SIKAP MAHASISWA TERHADAP KEBIJAKAN KAMPUS BEBAS ASAP ROKOK DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(1)

ASAP ROKOK DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh

Derajat Sarjana Keperawatan pada Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun oleh :

YUDAN HARRY SANDIKA 20120320068

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2016


(2)

iii

Nama : Yudan Harry Sandika

NIM : 20120320068

Program Studi : Ilmu Keperawatan

Fakultas : FKIK

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa karya tulis ilmiah ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir karya tulis ilmiah ini.

Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan karya tulis ilmiah ini hasil menjiplak, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Yogyakarta, 15 Agustus 2016 Yang membuat pernyataan,


(3)

iv

melimpahkan rahmat dan karunianya sehingga peneliti dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan judul “Sikap Mahasiswa Terhadap Kebijakan Kampus Bebas Asap Rokok di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta”. Karya tulis ilmiah ini disusun untuk memenuhi syarat memperoleh derajat Sarjana Keperawatan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Karya Tulis Ilmiah ini dapat selesai dikerjakan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan rasa terimakasih kepada :

1. Sri Sumaryani, S.Kep.,Ns.,M.Kep.,Sp.Mat.,HNC selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

2. Shanti Wardaningsih, M.Kep.,Ns.,Sp.Kep.J selaku penanggung jawab blok KTI Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

3. Ema Waliyanti, S.Kep., Ns., MPH selaku pembimbing yang tidak bosan-bosanya menasihati, memberi masukan dan arahan dengan ikhlas dan sabar.

4. Dianita Sugiyo, Ns., MHID selaku penguji proposal yang telah memberikan saran dan masukan.


(4)

v

mendoakan , sehingga peneliti dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan tepat waktu.

7. Ryan Fariz Hardiatma yang selalu memberikan semangat. 8. Tim Ibu Ema yang selalu memberi motivasi.

9. Teman-teman seperjuangan PSIK 2012, plangton dan berbagai pihak yang memberi dukungan dan membantu penyusunan karya tulis ilmiah ini. 10.Teman-teman antil jannah yang selalu meluangkan waktu.

Penulis menyadari masih terdapat beberapa kekurangan dalam skripsi ini semata-mata karena keterbatasan peneliti, sehingga saran dan masukan dari pembaca sangatlah peneliti butuhkan untuk perbaikan dan koreksi diri.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Yogyakarta, 15 Agustus 2016 Peneliti


(5)

vi

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR SINGKATAN ... viii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

INTISARI ... xii

ABSTRACT ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

1. Tujuan umum …….. ... 6

2. Tujuan khusus …….. ... 6

D. Manfaat Penelitian ……. ... 6

E. Penelitian Terkait …….. ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori ………. ... 10

1. Rokok ………. ... 10

2. Kawasan tanpa rokok (KTR) ... 14

3. Sikap ….……….. ... 16

4. Mahasiswa ………….. ... 27

B. Kerangka Konsep …….. ... 28

C. Pertanyaan Penelitian ... 29

BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 30

B. Subyek Penelitian... 30

C. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 31

D. Instrumen Penelitian ... 32

E. Metode Pengumpulan Data ... 32

F. Metode Analisis Data ... 34

G. Etik Penelitian ... 35

H. Uji Keabsahan Data ... 36

I. Jalanya Penelitian... 37

J. Kesulitan Penelitian ... 38

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 40


(6)

vii LAMPIRAN-LAMPIRAN


(7)

viii

Kemenkes RI : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia WHO : World Health Organization

Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar

KBBR : Kampus Bersih dan Bebas Asap Rokok KTR : Kawasan Tanpa Rokok


(8)

ix


(9)

x

Gambar2 Sikap mahasiswa terhadap kebijakan kampus bebas asap 43 Rokok di UMY dan faktor-faktor yang mempengaruhi

sikap

Gambar3 Sikap mahasiswa perokok aktif terhadap KBBR 47 Gambar4 Sikap mahasiswa perokok pasif terhadap KBBR 51

Gambar5 Stiker kawasan tanpa rokok 52


(10)

xi Lampiran 3. Panduan diskusi kelompok

Lampiran 4. Lembar penjelasan penelitian “Metode wawancara mendalam” Lampiran 5. Surat pernyataan ketersediaan sebagai informan

Lampiran 6. Panduan wawancara mendalam “mahasiswa” Lampiran 7. Panduan wawancara mendalam “satpam” Lampiran 8. Form observasi

Lampiran 9. Surat keterangan kelayakan etika penelitian Lampiran 10. Surat ijin penelitian


(11)

(12)

xii 1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UMY, 2Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan FKIK UMY

INTISARI

Latar belakang : Merokok merupakan salah satu masalah di masyarakat yang sampai saat ini sulit untuk diselesaikan, terlebih diperparah oleh efek globalisasi. Pada tahun 2011, 6 juta kematian tiap tahunnya disebabkan oleh kebiasaan merokok, termasuk di dalamnya yaitu perokok pasif. Jumlah perokok di Indonesia terus bertambah yang didominasi oleh usia 15 tahun keatas. UMY adalah tempat proses belajar mengajar yang memiliki SK rektor tentang kebijakan kampus bebas asap rokok yang melarang mahasiswa perokok aktif merokok di area kampus, namun sampai saat ini masih ada yang melanggar.

Tujuan : Untuk mengetahui bagaimana sikap mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta terhadap kebijakan kampus bebas asap rokok.

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data diambil menggunakan diskusi kelompok, wawancara mendalam dan observasi. Partisipan dalam penelitian ini ditentukan dengan purposive sampling didapatkan 17 orang partisipan yang terdiri dari mahasiswa dan satpam kampus UMY.

Hasil : Mahasiswa perokok aktif memilki sikap setuju dan tidak setuju terhadap KBBR, sedangkan mahasiswa perokok pasif semuanya setuju. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yaitu tanda-tanda larangan kurang, sumber informasi KBBR, pengetahuan subjek, pengaruh lingkungan, dan pengaruh orang lain.

Kesimpulan : Terdapat perbedaan dukungan pada perokok aktif yang memiliki sikap setuju terhadap KBBR, yaitu mendukung dan tidak mendukung KBBR. Sedangkan pada perokok pasif sikap semua mahasiswa setuju dan mendukung KBBR.


(13)

xiii Yudan Harry Sandika, Ema Waliyanti

1

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UMY, 2Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan FKIK UMY

ABSTRACT

Background: Smoking is one of the problems in society which is difficult to be resolved, moreover, it is aggravated by the effects of globalization. In 2011, six million deaths each year are caused by smoking, including the passive smoker. The number of smokers in Indonesia continues to grow, which is dominated by the age of above 15 years. Muhammadiyah University of Yogyakarta (UMY) is one of the learning process places that implement a smoke-free campus policy which prohibits smoking in college students, however, there are people who still violate the rule until today.

Objective:To determine how the students’ attitudes of Muhammadiyah University of

Yogyakarta toward a smoke-free campus policy.

Methods: This Research is a qualitative study with the phenomenological approach. The data were taken using group discussions, in-depth interviews, and observation. Total sample which were 17 participants they area student and security was determined by purposive sampling technique.

Results: Students who were active smokers agreed and disagreed on KBBR, meanwhile, students who were passive smoker all agreed. It was influenced by various factors: the lack of prohibition signs, resources of KBBR, subject knowledge, environmental influences and the influenced of others.

Conclusion : There is a difference of support in active smokers who have agreed to KBBR attitude, that support and does not support KBBR. While in passive smokers attitude of all students agree and support KBBR.


(14)

1

Merokok merupakan salah satu masalah di masyarakat yang sampai saat ini sulit untuk diselesaikan. Kebiasaan merokok merupakan salah satu perubahan gaya hidup yang disebabkan oleh efek globalisasi dan dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Mengkonsumsi rokok dapat menimbulkan banyak kerugian dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan, bahkan kematian (Kemenkes RI, 2011). Merokok dapat mengakibatkan kanker paru (90%), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) 75%, dan 25% menjadi penyebab serangan jantung (Kemenkes RI, 2013).

Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2011, 6 juta kematian tiap tahunnya disebabkan oleh kebiasaan merokok, termasuk di dalamnya yaitu perokok pasif. Sebanyak 600.000 orang meninggal akibat terpapar asap rokok. Jika hal ini terus berlanjut, maka diprediksikan pada tahun 2030 akan terjadi kematian 8 juta orang tiap tahunnya, dimana 80% terjadi di negara miskin dan berkembang. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menunjukan bahwa penyumbang kematian terbesar di Indonesia adalah rokok, mencapai 57.000 orang per tahunya (Kemenkes RI, 2013).

Menurut Kemenkes RI (2011) pada tahun 1995 jumlah perokok di Indonesia sebanyak 34,7 juta orang, yang meliputi 33,8 juta perokok laki-laki dan 1,1 juta perokok perempuan. Pada tahun 2007 terjadi peningkatan menjadi 65,2


(15)

juta orang perokok, sebanyak 60,4 juta perokok laki-laki dan 4,8 juta perokok perempuan. Peningkatan prevalensi perokok cenderung meningkat pada usia 15 tahun keatas, sebanyak 34,2% pada tahun 2007 menjadi 36,3% pada tahun 2013 (Kemenkes RI, 2013).

Kemenkes RI (2013) melaporkan pada tahun 2007 jumlah perokok usia 15-19 tahun mencapai 18,8%, angka ini menunjukan peningkatan dari tahun 2001 sebanyak 12,7%. Hal ini dikarenakan usia tersebut termasuk dalam kategori usia remaja dimana pada fase ini terjadi peralihan dari kanak- kanak ke dewasa. Fase ini merupakan masa pencarian jati diri melalui mencoba hal-hal baru dan perilaku beresiko (Komasari & Helmi dalam Widiansyah, 2014). Remaja yang terpapar asap rokok memiliki resiko lebih tinggi terkena gangguan pendengaran, pernafasan, penurunan kapasitas sel darah merah dalam mengangkut oksigen dan gangguan pengelihatan (Kemenkes RI, 2011). Selain itu penelitian yang dilakukan Tulenan, dkk. (2015) menunjukan bahwa perilaku merokok mempengaruhi prestasi belajar siswa.

