Penafsiran Narasi Perjanjian Lama (1)

Peniel C. D. Maiaweng

Penafsiran Narasi
Perjanjian Lama

^ĞŬŽůĂŚdŝŶŐŐŝdŚĞŽůŽŐŝĂ:ĂīƌĂLJ
DĂŬĂƐƐĂƌ
2014

ISBN 978-602-14128-3-1

Penafsiran Narasi Perjanjian Lama
Oleh: Peniel C. D. Maiaweng
©2014 oleh Sekolah Tinggi Theologia Jaffray
Jl. Gunung Merapi 103
Makassar 90010
Sulawesi Selatan - Indonesia
Telp. 0411 - 3624129
E-mail: sttjaffray@yahoo.com
Website: www.sttjaffray.ac.id
Desain Sampul dan Setter: Aldorio Flavius Lele, S. Th.
Korektor Naskah: Hanny Frederik, S. Th., dan Queency Christie
Wauran, S, Th.
* Dilarang mengutip atau memperbanyak atau menjiplak isi buku
ini secara menyeluruh maupun sebagian, dengan cara mencetak dan
fotokopi atau dengan cara apapun tanpa seijin Penerbit.
Cetakan Pertama Desember 2014 sebanyak 1000 exemplar

KATA PENGANTAR
Menafsir Alkitab adalah tugas penting bagi seorang pelayan Tuhan, karena sejauh mana ia menafsir satu nas yang akan
diajarkan atau dikhotbahkan, maka sejauh itu pula pemahamannya terhadap nas tersebut.
Penafsiran Alkitab didahului dengan pemahaman terhadap genre atau jenis sastra dari nas yang akan ditafsir. Dalam
Perjanjian Lama terdapat genre Taurat, Narasi, Puisi, dan Nubuat.
Tulisan ini mengkaji tentang Penafsiran Narasi Perjanjian Lama.
Narasi adalah pengisahan suatu kejadian yang diakui sebagai fakta sejarah. Penafsiran Narasi Perjanjian Lama adalah
penafsiran terhadap kisah-kisah dalam Perjanjian Lama yang dianggap sebagai peristiwa sejarah, dengan memfokuskan perhatian pada analisa terhadap kitab-kitab atau bagian-bagian dari
kitab dalam Perjanjian Lama sebagai sebuah kesusastraan yang
utuh dengan memfokuskan perhatian pada plot/alur dan adeJDQ SHQJXODQJDQ GDQ NDWD NXQFL WRNRK DWPRVÀU VXGXW SDQdang, dan pemilihan materi.
Dalam melaksanakan Penafsiran Narasi Perjanjian Lama,
penulis tetap mempertahankan fungsi sejarah dalam narasi Perjanjian Lama untuk menemukan makna yang terkandung dalam
narasi. Penulis juga tetap mempertahankan makna yang dimaksud dalam nas sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa narasi
3HUMDQMLDQ/DPDDGDODKÀNVL\DQJPHQJJDQWLNDQVHMDUDK
Isi pembahasan buku ini adalah Metode Penafsiran Narasi, Penafsiran Narasi Yunus Pasal 3-4, Implikasi Teologis, dan
Implikasi Praktis. Fokus pembahasan yang ada menunjukkan
bahwa hasil kajian sebuah narasi Perjanjian Lama haruslah menghasilkan pengajaran Teologis dan pengajaran Praktis bagi gereja
masa kini.

iv

Kata Pengantar

Untuk itu, buku ini ditulis untuk melengkapi para pela\DQÀUPDQDJDUPHUHNDPHPLOLNLPHWRGH\DQJWHSDW\DQJGDSDW
menolong mereka untuk menafsir narasi Perjanjian Lama secara
benar.
Akhir kata, penulis bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus
yang telah memanggil penulis menjadi hamba-Nya untuk melayani Dia sebagai Raja melalui pendidikan teologi.
Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih banyak
kepada Hengki Wijaya, ST., M. Th., Aldorio F. Lele, S. Th., Hanny
Frederik, S. Th., dan Queency Christie Wauran, S. Th., yang telah
membantu penulis untuk menghasilkan buku ini. Kiranya Tuhan
yang empunya segala berkat memberkati saudara-saudara dalam
pelayanan.
Segala kemuliaan hanya dari Tuhan, oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Imanuel.
Makassar, Desember 2014.
Penulis,

