Makalah 1 Profesi Pendidikan (1)

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam yang
senantiasa memberikan kemudahan, kelancaran beserta limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya yang tiada terhingga. Shalawat serta salam
semoga

tetap

tercurahkan

kepada

Rasulullah

SAW

yang

telah

memberikan suri tauladan bagi kita semua. Alhamdulillah berkat
kehendak dan ridha-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah ini yang
berjudul “Profesionalisme Guru dalam Globalisasi (Karakter Guru
Profesional di Era Global).” Makalah ini disusun untuk memenuhi salah
satu tugas Mata Kuliah Profesi Pendidikan.
Dalam penyusunan makalah ini, disusun berdasarkan informasi yang
diketahui dan pengetahuan yang didapatkan. Saya berharap semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi semuanya terutama bagi saya sendiri. Begitu
pula makalah ini tidak luput dari kekurangan dan kesalahan, untuk itu
saya mengharapkan kritik dan sarannya yang bersifat membangun.

Banjarmasin, April
2015
Penyusun

Herni Ratna Sari
i

DAFTAR ISI
Kata Pengantar............................................................. i
Daftar Isi......................................................................... ii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar

Belakang

Masalah........................................................
1

1.2 Rumusan Masalah.................................................. 2
1.3 Tujuan Penulisan.................................................... 2
BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Profesionalisme Guru............................................. 3
2.2 Globalisasi........................................................... 11
2.3
2.4

Guru dalam Perspektif Globalisasi......................15
Karakter Guru dalam Menghadapi Arus
Globalisasi......................
……………………………………….....................16

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..........................................................20
DAFTAR
PUSTAKA ......................................................................................
......21

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pendidikan yang profesional akan dapat mengembangkan dan

membentuk watak serta peradaban bangsa. Guru adalah bagian dari
kesadaran sejarah pendidikan di dunia. Sebagai orang yang harus digugu
dan ditiru seorang guru dengan sendirinya memiliki peran yang luar biasa
dominannya bagi peserta didik. Dalam sebuah proses pendidikan guru
merupakan satu komponen yang sangat penting, selain komponen lainnya
seperti tujuan, kurikulum, metode, sarana dan prasarana lingkungan, dan
evaluasi.

Untuk

mendatangkan

hasil

pendidikan

yang

berkualitas

diperlukan sumber daya manusia (guru) yang berkualitas pula. Maka dalam
konteks ini sangat dibutuhkan profesionalisme guru. Kebijakan pemerintah
pun menjawab tuntutan tersebut denganmUndang-Undang tentang Guru
dan Dosen, kemudian realisasi program sertifkasi guru. Seiring dengan laju
perkembangan pemikiran manusia yang melahirkan peradaban yangm
sangat cepat pertumbuhannya ditandai dengan kemajuan teknologi
informasi yang kemudian dikenal dengan era global dengan konsekuensi
globalisasi. Globalisasi menawarkan paradigma baru dalam pendidikan.
Tentunya juga merupakan tantangan baru bagi guru professional yang kian
hari kian meningkat. Munculnya situasi global tersebut di samping
menimbulkan dampak positif terutama bagi pengembangan profesionalitas
guru, juga berdampak negatif yang sudah sangat sulit dikontrol. Berbagai
peralatan teknologi kian membuka peluang atau menambah subur bagi
terciptanya moral yang buruk. Hal yang demikian dirasakan lebih menarik
lagi bagi kalangan generasi muda yang serba ingin tahu. Maka persoalaan yang
timbul kemudian adalah: Bagaimana profesionalisme guru menghadapi arus
globalisasi, atau bagaimana guru berperan di tengah arus globalisasi
dengan profesionalismenya.
1

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Profesionalisme Guru?
2. Apa pengertian Globalisasi?
3. Bagaimana Guru dalam Perspektif Globalisasi?
4. Bagaimana Karakter Guru dalam Menghadapi Arus Globalisasi?

1.3

Tujuan Penulisan Makalah

1. Untuk mengetahui pengertian Profesionalisme Guru
2. Untuk mengetahui pengertian Globalisasi
3. Untuk mengetahui bagaimana Guru dalam Perspektif Globalisasi
4. Untuk mengetahui bagaimana Karakter Guru dalam Menghadapi Arus
Globalisasi

2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Profesionalime Guru
Profesi merupakan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan atau
pendidikan tertentu,
sehingga dikatakan profesi guru adalah keahlian guru dalam melaksanakan
tugas-tugas

kependidikan

diperoleh

setelah

menempuh

pendidikan

keguruan tertentu, dan kemampuan tersebut tidak dimiliki oleh warga
masyarakat pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan
keguruan. Menurut Y. Nasanius, profesi guru yaitu kemampuan yang tidak
dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah
mengikuti pendidikan keguruan. Atau secara sederhana dapat dinyatakan
bahwa professi guru adalah pekerjaan/tugas yang hanya dapat dilakukan
oleh

orang

mempunyai

jabatan/kedudukan

sebagai

guru

karena

kompetensi yang di peroleh melalui pendidikan tertentu.
2.1.1 Profesi Guru
Profesi guru pada mulanya dikonsep sebagai kemampuan memberi
dan

mengembangkan

pengetahuan

peserta

didik,

tetapi,

beberapa

dasawarsa terakhir konsep, persepsi, dan penilaian terhadap profesi guru
mulai bergeser. Hal itu terjadi selain karena perubahan pandangan
manusia-masyarakat terhadap integritas seseorang yang berkaitan dengan
produktivitas ekonomisnya, juga karena perkembangan yang cukup radikal
di bidang pengetahuan dan teknologi, terutama bidang informasi dan
komunikasi, yang kemudian mendorong pengembangan media belajar dan
paradigma

teknologi

pendidikan.

