Pendidikan Agama dan Tindakan Kekerasan

  

PENDIDIKAN AGAMA

DAN

TINDAKAN KEKERASAN

Tugas Individu

  Makalah

  disusun guna memenuhi tugas Mata kuliah: Bahasa Indonesia Yang diampu oleh: Drs. Djoko Widagdo, M.Pd.

   Disusun oleh:

M. Fuad Zainul Arwan

  (

073111106

  )

FAKULTAS TARBIYAH

  

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2010

  Pendidikan Agama dan Tindakan Kekerasan

I. Pendahuluan

  Tindak kekerasan mengatas namakan agama sering terjadi dilingkungan kita, hal ini terjadi karena pemahaman dan ajaran agama yang satu dengan yang lainya berbeda-beda, perlu adanya suatu tindakan yang nyata untuk menangai hal tersebut agat tidak terjadi gesekan antar umat beragama. Sehingga terjadi keharmonisan dalam kerukunan umat berakama.

  Konflik antar umat beragama merupakan fenomena yang nyata pada masyarakat madani kita, disini posisi pendidikan agama sangat penting guna menanggulangi tindak kekerasan, pendidikan agama dapat sebagai media untuk melakukan perdamaian terutama antar peserta didiki, pendidikan agama dapat mengajarkan bahwa “balasan untuk suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa dengannya”, namun balasan memberi maaf adalah dan melakukan rekonsiliasi, balasannya adalah dari tuhan.

  Pemaparan diatas hanya sebagian dari isi makalah kami, dipembahasan selanjutnya akan dijelaskan mengenai pendidikan agama dan tindak kekerasan beserta faktor yang menyebabkan dan solusi untuk pendidikan kita.

II. Rumusan Masalah

  1. Pengertian pendidikan agama?

  2. Memahami tindak kekerasan?

  3. Agama dan kekerasan?

  4. Solusi terhadap tindak kekerasan atas nama agama?

  5. Peran pendidikan agama dalam menanggulangi tindak kekerasan?

III. Pembahasan

a. Pengertian pendidikan Agama

  Pendidikan agama berasal dari dua kata yaitu pendidikan dan agama, pada kesempatan kali ini akan dibahas secara singkat mengenai pendidikan dan agama, pendidikan agama islam.

  1. Hakekat pendidikan Pendidikan merupakan sebuah istilah yang mudah ucapkan tetapi sulit didefinisikan. Kesulitan ini dikarenakan banyaknya jenis kegiatan yang dapat disebut sebagai kegiatan pendidikan dan luasnya aspek yang dibina oleh pendidikan (Tafsir, 1992:26).

  Pada hakekatnya pendidikan tidak terlepas pada hakekat

  

  manusia itu sendiri, secara ontologiadanya pendidikan karena adanya manusia, (Rohman, 2009:34). Karena pendidikan merupakan bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rihani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (Marimba, 1989:19)

  Tinjauan etimologi, pendidikan dalam bahasa arab dikenal dengan istilah al-tarbiyah, namun dalam leksikologi Al-Qur’an tidak ditemukan istilah tersebut, namun terdapat istilah yang senada dengan istilah al-tarbiyah yaitu ar-rabb, rabbayani, murabbi,

  ribbiyun, rabbani, (Hamnuri, 2008:55). Sebagaimana yang tertera

  dalam surat Ali Imran ayat 79 yang berbunyi:

   ...            

  Artinya:

  "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[208], karena kamu selalu mengajarkan Al kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. 1 (QS. Ali Imran ayat 79)

  

Ontologis dapat diartikan sebagai “a central part of metaphisics”(Suparlan, 2005:149)

  Jika mencermati ayat diatas, maka pendidikan secara etimologi dapat diartikan proses trasnformasi ilmu pengetahuan. Yang dimaksudkan proses disini ialah bermula dari mengenal, menghafal, dan ingatan. Dan masih banyak istilah-istilah lain tentang pendidikan seperti al-ta’lim, dan al-ta’dib.

  Tinjauan terminologi, para ahli berbeda-beda dalam memaparkan pengertian pendidikan, namun secara garis besar dapat disimpulkan bahwa pendidikan ialah proses tranformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi fitrahnya, sehingga mencapai pribadi yang utama sesuai dengan ajaran islam (Hamnuri, 2008:61).

