makalah pengantar pendidikan bab 1

Debby C Runtu

Maklah pengantar pendidikan

Permasalahan pendidikan

DI SUSUN OLEH
Nama: DEBBY C RUNTU
Nim: 12 312 319
Kelas: D

UNIVERSITAS NEGERI MANADO
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
TAHUN 2013

Debby C Runtu

Kata pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala RahmatNya, sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat
dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca dalam memahami permasalahan pendidikan yang sedang kita alami
saat ini.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan
dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki
bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat menjadi lebih
baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman
yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para
pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini.

Penyusun

Pengantar pendidikan

2

Debby C Runtu

Daftar Isi
Kata penganta
Daftar isi
Bab II Pendahuluan
 Latar belakang masalah
 Tujuan
 Rumusan masalah
Bab II Pembahasan Permasalahan pokok pendidikan
A. Jenis permasalahan pokok pendidikan
- Masalah pemerartaan pendidikan
- Masalah mutu pendidikan
- Masalah efisiensi pendidikan
- Masalah relafansi pendidikan
B. Penyebab rendahnya kualitas pendidikan
- Efektifitas Pendidikan Di Indonesia
- Efisiensi Pengajaran Di Indonesia
- Standardisasi Pendidikan Di Indonesia
C. Factor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah
pendidikan……...10
D. penanggulangan masalah pendidikan
Bab III penutup
 Kesimpulan
 Saran
Daftar pustaka

Pengantar pendidikan

3

Debby C Runtu

Bab I
Pendahuluan

A. Latar Belakang
Pendidikan Indonesia semakin hari kualitasnya makin rendah.
Berdasarkan Survey United Nations Educational, Scientific and Cultural
Organization (UNESCO), terhadap kualitas pendidikan di Negara-negara
berkembang di Asia Pacific, Indonesia menempati peringkat 10 dari 14
negara. Sedangkan untuk kualitas para guru, kulitasnya berada pada level 14
dari 14 negara berkembang.
Salah satu faktor rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah
karena lemahnya para guru dalam menggali potensi anak. Para pendidik
seringkali memaksakan kehendaknya tanpa pernah memperhatikan
kebutuhan, minat dan bakat yang dimiliki siswanya. Kelemahan para
pendidik kita, mereka tidak pernah menggali masalah dan potensi para siswa.
Pendidikan seharusnya memperhatikan kebutuhan anak bukan malah
memaksakan sesuatu yang membuat anak kurang nyaman dalam menuntut
ilmu. Proses pendidikan yang baik adalah dengan memberikan kesempatan
pada anak untuk kreatif. Itu harus dilakukan sebab pada dasarnya gaya
berfikir anak tidak bisa diarahkan.
Selain kurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa,
kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram.
Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa
memperhatikan kebutuhan masyarakat. Lebih parah lagi, pendidikan tidak
mampu menghasilkan lulusan yang kreatif. Ini salahnya, kurikulum dibuat di
Jakarta dan tidak memperhatikan kondisi di masyarakat bawah. Jadi, para
Pengantar pendidikan

4

Debby C Runtu

lulusan hanya pintar cari kerja dan tidak pernah bisa menciptakan lapangan
kerja sendiri, padahal lapangan pekerjaan yang tersedia terbatas. Kualitas
pendidikan Indonesia sangat memprihatinkan.
Berdasarkan analisa dari badan pendidikan dunia (UNESCO), kualitas
para guru Indonesia menempati peringkat terakhir dari 14 negara
berkembang di Asia Pacifik. Posisi tersebut menempatkan negeri agraris ini
dibawah Vietnam yang negaranya baru merdeka beberapa tahun lalu.
Sedangkan untuk kemampuan membaca, Indonesia berada pada peringkat 39
dari 42 negara berkembang di dunia. Lemahnya input quality, kualitas guru
kita ada diperingkat 14 dari 14 negara berkembang. Ini juga kesalahan
negara yang tidak serius untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dari
sinilah penulis mencoba untuk membahas lebih dalam mengenai pendidikan
di Indonesia dan segala dinamikanya.
B. Tujuan
Sesuai dengan pembahasan masalah di atas, maka tujuan penulisan adalah
1. Mendeskripsikan hal-hal yang menjadi penyebab rendahnya mutu
pendidikan di Indonesia.
2. Mendeskripsikan solusi yang dapat diberikan dari permasalahanpermasalahan pendidikan di Indonesia.
3. Mampu mendeskripsikan masalah pokok pendidikan
4. Mampu menjelaskan upaya pemecahan masalah pokok pendidikan
5. Mampu menjelaskan saling hubungan antara masalah-masalah pokok
pendidikan
6. Mampu menjelaskan pengaruh perkembangan IPTEK, pertumbuhan
penduduk, dan aspirasi masyarakat terhadap perkembangan masalah
pendidikan
Pengantar pendidikan