Dalam

perkembangan

berikutnya,

sekaligus sebagai biasnya, guru mulai mengalami dilema eksistensial.
3

Slogan “Pahlawan tanpa tanda jasa” senantiasa melekat pada profesi guru.
Hal ini didasarkan pada pengabdiannya yang sangat tinggi dan tulus dalam
dunia pendidikan. Selain itu, keterampilan, sikap kearifan, kedisiplinan,
kejujuran, ketulusan, kesopanan, dan penampilan sebagai sosok panutan
menjadikan profesi satu ini berbeda dengan yang lain, ditambah dengan
tanggung jawab dari profesi guru tidak pernah berhenti pada saat selesai
mengajar, tetapi keberhasilan siswa dalam menangkap, memahami,
mempraktikkan, dan mengamalkan ilmu yang diterima dalam kehidupan
sehari-hari, baik langsung maupun tidak langsung, melekat pada dirinya.
Sedangkan profesional berkenaan dengan pekerjaan, berkenaan
dengan keahlian, memerlukan kepandaian khusus untuk melaksanakannya,
mengharuskan citra adanya pembayaran untuk melakukannya.
2.1.2 Guru Profesional
Dalam kamus bahasa Indonesia guru diartikan sebagai “orang yang
kerjanya mengajar”. Menurut Djamarah, “Guru adalah semua orang yang
berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid, baik
secara individual maupun secara klasikal, baik di sekolah maupun di luar
sekolah”. Pada kesempatan lain Djamarah berpendapat bahwa “Guru
adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab untuk
membimbing dan membina anak didik, baik secara individual maupun
klasikal

di

sekolah

maupun

di

luar

sekolah”.

Sementara

menurut

Sardiman, “Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses
belajar mengajar, yang ikut berperan serta dalam usaha pembentukan
sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan”. Profesi
guru sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah keahlian guru dalam
melaksanakan tugas-tugas kependidikan diperoleh setelah menempuh
pendidikan keguruan tertentu, dan kemampuan tersebut tidak dimiliki oleh
warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah mengikuti pendidikan
keguruan. Dengan demikian guru profesional adalah seseorang yang
memiliki latar belakang pendidikan keguruan yang memadai, mempunyai

4

kompetensi dan keterampilan di bidangnya, hingga mampu melaksanakan
tugasnya dengan baik dan bertanggung jawab.
Jadi, yang dimaksud dengan guru profesional adalah guru yang
mampu menerapkan
hubungan yang berbentuk multidimensional. Guru yang demikian adalah
guru yang secara internal memenuhi kriteria administratif, akademis, dan
kepribadian. Guru adalah bagian dari kesadaran sejarah pendidikan di
dunia. Guru yang profesional sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan
karena guru menjadi ujung tombak dan memegang peranan penting dalam
menentukan orientasi, tujuan, dan corak pendidikan yang diterima oleh
peserta didiknya. Dalam persepsi masyarakat pedesaan profesi guru
umumnya dinilai sebagai profesi orang suci (saint profession) yang mampu
memberi pencerahan dan dapat mengembangkan potensi yang tersimpan
di dalam diri siswa. Sebagian besar masyarakat tradisional memiliki mitos
yang kuat bahwa guru adalah profesi yang tidak pernah mengeluh dengan
gaji rendah, profesi yang dapat dilakukan oleh siapa saja yang mau, dan
profesi yang bangga dengan gelar “pahlawan tanpa tanda jasa”. Dalam
pandangan masyarakat tradisional, guru dianggap profesional jika peserta
didik

sudah

dapat

membaca,

menulis,

dan

berhitung,

atau

anak

memperoleh nilai tinggi secara kuantitatif, dapat naik kelas, dan lulus ujian,
tanpa melihat segi kualitatifnya.
Sementara masyarakat modern menganggap kompetensi guru belum
lengkap jika hanya dilihat dari keahlian dan keterampilan yang dimiliki,
maka guru professional juga dilihat dari segi orientasi guru terhadap
perubahan dan inovasi. Bagi masyarakat modern, eksistensi guru yang
mandiri, kreatif, dan inovatif merupakan salah satu aspek penting untuk
membangun

kehidupan

bangsa.

