DEDY PERWIRA D. SATRIA FISIP

UPAYA KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA (KBRI)
DI SINGAPURA DALAM PELAYANAN WARGA NEGARA
INDONESIA (WNI) DAN PERLINDUNGAN TERHADAP TENAGA
KERJA INDONESIA BERMASALAH (TKI-B) DI SINGAPURA
ANTARA TAHUN 2011 - 2015

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh
Dendy Perwira D. Satria
1110113000086

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2017

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Skripsi yang berjudul:
UPAYA KEDWAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA DI SINGAPUM DALAM
PEI,,AYANAN I|IARGA NEGAM INDONESIA (ITIND DAN PERLINDUNGAN

TERHADAP TENAGA KERJA BERMASAI-AH €KI-B) DI SINGAPUM

ANTA\A TAHW 2ot I - 2ots

1.

Merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar Strata 1

di Universitas lslam Negeri rufN)

Syarif Hidayatullah Jakarta.

)

Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan

sesuai dengan ketentuan yang berlaku

di

ini telah saya cantumkan

Universitas Islam Negeri (UIN)

Syarif Hidayatullah Jakarta.
3.

Jika di kemudiagr hari terbukti bahwa karya saya'ini bukan hasil karya asli
saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia

menerirna sanksi yang berlaku

di Universitas

Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

arta.

3l Mei 2017

ffiw.
enaerlsosoosod

Eidy Perwiia unrra Satria

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPS I

Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan mahasiswa:

Nama
NIM
Program

: DendY Penvira

Dhira Satria

: 1110113000086

Studi : Hubunlan

Internasional

telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judut:

UPAYA KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA DI SINGAPURA
DALAM PELAYANAN WARGA NEGARA INDONESI,A (WND DAN
PERLINDLINCAN TERHADAP TENAGA KERIA BERMASALAH (TKI-B)
DI SINGAPURA ANTARA TAHUN 2O1I . 2015

dan telah memenuhi persyaratan untuk

diuji.

Jakarta,3l Mei 2017
Menyetujui,
Pembimbing Skripsi

Drs.-Aiyub Mohsin, MA

NIP.020001540

ilt

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI
Skripsi

UPAYA KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA DI SINGAPURA

DALAM PELAYANAN WARGA NEGARA INDONESIA (WND DAN
PERLINDIINGAN TERHADAP TENAGA KERJA INDONESIA
BERMASALAH (TKr-B) DI SINGAPURA ANTARA TAHLIN 20tt - 2015
Oleh
Dendy Perwira Dhira Satria
1 101 13000086
telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullatr Jakarta pada tanggal
..........2017. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Hubungan Internasional.
Sekretaris Sidang

NIP.

nguji I,

Irfan R.
NIP.
Diterima

utagalung L.L.M

dan

dinyatakan
tanggal...... .................2017 .

memenuhi

tv

syarat kelulusan

pada

ABSTRAKSI
Hubungan bilateral yang dilakukan Indonesia dengan Singapura telah
berlangsung lama dan telah diterapkan juga ke bidang ekonomi dan
ketenagakerjaan. Fokusnya pada bidang penempatan Tenaga Kerja lintas Negara
dilakukan, yang lebih didominasi oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk
mengadu peruntungan di negeri jiran tersebut. Beberapa faktor pendorong TKI
memilih Singapura ialah kondisi geografis dan demografi yang memiliki beberapa
persamaan dan kedekatan. Dengan semakin banyaknya penempatan TKI ke
Singapura maka dalam hal ini Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Kedutaan
Besar Republik Indonesia (KBRI) sebagai garda terdepan di Luar Negeri dengan
perwakilan Pemerintah Singapura yakni Ministry of Man Power (MOM).
Senantiasa bekerjasama dengan badan terkait baik di Indonesia maupun Singapura
seperti Badan Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) .
KBRI sesuai dengan fungsi dan tanggungjawabnya, akan bekerja
semaksimal mungkin dalam pelayanan WNI dan memberikan perlindungan
terhadap TKI Bermasalah (TKI-B) di Singapura agar haknya terpenuhi oleh
Hukum Singapura. Yang mana Hukum Singapura yang establish dengan
perundang-undangan mengatur Tenaga Kerja asing termasuk TKI. KBRI
melakukan diplomasi komunikasi aktif dengan instansi terkait, apabila terdapat
kasus yang diadukan WNI maupun TKI. Apabila terdapat kasus hukum pidana
atau berat KBRI akan melakukan pendampingan dengan bekerjasama pengacara
setempat hingga pembacaan vonis hukuman termasuk pembelaan setiap
persidagangan pengadilan.
Kata Kunci: WNI, TKI Bermasalah (TKI-B), KEMLU RI, MOM Singapura, KBRI
Singapura, BNP2TKI, diplomasi bilateral, pelindungan hukum dan pelayanan

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Dzat yang paling agung
Allah SWT yang telah melimpahkan Rahman dan Rahiem-Nya serta shalawat dan
salam tetap tercurah kepada junjungan kita dan penghulu kita Nabi Muhammad
SAWW, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul
“Upaya Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura dalam Pelayanan Warga
Negara Indonesia (WNI) dan Perlindungan Terhadap Tenaga Kerja Indonesia
Bermasalah (TKI-B) di Singapura Tahun 2011-1015” dengan baik.
Adapun tujuan penyusunan skripsi ini ialah untuk memenuhi tugas akhir
dan untuk memenuhi syarat wajib kelulusan bagi mahasiswa/i Program Studi
Hubungan Internasional FakultasI lmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis

sadar

betul

bahwa

dibalik

keberhasilan

penulis

dalam

menyelesaikan penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak.
Untuk itu, dari lubuk hati yang terdalam, penulis ingin mengucapkan terima kasih
kepada:

1. Bapak M Adian Firnas, SIP, MSi,sebagai Ketua Program Studi Hubungan
Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dosen Pengampu Mata Kuliah
Seminar Proposal penulis, di mana di samping kesibukannya membantu
mengarahkan penulis dalam mengerjakan Proposal Skripsi hingga penelitian
ini dianggap layak untuk dilanjutkan ke bimbingan skripsi.
2. Bapak Duta Besar Drs. Aiyub Mohsin, MA sebagai dosen pembimbing yang
dengan kebijaksanaan sikap, kedalaman ilmu dan pengalaman pada dunia
diplomatik yang telah memotivasi penulis untuk kelak dapat mengikuti jejak
kariernya. Serta kepadatan aktifitasnya telah menyempatkan dan memberikan
waktunya kepada penulis dalam rangka mengarahkan dan membimbing
penulis untuk terus bersemangat menyelesaikan penulisan tugas akhir ini.
3. Bapak/Ibu Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, khususnya dosen-dosen
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, lebih khusus lagi segenap dosen

