1 Taksonomi Contextual Performance Dalam Konteks Manajemen Publik Engkus

  Engkus

TAKSONOMI CONTEXTUAL PERFORMANCE DALAM

KONTEKS MANAJEMEN PUBLIK

  

Engkus

ABSTRAK

  Sebagian peneliti menafsirkan kinerja sebagai konsep yang berdimensi tunggal. Perkembangan menunjukkan bahwa kinerja dapat tersusun atas task performance dan contextual

  

performance . Di antara kedua jenis performance ini, contextual

performance masih belum memiliki taksonomi yang jelas. Studi

  ini mencoba mengurai taksonomi contextual performance. Melalui teknik analisis faktor dan subjek pegawai negeri sipil, studi ini menemukan bahwa contextual performance tersusun atas tiga komponen pembentuknya.

  

Kata kunci : contextual performance, task performance, sektor

publik, analisis faktor.

I. PENDAHULUAN

  Staw dan Boettger (1990) mengemukakan bahwa kinerja kerja individual pegawai telah memainkan peranan sentral dalam riset keorganisasian. Menurut kedua penulis ini, gerakan administrasi ilmiah yang dipelopori oleh F. W. Taylor dan koleganya di awal tahun 1900an telah mulai menyoroti kinerja, meskipun secara sempit merujuk pada efisiensi produksi dan produktivitas pegawai. Tahun 1913, Mustenberg mulai melakukan riset ilmiah mengenai kinerja, diikuti oleh

  

human relation movement dan terus berkembang sampai munculnya pemikiran

Likert (1961) dan Vroom (1964).

  Behn (2003) menyatakan bahwa setiap orang mengukur kinerja. Namun, apanya yang diukur ? Pandangan tradisional menyatakan bahwa kinerja sebagai konsep yang berdimensi tunggal. Kinerja diukur berdasarkan persepsi atas komponen-komponen kuantitas hasil kerja atau produktivitas yang berkaitan dengan keahlian (profiency) dimana individu melaksanakan tugas yang ditetapkan dalam deskripsi pekerjaan (Griffin et al., 1997; Neibuhr dan Norris, 1984; Tuten dan Neidenmeyer, 2004).

  Meskipun definisi kinerja tidak beranjak jauh dari makna keahlian atau kecakapan (profiency), para peneliti mengembangkan beberapa pandangan baru dalam mengukur komponen-komponen kinerja. Borman Motowidlo (1993)

  

mengembangkan dua dimensi kinerja yaitu task performance dan contextual

performance . Di antara kedua dimensi tersebut, contextual performance relatif

kurang memperoleh perhatian dari peneliti (Motowidlo and Scotter, 1994;

Motowidlo, 2003).

  Para peneliti mengembangkan taksonomi mengenai komponen-komponen pengukur contextual performance, dan memperoleh hasil yang berbeda. Borman dan Motowidlo (1997) mengembangkan 5 komponen. Coleman dan Borman (2000) menemukan 3 komponen contextual performance. Peneliti lain yaitu Griffin et al. (2007) mengembangkan 9 komponen contextual performance.

  Tulisan ini bertujuan untuk menyusun taksonomi contextual performance dalam konteks administrasi publik. Pemilihan Pegawai Negri Sipil sebagai subjek didasarkan pada beberapa pertimbangan berikut. Pertama, penulis Indonesia seperti Sedarmayanti (2007) masih menggunakan kriteria tradisional ini sebagai landasan pengukuran kinerja pegawai. Kedua, hasil studi pada disiplin berbeda tidak dapat serta merta diekstrapolasikan pada sektor publik. Ketiga, penyusunan kajian terhadap contextual performance secara umum masih tergolong langka ( Motowidlo, 2003).

  Engkus

II. REVIEW LITERATUR

  Randhawa (2005) mengemukakan bahwa kinerja pegawai merupakan

  

cornerstone dalam mengembangkan efektivitas dan keberhasilan setiap

  organisasi. Combs et al. (2006) melakukan studi meta-analysis atas 92 hasil studi dan menemukan bahwa kinerja individual memiliki pengaruh positif terhadap kinerja organisasi. Dalam konteks pemerintahan lokal, Kelly dan Swindell (2002) menyatakan bahwa kinerja pemerintah lokal merupakan indikator penting terhadap kemajuan bagi pencapaian misi organisasi secara keseluruhan, dan dapat dipandang sebagai ukuran internal bagi upaya-upaya dan pencapaian pelayanan pada masyarakat.