Salah

satu

bangsa

modern

yang

menghargai profesi guru adalah bangsa Jepang. Mereka menyadari bahwa
guru

yang

bermutu

merupakan

kunci

keberhasilan

pembangunan

negaranya seperti tercermin dalam ungkapan penghargaan bangsa Jepang
terhadap profesi guru “She no on wa yama yori mo ta, lai umiyorimo fu”
5

(yang berarti jasa guru lebih tinggi dari gunung yang paling tinggi, lebih
dalam dari laut paling dalam).
2.1.3 Profesionalisme Guru
Setelah diketahui uraian tentang profesi dan profesional maka dapat
dipahami bahwa
profesionalisme menunjukkan makna kualitas, mutu, dan tindak tanduk
yang merupakan sifat melekat pada suatu profesi. Jika profesi guru dalah
pekerjaan dan tugas guru, dan guru
profesional adalah guru yang mampu dan mau menjalankan tugasnya
karena kompetensi dan keterampilan yang dimilikinya, maka dapat
dipahami dalam konteks keguruan bahwa profesionalisme merupakan
kualitas dan mutu kinerja, serta perilaku yang menunjukkan suatu profesi
guru. Guru ditinjau dari aspek bahasa Jawa mempunyai makna orang
yang harus digugu dan ditiru oleh orang lain (termasuk muridnya). Makna
tersebut dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang disampaikan atau
yang

dikerjakan

olehnya

senantiasa

dipercaya,

diyakini

sebagai

kebenaran atau sesuatu yang penting oleh orang lain, dan ditiru. Maka
semua informasi dan ilmu pengetahuan yang datang dari guru dinilai
sebagai sebuah kebenaran yang sering tidak perlu dibuktikan atau diteliti
lagi. Sementara makna harus ditiru adalah bahwa seorang guru menjadi
teladan bagi semua orang di lingkungannya, mulai dari cara berfkir (fkr
dan qalb), cara bebicara (lisan), hingga cara berperilaku (arkan) sehaihari. Sebagai seorang yang harus digugu dan ditiru seorang dengan
sendirinya memiliki peran yang luar biasa dominannya bagi murid. Dalam
sebuah proses pendidikan guru merupakan satu komponen yang sangat
penting,
selain komponen lainnya seperti tujuan, kurikulum, metode, sarana dan
prasarana lingkungan, dan evaluasi.
Guru pada sejumlah negara maju sangat dihargai karena secara
spesifik guru memiliki:

6

Kecakapan dan kemampuan untuk memimpin dan mengelola



pendidikan;
Ketajaman pemahaman dan kecakapan intektual, cerdas emosional



dan sosial untuk
membangun pendidikan yang bermutu; dan



Perencanaan yang matang, bijaksana, kontekstual dan efektif untuk
membangun humanware yang unggul, bermartabat, dan memiliki
daya saing.

Keunggulan mereka adalah terus maju untuk mencapai yang terbaik
dan

memperbaiki

yang

terpuruk.

Mereka

secara

berkelanjutan

(sustainable) terus menigkatkan mutu diri dari guru biasa ke guru yang
baik dan terus berupaya meningkat ke guru yang Iebih baik dan akhirnya
menjadi guru yang terbaik, yang mampu memberi inspirasi, ahli dalam
materi, memiliki moral yang tinggi dan menjadi teladan yang baik bagi
siswa.
Di Indonesia guru yang memiliki keahlian, spesialisasi yang harus
diakui masih sedikit
jumlahnya jika dibandingkan dengan jumlah penduduk, atau bahkan
langka. Walaupun sudah sejak puluhan tahun dipersiapkan, namun
hasilnya masih belum nampak secara nyata. Hal tersebut lebih disebabkan
oleh masih cukup banyak guru yang belum memiliki konsep diri yang baik,
tidak tepatan menyandang predikat sebagai guru, dan mengajar mata
pelajaran yang tidak sesuai dengan keahliannya (mismatch). Semuanya
terjadi karena kemandirian guru belum nampak secara nyata, yaitu
sebagian guru belum mampu melihat konsep dirinya (selfconsept), ide
dirinya (self idea), dan realita dirinya (self reality). Tipe guru seperti ini
mustahil dapat menciptakan suasana akademik pembelajaran yang aktif,
innovative, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Namun, beberapa dasawarsa terakhir konsep, persepsi, dan penilaian
terhadap profesi guru mulai bergeser. Hal itu selain karena perubahan
pandangan manusia dan masyarakat terhadap integritas seseorang yang
7

berkaitan dengan produktivitas ekonomisnya, juga karena perkembangan
yang cukup radikal di bidang pengetahuan dan teknologi, terutama bidang
informasi dan komunikasi, yang kemudian mendorong pengembangan
media belajar dan paradigma teknologi pendidikan.
2.1.4 Pengembangan Profesionalisme Guru
Adanya penilaian tentang belum profesionalnya guru harus diakui
dan hendaknya ditanggapi secara bijak baik oleh guru itu sendiri, institusi
penghasil guru (LPTK) pemerintah maupun pengguna. Penilaian atau kritik
itu hendaknya dapat dijadikan sebagai bahan refleksi serta dijadikan
tantangan untuk memecut semangat dalam mewujudkan profesionalisme
guru. Profesionalisme guru merupakan suatu keharusan sebab tanpa
profesionalisasi perwujudan guru profesional sulit dicapai. Guru yang
profesional adalah guru yang bekerja secara otonom (bebas tetapi sesuai
keahlian dan mandiri). Untuk mengabdikan diri pada pengguna jasa
(negara

