BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kriptografi - Perancangan Aplikasi Kombinasi Algoritma Steganografi Least Significant Bit dan Alagoritma Kriptografi Kanpsack Merkle-Hellman pada Citra Bitmap

BAB 2 LANDASAN TEORI

2.1 Kriptografi

  Dewasa ini, kriptografi menjadi suatu syarat yang paling penting dalam keamanan informasi. Berbagai aspek keamanan seperti kerahasiaan data, keabsahan data, integritas data, dan autentifikasi merupakan hal yang dicakup sebagai tujuan kriptografi. Ketika suatu pesan akan dikirimkan, isi pesan tersebut mungkin disadap oleh pihak yang tidak berhak. Agar pesan tidak dapat dibaca oleh penyadap, maka kriptografi berperan sebagai suatu teknik yang dapat mengubah pesan menjadi serangkaian kode yang tidak dimengerti oleh pihak lain.

2.1.1 Sejarah dan Konsep Kriptografi

  Kriptografi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata kryptos, yang artinya rahasia dan graphein, yang artinya tulisan. Para sejarawan percaya bahwa hieroglif Mesir, yang dimulai sekitar tahun 1900, merupakan contoh pengenkripsian yang paling awal. Kunci yang dapat memecahkan rahasia hieroglif adalah Rosetta Stone, ditemukan tahun 1799 di Mesir dan sekarang ditempatkan di British Museum, London. Francois Champollion, menggunakan Rosetta Stone, mendekripsi hieroglif pada tahun 1822 [9].

  Kriptografi adalah ilmu yang berfokus pada cara untuk memproteksi data menggunakan teknik enkripsi dan proses lain yang berhubungan. Matematika merupakan hal yang penting dalam dunia kriptografi, karena hanya dengan pengetahuan matematis dapat dikembangkan prosedur yang dibutuhkan untuk mengenkripsi data secara aman. Hal penting lainnya adalah komputer. Komputer menjalankan prosedur enkripsi dan melakukan layanan lainnya dengan mencoba kelemahan metode kriptografi [14].

  Ide utama dari sebuah sistem kriptografi adalah untuk menyamarkan informasi rahasia dengan cara yang tidak dapat dipahami oleh pihak yang tidak berhak. Dua kegunaan umum kriptografi adalah untuk menyimpan data secara aman dikomputer dan untuk mengirimkan data melalui saluran yang tidak aman seperti internet. Faktanya adalah bahwa pesan yang terenkripsi tidak mencegah pihak lain untuk mengakses pesan tersebut, tetapi dapat dipastikan bahwa pihak lain tidak dapat mengerti apa yang mereka lihat [12].

  Dasar dari kriptografi adalah pemakaian teknik enkripsi. Pesan yang akan dikirimkan – berupa teks, data numerik, dan data jenis lain – disebut dengan

  

plaintext . Setelah melalui proses enkripsi, plaintext tersebut berubah menjadi

ciphertext . Proses untuk mengembalikan ciphertext menjadi plaintext disebut

  dengan proses dekripsi. Untuk melakukan proses dekripsi diperlukan adanya suatu kunci rahasia[5].

2.1.2 Terminologi Kriptografi

  Beberapa istilah umum atau terminologi yang berhubungan dengan kriptografi dapat ditemukan pada standar internasional RCF 2828 yaitu [18]:

  1. Confidentiality, secrecy: suatu jaminan bahwa informasi tidak dapat diakses oleh pihak yang tidak berhak.

  2. Privacy: suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengontrol bagaimana informasi pribadinya menyebar dalam suatu komunitas. Istilah ini merupakan sinonim dari secrecy.

  3. Code: sekumpulan simbol yang merepresentasikan informasi.

  4. Coding theory: ilmu tentang transformasi kode yang memungkinkan adanya pengiriman informasi melalui saluran komunikasi dengan cara yang dapat diandalkan. Biasanya teori ini berfokus pada saluran yang ramai dan mencoba membuat agar informasi dapat diungkap oleh semua orang (istilah ini merupakan kebalikan dari kriptografi, dimana informasi hanya untuk pihak yang berhak).

  5. Encode, Decode: proses dasar pada coding theory; suatu proses untuk mentransformasi informasi menjadi kode, dan mengembalikan informasi dari kode tersebut.

