BAB I PENDAHULUAN - Model ASSURE

BAB I PENDAHULUAN Disain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan,

  pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar. Disain pembelajaran juga dapat diartikan sebagai suatu praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik dalam melaksanakan proses pembelajaran.

  Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah,yaitu pendekatan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, teknik pembelajaran, taktik pembelajaran, dan model pembelajaran. Pada isi makalah ini,akan dijelaskan lebih detail mengenai metode dan model pembelajaran dan juga akan dibahas secara singkat mengenai strategi pembelajaran.

  Penjelasan awal mengenai strategi pembelajaran menurut Kemp (Wina Senjaya 2008) adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Sedangkan metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dan model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.

BAB II ISI A. STRATEGI PEMBELAJARAN Dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi

  pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

  Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya dalam pendidikan digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Menurut Djamarah (2002 : 5-6) ada empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.

  2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.

  3. Memilih dan menetapkan prosedur, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh guru dalam menunaikan kegiatan mengajarnya.

4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria serta standar

  keberhasilan dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar yang selanjutnya akan dijadikan umpan balik buat penyempurnaan sistem instruksional yang bersangkutan secarakeseluruhan.

  Dari batasan di atas, dapat digambarkan bahwa ada empat pokok masalah yang sangat penting yang dapat dan harus dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar agar dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan.

  Pertama, dapat dilihat bahwa apa yang dijadikan sebagai sasaran dari kegiatan belajar

  mengajar. Sasaran yang dituju harus jelas dan terarah, oleh karena itu maka tujuan dari pengajaran yang dirumuskan harus jelas dan konkret, sehingga mudah dipahami oleh anak didik.

  Kedua, memilih cara pendekatan belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif

  untuk mencapai sasaran. Dan disini dapat dilihat bahwa bagaimana cara seorang guru memandang suatu persoalan, konsep, pengertian dan teori apa yang harus digunakan oleh seorang guru dalam memecahkan masalah suatu kasus, akan mempengaruhi hasilnya.

  Ketiga, memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang

  dianggap paling tepat dan efektif. Metode dan teknik penyajian untuk memotivasi anak didik agar mampu menerapkan pengetahuan dan pengalaman untuk memecahkan masalah.

  Keempat, menerapkan norma-norma atau kriteria keberhasilan sehingga guru mempunyai

  pegangan yang dapat dijadikan sebagai ukuran untuk menilai sampai sejauh mana keberhasilan tugas-tugas yang telah dilakukannya. Sehingga suatu program baru bisa diketahui keberhasilannya setelah dilakukan evaluasi. Sistem penilaian dalam kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu strategi yang tidak bisa dipisahkan dengan strategi dasar yang lain.

  1. Pengertian Model Pembelajaran

  Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Ada banyak macam model pembelajaran.

  2. Rasional Ragam Model Pembelajaran

  Keragaman disain pembelajaran memunculkan pendekatan yang berbeda dari setiap modelnya. Secara umum, beberapa manfaat yang dapat disimpulkan dari khazanah model yang ada ialah:

   Memberikan kesempatan yang luas bagi para pengajar dalam memilih disain sesuai dengan ilmu yang mereka bina.  Terkait dengan materi ajar, setiap materi ajar memerlukan suatu disain pembelajaran yang khusus untuk materi ajar tersebut.  Menimbulkan inspirasi di antara pakar teknologi pendidikan untuk menciptakan kembali model-model turunan lain dari disain pembelajaran.  Membuka peluang untuk penelitian dan pengembangan dalam bidang disain pembelajaran dapat diujicobakan dan diperbaiki.

2.1. Kategorisasi Ragam Model

  Beberapa kategori ragam model disain pembelajaran :  Tampilan Visual Menunjukkan bagaimana suatu disain pembelajaran disajikan oleh pencetusnya. Tampilan visual dapat berupa uraian atau naratif, skema, melingkar, prosedural atau kombinasi dari model-model tersebut.