dan

masyarakat)

dengan

disertai

tanggung

jawab

atas

kemampuan profesionalismenya sebagai penyandang suatu profesi. Untuk
itu dibutuhkan profesionalisasi, yaitu proses peningkatan kualifikasi atau
kompetensi bagi penyandang suatu profesi untuk mencapai kriteria standar
ideal yang ditetapkan profesinya. Sudarwan Danim (2002 :25-32)
menjelaskan tiga pendekatan profesionalisasi profesi meliputi:
a. Pendekatan karakteristik (the treat approach) yang memfokuskan
pada profesi memiliki
seperangkat elemen antara lain : kemampuan intelektual diperoleh
dari pendidikan tinggi, memiliki pengetahuan spesialisasi, memiliki
pengetahuan dan teknis yang dapat di komunikasikan, kemandirian,
kode etik dan sistem upah serta budaya profesional.
b. Pendekatan institusional (the institusional approach). Memandang
profesi dari sudut
pandang proses institusional atau perkembangan asosiasional.
c. Pendekatan legalistik (the legalistik approach) menekankan adanya
pengakuan

atas

suatu

profesi
8

oleh

negara

atau

pemerintah.

Pengakuan

terhadap

profesi

dapat

ditempuh

melalui

tahapan

registrasi, sertifikasi dan lisensi.
Profesionalisme

tenaga

pendidik

(guru)

pada

dasarnya

dapat

dilaksanakan dalam dua jenis pendidikan. Pertama, Pendidikan prajabatan
yang menjadi tugas LPTK untuk mempersiapkan mahasiswanya dalam
meniti karier di bidang pendidikan. Kedua, pendidikan dalam jabatan yang
terwujud dalam bentuk pelatihan-pelatihan dan pengembangan yang dapat
dilakukan oleh institusi pemerintah maupun organisasi profesi. Menurut
Ibrahim Bafadal (2004 :41-63), secara teknis profesionalisasi guru dapat
dilaksanakan melalui beberapa cara. Pertama, Supervisi, yaitu layanan
bantuan profesional kepada guru untuk meningkatkan kemampuan dalam
melaksanakan tugas mengelola proses pembelajaran secara efektif dan
efisien. Kedua, Sertifikasi guru merupakan layanan penyesuaian kualifikasi
pendidikan guru agar relevan dengan bidang tugas yang digelutinya.
Ketiga,

Tugas

belajar

diberikan

kepada

guru

untuk

menyesuaikan

kualifikasi pendidikan yang diisyaratkan dan meningkatkan kualifikasi
pendidikan.

Keempat,

pemberdayaan

forum

gugus,

MGMP

berupa

peningkatan profesionalisasi melalui curah pendapat (brain storming)
maupun monitoring berkala. Sementara itu, dalam upaya memberdayakan
guru di Indonesia untuk meningkatkan kualitas profesional, BappenasDepdiknas merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:
a. Dalam pembinaan mutu guru melalui pendidikan dalam jabatan,
penekanan

diberikan

meningkatkan

pada

efektivitas

kemampuan

mengajarnya,

guru

agar

mengatasi

dapat

persoalan

praktis dalam pengelolaam PBM, dan meningkatkan kepekaan
terhadap perbedaan individual siswa.
b. Pelatihan kepekaan para guru terhadap latar belakang peserta
didik yang beragam terutama pada tingkat pendidikan dasar
sebagai konsekuensi terbukanya akses peserta didik terhadap
sekolah.

9

2.2 Globalisasi
2.2.1 Global dan Globalisasi
Kata "globalisasi" berasal dari kata “global”. Secara harfiah, kata
“global” berarti sedunia
atau sejagat, menyeluruh (mujmal), universal. Kata tersebut selanjutnya
menjadi istilah yang
merujuk kepada suatu kedaan di mana suatu negara dengan negara lain
sudah menyatu. Batas-batas teritorial, kultural, dan sebagainya sudah
bukan merupakan hambatan lagi untuk melakukan penyatuan tersebut.
Dengan demikian secara harfiah, globalisasi berarti menyatunya berbagai
negara yang ada di globe ini menjadi satu entitas. Globalisasi adalah suatu
proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap
individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Menurut Azyumardi Azra
& Jamhari, globalisasi adalah "perubahan-perubahan struktural dalam
seluruh kehidupan Negara dan bangsa yang mempengaruhi fundamenfundamen

