DEDY PERWIRA D. SATRIA FISIP

Track One and a Half Diplomacy and the Complementarity of Tracks oleh Jeffrey Mapendere, Assistant Director Conflict Resolution Program Carter Center dengan COPOJ – Culture of Peace Online Journal, 2(1), 66-81. ISSN 1715-538X www.copoj.ca.

UPAYA KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA (KBRI) DI SINGAPURA DALAM PELAYANAN WARGA NEGARA INDONESIA (WNI) DAN PERLINDUNGAN TERHADAP TENAGA KERJA INDONESIA BERMASALAH (TKI-B) DI SINGAPURA

  ANTARA TAHUN 2011 - 2015

  SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

  Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

  Oleh Dendy Perwira D. Satria 1110113000086

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

  2017

ABSTRAKSI

  Hubungan bilateral yang dilakukan Indonesia dengan Singapura telah berlangsung lama dan telah diterapkan juga ke bidang ekonomi dan ketenagakerjaan. Fokusnya pada bidang penempatan Tenaga Kerja lintas Negara dilakukan, yang lebih didominasi oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk mengadu peruntungan di negeri jiran tersebut. Beberapa faktor pendorong TKI memilih Singapura ialah kondisi geografis dan demografi yang memiliki beberapa persamaan dan kedekatan. Dengan semakin banyaknya penempatan TKI ke Singapura maka dalam hal ini Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sebagai garda terdepan di Luar Negeri dengan perwakilan Pemerintah Singapura yakni Ministry of Man Power (MOM). Senantiasa bekerjasama dengan badan terkait baik di Indonesia maupun Singapura seperti Badan Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) .

  KBRI sesuai dengan fungsi dan tanggungjawabnya, akan bekerja semaksimal mungkin dalam pelayanan WNI dan memberikan perlindungan terhadap TKI Bermasalah (TKI-B) di Singapura agar haknya terpenuhi oleh Hukum Singapura. Yang mana Hukum Singapura yang establish dengan perundang-undangan mengatur Tenaga Kerja asing termasuk TKI. KBRI melakukan diplomasi komunikasi aktif dengan instansi terkait, apabila terdapat kasus yang diadukan WNI maupun TKI. Apabila terdapat kasus hukum pidana atau berat KBRI akan melakukan pendampingan dengan bekerjasama pengacara setempat hingga pembacaan vonis hukuman termasuk pembelaan setiap persidagangan pengadilan.

  Kata Kunci: WNI, TKI Bermasalah (TKI-B), KEMLU RI, MOM Singapura, KBRI Singapura, BNP2TKI, diplomasi bilateral, pelindungan hukum dan pelayanan

KATA PENGANTAR

  Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kehadirat Dzat yang paling agung Allah SWT yang telah melimpahkan Rahman dan Rahiem-Nya serta shalawat dan salam tetap tercurah kepada junjungan kita dan penghulu kita Nabi Muhammad SAWW, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Upaya Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura dalam Pelayanan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Perlindungan Terhadap Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKI-B) di Singapura Tahun 2011-1015” dengan baik.

  Adapun tujuan penyusunan skripsi ini ialah untuk memenuhi tugas akhir dan untuk memenuhi syarat wajib kelulusan bagi mahasiswai Program Studi Hubungan Internasional FakultasI lmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

  Penulis sadar betul bahwa dibalik keberhasilan penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu, dari lubuk hati yang terdalam, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Bapak M Adian Firnas, SIP, MSi,sebagai Ketua Program Studi Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dosen Pengampu Mata Kuliah Seminar Proposal penulis, di mana di samping kesibukannya membantu mengarahkan penulis dalam mengerjakan Proposal Skripsi hingga penelitian ini dianggap layak untuk dilanjutkan ke bimbingan skripsi.

  2. Bapak Duta Besar Drs. Aiyub Mohsin, MA sebagai dosen pembimbing yang dengan kebijaksanaan sikap, kedalaman ilmu dan pengalaman pada dunia diplomatik yang telah memotivasi penulis untuk kelak dapat mengikuti jejak kariernya. Serta kepadatan aktifitasnya telah menyempatkan dan memberikan waktunya kepada penulis dalam rangka mengarahkan dan membimbing penulis untuk terus bersemangat menyelesaikan penulisan tugas akhir ini.

  Program Studi Hubungan Internasional, yang banyak membimbing, mengarahkan, serta mendidik penulis dengan sabar selama menjalani studi.

  4. Teristimewa kepada orangtua tercinta dan tersayang yaitu Papa Drs. H. Eddy Murdiyono, SH., MH dan mama RA Hj. Deasy Dewantara yang selalu memanjatkan doa bagi penulis sebagai anak semata wayangnya. Sebab ridho, kesabaran dan motivasinya agar penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik dan tepat pada waktunya. Semoga beliau berdua diberikan kesehatan yang paripurna dan menemani penulis hingga menjadi seorang diplomat kelak. Serta bangga terhadap totalitas dan usaha keras penulis dalam menjalani studi di kampus tercinta ini.

  5. Teman-teman program studi Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta angkatan 2009, dan terkhusus 2010 (kelas A, B, dan Internasional), 2011, 2012, 2013, 2014 dan juga 2014 yang selalu mengingatkan dan memotivasi penulis untuk segera menyelesaikan penulisan skripsi ini. Serta membantu penjelasan tambahan saat penulis mengambi kelas untuk mengulang atau mengambil mata kuliah yang belum diambil.