   Penjabaran Komponen di Dalamnya Berdasarkan tampilan visual diatas,maka komponen yang terdapat didalam model-model disain pembelajaran akan berbeda-beda pula

   Manfaat Yang Terkandung dalam Model Tersebut Tampilan visual dan banyaknya komponen yang ada pada suatu disain pembelajaran mengandung makna yang mendalam bagi disain pembelajaran tersebut.

   Cakupan Model disain pembelajaran dapat diartikan sempit yaitu pembelajaran terkait dengan satu topik atau satu KBM.

  3. Komponen Dasar: Perbandingan Komponen merupakan hal yang penting dalam suatu model diasain pembelajaran.

  Komponen menggambarkan aspek-aspek serta kegiatan yang harus dilaksanakan dalam mendisain suatu pembelajaran.

   Sifat Kajian sifat dari masing-masing model disain pembelajaran.  Komponen Dasar Komponen dasar dari desain pembelajaran adalah:

  Pebelajar ( pihak yang menjadi fokus ) yang perlu diketahui meliputi, - karakteristik mereka, kemampuan awal dan pra syarat. Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus ) Adalah penjabaran kompetensi yang - akan dikuasai oleh pebelajar. Analisis Pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang - akan dipelajari Strategi Pembelajaran, dapat dilakukan secara makro = dalam kurun satu tahun - atau mikro = dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar.

  • Bahan Ajar, adalah format materi yang akan diberikan kepada pebelajar

  Penilaian Belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi ang sudah - dikuasai atau belum.

  4. Karakteristik Ragam Model

  Model disain pembelajaran menunjukkan struktur dan makna bagi komponen serta alur kerja yang bisa diikuti disainer dalam mnerjemahkannya menjadi suatu pembelajaran. Berdasarkan konsep diatas, terdapat beberapa aliran atau model disain pembelaran, yaitu

   Prosedural (Procedural Model) Model ini menyarankan agar menerapan prinsip disain pembelajaran diseuaikan dengan langkah-langkah yang harus ditempuh secara berurutan. Model Dick Carey

  Manfaat model prosedural, yakni:

  • Alur pelaksanaan model dilaksanakan jelas, arahnya diatur dengan simbol tanda panah ( ), garis putus-putus untuk umpan balik (- - -).
  • Setiap langkah jelas, sehingga mudah diikuti.
  • Dengan keteraturan ini, maka terjadi efektivitas dan efisiensi pelaksanaan. Keterbatasan model prosedural, antara lain : - Kaku, karena setiap langkah sudah ditentukan oleh langkah sebelumnya.
  • Tidak semua prosedur pelaksanaan KBM dapat dikembangkan menurut langkah- langkah tersebut.

   Melingkar (Circular Model) Model melingkar tidak menentukan awal atau akhir mendisain suatu pembelajaran. Model melingkar bahkan diasumsikan dinamis, karena tahap pertama dan akhir dapat ditemtukan dari komponen mana saja oleh pengguna atau

  Manfaat dari model melingkar, diantaranya :

  • Dinamis, disain pembelajaran dapat dimulai dari mana saja tidak perlu berurutan sebagaimana disimbolkan oleh suatu lingkaran yang tidak memiliki garis putus.
  • Menarik karena bentuknya melingkar sebagai variasi dari model lain yang bersifat naratif (uraian).

   Model Berbasis Sistem (Systems-Oriented) Merupakan disain pembelajaran yang mengembangkan teori sistem atau pendekatan sistem. Model ini biasanya dimulai dengan komponen analisis

  Manfaat model berbasis sistem, diantaranya : - Alur pelaksanaannya berlangsung secara berurutan.

  • Lingkup pekerjaan dan tugasnya cenderung meluas ditinjau dari berbagai sudut
  • 1 pandang. 2 Terdapat pada lampiran 3 Terdapat pada lampiran Terdapat pada lampiran

    • Komponen atau subsistem yang lengkap sehingga pembelajaran merupakan upaya optimal yang sengaja dirancang agar proses belajar berlangsung efektif.
    • Tim yang dibentuk meliputi semua fasilitas dan SDM yang sesuai agar dapat dilaksanakan secara optimal.

      Keterbatasan yang dimiliki model ini, diantaranya : - Terlalu rumit, sehingga sulit untuk dilaksanakan oleh seorang pengajar.