dasar

pengaturan

hubungan

antar

manusia,

organisasi-

organisasi sosial, dan pandangan-pandangan dunia". Situasi ini tercipta
berkat adanya dukungan teknologi canggih di bidang komunikasi seperti
radio, televisi, telepon, faxsimile, internet, dan sebagainya. Melalui
berbagai peralatan tersebut berbagai peristiwa atau kejadian yang terjadi
di belahan dunia yang lain dapat dengan mudah diketahui bahkan diakses
secara cepat. Semakin banyak manusia menggunakan peralatan tersebut
semakin banyak informasi yang dapat diketahui. Globalisasi dipergunakan
pertama kali oleh Theodore Levitte pada tahun 1985. Definisi tentang
globalisasi belum didapati yang mapan kecuali sekadar berupa definisi
kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang
melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau
proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa
dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu
tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan
batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat. Di sisi lain, ada
10

yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negaranegara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif
atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain
adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara
yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan
negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing.
Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian
dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya
dan agama.
Sebagai sebuah konsep globalisasi yang pada awalnya lahir dan
bermula dari bidang ekonomi dan teknologi, dalam perkembangannya
kemudian merasuk hampir keseluruh sendi-sendi kehidupan, mulai dari
politik, sosial, budaya, gaya hidup dan lain sebaginya. Sebagai bagian dari
masyarakat dunia, sebagai individu maupun bangsa, mau tidak mau kita
harus berhadapan dengan berbagai pengaruh positif maupun negatif yang
dibawa oleh globalisasi yang nota bene berasal dari Barat. Kemajuan dan
kecanggihnya teknologi telekomunikasi dan transportasi telah dan semakin
menciutkan jarak dan waktu yang kemudian berimbas pada semakin
kuatnya penetrasi budaya dan nilai-nilai Barat ke seluruh sendi kehidupan
masyarakat di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali bidang pendidikan di
Indonesia.
Para era tahun 1990-an di Indonesia kemudian bergulir wacana
"paradigma baru"
pendidikan nasional selaras dengan semangat reformasi yang sedang
bergelora di seluruh negeri. Seolah menemukan momemtumnya, para
pakar,

praktisi

maupun

birokrat

pendidikan

kemudian

merumuskan

berbagai acuan sebagai respons dan antisipasi penyiapan SDM untuk
percaturan global. Paradigma baru tersebut kemudian dirumuskan dalam
prinsip-prinsip

yang

terkandung

dalam

arah

baru

pengembangan

pendidikan nasional, secara garis besar mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Kesetaraan perlakuan sektor pendidikan dengan sektor lainnya,
11

b. Pendidikan berorientasi rekonstruksi sosial,
c. Pendidikan dalam rangka pem-berdayaan bangsa,
d.

Pemberdayaan

infrastruktur

sosial

untuk

kemajuan

pendidikan

nasional,
e.

Pembentukan

kemandirian

dan

keberdayaan

untuk

mencapai

keunggulan,
f. Penciptaan iklim yang kondusif untuk tumbuhnya toleransi dan
konsensus dalam
kemajemukan,
g. Perencanaan terpadu secara horizontal (antar sektor) dan vertikal
(antar jenjang),
h. Pendidikan berorientasi peserta didik,
i. Pendidikan multikultural,
j. Pendidikan dengan perspektif global.
2.2.2 Implikasi Globalisasi
Globalisasi dinilai berpengaruh terhadap hampir semua aspek yang
ada di masyarakat,
termasuk aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai
(values) yang dianut olehmasyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh
warga masyarakat terhadap berbagai hal, baiknilai-nilai maupun persepsi
berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yangterdapat
dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya
apabila disadari bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh
apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Salah satu
hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian sebagai
subsistem kebudayaan. Globalisasi sebagai sebuah gejala tersebarnya
nilai-nilai dan budaya tertentu ke seluruh dunia, sehingga menjadi budaya
dunia (world culture), telah terlihat sejak lama. Cikal bakal dari persebaran
budaya dunia ini dapat ditelusuri dari perjalanan para penjelajah Eropa
Barat ke berbagai tempat di dunia ini (Lucian W. Pye, 1966). Namun,
perkembangan globalisasi kebudayaan secara intensif terjadi pada awal
12

abad ke-20 dengan berkembangnya teknologi komunikasi. Kontak melalui
media menggantikan kontak fsik sebagai sarana utama komunikasi antar
bangsa. Perubahan tersebut menjadikan komunikasi antar bangsa lebih
mudah dilakukan. Hal ini menyebabkan semakin cepatnya perkembangan
globalisasi kebudayaan, baik di bidang pakaian, bahasa, perilaku, maupun
lainnya.
Globalisasi di bidang kebudayaan ditandai dengan beberapa indikator:
a. Berkembangnya pertukaran kebudayaan internasional;
b.

