MAKALAH PENDID IKAN KEWARGANEGARAAN PELAK

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
“PELAKSANAAN DEMOKRASI DI ERA REFORMASI
SAMPAI SEKARANG”

Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan

Disusun Oleh :
Nama

: Nikmatul Hidayah

Nim

: 4411412054

Prodi

: Biologi

Rombel

: 168 (KWN)

MATA KULIAH UMU/MKU
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013

KATA PENGANTAR

Pertama-tama saya mengucapkan puji dan syukur kepada Allah
SWT yang telah rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat
diselesaikan. Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh
pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini dan berbagai
sumber yang telah saya gunakan sebagai data dan fakta pada makalah ini.
Makalah ini memuat tentang “Pelaksanaan Demokrasi di Era
Reformasi Sampai Sekarang” dan sengaja dibuat untuk memenuhi tugas
akhir mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Saya mengakui bahwa
saya adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal.
Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat
sempurna. Begitu pula dengan makalah ini yang telah saya selesaikan.
Tidak semua hal dapat saya analisa dengan sempurna dalam karya tulis ini.
Saya melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan
yang saya miliki. Di mana saya juga memiliki keterbatasan kemampuan.
Semoga makalah ini bermanfaat dan sekaligus dapat menambah
pengetahuan saya.
Terima kasih.
Semarang, 16 Juni 2013

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini, semakin banyak jiwa-jiwa yang tak kenal lagi akan
demokrasi. Demokrasi yang mengandung begitu banyak arti, hanya
digunakan untuk sebuah kebebasan untuk bertindak. Sebaiknya kita
mengambil tolak ukurnya dari pelaksanaan demokrasi di Indonesia sejak
kita merdeka. Indonesia adalah salah satu Negara di dunia yang
menerapkan sistem politik demokrasi. Demokrasi di Indonesia ini,
mempunyai sebuah slogan yang cukup singkat, akan tetapi mempunyai
makna yang cukup dalam. Slogan yang dimaksud adalah dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat. Bercermin dari slogan tersebut, dapatlah kita
ketahui bahwa demokrasi yang diterapkan di Indonesia ini adalah
demokrasi keterwakilan, yang mana salah satu contoh pengejawantahan
daripada demokrasi ini adalah adanya pesta demokrasi, yaitu Pemilihan
Umum (Pemilu). Salah satu pemilu yang krusial atau penting dalam
katatanegaraan Indonesia adalah pemilu untuk memilih wakil rakyat yang
akan duduk dalam parlemen, yang biasa kita kenal dengan sebutan
Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD.
Akan tetapi, dewasa ini tidak sedikit para anggota parlemen yang
“melupakan” rakyatnya ketika mereka telah duduk enak di kursi “empuk”.
Mereka

sibuk

dengan

urusan

pribadi

mereka

masing-masing,

mengutamakan kepentingan golongan, dan berpikir bagaimana caranya
mengembalikan modal mereka ketika kampanye. Fenomena ini sudah
tidak aneh lagi bagi bangsa Indonesia. Para elite politik saat ini, sudah

tidak lagi pada bingkai kesatuan, akan tetapi berada pada bingkai
kekuasaan yang melingkarinya. Seperti misalnya, adanya sengketa hasil
pemilu, black campaign ketika kampanye dan sebagainya, yang penting
bisa mendapatkan kekuasaan. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika pun telah
luntur dalam dirinya.

B. Rumusan Masalah
1.

Apa pengertian demokrasi?

2.

Bagaimana gambaran perkembangan demokrasi di Indonesia?

3.

Bagaimana penerapan demokrasi di Indonesia?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian demokrasi.
2. Untuk mengetahui gambaran perkembangan demokrasi di Indonesia.
3. Untuk mengetahui penerapan demokrasi di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Demokrasi.