Pemerintah Indonesia telah melakukan pengendalian asap rokok melalui Undang – Undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 dan Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta nomor 42 tahun 2009. Peraturan ini mengamanatkan pentingnya pengembangan kawasan tanpa rokok. Pada pasal 115 Undang – undang Republik Indonesia menjelaskan kawasan tanpa rokok yaitu meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, dan tempat umum


(16)

dan tempat lain yang ditetapkan. Pada Pasal 1 Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta menjelaskan kawasan dilarang merokok adalah ruang atau area yang dinyatakan dilarang untuk merokok meliputi tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja, dan tempat spesifik sebagai tempat belajar mengajar, area kegiatan anak, tempat ibadah, dan angkutan umum.

Menurut Kemenkes RI (2011) tempat proses belajar adalah sarana yang digunakan untuk kegiatan belajar, mengajar, pendidikan dan/atau pelatihan yang merupakan salah satu kawasan tanpa rokok. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta termasuk tempat proses belajar mengajar yang telah menerbitkan Surat Keputusan Rektor Nomor: 164/SK-UMY/XII/2011 tentang implementasi program kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bersih dan bebas asap rokok (KBBR). Begitu juga dengan muhammadiyah yang telah mengeluarkan fatwa tentang hukum merokok yang tercantum pada Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah NO.6/SM/MTT/III/2010. Fatwa ini menyatakan bahwa merokok termasuk kategori perbuatan melakukan khaba’is yang dilarang dalam Surat Al-A’raf Ayat 157

“ (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka


(17)

beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Perbuatan merokok mengandung unsur menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dan bahkan merupakan perbuatan bunuh diri secara perlahan sehingga bertentangan dengan Al-Quran dalam Surat Al-Baqarah ayat 195 dan An-Nisa ayat 29.

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (Al-Baqarah ayat 195)

ُكَت ْنَأ َِإ ِلِطاَبْلاِب ْمُكَنْ يَ ب ْمُكَلاَوْمَأ اوُلُكْأَت ََ اوُنَمَآ َنيِذلا اَه يَأ اَي اوُلُ تْقَ ت َََو ْمُكْنِم ٍضاَرَ ت ْنَع ًةَراَجِت َنو

نِإ ْمُكَسُفْ نَأ اًميِحَر ْمُكِب َناَك َهللا

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta-harta kalian di antara kalian dengan cara yang batil, kecuali dengan perdagangan yang kalian saling ridha. Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian, sesungguhnya Allah itu Maha Kasih Sayang kepada kalian.(An-Nisa ayat 29)

Kebijakan kampus bebas asap rokok yang telah ada sejak tahun 2011 belum dapat menghilangkan perokok aktif di lingkungan kampus UMY, terlihat sampai saat ini masih ada mahasiswa yang merokok di lingkungan kampus. Perilaku merokok tersebut dipengaruhi oleh sikap mahasiswa terhadap penerapan KBBR. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Kesiapan yang dimaksud adalah kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada stimulus yang


(18)

menghendaki adanya respon (Azwar, 2012). Sedangkan Notoatmojo dalam Latif (2007) mengartikan sikap sebagai suatu respon seseorang terhadap stimulus yang disertai kecenderungan untuk bertindak.

Sikap secara nyata menunjukan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian yang dilakukan Febriani pada tahun 2014 menunjukan bahwa seseorang yang mempunyai persepsi baik tentang kawasan tanpa rokok (KTR) akan memiliki sikap yang positif terhadap KTR. Sikap positif mengandung motivasi atau daya dorong untuk berperilaku yang positif.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil observasi masih terdapat mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang merokok di dalam kampus. Agar jumlah perokok dapat berkurang maka langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengetahui sikap mahasiswa terhadap kebijakan kampus. Sikap memberikan corak pada tingkah laku dan perbuatan manusia, dalam hal ini sikap mahasiswa terhadap kebijakan kampus bebas asap rokok menentukan tindakan dan perbuatan mahasiswa untuk mematuhi atau melanggar peraturan. Berdasarkan uraian diatas, peneliti menentukan rumusan masalah: “Bagaimana Sikap Mahasiswa Terhadap Kebijakan Kampus Bebas Asap Rokok di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.”


(19)

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui bagaimana sikap mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta terhadap kebijakan kampus bebas asap rokok. 2. Tujuan Khusus

a) Mengetahui bagaimana sikap mahasiswa perokok aktif terhadap kebijakan kampus bebas asap rokok.

b) Mengetahui bagaimana sikap mahasiswa perokok pasif terhadap kebijakan kampus bebas asap rokok.

c) Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa terhadap kebijakan kampus bebas asap rokok di UMY.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi : 1. Bagi Institusi Pendidikan / UMY

Sebagai bahan masukan bagi UMY dalam menentukan arah kebijakan terutama tentang rokok dan mengevaluasi penerapan kebijakan KBBR.

2. Bagi Mahasiswa

Sebagai referensi dan menambah pengetahuan tentang sikap mahasiswa terhadap kebijakan kampus bebas asap rokok.


(20)

Sebagai tambahan informasi bagi perawat dalam mengoptimalkan upaya preventif terhadap permasalahan rokok.

4. Bagi Peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi untuk peneliti selanjutnya, terutama tentang KTR.

E. Penelitian Terkait

1. Febriani (2014) dengan judul “Pengaruh Persepsi Mahasiswa Terhadap Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan Dukungan Penerapannya di Universitas Sumatera Utara“. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan explanatory research. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Sumatera Utara sebanyak 94 orang. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel persepsi tentang KTR memiliki hubungan yang signifikan dengan variabel dukungan penerapan KTR dengan nilai p=0,004. Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara persepsi tentang KTR (p=0,004) terhadap dukungan penerapan KTR.

Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian adalah, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Sampel dalam penelitian ini juga tidak dibatasi.

2. Azkha (2013) dengan judul “Studi Efektivitas Penerapan Kebijakan Perda Kota Tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Dalam Upaya Menurunkan


(21)

Perokok Aktif di Sumatera Barat Tahun 2013”. Penelitian ini menggunakan metode mixed method yaitu kuantitatif dan kualitatif dengan desain explanatory. Sampel kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 100 orang dengan menggunakan kuesioner, sedangkan sampel kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini adalah di Padang Panjang KTR sudah berjalan karena ada komitmen dari Walikota dan DPR. Komitmen itu terlihat dari adanya sanksi tegas bagi perokok, terutama bagi pegawai yang merokok di kantor atau di sekolah sehingga tidak ada lagi ditemukan iklan rokok. Di Kota Payakumbuh juga telah berjalan dengan adanya komitmen dari Walikota dan dukungan dari Dinas Kesehatan dengan membentuk tim pengawas KTR, sedangkan di kota Padang baru dilakukan teguran sehingga perokok masih mencapai 59%.

Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan alat pengumpulan data menggunakan focus group disccusion, wawancara mendalam dan observasi.

3. Latif (2015) dengan judul “Gambaran Pengetahuan, Perhatian, dan Sikap Mahasiswa Terhadap Media Promosi Kesehatan Berupa Gambar di Kemasan Rokok Pada Perokok Aktif”. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan sampel mahasiswa Universitas Jember sebanyak 94 orang. Penentuan sampel menggunakan cluster random sampling. Hasil penelitian ini menunjukan pengetahuan mengenai media promosi kesehatan pada kemasan rokok sebagian besar termasuk dalam kategori sedang yaitu sebesar 73,40%,


(22)

dan untuk perhatian responden terhadap media promosi kesehatan berupa gambar pada kemasan rokok sebesar 55,32% dan untuk gambar yang paling ditakuti adalah gambar penyakit kanker tenggorokan sebesar 60,63%. Secara keseluruhan responden memiliki sikap negatif tentang rokok dan bahayanya, yaitu 86,81%.

Perbedaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan sampel yang tidak dibatasi jumlahnya sampai tercapai saturasi data. Penentuan sampel menggunakan purposive sampling.


(23)

10 1. Rokok

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120 mm dengan diameter sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah. Rokok dibakar dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut. Ada dua jenis rokok, yaitu berfilter dan tidak berfilter. Filter pada rokok terbuat dari busa serabut sintetis yang berfungsi menyaring nikotin (Imarina dalam Latif, 2015). Menurut Kemenkes RI (2011) rokok adalah salah satu produk tembakau yang dimaksudkan untuk dibakar, dihisap dan dihirup termasuk rokok kretek, rokok putih, cerutu atau bentuk lainya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiana tabacum, Nicotiana rustica dan spesies lainya atau sintesisnya yang asapnya mengandung nikotin dan tar, dengan atau tanpa bahan tambahan.

Merokok berarti membakar tembakau yang kemudian dihisap asapnya baik menggunakan rokok maupun menggunakan pipa. Alasan utama merokok adalah cara untuk bisa diterima secara sosial, melihat orang tuanya merokok, menghilangkan rasa jenuh, ketagihan dan untuk menghilangkan stress (Aditama dalam Febriani, 2014). Menurut Kemenkes RI (2012) merokok adalah kegiatan membakar rokok atau menghisap asap rokok dan merupakan salah satu penyebab gangguan kesehatan dan penyebab kematian.


(24)

Rokok yang dikonsumsi menghasilkan asap rokok yang berbahaya bagi kesehatan perokok aktif maupun perokok pasif. Perokok aktif adalah orang yang mengonsumsi rokok secara rutin, walaupun itu hanya satu batang dalam sehari atau orang yang menghisap rokok walau tidak rutin sekalipun atau hanya sekedar coba-coba dan cara menghisap rokok cuma sekedar menghembuskan asap walau tidak dihisap masuk ke dalam paru-paru. (Kemenkes RI, 2012). Perokok pasif adalah orang yang bukan perokok tapi menghirup asap rokok orang lain atau orang yang berada dalam satu ruangan tertutup dengan orang yang sedang merokok (Kemenkes RI, 2011).

