Konsep Manusia dalam Islam. docx

Konsep Manusia dalam Islam
1.
Pengertian Manusia dalam Alqur’an
Quraish Shihab mengutip dari Alexis Carrel dalam “Man the Unknown”, bahwa banyak
kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat manusia, karena keterbatasan-keterbatasan
manusia sendiri.
Istilah kunci yang digunakan Al-Qur’an untuk menunjuk pada pengertian manusia
menggunakan kata-kata basyar, al-insan, dan an-nas.
Kata basyar disebut dalam Al-Qur’an 27 kali. Kata basyar menunjuk pada pengertian
manusia sebagai makhluk biologis (QS Ali ‘Imran [3]:47) tegasnya memberi pengertian kepada
sifat biologis manusia, seperti makan, minum, hubungan seksual dan lain-lain.
Kata al-insan dituturkan sampai 65 kali dalamAl-Qur’an yang dapat dikelompokkan dalam
tiga kategori. Pertama al-insan dihubungkan dengan khalifah sebagai penanggung amanah (QS
Al-Ahzab [3]:72), kedua al-insan dihubungankan dengan predisposisi negatif dalam diri manusia
misalnya sifat keluh kesah, kikir (QS Al-Ma’arij [70]:19-21) dan ketiga al-insan dihubungkan
dengan proses penciptaannya yang terdiri dari unsur materi dan nonmateri (QS Al-Hijr [15]:2829). Semua konteks al-insan ini menunjuk pada sifat-sifat manusia psikologis dan spiritual.
Kata an-nas yang disebut sebanyak 240 dalam Al-Qur’an mengacu kepada manusia
sebagai makhluk sosial dengan karateristik tertentu misalnya mereka mengaku beriman padahal
sebenarnya tidak (QS Al-Baqarah [2]:8)1[1]
Dari uraian ketiga makna untuk manusia tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia
adalah mahkluk biologis, psikologis dan sosial. Ketiganya harus dikembangkan dan diperhatikan
hak maupun kewajibannya secara seimbang dan selalu berada dalam hukum-hukum yang
berlaku (sunnatullah).2[2]
Al-Qur’an memandang manusia sebagaimana fitrahnya yang suci dan mulia, bukan
sebagai manusia yang kotor dan penuh dosa. Peristiwa yang menimpa Nabi Adam sebagai cikal
bakal manusia, yang melakukan dosa dengan melanggar larangan Tuhan, mengakibatkan Adam
dan istrinya diturunkan dari surga, tidak bisa dijadikan argumen bahwa manusia pada hakikatnya
adalah pembawa dosa turunan. Al-Quran justru memuliakan manusia sebagai makhluk surgawi
yang sedang dalam perjalanan menuju suatu kehidupan spiritual yang suci dan abadi di negeri
1
2

akhirat, meski dia harus melewati rintangan dan cobaan dengan beban dosa saat melakukan
kesalahan di dalam hidupnya di dunia ini. Bahkan manusia diisyaratkan sebagai makhluk
spiritual yang sifat aslinya adalah berpembawaan baik (positif, haniif).
Karena itu, kualitas, hakikat, fitrah, kesejatian manusia adalah baik, benar, dan indah.
Tidak ada makhluk di dunia ini yang memiliki kualitas dan kesejatian semulia itu. Sungguhpun
demikian, harus diakui bahwa kualitas dan hakikat baik benar dan indah itu selalu
mengisyaratkan

dilema-dilema

dalam

proses

pencapaiannya.

