GAYA KEPEMIMPINAN PENGASUH PONDOK PESANTREN DURROTU AHLI SUNNAH WALJAMAAH SEBAGAI PEGIAT PENDIDIKAN NONFORMAL Karya Ilmiah Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia

  

GAYA KEPEMIMPINAN PENGASUH PONDOK

PESANTREN DURROTU AHLI SUNNAH WALJAMAAH

SEBAGAI PEGIAT PENDIDIKAN NONFORMAL

Karya Ilmiah

  

Disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia

Oleh :

Nama : Noor Salamah NIM : 1201412049 Prodi : Pendidikan Luar Sekolah

  

PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2013

1.1 Latar Belakang Proses belajar merupakan proses panjang yang terjadi sepanjang hayat.

  Pendidikan atau usaha mencerdasakan kehidupan bangsa merupakan investasi bagi kemajuan suatu bangsa. Indonesia telah melakukan berbagai upaya guna mewujudkannya, usaha tersebut dilakukan melalui jalur pendidikan formal, nonformal maupun informal baik oleh pemerintah, keluarga maupun masyarakat.

  Kualitas dari mutu pendidikan sendiri ditentukan oleh banyak variabel, diantaranya adalah kualitas guru, alat bantu, fasilitas, biaya dan sebagainya. Beberapa variabel itu biasanya tergabung dalam sumber-sumber pendidikan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

  Sebagai salah satu lembaga pendidikan nonformal, pondok pesanten dengan segala atributnya memiliki kekhasan tersendiri. Baik kurikulumnya, peraturannya, sarana-prasarana, serta tenaga pendidik dan kependidikannya. Pengasuh pondok pesantren sebagai pegiat pendidikan nonformal tentu memiliki gaya tersendiri yang berbeda dengan pendidik pendidikan formal. Pengasuh pondok pesantren merupakan sosok yang begitu kompleks dengan segala peran dan tugasnya. Gaya kepemimpinan seorang pengasuh akan berpengaruh terhadap pembelajaran santri selama mondok, perilaku santri selama mondok dan pandangan masyarakat terhadap pondok dan santrinya.

  Pondok Pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah, merupakan salah satu pondok pesantren yang terletak di wilayah Banaran, Sekaran, Gunungpati, Semarang. Letaknya yang berdekatan dengan area kampus Universitas Negeri Semarang. Menjadikan mahasiswa Unnes mendominasi sebagi santri di PPDAW, sebutan untuk pondok pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamah. Kebanyakan pula dari para santri yang belajar merupakan santri anyar, yaitu yang sebelumnya belum pernah mondok. Gaya kepemimpinan seorang pengasuh akan mempengaruhi sosoknya yang menjadi tauladan, kebijakan, serta model kebijakan yang di keluarkan dilingkungan pendidikan.

  Untuk itu penulis tertarik untuk meneliti mengenai gaya kepemimpinan pengasuh pondok pesantren dengan mengambil judul : “GAYA KEPEMIMPINAN PENGASUH PONDOK PESANTREN DURROTU AHLI SUNNAH WALJAMAAH SEBAGAI PEGIAT PENDIDIKAN NONFORMAL.

1.2 Rumusan Masalah

  Dari latar belakang yang telah dibahasa di atas, maka penulis menarik suatu rumusan masalah sebagai berikut ;

1. Apa gaya kepemimpinan pengasuh pondok pesantren Durrotu Ahli Sunnah

  Waljamaah ? 2. Bagaimana penerapan gaya kepemimpinan Pengasuh Pondok Pesantren

  Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah dalam perannya sebagai pegiat pendidikan nonformal ?

1.3 Tujuan 1.

  Mengidentifikasi karakteristik gaya kepemimpinan pengasuh pondok pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah.

2. Mendeskripsikan bagaimana penerapan gaya kepemimpinan Pengasuh

  Pondok Pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah dalam perannya sebagai pegiat pendidikan nonformal.