vi

Program Studi Hubungan

Internasional,

yang banyak membimbing,

mengarahkan, serta mendidik penulis dengan sabar selama menjalani studi.
4. Teristimewa kepada orangtua tercinta dan tersayang yaitu Papa Drs. H. Eddy
Murdiyono, SH., MH dan mama RA Hj. Deasy Dewantara yang selalu
memanjatkan doa bagi penulis sebagai anak semata wayangnya. Sebab ridho,
kesabaran dan motivasinya agar penulis dapat menyelesaikan studi dengan
baik dan tepat pada waktunya. Semoga beliau berdua diberikan kesehatan
yang paripurna dan menemani penulis hingga menjadi seorang diplomat kelak.
Serta bangga terhadap totalitas dan usaha keras penulis dalam menjalani studi
di kampus tercinta ini.
5. Teman-teman program studi Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta
angkatan 2009, dan terkhusus 2010 (kelas A, B, dan Internasional), 2011,
2012, 2013, 2014 dan juga 2014 yang selalu mengingatkan dan memotivasi
penulis untuk segera menyelesaikan penulisan skripsi ini. Serta membantu
penjelasan tambahan saat penulis mengambi kelas untuk mengulang atau
mengambil mata kuliah yang belum diambil.
6. Para Sahabat HI angkatan 2010 yang telah membuat geng untuk kumpulkumpul seperti Khairul Rizal, Fahmi Ramhani, Fatahillah, Whisnu
Mardiansyah, Eko Nordiasnyah dan M. Khairurrasyid yang telah membuat
keseruan dalam berteman serta menyelesaikan tugas kuliah. Tidak lupa kepada
sahabat di luar perkuliahan antara lain M.Haikal Hamdi, M. Reza, M.Yardho,
M.Giri Farras, Ali Ridho Alhaddad serta teman-teman lainnya yang telah
mendoakan dan mendukung penulis
7. Teman-teman Kuliah Kerja Nyata „KKN Akrab” UIN Syarif Hidayatullah
tahun 2014 di Desa Pagedangan Ilir Kronjo Tangerang, di mana tempat
penulis dalam mengaplikasikan ilmu dan pengalaman pada program
pengabdian masyarakat

vii

Terakhir, mengingat segala keterbatasan pengalaman dan pengetahuan,
penulis menyadari masih banyak kekurangannya dalam penulisan skripsi ini.
Meskipun demikian, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi
pengetahuan bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Jakarta, 31 Mei 2017

Dendy
Satria

viii

Perwira

Dhira

DAFTAR ISI
ABSTRAKSI ................................................................................................. v
KATA PENGANTAR .................................................................................. vi
DAFTAR ISI ............................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... x
BAB I
A

PENDAHULUAN
Pernyataan Masalah……………………………………………. 1

B

Pertanyaan Masalah…………………………………………… 10

C

Tujuan dan Manfaat Penelitian………………………………… 11

D

Tinjauan Pustaka………………………………………………... 12

E

Kerangka Teori…………………………………………………. 15

F

Metode Penelitian………………………………………………. 20

G

Sistematik Penulisan…………………………………………… 21

BAB II

Hubungan Indonesia – Singapura

A

Sejarah Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Singapura28

B

Kerjasama
Indonesia

Singapura
di
berbagai
Bidang……………………………………………………………34

C

Peningkatan

Kerja

Sama

Indonesia



Singapura

di

Bidang

Ketenagakerjaan …………………………………………………40
BAB III Bentuk – Bentuk Permasalahan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah
Indonesia (TKI-B) di Singapura
A

Kondisi dan Permasalahan Tenaga Kerja Indonesia di Singapura…43

1

Permasalahan Hukum Kasus Perdata……………………………....44

2

Permasalahan Hukum Kasus Pidana………………………………57

ix

BAB IV

Analisa

Pelayanan

Warga

Negara

Indonesia

(WNI)

serta

Perlindungan Hukum terhadap Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah
(TKI-B)
A

Sistem Pelayanan Warga Negara Indonesia (WNI) oleh Kedutaan
Besar Republik Indonesia di Singapura…………………….66

1

Kondisi internal ataupun eksternal Kedutaan Besar Republik
Indonesia (KBRI) di Singapura……………………………… 73

2

Sistem pelayanan Warga Negara Indonesia (WNI) oleh Kedutaan
Besar

B

Republik Indonesia (KBRI) di Singapura…………… 78

Penyelesaian masalah dan Perlindungan Hukum terhadap Tenaga
Kerja Indonesia Bermasalah (TKI-B) oleh Kedutaan Besar Republik
Indonesia di Singapura……………………………………… 89

1

Perlindungan Hukum yang diberikan Kedutaan Besar Republik
Indonesia (KBRI) di Singapura terhadap Tenaga Kerja Indonesia
Bermasalah (TKI-B)………………………………………… 89

2

Penyelesaian masalah dan Perlindungan Hukum terhadap Tenaga
Kerja Indonesia Berrmasalah (TKI-B) oleh Kedutaan Besar Republik
Indonesia (KBRI) di Singapura……………………………… 94

BAB 5

Penutup
Kesimpulan……………………………………………………. 98

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………… xi

LAMPIRAN-LAMPIRAN

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar I

Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menurut Negara
Penemepatan Antara Tahun 2010-2015………

Gambar II

Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menurut Negara
Penempatan Tahun 2015……………………….

Gambar III

Foto Pejabat Minister Counselor Fungsi Protokol dan
Konsuler

Kedutaan

Besar

Republik

Indonesia

di

Singapura………………………………………
Gambar IV

Foto Pejabat Counselor Fungsi Protokol dan Konsuler
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura

Gambar V

Foto Pejabat Sekretaris Tiga Fungsi Protokol dan Konsuler
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura

Gambar VI

Foto Pejabat Sekretaris Tiga Fungsi Protokol dan Konsuler
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura

Gambar VII

Foto Staf Teknis Tenaga Kerja Fungsi Protokol dan Konsuler
Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura

Gambar VIII

Salinan Surat

Keputusan Menteri

Tenaga

Kerja dan

Transmigrasi Republik Indonesia mengenai Komponen dan
Besarnya Biaya Penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia
Sektor Domestik Negara Tujuan Singapura No. 588 Tahun
2012 …………………………………………
Gambar IX

Salinan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Republik Indonesia mengenai Komponen dan
Besarnya Biaya Penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia
Sektor Domestik Negara Tujuan Singapura No. 58 Tahun
2012……………………………………………

Gambar X

Lampiran Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Republik Indonesia mengenai Komponen dan
Besarnya Biaya Penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia

xi

Sektor Domestik Negara Tujuan Singapura No. 588 Tahun
2012 ……………………………………………
Gambar XI

Lampiran Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Republik Indonesia mengenai Komponen dan
Besarnya Biaya Penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia
Sektor Domestik Negara Tujuan Singapura No. 588 Tahun
2012 …………………………………………

xii

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Pernyataan Masalah
Skripsi ini akan menganalisa tentang upaya Kedutaan Besar Republik