Penyebaran

prinsip

multikebudayaan

(multiculturalisme),

dan

kemudahan akses suatu individu terhadap kebudayaan lain di luar
kebudayaannya;
c. Berkembangnya turisme dan pariwisata;
d. Semakin banyaknya imigrasi dari suatu negara ke negara lain;
e. Berkembangnya mode yang berskala global, seperti pakaian, flm,
dan lain lain;
f. Bertambahnya event-event berskala global, seperti Piala Dunia FIFA.
g. Persaingan bebas dalam bidang ekonomi; dan
h. Meningkakan interaksi budaya antar negara melalui perkembangan
media massa.
Setidaknya semenjak awal tahun 2003 teknologi dan informasi (IT)
sebagai ikon globalisasi berkembang sangat pesat (tidak ketinggalan) di
Indonesia hingga membuat pemerintah jadi kerepotan dan mengambil
sikap reaktif mengubah kurikulum pendidikan untuk disesuaikan dengan
tuntutan globalisasi.
Secara garis besar globalisasi berimplikasi pada dua hal, yaitu:
a. Implikasi positif; antara lain:
1) Makin mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan dalam
waktu yang singkat;
2) Mudah melakukan komunikasi;
3) Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi);
4) Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran;
13

5) Memacu untuk meningkatkan kualitas diri; dan
6) Mudah memenuhi kebutuhan
b. Implikasi negatif; di antaranya:
1) Munculnya informasi yang tidak/sulit tersaring;
2) Maraknya perilaku konsumtif;
3) Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit;
4) Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk;
5) Mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau
kebudayaan suatu negara;
6) Terbukanya peluang hubungan serba bebas antara lawan jenis;
7) Model pakaian yang tidak mengindahkan batas-batas aurat,
8) Tingkah laku kekerasan, gambar-gambar porno, dan sebagainya
dapat dengan mudah dijumpai,
9) Menurunnya tingkat moralitas pada peserta didik, dan lain-lain.

2.3 Guru dalam Perspektif Globalisasi
Guru di era global adalah guru dengan profesionalitas tinggi
mempunyai tugas yang tidak akan semakin ringan, maka harus berkualitas.
Wardiman Djojonegoro dalam konteks ini pernah menyatakan dalam
makalahnya, 7 bahwa bangsa kita menyiapkan diri untuk memiliki
sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas. Ciri SDM yang berkualitas
tersebut adalah memiliki kemampuan dalam menguasai keahlian dalam
suatu bidang yang berkaitan dengan iptek, mampu bekerja secara
profesional

dengan

orientasi

mutu

dan

keunggulan,

dan

dapat

menghasilkan karya-karya unggul yang mampu bersaing secara global
sebagai hasil dari keahlian dan profesionalitasnya. Sebagai tenaga
pendidikan, guru profesional tidak lepas dari pencitraan yang diberikan dari
orang

lain.

Dalam

kaitan

ini

Dasam

Syamsudin

menggambarkan

tanggapan sikap masyarakat terhadap citra guru ketika menghadapi
masalah terkait dengan guru, melalui catatannya bahwa “Ketidaksukaan
masyarakat pada guru bisa kita saksikan tiap akhir tahun ajaran. Tidak
sedikit orang tua murid yang merasa kecewa pada guru karena anaknya
14

tidak lulus. Mereka menuding guru tidak bisa mengajar dan mendidik. Dari
masyarakat pendidikan sendiri, tidak sedikit siswa yang marah dan kecewa
terhadap guru karena ia tidak berhasil lulus pada test ujian Nasional.
Pemandangan seperti ini, tiap tahun kelulusan sekolah-sekolah selalu kita
saksikan baik secara langsung atau melalui media massa.”
Dalam kehidupan bermasyarakat di era ini guru di satu sisi
diharapkan lebih bermoral dan berakhlak daripada masyarakat umum,
tetapi di sisi lain muncul problem baru sebagai tantangan manakala guru
tidak memiliki kemampuan materi untuk memiliki segala akses dan
jaringan informasi sepeti TV, buku-buku, majalah, koran, dan internet,
karena guru memiliki gaji dan tunjangan yang jauh dari cukup untuk
meningkatkan profesinya sekaligus memperkaya informasi mengenai
perkembangan pengetahuan dan berbagai dinamika kehidupan global,
sehingga sangat sulit dibayangkan guru dapat tampil lebih profesional dan
memiliki tanggung jawab moral profesi sebagai konsekuensi etisnya di era
global ini. Pemerintah pun berupaya mengatasi problem tersebut dalam
rangka meningkatkan profesionalitas guru dengan mengadakan sertifikasi
guru. Perhatian pemerintah tersebut diharapkan dapat memberi solusi
terhadap

persoalan

diimplementasikannya

dunia
dengan

pendidikan
sertifikasai

khsusunya

guru

dan

guru,

meningkatkan

kesejahteraanya. Dengan demikian, kulaitias mutu pendidikan harus
sangat diperhatikan bagi para guru untuk menyelamatkan profesinya,
lebih-lebih di era global seperti sekarang.

