BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori 2.1.1 Hakikat Belajar dan Pembelajaran - PENGARUH KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP IPA TERHADAP HASIL BELAJAR MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING (GUIDED DISCOVERY) PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 2 SOKARA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Teori

2.1.1 Hakikat Belajar dan Pembelajaran

  Belajar adalah suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sejak lahir manusia telah mulai melakukan kegiatan belajar untuk memenuhi kebutuhan dan sekaligus mengembangkan dirinya. Belajar terjadi melalui proses perubahan pada diri seseorang, dari belum mampu kearah mampu. Adanya perubahan dalam pola perilaku tersebut menandakan telah terjadi proses belajar.

  Menurut Slameto (2010) belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

  Menurut Sudjana (2011) belajar adalah suatu hasil proses belajar dapat diunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubahnya pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, ketrampilan dan kecakapan dan kemampuan daya kreasi, daya penerimaan dan lain-lain aspek yang ada pada individu. Inti dari kedua pengertian mengenai belajar sebenarnya ialah adanya perubahan perilaku dari seseorang yang bersifat permanen. Pada saat seseorang sedang belajar, maka responnya menjadi lebih baik sebaliknya bila ia tidak belajar maka responnya menurun.

  8 Perubahan perilaku yang permanen merupakan hasil interaksi aktif dari seseorang dengan lingkungannya, termasuk teman-teman sebaya sehingga dalam kegiatan belajar diupayakan adanya keaktifan, berdiskusi, tanya jawab dan kerjasama dalam memahami dan mengerjakan tugas. Interaksi aktif ini memberikan pengaruh yang kuat kepada perubahan-perubahan, sehingga perubahan yang terjadi relatif menetap dan berbekas pada diri seseorang yang akhirnya menjadi sikap dan pola perilakunya.

  Belajar pada hakikatnya adalah suatu proses berpikir. Belajar sebagai proses berpikir merupakan pembelajaran yang menekankan pada suatu proses mencari dan menemukan pengetahuan melalui proses interaksi antara individu dan lingkungan. Sehingga dalam pembelajaran tidak hanya menekankan pada akumulasi pengetahuan materi pelajaran saja, akan tetapi mengutamakan kemampuan siswa untuk memperoleh pengetahuannya sendiri (Pamuji, 2012). Pembelajaran pada dasarnya tidak bisa terlepas dari kegiatan belajar, maka dari itu pembelajaran merupakan perubahan dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman. Selain itu menurut Hamalik (2007) pembelajaran adalah suatu kondisi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi guna mencapai tujuan pembelajaran.

2.1.2 Pemahaman Konsep

  Pemahaman berkenaan dengan intisari dari sesuatu, yaitu suatu bentuk pengertian yang menyebabkan seseorang mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan, dan dapat menggunakan materi atau ide yang dikomunikasikan ini tanpa harus menghubungkannya dengan materi lain. Pemahaman merupakan salah satu dari enam domain kognitif yang merupakan salah tujuan dari pembelajaran. Pemahaman adalah tingkatan domain kognitif yang lebih tinggi dari pada pengetahuan. Pemahaman disini berarti bukan hanya mengingat fakta, akan tetapi merupakan kemampuan menjelaskan, menerangkan, menafsirkan, atau kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep (Bloom dalam Sanjaya, 2010).

  Pemahaman menurut Bloom dalam Sudjana (2011) dapat dibedakan atas : a. Translasi yang merupakan pemahaman terjemahan yaitu kemampuan untuk memahami suatu materi atau ide yang dinyatakan dengan cara asli yang dikenal sebelumnya.

  b. Interpretasi yang merupakan pemahaman penafsiran yaitu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya. Pemahaman kategori ini biasanya melaui suatu materi atau ide yang direkam, diubah, atau disusun dalam bentuk lain (grafik, table, atau diagram). c. Ekstrapolasi, yaitu kemampuan untuk meramalkna kelanjutan kecenderungan yang ada menurut data tertentu dengan mengemukakan akibat, konsekuensi, implikasi, dan sebagainya sejalan dengan kondisi yang digambarkan dalam komunikasi yang ada.

  Pemahaman konsep siswa merupakan salah satu prodek pembelajaran selain penilaian sikap (afektif) dan psikomotor. Secara konseptual ketrampilan proses dalam pembelajaran biologi adalah kerja siswa di dalam memahami konsep biologi melalui proses perolehan langsung yang dilakukan dengan mengobservasi objek nyata, mendeskripsikan hubungan antar variable, memeperoleh dan memproses data, menganalisis penyelidikan dan melakukan eksperimen (Puasati, 2006).