  Campbell et al. (1993) mendefinisikan kinerja sebagai “Those action or

  

behavior that are relevant to the organization’s goal and that can be scaled

(measured) in terms of each individual’s proficience (that is, level of

contribution ).

  Sebagian peneliti menafsirkan kinerja sebagai konsep yang berdimensi tunggal. Kinerja diukur berdasarkan persepsi atas kuantitas hasil kerja pegawai secara keseluruhan atau produktivitas (Norris dan Niebuhr, 1984; Tuten dan Neidenmeyer, 2004). Persepsi pegawai terhadap aspek kuantitas hasil kerja seperti “pekerjaan selesai tepat waktu” atau “sesuai target yang ditetapkan” merupakan instrumen umum pengukuran kinerja. Identik dengan aspek kuantitas, beberapa peneliti juga memasukkan unsur kualitas pekerjaan. Hal ini ditunjukkan oleh pernyataan seperti ”pekerjaan saya nyaris tanpa kesalahan”

  Komponen-komponen tersebut oleh Griffin et al. (1997) dievaluasi dalam konteks keahlian atau profiency dimana individu melaksanakan yang ditetapkan dalam deskripsi pekerjaan. Dalam perspektif ini, kinerja dievaluasi dievaluasi sebagai hasil kerja atau outcomes yang diperoleh dari pelaksanaan pekerjaan spesifik.

  Engkus

  Para peneliti lanjutan memandang bahwa konsep tradisional mengenai kinerja sudah tidak sesuai lagi. Dalam 40 tahun terakhir, makna kinerja kerja telah mengalami perubahan. Riset telah mengalami perubahan fokus dari pekerjaan dan tugas-tugas rutin menjadi lebih luas mencakup pemahaman peran kerja (work roles) dalam konteks dinamikan organisasional (Griffin et al., 2007). Pendekatan-pendekatan awal terhadap kinerja kerja tidak mempertimbangkan perilaku pegawai dalam lingkup lebih luas dalam sistem yang saling ketergantungan dan penuh ketidakpastian. Beberapa konstruk baru telah dimasukkan oleh para peneliti dalam menganggapi keterbatasan pendekatan tradisional. Griffin et al. (2007) secara lengkap menyusun daftar konstruk yang dimasukkan ke dalam konsep baru kinerja kerja.

  Borman dan Motowidlo (1993) menyusun kinerja berdasarkan dua dimensi

yaitu task performance dan contextual performance. Mengenai taksonomi

contextual performance , kedua peneliti ini membaginya ke dalam 5 komponen

yaitu:

  • Volunteering to carry out task activities that not formally a part of the job;
  • Persisting with extra enthusiasm or effort when necessary to complete own

  task activities successfully;

  • Helping and cooperating with others;
  • Following organizational rules and procedures even when personally

  inconvenient;

  • Endorsing, supporting, and defending organizational objectives Coleman dan Borman (2000) meneliti ulang taksonomi Borman dan

    Motowidlo. Coleman dan Borman (2000) berhasil menyusun 27 konsep dan

    melalui teknik analisis faktor kedua peneliti ini menyusun tiga komponen

  

contextual performance yaitu interpersonal support, organisational support, dan

job-task conscieniousness .

  Engkus

  Berdasarkan hasil kerja Coleman dan Borman (2000), Borman et al. (2001)

melakukan kajian ulang taksonomi tersebut dan menyusun 3 komponen

contextual performance yaitu personal support, organizational support, dan

. conscientious initiative III.

   METODE & PROSEDUR PENELITIAN Contextual performance diukur berdasarkan tanggapan subjek terhadap

  serangkaian item dimulai dengan angka 1 (Sangat Tidak Setuju) sampai angka 5 (Sangat Setuju). Instrumen pengukuran kinerja mengadaptasi dari instrumen yang telah dikembangkan oleh Suliman (2001). Pengujian reliabilitas yang dilakukan oleh Suliman menunjukkan koefisien reliabilitas berkisar dari 0,68-0,94. Besaran ini sangat baik, karenanya instrumen ini dapat diandalkan. Seluruh item yang digunakan untuk mengukur kinerja berjumlah 15 item.