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

2.1 Kajian Pustaka

  Peran kepemimpinan dalam setiap organisasi berbeda bergantung pada spesifikasinya. Perbedaan ini disebabkan oleh jenis organisasi, situasi sosial dalam organisasi dan jumlah kelompok dalam organisasi. Menurut Stoner (Joko Sutarto, 2013), kepemimpinan merupakan suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas. Pemimipin dalam pendidikan dalam menjalankan tugasnya setidaknya harus memiliki tiga peran yaitu sebagai interpersonal, informasioanal, dan pengambil keputusan. Dimana gaya dari seorang pemimpin sangat berpengaruh terhadap perannya menjadi seorang pemimpin yang selanjutnya akan berdampak pada kebijakan yang dikeluarkan, tauladan yang dicontoh dan keberlangsungan organisasi. Perbedaan peran kepemimpinan jelas adanya diantara jalur pendidikan formal dan nonformal, lebih khusus lagi di dalam organisasi pondok pesantren.

  Kajian yang berkaitan dengan gaya kepemimpinan sangatlah banyak, di antaranya yang dilakukan oleh Haedar Akib (2012), dalam presentasinya yang berjudul Teori Manajemen Kepemimpinan. Dalam presentasinya yang lebih banyak mengupas tentang teori-teori kepemimpinan diantaranya adalah teori bakat, teori prilaku, teori kontemporer dll.

  Kajian lainnya seperti yang di tulis oleh Muhammad (2013) dalam presentasinya yang berjudul Dasar-Dasar Kepemimpinan, yang menjelaskan tentang empat gaya kepemimpinan yaitu gaya kepemimpinan otoriter, laissez fair , demokratis dan situasional.

  Khusus dibidang pendidikan nonformal, Pemimpin dan kepemimpinan pendidikan nonformal sudah pernah dilakukan oleh Joko Sutarto (2013) dalam bukunya yang berjudul Manajemen Pendidikan Nonformal. Menguraikan tentang konsep kepemimpinan dan menjelaskan tugas dan fungsi pemimpin dalam pendidikan nonformal.

  Untuk melengkapi dan melanjutkan kajian yang sebelumnya mengenai gaya kepemimpinan terkhusus di dalam pendidikan pondok pesantren sebagai suatu bagian lembaga pendidikan nonformal dan menjadi subjek kajian adalah pengasuh pondok selaku pegiat pendidikan utamanya dalam menjalankan perannya sebagai pemimpin.

2.2 Landasan Teori

  Teori-teori yang akan dipaparkan berkaitan dengan karya ilmiah ini adalah meliputi gaya kepemimpinan, pengasuh pondok pesantren, pondok pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah dan pegiat pendidikan nonformal. Berikut penjelasan dari masing-masing terori tersebut.

2.2.1 Gaya Kepemimpinan

  Kepemimpinan yang efektif adalah pemimpin yang memiliki delapan kompetensi, kedelapan kompetensi itu adalah mampu memutuskan/memecahkan masalah, mampu merencanakan/menetapkan prioritas, mampu memotivasi, mampu berkomunikasi, mampu, melakukan presentasi/pidato, mampu mengajar/mentransfer pengetahuan, mampu menangani konflik, dan mampu membimbing. Kedelapan kompetensi inilah yang selanjutnya digunakan menjadi acuan dalam teori gaya kepempimpinan.

  Muhammad (2008), menjelaskan terdapat empat gaya kepemimpinan, berikut pengertian dan ciri masing-masing gaya kepemimpinan.

1. Otoriter

  Adalah gaya pemimpin yang otokritik artinya sangat memaksakan dan mendesak kekuasaannya kepada bawahan. Ciri a. i. Tanpa musyawarah Kekuasaan mutlak ada pada b. pimpinan

  Tidak mau menerima saran dari bawahan j.

  Hubungan dengan bawahan c. kurang harmonis

  Mementingkan diri sendiri dan kelompok k.

  Tanpa kenal ampun atas d. kesalahan bawahan

  Selalu memerintah e. l. Memberikan tugas mendadak Kurang percaya pada anak buah f. m. Cenderung menyukai bawahan Kurang memberi dorongan semangat kerja bawahan

  “ABS” g. n. Memaksakan kehendak Kurang mawas diri h. o. Setiap keputusan tidak dapat Selalu tertutup dibantah p.

  Suka mengancam q.

  Kurang menghiraukan usulan bawahan r.

  Mengutamakan suatu kekeluargaan k.

  Adalah pemimpin pepmimpin yang bersikap tengah antara memaksakan kehendak dan memberi kelonggaran kepada bawahan.