Pembahasan tentang demokrasi menghadapkan kita pada suatu
kompleksitas permasalahan yang klasik, fundamental, namun tetap actual.
Dikatakan klasik karena masalah demokrasi sudah menjadi focus perhatian
dalam wacana filsafati semenjak jaman Yunani kuno, dan telah diterapkan
di Polish Athena sebagai Negara kota pada waktu itu. Dikatakan
fundamental karena hakikat demokrasi menyentuh nilai-nilai dasar
kehidupan tentang apa dan bagaimana sistem kehidupan itu akan
dipergunakan di mana manusia sendiri menjadi subyek dan sekaligus
dijadikan obyeknya. Dikatakan actual karena dewasa ini demokrasi
menjadi dambaan setiap bangsa dan Negara untuk dapat menerapkannya,
termasuk bangsa Indonesia dalam era reformasi ini.
Istilah demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “demos”
yang berarti rakyat dan “kratos” berarti pemerintahan. Jadi demokrasi
berarti pemerintahan rakyat, atau suatu pemerintahan di mana rakyat
memegang kedaulatan yang tertinggi atau rakyat diikutsertakan dalam
pemerintahan Negara. Adalah Abraham Lincoln yang menyatakan bahwa
demokrasi adalah pemerintah “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”.
Literatur ilmu politik pada umumnya memberikan konsep dasar
tentang demokrasi.

Apapun label

atau predikat

yang diberikan

terhadapnya, konsep demokrasi merujuk pada pemerintahan oleh rakyat.
Implementasi konsep demokrasi pada tingkat nasional di dalam Negara
kebangsaan yang berskala besar adalah bahwa tindakan-tindakan

pemerintah itu pada umumnya tidak dilakukan secara langsung oleh warga
Negara melainkan melalui wakil-wakil rakyat yang dipilih berdasarkan
prinsip kebebasan dan persamaan.
Dilihat dari segi fungsional, demokrasi dapat dibedakan dalam
dua kategori, yaitu demokrasi langsung dan demokrasi perwakilan. Di
dalam demokrasi langsung semua warga masyarakat secara langsung ikut
dalam pengambilan dan pemutusan setiap peraturan yang akan
diberlakukan dalam masyarakat itu.
Ada 5 indikator suatu Negara benar- benar demokrasi :
1). Akuntabilitas. Dalam demokrasi, setiap pemegang jabatan yang dipilih
oleh rakyat harus dapat mempertanggungjawabkan kebijaksanaan yang
hendak dan telah ditempuhnya, ucapanya dan yang tidak kalah
pentingnya adalah perilaku dalam kehidupan yang pernah, sedang
bahkan akan dijalaninya.
2). Rotasi kakeuasaan. Dalam demokrasi peluang akan terjadinya rotasi
kekuasaan harus ada, dan dan dilakukan secara teratur dan damai. Jadi
tidak hanya satu orang yang selalu memegang jabatan, sementara
peluang orang lain tertutup sama sekali.
3). Rekruitmen politik yang terbuka. Untuk memungkinkan terjadinya
rotasi kekuasaan, diperlukan suatu sistem rekruitmen politik yang
terbuka. Artinya, setiap orang yang memenuhi syarat untuk mengisi
suatu jabatan politik yang dipilih oleh rakyat mempunyai peluang yang
sama dalam melakukan kompetisi untuk mengisi jabatan tersebut.
4). Pemilihan umum. Dalam suatu Negara demokrasi, pemilu dilakukan
secara teratur. Setiap warga Negara yang sudah dewasa mempunyai hak
untuk memilih dan dipilih serta bebas menggunakan haknya tersebut
sesuai dengan kehendak nuraninya.

5). Menikmati hak-hak dasar. Dalam suatu Negara yang demokratis, setiap
warga Negara dapat menikmati hak-hak dasar mereka secara bebas,
termasuk di dalamnya adalah hak untuk menikmati pers bebas.
Di samping 5 (lima) indicator sebagaimana pendapat di atas, perlu juga
diperhatikan masalah penegakan supremasi hukum. Untuk mewujudkan
masyarakat yang demokratis hukum perlu ditegakkan dengan baik.
Dengan penegakan supremasi hukum, baik warga masyarakat maupun
penyelenggara Negara tidak ada yang dapat berbuat seenaknya sendiri
dan melanggar atau merugikan hak seseorang atau sekelompok orang
lain.
B. Gambaran Perkembangan Demokrasi di Indonesia.
Dalam era Orde Lama, pelaksanaan demokrasi di Indonesia
terbagi atas tiga periode, yaitu periode 1945-1949 (demokrasi dalam
pemerintahan
(Demokrasi

masa revulusi kemerdekaan),
Parlementer),

dan

periode

periode 1950-1959

1959-1965

(Demokrasi

Terpimpin).