  6. Cryptography: ilmu tentang kode rahasia memungkinkan adanya kerahasiaan komunikasi melalui saluran yang tidak aman. Kriptografi juga didefinisikan sebagai suatu ilmu tentang pengamanan informasi terhadap pihak yang tidak berhak. Algoritma kriptografi merupakan algoritma matematis yang menghasilkan suatu proteksi.

  7. Cipher: kode rahasia, suatu kode publik yang berhubungan dengan informasi rahasia.

  8. Cryptography system: kumpulan algoritma kriptografi yang terdiri atas sandi dan pola kriptografi.

  9. Cryptosystem: singkatan dari cryptography system yang sering digunakan pada istilah ”public-key cryptosystem” yang merupakan algoritma kriptografi yang memiliki sepasang kunci.

  10. Cleartext: informasi yang dapat disandikan menggunakan kode publik.

  11. Plaintext: masukan pada algoritma enkripsi (biasanya merupakan cleartext).

  12. Ciphertext, cryptogram: informasi yang disandikan dengan menggunakan sistem kriptografi.

  13. Encryption, encipherment, decryption, decipherment: proses dasar kriptografi yaitu mentransformasi plainteks menjadi ciphertext dan sebaliknya.

  14. Cryptanalysis, cryptographic analysis, cryptoanalysis: toeri tentang analisis keamanan sistem kriptografi.

  15. Breaking a cryptosystem: suatu pembuktian kelemahan sistem kriptografi dengan memaparkan cara mendekripsi pesan.

  16. Cryptology: ilmu tentang kriptografi dan kriptanalisis.

2.1.3 Penggunaan Kriptografi

  Menurut [14], terdapat beberapa media yang menggunakan teknik kriptografi melalui jalur internet. Diantaranya adalah:

  1. E-mail. Hingga saat ini, surat elektronik yang telah disandikan menjadi daya tarik utama dalam dunia internet.

  2. World Wide Web. WWW tidak hanya menjadi arena bermain bagi para pengguna internet. WWW telah banyak digunakan sebagai alat untuk mengakses basis data, administrasi sistem komputer, dan pusat perbelanjaan. Pada masing-masing keadaan tersebut, terknik enkripsi sangat dibutuhkan.

  3. Koneksi klien server. Perkembangan sistem komputer berdampak pada perkembangan komunikasi dan adanya aliran yang besar tentang informasi rahasia.

  4. Jaringan rahasia virtual. Perusahaan dengan beberapa cabang sering mengelompokan jaringan lokal dengan koneksi seperti ISDN. Semua data akan dienkripsi apabila berada diluar jaringan perusahaan dan kemudian akan didekripsi apabila telah berada di wilayah perusahaan.

  5. Sistem pembayaran. Kriptografi menjaga keamanan dalam melakukan transaksi berupa transfer uang melalui internet.

  6. Remote access. Beberapa layanan seperti Telnet atau Rsh berfungsi untuk

  mengakses komputer dari jarak jauh menggunakan internet. Kriptografi berperan dalam mengenkripsi data selama proses berlangsung.

2.1.4 Kriptografi Kunci Publik

  Suatu sistem kriptografi yang terdiri atas kumpulan transformasi enkripsi dan dekripsi disebut dengan sistem kriptografi kunci publik atau suatu sistem kriptografi asimetrik jika sepasang kunci yaitu kunci untuk proses enkripsi dinamakan kunci publik, disebarkan kepada publik, dan kunci untuk proses dekripsi dinamakan kunci privat, dijaga kerahasiaannya.

  Beberapa aspek penting pada sistem kriptografi kunci publik dapat dijelaskan sebagai berikut [10]:

  1. Keamanan. Dengan adanya sistem kriptografi kunci publik, hanya kunci privat yang harus dijaga kerahasiaannya sedangkan kunci publik disebarkan dengan bebas.

  2. Usia pemakaian. Sistem kriptografi kunci publik memiliki pasangan kunci yang dapat digunakan tanpa perlu adanya perubahan dalam waktu yang lama.

  3. Manajemen kunci. Pada jaringan multiuser, lebih sedikit kunci privat yang dibuuthkan.

  4. Pertukaran kunci. Pada Sistem kriptografi kunci publik, tidak dibutuhkan adanya pertukaran kunci privat antar entitas.