  2. Pengertian agama Agama memiliki istilah: religion (Ing.), religie (Bld.), din

  (Ar), arti leksikal agama menurut W.J.S Poerwodarminto adalah segenap kepercayaan (kepada tuhan, dewa dan sebagainya) serta dengan kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu (Amin, 2006:18).

  Dari pengertian diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa agama merupakan suatu kepercayaan tentang adanya sesuatu yang ghoib yang memiliki kekuatan disertai dengan ritual-ritual tertentu untuk menyakini adanya sesuatu yang memiliki kekuatan tersebut tersebut.

b. Memahami tindak kekerasan

  Ted honderik mendefinisikan kekerasan sebagai “ penggunaan kekuatan yang besar atau yang menghancurkan terhadap orang atau benda, penggunaan kekuatan yang dilarang oleh hokum, diarahkan untuk mengubah kebijakan, lembaga atau sistem pemerintahan, dan kerenanya juga diarahkan untuk merubah eksistensi individu dalam masyarakat dan mungkin juga masyaratkat lain (Baehaqie, 2003:4).

  Tindak kekerasan merupakan kegiatan yang bisa merugikan orang lain maupun masyarakat dengan kepentingan untuk merubah sistem yang telah ada, di ganti dengan sistem baru yang dianggap lebih mumpuni dari pada sistem yang telah ada.

  Tindak kekerasan atas nama agama sering kita lihat dilingkungan kita, disebabkan masyarakat kita terutama indonesia adalah masyarakat yang hiterogen, sering terjadi perbedaan pemahaman antara satu dengan yang lain. Seperti yang dilakukan oleh ormas yang menilai bahwa pemahaman yang baru muncul sebagai pemahaman yang sesat, sehingga perlu dihilangkan dengan melakukan tindak kekerasan dengan membakar rumah penduduk dan mengusir mereka.

c. Agama dan kekerasan

  Ada beberapa mekanisme yang berperan dalam kaitannya dengan hubungan antar agama dan kekerasan dalam fungsi masyarakat:

  1. Pembacaan agama mengenai hubungan sosial Ketika agama membentuk dasar masyarakat dengan menyediakan pembacaan mengenai hubungan sosial serta legitimasi, maka hal itu merupakan fungsi ideologis agama. Tatanan sosial dikehendaki oleh Tuhan, dan hubungan yang ada antara berbagai kelompok yang membentuk masyarakat adalah hasil dari kehendak adi-duniawi. Biasanya, ia menjadi sejenis naturalisasi tatanan sosial, alam dan hukumnya menjadi hasil 2003:15).

  Padahal idiologi antara agama satu dengan yang lain berbeda, setiap naturalisasi hubungan sosial yang tidak sama bisa menjadi sumber kekerasan dalam hubungan masyarakat yang disebabkan perbedaan tersebut.

  2. Agama sebagai faktor identitas

  Identitas bisa diartikan sebagai rasa memiliki pada etnis, kelompok nasional atau sosial tertentu yang pada gilirannya memberi stabilitas sosial, status, pendangan dunia, cara berfikir tertentu, singkatnya, kebudayaan. Identitas kelompok bisa menjadi hasil dari pemilikan etnis yang berbeda satu sama lain persisnya karena adanya agama yang berbeda.

  Salah satu contoh yang paling mencolok ialah adanya konflik antara Israel dengan rakyat Palestina. Faktor agama hanyalah relevan bagi salah satu dari dua kelompok ini, secara sosial dan dari segijumlah mereka adalah kelompok yang penting. Bagi kedua pihak, argumen agama sangat penting. Masing-masing mempunyai argumennya sendiri, tetapi keduanya yakin bahwa mereka bertindak atas nama Tuhan.

d. Solusi terhadap tindak kekerasan atas nama agama

  Secara apologis pada dasarnya semua agama mengajarkan anti- kekerasan (non-violent), dan manusialah baik secara individu maupun kolektif yang menyelewengkan maknanya, sehingga agama sebagai kendaraan untuk melakukan tindak kekerasan.

