69 PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR TEMATIK MELALUI MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION SISWA KELAS 4 SD Hendrik Wijaya

PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR TEMATIK MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION SISWA KELAS 4 SD
Hendrik Wijaya1), Naniek Sulistya Wardani2) Tego Prasetyo3)

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar – FKIP Universitas Kristen Satya Wacana
Email:
1)
hendrikwijaya098@gmail.com
2)
wardani.naniek@gmail.com
3)
tego.prasetyo@yahoo.com

Abstract. The purpose of this study was to find out whether an increase in thematic learning motivation could
be pursued through the group investigation learning model of grade 4 students of SDN Gendongan 01 Salatiga
semester 2 of the academic year 2017/2018. This research is a classroom action research using a spiral model
from Kemmis and Taggart. The research procedure uses at least 2 cycles, each cycle consists of three stages,
namely (1) planning, (2) action and observation, (3) reflection. The study was carried out in grade 4 SDN
Gendongan 01 Salatiga with the subject of the study were 37 students. Data collection techniques used
observation. Data analysis techniques used are percentage techniques. The results showed that there was an
increase in thematic learning motivation pursued through the Group Investigation learning model. an increase in

learning motivation shown by 54.1% of all students achieving learning motivation was highly motivated in
cycle 1 and increased to 86.5% of all students in cycle 2. Motivation to learn in thematic learning included
aspects of visual activities listening to fiction through videos, activities writing research reports (identifying 5
characters in fiction), oral activities conveying research results orally, and emotional activities by responding to
the submission of the results of other groups' research calmly. The steps of the GI learning model are 1) forming
a group of 6 people, 2) choosing the subtheme, 3) investigating, 4) analyzing the data, 5) making the research
report, 6) presenting the results of the study, and 7) evaluating the results of the study classically. Based on the
results of classroom action research (CAR) in grade 4 SD 1) teachers should use innovative learning such as
Group Investigation to improve student learning motivation. 2) Group Investigation learning can be used as an
alternative to learning innovation in class as learning motivation. 3) teachers should apply Group Investigation
learning because it is a new model in grade 4 elementary school.
Abtsrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah peningkatan motivasi belajar tematik dapat
diupayakan melalui model pembelajaran group investigation siswa kelas 4 SDN Gendongan 01 Salatiga
semester 2 tahun pelajaran 2017/2018. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas menggunakan model
spiral dari Kemmis dan Taggart. Prosedur penelitian minimal menggunakan 2 siklus, masing-masing siklus
terdiri dari 3 tahap yaitu (1) perencanaan, (2) tindakan dan pengamatan, (3) refleksi. Penelitian dilaksanakan di
kelas 4 SDN Gendongan 01 Salatiga dengan subjek penelitian adalah siswa sebanyak 37. Teknik pengumpulan
data menggunakan observasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik persentase. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat peningkatan motivasi belajar tematik yang diupayakan melalui model
pembelajaran Group Investigation. peningkatan motivasi belajar ditunjukkan oleh 54,1% dari seluruh siswa

mencapai motivasi belajar sangat termotivasi di siklus 1 dan meningkat menjadi 86,5% dari seluruh siswa di
siklus 2. Motivasi belajar dalam pembelajaran tematik meliputi aspek kegiatan visual menyimak cerita fiksi
melalui video, kegiatan menulis laporan hasil penelitian (mengidentifikasi 5 tokoh dalam cerita fiksi), kegiatan
lisan menyampaikan hasil penelitian secara lisan, dan kegiatan emosional dengan menanggapi penyampaian
hasil penelitian kelompok lain dengan tenang. Langkah-langkah model pembelajaran GI adalah 1) membentuk
kelompok 6 orang, 2) memilih subtema, 3) melakukan investigasi, 4)menganalisa data, 5)membuat laporan hasil
penelitian, 6) mempresentasikan hasil penelitian, dan 7) mengevaluasi hasil penelitian secara klasikal.
Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) dikelas 4 SD 1) hendaknya guru menggunakan pembelajaran
inovatif seperti Group Investigation untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. 2) pembelajaran Group
Investigation dapat dijadikan alternatif untuk melakukan pembelajaran inovasi di kelas sebagai motivasi belajar.
3) hendaknya guru penerapan pembelajaran Group Investigation karena merupakan model yang baru di kelas 4
SD.
Kata Kunci : Motivasi belajar tematik, Model pembelajaran Group Investigation, Pembelajaran Tematik.

prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai
dengan
bakat,
minat,
dan

perkembangan fisik serta psikologis siswa.
Untuk itu setiap satuan pendidikan
melakukan perencanaan pembelajaran,

Proses pembelajaran pada satuan
pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi
69

'LGDNWLND'ZLMD,QGULD9ROXPH1RPRU hlm. 69 - 84
di depan kelas, Ada siswa yang bermain
sendiri dan ada juga siswa yang melamun
sehingga tidak memperhatikan pelajaran.
Kegiatan pembelajaran konvensional dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa.
Motivasi yang kuat bagi siswa diperlukan
untuk mengikuti pembelajaran. Dalam proses
belajar, motivasi seseorang tercermin melalui
ketekunan yang tidak mudah patah untuk
mencapai sukses, meskipun dihadang banyak

kesulitan. Motivasi juga ditunjukkan melalui
intensitas unjuk kerja dalam melakukan
suatu tugas. McClelland (Sutikno, 2007 :23)
“menunjukkan bahwa motivasi berprestasi
(achievement motivation) mempunyai kontribusi sampai 64 persen terhadap motivasi
belajar.”
Tujuan pembelajaran dan motivasi
peserta didik dapat dicapai melalui model
pembelajaran tipe Group Investigation.
Slavin (2005: 4) Group Investigation adalah
pembelajaran yang dimana siswa bebas
membentuk kelompok sesuai dengan subtopik materi yang diinginkan, setelah itu
membuat laporan hasil penelitian, dan selanjutnya mempresentasikan laporan dan saling
bertukar informasi.
Model pembelajaran Group Investigation
dapat memotivasi siswa untuk melakukan
kegiatan-kegiatan pembelajaran tematik yang
ada sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran Group Investigation. Karena pada
model pembelajaran kooperatif group investigation siswa dituntut memilih topik pembelajaran yang siswa suka dan melakukan
penelitian secara berkelompok yang nantinya

akan dipresentasikan oleh siswa nya sendiri.
Penelitian yang dilakukan Ika Ovita
(2013) menyimpulkan bahwa Group Investigation mampu meningkatkan keaktifan dan
hasil belajar matematika pada siswa kelas 5
SD Negeri Jebeng Plampitan Kecamatan
Sukoharjo Kabupaten Wonosobo semester 2
tahun pelajaran 2012/2013. penelitian yang
dilakukan Rutinah (2013) menyimpulkan
bahwa penggunaan metode Group Investigation dapat meningkatkan motivasi siswa
pada mata pelajaran IPA kelas 5 SD Negeri 2
Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Semester
II tahun pelajaran 2012/2013. Penelitian
yang sama juga dilakukan oleh Sutanto

pelaksanaan proses pem-belajaran serta
penilaian proses pembelajaran untuk
meningkatkan efisiensi dan efektivitas
ketercapaian kompetensi lulusan. Proses
pembelajaran diselenggarakan secara interaktif antara siswa dan guru. Dalam interaktif
terjadi komunikasi secara lisan.

Pendidikan di Indonesia mulai menerapkan kurikulum 2013. Kurikulum 2013 di
rancang agar dapat menjawab kebutuhan
zaman sekarang ini. Kurikulum 2013 dikembangkan dalam bentuk kompetensi inti
dan kompetensi dasar. Kompetensi inti terdiri dari empat dimensi yang terkait sau sama
lain. Keempat dimensi tersebut adalah: sikap
spiritual (KI 1), sikap sosial (KI 2), pengetahuan (KI 3), dan keterampilan (KI 4).
Pengembangan kompetensi dasar untuk KI 1
dan KI 2 hanya terdapat pada mata pelajaran
pendidikan agama dan budi pekerti serta
PPKn.
Penerapan kurikulum 2013 pada proses
pembelajaran di sekolah dasar menggunakan
pendekatan tematik integratif. Salah satu
pendukung proses pembelajaran adalah buku
tematik terpadu yang diterbitkan oleh
pemerintah. Mata pelajaran yang dapat dipadukan adalah PPKn, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Seni budaya
dan prakarya (SBdP),dan pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan (PJOK). Pada
perkembangannya, untuk kelas tinggi (IV, V,
VI) mata pelajaran matematika dan PJOK dipisahkan dari buku tematik terpadu.