2.1.5 Kriptografi Knapsack Merkle-Hellman

  Sistem kripto Knapsack Merkle-Hellman mengambil masalah super-increasing

  

knapsack sebagai kunci privat dan membentuknya menggunakan suatu

transformasi. Hasil transformasi ini yang kemudian menjadi kunci publik.

  Transformasi dapat diselesaikan dengan mengambil nilai integer N dan M (nilai

  greatest commod divisor ataugcd), yaitu

  gcd(N,M) = 1 dan mengalikan semua nilai deretan super-increasing dengan N (mod M). Contohnya adalah sebagai berikut:

  Deretan super-increasing knapsack {2,6} N = 31 dan M = 105. Proses transformasi yang terjadi adalah:

  (2*31) mod 105 = 62 (6*31) mod 105 = 81

  Maka kunci publik yang dihasilkan adalah {62,81}. Hasil ini merupakan kunci publik dengan maksud bahwa hanya pihak yang mengetahui nilai N dan M saja yang dapat mentransformasi kembali ke bentuk super-increasing knapsack[15].

  Proses enkripsi algoritma ini dapat dijelaskan dengan contoh berikut. Misalkan plaintext adalah 011110, kunci publik yang digunakan adalah seperti contoh diatas, yaitu {62,81}. Kemudian plaintext dibagi menjadi blok-blok dengan ukuran 6 dan setiap bit di dalam blok dikalikan dengan elemen yang berkoresponden pada kunci publik.

  Blok 1 : 01  0*62 + 1*81 = 81 Blok 2 : 11  1*62 + 1*81 = 143 Blok 3 : 10  1*62 + 0*81 = 62 maka ciphertext yang dihasilkan adalah 81,143,62.

  Proses dekripsi dapat dilakukan dengan mengalikan masing-masing

  • -1

  deretan ciphertext dengan W B kemudian hasilnya dimodulokan dengan

  • -1

  

N ,keduanya adalah parameter rahasia. W merupakan invers dari bilangan

B

  B

  integer N yang telah ada sebelumnya dan N B merupakan bilangan integer yang relatif prima terhadap N. Artinya adalah suatu modular akan memiliki invers apabila kedua bilangan memiliki nilai greatest common divisor sama dengan satu [17].

  • -1

  Konsep balikan modular dapat dirumuskan dengan a. a ≡1 (mod n),

  • -1

  dengan keterangan a dan n adalah bilangan integer dan a adalah invers dari a

  • - [10]. Pada contoh diatas, nilai N = 31, M = 105, maka nilai untuk mencari nilai N

  1 -1

  , dengan konsep modular yaitu N. N ≡ 1 (mod M). Untuk itu kita lakukan

  • -1 -1 percobaan agar N. N (mod M) = 0.

  ≡ 1, dimulai dari N

Tabel 2.1 Perhitungan invers

  • -1 -1

  N N. N (mod M)

  1

  31

  2

  61

  3

  93

  4

  19

  5

  50 : :

  61

  1

  • -1

  Pada table diatas, terlihat bahwa N. N (mod M) akan sama dengan satu

  • -1

  pada nilai N ke 61. Dengan menggunakan konsep modulo bahwa apabila:

  

a (mod b) = 1 a = 1 + k * b,

  dengan a dan b adalah bilangan integer dan k adalah faktor pengali, sehingga konsep modular diatas dapat menjadi:

  • -1

  N. N (mod M)

  ≡ 1

  • -1

  N. N

  ≡ 1 + k * M

  • -1

  N

  ≡ (1 + k * M) div N

  • -1

  Untuk memperoleh nilai N , maka perhitungan dimulai dengan nilai k sama dengan nol.

  Proses dekripsi dilakukan dengan mengalikan masing-masing nilai

  • -1

  

plaintext dengan N dan kemudian dimodulokan dengan M. Ciphertext =

  • -1

  {81,143,62}. Nilai N adalah 31 dan M adalah 105. Maka nilai N adalah 61 pada k = 18. Dengan demikian didapat nilaiplaintext:

  61*81 (mod 105) = 6 61*143 (mod 105) = 8

  61*62 (mod 105) = 2 Maka nilai plaintext= {6, 8, 2}. Masing-masing ciphertext dikonversi kedalam bentuk biner dengan menggunakan konsep persoalan knapsack dengan algoritma berikut [15]:

  Algoritma 2.1 : Penyelesaian persoalan super-increasing knapsack

  Step 1: for i = n downto 1 do Step 1a: if S >= w then i Step 1b: b i = 1 ; Step 1c: S = S - w ; i end Step 1d: else b i = 0 ; Step 2: end Step 3: if S = 0 then return (b ,b ,…,b ) ; 1 2 n else return (“No Solution”) ; dengan n adalah banyaknya bilangan kunci privat, i adalah indeks, S adalah target (bilangan ciphertext setelah ditransformasi dengan rumusan dekripsi), w adalah bilangan pada deretan kunci privat, b adalah plaintext dalam bentuk biner.