  Mau menerima saran dan kritik dari bawahan

  Mengutamakan kontrol p. mengetahui kelebihan dan kekurangan bawahan q. mengutamakan kepentingan bersama r. Mempunyai ketegasan dalam situasi dan kondisi tertentu s.

  Bertanggungjawab terhadap masalah yang dihadapinya n. Bawahan diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat o.

  Mengutakan produktifitas kerja m.

  Ada komunikasi baik satu arah/dua arah l.

  Bersikap terbuka i. Mau membantu memecahkan permasalahan bawahan j.

  Ada rasa bangga bila bawahannya takut s.

  Mempunyai tujuan yang jelas h.

  Berprinsip dan konsisten terhadap suatu masalah g.

  Berwawasan luas c. Mudah menyesuaikan dengan lingkungan d. Mampu menggerakan bawahan e. Bersikap keras pada saat tertentu f.

  Ciri a. Supel / luwes b.

   Laissez Fair Adalah pemimpin yang memberikan kebebasan kepada bawahan.

  Kurang adanya rasa kekeluargaan u. Senang sanjungan 2.

  Tidak suka bawahannya maju dan berkembang t.

3. Demokratis

  Ciri a. i. Pemimpin bersikap pasif Kurang mawas diri b. target diberikan j.

  Semua Perencanaan dan tujuan kurang kepada bawahan jelas c. k.

  Tidak tegas Bawahan merasa sebagai orang

  d. memperhatikan yang berkuasa Kurang kekurangan dan kelebihan l.

  Kurang memberikan dorongan bawahan pada bawahan e. m.

  Percaya kepada bawahan Rasa tanggungjawab kurang f. n. Pelaksanaan pekerjaan tidak Kurang berwibawa terkendali o.

  Menjungjung tinggi hak asasi g. p. Mudah dibohongi bawahan Menghargai pendapat bawahan

  h. q. bermusyawarah Pemimpin kurang kreatif Kurang 4.

  Situasional Adalah pemimpin yang bersikap lebih melihat pada situasinya. Kapan harus bersikap memaksa dan kapan harus moderat, serta pada situasi apa pemimpin harus memberi kebebasan kepada bawahan Ciri a. j. suatu

  Supel / luwes Mengutamakan b. kekeluargaan

  Berwawasan luas c. k. Mudah menyesuaikan dengan Ada komunikasi baik satu lingkungan arah/dua arah d. menggerakan l. produktifitas

  Mampu Mengutakan bawahan kerja e. m. Bersikap keras pada saat Bertanggungjawab terhadap tertentu masalah yang dihadapinya f. n. Berprinsip dan konsisten Bawahan diberi kesempatan terhadap suatu masalah untuk mengutarakan pendapat g. o. Mempunyai tujuan yang jelas Mengutamakan kontrol h. p. Bersikap terbuka mengetahui kelebihan dan i. kekurangan bawahan

  Mau membantu memecahkan permasalahan bawahan q. mengutamakan kepentingan bersama r.

  Mempunyai ketegasan dalam situasi dan kondisi tertentu s.

  Mau menerima saran dan kritik dari bawahan

  2.2.2 Pengasuh Pondok Pesantren Menurut kamus besar bahasa Indonesia offline V1.1, pengasuh berarti orang yang mengasuh atau wali. Sedangkan pondok pesantren dapat diartikan sebagai sebuah asrama pendidikan tradisional, dimana para siswanya semua tinggal bersama dan belajar dibawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri. Jadi pengertian dari pengasuh pondok pesantren adalah seseorang yang mengasuh atau menjadi wali dari para santri yang belajar di lembaga pendidikan pondok pesantren. Pengasuh pondok pesantren juga lebih dikenal dengan sebutan Kyai.

  2.2.3 Pondok Pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah Pondok pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah merupakan sebuah pondok pesantren salaf yang terletak di kompleks kampus Unnes tepatnya di Jalan Kalimasada No.1 rt 02 Rw 05 Banaran Sekaran Gunungpati Semarang. Pondok pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah saat ini di asuh oleh Kyai Masyrokhan, dengan jumlah total santri putra dan putri kurang lebih 300 santri. Mulai berdiri sejak tahun 1993. Kegiatan yang berlangsung dalam proses pendidikan pondok pesantren anatara lain ngaji bandongan pagi, ngaji bandongan sore, madrasah diniyah, kuliah tujuh menit, khitobah, selapanan,

  sewelasan , dibaan, arwah jama, dan manakiban.