5

Debby C Runtu

C. Rumusan Masalah
1. Apa saja yang menjadi penyebab rendahnya kualitas pendidikan di
Indonesia?
2. Bagaimana solusi yang dapat diberikan dari permasalahan-permasalahan
pendidikan di Indonesia?
3. Apa yang menjadi permasalahan pendidikan?
4. Bagaimana upaya pemecahan masalah pendidikan?
5. Bagaimana pengaruh perkembangan IPTEK, pertumbuhan penduduk, dan
aspirasi masyarakat terhadap perkembangan masalah pendidikan?

Bab II
Pembahasan
A. Permasalahan pokok pendidikan
Perumusan pendidikan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari
kehidupan sosial budaya dan masyarakat sebagai supra sistem.
Pembangunan sistem pendidikan tidak mempunyai arti apa-apa jika tidak
sinkron dengan pembangunan nasional . kaitan yang erat antara bidang
pendidikan sebagai sistem dengan sistem sosial budaya sebagai supra sistem
tersebut di mana sistem pendidikan menjadi bagiannya, menciptakan kondisi
sedemikian rupa sehingga permasalahan intern dalam sistem pendidikan itu
Pengantar pendidikan

6

Debby C Runtu

selalu ada kaitan dengan masalah-masalah di luar sistem pendidikan itu
sendiri. Misalnya masalah mutu hasil belajar suatu sekolah tidak dapat
dilepaskan dari kondisi sosial budaya dan masyarakat di sekitarnya, dari
mana murid-murid sekolah tersebut berasal, serta masih banyak lagi faktorfaktor lainnya di luar sistem persekolahan yang berkaitan dengan mutu hasil
belajar tersebut.Berdasarkan kenyataan tersebut maka penanggulangan
masalah pendidikan juga sangat kompleks, menyangkut komponen dan
pihak.
Pada dasarnya ada dua masalah pokok yang dihadapi oleh dunia
pendidikan diindonesia ini yaitu:
1. Bagaimana semua warga Negara dapat menikmati kesempatan
pendidikan.
2. Bagaiman pendidikan dapat membekali peserta didik keterampilan kerja
yang mantap untuk dapat terjun ke dalam kancah kehidupan
bermasyarakat.
Yang pertama mengenai masalah pemerataan dan yang kedua adalah
masalah mutu, relevansi dan juga efisiensi pendidikan.
B. Jenis Permasalahan Pokok Pendidikan.
1. Masalah Pemerataan Pendidikan
Masalah pemerataan pendidikan adalah persoalan bagaimana system
pendidikan dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya kepada
seluruh warga Negara untuk memperoleh pendidikan, sehingga pendidikan
itu menjadi wahana bagi pembangunan sumberdaya manusia untuk
menunjang pembangunan. Pada masa awalnya, masalah pemerataan di tanah
air kita telah
dinyatakan dalam UU No.4 tahun 1950 sebagai dasar-dasar pendidikan
Pengantar pendidikan