    • Waktu yang dibutuhkan lebih banyak dibandingkan dengan model lain.
    • Memerlukan upaya khusus untuk mengkajinya.

       Model Materi Ajar atau Pengetahuan (Content-Based) Menitikberatkan bagaimana suatu topik yang menjadi bagian dari suatu materi disampaikan kepada pebelajar. Model ini cenderung mengembangkan strategi pembelajaran tertentu seperti menggunakan media tertentu atau metode tertentu agar materi dapat dikuasai pebelajar dengan baik. Merill (Reigeluth, 1983) menyusun model disain pembelajaran yang dinamai component display theory atau CDT. Model ini mengembangkan pembinaan aspek kognitif dalam proses belajar.

       Model Kegiatan Belajar-Mengajar (Classroom-Oriented) Model ini menitikberatkan pada satu KBM. Disain pembelajaran untuk KBM sebenarnya memandu seorang pengajar bagaimana mengelola, menciptakan interaksi belajar mengajar bahkan memotovasi pebelajar dengan tepat. Model ASSURE adalah salah satu contoh model KBM. Berikut kutipan uraian model ASSURE

      Analize learner (menganalisis peserta didik) State objectives (merumuskan tujuan pembelajaran)

    Select methods, media and materials (memilih metode, media,bahan ajar)

    Utilize media and materials (memanfaatkan media dan bahan ajar)

    Require learner participation (mengembangkan peran serta peserta didik)

    Evaluate and revise (menilai dan memperbaiki)

      Manfaat model ASSURE, yaitu : - Sederhana, relatif mudah untuk diterapkan.

    • Karena sederhana, maka dapat dikembangkan sendiri oleh pengajar.
    • Komponen KBM lengkap.
    • Peserta didik dapat dilibatkan dalam persiapan untuk KBM. Keterbatasan model ini di antaranya :
    • Tidak mengukur dampak terhadap proses belajar karena tidak didukung oleh komponen suprasistem.
    • Adanya penambahan tugas sari seorang pengajar.
    • Perlu upaya khusus dalam mengarahkan peserta didik untuk persiapan KBM. Kelemahan model KBM, di antaranya: - Tidak mencakup suatu mata pelajaran tertentu.
    • Walaupun komponennya relatif banyak namun tidak semua komponen disain pembelajaran termasuk didalamnya.
    • Model ini menitikberatkan penyampaian materi dan pengelolaan kelas yang sebaiknya dilakukan oleh pengajar.
    • Aspek lain yang berdampak terhadap proses belajar tidak terdeteksi.

       Model Cakupan Makro (Macro Model) Disain pembelajaran merupakan cikal bakal dirumuskannya suatu kurikulum yang juga merupakan model cakupan makro atau luas. Cakupan makro brsifat suprasistem, sangat luas, bisa saja bersifat nasional sedangkan cakupan mikro meliputi aspek sangat terbatas seperti untuk satu KBM atau satu topik.

      Model Gagne, Briggs & Wager adalah contoh dari model cakupan makro. Berikut adalah uraiannya:

      Jenjang Sistem 1 1. Analisis kebutuhan, tujuan kurikuler, dan prioritas kurikulum.

      2. Analisis sumber-sumber, hambatan, dan alternatif sistem penyampaian.

      3. Penentuan cakupan dan urutan dari kurikulum dan mata ajar serta disain sistem penyampaian.

      Jenjang Mata Ajar 1. Menentukan struktur dan urutan mata ajar.

      2. Analisis tujuan umum pembelajaran mata ajar.

      Jenjang Kegiatan Belajar-Mengajar 1. Merumuskan tujuan pembelajaran/kinerja.

      2. Mempersiapkan satuan pelajaran (modul).

      3. Mengembangkan dan memilih bahan ajar dan media mengukur kinerja peserta.

      Jenjang Sistem 2 1. Didik (menentukan asesmen).