  6. Para Sahabat HI angkatan 2010 yang telah membuat geng untuk kumpul- kumpul seperti Khairul Rizal, Fahmi Ramhani, Fatahillah, Whisnu Mardiansyah, Eko Nordiasnyah dan M. Khairurrasyid yang telah membuat keseruan dalam berteman serta menyelesaikan tugas kuliah. Tidak lupa kepada sahabat di luar perkuliahan antara lain M.Haikal Hamdi, M. Reza, M.Yardho, M.Giri Farras, Ali Ridho Alhaddad serta teman-teman lainnya yang telah mendoakan dan mendukung penulis

  7. Teman-teman Kuliah Kerja Nyata „KKN Akrab” UIN Syarif Hidayatullah tahun 2014 di Desa Pagedangan Ilir Kronjo Tangerang, di mana tempat penulis dalam mengaplikasikan ilmu dan pengalaman pada program pengabdian masyarakat

  Terakhir, mengingat segala keterbatasan pengalaman dan pengetahuan, penulis menyadari masih banyak kekurangannya dalam penulisan skripsi ini. Meskipun demikian, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi pengetahuan bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

  Jakarta, 31 Mei 2017

  Dendy Perwira Dhira Satria

  BAB IV

  Analisa Pelayanan Warga Negara Indonesia (WNI) serta Perlindungan Hukum terhadap Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKI-B)

  A Sistem Pelayanan Warga Negara Indonesia (WNI) oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura…………………….66

  1 Kondisi internal ataupun eksternal Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura……………………………… 73

  2 Sistem pelayanan Warga Negara Indonesia (WNI) oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura…………… 78

  B Penyelesaian masalah dan Perlindungan Hukum terhadap Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKI-B) oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura……………………………………… 89

  1 Perlindungan Hukum yang diberikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura terhadap Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKI-B)………………………………………… 89

  2 Penyelesaian masalah dan Perlindungan Hukum terhadap Tenaga Kerja Indonesia Berrmasalah (TKI-B) oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura……………………………… 94

  BAB 5

  Penutup Kesimpulan……………………………………………………. 98

  DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………… xi

  LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

  Gambar I Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menurut Negara

  Penemepatan Antara Tahun 2010-2015………

  Gambar II Jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) menurut Negara

  Penempatan Tahun 2015……………………….

  Gambar III

  Foto Pejabat Minister Counselor Fungsi Protokol dan Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura………………………………………

  Gambar IV

  Foto Pejabat Counselor Fungsi Protokol dan Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura

  Gambar V

  Foto Pejabat Sekretaris Tiga Fungsi Protokol dan Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura

  Gambar VI

  Foto Pejabat Sekretaris Tiga Fungsi Protokol dan Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura

  Gambar VII

  Foto Staf Teknis Tenaga Kerja Fungsi Protokol dan Konsuler Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura

  Gambar VIII

  Salinan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia mengenai Komponen dan Besarnya Biaya Penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia Sektor Domestik Negara Tujuan Singapura No. 588 Tahun 2012 …………………………………………

  Gambar IX Salinan Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan

  Transmigrasi Republik Indonesia mengenai Komponen dan Besarnya Biaya Penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia Sektor Domestik Negara Tujuan Singapura No. 58 Tahun 2012……………………………………………

  Gambar X Lampiran Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan

  Transmigrasi Republik Indonesia mengenai Komponen dan

  Sektor Domestik Negara Tujuan Singapura No. 588 Tahun 2012 ……………………………………………

  Gambar XI

  Lampiran Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia mengenai Komponen dan Besarnya Biaya Penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia Sektor Domestik Negara Tujuan Singapura No. 588 Tahun 2012 …………………………………………

BAB I PENDAHULUAN

A. Pernyataan Masalah

  Skripsi ini akan menganalisa tentang upaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura untuk memberikan Pelayanan kepada Warga Negara Indonesia (WNI) dan perlindungan hukum terhadap Tenaga Kerja Indoneia bermasalah di Singapura tahun 2011 hingga 2015. Beberapa alasan mengapa periode itu dipilih, salah satunya dikarenakan pada 2011 itu pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) tengah melakukan upaya yang dapat dikatakan cukup maksimal dalam memberikan perlindungan hukum bagi Tenaga Kerja Indonesia dan Buruh Migrant Indonesia di Singapura. Di era kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono upaya perlindungan hukum Tenaga Kerja Indonesia di negeri singa itu diusahakan untuk adanya nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di antara kedua belah pihak. Namun hingga saat ini belum ada tanda-tanda akan terwujudnya MoU itu. Meskipun demikian Indonesia sampai saat ini tetap menginginkan adanya MoU tersebut, dengan tetap mempertajam tugas Pemerintah Indonesia terhadap Warga Negaranya termasuk Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri.

  Hubungan bilateral antara Indonesia dengan Singapura yang merupakan Negara sekawasan dan bertetangga menjadi salah satu faktor mulusnya hubungan kedua Negara ini. Walaupun tidak dapat kita pungkiri dalam beberapa hal dan periode

  hubungan itu mengalami pasang surut hubungan diplomatik Indonesia- Singapura dilakukan secara resmi pada bulan September 1967, yang dilanjutkan dengan pembukaan kedutaan besar di masing-masing negara. Secara politik, pada dasarnya hubungan Indonesia–Singapura mengalami fluktuasi karena permasalahan menyangkut kepentingan nasional masing-masing negara, namun demikian kedua negara memiliki fondasi dasar yang kuat untuk memperkuat dan meningkatkan hubungan kedua negara yang lebih konstruktif, pragmatis dan strategis. Penandatanganan Perjanjian Ekstradisi dan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan antara kedua negara di Bali tanggal 27 April 2007 salah satu koridor hukum bagi palaksanaan dan peningkatan hubungan bilateral kedua negara, meskipun diperlukan pendekatan-pendekatan pada tataran teknis nota kesepahaman (MoU) antar kedua negara. Hubungan Bilateral Indonesia Singapura telah menunjukkan peningkatan di berbagai bidang kerjasama terutama hubungan kerjasama ekonomi dan hubungan kerjasama sosial budaya. Selain itu kunjungan antara sesama pejabat Pemerintah maupun kalangan swasta di kedua negara telah memberikan kontribusi yang besar bagi pengembangan hubungan kerjasama dan peningkatan investasi di kedua negara

