Kreativitas Surat Kabar HU Pikiran Rakyat Dalam Meningkatkan Minat Fotografi Citizen Journalism (Jurnalisme Warga) Pembacanya Melalui Rubrik Photography On The Move

(1)

iv

ABSTRACT

HU PIKIRAN RAKYAT NEWSPAPER CREATIVITY IN INCREASING CITIZEN JOURNALISM PHOTOGRAPHY INTEREST READERS

THROUGH PHOTOGRAPHY ON THE MOVE RUBRIK By :

Satira Yudatama NIM. 41806121 This Essay under guidance of, Drs. Odji Kurniadi, M.Si, As a Adviser

Photography on the Move as a means of citizen journalism, which is a forum for photography enthusiasts and is intended for a variety of community among photography enthusiasts. Rubric Photography on the Move, is a rubric that displays selected pictures from the catapult on the participants. The photos are loaded is the result of selection (curatorial) from various types of activists images, such as photography community, business entities engaged in photography and, of course, the photo editor of HU Pikiran Rakyat.

With print media business competitiveness in the present moment, the activists demanded to have the creativity of the press so that the product has more appeal than the print media who become rivals. Creativity can be measured by several indicators, that is originality, innovation, benefits and variations. The purpose of this study was to examine the factors that will be creativity HU Pikiran Rakyat Newspaper increase interest in photography through the rubric of citizen journalism readers Photography on the Move.

In this research, researchers using the theory of diffusion and innovation, using descriptive research methods, with qualitative approach. Data collection techniques in interviews, library research and network searching. Conduct data analysis by inductively. Key informants in this study is the Photo Editor of HU

Pikiran Rakyat and Air Photography Communications photography

campaigners. Location of the research conducted at the office of HU Pikiran Rakyat and the office of the Air Photography Communications.

Overall, Rubric Photography on the Move is an original idea, innovating, useful and varied in increasing interest in citizen journalism photography readers.

Suggestions researchers when conducting this study, HU Pikiran Rakyat could increase the intensity of the column of Photography on the Move, because this column has many devotees.


(2)

iii

MENINGKATKAN MINAT FOTOGRAFI CITIZEN JOURNALISM (JURNALISME WARGA) PEMBACANYA MELALUI RUBRIK

PHOTOGRAPHY ON THE MOVE Oleh :

Satira Yudatama NIM. 41806121 Skripsi ini dibawah bimbingan,

Drs. Odji Kurniadi, M.Si, Selaku Pembimbing

Photography on the Move sebagai sarana citizen journalism, yang merupakan wadah bagi para peminat fotografi dan diperuntukan bagi berbagai kalangan masyarakat peminat fotografi. Rubrik Photography on the Move, adalah rubrik yang menampilkan foto-foto terpilih dari hasil jepretan para pesertanya. Foto-foto yang dimuat merupakan hasil seleksi (kurasi) dari berbagai macam unsur pegiat foto, seperti komunitas fotografi, badan usaha yang bergerak dibidang fotografi dan, tentunya redaktur foto HU Pikiran Rakyat.

Dengan daya saing bisnis media cetak pada saat sekarang ini, para aktivis pers dituntut untuk memiliki kreativitas agar produk yang dihasilkannya memiliki daya tarik lebih dibandingkan dengan media- media cetak yang menjadi saingannya. Kreativitas dapat diukur dengan beberapa indicator, yaitu orisinalitas, inovasi, manfaat serta variasi. Maksud dari penelitian ini adalah untuk meneliti faktor apa saja yang menjadi kreativitas Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography on the Move.

Dalam peneletian ini, peneliti menggunakan teori difusi dan inovasi, dengan menggunakan metode penelitian deskriptif, dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data secara wawancara, studi pustaka serta pencarian dalam jaringan. Melakukan analisa data dengan cara induktif. Informan kunci dalam penelitian ini ialah Redaktur Foto HU Pikiran Rakyat dan pegiat fotografi Air Photography Communications. Lokasi penelitian dilakukan di kantor Redaksi HU Pikiran Rakyat dan kantor Air Photography Communications.

Secara keseluruhan, Rubrik Photography on the Move merupakan suatu ide yang orisinal, berinovasi, bermanfaat dan bervariasi dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya.

Saran peneliti setelah melaksanakan penelitian ini, HU Pikiran Rakyat dapat menambah intensitas pemuatan rubrik Photography on the Move, karena rubrik ini sudah banyak peminatnya.


(3)

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam perjalananya, pers memiliki berbagai macam fungsi. Pers bukan hanya sebagai sarana untuk menyiarkan atau menginformasikan produk jurnalistik saja. Pers juga memiliki fungsi-fungsi lain. Seperti yang dikatakan oleh Effendy dalam bukunya Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi bahwa:

Pada Zaman modern seperti sekarang ini, jurnalistik tidak hanya mengelola berita saja, tetapi juga aspek-aspek lain untuk isi surat kabar. Karena itu fungsinya bukan lagi menyiarkan informasi, tetapi juga mendidik, menghibur dan mempengaruhi agar khalayak melakukan kegiatan tertentu. (Effendy,2003:93)

Oleh karena itu, dengan maraknya perkembangan dalam dunia pers (media cetak), suatu lembaga pers harus memiliki faktor yang dapat membedakan dengan pers yang lainnya. Dengan daya saing bisnis media cetak pada saat sekarang ini, para aktivis pers dituntut untuk memiliki kreativitas agar produk yang dihasilkannya memiliki daya tarik lebih dibandingkan dengan media- media cetak yang menjadi saingannya.

Definisi pada dimensi produk merupakan upaya mendefinisikan kreativitas yang berfokus pada produk atau apa yang dihasilkan oleh individu baik sesuatu yang baru atau sebuah elaborasi (penggabungan) yang inovatif.


(4)

Baron, 1976 dalam Reni Akbar-Hawardi dkk, 2001, yang dikutip http://wartawarga.gunadarma.ac.id, menyebutkan, Creativity is the ability to bring something new into existence (Kreativitas adalah kemampuan untuk membawa sesuatu yang baru dalam kehidupan).

Definisi yang berfokus pada produk kreatif menekankan pada orisinalitas, seperti yang dikemukakan oleh Baron (1969) yang menyatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang baru. Begitu pula menurut Haefele (1962) dalam Munandar, 1999, yang dikutip http://wartawarga.gunadarma.ac.id, menyatakan, Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru yang mempunyai makna sosial1.

Merujuk dua definisi ini maka kreativitas tidak hanya membuat sesuatu yang baru tetapi mungkin saja kombinasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya. Dari berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas yang dikaji dari empat dimensi yang memberikan definisi saling melengkapi. Untuk itu kita dapat membuat berbagai kesimpulan mengenai definisi tentang kreativitas dengan acuan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli. Dari beberapa uraian mengenai definisi kreativitas yang dikemukakan diatas peneliti menyimpulkan bahwa, Kreativitas adalah proses konstruksi ide yang orisinil (asli), bermanfaat, variatif (bernilai seni) dan inovatif (berbeda dan lebih baik).


(5)

3

Berbagai macam media cetak yang berkembang di Jawa Barat, HU Pikiran Rakyat menjadi salah satu media cetak yang populer. Hal tersebut sesuai dengan misi HU Pikiran Rakyat, yang diupayakan agar menjadi tuan rumah yang dominan di daerahnya sendiri, di Jawa Barat yang memang memiliki potensi sangat besar untuk menunjang eksistensi dan penumbuhkembangan surat kabar.

Melihat dari segi kreativitas, HU Pikiran Rakyat meluncurkan rubrik Photography on the Move sebagai sarana citizen journalism, yang merupakan wadah bagi para peminat fotografi dan diperuntukan bagi berbagai kalangan masyarakat peminat fotografi. Rubrik Photography on the Move, adalah rubrik yang menampilkan foto-foto terpilih dari hasil jepretan para pesertanya. Foto-foto yang dimuat merupakan hasil seleksi (kurasi) dari berbagai macam unsur pegiat foto, seperti komunitas fotografi, badan usaha yang bergerak dibidang fotografi dan, tentunya redaktur foto HU Pikiran Rakyat. Namun, dalam perkembangannya saat ini, kurasi hanya dilakukan oleh redaktur foto HU Pikiran Rakyat dan pegiat komunitas fotografi saja. Dalam rubrik ini, foto ditentukan berdasarkan tema yang telah ditentukan oleh redaktur foto, tema-tema yang diambil biasanya berjenis daily life photo, art and culture photo dan social and environtment. Daily life photo, adalah foto tentang kehidupan sehari-hari manusia dipandang dari segi kemanusiawiannya (human interest), art and culture photo, adalah foto yang dibuat dari peristiwa seni dan budaya,


(6)

sedangkan social and environtment photo, adalah foto-foto tentang kehidupan sosial masyarakat serta lingkungan hidupnya.

Rubrik Photography on the Move, muncul dari ide berbagai unsur yang bergerak dibidang foto, seperti, redaktur foto HU Pikiran Rakyat, badan usaha yang bergerak dibidang fotografi dan komunitas fotografi. Namun, pemuatan foto hasil karya masyarakat di rubrik tersebut, merupakan kreativitas redaktur foto HU Pikiran Rakyat, karena redaktur HU Pikiran Rakyat sebagai perwakilan dari media, memberikan sarana kepada masyarakat peminat fotografi yang berniat untuk memublikasikan hasil karyanya. Tujuan program ini adalah mendokumentasikan kota dengan segala aktivitas pergerakkannya sebagai salah satu cermin perkembangan bangsa dan juga membangun sebuah gerakan moral dari masyarakat yang peduli akan kota dengan segala permasalahannya, dan tentunya sebagai sarana edukasi fotografi berupa kompetisi foto bagi masyarakat umum.