Peniel C. D. Maiaweng

Daftar Isi
Kata Pengantar .................................................................................. iii
Daftar Isi .............................................................................................. v
Metode Penafsiran Narasi Perjanjian Lama ................................. 1
Narator .......................................................................................... 2
Sudut Pandang ............................................................................ 4
Waktu Cerita ............................................................................... 6
Alur (Plot) ..................................................................................... 6
Adegan .......................................................................................... 7
Pemilihan Materi ........................................................................ 8
Penokohan ................................................................................... 8
Pengulangan dan Kata Kunci ................................................... 9


$WPRVÀU

Analisa Narasi Yunus Pasal 3-4 ...................................................... 11
Narator Kitab Yunus Pasal 3-4 ................................................ 11
Waktu Cerita Kitab Yunus Pasal 3-4 ..................................... 13
Adegan dan Plot Kitab Yunus Pasal 3-4 ............................... 15
Percakapan dalam Kitab Yunus Pasal 3-4 ............................. 25
Pengulangan dan Kata Kunci Kitab Yunus Pasal 3-4 ......... 28
Penokohan dalam Kitab Yunus Pasal 3-4 ............................. 32
Orang-orang Niniwe ............................................................ 32
TUHAN .................................................................................. 44
Yunus ...................................................................................... 48
Sudut Pandang Pencerita Kitab Yunus Pasal 3-4 ................. 65


$WPRVÀU.LWDE
vi

Penafsiran Narasi Perjanjian Lama

Pemilihan Materi Kitab Yunus Pasal 3-4 ............................. 69
Teologi Kitab Yunus Pasal 3-4: Allah Menyesal ........................ 74
Pengertian Umum “Allah Menyesal” ................................... 76
Pengertian Konteks “Allah Menyesal” ................................. 81
Proklamasi Anugerah .......................................................... 81
Pembatalan Malapetaka ...................................................... 84
Pengakuan Iman ................................................................... 87
Implikasi Teologi Allah Menyesal ........................................ 90
Allah yang Menyesal adalah Allah yang Terbuka ........ 90
Allah yang Menyesal adalah Allah yang Berdaulat ...... 93
Allah yang Menyesal adalah Allah yang Mahatahu ..... 99
Allah yang Menyesal adalah Allah yang Konsisten
terhadap Firman-Nya ........................................................ 101
Allah yang Menyesal adalah Allah yang Konsisten
terhadap Sifat-sifat-Nya .................................................... 103
Implikasi Praktis Pengajaran Kitab Yunus Pasal 3-4 .............. 111
Proklamasi Anugerah ............................................................. 111
Pemberitaan tentang Pertobatan .......................................... 115
Konsisten terhadap Panggilan .............................................. 118
Konsisten terhadap Firman .................................................. 119
Perbuatan Baik ........................................................................ 120
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................... 124