  Subjek pada studi ini adalah 205 Pegawai Negeri Sipil suatu instansi pemerintah di wilayah Bandung Metropolis yang mencakup kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Cimahi.

  Untuk mengevaluasi keberadaan dimensi-dimensi digunakan tehnik analisis faktor melalui pendekatan exploratory factor analysis. Meskipun secara teoritis terdapat dukungan mengenai keberadaan multidimensi komitmen organisasional, pada studi ini justru ingin diketahui keberadaannya dalam seting akuntansi di Indonesia. Tahapan-tahapan maupun berbagai kriteria/asumsi analisis faktor mengacu pada rekomendasi Hair et al. (1998).

IV. TEMUAN-TEMUAN 4.1. Asumsi-asumsi Analisis Faktor

  Analisis faktor mensyaratkan jumlah observasi atau sampel minimal 50 buah. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 205, karenanya dapat memenuhi

  Engkus

  Engkus

  persyaratan bagi dilaksanakannya analisis faktor. Persyaratan lainnnya adalah adanya sejumlah besar korelasi parsial antar variabel (item). Tabel 1 menyajikan matriks korelasi antar item dengan jumlah total korelasi sebanyak 105 buah korelasi. Berdasarkan Tabel 1, terdapat 68 korelasi yang signifikan pada level 0,01 (tercetak tebal) dan hanya 37 korelasi yang signifikan lebih dari level 0,01. Jumlah tersebut merupakan basis yang lebih dari mencukupi untuk melakukan analisis selanjutnya.

  

Tabel 1. Matriks Korelasi Antar Item

Var. K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7 K8 K9 K 10 K 11 K 12 K 13 K 14

K1 - - - - - - - - - - - - -

K2 .002 - - - - - - - - - - - -

K3 .006 .000 - - - - - - - - - - -

K4 .226 .000 .000 - - - - - - - - - -

K5 .221 .000 .008 .000 - - - - - - - - -

K6 .494 .000 .000 .000 .000 - - - - - - - -

K7 .005 .040 .350 .013 .338 .000 - - - - - - -

K8 .210 .006 .005 .000 .000 .001 .000 - - - - - -

K9 .322 .000 .000 .000 .000 .000 .054 .000 - - - - -

K10 .000 .197 .311 .002 .002 .162 .001 .000 .000 - - - -

K11 .053 .013 .000 .002 .002 .018 .079 .002 .000 .003 - - - -

K12 .203 .248 .002 .462 .056 .282 .101 .073 .016 .003 .000 - - -

K13 .192 .459 .336 .337 .156 .228 .058 .044 .017 .000 .002 .000 - -

K14 .002 .005 .007 .040 .005 .003 .008 .000 .000 .000 .000 .001 .000 -

K15 . 002 .404 .442 .003 .000 .259 .019 .000 .000 .002 .003 .063 .000 .000

  Engkus

  Berikutnya adalah melihat anti-image correlation untuk melihat korelasi antar variabel dengan mempertimbangkan efek variabel lainnya. Tabel 2 berikut menyajikan matriks anti-image correlation. Berdasarkan tabel tersebut nampak bahwa nilai-nilai koefisien anti-image correlation seluruhnya berada di atas nilai yang dipersyaratkan yaitu sebesar 0.50 (garis diagonal pada tabel-tercetak tebal).

  