Permasalahan dalam pembelajaran yang
sering terjadi saat ini. Pada pembelajaran
dikelas Salah satunya adalah kurangnya motivasi belajar peserta didik dalam mengikuti
pembelajaran. Peserta didik nampak kurang
tertarik untuk mengikuti pembelajaran Hal
tersebut dilihat dari beberapa siswa yang
terlihat tidak memperhatikan pelajaran ketika
guru memberikan pelajaran. Dalam pengamatan yang dilakukan motivasi belajar siswa nampak masih kurang. Nampak saat kegiatan pembelajaran, siswa kurang aktif dalam mengerjakan tugas dan melaksanakan
perintah yang guru berikan, masih pasif
dalam menyampaikan pendapat, kurang percaya diri dalam mempresentasi hasil diskusi
70

Peningkatan Motivasi Belajar Tematik Melalui Model Pembelajaran Group...
(2012) menyimpulkan bahwa, model pembelajaran Group Investigation dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas 5 SD
Gejayan dibandingkan pembelajaran dengan
model konvensional.
Pembelajaran tematik integratif adalah
salah satu pembelajaran terpadu (integrated
instructions) yang merupakan suatu sistem
pembelajaran yang memungkinkan siswa,

baik secara individual maupun kelompok,
akif menggali dan menemukan konsep serta
prinsip-prinsip keilmuan secara holisik,
bermakna dan autentik. Pembelajaran terpadu berorientasi pada praktik pembelajaran
yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa (Rusman 2012 : 254 ).
Menurut Atan (2009:76-77) dalam
Rumini & Wardani Naniek Sulistya menjelaskan bahwa pembelajaran tematik integratif dapat diimplementasikan melalui: 1)
Integrasi keterampilan di sejumlah mata pelajaran; 2) asimilasi berbagai konten dalam
mata pelajaran; 3) integrasi nilai dalam mata
pelajaran; dan 4) Integrasi pengetahuan dan
praktik. Implementasi pembelajaran tematik
adalah dengan merakit atau menggabungkan
sejumlah konsep beberapa mata pelajaran
yang berbeda dalam suatu tema, sehingga
peserta didik tidak belajar konsep dasar secara parsial.
Dengan
demikian
pembelajarannya
memberikan makna yang utuh kepada peserta didik. Permendikbud No. 22 tahun 2016
tentang standar proses pendidikan dasar dan

menengah menjelaskan bahwa pembelajaran
tematik adalah satu model pembelajaran
tematik terpadu yang menggunakan tema
untuk menghubungkan beberapa mata pelajaran. Untuk memberi dorongan pada setiap
kemampuan peserta didik untuk menghasilkan inovasi baru, baik secara individual
maupun secara berkelompok serta memberi
pengalaman bagi peserta didik Dari beberapa
pendapat diatas maka dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran tematik integratif adalah salah satu pembelajaran yang memadukan mata pelajaran satu di hubungkan ke
beberapa mata pelajaran lainnya, dan
memungkinkan siswa baik secara individual
maupun kelompok secara aktif menggali dan
menemukan prinsip-prinsip keilmuan secara

holistik, bermakna dan autentik, sehingga
perserta didik tidak belajar konsep dasar
secara parsial. Pembelajaran tematik terintegrasi dimulai dengan menentukan tema
kemudian dikembangkan menjadi subtema.
Menurut Hamzah Uno dalam Syarif
(2015:378), motivasi belajar adalah dorongan dan kekuatan dalam diri seseorang untuk

