Kompetensi Guru Menurut Peraturan Pemeri

Kompetensi Guru Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Tentang
Standar Nasional Pendidikan
Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 atau yang lebih dikenal dengan Undang-undang Guru dan
Dosen secara eksplisit menyebutkan bahwa guru wajib memiliki kualitas akademik, kompetensi,
serifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional. Kepemilikan kometensi hukumnya adalah wajib, artinya bagi guru
yang tidak mampu memiliki kompetensi akan gugur keguruannya.
Pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam
penjelasan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
sebagai berikut:
1. Kompetensi Paedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik
yang meliputi: a) pemahaman wawasan atau landasaran kependidikan; b) pemahaman
terhadap peserta didik; c) pengembngn kurikulum/silabus; d) perancangan pembelajaran;
e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; f) evaluasi hasil belajar; g)
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya.
2. Kompetensi Kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang; a) mantap; b)
stabil; c) dewasa; d) arif dan bijaksana; e) berwibawa; f) berakhlak mulia; g) menjadi
teladan bagi peserta didik dan masyarakat; h) mengewaluasi kinerja sendiri; i)
mengembangkan diri secara berkelanjutan.
3. Kompetensi Sosial yaitu merupakan kompetensi pendidik sebagai bagian dari masyarakat
untuk; a) berkomunikaasi lisan dan tulisan; b) menggunakan teknologi komunikasi dan
informasi secara fungsional; c) bergaul secara efektif dengan peserta didik; sesama
pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik; dan d) bergaul secara santun
dengan masyarakat sekitar.
4. Kompetensi Profesional yaitu kemmpuan penguasaan materi pembelajaran secara luas
dan mendalam meliputi; a) konsep, struktur, dan medote keilmuan/teknologi/seni yang
menaungi/koheren dengan materi ajar; b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah;
c) hubungan konsep antar mata ajar yang terkait; d) penerapan konsep-konsep keilmuan
dalam kehidupan sehari-hari; dan e) kompetensi secara profesional dalam konteks global
dengan teap melestarikan nilai dan budaya nasional.
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Kedudukan guru sebagai tenaga
profesional berfungsi untuk meningkatkat martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran
dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Demikian Kompetensi Guru Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan yang dapat saya share, semoga bermanfaat bagi rekan-rekan guru yang
membutuhkan.

Cara Mengubah Orang Jahat Menjadi
Orang Baik Hati
godam64 23:38 Komentari
Mengubah sikap perilaku seseorang adalah sesuatu hal yang gampang-gampang susah. Orang
jahat yang di dalam hati kecilnya sudah ada keinginan untuk berubah menjadi orang yang tidak
jahat lagi tentu akan lebih mudah untuk dibimbing untuk kembali ke jalan yang lurus daripada
orang yang memiliki hati penjahat tulen. Pengubahan karakter seseorang dari yang negatif
menjadi positif akan lebih mudah dilakukan melalui pendekatan agama Islam walaupun bisa juga
dilakukan dengan metode lain yang lebih teoritis non agama.
Tips Cara Menjadikan Orang Jahat Kembali Menjadi Orang Baik-Baik :
1. Mengenalkan Kembali Tuhannya hingga Yakin
Setiap orang memiliki tingkat keyakinan yang berbeda-beda terhadap Allah SWT. Ada yang
sangat percaya dan mau menjalankan perintahNya dan ada pula yang sama sekali tidak percaya
bahwa Tuhan itu ada. Orang jahat biasanya cenderung memiliki keimanan yang rendah terhadap
Tuhannya atau bahkan tidak punya iman sama sekali terhadap Tuhan.
Memperkenalkan kembali siapa Allah SWT adalah sesuatu hal yang penting. Dibutuhkan
penjelasan yang baik namun tidak bertele-tele tentang keberadaanNya. Berikan logika-logika
dasar yang membuktikan bahwa Allah SWT itu ada. Mulai dari memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi hingga menunjukkan keajaiban kitab suci Al-Qur'an. Jika dijelaskan dengan
baik dan penuh dengan kesabaran Insya Allah orang yang tadinya lemah iman dapat kembali
yakin tentang keberadaan AllahSWT.
2. Menjelaskan Tujuan Manusia Hidup di Dunia
Jika seseorang sudah bisa meyakini keberadaan Allah SWT maka selanjutnya adalah
memberitahukan tentang tujuan hidup semua manusia yang ada di dunia ini. Tidak lain dan tidak
bukan tujuan semua orang yang dilahirkan ke dunia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Setiap orang harus beribadah kepada Allah SWT dengan penuh ketaatan untuk mendapatkan
Rahmat dan RidhoNya. Ibadah dilakukan dengan melaksanakan segala perintahNya dan
menjauhi laranganNya.
3. Menjelaskan Konsep Nikmat Surga dan Siksa Neraka
Setiap orang harus diberitahukan mengenai pertanggungjawaban atas apa-apa yang telah
dilakukan selama hidup di dunia. Orang yang beriman akan masuk surga dan orang yang tidak
beriman kepada Allah SWT akan masuk ke dalam neraka yang kekal selama-lamanya. Orang
beriman yang banyak berbuat dosa akan masuk ke dalam neraka yang tidak kekal dan orang