(7)

5

Gambar 1.1

Rubrik Photography on the Move


(8)

Unsur redaktur adalah penting dalam proses pelemparan berita. Tiap skema rencana dalam pelemparan reportase ada antara lain dalam keputusan redaktur. Apalagi di jenis pers harian. Ini merupakan satu pemindai (penyaring) bagaimana kelangsungan sebuah koran harian mengangkat dan menenggelamkan fakta berita masyarakat. Yang dimaksud dengan redaktur (editor) adalah petugas yang bertanggung jawab terhadap isi halaman surat kabar. Itu sebabnya, ada sebutan redaktur halaman atau redatur bidang. Keduannya sama saja karena yang membedakan hanya sebutannya saja. Tugas redaktur adalah menerima bahan berita, koreponden atau bahkan press release dari lembaga, organisasi, instansi pemerintah atau perusahaan swasta. Dengan adanya foto citizen journalism, kerja dari redaktur akan bertambah, kini tugas redaktur, khususnya redaktur foto HU Pikiran Rakyat harus menyeleksi hasil foto sesuai dengan kualitas dan kelayakan foto untuk diterbitkan, atau dalam dunia fotografi, biasa disebut dengan kurasi. Syarat dari foto jurnalistik, bukan hanya mengandung berita dan secara fotografi bagus (fotografis), foto pun harus mencerminkan etika atau norma hukum, baik dari segi pembuatannya maupun penyiarannya.

Sebagai institusi sosial HU Pikiran Rakyat dilahirkan untuk berkiprah dan berperan serta dalam pembangunan bangsa dan negara, khususnya di Jawa Barat. Dengan kata lain, HU Pikiran Rakyat ikut berperan terhadap pengembangan masyarakat agar lebih memerhatikan


(9)

7

kehidupan dan lingkungan sekitar melalui foto, serta ikut serta dalam mengembangkan minat masyarakat dalam hal fotografi.

Pada intinya foto kewartawanan, foto jurnalistik, dan foto berita lain adalah sama. Semua berhubungan dengan berita foto. Kalaupun ada perbedaan, hanya masalah disiarkan atau tidak. Dengan diterbitkanya foto yang terpilih dari para peserta rubrik Photography on the Move, otomatis foto tersebut merupakan foto jurnalistik. Foto jurnalistik sesungguhnya juga foto berita, namun tidak harus dibuat oleh wartwan foto atau pekerja pers. Siapa pun bisa membuatnya.

Menurut Frank P. Hoy, dari Sekolah Jurnalistik dan Telekomunikasi Walter Cronkite, Universitas Arizona, pada bukunya yang berjudul Photojournalism The Visual Approach , yang dikutip oleh Audy Mirza Alwi Dalam buku Foto Jurnalistik , mengatakan bahwa :

Foto jurnalistik adalah komunikasi melalui foto (communication photography). Komunikasi yang dilakukan akan mengekspresikan pandangan wartawan foto terhadap suatu subjek, tetapi pesan yang disampaikan bukan merupakan ekspresi pribadi . (Alwi, 4:2008)

Untuk menjadi pewarta foto maka persyaratan yang harus diketahui antara lain yang disebutkan Rich Clarkson dari majalah National Geographic, yang menyebutkan bahwa menjadi wartawan foto bukanlah sekedar menyenangi foto yang dibuat tetapi bagaimana mengkomunikasikannya kepada orang lain.


(10)

Sementara Frank P. Hoy mengatakan untuk menjadi pewarta foto selain yang baik adalah dengan belajar membuat foto dengan teknik yang bagus dengan kesenangan dan kewajaran sebagai pemotret snapshot (snapshooter). Memotret snapshot dan menjadi snapshooter menurut Hoy merupakan tahap awal untuk menjadi pewarta foto. Tahap berikutnya adalah tahap sebagai fotografer amatir atau advance amateur. Setelah melewati dua tahap tersebut, kemudia fotografer memasuki tahapan yang lebih serius lagi, yaitu fotografi seni (art photography). Pada tahap ini, fotografer sudah mulai membuat foto dengan pandangan pribadi (personal style), mulai melihat dunia dengan mata artistik dengan rancangan yang sedikit abstrak dan mulai memikirkan untuk membuat port folio dari hasil-hasil yang dibuat.

Pewarta foto lepas majalah Sport Illustrated dan Life, Brian Lanker mengatakan bahwa tahapan fotografi seni sebagai latar belakang pendidikan yang bagus bagi foto jurnalistik. Pengalaman sebagai snapshooter, fotografer amatir, dan fotografer seni, memberikan elemen penting sebagai pewarta foto, termasuk didalamnya yaitu kebebasan, kemampuan teknis dalam memotret, rasa estetika, kekuatan, dan etika serta rasa keingintahuan.

Zaman sekarang ini, isi pemberitaan dalam media cetak, tidak selalu berisi tentang suatu berita mainstream media yang terbiasa terpola berdasar visi dan misi suatu media. Media cetak pun kini diperkaya dengan Citizen journalism (CJ) yang juga dikenal dengan kata beragam


(11)

9

nama lain, seperti participatory journalism atau grassroot journalism yang berarti jurnalisme orang biasa. Seseorang, tanpa memandang latar belakang pendidikan dan keahlian, dapat merencanakan, menggali, mengolah, mempresentasikan informasi, berupa tulisan, gambar, foto, tuturan (laporan lisan), video, dan lain-lain dalam citizen journalism.

Kovach dan Rosentiel, dalam buku Mengamati Fenomena Citizen Journalism , menyebutkan :

Jurnalisme tidak saja memiliki kewajiban untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang diperlukan masyarakat, tetapi juga memberikan sebuah forum kepada masyarakat untuk membangun ikatan yang mengembangan masyarakat, nilai Kovach dan Rosentiel. (Santana, 54: 2007)

Citizen journalism memiliki pengertian yang agak berbeda. Dengan filosofi dasar yang sama yaitu memberdayakan masyarakat, citizen journalism lebih bertujuan untuk melibatkan warga secara langsung dalam produksi berita. Dan Gilmor, pendiri Center of Citizen Media, membuat istilah grassroots journalism untuk menggambarkan kerja citizen journalism. Ia menulis buku We Media: Grassroots Journalism By The People, for the People . Menurutnya, kegiatan jurnalistik sekarang sangat dipengaruhi perkembangan teknologi, sehingga ia menyebutkan sebagai extending the news from mainstream media (memperluas berita dari media mainstream). Sebuah situs ensiklopedia, Wikipedia, memberikan sebuah definisi:


(12)

Citizen journalism, also known as participatory journalism , is the act of citizen playing an active role in the process of collecting, reporting, analyzing and disseminating news and information. (Citizen journalism, yang juga dikenal sebagai jurnalisme partisipatif, adalah kegiatan warga dalam memainkan peranan aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, analisis dan penyebaran berita dan informasi). (Wikipedia, the Free Encyclopedia)

Secara singkat, dapat diartikan bahwa citizen journalism adalah sebuah kegiatan dimana semua orang boleh menjadi reporter sekaligus audience dan memublikasikan informasi melalui medium tertentu. Karena yang bekerja sebagai pencari informasi adalah juga audience, maka kenetralan berita menjadi lebih terjamin karena mereka telah melepaskan diri dari segala macam ketergantungan yang dapat mengakibatkan kesalahan informasi. Apabila mereka memodifikasi kebenaran, maka itu sama saja dengan membohongi diri sendiri.

Tidak dapat dikatakan secara tepat kapan citizen journalism mulai menggeliat. Yang pasti hal itu berkembang seiring dengan perkembangan media massa yang mulai memunculkan tren partisipatif publik seperti surat pembaca dan artikel opini dalam media cetak, atau siaran interaktif langsung dengan pemirsa dalam media elektronik. Dapat dikatakan, ketika media media membuka saluran untuk publik, saat itulah khalayak tidak lagi dianggap sebagai pihak yang pasif. Terkadang, keaktifan khalayak inilah yang menjadi hal yang paling menjual dalam bisnis media massa.


(13)

11

Citizen journalism tidak hadir sebagai saingan, tapi sebagai alternatif yang memperkaya pilihan dan referensi. Berita tidak lagi dilihat sebagai produk yang didominasi wartawan atau institusi pers. Masyarakat biasa seharusnya masuk dalam ekosistem media sebagai unsur yang aktif berinteraksi. Dengan kata lain, citizen journalism menjadi pengimbang dari media-media yang selama ini melakukan pemberitaan berdasar kepentingan. Perspektif pembaca yang muncul dari suatu berita mainstream media yang terbiasa terpola berdasar visi dan misi suatu media, akan lebih murni di citizen journalism ini.

Dalam hal inilah, model komuniasi yang disinyalir Manca, dalam Journalism, Advocacy, and Communication Model for Democracy gagal menjelaskan fakta komunikasi ketidakmampuan rakyat mengirim pesan secara langsung (mencapai publik). Disebabkan oleh antara lain para penjaga gawang (gatekeeper) media lah yang sangat menentukan pesan-pesan mana yang akan mencapai publik dan mana yang tidak. Kegagalan ini mengarah pada pemahaman yang tidak lengkap tentang bagaimana media massa bekerja, dan yang lebih penting, berkiprah dalam rangka mengimplementasikan nilai-nilai demokratis yang sempurna , tulis Manca.