  Pada contoh diatas, nilai untuk n adalah 2, S = {6,8,2}, dan w = {2,6}. Selanjutnya, untuk masing-masing S, dilakukan proses dengan algoritma 8.1, menghasilkan S = {61 0, 81 1, 20 1}. Sehingga diperoleh nilai b yang merupakan biner plaintext yaitu 1 0 1 1 0 1. Selanjutnya nilai b disusun dimulai dari indeks pertama sampai ke n. Maka nilai biner plaintext menjadi 0 1 1 1 1 0.

  Deretan super-increasing adalah sebuah urutan bilangan real positif S

  1 ,

S , ... jika setiap elemen dari urutan lebih besar dari jumlah dari semua elemen

  2 sebelumnya dalam urutan [17].

  Dapat diformulasikan, untuk 1 ≤k n dan 1 ≤i n,

  −1

  < �

  =1

  dengan keterangan:

  k dan i : indeks pada deretan super-increasing a : bilangan dalam deretan super-increasing

2.2 Algoritma Euclidean

  Bentuk pertama algoritma Euclidean berasal dari Cina pada dinasti Han, antara tahun 200 SM dan 200 M. Algoritma ini digunakan untuk menyederhanakan pecahan dengan membagikan pembilang dan penyebut dengan faktor persekutuan terbesarnya, dan juga untuk mencari penyelesaian bilangan bulat dari persamaan linear [16].

  Algoritma Euclidean adalah suatu algoritma untuk menentukan faktor persekutuan terbesar dari dua bilangan bulat [3]. Algoritma ini menghasilkan suatu nilai yang dapat membagi nilai a dan b, berupa integer tanpa menghasilkan sisa. Dua buah bilangan disebut relatif prima apabila nilai faktor persekutuan terbesar kedua bilangan itu sama dengan satu.

  Berikut ini adalah pseudocode untuk Algoritma Euclidean yang dapat menghitung faktor persekutuan terbesar dari dua buah bilangan bulat.

  Algoritma 2.2 : Algoritma Euclidean

  function gcd(int m, int n){ r = m mod n; if r=0 return n; else return gcd(n,r);

  } Misalkan m = 11 dan n=7, maka langkah-langkah atau perhitungan yang dilakukan adalah sebagai berikut.

  1. Dihitung nilai r, yaitu m mod n, adalah 11 mod 7 = 4. Karena r tidak sama dengan nol, maka fungsi gcd dipanggil kembali dengan parameter n,r = gcd(7,4).

  2. Dihitung nilai r, yaitu 7 mod 4 = 3. Karena r tidak sama dengan nol, maka fungsi gcd dipanggil kembali dengan parameter n,r = gcd(4,3).

  3. Dihitung nilai r, yaitu 4 mod 3 = 1. Karena r tidak sama dengan nol, maka fungsi

  gcd dipanggil kembali dengan parameter n,r = gcd(3,1).

  4. Dihitung nilai r, yaitu 3 mod 1 = 0. Karena r sama dengan nol, maka akan menghasilkan nilai n yaitu 1. Karena gcd(11,7) sama dengan satu, maka kedua bilangan ini adalah relatif prima.

  Algoritma Euclidean sangat efisien, bahkan pada deretan angka yang panjang dan sering digunakan pada kriptografi kunci publik. Jumlah iterasi hampir sama dengan jumlah inputan [11].

2.3 Steganografi

  Teknik yang digunakan pada steganografi meliputi banyak sekali metode komunikasi untuk menyembunyikan suatu pesan yang bersifat rahasia dapat berupa teks, gambar, atau audio. Sama halnya dengan kriptografi, steganografi berfungsi untuk meningkatkan keamanan informasi. Tetapi steganografi memiliki suatu kelebihan dibandingkan dengan kriptografi, yaitu keberadaan pesan tidak diketahui oleh pihak lain karena pesan disembunyikan pada sebuah media.