2.4 Karakter Guru Menghadapi Arus Globalisasi
Era

global

identik

dengan

pernyataan

Tilaar

(1998)

bahwa

masyarakat millenium ketiga nanti mempunyai karakteristik masyarakat
teknologi, masyarakat terbuka dan masyarakat madani yang secara
keseluruhan akan berpengaruh pada visi, misi dan tujuan pendidikan.
Pertumbuhan teknologi akan mengubah bentuk dan cara hidup manusia
yang sama sekali akan berlainan dengan kehidupan manusia dewasa ini.
Teknologi dapat memajukan kehidupan manusia tetapi juga dia akan
15

mampu menghancurkan kebudayaan manusia itu sendiri. Kemajuan
teknologi pula yang akan membuka dunia sekaan tanpa batas, baik
geografis, sosial maupun budaya. Saling keterpengaruhan antara bangsa
yang satu dengan bangsa yang Iain akan menjadi ciri utama masyarakat
terbuka. Secara optimistik, masyarakat yang terbuka tersebut akan
bermuara pada lahirya masyarakat madani, masyarakat yang berkembang,
baik kemampuan intelektualnya maupun aspek-aspek kehidupan lainnya.
Globalisasi dengan dominasi teknologi dan informasi yang sangat kuat
datang bagaikan gelombang yang akan menerjang “benda-benda” di
depannya tanpa kompromi. Arus globalisasi siap mendobrak semua aspek
kehidupan termasuk pendidikan. Dengan dalih globalisasi orangtua dan
peserta didik menghendaki lembaga pendidikan bertaraf internasional,
peroleh ijazah dan sertifikat yang dapat diakui oleh dunia luar. Walhasil,
globalisasi

menuntut

pendidikan

sanggup

mempersiapkan

diri.

Jika

lembaga pendidikan (sekolah) tidak mampu memenuhi harapan itu, maka
sangat tidak mungkin akan ditinggalkan oleh siswa/masyarakat, dan tidak
ada lagi yang mau belajar di sekolah konvensional.
Jika

lembaga

formal

tidak

bisa

lagi

menjadi

tumpuan

harapan

masyarakat maka beberapa
trend baru akan bermunculan, seperti:
1. Home schooling yang dianggap bisa melayani siswa dan memenuhi
harapan mereka dan orang tua karena tuntutan global
2. Virtual School dan Virtual University
Agar sekolah tetap eksis dan hendak mempertahankan eksistensinya
lembaga pendidikan perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Meningkatkan mutu SDM (terutama Guru) dalam penguasaan bahasa
asing (Bahasa Inggris, dan lainnya)
2. Meningkatkan mutu guru dalam penguasaan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK)
3. Meningkatkan mutu managemen pendidikan
4. Meningkatkan mutu sarana dan prasarana pendidikan
16

5. Melakukan Sertifikasi Internasional untuk guru
Globalisasi akan menjadi tantangan tersendiri bagi para guru,
terlebih yang telah memperoleh legalitas pengakuan akan profesionalitas
keguruannya, yaitu sertifikat guru. Apabila guru tidak siap menghadapinya
maka akan diterjang, dan jika tidak mampu menyesuaikan diri maka akan
menjadi

orang

tidak

berguna

dan

hanya

akan

menjadi

penonton.

Menghadapi tantangan demikian, diperlukan guru yang benar-benar
profesional.

Dalam

konteks

ini

Makagiansar

menawarkan

empat

kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru guna menghadapi era
global, yaitu kemampuan antisipasi (kemampuan mengenali dan mengatasi
masalah); kemampuan mengakomodasi; dan kemampuan melakukan
reorientasi. Kecuali seorang guru harus mempunyai kompetensi generic
(generic competences); keterampilan mengatur diri (managing self skill);
keterampilan

berkomunikasi

(communicating

skills);

kemampuan

mengelola orang dan tugas (ability of managing people and tasks);
kemampuan

mobilisasi

pengembangan

dan

perubahan

(mobilizing

innovation and change). Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta
semangat kompetitif juga merupakan hal penting bagi guru-guru yang
profesional

karena

diharapkan

mereka

dapat

membawa

atau

mengantarkan peserta didiknya mengarungi dunia ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk memasuki era global yang melek ilmu pengetahuan dan
teknolog, dan sangat kompetitif. Penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi

oleh

guru

yang

profesional

bukanlah

pengetahuan

yang

setengah-tengah tetapi merupakan penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang tuntas, karena ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri
berkembang dengan cepat. Guru yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan
yang kuat, tuntas dan setengah-setengah akan tercecer dan tidak mampu
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia akan berada
jauh di belakang, dan akhirnya akan tertinggal dari profesinya. Dalam
upaya meningkatkan kualiatas pengajaran, guru dengan profisionalitasnya
harus bisa mengembangkan tiga intelejensi dasar peserta didik, yaitu,
17