  Kondisi persebaran Warga Negara Indonesia di Singapura telah berlangsung lama dengan faktor –faktor yang menyertainya. Mereka tidak hanya berposisi sebagai pelajar atau mahasiswa namun banyak juga yang sebagai Tenaga Kerja. Tenaga Kerja Indonesia di sini ada yang bekerja di sektor formal maupun nonformal. Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Singapura telah berlangsung beberapa waktu. Data yang

  diambil penulis dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), mengungkapkan bahwa menurut waktu yang akan dipaparkan dalam penelitian ini telah terjadi perbandingan terbalik antara kuantitas dengan kualitas proses penempatan. Hal ini antara lain terdapat penurunan jumlah (kuantitas) penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) di Singapura namun di sisi lain terus digalakkan peningkatan kualitas sistem pemberangkatan warga Negara Indonesia (WNI) khususnya penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia maupun Buruh Migran Indonesia (BMI). Salah satu sebab penurunan jumlah (kuantitas) penempatan TKI ke Luar Negeri dalam hal ini Singapura adalah pencapaian program kerja Pemerintah untuk mengurangi penempatan Tenaga Kerja pada sektor nonformal (pekerja rumah tangga). Data itu dapat dilihat pada penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) di Singapura pada tahun 2011 sebanyak 47.786 jiwa, pada tahun 2012 sebanyak 41.556 jiwa, pada tahun 2013 sebanyak 34.655 jiwa kemudian pada tahun 2014 sebanyak 31,680 jiwa, pada tahun 2015 sebanyak 20,895 jiwa, kemudian penempatan pada tahun 2016 sebanyak 17.700 jiwa (di mana periode

  akhir penelitian penulis) 1 . Peluang kerja yang lebih mendominasi di Singapura yakni pada sektor rumah sakit dan pijat kesehatan atau spa mencakup keperawatan

  (Hospitality) dan kesehatan (Health). Skema penempatan Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) ataupun Buruh Migran Indonesia (BMI) dilakukan secara P to P

  1 http:www.bnp2tki.go.idread12024Data-Penempatan-dan-Perlindungan-TKI.html bagian Subbid Pengolahan Data , Bidang Pengolahan dan Penyajian Data (PUSLITFO BNP2TKI) diakses pada tanggal

  11 Februari 2016

  (Private to Private), mandiri maupun perekrutan langsung oleh majikan atau pengguna (users) di Singapura.

  Kondisi penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Singapura sedikit banyak telah menimbulkan beberapa permasalahan. Permasalahan tersebut dapat terjadi saat berjalannya proses perekrutan, penempatan di Negara tujuan hingga pemulangan ke Tanah Air baik procedural maupun unprosedural (seperti deportasi). Permasalahan itu muncul dapat terjadi antara perusahaan penyalur tenaga kerja yakni Perusahaan Penyalur Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) dengan pengguna mengenai masa depan dan kondisi TKI selama bekerja. Permasalahan atau kasus-kasus yang kerap terjadi ini biasanya dirasakan oleh TKI yang bekerja di sektor nonformal antara lain gaji tidak diberikan sesuai kontrak (dipotong secara berlebihan oleh PPTKIS yang bekerja di Singapura sebagai pengganti biaya pengurusan dokumen, pelatihan dan akomodasi ; beberapa TKI terjerat rente agen PPTKIS (yang mengakibatkan tak pernah menerima gaji secara utuh) ; ditagih terus - menerus oleh debt collector walaupun gaji selama ini telah dipotong kemudian adanya oknum yang menyebabkan persoalan biaya penempatan yang besar serta harus dibebankan kepada TKI.

  Periodisasi pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri, dapat kita bagi dalam beberapa waktu yakni zaman kolonialisme dan masa setelah (pasca) kemerdekaan Republik Indonesia. Pada zaman kolonialisme, ini dimulai pada tahun 1890-an pengiriman TKI dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan cara mengirim buruh kontrak ke negara Suriname, Amerika Selatan yang saat itu Periodisasi pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri, dapat kita bagi dalam beberapa waktu yakni zaman kolonialisme dan masa setelah (pasca) kemerdekaan Republik Indonesia. Pada zaman kolonialisme, ini dimulai pada tahun 1890-an pengiriman TKI dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda dengan cara mengirim buruh kontrak ke negara Suriname, Amerika Selatan yang saat itu

  1863 sebagai pelaksanaan dari politik penghapusan perbudakan di Amerika Serikat. Gelombang pertama TKI yang dikirim tiba di Suriname 9 Agustus 1890 dengan

  jumlah 94 orang 3 . Pengiriman Tenaga Kerja Indonesia ke Suriname berakhir pada tahun 1939 (sebelum perang dunia kedua), mencapai 32.986 orang. Setelah masa

  kemerdekaan Indonesia, pengiriman TKI mulai menyebar ke beberapa Negara terutama ke Negara Saudi Arabia dan Malaysia. Jumlah TKI yang tercatat pertama

  kali pada 1983, yakni sebanyak 27.671 orang 4 . Mereka bekerja di delapan negara. Jumlah itu membengkak pada 1992 yang mencapai 158.750 orang. Pengiriman TKI

  ke luar negeri ini, mengalami beberapa kendala yang dirasakan baik oleh Pemerintah (dalam hal ini berperan pengambil kebijakan) dan juga Tenaga Kerja itu sendiri yang didominasi perempuan. Kendala yang ditemui dalam pengiriman tenaga kerja itu diantaranya masih bermasalahnya sistem perekrutan TKI maupun TKW tersebut seperti administrasi di dalam negeri sebelum keberangkatan, kemudian pengawasan yang belum dilakukan maksimal oleh pihak-pihak yang berwenang baik oleh

  2 http:infodarisr.blogspot.com201408sejarah-pertama-kali-pengiriman-

  tenaga.html diakses pada tanggal 2 mei 2015

  3 http:www.merdeka.comperistiwaini-asal-usul-dan-sejarah-tki-pertama-kali.html diakses pada tanggal 1 mei 2015

  4 http:www.merdeka.comperistiwaini-asal-usul-dan-sejarah-tki-pertama-kali.html diakses pada tanggal 1 mei 2015 4 http:www.merdeka.comperistiwaini-asal-usul-dan-sejarah-tki-pertama-kali.html diakses pada tanggal 1 mei 2015