I
METODE PENAFSIRAN
NARASI PERJANJIAN LAMA
Narasi Alkitab adalah suatu gaya penulisan tentang pengisahan peristiwa atau kejadian yang diakui
sebagai fakta sejarah, tentang pekerjaan Allah di bumi
ciptaan-Nya dan melalui umat-Nya.1 Penafsiran narasi
Perjanjian Lama adalah penafsiran terhadap kisah-kisah
dalam Perjanjian Lama,2 yang mengacu kepada analisa
terhadap kitab-kitab atau bagian-bagian dari kitab-kitab
dalam Perjanjian Lama sebagai sebuah kesusastraan
yang utuh dengan memfokuskan perhatian pada narator atau pencerita, plot/alur dan adegan, pengulangan
GDQNDWDNXQFLWRNRKDWPRVÀUVXGXWSDQGDQJGDQSHmilihan materi.3 Inilah batasan kajian penafsiran narasi
yang menjadi acuan untuk menafsir sebuah cerita dalam
Perjanjian Lama.
ϭഩtĂůƚĞƌ <ĂŝƐĞƌ͕ :ƌ͕͘ Berkhotbah dan Mengajar dari Perjanjian Lama ;ĂŶĚƵŶŐ͗ <ĂůĂŵ,ŝĚƵƉ͕ϮϬϬϵͿ͕ϴϭ͖ĚĂŶ'ŽƌĚŽŶ͘&ĞĞΘŽƵŐůĂƐ^ƚƵĂƌƚ͕,ĞƌŵĞŶĞƵƟŬ͗ĂŐĂŝŵĂŶĂ
Menafsir Firman Tuhan dengan Tepat ;DĂůĂŶŐ͗'ĂŶĚƵŵDĂƐ͕ϮϬϬϭͿ͕ϳϱͲϳϲ͘
ϮഩZŝĐŚĂƌĚ>͘WƌĂƩ͕:ƌ͕͘Ia Berikan Kita Kisah-Nya;^ƵƌĂďĂLJĂ͗DŽŵĞŶƚƵŵ͕ϮϬϬϱͿ͕džŝŝŝ͘
ϯഩ:ĂŶŝĐĞ ĂƉĞů ŶĚĞƌƐŽŶ ĂŶĚ ^ƚĞƉŚĞŶ DŽŽƌĞ͕ DĂƌŬ Θ DĞƚŚŽĚ͗ EĞǁ ƉƉƌĂŽĐŚĞƌ ŝŶ
ŝďůŝĐĂů^ƚƵĚŝĞƐ;ŚĂƩĂŶŽŽŐĂ͗WƌĞĐĞƉƚDŝŶŝƐƚƌŝĞƐ͕ϭϵϵϮͿ͕ϭϲϱ͘ŝŬƵƟƉŽůĞŚŶĚƌĞĂƐ͘
^ƵďĂŐLJŽ͕WĞŶŐĂŶƚĂƌZŝƐĞƚ<ƵĂŶƟƚĂƟĨΘ<ƵĂůŝƚĂƟĨ;ĂŶĚƵŶŐ͗<ĂůĂŵ,ŝĚƵƉ͕ϮϬϬϰͿ͕ϭϯϮͲ
ϭϯϯ͖<ĂŝƐĞƌ͕:ƌ͕͘Berkhotbah dan Mengajar dari Perjanjian Lama,ϴϭͲϴϮ͘

Ϯ

Penafsiran Narasi Perjanjian Lama

Adapun metode pernafsiran narasi Perjanjian
Lama yang akan digunakan dalam pembahasan ini sebagai berikut:4



tĂŬƚƵŶĂƌĂƚŝĨ

Plot

ŶĂƌĂƚŽƌ

Adegan

Kata Kunci

TEKS STORY

Penokohan

Atmosf ir

Percakapan

Struktur

ŶĂƌĂƚŽƌ

Pemilihan Materi

^ƵĚƵƚƉĂŶĚĂŶŐ

Narator
Narator bukanlah penulis yang sesungguhnya
dalam teks, tetapi penulis yang hanya dapat dikenal
karena menyatakan diri dalam teks atau yang menciptakan personanya dalam teks. Dengan melaksanakan
analisa narasi, maka yang diteliti adalah teks (bukan
penggubahnya), untuk mengetahui keterlibatannya serϰ൯ĂŐĂŶŝŶŝĚŝďƵĂƚďĞƌĚĂƐĂƌŬĂŶ'ƌĂŶƚZ͘KƐďŽƌŶĞ͕dŚĞ,ĞƌŵĞŶĞƵƟŬĂů^ƉŝƌĂů͗ŽŵƉƌĞŚĞŶƐŝǀĞ/ŶƚƌŽĚƵĐƟŽŶƚŽŝďůŝĐĂů/ŶƚĞƌƉƌĞƚĂƟŽŶ;ŽǁŶĞƌƐ'ƌŽǀĞ͕/ůůŝŶŽŝƐ͗/ŶƚĞƌǀĂƐŝƚLJ
WƌĞƐƐ͕ϭϵϵϭͿ͕ϭϱϱ͘ĂůĂŵďĂŐĂŶŝŶŝ͕ƉĞŶƵůŝƐƐĞŶŐĂũĂƟĚĂŬ ŵĞŶĐĂŶƚƵŵŬĂŶƉĞŵďĂĐĂ
ƚĞƌƐŝƌĂƚĚĂŶƉĞŶƵůŝƐƚĞƌƐŝƌĂƚ͘^ĂůĂŚƐĂƚƵƚƵũƵĂŶĚĂƌŝƉĞŵďĂƚĂƐĂŶLJĂŶŐĂĚĂĂĚĂůĂŚƵŶƚƵŬ
ŵĞŵƉĞƌƚĂŚĂŶŬĂŶƵŶƐƵƌŬĞƐĞũĂƌĂŚĂŶŶĂƌĂƐŝ͘ĂůĂŵƉĞŶũĞůĂƐĂŶďĂŐŝĂŶͲďĂŐŝĂŶŶĂƌĂƐŝ͕
ƉĞŶƵůŝƐũƵŐĂŵĞŶŐŐƵŶĂŬĂŶďĞďĞƌĂƉĂƐƵŵďĞƌƉĞŶĚƵŬƵŶŐůĂŝŶŶLJĂ͘