Siteope dalam Putra (2013) menyebutkan bahwa rokok (termasuk asap rokok) mengandung racun yang berbahaya bagi kesehatan. Racun dalam rokok yaitu :

a. Tar

Tar merupakan senyawa polinuklin hidrokarbon aromatika yang bersifat karsinogenik, zat ini bersifat lengket dan bisa menempel di paru-paru sehingga setelah terakumulasi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan terbentuknya kanker. Pada saat rokok dihisap, tar masuk ke dalam rongga mulut sebagai uap padat asap rokok, setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran pernafasan dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi antara 3-40 mg per batang rokok, sementara kadar dalam rokok berkisar 24-45mg. (Sitepoe dalam Pramesti, 2014)


(25)

b. Gas karbon monoksida (CO)

Unsur ini dihasilkan oleh pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat arang atau karbon. Gas CO mempunyai kemampuan mengikat hemoglobin (Hb) lebih kuat dibanding Oksigen. Gas CO yang dihasilkan sebatang rokok dapat mencapai 3-6% dan minimal sejumlah 400 ppm (parts per milion) terhisap oleh perokok, kadar ini sudah mampu meningkatkan karboksi haemoglobin dalam darah sejumlah 2-16% (Sitepoe dalam Astuti, 2014).

c. Nikotin

Nikotin bersifat racun dan mampu mempengaruhi kinerja otak atau susunan saraf pusat. Nikotin mampu memberikan sensasi nikmat sekaligus mengaktivasi sistem dopaminergik yang akan merangsang keluarnya dopamine, sehingga perokok merasa tenang, daya pikir meningkat, dan menekan rasa lapar. Nikotin juga mampu mengaktivasi sistem adrenegik yang akan melepaskan serotonin yang berfungsi menimbulkan rasa senang, sehingga perokok cenderung mengulangi aktivitas merokoknya namun tubuh membutuhkan kadar nikotin yang semakin tinggi untuk mencapai tingkat kepuasan yang di inginkan (Wayne dalam Putra, 2013).

Rokok memberi akibat buruk pada tubuh kita, mulai dari kepala sampai kaki. Penyakit yang disebabkan oleh rokok adalah:


(26)

a. Kanker

Kebiasaan merokok dihubungkan dengan berbagai macam kanker, mulai dari kanker mulut, kanker paru, sampai kanker rahim. Perokok beresiko lima kali lebih tinggi terkena kanker mulut dan dua kali lebih tinggi terkena kanker kandung kemih dibandingkan dengan bukan perokok, begitu juga dengan kanker bibir, kanker lidah, dan kanker kerongkogan. Kanker timbul akibat diserapnya bahan karsinogenik ke dalam tubuh (Imarina, 2008).

b. Penyakit jantung

Penyakit jantung berhubungan dengan penyempitan atau tersumbatnya pembuluh darah koroner. Bahan di dalam asap rokok yang berkaitan dengan penyakit jantung adalah CO. Gas CO mempunyai kemampuan mengikat Hb lebih kuat dibanding Oksigen, sehingga setiap ada asap rokok yang terhirup kadar Oksigen darah berkurang. Darah lebih banyak mengangkut CO daripada Oksigen mengakibatkan sel tubuh menderita karena kekurangan Oksigen, sel tubuh akan merespon dengan meningkatkan laju darah dengan cara vasokontriksi pembuluh darah. Proses vasokontriksi yang berlangsung lama dan terus menerus akan mengakibatkan penyempitan (aterosklerosis) (Kusmana dalam Putra, 2013) c. Penyakit lain

Selain penyakit diatas, kebiasaan merokok dihubungkan dengan penyakit-penyakit lain, contohnya di daerah lambung yaitu penyakit maag


(27)

dan tukak lambung. Tukak lambung lebih sering dijumpai pada orang yang merokok, dan lebih sulit sembuh selama mereka masih tetap merokok. Efek dari merokok yang lain adalah rambut jadi mudah rontok, 40% lebih beresiko terkena gangguan mata, penuaan dini pada kulit, lebih mudah terkena gangguan pendengaran, permasalahan gigi, permasalahan pernafasan dan kuku menjadi berwarna kuning kecoklatan (Kemenkes RI, 2011).

Rokok juga dapat mempengaruhi prestasi akademik, hal ini disebabkan karena rokok mempengaruhi kesehatan fungsi otak dan psikis. Kandungan rokok yang berkaitan dengan fungsi otak adalah nikotin, nikotin memiliki efek toksisitas pada fungsi kognitif yang memunculkan gejala kesulitan konsentrasi (Tulenan, dkk., 2015).

2. Kawasan tanpa rokok (KTR) a. Pengertian KTR

Kawasan tanpa rokok (KTR) merupakan ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan, dan/atau mempromosikan produk tembakau, meliputi fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja dan tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan (Kemenkes RI, 2013).


(28)

b. Tujuan dari KTR

Tujuan dari diadakan KTR adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan angka kematian dengan cara mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan produktivitas kerja yang optimal, mewujudan kualitas udara yang sehat dan bersih bebas dari asap rokok, menurunkan angka perokok dan mencegah perokok pemula serta mewujudkan generasi muda yang sehat (Kemenkes RI, 2011).

c. Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta tentang Kawasan Dilarang Merokok

Peraturan gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 42 Tahun 2009 menetapkan kawasan dilarang merokok adalah ruang atau area yang dinyatakan dilarang untuk merokok meliputi tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja, dan tempat spesifik sebagai tempat belajar mengajar, area kegiatan anak, tempat ibadah, dan angkutan umum. Tempat atau ruangan adalah bagian dari suatu bangunan gedung yang berfungsi sebagai tempat melakukan kegiatan. Sedangkan tempat proses belajar mengajar adalah tempat baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan yang digunakan untuk kegiatan proses belajar mengajar. Peraturan gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ini mengartikan rokok sebagai hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bentuk lainya yang dihasilkan dari tanaman nicotiana tobacum, nicotiana rustica dan spesies


(29)

lainya atau sintetisnya yang mengandung nikotin, tar, dan zat adiktif dengan atau tanpa bahan tambahan.

d. Surat Keputusan (SK) Rektor UMY tentang Kawasan Bersih dan Bebas Rokok (KBBR)

Keputusan rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Nomor: 64/SK-UMY/XII/2011 tentang implementasi program kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bersih dan bebas asap rokok (KBBR) menetapkan larangan merokok di seluruh area kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) baik indoor maupun outdoor bagi semua pegawai edukatif, pegawai administratif, mahasiswa dan semua stakeholder UMY yang lainya. Program KBBR merupakan tanggung jawab semua civitas akademika baik pegawai edukatif, pegawai administratif, mahasiswa dan semua stakeholder UMY yang lainya. Pelanggaran terhadap implementasi program KBBR baik dalam bentuk pendistribusian, perdagangan, dan konsumsi rokok di UMY merupakan pelanggaran yang bisa dilanjutkan pada proses penilaian kinerja baik akademik maupun non akademik.

3. Sikap

a. Definisi sikap

Sikap merupakan ekspresi yang mencerminkan perasaan (inner feeling), apakah seseorang senang atau tidak senang, suka atau tidak suka dan setuju atau tidak setuju terhadap suatu objek (Schifman & Kanuk


(30)

dalam Siswanta, dkk., 2014). Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) pada objek tersebut (Berkowitz dalam Azwar, 2012). Sikap merupakan suatu rekasi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus/ objek, manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat tetapi hanya dapat di tafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup, sikap secara nyata menunjukan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial (Notoatmodjo, 2007). Sikap pada diri manusia memberikan corak pada tingkah laku dan perbuatan, dengan mengetahui sikap seseorang kita dapat memprediksi reaksi atau tindakan yang akan diambil oleh seseorang (Wahareni, 2006).

Keseluruhan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan respon tertutup yang masih belum dapat dilihat secara langsung. Sikap mencerminkan perasaan senang atau tidak senang, suka dan tidak suka, setuju dan tidak setuju, mendukung dan tidak mendukung, maupun memihak dan tidak memihak. Menurut Baron & Byrne ; Brannon, dkk ; DeFlerur & Westie dalam Azwar (2012) sikap dan perilaku memperlihatkan adanya indikasi yang kuat, sehingga dengan mengetahui sikap seseorang kita dapat memprediksi reaksi atau tindakan yang akan diambil oleh seseorang.


(31)

b. Konsistensi Sikap-perilaku

Menurut Azwar (2012) konsistensi sikap-perilaku terbagi menjadi tiga postulat, yaitu postulat konsistensi, postulat variasi independen dan postulat konsistensi tergantung.

1) Postulat konsistensi

Postulat konsistensi mengatakan bahwa sikap verbal merupakan petunjuk yang kuat untuk memprediksikan apa yang akan dilakukan seseorang bila bertemu dengan stimulus sikap. Bukti yang mendukung postulat ini dapat terlihat pada pola perilaku individu yang memiliki sikap ekstrim cenderung untuk berperilaku ekstrim.

2) Postulat variasi independen

Postulat variasi independen mengatakan bahwa sikap dan perilaku merupakan dua dimensi dalam diri individu yang berdiri sendiri, terpisah, dan berbeda. La Pierre (1934) melakukan penelitian dengan cara mengirim surat kepada pemilik hotel dan restoran di Amerika Serikat, menanyakan apakah mereka mau menerima tamu orang Cina atau tidak. Hasilnya 91% mengatakan “tidak”, sisanya mengatakan “belum tentu”. Setelah menerima balasan surat, La Pierre kemudian mendatangi 250 restoran dan hotel tersebut dan hanya mendapatkan penolakan sekali. Hal ini menunjukan adanya inkonsistensi antara sikap dan perilaku.


(32)

3) Postulat konsistensi tergantung

Postulat konsistensi tergantung menyatakan bahwa sikap dan perilaku sangat ditentukan oleh faktor-faktor situasional tertentu. Individu yang mengalami ancaman fisik maupun mental mengalami hambatan maupun gangguan dalam menyatakan sikap yang sesungguhnya, sehingga apa yang diekspresikan melalui lisan atau perbuatan sangat mungkin tidak sejalan dengan sikap hati nuraninya. Beda halnya dengan individu yang berada dalam situasi bebas dari berbagai bentuk tekanan dan hambatan, mereka dapat bersikap dan berperilaku sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Dengan adanya tiga postulat di atas, penyimpulan mengenai sikap individu tidaklah mudah dan bahkan dapat menyesatkan. Penyimpulan mengenai sikap harus didasarkan pada respon terhadap objek sikap dalam berbagai bentuk. Rosenberg & Hovland dalam Azwar (2012) melakukan analisis terhadap berbagai respon yang dapat dijadikan dasar penyimpulan sikap dari perilaku, yang hasilnya disajikan dalam Tabel 1.


