknya menganggap bahwa psikologi
pendidikan masuk dalam subdisiplin psikologi terapan (applicable).
Meskipun demikian, menurut Witherington (1991:12-13), psikologi pendidikan tidak dapat
hanya dianggap sebagai psikologi yang dipraktikkan saja. Psikologi pendidikan, katanyaadalah
suatu studi atau suatu ilmu pengetahuan yang mempunyai hak hidup sendiri. Memang benar
bahwa aspek-aspek tertentu dari psikologi pendidikan nyata-nyata bersifat kefilsafatan, tetapi
sebagai ilmu pengetahuan, sebagaiscience, psikologi pendidikan telah memiliki:
1. Susunan prinsip atau kebenaran dasar tersendiri.
2. Fakta-fakta yang bersifat objektif dan dapat diperiksa kebenarannya, dan
3. Teknik-teknik yang berguna untuk melakukan penyelidikan atau “research”nya sendiri termasuk
dalam hal ini ialah alat-alat pengukur dan penilaian yang sampai batas-batas tertentu dapat
dipertanggungjawabkan ketepatannya.
Di anatara alat-alat pengukur dan alat penilai ini, terdapat tes tentang hasil perkembangan
jiwa anak dan tes tentang hasil belajar anak. Kedua tes ini lazim disusun dengan sangat hati-hati.
Di laboratorium, misalnya untuk mengetahui ada atau tidaknya kesalahan mekanis dalam
kebiasaan membaca anak-anak, diadakan pemotretan terhadap gerakan mata anak-anak pada
waktu membaca dengan mempergunakanophthalmograph. Untuk mengetahui apa yang harus
dilakukan untuk mengembangkan suara yang menyenangkan dan untuk memperoleh pemilihan
kata-kata yang tepat pada waktu berbicara, diadakan perekaman terhadap latihan-latihan
bercakap yang dilakukan.
Jadi, meskipun psikologi pendidikan cenderung dianggap oleh banyak kalangan atau para
ahli psikologi, termasuk ahli psikologi pendidikan sendiri sebagai subdisiplin psikologi yang
bersifat terapan atau psikis, bukan teoretis, cabang psikologi ini dipandang telah memiliki
konsep, teori, dan metode sendiri, sehingga mestinya tidak lagi dianggap sebagai subdisiplin
tetapi disiplin (cabang ilmu) yang berdiri sendiri.

14

h. Hubungan Psikologi dengan Komunikasi
Banyak ilmuan dari berbagai disiplin memberikan sumbangan kepada ilmu komunikasi,
antara lain Harold D.Lasswell (ilmu politik), Max Weber, Daniel Larner, dan Everett M.Rogers
(sosiologi), Carl I.Hovland dan Paul Lazarfeld (psikologi), Wilbur Schramm (bahasa), serta
Shannon dan Weaver (matematika dan teknik). Tidak mengherankan bila banyak disiplin telah
terlibat dalam studi komunikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini menurut
Fisher (1986:17) bermakna bahwa komunikasi memang mencakup semuanya, dan bersifat sangat
eklektif (mengembangkan beberapa bidang).
Sifat eklektif ilmu komunikasi dikatakan oleh Schramm (1980) sebagai “Jalan simpang
paling ramai dengan segala disiplin yang melintasinya”. Scharamm mengumpamakan ilmu
komunikasi sebagai ilmu oasis, yang merupakan persimpangan jalan, tempat bertemunya
berbagai ilmu (musafir) yang tengah dalam perjalanan menuju tujuan ilmunya masing-masing.
Meskipun musafir itu ada yang hanya singgah sejenak, sumber daya dan ilmu yang
dikembangkannya ketika berhenti disana, membantu pertumbuhan ilmu/disiplin ilmu si musafir
selanjutnya dan sekaligus memperkaya oasis tersebut.
Apabila kita cermati, eklektisme komunikasi sebagai suatu bidang studi, tampak pada
konsep-konsep komunikasi yang berkembang selama ini yang berhasil dirangkum oleh
Fisher(1984) dalam empat kelompok yang disebutnya perspektif(semacam pradigma, teori, atau
model). Keempat perspektif itu ialah: (1) perspektif mekanistis, (2) perspektif psikologis, (3)
perspektif interaksional, dan (4) perspektif pragmatis.
Pengaruh konsep ilmu fisika sangat kelihatan pada perspektif mekanistis, yang merupakan
perspektif paling awal dan paling luas penganutnya. Lalu pengaruh psikologi paling jelas pada
perspektif psikologis yang merupakan pengembangan dari perspektif mekanistis dengan
menerapkan teori S-R (Stimuli-Respons). Kedua perspektif ini berkembang dan telah melahirkan
banyak kajian.
Seperti halnya psikologi, ilmu komunikasi yang telah tumbuh sebagai ilmu yang berdiri
sendiri kemudian melakukan “perkawinan” dengan ilmu-ilmu lainnya yang pada gilirannya
15