yang banyak berbuat kebaikan akan mendapatkan surga yang penuh dengan kenikmatan akherat,
4. Memaparkan Keunggulan Menjadi Orang Sholeh
Tidaklah cukup apabila seseorang hanya dijelaskan reward punishment apa yang akan didapat
oleh manusia dari Tuhannya setelah meninggal dunia. Kebaikan, kegunaan, manfaat,
keunggulan, kehebatan dan berbagai sisi positif lainnya yang didapat di dunia dari beriman dan
bertakwa kepada Allah SWT dengan yang sebenar-benarnya serta kaffah pun juga harus
diinformasikan secara mendetail. Dengan demikian orang yang tadinya buta akan indahnya
iman dan taqwa dapat mengetahui betapa indahnya hidup sebagai orang yang soleh dengan budi
pekerti yang baik dan luhur.
5. Menjelaskan Apa yang Harus Dilakukan
Apabila seseorang sudah sangat tertarik untuk menjadi orang yang baik, maka janganlah ditundatunda. Jelaskan apa-apa yang mesti dikerjakan dalam kehidupannya sehari-hari. Usahakan
untuk tidak menjelaskannya secara keseluruhan. Lakukan secara bertahap dengan
mengutamakan hal-hal yang sangat penting terlebih dahulu seperti kewajiban sholat, puasa, zakat
dan pergi hari ke Baitullah jika mampu. Tentu saja ada baiknya orang yang baru kembali
menemukan imannya tersebut diajak untuk bersyahadat agar tidak ada keraguan lagi bahwa
orang tersebut telah kembali ke jalan yang benar.
6. Pemberian Bimbingan yang Kontinyu / Berkesinambungan
Orang yang sudah insaf dan mendapat penjelasan tentang apa yang harus dilakukan dalam hidup
ini tidak boleh dibiarkan berjalan sendirian begitu saja. Harus ada bimbingan yang bersifat
kontinyu agar tidak salah tafsir atau tidak mengikuti jalan yang sesat. Iman merupakan sesuatu
hal yang bisa naik dan juga bisa turun tergantung berbagai faktor yang dapat mempengaruhi.
Jika sudah bisa mandiri dan mapan dengan keimanan dan ketaqwaan yang mantap barulah bisa
dilepas dan bahkan bisa dijadikan mentor atau pembimbing orang-orang yang belum kembali ke
jalan yang benar. Dengan begitu akan ada banyak lagi orang yang bisa menikmati manisnya
iman dan takwa kepada Allah SWT.
---Semoga saja apa-apa yang kita lakukan selalu mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Mudahmudahan upaya kita dapat memberikan hasil yang sesuai harapan. Mengubah orang yang tidak
baik menjadi baik adalah sesuatu hal yang tidak mudah. Namun segala bentuk niat dan usaha
yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT baik di dunia
maupun di akhirat kelak. Atas segala bentuk kekurangan dan kesalahan serta kekhilafan saya
mohon maaf yang sebesar-besarnya. Terima kasih.