  Pengiriman TKI dan TKW yang juga sering disebut sebagai buruh migran Indonesia ini, yang telah dilakukan sejak lama oleh Pemerintah Indonesia walaupun hingga tahun 1960-an dilakukan secara orang perorang-bersifat tradisional ke luar negeri sebagaimana disebutkan sebelumnya, pasca kemerdekaan Indonesia pengiriman TKI dan TKW dilakukan ke beberapa Negara terutama menyebar di Saudi Arabia dan Malaysia. Di samping terdapat Negara –negara lain di Asia Tenggara selain Malaysia adalah Singapura, Brunei Darussalam. Terdapat beberapa faktor pendorong calon Tenaga Kerja Indonesia termasuk Tenaga Kerja Wanita diantaranya memang secara geografi dekat dengan Indonesia (ini dapat dilihat dari faktor di lapangan bahwasanya dahulu Singapura masuk ke dalam kepulauan Indonesia dengan nama Pulau Tumasik), Kemudian adanya keinginan untuk pelepas dahaga akan dollar singapura dengan diiringi berbagai kondisi yang menawarkan kemajuan serta kelengkapan fasilitas termasuk di dalamnya kondisi ekonomi Negara tersebut. Hal ini dapat dilihat dari data yang tersedia seperti di bagian Subbid Pengolahan Data, Bidang Pengolahan dan Penyajian Data (PUSLITFO) Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) bahwasanya tenaga kerja Indonesia, didominasi pekerja sector nonformal atau Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT). Tahun 2012, jumlah PLRT Indonesia di negara Pengiriman TKI dan TKW yang juga sering disebut sebagai buruh migran Indonesia ini, yang telah dilakukan sejak lama oleh Pemerintah Indonesia walaupun hingga tahun 1960-an dilakukan secara orang perorang-bersifat tradisional ke luar negeri sebagaimana disebutkan sebelumnya, pasca kemerdekaan Indonesia pengiriman TKI dan TKW dilakukan ke beberapa Negara terutama menyebar di Saudi Arabia dan Malaysia. Di samping terdapat Negara –negara lain di Asia Tenggara selain Malaysia adalah Singapura, Brunei Darussalam. Terdapat beberapa faktor pendorong calon Tenaga Kerja Indonesia termasuk Tenaga Kerja Wanita diantaranya memang secara geografi dekat dengan Indonesia (ini dapat dilihat dari faktor di lapangan bahwasanya dahulu Singapura masuk ke dalam kepulauan Indonesia dengan nama Pulau Tumasik), Kemudian adanya keinginan untuk pelepas dahaga akan dollar singapura dengan diiringi berbagai kondisi yang menawarkan kemajuan serta kelengkapan fasilitas termasuk di dalamnya kondisi ekonomi Negara tersebut. Hal ini dapat dilihat dari data yang tersedia seperti di bagian Subbid Pengolahan Data, Bidang Pengolahan dan Penyajian Data (PUSLITFO) Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) bahwasanya tenaga kerja Indonesia, didominasi pekerja sector nonformal atau Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT). Tahun 2012, jumlah PLRT Indonesia di negara

  Indonesia yang bekerja di sector formal;baik di bidang perindustrian, kelautan, tenaga kerja sector jasa dan ada juga professional. Terdapat juga warganegara Indonesia yang tinggal di Singapura berposisi sebagai pelajar atau mahasiswa dan ibu-ibu serta manusia lanjut usia (manula).

  Masalah ini menurut data yang dihimpun dari beberapa kurun waktu pengiriman Tenaga Kerja Indonesia, mengalami penurunan kuantitas dari masa ke masa. Masalah yang terjadi meliputi kasus kriminal maupun legalitas administrasi. Kita ambil contoh Pada 2007, rata-rata 150 TKI ditampung di penampungan

  Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura 6 . Kini jumlahnya menurun rata-rata 70 orang yang berada di penampungan. Jumlah kasus yang menimpa PLRT

  pun relatif rendah, sekitar 1,7 persen dari total PLRT yang ada. Tahun 2012, jumlah PLRT yang meminta perlindungan ke KBRI sebanyak 2.058 orang. Permasalahan mereka terdiri dari 117 kasus hukum, 70 pelanggaran kontrak kerja, dan 1.871 kasus disharmoni dengan majikan. Data berikutnya dari Januari-April 2013 terdapat 419

  5 http:bisniskeuangan.kompas.comread2013061102324896menilik.perlindungan.tki.di.singapu

  ra diakses pada 13 september 2015

  6 http:bisniskeuangan.kompas.comread2013061102324896menilik.perlindungan.tki.di.singapu

  ra diakses pada 5 0ktober 2015

  PLRT yang tinggal di penampungan 7 . Kasus mereka pun telah diselesaikan. Sebanyak 199 orang repatriasi dan 144 PLRT lainnya kembali bekerja. Penyelesaian

  kasus disharmoni dapat diselesaikan dalam satu bulan. Dari akumulasi masalah antara tahun 2002-2010, sebanyak 10 kasus ancaman hukum mati TKI di Singapura dapat diselesaikan dengan mendapat pengurangan hukuman. Bahkan, sejak tahun 2010 hingga saat ini tidak ada lagi kasus pidana TKI dengan ancaman hukuman mati. Dari

  10 kasus itu, 5 kasus di antaranya berhasil diperjuangkan dari ancaman hukuman mati menjadi penjara seumur hidup. Kasus lainnya menjadi hukuman penjara dengan masa tahanan yang bervariatif, mulai dari 5 sampai 20 tahun.

  Mengenai pengiriman Tenaga Kerja Indonesia ke Singapura karena belum adanya nota kesepahaman (MoU) antara kedua belah pihak sejauh ini, pemerintah Indonesia senantiasa melakukan pendekatan diplomasi melalui ialah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sebagai garda terdepan di Singapura dan sudah tentu melibatkan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Sejauh ini telah ada tindakan nyata KBRI di Singapura sejauh ini telah dilakukan pelayanan public terhadap TKI maupun TKW dengan mendapat sertifikasi ISO 9001:2008. Dari hasil audit ISO pada Februari 2012, KBRI di Singapura dinilai berhasil dan berhak mendapatkan perpanjangan sertifikat ISO hingga 3 tahun ke depan. Tidak hanya itu,

  7 http:bisniskeuangan.kompas.comread2013061102324896menilik.perlindungan.tki.di.si

  ngapura diakses pada 5 0ktober 2015 ngapura diakses pada 5 0ktober 2015

  Apabila kita membicarakan keadaan domestik yang berpengaruh dalam pengawasan perlindungan hukum Tenaga Kerja Indonesia di Singapura salah satunya adalah jangan terlalu santer memberitakan masalah pengawasan TKI oleh media massa lokal baik media cetak maupun elektronik. Menurut data yang telah dikemukakan sebelumnya, masalah yang menimpa TKI itu cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Seiring berjalannya waktu, pemerintah Indonesia semampu mungkin dapat memperjuangkan nasib perlindungan hukum tenaga kerja Indonesia di Singapura agar lebih nyaman dan aman dalam pemberangkatan, penempatan, perllindungan hingga pemulangan ke tanah air. Namun demikian ada beberapa doronagan dalam negeri yang ingin mempertajam tujuan dari kebijakan bilateral melalui MoU agar tidak sekedar formalitas belaka dikarenakan belum adanya regulasi nasional yang mengatur hak-hak PRT seperti mendapatkan hari libut dan upah minimum.