melakukan tujuan tertentu yang ingin
dicapainya. Dengan kata lain motivasi belajar dapat diartikan sebagai suatu dorongan
yang ada pada diri seseorang sehingga seseorang mau melakukan aktivitas atau
kegiatan belajar guna mendapatkan beberapa
keterampilan
dan
pengalaman.Menurut
Retno Palupi, Sri Anitah, Budiyono (2014
:159), motivasi belajar diartikan sebagai
keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa
untuk melakukan serangkaian kegiatan belajar guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tugas guru adalah membangkitkan motivasi anak sehingga ia mau melakukan
serangkaian kegiatan belajar. Motivasi siswa
dapat timbul dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) dan dapat timbul dari luar
diri siswa (motivasi ekstrinsik). Hal serupa
juga dikemukakan oleh Martina Winarni, Sri
Anjariah dan Muslimah Z.Romas (2006:2)
motivasi belajar adalah dorongan dari dalam
diri individu baik disadari maupun tidak
disadari untuk melakukan perilaku belajar ke
arah suatu tujuan yang ingin dicapai.

Dari beberapa pendapat ahli mengenai
motivasi belajar maka dapat disimpulkan
bahwa motivasi belajar adalah dorongan atau
daya penggerak yang ada didalam diri siswa
baik disadari maupun tidak disadari untuk
melakukan aktivitas atau serangkaian kegiatan belajar guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Menurut Sardiman (2011: 100)
dalam Agni Era Hapsari, Aktivitas yang
dimaksud disini bukan hanya aktivitas fisik
tetapi mencakup aktivitas mental. Pada kegiatan belajar, kedua aktivitas tersebut saling
berkait. Aktivitas fisik adalah peserta didik
giat aktif dengan anggota badan, membuat
sesuatu, beriman ataupun bekerja, ia tidak
hanya duduk dan mendengarkan, melihat
atau hanya pasif. Peserta didik yang mempunyai aktivitas psikis adalah jika daya
jiwanya bekerja sebanyak-banyaknya dalam
71

'LGDNWLND'ZLMD,QGULD9ROXPH1RPRU, hlm. 69 - 84
rangka pembelajaran. Seluruh peranan dan
kemauan dikerahkan dan diarahkan supaya
daya itu tetap aktif untuk mendapatkan hasil
pengajaran yang optimal.
Beberapa jenis-jenis aktivitas menurut
Paul B. Diederich dalam Nugroho
Widiantono & Nyoto Harjono (2015:200)
menyatakan bahwa: “Aktivitas belajar terbagi dalam delapan kegiatan sebagai berikut:
1) Kegiatan-kegiatan visual (visual activities), yaitu membaca, melihat gambar-gambar, mengamati, eksperimen, demonstrasi,
pemeran dan mengamati orang lain bekerja
atau bermain. 2) Kegiatan-kegiatan lisan
(oral activities), yaitu mengemukakan suatu
fakta atau prinsip, menghubungkan suatu
kejadian, mengajukan pertanyaan, memberi
saran, mengemukakan pendapat, wawancara,
diskusi dan interupsi. 3) Kegiatan-kegiatan
mendengarkan (listening activities), yaitu
mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan dan diskusi kelompok, atau mendengarkan radio. 4) Ke-giatankegiatan menulis (writing activities), yaitu
menulis cerita, menulis laporan, memeriksa
karangan, bahan-bahan copy, membuat outline atau rangkuman, dan mengerjakan tes
serta mengisi angket. 5) Kegiatan-kegiatan
menggambar (drawing activities), yaitu
menggambar, membuat grafik, diagram, peta
dan pola. 6) Kegiatan-kegiatan motorik
(motor activities), yaitu melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan
permainan, serta menari dan berkebun. 7)
Kegiatan-kegiatan mental (mental activities),
yaitu merenungkan, mengingat, memecahkan
masalah, menganalisa faktor-faktor, melihat
hubungan-hubungan, dan membuat keputusan. 8) Kegiatan-kegiatan emosional
(emotional activities), yaitu minat, membedakan, berani, tenang, merasa bosan dan
gugup.”
Berdasarkan pendapat-pendapat yang
telah dikemukakan, maka indikator pengamatan aktivitas siswa dapat mengacu pada
delapan kegiatan aktivitas belajar menurut
Diederich. Sedangkan yang dimaksud
dengan aktivitas belajar dapat dipahami se-