1. Demokrasi dalam Pemerintahan Masa Revolusi Kemerdekaan
(periode 1945-1949).

Periode pertama pemerintahan negara Indonesia adalah periode
kemerdekaan.

Para

penyelenggara

negara

pada

awal

periode

kemerdekaan mempunyai komitmen yang sangat besar dalam
mewujudkan demokrasi politik di Indonesia.
Pertama, polittical franchise yang menyeluruh. Para pembentuk
nefara, sudah sejak semula, mempunyai komitmen yang sangat besar
terhadap demokrasi.

Kedua, Presiden yang secara konstitusional memiliki peluang
untuk menjadi seorang diktator, dibatasi kekuasaannya ketika Komite
Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dibentuk untuk menggantikan
parlemen.
Ketiga, dengan maklumat wakil presiden, dimungkinkan
terbentuknya sejumlah partai politik, yang kemudian menjadi peletak
dasar bagi sistem kepartaian di Indonesia untuk masa-masa
selanjutnya dalam sejarah kehidupan politik di tanah air.

2. Demokrasi Parlementer (Periode 1950-1959)

Periode kedua pemerintahan negara Indonesia adalah tahun
1950 sampai dengan 1959, dengan menggunakan Undang-Undang
Dasar Sementara (UUDS), sebagai landasarn konstitusionalnya.
Masa demokrasi parlementer merupakan masa kejayaan
demokrasi di Indonesia, karena hampir semua elemen demokrasi
dapat ditemukan perwujudannya dalam kehidupan politik di
Indonesia.
a.

Kekuasaan legislatif dijalankan oleh DPR, partai politik yang
menuasai suara mayoritas di DPR membentuk kabinet.

b.

Kekuasaan eksekutif dijalankan oleh kabinet/Dewan menteri
dibawah pimpinan Perdana menteri dan bertanggung jawab pada
parlemen.

c.

Presiden hanya sebagai kepala negara, kepala pemerintahan
dipegang Perdana Menteri.

d.

Kekuasaan yudikatif dijalankan oleh badan pengadilan yang
bebas.

e.

Jika DPR atau parlemen menilai kinerja menteri kurang bauik
maka parlemen mengajukan mosi tak percaya, maka menteri
harus meletakkan jabatannya.

f.

Jika kabinet bubar maka presiden menunjuk formatur kabinet
untuk menyususn kabinet baru.

g.

Jika DPR atau parlemen mengajukan mosi tak percaya pada
kabinet yang baru, maka DPR atau parlemen dibubarkan dan
diadakan pemilihan umum.

Hal-hal negatif yang terjadi selama berlakunya sistem parlementer
:

a.

Usia atau masa kerja kabinet rata-rata pendek, selama kurun
waktu 1950 -1959 telah terjadi tujuh kali pergantian kabinet.

b.

Ketidak serasian hubungan antara dalam tubuh angkatan
bersenjata.

Sebagian condong ke kabinet Wilopo sebagian

condong ke Presiden Soekarno.
c.

Perdebatan terbuka antara Soekarno dengan tokh Masyumi yaitu
Isa Anshary tentang penggantian dasar negara yang lebih Islami
apakah akan merugikan umat agama lain atau tidak.

d.

Masa

kampanye

jadi

panjang

(1953-1955),

sehingga

meningkatnya ketegangan di masyarakat.
e.

Kebijakan beberapa perdana menteri cenderung menguntungkan
partainya.

f.

Pemerintah pusat mendapat tantangan dari daerah seperti
pemberontakan Permesta dan PRRI.

Hal-hal positif yang terjadi dimasa demokrasi parlementer :
a.