Artinya,

hal

tersebut

mengisyaratkan sebuah proses perjuangan yang amat berat untuk bisa menyandang predikat
seagung itu. Sebab didalam hidup manusia selalu dihadapkan pada dua tantangan moral yang
saling mengalahkan satu sama lain. Karena itu, kualitas sebaliknya yaitu buruk, salah, dan jelek
selalu menjadi batu sandungan bagi manusia untuk meraih prestasi sebagai manusia
berkualitas mutaqqin di atas.
Gambaran al-Qur’an tentang kualitas dan hakikat manusia di atas megingatkan kita pada
teori superego yang dikemukakan oleh sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisa kenamaan yang
pendapatnya banyak dijadika rujukan tatkala orang berbicara tentang kualitas jiwa manusia.
Menurut Freud, superego selalu mendampingi ego. Jika ego yang mempunyai berbagai
tenaga pendorong yang sangat kuat dan vital (libido bitalis), sehingga penyaluran
dorongan ego (nafsu
melalui superego (nafsu

lawwamah/nafsu

buruk)

muthmainnah/nafsu

baik).

tidak

mudah

menempuh

jalan

Karena superego (nafsu muthmainnah)

berfungsi sebagai badan sensor atau pengendali ego manusia. Sebaliknya, superego pun sewaktuwaktu bisa memberikan justifikasi terhadap ego manakala instink, intuisi, dan intelegensi –
ditambah dengan petunjuk wahyu bagi orang beragama– bekerja secara matang dan integral.
Artinya superego bisa memberikan pembenaran pada ego manakala ego bekerja ke arah yang
positif. Ego yang liar dan tak terkendali adalah ego yang negatif, ego yang merusak kualitas dan
hakikat manusia itu sendiri.

2.

Tujuan Penciptaan Manusia

Kata “Abdi” berasal dari kata bahasa Arab yang artinya “memperhambakan diri”, ibadah
(mengabdi/memperhambakan diri). Manusia diciptakan oleh Allah agar ia beribadah kepadaNya. Pengertian ibadah di sini tidak sesempit pengertian ibadah yang dianut oleh masyarakat
pada umumnya, yakni kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji tetapi seluas pengertian
yang dikandung oleh kata memperhambakan dirinya sebagai hamba Allah. Berbuat sesuai
dengan kehendak dan kesukaann (ridha) Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya.3[3]
3.

Fungsi dan Kedudukan Manusia
Sebagai orang yang beriman kepada Allah, segala pernyataan yang keluar dari mulut
tentunya dapat tersingkap dengan jelas dan lugas lewat kitab suci Al-Qur’an sebagai satu kitab
yang abadi. Dia menjelaskan bahwa Allah menjadikan manusia itu agar ia menjadi khalifah
(pemimpin) di atas bumi ini dan kedudukan ini sudah tampak jelas pada diri Adam (QS AlAn’am [6]:165 dan QS Al-Baqarah [2]:30) di sisi Allah menganugerahkan kepada manusia
segala yang ada dibumi, semula itu untuk kepentingan manusia (ia menciptakan untukmu
seluruh apa yang ada dibumi ini. QS Al-Baqarah [2]:29). Maka sebagai tanggung jawab
kekhalifahan dan tugas utama umat manusia sebagai makhluk Allah, ia harus selalu
menghambakan dirinyakepada Allah Swt.
Untuk mempertahankan posisi manusia tersebut, Tuhan menjadikan alam ini lebih rendah
martabatnya daripada manusia. Oleh karena itu, manusia diarahkan Tuhan agar tidak tunduk
kepada alam, gejala alam (QS Al-Jatsiah [45]:13) melainkan hanya tunduk kepada-Nya saja
sebagai hamba Allah (QS Al-Dzarait [51]:56). Manusia harus menaklukanya, dengan kata lain
manusia harus membebaskan dirinya dari mensakralkan atau menuhankan alam.
Jadi dari uraian tersebut diatas bisa ditarik kesimpulan secara singkat bahwa manusia
hakikatnya adalah makhluk biologis, psikolsogi dan sosial yang memiliki dua predikat statusnya
dihadapan Allah sebagai Hamba Allah (QS Al-Dzarait [51]:56) dan fungsinya didunia sebagai
khalifah Allah (QS Al-Baqarah [2]:30); al-An’am [6]:165), mengantur alam dan mengelolanya
untuk mencapai kesejahteraan kehidupan manusia itu sendiri dalam masyarakat dengan tetap
tunduk dan patuh kepada sunnatullah.

4.

