BAB II makalah pemeriksaan fisik abdomen

  BAB II DASAR TEORI A. Landasan Teori

  1. Anatomi dan Fisiologi

  a. Sistem Pencernaan Makanan Sistem pencernaan makanan merupakan suatu saluran yang menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserapkan oleh tubuh dengan jalan proses pencernaan (pengunyahan, penelanan) dengan bantuan enzim dan zat cair. Susunan saluran pencernaan terdiri dari : mulut (oris0, faring, oesofagus, lambung, intestinum minor (usus halus) yang terbagi tiga bagian (doedenum, Yeyenum, dan ileum), Intestinum mayor yang terbagi 5 bagian yaitu seikum – colon asendens – colon transversum – colon desendens – colon sigmoid – rectum dan berakhir pada anus.

  b. Usus halus dan Usus besar Usus halus atau Intestinum minor adalah bagian dari system pencernaan makanan yang berpangkal pada pylorus lambung dan berakhir pada sekum, usus halus memiliki panjang sekitar 6 meter. Lapisan usus halus terdiri dari lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang dan lapisan serosa. Ada 3 bagian utama pada usus halus yaitu :

  Duodenum disebut juga usus 12 jari panjangnya kira-kira 25 cm, berjalan melengkung kekiri pada lengkungan kiri terdapat pankreas dan bagian lengkungan kanan terdapat saluran empedu. Dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.

  Yeyenum dan ileum memiliki panjang sekitar 6 meter. Dua perlima bagian atas yeyenum dengan panjang kira-kira 2-3 meter dan ileum dengan panjang kira-kira 4-5 meter. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas ujung bawah ileum berhubungan dengan sekum yang disebnut

  

Orifisium Ileosekalis, orifisium inii diperkuat oleh spinter yang berfungsi untuk

mencegah cairan dalam kolon asendens tidak masuk kembali kedalam ileum.

  Usus besar atau intestinum mayor memiliki panjang kira-kira 1,5 meter, lebarnya 5-6 cm berfungsi dalam penyerapan air dan mineral dan juga sebagai tempat tinggal bakteri dan tempat sementara feces sebelum dikeluarkan. Ada beberapa bagian dari usus besar yaitu :

  1) Seikum, dibawah sekum terdapat apendiks/umbai cacing dengan panjang 6 cm seluruhnya ditutupi oleh rongga peritoneum. 2) Colon Asendens, terletak dibawah abdomen sebelah kanan membujur keatas dari ileum dan membengkok kekiri membentuk fleksure hepatica dilanjutkan ke colon transversum. 3) Colon transversum, panjangnya kira-kira 38 cm membujur dari colon asendens sampai dengan colon desendens berada dibawah abdomen, sebelah kanan terdapat flexsure hepatica dan sebelah kiri terdapat fleksure lienalis. 4) Colon Desendens, panjangnya kira-kira 25 cm, terletak dibawah abdomen bagian kiri membujur dari atas kebawah dari fleksure lienalis sampai kedepan ileum kiri, bersambung dennngan kolon sigmoid. 5) Colon Sigmoid, merupakan lanjutan dari colon desendens terletek miring dalam rongga pelvis sebelah kiri bentuknya menyerupai huruf S, ujung bawahnya berhubungan dengan rectum.\

  6) Rectum, terletak dibawah colon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus, terletak dalam rongga pelvis di depan os sacrum dan os cocsigis. 7) Anus, adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rectum dengan dunia luar. Terlek didasar pelvis.

  2. Patologi saluran pencernaan yang berhubungan abdomen

  Pada umunya untuk patofisiologi abdomen diindikasikan dalam 2 macam yaitu Akut Abdomen dan Non Akut Abdomen. Istilah akut abdomen diartikan sebagai gejala-gejala pada abdomen yang datangnya mendadak (tanpa persiapan), sedangakan non akut abdomen merupakan gejala-gejala yang datangnya sudah diketahui sebelumnya.

  a. Akut Abdomen 1) Ileus merupakan sumbatan pada colon yang disebabkan oleh trauma atau hernia yang dapat mengakibatkan terjadinya distensi/desakan terhadap colon yang tersumbat. Ileus dapat dibagi menjadi 2 yaitu Ileus Paralitik dan Ileus Obstruktif.