  Sebagaimana yang disampaikan Aggota Komisi IX DPR RI, Poempida Hidayatulloh, bahwa menurut amanat UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan Sebagaimana yang disampaikan Aggota Komisi IX DPR RI, Poempida Hidayatulloh, bahwa menurut amanat UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan

  Poempida mengingatkan yang perlu dipertajam dalam MoU adalah bagaimana para pekerja migran Indonesia terlindungi dari tindakan yang melecehkan ataupun zalim dari majikan. Caranya dengan penegakan aturan hukum sehingga pelaku tindak kejahatan terhadap pekerja migrant Indonesia dapat dijatuhi sanksi tegas. Tidak hanya dari pihak Pemerintah saja, namun organisasi di luar aktor Negara yang peduli akan ketenagakerjaan yakni Migrant Care. Hal ini diungkapkan agar tidak terkesan formalitas saja, atau atau mengejar kuota agar pekerja migran Indonesia dapat ditempatkan sebanyak-banyaknya ke Singapura. Hal utama yang harus dimasukan dalam MoU adalah perlindungan bagi pekerja migrant. Di samping terus diupayakan dikeluarkannya kesepakatan berkekuatan hukum antara kedua belah pihak mengenai tenaga kerja asing, KBRI di Singapura telah mengoptimalkan pelayanan warga Negara Indonesia (WNI) dan juga melakukan upaya penyelesaian Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKI-B) dengan melakukan pendampingan terhadap TKI tersebut.

  Sejauh ini menurut Kementerian Luar Negeri Indonesia, hukum di Singapura juga cukup adil serta relatif tidak memihak warga negaranya. Namun Pemerintah Indonesia tetap berupaya untuk mengejar diterbitkannya perjanjian yang mengikat di

  8 http:www.hukumonline.comberitabacalt52ea4a5ae52ebpoin-poin-usulan-revisi-imou-i- indonesia-brunei diakses 27 Mei 2015 8 http:www.hukumonline.comberitabacalt52ea4a5ae52ebpoin-poin-usulan-revisi-imou-i- indonesia-brunei diakses 27 Mei 2015

  Discrimination against Women dan Convention on the Rights of the Child 9 . Kemlu mengungkapkan jika ratifikasi tersebut telah terjadi maka Singapura harus

  memberikan perlindungan yang layak bagi pekerja asing, terutama pekerja perempuan dan hak - hak anak. Adapun langkah yang dilakukan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura senantiasa berkoordinasi dengan Ministry of Manpower (MOM) Singapura yang salah satu tugasnya adalah untuk membantu permasalahan tenaga kerja asing di Singapura.

B. Pertanyaan Masalah

  Sebagaimana pada bab latar belakang masalah yang telah dikemukan, Penulis mengajukan beberapa pertanyaan masalah yang akan diajukan dalam skripsi ini ialah:

  1. Bagaimana Perwakilan Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura memberikan perlindungan terhadap Tenaga Kerja Indonesia bermasalah (TKI-B)?

  2. Bagaimana respon Singapura terhadap perlindungan hukum bagi Tenaga Kerja Indonesia di Singapura?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

  9 http:pantaupjtki.buruhmigran.or.idindex.phpreadtata-kelola-ketenagakerjaan-di-singapura- dianggap-cukup-baik

  Tujuan Penelitian

  a. Untuk menganalisa perlindungan hukum dan penyelesaian terhadap TKI bermasalah (TKI-B) yang diberikan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura periode 2011-2015

  b. Untuk mengetahui kinerja Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura dalam memberikan Pelayanan terhadap Warga Negara Indonesia.

  Manfaat Penelitian

  a. Memberikan analisa terkait perlindungan hukum dan penyelesaian TKI bermasalah (TKI-B) yang diberikan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura periode 2011-2015, sehingga dapat menjadi referensi dan pondasi awal bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan Perlindungan Hukum dan Penyelesaian TKI bermasalah oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura.

  b. Menyediakan informasi informasi tentang kondisi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura dalam memberikan Pelayanan terhadap Warga Negara Indonesia.

  Dengan harapan kita dapat memberikan saran bagi TKI dan Buruh Migran Indonesia (BMI) di Singapura mengenai hak dan kewajibannya

D. Tinjauan Pustaka

  Sebagaimana jurnal http:journal.unnes.ac.idnjuindex.phppandecta yang berjudul Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri oleh Loso yang diterbitkan Fakultas Hukum, Universitas Pekalongan, Pekalongan, Indonesia. Dijelaskan bahwa dalam mendeskripsikan perlindungan hukum TKI berdasarkan peraturan UU no. 39 tahun 2004 tentang penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Luar negeri, dijelaskan bagaimana asal dan akar dari masalah – masalah yang terjadi pada utamanya Tenaga Kerja Wanita (TKW) walaupun ada juga yang menimpa Tenaga Kerja Indonesia pada umumnya. Dari awal prakeberangkatan, penampungan, penempatan di luar negeri hingga pemulangan sekalipun telah terjadi permasalah baik skala kecil maupun besar. Di mana Masalah TKI sampai sekarang masih menimbulkan berbagai masalah, meskipuntelah ada peraturan yang mengaturnya. Praktek pengiriman TKI ilegal ke luar negeri hingga sekarang masih dijalankan oleh berbagai pihak yang hanya berorientasi pada bisnis belaka. Namun disisi lain masyarakat belum sepenuhnya memahami peraturan yang telah ada hingga sangat mudah dipengaruhi oleh pihak yang mengaku dapat memberikan pekerjaan diluar negeri. Penelitian dalam jurnal ini menggunakan pendekatan konsep hukum dan Sebagaimana jurnal http:journal.unnes.ac.idnjuindex.phppandecta yang berjudul Perlindungan Hukum Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri oleh Loso yang diterbitkan Fakultas Hukum, Universitas Pekalongan, Pekalongan, Indonesia. Dijelaskan bahwa dalam mendeskripsikan perlindungan hukum TKI berdasarkan peraturan UU no. 39 tahun 2004 tentang penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Luar negeri, dijelaskan bagaimana asal dan akar dari masalah – masalah yang terjadi pada utamanya Tenaga Kerja Wanita (TKW) walaupun ada juga yang menimpa Tenaga Kerja Indonesia pada umumnya. Dari awal prakeberangkatan, penampungan, penempatan di luar negeri hingga pemulangan sekalipun telah terjadi permasalah baik skala kecil maupun besar. Di mana Masalah TKI sampai sekarang masih menimbulkan berbagai masalah, meskipuntelah ada peraturan yang mengaturnya. Praktek pengiriman TKI ilegal ke luar negeri hingga sekarang masih dijalankan oleh berbagai pihak yang hanya berorientasi pada bisnis belaka. Namun disisi lain masyarakat belum sepenuhnya memahami peraturan yang telah ada hingga sangat mudah dipengaruhi oleh pihak yang mengaku dapat memberikan pekerjaan diluar negeri. Penelitian dalam jurnal ini menggunakan pendekatan konsep hukum dan