2.3.1 Sejarah Steganografi

  Penemu kata steganografi adalah Trithemius, pengarang terbitan awal kriptografi: Polygraphia dan Steganographia. Istilah teknisnya berasal dari bahasa Yunani yaitu kata steganos yang berarti tersembunyi dan graphia yang artinya tulisan.

  Steganografi adalah seni komunikasi tersembunyi. Keberadaan pesan adalah rahasia. Selain tinta tidak kelihatan, contoh steganografi yang paling sering adalah cerita kuno Herodotus [192], yang memberitahukan seorang budak telah dikirim oleh pemiliknya, Histiaeus, ke kota Ionian Miletus dengan sebuah pesan rahasia yang ditato dikulit kepalanya. Setelah ditato, budak tersebut menumbuhkan kembali rambutnya untuk menyembunyikan pesan. Kemudian budak tersebut dirimkan ke Miletus dan setelah sampai, rambut kepalanya dicukur untuk menampakkan pesan kepada bupati kota yaitu Aristagoras. Pesannya berisi dorongan agar Aristagoras memulai pemberontakan melawan raja Persia [4].

  Bangsa Cina menggunakan steganografi selama masa dinasti Yuan untuk pemberontakan ketika Cina diperintah oleh bangsa Mongolia. Pemimpin pada saat itu merasa tidak senang dengan pengajuan aturan asing, yang kemudian menciptakan suatu metode yang berhubungan dengan pemberontakan tanpa diketahui. Pemimpin pemberontakan yang mengetahui bahwa festival bulan akan segera dilaksanakan, memerintahkan untuk membuat kue khusus yang disebut kue bulan. Didalam masing-masing kue tersebut terdapat sebuah pesan yang berisi skema penyerangan. Pada malam festival bulan, kue tersebut disebarkan dan para pemberontak dengan sukses menyerang pemerintahan [13].

  Steganografi juga digunakan pada perang dunia pertama. Salah satu metodenya disebut dengan istilah Turning Grille, yang berbentuk seperti terali biasa, selembar kertas karton persegi yang dibagi menjadi sel-sel dengan beberapa sel menjorok keluar. Untuk menggunakan Turning Grille, sipembuat pesan harus menuliskan huruf-huruf pada barisan pertama pesan dan kemudian merotasi terali tersebut 90 derajat dan menuliskan barisan berikutnya sampai barisan terakhir. Bangsa Jerman menyediakan terali yang berbeda untuk pasukannya yang dapat digunakan pada pesan yang memiliki panjang berbeda. Bangsa Perancis dapat menemukan serangan untuk sistem ini dan terali hanya bertahan selama empat bulan. Pemakaian lain juga ditemukan ketika seorang wanita yang dicurigai bekerja untuk bangsa Jerman. Pada tapak sepatu wanita itu ditemukan selembar kertas kosong, dan setelah diketahui terdapat pesan rahasia yang ditulis dengan tinta yang tidak tampak [8].

2.3.2 Kategori Steganografi

  Pada semua metode steganografi, suatu cara dilakukan untuk menyembunyikan pesan; secara umum teknik tersebut dapat dibedakan dan dianalisa agar diketahui apa yang terjadi selama proses berlangsung. Menurut [8], terdapat enam kategori pada steganografi yaitu:

  1. Teknik sistem substitusi. Teknik ini menggantikan tempat dari bit yang berlebihan pada cover object dengan bit pesan rahasia.

  2. Teknik transformasi domain. Contohnya adalah pengiriman dan penerimaan citra berformat JPEG melalui internet. JPEG merupakan citra yang terkompresi.

  Selama proses kompresi, citra JPEG akan membuat suatu perkiraan agar ukurannya semakin kecil, perubahan dan perkiraan itu adalah ruang transformasi dan dapat digunakan untuk menyembunyikan informasi.

  3. Teknik penyebaran spektrum. Teknik ini terbagi atas dua jenis yaitu direct sequence dan frequency hopping.

  4. Teknik metode statistik. Teknik ini menyisipkan satu bit informasi hanya pada sebuah digital carier hingga menghasilkan suatu perubahan statistik walaupun perubahan tersebut kecil. Teknik ini didasarkan pada kemampuan penerima yang dibedakan menjadi cover object yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.