  Menurut Heruman (2007) pemahaman konsep terdiri dari dua pengertian, pertama merupakan lanjutan dari pemlebalajaran penanaman konsep dalam satu pertemuan. Sedangkan kedua, pembelajaran pemahaman konsep dilakukan pada pertemuan berbeda, tetapi masih merupakan lanjutan dari penanaman konsep. Pada pertemuan tersebut, penanaman konsep dianggap sudah disampaikan pada pertemuan sebelumnya, di semester atau kelas sebelumnya.

2.1.3 Hakikat IPA Biologi

  Ilmu Pengetahuan alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep- konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. IPA sebagai proses penemuan berarti dapat menjadi wahana bagi siswa untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya (Mariati, 2006)

  Biologi merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang di dalamnya mempelajari tentang mahluk hidup dan lingkungannya. Seiring dengan kemajuan jaman dan teknologi, ilmu pengetahuan biologi juga semakin berkembang melalui berbagai pengamatan dan percobaan (Fajriyah, 2012). Materi biologi didefinisikan sebagain “pengetahuan yang sistematis yang tersususn secara teratur, berlaku umum (universal), dan berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen” (Susanto, 1991). Merujuk pada definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hakikat materi biologi meliputi empat unsur utama yaitu:

  1. Sikap : rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, makhluk hidup, serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar ; IPA bersifat open minde.

  2. Proses : prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah.

  Metode ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan.

  3. Produk : berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum.

  4. Aplikasi : penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan sehari-hari.

  Keempat unsur dalam pembelajaran materi biologi yaitu sikap, proses, produk, dan aplikasi merupakan cirri materi biologi yang utuh dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Menurut Afcariono dalam Fajriyah (2012) belajar biologi bukan hanya berhadapan dengan teori dan konsep saja melainkan harus melakukan sesuatu, mengetahui, dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan pembelajaran biologi. Pemecahan masalah dalam konsep IPA Biologi hendaknya perlu menggunakan satu dasar pemahamanan konsep IPA Biologi yang baik .

  Menurut Pamuji (2012) pemahaman konsep IPA Biologi merupakan suatu kemampuan siswa dalam memahami, memaknai, dan mengaplikasikan dimana siswa dapat menjelaskan, menerangkan, menafsirkan, atau kemampuan menangkap makna atau arti dari konsep

  IPA Biologi yang mengkaji makhluk hidup dan lingkungan hidupnya serta hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya maupun makhluk hidup dengan lingkungan tempat hidupnya.

  2.1.4 Prestasi Belajar Siswa

  Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai atau dikerjakan dari serangkaian proses belajar. Prestasi merupakan kemampuan nyata yang dapat dicapai seorang individu setelah mengikuti kegiatan belajar dalam periode tertentu yang proses pengukurannya menggunakan tes sehingga dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh individu melalui pengalaman dan latihan (Dalyono, 2007).

  Prestasi belajar tidak hanya dimaksudkan untuk memperlihatkan hal yang dicapai, tetapi juga memberikan umpan balik, baik bagi siswa maupun bagi guru. Bagi siswa setelah menerima umpan balik akan mengetahui kemampuan dirinya yang menunjukkan apakah sudah atau belum mencapai tujuan belajar yang diharapkan. Sedangkan bagi guru akan memberikan informasi tentang pelajaran yang telah dilakukannya apakah sudah berhasil atau belum berhasil. Guru akan mengetahui apakah metode yang telah diterapkan tepat dan efektif atau tidak sehingga hal ini akan menjadi bahan masukkan bagi guru dalam memberikan pengajaran yang lebih baik untuk penbelajaran selanjutnya.

  2.1.5 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Belajar Siswa

  Faktor

  • – faktor yang mempengaruhi belajar siswa, dapat digolongkan menjadi dua golongan (Slameto, 2010) yaitu :
a. Faktor Internal Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, meliputi : kondisi jasmaniah, psikologi, dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah meliputi : 1) faktor kesehatan 2) cacat tubuh. Faktor psikologis meliputi : 1) inteligensi 2) perhatian 3) minat 4) bakat 5) motif 6) kematangan dan 7) kesiapan. Factor selanjutnya adalah kelelahan yang meliputi : 1) kelelahan jasmani dan 2) kelelahan rohani.

  b. Faktor Eksternal Faktor eksternal adalah faktor yang dapat mempengaruhi proses dan prestasi belajar yang datangnya dari luar diri siswa.