(33)

Tabel 1. Respon yang digunakan untuk penyimpulan sikap

Tipe respons

Kategori respons

Kognitif Afektif Konatif Verbal Pernyataan

keyakinan

Pernyataan perasaan

terhadap objek sikap

Pernyataan intensi perilaku Non - verbal Reaksi

perseptual terhadap objek sikap

Reaksi fisiologis terhadap objek sikap

Perilaku-tampak sehubungan dengan objek sikap

Sikap terdiri dari tiga komponen yaitu kognitif, afektif dan konatif. Komponen kognitif merupakan representasi apa yang dipercayai oleh individu terhadap sikap. Komponen afektif berkaitan dengan emosional seseorang terhadap suatu objek. Komponen konatif merupakan kecenderungan untuk berperilaku (Mar’at, 1984).

Rosenberg & Hovland dalam Azwar (2012) memberikan contoh respon yang dapat digunakan untuk penyimpulan-penyimpulan sikap :

1) Dalam penyimpulan respon kognitif verbal, kita dapat mengetahui seseorang memiliki sikap positif terhadap Negara Palestina ketika ia mengatakan ia percaya akan hak orang Palestina telah dirampas oleh kaum Yahudi secara tidak sah. Disini sikap mahasiswa terhadap KBBR dapat terlihat ketika ia mengatakan (menyatakan) bahwa ia percaya bahwa manusia berhak bernafas bebas tanpa adanya polusi udara yang disebabkan oleh asap rokok (sikap


(34)

positif). Respons kognitif non verbal dapat diketahui dengan memperhatikan reaksinya terhadap berita-berita atau artikel mengenai KBBR.

2) Respon afektif verbal dapat disimpulkan saat seseorang memberikan komentar negatif terhadap perlakuan Yahudi terhadap penduduk Palestina di Jalur Gaza (misalnya betapa sebalnya ia terhadap perbuatan serdadu Israel). Disini ketika seseorang memberikan komentar negatif terhadap perokok di kawasan bebas asap rokok, misalnya betapa kesalnya ia terhadap mahasiswa yang melanggar aturan kampus dapat diartikan bahwa sikapnya terhadap KBBR adalah positif. Respons afektif non-verbal berupa reaksi fisik seperti ekspresi muka yang mencibir, tersenyum, gerakan tangan, dan lain sebagainya.

3) Respons konatif verbal terungkap lewat pernyataan keinginan melakukan, misalnya adanya keinginan untuk dapat ikut serta dalam kampanye KBBR. Respons konatif non-verbal dapat berupa ajakan pada orang lain untuk menyumbangkan ide-ide.

c. Ciri-ciri sikap

Sikap tidak dibawa sejak lahir melainkan dibentuk dan dipelajari selama perkembangan individu sehingga sikap dapat berubah-ubah. Sikap terbentuk karena hubungan tertentu dengan suatu objek. Sikap dapat tertuju pada satu objek maupun kelompok. Apabila sikap sudah


(35)

menjadi nilai dalam kehidupan individu maka akan bertahan lama, berbeda dengan sikap yang belum menjadi nilai dalam diri seseorang maka relatif dapat berubah. Sikap mengandung perasaan atau motivasi, sehingga sikap individu terhadap objek akan diikuti oleh perasaan tertentu baik positif maupun negatif. Sikap mengandung motivasi atau daya dorong untuk berperilaku (Purwanto, 1998 ; Gerungan, 2009). d. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa terhadap kebijakan

KBBR

Penelitian yang telah dilakukan oleh Jamal tahun 2012 menunjukan ketidak patuhan mahasiswa terhadap KBBR disebabkan oleh berbagai macam hal yaitu : riwayat merokok mahasiswa meliputi umur berapa dia mulai merokok dan seberapa banyak dia menghisap rokok dalam sehari. Hasil penelitian menunjukan perokok yang sudah mulai merokok pada usia kurang dari 10 tahun 66,7% tidak patuh terhadap kebijakan KBBR, kemudian responden yang merokok sebanyak 11-30 batang rokok perhari akan tidak patuh sebanyak 82,8%. Kemudian faktor lain yang diungkapkan membuat seseorang tidak patuh terhadap kebijakan KBBR adalah lambang kejantanan sebanyak 86,7% dan faktor yang terakhir adalah dikarenakan lemahnya penegakan hukum larangan merokok. Salawati, dkk. (2010) mendapatkan hasil bahwa seseorang yang mencoba berhenti merokok akan mengalami kegagalan apabila melihat temanya merokok. Sejauh ini belum ada


(36)

peneliti yang meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa terhadap kebijakan KBBR.

Azwar (2012) mengungkapkan ada enam faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap secara umum, diantaranya pengalaman pribadi, pengaruh orang lain, kebudayaan, media massa, lembaga agama serta faktor emosional.

1) Pengalaman pribadi

Apa yang telah dan sedang dialami akan ikut membentuk dan mempengaruhi respon terhadap stimulus. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat dan melibatkan faktor emosional.

2) Pengaruh orang lain

Orang lain di sekitar kita merupakan salah-satu komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Persetujuan dan kesesuaian sikap sendiri dengan sikap kelompoknya sangat penting untuk menjaga status afiliasi dengan teman-teman, untuk menjaga agar ia tidak dianggap asing dan lalu dikucilkan oleh kelompok. 3) Kebudayaan

Kebudayaan dimana kita hidup mempunyai pengaruh yang besar terhadap pembentukan sikap. Dalam kehidupan dimasyarakat, sikap masyarakat diwarnai dengan kebudayaan yang ada di daerahnya. Apabila kita hidup dalam budaya yang mengutamakan


(37)

kehidupan berkelompok, maka sangat mungkin akan mempunyai sikap negatif terhadap kehidupan individualisme.

4) Media massa

Pengaruh media massa tidaklah sebesar pengaruh interaksi individual secara langsung, namun peranan media massa dalam proses pembentukan dan perubahan sikap tetap ada. Informasi dalam iklan selalu berisi segi positif mengenai produk yang di iklankan sehingga dapat menimbulkan perngaruh sikap yang positif pula.

5) Lembaga agama

Pemahaman akan baik dan buruk, sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajaranya. Apabila terdapat suatu hal yang kontroversial pada umumnya dia akan bersikap sesuai dengan apa yang sudah diajarkan, misalnya hal itu melanggar norma agama pastinya tidak akan ada keraguan untuk bersikap antipati dan menolak.

6) Faktor emosional

Emosional seseorang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap selain situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang, namun biasanya hanya bersifat sementara dan segera berlalu setelah frustasi hilang akan tetapi


(38)

dapat pula lebih persisten dan bertahan lama. Suatu contoh sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka. Wrightsman & Deaux tahun 1981 dalam Azwar (2012) mendefinisikan prasangka sebagai sikap yang tidak toleran, tidak adil, atau tidak favorabel terhadap sekelompok orang.

e. Tingkatan sikap

Menurut Notoatmodjo (2007) tingkatan sikap ada empat yaitu menerima (receiving), merespon (responding), menghargai (valuing) dan bertanggung jawab (responsible). Tingkatan pertama adalah menerima, disini individu hanya sekedar menerima dan mempertahankan stimulus yang dimunculkan oleh objek. Tingkatan kedua adalah merespon, pada tingkatan ini individu memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan dengan seadanya, terlepas dari hasilnya benar atau salah. Yang ketiga adalah menghargai, individu pada tingkat ini mampu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan objek. Tingkatan terakhir adalah bertanggung jawab, disini individu mampu bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko yang akan muncul.

f. Dimensi sikap

Menurut Sax (1980) sikap menunjukan beberapa karakteristik yaitu arah, intensitas, keluasan, konsistensi dan spontanitas.


(39)

a. Arah

Sikap terpilah pada dua arah kesetujuan yaitu apakah setuju atau tidak setuju, mendukung atau tidak mendukung, memihak atau tidak memihak. Orang yang setuju, mendukung atau memihak berarti memiliki sikap yang arahnya positif dan apabila tidak setuju, tidak mendukung atau tidak memihak berarti memiliki sikap yang negatif.

b. Intensitas

Kedalaman atau kekuatan sikap setiap orang mempunyai perbedaan walaupun arahnya mungkin sama. Dua orang yang memiliki sikap negatif belum tentu memiliki sikap negatif yang sama intensitasnya, sebagai contohnya orang pertama mungkin tidak setuju tapi orang kedua dapat saja sangat tidak setuju.

c. Keluasan

Kesetujuan atau ketidak setujuan terhadap objek dapat mengenai hanya aspek yang sedikit dan sangat spesifik, namun juga dapat mencakup banyak sekali aspek. Seseorang yang positif terhadap program keluarga berencana bisa saja setuju pada semua kegiatan yang dilakukan, namun bisa saja hanya setuju pada sebagian kegiatan.


(40)

d. Konsistensi

Kesesuaian antara pernyataan sikap dengan responya terhadap objek sikap. Konsistensi sikap diperlihatkan oleh kesesuaian sikap antar waktu. Sikap yang sangat cepat berubah dikatakan sebagai sikap yang inkonsisten.

e. Spontanitas

Sejauh mana kesiapan individu untuk menyatakan sikapnya secara spontan. Sikap dikatakan memiliki spontanitas yang tinggi apabila dapat dinyatakan secara terbuka tanpa harus di desak. 4. Mahasiswa

Mahasiswa adalah individu yang sedang menuntut ilmu ataupun belajar dan terdaftar sedang menjalani pendidikan pada perguruan tinggi negeri maupun swasta atau lembaga lain yang setara (Siswoyo,2007 ; Hartiaji, 2012). Suhoyo, dkk dalam Wardani (2010) mendefinisikan mahasiswa adalah sekelompok pemuda yang belajar di perguruan tinggi dengan umur antara 18-30 tahun.

Mahasiswa tergolong dalam masa remaja akhir. Pada fase ini penuh masalah tentang penyesuaian diri dimana mulai timbul dorongan untuk mencapai kebebasan pribadi dalam memantapkan status dirinya. Mereka juga telah mencapai kebebasan emosional dari otang tua dan orang dewasa lainya, akan tetapi pada satu sisi mereka tidak tahu apa-apa dan belum mempunyai banyak pengalaman (Musdalifah, 2007).


(41)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Jamal tahun 2012 memperlihatkan bahwa semakin tua umur mahasiswa semakin cenderung memiliki sikap dan perilaku tidak patuh. Beban pikiran atau tingkat stres pada mahasiswa angkatan tua lebih tinggi dibanding mahasiswa yang lebih muda dikarenakan mahasiswa tua memiliki tekanan untuk menyelesaikan studi yang membutuhkan banyak tenaga dan pikiran, hal ini menyebabkan intensitas merokok semakin meningkat. Selain itu, lemahnya penegakan hukum dan kurangnya sanksi bagi pelanggar telah diketahui dengan baik oleh mahasiswa angkatan tua.