  5. Teknik distorsi. Metode ini menghasilkan perubahan pada cover object untuk menyembunyikan informasi. Pesan rahasia dapat terungkap ketika algoritma membandingkan adanya perubahan, antara cover object dengan aslinya.

  6. Metode cover generation. Metode ini merupkan metode yang paling unik, karena menghasilkan suatu cover object sebagai tujuan utama penyembunyian informasi.

  Metode steganografi Least Significant Bit termasuk pada kategori teknik sistem substitusi.

2.3.3 Penggunaan Steganografi Terdapat banyak alasan mengapa dibutuhkan komunikasi secara rahasia.

  Contohnya adalah ketika dua orang ingin menyembunyikan hubungan mereka. Atau dalam bidang politik dalam kasus ketika suatu organisasi ingin berkomunikasia antar anggotanya atau dengan organisasi yang dilarang diluar negara mereka. Dapat pula ditemukan pada tindak kriminal, seperti organisasi teroris. Steganografi yang berhasil tidak dapat dideteksi, maka kebanyakan aplikasinya tidak disebarluaskan kepada publik. Berikut adalah dua penggunaan steganografi menurut [4].

1. Steganografi untuk pemberontak.

  Banyak negara yang tidak menyetujui pemberontakan. Terdapat tiga cara yang digunakan oleh para pemberontak untuk menyembunyikan komunikasi mereka, antara lain dengan teknik enkripsi, pesan tanpa nama, dan steganografi. Enkripsi dapat menjaga keamanan komunikasi para pemberontak dan jika kunci yang digunakan cukup besar, maka kemungkinan teknik dekripsi dapat ditiadakan. Namun disayangkan, ketika dua orang sedang bertukar pesan yang telah disandikan menunjukan bahwa mereka memiliki sesuatu yang disembuyikan. Musuh mungkin dapat menangkap mereka dan mendapatkan kunci dekripsi dengan menggunakan siksaan. Cara berikutnya, yaitu pengiriman pesan tanpa nama, memungkinkan dua orang untuk berkomunikasi tanpa diketahui. Akan tetapi musuh dapat memantau proses pengiriman. Karena alamat IP pengirim tanpa nama diketahui, musuh dapat memutus semua komunikasi pada alamat tersebut. Hal ini mungkin terjadi karena pemerintah memiliki kontrol yang penuh atas jaringan komunikasi nasional. Steganografi merupakan cara teraman bagi para pemberontak untuk berkomunikasi karena keberadaannya yang sulit untuk diketahui.

2. Steganografi pada tindak kriminal

  Pada era demokrasi, negara memiliki hak untuk memantau para penduduknya berdasarkan hukum nasional. Contohnya di Amerika, penyadapan telepon dijinkan dengan alasan perintah oleh pemerintah pusat. Selama masa itu setiap orang berada dibawah pengwasan. Badan keamanan seperti FBI, biasanya menyembunyikan segala bentuk operasi pengawasan. Teknik enkripsi dapat digunakan untuk menjamin kerahasiaan komunikasi bagi anggota organisasi kriminal. Namun FBI dapat mengindentifikasi penerima pesan terenkripsi tersebut dan para konspirator. Pengirim pesan tanpa nama juga dapat membantu komunikasi antar anggota komunikasi. Penggunaan cara ini tidak termasuk pelanggaran dan FBI tidak memiliki wewenang untuk meniadakan akses surat- menyurat. Namun badan peleksana undang-undang menuntut akses terhadap informasi yang berasal dari pengirim tanpa nama. Oleh karena itu, steganografi dianggap sebagai alternatif untuk menggantikan cara berkomunikasi secara rahasia lainnya. Salah satu kelemahan steganografi adalah kedua pihak yang berkomunikasi harus mempunyai program steganografi di komputer mereka.

2.3.4 Metode Least Significant Bit

  Salah satu sistem steganografi substitusi adalah Least Significant Bit (LSB). LSB bekerja sebagai berikut: di dalam coverdigital (file gambar, audio, atau video), terdapat banyak pixel; bit terakhir pada tiap pixel merupakan bit yang digunakan menyembunyikan pesan rahasia, dengan cara menggantikan tempat bit terakhir tersebut dengan pesan rahasia [8].