Badan peradilan menikmati kebebasannya dalam menjalankan
fungsinya.

b.

Pers bebas dan banyak kritik di surat kabar.

c.

Jumlah sekolah bertambah

b.

Kabinat dan ABRI berhasil mengatasi pemberntakan RMS,
DI/TII

c.

Sedikit ketegangan diantara umat beragama.

d.

Minoritas Tionghoa mendapat perlindungan dari pemerintah.

e.

Nama

baik

indonesia

di

Internasional

dan

berhasil

melaksanakan Konferensi Asia Afrika di Bandung April 1955.
3.

Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

Sejak berakhirnya pemilihan umum 1955, Presiden Soekarno
sudah menunjukkan gejala ketidaksenangannya kepada partai-partai
politik. Hal itu terjadi karena partai politik sangat berorientasi pada
kepentingan ideologinya sendiri dan kurang memerhatikan kepentingan
politik nasional secara menyeluruh. Pada suatu kesempatan di Istana
Merdeka, beliau melontarkan keinginannya untuk membubarkan saja
partai-partai politik. Selain itu, Soekarno juga melontarkan gagasan,
bahwa demokrasi parlementer tidak sesuai dengan kepribadian bangsa
Indoensia yang dijiwai oleh semangat gotong royong dan kekeluargaan.

Mulai dijalankan sejak dekrit presiden 5 Juli 1959, dengan
mamakai UUD 1945 oleh sebab itu demokrasi ini didasarkan atas
Pancasila dan UUD 1945. Pada waktu itu sesuai dengan UUD 1945
maka

bentuk

negara

adalah

Kesatuan,pemerintahannya

adalah

Republik, sistem pemerintahannya adalah Demokrasi. Dalam UUD
1945 indonesia juga adalah negara hukum.

MPR harus berfungsi sebagai lembaga tertinggi negara yang
memilih dan mengangkat presiden, oleh karena itu presiden wajib
tunduk dan bertanggung jawab kepada MPR. Presiden bersama DPR
membuat UU. Presiden dibantu para menteri dalam menjalankan
kekuasaan Eksekutif dan Kekuasaan Yudikatif dijalankan oleh
Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya secara independen
bebas dari pengaruh lembaga lainnya.
Namun kenyataannya, banyak sekali terjadi penyimpangan
dalam pelaksanaan demokrasi ini. Penyimpangan itu antara lain:
a.

Pelanggaran prinsip kebebasan kekuasaan kehakiman : dimana
UU No. 19 tahun 1964 menyatakan demi kepentingan revolusi,
Presiden berhak mencampuri proses peradilan. Dan hal ini
bertentangan dengan ketentuan UUD 1945. Sehingga peradilan
sering dijadikan untuk menghukum lawan politik dari pemerintah.

b.

Pengekangan hak di bidang politik yaitu berserikat, berkumpul,
dan mengeluarkan pendapat, yaitu ulasan surat kabar dibatasi atau
tidak boleh menentang kebijakan pemerintah.

c.

Pelampauan batas wewenang presiden. Banyak hal yang
seharusnya diatur dalam UU namun hanya ditetapkan lewat
Penetapan Presiden.

d.

Pembentukan lembaga negara Ekstrakonstitusional ( diluar UUD
1945) seperti pembentukan Front Nasional yang dimamfaatkan
oleh partai komunis sebagai ajang mempersiapkan pembentukan
negara komunis indonesia.

e.

Pengutamaan fungsiPresiden, seperti :

1)

Pimpinan MPR, DPR dan lembaga lainnya di setarakan dengan
menteri dan berada di bawah Presiden.

2)

Pembubaran DPR tahun 1960 oleh presiden setelah menolak
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang
diusulkan pemerintah. Padahal dalam UUD 45 menyatakan

Presiden tidak dapat membubarkan DR, bila DPR tidak
menyetujui angaran yang diajukan pemerintah maka pemerintah
menggunakan anggaran tahun lalu.
3)

Demokrasi tidak dipimpin hikmat kebijaksanaan, tetapi
dipimpin oleh presiden selaku panglima tertinggi ABRI.

