BAB I Asas asas dan Ruang Lingkup Ilmu A

BAB I
Asas – asas dan Ruang Lingkup Ilmu Antropologi
A. Fase – fase Perkembangan Ilmu Antropologi
1. Fase Pertama (Sebelum 1800)
Kedatangan bangsa Eropa Barat ke Benua Afrika, Asia, dan Amerika selama 4
Abad (sejak akhir abad ke-15 hingga permulaan abad ke-16) membawa pengaruh
bagi berbagai suku bangsa ketiga benua tersebut. Bersamaan dengan itu mulai
terkumpul tulisan buah tangan para musafir, pelaut, pendeta penyiar agama
nasrani, penerjemah kitab injil, dan pegawai pemerintahan jajahan dalam bentuk
kisah perjalnan, laporan dan sebagianya.
Kemudian dalam pandangan kalangan terpelajar di Eropa Barat timbul tiga sikap
yang bertentangan terhadap bangsa-bangsa di Afrika, Asia, Osenia, dan orangorang Indian di Amerika tadi, yaitu:
a. Ada yang berpandangan bahwa bangsa-bangsa itu bukan manusia sebenarnya,
melainkan mereka manusia liar, keturunan iblis dan sebagianya. Dengan
demikian timbul istilah-istilah seperti savages, primitives.
b. Ada yang berpandangan bahwa masyarakat bangsa-bangsa itu adalah contoh
dari masyarakat yang masih murni, belum mengenal kejahatan dan keburukan
seperti yang ada dalam masyarakat bangsa-bangsa Eropa waktu itu.
c. Ada yang tertarik akan adat istiadat yang aneh, dan mulai mengumpulkan
benda-benda kebudayaan dari suku-suku bangsa Afrika, Asia, Oseania, dan
Amerika pribumi tadi.
2. Fase Kedua (Kira-kira pertengahan Abad ke-19)
Integrasi yang sunguh-sungguh baru timbul pada pertengahan abad ke-19.
Semua bentuk masyarakat dan kebudayaan dari bangsa-bangsa di luar Eropa (oleh
orang Eropa disebut Primitive) dianggap sebagai contoh dari tingkat kebudayaan
lebih rendah, yang masih hidup sampai sekarang sebagi sisa-sisa dari kebudayaan
manusia zaman dahulu. Tujuan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitive dengan maksud untuk
mendapatkan suatu pengertian tentang tingkat-tingkat kuno dalam sejarah evolusi
dan sejarah penyebarab kebudayaan manusia.

3. Fase Ketiga (Permulaan Abad ke-20)
Pada permulaan abad ke-20 sebagian Negara penjajah di Eropa berhasil untuk
mencapai kemantapan kekuasaanya di daerah-daerah jajahan diluar Eropa. Untuk
keperluan pemerintah penjajah tadi, yang waktu itu mulai berhadapan langsung
dengan bangsa-bangsa terjajah diluar Eropa, maka ilmu Antropologi sebagai suatu
ilmu yang justru mempelajari bangsa-bangsa di daerah-daerah diluar Eropa itu,
sangat penting. Dalam fase ketiga ini ilmu antropologi menjadi suatu ilmu yang
praktis, dan tujuannya dapat dirumuskan sebagai berikut: mempelajari masyarakat
dan kebudayaan suku-suku bangsa diluar Eropa guna kepentingan pemerintah
kolonial dan guna mendapat suatu pengertian tentang masyarakat masa kini yang
kompleks.
4. Fase Keempat (Sesudah Kira-kira 1930)
Dalam fase ini ilmu antropologi mengalami masa perkembangannya yang
paling luas, baik mengenai bertambahnya bahan pengetahuan yang jauh lebih
teliti, maupun mengenai ketajaman dari metide-metode ilmiahnya. Selain itub kita
lihat adanya dua perubahan dunia:
a. Timbulnya antipasti terhadap kolonialisme sesudah perang dunia II.
b. Cepat hilangnya bangsa-bangsa primitive ( dalam arti bangsa – bangsa asli dan
terpencil dari pengaruh kebudayaan eropa-amerika) yang sekitar tahun 1930
mulai hilang, dan sesudah perang dunia II memang hampir tidak ada lagi
dimuka bumi ini.
Tujuan akademisnya adalah mencapai pengertian tentang makhluk manusia
pada umunya dengan mempelajari keragaman bentuk fisiknya, masyarakat,
serta kebudayaannya.Tujuan praktisnya adalah mempelajari manusia dalam
keragaman masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku
bangsa itu.

B. Antropologi Masa Kini
1. Perbedaan – perbedaan di Berbagai Pusat Ilmiah
Uraian mengenai keempat fase perkembangan ilmu antropologi tadi, perlu untuk
mendapat suatu pengertian tentang tujuan dan ruang lingkupnya. Karena ilmu
antropoligi masih tergolong muda yakni baru berumur kira-kira satu abad saja,
menyebabkan tujuan dan ruang lingkupnya masih merupakan suatu kompleks
masalah yang sampai sekarang masih menjadi pokok perbedaan paham antara
berbagai aliran yang ada dalam kalangannya sendiri. Secara kasar aliran-aliran
dalam antropologi dapat digolongkan berdasarkan atas berbagai universitas di
beberapa Negara tempat ilmu antropologi berkembang, yaitu terutama di Amerika
Serikat, Inggris, Eropa Tengah, Eropa Utara, Uni Soviet, dan Negara-negara yang
sedang berkembang.
2. Perbedaan – perbedaan Istilah
Sampai sekarang di berbagai Negara masih dipakai berbagai istilah, sehingga
ada perlunya diterangkan dimanakah istilah-istilah tersebut lazim dipakai dan
apakah arti istilah-istilah seperti ethnography, ethnology, volkerkunde,
kulturkunde, anthropology, cultural anthropology, dan social anthropology.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ethnography berarti “Pelukisan tentang bangsa-bangsa”.
Ethnology yang berarti “ Ilmu bangsa-bangsa”.
Volkerkunde (Volkenkunde) yang berarti “Ilmu bangsa-bangsa”.
Kulterkunde berarti “Ilmu Kebudayaan”.
Anthropolgy beratri “Ilmu Tentang manusia”.
Cultural anthropology
Physical anthropology

8. Social anthropology
C. Ilmu-ilmu Bagian dari Antropologi
1. Lima Ilmu Bagian dari Antropologi
1. Paleo-antropologi adalah ilmu bagian yang meniliti asal-usul atau
terjadinya dan evolusi manusia dengan mempergunakan sisa-sisa tubuh
yang telah membatu (fosil-fosil manusia) tersimpan dalam lapisan-lapisan
bumi yang harus didapat oleh si peniliti dengan berbagai metode
penggalian.