B. Kerangka Konsep

Gambar 1. Kerangka konsep

Faktor Predisposisi sikap - Pengalaman pribadi - Pengaruh orang lain - Kebudayaan

- Media masa - Lembaga agama - Faktor emosional

(Azwar, 2012)

Sikap Mahasiswa terhadap kebijakan kampus bersih dan bebas asap rokok

Sikap Negatif Sikap Positif


(42)

C. Pertanyaan Penelitian

Pernyataan penelitian dalam penelitian ini adalah “Bagaimana sikap mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta terhadap kebijakan kampus bebas asap rokok?”


(43)

30

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Kualitatif merupakan penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan, dan perilaku individu atau sekelompok orang. Fenomenologi adalah pandangan berpikir yang menekankan kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitanya terhadap orang-orang yang berada dalam situasi-situasi tertentu (Moleong, 2013). Fenomenologi berfokus untuk memahami inti dari pengalaman individu yang berkaitan dengan suatu fenomena tertentu (Creswell, 1998).

B. Subjek Penelitian

Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa, satpam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan pekerja bangunan. Partisipan ditentukan dengan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah penentuan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2012). Kriteria inklusi informan mahasiswa dalam penelitian ini adalah mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang ditunjukan dengan kartu tanda mahasiswa, serta bersedia menjadi informan dalam penelitian. UMY memiliki sembilan fakultas yang lokasinya terletak di sebelah utara dan selatan masjid. Fakultas yang terletak di utara yaitu Fakultas Agama Islam, Fakultas Kedokteran dan Ilmu


(44)

Kesehatan, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknik dan Politeknik UMY. Sedangkan Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Fakultas Pendidikan Bahasa terletak di selatan masjid. Dalam pengambilan sampel penelitian, peneliti mengambil secara acak mahasiswa dari berbagai macam jurusan yang berbeda yang terletak di sisi utara dan sisi selatan untuk mewakili jurusannya, namun peneliti tetap mempertimbangkan apakah sampel tersebut termasuk dalam kriteria inklusi dan dapat memberikan banyak informasi. Kemudian kriteria inklusi untuk satpam adalah satpam UMY yang telah bekerja minimal satu tahun dan bersedia menjadi informan dalam penelitian. Jumlah partisipan penelitian ini sebanyak 17 orang. sepuluh partisipan adalah laki-laki yang terdiri dari sembilan mahasiswa dan satu satpam. Tujuh partisipan sisanya adalah perempuan.

C. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta telah menerbitkan Surat Keputusan rektor tahun 2011 tentang implementasi program kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bersih dan bebas asap rokok (KBBR) namun sampai saat ini masih terlihat ada mahasiswa yang tetap merokok di area kampus.

2. Waktu penelitian


(45)

D. Insrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah panduan diskusi kelompok panduan wawancara mendalam dan format observasi. Pada diskusi kelompok peneliti bertanya mengenai sikap mahasiswa terhadap kebijakan kampus bersih bebas asap rokok dan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa tersebut. Kemudian pada wawancara mendalam peneliti menanyakan pertanyaan yang sama dengan diskusi kelompok namun disini lebih spesifik. Pada observasi peneliti mengamati sikap mahasiswa UMY terhadap kebijakan KBBR dan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa terhadap kebijakan KBBR seperti tanda larangan merokok di kampus, peneguran langsung terhadap mahasiswa yang merokok dan sosialisasi-sosialisasi mengenai KBBR. Pengumpulan data dibantu dengan panduan diskusi kelompok, panduan wawancara mendalam, lembar observasi, alat tulis, kamera dan recorder.

E. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data diskusi kelompok, wawancara mendalam dan observasi. Menurut Kitzinger dan Barbour dalam Afiyanti (2008), menyatakan bahwa diskusi kelompok berfokus pada aktivitas bersama diantara para individu yang terlibat di dalam diskusi. Diskusi kelompok dilakukan oleh peneliti karena kelebihanya dalam memberikan kemudahan dan peluang bagi peneliti untuk menjalin keterbukaan, kepercayaan, dan memahami informan.


(46)

Diskusi kelompok dilakukan untuk kelompok mahasiswa yang merokok. Hal ini dilakukan peneliti untuk menjalin keterbukaan dan kepercayaan kepada partisipan. Proses diskusi berlangsung secara terbuka dimana setiap anggota kelompok diskusi kelompok berhak menyampaikan pendapat tanpa ada tekanan dari anggota kelompok yang lain. Pada diskusi kelompok pertama peneliti mengundang 11 orang perokok aktif untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi kelompok, namun pada hari pelaksanaan hanya dihadiri oleh tiga orang partisipan. Diskusi kelompok pertama berlangsung selama 50 menit. Kemudian peneliti mempertimbangan melakukan diskusi kelompok kedua karena pada diskusi kelompok pertama partisipan masih kurang. Pada diskusi kelompok kedua peneliti mengajak enam mahasiswa perokok aktif untuk berpartisipasi, namun pada diskusi kelompok kedua juga hanya dihadiri oleh tiga partisipan. Proses diskusi kelompok kedua berlangsung selama 45menit. Dalam pelaksanaan diskusi kelompok peneliti dibantu oleh asisten sebanyak satu orang sebagai notulis dan dokumentasi.

Untuk menambah informasi dari partisipan perokok aktif, peneliti melanjutkan pengambilan data dengan wawancara mendalam terhadap seorang perokok aktif. Wawancara mendalam (in-depth interview) adalah proses memperoleh keterangan dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman wawancara (Sutopo, 2006). Wawancara bertujuan untuk memverifikasi (memeriksa tentang kebenaran laporan), mengubah dan memperluas informasi


(47)

yang diperoleh dari orang lain (Moleong, 2013). Kemudian peneliti melanjutkan wawancara mendalam terhadap dua orang partisipan mahasiswa yang tidak merokok, dua orang partisipan mahasiswi yang merokok, lima orang partisipan mahasiswi yang tidak merokok dan satu partisipan satpam UMY. Disini peneliti mempertimbangkan privasi dari informan dimana wawancara mendalam dilakukan hanya oleh peneliti dan partisipan, sehingga informan dapat memberikan jawaban sesuai dengan apa yang dia rasakan tanpa interversi dari siapapun.

Dalam proses pengumpulan data peneliti juga menggunakan teknik observasi, dengan checklist. Observasi berasal dari bahasa latin yang berarti mengamati dengan teliti dan sistematis sasaran perilaku yang dituju, sedangkan checklist merupakan salah satu metode observasi yang mampu memberikan keterangan mengenai muncul atau tidaknya sesuatu yang diamati. (Herdiansyah, 2010). Pada observasi peneliti mengamati tanda larangan merokok di kampus, peneguran langsung terhadap mahasiswa yang merokok dan sosiaisasi-sosialisasi mengenai KBBR. Hasil observasi nantinya akan dibandingkan dengan hasil wawancara untuk kepentingan validitas data.

F. Metode Analisis Data

Moleong(2013)mendefinisikan analisis data adalah proses mengurutkan dan mengorganisasikan data kedalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja. Tahapan analisa data penelitian ini adalah:


(48)

1. Peneliti membuat transkrip dari keseluruhan hasil diskusi kelompok, wawancara mendalam dan observasi.

2. Melakukan reduksi data dengan cara membuat abstraksi, yaitu membuat rangkuman inti dengan memperhatikan proses dan pernyataan-pernyataan penting untuk tetap ada didalamnya.

3. Menyusun data dalam satuan-satuan dan kemudian dikategorikan, setiap kategori diberi nama (label).

4. Membuat coding tema wawancara, yaitu mencari kaitan antara satu kategori dengan kategori lainya yang kemudian diberi nama/ label lagi.

5. Menyusun hipotesis kerja

Dalam analisa data peneliti menggunakan bantuan software open code 4.02 G. Etik Penelitian

Dalam penelitian, etika merupakan hal yang harus dijunjung tinggi. Terlebih penelitian yang melibatkan manusia. Hal ini menyangkut masalah tata aturan dan nilai bagi peneliti maupun yang diteliti agar tidak merugikan salah satu pihak (Herdianysah, 2010). Peneliti akan menggunakan etika penelitian: 1. Kejujuran

Dalam melakukan pengambilan data peneliti menjelaskan tujuan penelitian dan keterlibatan subjek dalam penelitian secara jujur.


(49)

Peneliti menjaga kerahasiaan data yang didapatkan dari partisipan. Segala data yang berkaitan dengan partisipan penelitian hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian.

3. Menggunakan proses yang alami

Peneliti dalam melakukan penelitian tidak melakukan manipulasi apa pun terhadap partisipan.

4. Lembar persetujuan responden

Lembar persetujuan (informed consent) diberikan kepada partisipan untuk memberi tahu maksud dan tujuan penelitian. Setelah memahami isi dan bersedia, partisipan kemudian menandatangani lembar persetujuan. 5. Tanpa nama (Anonimity)

Untuk menjaga identitas informan, peneliti menggunakan kode dalam penamaan informan.

H. Uji Keabsahan Data

Untuk menjamin keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode triangulasi. Teknik pemeriksaan triangulasi terbagi menjadi empat macam yaitu sumber, metode, penyidik dan teori. Peneliti menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi metode. Teknik triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan dan mencocokan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara mendalam terhadap Mahasiswa, Satpam dan petugas bangunan, sedangkan teknik triangulasi metode dilakukan dengan pengecekan derajat


(50)

kepercayaan penemuan hasil penelitian dengan beberapa teknik pengumpulan data yaitu FGD, wawancara mendalam, dan observasi. Peneliti juga menggunakan pemeriksaan sejawat melalui diskusi peer debriefing seperti yang disarankan oleh Moleong (2013). Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat dan dosen pembimbing. Diskusi peer debriefing ini dilakukan untuk mengurangi subjektifitas peneliti semata.