Hakekat Manusia Menurut Al-Qur’an
3

Hakekat manusia adalah sebagai berikut :
a.

Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi

b.

kebutuhan-kebutuhannya.
Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan
sosial.yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan

c.

mengontrol dirinya serta mampu menentukan nasibnya.
Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai

d.

(tuntas) selama hidupnya.
Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya

e.

sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan

f.
g.

potensi yang tak terbatas
Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak
bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan

h.

sosial.
Makhluk yang berfikir. Berfikir adalah bertanya, bertanya berarti mencari jawaban, mencari
jwaban berarti mencari kebenaran.4[4]

5.

Hakekat Manusia (Menurut Islam - Mohammad Sholihuddin, M.HI)
Manusia terdiri dari sekumpulan organ tubuh, zat kimia, dan unsur biologis yang
semuanya itu terdiri dari zat dan materi Secara Spiritual manusia adalah roh atau jiwa. Secara
Dualisme manusia terdiri dari dua subtansi, yaitu jasmani dann ruhani (Jasad dan roh). Potensi
dasar manusia menurut jasmani ialah kemampuan untuk bergerak dalam ruang yang
bagaimanapun, di darat, laut maupun udara. Dan jika dari Ruhani, manusia mempunyai akal dan
hati untuk berfikir (kognitif), rasa (affektif), dan perilaku (psikomotorik). Manusia diciptakan
dengan untuk mempunyai kecerdasan.5[5]

B.

Konsep Agama

1.

Pengertian Agama

4
5

Kata agama dalam bahasa Indonesia berarti sama dengan “din” dalam bahasa Arab dan
Semit, atau dalam bahasa Inggris “religion”. Dari arti bahasa (etimologi) agama berasal dari
bahasa Sansekerta yang berarti tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun temurun. Sedangkan
kata “din” menyandang arti antara lain menguasai, memudahkan, patuh, utang, balasan atau
kebiasaan.6[6]
Secara istilah (terminologi) agama, seperti ditulis oleh Anshari bahwa walaupun agama,
din, religion, masing-masing mempunyai arti etimologi sendiri-sendiri, mempunyai riwayat dan
sejarahnya sendiri-sendiri, namun dalam pengertian teknis terminologis ketiga istilah tersebut
mempunyai makna yang sama, yaitu:
a.

Agama, din, religion adalah satu sistem credo (tata keimanan atau tata keyakinan) atas adanya
Yang Maha Mutlak diluar diri manusia;

b.

Agama juga adalah sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya Maha
Mutlak tersebut.

c.

Di samping merupakan satu sistema credo dan satu sistema ritus, agama juga adalah satu sistem
norma (tata kaidah atau tata aturan) yang mengatur hubungan manusia sesama manusia dan
hubungan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata
peribadatan termaktub diatas.
Menurut Durkheim Durkheim: agama merupakan sebuah sistem kepercayaan dan ritual
yang berkaitan dengan yang suci (the sacred). Bagi Spencer, agama adalah kepercayaan terhadap
sesuatu yang Maha Mutlak. Sementara Dewey, menyatakan bahwa agama adalah pencarian
manusia terhadap cita-cita umum dan abadi meskipun dihadapkan pada tantangan yang dapat
mengancam jiwanya; agama adalah pengenalan manusia terhadap kekuatan gaib yang hebat. Rita
Smith Kipp dan Susan Rodgers: agama harus (1) monoteistik, (2) mempunyai kitab, (3)
mempunyai nabi, dan (4) mempunyai komunitas internasional.7[7]
Dengan demikian, mengikuti pendapat Smith, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa
hingga saaat ini belum ada definisi agama yang benar dan dapat ditarima secara universal.8[8]

2.

Syarat-Syarat Agama
6
7
8

a.
b.
c.
d.
e.

Percaya dengan adanya Tuhan
Mempunyai kitab suci sebagai pandangan hidup umat-umatnya
Mempunyai tempat suci
Mempunyai Nabi atau orang suci sebagai panutan
Mempunyai hari raya keagamaan

3.