  Faktor ini dapat dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat. Faktor keluarga meliputi : 1) cara orang tua dalam mendidik 2) relasi antar anggota keluarga 3) suasana rumah 4) keadaan ekonomi keluarga 5) pengertian orang tua 6) latar belakang kebudayaan. Faktor sekolah meliputi : 1) metode mengajar 2) kurikulum 3) relasi guru dengan siswa 4) relasi siswa dengan siswa 5) disiplin sekolah 6) alat

  pelajaran 7) waktu sekolah 8) standar pelajaran di atas ukuran 9) keadaan gedung 10) tugas rumah dan faktor masyarakat meliputi : 1) kegiatan siswa dalam masyarakat 2) mass media 3) teman bergaul dan yang terakhir 4) bentuk kehidupan masyarakat.

2.1.6 Hasil Belajar

  Proses belajar selalu memberi pengaruh yang besar terhadap hasil belajar siswa. Untuk itu guru perlu memantau setiap proses belajar yang terjadi agar guru dapat mengetahui hasil belajar dan kemajuan belajar yang diperoleh oleh siswanya. Menurut Susanti (2011) hal-hal yang perlu diketahui oleh seorang guru adalah penguasaan pelajaran, keterampilan-keterampilan belajar dan juga bekerja. Proses pemantauan terhadap hasil belajar inilah yang selanjutnya dapat membantu guru untuk menyusun dan membina kegiatan belajar siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan maupun untuk individu. (Astuti, 2011).

  Siswa yang melaksanakan kegiatan belajar sudah pasti akan mendapat tambahan ilmu dan pengetahuan sesuai dengan yang ia pelajari saat itu hal ini senada dengan Keller dalam Abdurahman (2003) bahwa hasil belajar merupakan segala sesuatu yang dipandang sebagai keluaran dari suatu sistem pemrosesan berbagai masukan yang berupa informasi. Oleh karenanya belajar dapat dikatakan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh anak sebagai keluaran dari suatu sistem pemasukan data yang berupa sebuah informasi setelah melalui kegiatan belajar.

  Hasil belajar dapat dipengaruhi dari dalam diri anak maupun dari luar. Dari dalam diri anak yaitu kesiapan dan motivasi anak dalam menerima pelajaran, sedangkan dari luar adalah dari pergaulan anak dan cara guru menyampaikan materi pelajaran. Menurut Abdurahman

  (2003: 40) hasil belajar dapat dipengaruhi oleh (1) besarnya usaha yang dilakukan oleh anak ; (2) intelegensi dan penguasaan awal anak tentang materi yang akan dipelajari ; (3) adanya ulangan penguatan (reinforcement) yang diberikan oleh lingkungan sosial termasuk guru.

  Klasifikasi hasil belajar dari Bloom dalam Sudjana (2011) secara garis besar terbagi kedalam tiga ranah, yaitu : 1) Ranah kognitif

  Ranah kognitif adalah ranah yang berkaitan dengan hasil belajar intelektual. Dalam ranah kognitif terdiri dari enam aspek, yaitu (1) pengetahuan, merupakan tipe hasil belajar yang terendah. Namun, tipe hasil belajar ini menjadi prasyarat bagi tipe hasil belajar berikutnya. (2) Pemahaman, terdiri dari tiga kategori yaitu tingkat rendah adalah terjemahan, mulai dari terjemahan dalam arti yang sebenarnya. Tingkat dua adalah penafsiran, yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik atau kejadian. Tingkat tiga adalah pemahaman ekstrapolasi. (3) Aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi konkret atau situasi khusus. Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori atau petunjuk teknis. (4) Analisis, adalah usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas hierarkinya atau susunannya. Analisis merupakan tipe yang kompleks karena memanfaatkan kecakapan dari pengetahuan, pemahaman dan aplikasi. (5) Sintesis, yaitu menyatukan unsur-unsur atau bagian- bagian ke dalam bentuk menyeluruh. Berpikir sintetis merupakan salah satu pijakan untuk menjadikan siswa berpikir kritis. (6) Evaluasi, adalah pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari segi tujuan, gagasan, cara kerja, pemecahan, metode, materi dan lain-lain (Sudjana, 2011). 2) Ranah Afektif

  Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pelajaran,disiplin, motivasi belajar, menghargai guru dan teman sekelas, kebiasaan belajar dan hubungan sosial. Ada beberapa jenis kategori ranah afektif yaitu (1) reciving/ attending, yakni semacam kepekaan penerimaan rangsangan (stimulasi) dari luar yang datang kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Dalam tipe ini termasuk kesadaran, keinginan untuk menerima stimulus, kontrol dan seleksi gejala atau rangsangan dari luar, (2) responding atau jawaban, yakni reaksi yang diberikan oleh seseorang terhadap stimulasi yang datang dari luar. Hal ini mencangkup ketepatan reaksi, perasaan, kepuasan dalam menjawab stimulus dari luar yang datang kepada dirinya, (3) Valuing (penilaian), berkenaan dengan nilai dan kepercayaan terhadap gejala atau stimulus tadi. Dalam evaluasi ini termasuk di dalamnya kesediaan menerima nilai, latar belakang, atau pengalaman untuk menerima nilai dan kesepakatan terhadap nilai tersebut, (4) organisasi, yakni pengembangan dari nilai ke dalam satu system organisasi, termasuk hubungan satu nilai dengan nilai lain, pemantapan, dan prioritas nilai yang dimilikinya.

  Yang termasuk ke dalam organisasi ialah konsep tentang nilai, organisasi system nilai dan lain-lain, (5) Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yaitu keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya (Sudjana, 2011). 3) Ranah Psikomotoris

  Ranah psikomotoris adalah ranah yang berkaitan dengan bentuk keterampilan dan kemampuan bertindak individu. Ada enam tingkatan keterampilan, yakni (1) gerakan refleks (keterampilan pada gerakan tidak sadar), (2) keterampilan pada gerakan-gerakan dasar, (3) kemampuan perceptual, termasuk di dalamnya membedakan visual, membedakan auditif, motif dan lain-lain, (4) kemampuan di bidang fisik, misalnya kekuatan, keharmonisan, dan ketepatan, (5) gerakan-gerakan skill, mulai dari keterampilan sederhana sampai pada keterampilan yang kompleks, (6) kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non-decursive seperti gerakan ekspresif dan interpretative (Sudjana, 2011).

2.1.7 Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guided Discovery)

  a. Pengertian Model Penemuan Terbimbing (Guided Discovery) Penemuan adalah terjemahan dari discovery dan terbimbing adalah terjemahan dari guided, discovery adalah proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Proses mental tersebut adalah mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan dan sebagainya (Roestiyah, 2008). Menurut Bruner dalam Markaban (2008) penemuan adalah suatu proses, suatu jalan dan cara dalam mendekati permasalahan bukannya suatu produk atau item tertentu. Dengan demikian belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau situasi yang tampaknya ganjil sehingga siswa dapat mencari jalan pemecahan.

  Model pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery) adalah model mengajar yang mengatur pembelajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam model pembelajaran ini kegiatan atau pembelajaran dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep-konsep dan prinsip- prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip (Sulipan, 2011).

  Model pembelajaran penemuan terbimbing (guided

  

discovery ) menempatkan guru sebagai fasilitator, guru

  membimbing siswa sesuai dengan keperluan. Dalam pembelajaran ini, siswa didorong untuk berfikir sendiri , menganalisis sendiri, sehingga dapat menemukan prinsip umum berdasarkan bahan atau data yang telah disediakan guru. Hal ini senada dengan Purnomo et

  

al. (2011) bahwa dalam penemuan terbimbing guru hanya

  memberikan bimbingan sebagai penunjuk jalan bagi siswa dalam mempergunakan ide dan konsep untuk menemukan pengetahuan baru. Bimbingan diberikan sejauh kemampuan siswa terhadap materi yang sedang dipelajari sehingga dengan pembelajaran penemuan, siswa dihadapkan kepada situasi dimana siswa bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan.

  b. Langkah-Langkah yang dilakukan dalam Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing (Guided Discovery)

  Agar pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery) dapat berjalan dengan efektif, maka beberapa lanngkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut (Markaban, 2008) :

  1. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya. Perumusannya harus jelas, hindari pernyata yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah.

  2. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini, bimbingan sebaiknya mengarah siswa untuk melangkah kearah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan.

  3. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.

  4. Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat oleh siswa tersebut diatas diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.

  5. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya.