7

Debby C Runtu

dan pengajaran di sekolah Bab XI, Pasal 17, selanjutnya dalam kaitannya
wajib belajar Bab VI, Pasal 10 Ayat 1.
Tujuan yang terkandung dalam upaya pemerataan pendidikan tersebut
yaitu menyiapkan masyarakat untuk dapat berpartisipasi dalam
pembangunan, maka setelah upaya pemerataan pendidikan terpenuhi,
mulailah diperhatikan upaya pemerataan mutu pendidikan.
2. Masalah Mutu Pendidikan.
Pokok permasalahan mutu pendidikan lebih terletak pada masalah
pemrosesan pendidikan. Selanjutnya kelancaran pemrosesan pendidikan
ditunjang oleh komponen pendidikan yang terdiri dari peserta didik, tenaga
kependidikan, kurikulum, sarana pembelajaran, bahkan juga masyarakat
sekitar.
Masalah mutu pendidikan juga mencakup masalah pemerataan mutu.
Di dalam TAP MPR RI 1988 tentang GBHN dinyatakan bahwa titik berat
pembangunan pendidikan di letakkan pada peningkatan mutu setiap jenjang
dan jenis pendidikan. (BP-7 Pusat. 1989:68). Umumnya kondisi mutu
pendidikan di seluruh tanah air menunjukkan bahwa di daerah terpencil lebih
rendah dari pada di daerah perkotaan.
3. Masalah Efisiensi Pendidikan.
a) Beberapa masalah efisiensi pendidikan yang penting ialah:
a.Bagaimana tenaga kependidikan difungsikan.
b. Bagaimana prasarana dan sarana pendidikan digunakan.
c. Bagaimana pendidikan diselenggarakan.
d. Masalah efisiensi dalam memfungsikan tenaga.
Pengantar pendidikan

8

Debby C Runtu

Masalah pengangkatan terletak pada kesenjangan antara stok tenaga
yang tersedia dengan jatah pengangkatan yang sangat terbatas. Masalah
penempatan guru, khususnya guru bidang penempatan studi, sering
mengalami kepincangan, tidak disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Misalnya guru bahasa Indonesia harus mengajarkan matematika.
Gejala tersebut membawa ketidak efisienan dalam memfungsikan tenaga
guru. Masalah pengembangan tenaga kependidikan di lapangan biasanya
terlambat, khususnya pada saat menyongsong hadirnya kurikulum baru.
b) Masalah efisiensi dalam penggunaan prasarana dan sarana.
Penggunaan prasarana dan sarana pendidikan yang tidak efisien bisa
terjadi antara lain sebagai akibat kurang matangnya perencanaan dan sering
juga karena perubahan kurikulum. Perubahan kurikulum sering membawa
akibat tidak dipakainya lagi buku paket siswa dan buku pegangan guru
beserta perangkat lainnya karena harus diganti dengan buku-buku yang baru.
Semuanya ini menggambarkan bahwa dibaliknya pembaharuan terjadi
pemborosan, meski sukar dielakkan.
4. Masalah Relevansi Pendidikan.
Masalah relevansi pendidikan mencakup sejauh mana system
pendidikan dapat menghasilkan luaran yang sesuai dengan kebutuhan
pembangunan. Luaran pendidikan diharapkan dapat mengisi semua sector
pembangunan yang beraneka ragam sektor produksi, sektor jasa dll.
Sebenarnya kriteria relevansi seperti tersebut cukup ideal jika
dikaitkan dengan kondisi system pendidikan pada umumnya pada umumnya
dan gambaran tentang kerjaan yang ada antara lain sebagai berikut:
 Status lembaga pendidikan sendiri masih bermacam-macam kualitasnya.
 System pendidikan tidak pernah menghasilakn luaran siap pakai, yang ada
ialah siap kembang.
Pengantar pendidikan

9

Debby C Runtu

 Peta kebutuhan tenaga kerja dengan persyaratan yang dapat digunakan
sebagai pedoman oleh lembaga-lembaga pendidikan untuk menyusun
progamnya tidak tersedia. Dari keempat macam masalah pendidikan tersebut
masing-masing
dikatakan teratasi jika pendidikan:
1) Dapat menyediakan kesempatan pemerataan belajar, artinya: semua
warganegara yang butuh pendidikan dapat ditampung dalam suatu satuan
pendidikan.
2) Dapat mencapai hasil yang bermutu, artinya: perencanaan, pemrosesan
pendidikan dapat mencapai hasil sesuai dengan tujuan yang telah
dirumuskan.
3) Dapat terlaksana secara efisien, artinya: pemrosesan pendidikan sesuai
dengan rancangan dan tujuan yang ditulis dlam rancangan.
4) Produknya yang bermutu tersebut relevansi, artinya: hasil pendidikan
sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan.
C. Penyebab Rendahnya Kualitas Pendidikan di Indonesia
Di bawah ini akan diuraikan beberapa penyebab rendahnya kualitas
pendidikan di Indonesia secara umum, yaitu:
1. Efektifitas Pendidikan Di Indonesia
Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi
pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu
penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm
kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan
Pengantar pendidikan