  2.2.4 Pegiat Pendidikan Nonformal Pegiat dapat didefiniskan sebagai sesorang yang aktif atau giat dalam melakukan suatu kegiatan atau tindakan. Sedangkan pendidikan nonformal adalah segala macam bentuk pendidikan di luar kaidah pendidikan formal. Jadi pegiat pendidikan nonformal adalah seseorang yang giat atau aktif dalam mengkontribusikan dirinya terhadap segala macam kegiatan pendidikan yang berada di luar kaidah pendidikan formal. Pegiat pendidikan nonformal terdiri dari pamong belajar, fasilitator, penyuluh, pengelola kursus, pengelola lembaga swadaya masyarakat dan profesi sejenis lainnya.

  Dalam jalur pendidikan nonformal, UU No. 20 tahun 2003 pasal 26 ayat 4, disebutkan bahwa satuan pendidikan nonformal dikelompokkan ke dalam lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majlis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Pengasuh sebagai salah satu pegiat pendidikan nonformal sesuai dalam pasal diatas termasuk di dalam satuan kelompok majlis taklim atau lembaga sejenis yaitu pondok pesanten.

BAB III PEMBAHASAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang menghasilkan

  data deskriptif berupa kata-kata tertulis dari hasil observasi dan angket. Ruang lingkup penelitian ini adalah gaya kepemimpinan pengasuh pondok pesantren serta kaitannya dengan peran pengasuh sebagai pegiat pendidikan nonformal. Untuk mengetahui gaya kepemimpinan tersebut peneliti melakukan analisis terhadap kondisi komunikasi santri dengan pengasuh, cara komunikasi, kontrol terhadap santri, dan cara penyampain kritik. Penelitian dilakukan dengan cara observasi selama 1 bulan dan penyebaran angket selama satu minggu. Sasaran dari penelitian ini adalah santri biasa, pengurus, ustaz-ustazah, bidang kurikulum Madrasah Diniyah dan bidang pendidikan. Sampel diambil sejumlah 12 orang. Empat santri biasa, satu pengurus, dua ustaz-ustazah, dua seksi. kurikulum, dan tiga seksi. Pendidikan. Selanjutnya, hasil dari penelitian akan di bahas pada dua sub bab di bawah ini.

  3.1 Gaya Kepemimpinan Dari hasil observasi dan angket, dapat di identifikasi bahwa Pengasuh Pondok

  Pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah memiliki karakteristik gaya kepemimpinan situasional. Hal ini terlihat dari berbagai hal diantaranya: Cara pengasuh dalam menyusun jadwal kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui diskusi antara santri dan pengasuh. Perencanaan program pembelajaran yang ingin dicapai bergantung situasi artinya terkadang ditentukan sendiri oleh pengasuh, santri sendiri atau keduanya. Cara pengasuh mengarahkan santri akan tugasnya, yaitu dengan dijelaskan apa tugasnya, kapan tugasnya tanpa memberi tahu bagaimana tugasnya dilakukan. Kebijakan ini memungkinkan santri yang sekaligus juga mahasiswa dapat lebih kreatif dalam menjalankan tugas. Proses pemecahan suatu masalah yang dilakukan berdasarkan situasi. Artinya disaat mendesak diputuskan sendiri oleh pengurus, sedangkan disaat menyangkut orang banyak dan tidak dalam kondisi mendesak solusi akan didiskusikan bersama. terlihat bahwa terkadang pengasuh bertindak otoriter, terkadang bertindak memasrahkan pada santri, terkadang demokratis. Bergantung pada situasi.

3.2 Deskripsi Penerapan Gaya Kepemimpinan Pengasuh

  3.2.1 Penentuan Pembelajaran yang Harus Dikerjakan Penentuan pembelajaran yang harus dikerjakan ditentukan oleh tangan kanan pengasuh yaitu pengurus, pengurus pondok seksi pendidikan dan pengurus

  Madrasah Diniyah bersama dengan ustaz-ustazah akan membahas kitab apa yang akan dikaji. Setelah rapat Internal tersebut kemudian akan di sowankan ndalem (istilah bagi santri ketika memberi kabar sesuatu, meminta ijin, memohon restu, meminta masukan dan berdiskusi dengan pengasuh). Ketika sudah memberi kabar dan mendapat ijin, maka pengurus akan mengatur pembelian kitab, menentukan ustaz-ustazah dan mensosialisasikan pada santri yang lain.