6 Tips Menghadapi Orang Marah Dengan
Cepat Dan Damai
23/02/2013 • Category: Artikel, Motivasi Diri

Setiap orang pasti pernah mengalami konflik dengan orang-orang sekitarnya. Pertanyaannya
bagaimana cara mengatasi masalah agar anda tetap bisa mempertahankan hak anda tanpa
menciptakan suatu permasalahan baru? Berikut adalah tips untuk mengatasi konflik ala
pickthebrain.com
1. Tetap kalem
Jika ada orang berteriak-teriak karena marah kepada anda, cobalah untuk tenang dan diam.
Biasanya orang yang sedang marah tidak ingin mendapatkan tanggapan dari anda. Jika anda
membalas maka tanggapan anda tersebut tidak akan didengar. Jadi anda akan rugi dua kali yang
pertama emosi anda meledak dan energi anda habis dan yang kedua tanggapan anda tidak
didengarkan.
2. Biarkan orang lain untuk berbicara terlebih dahulu
Orang yang sedang marah akan letih cepat atau lambat, itulah tujuan mereka yaitu ingin
didengarkan dan supaya mereka dianggap penting oleh orang yang dimarahi. Maka biarkan
orang tersebut marah dan meluapkan perasaannya.

3. Tempatkan diri anda di pikiran orang yang marah
Berusahalah untuk berpikiran positif dan tempatkanlah diri anda di keadaan orang yang marah.
Mungkin orang yang marah memang sedang berada di keadaan yang sulit sehingga tekanan ini
yang membuatnya marah. Dengan berpikiran seperti ini, anda tidak terpancing emosi dan bisa
lebih tenang.
4. Tenangkan orang yang marah
Anda bisa menggunakan kata-kata “ya, saya mengerti yang anda maksud” atau “ya, saya akan
berusaha lebih baik lagi”. Kata-kata ini menunjukkan bahwa anda mendengarkan keluhannya.
Dengan menggunakan kata-kata yang menyetujui keadaannya, ada mulai memecah
kemarahannya sehingga kemarahan bisa cepat reda. Jika keadaan sudah tenang, anda bisa
kembali membahas ini dengan pikiran yang lebih tenang.
5. Jika keadaan memburuk maka tinggalkan
Jika keadaan semakin memburuk dan membahayakan anda, maka lebih baik anda meninggalkan
ruangan tersebut dan katakan kepada orang yang marah “saya tahu anda sedang marah, dan anda
tidak bermaksud untuk mengatakan apa yang anda katakan, karena itu saya akan biarkan anda
untuk bertenang sebentar dan kita bisa membicarakan hal ini nanti”. Kemudian anda bisa
meninggalkan ruangan. Jangan meninggalkan ruangan tanpa berpesan sedikitpun dengan orang
yang marah.
6. Jika anda salah, maka akuilah dan bertanggung jawablah
Jangan malu untuk mengakui kesalahan anda. Anda bisa mengatakan “anda benar, saya salah,
saya akan memperbaikinya”. Bahkan jika anda tidak salah, nada bisa mengatakan “saya mungkin
salah, coba kita lihat ini bersama-sama”. Kata-kata ini adalah kata-kata mujarab dan sangat sulit
untuk berdebat lagi dengan orang yang sudah mengatakan ini.
Bekerjasama dengan orang yang pemarah memang tidaklah gampang. Tapi kita akan menjadi
orang yang lebih kalah jika kita ikut terpancing marah. Kita juga bisa mengambil hikmah dari
orang yang pemarah bahwa tidak ada satupun orang yang merasa nyaman untuk bekerjasama
dengan orang pemarah. Hal ini bisa menjadi motivasi kita untuk tidak menjadi orang yang
pemarah.

slam adalah lentera yang menuntun kita untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat
Semoga artikel-artikel yang ada di dalam blog ini bermanfaat bagi kita semua. Semua artikel
dalam blog ini boleh di-copy dan disebarluaskan, tapi mohon untuk menyertakan link ke blog ini
(www.lampuislam.blogspot.com).