Maka itu, Manca meminta pengubahan realitas jaringan kerja pers lama. Para editor dan reporter harus membuka gawang bagi laporan dan opini calon pengirim akses langsung pada media, pintanya. Para jurnalis diharapkan dapat menyintesiskan dan mengartikulasikan dengan


(14)

memberi fasilitas bantuan (advokasi), terlepas dari sudut pandang apapun yang dipakai mereka. (Manca, Luigi. 1989. Journalism, Advocacy, and Communication Model for Democracy ). Dialihbahasakan oleh Drs. Ajat S.Hassan. Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI)

Citizen journalism dinilai sebagai bentuk partisipatif aktif masyarakat untuk menyuarakan pendapat secara lebih leluasa, lebih terstruktur, serta dapat diakses secara umum dan sekaligus menjadi rujuan alternatif.

Partisipasi aktif itu banya ragamnya sesuai dengan kemauan, kemampuan, situasi serta kondisi masyarakat dan lingkungannya. Ada contoh tiga jenis partisipasi yang sering dilakukan masyarakat, antara lain partisipasi politik, partisipasi sosial dan partisipasi informasi. Partisipasi politik, terlihat dengan aktif dalam kegiatan politik praktis, seperti ikut dalam berkampanye dalam pemilu, ikut dalam kepengurusan partai dan kegiatan partai lainnya. Partisipasi sosial, terlihat dengan aktif dalam kegiatan sosial kemanusiaan, seperti ikut pencarian korban bencana alam (banjir, longsor, gempa, dll) ikut mengumpulkan sumbangan dana, makanan dan pakaian untuk disumbangkan kepada korban bencana alam tersebut. Partisipasi informasi, terlihat dengan aktif dalam berbagai kegiatan informasi, seperti pencarian/penggalian, pengumpulan dan publikasi informasi, atau setidaknya melaporkan suatu peristiwa baik kepada pemerinth maupun kepada media massa cetak (surat kabar) maupun elektronik (televisi).


(15)

13

Ada yang menggembirakan dan patut dibanggakan dalam partisipasi di bidang informasi, yaitu bukan hanya sebagai bentuk peduli informasi di dalam dan di diluar lingkungannya, tetapi juga ada rasa tanggung jawab sosial dan moral, yang ditandai dengan keberanian melaporkan sesuatu peristiwa yang terjadi di daerahnya.

Sekalipun masih berskala kecil, partisipasi dalam bidang informasi bisa dinilai sudah ada peningkatan, dan kecenderungannya akan meningkat terus di masa yang akan datang. Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan dalam menilai informasi sebagai kebutuhan dan sebagai motivator dalam meningkatkan kreativitas dan dinamia masyarakat yang selanjutnya bisa mempercepat dalam pembangunan bangsa (nation building).

Dapat dibayangkan, betapa senangnya seseorang jika informasi yang dikirimnya ke mainstream media, lulus sensor dari dewan redaksi dan dimuat di media tersebut. Berpartisipasi dalam citizen journalism ukurannya adalah kepuasan batin, kepekaan dan kepedulian sosial. Artinya jika informasi dari kegiatan citizen journalism sangat dibutuhkan masyarakat, pengaruhnya bisa besar, imbalannya bisa terasa secara langsung, yaitu publisitas, kepuasan dan kesenangan batin, serta kemungkinan menjadi orang terkenal, sebagai citizen juonalist.


(16)

Praktik citizen journalism, bisa dilihat dari perspektif budaya, baik budaya lokal, nasional maupun asing. Dalam hal ini masyarakat dapat menginformasikan berapa banyak budaya lokal yang nyaris dan benar-benar sudah punah atau hidup enggan mati tak mau.

Bertolak dari pembahasan di atas, maka penelitian ini akan mencoba membahas mengenai fenomena baru dalam foto citizen journalism dalam rubrik Photography On the Move, khususnya peran kreativitas redaksi surat kabar HU Pikiran Rakyat dalam melahirkan rubrik yang berperan sebagai wadah peminat fotografi pembacanya, maka dari pemaparan diatas, peneliti merumuskan, Bagaimana Kreativitas Surat Kabar HU Pikiran Rakyat Dalam Meningkatkan Minat Fotografi Citizen Journalism Pembacanya Melalui Rubrik Photography On the Move ?


(17)

15

1.2 Identifikasi Masalah

1) Bagaimana inovasi Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move ?

2) Bagaimana manfaat Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move ?

3) Bagaimana variasi Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move ?

4) Bagaimana orisinalitas Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move ?

5) Bagaimana kreativitas Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move ?


(18)

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk meneliti faktor apa saja yang menjadi kreativitas Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography on the Move.

1.3.2 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1) Untuk mengetahui inovasi Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move 2) Untuk mengetahui manfaat Surat Kabar HU Pikiran Rakyat

dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move 3) Untuk mengetahui variasi Surat Kabar HU Pikiran Rakyat

dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move 4) Untuk mengetahui orisinalitas Surat Kabar HU Pikiran

Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move


(19)

17

5) Untuk mengetahui kreativitas Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move

1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Teoritis

Dengan adanya penelitian ini, peneliti bermaksud agar hasil penelitian ini secara teoritis dapat memberikan manfaat besar bagi keilmuan jurnalistik, yang mengkaji tentang munculnya hal yang dapat dikatakan baru, yaitu citizen journalism (jurnalisme partisipatif). Sehingga pada akhirnya, penelitiaan ini menyumbangkan keilmuan untuk mengembangkan teori yang berhubungan maupun yang terkait dengan masalah inovasi (hal yang baru). Selain itu pula dapat menjadi acuan dan dapat memperdalam pengetahuan dan teori mengenai informasi yang berhubungan dengan Studi Ilmu Komunikasi, khususnya jurnalistik. 1.4.2 Kegunaan Praktis

Peneliti melakukan penelitian ini dengan maksud agar penelitian ini dapat dijadikan, di antaranya sebagai berikut :

Sebagai pengembangan Ilmu Komunikasi, khususnya Bidang Kajian Jurnalistik. Kreasi dan inovasi suatu perusahaan media cetak, dapat menambah keberagaman variasi pemberitaan, sekaligus memberdayakan fotografi citizen journalism bagi masyarakat pembaca.


(20)

18

Sebagai rujukan bagi mahasiswa lain untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya dengan konteks Ilmu Komunikasi, khususnya fenomena yang baru berkembang akhir-akhir ini, yaitu citizen journalism. Sehingga hasil penelitian dapat memberikan data dan informasi tentang peran kreativitas surat kabar dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui salah satu rubrik di surat kabar.

Sebagai bahan referensi lembaga atau perusahaan tempat peneliti melakukan penelitian. Besar harapan peneliti agar hasil penelitian ini yang berupa data dan informasi dapat menjadi bahan masukan rumusan suatu program yang dapat meningkatkan kualitas dan perhatian pembaca suatu surat kabar.

1.5 Kerangka Pemikiran

1.5.1 Kerangka Teoritis

Dalam melaksanakan penelitian ini, kiranya penulis menganggap cukup relevan dengan menggunakan teori difusi inovasi.

Diantara pemikiran para pakar adalah yang dikemukakan oleh Everett M. Rogers yang menulis buku berjudul Diffusion of Innovations dan Communication Technology, The New Media in Society , serta bersama F. Floyd Shoemaker menulis buku Communication of Innovations


(21)

19

Rogers mendefinisikan difusi sebagai proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu diantara para anggota suatu sistem sosial (the procces by which an innovations is communicated through certain channels overtime among the members of a social system).

Difusi adalah suatu jenis khusus komunikasi yang berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan sebagai ide baru. Sedangkan komunikasi didefinisikan sebagai proses dimana para pelakunya menciptakan informasi dan saling melakukan pertukaran informasi tersebut untuk mencapai pengertian bersama . (Onong Uchjana Effendy, 284:2008)

Di dalam isi pesan itu terdapat ketermasaan (newness) yang memberikan difusi ciri khusus yang menyangkut ketidakpastian (uncertainty). Ketidakpastian adalah suatu derajat dimana sejumlah alternatif dirasakannya berkaitan dengan suatu peristiwa beserta kemungkinan-kemungkinan pada alternatif tersebut. Derajat ketidakpastian oleh seseorang akan dapat dikurangi dengan jalan memeroleh informasi.

Unsur-unsur utama difusi ide adalah : (1) inovasi, (2) yang dikomunikasikan melalui saluran tertentu, (3) dalam jangka waktu tertentu, (4) diantara para anggota sistem sosial. Inovasi adalah suatu ide, karya, atau objek yang dianggap baru oleh seseorang.


(22)

Ciri-ciri inovasi yang dirasakan oleh para anggota suatu sistem sosial menentukan tingkatan adopsi. Lima ciri inovasi menurut Rogers adalah sebagai berikut (1983:35) :

a. Relative advantage (keuntungan relatif)

b. Compatibility (kesesuaian)

c. Complexity (kerumitan)

d. Triability (kemungkinan dicoba)

e. Observability (kemungkinan diamati)

Relative advantage adalah suatu derajat dengan mana inovasi dirasakan lebih baik daripada ide lain yang menggantikannya. Derajat keuntungan relatif tersebut dapat diukur secara ekonomis, tetapi faktor prestasi sosial, kenyamanan dan kepuasan juga merupakan unsur penting.

Compatibility adalah suatu derajat dengan mana inovasi dirasakan ajeg atau konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman dan kebutuhan mereka yang melakukan adopsi. Complexity adalah mutu derajat dengan mana inovasi dirasakan sukar untuk dimengerti dan dipergunakan. Triability adalah mutu derajat dengan mana inovasi dapat dieksperimentasikan pada landasan yang terbatas. Observatility adalah suatu derajat dengan mana inovasi dapat disaksikan oleh orang lain.