I. Jalanya Penelitian 1. Tahap persiapan

a) Peneliti melakukan studi pendahuluan. b) Peneliti menyusun proposal penelitian.

c) Peneliti mengurus izin penelitian di Program Studi Pendidikan Ners Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. d) Peneliti mengurus izin penelitian ke bagian LP3M Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta

e) Peneliti mengurus etik penelitian di komite etik penelitian Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta f) Peneliti menetapkan pelaksanaan dan menyiapkan perlengkapan penelitian. 2. Tahap pelaksanaan

a) Peneliti mengelilingi area kampus mencari mahasiswa perokok aktif di UMY.


(51)

b) Peneliti memberikan penjelasan mengenai tujuan penelitian, keterlibatan subjek dalam penelitian dan memberikan informed consenst kepada mahasiswa perokok aktif.

c) Mahasiswa yang bersedia menjadi partisipan penelitian dan termasuk dalam kriteria inklusi diminta hadir pada diskusi kelompok sesuai hari dan jam yang telah ditentukan peneliti.

d) Peneliti melakukan pengambilan data primer dengan menggunakan diskusi kelompok terhadap 1 kelompok, yaitu laki-laki merokok.

e) Peneliti melanjutkan penelitian dengan metode wawancara mendalam terhadap satu orang mahasiswa perokok aktif, mahasiswi yang merokok, mahasiswi yang tidak merokok, mahasiswa yang tidak merokok dan satpam. f) Peneliti juga melakukan observasi terhadap informan-informan penelitian. 3. Tahap Analisis

Tahapan analisis dilakukan setelah mendapatkan data dari informan.

J. Kesulitan Penelitian

1. Kesulitan penelitian ini terletak pada pengumpulan partisipan penelitian. Salah satu metode yang digunakan adalah diskusi kelompok. Metode ini mengharuskan partisipan hadir di waktu dan tempat yang sama yang sudah di tetukan oleh peneliti. Sedangkan jadwal masing-masing partisipan berbeda-beda, hal ini menyebabkan partisipan diskusi kelompok kurang memenuhi


(52)

kuota yang ditentukan walaupun peneliti sudah melaksanakan diskusi kelompok sebanyak dua kali.

2. Penelitian ini mengajak mahasiswi perokok di UMY sebagai partisipan penelitian. Dari hasil pencarian informasi peneliti mendapatkan beberapa mahasiswi yang merokok, namun karena dengan alasan privasi mahasiswi perokok aktif kerap menolak ajakan peneliti. Sehingga dalam penelitian ini peneliti hanya mendapatkan dua partisipan mahasiswi yang merokok


(53)

39 A.Hasil Penelitian

1. Gambaran umum lokasi penelitian

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) merupakan perguruan tinggi swasta yang terletak di Jl. Lingkar Selatan Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. UMY memiliki 9 fakultas yang terbagi dalam dua wilayah utara dan selatan. Fakultas yang terletak di utara adalah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknik, Fakultas Agama Islam, dan vokasi. Sedangkan yang terletak di selatan adalah Fakultas Pendidikan Bahasa, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan dan Fakultas Ekonomi. UMY adalah salah satu Universitas yang telah menerapkan kebijakan kampus bebas asap rokok. Kebijakan ini telah ada sejak tahun 2011 yang berisi tentang larangan merokok di seluruh area kampus UMY baik indoor maupun outdoor bagi semua pegawai edukatif, pegawai administratif, mahasiswa dan semua stakeholder UMY yang lainnya. Program KBBR ini juga merupakan tangggung jawab semua civitas akademika baik pegawai edukatif, pegawai administratif, mahasiswa dan semua stakeholder UMY.

Implementasi kebijakan ini dapat terlihat dari adanya tanda-tanda larangan merokok di beberapa area kampus UMY, dilarangnya


(54)

pendistribusian dan perdagangan rokok di UMY serta adanya sanksi bagi para pelanggar di UMY berupa teguran.

2. Karakteristik demografi informan

Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 17 partisipan yang terdiri dari mahasiswa dan satpam. Informasi diperoleh dengan menggunakan metode diskusi kelompok, wawancara mendalam dan observasi. Terdapat tiga karakteristik responden yang dapat dilihat pada tabel 3

Tabel 3. karakteristik partisipan

Karakteristik responden Frekuensi (f) Persentase (%) Jenis kelamin Laki-laki Perempuan 10 7 58,82 41,18 Total Jurusan/ pekerjaan Kesehatan Non kesehatan Satpam Total 17 2 14 1 17 100,00 11,75 82,35 5,90 100,00 Status merokok Merokok Tidak merokok 9 8 52,95 47,05

Total 17 100,00

Dari tabel diatas menunjukan bahwa partisipan paling banyak adalah laki-laki sebanyak 10 orang (58,82%). Jurusan partisipan terbanyak adalah non kesehatan sebanyak 14 orang (82,35%) dan status merokok partisipan terbanyak adalah merokok sebanyak 9 orang (52,95%).


(55)

3. Sikap mahasiswa terhadap kebijakan kampus bebas asap rokok di umy dan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa

Sikap mahasiswa terhadap kebijakan kampus bebas asap rokok di UMY adalah setuju dan tidak setuju. Sikap setuju membuat mahasiswa mendukung terlaksananya KBBR, sedangkan sikap tidak setuju membuat mahasiswa tidak mendukung terlaksananya KBBR. Sikap yang muncul pada mahasiswa dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yaitu tanda-tanda larangan kurang, sumber informasi KBBR, pengetahuan subjek, persepsi subjek, pengaruh lingkungan dan pengaruh orang lain. Sikap mahasiswa terhadap KBBR di UMY dan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa dapat dilihat pada gambar berikut.


(56)

(57)

4. Sikap mahasiswa perokok aktif terhadap KBBR

Mahasiswa perokok aktif memiliki sikap yang bervariasi terhadap KBBR. Dari diskusi kelompok dan wawancara mendalam yang telah dilakukan kepada sembilan partisipan penelitian diperoleh hasil sikap mahasiswa perokok aktif di UMY adalah setuju dan tidak setuju. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing sikap:

a) Setuju

Sebagian besar partisipan perokok aktif di UMY setuju dengan adanya KBBR, namun ada perbedaan sikap terkait dengan kepatuhan terhadap aturan tersebut. Hanya satu partisipan perokok aktif yang mendukung penerapan KBBR, yang ditunjukan dengan tidak merokok di dalam kampus. Partisipan mengungkapkan bahwa dengan adanya kebijakan ini kampus jadi bisa bebas asap rokok dan tidak merugikan semua pihak. Partisipan juga mendukung terlaksananya kebijakan ini dengan patuh terhadap KBBR. Seperti yang diungkapkan partisipan berikut ini :

“setuju sih, karena kan biar nggak ngerugiin semuanya”. (P9, wawancara mendalam)

“kalau di kampus enggak merokok (P9,wawancara

mendalam)

Disisi lain sebagian besar mahasiswa perokok aktif yang setuju dengan KBBR tidak mendukung penerapan KBBR. Mereka masih


(58)

merokok di dalam kampus. Partisipan mengungkapkan setuju dengan larangan merokok di dalam ruangan saja, namun untuk di luar ruangan partisipan masih belum setuju. Partisipan mengaku masih merokok ketika berada di luar ruangan apabila tempat sepi, hal ini dilakukan karena tidak ada fasilitas yang disediakan untuk tempat merokok. Berikut adalah ungkapan partisipan:

“… mungkin kalau enggak boleh merokok ini misalkan di dalam ruangan ya, tapi setelah di luar ruangan boleh lah” (P3, diskusi kelompok 1)

“…. Kalau udah ngasih kebijakan gini setidaknya kasih lah satu area yang bebas asap rokok khusus buat perokok, jadi kan kaya perokok aktif kalau nggak ada tempat mesti nyuri-nyuri tempat…”. (P2, diskusi kelompok 1)

b) Tidak setuju

Selain sikap setuju terhadap KBBR ada partisipan yang benar-benar tidak setuju dan tidak mendukung penerapan KBBR. Partisipan beranggapan bahwa orang itu semakin ditekan semakin melanggar dan peraturan semacam ini dapat mendiskriminasi perokok aktif. Adapun ungkapan yang diutarakan partisipan, yakni:

“….kalau tujuanya untuk mengurangi pongkonsumsi rokok kurang setuju juga. Justru kebanyakan dikita orang itu semakin ditekan semakin melanggar. Itu fakta..” (P7, wawancara mendalam)


(59)

c) Peneguran pelanggar

Dari hasil observasi masih ada mahasiswa yang merokok di area kampus. Mahasiswa menjelaskan ketika sedang merokok dirinya pernah mendapatkan terguran dari dosen baik secara langsung maupun tindakan langsung. Hal ini memberikan efek bervariasi terhadap partisipan. Ada yang mengaku jera untuk merokok lagi di area kampus yang ramai karena malu, ada yang mengaku tidak jera dan ada yang mengungkapkan hanya mematikan rokok sesaat ketika ada dosen kemudian melanjutkan aktivitas merokoknya di tempat lain, seperti yang diungkapkan sebagai berikut:

“kalau saya ditempat umum jera, kalau didepan banyak terlihat orang jera, soalnya malu juga kan. Tapi kalau orangnya nggak ada, kaya lapangan, wc gitu kan saya belom” (P1, diskusi kelompok 1)

“kalau buat aku sih enggak ya, nggak jera. Soalnya walaupun udah dikasih sanksi (teguran) tetep aja ngelakuin lagi. Misalkan kaya disindir, orang-orang pada tau, emang kebanyakan orang-orang udah tau kalau aku ngerokok. Udah biasa”. (P3, diskusi kelompok 1)

“Pernah di loby HI, lagi ngerokok gitu ada dosen datang, “mas rokoknya dimatiin”. Pindah kan pindah ke E2 ngerokok disitu, dosenya datang lagi keatas. Dicubit” (P4, diskusi kelompok 2)


(60)

Berikut adalah penjabaran melalui gambar

Gambar 3. Sikap mahasiswa perokok aktif terhadap KBBR

5. Sikap mahasiswa perokok pasif terhadap KBBR

Mahasiswa perokok pasif memiliki sikap positif terhadap KBBR. Dari wawancara mendalam yang dilakukan terhadap tujuh partisipan diperoleh sikap mahasiswa perokok pasif di UMY adalah sangat setuju dan setuju, berikut ini adalah penjelasan masing-masing sikap:

a) Sangat setuju

Sebagian partisipan perokok pasif menyatakan bahwa mereka sangat setuju terhadap KBBR. Partisipan beranggapan kebijakan ini dapat mengatur semua masyarakat kampus untuk tidak merokok. Partisipan juga mengaku sangat setuju dengan KBBR dikarenakan alasan kesehatan, dimana rokok mengganggu kesehatanya, seperti yang diungkapkan:


