Narcissism di media sosial Dari penyakit

Narcissism di media sosial: Dari penyakit hati hingga perilaku
Oleh: Rizka Fitri Nugraheni
In this narcissistic age, we often pay attention to those who announce their glory
and take all of the credit for themselves. Promote yourself, trumpet your achievements,
and success will follow (Di era narcissistic ini, kita sering memperhatikan mereka yang
mengumumkan kebanggaan dan pujian untuk diri mereka sendiri. Meninggikan diri
sendiri, berkoar-koar mengenai prestasi, dan kesuksesan akan mengikuti) (Twenge1,
2010).
Ada benarnya pernyataan Twenge (2010), yang cukup menggambarkan
masyarakat dalam menggunakan media sosial di era narcissistic seperti ini. Rasanya ada
yang kurang jika belum ada publikasi di media sosial, foto-foto diri belum di-upload
atau belum mendapatkan comment yang positif dari orang lain. Akibatnya,
pemandangan orang yang sering update status walaupun kurang penting, upload fotofoto selfie, dan aktivitas sejenisnya untuk memamerkan diri di hadapan publik, menjadi
hal yang biasa. Melihat realita tersebut, penulis bertanya-tanya apa yang terjadi dengan
para pengguna jejaring sosial di masa ini ?
Perilaku narcissistic di Media Sosial
Saat ini media sosial sebagai ruang publik sangat memfasilitasi keinginan para
pengguna untuk dapat mengekspresikan diri di hadapan banyak orang dalam satu waktu.
Contohnya, update status galau di Line, mempublikasikan lokasi makan siang (checkin) di Foursqure, upload foto selfie di Instagram, bahkan mengumumkan jam tidur di
Path. Aktivitas semacam itu sangat mudah dilakukan dan sudah menjadi hal umum
yang dilakukan masyarakat. Perilaku mengekspresikan diri seperti itu dapat
digolongkan sebagai contoh perilaku narcissistic jika dilakukan dengan maksud
mempertahankan atau meninggikan citra positif diri sendiri di hadapan orang lain.
1

Jean M. Twenge, Ph.D. adalah peneliti dari San Diego State University. Banyak di antara karyanya yang membahas isu narcissism

dan generasi muda.

Sudah terdapat berbagai penelitian yang membahas narcissism pada pengguna
media sosial. Salah satunya adalah temuan Bergman, Fearrington, Davenport, dan
Bergman (2011), yaitu terdapat hubungan antara tingginya kecenderungan narcissism
dan banyaknya foto terfokus pada diri sendiri yang di-upload. Perilaku narcissism juga

1

berhubungan dengan frekuensi update status (Ong, Ang, Ho, Lim, Goh, Lee, & Chua,
2010; Carpenter, 2012), seberapa sering individu mengecek Facebook untuk melihat
apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya (Carpenter, 2012), serta frekuensi checkin (Wang & Stefanone, 2013).
Narcissism tidak hanya berupa perilaku eksplisit individu dalam menggunakan
jejaring sosial, tapi juga dapat berupa pikiran-pikiran yang muncul dalam benak
seseorang. Bergman, Fearrington, Davenport, dan Bergman (2011) menyatakan bahwa
individu yang narcissistic ingin agar orang lain mengetahui aktivitas yang telah
dilakukan dan yakin bahwa mereka tertarik dengan aktivitas itu. Temuan ini dapat
menjadi landasan alasan orang-orang yang narcissistic mudah sekali mempublikasikan
kegiatan yang telah, atau bahkan sedang dilakukan. Dibandingkan dengan orang yang
tidak narcissistic, orang narcissistic juga menilai foto-foto diri mereka dengan nilai
yang tinggi, seperti lebih menarik dan keren (Ong, Ang, Ho, Lim, Goh, Lee, & Chua,
2010).
Perilaku-perilaku narcissistic menjadi tren generasi muda saat ini, seperti yang
diungkapkan oleh temuan Twenge dan Foster (2010), bahwa terjadi peningkatan
narcissism dari tahun ke tahun pada mahasiswa. Serupa dengan sebelumnya, Roberts,
Edmonds, dan Grijalva (2010) mengungkapkan bahwa narcissism di kalangan
mahasiswa sebagai generasi muda, cenderung lebih tinggi daripada orang tua, kakek,
dan nenek mereka. Temuan Twenge dan Foster (2010); Roberts, Edmonds, serta
Grijalva (2010) mengungkapkan bahwa narcissism semakin menjadi hal biasa di
kalangan anak muda saat ini.
Maraknya fenomena narcissism membuat penulis terdorong untuk mencari tahu
lebih banyak mengenai apa itu narcissism. Konsep-konsep dasar mengenai narcissism
akan dibahas sebagai berikut.
Apa itu Narcissism ?
Narcissism dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempertahankan citra diri
yang positif dengan berbagai usaha (Pincus et al., 2009). Terdapat dua jenis narcissism,
yaitu normal dan pathological narcissism. Normal narcissism biasanya dibahas dalam
ranah penelitian psikologi sosial dan kepribadian dalam populasi normal sehingga
terkadang juga disebut sebagai trait narcissism. Pathological narcissism merupakan