Indonesia (KBRI) di Singapura untuk memberikan Pelayanan kepada Warga Negara
Indonesia (WNI) dan

perlindungan hukum

terhadap Tenaga Kerja Indoneia

bermasalah di Singapura tahun 2011 hingga 2015. Beberapa alasan mengapa periode
itu dipilih, salah satunya dikarenakan pada 2011 itu pemerintah Republik Indonesia
melalui Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) tengah
melakukan upaya yang dapat dikatakan cukup maksimal dalam memberikan
perlindungan hukum bagi Tenaga Kerja Indonesia dan Buruh Migrant Indonesia di
Singapura. Di era kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang
Yudhoyono upaya perlindungan hukum Tenaga Kerja Indonesia di negeri singa itu
diusahakan untuk adanya nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding
(MoU) di antara kedua belah pihak. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda
akan terwujudnya MoU itu. Meskipun demikian Indonesia sampai saat ini tetap
menginginkan adanya MoU tersebut, dengan tetap mempertajam tugas Pemerintah
Indonesia terhadap Warga Negaranya termasuk Tenaga Kerja Indonesia di Luar
Negeri.
Hubungan bilateral antara Indonesia dengan Singapura yang merupakan
Negara sekawasan dan bertetangga menjadi salah satu faktor mulusnya hubungan
kedua Negara ini. Walaupun tidak dapat kita pungkiri dalam beberapa hal dan periode
1

hubungan itu mengalami pasang surut hubungan diplomatik Indonesia- Singapura
dilakukan secara resmi pada bulan September 1967, yang dilanjutkan dengan
pembukaan kedutaan besar di masing-masing negara. Secara politik, pada dasarnya
hubungan

Indonesia–Singapura

mengalami

fluktuasi

karena

permasalahan

menyangkut kepentingan nasional masing-masing negara, namun demikian kedua
negara memiliki fondasi dasar yang kuat untuk memperkuat dan meningkatkan
hubungan kedua negara

yang lebih

konstruktif, pragmatis dan

strategis.

Penandatanganan Perjanjian Ekstradisi dan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan antara
kedua negara di Bali tanggal 27 April 2007 salah satu koridor hukum bagi
palaksanaan dan peningkatan hubungan bilateral kedua negara, meskipun diperlukan
pendekatan-pendekatan pada tataran teknis nota kesepahaman (MoU) antar kedua
negara. Hubungan Bilateral Indonesia Singapura telah menunjukkan peningkatan di
berbagai bidang kerjasama terutama hubungan kerjasama ekonomi dan hubungan
kerjasama sosial budaya. Selain itu kunjungan antara sesama pejabat Pemerintah
maupun kalangan swasta di kedua negara telah memberikan kontribusi yang besar
bagi pengembangan hubungan kerjasama dan peningkatan investasi di kedua negara
Kondisi persebaran Warga Negara Indonesia di Singapura telah berlangsung
lama dengan faktor –faktor yang menyertainya. Mereka tidak hanya berposisi sebagai
pelajar atau mahasiswa namun banyak juga yang sebagai Tenaga Kerja. Tenaga Kerja
Indonesia di sini ada yang bekerja di sektor formal maupun nonformal. Penempatan
Tenaga Kerja Indonesia di Singapura telah berlangsung beberapa waktu. Data yang
2

diambil penulis dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia (BNP2TKI), mengungkapkan bahwa menurut waktu yang akan dipaparkan
dalam penelitian ini telah terjadi perbandingan terbalik antara kuantitas dengan
kualitas proses penempatan. Hal ini antara lain terdapat penurunan jumlah (kuantitas)
penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) di Singapura namun di sisi lain
terus digalakkan peningkatan kualitas sistem pemberangkatan warga Negara
Indonesia (WNI) khususnya penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia maupun
Buruh Migran Indonesia (BMI). Salah satu sebab penurunan jumlah (kuantitas)
penempatan TKI ke Luar Negeri dalam hal ini Singapura adalah pencapaian program
kerja Pemerintah

untuk mengurangi penempatan Tenaga Kerja pada sektor

nonformal (pekerja rumah tangga). Data itu dapat dilihat pada penempatan Calon
Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) di Singapura pada tahun 2011 sebanyak 47.786 jiwa,
pada tahun 2012 sebanyak 41.556 jiwa, pada tahun 2013 sebanyak 34.655 jiwa
kemudian pada tahun 2014 sebanyak 31,680 jiwa, pada tahun 2015 sebanyak 20,895
jiwa, kemudian penempatan pada tahun 2016 sebanyak 17.700 jiwa (di mana periode
akhir penelitian penulis) 1. Peluang kerja yang lebih mendominasi di Singapura yakni
pada sektor rumah sakit dan pijat kesehatan atau spa mencakup keperawatan
(Hospitality) dan kesehatan (Health). Skema penempatan Calon Tenaga Kerja
Indonesia (CTKI) ataupun Buruh Migran Indonesia (BMI) dilakukan secara P to P
1

http://www.bnp2tki.go.id/read/12024/Data-Penempatan-dan-Perlindungan-TKI.html bagian Subbid
Pengolahan Data , Bidang Pengolahan dan Penyajian Data (PUSLITFO BNP2TKI) diakses pada tanggal
11 Februari 2016

3

(Private to Private), mandiri maupun perekrutan langsung oleh majikan atau
pengguna (users) di Singapura.
Kondisi penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Singapura sedikit banyak
telah menimbulkan beberapa permasalahan. Permasalahan tersebut dapat terjadi saat
berjalannya proses perekrutan, penempatan di Negara tujuan hingga pemulangan ke
Tanah Air baik procedural maupun unprosedural (seperti deportasi). Permasalahan itu
muncul dapat terjadi antara perusahaan penyalur tenaga kerja yakni Perusahaan
Penyalur Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) dengan pengguna mengenai masa
depan dan kondisi TKI selama bekerja. Permasalahan atau kasus-kasus yang kerap
terjadi ini biasanya dirasakan oleh TKI yang bekerja di sektor nonformal antara lain
gaji tidak diberikan sesuai kontrak (dipotong secara berlebihan oleh PPTKIS yang
bekerja di Singapura sebagai pengganti biaya pengurusan dokumen, pelatihan dan
akomodasi ; beberapa TKI terjerat rente agen PPTKIS (yang mengakibatkan tak
pernah menerima gaji secara utuh) ; ditagih terus - menerus oleh debt collector
walaupun gaji selama ini telah dipotong kemudian adanya oknum yang menyebabkan
persoalan biaya penempatan yang besar serta harus dibebankan kepada TKI.
Periodisasi pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri, dapat
kita bagi dalam beberapa waktu yakni zaman kolonialisme dan masa setelah (pasca)
kemerdekaan Republik Indonesia. Pada zaman kolonialisme, ini dimulai pada tahun
1890-an pengiriman TKI dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan cara
mengirim buruh kontrak ke negara Suriname, Amerika Selatan yang saat itu
4