  alamat website

  http:inrda06lesmana.blogspot.co.id201311jurnal-5-perlindungan-tenaga kerja.html dengan judul PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DALAM PERSPEKTIF UNDANG – UNDANG NOMOR 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TKI DI LUAR NEGERI. Telah dijelaskan dalam jurnal ini yakni sebagaimana amanat kontitusi untuk menyediakan lapangan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi warga negaranya termasuk penempatan Tenaga Kerja Indonesia atau Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri. Dideskripsikan secara cukup merinci Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri oleh Pemerintah Indonesia sesuai UUD 1945 pasal 27 ayat 2 dan UU no

  39 tahun 2004, meliputi prakeberangkatan, penempatan dan pascapenempatan (kepulangan tanah air). Jurnal ini pun menjelaskan hak dan kesempatan yang akan diterima oleh Calon Tenaga Kerja Indonesia baik masih di Dalam Negeri maupun Luar Negeri berdasarkan UU No 39 tahun 2004 dengan ditambahkan lagi pasal 9 pada UU yang sama. Diterangkan pula bagaimana dalam upaya melindungi Tenaga Kerja Indonesia yang akan ditempatkan di Luar Negeri sudah dilakukan semenjak 39 tahun 2004, meliputi prakeberangkatan, penempatan dan pascapenempatan (kepulangan tanah air). Jurnal ini pun menjelaskan hak dan kesempatan yang akan diterima oleh Calon Tenaga Kerja Indonesia baik masih di Dalam Negeri maupun Luar Negeri berdasarkan UU No 39 tahun 2004 dengan ditambahkan lagi pasal 9 pada UU yang sama. Diterangkan pula bagaimana dalam upaya melindungi Tenaga Kerja Indonesia yang akan ditempatkan di Luar Negeri sudah dilakukan semenjak

  

  Dalam menjelaskan jurnal menggunakan teori pendekatan realism dikarenakan lebih menggunakan unsure kepentingan nasional salah satunya sebagai sasaran dalam menjelaskan hasil yang ingin dicapai seperti keselamatan dan kenyamanan TKI yang akan ditempatkan di Luar Negeri secara prosedul maupun ada juga yang masih melakukan tindakan illegal lainnya. Menurut penulis terdapat kemiripan antara jurnal dengan skripsi ini, namun skripsi ini lebih menggunakan teori neoliberalisme dan diplomasi dalam menjamin kenyamanan bagi Warga Negera Indonesia (WNI) dan keselamatan Tenaga Kerja Indoneia Bermasalah TKI-B di tempat penempatan. Hal ini dilakukan untuk menjamin kepentingan Warga Negara Indonesia di Luar Negeri termasuk nasib Tenaga Kerja Indonesia ataupun Buruh Migran Indonesia, dalam hal ini peran KBRI di Singapura dengan Otoritas di Singapura maupun adanya peran otoritas lain mengenai ketenagakerjaan di Indonesia (aktor selain aktor utama Negara).

E. Kerangka Teori Teori Neoliberalisme

  Dalam penelitian pada studi kasus ini, penulis akan lebih mengedepankan landasan teori salah satu mainstream dalam Hubungan Internasional yakni Neo- Liberalisme. Salah satu hal yang melatarbelakangi penulis menggunakan teori tersebut ialah setelah mempelajari beberapa teori yang ada baik grand teori maupun turunannya, yakni teori tersebut relevan dalam pembahasan masalah ini lebih lajut. Sebagaimana kita ketahui Unsur yang terkandung dalam teori ini ialah adanya kerjasama dan perdamaian. Tidak selamanya kepentingan nasional tercapai dengan melakukan peperangan sebagaimana pendapat realism sesuai dengan sikap dasar manusia. Sebagaimana kita ketahui bahwasanya menurut NeoLiberalisme, bahwa Teori tetap memperlakukan Negara sebagai aktor utama tetapi masih ada relevannya apabila ada aktor selain Negara yang memainkan perannya seperti organisasi- organisasi ataupun Lembaga di luar Negara baik bertaraf nasional maupun Internasional. Dalam hal ini Aktor selain Negara yang dapat memanfaatkan perannya dalam menangani masalah ketenagakerjaan tingkat nasional seperti Lembaga setingkat Kementerian yakni Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) maupun Migrant Care. Untuk menunjang kekuatan pembahasan masalah kelak akan dikombinasikan dengan adanya teori diplomasi. Diplomasi merupakan salah satu cara dari softpower untuk mencapai kepentingan nasional salah satunya bentuk dari kerjasama itu sendiri.

  Apabila kita melihat pada teori liberalisme dan realisme, kedua belah pihak memiliki perbedaan pendapat mengenai anarki internasional. Teori liberalisme tidak Apabila kita melihat pada teori liberalisme dan realisme, kedua belah pihak memiliki perbedaan pendapat mengenai anarki internasional. Teori liberalisme tidak

  internasional 10 . Kaum neoliberalis melihat anarki internasional sebagai sebuah kekosongan kekuasaan yang perlahan-lahan diisi dengan proses-proses manusia dan

  institusi (Sterling-Folker, 2013:117). Menurut kaum neoliberalis, hal ini menandakan bahwa ketidakmampuan negara untuk memegang kendali dan keraguan akan survavibility negara dalam sistem anarki internasional akan berkurang seiring berjalannya waktu.