Home
Bukti Kebenaran Islam
Meneliti Kristen
Meneliti Ateisme
Peta Situs
Profile »

Home » Aqidah dan Akhlaq » 9 Tips Mengendalikan Amarah dalam Islam

9 Tips Mengendalikan Amarah dalam Islam
Posted by Lampu Islam Jumat, 11 Oktober 2013 7 comments

“Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya,
maka Allah akan memanggilnya di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah
menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia
kehendaki.” (HR Ahmad).
Begitu istimewanya imbalan yang diberikan bagi orang yang dapat mengendalikan
amarahnya, sampai Allah pun mempersilahkan ia untuk memilih bidadari surga yang ia
suka. Lalu, bagaimana caranya mengendalikan amarah?
Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab alIslamiyah mengungkapkan hendaknya seorang Muslim memperhatikan adab-abad
yang berkaitan dengan marah. Berikut adab atau cara mengendalikan marah
menurut Islam:

1. Jangan marah kecuali karena Allah SWT. Marah karena Allah merupakan
sesuatu yang disukai dan mendapatkan pahala. Seorang Muslim yang marah
karena hukum Allah diabaikan merupakan contoh marah karena Allah, misalnya
marah ketika menyaksikan perbuatan haram.
2. Berlemah lembut dan tak marah karena urusan dunia. Sesungguhnya semua
kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah SWT. Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid
Nada mengingatkan, kemarahan kerap berujung pada pertikaian dan
perselisihan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar dan
dapat pula memutuskan silaturahim.
3. Mengingat keagungan dan kekuasaan Allah ketika marah. Ketika mengingat
kebesaran Allah SWT, maka kemarahan bisa diredam. Bahkan, mungkin tak jadi
marah sama sekali. Itulah adab paling bermanfaat yang dapat menolong
seseorang untuk berlaku santun dan sabar.
4. Menahan dan meredam amarah jika telah muncul. Allah SWT menyukai
seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya. Allah SWT
berfirman, ” … dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf
orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali
Imran:134).
5. Berlindung kepada Allah ketika marah. Nabi SAW bersabda, “Jika seseorang
yang marah mengucapkan; ‘A’uudzu billah (aku berlindung kepada Allah SWT)
niscaya akan reda kemarahannya.” (HR Ibu ‘Adi dalam al-Kaamil.)
6. Diam. Rasulullah SAW bersabda, “Ajarilah, permudahlah, dan jangan
menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR
Ahmad). Terkadang orang yang sedang marah mengatakan sesuatu yang dapat
merusak agamanya, menyalakan api perselisihan dan menambah kedengkian.
7. Mengubah posisi ketika marah. Mengubah posisi ketika marah merupakan
petunjuk dan perintah Nabi SAW. Nabi SAW bersabda, “Jika salah seorang di
antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya
tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.” (HR Ahmad).
8. Berwudhu atau mandi. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah adalah api setan
yang dapat mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf.
9. Memberi maaf dan bersabar. Orang yang marah sudah selayaknya memberikan
ampunan kepada orang yang membuatnya marah. Allah SWT memuji para
hamba-Nya “… dan jika mereka marah mereka memberi maaf.” (QS AsySyuura:37).
Itulah kesembilan cara yang bisa kita lakukan untuk meredam kemarahan. Terlihat sulit
tapi percayalah, jika kita berniat merubah diri kita untuk menjadi lebih baik, beberapa
cara meredam kemarahan seperti yang disebutkan diatas patut dicoba. Insya Allah kita
dapat termasuk ke dalam golongan seperti yang disebutkan dalam hadits riwayat Imam
Ahmad, yakni mendapat imbalan indah bertemu dengan bidadari surga dan dimuliakanNya.

Cara Mengontrol Emosi dalam Islam
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia adalah marah. Dengan cara ini, setan bisa
dengan sangat mudah mengendalikan manusia. Karena marah, orang bisa dengan mudah
mengucapkan kalimat kekafiran, menggugat takdir, ngomong jorok, mencaci habis, bahkan
sampai kalimat carai yang membubarkan rumah tangganya.
Karena marah pula, manusia bisa merusak semua yang ada di sekitarnya. Dia bisa banting piring,
lempar gelas, pukul kanan-pukul kiri, bahkan sampai tindak pembunuhan. Di saat itulah, misi
setan untuk merusak menusia tercapai.
Tentu saja, permsalahannya tidak selesai sampai di sini. Masih ada yang namanya balas dendam
dari pihak yang dimarahi. Anda bisa bayangkan, betapa banyak kerusakan yang ditimbulkan
karena marah.
Menyadari hal ini, islam sangat menekankan kepada umat manusia untuk berhati-hati ketika
emosi. Banyak motivasi yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar manusia
tidak mudah terpancing emosi. Diantaranya, beliau menjanjikan sabdanya yang sangat ringkas,
‫تغضب ولك الجنة‬
“Jangan marah, bagimu surga.” (HR. Thabrani dan dinyatakan shahih dalam kitab shahih AtTarghib no. 2749)
Allahu akbar, jaminan yang luar biasa. Surga..dihiasi dengan berbagai kenikmatan, bagi mereka
yang mampu menahan amarah. Semoga ini bisa memotivasi kita untuk tidak mudah terpancing
emosi.