  3.2.2 Perencanaan Program Pembelajaran Pembelajaran yang ada di lingkungan pondok pesantren sebenarnya tidak sebatas mengkaji kitab kuning saja, lebih dari itu pendidikan di pondok pesantren mengajarkan tentang hampir semua pelajaran kehidupan, konsep long life

  

education dapat ditemukan disini. Pendidikan pondok pesantren yang begitu dekat

  masyarakat, dengan segala kulturnya. Namun dalam pembahasan ini akan lebih di bahas pada pembelajaran kitab kuning. Dalam pengkajian kitab kuning, program yang ada di Pondok Pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah meliputi ngaji bandongan, madrasah diniyah, sorogan, kuliah tujuh menit, dan forum kajian dan amalan bulan ramadhan. Diantara sekian banyak program tersebut yang merupakan program kerja pengurus pondok seksi pendidikan adalah ngaji bandongan dan sorogan pada ustaz-ustazah. Dua program ini adalah program wajib yang memang di tentukan oleh pengasuh namun dalam konsep pelaksanaannya penguruslah yang mengatur. Bagi santri yang hendak memperdalam penguasaan kitab kuning, pengasuh siap memberikan pengarahan dan bimbingan.

  3.2.3 Penyusunan Jadwal Kegiatan Pembelajaran Penyusunan jadwal pembelajaran dalam lingkungan pondok pesantren di tentukan berdasarkan hasil diskusi santri dengan pengasuh. Santri dalam hal ini bukanlah keseluruhan santri yang belajar di pondok, melainkan pengurus yang merupakan tangan kanan pengasuh, lebih sempit lagi pengurus Madrasah Diniyah seksi kurikulum dan pengurus pondok seksi pendidikan. Setelah mereka masing- masing seksi rapat internal hasil dari rapat akan di sowankan ndalem. Maka hasil dari diskusi ini yang kemudian akan menjadi keputusan jadwal kegiatan pembelajaran santri.

  3.2.4 Pemecahan Masalah Jika terdapat suatu permasalah dalam pembelajaran, keputusan solusi pemecahan masalah bergantung situasi, di saat mendesak solusi diputuskan sendiri oleh pengasuh sedangkan di saat masalah menyangkut orang banyak dan tidak dalam kondisi mendesak maka solusi akan didiskusikan bersama. Misalnya saja suatu kitab sudah khatam, dan kitab tersebut sudah merupakan jilid terakhir. Maka seksi pendidikan akan rapat internal untuk menentukan kitab lalu

  

disowankan ndalem. Atau dalam kondisi mendesak misalnya pembelian tanah di

  dekat gedung asrama putra yang keputusannya di tentukan oleh pengasuh. Namun setelah sudah memberikan pengasuh sudah memberikan uang muka, pengasuh bersama santri bahu-membahu melunasi sisanya baik melalui iuran wali santri, iuran alumni dan pencarian donatur.

  3.2.5 Komunikasi Komunikasi yang berjalan diantara santri dan pengasuh selalu berjalan baik. Jalannya komunikasi yang baik ini dipengaruhi pula oleh budaya santri yang takzim pada guru. Meskipun banyak cara berkomunikasi dianatarnya adalah diskusi, bimbingan individu atau bimbingan kelompok, namun pada pengasuh PPDAW sebutan bagi Pondok Pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah lebih condong cara komunikasi satu arah yaitu melalui ceramah, pidato, tausiyah, dan

  mauidloh.

  3.2.6 Kontrol Peran dalam mengontrol santri, baik itu pembelajaran maupun perilakunya lebih didominasi oleh tangan kanan pengasuh yaitu pengurus. Pengurus merupakan santri yang diberi amana untuk mengurusi santri sekawan lain, tanpa tedeng aling-aling imbalan apapun. Penentuan santri sebagai pengurus berdasarkan penunjukan bu lurah - pak lurah (istilah untuk pemimpin santri). Penanggung jawaban kinerja pengurus yaitu kepada pengasuh juga santri sendiri. Sedangkan pengurus mempertanggung jawabkan kinerjanya kepada wali santri, masyarakat juga kepada Allah. Bentuk kontrol dari pengurus ini dapat berupa peraturan tertulis yang sudah di pasal-pasalkan, peraturan tidak tertulis yang tidak tertuang dalam pasal-pasal, teguran, nasihat, ajakan pada kebaikan, tauladan, dan sebagainya.