Keberhasilan yang capai di masa Demokrasi terpimpin;
a.

Berhasil

menumpas

pemberontakan

DI/TII

yang

telah

berlangsung 14 tahun.
b.

Berhasil menyatukan Irian Barat kepangkuan Indonesia dari
phak Belanda.

c.

Demokrasi Pancasila di Masa Orde Baru 11 Maret 1966 - 21
Mei 1998

4.

Bagaimana Demokrasi pada Era Orde Baru (Periode 1966-1998)?

Dalam era Orde Baru, demokrasi yang berlaku di negara
Indonesia adalah demokrasi Pancasila dimulai ketika rezim Soekarno
berakhir. Demokrasi Pancasila adalah paham demokrasi yang bersumber
pada kepribadian dan falsafah serta budaya hidup bangsa Indonesia. Dalam
demokrasi pancasila, kedaulatan yang dimaksud adalah kedaulatan yang
berdasarkan musyawarah yang meliputi bidang politik, ekonomi, sosial
budaya, dan hankam yang berkedaulatan Yang Maha Esa menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradap sertapersatuan dan kesatuan bangsa.
Demokrasi Pancasila berdasarkan paham kekeluargaan dan gotong royong,
yang ditujukan bagi kesejahteraan rakyat seperti tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945. hal ini bisa terjadi apabila Pancasila benar-benar
dilaksanakan secara tanggung jawab.

Adapun

kehidupan

penyimpangan-penyimpangan

politik
dari

di

masa

cita-cita

orde

Pancasila

baru

terjadi

dan

UUD

1945,antara lain :
1.

Pemusatan kekuasaan di tangan presiden, secara formal kekuasaan
negara dibagi ke beberapa lembaga negara seperti MPR, DPR, MA,
dll), taoi dalam praktiknya presiden dapayt mengendalikan lembaga
tersebut. Anggota MPR yang diangkat dari ABRI adalah dibawah
presiden sebab presiden sebagai panglima tertinggi ABRI. Anggota
MPR dari Utusan daerah dapat dikendalikan oleh presiden karena
dipilih oleh DPRD Tk. I yang merupakan bagian dari pemerintah
daerah sebagai bawahan presiden.

2. Pembatasan hak-hak politik rakyat, Sejak tahun 1973 jumlah parpol di
indonesia hanya 3 (PPP, Golkar, PDI), pers bebas tetapi pemerintah
dapat

membreidel

penerbitan

Pers

(Tempo,

Editor,

Sinar

Harapan,dll). Ada perlakuan diskriminatif terhadap anak keturunan
PKI. Pengkritik pemerintah dikucilkan secara politik. Pegawai negeri
dan ABRI harus menmdukung Golkar (partai penguasa).
3. Pemilu yang tidak demokratis, aparat borokrasi dan militer melakukan
cara-cara untuk memenangkan Golkar. Hak parpol dan rakyat pemilih
dimanipulasi untuk kemenangan Golkar.
4.

Pembentukan lembaga ektrakonstitusional, untukmelanggengkan
kekuasaannya pemerintah membentuk KOPKAMTIB (Komando
Pengendalian Keamanan dan Ketertiban), utnuk mengamankan pihakpinak yang pootensial nejadi oposisi pebnguasa.

5.

Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), Akibat penggunaan
kekuasaan yang terpusat dan tak terkontrol, maka KKN meraja lela,
rakyat sengsara, menjerumuskan rakyat kepada krisis multidimensi
berkepanjangan.krisis moral, kepercayaan. Dimasa orde baru ada
upaya penanaman nilai Pancasila kepada seluruh rakyat dengan cara
indoktrinisasi P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalasn Pancasila).