merupakan jajahan Belanda2. Saat itu Suriname mengalami kekurangan tenaga kerja
karena budak asal Afrika yang bekerja di perkebunan dibebaskan pada pertengahan
1863 sebagai pelaksanaan dari politik penghapusan perbudakan di Amerika Serikat.
Gelombang pertama TKI yang dikirim tiba di Suriname 9 Agustus 1890 dengan
jumlah 94 orang3. Pengiriman Tenaga Kerja Indonesia ke Suriname berakhir pada
tahun 1939 (sebelum perang dunia kedua), mencapai 32.986 orang. Setelah masa
kemerdekaan Indonesia, pengiriman TKI mulai menyebar ke beberapa Negara
terutama ke Negara Saudi Arabia dan Malaysia. Jumlah TKI yang tercatat pertama
kali pada 1983, yakni sebanyak 27.671 orang4. Mereka bekerja di delapan negara.
Jumlah itu membengkak pada 1992 yang mencapai 158.750 orang. Pengiriman TKI
ke luar negeri ini, mengalami beberapa kendala yang dirasakan baik oleh Pemerintah
(dalam hal ini berperan pengambil kebijakan) dan juga Tenaga Kerja itu sendiri yang
didominasi perempuan. Kendala yang ditemui dalam pengiriman tenaga kerja itu
diantaranya masih bermasalahnya sistem perekrutan TKI maupun TKW tersebut
seperti administrasi di dalam negeri sebelum keberangkatan, kemudian pengawasan
yang belum dilakukan maksimal oleh pihak-pihak yang berwenang baik oleh

http://infodarisr.blogspot.com/2014/08/sejarah-pertama-kali-pengirimantenaga.html diakses pada tanggal 2 mei 2015
3
http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-asal-usul-dan-sejarah-tki-pertama-kali.html
diakses pada tanggal 1 mei 2015
2

4

http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-asal-usul-dan-sejarah-tki-pertama-kali.html
diakses pada tanggal 1 mei 2015

5

pemerintah Indonesia sendiri maupun organisasi-organisasi lain yang terlibat dan
sistem peraturan yang mengatur pengiriman, perlindungan serta penempatan Tenaga
Kerja tersebut di Negara penerima.
Pengiriman TKI dan TKW yang juga sering disebut sebagai buruh migran
Indonesia ini, yang telah dilakukan sejak lama oleh Pemerintah Indonesia walaupun
hingga tahun 1960-an dilakukan secara orang perorang-bersifat tradisional ke luar
negeri sebagaimana disebutkan sebelumnya,

pasca kemerdekaan

Indonesia

pengiriman TKI dan TKW dilakukan ke beberapa Negara terutama menyebar di
Saudi Arabia dan Malaysia. Di samping terdapat Negara –negara lain di Asia
Tenggara selain Malaysia adalah Singapura, Brunei Darussalam. Terdapat beberapa
faktor pendorong calon Tenaga Kerja Indonesia termasuk Tenaga Kerja Wanita
diantaranya memang secara geografi dekat dengan Indonesia (ini dapat dilihat dari
faktor di lapangan bahwasanya dahulu Singapura masuk ke dalam kepulauan
Indonesia dengan nama Pulau Tumasik), Kemudian adanya keinginan untuk pelepas
dahaga akan dollar singapura dengan diiringi berbagai kondisi yang menawarkan
kemajuan serta kelengkapan fasilitas termasuk di dalamnya kondisi ekonomi Negara
tersebut. Hal ini dapat dilihat dari data yang tersedia seperti di bagian Subbid
Pengolahan Data, Bidang Pengolahan dan Penyajian Data (PUSLITFO) Badan
Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI)
bahwasanya tenaga kerja Indonesia, didominasi pekerja sector nonformal atau Penata
Laksana Rumah Tangga (PLRT). Tahun 2012, jumlah PLRT Indonesia di negara
6

yang dijuluki ”Kota Singa” itu sekitar 132.653 jiwa atau sekitar 57 persen dari total
warga negara Indonesia di sana5. Tidak hanya itu terdapat pula Tenaga Kerja
Indonesia yang bekerja di sector formal;baik di bidang perindustrian, kelautan, tenaga
kerja sector jasa dan ada juga professional. Terdapat juga warganegara Indonesia
yang tinggal di Singapura berposisi sebagai pelajar atau mahasiswa dan ibu-ibu serta
manusia lanjut usia (manula).
Masalah

ini menurut data yang dihimpun dari beberapa kurun waktu

pengiriman Tenaga Kerja Indonesia, mengalami penurunan kuantitas dari masa ke
masa. Masalah yang terjadi meliputi kasus kriminal maupun legalitas administrasi.
Kita ambil contoh Pada 2007, rata-rata 150 TKI ditampung di penampungan
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura6. Kini jumlahnya menurun
rata-rata 70 orang yang berada di penampungan. Jumlah kasus yang menimpa PLRT
pun relatif rendah, sekitar 1,7 persen dari total PLRT yang ada. Tahun 2012, jumlah
PLRT yang meminta perlindungan ke KBRI sebanyak 2.058 orang. Permasalahan
mereka terdiri dari 117 kasus hukum, 70 pelanggaran kontrak kerja, dan 1.871 kasus
disharmoni dengan majikan. Data berikutnya dari Januari-April 2013 terdapat 419

5

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/06/11/02324896/menilik.perlindungan.tki.di.singapu
ra diakses pada 13 september 2015
6

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/06/11/02324896/menilik.perlindungan.tki.di.singapu
ra diakses pada 5 0ktober 2015

7

PLRT yang tinggal di penampungan7. Kasus mereka pun telah diselesaikan.
Sebanyak 199 orang repatriasi dan 144 PLRT lainnya kembali bekerja. Penyelesaian
kasus disharmoni dapat diselesaikan dalam satu bulan. Dari akumulasi masalah antara
tahun 2002-2010, sebanyak 10 kasus ancaman hukum mati TKI di Singapura dapat
diselesaikan dengan mendapat pengurangan hukuman. Bahkan, sejak tahun 2010
hingga saat ini tidak ada lagi kasus pidana TKI dengan ancaman hukuman mati. Dari
10 kasus itu, 5 kasus di antaranya berhasil diperjuangkan dari ancaman hukuman mati
menjadi penjara seumur hidup. Kasus lainnya menjadi hukuman penjara dengan masa
tahanan yang bervariatif, mulai dari 5 sampai 20 tahun.
Mengenai pengiriman Tenaga Kerja Indonesia ke Singapura karena belum
adanya nota kesepahaman (MoU) antara kedua belah pihak sejauh ini, pemerintah
Indonesia senantiasa melakukan pendekatan diplomasi melalui ialah Kedutaan Besar
Republik Indonesia (KBRI) sebagai garda terdepan di Singapura dan sudah tentu
melibatkan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Sejauh ini telah ada
tindakan nyata KBRI di Singapura sejauh ini telah dilakukan pelayanan public
terhadap TKI maupun TKW dengan mendapat sertifikasi ISO 9001:2008. Dari hasil
audit ISO pada Februari 2012, KBRI di Singapura dinilai berhasil dan berhak
mendapatkan perpanjangan sertifikat ISO hingga 3 tahun ke depan. Tidak hanya itu,

7

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/06/11/02324896/menilik.perlindungan.tki.di.si
ngapura diakses pada 5 0ktober 2015

8

peranan besar Pemerintah Singapura dengan menegakkan hukum secara benar, baik
dan diterapkan dengan tegas. Pemerintah Singapura juga memberikan perlindungan
kepada PLRT. Sebagai contoh, jika persoalan naik gaji tak disepakati, Pemerintah
Singapura tak akan memberikan perpanjangan izin tinggal bagi PLRT. Hal lain yang
diperjuangkan oleh KBRI ialah mengenai hari libur untuk tenaga kerja khususnya
berasal dari Indonesia.
Apabila kita membicarakan keadaan domestik yang berpengaruh dalam
pengawasan perlindungan hukum Tenaga Kerja Indonesia di Singapura salah satunya
adalah jangan terlalu santer memberitakan masalah pengawasan TKI oleh media
massa lokal baik media cetak maupun elektronik. Menurut data yang telah
dikemukakan sebelumnya, masalah yang menimpa TKI itu cenderung mengalami
penurunan dari tahun ke tahun. Seiring berjalannya waktu, pemerintah Indonesia
semampu mungkin dapat memperjuangkan nasib perlindungan hukum tenaga kerja
Indonesia di Singapura agar lebih nyaman dan aman dalam pemberangkatan,
penempatan, perllindungan hingga pemulangan ke tanah air. Namun demikian ada
beberapa doronagan dalam negeri yang ingin mempertajam tujuan dari kebijakan
bilateral melalui MoU agar tidak sekedar formalitas belaka dikarenakan belum
adanya regulasi nasional yang mengatur hak-hak PRT seperti mendapatkan hari libut
dan upah minimum.
Sebagaimana yang disampaikan Aggota Komisi IX DPR RI, Poempida
Hidayatulloh, bahwa menurut amanat UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan
9

dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (UU PPTKILN), MoU
wajib dilakukan pemerintah Indonesia dengan negara tujuan

penempatan.8.

Poempida mengingatkan yang perlu dipertajam dalam MoU adalah bagaimana para
pekerja migran Indonesia terlindungi dari tindakan yang melecehkan ataupun zalim
dari majikan. Caranya dengan penegakan aturan hukum sehingga pelaku tindak
kejahatan terhadap pekerja migrant Indonesia dapat dijatuhi sanksi tegas. Tidak hanya
dari pihak Pemerintah saja, namun organisasi di luar aktor Negara yang peduli akan
ketenagakerjaan yakni Migrant Care. Hal ini diungkapkan agar tidak terkesan
formalitas saja, atau atau mengejar kuota agar pekerja migran Indonesia dapat
ditempatkan sebanyak-banyaknya ke Singapura. Hal utama yang harus dimasukan
dalam MoU adalah perlindungan bagi pekerja migrant. Di samping terus diupayakan
dikeluarkannya kesepakatan berkekuatan hukum antara kedua belah pihak mengenai
tenaga kerja asing, KBRI di Singapura telah mengoptimalkan pelayanan warga
Negara Indonesia (WNI) dan juga melakukan upaya penyelesaian Tenaga Kerja
Indonesia Bermasalah (TKI-B) dengan melakukan pendampingan terhadap TKI
tersebut.
Sejauh ini menurut Kementerian Luar Negeri Indonesia, hukum di Singapura
juga cukup adil serta relatif tidak memihak warga negaranya. Namun Pemerintah
Indonesia tetap berupaya untuk mengejar diterbitkannya perjanjian yang mengikat di

8

http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt52ea4a5ae52eb/poin-poin-usulan-revisi-imou-iindonesia-brunei diakses 27 Mei 2015

10

antara kedua Negara yakni nota kesepahaman (MoU) Selain itu Pemerintah Indonesia
pada tahun 2011 mengusahakan agar Pemerintah Singapura meratifikasi beberapa
instrument HAM seperti Convention on the Elimination of All Forms of
Discrimination against Women dan Convention on the Rights of the Child 9. Kemlu

mengungkapkan jika ratifikasi tersebut telah terjadi maka Singapura harus
memberikan perlindungan yang layak bagi pekerja asing, terutama pekerja
perempuan dan hak - hak anak. Adapun langkah yang dilakukan oleh Kedutaan Besar
Republik Indonesia (KBRI) di Singapura senantiasa berkoordinasi dengan Ministry of
Manpower (MOM) Singapura yang salah satu tugasnya adalah untuk membantu

permasalahan tenaga kerja asing di Singapura.
B.

Pertanyaan Masalah
Sebagaimana pada bab latar belakang masalah yang telah dikemukan, Penulis

mengajukan beberapa pertanyaan masalah yang akan diajukan dalam skripsi ini ialah:
1. Bagaimana Perwakilan Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kedutaan Besar
Republik Indonesia di Singapura memberikan perlindungan terhadap Tenaga
Kerja Indonesia bermasalah (TKI-B)?
2. Bagaimana respon Singapura terhadap perlindungan hukum bagi Tenaga
Kerja Indonesia di Singapura?
C.

Tujuan dan Manfaat Penelitian

9

http://pantaupjtki.buruhmigran.or.id/index.php/read/tata-kelola-ketenagakerjaan-di-singapuradianggap-cukup-baik

11

Tujuan Penelitian
a. Untuk menganalisa perlindungan hukum dan penyelesaian
terhadap TKI bermasalah (TKI-B) yang diberikan oleh
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura
periode 2011-2015
b. Untuk mengetahui kinerja Kedutaan Besar Republik Indonesia
(KBRI) di Singapura dalam memberikan Pelayanan terhadap
Warga Negara Indonesia.

Manfaat Penelitian
a. Memberikan

analisa

terkait

perlindungan

hukum

dan

penyelesaian TKI bermasalah (TKI-B) yang diberikan oleh
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura
periode 2011-2015, sehingga dapat menjadi referensi dan
pondasi awal bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan
dengan

Perlindungan

Hukum

dan

Penyelesaian

TKI

bermasalah oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI)
di Singapura.
b. Menyediakan informasi informasi tentang kondisi Kedutaan
Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura dalam
memberikan Pelayanan terhadap Warga Negara Indonesia.
12

Dengan harapan kita dapat memberikan saran bagi TKI dan
Buruh Migran Indonesia (BMI) di Singapura mengenai hak
dan kewajibannya

D.

Tinjauan Pustaka
Sebagaimana jurnal http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/pandecta yang

berjudul Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri oleh Loso
yang diterbitkan Fakultas Hukum, Universitas Pekalongan, Pekalongan, Indonesia.
Dijelaskan bahwa dalam mendeskripsikan perlindungan hukum TKI berdasarkan
peraturan UU no. 39 tahun 2004 tentang penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Luar
negeri, dijelaskan bagaimana asal dan akar dari masalah – masalah yang terjadi pada
utamanya Tenaga Kerja Wanita (TKW) walaupun ada juga yang menimpa Tenaga
Kerja Indonesia pada umumnya. Dari awal prakeberangkatan, penampungan,
penempatan di luar negeri hingga pemulangan sekalipun telah terjadi permasalah baik
skala kecil maupun besar. Di mana Masalah TKI sampai sekarang masih
menimbulkan berbagai masalah, meskipuntelah ada peraturan yang mengaturnya.
Praktek pengiriman TKI ilegal ke luar negeri hingga sekarang masih dijalankan oleh
berbagai pihak yang hanya berorientasi pada bisnis belaka. Namun disisi lain
masyarakat belum sepenuhnya memahami peraturan yang telah ada hingga sangat
mudah dipengaruhi oleh pihak yang mengaku dapat memberikan pekerjaan diluar
negeri. Penelitian dalam jurnal ini menggunakan pendekatan konsep hukum dan
13

menurut penulis menggunakan teori positivis (dikarenakan memenuhi syarat
daripadanya seperti saintifik, eksplanasi dan sebaginya). Walaupun anatara penulis
dengan isi jurnal tersebut memiliki kemiripan dalam menerapkan teori yakni bagian
positivis namun penulis lebih megedepankan dan memakai pisau analisis yakni teori
neoliberalism.
Sebagaimana

jurnal

dengan

alamat

website

http://inrda06lesmana.blogspot.co.id/2013/11/jurnal-5-perlindungan-tenaga
kerja.html dengan judul PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA
DALAM PERSPEKTIF UNDANG – UNDANG NOMOR 39 TAHUN 2004
TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TKI DI LUAR NEGERI.
Telah dijelaskan dalam jurnal ini yakni sebagaimana amanat kontitusi untuk
menyediakan lapangan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi warga negaranya
termasuk penempatan Tenaga Kerja Indonesia atau Buruh Migran Indonesia di Luar
Negeri. Dideskripsikan secara cukup merinci Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di
Luar Negeri oleh Pemerintah Indonesia sesuai UUD 1945 pasal 27 ayat 2 dan UU no
39 tahun 2004, meliputi prakeberangkatan, penempatan dan pascapenempatan
(kepulangan tanah air). Jurnal ini pun menjelaskan hak dan kesempatan yang akan
diterima oleh Calon Tenaga Kerja Indonesia baik masih di Dalam Negeri maupun
Luar Negeri berdasarkan UU No 39 tahun 2004 dengan ditambahkan lagi pasal 9
pada UU yang sama. Diterangkan pula bagaimana dalam upaya melindungi Tenaga
Kerja Indonesia yang akan ditempatkan di Luar Negeri sudah dilakukan semenjak
14

dari procedural pelatihan dengan pembekalan kemampuan TKI, administrasi hingga
apabila terjadi

masalah di tempat penempatan akan diberlakukan sistem untuk

melindungi Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah.
Dalam

menjelaskan

jurnal

menggunakan

teori

pendekatan

realism

dikarenakan lebih menggunakan unsure kepentingan nasional salah satunya sebagai
sasaran dalam menjelaskan hasil yang ingin dicapai seperti keselamatan dan
kenyamanan TKI yang akan ditempatkan di Luar Negeri secara prosedul maupun ada
juga yang masih melakukan

tindakan illegal lainnya. Menurut penulis terdapat

kemiripan antara jurnal dengan skripsi ini, namun skripsi ini lebih menggunakan teori
neoliberalisme dan diplomasi dalam menjamin kenyamanan bagi Warga Negera
Indonesia (WNI) dan keselamatan Tenaga Kerja Indoneia Bermasalah TKI-B di
tempat penempatan. Hal ini dilakukan untuk menjamin kepentingan Warga Negara
Indonesia di Luar Negeri termasuk nasib Tenaga Kerja Indonesia ataupun Buruh
Migran Indonesia, dalam hal ini peran KBRI di Singapura dengan Otoritas di
Singapura maupun adanya peran otoritas lain mengenai ketenagakerjaan di Indonesia
(aktor selain aktor utama Negara).

E.

Kerangka Teori
Teori Neoliberalisme

15

Dalam penelitian pada studi kasus ini, penulis akan lebih mengedepankan
landasan teori salah satu mainstream dalam Hubungan Internasional yakni NeoLiberalisme. Salah satu hal yang melatarbelakangi penulis menggunakan teori
tersebut ialah setelah mempelajari beberapa teori yang ada baik grand teori maupun
turunannya, yakni teori tersebut relevan dalam pembahasan masalah ini lebih lajut.
Sebagaimana kita ketahui Unsur yang terkandung dalam teori ini ialah adanya
kerjasama dan perdamaian. Tidak selamanya kepentingan nasional tercapai dengan
melakukan peperangan sebagaimana pendapat realism sesuai dengan sikap dasar
manusia. Sebagaimana kita ketahui bahwasanya menurut NeoLiberalisme, bahwa
Teori tetap memperlakukan Negara sebagai aktor utama tetapi masih ada relevannya
apabila ada aktor selain Negara yang memainkan perannya seperti organisasiorganisasi ataupun Lembaga di luar Negara baik bertaraf nasional maupun
Internasional. Dalam hal ini Aktor selain Negara yang dapat memanfaatkan perannya
dalam menangani masalah ketenagakerjaan tingkat nasional seperti Lembaga
setingkat Kementerian yakni Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga
Kerja Indonesia (BNP2TKI) maupun Migrant Care. Untuk menunjang kekuatan
pembahasan masalah kelak akan dikombinasikan dengan adanya teori diplomasi.
Diplomasi merupakan salah satu cara dari softpower untuk mencapai kepentingan
nasional salah satunya bentuk dari kerjasama itu sendiri.
Apabila kita melihat pada teori liberalisme dan realisme, kedua belah pihak
memiliki perbedaan pendapat mengenai anarki internasional. Teori liberalisme tidak
16

setuju dengan sistem anarki internasional, sementara teori realisme mendukung penuh
teori tersebut. Namun pada teori neoliberalisme, teori ini mengakui adanya anarki
internasional10. Kaum neoliberalis melihat anarki internasional sebagai sebuah
kekosongan kekuasaan yang perlahan-lahan diisi dengan proses-proses manusia dan
institusi (Sterling-Folker, 2013:117). Menurut kaum neoliberalis, hal ini menandakan
bahwa ketidakmampuan negara untuk memegang kendali dan keraguan akan
survavibility negara dalam sistem anarki internasional akan berkurang seiring

berjalannya waktu.
Berbeda dengan pandangan neo-realisme yang menitikberatkan kerjasama
antar negara pada keuntungan apa yang dapat diperoleh dari suatu negara, kaum neoliberalis menganggap bahwa dengan adanya kerjasama antar negara maka akan
terciptanya national interest yang sama oleh masing-masing negara yang bekerjasama
(Sterling-Folker, 2013:129). Menurut pandangan kaum neoliberalis, dengan
kesamaan national interest maka setiap negara akan cenderung untuk terus menerus
bekerjasama11. Hal tersebut menciptakan kondisi yang kondusif karena konflik akan
relatif berkurang dibandingkan apabila negara tidak bekerja sama. Lamy (2001:190)
juga menyatakan dalam pandangan kaum neoliberalis, negara harus mampu