10

Debby C Runtu

pendidik tidak tahu goal apa yang akan dihasilkan sehingga tidak
mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini
merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran.
Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.
Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal
dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya
manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal
tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanakan pendidikan di jenjang
yang tinggi dan dapat dianggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu
jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat
rendah. Setiap orang mempunyai kelebihan dibidangnya masing-masing dan
diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan
hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.
2. Efisiensi Pengajaran Di Indonesia
Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan
dengan proses yang lebih murah. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih
baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa
melupakan proses yang baik pula.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya
biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu
pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses
pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber
daya manusia Indonesia yang lebih baik.
3.Standardisasi Pendidikan Di Indonesia
Pengantar pendidikan

11

Debby C Runtu

Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga
berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah
melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.
Tinjauan terhadap standardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan
mutu pendidikan akhirnya membawa kami dalam pengunkapan adanya
bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang
terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan
tujuan pendidikan tersebut.
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah
hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan
rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan
jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita
mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan
di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.
Selain beberapa penyebab rendahnya kualitas pendidikan di atas, berikut ini
akan dipaparkan pula secara khusus beberapa masalah yang menyebabkan
rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.
 Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan
tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media
belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap.
Sementara laboratorium tidak standar, pemakaian teknologi informasi
tidak memadai dan sebagainya. Bahkan masih banyak sekolah yang tidak
memiliki gedung sendiri, tidak memiliki perpustakaan, tidak memiliki
laboratorium dan sebagainya.
Pengantar pendidikan

12

Debby C Runtu

Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi
karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini
juga terjadi di SMP, MTs, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan
persentase yang tidak sama.
 Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan
guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan
tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu
merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan
penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor penentu
keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral
pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar
memberikan andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi
tanggung jawabnya. Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga
dipengaruhi oleh masih rendahnya tingkat kesejahteraan guru.
 Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat
rendahnya kualitas pendidikan Indonesia. Berdasarkan survei FGII (Federasi
Guru Independen Indonesia) pada pertengahan tahun 2005, idealnya seorang
guru menerima gaji bulanan serbesar Rp 3 juta rupiah. Sekarang, pendapatan
rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 460 ribu,
dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan
pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan
pekerjaan sampingan. Ada yang mengajar lagi di sekolah lain, memberi les
Pengantar pendidikan

13

Debby C Runtu

pada sore hari, menjadi tukang ojek, pedagang mie rebus, pedagang
buku/LKS, pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya (Republika, 13 Juli,
2005).
 Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas
guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak
memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa
Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in
Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya
berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di
ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi
siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara
tetangga yang terdekat.
Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari
materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk
uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat
terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
 Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat
Sekolah Dasar. Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat
terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan
menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh
karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang
tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.

Pengantar pendidikan

14

Debby C Runtu

 Rendahnya Relevansi Pendidikan Dengan Kebutuhan
Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur.
Data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan
angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusan SMU sebesar
25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%, sedangkan pada
periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja cukup tinggi untuk
masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan 15,07%..
Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja
ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional terhadap
keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

 Mahalnya Biaya Pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini sering muncul untuk
menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk
mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman
Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat
miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin
tidak boleh sekolah.
Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari
kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis
Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya
untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan
Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur
pengusaha.
D. Factor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah pendidikan