  2) Perforasi, adalah adanya udara bebas pada rongga abdomen sebagai akibat dari usus yang mengalami kebocoran. 3) Ascites, merupakan istilah patologis untuk cairan bebas yang berada dalam rongga abdomen. 4) Massa intra abdominal, adalah suatu massa pada abdomen dapat berupa tumor atau kanker yang berakibat terganggunya fungsi fisiologis tubuh. 5) Abdominal surgery adalah indikasi yang timbul setelah pasca operasi.

  b. Nonakut abdomen Untuk nonakut abdomen dalam patologsinya sering disebabkan oleh kasus batu ginjal yang terdapat dalam saluran sistem urinary. Dalam kasus non akut abdomen gejala-gejala baru dapat teridentifikasi jika sudah mengganggu fungsi fisiologis.

  3. Topografi Abdomen Abdomen dibagi secara topografi menjadi 4 kuadran, yaitu : Ada dua macam cara pembagian topografi abdomen yang umum dipakai untuk menentukan lokalisasi kelainan, yaitu:

  1) Pembagian atas empat kuadran, dengan membuat garis vertikal dan horizontal melalui umbilicus, sehingga terdapat daerah kuadran kanan atas, kiri atas, kanan bawah, dan kiri bawah.

  a. Kuadran kanan atas/Right Upper Quadrant (RUQ).

  b. Kuadran kanan bawah/Right Lower Quadrant (RLQ)

  c. Kuadran kiri atas/Left Upper Quadrant (LUQ)

  d. Kuadran kiri bawah/Left Lower Quadrant (LLQ)Garis tengah/Midline yang terdiri dari : 1) Epigastrik 2) Periumbilikal 3) Suprapubik

  2) Pembagian atas sembilan daerah, dengan membuat dua garis horizontal dan dua garis vertikal.

  Garis horizontal pertama dibuat melalui tepi bawah tulang rawan iga kesepuluh dan yang kedua dibuat melalui titik spina iliaka anterior superior (SIAS). Garis vertikal dibuat masing- masing melalui titik pertengahan antara SIAS dan mid-line abdomen. Terbentuklah daerah hipokondrium kanan, epigastrium, hipokondrium kiri, lumbal kanan, umbilical, lumbal kanan, iliaka kanan, hipogastrium/ suprapubik, dan iliaka kiri.

  Pada keadaan normal, di daerah umbilical pada orang yang agak kurus dapat terlihat dan teraba pulsasi arteri iliaka. Beberapa organ dalam keadaan normal dapat teraba di daerah tertentu, misalnya kolon sigmoid teraba agak kaku di daerah kuadaran kiri bawah, kolon asendens dan saecum teraba lebih lunak di kuadran kanan bawah. Ginjal yang merupakan organ retroperitoneal dalam keadaan normal tidak teraba. Kandung kemih pada retensio urine dan uterus gravid teraba di daerah suprapubik.

  4. ALAT DAN BAHAN Alat yang dibutuhkan hanya stetoskop

  5. PROSEDUR TINDAKAN Syarat-syarat pemeriksaan abdomen yang baik adalah : a. Penerangan ruang memadai.

  b. Penderita dalam keadaan relaks.

  c. Daerah abdomen mulai dari atas processus xiphoideus sampai symphisis pubis harus terbuka. Untuk memudahkan relaksasi : 1. Kandung kencing dalam keadaan kosong.

  2. Penderita berbaring terlentang dengan bantal dibawah kepalanya, dan dibawah lututnya.

  3. Kedua lengan diletakkan di samping badan, atau diletakkan menyilang pada dada. Tangan yang diletakkan di atas kepala akan membuat dinding abdomen teregang dan mengeras, sehingga menyulitkan palpasi.

  4. Gunakan tangan yang hangat, permukaan stetoskop yang hangat, dan kuku yang dipotong pendek. Menggosok kedua tangan akan membantu menghangatkan kedua tangan anda.

  5. Mintalah penderita untuk menunjukkan daerah yang terasa sakit dan memeriksa daerah tersebut terakhir.

  6. Lakukan pemeriksaan dengan perlahan, hindarkan gerakan yang cepat dan tiba- tiba.

  7. Apabila perlu ajaklah penderita berbicara.

  8. Apabila penderita amat ketakutan atau kegelian, mulailah pemeriksaan dengan menggenggam kedua tangannya di bawah tangan anda, kemudian secara pelan- pelan bergeser untuk melakukan palpasi.

  9. Monitorlah pemeriksaan anda dengan memperhatikan muka/ekspresi penderita.

  Biasakanlah untuk mengetahui keadaan di tiap bagian yang Anda periksa. Pemeriksaan dilakukan dari sebelah kanan penderita, dengan urutan : inspeksi, auskultasi, perkusi, palpasi.

  PEMERIKSAAN ABDOMEN B.

  1. INSPEKSI Inspeksi abdomen adalah melihat perut baik bagian depan, maupun bagian belakang (pinggang). Inspeksi dilakukan dengan penerangan yang cukup.

  a. INSPEKSI Dilakukan pada pasien dengan posisi tidur terlentang dan diamati dengan seksama dinding abdomen. Yang perlu diperhatikan adalah:

  1. Keadaan kulit:

  a) warnanya (ikterus, pucat, coklat, kehitaman)

  b) elastisitasnya (menurun pada orang tua dan dehidrasi)

  c) kelembapan : kering (dehidrasi), lembab (asites)

  d) adanya bekas-bekas garukan (penyakit ginjal kronik, ikterus obstruktif), jaringan parut (tentukan lokasinya), Adanya garis-garis putih sering disebut striae alba yang dapat terjadi setelah kehamilan atau pada pasien yang mulanya gemuk atau bekas asites, dan terdapat juga pada sindrom Cushing. (gravidarum/ cushing syndrome), pelebaran pembuluh darah vena

  2. Besar dan bentuk abdomen

  a. Simetris Dalam situasi normal dinding perut terlihat simetris dalam posisi terlentang. Adanya tumor atau abses atau pelebaran setempat lumen usus membuat bentuk perut tidak simetris. Pergerakan dinding perut akibat peristaltik dalam keadaan normal atau fisiologis tidak terlihat.

  Bila terlihat maka dapat dipastikan adanya hiperperistaltik dan dilatasi sebagai akibat adanya obstruksi maupun hiperperistaltik dan dilatasi sebagai akibat obstruksi lumen usus baik oleh tumor, perlengketan, strangulasi maupun hiperperistaltik sementara akibat skibala.

  b. Bentuk dan ukuran Dalam keadaan normal bervariasi tergantung dari habitus, jaringan lemak subkutan atau intraabdomen dan akibat kondisi otot dinding perut. Pada atlet dengan berat badan ideal akan terlihat rata, kencang, simetris, terlihat kontur otot rektus abdominalis dengan sangat jelas.

  Pada keadaan starvasi bentuk dinding perut cekung dan tipis, disebut bentuk skopoid. Dalam situasi ini bisa terlihat gerakan peristaltik usus. Abdomen yang membuncit dalam keadaan normal dapat terjadi pada pasien yang gemuk, sedangkan situasi patologis yang menyebabkan perut membuncit adalah ileus paralitik, meteorismus, asistes, kistoma ovarii, dan graviditas. Tonjolan yang bersifat setempat dapat diartikan sebagai kelainan organ yang dibawahnya, misalnya tonjolan yang simetris pada regio suprapubis dapat terjadi karena retensi urin pada hipertrofi prostat pada laki-laki tua atau kehamilan muda pada wanita. Sedangkan pembesaran uterus juga mengakibatkan penonjolan pada daerah tersebut.

  c. Simetrisitas; perhatikan adanya benjolan local (hernia, hepatomegali, splenomegali, kista ovarii, hidronefrosis).

  d. Gerakan dinding abdomen pada peritonitis terbatas.

  e. Pembesaran organ atau tumor, dilihat lokasinya dapat diperkirakan organ apa atau tumor apa.

  f. Peristaltik; gerakan peristaltik usus meningkat pada obstruksi ileus, tampak pada dinding abdomen dan bentuk usus juga tampak (darm-contour).

  g. Pulsasi; pembesaran ventrikel kanan dan aneurisma aorta sering memberikan gambaran pulsasi di daerah epigastrium dan umbilical.

  h. Pelebaran Vena i. Pelebaran vena terjadi pada hipertensi portal. Pelebaran di sekitar umbilikus disebut kaput medusae yang terdapat pada sindrom

  

Banti. Pelebaran vena akibat obstruksi vena kava inferior terlihat

  sebagai pelebaran vena dari daerah inguinal ke umbilikus, sedangkan akibat obstruksi vena kava superior aliran vena ke umbilikus ke kranial sedang di bawah umbilikus alirannya ke distal. Pada umumnya mudah sekali menetukan arah aliran vena dinding perut di atas umbilikus ke kranial.

  Palpasi Abdomen 2.

  a. Langkah-langkah yang mempermudah palpasi abdomen: 1) Pasien sudah harus mengosongkan kandung kemihnya 2) Buat pasien merasa rileks dalam posisi telentang, letakkan bantal pada bawah kepala pasien 3) Minta pasien untuk meletakkan tanganya di sisi tubuh atau menyilangkanya di depan dada.

  4) Sebelum memulai palpasi minta pasien menunjuk daerah yang dirasa nyeri, pemeriksa akan memeriksa daerah tersebut paling akhir.

  5) Hangatkan tangan dan stetoskop sebelum digunakan untuk pemeriksaan. 6) Lakukan pendekatan secara perlahan dan hindari gerakan yang terlalu cepat dan tidak terduga. Amati wajah pasien dengan seksama untuk menemukan setiap tanda yang menunjukkan rasa nyeri atau ketidaknyamanan. 7) Pasien juga diminta mefleksi kedua tungkai pada sendi paha dan sendi lutut.

  Raba dengan telapak tangan dan tekan dengan memfleksikan telapak tangan pada sendi metakarpofalangea. Lengan pemeriksa harus sehorizontal

  (1) mungkin.

  Dalam keadaan normal, semua organ dalam rongga perut tak dapat diraba, kecuali pada orang kurus yang berdinding perut lembek, dapat diraba : sedikit ujung hepar di bawah Proc. Xiphoideus , kutub bawah ginjal kanan, aorta abdominalais, vertebra lumbalis IV dan V, uterus dalam keadaan gravid >3 bulan, vesica urinaria yang penuh.

  b. Yang diperiksa pada palpasi abdomen ialah : 1) Palpasi superficial secara menyeluruh: Pemeriksa meraba abdomen secara lembut, terutama membantu kita untuk mengidentifikasikan, resistensi otot, dan beberpa organ serta massa yang letaknya superfisial.

  2) Rigiditas dinding perut/ defense muscular dinding perut yang normal teraba supel. Rigiditas dinding perut dirasakan seperti meraba papan. Defense muscular dipastikan dengan cara meletakan kedua telapak tangan pada M. rectus abdominalais kiri dan kanan, kemudian tangan yang satu menekan. Bila tangan yang satunya lagi merasakn dinding perut menjadi seperti papan, defense muscular positif.

  Rigiditas dinding perut terdapat pada tetanus. Defense muscular didapatkan pada peritonitis (disertai dengan hyperesthesia kulit dinding perut). a.nyeri tekan/ raba atau nyeri lepas: peradangan peritoneum menyebabkan nyeri tekan dan nyeri lepas. Peradangan intraabdominal menyebabkan nyeri tekan. Pada kolik abdomen, penekanan pada dinding perut justru meringankan rasa sakit. 3). Palpasi hepar

  a) Posisi pasien tidur terlentang c) letakkan tangan kiri pemeriksa dibawah torak/ dada kanan posterior pasien pada iga kesebelas dan keduabelas dan tekananlah kearah atas.

  d) Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke kepala / superior pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas bawah hati. Palpasi dilakukan dengan cara meraba sejajar dengan garis midclavikularis kanan dari SIAS ke arcus costa kanan untuk hepar lobus kanan manakala untuk lobus kiri dimulai palpasi sejajar garis imaginer dari prosesus xiphoideus ke umbilicus dan dipalpasi menuju arcus costa e) Kemudian tekanlah dengan lembut ke dalam dan ke atas.

  f) Minta pasien menarik napas dan cobalah meraba tepi hati saat abdomen mengempis.

  Palpasi dilakukan untuk menentukan apakah teraba atau tidak hepar. Jika didapatkan ada pembesarean maka ditentukan konsistensi, tepi, permukaan dan rasa nyeri pada masing-masing hepar kanan dan kiri.

  4). Palpasi vesica fellea

  a) Posisi pasien tidur terlentang

  b) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien c) Letakkan telapak tangan kanan di atas abdomen, jari-jari mengarah ke kepala / superior pasien dan ekstensikan sehingga ujung-ujung jari terletak di garis klavikular di bawah batas bawah hati.

  d) Kemudian tekan lembut ke dalam

  e) Mintalah pasien menarik napas dan coba meraba tepi hati saat abdomen mengempis.

  f) Palpasi di bawah tepi hati pada sisi lateral dari otot rektus.

  g) Bila diduga ada penyakit kandung empedu, minta pasien untuk menarik napas dalam selama palpasi palpasi dilakukan dari umbilicus pada bagian rectus abdominis kanan ke sudut arcus costae. Ditentukan apakah terdapat pembesaran dan apakah Murphy sign positif atau negative. 5). Palpasi lien setelah titik Schuffner ditentukan, palpasi lien untuk menentukan apakah terdapat pembesaran dari lien dengan menentukan setinggi titik Schuffner keberapa dan kemudian ditentukan konsistensi, tepi tajam atau tumpul, permukaan rata atau berbenjol-benjol, dan nyeri atau tidak.

  6). Palpasi lien metode hacket

  a) H.0 : Limpa tidak teraba pada inspirasi max

  b) H.1 : Limpa teraba pada inspirasi max

  c) H.2 : Limpa teraba namun proyeksinya tidak melebihi garis horizontal yang ditarik melalui pertengahan arcus costae dan umbilicus pada garis mamillaris kiri

  d) H.3 : Limpa teraba di bawah garis horizontal melalui umbilicus e) H.4 : Limpa teraba di bawah garis horizontal pertengahan antara umbilicus dan symphisis pubis f) H.5 : Limpa teraba di bawah garis H.4

  GAMBAR : 7). Palpasi ginjal palpasi dilakukan dengan cara ballottement dan diperiksa apakah terdapat kelainan pada ginjal dan teraba pembesaran. 8). Pemeriksaan ascites dengan teknik undulasi teknik ini dilakukan untuk membuktikan adanya gelombang cairan atau getaran cairan (fluid wave/ fluid thrill). Tangan pemeriksa diletakkan pada salah satu sisi dinding perut, tangan satunya lagi mengetuk-ngetuk sisi dinding perut lainnya kearah medial. Sementara untuk mencegah getaran dinding perut pasien yang dapat menggangu pemeriksaan, dilakukan penekanan pada garis tengah dengan sisi telapak tangan pasien sendiri atau asisten pemeriksa. Bila rongga abdomen berisi cairan (ascites) maka ketukan pada salah satu sisi tadi akan menyebabkan timbulnya gelombang cairan yang seolah ‘memukul’ tangan pemeriksa yang diletakkan pada sisi perut lainnya. Ascites yang dapat diperiksa dengan cara ini harus cukup banyak/besar. Jika cairan ascites hanya sedikit dapat diperiksa dengan cara lain (perkusi).

  3. PERKUSI ABDOMEN Lakukan perkusi di empat kuadran dan perhatikan suara yang timbul pada saat melakukannya dan bedakan batas-batas dari organ dibawah kulit. Organ berongga seperti lambung, usus, kandung kemih berbunyi timpani, sedangkan bunyi pekak terdapat pada hati, limfa, pankreas, ginjal.

  Tehnik perkusi yaitu pertama kali yakinkan tangan pemeriksa hangat sebelum menyentuh perut pasien Kemudian tempatkan tangan kiri dimana hanya jari tengah yang melekat erat dengan dinding perut. Selanjutnya diketok 2-3 kali dengan ujung jari tengah tangan kanan.

  Lakukanlah perkusi pada keempat kuadran untuk memperkirakan distribusi suara timpani dan redup. Biasanya suara timpanilah yang dominan karena adanya gas pada saluran gastrointestinal, tetapi cairan dan faeces menghasilkan suara redup. Pada sisi abdomen perhatikanlah daerah dimana suara timpani berubah menjadi redup. Periksalah daerah suprapublik untuk mengetahui adanya kandung kencing yang teregang atau uterus yang membesar.

  Perkusilah dada bagian bawah, antara paru dan arkus costa, Anda akan karena gelembung udara pada lambung dan fleksura splenikus kolon. Suara redup pada kedua sisi abdomen mungkin menunjukkan adanya asites.

  a) PERKUSI BATAS HATI 1) Posisi pasien tidur terlentang dan pemeriksa berdirilah disisi kanan pasien 2) lakukan perkusi pada garis midklavikular kanan setinggi umbilikus, geser perlahan keatas, sampai terjadi perubahan suara dari timpani menjadi pekak, tandai batas bawah hati tersebut. 3) Ukur jarak antara subcostae kanan kebatas bawah hati. 4) Batas hati bagian bawah berada ditepi batas bawah tulang iga kanan.Batas hati bagian atas terletak antara celah tulang iga ke 5 sampai ke 7. Jarak batas atas dengan bawah hati berkisar 6 – 12 cm dan pergerakan bagian bawah hati pada waktu bernapas yaitu berkisar 2 – 3 sentimeter

  b) PERKUSI LAMBUNG 1) Posisi pasien tidur terlentang 2) Pemeriksa disamping kanan dan menghadap pasien 3) Lakukan perkusi pada tulang iga bagian bawah anterior dan bagian epigastrium kiri.

  4) Gelembung udara lambung bila di perkusi akan berbunyi timpaniPeriksa : a. Adanya gas dalam usus

  b. Ascites jika cairan ascites sedikit

  c. Besarnya viscera (hati,lien,vesica urinaria,uterus) dan tumor intra abdominal Gas dalam usus

  Adanya gas yang berlebihan di dalam saluran pencernaan menyebabkan bunyi perkusi tympani yang meningkat (nyaring) tetapi memasuki rongga abdomen, maka selain tympani yang nyaring, juga daerah pekak hati menjadi tidak pekak lagi.

  c) Auskultasi Abdomen Cara pemeriksaan: 1) Mintalah pasien berbaring terlentang dengan tangan dikedua sisi.

  Letakan bantal kecil dibawah lutut dan dibelakang kepala. 2) Letakkan kepala stetoskop sisi diafragma yang telah dihangatkan di daerah kuadran kiri bawah. Berikan tekanan ringan, minta pasien agar tidak berbicara. Bila mungkin diperlukan 5 menit terus menerus untuk mendengar sebelum pemeriksaan menentukan tidak adanya bising usus. 3) Dengarkan bising usus apakah normal, hiperaktif, hipoaktif, tidak ada bising usus dan perhatikan frekwensi/karakternya.

  4) Bila bising usus tidak mudah terdengar, lanjutkan pemeriksaan dengan sistematis dan dengarkan tiap kuadran abdomen. 5) Kemudian gunakan sisi bel stetoskop, untuk mendengarkan bunyi desiran dibagian epigastrik dan pada tiap kuadran diatas arteri aortik, ginjal, iliaka, femoral dan aorta torakal. Pada orang kurus mungkin dapat terlihat gerakan peristaltik usus atau denyutan aorta. 6) Catat frekuensi bising usus, hiperaktif, hipoaktif atau tidak/ada bising usus pada kartu status.Jenis bunyi abnormal : a. bunyi usus :

  Bertambah :seperti pada diare atau obstruksi dini intestinal Berkurang :seperti pada kasus ileus paralitik dan peritonitis, untuk memutuskan apakah bunyi usus tidak terdengar lagi perhatikan pada daerah sekiar umbilicus selama 2 menit atau lebih lama lagi.

  b. Bruits Ada 2 jenis bruits hepatic dan arterial , hepatic terjadi pada kasus karsinoma hati atau hepatitis alkoholik, arteria bruits terdengar pada masa sistolik maupun diastolic,menunjukkan oklusi pada aorta atau pembuluh darah yang besar.

  Bunyi ini jarang di dengar , adanya bunyi ini memnunjukkan adanya inflamasi pada permukaan peritoneal suatu organ intraabdominal.

  d. Venous Hum Bunyi ini jarang terdengar, bunyi ini merupakan bunyi desingan yang pelan pada masa sistolik maupun diastolik. Adanya venous hum menunjukkan peningkatan sirkulasi kolateral antara system vena portal dan vena sistemik.i