intelektual, emosional, dan moral. Tiga unsur tersebut harus ditanamkan
pada diri peserta didik sekuat-kuatnya agar terpatri di dalam dirinya.
Kecuali itu guru harus memperhatikan dimensi spiritual siswa. Guru yang
bermutu ialah mereka yang dapat membelajarkan siswa secara tuntas,
benar dan berhasil. Untuk itu guru harus menguasai keahliannya, baik
dalam disiplin ilmu pengetahuan maupun metodologi mengajarnya.
Menurut Samani, ada empat prasyarat bagi seorang guru agar
dapat bekerja profesional, yaitu:
1. kemampuan guru mengolah/mensiasati kurikulum,
2. kemampuan guru mengkaitkan materi kurikulum dengan Iingkungan,
3. kemampuan guru memotivasi siswa untuk belajar sendiri, dan
4. kemampuan guru untuk mengintegrasikan berbagai mata pelajaran
menjadi kesatuan konsep yang utuh.
Di era global karakteristik guru harus jelas dan tegas dipertahankan antara
lain adalah:
1. Memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat, tuntas dan tidak
setengah-setengah,
2. Memiliki kepribadian yang prima, dan
3. Memiliki keterampilan untuk membangkitkan minat peserta didik
kepada ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sementara Tilaar (1998) memberikan empat ciri utama agar seorang
guru masuk dalam kategori guru yang profesional, yaitu:
1. Memiliki kepribadian yang matang dan berkembang,
2. Memiliki keterampilan untuk membangkitkan minat peserta didik,
3. Memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat, dan
4. Sikap profesionalnya berkembang secara berkesinambungan.
Uraian singkat di atas mengantarkan penulis pada sebuah harapan
bahwa

dengan

profesionalisme

guru

senantiasa

konsisten

dalam

mengemban tugas professional di era global dan di tengah arus derasnya
gelombang globalisasi ini agar peserta didik dalam mengarungi luatan ilmu
tidak hanya mengetahui ilmu dan pengetahuan dan agama. Kecuali itu,
18

diharapkan agar para peserta didik memiliki keterampilan, keahlian
(lifeskill) khususnya dalam bidang-bidang sains dan teknologi yang menjadi
karakter dan ciri globalisasi yang pada gilirannya menjadikan mereka
memiliki

dasar-dasar

competitive

advantage

dalam

lapangan

kerja,

sebagaimana dituntut di era globalisasi.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Profesi merupakan pekerjaan yang dilandasi oleh pengetahuan atau
pendidikan tertentu, sehingga dikatakan profesi guru adalah keahlian guru
dalam

melaksanakan

tugas-tugas

kependidikan

diperoleh

setelah

menempuh pendidikan keguruan tertentu, dan kemampuan tersebut tidak
dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya yang tidak pernah
mengikuti pendidikan keguruan. Menurut Y. Nasanius, profesi guru yaitu
kemampuan yang tidak dimiliki oleh warga masyarakat pada umumnya
yang tidak pernah mengikuti pendidikan keguruan. Dalam kamus bahasa
Indonesia guru diartikan sebagai “orang yang kerjanya mengajar”. guru
profesional adalah guru yang mampu menerapkan hubungan yang
berbentuk multidimensional. Profesionalisme merupakan kualitas dan
mutu kinerja, serta perilaku yang menunjukkan suatu profesi guru.
Kata "globalisasi" berasal dari kata “global”. Secara harfiah, kata
“global” berarti sedunia tau sejagat, menyeluruh (mujmal), universal. Kata
tersebut selanjutnya menjadi istilah yang merujuk kepada suatu kedaan di
mana suatu negara dengan negara lain sudah menyatu. Secara garis besar
globalisasi berimplikasi pada dua hal, yaitu: a. Implimentasi positif, b.
Implimetasi negatif. Ciri SDM yang berkualitas tersebut adalah memiliki
kemampuan

dalam

menguasai

keahlian

dalam

suatu

bidang

yang

berkaitan dengan iptek, mampu bekerja secara profesional dengan
orientasi mutu dan keunggulan, dan dapat menghasilkan karya-karya
19

unggul yang mampu bersaing secara global sebagai hasil dari keahlian dan
profesionalitasnya. Sebagai tenaga pendidikan, guru profesional tidak lepas
dari pencitraan yang diberikan dari orang lain. Era global identik dengan
pernyataan Tilaar (1998) bahwa masyarakat millenium ketiga nanti
mempunyai karakteristik masyarakat teknologi, masyarakat terbuka dan
masyarakat madani yang secara keseluruhan akan berpengaruh pada visi,
misi dan tujuan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
http://chelsea77.pun.bz/fles/bayu-bahtiar-bambang.pdf

http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=268406&val=7109&title=PROFESSIONALISME%20GURU
%20DAN%20GLOBALISASI
http://download.portalgaruda.org/article.php?
article=268399&val=7109&title=PROFESIONALISME%20GURU%20DALAM
%20PERSPEKTIF%20GLOBAL

http://fle.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BAHASA_ARAB/
195604201983011-SOFYAN_SAURI/makalah2/
makalah_karakter_guru.pdf
http://pps.unnes.ac.id/wp-content/uploads/2012/03/Guru-Profesional.pdf
http://staff.uny.ac.id/sites/default/fles/BAB%20I%20PROFESI.pdf

http://sumut.kemenag.go.id/fle/fle/TULISANPENGAJAR/
plic1379072002.pdf
20

http://sumut.kemenag.go.id/fle/fle/TULISANPENGAJAR/
vode1364669747.pdf
www.uninus.ac.id/data/data_ilmiah/MEMBANGUN%20DAYA%20SAING
%20BANGSA%20MELALUI%20PENDIDIKAN.pdf
http://uns.ac.id/data/sp6.pdf

21

Dokumen yang terkait

Dokumen baru