Dapatkan Buku 22 Kiat Mengatasi Stres, Syaikh M. Shalih Al-Munajjid, Harga Rp.16.000
Lebih lanjut KLIK GAMBAR

Bagaimana Cara Mengendalikan Diri Ketika Sedang Emosi?
Agar kita tidak terjerumus ke dalam dosa yang lebih besar, ada beberapa cara mengendalikan
emosi yang diajarkan dalam Al-Quran dan Sunah. Semoga bisa menjadi obat mujarab bagi kita
ketika sedang marah.
Pertama, segera memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan, dengan membaca
ta’awudz:
‫َجيم‬
ِ ‫ْطان الر‬
ِ ‫أعو ُذ باه ِمنَ ال َشي‬
A-‘UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIIM
Karena sumber marah adalah setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon
perlindungan kepada Allah.
Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,
Suatu hari saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada dua orang
yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
‫ ذهب َع ْنهُ ما يَج ُد‬،‫َجيم‬
‫إِي ععل ُم َكلِ َمةً لَوْ قالَهَا‬
َ ْ‫ لَو‬،ُ‫لذهب عنهُ ما يجد‬
َ
ِ ‫ أعو ُذ باه ِمنَ ال َشيْطا ِن الر‬:‫قال‬

Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang.
Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang
marah, kemudian membaca: A-‘udzu billah (saya berlindung kepada Allah) maka marahnya
akan reda.” (Hadis shahih – silsilah As-Shahihah, no. 1376)
Kedua, DIAM dan jaga lisan
Bawaan orang marah adalah berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang
mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari
timbulnya dosa yang lebih besar.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ْ ‫ب أَ َح ُد ُك ْم فَ ْليَ ْس ُك‬
‫ت‬
َ ‫ض‬
ِ ‫إِ َذا َغ‬
“Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Ucapan kekafiran, celaan berlebihan, mengumpat takdir, dst., bisa saja dicatat oleh Allah sebagai
tabungan dosa bagi ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
‫ق‬
ِ ‫ار أَ ْب َع ََد ِم َما بَ ْينَ ال َم ْش ِر‬
ِ َ‫ يَ ِزلّ بِهَا فِ الن‬،‫ َما يَتَبَي ََُن فِيهَا‬،‫إِ َن ال َع ْب َد لَيَتَ َكلَ ُم بِال َكلِ َم ِة‬
Sesungguhnya ada hamba yang mengucapkan satu kalimat, yang dia tidak terlalu memikirkan
dampaknya, namun menggelincirkannya ke neraka yang dalamnya sejauh timur dan barat. (HR.
Bukhari dan Muslim)
Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan
sampai lidah tak bertulang ini, menjerumuskan anda ke dasar neraka.
Ketiga, mengambil posisi lebih rendah
Kecenderungan orang marah adalah ingin selalu lebih tinggi.. dan lebih tinggi. Semakin dituruti,
dia semakin ingin lebih tinggi. Dengan posisi lebih tinggi, dia bisa melampiaskan amarahnya
sepuasnya.
Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan saran sebaliknya. Agar
marah ini diredam dengan mengambil posisi yang lebih rendah dan lebih rendah. Dari Abu Dzar
radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan,
‫ضبُ َوإِ َ فَ ْليَضْ طَ ِج ْع‬
َ ‫َب َع ْنهُ ْال َغ‬
َ ‫ فَإ ِ ْن َذه‬، ْ‫ب أَ َح ُد ُك ْم َوه َُو قَائِ ٌم فَ ْليَجْ لِس‬
َ ‫ض‬
ِ ‫إِ َذا َغ‬

Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu
marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur. (HR. Ahmad
21348, Abu Daud 4782 dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadis ini, melindungi dirinya ketika
marah dengan mengubah posisi lebih rendah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam
Musnadnya, dari Abul Aswad Ad-Duali, beliau menceritakan kejadian yang dialami Abu Dzar,
“Suatu hari Abu Dzar mengisi ember beliau. Tiba-tiba datang beberapa orang yang ingin
mengerjai Abu Dzar. ‘Siapa diantara kalian yang berani mendatangi Abu Dzar dan mengambil
beberapa helai rambutnya?’ tanya salah seorang diantara mereka. “Saya.” Jawab kawannya.
Majulah orang ini, mendekati Abu Dzar yang ketika itu berada di dekat embernya, dan menjitak
kepala Abu Dzar untuk mendapatkan rambutnya. Ketika itu Abu Dzar sedang berdiri. Beliaupun
langsung duduk kemudian tidur.
Melihat itu, orang banyak keheranan. ‘Wahai Abu Dzar, mengapa kamu duduk, kemudian tidur?’
tanya mereka keheranan.
Abu Dzar kemudian menyampaikan hadis di atas. Subhanallah.., demikianlah semangat sahabat
dalam mempraktekkan ajaran nabi mereka.
Mengapa duduk dan tidur?
Al-Khithabi menjelaskan,
‫صلَى اُ َعلَ ْي ِه‬
‫ فيشبه أن يكون النب‬،‫ والمضطجع ممنوع منهما‬،‫ والقاعد دويه ف هذا المعنى‬،‫القائم متهيئ للحركة والبطش‬
َ
‫َو َسلَ َم إيما أمره بالقعود لل تبدر منه ف حال قيامه وقعوده بادرة يندم عليها فيما بع ُد‬
Orang yang berdiri, mudah untuk bergerak dan memukul, orang yang duduk, lebih sulit untuk
bergerak dan memukul, sementara orang yang tidur, tidak mungkin akan memukul. Seperti ini
apa yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perintah beliau untuk duduk, agar
orang yang sedang dalam posisi berdiri atau duduk tidak segera melakukan tindakan pelampiasan
marahnya, yang bisa jadi menyebabkan dia menyesali perbuatannya setelah itu. (Ma’alim AsSunan, 4/108)
Keempat, Ingatlah hadis ini ketika marah
Dari Muadz bin Anas Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
َ ُ‫أن يُنفذهُ دعاه‬
ْ ‫َم ْن َكظَ َم َغيْظا ً َوهُ َو قاد ٌر على‬
‫الحور العين ما‬
َ‫ق يَوْ َم القيام ِة حتَى يُخيرهُ ِمن‬
ِ ِ‫اُ سبحايهُ وتعالى على رءوس الخَ ئ‬
ِ
‫شا َء‬

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan
Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk
memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud, Turmudzi, dan dihasankan Al-Albani)
Subhanallah.., siapa yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah di hadapan semua
makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin
menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah
ta’ala. Tahukah anda, pahala ini Allah berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi
dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia
lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahwa
membalasnya dengan kebaikan.
Mula Ali Qori mengatakan,
ْ ‫ب َعلَى ُم َج َر ِد َك‬
‫ان َعلَ ْي ِه‬
َ ‫ظ ِم ْال َغ ْي ِظ فَ َك ْيفَ إِ َذا ا ْي‬
َ َ‫َوهَ َذا الثَنَا ُء ْال َج ِمي ُل َو ْال َجزَا ُء ْال َج ِزي ُل إِ َذا تَ َرت‬
ِ ‫الحْ َس‬
ِ ْ ِ‫ض َم ْال َع ْف ُو إِلَ ْي ِه أَوْ زَا َد ب‬
Pujian yang indah dan balasan yang besar ini diberikan karena sebatas menahan emosi.
Bagaimana lagi jika ditambahkan dengan sikap memaafkan atau bahkan membalasnya dengan
kebaikan. (Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan Turmudzi, 6/140).
Satu lagi, yang bisa anda ingat ketika marah, agar bisa meredakan emosi anda:
Hadis dari Ibnu Umar,
‫من كف غضبه ستر ا عورته ومن كظم غيظه ولو شاء أن يمضيه أمضاه م ا قلبه يوم القيامة رضا‬
Siapa yang menahan emosinya maka Allah akan tutupi kekurangannya. Siapa yang menahan
marah, padahal jika dia mau, dia mampu melampiaskannya, maka Allah akan penuhi hatinya
dengan keridhaan pada hari kiamat. (Diriwayatkan Ibnu Abi Dunya dalam Qadha Al-Hawaij, dan
dinilai hasan oleh Al-Albani).
Ya, tapi yang sulit bukan hanya itu. Ada satu keadaan yang jauh lebih sulit untuk disuasanakan
sebelum itu, yaitu mengkondisikan diri kita ketika marah untuk mengingat balasan besar dalam
hadis di atas. Umumnya orang yang emosi lupa segalanya. Sehingga kecil peluang untuk bisa
mengingat balasan yang Allah berikan bagi orang yang bisa menahan emosi.
Siapakah kita dibandingkan Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu. Sekalipun demikian, beliau
terkadang lupa dengan ayat dan anjuran syariat, ketika sudah terbawa emosi.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan bahwa ada seseorang yang minta
izin kepada Khalifah Umar untuk bicara. Umarpun mengizinkannya. Ternyata orang ini
membabi buta dan mengkritik habis sang Khalifah.
‘Wahai Ibnul Khattab, demi Allah, kamu tidak memberikan pemberian yang banyak kepada
kami, dan tidak bersikap adil kepada kami.”

