Perbandingan Implementasi Routing Protocol Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP) Dengan Open Shortest Path First (OSPF) Pada Jaringan Backbone USUNETA

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1

Routing

Routing merupakan proses pertukaran informasi metric dan rute waktu tujuan

antar router untuk menemukan jalur terpendek secepat mungkin pada jaringan [2].
Proses routing terjadi pada perangkat yang disebut dengan router . Dengan
demikian router dan routing merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu
sama lain. Pada saat dilakukannya proses routing, router akan memilih rute
terpendek untuk mencapai tujuannya (destination) [3]. Router akan mengolah
informasi tersebut menjadi sebuah skema yang disebut dengan tabel routing. Router
tidak akan mengirimkan paket-paket yang tidak diketahui tujuannya [4]. Router
akan menyimpan tabel routing terbaik untuk setiap protokol dan rute secara terpisah
[3]. Ada 2 (dua) jenis routing secara umum yang sering digunakan pada jaringan
yaitu routing statis dan routing dinamis.

2.1.1 Routing Statis

Routing statis adalah router yang tabel routing-nya diatur secara manual oleh

perancang jaringan pada masing-masing gateway, biasanya dibangun untuk
jaringan kecil yang jarang down (stabil) yang hanya memiliki 2 atau 3 gateway saja.
Jaringan yang tidak stabil dapat menimbulkan masalah di semua routing dan
menghabiskan bandwidth, hal ini disebabkan karena tabel routing yang diberikan
oleh gateway tidak benar. Terlebih memberatkan lagi apabila jaringan semakin
berkembang. Setiap penambahan sebuah router , maka router yang telah ada

6
Universitas Sumatera Utara

sebelumnya harus diberikan tabel routing tambahan secara manual. Jadi jelas,
routing statis tidak mungkin dipakai untuk jaringan besar [5].
Routing statis memiliki beberapa keuntungan diantaranya, meringankan kerja
processor yang terdapat di router , tidak ada bandwidth yang digunakan untuk

pertukaran informasi (isi dari tabel routing) antar router dan tingkat keamanan lebih
tinggi dibanding dengan mekanisme lainnya. Sedangkan kekurangan yang dimiliki
oleh routing statis antara lain administrator harus mengetahui informasi dari setiap

router yang terhubung dengan jaringan, jika terdapat penambahan atau perubahan

topologi jaringan, administrator harus mengubah isi tabel routing serta tidak cocok
untuk jaringan yang besar [6].

2.1.2 Routing Dinamis
Routing dinamis adalah router yang memiliki tabel routing yang bekerja

dengan menggunakan lalu lintas jaringan yang saling berhubungan dengan router
lainnya. Routing dinamis hanya menjalankan protokol routing yang dipilih
berdasarkan router tetangganya dan secara otomatis tabel routing yang terbaru akan
didapatkan. Selain menguntungkan, routing dinamis juga sedikit merugikan karena
routing dinamis memerlukan routing protokol untuk membuat tabel routing dan

protokol routing yang digunakan bisa memakan resource komputer [5].
Protokol routing dinamis dapat diklasifikasikan menjadi Interior Gateway
Protocol (IGP) dan Exterior Gateway Protocol (EGP). Interior Gateway Protocol

(IGP) dapat diklasifikasikan dalam tiga kelas, yakni Distance vector, Link State dan
Hybrid. [7]:


7
Universitas Sumatera Utara

1. Distance vector . Distance vector adalah protokol yang menemukan jalur
terbaik ke sebuah network remote dengan menilai jarak.
2. Link state. Link state adalah protokol yang dimana setiap router akan
menciptakan tiga buah tabel terpisah. Satu dari tabel ini mencatat
perubahan dari jaringan-jaringan yang terhubung secara langsung, satu
tabel lain menentukan topologi dari keseluruhan internetwork, dan tabel
yang terakhir digunakan sebagai tabel routing.
3. Hybrid. Protokol hybrid menggunakan aspek-aspek dari protokol routing
jenis distance-vector dan jenis link-state [7].

2.2

Routing Protocol

Routing protocol merupakan komunikasi antar router yang mengizinkan
router untuk membagi informasi tentang jaringan dan koneksi antar router.