bagai aktivitas yang berkaitan dengan cara
belajar, meliputi kegiatan fisik maupun
mental yang saling berkaitan.
Motivasi belajar dilihat berdasarkan
akivitas belajar siswa. Dari berbagai aktivitas
belajar siswa yang diungkapkan oleh Paul B.
Diederich, maka aktivitas belajar yang dapat
mendukung motivasi belajar siswa adalah: 1)
Kegiatan-kegiatan visual (visual activities)
2) Kegiatan-kegiatan lisan (oral activities) 3)
Kegiatan-kegiatan menulis (writing activities) 4) Kegiatan-kegiatan emosional (emotional activities). Kegiatan visual yang dapat
memotivasi yaitu membaca dan mengamati,
kegiatan lisan yaitu mengemukakan suatu
fakta atau prinsip, kegiatan menulis yaitu
keterampilan saat menulis, kegiatan emosional yaitu mampu membedakan, berani
tampil.
Menurut Joyce & Weil (1986); Sharan
& Herzt-Lazarowitz, (1980); Sharan &
Sharan, (1992); Thelen, (1981) dalam
Shlomo Sharan (2012:166), GI adalah
penyelidikan dalam kelompok yang meminta
siswa untuk menggunakan semua keterampilan interpersonal dan keterampilan meneliti
yang berlaku dalam metode pembelajaran
kooperatif yang lain dan untuk merencanakan tujuan pembelajaran spesifik. Eggen
dan Kauchak dalam Karnawati (2013),
berpendapat GI adalah suatu pembelajaran
kooperatif yang menempatkan siswa ke
dalam kelompok untuk melakukan investigasi terhadap suatu topik. Slavin dalam
Setyorini, (2014:8) menyatakan GI adalah
sebuah perencanaan kelas secara umum
dimana siswa bekerja dalam kelompok kecil
dengan menggunakan inkuiri kooperatif diskusi kelompok dan perencanaan kooperatif.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
dalam GI adalah salah satu model pembelajaran inovasi dimana siswa diajak secara
bekelompok untuk melakukan penyelidikan
atau melakukan investigasi terhadap suatu
topik di dalam kelas, dimana siswa berkerja
dalam kelompok kecil dengan menggunakan
inkuiri diskusi kelompok dan perencanaan
kooperatif.

72

Peningkatan Motivasi Belajar Tematik Melalui Model Pembelajaran Group...
Menurut
Burns, et l., dalam Rusman
(2011:220) menuliskan langkah-langkahmo
del pembelajaran GI sebagai
berikut:
Secara umum perencanaan pengorganisasian
kelas dengan menggunakan teknik kooperatif
GI adalah kelompok dibentuk oleh siswa itu
sendiri dengan beranggotakan 2-6 orang, tiap
kelompok bebas memilih subtopik dari
keseluruhan unit materi (pokok bahasan)
yang akan diajarkan, dan kemudian membuat
atau menghasilkan laporan kelompok.
Selanjutnya, setiap kelompok mempresentasikan atau memamerkan laporannya kepada seluruh kelas, untuk berbagi dan saling
tukar informasi temuan mereka. Peserta
didik diberikan kebebasan untuk memilih
anggota kelompok dalam membentuk kelompok-kelompok kecil. Setelah kelompok terbentuk kelompok bebas meilih subtopik
yang diinginkan peserta didik. Selanjutnya
kelompok menentukan tugas setiap anggota
kelompok dalam membuat laporan. Dan
setelah laporan selesai masing-masing kelompok mempresentasikan hasil temuan
kelompok kepada kelompok lain.
Menurut
Rusman
(2011:221-222)
implementasi strategi pembelajaran GI
dalam pembelajaran, secara umum dibagi
menjadi enam langkah yaitu: 1) Mengidentifikasi topik dan mengorganisa-sikan siswa
ke dalam kelompok. Para siswa menelaah
sumber-sumber informasi, memi-lih topik,
dan mengtegorisasi saran-saran; para siswa
bergabung ke dalam kelompok belajar
dengan pilihan topik yang sama dan
heterogen; guru membantu atau memfasilitasi dalam memperoleh informasi, 2)
Merencanakan tugas-tugas belajar. Direncanakan secara bersama-sama oleh para siswa
dalam kelompoknya masing-masing, yang
meliputi : apa yang kita selidiki; bagaimana
kita melakukannya; siapa sebagai apapembagian kerja; untuk tujuan apa topik ini
diinvestigasi, 3) Melaksanakan investigasi.
Siswa mencari informasi, menganalisis data,
dan membuat kesimpulan; sebagai anggota
kelompok harus berkontribusi kepada usaha
kelompok; para siswa bertukar pikiran,
mendiskusikan, mengklarifikasi, dan mensintesis ide-ide, 4) Menyiapkan laporan akhir.
Anggota kelompok menentukan pesan-pesan
73