Mendengar ini, Umarpun marah, dan hendak memukul orang ini. Sampai akhirnya Al-Hur bin
Qais (salah satu teman Umar) mengingatkan,
‘Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi
wa sallam (yang artinya): ‘Berikanlah maaf, perintahkan yang baik, dan jangan hiraukan orang
bodoh.’ dan orang ini termasuk orang bodoh.’
Demi Allah, Umar tidak jadi melampiaskan emosinya ketika mendengar ayat ini dibacakan. Dan
dia adalah manusia yang paling tunduk terhadap kitab Allah. (HR. Bukhari 4642).
Yang penting, anda jangan berputus asa, karena semua bisa dilatih. Belajarlah untuk mengingat
peringatan Allah, dan ikuti serta laksanakan. Bisa juga anda minta bantuan orang di sekitar anda,
suami, istri, anak anda, pegawai, dan orang di sekitar anda, agar mereka segera mengingatkan
anda dengan janji-janji di atas, ketika anda sedang marah.
Pada kasus sebaliknya, ada orang yang marah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliaupun meminta salah satu sahabat untuk mengingatkannya, agar membaca ta’awudz,
A-‘udzu billahi minas syaithanir rajim..
َ ِ‫ له أحد الصحابة »تَ َعو َْذ ب‬:‫َوقَا َل‬
ٌ ُ‫ أَ َمجْ ن‬، ٌ‫ أَتُ َرى بِ بَأْس‬:‫ان» فَقَا َل‬
‫ ْاذهَب‬،‫ون أَيَا‬
ِ َ‫اهِ ِمنَ ال َش ْيط‬
“Salah satu temannya mengingatkan orang yang sedang marah ini: ‘Mintalah perlindungan
kepada Allah dari godaan setan!’ Dia malah berkomentar: ‘Apakah kalian sangka saya sedang
sakit? Apa saya sudah gila? Pergi sana!’ (HR. Bukhari 6048).
Kelima, Segera berwudhu atau mandi
Marah dari setan dan setan terbuat dari api. Padamkan dengan air yang dingin.
Terdapat hadis dari Urwah As-Sa’di radhiyallahu ‘anhu, yang mengatakan,
ْ‫ب أَ َح ُد ُك ْم فَ ْليَت ََوضَأ‬
ْ ُ‫ار َوإِيَ َما ت‬
َ ِ‫ب ِم ْن ال َش ْيطَا ِن َوإِ َن ال َش ْيطَانَ ُخل‬
َ ‫َض‬
َ ‫َض‬
َ ‫إِ َن ْالغ‬
ِ ‫طفَأ ُ النَا ُر بِ ْال َما ِء فَإ ِ َذا غ‬
ِ َ‫ق ِم ْن الن‬
Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan
dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu. (HR. Ahmad 17985 dan Abu Daud
4784)
Dalam riwayat lain, dari Abu Muslim Al-Khoulani, beliau menceritakan,
Bahwa Amirul Mukminin Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu pernah berkhutbah di hadapan
masyarakat. Dan ketika itu, gaji pegawai belum diserahkan selama dua atau tiga bulan. Abu
Muslim-pun berkata kepada beliau,
‘Hai Muawiyah, sesungguhnya harta itu bukan milikmu, bukan milik bapakmu, bukan pula milik
ibumu.’