Informasi ini digunakan untuk membangun dan memperbaiki tabel routing [8][9].
Adapun contoh dari routing protocol yaitu Interior Gateway Routing Protocol
(IGRP), Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP), Open Shortest
Path First (OSPF), Exterior Gateway Protocol (EGP), Border Gateway Protocol

(BGP), Intermediate System to Intermediate System (IS-IS), dan Routing
Information Protocol (RIP) namun routing dinamic yang digunakan pada penelitian

ini adalah OSPF dan EIGRP.

8
Universitas Sumatera Utara

2.2.1 Open Shortest Path First (OSPF)
Open Shortest Path First (OSPF) merupakan routing protocol yang

menggunakan algoritma Dijkstra dalam menentukan rute terbaik. Sebuah pohon
rute terpendek (Shortest Path Tree) dibangun terlebih dahulu sebelum dibangunnya
tabel routing, kemudian tabel routing diisi dengan rute-rute terbaik [10].

OSPF menggunakan routing protokol link-state, dengan karakteristik sebagai
berikut, protokol routing link-state, merupakan open standard routing protocol
yang dijelaskan di RFC 2328, menggunakan algoritma Shortest Path First (SPF)
untuk menghitung cost terendah dan update routing dilakukan secara floaded saat
terjadi perubahan topologi jaringan [11].
OSPF adalah routing protocol untuk IP. Kelebihan dari protokol ini adalah
mendeteksi perubahan dengan cepat dan menjadikan routing kembali konvergen
dalam waktu singkat dengan sedikit pertukaran data. OSPF merupakan routing
protocol yang secara umum dapat digunakan oleh tipe router yang berbeda, seperti
router (juniper, cisco, huawei, mikrotik, dan lainnya), sehingga antar router yang

berbeda dapat terhubung dengan routing OSPF. Teknologi OSPF menggunakan
algoritma link state, algoritma ini didesain dengan pekerjaan yang efisien dalam
proses pengiriman update informasi rute [12].
Terdapat lima langkah routing protocol OSPF dalam tahap mulai dari awal
hingga dapat saling bertukar informasi, yaitu [12]:
1. Membentuk Adjacency Router
Adjacency router adalah menghubungkan diri dan saling berkomunikasi

dengan router terdekat atau neighbor router .


9
Universitas Sumatera Utara

2. Memilih Designated Router (DR) dan Backup Designated Router (BDR)
(jika diperlukan)
Designated Router (DR) dan Backup Designated Router (BDR) akan

menjadi pusat komunikasi seputar informasi OSPF dalam jaringan
tersebut. Secara default semua router OSPF memiliki nilai Priority 1,
dengan range 0-255. Range 0 menjamin router tidak akan menjadi DR
atau BDR, sedangkan range 255 menjamin router menjadi DR.
3. Mengumpulkan state-state dalam jaringan
Pada jaringan yang menggunakan media broadcast, DR akan melayani
setiap router yang ingin bertukar informasi dalam jaringan. Sebelum
melakukan pengiriman, terlebih dahulu ditentukan router yang akan
menjadi master yang akan melakukan pengiriman lebih dahulu.
4. Memilih rute terbaik untuk digunakan
Untuk memilih rute terbaik, parameter yang digunakan oleh OSPF adalah
metric cost. Metric cost akan menggambarkan seberapa dekat dan


cepatnya sebuah router .
5. Menjaga informasi routing tetap up to date
Tabel routing bertujuan untuk menjaga jika ada router yang sudah tidak
valid agar tidak lagi digunakan [12].

OSPF merupakan routing protocol yang menggunakan konsep hierarki
routing, yaitu mampu membagi jaringan menjadi beberapa tingkatan. Tingkatan ini

diwujudkan dengan menggunakan sistem pengelompokan yaitu area. OSPF
memiliki beberapa tipe area diantaranya [13]:

10
Universitas Sumatera Utara

a. Bakcbone - Area 0 (Area ID 0.0.0.0)
Bertanggung jawab mendistribusikan informasi routing antara nonbackbone area. Semua sub-area harus terhubung dengan backbone secara

logikal.
b. Standart/ Default Area

Merupakan sub-area dari Area 0. Area ini menerima Link State
Advertisement (LSA) intra-area dan inter-area dari Area Border Router

(ABR) yang terhubung dengan area 0 (Backbone Area ).
c. Stub Area
Area yang paling "ujung". Area ini tidak menerima advertise external
route (digantikan default area).

d. Not So Stubby Area
Stub Area yang tidak menerima external route (digantikan default route)

dari area lain tetapi masih bisa mendapatkan external route dari router
yang masih dalam 1 area [13].

OSPF adalah routing protocol tanpa kelas yang menggunakan konsep area
untuk skalabilitas. OSPF memiliki 3 tabel di dalam router , yaitu [9]:
1. Routing table
Routing table biasa juga disebut sebagai forwarding database. Database

ini berisi the lowest cost untuk mencapai router-router/ network-network

lainnya. Setiap router mempunyai routing table yang berbeda-beda.
2. Adjecency database
Database ini berisi semua router tetangganya. Setiap router mempunyai
adjecency database yang berbeda-beda.

11
Universitas Sumatera Utara

3. Topological database
Database ini berisi seluruh informasi tentang router yang berada dalam

satu network-nya/ areanya [9].

Richard Deal (2008) menyatakan beberapa keuntungan pada saat
menggunakan protokol OSPF dibandingkan protokol internal lainnya antara lain
[10]:
1. OSPF open standard berjalan pada hampir semua vendor router.
2. Menggunakan algoritma SPF yang dikembangkan oleh Edsger Dijkstra.
3. Melakukan konvergensi yang cepat pada saat ada perubahan pada topologi
jaringan.

4. Mendukung Variabel Length Subnet Mask (VLSM) dan Classless
Interdomain Domain Routing (CIDR).

5. Melakukan kalkulasi untuk penentuan rute terbaik dibandingkan dengan
protokol RIP [10].

2.2.2 Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP)
Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP) merupakan routing
protocol yang telah ditingkatkan (enhanced) dari pendahulunya yaitu Interior
Gateway Routing Protocol (IGRP) dan hanya dapat digunakan oleh router yang

diproduksi oleh Cisco, Inc. EIGRP menggunakan konsep Autonomous System (AS)
untuk menggambarkan router-router suatu jaringan yang beroperasi dengan
protokol yang sama dan saling berbagi informasi routing yang sama [14].
EIGRP merupakan protokol yang bersifat hybrid, dikatakan hybrid karena
menggabungkan kelebihan yang ada pada distance vector dan link state, dimana

12
Universitas Sumatera Utara


EIGRP mengirim update informasi tentang jaringan sekaligus untuk mencapai
tujuan, merupakan karakterisik dari distance vector , disamping itu EIGRP
mensnikronkan routing tabel antara router tetangga dan mengirim informasi terbaru
ketika terjadi perubahan topologi. Hal inilah yang membuat EIGRP sesuai untuk
network yang sangat besar [14][15].

EIGRP memiliki karakteristik sebagai berikut [11]:
a. Termasuk routing protocol distance vector tingkat lanjut.
b. Menggunakan cost load balancing yang tidak sama.
c. Menggunakan algoritma kombinasi antara distance vector dan link state.
d. Menggunakan Diffusing Update Algorithm (DUAL) untuk menghitung
jalur terpendek.
e. Update routing dilakukan secara multicast apabila terjadi perubahan pada
topologi jaringan [11].

Router yang telah dikonfigurasi menggunakan EIGRP menyimpan semua
routing tetangganya, sehingga dengan mudah melakukan adaptasi pada rute

alternatif. Jika tidak ada rute yang cocok EIGRP akan segera melakukan query
tetangga atau menanyakan, untuk mencari rute alternatif tersebut. Hal ini terus
dijalankan hingga rute alternatif ditemukan. EIGRP menggunakan Diffusing
Update Algoritm (DUAL) dalam mencari dan menjaga jalur terbaik [15].

Adapun cara kerja dari routing protocol EIGRP ini adalah sebagai berikut
[15][16]:
1. Memilih jalur terbaik untuk mencapai suatu network.
2. Feasible Distance (FD), adalah informasi rute terbaik yang diperoleh dari
routing table.

13
Universitas Sumatera Utara

3. Advertised Distance (AD), merupakan laporan nilai metric dari router
tentang cost menuju network yang dikirim ke router tetangga.
4. Successor , adalah jalur terbaik untuk meneruskan trafik data ke suatu
tujuan network yang terpisah.
5. Feasible Successor , adalah jalur backup dari successor [15][16].

EIGRP menggunakan dan memelihara 3 jenis tabel, yaitu neighbor table
berisi informasi semua router tetangga yang terdaftar, topology table untuk
melakukan kalkulasi lowest cost router untuk setiap network destination yang
didapatkan dari setiap neighbor , dan routing table berisi jalur terbaik untuk
mencapai ke setiap tujuan [12].
Kelebihan EIGRP dibandingkan dengan protokol lain yaitu kecepatan
konvergensinya dimana pada saat jaringan mengalami masalah atau gangguan
maka router akan segera melakukan update routing, dan kemampuan update secara
persial yaitu router mengirimkan update ke router lain ketika terdapat rute baru
dalam routing table, serta mendukung protokol-protokol layer network yang
berbeda melalui modul-modul yang disebut protocol-dependent modules (PDMs)
[14][15].

2.3

Perangkat Jaringan
Perangkat jaringan merupakan sejumlah perangkat yang digunakan dalam

jaringan sebagai pemecah jaringan hub, bridge, switch, mengatur teknik routing
jaringan router , penguat jaringan repeater , pengkonversi data jaringan modem dan
interface end user dengan jaringan (NIC & wireless adapter ) [8].

14
Universitas Sumatera Utara

1.

Router
Router merupakan perangkat pada lapisan network yang berfungsi meneruskan

data dengan cara memeriksa network address-nya dan memutuskan apakah suatu
data pada sebuah LAN harus tetap di LAN itu atau diteruskan ke jaringan lain [17].
Gambar 2.1 menunjukkan contoh sebuah router Cisco.

Gambar 2.1 Router Cisco

Fungsi mendasar yang harus dilakukan router adalah [8][17]:
1. Menyediakan tautan antar jaringan.
2. Menyediakan layanan perutean dan pengiriman data antar proses pada
sistem-sistem akhir yang terhubung ke jaringan berbeda.
3. Menyediakan fungsi-fungsi yang sedemikian rupa sehingga tidak
memerlukan perubahan arsitektur jaringan atau sub jaringan terhubung
manapun.

Pada dunia nyata, sebuah router tidak berdiri sendiri, tapi saling bekerja sama
dengan router-router lain, sehingga seolah-olah membentuk jaringan router yang
kompleks [8][17].

15
Universitas Sumatera Utara

2.

Switch
Switch merupakan perangkat yang dapat menghubungkan frame data yang

berasal dari salah satu komputer ke salah satu atau semua port yang terdapat pada
switch tersebut, sehingga salah satu atau semua komputer yang terhubung dengan
port switch akan menerima data juga. Switch bekerja pada lapisan data link [8].

Gambar 2.2 memperlihatkan contoh sebuah switch Cisco.

Gambar 2.2 Switch Cisco

3.

Media Transmisi
Dalam suatu transmisi data, media transmisi merupakan jalur fisik diantara

pengirim dan penerima. Ada tiga media kabel yang umum digunakan untuk
transmisi data, khususnya LAN, yaitu kabel coaxial, twisted pair dan fiber optic
[8][18].
a.

Kabel Coaxial
Kabel coaxial terdiri atas dua kabel yang diselubungi oleh dua tingkat isolasi.

Tingkat isolasi pertama adalah yang paling dekat dengan kawat konduktor tembaga.
Tingkat pertama ini dilindungi oleh serabut konduktor yang menutup bagian
atasnya yang melindungi dari pengaruh elektromagnetik. Sedangkan bagian inti
yang digunakan untuk transfer data adalah bagian tengahnya yang selanjutnya
ditutup atau dilindungi dengan plastik sebagai pelindung akhir untuk menghindari
dari goresan [1].

16
Universitas Sumatera Utara

b.

Kabel Twisted Pair
Kabel twisted pair adalah media transmisi yang paling hemat dan paling

banyak digunakan. Sebuah twisted pair terdiri dari dua kawat yang disekat yang
disusun dalam sebuah pola lilitan yang beraturan. Ada dua jenis kabel twisted pair
yaitu Unshielded Twisted Pair (UTP) dan Shielded Twisted Pair (STP) [8]. Gambar
kabel twisted pair ditunjukkan pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3 Kabel UTP dan STP

c.

Kabel Serat Optik (Fiber Optic)
Kabel serat optik mengirim data sebagai pulsa cahaya melalui kabel serat optik.

Kabel serat optik mempunyai keuntungan yang menonjol dibandingkan dengan
semua pilihan kabel tembaga. Kabel serat optik memberikan kecepatan transmisi
data tercepat dan lebih reliable, karena jarang terjadi kehilangan data yang
disebabkan oleh interferensi listrik. Kabel serat optik juga sangat tipis dan fleksibel
sehingga lebih mudah dipindahkan daripada kabel tembaga yang berat [8][18].

2.4

Protokol
Apabila dua buah sistem saling berkomunikasi, hal pertama yang dibutuhkan

adalah kesamaan bahasa yang digunakan, sehingga dapat saling memahami alur
proses komunikasi. Lain halnya apabila dua buah sistem saling berkomunikasi

17
Universitas Sumatera Utara

dengan bahasa yang berlainan, tentunya dua sistem tersebut tidak akan saling
memahami. Untuk itu, sistem tersebut membutuhkan sebuah mekanisme
pengaturan bahasa yang dapat dipahami oleh dua buah sistem tersebut sehingga
pertukaran informasi antar sistem akan dapat terjadi dengan benar. Aturan bahasa
komunikasi ini sering disebut protokol komunikasi atau communications protocols.
Protokol komunikasi merupakan aturan dalam melakukan pengiriman data (berupa
blok-blok data) dari sebuah node jaringan ke node jaringan lain.

2.4.1 Standarisasi Protokol
Beragamnya berbagai komponen dan perangkat komputer dalam suatu
jaringan, membutuhkan suatu standar protokol yang dapat digunakan oleh beragam
perangkat tersebut. Salah satu standar protokol yang dikembangkan International
Standard Organization (ISO) adalah model referensi Open System Interconnection

(OSI). Protokol model referensi OSI ini dibentuk dengan beberapa tujuan sebagai
berikut [18]:
1. Menjadi pedoman dalam pengembangan prosedur komunikasi pada masa
mendatang.
2. Mengatasi hubungan yang timbul antar pemakai dengan cara memberikan
fasilitas yang sama dan memenuhi kebutuhan pemakai kini dan mendatang
(berorientasi ke pengembangan masa depan).
3. Membagi permasalahan prosedur penyambungan menjadi substruktur.
4. Open system dengan tujuan agar dapat terjalin kerjasama antar terminal
dan peralatan dari berbagai produk dan produsen yang berbeda [18].
Model OSI dikembangkan oleh ISO sebagai model untuk arsitektur
komunikasi komputer, serta sebagai kerangka kerja bagi pengembangan standar18
Universitas Sumatera Utara

standar protokol. Model referensi OSI memiliki tujuh lapisan seperti terlihat pada
Gambar 2.4 [1][18].

Gambar 2.4 Lapisan OSI
Fungsi masing-masing lapisan pada Gambar 2.4 adalah [1][18]:
1. Lapisan 7 : Lapisan Application, bertanggungjawab dalam menyediakan
pelayanan jaringan untuk proses aplikasi.
2. Lapisan 6 : Lapisan Presentation, memastikan bahwa suatu data dapat
terbaca oleh suatu sistem.
3. Lapisan 5 : Lapisan Session, bertanggungjawab dalam membuka,
mengatur dan menutup suatu hubungan komunikasi antar end-system.
4. Lapisan 4 :

Lapisan

Transport,

bertanggungjawab memastikan

transportasi data dilakukan dengan baik dalam koneksi end-system.
5. Lapisan 3 : Lapisan Network, bertanggungjawab dalam pengalamatan dan
routing antar end-system.

6. Lapisan 2 : Lapisan Data Link, bertanggungjawab memberikan transfer
data yang terjamin bebas dari kesalahan.
7. Lapisan 1 : Lapisan Physical, bertanggung jawab transmisi data dalam bit
secara elektrik [1][18].

19
Universitas Sumatera Utara

2.5

Internet Protocol

Internet protocol address merupakan singkatan dari IP address. Pengertian

IP address adalah suatu identitas numerik yang dilabelkan kepada suatu alat seperti
komputer, router atau printer yang terdapat dalam suatu jaringan komputer yang
menggunakan IP sebagai sarana komunikasi. IP address memiliki dua fungsi, yakni
[9][18]:
1. Sebagai alat identifikasi host atau antarmuka pada jaringan.
Fungsi ini diilustrasikan seperti nama orang sebagai suatu metode untuk
mengenali siapa orang tersebut, dalam jaringan komputer berlaku hal yang
sama.
2. Sebagai alamat lokasi jaringan.
Fungsi ini diilustrasikan seperti alamat rumah yang menunjukkan lokasi
seseorang berbeda. Untuk memudahkan pengiriman paket data, maka IP
address memuat informasi keberadaaannya. Ada rute yang harus dilalui

agar data dapat sampai ke komputer yang dituju.

IP address menggunakan bilangan 32 bit. Sistem ini dikenal dengan nama
Internet Protocol version 4 atau IPv4. Saat ini IPv4 masih digunakan meskipun

sudah ada Internet Protocol version 6 atau IPv6 yang diperkenalkan pada tahun
1995. Hal ini dikarenakan tingginya pertumbuhan jumlah komputer yang
terkoneksi ke internet. Maka dibutuhkan alamat yang lebih banyak yang mampu
mengidentifikasi banyak anggota jaringan. Gambar 2.5 menunjukkan header dari
internet protocol versi 4 [18].

20
Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.5 IPv4 header

2.5.1 IP Address versi 4
Internet Protocol versi 4 (IPv4) merupakan protokol standar yang paling

banyak digunakan saat ini. IPv4 yang umum dipakai saat ini terdiri atas 4 oktet,
yang mana setiap oktet mampu menangani 255 buah komputer yang mampu
menangani jumlah pengguna maksimal sebanyak 4.228.250.625 buah komputer
[19].
IPv4 dapat dibagi menjadi 5 kelas, yaitu kelas A, B, C, D dan E. Namun dalam
praktiknya hanya kelas A, B, dan C yang dipakai untuk keperluan umum [9][18].
Pengalamatan IP menurut pembagian kelasnya yakni kelas A, B dan C dapat
dipisahkan menjadi dua bagian yakni bagian network bit dan bagian host bit.
Network bit berperan sebagai pembeda antar jaringan atau network identification

(ID), sedangkan host bit berperan sebagai host identification (ID). Ilustrasi network
dan host ID diperlihatkan pada Gambar 2.6 [1].

Gambar 2.6 Ilustrasi Network ID dan Host ID

21
Universitas Sumatera Utara

Berikut ini penjelasan masing-masing kelas IP address:
a. Kelas A
Bagan IP address kelas A diperlihatkan pada Gambar 2.7 [1].

Gambar 2.7 Bagan IP Address Kelas A
Bit pertama bernilai 0 dan 7, bit berikutnya (8 bit pertama) merupakan bitbit untuk network dan sisanya yaitu 24 bit terakhir merupakan bit-bit untuk
host.

b. Kelas B
Bagan IP address kelas B diperlihatkan pada Gambar 2.8 [1].

Gambar 2.8 Bagan IP Address Kelas B

Dua bit pertama bernilai 10 dan 14, bit berikutnya (16 bit pertama)
merupakan bit untuk network dan sisanya yaitu 16 bit terakhir merupakan
bit-bit untuk host.
c. Kelas C
Bagan IP address kelas C diperlihatkan pada Gambar 2.9 [1].

Gambar 2.9 Bagan IP Address Kelas C

22
Universitas Sumatera Utara

Tiga bit pertama bernilai 110 dan 21, bit berikutnya (24 bit pertama)
merupakan bit-bit untuk network dan sisanya yaitu 8 bit terakhir
merupakan bit-bit untuk host [1].
d. Kelas D
IP address kelas D digunakan untuk keperluan multicast address yakni
sejumlah komputer yang memakai bersama suatu aplikasi. 4 bit pertama
IP address kelas D selalu diset 1110 sehingga byte pertamanya berkisar
antara 224-247, sedangkan bit-bit berikutnya diatur sesuai keperluan
multicast group yang menggunakan IP address ini. Dalam multicasting

tidak dikenal istilah network ID dan host.
e. Kelas E
IP address kelas E tidak diperuntukkan untuk keperluan umum, 4 bit
pertama IP address kelas ini diset 1111 sehingga byte pertamanya berkisar
antara 248-255 [16][20].

2.6

Protokol Internet Control Message Protocol (ICMP)
Internet Control Message Protocol (ICMP) merupakan protokol pada

jaringan komputer yang mempunyai tugas memberitahukan kepada pengguna
tentang ada tidaknya koneksi jaringan, terjangkau atau tidaknya sebuah komputer
server atau komputer tujuan, serta kemungkinan adanya balasan dari server tujuan

atau komputer tujuan tersebut. Pesan ICMP dikirim oleh IP sebagai muatan dari
datagram IP. Sistem ICMP bekerja dengan cara mengirimkan ICMP echo request
dan ICMP echo reply kepada pengguna komputer melalui perintah ping dan
menyediakan sebuah mekanisme untuk menghubungkan control message dan error

23
Universitas Sumatera Utara

reports [19]. Gambar 2.10 menunjukkan susunan dan komposisi sebuah pesan

ICMP.

Gambar 2.10 Susunan dari Pesan ICMP [17]

2.7

Jaringan Backbone USUNETA
Backbone adalah lintasan utama yang merupakan saluran atau koneksi

berkecepatan tinggi dalam sebuah jaringan. Jaringan backbone mendukung lalu
lintas data, suara dan gambar dengan lingkup jaringan mencapai 100 km. Dengan
adanya jaringan backbone masalah kecepatan interkoneksi antar jaringan lokal akan
teratasi [21].
Desain jaringan backbone USUNETA diperoleh dari kantor Pusat Sistem
Informasi (PSI) Universitas Sumatera Utara. Berdasarkan desain jaringan tersebut
diketahui backbone USUNETA memiliki 46 titik akses backbone USUNETA
dalam kondisi aktif digunakan yang terdiri dari 7 titik perangkat Core Switch dan
39 titik perangkat Distribution Switch dari berbagai lokasi gedung di USU [22].
Desain jaringan backbone USUNETA dapat dilihat pada Lampiran I.

24
Universitas Sumatera Utara

Dokumen yang terkait

Perbandingan Implementasi Routing Protocol Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP) Dengan Open Shortest Path First (OSPF) Pada Jaringan Backbone USUNETA

2 15 143

Analisis unjuk kerja perbandingan protokol routing Routing Information Protocol (RIP) dan Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP).

0 4 52

Perbandingan Implementasi Routing Protocol Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP) Dengan Open Shortest Path First (OSPF) Pada Jaringan Backbone USUNETA

0 0 12

Perbandingan Implementasi Routing Protocol Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP) Dengan Open Shortest Path First (OSPF) Pada Jaringan Backbone USUNETA

0 1 1

Perbandingan Implementasi Routing Protocol Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP) Dengan Open Shortest Path First (OSPF) Pada Jaringan Backbone USUNETA

0 0 5

Perbandingan Implementasi Routing Protocol Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP) Dengan Open Shortest Path First (OSPF) Pada Jaringan Backbone USUNETA

0 0 3

Perbandingan Implementasi Routing Protocol Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP) Dengan Open Shortest Path First (OSPF) Pada Jaringan Backbone USUNETA

0 0 74

ANALISIS PERBANDINGAN ROUTING PROTOKOL OPEN SHORTES PATH FIRST (OSPF) DENGAN ENHANCED INTERIOR GATEWAY ROUTING PROTOCOL (EIGRP)

0 0 8

Perbandingan Kinerja Protocol Routing Open Shortest Path First (OSPF) dan Routing Information Protocol (RIP) Menggunakan Simulator Cisco Packet Tracer

0 1 7

Perbedaan Routing Menggunakan Routing Information Protocol (RIP) Dengan Open Shortest Path First (OSPF)

1 1 11