      2. Persiapan pengajar.

      3. Evaluasi formatif.

      4. Uji coba, perbaikan.

      5. Evaluasi sumatif.

      6. Penggunaan dan penyebaran. Manfaat dari model cakupan makro adalah

    • Kelengkapan komponen didalamnya mengandung aspek positif
    • Cakupan model adalah makro ( kurikulum ) dan mikro ( KBM )
    • Pelaksanaan evaluasi formatif dan sumatif beserta uji coba dan revisi memberi peluang perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran pada umumnya, dan mutu KBM secara khusus.
    • Komponen KBM yang lengkap sehingga tidak kalah dengan model berorientasi KBM murni.
    • Adanya proses penggunaan dan penyebaran dari kurikulun ini menjadi ciri khas model dibandingkan model yang telah dibahas sebelumnya.

      Keterbatasan model Gagne, Briggs & Wager adalah:

    • Kegiatan penyusunan disain pembelajaran memakan waktu yang lama, tim kerja yang besar serta anggaran yang banyak.
    • Tim kerja banyak tidak ada penjelasan siapa dan bidang apa saja yang terlibat didalamnya.
    • Tidak semua lembaga atau organisasi pendidikan mampu menyelenggarakan penerapan model ini.

       Model Disain Belajar Konstruktivis (DBK) DBK termasuk inovasi dalam disain pembelajaran sebagai model mikro yang menekankan proses belajar yang dialami oleh peserta didik. Disusun berdasarkan teori konstruktivisme. Peserta didik berperan jauh lebih aktif dan menempati porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan model KBM. Model Gagnon,Jr. & Collay adalah contoh model DBK. Berikut skemanya :

    DISAIN BELAJAR KONSTRUKTIVIS (DBK)

      Jenjang : Mata ajaran : Judul : Perancang :

      Situasi Apa kegunaan episode belajar yang anda ajarkan ? Bagaimana Anda mengetahui bahwa siswa Anda sudah selesai dan mencapai tujuan belajarnya? Dst.

      Tim Pengelompokkan siswa tergantung situasi yang Anda rancang dan materi ajar yang tersedia.

      a. Siswa – bagaimana Anda akan mengelompokkan mereka agar mereka dapat belajar dan mencapai tujuan dengan berhasil? b. Materi – apakah Anda berharap semua siswa terlibat aktif dengan semua kegiatan, bagaimana dengan pemikiran kolaboratif mereka?

      Penghubun Kegiatan apa yang akan Anda pilih sebagai penghubung antara pengetahuan g prasyarat dengan pengetahuan atau kemampuan yang akan mereka pelajari? (bridge)

      Pertanyaan Pertanyaan apa yang akan Anda ajukan terkait dengan elemen DBK? Apa saja pertanyaan pemandu yang akan Anda ajukan untuk menjelaskan tentang situasi, pengelompokkan dan penghubung?

      Pameran Bagaimana siswa akan ‘memamerkan’ hasil karya mereka sebagai bukti bahwa mereka telah mencapai pemahaman? Refleksi Bagaimana siswa akan merefleksikan hasil belajar mereka, apa yang sudah mereka lakukan, pelajari atau apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah?

      

    MODEL GAGNON, JR. & COLLAY (DISAIN BELAJAR KONSTRUKTIVIS)

       Integrative Learning Design Framework (IDLF) Model ini termasuk inovasi dalam disain pembelajaran yang khusus dikembangkan untuk proses belajar masa depan dengan belajar berbasis jaringan, yaitu online-learning atau web-based learning yang mengoptimalkan pemanfaatan teknologi telekomunikasi. Model Dabbagh & Bannan-Ritland adalah contoh model

      IDLF. Berikut skemanya : Start here

      

    MODEL DABBAGH & BANNAN-RITLAND (INTEGRATIF LEARNING DESIGN

    FRAMEWORK)

      Manfaat model IDLF, yaitu: - Bisa diterapkan untuk penggunaan media digital dan telekomunikasi.

      Social and Cultural Context Instructional of Learning

      Strategies Pedagogieal Learning Modebor Constructs Technologies

      Enachment Online Learning

      Development Evaluation

      E x p lo ra ti n g

    • Menjangkau karakteristif peserta didik lebih rinci dibandingkan dengan model- model disain pembelajaran lainnya.
    • Jika diterapkan secara murni maka sistem penyampaian atau penyajian materi, menjadi lebih menarik.
    • Menerapkan seluruh komponen disain pembelajaran berbasis KBM lebih jelas.
    • Untuk penerapan di Indonesia sangat berguna karena telah mencantumkan aspek sosial-budaya yang terinci untuk diajdikan masukan dalam model pembelajaran.