2

ranah psikologi klinis yang biasanya menggunakan assessment dan diagnosis gangguan
mental. Pembahasan dalam tulisan ini akan terfokus pada normal narcissism mengingat
perilaku narcissistic yang dimaksud ada dalam populasi normal.
Salah satu alat ukur yang digunakan untuk melihat trait narcissism adalah
Narcissistic Personality Inventory (NPI). NPI pada awalnya disusun oleh Raskin dan
Hall (1979) untuk mengukur perbedaan narcissism pada individu dalam populasi nonklinis, kemudian direvisi oleh Raskin dan Terry pada tahun 1988 yang menyusun NPI
sebanyak 40 item sehingga dinamakan NPI-40. Meskipun begitu, NPI-40 masih
digunakan pada penelitian terkini, seperti Holtzman, Vazire, dan Mehl (2010); Twenge
dan Foster (2010); dan Bergman, Fearrington, Davenport, serta Bergman (2011).
Penggunaan alat ukur ini pada penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa NPI-40
masih relevan untuk mengukur narcissism.
Berbagai analisis oleh para peneliti juga telah dilakukan pada NPI-40, salah
satunya adalah Ackerman et al. (2011) yang mengklasifikasikan narcissism dalam tiga
komponen,

yaitu

entitlement/exploitativeness.

leadership/authority,
Item-item

yang

grandiose/exhibitionism,
termasuk

dalam

dan

komponen

leadership/authority meliputi gambaran tentang persepsi individu terhadap kemampuan
dirinya dalam memimpin dan daya dominasi. Komponen grandiose/exhibitionism
mewakili karakteristik seperti sibuk memperhatikan diri sendiri, bangga terhadap
kualitas diri, memamerkan kualitas dirinya, dan merasa superior terhadap orang lain.
Berbeda

dengan

sebelumnya,

komponen

entitlement/exploitativeness

mewakili

karakteristik individu dalam konteks hubungan interpersonal, seperti kecenderungan
untuk memanfaatkan dan mendapatkan rasa hormat dari orang lain. Komponen
leadership/authority cenderung bersifat tidak merugikan individu, sedangkan komponen
grandiose/exhibitionism dan entitlement/exploitativeness dapat mengarahkan individu
pada perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Karakteristik individu yang tergambarkan dalam NPI dianggap normal dalam
pandangan psikologi kontemporer. Seseorang dianggap tidak bermasalah ketika merasa
bangga atas kebaikan dirinya dan merasa lebih baik daripada orang lain. Tidak masalah
juga ketika memamerkan kebaikan itu pada orang lain melalui kecanggihan jejaring
sosial yang bersifat publik karena sangat mengharapkan pujian. Tidak menjadi
persoalan ketika hubungan dengan teman hanya dimanfaatkan sebatas alat untuk jaga

3

image. Namun, apakah kita sebagai muslim memiliki sikap yang sama ? Bagaimana
Islam memandang narcissism ?
Penyakit Hati dalam Narcissism
Pembahasan ilmu psikologi kontemporer mencakup perilaku yang dapat
diobservasi secara langsung dan proses mental yang meliputi kognisi, emosi, serta motif
(King, 2011). Psikologi kontemporer dengan worldview Barat cenderung bersifat
sekuler (Al-Attas, 2011), akibatnya hati sebagai entitas metafisik tidak dianggap sebagai
unsur penting yang membentuk perilaku manusia. Kehidupan manusia dilepaskan dari
aspek Ilahiah sehingga hati terasa jauh dari Allah. Padahal, secara fitrah hati manusia
ingin selalu dekat dengan-Nya. Apa akibatnya jika hati manusia jauh dari Allah ?
Berikut terdapat hadits dari Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wassalam:
“Sesungguhnya setan meletakkan belalainya di hati anak Adam. Jika anak Adam ini
mengingat Allah, setan akan bersembunyi. Jika melupakan Allah, setan akan membisiki
hatinya” (dalam Al-Yamani, 2012).
Kelalaian manusia untuk mengingat Allah menandakan jauhnya hati dari-Nya.
Kualitas hati seperti itu menjadikannya rentan terhadap bisikan setan. Bisikan setan lah
yang membuat hati manusia tidak tenang. Keresahan hati berpotensi memunculkan
penyakit yang hinggap di hati manusia dan akhirnya termanifestasikan dalam perilaku.
Pembahasan tersebut mengenai peran hati yang berpengaruh pada perilaku tidak
tercakup dalam paradigm psikologi kontemporer. Sebaliknya Islam memandang hati
memiliki peran yang krusial, sebagaimana Al-Ghazali (2011) yang menganalogikan hati
sebagai raja dalam kerajaan tubuh manusia. Keadaan hati akan berpengaruh pada
kondisi seluruh elemen tubuh manusia, baik yang fisik maupun metafisik. Jika hati
sehat, mental dan perilaku manusia akan sehat. Jika hati berpenyakit, komponen lain
juga akan bermasalah. Berikut adalah beberapa contoh penyakit hati, yaitu ‘ujub, riya’,
dan takabur berserta manifestasinya berupa pikiran dan perasaan.
Hati yang lupa bahwa Allah Maha Pemberi cenderung rentan dengan penyakit
‘ujub. ‘Ujub adalah perasaan bangga terhadap kebaikan yang ada pada dirinya dengan
melupakan Allah sebagai pemberi kebaikan tersebut (Al-Ghazali, 2012a). Setan
membisiki hati manusia, bahwa kesehatan, kecerdasan, kesuksesan, kekayaan, bahkan
keshalehan adalah hasil dari usahanya sehingga perlu dibanggakan. Seseorang dengan
penyakit ini akan berpikir bahwa dia sehat semata karena menjaga tubuhnya dengan
baik, cerdas hanya karena hanya giat belajar, sukses karena usaha yang sungguh4

sungguh saja, kaya karena semata kerja keras, dan shaleh karena merasa telah beribadah
dengan khusyu’. Seakan-akan tidak ada peran Allah, padahal segala kebaikan-kebaikan
tersebut adalah nikmat dari Allah yang Maha Pemurah. Nikmat yang sepatutnya
disyukuri, bukan hal yang dibanggakan hingga merasa diri hebat. Sayangnya, hati
manusia melupakan nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya sehingga ‘ujub dalam
dirinya muncul. Jika ‘ujub dibiarkan, penyakit hati ini dapat menjadi awal mula
penyakit lainnya, seperti takabur.
Takabur adalah anggapan seseorang bahwa dirinya lebih baik dibandingkan
orang lain (Al-Ghazali, 2012a). Penyakit ini berawal dari hati yang melupakan Allah
yang Maha Tinggi dan Berkuasa sementara manusia tidak memiliki daya apapun
dibandingkan dengan-Nya, serta lupa bahwa Allah yang Maha Mengetahui kualitas tiap
Hamba-Nya sedangkan ilmu manusia sangat sedikit dibandingkan dengan ilmu-Nya.
Muncul anggapan bahwa dirinya lebih hebat, benar, kaya, shaleh, baik daripada orang
lain, padahal faktanya belum tentu seperti itu. Hati sulit menerima kenyataan bahwa ada
orang lain yang lebih baik dari dirinya, cenderung tertutup terhadap nasihat dan
pendapat orang lain sehingga sulit menerima kebenaran. Sementara itu, akan muncul
perasaan benci jika pendapatnya ditolak karena merasa dirinya paling benar. Orang
dengan takabur dalam taraf yang lebih tinggi akan merendahkan manusia lain,
sebagaimana hadits yang disebutkan sebagai berikut,
“Orang yang bersikap takabur adalah siapa yang mengingkari kebenaran, dan
merendahkan manusia.” (HR. Ibn Mas’ud ra.).
Terdapat juga penyakit lain yang disebabkan oleh kelalaian hati dalam
mengingat Allah yang Maha Melihat, yaitu penyakit riya’. Kata riya’ berasal dari
ru’yah yang artinya melihat sehingga pengertian riya’ adalah sengaja memperlihatkan
kebaikan diri sendiri dengan tujuan mendapatkan kedudukan di hadapan manusia lain
(Al-Ghazali, 2012b). Seseorang dengan penyakit riya’ menganggap penilaian positif
dari orang lain lebih berharga dibandingkan penilaian Allah yang Maha Teliti. Segala
perbuatan dilakukan karena dorongan untuk mendapatkan popularitas atau pujian dari
manusia lain, bukan ikhlas karena Allah semata. Orang-orang seperti itu
menggantungkan diri pada penilaian manusia lain yang tidak sempurna. Jika dipuji,
akan merasa senang, namun akan sakit hati ketika dicela. Peran Allah sebagai Illah
dilupakan sehingga penyakit riya’ ini dapat juga disebut sebagai syirik kecil. Jika

5

seorang insan mengingat Allah sebagai Illah, dia akan menggantungkan diri pada
penilaian-Nya dan tidak peduli bagaimana penilaian orang lain terhadapnya.
Demikian penjelasan mengenai ‘ujub, takabur, dan riya’. Jika diperhatikan lebih
jauh, terdapat karakteristik tiga penyakit hati tersebut yang juga ada pada sebagian
karakteristik narcissism. Dikatakan “sebagian” karena tidak semua komponen dalam
narcissism berdasarkan rumusan Ackerman et al. (2011) bernilai negatif. Komponen
Leadership/authority yang bersifat adaptif, diasumsikan tidak berhubungan dengan
penyakit ‘ujub, takabur, atau riya sehingga tidak dimasukkan dalam pembahasan
berikut.

Komponen
Grandiose/exhibitionism

Karakteristik
Penyakit hati
bangga terhadap kualitas ‘Ujub
diri
sibuk memperhatikan diri Konsekuensi dari ‘ujub
sendiri
memamerkan

kualitas Riya’

Komponen
Grandiose/exhibitionism

dirinya
Karakteristik
Penyakit hati
merasa superior terhadap Takabur

Entitlement/exploitativenes

orang lain
memanfaatkan orang lain

Konsekuensi dari takabur

s
menginginkan rasa hormat Konsekuensi dari takabur
dari orang lain
Merasa telah berjasa pada orang lain dan perlakuan baik itu perlu diapresiasi
sebesar-besarnya, merupakan salah satu indikasi adanya ‘ujub pada diri individu.
Aktivitas memasang foto selfie di profil media sosial dengan maksud memamerkan diri
agar dinilai keren oleh orang-orang, merupakan salah satu perilaku yang timbul dari
penyakit riya’. Jika muncul pikiran bahwa hasil karya milik sendiri yang di-upload
semestinya mendapatkan lebih banyak komentar positif daripada milik orang lain,
berarti masih ada takabur dalam hati. Individu yang memiliki penyakit-penyakit
tersebut sesungguhnya merasa gelisah, hatinya tidak tenang. Namun, kegelisahan ini

6

tidak dirasakan jika hati sudah terlanjur terpaut dengan dunia dan tidak merindukan
Allah (Al-Ghazali, 1873).
Kesimpulan
Banyak orang yang sudah terjebak dalam tren narcissism ketika menggunakan
media sosial. Padahal, di balik perilaku narcissistic tersebut terdapat penyakit ‘ujub,
riya’, takabur, menandakan adanya penyimpangan dari fitrah manusia yang senantiasa
merindukan Allah. Tidak seperti psikologi Barat yang memandang trait narcissism
sebagai suatu hal yang normal, Islam memandang bahwa kepribadian narcissistic yang
bersifat negatif sebagai masalah. Dengan begitu, sudah semestinya masing-masing dari
kita menjaga diri dari kepribadian narcissistic yang justru merugikan diri sendiri.

Daftar Pustaka
Ackerman, R. A., Witt, E. A., Donnellan, M. B., Trzesniewski, K. H., Robins, R. W., &
Kashy, D. A. (2011). What does the Narcissistic Personality Inventory measure ?
Assessment, 18 (1). 67-87. DOI: 10.1177/107319111038284
Al-Attas, S.M.N. (2011). Islam dan sekularisme (K. Muammar, Trans.). Bandung:
Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan.
Al-Ghazali. (1873).The alchemy of happiness (H. A. Homes, Trans.). Transactions of
the Albany Institute,8.
Al-Ghazali. (2011). Keajaiban Hati. Jakarta: Penerbit Khatulistiwa.
Al-Ghazali. (2012a). Ihya ‘ulumiddin: Pintu taubat (I. I. Ba’adillah, Trans.). Jakarta:
Republika.
Al-Ghazali. (2012b). Ihya ‘ulumiddin: Dunia dan godaannya (I. I. Ba’adillah, Trans.).
Jakarta: Republika.
Al-Yamani. (2012). Pelatihan lengkap tazkiyatun nafs (M. A. Assegaf, Trans). Jakarta:
Penerbit Zaman.
Bergman, S. M., Fearrington, M. E., Davenport, S. W., & Bergman, J. Z. (2011).
Millennials,

narcissism, and social networking: What narcissists do on social

networking sites and why. Personality and Individual Differences, 50 (5), 706–
711.

doi:10.1016/j.paid.2010.12.022

7

Carpenter, C. J. (2012). Narcissism on Facebook: Self-promotional and anti-social
behavior. Personality and Individual Differences, 52. 482–486.
doi:10.1016/j.paid.2011.11.011
Holtzman, N. S., Vazire, S., & Mehl, M.R. (2010). Sounds like a narcissist: Behavioral
manifestations of narcissism in everyday life. Journal of Research in Personality,
44. 478–484. DOI: 10.1016/j.jrp.2010.06.001
King, L. A. (2011). The science of psychology: An appreciative view (2nd ed.). New
York: McGraw-Hill.
Ong, E. Y. L., Ang, R. P., Ho, J. C. M., Lim, J. C. Y., Goh, D. H., Lee, C. S., & Chua, A.
Y. K. (2010). Narcissism, extraversion and adolescents’ self-presentation on
Facebook.

Personality and Individual Differences, 50. 180–185.

doi:10.1016/j.paid.2010.09.022
Pincus, A. L., Ansell, E. B., Pimentel, C. A., Cain, N. M., Wright, A. C. G., & Levy, K.
N. (2009). Initial Construction and Validation of the Pathological Narcissism
Inventory. Psychological Assessment, 21.( 3). 365–379. DOI: 10.1037/a0016530
Raskin, R., & Hall, C. S. (1979). A narcissistic personality inventory. Psychological
Reports, 45, 590.
Raskin, R. & Terry, H. (1988). A principal-components analysis of the narcissistic
personality inventory and further evidence of its construct validity.
Journal of Personality and Social

Psychology, 54 (5). 890-902.

Diakses dari www.columbia.edu/~da358/npi16/raskin.pdf
Roberts, B. W., Edmonds, G., & Grijalva, E. (2010). It is developmental me, not
Generation Me: Developmental changes are more important than generational
changes in narcissism--Commentary on Trzesniewski & Donnellan (2010).
Perspectives on Psychological Science, 5 (97). DOI:
10.1177/1745691609357019
Twenge, J. M. (2010).https://www.psychologytoday.com/blog/the-narcissismepidemic/201011/the-anti-narcissist-our-true-hero-0
Twenge, J. M. & Foster, J. D. (2010). Birth cohort increases in narcissistic personality
traits

among American college students, 1982–2009. Social Psychological and

Personality Science, 1(1), 99-106. DOI: 10.1177/1948550609355719
Wang, S. S. & Stefanone, M. A. (2013). Showing off ? Human mobility and the
interplay of

traits, self- disclosure, and Facebook check-ins. Social Science

Computer Review, 1-21. DOI: 10.1177/0894439313481424

8

9

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Narcissism di media sosial Dari penyakit