5. Bagaimana Demokrasi pada Masa Reformasi (Periode 1999sekarang)?
Masa reformasi membawa angin segar bagi kehidupan
demokrasi di Indonesia. Dalam kurun waktu 32 tahun di bawah rezim
Orde Baru, kehidupan politik terbelenggu oleh ketentuan yang ada dalam
lima paket undang-undang politik.
Mundurnya Soeharto yang digantikan BJ. Habibi yang
memerintah sekitar 18 bulan. Pemuilu yang tertib dan bersih berhasil
dilaksanakan tanggal 7 Juni 1999 diikuti 48 partai politik dan Gus Dur
terpilih sebagai presiden dan dicopot tahun 2001 dari presiden dan
digantikan oleh Megawati. Kemudian dilakukan pemilihan secara
langsung oleh rakyat untuk memilih presiden dan wakilnya, pada tahun
2004 dan terpilihlah presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai
presiden dan wakilnya Jusuf Kalla. Setelah satu periode akhirnya Susilo
Bambang Yudhoyono terpilih lagi bersama Budiyono melalui pemilihan
langsung.
C. Penerapan Demokrasi di Indonesia.

Reformasi merupakan suatu perubahan yang bertujuan untuk
memperbaiki kerusakan-kerusakan yang diwariskan oleh Orde Baru atau
merombak segala tatanan politi, ekonomi, social dan budaya yang berbau
Orde baru. Atau membangun kembali, menyusun kembali.
Dalam rangka menanggapi tuntutan reformasi dari masyarakat
dan agar dapat mewijudkan tujuan dari reformasi tersebut maka
B.J.Habibie mengeluarkan beberapa kebijakan, antaranya:
1.

kebijakan dalam bidang politik

Reformasi dalam bidang politik berhasil mengganti lima paket
undang-undang masa orde baru dengan tiga undang-undang politik yang
lebih demokratis. Berikut ini tiga undang-undang tersebut.


UU No. 2 Tahun 1999 tentang partai politik



UU No. 3 Tahin 1999 tentang pemilihan umum



UU No. 4 Tahun 1999 tentang susunan dan kedudukan DPR/MPR

2.

Kebijakan Dalam Bidang Ekonomi
Untuk memperbaiki prekonomian yang terpuruk, terutama

dalam sektor perbankan, pemerintah membentuk Badan Penyehatan
Perbankan Nasional ( BPPN ). Selanjutnya pemerintah mengeluarkan UU
No 5 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.
3.

Kebebasan Dalam Menyampaikan Pendapat dan Pers
Kebebasan menyampaikan pendapat dalam masyarakat mulai

terangkat kembali. Hal ini terlihat dari mumculnya partai-partai politik dari
berbagaia golongan dan ideology. Masyarakat dapat menyampaikan kritik
secara terbuka kepada pemerintah. Di samping kebebasan dalam
menyampaikan pendapat, kebebasan juga diberikan kepada Pers.
Reformasi

dalam

Pers

dilakukan

dengan cara

menyederhanakan

permohonan Surat Ijin Usaha Penerbitan ( SIUP ).
4.

Pelaksanaan Pemilu
Pada masa pemerintahan B.J. Habibie berhasil diselenggarakan

pemilu multipartai yang damai dan pemilihan presiden yang demokratis.
Pemilu tersebut diikuti oleh 48 partai politik. Dalam pemerintahan B. J.
Habibie juga berhasil menyelesaikan masalah Timor Timur . B.J.Habibie
mengambil kebijakan untuk melakukan jajak pendapat di Timor Timur.
Referendum tersebut dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 1999 dibawah

pengawasan UNAMET. Hasil jajak pendapat tersebut menunjukan bahwa
mayoritas rakyat Timor Timur lepas dari Indonesia. Sejak saat itu Timor
Timur lepas dari Indonesia. Pada tanggal 20 Mei 2002 Timor Timur
mendapat kemerdekaan penuh dengan nama Republik Demokratik Timor
Leste.
Selain dengan adanya kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan
oleh B.J. Habibie, perubahan juga dilakukan dengan penyempurnaan
pelaksanaan dan perbaikan peraturan-peraturan yan tidakk demokratis,
dengan meningkatkan peran lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara
dengan menegaskan fungsi, wewenang dan tanggung jawab yang mengacu
kepada prinsip pemisahan kekuasaan dn tata hubungan yang jelas antara
lembaga Eksekutuf, Legislatif dan Yudikatif.
Masa reformasi berusaha membangun kembali kehidupan yang demokratis
antara lain :
1.

Keluarnya ketetapan MPR RI No X / MPR/1998 Tentang PokokPokok Reformasi.

2.

Ketetapan No VII/MPR/ 1998 tentang pencabutan Tap MPR tentang
referendum

3.

Tap MPR RI No XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara
yang bebas dari KKN.

4.

Tap MPR RI No XIII/MPR/1998 tentang pembatasan masa jabatan
presiden dan wakil presiden RI.

5.
2.2

Amandemen UUD 1945 sudah sampai Amandemen I,II,III,IV.
Sistematika Pelaksanaan UU 1945 pada Masa Orde Reformasi
Pada masa orde Reformasi demokrasi yang dikembangkan pada

dasarnya adalah demokrasi dengan berdasarkan kepada Pancasila dan
UUD 1945. Pelaksanaan demokrasi Pancasila pada masa Orde Reformasi
dilandasi semangat Reformasi, dimana paham demokrasi berdasar atas

kerkyatan

yang

dipimpin

oleh

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan/perwakilan, dilaksanakan dengan rahmat Tuhan Yang
Maha Esa serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang adil dan
beradab, selalu memelihara persatuan Indonesia dan untuk mewujudkan
suatu keadilan sosila bagi seluruh rakyat Indonesia. Pelaksanaan demokasi
Pancasila pada masa Reformasi telah banya member ruang gerak kepada
parpol dan komponen bangsa lainnya termasuk lembaga permusyawaratan
rakyat dan perwakilan rakyat mengawasi dan mengontrol pemerintah
secara kritis sehingga dua kepala negara tidak dapat melaksanakan
tugasnya sampai akhir masa jabatannya selama 5 tahun karena dianggap
menyimpang dari garis Reformasi.
Ciri-ciri umum demokrasi Pancasila Pada Masa Orde Reformasi:
1.

Mengutamakan musyawarah mufakat

2.

Mengutamakan kepentingan masyarakat , bangsa dan negara

3.

Tidak memaksakan kehendak pada orang lain

4.

Selalu diliputi oleh semangat kekeluargaan

5.

Adanya rasa tanggung jawab dalam melaksanakan keputusan hasil
musyawarah

6.

Dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati yang luhur

7.

Keputusan dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Than
Yang Maha Esa, berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan

8.

Penegakan kedaulatan rakyar dengan memperdayakan pengawasan
sebagai lembaga negara, lembaga politik dan lembaga swadaya
masyarakat

9.

Pembagian secara tegas wewenang kekuasaan lembaga Legislatif,
Eksekutif dan Yudikatif.

10. Penghormatan kepada beragam asas, cirri, aspirasi dan program parpol
yang memiliki partai
11. Adanya

kebebasan

mendirikan

pelaksanaan hak asasi manusia

partai

sebagai

aplikasi

dari

Setelah diadakannya amandemen, UUD 1945 mengalami
perubahan. Hasil perubahan terhadap UUD 1945 setelah di
amandemen :
 Pembukaan
 Pasal-pasal: 21 bab, 73 pasal, 170 ayat, 3 pasal peraturan peralihan
dan 2 pasal aturan tambahan.
2.3

Sistem Pemerintahan pada Masa Orde Reformasi
Sistem pemerintahan masa orde reformasi dapat dilihat dari

aktivitas kenegaraan sebagai berikut:
1.

Kebijakan pemerintah yang memberi ruang gerak yang lebih luas
terhadap hak-hak untuk mengeluarkan pendapat dan pikiran baik lisan
atau tulisan sesuai pasal 28 UUd 1945 dapat terwujud dengan
dikeluarkannya UU No 2 / 1999 tentang partai politik yang
memungkinkan multi partai

2.

Upaya untuk mewujudkan pemerintahan yang bersuh dan berwibawa
serta bertanggung jawab dibuktikan dengan dikeluarkan ketetapan
MPR No IX / MPR / 1998 yang ditindak lanjuti dengan UU no
30/2002 tentang KOMISI pemberantasan tindak pidana korupsi.