melahirkan berbagai subdisiplin seperti komunikasi politik (dengan ilmu politik), sosiologi
komunikasi massa (dengan sosiologi), dan psikologi komunikasi (dengan psikologi). Dengan
demikian, psikologi komunikasi(dengan psikologi) pun didefinisikan sebagai “Ilmu yang
berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral dalam
komunikasi” (Rakhmat, 1994:9).
Komunikasi, menurut Rakhmat adalah peristiwa social peristiwa yang terjadi ketika
manusia berinteraksi dengan manusia lain. Mencoba manganalisi peristiwa social secara
psikologis, membawa kita pada psikologi sosial. Memang, bila ditanyakan letak psikologi
komunikasi, kita cenderung meletakkannya sebagai bagian dari psikologi social . karena itu,
menurut Jalaluddin Rakhmat, pendekatan psikologi social juga merupakan pendekatan psikologi
komunikasi.
i. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Politik
Ilmu pengetahuan lain yang erat hubungannya dengan psikologi ialah ilmu politik.
Kegunaan psikologi khususnya psikologi social dalam analisis politik jelas dapat kita ketahui
apabila kita sadar bahwa analisis social-politik secara makro diisi dan diperkuat yang bersifat
mikro. Psikologi social mengamati kegiatan manusia dari segi ekstern (lingkungan social,politik,
peristiwa-peristiwa, gerakan-gerakan massa) maupun dari segi intern (kesehatan fisik
perorangan, semangat, emosi).
Psikologi merupakan ilmu yang berperan penting dalam bidang politik, terutama yang
dinamakan “massa psikologi”.
Justru karena prinsip-prinsip politik lebih luas daripada prinsip-prinsip hokum dan meliputi
banyak hal yang berada diluar hokum dan masuk dalam yang lazim dinamakan “kebijaksanaan”,
bagi para politisi, sangat penting apabila mereka dapat menyelami gerakan jiwa dari rakyat pada
umumya, dan dari golongan tertentu pada khususnya bahkan juga dari oknum tertentu.
Kerap terdengar suara dalam masyarakat bahwa tindakan tertentu pemerintah dinyatakan
“psikologis” kurang baik. Biasanya, sura seperti ini tidak dijelaskan lebih lanjut, dan orang-orang
dianggap dapat menangkap apa yang dimaksudkan.
16