Tabel 2. Anti-image Matrices

Var. K1 K2 K3 K4 K5 K6 K7 K8 K9 K10 K11 K12 K13 K14 K15

K1 .623 -.166 -.097 .022 -.012 .057 -.148 .063 .069 -.063 -.040 .010 -.002 .015 -.187

K2 -.166 .749 -.322 -.087 -.034 -.094 -.089 .067 -.214 .018 .032 .051 .013 -.011 .076

K3 -.097 -.322 .706 -.101 .061 -.077 .096 -.073 -.029 .046 -.159 -.184 .143 -.119 .106

K4 .022 -.087 -.101 .751 -.499 -.091 -.031 -.190 -.023 -.044 -.076 .152 -.018 .078 -.016

K5 -.012 -.034 .061 -.499 .745 -.151 .104 .030 -.115 -.062 -.005 -.113 .044 -.027 -.109

K6 .057 -.094 -.077 -.091 -.151 .856 -.088 .004 -.124 .029 -.001 .037 .006 -.108 .096

K7 -.148 -.089 .096 -.031 .104 -.088 .656 -.259 .111 -.112 -.031 -.048 .010 -.085 .030

K8 .063 .067 -.073 -.190 .030 .004 -.259 .738 -.415 -.178 .110 -.010 .058 -.011 -.251

K9 .069 -.214 -.029 -.023 -.115 -.124 .111 -.415 .806 -.035 -.163 -.019 -.004 -.116 .010

K10 -.063 .018 .046 -.044 -.062 .029 -.112 -.178 -.035 .789 -.091 -.085 -.213 .123 -.028

K11
  • -.040 .032 -.159 -.076 -.005 -.001 -.031 .110 -.163 -.091 .822 -.198 -.011 -.125 -.049

    K12 .010 .051 -.184 .152 -.113 .037 -.048 -.010 -.019 -.085 -.198 .692 -.208 .000 .020

    K13 -.002 .013 .143 -.018 .044 .006 .010 .058 -.004 -.213 -.011 -.208 .657 -.436 -.026

    K14 .015 -.011 -.119 .078 -.027 -.108 -.085 -.011 -.116 .123 -.125 .000 -.436 .712 -.340

    K15 -.187 .076 .106 -.016 -.109 .096 .030 -.251 .010 -.028 -.049 .020 -.026 -.340 .740

  Uji korelasi terakhir adalah Bartlett Test of Sphericity dan Kaiser-Meyer-

  

Olkin Measure of Sampling Adequacy (KMO-MSA). Tabel 3 menunjukan bahwa

Bartlett Test of Sphericity memiliki nilai Chi-Square 699,162 dan signifikan pada

  level 0,000. KMO-MSA memiliki nilai koefisien sebesar 0,744 dan berada diatas nilai yang dipersyaratkan yaitu sebesar 0,60. Dengan demikian, analisis faktor dapat dilanjutkan pada tahap peringkasan variabel-variabel ke dalam faktor.

  

Tabel 3. KMO dan Bartlett's Test

Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling .744 Adequacy.

Bartlett's Test of Approx. Chi-Square 699.162

Sphericity Df 105

  Sig. .000 4.2.

   Pemilihan Jumlah Faktor

  Mengingat sifatnya yang eksploratori, pada tahap ini peneliti tidak menetapkan berapa jumlah faktor yang diperlukan namun secara a priori mendasarkan pada latent root criterion yang menggunakan jumlah kuadrat factor

  

loading atau eigenvalue sebesar 1 (satu) atau mendekati sebagai patokan

penentuan jumlah faktor.

  

Tabel 4. Total Variance Explained

Component Initial Eigenvalues Extraction Sums of Squared Loadings Total % of Var. Cumulative % Total % of Var. Cumulative %

  

1 3.780 25.202 25.202 3.780 25.202 25.202

2 1.783 11.885 37.087 1.783 11.885 37.087

3 1.342 8.943 46.031 1.342 8.943 46.031

4 1.176 7.838 53.869 1.176 7.838 53.869

5 1.008 6.722 60.591 1.008 6.722 60.591

6 .928 6.190 66.781 7 .838 5.588 72.369 8 .739 4.930 77.299 9 .674 4.492 81.791 10 .624 4.158 85.949

  11 .560 3.733 89.682 12 .500 3.331 93.014 13 .400 2.669 95.683 14 .335 2.233 97.916 15 .313 2.084 100.000

  Engkus

  Tabel 4 Total Variance Explained mengindikasikan secara terdapat 5 faktor yang memiliki eigenvalue sekurang-kurangnya 1. Berdasarkan kriteria tersebut, pada tahapan ini terdapat lima faktor yang akan dipergunakan untuk menggantikan 15 variabel kinerja. Tabel 4 tersebut di atas menunjukkan bahwa Faktor 1 mampu menjelaskan variasi sebesar 25,202%, Faktor 2 sebesar 11,885%, Faktor 3 sebesar 8,493%, Faktor 4 sebesar 7,838%, dan Faktor 5 sebesar 6,772. Secara keseluruhan, keempat faktor tersebut menghasilkan variasi sebesar 60,591%.

4.3. Pembentukan Komposit

  Tabel 5 Rotated Component Matrix mengindikasikan variabel-variabel apa saja berdasarkan loading factor terbesar yang membentuk suatu faktor. Tabel tersebut menunjukkan pengelompokkan variabel-variabel ke dalam lima faktor yang membentuk variabel (tercetak tebal).