Pengantar pendidikan

15

Debby C Runtu

Permasalahan pokok pendidikan merupakan masalah pembangunan
mikro, yaitu masalah-masalah yang berlangsung didalam sistem pendidikan
itu sendiri. Masalah mikro tersebut berkaitan dengan masalah makro
pembangunan, yaitu masalah diluar sisitem pendidikan, sehingga juga harus
diperhitungkan didalam memecahkan masalah mikro pendidikan. Masalah
makro ini berupa antara lain masalah perkembangan internasional, masalah
demografi, masalah politik, ekonomi dan sosial budaya, serta masalah
perkembangan regional.
Dan selanjutnya akan mengemukakan masalah-masalah makro yang
merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi berkembangnya masalah
pendidikan, yaitu:
1) Perkembangan iptek dan Beni.
2) Laju pertumbuhan penduduk.
3) Aspirasi Masyarakat
4) Keterbelakangan budaya clan sarana kehidupan.
5) Permasalahan pembelajaran
Perkembangan Iptek dan Seni
a. Perkembangan Iptek
Terdapat hubungan yang eras antara pendidikan dengan iptek (ilmu
pengetahuan dan teknologi). Ilmu pengetahuan merupakan hasil eksplorasi
secara sistem dan terorganisir mengenai alam semesta, dan teknologi adalah
penerapan yang direncanakan dari ilmu pengetahuan untuk memenuhi
kebutuhan hidup masyarakat.
Sebagai contoh betapa eratnya hubungan antara pendidikan dengan
iptek itu, misalnya sering suatu teknologi baru yang dugunakan dalam suatu
proses produksi menimbulkan kondisi ekonomi sosial baru lantaran
perubahan persyaratan kerja, dan mungkin juga penguraian jumlah tenaga
Pengantar pendidikan

16

Debby C Runtu

kerja atau jam kerja, kebutuhan bahan-bahan varu, sistem pelayanan baru,
sampai berkembangnya gaya hidup baru, kondisi tersebut minimal dapat
mempengaruhi perubahan isi pendidikan dan metodenya, bahkan mungkin
rumusan baru tunjangan pendidikan , otomatis juga sarana penunjangnya
seperti sarana laboratorium dan ketenangan. Semua tersebut tentu membawa
masalah dalam skala nasional yang tidak sedikit memakan biaya.
b. Perkembangan Seni
Kesenian merupakan aktivitas berkreasi manusia, secara individual
ataupun kelompok yang menghasilkan sesuatu yang indah. Berkesenian
menjadi kebutuhan hisup manusia. Malalui kesenian manusia dapat
menyalurkan dorongan berkreasi (mencipt) yang bersifat orisinil (bukan
tiruan) dan dorongan spontanitas dalam menemukan keindahan. Seni
membutuhkan pengembangan.
Dengan memperhatikan alasan-alasan diatas maka sudah seyogianya
jika dunia seni dikembangkan melalui sistem pendidikan secara terstruktur
dan terprogram. Pengembangan kualitas seni secara terprogram menuntut
tersedianya sarana pendidikan. Disinilah timbulnya masalah pendidikan
kesenian yang mempunyai fungsi begitu penting tetapi di sekolah –sekolah
saat ini menduduki kelas dua. Pendidikan kesenian baru terlayani setelah
program studi yang lain terpenuhi pelayanannya. Itulah sebabnya mengapa
kesenian tidak termasuk ebtanas, disamping juga sulit menyediakan tenaga
pendidiknya. Lagi pula sarana penunjang umumnya tidak tersedia secara
memadai karena mahal.
Laju Pertumbuhan Penduduk
Masalah kependudukan dan kependidikan bersumber pada 2 hal,
yaitu:
Pengantar pendidikan