  Jika kekerasan merusak hubungan dengan orang lain di lingkungan masyarakat dan Tuhan, hal-hal yang bisa dilakukan orang yang beragama adalah:

  1. Pengakuan kesalahan yang telah dilakukannya. Ini merupakan langkah pokok dalam upaya memperbaiki diri. untuk mengubah tindakannya dan niat untuk tidak melakukan dosa lagi.

  3. Maaf, maaf tidak hanya berarti bahwa mereka tidak lai melihat tindak kejahatan yang dilakukan tetapi juga berarti bahwa mereka tidak akan membalasnya dan tidak akan menanggung kekerasan dalam diri mereka sendiri. Bahkan para psikolog berpendapat bahwa maaf memiliki kekuatan penyembuh yang besar, baik secara psikologis maupun fisik.

  4. Rekonsiliasi, berasal dari bahasa latin yang mengacu pada hadir bersama, bergabung, atau berjalan bersama atau tindakan dengan mana orang-orang yang terpisah dan terpecah satu sama lain mulai bergabung atau bersatu kembali.

  5. Toleransi, dalam konteks ini toleransi diartikan sebagai menerima atau memahami orang, identitas, aktivitas, ide atau organisasi yang mana ia tidak menjadi bagiannya. Sikap toleransi ini sangat penting bagi kerukunan uamt beragama terutama di indonesia, sikap saling menghormati bisa menimbulkan perdamaian antar umat manusia (Baehaqie, 2003:19-20).

e. Peran pendidikan agama dalam menanggulangi tindak kekerasan

  Tindak kekerasan bisa terjadi pada anak-anak, baik atara dewasa dengan anak maupun antara anak-anak sendiri, tindak kekerasan antara anak-anak bisa terjadi, karena dimana keadaan jiwa anak yang masih labil dapat menimbulkan kenakalan anak. Secara

  fenomenologis tampak bahwa gejala kenakalan timbul dalam masa

  pubertas/pancaroba (Gunawan, 2000:93). Apa lagi jika ditambah dengan pendidikan agama yang berbeda-beda tanpa adanya toleransi dapat menimbulkan kesenjangan sosial anak hingga menimbulkan tindak kekerasan terhadap anak lain.

  Ditambah lagi dengan adanya gerakan revivalisme pada awal abad ke-21, dengan munculnya Gerakan tarbiyah, dakwah salafi, dan hizbut tahrir (Rahmat, 2007:74). Dapat mempengaruhi pola fikir dan sikap anak dalam menyikapi perbedaan agama maupun perbedaan ras.

  Hal ini dapat dicegah dengan konsep pendidikan berbasis plurarisme demokrasi dan pendidikan agama berwawasan multikultural, pada makalah sebelumnya telah diterangkan mengenai pendidikan plurarisme dan demokrasi. Dalam kali ini dibahas mengenai pendidikan multikultural sebagai salah satu cara untuk menanggulangi tindak kekerasan anak.

  Pendidikan multikultural dapat diartikan sebagai pendidikan yang tidak memandang gender, huungan antar umat beragama, kelompok kepentingan, kebudayaan dan subkultur, serta bentuk lain dari keragaman (Zakiyuddin, 2006:6). Pendidikan yang dilakukan dengan perbedaan etnik maupun agama yang beraneka ragam seperti di indonesia dapat menimbulkan gesekan hingga menimbulkan benturan antar umat beragama, jika tidak ditanggulangi secara serius baik lembaga pendidikan maupun pemerintah. Pendidikan berbasiskan multikultural disinyalir dapat menghindari gesekan tersebut hingga terjadi kerukunan antar etnik maupun agama.

  Pendidikan yang berbasiskan multikultural, memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Belajar hidup dalam perbedaan Siswa pada umumnya berasal dari keluarga yang berbeda ras, suku maupun berbedaagama, pendidikan konvensional hanya berdasarkan tiga pilar, yakni how to know, how to do, dan how to

  be, berbeda dengan pendidikan multikultural mengajarkan

  “keterampilan hidup bersama” dalam komunitas yang plural secara agama, kultural dan etnik, yang terjadi signifikansi pilar keempat untuk melengkapi tiga pilar lainnya. Rasa saling percaya merupakan salah satu modal sosial (social capital) terpenting dalam penguatan kultural masyarakat madani. Hal ini bisa terjadi jika adanya saling tanggung jawab dan jujur antar anggota kelompok, maka mereka akan saling percaya antara satu dengan yang lain.