  Engkus

  Engkus

Tabel 5. Rotated Component Matrix

  Variable Component K1 K2 K3 K4 K5 K1 -.187 .257 -.130 .644 .341 K2 .362 -.072 .088 .685 .013

K3 .292 -.097 .364 .642 -.113

K4 .785 .013 -.051 .077 .145 K5 .756 .110 .039 -.009 .029

K6 .568 .028 .077 .201 -.091

K7 -.002 .085 -.006 .203 .729

  K8 .558 .228 .008 .001 .510 K9 .659 .201 .212 .145 .143

K10 .201 .032 .345 -.185 .664

  K11 .206 .194 .595 .209 .035 K12 -.037 .090 .795 .022 .117 K13 -.036 .632 .425 -.153 .081 K14 .171 .797 .253 .129 -.039

K15 .203 .757 -.101 .008 .216

  Extraction Method: Principal Component Analysis

  Tabel 5 Rotated Component Matrix menunjukkan pengelompokkan variabel-variabel ke dalam lima faktor yang membentuk variabel baru (tercetak tebal). Tidak ada penamaan khusus untuk masing-masing faktor, karena tujuan analisis faktor disini hanya ringkasan bukan menemukan atau mengkonfirmasikan teori. Pengelompokan yang membentuk komposit memiliki komposisi disajikan pada Tabel 6. Sebagai contoh, variabel komposit K5 tersusun atas komposit item nomor 7 dan nomor 10 dari kuesioner. Skor pada komposit merupakan rata-rata dari gabungan pembentuknya (Hair et al., 1998 : 236).

  Hasil analisis faktor menunjukkan bahwa variabel mengelompok ke dalam 5 komponen : a.

  

Komponen pertama tersusun atas 5 variabel yang mencakup (1) pengetahuan

dan keterampilan yang mencukupi, (2) memahami langkah, prosedur dan

  

metode, (3) kebijakan dan prosedur sebagai landasan,(4) ketepatan waktu

penyelesaian, dan (5) kualitas pekerjaan.

  b.

  

Komponen kedua tersusun atas 3 variabel yang mencakup (1) bekerja lebih

keras, (2) hasrat kuat, serta (3) konsentrasi dan upaya terbaik.

  c.

  

Komponen ketiga tersusun atas 2 variabel yang mencakup (1) cara baru dalam

penyelesaian pekerjaan, dan (2) tidak merasa terikat oleh cara lama.

  d.

  

Komponen keempat tersusun atas 3 variabel yang mencakup (1) membantu

rekan kerja, (2) mendorong semangat dan menjaga kekeluargaan, serta (3)

pertukaran informasi dengan rekan kerja.

  e.

  

Komponen kelima tersusun atas 2 variabel yang mencakup (1) disiplin dalam

waktu istirahat, dan (2) akurasi dalam pekerjaan.

  Temuan ini berbeda dengan hasil studi Borman et al. (2000) yang

menemukan 3 komponen. Dilihat dari jumlah komponen, studi ini sejalan dengan

studi Borman dan Motowidlo (1993) yang menemukan 5 komponen. Namun

demikian ada sedikit perbedaan dalam isi pengelompokkan. Pada studi ini,

komponen ke lima berdiri sendiri. Pada studi Borman dan Motowidlo (1993),

kedua komponen tersebut termasuk pada following organizational rules and

procedures . Perbedaan lain, pada studi ini, variabel pengetahuan dan

keterampilan yang mencukupi termasuk pada komponen pertama. Pada studi

Borman dan Motowidlo (1993) merupakan komponen tersendiri. Meskipun ada

sedikit perbedaan, studi ini dapat dikatakan mengkonfirmasikan taksonomi 5

komponen dan lebih mendukung temuan Borman dan Motowidlo (1993).

V. KESIMPULAN & KETERBATASAN

  Studi ini mencoba menyusun taksonomi yang contextual performance

selama ini kurang memperoleh porsi dalam riset. Hasil studi menunjukkan bahwa

contextual performance tersusun atas 5 komponen pembentuknya. Taksonomi 5

Engkus

  Engkus

komponen ini mendukung temuan 5 komponen dari Borman dan Motowidlo

(1993) dan berbeda dengan taksonomi 3 komponen dari Borman et al. (2001).