2. Anthropologi fisik dalam arti khusus adalah bagian dari ilmu antropologi
yang mencoba mencapai suatu pengertian tentang sejarah terjadinya
beragam manusia dipandang dari sudut cirri-ciri tubuhnya, fenotipe dan
genotype. Bagian dari ilmu antropologi ini disebut antropologi fisik dalam
arti khusus, atau somatologi.
3. Etnolinguistik atau antopologi linguistic adalah suatu ilmu bagian yang
asal mulanya berkaitan erat dengan ilmu antropologi.
4. Prebistori, mempelajari sejarah perkembangan dan penyebaran semua
kebudayaan manusia di bumi sebelum manusia mengenal huruf.
5. Etnologi adalah ilmu bagian yang mencoba mencapai pengertian mengenai
asas-asas manusia, dengan mempelajari kebudayaan-kebudayaan dalam
kehidupan masyarakat dari sebanyak mungkin suku bangsa yang tersebar
di seluruh muka bumi pada masa sekarang ini.
6. Descriptive integration dalam etnologi mengolah dan mengintegrasikan
menjadi sutu hasil penelitian dari sub-sub ilmu antropologi fisik,
entnolinguistik, ilmu prehistori, dan etnografi. Descriptive integration
selalu mengenai satu daerah tertentu.
7. Generalizing approach (antropologi sosial) dalam entnologi mencari asas
persamaan beragam masyarakat dari kelompok-kelompok manusia dimuka
bumi ini.
2. Spesialis Antropologi
Dengan berbagai aktifitas penelitian yang mengikuti contoh itu,, para murid
Firth dan ahli antropologi lain, telah menimbulkan spesialisasi antropologi yang
pertama yaitu:
1. antropologi ekonomi (economic anthropology).
2. antropologi pembangunan atau development anthropology.
3. Antopologi pendidikan (educational anthropology)
4. Antropologi kesehatan (medical anthropology)
5. Antopologi penduduk (population anthropology)
6. Ahli ilmu politik (political science)
7. Antropologi politik (political anthropology)
8. Antropologi untuk psikiatri (anthropology in mental health)

D. Hubungan antara Antropologi-Sosial dan Sosiologi
1. Persamaan dan Perbedaan antara Kedua Ilmu
Kalau ditinjau lebih khusus, akan tampak beberapa perbedaan, yaitu:
1. Kedua ilmu itu masing-masing mempunyai asal-mula dan sejarah
perkembangannya yang berbeda.
2. Asal mula sejarah yang berbeda menyebabkan adanya suatu perbedaan
pengkhususan pada pokok dan bahan penelitian dari kedua ilmu itu.
3. Asal mula sejarah yang berbeda juga telah menyebabkan berkembangnya
beberapa metode dan masalah yang khusus dari kedua ilmu masingmasing.
2. Sejarah Perkembangan Sosiologi
Pada mulanya ilmu sosiologi hanya merupakan bagian dari ilmu filsafat. Para
ahli filsafat yang menganalisa segala hal yang ada dalam alam sekelilingnya, juga
tidak lupa memikirkan tentang masyarakatnya. Dengan demikian ilmu filsafat ada
suatu bagian yang disebut filsafat sosial. Sejak abad ke-19, teori-teori dan konsepkonsep filsafat sosial itu telah berubah, sejajar dengan berbagai perubahan aliran
filsafat dan latar belakang cara berfikir orang Eropa Barat.
3. Pokok Ilmiah dari Antropologi Sosial dan Sosiologi
Lingungan masyarakat dan kebudayaan Eropa-Amerika itu dapat dilokasikan
dalam kota-kota tidak hanya di Negara-negara Eropa dan Amerika, tetapi juga
dikota-kota di afrika, Asia, Osenia, dan Amerika Latin. Diluar kota-kota di Afrika,
Asia, Osenia, dan Amerika Latin itu sifat-sifat kebudayaan Eropa-Amerika mulai
berkurang dan makin jauhlah kita pergi dari lingkungan masyarakat perkotaan, dan
masuk kedalam masyarakat pedesaan, maka makin berkuranglah unsur-unsur
Eropa-Amerika itu. Berdasarkan yang teruai diatas, dapat juga dikatakan bahwa
ilmu antropologi-sosial terutama mencari objek-objek penilitiannya didalam
masyarakat pedesaan, dan sosiologi didalam masyarakat perkotaan. Umumnya
demikian adanya, tetapi suatu perbedaan objek serupa itu belum juga dapat dipakai
sebagai muthlak dalam hal menentukan perbedaan antara ilmu antropologi-dan
sosiologi. Ini disebabkan karna akhir-akhir ini tampak gejala bahwa para ahli
antropologi juga mulai mencari objek-objek dalam masyarakat – masyarakat yang
kompleks atau masyarakat perkotaan, sebaliknya dalam sosiologi, terutama di
amerika sejak lama berkembang kejuruan, yaitu sosiologi pedesaan (rural
sociology) yang memperhatikan masalah-masalah pertanian dalam kehidupan kota
kecil masyarakat pedesaan di negera amerika serikat.

4. Metode Ilmiah dari Antropologi Sosial dan Sosiologi
Ilmu sosiologi selalu lebih memusatkan perhatian pada unsur-unsur atau gejala
khusus dalam masyarakat manusia, dengan menganalisis kelompok-kelompok
sosial yang khusus (Social Groupings), hubungan antara kelompok-kelompok atau
individu-individu (Social Relations) atau proses-proses yang terdapat dalam
kehidupan suatu masyarakat (Social Processes).

E. Hubungan antara Antropologi dan Ilmu-ilmu Lain
1. Hubungan antara ilmu geologi dan antropologi
Ilmu geologi ialah ilmu yang mempelajari cirri-ciri lapisan bumi serta
perubahan-perubahannya, terutama dibutuhkan oleh subilmu paleo-antropologi
dan prehistori untuk menetapkan umur relative dari fosil-fosil makhluk primate
dan fosil-fosil manusia dari zaman dahulu, serta artefak-artefak dan bekas-bekas
kebudayaan yang digali dalam lapisan-lapisan bumi.
2. Hubungan antara ilmu paleontology dan antropologi
Ilmu yang meneliti fosil makhluk-mahluk dari zaman dahulu untuk membuat
suatu rekronstruksi tentang proses evolusi bentuk-bentuk makhluk dari zaman
dahulu hingga sekarang, tentu juga dapat diperlukan ilmu paleo-antropologi dan
prehistori.
3. Hubungan antara ilmu anatomi dan antropologi
Paleo-antropologi maupun yang meniliti cirri ras-ras dunia, sangat perlu akan
ilmu anatomi karena ciri-ciri dari berbagai bagian kerangka manusia, berbagai
bagian tengkorak, dan cirri-ciri bagian tubuh manusia pada umumnya, menjadi
objek penelitian yang terpenting dari seorang ahli antropologi-fisik untuk
mendapatkan pengertian tentang asal mula dan penyebaran manusia serta
hubungan antara ras-ras di dunia.
4. Hubungan antara ilmu kesehatan masyarakat dan antropologi
Yaitu data mengenai konsepsi dan sikap penduduk desa tentang kesehatan,
tentang sakit, terhadap dukun, terhadap obat-obatan tradisional, terhadapa
kebiasaan dan pantangan makan dan sebagainya, ilmu antropologi juga dapat
member kepada para dokter kesehatan masyarakat yang akan bekerja dan hidup
berbagai daerah dengan keanekaragaman kebudayaan, metode-metode dan cara-