17

Debby C Runtu

a. Menurut Emil Salim (Conny R. Semiawan, 1991: 18) Gambaran
pertambahan penduduk adalah sebagai berikut:
Dari sekarang hingga abad XXI, terus menerus bahan pendudukan
akan terjadi pertambahan jumlah penduduk meskipun gerakan berhasil.
Sebabnya karena tingkat kematian menurun labih cvepat yaitu sebesar 4.5 %
dari turunnya tinggi kelahiran, yait6u sebesar 3,5 %. Hal tersebut juga
mengakibatkan berubahnya susunan umur penduduk. Dengan bertambahnya
jumlah penduduk, maka penyedian prasarana dan sarana pendidikan serta
komponen penunjang terselenggaranya pendidikan harus ditambah. Dan ini
berarti beban pembangunan nasional menjadi bertambah. Dan juga terjadi
pergeseran permintaan akan fasilitas pendidikan, yaitu untuk sekolah
lanjutan cenderung lebih meningkat dibanding dengan permintaan akan
fasilitas sekloah dasar. Sebagai akibat lanjutan, permintaan untuk lanjut ke
perguruan tinggi juga meningkat, khusus untuk penduduk usia tua yang
jumlahnya meningkat perlu disediakan pendidikan nonformal.
b. Penyebaran Penduduk
Penyebaran penduduk diseluruh pelosok tanah air tidak merata. Ada
daerah yang dapat penduduk, terutama dikota-kota besar dan daerah yang
padat penduduk, terutama dikota-kota besar dan daerah yang penduduknya
jarang yaitu didaerah pedalaman khususnya didaerah
terpencil yang berlokasi dipegunungan dan pulau-pulau. Sebaran penduduk
seperti digambarkan itu menimbulkan kesulitan dalam hal penyediaan dan
penempatan guru. Disamping sebaran penduduk seperti digambarkan itu
dengan pols yang static (di kota padat, di desa jarang) juga perlu
diperhitungkan adanya arus perpindahan penduduk dari desa ke kota
(urbanisasi) yang terusw menerus terjadi. Peristiwa ini menimbulkan pola
yang dinamis dan labil yang lebih menyulitkan perencanaan penyediaan
Pengantar pendidikan

18

Debby C Runtu

sarana pendidikan. Pola yang labil ini juga merusak pola pasaran kerja yang
seharunya menjadi acuan dalam pengadaan acuan dalam pengadaan tenaga
kerja.
Aspirasi Masyarakat
Dalam dua warsa terakhir ini, aspirasi masyarakat dalam banyak hal
meningkat, khususnya aspirasi terhadap pendidikan hidup yang sehat,
aspirasi terhadap pekerjaan , kesemuanya ini mempengaruhi peningkatan
aspirasi terhadap pendidikan. Pendidikan dianggap memberikan jaminan
bagi peningkatan taraf hidup dan pendakian ditangga social. Sebagai akibat
dari meningkatnya aspirasi terhadap pendidikan maka orang tua mendorong
anaknya untuk bersekolah, agar nantinya anak-anaknya memperoleh
pekerjaan yang lebih baik daripada orang tuanya sendiri. Apa akibat yang
timbul dari perubahan social tersebut? Gejala yang timbul ialah
membanjinya pelamar pada sekolah-sekolah. Arus pelajar menjadi
meningkat. Di kota-kota, di samping pendidikan formal mulia bermunculan
beraneka ragam penidikan nonformal.
Keterbelakang Budaya dan Sarana Kehidupan
Keterbelakang budaya adalah suatu istilah yang diberikan oleh
sekelompok masyarkat (yang menganggap dirinya sudah maju) kepada
masyarakat lain pendukung suatu budaya, kebudayaanya dipadang sebagai
sesuatu yang bernilai dan baik. Terlepas dari kenyataan apakah
kebudayaannya tersebut tradisional atau sudah ketinggalan zaman. Karena
itu penilaian dari masyarakat luar itu dianggap subjektif. Semestinya
masyarakat luar bukan harus menilainya hanya melihat bagaimana kesesuaia
n kebudayaan tersebut dengan tuntutan zaman. Dan bukankah pendidikan
Pengantar pendidikan

19

Debby C Runtu

mempunyai misi sebagai transformasi budaya (dalam hali ini adalah
kebudayaan nasional). Sebab sebagai system pendidikan yang tangguh
adalah yang bertumpu pada initnya sehingga tidak pernah ketinggalan
zaman. Jika system pendidikan dapat menggapai masyarakat terbelakang
kebudayaannya berarti melibatkan mereka untuk berperan serta dalam
pembangunan.
Permasalahan Pembelajaran
Pelaksanaan kegiatan belajar adalah sesuatu yang sangat penting
dalam dunia pendidikan. Dalam kegiatan belajar formal ada dua subjek yang
berinteraksi, Yaitu pengajar/pendidik (guru/dosen) dan peserta didik ( murid/
siswa, dan mahasiswa).
Pada saat sekarang ini, kegiatan pembelajaran yang dilakukan
cenderung pasif, dimana seorang pendidik selalu menempatkan dirinya
sebagai orang yang serba tahu. Hal ini akan menimbulkan kejengahan
terhadap peserta didik. Sehingga pembelajaran yang dilakukan menjadi tidak
menarik dan cenderung membosankan. Kegiatan belajar yang terpusat
seperti ini merupakan masalah yang serius dalam dunia pendidikan.
Guru / dosen yang berpandangan kuno selalu menganggap bahwa
tugasnya hanyalah menyampaikan materi, sedangakan tugas
siswa/mahasiswa adalah mengerti dengan apa yang disampaikannya. Bila
peserta didik tidak mengerti, maka itu adalah urusan mereka. Tindakan
seperti ini merupakan suatu paradigma kuno yang tidak perlu dipertahankan.
Dalam hal penilaian, Pendidik menempatkan dirinya sebagai penguasa
nilai. Pendidik bisa saja menjatuhkan, menaikan, mengurangi dan
Pengantar pendidikan