  BAB IV PENUTUP

  4.1 Simpulan Secara umum gaya kepimpinan dapat dibagi menjadi empat yaitu otoriter,

  

laissez fair, demokartis, dan situasional. Setiap gaya memiliki kekhasan masing-

  masing, dan setiap pemimpin memiliki gaya yang berbeda-beda. Pengasuh Pondok Pesantren Durrotu Ahli Sunnah Waljamaah sebagai salah satu pemimpin lembaga pendidikan nonformal sekaligus sebagai pegiat pendidikan nonformal termasuk pemimpin yang memiliki karakteristik gaya kepemimpinan situasional. Hal ini terlihat dari berbagai hal diantaranya: Cara pengasuh dalam menyusun jadwal kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui diskusi antara santri dan pengasuh. Perencanaan program pembelajaran yang ingin dicapai bergantung situasi artinya terkadang ditentukan sendiri oleh pengasuh, santri sendiri atau keduanya. Cara pengasuh mengarahkan santri akan tugasnya, yaitu dengan dijelaskan apa tugasnya, kapan tugasnya tanpa memberi tahu bagaimana tugasnya dilakukan. Kebijakan ini memungkinkan santri yang sekaligus juga mahasiswa dapat lebih kreatif dalam menjalankan tugas. Proses pemecahan suatu masalah yang dilakukan berdasarkan situasi. Artinya disaat mendesak diputuskan sendiri oleh pengurus, sedangkan disaat menyangkut orang banyak dan tidak dalam kondisi mendesak solusi akan didiskusikan bersama. Penentuan pembelajaran yang ditentukan sendiri oleh pengasuh. Jadi disini terlihat bahwa terkadang pengasuh bertindak otoriter, terkadang bertindak memasrahkan pada santri, terkadang demokratis. Bergantung pada situasi.

  4.2 Saran Dari simpulan dan hasil penelitian ini penulis memberi saran kepada;

  Pertama, kepada pengurus. Hendaknya setiap bulan ada laporan kepada

  pihak pengurus berkenaan dengan proses pembelajaran santri di pondok tanpa harus menunggu pengasuh meminta data hasil perkembangan santri. Berkenaan dengan kontrol terutamanya.

  Kedua, kepada wali santri. Untuk meningkatkan kontrol pembelajaran

  santri di pondok, hendaknya wali santri sering mengunjungi pondok, berdiskusi dengan pengasuh dan pengurus bagaimana berkembangan santri ketika berada di pondok.

  DAFTAR PUSTAKA Sutarto, Joko. 2012. Manajemen Program PNF. Semarang: Unnes Press.

  Rifai, Ahmad. 2013. Gaya Kepemimpinan Pamong Belajar SKB Batang. Skripsi.

  Unnes Muhammad. 2008.

  “Dasar-Dasar Gaya Kepemimpinan

  ” dalam

  

  diakses pada 2 Desember 2013 Akib, Haedar. 2012.

  “Teori Manajemen Kepemimpinan” dalam

  diakses pada 2 Desember 2013

  Septiawan, Ebta. 2010. Kamus Besar Bahasa Indonesia Offline V1.1 dalam

  diakses pada 29 Oktober 2013 Lampiran Instrumen A.

  Identitas Subjek a.

  c.

  Keputusan solusi pemecahan masalah selalu dicari bersama dengan jalan berdiskusi

  c.

  Keputusan solusi pemecahan masalah mutlak milik santri tanpa intervensi atau campur tangan pengasuh, namun pengasuh tetap bertanggung jawab atas solusi yang dipilih santri.

  Keputusan solusi pemecahan masalah mutlak milik pengasuh tanpa intervensi atau campur tangan santri b.

  Terkadang saya diwajibkan nerima tugas ini namun terkadang pula saya diperbolehkan untuk menolak tugas.