Selain member berbagai pandangan baru dalam penelitian mengenai kepemimpinan,
psikologi social dapat pula menerangkan sikap dan reaksi kelompok terhadap keadaan yang
dianggapnya baru, asing, ataupun berlawanan dengan consensus masyarakat mengenai gejala
sosial tertentu.
Psikologi sosial juga bisa menjelaskan bagaimana sikap (attitude) dan harapan
(expectation) masyarakat dapat melahirkan tindakan serta tingkah laku yang berpegang teguh
pada tuntutan social (conformity).
Salah satu konsep psikologi social yang digunakan untuk menjelaskan perilaku untuk
memilih pada pemilihan umum adalah berupa identifikasi partai. Konsep ini nerujuk pada
persepsi pemilihan atas partai-partai yang ada atau keterikatan emosional pemilihan terhadap
partai tertentu.
Untuk memahami perilaku pemilih, nisa digunakan beberapa pendekatan. Namun selama
ini, penjelasan teoritis tentang voting behavior didasarkan pada dua model atau pendekatan, yaitu
pendekatan sosiologi dan pendekatan psikologi (Asfar, 1996).
Dalam hal pendekatan psikologis, seperti namanyapedekatan ini menggunakan dan
mengembangkan konsep psikologi terutama konsep sikap dan sosialisasi untuk menjelaskan
perilaku pemilih. Menurut pendekatan ini, para pemilih AS menentukan pilihan karena pengaruh
kekuatan psikologis yang berkembang dalam dirinya sebagai produk dari proses sosialisasi.
Mereka menjelaskan bahwa sikap seseorang sebagai refleksi dari kepribadian seseorang
merupakan variable yang menentukan dalam mempengaruhi perilaku pemilih.
j. Hubungan Psikologi dengan Ekonomi
Naik turunnya harga atau valuta asing atau berhasil/tidaknya suatu upaya marketing
tidak hanya tergantung pada hukum supply and demand dalam ilmu ekonomi, tetapi juga dalam
proses pembuatan keputusan yang dilakukan oleh manusia-manusia yang terlibat dalam proses
ekonomi (penjual, pembeli, produsen, distributor, bank, pasar modal, pemerintah dan lain-lain)
(Sarlito Wirawan Sarwono, 2012:11).

17

Jiwa manusia juga memiliki kebutuhan, seperti layaknya tubuh manusia yang memiliki
kebutuhan. hanya bedanya, jiwa manusia memiliki kebutuhan spiritual/emosi, sementara tubuh
manusia memiliki kebutuhan fisik. jiwa manusia hanya bisa dirasakan keberadaannya melalui
perasaan dan pemikiran, sementara tubuh manusia sudah bisa dirasakan keberadaannya melalui
panca indera. namun bagaimanapun, baik jiwa maupun tubuh manusia ditakdirkan untuk saling
mempengaruhi. apa yang terjadi pada jiwa manusia akan mempengaruhi kondisi tubuhnya, dan
apa yang terjadi pada tubuh manusia akan mempengaruhi kondisi jiwanya. Contoh yang mudah
adalah ketika intonasi suara, raut wajah, dan gaya tubuh seseorang yang sedang sedih akan
terlihat berbeda dengan intonasi suara, raut wajah, dan gaya tubuh orang lain yang sedang
bahagia
Dengan demikian hubungan antara psikologi yang membahas tentang kejiwaan
manusia dengan ekonomi yang membahas tentang kebutuhan tubuh dan jiwa manusia sangat
erat. Hubungan tersebut dapat dikatakan berpengaruh satu sama lain karena apa yang terjadi
pada tubuh manusia akan mempengaruhi kondisi jiwanya. Misalnya, pada bagian marketing
management dan human resource management, ilmu psikologi benar-benar digunakan sebagai
basis dari segala proses pengambilan keputusan untuk mencapai tujuan perusahaan: profit yang
sebesar-besarnya serta keunggulan daya saing dalam jangka panjang.
k. Hubungan psikologi dengan Fisiologi
Fisiologi (ilmu tentang tubuh manusia) dapat dihubungkan dengan ilmu psikologi untuk
memperoleh kejelasan tentang bagaimana sebenarnya proses tingkah laku.
2.2.RUANG LINGKUP PSIKOLOGI
Ditinjau dari segi objeknya, psikologi dapat di bedakan menjadi dua golongan yang besar ,
yaitu:
1.Psikologi yang menyelidiki dan mempelajari manusia.
2.psikologi yang menyelidiki mempelajari hewan, yang umumnya yang lebih tegas di sebut psikologi
hewan.