  6. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah penemuan itu benar.

  c. Pelaksanaan Pembelajaran Penemuan Terbimbing (guided

  discovery )

  Berdasarkan langkah-langkah dalam pembelajaran menggunakan model penemuan terbimbing (guided discovery) tersebut maka diperoleh rincian kegiatan pada setiap fasenya menurut Sholeh (2012) adalah sebagai berikut: Langkah 1 : Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya Pada tahap pertama ini guru sebelumnya telah menyiapkan materi yang sudah jelas perumusannya, guru juga harus menghindari pertanyaan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang ditempuh siswa tidak salah. Langkah 2 : Siswa menyusun, memproses, mengorganisisr, dan menganalisis data tersebut

  Pada kegiatan ini peran guru hanya memberikan bimbingan sejauh yang diperlukan siswa. Pada bimbingan ini guru mengarahkan siswa untuk melangkah kearah yang akan dituju melalui pertanyaan-pertannyaan dan LKS

  Langkah 3 : Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya Dalam hal ini guru mempersilahkan siswa untuk menentukan prakiraan dari hasil analisis yang dilakukan. Langkah 4 : Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa tersebut di atas diperiksa oleh guru

  Pada tahap ini guru memeriksa konjektur-konjektur yang telah dibuat siswa apakah sudah sesuai dengan jalan atau melenceng. Langkah 5 : Penyusunan verbalisasi konjektur

  Pada tahap ini guru mempersilahkan siswa untuk menyusun konjektur yang ada menjadi sebuah kesimpulan

  Langkah 6 : Menyiapkan soal latihan atau soal tambahan untuk memeriksa apakah hasil penemuan itu benar Tahap akhir pembelajaran ini, guru memberikan beberapa soal tambahan, bersama siswa mengoreksi hasil karya, mengevaluasi, membimbing siswa menyimpulkan materi serta memberikan soal-soal untuk dikerjakan di rumah.

  d. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Penemuan Terbimbing (guided discovery)

  Memperhatikan langkah dan pelaksanaan model pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery) tersebut maka dapat disebutkan kelebihan dan kelemahan sebagai berikut :

  1. Kelebihan model pembelajaran penemuan terbimbing (guided )

  discovery

  a) Siswa dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran yang disajikan b) Menumbuhkan sekaligus menanamkan sikap inquiry (mencari-menemukan)

  c) Mendukung kemampuan problem solving siswa

  d) Memberikan wahana interaksi antar siswa, maupun siswa dengan guru e) Materi yang dipelajari dapat mencapai tingkat kemampuan yang tinggi dan lebih lama membekas karena siswa dilibatkan dalam proses menemukannya. (Marzano dalam Markaban, 2011).

  2. Kelemahan model pembelajaran penemuan terbimbing (guided

  discovery )

  a) Untuk materi tertentu, waktu yang tersita lebih lama

  b) Tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan cara ini, hal ini dikarenakan pada faktanya beberapa siswa masih terbiasa dan lebih mudah mengerti dengan metode ceramah c) Tidak semua topik cocok disampaikan dengan metode ini

2.2 Hasil Penelitian Terkait

  1. Penelitian Sholeh (2012) yang mengkaji tentang upaya meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa melalui pembelajaran guided discovery (penemuan terbimbing) yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa kelas VIII D SMP Negeri 4 Banyumas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran penemuan terbimbing (guided discovery) dapat meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa.

  2. Penelitian oleh Jumirah (2012) yang mengkaji tentang hasil belajar IPA tentang bagian-bagian tumbuhan melalui pendekatan pemanfaatan lingkungan menggunakan metode penemuan terbimbing (discovery) di kelas IV SDN 01 Karangasem Purbalinggga. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan pembelajaran IPA kelas IV dan hasil penelitian menunjukkan bahwa penemuan terbimbing memberikan dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus.

  3. Penelitian oleh Neti (2012) yang mengkaji tentang upaya meningkatkan hasil belajar IPA siswa materi sifat, wujud dan kegunaan benda melalui metode penemuan terbimbing siswa kelas IV SD Negeri 1 Brobot. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran IPA dan hasil dari penelitian adalah meningkatnya hasil belajar siswa dalam aspek kognitif, afektif dan psikomotor.

  4. Penelitian oleh Jannah (2009) yang mengkaji tentang peningkatan kreativitas belajar siswa melalui pembelajaran penemuan terbimbing pokok bahasan lingkaran kelas VIII B SMP Muhammadiyah Bumiayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kreativitas siswa yang ditandai dengan meningkatnya prestasi belajar siswa.


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1627 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 421 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 381 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 237 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 347 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 488 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 437 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 277 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 446 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 514 23