  Berbeda dengan pandangan neo-realisme yang menitikberatkan kerjasama antar negara pada keuntungan apa yang dapat diperoleh dari suatu negara, kaum neo- liberalis menganggap bahwa dengan adanya kerjasama antar negara maka akan terciptanya national interest yang sama oleh masing-masing negara yang bekerjasama (Sterling-Folker, 2013:129). Menurut pandangan kaum neoliberalis, dengan kesamaan national interest maka setiap negara akan cenderung untuk terus menerus

  bekerjasama 11 . Hal tersebut menciptakan kondisi yang kondusif karena konflik akan relatif berkurang dibandingkan apabila negara tidak bekerja sama. Lamy (2001:190)

  juga menyatakan dalam pandangan kaum neoliberalis, negara harus mampu

  10 http:hibanget.comneorealisme-neoliberalisme-sebagai-teori-perkembangan-dari-realisme- liberalisme

  11 Sterling-Folker, J. (2013). Neoliberalism. In T. Dunne, M. Kurki, S. Smith, International Relations Theories (pp. 114-130). Oxford University Press.

  bekerjasama dengan memaksimalkan kewenangannya. Dengan bekerjasama, maka masing-masing pihak akan mendapatkan keuntungan (absolute gains)

  Teori Diplomasi Dalam menjelaskan kebijakan yang diambil oleh Perwakilan Pemerintah

  Republik Indonesia di Singapura, dalam menjalankan tugas dan fungsi diplomatiknya dengan otoritas Negara Penerima dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan Singapura. Menurut Prof. Brownlie dalam bukunya “Principles of Public International Law” mengatakan bahwa Diplomasi itu merupakan setiap cara yang diambil untuk mengadakan dan membina hubungan serta berkomunikasi satu sama lain atau melaksanakan tindakan politikhukum melalui wakil-wakil yang ditunjuk dan mendapat otorisasi. Adapun dari kalangan praktisi yang pada umumnya mantan Duta Besar danatau Diplomat memberikan batasan dan pengertian diplomasi sedikit berbeda seperti Harold Nicolson (Duta Besar Kerajaan Inggris sebelum Perang Dunia

  II) dalam bukunya “Diplomacy” memberikan definisi Diplomasi sebagai berikut: “Diplomacy is the management of international relations by negotiation, the

  method by which these relations are adjusted and managed by ambassadors and evoys.; the business or art of the diplomatist. 12 ”

  Haji Agus Salim dalam bukunya “Tertib Diplomatik”, Deplu,1969, berpendapat bahwa ada perbedaan antara PolitikKebijakan atau Policy dan

  Harold Nicolson, Diplomacy, Oxford University Press, London, 2 nd 1960, hal 15

  Diplomacy. Yakni Policy is that what you want and Diplomacy that what you get 13 Dalam pengertian lain Diplomasi itu merupakan cara untuk mendapatkan apa yang

  diinginkan atau dikendaki. Hal ini ditempuh pemerintahan Negara atau perwakilan Negara tertentu di Negara Penerima, itu dialkukan untuk tujuan atau goal yang diinginkan seperti dalam contoh ini yaitu kepentingan, keamanan Warga Negara Indonesia termasuk Tenaga Kerja Indonesia.

  Inti Diplomasi adalah Perundingan. Deengan demikian ruang lingkup diplomasi ialah hubungan antar Negara atau hubungan dengan pihak-pihak asing; dan hubungan tersebut dilakukan dengan cara-cara damai melalui pertemuan dan perundingan. Inilah suatu cara yang dapat dilakukan oleh Kementrian Luar Negeri dan Kementerian Transmigrasi dan Ketenagakerjaan melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura, dalam menyampaikan kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam melindungi dan menjamin kepentingan Warga Negaranya kepada Otoritas Pemerintah Republik Singapura.

  Jalur atau track yang digunakan pada teori Diplomasi dalam membahas permasalahan ini yakni The First Track Diplomacy. Alasan penulis ingin menerapkan teori Diplomasi dengan The First Diplomacy karena permasalahan perlindungan terhadap TKI-B di Singapura melibatkan elemen penting kedua Negara baik Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Singapura terkait ketenagakerjaan Tenaga Kerja Asing termasuk TKI. Elemen atau pihak yang terlibat tersebut merupakan

  13 Mohsin, Aiyub Drs.MA.,MM., Diktat Diplomasi:Teori dan Praktek, 2010 13 Mohsin, Aiyub Drs.MA.,MM., Diktat Diplomasi:Teori dan Praktek, 2010

  

  (hal.17) 14 . Menurut asumsi penulis, dalam penjelasan De Magalhaes tersebut telah disebutkan bahwasanya hubungan yang terjalin oleh Negara yang berbeda dengan

  saling upaya merealisasikan kepentingan nasional yang diwujudkan dalam kebijakan luar negeri melalui perwakilan diplomatik Negara Pengirim maupun Negara Penerima.

  Fitur terpenting The First Track Diplomacy membedakan dengan bentuk diplomasi yang lainnya diantaranya adanya aplikasi formal di tingkat antarnegara (Pemerintah Negara Pengirim dengan Pemerintah Negara Penerima), di mana setiap Negara terkait menjadi penandatangan dari kesepakatan atau perjanjian internasional

  tersebut 15 . Di mana tidak membutuhkan unsur non Negara dalam memberikan usulan

  14 Magalhaẽs, C. J. (1988). The pure concept of diplomacy. New York: Greenwood Press. Dalam jurnal

  berjudul

  Track One and a Half Diplomacy and the Complementarity of Tracks oleh Jeffrey Mapendere, Assistant Director Conflict Resolution Program Carter Center dengan COPOJ – Culture of Peace Online Journal, 2(1), 66-81. ISSN 1715-538X www.copoj.ca.

  15 Jurnal berjudul Track One and a Half Diplomacy and the Complementarity of Tracks oleh Jeffrey

  Mapendere, Assistant Director Conflict Resolution Program Carter Center dengan COPOJ – Culture of Peace Online Journal, 2(1), 66-81. ISSN 1715-538X www.copoj.ca.

  maupun pandangan dalam perumusan hingga hasil dari kepahaman dan perjanjian internasional tersebut. Walaupun dampak dari hasil perjanjian ini dirasakan oleh warga Negara atau pihak terkait namun tidak signifikan merubah kebiasaan dan tata kehidupan masyarakat tersebut. Meskipun First Track Diplomacy banyak digunakan sebagai solusi penyelesaian kasus tertentu seperti resolusi dan resolving dari konflik yang terjadi, dapat juga diaplikasikan baik dalam bentuk kerjasama hingga penguatannya pada hubungan antarnegara dalam tingkat Pemerintah Negara masing- masing (dalam hal ini hubungan Indonesia – Singapura terutama masalah ketenagakerjaan dan Perlindungan TKI-B di Singapura).