Unsur-Unsur Agama
Menurut Leight, Keller dan Calhoun, agama terdiri dari beberapa unsur pokok:

a.

Kepercayaan agama, yakni suatu prinsip yang dianggap benar tanpa ada keraguan lagi

b.

Simbol agama, yakni identitas agama yang dianut umatnya.

c.

Praktik keagamaan, yakni hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan-Nya, dan hubungan
horizontal atau hubungan antarumat beragama sesuai dengan ajaran agama.

d.

Pengalaman keagamaan, yakni berbagai bentuk pengalaman keagamaan yang dialami oleh
penganut-penganut secara pribadi.

e.

Umat beragama, yakni penganut masing-masing agama

4.

Fungsi Agama

5.



Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok



Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.



Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah



Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan



Pedoman perasaan keyakinan



Pedoman keberadaan



Pengungkapan estetika (keindahan)



Pedoman rekreasi dan hiburan



Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.9[9]

Karakteristik Agama
Karakteristik agama dalam kehidupan manusia seperti halnya bangunan yang sempurna.
Seperti dalam salah satu sabda nabi Muhammmad, bahwa beliau adalah penyempurna bangunan
agama tauhid yang telah dibawa oleh para nabi dan rasul sebelum kedatangan beliau.

9

Layaknya sebuah bangunan agamapun harus memiliki rangka yang kokoh, tegas, dan
jelas. Rangka yang baik adalah rangka yang menguatkan bangunan yang akan dibangun di
atasnya. Memiliki ukuran yang simetris satu sama lainnya. Komposisi bahan yang tepat karena
berperan sebagai penopang. Oleh sebab itu, kerangka harus memiliki luas yang cukup atau
memiliki perbandingan yang sesuai dengan bangunannnya. Itulah sebaik-baiknya agama dengan
demikian agama pada dasarnya berperan sebagai pedoman kehidupan manusia, untuk menjalani
kehidupannya dibumi. Manusia akan kehilangan pedoman atau pegangan dalam menjalani
kehidupan di dunia bila tidak berpedoman pada agama. Dewasa ini agama mengalami beralih
dan berpedoman kepada akal logikanya. Padahal akal dan logika manusia memiliki keterbatasan
yaitu keterbatasan melihat masa depan. Sedangkan agama telah disusun sedemikian rupa oleh
sang pencipta agar menjadi pedoman sepanjang hayat manusia. Akibat dari skularisme ini
menimbulkan gaya hidup baru bagi kaum muslim yakni gaya hidup hedomisme dan pragmatis.
Adapun karakteristik agama pada umumnya adalah sebagai berikut:
a.

Agama adalah suatu sistem tauhid atau sistem ketuhanan (keyakinan) terhadap eksistensi suatu
yang absolute (mutlak), diluar diri manusia yang merupakan pangkal pertama dari segala sesuatu
termasuk dunia dengan segala isinya.

b.

Agama merupakan sistem ritual atau peribadatan (penyembahan) dari manusia kepada suatu
yang absolut.

c.

Agama adalah suatu sistem nilai atau norma (kaidah) yang menjadi pola hubungan manusiawi
antara sesama manusia dan pola hubungan dengan ciptaan lainnya dari yang absolut.

C. Perlunya Manusia Terhadap Agama
Sekurang-kurangnnya ada tiga alasan yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap
agama. Ketiga alasan tersebut secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:10[10]

1.

Latar belakang Fitra manusia
Kenyataan manusia memiliki fitrah keagamaan pertama kali ditegaskan dalam ajaran
Islam, yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia. Sebelumnya, manusia belum
mengenal kenyataan ini. Baru di masa akhir-akhir ini, muncul beberapa orang yang menyerukan
dan mempopulerkannya. Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang
10

melatarbelakangi perlunya manusia pada agama. Oleh karenanya, ketika datang wahyu Tuhan
yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan tersebut memang amat sejalan dengan
fitrahnya itu. Dalam ajaran Islam dijelaskan bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia.
Dalam Surat al-Rum, 30: 30