      Keterbatasan model ini adalah :

    • Karena relatif baru dan ditujukan untuk online learning, maka tidak semua pengajar menyadari adanya model ini.
    • Tidak semua aspek dapat diterapkan untuk KBM terutama terkait dengan teknologi belajar.
    • Penyediaan infrastruktur (ICT) dan perangkat keras relatif masih mahal dan belum terjangkau oleh semua lembaga atau organisasi pendidikan di Indonesia.

      Salah satu model pembelajaran yang umum sebagai gaya belajar adalah model ADDIE menurut Rieser dan Mollenda. Berikut adalah uraian mengenai model ADDIE :

    MODEL ADDIE MENURUT RIESER DAN MOLLENDA

      ADDIE muncul sebagai model dalam disain pembelajaran pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Salah satu fungsinya ADDIE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Sehingga dapat membantu instruktur pelatihan dalam pengelolaan pelatihan dan pembelajaran. Model ini menggunakan 5 tahap atau langkah pengembangan yakni :

      1. Analysis (analisa)

      2. Design (disain / perancangan)

      3. Development (pengembangan)

      4. Implementation (implementasi/eksekusi)

      5. Evaluation (evaluasi/ umpan balik)

      Analisis (analysis)

      Tahap analisis merupakan suatu proses mendefinisikan apa yang akan dipelajari oleh peserta belajar , yaitu melakukan needs assessment (analisis kebutuhan), mengidentifikasi masalah (kebutuhan), dan melakukan analisis tugas (task analysis). Oleh karena itu, output yang akan kita hasilkan adalah berupa karakteristik atau profile calon peserta belajar, identifikasi kesenjangan, identifikasi kebutuhan dan analisis tugas yang rinci didasarkan atas kebutuhan.

      Disain (design)

      Tahap ini dikenal juga dengan istilah membuat rancangan (blue-print). Ibarat bangunan, maka sebelum dibangun gambar rancang bangun (blue-print) diatas kertas harus ada terlebih dahulu. Apa yang kita lakukan dalam tahap desain ini? Pertama merumuskan tujuan pembelajaran yang SMAR (spesifik, measurable, applicable, dan realistic). Selanjutnya menyusun tes , dimana tes tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yag telah dirumuskan tadi. Kemudian tentukanlah strategi pembelajaran yang tepat harusnya seperti apa untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam hal ini ada banyak pilihan kombinasi metode dan media yang dapat kita pilih dan tentukan yang paling relevan. Disamping itu, pertimbangkan pula sumber-sumber pendukung lain, semisal sumber belajar yang relevan, lingkungan belajar yang seperti apa seharusnya, dan lain-lain. Semua itu tertuang dalam satu dokumen bernama blue-print yang jelas dan rinci.

      Pengembangan (development)

      Pengembangan adalah proses mewujudkan blue-print alias desain tadi menjadi kenyataan. Artinya, jika dalam desain diperlukan suatu software berupa multimedia pembelajaran, maka multimedia tersebut harus dikembangkan. Atau diperlukan modul cetak, maka modul tersebut perlu dikembangkan. Begitu pula halnya dengan lingkungan belajar lain yang akan mendukung proses pembelajaran semuanya harus disiapkan dalam tahap ini. Satu langkah penting dalam tahap pengembangan adalah uji coba sebelum diimplementasikan. Tahap uji coba ini memang merupakan bagian dari salah satu langkah ADDIE, yaitu evaluasi. Lebih tepatnya evaluasi formatif, karena hasilnya digunakan untuk memperbaiki sistem pembelajaran yang sedang kita kembangkan.