cara untuk segera mengerti dan menyesuaikan diri dengan kebudayaan dan adat
istiadat lain.
5. Hubungan antara ilmu psikiatri dan antropologi
Ilmu psikiatri dan ilmu antropologi telah dijelaskan dan merupakan suatu
pengluasan dari hubungan antara ilmu antropologi dan ilmu psikiologi, yang
kemudian endapat fungsi yang praktis.
6. Hubungan antara ilmu linguistic dan antropologi
Ilmu linguistic (atau ilmu bahasa) mula-mula ada dalam masa akhir abad ke-18,
ketika para sarjana mulai mengupas naskah-naskah klasik dalam bahasa-bahasa
indo-German (Latin, Yunani, Gotis, Avestis, Sanskerta dan sebagiannya).
7. Hubungan antara ilmu arkeologi dan antropologi
Ilmu sejarah kebudayaan purbakala pada mulanya meneliti sejarah dari
kebudayaan-kebudayaan kuno dalam zaman purba, sepeti kebudayaan yunani dan
Rum klasik, kebudayaan mesir kuno dari zaman para pharaoh, kebudayaan kuno di
daerah Mesopotamia, kebudayaan kuno di palestina dan sebagiannya.
8. Hubungan antara ilmu sejarah dan antropologi
Hubungan antara ilmu arkeologi dengan antropologi yang member bahan
prehistori sebagai pangkal bagi tiap penulis sejarah dari tiap bangsa didunia.
9. Hubungan antara ilmu geografi dan antropologi
Ilmu tentang alam dunia ini dengan member pelukisan tentang bumi serta cirriciri dari segala macam bentuk hidup yang menduduki muka bumi, seperti flora dan
fauna.
10. Hubungan antara ilmu ekonomi dan antropologi
Kekuatan, proses, dan hukum-hukum ekonomi yang berlaku dalam aktivitas
kehidupan ekonominya sangat dipengaruhi sistem kemasyarakatan, cara berfikir,
pandangan, dan sikap hidup dari warga masyarakat pedesaan tadi.
11. Hubungan antara ilmu hukum adat Indonesia dan antropologi
Yaitu permulaan abad ke 20, para ahli dari ilmu itu telah menyadari akan
pentingnya antropologi sebagai ilmu bantu dalam penelitian-penelitiannya.

12. Hubungan antara ilmu administrasi dan antropologi
Ilmu administrasi tentu akan menghadapi masalah-masalah yang sama seperti
ilmu ekonomi, mengenai masalah yang juga menjadi suatu kompleks masalah
yang sangat penting dalam ilmu administrasi antara lain bisa didapatkan dengan
penelitian berdasarkan metode antropologi.
13. Hubungan antara ilmu politik dan antropologi
Yaitu hubungan antara kekuatan-kekuatan serta proses-proses politik berbagai
negara dengan berbagai macam sistem pemerintahan, ke masalah-masalah yang
menyangkut latar belakang sosial budaya dari kekuatan politik tersebut.
14. ilmu gabungan tentang tingkah laku manusia.
Ialah suatu pengertian tentang asas-asas kehidupan dan tindakan manusia
dirasakan sebagai suatu hal yang sangat cepat diperlukan.
F. Metode Ilmiah dari Antropologi
1. Metode Ilmiah dan Pengumpulan Fakta
Metode ilmiah dari suatu ilmu pengetahuan adalah segala cara yang digunakan
dalam ilmu tersebut, untuk mencapai suatu kesatuan pengetahuan. Ilmu
pengetahuan bukanlah suatu ilmu melainkan suatu himpunan pengetahuan saja,
tentang berbagai gejala alam atau masyarakat, tanpa ada kesadaran tentang
hubungan antara gejala-gejala yang terjadi.
2. Penentuan cirri-ciri Umum dan Sistem
Tingkat dalam cara berfikir ilmiah yang bertujuan untuk menentukan ciri-ciri
umum dan sistem dalam himpunan fakta yang dikumpulkan dalam suatu
penelitian. Proses berfikir disini berjalan secara induktif, dari pengetahuan tentang
peristiwa-peristiwa dan fakta-fakta khusus dan konkret, kea rah konsep-konsep
mengenai cirri-ciri umum yang lebih baik.
3. Verifikasi
Metode verifikasi atau pengujian terdiri dari cara-cara menguji rumusan kaidahkaidah atau memperkuat ”Pengertian” yang telah dicapai, dilakukan dalam
kenyataan-kenyataan alam atau masyarakat yang hidup.

G. Tenaga Sarjana, Lembaga, Majalah, dan Prasarana Ilmu Antropologi
1. Kehidupan Ilmiah
Suatu cabang ilmu pengetahuan ahli dibidangnya melakukan kegiatan-kegiatan
penelitian untuk memecahkan berbagai macam masalah ilmiahnya. Biasanya
memerlukan biaya banyak, maka harus ada badan yang mendorong dan
menyokong kegiatan penelitian para ahli itu.
2. Para Tokoh Sarjana Antropologi
a. Ilmu antropologi dalam fase perkembangannya itu mendapat fungsi yang
sangat praktis, yaitu “mempelajari masyarakat dan kebudayaan suku-suku
bangsa diluar Eropa guna kepentingan pemerintahan colonial.
b. Antropologi baru yang kemudian bercabang menjadi ilmu tanpa mahkluk
manusia pada umumnya dengan mempelajari beragam bentuk fisiknya,
masyarakat, serta kebudayaannya.
3. Lembaga-lembaga dan Majalah-majalah Antropologi
Salah satu majalah antropologi yang paling penting perlu dimiliki oleh tiap para
ahli antropologi atau orang yang ingin menjadi ahli antropologi adalah Current
Anthropology. Tiga yang paling penting diantaranya, yaitu:
a. American Anthropology Association
b. American Association of Physical Anthropology
c. Institute Human Relations
4. Kamus dan Atlas Antropologi
Atlas-Atlas yang usianya lebih muda usianya adalah yang disusun oleh seorang
geografi Jerman, H.Bernetzik, berjudul Die Gross volkerkunder, diterbitkan 1930.
Sebuah atlas kecil berjudul An ethno-Atlas diterbitkan oleh R.F. Spencer tahun
1956, sedang pengarang buku ini pernah juga menhyusun sebuah atlas ethnografi
sedunia (1968) dalam bahasa Indonesia.

BAB II
Mahkluk Manusia
A. Mahkluk Manusia di antara Mahkluk-mahkluk Lain
Dipandang dari sudut biologi, manusia hanya merupakan satu jenis mahkluk
diantara lebih dari sejuta jenis mahkluk lain, yang pernah atau masih menduduki alam
dunia ini. Pada pertengahan abad ke-19 para ahli biologi, diantaranya yang terkenal
adalah Charles Darwin, mengumumkan teori mereka tentang evolusi biologi. Para
ahli biologi telah membuat suatu sistem klasifikasi semua mahkluk yang telah
mendapat tempat sewajarny berdasarkan atas morfologi dan organismenya. Adapun
manusia homo sapiens zaman sekarang secara lebih khusus terdiri dari paling sedikit
empat ras.
B. Evolusi cirri-ciri Biologis
1. Sumber ciri-ciri Organisme Fisik
Pengetahuan para ahli mengenai gen itu mula-mula berasal dari penelitian
terhadap seekor makhluk yang mempunyai suatu susunan inti sel sangat
sederhana, yaittu lalat, terkenal dengan nama ilmiah drosopilia melanogaster.
Lalat ini hanya memiliki delapan kromoson dalam inti selnya.
Pada waktu konsepsi, apabila sel sperma berpadu dengan sel telur, maka akan
terjadi satu sel buah atau zygote. Seluruh tubuh organisme baru akan timbul dari
zygote tadi, dengan suatu proses yang disebut mitosis. Tiap-tiap kromosom akan
membelah menjadi dua sehingga timbul dua sel baru. Kedua sel baru tadi melalui
proses yang sama akan menjadi empat sel baru, kemudian keempat sel baru tadi
melalui proses yang sama akan menjadi delapan sel, dan demikian setrerusnya
hingga terjadi beberapa triliun sel yang merupakan bahan dan suatu organisme
lengkap.
2. Perubahan dalam proses keturunan
Percabangan karena beberapa proses evolusi yang menurut analisis para ahli
biologi dapat dibagi kedalam tiga golongan :
a. Proses mutasi
b. Proses seleksi dan adaptasi
c. Proses menghilangnya gen secara kebetulan (random genetic drift