F. Metode Penelitian

  Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang menekankan pada penjelasan atau penjabaran masalah secara eksplanasi maupun desktiptif. Teknik pengumpulan data, penulis menggunakan teknik pengumpulan data primer serta sekunder.

  Dalam menjawab penelitian diatas, penulis akan menggunakan metode kualitatif sebagai teknik analisa masalah yang akan dibahas. Menurut Strauss dan Corbin, yang dimaksud dengan penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai dengan menggunakan

  prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari pengukuran kuantitatif 16 .

  16 Anselm Strauss dan Juliet Corbin, “Basic of Qualitative Research: Technic and Procedures for Developing Grounded Theory, second edition”, (London: SAGE Publication, 1998), hlm. 11-13.

  Dalam teknik pengumpulan data maupun referensi, penulis menggunakan teknik pengumpulan data primer dan sekunder. Di mana pengumpulan data primer melalui wawancara atau interview kepada narasumber yang kompeten di bidangnya seperti Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia; Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI); perwakilan Pemerintah Republik Indonesia di Singapura dan pihak lainnya. Pengumpulan data sekunder melalui studi kepustakaan dari buku, jurnal ilmiah, surat kabar baik cetak maupun elektronik

G. Sistematika Penulisan

  Sistematika penulisan merupakan penjelasan mengenai alur pembahasan yang penulis akan tulis dalam skripsi ini, sehingga skripsi dapat dipahami dengan mudah sebagai kesatuan yang terstruktur dengan baik. Sistematika penulisan dalam skripsi ini terdiri dari lima (5) bab, yang mana akan dijelaskan sebagai berikut. BAB 1 PENDAHULUAN

  Dalam Bab ini penulis akan membahas mengenai alur pembahasan yang penulis kemukakan dalam penulisan skripsi ini, di mana diawali dengan mendeskripsikan masalah yang akan dibahas secara umum ke khusus dalam pernyataan masalah dilanjutkan dengan mengemukakan pertanyaan masalah yang diajukan untuk dibahas serta dianalisa berikutnya pada bab ke-IV pada khususnya. Lalu dijelaskan pula mengenai tujuan dan manfaat penulisan dari skripsi yang mana diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca maupun peneliti yang konsen dalam

  perlindungan hukum dari penempatan Tenaga Kerja lintas Negara terutama yang berkaitan dengan Ilmu Hubungan Internasional. Selain itu, bab ini juga akan mengangkat mengenai tinjauan pustaka yang mana terdapat peneliti atau scholar lain terlebih dahulu telah membahas mengenai permasalahan serupa atau memiliki persamaan di salah satu sisinya dengan penulis serta akan mengungkapkan perbedaannya bahkan memberikan pernyataan terkini dari pembahasan permasalahan tersebut. Kemudian akan dijelaskan pula kerangka pemikiran, yang mana merupakan pendekatan berupa teori maupun konsep yang akan digunakan dalam membahas dan menganalisa permasalahan tersebut. Metode penelitian pun akan dikemukakan pula sebagai media yang digunakan untuk mngetahui pola penulisan dan mendapatkan sumber referensi dalam penelitian penulisan skripsi ini. Terakhir yakni sistematika penulisan dari skripsi ini. BAB II Hubungan Indonesia – Singapura

  Bab ini akan dibahas bagaimana hubungan antara Indonesia dengan Singapura yang terjalin kerjasama di berbagai bidang termasuk kepada penguatannya tersebut, sehingga akan terlihat bentuk respon yang diberikan oleh pihak tertentu terhadap tindakan yang diberikan pihak lainnya (dalam hal ini terutama pada bidang ketenagakerjaan yang melibatkan kedua Negara). Di mana terlebih dahulu dijelaskan kronologis bagaimana sejarah penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Luar Negeri termasuk di Singapura. Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri telah dilakukan bertahap dan kondisional sesuai dengan Pemerintahan Indonesia saat Bab ini akan dibahas bagaimana hubungan antara Indonesia dengan Singapura yang terjalin kerjasama di berbagai bidang termasuk kepada penguatannya tersebut, sehingga akan terlihat bentuk respon yang diberikan oleh pihak tertentu terhadap tindakan yang diberikan pihak lainnya (dalam hal ini terutama pada bidang ketenagakerjaan yang melibatkan kedua Negara). Di mana terlebih dahulu dijelaskan kronologis bagaimana sejarah penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Luar Negeri termasuk di Singapura. Penempatan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri telah dilakukan bertahap dan kondisional sesuai dengan Pemerintahan Indonesia saat

  Kerjasama yang dilakukan di berbagai bidang akan disebutkan dalam bab ini termasuk penguatan serta perluasan pendayagunaannya sendi-sendinya sebagai upaya mempererat hubungan Indonesia dan Singapura yang sudang terjalin 50 Tahun tersebut. Di mana akan mendatangkan keuntungan bagi kedua Negara yang mana di beberapa bidang tertentu dilaksanakan Nota Kesepahaman (MoU) sebagai bukti kekuatan yang mengikat termasuk konsekuensi yang harus diterima dari perjanjian tersebut. Seraya terus mengupayakan proses diterbitkannya Nota Kesepahaman (MoU) Ketenagakerjaan di waktu yang akan datang. Maka dari itu akan dijelaskan pula upaya tindak lanjut Pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan kinerjanya dalam penempatan TKI di Luar Negeri khususnya Singapura baik dilakukan sejak di Tanah Air oleh Instansi terkait seperti Kemlu dan Kemnakertrans berkoordinasi dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). Dengan dilanjutkan tugasnya oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura sebagai garda terdepan Pelayanan WNI maupun Perlindungan terhadap TKI-B, serta senantiasa berkomunikasi aktif baik internal maupun eksternal dengan Pemerintah Singapura melalui Ministry of Man Power (MOM) dan Asosiasi Pekerja TKI

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

DEDY PERWIRA D. SATRIA FISIP