  3. Memelihara saling pengertian (Mutual Understanding) Saling memahami adalah kesadaran bahwa nilai-nilai mereka dan kita dapat berbeda dan mungkin saling melengkapi serta memberi kontribusi terhadap relasi yang dinamis dan hidup.

  4. Menjunjung sikap saling menghargai (Mutual Respect) Pendidikan agama berwawasan multikultural menumbuh kembangkankan kesadaran bahwa kedamaian mengandaikan saling menghargai antar penganut agama-agama. Yang dengannya kita dapat dan siap untuk mendengan suara dan perspektif agama lain yang berbeda.

  5. Terbuka dalam berpikir Pendidikan agama berwawasan multikultural mengkondisikan siswa untuk berjumpa dengan pluralitas pandangan dan perbedaan radikal yang menantang identitas lama dan segalanya mulai tampak baru. Hasilnya adalah kemauan untuk memulai pendalaman tentang makna diri, identitas, dunia kehidupan, agama dan kebudayaan diri sendiri dan orang lain.

  6. Apresiasi dan interdependensi Kehidupan yang layak dan dan manusiawi teripta dalam tatanan sosial yang care, dimana semua anggota masyarakatnya saling menunjukkan apresiasi dan memelihara relasi, keterikatan, kohesi dan kesalingkaitan sosial yang rekat. Tatanan ini melihat kerjasama sebagai hal yang penting bagi kesehatan masyarakat yang pada pendidikan agama perlu membagi kepedulian tentang apresiasi dan interdependensi umat manusia.

  7. Resolusi konflik dan Rekonsiliasi nirkekerasan Konflik antar umat beragama adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Disinilah pendidikan agama perlu memfungsikan agama sebagai satu cara dalam resolusi konflik. Resolusi konflik belum cukup tanpa adanya rekonsiliasi, yakni upaya perdamaian melalui sarana pengampunan atau memaafkan (forgiveness) (Zakiyuddin, 2006:78-85).

IV. Kesimpulan

  Pendidikan merupakan suatu proses pentransferam ilmu pengetahuan, dan agama merupakan kepercayaan terhadap sesuatu yang ghaib dan memiliki kekuatan beserta ritual-ritual yang dilakukan untuk mengagungkan hal tersebut.

  Penyebab tindak kekerasan bisa berasal dari ajarab agama yang berbeda-beda tanpa adanya pengertian perbedaan kultur, etnis dan agama. Pendidikan agama sangat berpengaruh untuk menciptakan keharmonisan antar umat beragama, dengan penddikan multikulturalis disinyalir dapat menyatukan umat beragama. Dimana pendidikan yang memiliki karakteristik:

  1. Belajar hidup dalam perbedaan

  2. Saling percaya (Mutual trus)

  3. Memelihara saling pengertian (Mutual Understanding)

  4. Menjunjung sikap saling menghargai (Mutual Respect)

  5. Terbuka dalam berpikir

  6. Apresiasi dan interdependensi

  7. Resolusi konflik dan Rekonsiliasi nirkekerasan

V. Penutup

  Demikianlah makalah yang kami buat dan kami sampaikan. Kami menyadari bahwa pada makalah ini banyak terdapat kekurangan, baik merupakan hal yang wajar, maka dari itu kami harapkan partisipasinya untuk membenarkan kesalahan yang kami buat baik disengaja maupun tidak. Terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

  Baidhawi, Zakiyuddin. Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural. Jakarta: IKAPI, 2006. Baihaqie, Imam. Agama Sebagai Sumber Tindak Kekerasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003. Cet-1. Gunawan, Ary H., Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi tentang Beragai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2000. Hamnuri. Konsep Edutainment dalam Pendidikan Islam. Yogyakarta: Bidang Akademik, 2008. cet-1. Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Maarif, 1989 Rahmat, M. Imdadun. Arus Baru Islam Radikal. Jakarta: Erlangga, 2007.

  Rohman, Abdul. Pendidikan Integralistik. Semarang: Walisongo Press, 2009. Cet- 1. Suhartono, Suparlan. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogjakarta: AR-RUZZ MEDIA,

  2005 Syukur, Amin. Pengantar Studi Islam. Semarang: LEMBKOTA, 2006. Cet-6. Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992.