18

Dalam tulisan ini tidak tidak membicarakan psikologi yang membicarakan hewan atau psikologi
hewan. Yang akan di bicarakan dalam tulisan ini adalah yang berobjekan manusia, yang sampai pada
waktu ini orang yang membedakan adanya psikologi yang bersifat umum dan psikologi yang bersifat
khusus.
Psikologi umum ialah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari kegiatan - kegiatan atau
aktivitas psikis manusia. Hal-hal khusus yang menyimpang dari hal-hal yang umum dibicarakan dalam
psikologis khusus.
Psikologi khusus ialah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari dan mempelajari segi - segi
kekhususan dan aktivitas psikis manusia. hal - hal umum yang menyipang dari hal - hal umum di
bicarakan dalam psikologi khusus.
Psikologi khusus ini ada bermacam - macam, antara lain :
1. psikologi perkembangan
yaitu psikologi yang membicarakan perkembangan psikis manusia dari masa bayi sampai masa
tua, yang mencakup :
a. psikologi anak (mencangkup masa anak - anak );
1) psikologi puber dan adolesensi ( psikologi pemuda );
2) psikologi orang dewasa;
3) psikologi orang tua:
b. psikologi sosial
yaitu psikologi yang khusus membicarakan tentang tingkah laku atau aktifitas manusia
dalam hubunganya dengan situasi sosial.
c. psikologi pendidikan
yaitu psikologi yang khusus mengguraikan kegitan atau aktifitas manusia dalam
hubunganya dengan situasi pendidikan, misalnya bagaimanna cara menarik perhatian
agar pelajaran dengan mudah di terima, bagaimana cara belajar dan sebagainnya.
d. psikologi kepribadian dan tipologi
yaitu psikologi yang khusus menguraikan tentang struktur pribadi manusia, mengenai
tipe - tipe kepribadian manusia.
e. Psikopatologi
yaitu psikologi yang khusus memguraikan mengenai keadaan psikis yang tidak normal
( abnormal ).
19
f.

psikologi criminal
yaitu psikologi yang khusus berhubungan dengan soal kejahatan atau kriminalitas.
g. psikologi perusahaan , yaitu psikologi yang khusus berhubungan dengan soal - soal
perusahaan.

psikologi khusus masih berkembang, terus sesuai dengan bidang - bidang berperannya psikologi. pada
umummya psikologi khusus merupakan psikologi praktis, yang di aplikasikan sesuai dengan bidangnya.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang tingkah laku manusia atau human
behaviour serta hakikat jiwa dari awal hingga akhirnya.
2. Kedudukan psikologi dalam sistematika pengetahuan ialah sebagai suatu ilmu merupakan
pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan ilmiah, merupakan pengetahuan yang diperoleh
dengan penelitian-penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah adalah penelitian yang dijalankan secara
terencana, sistematis, terkontrol, dan dalam psikologi berdasarkan atas data empiris.
3. Secara garis besar ruang lingkup psikologi meliputi:
1. Psikologi yang menyelidiki dan mempelajari manusia.
2. Psikologi yang menyelidiki dan mempelajari hewan.
4. Ruang lingkup psikologi meliputi:
1. Metode yang bersifat filosofis
2. Metode yang bersifat empiris
5. Hubungan psikologi dengan ilmu lainnya meliputi:
1.

Hubungan psikologi dengan Fisiologi

2.

Hubungan Psikologi dengan ilmu sosiologi

3.

Hubungan Psikologi dengan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)

4.

Hubungan Psikologi dengan Ilmu-Ilmu keguruan. Dll

6. Tujuan dalam mempelajari psikologi sebagai berikut:
20

1.

Untuk memahami alasan dibalik sikap dan proses mental manusia dengan cara meneliti
baik itu prinsip-prinsip umum maupun spesifik dari suatu kasus.

2.

Meningkatkan kualitas hidup mereka sekarang ini atau untuk masa depan.

3.

Berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan
kemampuan akademik,sosialisasi, dan emosi.

4.

Untuk memperoleh faham tentang gejala-gejala jiwa dan pengertian yang lebih sempurna
tentang tingkah laku.

5.

Untuk mengetahui perbuatan-perbuatan jiwa serta kemampuan jiwa sebagai sarana untuk
mengenal tingkah laku manusia atau anak.

6.

Untuk mengetahui penyelenggaraan pendidikan dengan baik.

21

DAFTAR PUSTAKA

http://faisalmuh93.blogspot.co.id/2014/01/pengertian-dan-kedudukan-ruang-lingkup.html
http://psikologiumum19.blogspot.co.id/2014/01/review-materi-kedudukan-psikologi.html
https://www.rangkumanmakalah.com/hubungan-psikologi-dengan-ilmu-pengetahuan-lain/

22

Dokumen yang terkait

Dokumen baru