Mengenai saluran komunikasi sebagai sarana untuk menyebarkan inovasi, Rogers menyatakan bahwa media massa lebih efektif untuk menciptakan pengetahuan tentang inovasi, sedangkan saluran antarpribadi


(23)

21

lebih efetif dalam pembentukan dan percobaan sikap terhadap ide baru, jadi dalam upaya memengaruhi keputusan untuk melakukan adopsi atau menolak ide baru.

Mengenai waktu sebagai salah satu unsur utama dari difusi ide baru itu meliputi tiga hal, yakni sebagai berikut :

1) Innovations-decision procces (proses inovasi keputusan)

2) Innovativeness (keinovatifan)

3) Innovation s rate of adoption (tingkat inovasi dari adopsi)

Innovation decision procces adalah proses mental dimana seseorang berlalu dari pengetahuan pertama mengenai suatu inovasi ke pembentukan sikap terhadap inovasi, ke keputusan menerima atau menolak, ke pelaksanaan ide baru, dan kepeneguhan keputusan itu.

Ada lima langkah yang dikonseptualisasikan dalam proses ini, yakni :

a. Knowledge (pengetahuan)

b. Persuasion (persuasi)

c. Decision (keputusan)

d. Implementasion (pelaksanaan)


(24)

Dalam proses inovasi keputusan ini seseorang mencari informasi dalam beberapa langkah untuk mengurangi ketidakpastian mengenai inovasi. Pada langkah pengetahuan seseorang menerima informasi yang melekat pada inovasi teknologis, dia ingin mengetahui inovasi itu dan bagaimana kerjanya. Tetapi pada langkah persuasi dan keputusan, seseorang mencari informasi tentang penilaian inovasi untuk mengurangi ketidakpastian mengenai konsekuensi yang diharapkan dari inovasi itu. Langkah keputusan membawanya ke penerimaan (adopsi), keputusan untuk memanfaatkan inovasi itu sepenuhnya, atau ke penolakan, keputusan untuk menolak inovasi tersebut.

Innovativeness adalah derajat dengan mana seseorang relatif lebih dini dalam mengadopsi ide-ide baru ketimbang anggota-anggota lain dalam suatu sistem sosial. Pengadopsi tersebut dikategorikan sebagai berikut :

1) Innovators (innovator)

2) Early adopters (pengadopsi dini)

3) Early majority (mayoritas dini)

4) Late majority (mayoritas terlambat)

5) Laggard (orang belakangan)

Rate of adoption adalah kecepatan relative dengan mana suatu inovasi diadopsi oleh anggota-anggota suatu sistem sosial. Rate of adoption atau tingkat adopsi biasanya diukur dengan waktu yang


(25)

23

diperlukan untuk persentase tertentu dari para anggota sistem untuk mengadopsi suatu inovasi. Yang dimaksudkan sistem sosial adalah tatanan kesatuan yang terhubungkan suatu sama lain dalam upaya pemecahan masalah dalam rangka mencapai tujuan tertentu. (Rogers, 1938:36-37)

Sedangkan definisi kreativitas, dari berbagai pengertian yang dikemukakan oleh para ahli untuk menjelaskan makna dari kreativitas yang dikaji dari empat dimensi yang memberikan definisi saling melengkapi. Untuk itu kita dapat membuat berbagai kesimpulan mengenai definisi tentang kreativitas dengan acuan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli. Dari beberapa uraian mengenai definisi kreativitas yang dikemukakan diatas peneliti menyimpulkan bahwa, Kreativitas adalah proses konstruksi ide yang orisinil (asli), bermanfaat, variatif (bernilai seni) dan inovatif (berbeda dan lebih baik).

Munculnya kreativitas bertujuan untuk menarik minat suatu kalangan atau golongan tertentu. Situs dalam jaringan, http://qym7882.blogspot.com, menjelaskan mengenai minat, dan pengertian minat dari para ahli. Minat akan menjadi motif yang kuat untuk berhubungan secara lebih aktif dengan sesuatu yang menarik minatnya. Minat akan semakin bertambah jika disalurkan dalam suatu kegiatan. Keterikatan dengan kegiatan tersebut akan semakin menumbuh kembangkan minat. Sesuai pendapat yang dikemukakan Hurlock (1990:144), bahwa semakin sering minat diekspresikan dalam kegiatan maka semakin kuatlah ia . Minat dapat menjadi sebab terjadinya suatu


(26)

kegiatan dan hasil yang akan diperoleh. Minat adalah suatu pemusatan perhatian secara tidak sengaja yang terlahir dengan penuh kemauan, rasa ketertarikan, keinginan, dan kesenangan (Natawijaya, 1978:94).

Purnama (1994:15) menjabarkan karakteristik individu yang memiliki minat tinggi terhadap sesuatu yaitu: adanya perhatian yang besar, memiliki harapan yang tinggi, berorientasi pada keberhasilan, mempunyai kebangggaan, kesediaan untuk berusaha dan mempunyai pertimbangan yang positif. Pendapat tersebut tidak jauh berbeda dengan pendapat Slameto dalam (TomiDarmawan,2007) yang menyatakan bahwa minat adalah rasa suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh, minat pada hakekatnya adalah penerimaan hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar dirinya, semakin kuat atau semakin dekat hubungan tersebut maka semakin besar minatnya 2.

Kesimpulan dari beberapa definisi di atas tentang minat, bahwa minat merupakan suatu perhatian khusus terhadap suatu hal tertentu yang tercipta dengan penuh kemauan dan tergantung dari bakat dan lingkungannya. Minat dapat dikatakan sebagai dorongan kuat bagi seseorang untuk melakukan segala sesuatu dalam mewujudkan pencapaian tujuan dan cita-cita yang menjadi keinginannya.


(27)

25

1.5.2 Kerangka Konseptual

Citizen journalism tidak hadir sebagai saingan, tapi sebagai alternatif yang memperkaya pilihan dan referensi. Berita tidak lagi dilihat sebagai produk yang didominasi wartawan atau institusi pers. Masyarakat biasa seharusnya masuk dalam ekosistem media sebagai unsur yang aktif berinteraksi. Dengan kata lain, citizen journalism menjadi pengimbang dari media-media yang selama ini melakukan pemberitaan berdasar kepentingan. Perspektif pembaca yang muncul dari suatu berita mainstream media yang terbiasa terpola berdasar visi dan misi suatu media, akan lebih murni di citizen journalism ini.

Dari berbagi macam media cetak yang berkembang di Jawa Barat, HU Pikiran Rakyat menjadi salah satu media cetak yang populer. Kreativitas Redaksi HU pikiran Rakyat, tertuang dengan menciptakan inovasi, berupa rubrik Photography on the Move, sebagai sarana media citizen journalism dalam bentuk foto.

Sedangkan pendapat Baron dan Haefele mengenai kreativitas yang dikutip http://wartawarga.gunadarma.ac.id, mengemukakan kreativitas adalah proses konstruksi ide yang orisinil (asli), bermanfaat, variatif (bernilai seni) dan inovatif (berbeda dan lebih baik).

Pada saat sekarang ini, media yang lebih variatif mendapatkan tempat tertentu di kalangan masyarakat pembacanya. Hal tersebut dapat dicapai dengan pemunculan konstruksi ide yang orisinal dan inovatif,


(28)

bertujuan agar kreasi tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat pembacanya.

Akhir-akhir ini belum banyak media, khususnya media cetak, apalagi dalam bentuk foto, yang memberikan halamannya bagi pemuatan hasil kegiatan jurnalis masyrakat (citizen journalism). Oleh karena itu, dengan adanya rubrik Photography on the Move, dapat dikategorikan sebagai produk jurnalistik yang inovatif.

Kemunculan kreativitas redaksi HU Pikiran Rakyat dalam memberikan ruang bagi masyarakat untuk memublikasikan hasil kreasi dalam bentuk foto, memunculkan minat bagi pembaca HU Pikiran Rakyat yang tertarik dalam bidang fotografi. Minat merupakan dorongan yang kuat bagi seseorang untuk melakukan segala sesuatu dalam mewujudkan pencapaian tujuan dan cita-cita yang menjadi keinginannya. Maka, dengan adanya ruang bagi masyarakat di media massa (HU Pikiran Rakyat), serta adanya minat dari pembacanya yang tertarik dalam bidang fotografi, akan tercipta lahan untuk mencapai tujuan dan cita-cita para pembacanya tersebut.

Inovasi tersebut dikomunikasikan melalui media cetak, HU Pikiran Rakyat memberikan ruang bagi masyarakat yang tertarik dalam dunia fotografi, lalu memublikasikan foto yang terpilih. Proses seleksi dilakuan oleh staff redaktur foto HU Pikiran Rakyat.


(29)

27

Dalam buku karangan Onong Uchjana Effendi, yang berjudul, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Rogers mendefinisikan difusi sebagai proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam jangka waktu tertentu diantara para anggota suatu sistem sosial (the procces by which an innovations is communicated through certain channels overtime among the members of a social system). Difusi adalah suatu jenis khusus komunikasi yang berkaitan dengan penyebaran pesan-pesan sebagai ide baru.

1.6 Pertanyaan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti akan menanyakan beberapa pertanyaan yang ditujukan kepada populasi penelitian. Pertanyaannya sebagai berikut :

a) Bagaimana inovasi Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move ?

- Apakah Surat Kabar HU Pikiran Rakyat memperkenalkan sesuatu yang baru terhadap pembacanya melalui rubrik Photography on the Move ?

- Apakah rubrik Photography on the Move di HU Pikiran Rakyat merupakan kombinasi dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya ?


(30)

- Apakah rubrik Photography on the Move di HU Pikiran Rakyat merupakan produk jurnalistik yang berbeda dari yang sebelumnya ?

b) Bagaimana manfaat Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move ?