C. Evolusi Primata dan Manusia
1. Proses percabangan makhluk primate
Menurut penelitian paling akhir mahkluk pertama dari suku primata muncul
dimuka bumi sebagai suatu cabang dari mahkluk mamalia (binatang menyusui)
sudah kira-kira 70 tahun yang lalu, didalam suatu zaman yang oleh para ahli
biologi disebut kalah paleosen tua. Dalam masa yang amat lama makhluk induk
primate bercabang lebih lanjut kedalam sub suku dan infra suku khusus, dan
diantara telah terjadi proses percabangan antara keluarga kera-kera pongit (kerakera besar) dari keluarga homonit yang merupakan anggota mahkluk manusia.
Rupa-rupanya telah terjadi paling sedikit lima proses percabangan. Percabangan
yang tertua, timbul kira-kira 30 juta tahun yang lalu dalam kalah oesan akhir,
merupakan percabangan yang mengevolusikan kera gibbon (hyloatidae)
Cabang yang timbul kemudian, pada permulaan kalamiyosen kira-kira 20 juta
tahun yang lalu, adalah kera pongopygmeus atau orang-orang utan. Daerah asal
orang utan adalah konon orang afrika timur yang ketika itu masih menjadi satu
daerah dengan arab, hingga terletak lebih dekat pada asia selatan pada sekarang.
Cabang ketiga adalah sejenis mahkluk yang menurut perkiraan para ahli
menjadi nenek moyang manusia. Percabangan ini terjadi kira-kira 10 juta tahun
yang lalu pada bagian terakhir dari kala miosen. Fosil-fosil makhluk ini
menujukan sifat asli daripada yang lain, yaitu ukuran badan raksasa yang jauh
lebih beasar daripada kera gorilla yang hidup sekarang.
Cabang keempat adalah cabang-cabang kera pongid yang lain, yaitu gorilla
simpanse, terjadi kira-kira 12 juta tahun yang lalu pada akhir Kala Mioesn. Kedua
makhluk kera dari Afrika ini dapat menyesuaiakan diri dengan berevolusi
mengembangkan organisme yang dapat hidup dipohon maupun didarat.
2. Makhluk Primata Pendahulu Manusia
Sebagai seekor pendahuluan (precursor) atau makhluk induk yang mendahului
baik kera-kera besar (pongid) maupun manusia, kedua-duanya hanya merupakan
spesialisasi khusus dari makhluk induk tadi. Makhluk primata yang dianggap
menurunkan jenis-jenis kera besar seperti orangutan, gorilla, dan sinpanse,
maupun manusia adalah seekor makhluk yang fosilnya berupa rahang bawah
ditemukan di saint-gaudens, prancis selatan pada pertengahan abad yang lalu.
Makhluk induk yang kedua adalah gigantanthropus yang telah dijelaskan
sebelumnya hidup pada akhir kala miosen lebih kurang 10 juta tahun yang lalu.

Pengetahuan para ahli mengenai wujud, sifat-sifat, dan penyebaran makhluk kera
raksasa ini masih terlampau sedikit karena terbatasnya jumlah fosil yang
ditemukan untuk menelitinya. Pada akhir berlangsungnyab tiap Kala Glasial, muka
bumi mempunyai wujud yang berbeda mengenai garis antara darat dan laut.
3. Bentuk-bentuk Manusia Tertua
Pada tahun 1898, seorang doctor Belanda, Eugene Du Bois memberikan nama
pithecanthoropus erectus (manusia kera yang bejalan tegak) pada fosil itu, dan
menganggapnya sebagai contoh nenek moyang manusia zaman sekarang. Setelah
penemuan Du Bois di Trinil, yang dalam dunia ilmu paleoantropologi menjadi
sangat terkenal itu, tahun-tahun kemudian masih banyak lagi fosil-fosil jenis
pithecanthropus.
Sebelum pecah perang dunia II telah ditemukan lebih dari 20 fosil, dan
diantaranya ada suatu rangkaian penemuan yang juga menjadi terkenal sekali. Ahli
paleoantropologi, Teuku Jacob, yang meneliti ke-14 fosil itu secara mendalam
sekali, menyebutnya pithecanthropus soloensis.
Dua buah penemuan lain dalam tahun 1936 di desa Perning di dekat Majakerta
dan di desa Sangiran dekat Surakarta, dan diperkirakan berumur kira-kira 2 juta
tahun fosil-fosil itu sekarang disebut pithecanthropus majakertensis.
Akhirnya perlu juga disebut suatu penemuan lain yang juga menarik, yang
dilakukan oleh G.H.R von konigswald dalam tahun 1941, menemukan fosil yang
oleh para ahli meganthropus paleojavanicus. Fosil yang sudah sangat tua, yaitu
sama dengan pithecanthropus majakertensis.
Makhluk pithecanthropus, termasuk meganthropus paleojavanicus, memang
oleh para ahli paleoantropologi sekarang dianggap swebagai makhluk pendahulu
manusia di kawasan luas Asia, khususnya Asia Tenggara, dalam suatu jangka
waktu yang sangat panjang, yaitu dari 2 juta hingga 200.000 tahun yang lalu.
4. Bentuk manusia dari Kala Pleistosen Muda
Fosil-fosil manusia yang berasal dari Kala Pleistosen Muda yang berumur kirakira 200.000 tahun, berjumlah amat banyak dan terdapat di berbagai tempat
didunia. Walaupun ada perbedaan-perbedaan khusus antara fosil-fosil yang
terdapat di berbagai tempat itu, akan etapi ada garis besarnya dapat dikatakan
bahwa semua termasuk satu golongan dengan homo neanderta (manusia dari
lembah Neander).

Diluar Eropa, makhluk jenis homo neandertal meninggalkan sisa-sisanya di
palestina, tempat telah ditemukan beberpa fosil semacam neandertal yang disebut
homo palestinensis, dalam suatu Gua bernama Gua Tabun di dekat Mount Carmel.
Manusia homo neandertal dan sejenisnya iitu mula-mula tidak dianggap oleh
para ahli sebagi nenek moyang salah satu ras manusia yang ada sekarang ini, tetapi
sebagai salah satu cabang evolusi makhluk manusia yang kandas. Dengan buktibukti yang baru, diketahui bahwa honmo neandertal itu tidak kandas, tetapi
berevolusi dalam jangka waktu kira-kira 120.000 tahun menjadi manusia homo
sapiens yang sekarang ini.
5. Manusia Sekarang atau Homo Sapiens
Bekas-bekas homo sapiens yang tertua juga terkandung dalam lapisan-lapisan
Pleiston Muda, yang berarti bahwa makhluk itu hisup pada akhir Kala Glasial
terakhir, atau kurang lebih 80.000 tahun yang lalu. Mulai zaman setelah itu , yaitu
Zaman Holosen, semua penumaun fosil manusia ditemukan bersama bekas-bekas
kebudayaan dan mulai menunjukan perbedaan keempat ras pokok yang pada saat
itu menduduki muka bumi yaitu:
a. Ras Australoid
b. Ras Mongoloid
c. Ras Kaukosoid
d. Ras Negroid
D. Aneka Ragam Manusia
1. Salah Paham Mengenai Konsep Ras
Makhluk manusia yang hidup dalam berbagai macam lingkungan alam di
seluruh muka bumi menunjukan beragam cirri-ciri fisik yang tampak nyata. Ciriciri lahir seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, bentuk bagian-bagian
wajah, dan sebagainya menyebabkan timbulnya pengertian “ras” atau golongan
manusia yang berdasarkan berbagai cirri fisik secara umum.
2. Metode-metode Untuk Mengkelaskan Aneka Ras Manusia
Untuk suatu waktu yang lama masalah bagaimana caranya pengkalsifikasian
atau pengolongan beragam ras manusia didunia menjadi pusat perhatian yang
terpenting bagi imu antropologi fisik. Cirri-ciri morfologi itu yang dalam praktik
merupakan cirri-ciri fenotipe, terdiri dari dua golongan, yaitu:
a. Cirri-ciri kualitatif (seperti warna kulit, bentuk rambut, dan sebagainya).

b. Ciri-ciri kuantitatif (seperti berat badan, ukuran badan, index cephalicus, dan
sebaganya).