3.

Lembaga MPR sudah berani mengambil langkah-langkah politis
melaui siding tahunan dengan menuntuk adanya laporan pertanggung
jawaban tugas lembaga negara , UUD 1945 di amandemen, pimpinan
MPR dan DPR dipisahkan jabatannya, berani memecat presiden
dalam sidang istimewanya.

4.

Dengan Amandemen UUD 1945 masa jabatan presiden paling banyak
dua kali masa jabatan, presiden dan wakil presiden dipilih langsung
oleh rakyat mulai dari pemilu 2000 dan yang terpilih sebagai presiden
dan wakil presiden pertama pilihan langsung rakyat adalah Soesilo
Bambang Yodoyono dan Yoesuf Kala, MPR tidak lagi lembaga

tertinggi negara melainkan lembaga negara yang kedudukannya sama
dengan presiden , MA , BPK, kedaulatan rakyat tidak lagi ditangan
MPR melainkan menurut UUD.
Di dalam amandemen UUD 1945 ada penegasan tentang sisten
pemerintahan presidensial tetap dipertahankan dan bahkan diperkuat.
Dengan mekanisme pemilihan presiden dan wakil presiden secara
langsung.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dengan melihat hal tersebut diatas maka kesimpulan daripada
pelaksanaan demokrasi di Indonesia belum mencapai titik yang pasti dan
masih belajar untuk memulai demokrasi pancasila yang sudah dilakukan
selama 40 tahun sampai sekarang masih belum bisa dilaksanakan secara
baik dan benar.
Keberhasilan dalam pelaksaan demokrasi pada masa reformasi, yaitu:
Salah satu hasil reformasi yang telah dicapai adalah bangsa
Indonesia mampu mengadakan pemilihan umum secara langsung sehingga
anggota-anggota MPR, DPR, DPD, serta DPRD yang terpilih sesuai
dengan aspirasi rakyat.
Di Negara Indonesia, setelah bergulir reformasi terdapat
banyak partai poltik. Hal ini menunjukkan terpenuhinya syarat untuk
terwujudnya suatu demokrasi seperti halnya Negara-negara yang
menganut paham demokrasi.
Adapun ketidakberhasilan pelaksanaan demokrasi pada masa
reformasi , yaitu:
Kesadaran hukum di dalam masyarakat terhadap pancasila,
UUD 1945 dan perundang-undangan lainnya masih belum merata dan
menyeluruh, sehingga masih terdapat penyalahgunaan wewenang ataupun
main hakim sendiri
Masih rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat dan tingkat
pertumbuhan ekonomi di Indonesia

Dimasyarakat Indonesia masih sering terjadi gejolak-gejolak
yang bernuansa SARA (Suku, Agama, Ras dan Aliran Kepercayaan) yang
dapat menimbulkan keresahan-keresahan sosial yang dapat mengakibatkan
ketegangan-ketegangan politik
Tingkat pendidikan masyarakat Indonesia yang sebagian
besar masih rendah
B. Saran
Demokrasi pancasila di era reformasi Indonesia harus lebih di
pehami karna agar semua masyarakat Indonesia bisa membedakan antara
demokrasi pancasila di Indonesia dengan Negara lain.
Diharapkan

kita

sebagai

generasi

bangsa

agar

tetap

menjunjung tinggi nilai-nilai pancasila dan merealisasikannya dalam
kehidupan

sehari-hari.

Menghargai

pendapat

orang

lain

serta

menyelesaikan masalah secara musyawarah mufakat tanpa adanya
kekerasan sehimgga negara kita tetap damai dan tenteram.

DAFTAR PUSTAKA

http://elsa1307.blogspot.com/2012/03/perkembangan-demokrasi-diindonesia.html.
Sunarto.

2012.

Pendidikan

Kewarganegaraan

di

perguruan

tinggi.Semarang:Universitas Negeri Semarang.
A.T.Soegito.2012.Pendidikan
semarang.

Pancasila.Semarang:Universitas

negeri

Dokumen yang terkait

Dokumen baru