      Implementasi (implamentation)

      Implementasi adalah langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran yang sedang kita buat. Artinya, pada tahap ini semua yang telah dikembangkan diinstal atau diset sedemikian rupa sesuai dengan peran atau fungsinya agar bisa diimplementasikan. Misal, jika memerlukan software tertentu maka software tersebut harus sudah diinstal. Jika penataan lingkungan harus tertentu, maka lingkungan atau setting tertentu tersebut juga harus ditata. Barulah diimplementasikan sesuai skenario atau disain awal.

      Evaluasi (evaluation)

      Evaluasi adalah proses untuk melihat apakah sistem pembelajaran yang sedang dibangun berhasil, sesuai dengan harapan awal atau tidak. Sebenarnya tahap evaluasi bisa terjadi pada setiap empat tahap di atas. Evaluasi yang terjadi pada setiap empat tahap diatas itu dinamakan evaluasi formatif, karena tujuannya untuk kebutuhan revisi. Misal, pada tahap rancangan, mungkin kita memerlukan salah satu bentuk evaluasi formatif misalnya review ahli untuk memberikan input terhadap rancangan yang sedang kita buat. Pada tahap pengembangan, mungkin perlu uji coba dari produk yang kita kembangkan atau mungkin perlu evaluasi kelompok kecil dan lain-lain.

      Metode Pembelajaran

      Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disususn dalam kegiatan nyata agar tujuan tercapai secara optimal. Beberapa metode pembelajaran yang bisa digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran :

      1. Metode Ceramah Penyajian pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa.

      Kelebihan metode ceramah : a. Ceramah merupakan metode yang ‘murah’ dan ‘mudah’ untuk dilakukan.

      b. Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas.

      c. Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan.

      d. Ceramah dapat mengontrol keadaan kelas.

      e. Organisasi kelas dengan menggunakan ceramah dapat diatur menjadi lebih sederhana.

      Kelemahan metode ceramah : a. Materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru.

      b. Ceramah yang tidak disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme.

      c. Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah seing dianggap sebagai metode yang membosankan.

      d. Melalui ceramah, sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum.

      2. Metode Demonstrasi Penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. Kelebihan metode demonstrasi : a. Dapat menghindari terjadinya verbalisme.

      b. Proses pembelajaran akan lebih menarik.

      c. Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Kelemahan metode demonstrasi : a. Metode ini memerlukan persiapan yang lebih matang.

      b. Memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai. Berarti metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal.

      c. Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional.

      3. Metode Diskusi Metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan.

      Tujuan utama metode ini adalah untuk memecahkan permasalahan, menjawab pertanyaan dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan (Killen, 1998). Kelebihan metode diskusi :

      a. Dapat merangsang siswa untuk lebih kreatif khususnya dalam memberikan gagasan dan ide-ide.

      b. Dapat melatih untuk membiasakan diri bertukar pikiran dalam mengatasi setiap permasalahan. c. Dapat melatih siswa untuk dapat mengemukakan pendapat atau gagasan secara verbal.

      d. Dapat melatih siswa untuk dapat menghargai pendapat orang lain. Kelemahan metode diskusi :

      a. Sering terjadi pembicaraan dalam diskusi oleh 2 atau 3 orang siswa yang memiliki keterampilan berbicara.

      b. Kadang-kadang pembahasan dalam diskusi meluas, sehingga kesimpulan menjadi kabur.

      c. Memerlukan waktu yang cukup panjang, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan yang direncanakan.

      d. Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat yang bersifat emosional yang tidak terkontrol.

      4. Metode Simulasi Penyajian pengalaman pembelajaran dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.

      Kelebihan metode simulasi :

      a. Dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak.

      b. Dapat mengembangkan kreativitas siswa.

      c. Dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.

      d. Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.

      e. Dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran. Kelemahan metode simulasi :

      a. Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.

      b. Pengelolaan yang kurang baik menjadikan simulasi sebagai hiburan.

      c. Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering memengaruhi siswa dalam melakukan simulasi.

      PENUTUP Bahwa keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran, karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran.

    DAFTAR PUSTAKA

      Prinsip Disain Pembelajaran, Dewi Salma Prawiradilaga, Universitas Negeri Jakarta.  Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Prof. Dr. H. Wina  Sanjaya, M.Pd, Jakarta