  Studi ini bersifat preliminary, dan tentunya memiliki sejumlah

keterbatasan. Subjek pegawai negeri sipil merupakan keterbatasan fundamental,

mengingat pengukuran contextual performance pada awalnya dirancang untuk

sektor privat. Untuk itu, dibutuhkan lebih banyak studi pada sektor yang berbeda.

  

REFERENSI

  Behn, Robert D. 2003. Why Measure Performance? Different Purposes Require Different Measures . Public Administratian Review, Vol. 63, No. 5, pp.

  586-606.

  

Borman, W. C., Penner, L. A., Allen, T. D., and Motowidlo S. J. 2001.

  Personality Predictors of Citizenship Performance. International Journal of Selection and Assessment , Vol. 9, pp. 52–69.

Borman, W. C., and Motowidlo, S. J. 1993. Expanding the Criterion Domain to

Include Elements of Contextual Performance. In N. Schmitt & W. C.

  Borman (Eds.). Personnel selection. San Francisco: Jossey-Bass.

Borman, W. C., and Motowidlo, S. J. 1997. Task Performance and Contextual

Performance: The meaning for Personnel Selection Research. Human

  Performance , Vol. 10, pp. 99-109.

  Campbell, J.P., McCloy, R.A., Oppler, S.H., & Sager, C.E. 1993. A Theory of Performance. In N. Schmitt and W. Borman (Eds.), Personnel Selection in Organizations. San Francisco, CA: Jossey-Bass.

  Coleman, V. I., & Borman, W. C. 2000. Investigating the Underlying Structure of the Citizenship Performance domain. Human Resources Management

  Review , Vol. 10, pp. 25-44.

  Combs, James., Yongmei Liu., Angela Hall., and David Ketchen. 2006. How Much Do High-Performance Work Practise Matter? A Meta-Analysis of Their Effect on Organizational Performance. Personnel Psychology, Vol.

  59, pp. 501-528. Griffin, Mark A., Andrew Neal., and Matthew Neale. 2000. The Contribution of Task Performance and Contextual Performance to Effectiveness: Investigating the Role of Situational Constraints. Applied Psychology: An International Review , Vol. 49 No. 3, pp. 517-533.

  Hair, Joseph F. Jr., Rolph E. Anderson., Ronald L. Tatham., and William C. th Black. 1998. Multivariate Data Analysis. New Jersey: Prentice Hall 5 ed.

  Kelly, Janet M., and David Swindell. 2002. A Multiple Indicator Approach to Municipal Service Evaluation: Correlating Performance Measurement and Citizen Satisfaction across Jurisdiction. Public Administration

  Review , Vol. 62, No. 5, pp. 610-621.

  

Motowidlo, Stephan J., and James R. Van Scotter. 1994. Evidence that Task

Performance Should be Distinguished from Contextual Performance.

  Journal of Applied Psychology , Vol. 79, pp. 475-480.

  

Motowidlo, S.J. 2003. Job performance, In W. C. Borman, D. R. Ilgen, and R. J.

  Klimoski (Eds.), Handbook of Psychology: 12. Industrial and Organizational Psychology. John Wiley and Sons, Hoboken, NJ.

  Norris, Dwight R., and Robert E. Niebuhr. 1984. Attributional Influences on the Job Performance-Job Satisfaction Relationship. Academy of Management Journal , Vol. 27 No. 2, pp. 424-431.

  Randhawa. Gurpreet. 2007. Work Performance and Its Correlates: And Empirical Study. Vision - The Journal of Business Perspective, Vol. 11 No. 1, pp.

  47-55. Sedarmayanti. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Refika Aditama. Staw, B. M., and Boettger, R. D. 1990. Task Revision: A Neglected Form of Work Performance. Academy of Management Journal, Vol. 33, No. 3, pp.

  534-559. Suliman, Abubakr M.T. 2001. Work Performance: Is It One Thing or Many

  Things? The Multidimensionality of Performance in a Middle Eastern Context. International Journal of Human Resource Management. Vol. 12, No. 6, pp. 1049-1061. Tuten, Tracy L., and Presha E. Neidermeyer. 2004. Performance, Satisfaction and

  Turnover in Call Centers: The Effects of Stress and Optimism. Journal of Business Research , Vol. 57, pp. 26-34.

  Engkus

Lanjutkan membaca

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

48 1180 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 336 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

17 272 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

3 191 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 254 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

17 348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 318 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

5 180 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 327 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 368 23