Metode Penafsiran Narasi Perjanjian Lama

3

ta nilai-nilai dan pandangan teologinya, yang telah dipilih oleh penulis yang sebenarnya untuk menerangi teks.5
Narator adalah pembicara yang tidak tampak dalam
teks, khususnya dalam bagian-bagian dari teks yang diselidiki. Narator mengisahkan suatu cerita dan kadang
menjelaskan maksudnya. Narator juga berkedudukan
di segala tempat dalam mengutarakan ceritanya.6
Dengan perkataan lain, narator adalah “pribadi
atau perangkat nilai yang diterima pembaca sebagai pencipta dan pengendali karya secara implisit” atau “penulis
yang disiratkan oleh sebuah karya secara keseluruhan.”7
Narator bertindak sebagai pencerita yang memahami segala tempat, segala keadaan, dan kondisi semua karakter yang ada dalam narasi.
Memerhatikan keberadaan narator yang demikian,
maka tidak ada alasan lain yang dapat diberikan ketika
mempelajari narasi Perjanjian Lama, kecuali mengakui,
bahwa narator diinspirasikan oleh Allah untuk menulis
narasinya sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Allah
terhadap setiap narasi yang ada dalam Perjanjian Lama.

ϱഩ͘͘^ŝƚŽŵƉƵůĚĂŶhůƌŝĐŚĞLJĞƌ͕DĞƚŽĚĞWĞŶĂĨƐŝƌĂŶůŬŝƚĂď;:ĂŬĂƌƚĂ͗W<'ƵŶƵŶŐ
DƵůŝĂͿ͕ ϯϬϰ͘  DĞƌĞŬĂ ďĞƌĚƵĂ ŵĞŶLJĞďƵƚ implied author ĂĚĂůĂŚ ͞ƉĞŶŐŐƵďĂŚ ƚĞƌƐĞůƵďƵŶŐ͘͟
ϲഩ/ďŝĚ͘
ϳഩ:ĂŶŝĐĞ ĂƉĞů ŶĚĞƌƐŽŶ ĂŶĚ ^ƚĞƉŚĞŶ DŽŽƌĞ͕ DĂƌŬ Θ DĞƚŚŽĚ͗ EĞǁ ƉƉƌĂŽĐŚĞƌ ŝŶ
ŝďůŝĐĂů^ƚƵĚŝĞƐ͕ϭϲϰ͘ŝŬƵƟƉŽůĞŚ^ƵďĂŐLJŽ͕WĞŶŐĂŶƚĂƌZŝƐĞƚ<ƵĂŶƟƚĂƟĨΘ<ƵĂůŝƚĂƟĨ͕
ϭϯϯ͘

ϰ

Penafsiran Narasi Perjanjian Lama

Sudut Pandang
Sudut pandang adalah perspektif dari berbagai
karakter atau bagian-bagian di dalam narasi. 8 Menurut
A. A. Sitompul dan Ulrich Beyer,
Hal ini selalu dikaitkan kepada narator yang berinteraksi dengan cerita dalam berbagai cara yang
menghasilkan pengaruh bahwa cerita itu dapat diketahui pembaca. Sudut pandang menunjuk gaya atau
makna cerita. Setiap penulis memiliki pesan tertentu, yang ia ingin melintaskannya kepada pembaca.
Sudut pandang ini mengarahkan pembaca memperoleh suatu makna cerita dan menentukan bentuk
yang aktual, yang diberikan penggubahnya (author)
kepada naratif. 9
Dengan perkataan lain, sudut pandang adalah pandangan narator/pencerita yang dituangkan dalam cerita/narasi sebagai hak prerogatifnya untuk menyatakan
pendiriannya terhadap cerita yang disampaikan dan
pemilihan tokoh-tokoh yang dikehendaki dalam cerita
untuk memenuhi maksud penulisannya.10 Dalam hal
ini, narator “… melihat dari berbagai sudut pandang untuk membentuk dan mengembangkan alur cerita yang
mampu membimbing pembaca dalam beberapa pemaϴഩ^ŝƚŽŵƉƵůĚĂŶĞLJĞƌ͕DĞƚŽĚĞWĞŶĂĨƐŝƌĂŶůŬŝƚĂď͕ϯϬϰͲϯϬϱ͘
ϵഩ/ďŝĚ͕͘ϯϬϱ͘
ϭϬഩ<ĂŝƐĞƌ͕:ƌ͕͘Berkhotbah dan Mengajar dari Perjanjian Lama͕ϴϲͲϴϳ͘