- Apakah rubrik Photography on the Move akan berguna bagi masyarakat pembaca HU Pikiran Rakyat yang berminat pada fotografi citizen journalism ?

- Apa keuntungan bagi masyarakat pembaca HU Pikiran Rakyat peminat fotografi citizen journalism dengan adanya rubrik Photography on the Move ?

c) Bagaimana variasi Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move ?

- Apakah dengan adanya rubrik Photography on the Move di HU Pikiran Rakyat menciptakan produk jurnalistik yang bernilai seni daripada yang sebelumnya ?

- Apakah dengan adanya rubrik Photography on the Move di HU Pikiran Rakyat akan menciptakan keberagaman dalam bidang karya jurnalistik ?


(31)

29

d) Bagaimana orisinalitas Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi citizen journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move ?

- Apakah rubrik Photography on the Move merupakan produk jurnalistik yang asli dari HU Pikiran Rakyat ?

1.7 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif, dengan pendekatan kualitatif. Metode deskriptif, yaitu suatu metode yang bertujuan melukiskan secara sistematis. Seperti yang dikatakan oleh Jalaludin Rakhmat dalam buku Metode Penelitian Komunikasi mengatakan.

Metode deskriptif, yaitu dengan cara mempelajari masalah-masalah dan tata cara yang berlaku dalam masyarakat, serta situasi-situasi tertentu dengan tujuan penelitian yaitu menggambarkan fenomena secara sistematis fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu secara faktual dan cermat. (Rakhmat, 2000:22)

Jalaludin Rakhmat juga mengatakan penelitian deskritif timbul karena suatu peristiwa yang menarik perhatian peneliti tetapi belum ada kerangka teoritis yang menjelaskannya (Rakhmat, 2000:25)

Metode kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah, (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisa data


(32)

bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi (Sugiyono, 9:2008)

Metode deskriftif yang peneliti lakukan yaitu, penelitian yang bertujuan untuk melihat peran kreativitas surat kabar HU Pikiran Rakyat dalam meningkatkan minat fotografi Citizen Journalism pembacanya melalui rubrik Photography On the Move.

1.8 Teknik Pengumpulan Data dan Analisa Data

1.8.1 Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini dilakukan beberapa teknik untuk mengumpulkan data, seperti :

1) Wawancara, yaitu tanya jawab secara terbuka dan langsung kepada responden yang menjadi informan dalam penelitian ini. Wawancara atau interview adalah sebuah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan responden atau orang yang diwawancarainya (Nazir, 234:234)

2) Studi Pustaka, yaitu mencari sumber dari literatur atau referensi lain yang relevan untuk memperoleh konsep atau teori yang diperlukan. Studi pustaka merupakan satu cara mendapatkan sumber dengan cara menemukan sumber yang tepat dari suatu spelialisasi tertentu.


(33)

31

3) Internet Searching, yaitu mencari sumber data informasi dalam jaringan dengan menggunakan teknologi internet.

1.8.2 Teknik Analisa Data

Dalam hal analisis data kualitatif, dalam buku Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D karangan Prof. Dr. Sugiyono, Bogdan menyatakan, bahwa :

Data Anlysis is the procces of systematically searching and arranging the interview transcripts, fieldnotes, and other materials that you accumulate to increase your own understanding of them and to enable you present what you have discovered to others . (Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain). ( Sugiyono, 244:2008).

Analisis data dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceriterakan kepada orang lain.

Susan Stainback, mengemukakan bahwa, Data analysis is critical to the qualitative research process. It is to recognition, study, and understanding of interrelationship and concept in your data that hypotheses and assertions can be developed and evaluated . (Analisis data merupakan hal yang kritis dalam proses penelitian kualitatif. Analisis digunakan untuk memahami hubungan dengan konsep dalam data


(34)

sehingga hipotesis dapat dikembangkan dan dievaluasi. Spradley (1980) menyatakan bahwa, Analysis of any kind involve a way thinking. It refers to the systematic examination of something to determiene its parts, the relation among parts, and the relationship to the whole. Analysis is a search for patterns . (Analisis dalam jenis penelitian apapun, adalah merupakan cara berpikir. Hal itu berkaitan dengan pengujian secara sistematis terhadap sesuatu untuk menentukan bagian, hubungan antar bagian, dan hubungannya dengan keseluruhan. Analisis adalah untuk mencari pola.

Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat dikemukakan disini bahwa, analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Analisis data kualitatif adalah bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh, selanjutnya dikembangkan menjadi hipotesis. Berdasarkan hipotesis yang dirumuskan berdasarkan data tersebut, selanjutnya dicarikan data lagi secara berulang-ulang sehingga selanjutnya dapat disimpulkan apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak berdasarkan data yang terkumpul. Bila berdasarkan data yang dapat dikumpulkan secara berulang-ulang dengan teknik triangulasi,


(35)

33

ternyata hipotesis diterima, maka hipotesis tersebut berkembang menjadi teori.

1.9 Subyek dan Informan Penelitian

1.9.1 Subyek Penelitan

Pada penelitian ini, peneliti menarik redaktur foto HU Pikiran Rakyat, Bapak Dudi Sugandi, dan pegiat komunitas fotografi, Bapak Galih Sedayu sebagai sampel informan. Hal tersebut berdasarkan dari kredibilitas beliau sebagai tim kurasi (penyeleksi) foto-foto yang berasal dari kiriman masyarakat pencinta fotografi.

Peneliti menarik subyek penelitian redaktur foto HU Pikiran Rakyat, karena dalam hal penerbitan di media, beliau paling berwenang dalam memublikasikan hasil foto kiriman dari masyarakat pencinta fotografi, serta pegiat komunitas fotografi sebagai salah satu tim penyeleksi foto-foto tersebut.

Berdasarkan prariset, awalnya tim kurasi beranggotakan dari beberapa kalangan, seperti redaktur foto HU Pikiran Rakyat dalam segi media, pegiat komunitas fotografi dalam segi artistik, dan badan usaha yang bergera di bidang fotografi dalam segi ekonomi dan pemasaran. Namun dalam perkembannya, tim kurasi hanya beranggotakan redaktur foto HU Pikiran Rakyat dan pegiat komunitas fotografi saja.


(36)

1.9.2 Informan Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan redaktur surat kabar HU Pikiran Rakyat dan perwakilan komunitas fotografi sebagai informan kunci. Peneliti akan mencari informasi kepada, Dudi Sugandi, selaku redaktur foto HU Pikiran Rakyat dan Galih Sedayu, selaku pegiat fotografi dari komunitas Air Photography, karena peneliti menganggap, redaktur foto paling berwenang dalam penerbitan foto di HU Pikiran Rakyat, dan pegiat fotografi sebagai salah satu tim penyeleksi.

Dalam hal ini peneliti akan menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek atau situasi sosial yang diteliti. (Sugiyono, 219:2008) 1.10 Lokasi dan Waktu Penelitian

1.10.1 Lokasi Penelitian

1. Redaksi HU Pikiran Rakyat di Jln. Soekarno-Hatta No. 147, Bandung

Peneliti akan mewawancara redaktur foto HU Pikiran Rakyat. Peneliti akan menanyakan peran kreativitas Surat Kabar HU Pikiran Rakyat dan menarik minat fotografi citizen journalism pembacanya.


(37)

35

2. Kantor Air Photography Communication di Jl. Taman Pramuka No. 181, Bandung

Peneliti akan mewawancara pegiat fotografi, Galih Sedayu, sebagai salah satu tim penyeleksi foto yang akan diterbitkan.


(38)

36

1.10.2 Waktu Penelitian

Penelitian yang akan penulis laksanakan dimulai pada bulan Februari dan diperkirakan hingga pertengahan Juli 2010. Mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga ke penyelesaian, dengan perincian waktu pada tabel 1.1 berikut

Tabel 1.1 Jadwal Penelitian

No

Materi / Bulanan

Feb Mar Apr Mei Juni Jul 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Persiapan x x

2 Pengajuan judul

x x

3 ACC

Judul

x x

4 Bimbinga n Perdana

x x

5 Penulisan Bab I

x x x x x x x

6 Seminar Up

x x x

7 Penulisan Bab II

x x x x x x x

8 Penulisan

Bab III

x x x

9 Penulisan

Bab IV

x x x

10 Penulisan

Bab V

x x


(39)

37

2.11 Sistematika Penelitian

BAB I : Pendahuluan

Berisi tentang, latar belakang masalah, identifikasi masalah, maksud dan tujuan penelitian, kegunaan penelitian, kerangka pemikiran, pertanyaan penelitian, metode penelitian, teknik pengumpulan data dan analisa data, subyek dan informan penelitian, lokasi waktu penelitian.

BAB II : Tinjauan Pustaka

Berisi tinjauan tinjauan tentang komunikasi massa (meliputi definisi komunikasi massa, karakteristik komunikasi massa, bentuk-bentuk komunikasi massa, dsb.), Tinjauan tentang surat kabar atau pers (meliputi definisi pers, fungsi surat kabar, karakteristik surat kabar, kategori surat kabar), tinjauan tentang profesi kewartawanan (redaktur), tinjauan tentang kreativas, tinjauan tentang Photography on the Move, tinjauan tentang minat, tinjauan tentang citizen journalism (meliputi definisi citizen journalism, perkembangan citizen journalism, dsb.)

BAB III : Objek Penelitian

Mencakup tentang sejarah PT Pikiran Rakyat Bandung, fasilitas, struktur organisasi redaksi, job deskripsi, sarana dan prasarana serta kebijakan HU Pikiran rakyat dalam hal citizen journalism


(40)

BAB IV : Hasil penelitian dan Pembahasan

Berisi tentang deskripsi (deskripsi responden, deskripsi hasil wawancara, deskripsi hasil penelitian dan pembahasan.)