esensial proyeknya; merencanakan apa yang
akan dilaporkan dan bagaimana membuat
presentasinya; membentuk panitia acara
untuk mengoordinasikan rencana presentasi,
5) Mempresentasikan laporan akhir. Presentasi dibuat untuk keseluruhan kelas dalam
berbagai macam bentuk; bagian-bagian presentasi harus secara aktif dapat melibatkan
pendengar (kelompok lain); pendengar
mengevaluasi kejelasan presentasi menurut
kriteria yang telah ditentukan keseluruhan
kelas, 6) Evaluasi.
Para siswa berbagi mengenai balikan
terhadap topik yang dikerjakan, kerja yang
telah dilakukan, dan pengalaman-pengalaman afektifnya; guru dan siswa berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran;
asesmen diarahkan untuk mengevaluasi pemahaman konsep dan keterampilan berpikir
kritis.
Shlomo Saran (2012:172-186) mengemukakan langkah-langkah pembela-jaran
menggunakan GI terdiri dari enam tahap,
yaitu: 1) Kelas menentukan subtema dan
menyusunnya ke dalam kelompok penelitian. Guru memberi siswa suatu masalah
yang besar dan rumit yang tidak memiliki
satu jawaban benar. Setelah itu guru
memberikan berbagai sumber materi seperti
buku, majalah, gambar, katalog, rekaman
video, atau koran. Setelah melakukan penelusuran, siswa siap untuk merumuskn dan
memilih berbagai pertanyaan yang bisa
menunjang penelitian. Selanjutnya membuat
pertanyaan-pertanyaan itu bisa diketahui seluruh kelas, bisa ditulis atau ditempel di
papan tulis. Sekarang tiap-tiap siswa bersiapsiap untuk meneliti subtema yang paling
mencerminkan minatnya, 2) Kelompok merencanakan penelitian mereka. Para anggota
kelompok meiliki tiga tanggungjawab utama:
a) memilih pertanyaan yang akan mereka
cari jawabannya, b) menentukan sumbersumber yang mereka perlukan, dan c) membagi pekerjaan dan menentukan peran-peran,
3) Kelompok menjalankan penelitian mereka.
Dalam tahap ini tiap-tiap kelompok
menjalankan rencana mereka: menemukan
informasi dari berbagai sumber, menyusun
dan mencatat data, melaporkan temuan-

'LGDNWLND'ZLMD,QGULD9ROXPH1RPRU hlm. 69 - 84
temuan mereka kepada teman sekelompok,
mendiskusikan dan menganilisis temuantemuan mereka, memutuskan apakah mereka
memerlukan informasi lain, menafsirkan dan
menyatukan temuan-temuan mereka, 4) Kelompok merencanakan presentasi mereka.
Para anggota kelompok sudah saling
memberi tahu tentang pekerjaan mereka, apa
yang mereka pahami dan yang tidak, dan
apakah yang mereka temukan itu relevan
dengan subtema umum mereka. Dalam tahap
ini kelompok-kelompok harus memutuskan
mana temuan mereka yang akan dibagi
bersama kelas dan bagaimana menyajikan
temuan-temuan mereka itu kepada teman
sekelas, 5) Kelompok menyusun presentasi
mereka. Tiap-tiap kelompok menyajikan
hasil temuan mereka kepada teman
sekelasnya. Sementara satu kelompok
menyajikan temuan-temuannya, kelompok
yang lain menjadi pendengar, 6) Guru dan
siswa mengevaluasi proyek mereka. Siswa
dan guru bisa bekerjasama dalam penyusunan ujian yang digunakan untuk menilai
pemahaman siswa atas gagasan utama dari
temuan-temuan mereka dan juga pengetahuan faktual yang baru saja mereka peroleh.
Berdasarkan uraian dari para ahli, maka
untuk menerapkan GI menggunakan langkah-langkah yang telah dimodifikasi sebagai
berikut: Membentuk kelompok 6 orang.
Memilih topik/subtopik/tema/subtema. Melakukan investigasi atau mengumpulkan data.
Menganalisa data. Membuat laporan hasil
penelitian. Mempresentasikan hasil penelitian. Mengevaluasi hasil penelitian secara
klasikal.

dalam penelitian ini adalah siswa kelas 4
SDN Gendongan 01 Kota Salatiga. Penelitian dilaksanakan pada semester 2 tahun
pelajaran 2017/2018. model penelitian spiral
dari Kemmis dan Taggart, prosedur penelitian minimal 2 siklus, masing-masing siklus
terdiri dari 3 tahapan yaitu 1) perencanaan
tindakan, 2) pelaksanaan tindakan dan
observasi, 3) refleksi. teknik pengumpulan
data menggunakan observasi, Teknik analisis
data yang digunakan adalah teknik persentase.
HASIL
PENELITIAN
DAN
PEMBAHASAN
Penelitian tindakan kelas tentang upaya
peningkatan motivasi belajar tematik tema 8
Daerah Tempat Tinggalku subtema 1 Lingkungan Tempat Tinggalku dan subema 2
Keunikan Daerah Tempat Tinggalku melalui
Group Investigation (GI) kelas IV SDN
Gendongan 01 Salatiga dilaksanakan pada
semester 2 tahun pelajaran 2017/2018.
Penilaian proses dilakukan dalam
pelaksanaan pembelajaran GI pada pembelajaran tematik, langkah tindakan yang
dinilai yaitu pada kegiatan visual: menyimak
video mengenai cerita fiksi “Asal Mula
Telaga Warna”, pada kegiatan menulis: saat
siswa menulis hasil laporan pengamatan,
pada kegiatan lisan; siswa menyampaikan
hasil pengamatannya secara lisan, dan pada
kegiatan emosional: siswa mampu menanggapi hasil pengamatan kelompok lain dengan
tenang, Langkah ini merupakan bentuk
motivasi belajar siswa di kelas dalam melaksanakan pembelajaran, Pengukuran motivasi belajar dibagi menjadi 3 klasifikasi
yaitu sangat termotivasi, cukup termotivasi,
dan tidak termotivasi. Hasil pengukuran
secara rinci disajikan dalam tabel 4.2 distribusi frekuensi motivasi belajar siswa
siklus 1 berikut ini:

METODE
Penelitian ini adalah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah peningkatan
motivasi belajar tematik dapat diupayakan
melalui model pembelajaran GI. Subjek

74

Peningkatan Motivasi Belajar Tematik Melalui Model Pembelajaran Group...
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Motivasi Belajar Siklus 1
Rentang
Skor

Klasifikasi

1.

No.

2

1
F

%

F

>3,2 – 4

Sangat
Termotivasi

1
9

5
1,
3
5

1
9

2.

2,6 – 3,1

Cukup
Termotivasi

2

5,
4
1

3

3.

3,2- 4

Klasifikasi
Sangat Termotivasi

Frekuensi
20

Persentase (%)
54,1

2.
3.

2,6- 3,1
3,2 – 4, cukup termotivasi jika
peserta didik memperoleh rentang skor 2,6 –
3,1, tidak termotivasi jika peserta didik
memperoleh rentang skor 3,2 – 4

2.

3.

Jumlah

2

1

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

F

%

Sangat
Termo
tivasi

2
8

7
5,
6
8

2
4

6
4,
8
6

2
2

5
9,
4
6

2
7

7
2,
9
7

1
9

5
1,
3
5

1
9

5
1,
3
5

2
3

6
2,
1
6

2
7

7
2,
9
7

2
4

6
4,
8
6

2
6

7
0,
2
7

2
2

5
9,
4
6

2
6

70
,2
7

2,6 – 3,1

Cukup
Termo
tivasi

9

2
4,
3
2

1
3

3
5,
1
4

1
5

4
0,
5
4

1
0

2
7,
0
3

1
8

4
8,
6
5

1
8

4
8,
6
5

1
4

3
7,
8
4

1
0

2
7,
0
3

1
3

3
5,
1
4

1
1

2
9,
7
3

1
5

4
0,
5
4

1
1

29
,7
3

3,2- 4
Sangat Termotivasi
2,6- 3,1
Cukup Termotivasi
Jumlah
Sumber: Data Primer

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa hasil
keseluruhan motivasi belajar siswa kelas 4
SDN Gendongan 01 Salatiga siklus 2, yang
sangat termotivasi sebanyak 32 siswa (86,5%
dari seluruh siswa), klasifikasi cukup

Frekuensi
32
5
37

Persentase (%)
86,5
13,5
100

termotivasi sebanyak 5 siswa (13,5% dari
seluruh siswa). Tabel distribusi klasifikasi
motivasi belajar siswa tiap tahap diatas dapat
digambarkan menggunakan diagram batang
pada gambar 4.2 sebagai berikut:

40
30
20
10
0

Sangat Termotivasi
Cukup Termotivasi
Tidak Termotivasi

Gambar 2 Diagaram Distribusi Motivasi Belajar Siklus 2
Keterangan: 1= menyimak cerita fiksi melalui video;
2= menyimak penjelasan materi yang disampaikan
guru; 3= mengamati saat guru menjelaskan contoh
materi yang di pelajari; 4= menulis laporan hasil
penelitian mengidentifikasi tokoh dalam cerita fiksi;
5= jumlah coretan dalam tulisan; 6= jumlah kesalahan
kata yang sesuai EYD; 7= dapat meyampaikan hasil

penelitian secara lisan; 8= dapat menjawab
pertanyaan; 9= dapat mengajukan pertanyaan secara
lisan; 10= dapat menanggapi penyampaian hasil
penelitian kelompok lain; 11= respon terhadap
pertanyaan; 12= semangat menceritakan kembali
materi
yang
telah
dipeajari.

pembelajaran tematik, dan setiap indikator
siswa tidak ada yang berada pada klasifikasi
tidak termotivasi rata-rata siswa terdapat
pada klasifikasi sangat termotivasi. Ber-

Berdasarkan kegiatan yang dilakukan
pada siklus 2 terjadi peningkatan perkembangan motivasi belajar siswa dalam
79

'LGDNWLND'ZLMD,QGULD9ROXPH1RPRU hlm. 69 - 84
Tinggalku kelas IV SDN Gendongan 01
Salatiga pada semester 2 tahun pelajaran
2017/2018. Hasil dari observasi kemudian
dikelompokan menurut hasil skor masingmasing tahap dari pembelajaran. motivasi
belajar di bagi menjadi 5 klasifikasi motivasi
belajarsiswa sangat termotivasi jika peserta
didik memperoleh rentang skor >3,2 – 4,
cukup termotivasi jika peserta didik memperoleh rentang skor 2,6–3,1, tidak termotivasi jika peserta didik memperoleh rentang
skor 3,2 – 4,
cukup termotivasi jika peserta didik
memperoleh rentang skor 2,6 – 3,1, tidak
termotivasi jika peserta didik memperoleh
rentang skor