10

http://hibanget.com/neorealisme-neoliberalisme-sebagai-teori-perkembangan-dari-realisme-

liberalisme/
11

Sterling-Folker, J. (2013). Neoliberalism. In T. Dunne, M. Kurki, & S. Smith, International Relations
Theories (pp. 114-130). Oxford University Press.

17

bekerjasama dengan memaksimalkan kewenangannya. Dengan bekerjasama, maka
masing-masing pihak akan mendapatkan keuntungan (absolute gains)
Teori Diplomasi

Dalam menjelaskan kebijakan yang diambil oleh Perwakilan Pemerintah
Republik Indonesia di Singapura, dalam menjalankan tugas dan fungsi diplomatiknya
dengan otoritas Negara Penerima dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan
Singapura. Menurut Prof. Brownlie dalam bukunya “Principles of Public
International Law” mengatakan bahwa Diplomasi itu merupakan setiap cara yang
diambil untuk mengadakan dan membina hubungan serta berkomunikasi satu sama
lain atau melaksanakan tindakan politik/hukum melalui wakil-wakil yang ditunjuk
dan mendapat otorisasi. Adapun dari kalangan praktisi yang pada umumnya mantan
Duta Besar dan/atau Diplomat memberikan batasan dan pengertian diplomasi sedikit
berbeda seperti Harold Nicolson (Duta Besar Kerajaan Inggris sebelum Perang Dunia
II) dalam bukunya “Diplomacy” memberikan definisi Diplomasi sebagai berikut:
“Diplomacy is the management of international relations by negotiation, the
method by which these relations are adjusted and managed by ambassadors and
evoys.; the business or art of the diplomatist.12”
Haji Agus Salim dalam bukunya “Tertib Diplomatik”, Deplu,1969,
berpendapat bahwa ada perbedaan antara Politik/Kebijakan atau Policy dan

12

nd

Harold Nicolson, Diplomacy, Oxford University Press, London, 2 1960, hal 15

18

Diplomacy. Yakni Policy is that what you want and Diplomacy that what you get13
Dalam pengertian lain Diplomasi itu merupakan cara untuk mendapatkan apa yang
diinginkan atau dikendaki. Hal ini ditempuh pemerintahan Negara atau perwakilan
Negara tertentu di Negara Penerima, itu dialkukan untuk tujuan atau goal yang
diinginkan seperti dalam contoh ini yaitu kepentingan, keamanan Warga Negara
Indonesia termasuk Tenaga Kerja Indonesia.
Inti Diplomasi adalah Perundingan. Deengan demikian ruang lingkup
diplomasi ialah hubungan antar Negara atau hubungan dengan pihak-pihak asing; dan
hubungan tersebut dilakukan dengan cara-cara damai melalui pertemuan dan
perundingan. Inilah suatu cara yang dapat dilakukan oleh Kementrian Luar Negeri
dan Kementerian Transmigrasi dan Ketenagakerjaan melalui Kedutaan Besar
Republik Indonesia (KBRI) di Singapura, dalam menyampaikan kebijakan
Pemerintah Republik Indonesia dalam melindungi dan menjamin kepentingan Warga
Negaranya kepada Otoritas Pemerintah Republik Singapura.
Jalur atau track yang digunakan pada teori Diplomasi dalam membahas
permasalahan ini yakni The First Track Diplomacy. Alasan penulis ingin menerapkan
teori Diplomasi dengan The First Diplomacy karena permasalahan perlindungan
terhadap TKI-B di Singapura melibatkan elemen penting kedua Negara baik
Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Singapura terkait ketenagakerjaan Tenaga
Kerja Asing termasuk TKI. Elemen atau pihak yang terlibat tersebut merupakan
13

Mohsin, Aiyub Drs.MA.,MM., Diktat Diplomasi:Teori dan Praktek, 2010

19

perwakilan resmi dari kedua Pemerintahan (KBRI sebagai kepanjangan tangan dari
Kemlu RI maupun Kemenakertrans RI dibantu perannnya oleh BNP2TKI dengan
MOM Singapura, maka jalur diplomasi yang dilakukan pun melibatkan diplomasi
antar kedua Negara (official diplomacy). De Magalhaes (1988) menggambarkan
Diplomasi Resmi (official diplomacy) sebagai, "instrumen kebijakan luar negeri
untuk pembentukan dan pengembangan kontak antara pemerintah negara-negara yang
berbeda melalui penggunaan perantara yang saling diakui oleh masing-masing pihak"
(hal.17)14. Menurut asumsi penulis, dalam penjelasan De Magalhaes tersebut telah
disebutkan bahwasanya hubungan yang terjalin oleh Negara yang berbeda dengan
saling upaya merealisasikan kepentingan nasional yang diwujudkan dalam kebijakan
luar negeri melalui perwakilan diplomatik Negara Pengirim maupun Negara
Penerima.
Fitur terpenting The First Track Diplomacy membedakan dengan bentuk
diplomasi yang lainnya diantaranya adanya aplikasi formal di tingkat antarnegara
(Pemerintah Negara Pengirim dengan Pemerintah Negara Penerima), di mana setiap
Negara terkait menjadi penandatangan dari kesepakatan atau perjanjian internasional
tersebut15. Di mana tidak membutuhkan unsur non Negara dalam memberikan usulan

14

Magalhaẽs, C. J. (1988). The pure concept of diplomacy. New York: Greenwood Press. Dalam jurnal
berjudul
Track One and a Half Diplomacy and the Complementarity of Tracks oleh Jeffrey Mapendere,
Assistant Director Conflict Resolution Program Carter Center dengan COPOJ – Culture of Peace Online
Journal, 2(1), 66-81. ISSN 1715-538X www.copoj.ca.
15
Jurnal berjudul Track One and a Half Diplomacy and the Complementarity of Tracks oleh Jeffrey
Mapendere, Assistant Director Conflict Resolution Program Carter Center dengan COPOJ – Culture of
Peace Online Journal, 2(1), 66-81. ISSN 1715-538X www.copoj.ca.