BAB V : Kesimpulan dan Saran

Berisi tentang kesimpulan dari keseluruhan BAB dan saran untuk instansi, yaitu: Surat Kabar HU Pikiran Rakyat serta saran bagi mahasiswa yang melakukan penelitian selanjutnya.


(41)

39

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Tentang Komunikasi Massa 2.1.1 Pengertian Komunikasi Massa

Merujuk kepada Tan dan Wright, dalam Liliweri.1991, merupakan bentuk komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen, dan menimbulkan efek tertentu.

Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner (Rakhmat, seperti yang disitir Komala, dalam Karlinah dkk. 1999), yakni, komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass communication is message communicated through a mass medium to a large number of people). Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa komunikasi massa itu harus menggunakan media massa. Jadi, sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada khalayak yang banyak, seperti rapat akbar di lapangan luas yang dihadiri oleh ribuan, bahkan puluhan ribu orang, jika tidak menggunakan media massa, maka itu bukan komunikasi massa. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio siaran dan televisi, keduanya dikenal


(42)

sebagai media elektronik, sedangkan surat kabar dan majalah, keduanya disebut sebagai media cetak.

Definisi komuniksi massa yang lebih rinci dikemukakan oleh komuniksi lain, yaitu Gerbner. Menurut Gerbner (1967) Mass communication is the technologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continuous flow of messages in industrial societies . (komunikasi adalah produsi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta palin luas dimiliki orang dalam masyarakat industri (Rakhmat, seperti yang dikutip Komala, dalam Karlinah, dkk. 1999)

Dari definisi Gerbner tergambar bahwa komunikasi massa itu menghasilkan suatu produ berupa pesan-pesan komunikasi. Produk tersebut disebarkan, didistribusikan kepada khalayak luas secara terus menerus dalam jarak waktu yang tepat, misalnya harian, mingguan, dwimingguan atau bulanan. Proses memproduksi pesan tidak dapat dilakukan oleh perorangan, melainkan harus oleh lembaga, dan membutuhkan suatu teknologi tertentu, sehingga komunikasi massa akan banyak dilakukan oleh masyarakat industri. 2.1.2 Karakteristik Komunikasi Massa

Sebelumya telah dibahas tentang pengertian komunikasi massa melalui definisi komunikasi massa yang dikemukakan oleh beberapa ahli ilmu komunikasi. Kita juga mengetahui bahwa definisi-definisi komunikasi massa


(43)

41

itu secara prinsip mengandung suatu makna yang sama, bahkan antara satu definisi dengan definisi yang lainnya dapat dianggap saling melengkapi. Melalui definisi itu pula kita dapat mengetahui karakteristik komunikasi massa. Komunikasi massa berbeda dengan komunikasi lainnya, seperti komunikasi antarpersona dan komunikasi kelompok. Perbedaan itu meliputi komponen-omponen yang terlibat didalamnya, juga proses berlangsungnya komunikasi tersebut. Namun, agar karakteristik komunikasi massa itu tampak jelas, maka pembahasannya perlu dibandingkan dengan komunikasi antarpersona. Karakteristik komunikasi massa adalah sebagai berikut :

- Komunikator Terlembagakan

Ciri komunikasi massa yang pertama adalah komunikatornya. Kita sudah memahami bahwa komunikasi massa itu menggunakan media massa, baik media cetak maupun media elektronik. Dengan mengingat kembali pendapat Wright, bahwa komunikasi massa itu melibatkan lembaga, dan komunikatornya bergerak dalam organisasi yang kompleks, mari kita bayangkan secara kronologis proses penyusunan pesan oleh komuniator sampai pesan itu diterima oleh komunikan. Apabila pesan itu akan disampaikan melalui surat kabar, maka prosesnya adalah sebagai berikut, komunikator menyusun pesan dalam bentuk artikel, apakah atas keinginannya atau atas permintaan media massa yang bersangkutan. Selanjutnya, pesan tersebut diperiksa oleh penanggungjawab rubrik. Dari penanggungjawab


(44)

rubrik diserahkan kepada redaksi untuk diperiksa layak tidaknya pesan pesan itu untuk dimuat dengan pertimbangan utama tidak menyalahi kebijakan dari lembaga media massa itu. Ketika sudah layak, pesan dibuat setting-nya, lalu diperiksa oleh korektor disusun oleh lay-out man agar komposisinya bagus, dibuat plate, kemudian masuk mesin cetak. Tahap akhir setelah dicetak merupakan tugas bagian distribusi untuk mendstribusikan surat kabar yang berisi pesan itu kepada pembacannya.

- Pesan bersifat umum

Komunikasi massa itu bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang tertentu. Oleh karenanya, pesan komunikasi massa bersifat umum. Pesan komunikasi dapat berupa fakta, peristiwa atau opini. Namun tidak semua fakta dan peristiwa yang terjadi disekeliling kita dapat dimuat dalam media massa. Pesan komunikasi massa yang dikemas dalam bentuk apapun harus memenuhi kriteria penting atau menarik, atau penting sekaligus menarik, bagi sebagian besar komunikan. Dengan demikian, kriteria pesan yang penting dan menarik itu mempunyai ukuran tersendiri, yakni bagi sebagian besar komunikan. Ada peristiwa yang mempunyai kategori penting, tetapi hanya penting bagi sekelompok orang. Peristiwa tersebut tentu saja tidak dapat disampaikan melalui media massa. Misalnya, berita pemilihan Lurah di Kelurahan Sukapada Kotamadya Bandung, dapat dianggap memenuhi kriteria penting


(45)

43

bagi masyarakat setempat, tetapi tidak penting bagi masyarakat Kotamadya Bandung, apalagi Jawa Barat. Dengan demikian, peristiwa pemilihan Lurah itu tidak layak muat bagi media massa yang ada di Bandung. Lain halnya apabila pemilihan Lurah Sukapada itu mengandung sesuatu yang khas, unik, dan dapat menarik perhatian orang banyak, maka peristiwa itu dapat dimuat dalam surat kabar atau ditayangkan melalui televisi atau disiarkan melalui radio siaran.

- Komunikannya Anonim dan Heterogen

Komunikan pada komunikasi massa bersifat anonym dan heterogen. Pada komunikasi antarpersona, komunikator akan mengenal komunikannya, mengetahui identitasny, seperti nama, pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, bahkan mungkin mengenal sikap dan perilakunya. Sedangkan dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikan (anonim), karena komunikasinya menggunakan media dan tidak tatap muka. Disamping anonim, komunikan komunikasi massa adalah heterogen, karena terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda, yang dapat dikelompokan berdasarkan faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, latar belakang budaya, agama dan tingkat ekonomi.


(46)

- Media Massa Menimbulkan Keserempakan

Kelebihan komunikasi massa dibandingkan dengan komunikasi lainnya, adalah jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang dicapainya relatif banyak dan tidak terbatas. Bahkan lebih dari itu, komunikan yang banyak tersebut secara serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula.

- Komunikasi Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan

Setiap komuniksi melibatkan unsur isi dan unsur hubungan sekaligus. Pada komunikasi antarpersona, unsur hubungan sangat penting. Sebaliknya, pada komunikasi massa, yang penting adalah unsur isi.

Pada komunikasi antarpersona, pesan yang disampaikan atau topik yang dibicarakan tidak perlu menggunakan sistematika tertentu, misalnya dibagi-bagi menjadi pendahuluan, pembahasan dan kesimpulan. Topik yang dibahas pun berbagai macam, tidak harus relevan antara satu dengan yang lainnya, perpindahan satu topik pada topik lainnya mengalir begitu saja dan fleksibel.

- Komunikasi Massa Bersifat Satu Arah

Selain ada ciri yang merupakan keunggulan komonikasi massa dibandingkan dengan komunikasi lainnya, ada juga ciri komuniasi yang merupakan kelemahannya. Secara singkat, komunikasi massa itu adalah komunikasi dengan menggunakan atau melalui media massa. Karena melalui


(47)

45

media massa maka komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak langsung. Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan pun aktif menerima pesan, namun diantara keduannya tidak dapat melakuan dialog sebagaimana halnya terjadi dalam komunikasi antarpersona. Dengan demikian, komunikasi masa itu bersifat satu arah.

- Stimulasi Alat Indera Terbatas

Ciri komunikasi lainnya yang dianggap salah satu kelemahannya, adalah stimulasi alat yang terbatas. Pada komunikasi antarpersona yang bersifat tatap mua, maka seluruh alat indra pelaku komunikasi, komunikator dan komunikan, dapat digunakan secara maksimal. Kedua belah pihak dapat melihat, mendengar secara langsung bahkan mungkin merasa. Dalam komuniasi massa, stimulasi alat indra bergantung pada jenis media massa. Pada surat kabar dan majalah, pembaca lainnya melihat, pada radio siaran dan rekaman auditif, khalayak hanya mendengar, sedangkan pada media televisi dan film, kita menggunakan indra penglihatan dan pendengaran.

- Umpan Balik Tertunda (Delayed)

Komponen umpan balik atau yang lebih populer dengan sebutan feedback merupakan faktor penting dalam bentu komunikasi apapun. Efektivitas komunikasi seringkali dapat dilihat dari feedback yang disampaikan oleh komunikan.


(48)

2.1.3 Bentuk-bentuk Komunikasi Massa

Setiap harinya sekitar 60 juta eksemplar surat kabar sampai kepada pembaca Amerika Serikat. Setiap minggu lebih dari 10 ribu surat kabar mingguan memuat berita dan iklan untuk komunitas lokal (Agee, et. al. 2001: 108).

Berbicara tentang surat kabar, ungkap Agee (et. al.) orang akan tertuju kepada Sunday Time yang terbit di New York, dengan oplah nasional mingguannya. Koran-koran dengan sirkulasi nasional ini dikenal dengan surat kabar metropolitan, yang selain yang terbit di New York, terdapat pula di Washington, Chicago, Los Angeles.

Uniknya di Amerika 85% lebih dari surat kabar yang dibaca orang Amerika diterbitkan di kota-kota kecil dan menengah, dengan tiras sekitar 50.000 eksemplar per harinya, atau yang lebih kecil lagi dengan tiras sekitar 25.000 eksemplar. Sedangkan sejumlah harapan yang terbit di desa-desa hanya memiliki sirkulasi per harinya 5000 eksemplar saja.

Menurut Agee (et. al.) pula, secara kontemporer surat kabar memiliki tiga fungsi utama dan sekunder. Fungsi utama media adalah, to inform (menginformasikan kepada pembaca secara objektif tentang apa yang terjadi dalam suatu komunitas, negara dan dunia), to comment (mengomentari berita yang disampaikan dan mengembangkannya ke dalam fokus berita), to provide (menyediakan keperluan informasi bagi pembaca yang membutuhkan barang


(49)

47

dan jasa melalui pemasangan iklan di media). Sedangkan fungsi sekunder media adalah, untuk kampanye proyek-proyek yang bersifat kemasyarakatan, yang diperlukan sekali untuk membantu kondisi-kondisi tertentu, lalu memberikan hiburan kepada pembaca dengan sajian cerita komik, kartun dan cerita-cerita khusus, serta melayani pembaca sebagai konselor yang ramah, menjadi agen informasi dan memperjuangkan hak.

Menurut Karlinah, dalam Karlinah, dkk. 1999, apabila akan membicarakan media massa, mau tidak mau kita harus mengutip pendapat Marshall McLuhan mengenai keadaan dunia saat ini yang bagaikan desa global (global village). Media komunikasi modern memungkinkan berjuta-juta orang di seluruh dunia untu menghubungi hampir setiap pelosok dunia.

Selain surat kabar ada beberapa media yang dapat dikategorikan sebagai bentuk dari komunikasi massa, media-media tersebut, yaitu:

2.1.3.1 Majalah

Edisi perdana majalah ynang diluncurkan di Amerika pada pertengahan 1930-an memperoleh kesuksesan besar. Majalah telah membuat segmentasi pasar tersendiri dan membuat fenomena baru dalam dunia media massa cetak di Amerika. Munculnya nama-nama majalah seperti Scientific American, Psychology Today dan Playboy secara aktif membentuk segmen pembaca baru (Dominick, 2000: 209).


(50)

Menurut Dominick pula, klasifikasi majalah dibagi kedalam lima kategori utama, yakni general consumer umum (majalah konsumen umum), business publication (majalah bisnis), literacy reviews and academic journal (kritik sastra dan majalah ilmiah), newsletter (majalah khusus terbitan berkala) dan Public relations Magazines (Majalah Humas).

2.1.3.2Radio Siaran

Sebelum tahun 1950-an, ketika televisi menyedot banyak perhatian khalayak radio siaran, banyak orang yang memperkirakan bahwa radio siaran diambang kematian. Radio adalah media massa elektronik tertua dan sangat luwes. Selama hampir satu abad lebih keberadaannya, radio siaran telah berhasil mengatasi persaingan keras dengan bioskop, rekaman kaset, televisi, televisi kabel, electronic games dan personal casset players. Radio telah beradaptasi dengan perubahan dunia, dengan mengembangkan hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media lainnya (Dominick, 2000: 242).

Keunggulan radio siaran adalah berada dimana saja, seperti di tempat tidur (ketika orang akan tidur atau bangun tidur), di dapur, di dalam mobil, di kantor, di jalanan, di pantai dan berbagai lainnya.


(51)

49

Radio memiliki kemampuan menjual pada khalayak bagi pengiklan yang produknya dirancang khusus untuk khalayak tertentu.

Agar dapat memahami organisasi industri radio siaran, kita perlu memahami keterlibatan stasiun lokal dan jaringan. Di Amerika sedikitnya terdapat 10 ribu stasiun siaran. Stasiun tersebut beroperasi di kota-kota besar, kota-kota kecil, desa-desa yang melintasi Negara. Kota-kota besar memiliki banyak stasiun radio, seperti New York (lebih dari 45 tahun), Los Angeles (lebih dari 43 buah). Kota-kota yang lebih kecil (town), hanya memiliki satu atau dua stasiun saja, seperti Whitefish di Montana, yang populasi penduduknya 4000 orang hanya memiliki dua stasiun radio siaran (catatan Agee, et al.)

Jaringan radio siaran dirancang oleh dua atau lebih stasiun radio siaran yang membuat program secara simultan. Anggota stasiun radio siaran disebut affiliates (himpunan) yang dapat menata hubungan secara teknik dan bergabung atau berafiliasi dalam meramu program mereka. Jaringan adalah sumber program penting setelah kemunculan radio siaran.


(52)

2.1.3.3 Televisi

Dari semua media komunikasi yang ada, televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia. Sebanyak 99% orang Amerika memiliki televisi di rumahnya. Tayangan televisi mereka dijejali hiburan, berita dan iklan. Mereka menghabiskan waktu menonton televisi sekitar tujuh jam dalam sehari (Agge, et. al. 2001: 279).

Televisi mengalami perkembangan secara dramatis, terutama melalui pertumbuhan televisi kabel. Transmisi program televisi kabel menjangkau seluruh pelosok negeri dengan bantuan satelit dan diterima langsung pada layar televisi di rumah dengan menggunakan wire atau microwave (wireless cables) yang membuka tambahan saluran televisi bagi pemirsa. Televisi tambah marak lagi setelah dikembangkannya Direct Broadcast Satelite (DBS).

Menurut catatan Agee, et al, siaran percobaan televisi di Amerika Serikat dimulai pada tahun 1920-an. Para ilmuwan terus mengembangkan teknologi komunikasi dalam bentuk televisi ini. Antara Tahun 1890 dan 1920, sekelompok ilmuwan Inggris, Prancis, Rusia dan Jerman menyarankan pengembangan teknik-teknik transmisi gambar televisi. John L. Baird, sebagai penemu dari Skotlandia, memperagakan pertama kali teknologi gambar hidup televisi di London tahun 1926. Sejak itu televisi dapat menayangkan


(53)

51

gambar-gambar hidup seperti film layar lebar. Sementara itu, the English Derby membuat movie house (film televisi) pada tahun 1923. British Broadcast Corporation (BBC) merupakan televisi siaran yang pertama di dunia yang membuat jadwal televisi secara teratur pada 2 November 1936.

Tahun 1984 merupakan tahun penting dalam dunia pertelevisian, dengan adanya perubahan dari televisi eksperimen ke televisi komersial di Amerika. Karena perkembangan televisi yang sangat cepat, dari waktu ke waktu media ini memiliki dampak terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

2.1.3.4Film

Gambar bergerak (film) adalah bentuk dominan dari komunikasi massa visual di belahan dunia ini. Lebih dari ratusan juta orang menonton film di bioskop, film televisi dan film video laser setiap minggunya. Di Amerika Serikat dan Kanada lebih dari satu juta tiket film terjual setiap tahunnya (Agee, et. al. 2001: 364).

Film Amerika diproduksi di Hollywood. Film yang dibuat disini membanjiri pasar global dan mempengaruhi sikap, perilaku dan harapan orang-orang di belahan dunia.


(54)

Film lebih dahulu menjadi media hiburan dibanding radio siaran dan televisi. Menonton film ke bioskop ini menjadi aktivitas populer bagi orang Amerika pada Tahun 1920-1n sampai 1950-an.

Industri film adalah industri bisnis. Predikat ini telah menggeser anggapan orang yang masih meyakini bahwa film adalah karya seni, yang diproduksi secara kreatif dan memenuhi imajinasi orang-orang yang bertujuan memperoleh estetika (keindahan) yang sempurna. Meskipun pada kenyataanya adalah bentuk karya seni, industri film adalah bisnis yang memberikan keuntungan, kadang-kadang menjadi mesin uang yang seringkali, demi uang, keluar dari kaidah artistik film itu sendiri (Dominick. 2000: 306)

2.2 Tinjauan Tentang Surat Kabar atau Pers

Pers berasal dari perkataan Belanda pers yang artinya menekan atau mengepres. Kata pers merupakan padanan dari kata press dalam bahasa Inggris yang berarti juga menekan atau mengepres. Jadi, secara harfiah kata pers atau press mengacu pada pengertian komunikasi yang dilakukan dengan perantara barang cetakan. Tetapi, sekarang kata pers atau press digunakan untuk merujuk semua kegiatan jurnalistik, terutama kegiatan yang berhubungan dengan menghimpun berita, baik oleh wartawan media elektronik maupun wartawan media cetak.


(55)

53

Berdasarkan uraian diatas, ada dua pengertian mengenai pers, yaitu pers dalam arti kata sempit dan pers dalam arti kata luas. Pers dalam arti kata sempit yaitu menyangkut kegiatan komunikasi yang hanya dilakukan dengan barang cetakan. Sedangkan pers dalam arti kata luas adalah adalah yang menyangkut kegiatan komunikasi baik yang dilakukan dengan media cetak maupun media dengan media elektronik seperti radio, televisi maupun internet.

Dalam penerbitan berita, baik berita dalam media elektronik ataupun media cetak, diperlukan seseorang yang dapat menentukan kelayakan dari suatu berita yang akan dimuat. Biasanya orang yang dapat menentukan terbit atau tidaknya suatu berita ditentukan oleh seorang redaktur.