20

Debby C Runtu

mempermainkan nilai perolehan murni seorang peserta didik. Pada satu
kasus di pendidikan tinggi, dimana seorang dosen dapat saja memberikan
nilai yang diinginkannya kepada mahasiswa tertentu, tanpa mengindahkan
kemampuan atau skill yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Proses
penilaian seperti sungguh sangat tidak relevan.

E. Penanggulangan masalah pendidikan
Penanggulangan masalah pendidikan dalam hal ini untuk mengatasi masalah
1.

Pemerataan Pendidikan

2.

Mutu dan Relevansi Pendidikan

3.

Efisiensi dan Efektifitas Pendidikan
Pemerintah dapat mengupayakan penanggulangan dalam mengatasi
masalah pendidikan yaitu sbb:

1. pemerataan pendidikan
Langkah-langkah yang di tempuh oleh pemerintah untuk
meningkatkan pemerataan pendidikan melalui cara konvensional dan cara
inovasi.
Cara konvensional antara lain:
a. Membangun gedung sekolah seperti SD Inpres dan atau ruangan
belajar.
b. Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (system bergantian
pagi dan sore).
Cara inovatif antara lain:
a. System pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua dan guru) atau
INPACT System (Intructional Managemant by Parent,Community and
Teacher).
Pengantar pendidikan

21

Debby C Runtu

b. SD kecil pada daerah terpencil.
c. Sistem Guru Kunjung.
d. SMP terbuka (ISOSA-In School out off School Approach).
e. Kejar paket A dan B.
f. Belajar jarak jauh seperti Universitas Terbuka.
2. mutu dan relafansi pendidikan
Pada dasarnya pemecahan masalah mutu pendidikan bersasaran pada
perbaikan kualitas komponen pendidikan (utamanya komponen masukan
mentah untuk jenjang pendidikan menengah dan tinggi, dan komponen
masukan instrumental) serta mobilitasi komponen komponen tersebut.
Upaya pemecahan masalah mutu pendidikan dalam garis besarnya
meliputi hal-hal yang bersifat fisik dan perangkat lunak, personalia dan
manajemen sebagai berikut:
a. Seleksi yang lebih rasional terhadap masukan mentah, khususnya
untuk SLTA dan P.T.
b. Pengembangan kemampuan tenaga kependidikan melalui studi lanjut
latihan, penataran, seminar, kegiatan-kegiatan kelompok studi seperti PKG
dll.
c. Penyempurnaan kurikulum (materinya yang esensial dan mengandung
muatan local, metode yang menantang dan menggairahkan belajar,evaluasi
beracuan PAP).
d. Pengembangan prasarana yang menciptakan lingkungan yang tenteram
untuk belajar.
e. Penyempurnaan sarana belajar seperti buku paket, media pembelajaran, dan
peralatan lab.
f. Peningkatan administrasi manajemen khususnya yang mengenai
anggaran.
Pengantar pendidikan