‫عل هييهها‬
‫هفأ هتقيم هويجهههك تللتنديتن هحتنيففا تفيطهرهة الل ن هته ال ن هتتي هفهطهر ال نهناهس ه‬
“ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu”
Adanya potensi fitrah beragama yang terdapat pada manusia tersebut dapat pula dianalisis
dari istilah insan yang digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan manusia. Menurut Musa
Asy’ari, bahwa manusia insane adalah manusia yang menerima pelajaran dari tentang apa yang
tidak diketahuinya
Adanya perjanjian manusia dengan Allah yang telah diikat oleh fitrah mereka. Kenyataan
manusia memiliki fitrah keagamaan tersebut diatas, buat pertama kalinya ditegaskan dalam
ajaran Islam Yakni bahwa agama adalah kebutuhan fitrah manusia.
Informasi mengenai potensi beragama dimiliki manusia itu dapat dijumpai pada ayat alQur'an (surat al-A'raf ayat 172)

‫ت‬
‫هوتإيذ أ ه ه‬
‫عهلى أ هن يتفتستهيم أ هل هيس ت‬
‫خهذ هربنتهك تمين بهتني آهدهم تمين تظتهوترتهيم تذتنرين هتهتهيم هوأ هيشهههدتهيم ه‬
‫غاتفتليهن‬
‫عين هههذا ه‬
‫تبهر تبنك تيم هقاتلوا بههلى هشتهيدهنا أ هين تهتقوتلوا يهيوهم ال يتقهياهمتة تإ نهنا ك ت نهنا ه‬
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini
Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami
lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami
(bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Berdasarkan informasi tersebut terlihat dengan jelas bahwa manusia secara fitri merupakan
makhluk yang memiliki kemampuan untuk beragama. Hal demikian sejalan dengan petunjuk
nabi dalam salah satu hadisnya yang mengatakan bawha setiap anak yang dilahirkan memiliki

fitrah (potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi
Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Bukti bahwa manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi beragama ini dapat dilihat
melalui bukti historis dan antropologis. Melalui bukti-bukti historis dan antropologis kita
mengetahui bahwa pada manusia primitif yang kepadanya tidak pernah datang informasi
mengenai Tuhan, ternyata mereka mempercayai adanya Tuhan, sungguhpun Tuhan yang mereka
percayai itu terbatas pada daya khayalnya. Misalnya saja, mereka mempertuhankan benda-benda
alam yang menimbulkan kesan misterius dan mengagumkan serta memiliki kekuatan yang
selanjutnya mereka jadikan Tuhan, kemudian kepercayaan ini disebut dengan dinamisme.
Selanjutnya, kekuatan misterius tersebut mereka ganti istilahnya dengan ruh atau jiwa yang
memiliki karakter dan kecenderungan baik dan buruk yang selanjutnya mereka beri nama agama
animisme. Roh dan jiwa itu selanjutnya mereka personifikasikan dalam bentuk dewa yang
jumlahnya banyak dan selanjutnya disebut agama politeisme. Kenyataan ini menunjukkan bahwa
manusia memiliki potensi bertuhan. Namun karena potensi tersebut tidak diarahkan, maka
mengambil bentuk bermacam-macam yang keadaanya serba relatif. Dalam keadaan demikian
itulah para nabi diutus kepada mereka untuk menginformasikan bahwa Tuhan yang mereka cari
itu adalah Allah yang memiliki sifat-sifat sebagaimana juga dinyatakan dalam agama yang
disampaikan para nabi. Dengan demikian, sebutan Allah bagi Tuhan bukanlah hasil khayalan
manusia dan bukan pula hasil seminar, penelitian, dan sebagainya. Sebutan atau nama Allah bagi
Tuhan adalah disampaikan oleh Tuhan sendiri.
Ketika kita mengkaji paham hulul dari Al-Hallaj (858-922 M). Misalnya kita jumpai
pendapatnya bahwa pada diri manusia terdapat sifat dasar ke-Tuhanan yang disebut lahut, dan
sifat dasar kemanusiaan yang disebut nasut. Demikian pula pada diri Tuhan pun terdapat sifat
lahut dan nasut. Sifat lahut Tuhan mengacu pada dzat-Nya, sedangkan sifat nasut Tuhan
mengacu pada sifat-Nya. Sementara itu sifat nasut manusia mengacu kepada unsur lahiriah dan
fisik manusia, sedangkan sifat lahut manusia mengacu kepada unsur batiniah dan Ilahiah. Jika
manusia mampu meredam sifat nasutnya maka yang tampak adalah sifat lahutnya. Dalam
keadaan demikian terjadilah pertemuan anatara nasut Tuhan dengan lahut manusia, dan inilah
yang dinamakan hulul.

2.

Kelemahan dan kekuarangan manusia

Faktor lain yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adala karena di samping
manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan. Hal ini antara lain
diungkapkan oleh kata an-nafs. Menurut Quraish Shihab, bahwa dalam pandangan al-qur’an,
nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna yang berfungsi menampung serta mendorong
manusia berbuat kebaikan dan keburukan, dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh alqur’an dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar. Seperti yang tertera dalam al-qur’an surat
Al-Syams ayat 7-8:

o ‫هون هيفسس هوهما هس نهواهها‬
o ‫جوهرهها هوتهقيهواهها‬
‫هفأ هل يهههمهها تف ت‬

”dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Asy-Syams, 91:7-8)

Menurut Quraish Shihab bahwa kata mengilhamkan berarti potensi agar manusia
melalui nafs menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan
kebaikan dan keburukan. Tetapi kata nafs dalam pandangan kaum sufi merupakan sesuatu yang
melahirkan sifat tercela dan periaku buruk. Pengertian kaum sufi tentang nafs ini sama dengan
yag terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indoneisa yang antara lain menjelaskan bahwa nafs
adalah dorongan hati yang kuat untuk berbuat yang kurang baik. Selanjutnya, Quraish Shihab
mengatakan, walaupun al-qur’an menegaskan bahwa nafs berpotensi positif dan negatif, namun
doperoleh pula isyarat bahwa pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat daripada daya
tarik negatifnya, hanya aja daya tarik keburukan lebih kuat daripada daya tarik kebaikan. Untuk
menjaga kesucian nafs ini manusia harus selalu mendekatkan diri pada Tuhan dengan bimbingan
agama, dan di sinilah letaknya kebutuhan manusia terhadap agama.

3.

Tantangan manusia
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia
dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang dari dalam
maupun dari luar. Tantangan dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan,
sedangkan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia
yang secara sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dari Tuhan. Mereka dengan rela
mengeluarkan biaya, tenaga, dan pikiran yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk

kebudayaan yang di dalamnya mengandung misi menjauhkan manusia dari Tuhan. Tantangan
dari dalam dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan. Lihat Surat Al-Isra’ ayat 53.

‫غ بهي ين هتهيم تإ نهن ال نهشييهطاهن‬
‫هوتقيل لتتعهباتدي ي هتقوتلوا ال ن هتتي تههي أ هيحهستن تإ نهن ال ن هشي يهطاهن يهن يهز ت‬
‫عتد ن فوا تمتبيفنا‬
‫هكاهن تللن يهساتن ه‬
Artinya: Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: " Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang
lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.
Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia
Sementara tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan
manusia yang secara sengaja berupaya ingin memalingkan manusia dati Tuhan . Seperti yang
tertera dalam al-qur’an surat Al-anfal ayat 36:

‫عين هستبيتل ال نهله‬
‫تإ ن هن ال نهتذيهن ك ههفتروا يتن يتفتقوهن أ هيمهوال هتهيم لتي هتص نتدوا ه‬

Artinnya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi
(orang) dari jalan Allah.”

Untuk itu, upaya mengatasi dan membentengi manusia adalah dengan mengajar mereka
agar taat menjalankan agama. Godaan dan tantangan hidup demikian itu, saat ini semakin
meningkat, sehinga upaya mengagamakan masyarakat menjadi penting.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru