BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1. Teori Keagenan - Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keberadaan Komite Manajemen Risiko Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2011-2014

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Pustaka

2.1.1. Teori Keagenan

  Menurut Jensen dan Meckling (1976), teori keagenan merupakan suatu hubungan kontrak dimana salah satu pihak (principal) menggunakan pihak lain (agent) untuk mengerjakan suatu hal tertentu untuk kepentingan mereka, dengan melibatkan suatu pendelegasian wewenang pengambilan keputusan untuk agen. Menurut Michael B. Adams (1994), teori keagenan didasarkan

  pada pikiran bahwa agen memiliki informasi lebih banyak dari principal dan asimetri informasi ini mempengaruhi secara negatif kemampuan principal untuk memantau secara efektif apakah benar kepentingan mereka dijalankan atau tidak oleh agen. Menurut teori keagenan, konflik antara prinsipal dan

  agen dapat dikurangi dengan mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen. Kehadiran kepemilikan saham oleh manajerial (insider ownership) dapat digunakan untuk mengurangi agency cost yang berpotensi timbul, karena dengan memiliki saham perusahaan diharapkan manajer merasakan langsung manfaat dari setiap keputusan yang diambilnya. Proses ini dinamakan dengan bonding mechanism, yaitu proses untuk menyamakan kepentingan manajemen melalui program mengikat manajemen dalam modal perusahaan.

  Menurut Eisenhardt (1989), teori keagenan dilandasi oleh 3 buah asumsi yaitu:

  1. Asumsi tentang sifat manusia Menekankan bahwa manusia memiliki sifat untuk mementingkan diri sendiri (self Interest), memiliki keterbatasan rasionalitas (bounded

  rationality ), dan tidak menyukai risiko (risk aversion).

  2. Asumsi tentang keorganisasian Adanya konflik antar anggota organisasi, efisiensi sebagai kriteria produktivitas dan adanya asymmetric information antara principal dan agent.

  3. Asumsi informasi Informasi dipandang sebagai barang komoditi yang bisa diperjualbelikan.

  Masalah keagenan ini dapat menimbulkan biaya keagenan, yaitu biaya pengorbanan agar agen bertindak sesuai kepentingan principal. Menurut Jensen dan Meckling (1976) terdapat tiga komponen biaya keagenan. Yang pertama biaya pengawasan (monitoring cost) yaitu biaya yang dikeluarkan prinsipal untuk membatasi perilaku agen yang mementingkan kepentingannya. Komponen kedua adalah biaya yang dikeluarkan agen sebagai jaminan bagi prinsipal agar agen tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan prinsipal, misalnya insentif kepegawaian. Komponen biaya ketiga adalah kerugian residual (residual loss) yaitu nilai uang ekuivalen dengan pengurangan kesejahteraan yang dialami prinsipal akibat tindakan agen yang menyimpang dari tujuan perusahaan.

  Menurut Kajuter et al., 2002 dalam (Safitri, 2013), penerapan manajemen risiko dapat menurunkan biaya keagenan dan meningkatkan nilai perusahaan. Manajemen risiko perusahaan juga dapat dijadikan mekanisme pengawasan dalam menurunkan informasi asimetris dan berkontribusi untuk menghindari perilaku oportunis dari manajer. Oleh karena itu, perlulah dibentuk Komite Manajemen Risiko (Risk Management Committee). Komite manajemen risiko dapat membantu dewan komisaris dalam pengawasan perusahaan, terutama dalam strategi, kebijakan, dan proses manajemen risiko perusahaan. Pada dasarnya, komite tersebut memberikan kualitas pengendalian internal yang lebih baik, yang terpenting lagi untuk memperkecil perilaku opportunistic agen (Subramaniam, et al., 2009).

2.1.2. Risiko dan Manajemen Risiko

  Risiko adalah suatu kemungkinan yang tak diharapkan. Munculnya kejadian yang tak diharapkan dapat mengakibatkan kerugian. Semua orang takut untuk menanggung risiko, namun kehidupan ini penuh dengan risiko. Risiko merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, ada pepatah mengatakan tak ada hidup tanpa risiko.

  Kata risiko biasanya mempunyai konotasi negatif bagi setiap orang, karena risiko dapat menjadi penyebab terjadinya suatu kerugian investor yang memegang saham mengkhawatirkan harga saham yang turun. Bank khawatir apabila debitornya menyatakan gagal bayar (default). Risiko yang dihadapi berasal dari beberapa sumber. Sumber-sumber tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tiga sumber menjadi:

  1. Risiko sosial. Sumber utama risiko ini adalah masyarakat. Artinya, tindakan orang-orang menciptakan kejadian yang menyebabkan penyimpangan merugikan. Misalnya; pencurian, vandalism, huru-hara, peperanagna dan sebagainya.

  2. Risiko fisik. Ada banyak sumber risiko fisik, sebagian merupakan fenomena alam dan sebagian karena tingkah laku manusia. Kebakaran adalah penyebab utama cidera fisik, kematian maupun kerusakan harta. Kebakaran dapat disebabkan oleh petir, konsluiting kabel, gesekan benda maupun kecerobahan manusia.

  3. Risiko ekonomi. Banyak risiko yang dihadapi oleh manusia itu bersifat ekonomi, misalnya inflasi, resesi, fluktuasi harga dan lain-lain. Selama periode daya beli uang merosot. Para pensiunan dan mereka yang berpenghasilan tetap, tidak mungkin lagi dapat mempertahankan tingkat hidup sebagaimana biasanya. Bahkan pada periode ekonomi yang relative stabil, daerah-daerah tertentu mungkin mengalami boom atau resesi.

  Keadaan ini menempatkan orang-orang pada pengusaha pada risiko yang sama dengan risiko pada fluktuasi umum kegiatan ekonomi.

  Besarnya ukuran risiko dan frekuensi kemunculan kejadian yang tak diinginkan menuntut manajemen risiko. Perusahaan perlu mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang dihadapi, mengukur besarnya risiko dan manajemen risiko tersebut.

  Manajemen risiko merupakan desain prosedur serta implementasi prosedur untuk mengelola suatu risiko usaha. Keberadaan manajemen risiko merupakan antisipasi atas semakin kompleknya aktivitas badan usaha atau perusahaan yang dipicu oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi. Manajemen risiko banyak diperbincangkan orang akhir-akhir ini. Manajemen risiko tidak saja diperlukan untuk dipelajari dalam mengelola risiko-risiko yang dihadapi oleh badan usaha atau perusahaan, tetapi juga dipelajari untuk mengelola kehidupan semesta ini (Kasidi, 2010). Manajemen risiko didefenisikan sebagai suatu metode logis dan sistematik dalam identifikasi, kuantifikasi, menentukan sikap, menetapkan solusi, serta melakukan monitor dan pelaporan risiko yang berlangsung pada setiap aktivitas atau proses. Hubungan antara risiko dan hasil secara alami berkolerasi secara linier negatif. Semakin tinggi hasil yang diharapkan, dibutuhkan risiko yang semakin besar untuk dihadapi. Untuk itu, diperlukan upaya yang serius agar hubungan tersebut menjadi kebalikannya, yaitu aktivitas yang meningkatkan hasil pada saat risiko menurun. Manajemen risiko diperlukan untuk: 1.

  Mendukung pencapaian tujuan; 2. Memungkinkan untuk melakukan aktivitas yang memberikan peluang yang jauh lebih tinggi dengan mengambil risiko yang lebih tinggi; risiko yang lebih tinggi diambil dengan dukungan sikap dan solusi yang sesuai terhadap risiko;

3. Mengurangi kemungkinan kesalahan fatal; 4.

  Menyadari bahwa risiko dapat terjadi pada setiap aktivitas dan tingkatan dalam organisasi sehingga setiap individu harus mengambil dan mengelola risiko masing-masing sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya (Idroes, 2008).

2.1.3. Good Coorporate Governance

  Istilah “corporate governance” pertama kali diperkenalkan oleh Cadbury Committee, Inggris di tahun 1922 yang menggunakan istilah tersebut dalam laporannya yang kemudian dikenal dengan Cadbury Report (Agoes dan Ardana, 2011). Istilah ini sekarang menjadi sangat popular dan telah diberi banyak definisi oleh berbagai pihak. Soekrisno Agoes (2006) dalam (Agoes dan Ardana, 2011) mendefinisikan tata kelola perusahaan yang baik sebagai suatu system yang mengatur hubungan peran Dewan Komisaris, peran Direksi, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya. Tata kelola perusahaan baik juga disebut sebagai suatu proses yang transparan atas penetuan tujuan perusahaa, pencapaiannya, dan penilaian kinerjanya.

  Dalam hubungannya dengan tata kelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri Negara BUMN juga mengeluarkan Keputusan Nomor Kep-117/M-MBU/2002 tentang Penerapan GCG (Tjager dkk., 2003 dalam Agoes dan Ardana, 2011). Ada lima prinsip menurut keputusan ini, yaitu: 1.

  Kewajaran (fairness), merupakan prinsip agar pengelola memperlakukan semua pemangku kepentingan secara adil dan setara, baik pemangku kepentingan primer (pemasok, pelanggan, karyawan, pemodal) maupun pemangku kepentingan sekunder (pemerintah, masyarakat, dan yang lainnya). Hal ini yang memunculkan konsep stakeholders (seluruh kepentingan pemangku kepentingan), bukan hanya kepentingan

  stockholders (pemegang saham saja).

  2. Transparansi, artinya kewajiban bagi para pengelola untuk menjalankan prinsip keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan dan penyampaian informasi. Keterbukaan dalam menyampaikan informasi juga mengandung arti bahwa informasi yang disampaikan harus lengkap, benar, dan tepat waktu kepada semua pemangku kepentingan. Tidak boleh ada hal-hal yang dirahasiakan, disembunyikan, ditutup-tutupi, atau ditunda-tunda pengungkapannya.

  3. Akuntabilitas, adalah prinsip di mana para pengelola berkewajiban untuk membina sistem akuntansi yang efektif untuk menghasilkan laporan keuangan (financial statements) yang dapat dipercaya. Untuk itu, diperlukan kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban setiap organ sehingga penelolaan berjalan efektif.

  4. Pertanggungjawaban, adalah prinisp di mana para pengelola wajib memberikan pertanggungjawaban atas semua tindakan dalam mengelola perusahaan kepada para pemangku kepentingan sebagai wujud kepercayaan yang diberikan kepadanya. Prinsip tanggung jawab ada sebagai konsekuensi logis dari kepercayaan dan wewenang yang diberikan oleh para pemangku kepentingan kepada para pengelola perusahaan. Tanggung jawab ini mempunyai lima dimensi, yaitu: ekonomi, hokum, moral, social, dan spiritual yang dijelaskan sebagai berikut:

  • Dimensi ekonomi, artinya tanggung jawab pengelolaan diwujudkan dalam bentuk pemberian keuntungan ekonomis bagi para pemangku kepentingan.
  • Dimensi hukum, artinya tanggung jawab penelolaan diwujudkan dalam bentuk ketaatan terhadap hokum dan peraturan yang berlaku; sejauh mana tindakan manajemen telah sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku.
  • Dimensi moral, artinya sejauh mana wujud tanggung jawab tindakan manajemen tersebut telah dirasakan keadilannya bagi semua pemangku kepentingan.
  • Dimensi sosial, artinya sejauh mana manajemen telah menjalankan

  corporate social responsibility (CSR) sebagai wujud kepedulian

  terhadap kesejahteraan masyarakat dan kelestarian alam di lingkungan perusahaan.

  • Dimensi spiritual, artinya sejauh mana tindakan manajemen telah mampu mewujudkan aktualisasi diri atau telah dirasakan sebagai bagian dari ibadah sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya.

  Keempat prinsip ini sebenarnya merupakan jawaban langsung atas permasalahan/skandal yang dihadapi oleh dunia usaha, bukan saja di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

  Prinsip-prinsip GCG tersebut dapat terwujud dengan melakukan salah satu mekanisme GCG terutama dalam manajemen risiko yaitu dengan membentuk komite manajemen risiko (KMR). Tugas komite manajemen risiko yaitu mengidentifikasi, evaluasi risiko dan manajemen risiko dengan tujuan meningkatkan nilai perseroan. Namun demikian, keberadaan komite manajemen risiko di Indonesia terkecuali perbankan masih bersifat sukarela (voluntary) belum bersifat wajib (mandatory). Padahal fungsi komite manajemen risiko sangat penting dalam penerapan GCG.

  Salah satu akar krisis ekonomi di Indonesia dan krisis pasar modal AS adalah buruknya kinerja perusahaan-perusahaan besar yang sebagian besar merupakan perusahaan publik yang telah terdaftar di bursa. Konsep GCG merupakan upaya perbaikan terhadap sistem, proses, dan seperangkat peraturan dalam pengelolaan suatu organisasi yang pada esensinya mengatur dan memperjelas hubungan, wewenang, hak, dan kewajiban semua pemangku kepentingan dalam arti luas dan khususnya organ RUPS, Dewan Komisaris, dan Dewan Direksi dalam arti sempit. Namun harus disadari, bahwa betapa pun baiknya suatu sistem dan perangkat hukum yang ada, pada akhirnya yang menjadi penentu utama adalah kualitas dan tingkat kesadaran moral dan spiritual dari para aktor/pelaku bisnis itu sendiri (Agoes & Ardana, 2011).

2.1.4. Komite Manajemen Risiko

  Berdasarkan PMK Nomor 191/PMK.09/2008 menyebutkan bahwa Komite Manajemen Risiko merupakan suatu komite yang bertugas untuk melakukan pengawasan, menetapkan kebijakan, strategi, dan metodologi manajemen risiko. Komite Manajemen Risiko menjadi mekanisme yang efektif

  

dalam mendukung tanggung jawab Dewan Komisaris dalam pengawasan risiko,

  

manajemen risiko dan pengendalian internal (Subramaniam, et al., 2009).

  Anggota Komite Manajemen Risiko terdiri dari dewan komisaris, namun bilamana perlu dapat juga menunjuk pelaku profesi dari luar perusahaan (KNKG, 2006 dalam Wahyuni, 2012).

  Dalam pelaksanaan kinerjanya, Komite Manajemen Risiko bertanggung jawab penuh terhadap dewan komisaris untuk melakukan pengawasan terhadap proses mekanisme manajemen risiko perusahaan. Proses mekanisme tersebut dimulai dari tahap identifikasi, pengambilan keputusan mengenai program manajemen risiko, sampai pengadministrasian program secara melembaga. Komite Manajemen Risiko secara umum memiliki area tugas dan wewenang, antara lain (Subramaniam, 2009) : 1.

  Mempertimbangkan strategi manajemen risiko organisasi.

  2. Mengevaluasi operasi manajemen risiko organisasi.

  3. Menaksir pelaporan keuangan organisasi.

  4. Memastikan bahwa organisasi dalam prakteknya memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku.

  Di Indonesia, Komite Manajemen Risiko belum diwajibkan pada sektor non-finansial, tetapi dalam sektor perbankan telah diatur dalam peraturan Bank Indonesia. Keberadaan Komite Manajemen Risiko pada sektor perbankan merupakan suatu keharusan. Hal ini disebabkan karena, sektor perbankan memiliki risiko yang lebih banyak dan lebih kompleks dibandingkan sektor non-perbankan. Terdapat sembilan risiko yang dihadapi sektor perbankan, antara lain risiko operasional, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko hukum, risiko reputasi, risiko strategik, dan risiko kepatuhan. Alasan inilah yang membuat Bank Indonesia mewajibkan bank umum untuk membentuk komite manajemen risiko. Pembentukan Komite manajemen risiko tersebut, harus benar-benar efektif dan berjalan dengan baik, dengan memperhatikan tingkat kegunaannya bagi perusahaan. Seiring dengan tren beralihnya beberapa bank ke tangan bank asing, maka akan terjadi perubahan susunan pengurus bank, baik dewan direksi maupun dewan komisaris menjadi alasan keberadaan Komite Manajemen Risiko sangat dibutuhkan oleh bank dimasa mendatang (Fajri, 2007, dalam Diani, 2013). Adanya perubahan tersebut akan mempengaruhi jalannya pengawasan didalam perusahaan yang akan teganggu. Oleh sebab itu, dengan adanya Komite Manajemen Risiko, pengawasan terhadap manajemen risiko akan lebih terawasi.

  Keberadaan Komite Manajemen Risiko menjadi sangat penting dalam penerapan good corporate governance. Bates dan Leclerc (2009) menyebutkan bahwa KMR memberikan manfaat besar bagi perusahaan. Manfaat yang dimaksud adalah KMR dapat meringankan tugas dari komite audit dalam hal pengawasan risiko dan pengawasan manajemen risiko secara lebih fokus dan lebih luas. Apabila risiko dipantau dan dikelola secara lebih fokus, maka kerugian yang dialami dari dampak risiko tersebut akan dapat dikurangi. Selain itu, Yatim (2009) menambahkan bahwa keberadaan KMR dapat membantu komite audit untuk memastikan kehandalan laporan keuangan. Kehandalan laporan keuangan tersebut dilakukan dengan tinjauan periodik manajemen risiko perusahaan, sistem mitigasi, dan tindakan manajerial yang dilakukan dalam pengelolaan risiko merupakan aspek penting dalam pemenuhan tugas komite audit.

2.1.5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Komite Manajemen Risiko

2.1.5.1. Proporsi Komisaris Independen

  Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan anggota Dewan Komisaris lainnya dan/atau dengan pemegang saham mayoritas atau hubungan lainnya dengan Perseroan, yang dapat mempengaruhi kemampuan dalam bertindak independen. Menurut KNKG, 2006 dalam (Wahyuni, 2012) dewan komisaris sebagai organ perusahaan bertugas dan bertanggung jawab untuk mengawasi dan memberikan nasihat kepada dewan direksi serta memastikan perusahaan melaksanakan GCG. Karena tugas utama komisaris adalah mengawasi dewan direksi maka diperlukan independensi agar dalam mengontrol perusahaan dewan komisaris tidak mudah terintervensi oleh pihak-pihak tertentu.

  Menurut PBI No. 8/4/PBI/2006 sebagaimana diubah dengan PBI No. 8/14/PBI/2006 tentang Pelaksanaan Good Corporate Governance bagi Bank Umum mengatur bahwa Bank harus memiliki Komisaris Independen dengan komposisi paling kurang 50% dari jumlah anggota Dewan Komisaris. PT Bursa Efek Jakarta Kep- 305/BEJ/07-2004 tanggal 19 Juli 2004 Peraturan Pencatatan Efek Nomor I-A tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas Di Bursa yang mengatur bahwa sekurang- kurangnya 30% (tigapuluh persen) dari jumlah seluruh anggota Dewan Komisaris adalah Komisaris Independen. Tujuan adanya komisaris independen ini adalah agar dewan komisaris dapat mengambil keputusan secara efektif, fair dan mengutamakan kepentingan Stakeholder.

2.1.5.2. Ukuran Dewan Komisaris

  Ukuran dewan komisaris dalam hal ini adalah jumlah atau banyaknya anggota dewan komisaris dalam suatu perusahaan. Dalam Undang-undang Nomor 40 tahun 2007, menyebutkan bahwa Dewan komisaris merupakan organ perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada Direksi. Pembuat kebijakan GCG berpendapat bahwa perusahaan dengan Dewan Komisaris yang kecil memiliki kinerja yang lebih baik (Lipton dan Lorsch, 1992).

  Sebaliknya, Subramaniam (2009) berpendapat bahwa semakin besar jumlah anggota dewan tersebut, semakin besar peluang adanya direksi

  

dengan keterampilan yang diperlukan untuk mengkoordinir dan terlibat

dalam sub - komite yang ditujukan untuk manajemen risiko.

  Lipton dan Lorsch (1992) merekomendasikan bahwa ukuran dewan yang ideal tidak boleh melebihi delapan atau sembilan Dewan Komisaris.

  2.1.5.3. Frekuensi Rapat Dewan

  Salah satu tanggung jawab dewan komisaris adalah menghadiri pertemuan dan dengan demikian mereka akan memiliki hak istimewa untuk mengambil keputusan (Ronen & Yaari, 2008 dalam Safitri, 2013). Rapat yang diselenggarakan oleh Dewan Komisaris dilakukan untuk mengawasi kebijakan-kebijakan yang telah diambil oleh Dewan Direksi dan implementasinya. Cotter, et al. (1998) dalam (Safitri, 2013), frekuensi rapat yang tinggi akan menghasilkan monitoring yang baik dari dewan, maka anggota secara tidak langsung akan meminta rapat dewan untuk diadakan lebih sering untuk menambah kemampuan mereka dalam memonitor manajemen. Dalam Peraturan Menteri BUMN No. 20 PER-01-MBU-2011, rapat Dewan Komisaris/Dewan Pengawas harus diadakan secara berkala, sekurang kurangnya sekali dalam setiap bulan, dan dalam rapat tersebut Dewan Komisaris/Dewan Pengawas dapat mengundang Direksi.

  2.1.5.4. Reputasi Auditor

  Tanggung jawab utama bagi auditor eksternal adalah dalam memberikan opini kewajaran pelaporan keuangan perusahaan. Oleh sebab itu, auditor eksternal sangat bertindak dengan hati-hati dalam memberikan opininya, untuk mempertahankan reputasi yang dimilikinya. Apabila auditor eksternal memberikan opini yang kurang tepat atas hasil auditnya, maka reputasinya akan menurun di mata pengguna jasa auditnya. Auditor merupakan kunci mekanisme pengawasan eksternal dari sebuah organisasi, dan dalam beberapa tahun ini menjadi pusat perhatian bagi manajemen risiko (Subramaniam, et al., 2009).

  Reputasi auditor eksternal merupakan auditor eksternal yang mempunyai nama baik dan mempertahankan reputasinya dengan memberikan kualitas audit yang tinggi dan digunakan sebagai tanda petunjuk terhadap kualitas perusahaan emiten. Di dunia terdapat 4 kelompok besar auditor yang memiliki reputasi baik dan auditor tersebut berafiliasi dengan perusahaan akuntan publik di Indonesia.

  Empat kelompok besar auditor tersebut adalah :

Tabel 2.1 Auditor Big Four

  No Big Four Afiliasi

  1. Ernst & Young KAP Purwantono, Suherman & Surja

  2. Deloitte Touche Tohmatsu KAP Osman Bing Satrio & Eny

  3. KPMG (Klynveld, Peat, KAP Sidharta dan Marwick, Goerdeler) Widjaja

  4. PricewaterhouseCoopers KAP Tanudiredja, Wibisana & Rekan

  Sumber: Wikipedia

  Auditor dengan reputasi baik seperti Big Four cenderung untuk lebih memilih berhubungan dengan klien yang memiliki nilai yang baik dalam komunitas bisnis, oleh karena itu auditor Big Four akan mempengaruhi klien untuk bertindak sesuai dengan praktik terbaik (Carson, 2002). Praktik penerapan corporate governance, yang berupa pengawasan dapat diaplikasikan dengan pembentukan komite pengawas manajemen.

2.2. Tinjauan Penelitian Terdahulu

  Penelitian terdahulu yang membahas tentang keberadaan Komite Manajemen Risiko di perbankan masih belum banyak dilakukan. Walaupun keberadaan Komite Manajemen Risiko di perbankan Indonesia sudah diharuskan agar Good Cooperate Governance di bank bisa berjalan lebih baik. Namun dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan, terdapat beberapa hal penting yang akan menjadi dasar penelitian ini. Berikut akan diuraikan beberapa penelitian tersebut.

  Tabel 2.2

Penelitian Terdahulu

No Nama

  Peneliti Variable Independen Variabel Dependen Hasil Penelitian

  1. Puan Yatim (2010)

  Proporsi dewan non eksekutif, pemisahan kepala dewan dan posisi CEO, keahlian dewan dan ketekunan dewan

  Pembentukan Komite Manajemen Risiko

  Proporsi Komisaris independen, CEO independen berhubungan positif dengan KMR yang berdiri sendiri. Perusahaan yang memiliki dewan yang lebih ahli dan rajin berpengaruh positif terhadap pembentukan KMR

  2. Puan Yatim (2009)

  Proporsi komisaris independen, CEO independen, keahlian dewan dan kerajinan dewan.

  Pembentukan KMR dan Struktur Dewan

  Proporsi komisaris independen dan CEO independen berhubungan positif dengan pembentukan KMR yang berdiri sendiri

  3. Nava Subramaniam, Lisa McManus, dan Jiani Zhang

  (2009) Karakteristik dewan yang meliputi CEO duality, komisaris independen dan ukuran dewan.

  Karakteristik perusahaan meliputi reputasi auditor, kompleksitas, tipe industri, leverage dan risiko pelaporan keuangan

  Pembentukan KMR dan tipe KMR yang dibentuk

  KMR lebih banyak dibentuk pada perusahaan dengan CEO independen dan ukuran dewan yang besar. KMR yang terpisah dari komite audit berhubungan positif dan signifikan dengan ukuran dewan dan risiko pelaporan keuangan

  4. Yosephine Endah Nur Diani (2013)

  Komisaris Independen, Ukuran Dewan

  Komisaris, Kompleksitas Bisnis, Risiko Pelaporan Keuangan, Reputasi Auditor Keberadaan

  Komite Manajemen Risiko

  Variabel reputasi auditor berpengaruh terhadap keberadaan KMR

  5. Tri Wahyuni (2012)

  Komisaris Independen, Frekuensi Rapat Dewan, Jenis kepemilikan, Reputasi auditor, Ukuran anak perusahaan, Risiko pasar,

  Leverage , Usia

  Perusahaan, dan Ukuran Perusahaan

  Komite Manajemen Risiko yang tergabung dan yang terpisah dengan Komite Audit

  Ukuran anak perusahaan, dan ukuran perusahaan. berpengaruh positif terhadap keberadaan frekuensi pertemuan KMR. Variabel independen yang berpengaruh positif terhadap keberadaan dari KMR terpisah adalah pertemuan frekuensi dan ukuran perusahaan

  6. Briana Dita Pratika (2011)

  Komisaris Independen, Ukuran Dewan, Reputasi Auditor, Segmen Bisnis, Proporsi

  Komite Manajemen Risiko yang tergabung dan yang terpisah dengan Komite Audit

  Keberadaan KMR berhubungan positif dengan reputasi auditor Piutang dan Persediaan, Proporsi Utang Jangka Panjang dan Ukuran Perusahaan

2.3. Kerangka Konseptual

  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor–faktor yang mempengaruhi keberadaan Komite Manajemen Risiko. Berdasarkan telaah pustaka dan penelitian terdahulu variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah proporsi komisaris independen, ukuran dewan komisaris, frekuensi rapat dewan, reputasi auditor.

  Gambar 2.1

Kerangka Konseptual

  H1 Proporsi Komisaris

  Independen (X1) H1

  Ukuran Dewan Komite

  H2 Komisaris (X2)

  Manajemen H3

  Risiko (Y) Frekuensi Rapat H3

  Dewan (X3) H4 H4

  Reputasi Auditor (X4) H5

  

2.3.1. Pengaruh Proporsi Komisaris Independen Terhadap Keberadaan

Komite Manajemen Risiko

  Independensi merupakan hal yang penting dalam penerapan Good

  

Corporate Governance (GCG). Proporsi Komisaris Independen di dalam

  suatu dewan merupakan sebuah indikator independensi dari dewan. Sebuah dewan dengan proporsi Komisaris Independen yang tinggi cenderung untuk menyediakan pengawasan yang lebih besar pada aktivitas manajemen risiko perusahaan (Yatim, 2009). Besarnya proporsi komisaris independen merupakan sumber daya perusahaan untuk dapat meminimalkan konflik agensi yang terjadi dan untuk meminimalkan biaya yang ditimbulkan akibat konflik agensi tersebut. Perusahaaan yang memiliki komisaris independen lebih besar, akan semakin memikirkan bagaimana bentuk pengawasan risiko, pengelolaannya, serta pengendaliannya. Sehingga keberadaan Komite Manajemen Risiko akan sangat menguntungkan bagi dewan komisaris independen dalam menjalankan tugasnya. Maka semakin besar proporsi komisaris independen dalam perusahaan akan semakin besar terbentuknya Komite Manajemen Risiko untuk melakukan pengawasan terhadap risiko dan pengelolaan manajemen risiko (Diani, 2013).

  Penelitian menurut Yatim (2009) memberikan sebuah hasil yaitu sebuah dewan dengan proporsi komisaris independen yang besar cenderung untuk membentuk KMR. Penelitian Yatim (2010) memberikan sebuah hasil bahwa sebuah dewan dengan proporsi komisaris independen yang besar akan membentuk KMR demi meningkatkan kemampuan pengawasan. Berdasarkan uraian tersebut, maka hipotesis yang dapat dikembangkan: H1: Proporsi Komisaris Independen Berpengaruh Positif terhadap Keberadaan Komite Manajemen Risiko

2.3.2. Pengaruh Ukuran Dewan Komisaris terhadap Keberadaan Komite Manajemen Risiko

  Ukuran Dewan Komisaris yang lebih besar akan memberikan kekuatan dalam fungsi pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Komisaris.

  Menurut teori agensi, ukuran dewan yang besar berpengaruh positif terhadap asimetri informasi. Untuk mengatasi hal tersebut, dewan komisaris akan berusaha meningkatkan keefektifan pemantauannnya. Dalam mewujudkan pemantauan yang efektif diperlukan sumber daya yang cukup. Ukuran dewan yang lebih besar akan memberikan kesempatan yang lebih besar untuk mencari anggota dengan keterampilan yang diperlukan untuk mengkoordinasikan dan menjadi terlibat dalam komite-komite yang dibentuk Dewan Komisaris yang ditujukan untuk manajemen risiko (Subramaniam, et

  

al. , 2009). Oleh karena itu, akan lebih mudah bagi Dewan Komisaris

  membentuk Komite Manajemen Risiko, dan tingkat sumber daya yang ditawarkan oleh ukuran dewan yang besar akan membuat Dewan Komisaris lebih menyukai dibentuknya Komite Manajemen Risiko. Berdasarkan uraian tersebut, hipotesis yang dapat dikembangkan:

  H2: Ukuran Dewan Komisaris Berpengaruh Positif terhadap Keberadaan Komite Manajemen Risiko

  

2.3.3. Pengaruh Frekuensi Rapat Dewan Terhadap Keberadaan Komite

Manajemen Risiko

  Frekuensi rapat mendorong dewan komisaris untuk mendapatkan informasi tentang kondisi perseroan yang lebih intensif, relevan, dan tepat waktu terutama tentang risiko serta kualitas pengendalian internal yang lebih baik. Frekuensi rapat yang semakin tinggi dapat memberikan sinyal-sinyal positif terhadap pengguna laporan keuangan atas kinerja perseroan dalam

  . Frekuensi rapat dewan komisaris yang semakin

  mencapai tujuan perseroan

  

tinggi mendorong kualitas informasi yang lebih tinggi pula. Oleh karena itu,

fungsi kehadiran Komite Manajemen Risiko terutama yang terpisah, membantu

dewan komisaris untuk memperoleh kualitas informasi tentang manajemen

risiko yang lebih relevan, akurat, dan tepat waktu (Wahyuni, 2012).

  Oleh karena itu, frekuensi rapat yang semakin tinggi, maka kemungkinan Dewan Komisaris untuk lebih memperhatikan risiko dan manajemen risiko yang akan diterapkan semakin besar, sehingga diharapkan dapat meningkatkan level pengawasan dan aktivitas manajemen risiko. Dengan demikian, semakin sering dewan menyelenggarakan rapat maka akan mendukung keberadaan Komite Manajemen Risiko. Berdasarkan penjelasan diatas, hipotesis yang diajukan sebagai berikut: H3: Frekuensi rapat dewan berpengaruh positif dengan keberadaan Komite Manajemen Risiko

2.3.4. Pengaruh Reputasi Auditor Terhadap Keberadaan Komite Manajemen Risiko

  Berdasarkan teori agensi yang mengasumsikan bahwa manusia itu selalu self-interest, maka kehadiran pihak ketiga yang independen sebagai mediator pada hubungan antara principal dengan agent sangat diperlukan, dalam hal ini adalah auditor independen. Investor akan lebih cenderung pada data akuntansi yang dikajikan oleh auditor yang bereputasi. Pada saat ini auditor menjadi faktor utama pengawasan organisasi dan berperan penting bagi manajemen risiko. Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan dari Big

  Four audit tentang kualitas monitoring internal yang terdapat pada klien big

four audit jika dibandingkan dengan kualitas monitoring internal dari non big

four audit. Terdapat tekanan yang lebih besar pada perusahaan yang diaudit

Big Four untuk membentuk Komite Manajemen Risiko, dibandingkan

  dengan perusahaan yang diaudit non-Big Four. Adanya Komite Manajemen Risiko dipandang sebagai dukungan tambahan ketika auditor sedang menilai sistem monitoring risiko internal, mereka lebih memilih untuk meminimalisasi kerugian reputasi dengan kegagalan audit (Cohen, et al., 2004). Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang dapat dikembangkan: H4: Reputasi auditor berpengaruh positif terhadap Keberadaan Komite Manajemen Risiko

  

2.3.5. Pengaruh Proporsi Komisaris Independen, Ukuran Dewan

Komisaris, Frekuensi Rapat Dewan dan Reputasi Auditor Terhadap Keberadaan Komite Manajemen Risiko

  Besarnya proporsi komisaris independen merupakan sumber daya perusahaan untuk dapat meminimalkan konflik agensi yang terjadi dan untuk meminimalkan biaya yang ditimbulkan akibat konflik agensi tersebut. Oleh karena itu, semakin besar proporsi komisaris independen maka semakin besar pula pengawasan suatu perusahaan tersebut terhadap pengawasan internalnya yang memungkinkan perusahaan tersebut untuk membentuk suatu komite di bidang manajemen, yaitu komite manajemen risiko. Menurut teori agensi, ukuran dewan yang besar berpengaruh positif terhadap asimetri informasi.

  Untuk mengatasi hal tersebut, dewan komisaris akan berusaha meningkatkan keefektifan pemantauannnya. Frekuensi rapat yang semakin tinggi, memungkinan Dewan Komisaris untuk lebih memperhatikan risiko dan manajemen risiko yang akan diterapkan semakin besar, sehingga diharapkan dapat meningkatkan level pengawasan dan aktivitas manajemen risiko.

  Saat ini auditor menjadi faktor utama pengawasan organisasi dan berperan penting bagi manajemen risiko. Terdapat tekanan yang lebih besar pada perusahaan yang diaudit Big Four untuk membentuk Komite Manajemen Risiko, dibandingkan dengan perusahaan yang diaudit non-Big

  Four. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang dapat dikembangkan:

  H5: Proporsi Komisaris Independen, Ukuran Dewan Komisaris, Frekuensi Rapat Dewan dan Reputasi Auditor berpengaruh positif terhadap Keberadaan Komite Manajemen Risiko

2.4. Hipotesis

  H1: Proporsi Komisaris Independen Berpengaruh Positif terhadap Keberadaan Komite Manajemen Risiko H2: Ukuran Dewan Komisaris Berpengaruh Positif terhadap Keberadaan Komite Manajemen Risiko H3: Frekuensi rapat dewan berpengaruh positif dengan keberadaan Komite Manajemen Risiko H4: Reputasi auditor berpengaruh positif terhadap Keberadaan Komite Manajemen Risiko H5: Proporsi Komisaris Independen, Ukuran Dewan Komisaris, Frekuensi Rapat Dewan dan Reputasi Auditor berpengaruh positif terhadap Keberadaan Komite Manajemen Risiko

Dokumen yang terkait

BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Perusahaan - Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Pada Pt Taspen (Persero)

0 0 12

BAB II PROFIL PERUSAHAAN A. Sejarah Singkat Perusahaan - Prosedur Pelaksanaan Pembukaan Giro pada PT. Bank Rakyat Indonesia Cabang Gajah Mada

0 0 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA - Pengaruh Suhu Vulkanisasi dan Komposisi Bentonite Clay yang Dimodifikasi dengan Alkanolamida dari Bahan Baku RBDPKO Pada Produk Lateks Karet Alam

0 0 15

BAB I PENDAHULUAN - Pengaruh Suhu Vulkanisasi dan Komposisi Bentonite Clay yang Dimodifikasi dengan Alkanolamida dari Bahan Baku RBDPKO Pada Produk Lateks Karet Alam

0 0 5

Pengaruh Suhu Vulkanisasi dan Komposisi Bentonite Clay yang Dimodifikasi dengan Alkanolamida dari Bahan Baku RBDPKO Pada Produk Lateks Karet Alam

0 0 20

LAMPIRAN II : DATA PENELITIAN Tahun Perusahaan PreTaxROA T FVA T LNTotal Asset CF T+1

0 0 17

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teoritis 2.1.1. Konsep Nilai Wajar - Pengaruh Penerapan Konsep Nilai Wajar Dalam Memprediksi Arus Kas Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI

0 1 16

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Landasan Teoritis - Pengaruh Profitability dan Growth Opportunity Terhadap Firm’s Value Dengan Capital Structure Sebagai Variabel Intervening Pada Perusahaan Properti dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Perio

0 0 24

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian - Pengaruh Profitability dan Growth Opportunity Terhadap Firm’s Value Dengan Capital Structure Sebagai Variabel Intervening Pada Perusahaan Properti dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Pe

0 1 10

Pengaruh Profitability dan Growth Opportunity Terhadap Firm’s Value Dengan Capital Structure Sebagai Variabel Intervening Pada Perusahaan Properti dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2010-2012

0 0 10