20

maupun pandangan dalam perumusan hingga hasil dari kepahaman dan perjanjian
internasional tersebut. Walaupun dampak dari hasil perjanjian ini dirasakan oleh
warga Negara atau pihak terkait namun tidak signifikan merubah kebiasaan dan tata
kehidupan masyarakat tersebut. Meskipun First Track Diplomacy banyak digunakan
sebagai solusi penyelesaian kasus tertentu seperti resolusi dan resolving dari konflik
yang terjadi, dapat juga diaplikasikan baik dalam bentuk kerjasama hingga
penguatannya pada hubungan antarnegara dalam tingkat Pemerintah Negara masingmasing (dalam hal ini hubungan Indonesia – Singapura terutama masalah
ketenagakerjaan dan Perlindungan TKI-B di Singapura).

F.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menekankan pada

penjelasan atau penjabaran masalah secara eksplanasi maupun desktiptif. Teknik
pengumpulan data, penulis menggunakan teknik pengumpulan data primer serta
sekunder.
Dalam menjawab penelitian diatas, penulis akan menggunakan metode
kualitatif sebagai teknik analisa masalah yang akan dibahas. Menurut Strauss dan
Corbin, yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang
menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan
prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari pengukuran kuantitatif16.
Anselm Strauss dan Juliet Corbin, “Basic of Qualitative Research: Technic and Procedures for
Developing Grounded Theory, second edition”, (London: SAGE Publication, 1998), hlm. 11-13.

16

21

Dalam teknik pengumpulan data maupun referensi, penulis menggunakan
teknik pengumpulan data primer dan sekunder. Di mana pengumpulan data primer
melalui wawancara atau interview kepada narasumber yang kompeten di bidangnya
seperti Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia; Badan
Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI); perwakilan Pemerintah
Republik Indonesia di Singapura dan pihak lainnya. Pengumpulan data sekunder
melalui studi kepustakaan dari buku, jurnal ilmiah, surat kabar baik cetak maupun
elektronik
G.

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan merupakan penjelasan mengenai alur pembahasan yang

penulis akan tulis dalam skripsi ini, sehingga skripsi dapat dipahami dengan mudah
sebagai kesatuan yang terstruktur dengan baik. Sistematika penulisan dalam skripsi
ini terdiri dari lima (5) bab, yang mana akan dijelaskan sebagai berikut.
BAB 1 PENDAHULUAN
Dalam Bab ini penulis akan membahas mengenai alur pembahasan yang
penulis kemukakan dalam penulisan skripsi ini, di mana diawali dengan
mendeskripsikan masalah yang akan dibahas secara umum ke khusus dalam
pernyataan masalah dilanjutkan dengan mengemukakan pertanyaan masalah yang
diajukan untuk dibahas serta dianalisa berikutnya pada bab ke-IV pada khususnya.
Lalu dijelaskan pula mengenai tujuan dan manfaat penulisan dari skripsi yang mana
diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca maupun peneliti yang konsen dalam
22

perlindungan hukum dari penempatan Tenaga Kerja lintas Negara terutama yang
berkaitan dengan Ilmu Hubungan Internasional. Selain itu, bab ini juga akan
mengangkat mengenai tinjauan pustaka yang mana terdapat peneliti atau scholar lain
terlebih dahulu telah membahas mengenai permasalahan serupa atau memiliki
persamaan di salah satu sisinya dengan penulis serta akan mengungkapkan
perbedaannya bahkan memberikan pernyataan terkini dari pembahasan permasalahan
tersebut. Kemudian akan dijelaskan pula kerangka pemikiran, yang mana merupakan
pendekatan berupa teori maupun konsep yang akan digunakan dalam membahas dan
menganalisa permasalahan tersebut. Metode penelitian pun akan dikemukakan pula
sebagai media yang digunakan untuk mngetahui pola penulisan dan mendapatkan
sumber referensi dalam penelitian penulisan skripsi ini. Terakhir yakni sistematika
penulisan dari skripsi ini.
BAB II Hubungan Indonesia – Singapura
Bab ini akan dibahas bagaimana hubungan antara Indonesia dengan Singapura
yang terjalin kerjasama di berbagai bidang termasuk kepada penguatannya tersebut,
sehingga akan terlihat bentuk respon yang diberikan oleh pihak tertentu terhadap
tindakan yang diberikan pihak lainnya (dalam hal ini terutama pada bidang
ketenagakerjaan yang melibatkan kedua Negara). Di mana terlebih dahulu dijelaskan
kronologis bagaimana sejarah penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Luar
Negeri termasuk di Singapura. Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri
telah dilakukan bertahap dan kondisional sesuai dengan Pemerintahan Indonesia saat
23

itu. Diawali masa kolonialisme oleh Pihak Asing di Indonesia melakukan
penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Luar Negeri yang mana saat itu
Singapura belum menjadi tujuan Negara penerima TKI baik pria maupun wanita
(TKW).
Kerjasama yang dilakukan di berbagai bidang akan disebutkan dalam bab ini
termasuk penguatan serta perluasan pendayagunaannya sendi-sendinya sebagai upaya
mempererat hubungan Indonesia dan Singapura yang sudang terjalin 50 Tahun
tersebut. Di mana akan mendatangkan keuntungan bagi kedua Negara yang mana di
beberapa bidang tertentu dilaksanakan Nota Kesepahaman (MoU) sebagai bukti
kekuatan yang mengikat termasuk konsekuensi yang harus diterima dari perjanjian
tersebut. Seraya terus mengupayakan proses diterbitkannya Nota Kesepahaman
(MoU) Ketenagakerjaan di waktu yang akan datang. Maka dari itu akan dijelaskan
pula upaya tindak lanjut Pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan kinerjanya
dalam penempatan TKI di Luar Negeri khususnya Singapura baik dilakukan sejak di
Tanah Air oleh Instansi terkait seperti Kemlu dan Kemnakertrans berkoordinasi
dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). Dengan
dilanjutkan tugasnya oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura
sebagai garda terdepan Pelayanan WNI maupun Perlindungan terhadap TKI-B, serta
senantiasa berkomunikasi aktif baik internal maupun eksternal dengan Pemerintah
Singapura melalui Ministry of Man Power (MOM) dan Asosiasi Pekerja TKI

24

(APJATI) di Singapura termasuk juga terhadap Pelaksana Penempatan TKI Swasta
(PPTKIS) atau biasa disebut Mitra ataupun Agen.
BAB III Bentuk – Bentuk Permasalahan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKIB) di Singapura
Pada Bab ini akan dijelaskan terlebih dahulu bagaimanan Kondisi Warga
Negara Indonesia (WNI) secara umum dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) terutama
Tenaga Kerja Indonesia (TKI-B) di Singapura. Sebagaimana kita ketahui bersama
kondisi persebaran WNI di Singapura termasuk ke dalam kategori heterogen dengan
jabatan status sosial tertentu dari mahasiswa yang melanjutkan pendidikan tingginy

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

DEDY PERWIRA D. SATRIA FISIP