(61)

“sangat setuju, soalnya kan, soalnya kalau mereka berada di dalam kampus UMY, ya mereka harus ngikutin apa yang peraturan UMY itu. Kecuali kalau udah di luar gerbang. Di luar kampus gitu boleh keluar aturan, bukan tanggung jawab UMY lagi. (P11,wawancara mendalam)

“sangat setuju, karena sejatinya saya bukan perokok, jadi saya sangat terganggu sebetulnya kalau ada seorang perokok yang merokok di dekat saya, karena asap rokok sangat mengganggu buat saya. Saya akan merasa pusing kalau terkena asap rokok dan itu sangat menyesakkan…..” (P10, wawancara mendalam)

b) Setuju

Kemudian sebagian besar dari partisipan perokok pasif menyatakan setuju terhadap KBBR. Mereka beranggapan bahwa kebijakan ini mampu mengurangi dampak yang di timbulkan oleh rokok. Dengan berkurangnya dampak tersebut, angka kematian yang disebabkan oleh rokok juga dapat menurun. Berikut adalah beberapa ungkapan partispan:

“setuju, setidaknya itu bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan, mengurangi angka kematian yang ditimbulkan oleh rokok” (P16, wawancara mendalam)

c) Mendukung

Sikap sangat setuju dan sikap setuju pada mahasiswa perokok pasif mempengaruhi dukungan terhadap KBBR. Semua partisipan perokok pasif mendukung kebijakan ini dengan tidak melanggar peraturan, namun dari semua yang mendukung penerapan kbbr hanya


(62)

sebagian kecil yang ikut melakukan peneguran terhadap pelanggar di area KBBR. Partisipan mengungkapkan sering melakukan teguran maupun larangan terhadap teman yang merokok, namun belum dilakukan terhadap orang yang tidak di kenal. Partisipan juga mengatakan prihatin terhadap perilaku perokok aktif. Ungkapan yang diutarakan partisipan:

“sebenernya saya menyayangkan sama orang-orang yang merokok kaya gitu lho, aaa tapi juga kalau misalnya mau negur atau gimana kadang udah sering saya lakuin misalnya ke temen-temen apalagi temen-temen saya kaya gitu…..” (P12, wawancara mendalam)

Dari semua partisipan perokok pasif yang mendukung penerapan KBBR, ada yang tidak melakukan peneguran terhadap perokok aktif. Partisipan memiliki alasan masing-masing kenapa tidak melakukan peneguran, diantaranya yaitu partisipan merasa tidak terganggu, partisipan takut menyinggung perasaan perokok, partisipan takut untuk melarang, dan partisipan merasa tidak didengarkan. Merasa tidak terganggu merupakan salah satu penyebab partisipan tidak melakukan teguran. Partisipan mengungkapkan walaupun bukan sebagai perokok dia tetap menghargai orang-orang yang merokok karena kebiasaan merokok memang sulit untuk dihilangkan. Mereka juga mengatakan bahwa merokok merupakan hak masing-masing orang, sehingga partisipan ketika sedang bersama teman-temanya yang merokok tidak pernah merasa terganggu. Berikut adalah ungkapan partisipan :


(63)

“ kalau saya sih walaupun bukan perokok ya, saya tetap menghargai orang-orang yang merokok, ya kebiasaan merokok itu sulit dihilangkan. Jadi saya itu banyak temen perokok tapi tidak pernah terganggu karena yaitu menghargai karena hak mereka juga kan”. (P11, wawancara mendalam)

Partisipan juga mengungkapkan alasan yang menyebabkan dia tidak menegur perokok aktif adalah takut menyinggung perasaan perokok. Biasanya ketika ada yang merokok di area kampus partisipan hanya melihat dan memperhatikan saja. Partisipan juga tidak ingin mengatur orang lain. Seperti yang diungkapan partisipan berikut ini :

“ya saya cuma melihat saja nggak pernah saya tegur, karena kalau ditegur takut menyinggung perasaan dia atau kita yang suka ngatur-ngatur gitu” (P13, wawancara mendalam)

Kemudian, takut untuk melarang juga merupakan alasan partisipan yang menyebabkan partisipan tidak melakukan peneguran terhadap perokok aktif di area kampus.

“ (aaa, menggumam) karena saya tidak kenal yang pertama, terus yang kedua (aaaa, menggumam) saya takut untuk melarang mahasiswa itu untuk tidak merokok di kampus”. (P14, wawancara mendalam)

Alasan terakhir yang diungkapkan oleh partisipan adalah saran mereka tidak didengarkan. Partisipan merasa orang-orang pada zaman sekarang lebih susah untuk mendengarkan saran dari orang lain dan tetap melanggar peraturan.

“… namun demikian saya juga berdiri dalam sebuah dilema. Saya ingin menegurnya namun ya pada jaman ini saya rasa


(64)

sikap dan reaksi mereka apa ya, jika kita tegur tetep akan ngeyel”. (P10, wawancara mendalam)

Berikut adalah penjabaran melalui gambar

Gambar 4. Sikap mahasiswa perokok pasif terhadap KBBR

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap

Hasil diskusi kelompok dan wawancara mendalam terhadap 17 partisipan didapatkan beberapa faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa UMY terhadap KBBR. Faktor tersebut meliputi kurangnya tanda-tanda larangan merokok, sumber informasi KBBR, pengetahuan subjek, persepsi subjek, pengaruh lingkungan dan pengaruh orang lain. Berikut ini adalah penjelasan masing-masing faktor:

a) Tanda-tanda larangan kurang

Partisipan merasa poster larangan merokok di dalam kampus UMY masih kurang. Partisipan mengaku belum pernah melihat ada poster terpasang di loby, selain itu poster yang sudah tertempel kurang menarik. Partisipan juga mengungkapkan sejauh ini tempelan larangan merokok hanya ada di dalam gedung. Dari hasil observasi, peneliti


(65)

menemukan tanda-tanda larangan merokok baru ada di beberapa area saja belum di seluruh area kampus. Sebagian tanda larangan merokok juga kurang dapat telihat dengan jelas. Adapun ungkapan partisipan sebagai berikut:

“… disudut loby belum pernah melihat ada poster terpasang” (P11, wawancara mendalam)

Gambar 5. Stiker kawasan tanpa rokok b) Sumber informasi KBBR

Partisipan mengaku belum pernah mendapatkan sosialisasi tentang KBBR dari kampus. Partisipan mengungkapan bahwa mereka mengetahui kampus menerapkan larangan bebas asap rokok hanya dari poster, spanduk, maupun dari sesama mahasiswa. Dapat dilihat pada ungkapan di bawah ini:

“sosialisasi secara langsung belum pernah, paling sih mulut ke mulut”. (P7, wawancara mendalam)


(66)

c) Pengetahuan subjek

Partisipan tau bahwa UMY menerapkan KBBR, namun pengetahuan partisipan bervariasi. Ada yang kurang memahami dan ada yang memahami bahwa KBBR ini melarang semua masyarakat UMY untuk tidak merokok. Partisipan yang kurang memahami tentang KBBR mengungkapkan dirinya hanya tau KBBR sebatas tulisan-tulisan larangan merokok, sedangkan untuk siapa saja yang dilarang merokok belum memahami. Berikut adalah ungkapan dari partisipan:

“kalau setau saya sih paling cuma ya mahasiswa sama mungkin staff sama dosen-dosen gitu, tapi kalau kaya pekerja bangunan, sekarang kan lagi dibangun kan disitu kan kenapa enggak diterapin ke pekerjanya itu ….”. (P2, diskusi kelompok 1)

d) Persepsi subjek

Partisipan memiliki persepsi kurang tepat mengenai KBBR. SK Rektor mengenai KBBR menyebutkan bahwa larangan merokok ditujukan ke semua masyarakat kampus. SK ini juga menjelaskan tenang area dilarang merokok yaitu di semua wilayah kampus baik indoor maupun outdoor. Namun partisipan menganggap KBBR hanya ditujukan ke sebagian orang bukan menyeluruh dan penerapanya hanya setengah-setengah, seperti yang diungkapkan partisipan berikut ini:

“ya kalau aku sih setuju aja, tapi kan kalau cuma staff sama mahasiswanya aja kan kaya nggak gimana gitu kaya nggak fair, tapi yang lainya bisa merokok bebas” (P3, diskusi kelompok 1)


(67)

“….kebijakanya juga setengah-setengah hanya sebatas hmm sekarang pegawai sama mahasiswanya bukan menyeluruh” (P2, diskusi kelompok 1)

e) Pengaruh lingkungan

Partisipan mahasiswa perokok aktif ada yang mengaku tidak merokok apabila kondisi lingkungan menerapkan KBBR dengan tegas. Partisipan mampu dan kuat menahan untuk tidak merokok di tempat tersebut. Partisipan juga mengungkankan ketika berada di lingkungan dengan orang-orang yang tidak merokok dia kuat untuk tidak merokok , seperti yang diungkapkan partisipan berikut ini:

“kalau saya sih kalau ngerokok tu masih bisa tahan sih ya, saya bisa sadar diri lah. Kayak di airport kan ada larangan untuk merokok, ya saya bisa tahan walaupun nggak ketemu tempat publik untuk merokok, bisa nahan masih nggak harus nuntut harus ngerokok gitu”. (P1, diskusi kelompok 1)

“Tergantung orangnya sih mas, kalau gitu berkumpul dengan orang yang, contoh seperti kaya gini tapi kan kita posisinya diruang ini nggak ada yang ngerokok, jadi kita bisa tahan. Kecuali kalau seumpama dalam suatu tempat ada yang merokok satu pasti yang perokok mesti ikut-ikutan.(P2, diskusi kelompok 1)

f) Pengaruh orang lain

Sebagian besar partisipan mahasiswa perokok aktif mengaku ingin merokok ketika melihat orang lain merokok. Partisipan mengungkapkan ketika melihat orang yang merokok rasa ingin merokok pasti akan muncul. Kemudian partisipan juga mengungkapkan dirinya merokok karena pihak kampus masih ada yang merokok. Berikut adalah ungkapan partisipan:


(68)

“karena ya kalau perokok aktif pengen lah kalau lihat orang tu mesti pengen ngerokok juga”. (P2, diskusi kelompok 1) “… gimana ya kalau dari atasnya juga kaya gitu merokok, apalagi bawahnya bebas” (P3, disuksi kelompok 1)

Berikut adalah penjabaran melalui gambar


(1)

memberitahukan kepada segenap warga kampus bahwa kampus menerapkan KBBR. Tanda-tanda larangan yang digunakan berupa poster, spanduk, banner, simbol dilarang merokok dan lain lain, namun dalam penerapanya tanda-tanda larangan di kampus UMY masih tergolong kurang. Tanda-tanda larangan belum terpasang di seluruh area kampus UMY, tanda-tanda larangan juga terkadang tidak terlihat dengan jelas dan kurang menarik. Penggunaan media yang efektif dimana pesan bisa diterima oleh kelompok sasaran memungkinkan adanya perubahan perilaku, sikap, serta keyakinan10.

Penggunaan media oleh UMY masih belum efektif, sehingga pesan yang disampaikan melalui tanda-tanda larangan merokok di kampus UMY belum mampu memberikan perubahan sikap terhadap mahasiswa dan masyarakat kampus.

Kemudian faktor berikutnya yang diungkapkan oleh partisipan pada penelitian ini adalah sumber informasi KBBR di UMY masih kurang. Sebagian besar partisipan mahasiswa dan partisipan pekerja bangunan mengaku belum pernah mendapat sosialisasi tentang KBBR. Nugroho (2015) dalam penelitianya mengidentifikasi bahwa sosialisasi SK KBBR mutlak dilakukan, sebab sosialisasi ini berguna untuk pendekatan sehingga menerima dan mendukung kawasan tanpa rokok di lingkungan FIK UMS11. Menurut Azkha (2013) sosialisasi yang berkesinambungan dan terarah serta tepat sasaran tidak saja hanya akan dapat memberikan perlindungan kepada perokok pasif tapi sekaligus juga akan dapat mengurangi perokok aktif12. Sebagian besar masyarakat kampus UMY belum pernah mendapatkan sosialisasi mengenai KBBR, hal ini mengakibatkan


(2)

dukungan terhadap KBBR oleh masyarakat kampus UMY kurang.

Dalam penelitian ini pengetahuan subjek juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa terhadap KBBR. Pengetahuan yang baik tentang kawasan tanpa rokok membuat mahasiswa lebih patuh terhadap kebijakan. Hasil penelitian yang dilakukan Armayati (2014) menghasilkan temuan adanya pengaruh yang bermakna faktor pengetahuan peraturan kawasan tanpa rokok terhadap kepatuhan pada peraturan kawasan tanpa rokok13.

Faktor yang berikutnya adalah persepsi. Persepsi juga merupakan faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa terhadap KBBR. Persepsi yang baik tentang KBBR akan membawa dukungan terhadap penerapan KBBR. Hal ini sejalan dengan penelitian Febriani (2014) dimana responden dengan tingkat persepsi baik memiliki tingkat dukungan

yang baik, begitu juga sebaliknya responden dengan tingkat persepsi yang buruk memiliki tingkat dukungan yang buruk pula14. Sebagian partisipan dalam penelitian ini memiliki persepsi kurang tepat terhadap KBBR, hal ini mengakibatkan partisipan kurang dalam memberi dukungan pelaksanaan KBBR.

Pengaruh lingkungan juga merupakan faktor dalam penelitian ini. Lingkungan yang kurang mendukung akan mempengaruhi pelaksanaan KBBR. Ketika berada di area yang tidak memungkinkan untuk merokok, sebagian besar partisipan dalam penelitian ini mengungkapkan kuat untuk tidak merokok. Menurut Azkha (2013) sarana merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam implementasi kebijakan agar kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan efektif dan efisien12. Sarana yang memadai sangat berpengaruh terhadap


(3)

keberhasilan implementasi suatu kebijakan. Kampus UMY belum memiliki sarana yang memadai dalam penerapan KBBR ini, pengawasan dan pemantauan masih belum menyeluruh di semua area kampus. Masih banyak area-area sepi yang tidak terpantau, sehingga seringkali digunakan oleh mahasiswa untuk merokok.

Faktor lain yang ditemukan pada penelitian ini adalah pengaruh orang lain. Dengan melihat orang lain merokok maka timbul rasa ingin merokok. Hal ini sejalan dengan penelitian Widiansyah (2014) bahwa teman dalam lingkungan sekolah maupun teman bermain sangat berpengaruh dalam perilaku remaja, karena keakraban serta seringnya mereka berkumpul dan seringnya berkomunikasi maka teman yang merokok sangat mudah mempengaruhi teman yang tidak merokok menjadi merokok15.

SIMPULAN

1. Sikap mahasiswa perokok aktif terhadap KBBR di UMY adalah setuju dan tidak setuju KBBR. Sikap setuju pada semua isi SK KBBR membuat mahasiswa patuh dan mendukung penerapan KBBR, sikap setuju pada sebagian isi SK KBBR membuat mahasiswa terkadang melanggar KBBR, dan sikap tidak setuju terhadap KBBR membuat mahasiswa tidak mendukung penerapan KBBR. Sebagian besar partisipan perokok aktif dalam penelitian ini memiliki sikap setuju pada sebagian isi SK KBBR.

2. Sikap mahasiswa perokok pasif terhadap KBBR di UMY adalah sangat setuju dan setuju. Sikap ini menjadikan mahasiswa patuh terhadap KBBR.

3. Faktor yang mempengaruhi sikap mahasiswa terhadap KBBR di UMY adalah tanda-tanda larangan kurang, sumber informasi KBBR, pengetahuan


(4)

subjek, persepsi subjek, pengaruh lingkungan dan pengaruh orang lain.

SARAN

1. Bagi Institusi Pendidikan (UMY)

a) Perlu adanya sosialisasi KBBR secara berkelanjutan kepada segenap warga kampus.

b) Perlunya tambahan tanda larangan merokok di area kampus, baik di dalam gedung maupun di luar gedung..

c) Perlu adanya sanksi tegas bagi pelanggar.

d) Perlunya memunculkan partisipasi segenap warga

kampus dalam penegakan KBBR.

2. Bagi mahasiswa

a) Mahasiswa perokok aktif diharapkan dapat patuh terhadap KBBR.

b) Mahasiswa perokok pasif dapat berpartisipasi dalam penegakan KBBR dengan menegur dan mengingatkan pelanggar di area kampus.

3. Bagi peneliti selanjutnya

Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan jumlah partisipan yang sama, antara mahasiswa dan mahasiswi yang merokok dan tidak merokok.


(5)

DAFTAR RUJUKAN

1. Kementrian Kesehatan RI (2011). Informasi tentang penanggulangan masalah merokok melalui radio . Jakarta.

2. Kementrian Kesehatan RI (2013). Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013. Jakarta

3. Widiansyah, M. (2014). Faktor-faktor Penyebab Perilkau Remaja Perokok di Desa Sidorejo Kabupaten Penajam Paser Utara. eJurnal Sosiologi (4): 1-12. Diakses tanggal 23 Februari 2016, dari

http://ejournal.sos.fisip-

unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2014/10/penting%20 (10-02-14-12-04-55).pdf

4. Sax,G. (1980). Principles of

educational and Psychological

Measurement and Evaluation, 2nd edition, Belmon:Wadsworth Publishing Company.

5. Firdiana, A. (2013) . Gambaran Sikap Mahasiswa Unpad Terhadap Kawasan Tanpa Rokok di Kampus Unpad. Karya Tulis Ilmiah strata satu Universitas Padjadjaran.

6. Rahmadi, A., Lesatari, Y., & Yenita (2013). Hubungan Pengetahuan dan Sikap Terhadap Rokok Dengan Kebiasaan merokok Siswa SMP di Kota Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. Diakses 5 November 2015, dari

http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php /jka/article/view/62

7. Salawati & Amalia. (2010). Perilaku Merokok di Kalangan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang. Prosiding Seminar Nasional Unimus. Diakses pada 5

November 2015, dari

http://jurnal.unimus.ac.id/index.php/ psn12012010/article/view/70

8. Jamal, H., Leida, M., Thaha., & Ansariadi. (2012). Kepatuhan Mahasiswa Terhadap Penerapan Kawasan Bebas Asap Rokok di Kampus Universitas Hasanuddin. 9. Robaka, Y., Rimawati, E., &

Nurjanah. (2013). Kepatuhan

Mahasiswa Terhadap Kawasan

Tanpa Rokok (KTR) di Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Karya Tulis Ilmiah strata satu Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Semarang.

10. Trisnowati, H & Sunarti, S. (2016) Optimalisasi Peran Mahasiswa Dalam Penerapan Kawasan Tanpa Rokok. Jurnal Medika Respati. Diakses tanggal 11 November 2015, dari

journal.respati.ac.id/index.php/medika/ article/view/419

11. Nugroho, P. (2015). Evaluasi Implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah

Surakarta. Karya Tulis Ilmiah strata satu Universits Muhammadiyah Surakarta.

12. Azkha, N. (2013). Studi Efektivitas Penerapan Kebijakan Perda Kota Tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dalam Upaya Menurunkan Perokok Aktif di Sumatera Barat.

Jurnal Kebijakan Kesehatan

Indonesia. Diakses 20 Desember

2015, dari

http://jurnal.ugm.ac.id/jkki/article/do wnload/3201/2810

13. Armayati, L. (2014). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Mahasiswa dan Karyawan Terhadap Peraturan Kawasan Tanpa Rokok di Lingkungan Kampus Fakultas Psikologi Universitas Islam Riau.

Jurnal RAT vol3.No3. Diakses


(6)

https://core.ac.uk/download/pdf/11735 658.pdf

14. Febriani, Tria (2014). Pengaruh

Persepsi Mahasiswa Terhadap

Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dan

Dukungan penerapanya di

Universitas Sumatera Utara. Karya Tulis Ilmiah strata satu Universitas Sumatera Utara, Sumatera.

15. Widiansyah, M. (2014). Faktor-faktor Penyebab Perilkau Remaja Perokok di Desa Sidorejo Kabupaten Penajam Paser Utara. eJurnal Sosiologi (4): 1-12. Diakses tanggal 23 Februari 2016, dari

http://ejournal.sos.fisip-

unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2014/10/penting%20 (10-02-14-12-04-55).pdf