  Semuanya dijelaskan tentang apa tugasnya, kapan dan bagaimana.

  d.

  Sering kali kami berdiskusi bagaimana tugas ini dilakukan? Jika tak sanggup atau tidak bersedia diperbolehkan tidak menerima tugas.

  Semuanya dijelaskan secara rinci namun semuanya pun harus sesuai perintah b. Pengasuh hanya menjelasakan apa tugasnya dan kapan dilakukan, tanpa menjelaskan bagaimana caranya.

  Nama : b.

  

Tidak pernah, karena sudah langsung berupa titah A dan harus A

b.

Tidak pernah, karena pengasuh memasrahkan semua pada santri

c. Selalu, kami selalu berdiskusi d. Bergantung situasi 3. Bagaimana pengarahan pengasuh dalam memberikan tugas kepada anda? Apakah dijelaskan apa tugasnya? kapan dilakukan? Bagaimana caranya? a.

  Tidak pernah, karena sudah langsung berupa titah A dan harus A b. Tidak pernah, karena pengasuh memasrahkan semua pada santri c. Selalu, kami selalu berdiskusi d. Bergantung situasi 2. Apakah anda pernah mendapat pengarahan dalam perencanaan program pembelajaran yang ingin dicapai ? a.

  Apakah anda pernah mendapat pengarahan dalam menyusun jadwal kegiatan pembelajaran dari pengasuh ? a.

  Gaya Kepemimpinan 1.

  Jabatan/amanah : B.

  Pendidikan : e.

  Jenis Kelamin : d.

  Umur : c.

4. Jika terdapat suatu permasalahan, bagaimana proses pemecahan masalahnya? a.

  d.

5. Bagaimana pengasuh dalam memberikan bimbingan, dukungan dan bantuan? a.

  Menerima dengan terbuka, segalanya diterima dengan lapang dada. Semua kritik, saran dianggap benar.

  Ditentukan sendiri oleh pengasuh b. Ditentukan oleh tangan kanan pengasuh c. Ditentukan oleh santri sendiri d. Di tentukan oleh wali santri

  Menyaring kebenarannya dalam setiap keluhan, kritik atau saran..

  d.

  Mengajak diskusi kepada orang yang memberikan kritik serta saran agar diperoleh solusinya.

  c.

  b.

  Keputusan solusi pemecahan masalah bergantung situasi, di saat mendesak solusi diputuskan sendiri oleh pengasuh sedangkan di saat masalah menyangkut orang banyak serta tidak dalam kondisi mendesak solusi akan didiskusikan bersama.

  Cuek, masa bodoh. Menurutnya tetap ia yang paling benar.

  Langsung kepada pengasuh b. Langsung kepada tangan kanan pengasuh c.

Melalui media tulis seperti Aswaja Inbox dalam buletin atau kotak saran

d. Tidak ada ruang sebagai wadah penyalur aspirasi 9. Menurut anda, bagaimana reaksi pengasuh ketika menerima keluhan, kritik atau saran? a.

  Tidak ada kontrol 8. Bagaimana cara anda dalam menyampaikan kritik dan saran? a.

  Ada, pengasuh yang mengontrol secara langsung b. Ada kontrol, tapi melalui tangan kanan pengasuh c. Ada kontrol, melalui tangan kanan pengasuh yang kemudian melalui tangan kanan tersebut pengasuh mengontrol santri d.

  Tidak baik b. Baik sekali c. Selalu baik d. Kadang-kadang baik 7. Apakah ada kontrol dari penagsuh dalam proses dan kegiatan pembelajaran terhadap santri? a.

  Melalui komunikasi satu arah, ceramah atau pidato b. Melalui diskusi c. Melalui bimbingan individu d. Melalui bimbingan kelompok 6. Bagaimana jalannya proses komunikasi antara pengasuh dengan santri? a.

10. Bagaimana proses penentuan pembelajaran yang harus dikerjakan ? a.

  C.

  Pemimpin Ideal dan efektif 1.

  Pemimpin yang bagaimana yang anda anggap sudah pantas dibilang Ideal dan efektif? Jelaskan?

  2. Menurut anda apakah pengasuh sudah memenuhi kualifikasi dari pemimpin ideal dan efektif yang anda harapkan?

Dokumen yang terkait

Dokumen baru