Mendengar ini, Muawiyah meminta hadirin untuk diam di tempat. Beliau turun dari mimbar,
pulang dan mandi, kemudian kembali dan melanjutkan khutbahnya,
‘Wahai manusia, sesungguhnya Abu Muslim menyebutkan bahwa harta ini bukanlah milikku,
bukan milik bapakku, bukan pula milik ibuku. Dan Abu Muslim benar. kemudian beliau
menyebutkan hadis,
‫ فإذا غضب أحدكم فليغتسل‬، ‫ والماء يطفئ النار‬، ‫ والشيطان من النار‬، ‫الغضب من الشيطان‬
Marah itu dari setan, setan dari api, dan air bisa memadamkan api. Apabila kalian marah,
mandilah.
Lalu Muawiyah memerintahkan untuk menyerahkan gaji mereka.
(HR. Abu Nuaim dalam Hilyah 2/130, dan Ibnu Asakir 16/365).
Dua hadis ini dinilai lemah oleh para ulama. Hadis pertama dinilai lemah oleh An-Nawawi
sebagaimana keterangan beliau dalam Al-Khulashah (1/122). Syuaib Al-Arnauth dalam ta’liq
Musnad Ahmad menyebutkan sanadnya lemah. Demikian pula Al-Albani menilai sanadnya
lemah dalam Silsilah Ad-Dhaifah no. 581.
Hadis kedua juga statusnya tidak jauh beda. Ulama pakar hadis menilainya lemah. Karena ada
perowi yang bernama Abdul Majid bin Abdul Aziz, yang disebut Ibnu Hibban sebagai perawi
Matruk (ditinggalkan).
Ada juga ulama yang belum memastikan kelemahan hadis ini. Diantaranya adalah Ibnul
Mundzir. Beliau mengatakan,
‫ و أعلم أحدا من أهل العلم يوجب الوضوء منه‬، ‫إن ثبت هذا الحدي فإيما اعمر به يدبا ليسكن الغضب‬
Jika hadis ini shahih, perintah yang ada di dalamnya adalah perintah anjuran untuk meredam
marah dan saya tidak mengetahui ada ulamayang mewajibkan wudhu ketika marah. (Al-Ausath,
1/189).
Karena itulah, beberapa pakar tetap menganjurkan untuk berwudhu, tanpa diniatkan sebagai
sunah. Terapi ini dilakukan hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dr.
Muhammad Najati mengatakan,
‫ كما يساعد على تخفيف حالة‬، ‫ فالماء البارد يهدئ من فورة الدم الناشلة عن ا يفعال‬، ‫يشير هذا الحدي إلى حقيقة طبية معروفة‬
‫ ولذلك كان ا ستحمام يستخدم ف الماض ف الع ا النفس‬، ‫التوتر العضل والعصب‬
Hadis ini mengisyaratkan rahasia dalam ilmu kedokteran. Air yang dingin, bisa menurunkan
darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan
tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.
(Hadis Nabawi wa Ilmu An-Nafs, hlm. 122. dinukil dari Fatwa islam, no. 133861)

ّ ‫الح‬
‫ب‬
َ ُ‫اَللَهُ َم يَسْأَل‬
َ ‫ضا َوالغ‬
َ ‫الر‬
َ َ‫ك َكلِ َمة‬
ِ ‫َض‬
ِ‫ق ف‬
ِ
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kalimat haq ketika ridha (sedang) dan marah
[Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalatnya – shahih Jami’ As-Shaghir no.
3039]
Ditulis oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
Artikel ini didukung oleh:
 Zahir Accounting. Software Akuntansi Terbaik di Indonesia.
 Ahliherbal.com. Agen Herbal Grosir dan Eceran.
Anda juga dapat menjadi sponsor di video dan website dakwah di Yufid.com Network, silakan
hubungi: marketing@yufid.org untuk menjadi sponsor.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru