Murabahah KPP yang disertai kewajiban da

Murabahah KPP yang disertai kewajiban dan memiliki dampak hukum
Jika pembeli menerima permintaan pemesan suatu barang atau aset, ia harus
membelia aset yang dipesan tersebut serata meyempurnakan kontrak jual beli yang sah antara
dia dan pedagang barang itu. Pembelian ini dianggap pelaksanaan janji yang mengikat secara
hukum antara pemesan dana pembeli. Pembeli menawarkann aset itu kepada pemesan yang
harus menerimanya demi janji yang mengikat secara hukum. Keuda belah pihak,pembel dan
pemesan,harus membuat kontrak jual beli.
Dalam jual beli ini, pembeli diboleh kan meminta pesanan membayar uang muka atau
tanda jadi saat menandatangani kesepakatan wal pemsanan. Uang muka adalah jumlah yang
dibayar oleh pemesan yang menunjukan bahwa ia bersungguh-sungguh atas pesanan tersebut.
Bila kemudianpemesan menolak untuk membeli aset tersebut,biaya riil pembeli harus dibayar
dari uang muka. Bila uang muka tersebut lebih sedkit dari kerugian yanag harus ditanggung
pembeli, pembeli dapat meminta kembali sisa kerugian pada pemesan.
Beberpa bank menggunakan istilah arboun sebagai kata lain dari uang muka. Dalam
yurusprudensi islam,arboun adalah jumlah uang yang dibayar di muka pada penjual.
Ringkasnya,arboun adalah uanag muka untuk sebuah pembelian. Bila pembeli memutuskan
untuk tetap membeli barangtersebut, ia tinggal membayar sisa barang. Bila ia batal
membeli,uang muka tersebut akan hangus dan menjadi milik penjual.
Dengan demikian,seluruh uang arboun akan jadi milik pembeli (penerima pesanan) yang
telah membeli barnag pesanan tersebut. Adapun uang muka akan diperhitungkan sesuai besar
kerugian aktual pembeli. Dalam teknis operasionalnya,barang barang yang dipesan dapat
menjadi salah satu jaminan yang bisa diterima untuk membayar utang.
5. Beberapa Ketentuan Umum
a. Jaminan
Pada dasar nya,jaminan bukanlah satu rukun atau syarat yang mutlak dipenuhi dalam
bai’al-murabahah,demikian juga dalam murabaha KPP. Jaminam dimaksudkan untuk
menjaga argar sipemesan tidak main main dengan pemesan. Si pembeli (penyediaan
pembiayaa/bank) dapat meninta sipemesan (pemohon/nasabah) suatu jaminan(rahn) untuk
dipengangnya. Dalam teknis operasiaonalnya, barang barang yang dipesan dapt menjadi salah
satu jaminan yang bisa diterima untuk pembayaran utang.
b. Utang dlam murbahah KPP
Secara prinsip, penyelesayan utang si pemesan dalam transak si murabahah KPP tidak
ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan si pemesan kepada pihak ketiga atau
baran pesanan tersbut. Apaka sipemesan menjual kebali barang tersebut dengan keuntungan
dan kerugian, ia tetap berkewajibat menyelsaikan utangnya kepada si pembeli. Jika pemesan
menjula barang tersebut sebelu masa angsurannya berakhir, ia tidak wajib segera melunasi
seluruh utangnya. Seandainya penjual aset tersbut rugi,contohnya kalau nasabah adalah
pedagang juga, pemesanan tetap harus menyelesaikan pinjamannya sesuai kesepakatan awal.

Hal ini karena transaksi penjualan kepada pihak ketiga yang dilakukan nasabah merupakan
akad yang benar benar terpisah dari akad al-murabahah pertama dan bank.
c. Penundaan pembayaran oleh debitor mampu
Seorang nasabah yang mempunyai kemampuan ekonomis dilarang menunda
penyelesaian utangnya dalam al-murabahah ini. Bila seorang pemesan menunda menunda
penyelesaia utang tersebut, pembeli dpat mengambil tindakan: mengambi prosedur hukum
untuk mendapat kan kembali uatang dengan klaim kerugian finansial yang terjadi akibat
penundaan.
Rasullah saw. Pernah mengingatkan pengutang yang mampu tapi lalai dalam salah satu
hadistsnya,
“Yang melalaikan pembayaran utang ( padahal iya manpu) maka dapat dikenakan sanksai
dicemarkan nama baik nya (semacam black list-pen).
Prosedur dan mekanisme penyelesaian sengeketa antara bank syariah dan nasabahnya telah
ditaur melalui badan Arbitrase Muamalah Indonesia (BAMUI),suatu lebaga yang di dirikan
bersama antara Kejaksaan Agung Republik Indonesia dan MUI.
d. Bangkrut
Jika pemesan yang berutang dinggap pailit dan gagal menyelesaikan utangnya karena
benar benar tidk mampu secara ekonomi dan bukan karena lalai sedangkan ia mampu,
kreditor harus menunda tahihan utang sampai ia menjadi sanggup kembali. Dalam hal ini
Allah telah berfirman.
“Dan jika ( orang berutang itu) dalam kesukaran, berilah tangguh smapai dia
berkelapangan.....” ( al-Baqarah:280)
6. Aplikasi dalam perbankan
Murabahah KPP umumnya dapat diterapkan pada produk pembiayaan untuk
pembelian barang barang investasi,baik demostik maupun luar negri,seperti melalui letter of
credit(L/C). Skema ini paling banyak digunakan karna sederhana dan tidak terlalu asingbagi
yang sudah biasa bertansaksi dengan dunia perbankan pada umumnya.
Kalanga perbankan syariah di indonesia banyak menggunakan al-murabahah secara
berkelanjutan (roll over/evergreen) seperti untuk modal kerja, padahal sebenarnya, almirabahah tidak dapat diterapkan untuk skema modal kerja. Akad murabahah lebih sesuai
dengan skema tersebut. Hal ini menggingat prinsip mudharabah memiliki pleksibilitas yang
sangat tnggi.
7. Manfaat Bai’al-murabahah
Sesuai dengan sifat bisnis (tijarah),transaksi bai’ al-murabahah memiliki beberapa
manfaat,demikian juga resiko yang harus di antisifai. Bai’ al-murabahah memberi banyak

manfaat kepada bank syariah. Salah satunya adanya keuntungan yang muncul dari sekisih
harga beli dari penjual pada harga jual kepada nasabah. Selain itu,seitem bai’ al-murabahah
juga sangat sederhana. Hal tersbut memudahkan penanganan adnministrasinya di bank
syariah.
Di antara kemingkinan resiko yang harus di antisipasi antara lain sebagai berikit.
a. Default atau kelalaian;nasabah sengaja tidak membyar ansuran.
b. Fluktasi harga komperatif. Ini terjadi harga suatu barang di pasar naik setelah bank
membelikannya untuk nasabah. Bank tidak bisa mengubah harga jual beli
tersebut.
c. Penolakan nasabah; barang yang di kirim bida dittolak oleh nasabah karena
berbagai sebab. Bisa jadi karena rusak dalam perjalan sehingga nasabh tidak mau
menerimanya. Karena itu, sebaknya dilindungi dengan asurans. Kemungkinan lain
karena nasabah merasa spesifikasi barang tersebut berbeda denga yang ia pesan.
Bila bank telah menandatangani kontrak pembelian dengan penjualnya, barang
tersebut akan menjadi milik bank. Dengan demikian, bank mempunyai resiko
untuk menjualnya kepada pihak lain.
d. Dijual; karena bai’ al-murabahah bersifat jual beli dan utang,maka ketika kontrak
ditandatangani, barang itu menjadi milik nasabah. Nasabah bebas melakukan
apapu terhada aset milikinya tersebut,termasuk untuk menjualnya. Jika terjasi
demikian,resiko untuk dafauit akan besar.
Secara umum, aplikasi perbankan dari bai’ al-murabahah dapat digambarkan dalam
skema berikut ini.
Skema bai’ al-murabahah

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Negosiasi & Persyaratan
jual beli =bank, nasabah
Beli barang= suplier penjual
Kirim
barang& dokumen
Bayar

B. Bai’ AS-SALAM ( IN-FRONT PAYMENT SALE)
1. Pengertian bai’ as-salam
Dalam pengertian yang sederhana,bai as-salam berarti pembelian barang yang
di serahkan di kemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan dimuka.
2. Lembaga syariah

Landasan syariah transaksi bai’ as-salam terdapat dalam Al-Qur’an dan alhadist
a. Al-Qur’an
“Hai orang orang yang beriman,apa bila kamu bermuamalah tidak secara
tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu melunasinya....”(alBaqarah:282)
Dalam kaitan ayat tersebut, ibnu abbas menjelaskan ketertarikan ayat
tersebut dengantransaksi bai’ as-salam. Hal ini tampak jelas dari
uangakapanbeliau,”Saya bersaksi bahwa salaf (salam) yang dijamin
untuk jangka waktu tertentu telah dihalalkan oleh Allah pada kitab-nya
dan diizinkan-nya.” Ia lalu membaca ayat tersebut diatas.
b. Al-Hadist
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasullah saw. Datang ke Madinah di
mana penduduknya melakukan salaf(salam) dalam buah buahan (untuk
jangka wajtu) satu,dua,dan tiga tahun. Beliau berkata
“Barang siapa yang melakukan salaf (salam),hendaknya ia mealukan
dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula ,untuk jangka
waktu yang diketahui.”
Dari Shuhaib r.a bahwa Rasullah saw. Bersabda
“Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan:jual beli secara
tangguh,muqaradhah ( mudharabah), dan mencampur gandum dengan
tepung untukkeperluan rumah, bukan untuk dijual (HR Ibnuh Majah)
3. Rukun Bai’ as-salam
Pelaksanaan bai’ as-salam harus memenuhi sejumlah rukun berikut ini
a. Muslam atau pembeli
b. Muslam ilaih atau penjual
c. Modal atau uang
d. Muslam fiihi atau barang
e. Sighat atau ucapan
4. Syarat bai’as-salam
Di samping segenap rukun harus terpenuhi, bai’ as-salam juga mengharuskan
tercukupinya segenap syarat pada masing masing rukun. Di bawah ini akan
diuraikan dua di antara rukun rukun terpenting, yaitu modal dan barang.
a. Modal transaksi bai’ as-salam
Syarat syarat yang harus di penuhi dalam bai’ as-salam adalah sebagai berikut
1. Modal harus diketahi
Barang yang akan disuplai harus diketahui jenis,kualitas,dan jumlahnya. Hukum awal
mengenai pembayaran adalah bahwa ia harus dalam bentuk uang tunai.
2. Penerimaan pembayar salam
Kebanyakan ulama mengharskan pembyaran salam dilakukan di tempat kontrak. Hal
tersbut dimaksud agar pembyaran yang diberikan oleh al-musalam(pembeli) tidak

dijadikan sebagai utang penjual. Lebih khusus lagi, pembayran salam tidak bisa dalam
bentuk pembebasan utang yang harus dibayar dari muslam ilaih(penjual). Hal ini
adalah untuk mecegah praktik riba melalui mekanisme salam.
b. Al-Muslam fiihi (barang)
Di antara syarat syarat yang harus dipenuhi dalam al-musalam fiihi atau barang yang
ditransaksikan dalam bai al-salam adalah sebagai berikut.
1. Harus spesifik dan dapat diakui sebagai uang.
2. Harus bisa diidentifikasi secara jelas untuk mengurangi kesalahan akibat
kurangnya pengetahuan tentang macam barang tersebut (misalnya kualitas
utama,kelas dua,atau eks ekspor), serta mengenai jumlahnya.
3. Penyerahan barang dilakuan di kemudian hari.
4. Kebanyakan ulama mensyaratkan penyerahan barang harus ditunda pada satu
waktu kemudian,tetapi mazhab Syafi’i membolehkan penyerahan segera.
5. Bolehnya menentukan tanggalwaktu dimasa yang akan datang untuk penyerahan
barang.
6. Tempat penyerahan. Pihak pihak yang berkontrak harus menjukuna tempat yang
disepakati dimana barang harus diserahkan. Jika kedua pihak berkontrak tidak
mentukan tempat pangiriman, barang harus dikirim ketempat yang menjadi
kebiasaan, gudang sipenjual atau bagian pembelian sepembeli.
7.

Penggatian muslam fiihi dengan barang lain. Para ulama melarang penggantian
muslimfiihi dengan barang lainnya. Penukaran atau penggantian barang as-salam
ini tidak diperkenankan.,karna meskipun blom diserahkan, barang tersebut tidak
lagi milik si muslam alaih, tetapi sudah mrnjadi milik muslam(fidz-dzimah).bila
baranag tersebut diganti dengan barang yang memiliki spesifikasi dan kualitas
yang sama meskipun sumbernya berbeda,para ulama membolehkannya.hal
demikiantidak dianggap sebagai jual beli, melainkan penyerahan unit yang lain
untk barang yang sama.
5. Salam paralel
a. Pengertian

Salam paralel berarti melaksanakan dua transaksi bai’as-salam antara bank
dan nasabah, dan anatara bank dan pemasok (suplier) atau pihak ketig
lainnya secara sumultan.
Dewan pengawas Syariah rajhi Banking & Invesment Corporation telah
menetapkan fatwa yang membolehkan praktek salam paralel dengan syarat
pelaksanaan transaksi salam kedua tidak bergantung pada pelaksanaan
akad salam yang pertama. Beberapa ulama kontenporer memberikan
catatan atas transaksi salam paralel,terutama jika berdagan dan transaksi
semacam itu dilakukan secra terus menerus. Hal demikian didiga akan
menerus pada riba.
b. Perbedaan bai’salam dengan ijon
Banyak orang yang menyamakan bai;salam dengan ijon, padahal terdapat
perbedaan besar diantar keduanya. Dalam ijon,barang yang dibeli tidak
diukura atau ditimbang secara jelas dan spesifik. Demekian juga penetapan
harga beli, sanhgat bergantung kepada keputusan sepihak si tengkulak
yang seringkali sangat bergantung kepada keputusan sepihak si tengkulak
yang seringkali sangat dominan dan menekan petani yang posisinya lebih
lemah. Ada pun transaksi bai;salam mengharuskan adanya dua hal sebagai
berikut.
1. Pengukuran dan spesifikasi barang yang jelas. Hal ini tercermin dari
hadist Rasullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas,”barang siapa
melakukan transaksi salaf(salam), hendaklah ia melakukan dengan
takaran yang jelas,timbangan yang jelas, untuk jangka waktunyang
jelas pula.”
2. Adanya keridahan yang utuh antara kedua bela pihak. Hal ini terutama
dalam penyepakati harga. Allah SWT berfirman,”kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian.......”
(an-nisaa:29)
Untuk memastikan adanya harga yang “fair” ini, pemerintah
diwajibkan melakukan pengawasan dan pembinaan.

c. Pebedaan antara bai’ al-salam dan bai’ al- istisnah
Di sisi lain,banyak banyak pula yang salah dalam membedakan bai’ alistisnah’,padal keduanya mempunyai perbedaan yang jelas seperti tertera pada
label dalam pembahasan bai’ al-istinah’.
d. Aplikasi dalam perbankan
Bai’ al-salam biasanya dipergunakan pada pembiayaan bagi yang petani
dengan jangka waktunyang relatif pendek,yaiyi 2-6 bulan. Karena yang
dibeli oleh bank adalah barang seperti padi,jagung dan cabai,dan bank
tidak berniat untuk menjadikan barang barang tersebut sebgai simpanan
atau

inventory,dilakukanlah

akad

bai’ as-salam

kepada

pembeli

kedua,misalnya kepada bulog, pedangang pasar induk, atau grosir. Inilah
yang dalam perbankan islam dikenal sebagai salam aralel.
Bai’ as-salam juga dapat diaplikasikan pada pembiayaan barang
industri,misalnya produk garamen (pakaian jadi) yang ukuran barang
tersebut sudah dikenal umum. Caranya saat nasabah mengajukan
pembiayaan untuk pembuatab garmen bank mereferensikan pengunaan
produk tersebut. Hal itu berarti bahwa bank memesan dari pembuat
garmen tersebut dan membayar nya pada waktu pengikatan kontrak. Bank
kemudian mencari pembeli kedua.pembeli tersebut bisa saja rekan yang
telah direkomendasikan oleh produsen garmen tersebut. Bila garmen itu
telah selesai produksi, produk tersebut diantarkan kepada rekan tersebut.
Rekan kemudian membayar pada bank baik secara mengangsur maupun
tunai.
e. Manfaat
Manfaat bai’ as-salam adalah selisih harga yang didapat dari nasabah
dengan harga jual kepada pembeli
f.

Contoh kasus
Kasus

Seorang petani yang memiliki 2 hektar sawah mengajukan pembiayaan
sebesar Rp5.000.000,00. Pembiayan tersebut sudah mencakup ongkos
bibit dan upah kerja. Ia berencana menanami sawahnya dengan bibit jenis
IR36 yang bila digiling menjadi beras dijual di pasar dengan harga
Rp2.000,00 per Kg. Penghasilan yang didapat ari sawahnya bisa berjumlah
4 ton beras per hektar. Ia akan mengantar beras ini setelah 3 bulan.
Bagaimana cara penghintungnya?
Jawaban
Jumlah pembiayaan yang di ajukan oleh petani sebesar Rp5 juta
sedangkan harga beras jenis IR36 dipasar Rp2.000,00 per kg. Karenanya,
bank bisa membeli dari petani sebanyak 2,5 ton (Rp 5 juta dibagi
Rp2.000,00 per kg).beras tersebut dapat dijual kepada pembeli berikutnya.
Setelah melalui negosoasi, bank menjual berasnya sebesar Rp2.400,00 per
kg yang berarti total dana yang kembali sebesar Rp6 juta (bila dihitung
secara umum,bank mendapat keuntungan jual beli bukan pembungaan
uang,sebesar 20% margin).
Secara umum,aplikasi perbankan bai’ as-salam dapat digambarkan dalam
skema berikut ini.

Skema bai’ as-salam
1. Nogosiasi pesanan dan kriteria
2. Pemesanan barang nasabah dan bayar tunai
3. Dikirim dokumen
4. Kirim pesanan
5. Bayar
c. BAI’ AL-ISTISHNA (PURCHASE BY ORBER OR MANUFACTURE)
1. Pengertian bai’ al- istishna’

Transaksi bai sl-istishna merupakan kontra penjual antara pembeli dan pembuat
barang. Dalam kontrak ini, pembuat barang menrima pesanan dari pembeli. Pembuat
barang lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang menurut
spesifikasi yang telah di sepakati dan menjualnya kepada pembeli akhir. Kedua belah
pihas bersepakat atas harga serta sistem pembayaran: apakah pembayaran dilakukan
dimuka, melalui cicilan,atau ditanguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan
datang.
Menurut Jumhur fuqaha,bai’ al-istishna merupakan suatu jenis khusus dari akad bai
as-salam.biasanya jenis ini dipergunakan dibidang manufaktur. Dengan demikian,
ketentuan bai’ al-istishna’ mengikutu ketentuan dan aturan akad bai’ as-salam.
Dalam literatur fiqih klasik,masalah istishna mulai mecuat setelah menjadi bahan
masalh mazhab Hanafi seperti yang dikemukakan dalam majallat al-ahkam al-aduliya.
Akademi fiqih islam pun menjadikan masalah ini sebagai salah satu bahasan khusu.
Karena itu kajian akad bai’ al-istishna ini diserahkan pada ketentuan yang
dikembangkan oleh fiqi hanafi, dan perkembangan fiqih selanjutnya dilakukan fuquha
kentenporer.
2. Lembaga syariah
Mengingat bai’ al-istishna’ merupakan lanjutan dari bai’as-salam maka secra umum
landasan syariah yang berlaku pada bai’ as-salam juga berlaku pada bai’ al-istishna’.
Sengguhpun demikian, para ulama membahas lebih lanjut keabsahan “ bai’ alistishna’ dengan penjelasan berikut.
Menurut mazhab hanafi ,bai’ al-istshna termasuk akad yang dilarang karena
bertentangan dengan semangat bai’ secra qiyas. Mereka mendasar kan pada
argumentasi bahwa pokok kontrak pejualan harus ada dan dimiliki oleh
penjual,sedangkan dalam istishna ‘, pokok kontraknitu blom ada atau tidak
dimilikinpenjual.meskipun demikian,mazhab Hanafi menyetujui kontrak istishna’ atas
dasar istishna karena alasan alasan berukut ini.
a. Masyarakat telah mempraktikkan bai’al-istishna secara luas dan terus menerus tampa
ada keberatan sama sekali. Hal demikian menjadi bai’ al-istishna sebagai kasus ijam
atau konsensus umum.

b. Di dalam syariah dimunkinkan adanya penyimpangan terhadap qiyas berdasarkan
ijima ulama
c. Keberadaan bai’al-istishna’ didasarkan atas kebutuhan masyarakat. Banyak orang
seringkali memerlukan barang yang tidak tersedia di pasar sehingga mereka
cenderung melakukan kontrak agar orang lain membuat barang untuk mereka.
d. Bai’al-istishna’ sah sesuai dengan aturan umum menganai kebolehan kontark selama
tidak bertengtangan dengan nash atau aturan syariah.
Sebagian fuqaha kontemporer berpendapat bahwa bai’ al-istishna’ adalah sah atas dasar qiyas
dan aturan umum syariah karena itu memang jual beli biasa dan si penjual akan mampu
mengadakan barang tersebut pada saat penyerahan. Demikian juga kemungkinan terjadi
perselisihan atas jenis dan kualitas barang dapat diminimalkan dengan pencamtuman
spesifikasi dan ukuran-ukuran serta bahan material pembuatan barang tersebut.
Secara umum, aplikasi perbankan bai’ al-istishna’ dapat digambarkan dalam skema berikut
ini.
Skema Bai’ al-istishna’

PRODUSEN PEMBUAT

NASABAH
KONSUMEN
(PEMBELI)

BANK PENJUAL

3. Istishna’ Paralel
Dalam sebuah kontrak bai’ istishna’, bisa saja pembeli mengizinkan pembuat
menggunakan sub kontraktor untuk melaksanakan kontrak tersebut. Dengan
demikian, pembuat kontrak istishna’ kedua untuk memenuhi kewajibannya pada
kontrak pertama. Kontrak baru ini dikenal sebagai istishna’ paralel.

Ada beberapa konsekuensi saat bank Islam menggunakan kontrak istishna’ paralel.
Diantaranya sebagai berikut.
a. Bank Islam sebagai pembuat pada kontrak pertama tetap merupakan satu-satunya
pihak yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan kewajibannya. Istishna’
paralel atau subkontrak untuk sementara harus dianggap tidak ada. Dengan
demikian, sebagai shani’ pada kontrak pertama,bank tetap bertangung jawab atas
setiap kesalahan,kalalian , atau pelanggaran kontrak yang berasal dari kontrak
paralel.
b. Penerima subkontrak pembuatan adalah istishna paralel bertanggung jawab
terhadap bank islam sebagai pemesan. Dia tidak mempunyai hubungan hikum
secara langsung dengan nasabah pada kontrak pertama akad. Bai’ al-istishna’
keuda merupakan kontrak paralel, tetapi bukan merupakan bagian atau syarat
untuk kontrak pertama. Dengan sedemikian, kedua kontrak tersebut tidak
mempunyai kaitan hukuam sama sekali
c. Bank sebagai ahani atau pihaknyang siap untuk membuat atau mengandakan
baraang,bertangung jawab kepada nasabah atas kesalahan pelaksana subkontraktor
dan jaminan yang timbul darinya. Kewajiban inilah yang membenarkan keabsahan
istishna paralel,juga menjadi dasar bahwa bank boleh memungut keuntungan
kalau ada.
Perbandingan antara bai’aas-salam dan bai’ as-istishna
subjek

salam

istishna

Pokok
kontrak

Muslam fiii

Mashni

Harga

Dibayar saat kontrak

Bisa saat
kontrak,bisa di
angsur,bisa
kemudian hari

Sifat
kontrak

Mengikat secara
asli(thabi’i)

Mengikat secara
ikutan (tabi’i)

Kontrak
paralel

Salam paralel

Istishna’paralel

Aturan dan
keterangan
Barang
ditanguhkan
dengan spesifikasi
Cara penyelesaian
pembayaran
merupakan
perbedaan utama
antara salam dan
istishna
Salam mengikat
semua pihak sejak
semual,sedangkan
istishna’menjadi
pengikat untuk
melindungi
produsen sehingga
tidak ditinggalkan
begitu saja oleh
konsumen secara
tidak bertangung
jawab
Baik salam paralel
maupun

ostishna’paralel
sah asalkan kedua
kontraksecara
hukum adalah
terpisah
4. Contoh kasus
Kasus
Sebuah perusahan konveksi meminta pembiayaan untuk membuat kostum tim
sepakbola sebesar Rp20 juta. Produksi ini akan di bayar oleh pemesan dua bual yang
akan datang. Harga sepasang kostum dipasar biasanya Rp40.000,00,sedangkan
perusahaan itu bisa menjual kepada bank dengan harga Rp38.000,00.
Jawaban
Dalam kasus ini, produsen tidank ingin diketahui modal pokok pembuatan kostum
tersebut. Ia hanya ingin memberikan untung sebesar Rp2.000,00 per kostum atau
sekitar Rp 1 juta rupiah ( Rp 20 juta/Rp38.000,00) atau 5 persen dari modal. Bank
bisa menawar lebih lanjut agar kostu itu lebih murah dan dijual kepada pembeli
dengan harga pasar.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Murabahah KPP yang disertai kewajiban da