3. Salah Satu Klasifikasi Dari Beragam Ras Manusia
Berikut ini suatu klasifikasi yang berasal dari A.L.Kroeber, tampak secara jelas
garis besar penggologan ras yang terpenting didunia dan hubungannya satu sama
lain.
1. AUSTRALOID ( penduduk asli Australia)
2. MONGOLOID
a. Asiatic Mongoloid
b. Malayan Mongoloid
c. American Mongoloid
3. CAUCASOID
a. Nordic
b. Alpine
c. Mediterania
d. Indic
4. NEGROID
a. African Negroid
b. Negrito
c. Melanisian
5. RAS-RAS KHUSUS
Tidak dapat klasifikasikan kedalam keempat ras pokok
a. Busham
b. Veddoid
c. Polynesian
d. Ainu
E. Organ Manusia
1. Perbedaan Organ Manusia dan Organ Binatang
Mahkluk manusia adalah mahkluk hidup yang berkelompok, yang mempunyai
organ yang secara biologis sangat kalah kemampuan fisiknya dengan jenis-jenis
binatang berkelompok lain. walaupun demikian, otak manusia berevolusi paling
jauh jika dibandingkan dengan mahkluk lain. Otak manusia yang telah
dikembangkan oleh bahasa, tetapi juga yang mengembangkan bahasa mengandung
kemampuan akal, yaitu kemampuan untuk bentuk gagasan-gagasan dan konsep-

konsep yang makin lama makin tajam, untuk memilih alternative tindakan yang
menguntungkan bagi kelangsungan hidup bagi manusia. Gagasan-gagasan dan
konsep-konsep itu dapat dikomunikasikan dengan lambing-lambang vocal yang
kita sebut bahasa tidak hanya individu-individu lain dengan kelompoknya, tetapi
juga pada keturunannya.
Walaupun organ manusia memang kalah kemampuannya dengan banyak jenis
binantang berkelompok dengan yang lainnya namun kemampuan otaknya, yang
kita sebut akal budi itu, telah menyebabkan berkembangnya sistem-sistem dan
menyambungkan keterbatasa kemampuan organnya itu. Keseluruhan dari sistemsistem itu, yaitu:
a. Sistem perlambangan vocal atau bahasa
b. Sistem pengetahuan
c. Organanisasi sosial
d. Sistem perawatan hidup dan teknologi
e. Sistem mata pencarian hidup
f. Sistem religi
g. Kesenian adalah yang disebut kebudayaan manusia

BAB III
Kepribadian

A.Definisi Kepribadian
Para ahli biologi yang mempelajari dan membuat suatu deskripsi mengenai sistem
organ suatu jenis species binatang, biasanya juga sekaligus mempelajari kelakuan
binatang-binantang itu. Deskripsi mengenai pola-pola kelakuan binatang-binatang itu
(seperti kelakuan yang mencari makan, menghindari ancaman, menyerang musuh,
mencari tempat beristirahat, mencari betina dimasa birahi, bersetubuh, mencari
tempat melahirkan, memelihara dan melindungi keturunannya dan sebagiannya)
biasanya berlaku untuk seluruh species yang menjadi objek perhatiannya.
Susunan unsure-unsur akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku
tindakan dari tiap-tiap individu manusia itu disebut kepribadian atau personality.
Definisi mengenai kepribadian tersebut masih sangat kasar sifatnya, dan tidak banyak
berbeda dengan arti yang diberikan pada konsep itu dalam bahasa sehari-hari. Dalam
bahasa popular istilah kepribadian juga berarti ciri-ciri watak seseorang sebagai
individu yang konsisten.
Pola kelakuan manusia yang dimaksud adalah kelakuan dalam arti khusus, yaitu
kelakuan organisme manusia yang ditentukan oleh naluri, dorongan-dorongan, refleks
–refleks atau kelakuan manusia yang tidak dipengaruhi dan ditentukan oleh akal dan
jiwanya ( yaitu kelakuan yang membabibuta) susunan-susunan unsur akal dan jiwa
yang menentukan perbedaan tingkah laku atau tindakan dari tiap-tiap individu
manusia yang disebut kepribadian atau personality.
B. Unsur-unsur Kepribadian
1. Pengetahuan
Unsur-unsur yang mengisi akal dan jiwa seseorang manusia yang sadar, secara
ternyata terkandung dalam otaknya.
a. Suatu susunan yang dipancarkan atau diproyeksikan oleh individu menjadi
suatu penggambaran tentang lingkungan seluruh proses akal manusia yang
sadar (Conscius) dalam ilmu psikologi disebut “Persepsi”
b. Penggambaran baru dengan pengertian baru, dalam ilmu psikologi disebut
“Apersepsi”.
c. Penggambaran baru yang lebih intensif terfokus (terjadi karena pemusatan akal
yang lebih intensif) dalam ilmu psikologi disebut “pengamantan”
d. Penggambaran abstrak dalam ilmu sosial disebut “konsep”.

e. Penggambaran baru yang seringkali tidak realistis dalam ilmu psikologi
disebut “fantasi”
2. Perasaan
Selain pengetahuan alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam
perasaan. Perasaan adalah suatu keadaan dalam kesadaran dalam kesadaran
manusia yang karena pengaruh pengetahuan manusia yang karena pengaruh
pengetahuannya dinilai sebagai keadaan positif dan negative.
Kita dapat juga menggambarkan adanya seorang individu ang melihat suatu hal
hal yang buruk atau mendengar suara yang tidak menyenngkan, mencium bau
busuk atau sebagainya.
3. Dorongan Naluri
Kesadaran manusia menurut para ahli psikologi mengandung berbagai perasaan
lain yang ditimbulkan karena pengaruh pengetahuannya, tetapi karena sudah
terkandung didalamnya organ, dan khususnya dalam gennya sebagai naluri.
Kemauan yang sudah ada pafa naluri tiap makhluk hidup manusia disebut
“dorongan”. Macam-macam dorongan naluri, yaitu:
a. Dorongan untuk mempertahankan hidup
b. Dorongan seks
c. Dorongan untuk upaya mempertahankan hidup
d. Dorongan untuk bergaul dengan berinteraksi dengan sesama manusia
e. Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya
f. Dorongan untuk berbakti
g. Dorongan akan keindahan
C. Materi dan Unsur-unsur Kepribadian
Kepribadian seseorang terbentuk oleh pengetahuan (khususnya yaitu, persepsi,
apersepsi, penggambaran, pengamatan, konsep, dan fantasi mengenai berbagai hal
yang ada dilingkungannya). Selain pengetahuan, kepribadiaan seseorang juga
terbentuk oleh berbagai perasaan, emosi, dan keinginan tentang bermacam hal yang
ada dilingkungannya. Unsur-unsur kepribadian manusia secara sistematis, yaitu:
a. Beragam kebutuhan biologis diri sendiri, beragam kebutuhan dan dorongan
psikologis diri sendiri, maupun dorongan psikologi sesama manusia itu
sendiri. Sedangkan kebutuhan-kebutuhan tadi dapat dipenuhi atau tidak dapat
dipenuhi oleh individu yang bersangkutan sehinggga memuaskan dan bernilai
fositif baginya, atau tidak memuaskan dan bernilai negative.

b. Beragam hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identitas diri
sendiri, (identitas aku) baik aspek fisik maupun sikologi, dan segala hal yang
bersangkutan dengan kesadaran individu mengenai bermacam-macam
kategori manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda, zat, kekuatan, dan
gejala alam (baik yang nyata maupun yang ghaib dalam lingkungan
sekelilingnya).
c. Berbagai macam cara untuk memenuhi, meperkuat, berhubungan,
mendapatkan, atau mempergunakan beragam kebutuhan dari hal tersebut tadi,
sehingag tercapai keadaan memuaskan dalam kesadaran individu
bersangkutan. Pelaksanaan berbagai macam cara dan jalan tersebut terwujud
dalam aktivitas hidup sehari-hari dari seorang individu.
D. Macam-macam Kepribadian
1. Macam-macam Kepribadian Individu
Berbagai isi dan sasaran dari pengetahuan, perasaan, kehendak, dan keinginan
kepribadian, serta perbedaan kualitas hubungan antara berbagai unsure
kepriabadian dalam kesadaran individu, menyebabkan keragaman struktur
kepribadian pada setiap manusia. Oleh karena itu, kepribadian tiap individu sangat
unik.
Ilmu antropologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya tadi, seringkali juga
memperhatikan masalah kepribadian, namun kalau ilmu-ilmu seperti itu
memperhatikan kepribadian, maka hal itu hanyalah untuk lebih memperdalam dan
memahami adat-istiadat dan sistem sosial dari suatu masyarakat. Khususnya, ilmu
antropologi juga mempelajari kepribadian yang ada pada sebagian besar warga
masyarakat, yang disebut kepribadian umum atau watak (modal personality).
2. Kepribadian Umum
Pendekatan dalam penelitian kepribadian dari suatu kebudayaan juga dilakukan
dengan metode lain yang didasarkan pada suatu pendirian dalam ilmu psikologi.
Pendirian yang menyatakan bahwa benih-benih dari cirri-ciri dari watak telah
tertanam dalam jiwa seseorang individu sejak dia masih kanak-kanak. Berdasarkan
konsepsi psikologis tersebut, mempelajari bahwa adat istiadat pengasuhan anak
yang khas itu, akan dapat diduga adanya berbagai unsur kepribadian pada sebagian
besar warga masyarakat.
Penelitian pertama pada etos kebudayaan dan kepribadian bangsa yang dimulai
oleh tokoh antropologi seperti R.Benedict, R.Linton, dan M.Mead, kemudian
ditiru dan dikembangkan lebih lanjut oleh banyak ahli antropologi lain sehingga

menimbulkan suatu bagian khusus dalam ilmu antropologi yang terkenal dengan
nama penelitian kepribadian dan kebudayaan atau personality and culture.
3. Kepribadian Barat dan Kepribadian Timur
Menurut Hsu, sumber dan sikap kegigihan manusia barat terhadap hidup itu
tidak lain adalah tidak adanya sekelompok manusia yang secara otomatis dapat
dianggap sebagai “lingkungan karib” itu. Ia selalu mencari orang-orang itu dan
apabila ia tidak menemukannya, maka seekor anjing atau kucing kesayangannya
pun jadi, untuk dianggap sebagai pengisi lingkungan itu. Dan kalau “lingkungan
karib” itu tidak ditemukannya, maka sebagai konpensasi, seorang manusia barat
akan gigih mencari suatu tujuan hidup lain yang berarti. Ia secara gigih
mengeksplorasi lautan dan benua-benua, menaliti alam, zat-zat hidup dalam
laboraturium, ia mengorbankan diri untuk perikemanusiaan. Kegigihan hidup
mencari “lingkungan karib” sudah menjadi sikap hidup bagi manusia barat, yang
dibaewanya kemana-mana, juga kalau ia berdagang. Itulah rahasia sukses, maka
dengan sikap hidup semacam itu ia memang benar-benar akan sengsara (dan
banyak juga manusia barat yang gagal dalam usaha).
Manusia timur menurut Hsu, tidak memiliki sikap hidup yang gigih seperti itu
karena salah satu kebutuhan pokok, yaitu “lingkungan karib” tadi, sudah otomatis
ada. Ia tida perlu mencarinya dengan gigih. Sikap hidup yang gigih tidak menjadi
kebiasaanya, dan ia hidup mengambang dengan selaras, puas dan bahagia dengan
apa yang dimilikinya, menikmati keindahan hidup sekitarnya. Kalaupun hidup itu
tidak indah, tetapi penuh dosa dan kesengsaraan, maka sikap orang Indonesia
adalah untuk tetap mencoba dan melihat unsur-unsur keindahan dalam
kesengsaraan itu.
Keterangan psikologis dari Hsu, mencoba melihat perbedaan antara manusia
barat dan manusia timur dalam lingkungan kebudayaanya, memang mencoba
menyelami sumber-sumber inti dan perbedaan itu. Semua perbedaan lahiriah
antara kedua tipe manusia itu hanyalah akibat dari perbedaan inti.

BAB IV
Masyarakat

A. Kehidupan Berkelompok dan Definisi Masyarakat
1. Kehidupan Berkelompok dalam Alam Binatang
Selain makhluk sel dan serangga, juga banyak jenis binatang yang lebih tinggi,
seperti ikan, burung, serigala, banteng, dan makhluk-makhluk primata, hidup
sebagai kesatuan kelompok. Dari mempelajari kelompok-kelompok binatang
seperti itu kita dapat mengabstraksikan beberapa cirri yang dapat kita anggap
sebagai kesatuan kelompok, yaitu:
a. Pembagian kerja yang tetap antara berbagai macam subkesatuan atau golongan
individu dalam kelompok untuk melaksanakan berbagai macam fungsi hidup.
b. Ketergantungan individu kepada individu lain dalam kelompok sebagai akibat
dari pembagian kerja tadi.
c. Kerja sama antarindividu yang disebabkan karena sifat ketergantungan tadi.
d. Komunikasi antarindividu yang diperlukan guna melaksakan kerja sama tadi.
e. Diskriminasi yang diadakan antara individu-individu warga kelompok dan
individu lain diliuarnya.
2. Kehidupan Berkelompok Makhluk Manusia
Manusia adalah jenis makhluk yang juga hidup dalam kelompok. Walaupun
demikian masih ada suatu perbedaan asasi yang mendasar antara kehidupan
kelompok binatang dan kehidupan kelompok manusia. Sistem pembagian kerja,
aktivitas kerjasama, dan berkomunikasi dalam kehidupan kelompok biantang
bersifat naluri. Pola-pola tindakan dan tingkah laku manusia adalah hasil belajar,
maka kita dapat mudah mengerti bahwa pola-pola tindakan dapat berubah dengan
lebih cepat daripada perubahan bentuk biologisnya. Apabila pola kelakuan dan
berkelompok serangga lebah dan bentuk saranganya tidak berubah sejak ratusan
tahun generasi ia berada di bumi, tidak demikian halnya dengan pola tingkah laku
manusia. Tingkah laku dan hidup manusia beberapa tahun yang lalu sangat
berbeda dengan sekarang. Hanya tiga dasawarsa hingga empat dasawarsa yang
lalu saja orang Indonesia masih banyaktinggal dalam rumah-rumah besar dengan
kelompokn kerabatnya yang luas, dari musim menanam padi di ladangatau sawah
petani.
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam rentang waktu hidup beberapa
generasi manusia tidak sama cepatnya pada kelompok manusia satu dengan

manusia lainnya. Ada yang mengalamiperubahan lambat yang berlangsung dalam
jangka waktu beberpa puluh generasi selama satu-dua abad. Ada pula kelompokkelompok yang berubah sangat cepat, hanya memerlukan jangka waktu dua-tiga
generasi selama hanya beberpa puluh tahun. Proses perubahan yang berbeda-beda
menyebabkan timbulnya ragam kesatuan hidup manusia di muka bumi ini. Apabila
jenis serangga lebah tetap sama pola kelakuan dan cara hidupnya diamapun
berada, tidak demikian dengan halnya cara hidup dan pola tingkah laku manusia.
B. Berbagai Wujud kelompok Manusia
Beragam kesatuan hidup manusia dalam suatu kesatuan Negara nasional
mempunyai wujud lain. Beragam wujud ini bukan disebabkan karena ada sukusuku bangsa yang berbeda-beda, melainkan karena suatu secara horizontal ada
lapisan-lapisan sosial yang berbeda-beda. Warga dari suatu Negara dapat kita
golongan-golongan misalnya, golongan petani, golongan buruh, golongan
pedagang, golongan pegawai, golongan bangsawan, dan lain-lain. Masing-masing
golongan tersebut mempunyai pola-pola tingkah laku, adat-istiadat, dan gaya
hidup yang berbeda-beda. Golongan-golongan seperti itu seolah-olah merupaan
lapisan-lapisan sosial karena ada penilaian tinggi rendah mengenai tiap golongan
tadi oleh warga Negara yang bersangkutan.
Suatu Negara dalam berbagai suku bangsa, seperti Indonesia terdapat lapisan
sosial yang berlaku untuk seluruh Negara. Selain itu juga terdapat sistem-sistem
pelapisan sosial yang berlaku untuk tiap suku bangsa dalam Negara. Pelapisan
sosial di Bali yang berwujud kasta Brahmana, Satriya, Vaisya, dan Sudra, tidak
berlaku misalnya dalam adat-istiadat Sunda, Minangkabau, aceh, Timor, atau
lainnya.
C. Unsur-unsur Masyarakat
Adanya bermacam-macam wujud kesatuan kelompok manusia menyebabkan
bahwa kita memerlukan beberapa istilah untuk membeda-bedakan berbagai macam
kesatuan manusia tadi. Kecuali istilah lain untuk menyebut kesatuan manusia tadi.
Kecuali istilah yang paling lazim, yaitu masyarakat, ada istilah-istilah lain untuk
menyebut kesatuan-kesatuan khusus yang merupakan unsur-unsur dari masyarakat,
yaitu kategori sosial, golongan sosial, komunitas, kelompok, dan perkumpulan.
Keenam istilah itu beserta konsepnya, syarat-syarat pengikatnya, ciri-ciri lainnya,
akan kita tinjau secara lebih mendalam sebagai berikut.

1.

Masyarakat
Seperti teruai tadi istilah paling lazim dipakai untuk menyebutkan kesatuan
kesatuan hidup manusia, baik dalam tulisan ilmiah maupun bahasa sehari-hari,
adalah masyarakat. Masyarakat adalahkesatuan hidup manusia yang berinteraksi
menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat kontinu, dan yang terikat
oleh bsuatu rasa identitas bersama.
2. Kategori Sosial
Masyarakat sebagai suatu kelompok manusia yang sangat umum sifatnya,
mengandung kesatuan-kesatuan yang sifatnyalebih khusus tetapi belum
mempunyai syarat pengikat yang sama dengan suatu masyarakat. Kesatuan sosial
yang tidak mempunyai syarat pengikat serupa dengan “kerumunan” atau cword
yang telah dipelajari sebelumnya, tidak mempunyai sifat-sifat masyarakat.
Kesatuan sosial itu adalah kategori sosial (social category). Kategori sosial adalah
kesatuan manusia yang terwujud karena adanya suatu cirri atau suatu kompleks
cirri-ciri objektif yang dapat dikenakan kepada manusia-manusia itu.
3. Golongan Sosial
Suatu golongan sosial juga merupakan suatu kesatuan manusia yang ditandai
oleh suatu cirri tertentu. Bahkan sering kali cirri itu dikenakan juga kepada mereka
oleh pihak luar kalangan mereka sendiri. Walaupun demikian, suatu kesatuan
manusia yang kita sebut golongan sosial itu mempunyai ikatan identitas sosial. Hal
itu dapat disebabkan karena kesadaran identitas itu tumbuh sebaagi respon atau
reaksi terhadap cara pihak luar memandang golongan sosial tadi, mungkin juga
karena golonbgan itu memang terikat oleh suatu sistem nialai, sistem norma, dan
adat-istiadat tertentu.
4. Kelompok dan Perkumpulan
Suatu kelompok atau group juga merupakan suatu masyarakat karena
memenuhi syarat-syaratnya, dengan adanya adat-istiadat serta sistem norma yang
mengatur interaksi itu, dengan adanya konstitusi, serta dengan adanya rasa
identitas yang mempersatukan semua anggota tadi. Namun, selain ketiga cirri tadi,
suatu kesatuan manusia yang disebut kelompok juga mempunyai cirri tambahan,
yaitu organisasi dan sistem pimpinan, dan selalu tampak sebagai kesatuan dari
individu-individu pada masa-masa yang secara berulang berkumpul dan kemudian
bubar lagi.

5. Beragam Kelompok dan Perkumpulan
Kelompok yang terdiri dari sekelompok anak remaja, sekelompok tetangga
yang sering saling bergaul, sekelompok awak kapal di suatu kapal nelayan Bugis
dan sebagiannya. Perkumpulan dapat dikelaskan berdasarkan prinsi guna dan
keperluannya atau fungsinya. Dengan demikian, ada perkumpulan yang gunanya
untuk keperluan mencari nafkah, untuk melaksanakan suatu mata pencaharian
hidup atau memproduksi barang, intinya untuk keperluan ekonomi.
Perkumpualn-perkumpulan semacam itu misalnya suatu perkumpulan pedagang,
suatu koperasi, suatu perseroan, atau suatu perusahaan, dan sebagainya.
6. Ikhtisar Mengenai Beragam Wujud Kesatuan Manusia
Ada tiga wujud kesatuan manusia (yaitu ‘kerumunan”, “kategori sosial”, dan
“golongan sosial”) tidak dapat disebut “masyarakat”. Hal itu karena ketiganya
tidak memenuhi ketiga unsure yang merupakan syarat konsep “masyarakat”.
Sedangankan “perkumpulan” lazimnya juga tudak disebut demikian, walaupun
memenuhi syarat.
7. Interaksi Antar Individu Dalam Masyarakat
Konsep “interaksi” yang dalam bahasa sehari-hari berarti “bergaul”. Konsep
yang sangat penting dalam menganalisis masyarakat ni perlu ditinjau secara
mendalam. Konsep interaksi itu penting karena tiap masyarakat merupakan suatu
kesatuan dari individu yag satu dengan yang lain berada dalam hubungan
berinteraksi yang berpola mantap. Interaksi itu terjadi bila seorang individu
dalam masyarakat berbuat sedemikian rupa sehingga menimbulkan suatu respon
atau reaksi dari individu-individu lain.
D. Pranata Sosial
1. Pranata
Dari hari ke hari manusia melakukan banyak tindakan interaksi antar individu
dalam kehidupan bermasyarakat. Diantara semua tindakannya berpola tadi, perlu
diakan perbedaan antara tindakan-tindakan yang dilaksanakannya menurut polapola yang resmi. Sistem tingkah laku sosial yang bersifat resmi dan adat istiadat
dan norma yang mengatur tingkah laku itu, dan semua perlengkapannya guna
memunuhi berbagai kompleks kebutuhan manusia dalam masyarakat, dalam ilmu
sosiologi dan antropologi disebut Pranata atau dalam bahasa inggris disebut
instutition.

Konsep pranata atau institution telah lama berkembang dan dipergunakan
dalam ilmu sosoiologi, dan merupakan suatu konsep dasar yang diuraikan
secara panjang lebar dalam kitab pelajaran dalam mengenai ilmu itu.
Sebaliknya dalam ilmu antropologi konsep pranata kurang digunakan. Para
ahli antropologi lebih suka menggunakan konsep “unsur kebudayaan” untuk
menganalisis aktifitas-aktifitas manusia dalam masyarakat yang mereka
pelajari sepanjang pengetahuan penulis konsep institution hanya digunakan
dalam tiga buku pelajaran antropologi.
2. Pranata dan Lembaga
Dalam istilah sehari – hari untuk institute adalah lembaga maka sesuai dengan
itu dalam bahasa surat kabar dan bahasa popular di Indonesia sering kita baca
istilah yang dilembagakan. Padahal antara pranata dan lembaga harus dilakukan
pembedaan secara tajam. Pranata adalah sistem norma-norma atau aturan-aturan
mengenai suatu aktifitas yang khusus, sedangkan lembaga atau institute adalah
badan atau organisasi yang melaksanakan aktifitas itu
3. Macam-macam pranata
Menurut para sarjana semua pranata dapat dikelaskan kedalam delapan
golongan, yaitu:
1. Pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan kehidupan
kekerabatan, yaitu sering disebut kinship atau domestic
institutions.
2. Pranata-pranata yang berfungsi untuk memenuhi keperluan
manusia untuk mata pencarian hidup, memproduksi, menimbun,
menyimpan, mendistrubusi hasil produksi dan harta adalah
economic institutions.
3. Pranata –pranata yang berfungsi memenuhi keperluan penerangan
dan pendidikan manusia supaya menjadi anggota masyrakat yang
berguna adalah educational institutions
4. Pranata-pranata yang berfungsi yang memenuhi keperluan ilmiah
manusia, menyelami alam sekelilingnya adalah scientific
institution.
5. Pranata-pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia
dalam menghayati rasa keindahannya dan untuk reaksi adalah
aesthetic and recreational institution.

6. Pranata-pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia
untuk berhubungan dengan dan berbakti kepada tuhan atau alam
gaib adalah religious institutions.
7. Pranata yang berfungsi memenuhi keperluan manusia untuk
mengatur atau mengelola keseimbangan kekuasaan dalam
kehidupan masyarakat political institutions.
8. Pranata-pranat yang berfungsi memenuhi keperluan fisik dan
kenyamanan manusia adalah somatic institutions.

4.

Pranata, Kedudukan dan Peranan Sosial
Tingkah laku individu yang menuntaskan suatu kedudukan tertentu disebut
dengan istilah ilmiah yaitu “peranan sosial”. Istilah pernanan memang dipinjam
dari seni sandiwara. berbeda dengan sandiwara, si pemain tidak hanya memainkan
satu peranan saja, tetapi beberapa peranan sekaligus secara berganti- ganti. Dalam
ilmu antropologi dan ilmu sosial-sosial lain, peranan diberi arti yang lebih khusus
yaitu peranan khas yang dipentaskan atau ditindakkan oleh individu dalam
kedudukan dimana ia berhadapan dengan individu-individu dalam kedudukan lain.
Itulah sebab-sebabnya konsep peranan menurut pengertian ilmiah mengandung
kenyataan bahwa si individu dari waktu ke waktu dapat berpindah dari sutu
peranan ke peranan yang lain, bahkan jarak antara satu waktu dengan waktu yang
lain dapat sedemikian dekatnya sehingga seolah-olah tampak sebagai satu waktu.
Hal yang tersebut terakhir ini bahwa seorang individu dapat mementaskan
sekaligus dua atau lebih peranan sosial pada saat-saat tertentu.
E. Interaksi Masyarakat
1. Struktur Sosial
Dasar pikirannnya mengenai struktur sosial itu secara singkat adalah seperti
terurai di bawah ini:
a. Pangkal dan pusat dari segala penelitian-penelitian masyarakat dimuka
bumi ini, serupa dengan penelitian ilmu kimia itu yang memusatkan
perhatian terhadap suatu susunan hubungan antara molekul-molekul yang
menyebabkan adanya berbagai zat. Dengan demikian pula ilmu
antropologi pada dasarnya harusnya harus mempelajari sususnan berbagai
masyarakat. Perumusan dari berbagai macam susunan hubungan antara
individu dalam masyarakat itulah social struktur atau struktur sosial.

b. Struktur sosial dari masyarakat itu mengendalikan tindakan individu
dalam masyarakat, tetapi tidak tampak oleh seorang peneliti dengan
sekejap pandangan, dan harus diabstraksiakan secara induksi dan dari
kenyataan kehidupan masyarakat konkret.
c. Hubungan interaksi antara individu dalam masyarakat adalah hal yang
konkret yang dapat di observasi dan dapat dicatat. Struktur sosial seolaholah berada dibalakang hubungan konkret itu. Hal ini menjadi terang bila
kita perhatikan bahwa struktur itu hidup langsung, sedangkan individuindividu yang bergerak nyata dalamnya dapat silih berganti.
d. Dengan struktur sosial itu seorang peneliti kemudian dapat menyelami
latar belakang seluruh kehidupan suatu masyarakat, baik hubungan
kekerabatan perekonomian, religi, maupun aktifitas kebudayaan atau
pranata lainnya.
e. Untuk mempelajari struktur sosial suatu masyarakat diperlukan suatu
penlitian dilapangan, dengan mendatangi sendiri suatu masyarakat
manusia yang hidup terikat suatu desa, suatu kota besar, atau suatu
kelompok berburu dan atau yang lain.
f. Struktur sosial juga dapat dipakai sebagai kriterium untuk menentukan
batas-batas dari suatu masyarakat tertentu.

2. Analisis Struktur Sosial
Konsep sosial struktur belum pernah member petunjuk mengenai metodologi
yang digunakan seorang peniliti mengabstraksikan susunan sosial dalam kenyataan
kehidupan masyarakat. Metode-metode yang paling umum adalah mencari
kerangka itu dari kehidupan kekerabatan. Dalam suatu masyarakat kecil dan local
kehidupan kekerabatan merupakan suatu sistem yang sering kali yang bers

Dokumen yang terkait

Dokumen baru