  Contoh steganografi memakai metode LSB adalah sebagai berikut. Pesan rahasia yang akan kita sisipkan adalah 1100. Bit file sampul yang akan menjadi media penyembunyi pesan adalah 11001100 11011011 11110001 11110101 maka hasil steganonya adalah 11001101 11011011 11110000 11110100.

2.4 Citra Bitmap

  Bit merupakan elemen primitif dalam dunia digital. Bit menunjuk pada angka biner, sedangkan map merupakan matriks dua dimensi dari bit ini. Bitmap berarti matriks sederhana dari titik-titik kecil yang membentuk sebuah citra dan ditampilkan dilayar komputer atau dicetak [2]. Citra Bitmap memiliki ekstensi .bmp dan mendukung warna RGB dengan kedalaman 1, 4, 8, 16, atau 24 bit. Citra Bitmap tidak mendukung adanya animasi [6].

  Struktur sebuah citra Bitmap terdiri atas header Bitmap, header informasi Bitmap, tabel warna dan data citra atau byte array yang mendefinisikan sebuah citra Bitmap [19].

  1. HeaderBitmap terdiri atas informasi yang meliputi tipe, ukuran, dan layout sebuah citra Bitmap.

  2. Header informasi Bitmap terdiri atas dimensi, tipe kompresi, dan format warna untuk citra Bitmap.

  3. Tabel warna terdiri atas elemen array yang sama dengan warna yang ditampilkan pada citra Bitmap.

4. Data citra merupakan byte array yang terdiri atas informasi warna masing-masing piksel.

  Berikut adalah contoh citra Bitmap dengan berbagai bit depth.

Gambar 2.1 Citra Bitmap 24bit

  Citra diatas memiliki bit depth (kedalaman)24-bit, artinya citra memiliki tiga layer. Citra ini disebut juga dengan citra true color dengan rentang warna

  24 dimulai dari nol sampai 2 atau 16777215.

Gambar 2.2 Citra Bitmap 8bit

  Citra diatas memiliki bit depth (kedalaman)8-bit, artinya citra memiliki rentang warna dimulai dari nol sampai 2

  8 atau 255.

Gambar 2.3 Citra Bitmap 1bit

  Citra diatas memiliki bit depth (kedalaman)1-bit, artinya citra ini hanya memiliki dua warna yaitu 0 dan 1 yang direpresentasikan dengan hitam dan putih.

Dokumen yang terkait

Perancangan Aplikasi Kombinasi Algoritma Steganografi Least Significant Bit dan Alagoritma Kriptografi Kanpsack Merkle-Hellman pada Citra Bitmap

5 82 102

Implementasi Kriptografi Algoritma Elgamal Dengan Steganografi Teknik Least Significant Bit (LSB) Berdasarkan Penyisipan Menggunakan Fungsi Linier

5 81 114

Pengamanan Data Menggunakan Kriptografi EC Signcryption dan Steganografi Least Significant Bit (LSB) Dini Triasanti

1 1 9

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian dan Tujuan Kriptografi - Implementasi Kombinasi Tiny Encryption Algorithm (TEA) Dan Algoritma Least Significant Bit(LSB)Untuk Keamanan File Text

0 1 15

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kriptografi - Simulasi Pencarian Kunci Privat dengan Algoritma Silver-Pohlig-Hellaman pada Algoritma Kriptografi Elgamal

1 2 14

BAB 2 LANDASAN TEORI - Steganografi Teks Menggunakan Pangram Dan Medium Citra Pada Enhanced Least Significant Bit

0 0 22

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Citra - Perbandingan Penyisipan Pesan ke dalam File Citra True color dengan Algoritma End of File (EOF) dan Least Significant Bit (LSB).

1 4 18

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Steganografi - Analisis dan Perancangan Pengujian Nilai MSE (Mean Squared Error) pada Proses Penyisipan Label Citra dengan Menggunakan Metode Modified Least Significant Bit (MLSB)

0 0 17

BAB 2 LANDASAN TEORI - Analisis Ketahanan Watermarking Citra dengan Algoritma Modified Least Significant Bit (MLSB)

0 0 16

BAB II DASAR TEORI 2.1. Watermarking - Analisis Kombinasi Algoritma Watermarking Modified Least Significant Bit Dengan Least Significant Bit +1

0 0 25