22

Debby C Runtu

g. Kegiatan pengendalian mutu berupa kegiatan-kegiatan:
1) Laporan penyelanggaraan pendidikan oleh semua lembaga pendidikan.
2) Supervise dan monitoring pendidikan oleh penilik dan pengawas.
3) System ujian nasional/Negara.
4) Akreditasi terhadap lembaga pendidikan untuk menetapkan status suatu
lembaga.
Untuk mengatasi masalah-masalah Rendahnya kualitas sarana fisik,
Rendahnya kualitas Guru, rendahnya kesejaahtraan guru, Rendahnya
prestasi siswa, Kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan, Rendahnya
relevansi pendidikan dengan kebutuhan, mahalnya biaya pendidikan. secara
garis besar ada dua solusi yang dapat diberikan yaitu:
Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem
sosial yang berkaitan dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem
pendidikan sangat berkaitan dengan sistem ekonomi yang diterapkan. Sistem
pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam konteks sistem
ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain
meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik,
termasuk pendanaan pendidikan.
Maka, solusi untuk masalah-masalah yang ada, khususnya yang
menyangkut perihal pembiayaan seperti rendahnya sarana fisik,
kesejahteraan guru, dan mahalnya biaya pendidikan berarti menuntut juga
perubahan sistem ekonomi yang ada. Akan sangat kurang efektif kita
menerapkan sistem pendidikan Islam dalam atmosfer sistem ekonomi
kapitalis yang kejam. Maka sistem kapitalisme saat ini wajib dihentikan dan
diganti dengan sistem ekonomi Islam yang menggariskan bahwa pemerintahPengantar pendidikan

23

Debby C Runtu

lah yang akan menanggung segala pembiayaan pendidikan negara.
Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis
yang berkait langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk
menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada upayaupaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Rendahnya
kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan kesejahteraan,
juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan untuk
meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya, diberi
solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi pelajaran,
meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan, dan
sebagainya.

Pengantar pendidikan

24

Debby C Runtu

Bab III
Penutub

 Kesimpulan
Kualitas pendidikan di Indonesia memang masih sangat rendah bila di
bandingkan dengan kualitas pendidikan di negara-negara lain. Hal-hal yang
menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas, efisiensi, dan standardisasi
pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Masalah-masalah lainya yang
menjadi penyebabnya yaitu:
(1). Rendahnya sarana fisik,
(2). Rendahnya kualitas guru,
(3). Rendahnya kesejahteraan guru,
(4). Rendahnya prestasi siswa,
(5). Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan,
(6). Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan,
(7). Mahalnya biaya pendidikan.
Adapun solusi yang dapat diberikan dari permasalahan di atas antara lain
dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan dengan sistem
pendidikan, dan meningkatkan kualitas guru serta prestasi siswa.

 Saran
Perkembangan dunia di era globalisasi ini memang banyak menuntut
perubahan kesistem pendidikan nasional yang lebih baik serta mampu
bersaing secara sehat dalam segala bidang. Salah satu cara yang harus di
lakukan bangsa Indonesia agar tidak semakin ketinggalan dengan negaraPengantar pendidikan

25

Debby C Runtu

negara lain adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikannya terlebih
dahulu.
Dengan meningkatnya kualitas pendidikan berarti sumber daya manusia
yang terlahir akan semakin baik mutunya dan akan mampu membawa
bangsa ini bersaing secara sehat dalam segala bidang di dunia internasional.

Pengantar pendidikan

26

Debby C Runtu

Daftar pustaka

Joesoef, Daoed, 2001. “Pembaharuan Pendidikan dan Pikiran”, dalam Sularto ( ed .).
Masyarakat Warga dan Pergulatan Demokrasi: Antara Cita dan Fakta. Jakarta: Kompas.
Suyanto, 2007, “Tantangan Profesionalisme Guru di Era Global”, Pidato Dies Natalis ke43 Universitas Negeri Yogyakarta, 21 Mei.
Hopkins, David (1993) A Teacher Guide to Classroom Reseach. Philadelpia: Open
University Press.
Muhadjir, Noeng, 1987. Ilmu Pendidikan dan Perubahan Social: Suatu Teori Pendidikan.
Yogyakarta: Reka Sarasih
Shane, Harlod G., 1984. Arti Pendidikan bagi Masa Depan. Jakarta: Rajawali Pers.
Rizqal W. 2012. Masalah pendidikan di Indonesia. Akses :
http://rizqa15.student.fkip.uns.ac.id/2012/05/08/masalah-pendidikan-di-indnesiayang-aktual-saat ini./ Waktu 1 Mey 2013

Pengantar pendidikan

27

Dokumen yang terkait

Dokumen baru