Metode Penafsiran Narasi Perjanjian Lama

ϱ

haman atau makna yang mengarahkannya pada waktu
yang sama.”11 Narator hanya menulis apa yang menurutnya dianggap perlu untuk ditulis untuk diinformasikan kepada para pembaca
Sudut pandang berorientasi pada beberapa aspek
untuk memudahkan pembaca memahaminya, seperti:12
1. Dimensi psikologi, yaitu narator menyatakan pikiran
dan perasaan tokoh-tokoh yang berada dalam cerita dan memberikan informasi pengetahuan kepada
pembaca yang mungkin tidak diketahui siapa pun
juga.
2. Evaluasi atau ideologi, yaitu narator menyatakan
konsep yang benar dan salah dalam naratif atau menyatakan perbedaan yang mencolok di antara para
karakter.
3. Perspektif ruang narator Alkitab, yaitu narator bertindak sebagai orang yang mahatahu (omniscient) yang
mengetahui segala sesuatu yang dinarasikannya, dan
ia pun seorang yang mahahadir (omnipresent), karena
menginformasikan kejadian-kejadian pada berbagai
tempat dalam cerita.
4. Perspektif sementara, yaitu narator mempertimbangkan suatu tindakan dalam cerita pada waktu sekarang dan waktu yang akan datang.
ϭϭഩ^ŝƚŽŵƉƵůĚĂŶĞLJĞƌ͕ϯϬϱ͘
ϭϮഩ/ďŝĚ͕͘ ϯϬϱͲϯϬϴ͖ ĚĂŶ ůůĂŶ ƵůƉƉĞƉĞƌ͕ ͞ >ŝƚĞƌĂƌLJ DŽĚĞů͕͟ ĚĂůĂŵ ZĂLJŵŽŶĚ ĂŝůĞLJ
;ĐŽŶƚƌŝďƵƟŶŐĞĚŝƚŽƌͿ͕ƉƉƌŽĂĐŚĞƐƚŽŽŶƚĞŵƉŽƌĂƌLJ/ŶƚĞƌƉƌĞƚĂƟŽŶƐŽĨ^ĐƌŝƉƚƵƌĞ;EĂƐŚǀŝůůĞ͗ ƌŽĂĚŵĂŶ WƌĞƐƐ͕ ϭϵϵϮͿ͘  ŝŬƵƟƉ ŽůĞŚ ^ƵďĂŐLJŽ͕ WĞŶŐĂŶƚĂƌ ZŝƐĞƚ <ƵĂŶƟƚĂƟĨ Θ
<ƵĂůŝƚĂƟĨ͕ϭϯϰ͘

ϲ

Penafsiran Narasi Perjanjian Lama

5. Sudut pandang penyusunan kata, yaitu narator menyebutkan dialog-dialog yang terdapat dalam narasi.
Ini menunjukkan kemampuan menyeluruh (omnicompetence) dari penggubah (author), karena ia sanggup mendengar dialog-dialog yang terjadi di antara
karakter-karakter dalam cerita.
Waktu Cerita
Waktu cerita adalah tata peristiwa dalam cerita
yang berkaitan satu dengan yang lain. Waktu cerita
adalah waktu naratif (penyusunan kesusastraan), yang
dibedakan dari waktu kronologis (urutan sejarah atau
pentakhiran). Urutan pengisahan narasi (peristiwa dan
kejadian) dan makna yang terkandung di dalamnya lebih diutamakan.13 Kadang narator menulis beberapa
peristiwa yang terjadi pada beberapa tempat yang berbeda dalam waktu yang sama.
Alur (Plot)
Plot adalah bagian-bagian yang terfokus pada
proses atau alur cerita dalam narasi.14 Plot menggambarkan alur cerita yang memberikan batasan pada awal,
pertengahan, dan akhir, dengan menelusuri perkembangan peristiwa dan episode yang muncul dalam cerita. Plot juga berhubungan dengan urutan peristiwa, peϭϯഩ<ĂŝƐĞƌ͕:ƌ͕͘Berkhotbah dan Mengajar dari Perjanjian Lama͕ϯϬϵͲϯϭϬ͘
ϭϰഩZĂLJŵŽŶĚ&͘WĞƌƐŽŶ͕:ƌ͕͘/ŶŽŶǀĞƌƐĂƟŽŶǁŝƚŚ:ŽŶĂŚ͕;^ŚĞĸĞůĚ͗^ŚĞĸĞůĚĐĂĚĞŵŝĐ
WƌĞƐƐ͕ϭϵϵϲͿ͕ϱϭ͘

Metode Penafsiran Narasi Perjanjian Lama

ϳ

nyebabnya, dan akibat-akibatnya.15 Plot dimaksudkan
untuk membawa pembaca kepada klimaks dan melibatkan pembaca pada pengisahan cerita.16 Hal yang paling utama diperhatikan dalam penyusunan plot adalah
ketegangan atau suasana pertentangan, karena ketegangan yang diciptakan narator membuat cerita menarik
untuk dibaca. Apabila ketegangan selalu ditimbulkan
oleh narator, maka pembaca tidak mengantuk dan jalan ceritanya akan lebih mudah diserap oleh pembaca.17
Dengan adanya plot, maka pembaca akan mudah untuk
memahami dan membagi adegan-adegan yang terdapat
pada bagian awal, tengah, dan akhir dari narasi.
Adegan
Adegan adalah penggambaran sesuatu yang terjadi pada waktu atau tempat tertentu yang diinformasikan dalam narasi, yang mana masing-masing adegan
terdapat topik utamanya dan tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya.18 Adegan dapat dibagi berdasarkan
waktu, setting (tempat, ciri-ciri lingkungan, dan para
tokoh), dan mode narasi (komentar penulis, deskripsi
narasi, penggambaran dramatis).19 Pembagian adegan
mempermudah pembaca untuk memahami bagian-bagian kecil dari narasi yang akan menuntun pembaca unϭϱഩ<ĂŝƐĞƌ͕:ƌ͕͘ϴϱͲϴϲ͘
ϭϲഩ^ŝƚŽŵƉƵůĚĂŶĞLJĞƌ͕DĞƚŽĚĞWĞŶĂĨƐŝƌĂŶůŬŝƚĂď͕ϯϭϭ͘
ϭϳഩ/ďŝĚ͘
ϭϴഩ<ĂŝƐĞƌ͕:ƌ͕͘ϴϯͲϴϰ͘
ϭϵഩWƌĂƩ͕:ƌ͕͘ϭϳϱͲϭϳϵ͘

ϴ

Penafsiran Narasi Perjanjian Lama

tuk memahami isi keseluruhan narasi.
Pemilihan Materi
Pemilihan materi adalah cara yang digunakan oleh
narator atau pencerita secara intensif untuk membentuk
penjabaran tema-tema dan karakter-karakter yang sama
dan yang berbeda dalam cerita. Pencerita cenderung
menunjukkan otoritasnya pada percakapan-percakapan
dalam cerita. Pencerita juga mendemonstrasikan bahwa
ia mengontrol narasi yang disampaikannya.20 Materi
yang digunakan oleh narator, menurutnya materi yang
pantas untuk diinformasikan dalam narasi dan akan
memberikan informasi yang penting dan cukup bagi
pembaca.
Penokohan
Penokohan adalah penjelasan tentang seorang
tokoh berdasarkan tindakan dan interaksinya dengan
tokoh yang lain, melalui perkataannya sendiri, melalui
perkataan tokoh yang lain, atau melalui komentar khusus dari pencerita. Penokohan biasanya bersifat statis
kalau tokoh yang dimaksud tidak berubah dalam sebuah
cerita; dan bersifat dinamis jika menunjukkan perubahan dan perkembangan yang mencolok dalam cerita.21
Person berpendapat bahwa alam (binatang, tumbuhan,
ϮϬഩWĞƌƐŽŶ͕:ƌ͕͘ϴϮͲϴϯ͘
Ϯϭഩ<ĂŝƐĞƌ͕:ƌ͕͘ϴϴͲϴϵ͘

Dokumen yang terkait

Dokumen baru