Media massa pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori , yakni media massa cetak dan media elektronik. Media cetak yang dapat memenuhi kriteria sebagai media massa adalah surat kabar dan majalah. Sebagai media cetak, surat kabar dan majalah tetap berbeda karena memiliki karaktristik yang khas, yang dimiliki masing-masing media.

- Fungsi Surat Kabar

Surat kabar sebagai media massa dalam masa orde baru mempunyai misi menyebarluaskan pesan-pesan pembangunan dan sebagai alat mencerdaskan rakyat Indonesia.


(56)

Dari empat fungsi media massa (informasi, edukasi, hiburan dan persuasif), fungsi yang paling menonjol pada surat kabar adalah informasi. Hal ini sesuai dengan tujuan utama khalayak membaca surat kabar, yaitu keingintahuan akan setiap peristiwa yang terjadi disekitarnya. Karenanya sebagian besar rubrik surat kabar terdiri dari berbagai jenis berita. Namun demikian, fungsi hiburan surat kabar pun tidak terabaikan karena tersediannya rubrik artikel ringan, feature (laporan perjalanan, laporan tentang profil seseorang yang unik), rubrik cerita bergambar atau komik, serta cerita bersambung. Begitu pula dengan fungsinya mendidik dan mempengaruhi akan ditemukan pada artikel ilmiah, tajuk rencana atau editorial dan rubrik opini. Fungsi pers, khususnya surat kabar pada perkembangannya bertambah, yakni sebagai alat kontrol sosial yang konstruktif.

- Karakteristik Surat Kabar

Untuk dapat memanfaatkan media massa secara maksimal demi tercapainya tujuan komunikasi, maka seorang komunikator harus memahami kelebihan dan kekurangan media tersebut, dengan kata lain, komunikator harus mengetahui secara tepat karakteristik media massa yang akan digunakannya. Karakteristik surat kabar sebagai media massa mencakup, publisitas, periodisitas, universalitas, aktualitas dan terdokumentsikan.


(57)

55

Publisitas atau publicity adalah penyebaran pada publik atau khalayak (Effendy, pada Karlinah, dalam Karlinah, dkk. 1999). Salah satu karakteristik komunikasi massa adalah pesan dapat diterima oleh sebanyak-banyaknya khalayak yang tersebar di berbagai tempat, karena pesan tersebut penting untuk diketahui umum, atau menarik bagi khalayak pada umumnya. Dengan demikian, semua aktivitas manusia yang menyangkut kepentingan umum dan atau menarik untuk umum adalah layak untuk disebarluaskan. Pesan-pesan melalui surat kabar harus memenuhi kriteria tersebut.

Periodesitas menunjuk pada keteraturan terbitnya, bisa harian, mingguan, atau dwi mingguan. Sifat periodesitas sangat penting dimiliki media massa, khususnya surat kabar. Kebutuhan manusia akan informasi sama halnya dengan manusia akan makan, minum, dan pakaian. Setiap hari manusia selalu membutuhkan informasi. Bagi penerbit surat kabar, selama ada dana dan tenaga yang terampil, tidaklah sulit untuk menerbitkan surat kabar secara periodic. Di sekeliling kita banyak sekali fakta serta peristiwa yang dapat dijadikan berita dalam surat kabar. Selama ada kehidupan, selama itu pula surat kabar terbit.

Universalitas menunjukan pada kesemestaan isinya, yang beraneka ragam dan dari seluruh dunia. Dengan demikian atau isi surat kabar meliputi aspek kehidupan manusia, seperti masalah sosial, ekonomi, budaya, agama, pendidikan, keamanan dan lain-lain. Selain itu, lingkup kegiatannya bersifat


(58)

lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Jadi, apabila ada penerbitan (sekalipun bentuknya seperti surat kabar) yang hanya memuat atau berisi salah satu aspek saja, maka penerbitan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai surat kabar. Contohnya IPTN yang memiliki karyawan ribuan orang menerbitkan sejenis surat kabar, dan isinya adalah berita seputar perusahaannya, maka surat kabar IPTN itu bukan media massa karena pesannya bukan untuk konsumsi umum.

Aktualitas, menurut kata asalnya, berarti kini dan keadaan sebenarnya (Effendy, pada Karlinah, dalam Karlinah dkk. 1999). Kedua istilah tersebut erat kaitannya dengan berita, karena definisi berita adalah laporan tercepat mengenai fakta-fakta atau opini yang penting atau menarik minat, atau kedua-duannya bagi sejumlah besar orang (news is the timely report of facts or opinion of either interest or importance, or both, to a considerable number of people) (Charnley, pada Karlinah, dalam Karlinah, dkk. 1999). Laporan tercepat menunjuk pada kekinian atau terbaru dan masih hangat. Fakta dan peristiwa penting atau menarik tiap hari berganti dan perlu untuk dilaporkan, karena khalayak pun memerlukan informasi yang paling baru. Hal ini dilakukan oleh surat kabar, karena surat kabar sebagian besar memuat berbagai jenis berita.


(59)

57

Terdokumentasikan, dari berbagai fakta yang disajikan surat kabar dalam bentuk berita atau artikel, dapat dipastikan ada beberapa diantaranya yang oleh pihak-pihak tertentu dianggap penting untuk diarsipkan atau dibuat kliping. Misalnya karena berita tersebut berkaitang dengan instansinya, atau artikel itu bermanfaat untuk menambah pengetahuannya. Kliping berita oleh sebuah instansi biasanya dilakukan oleh staf public relations untuk dipelajari dalam rangka menentukan kebijakan selanjutnya, karena berita tersebut dianggap sebagai masukan dari masyarakat (publik eksternal).

Untuk menyerap isi surat kabar, pembaca dituntut untuk bisa membaca serta memiliki kemampuan intelektualitas tertentu. Khalayaknya yang buta huruf tidak dapat menerima pesan surat kabar. Bagi mereka yang berpendidikan rendah pun mungkin akan kesulitan membaca surat kabar, karena banyak istilah dari berbagai bidang yang tidak dapat mereka pahami. Tidak demikian halnya dengan radio siaran atau televisi. Khalayak radio siaran dan televisi tidak terbatas, yang buta huruf dan yang berpendidikan rendah dapat menerima pesan-pesan meski tidak semuannya.

- Kategori Surat Kabar

Surat kabar dapat dikelompokan pada berbagai kategori. Dilihat dari ruang lingkupnya, maka kategorisasinya adalah surat kabar nasional, regional dan lokal. Ditinjau dari bentuknya, ada bentuk surat kabar biasa dan tabloid.


(60)

Sedangkan dilihat dari bahasa yang digunakan, ada surat kabar berbahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa daerah.

Surat kabar nasional, diantaranya Kompas, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, Suara Karya. Surat kabar regional, diantaranya Pikiran Rakyat (Jawa barat), Jawa Pos dan Surabaya Pos (Jawa Timur), Suara Merdeka (Jawa Tengah), Waspada (Sumatera Utara), Bali pos (Bali). Surat kabar lokal, diantaranya adalah Bandung Pos (Bandung-Jabar), Pos Kota (Jakarta), Kedaulatan Rakyat (Jogjakarta). Surat kabar bentuk tabloid, adalah Bintang, Citra, Nova, Wanita Indonesia, Bola, GO (Gema Olahraga). Surat kabar berbahsa Inggris, diantaranya The Jakarta Post.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, manusia tidak akan terlepas dari pengaruh media, sebagai contoh, seseorang terbiasa membaca koran terlebih dahulu, sebelum melakukan aktivitas rutinnya. Selain televisi, koran merupakan salah satu bentuk media massa yang cukup digandrungi oleh masyarakat. Banyak istilah yang menamakan salah satu media cetak ini, salah satunya adalah dengan istilah pers. Pers memilki ciri yang khas dibandingkan dengan media massa lainnya. Walaupun pers merupakan media cetak, tapi khalayak yang diterpanya bersifat aktif.


(1)

132

II. PENDIDIKAN FORMAL

2006 sekarang :Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Komputer Indonesia, Bandung

2003 2006 : SMA Negeri 1 Soreang 2000 2003 : SLTP Negeri 1 Katapang 1997-2000 : SDN Cingcin III Soreang 1994-1997 : SDN Harapan III Cimahi III. PENDIDIKAN INFORMAL

2010 :Mengikuti ujian English English

Proficiency Test (EPT) di Universitas Komputer Indonesia

2009 :Mengikuti kuliah umum Kebudayaan Film dan Sensor Film di Universitas Komputer Indonesia

2009 :Mengikuti Seminar Jurnalistik yang diadakan Metro TV di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung.

2008 :Mengikuti kunjungan ke media massa yang diselenggarakan oleh Universitas Komputer Indonesia.


(2)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmannirrohiim Assalamu alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirabbil alamin, Segala puji dan syukur seraya penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas segala rahmat dan ridho-Nya, penulis diberikan kekuatan, kemudahan ,kelancaran, petunjuk dan ketabahan dalam menyelesaikan penelitian ini. Tidak lupa shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Besar Muhammad SAW.

Laporan penelitian ini berisi kegiatan yang penulis lakukan saat melakukan penelelitian di Redaksi HU Pikiran Rakyat dan kantor Air Photography Communications, yang dilaksanakan dari pertengahan Februari hingga pertengahan Juli 2010.

Dalam penyusunan penelitian ini, tidak sedikit hambatan dan kesulitan yang dialami penulis. Terbatasnya kemampuan, pengetahuan dan wawasan menjadi hambatan terbesar dalam penyusunan penelitian ini. Tetapi berkat kerja keras, optimisme dan dukungan dari semua pihak, akhirnya penulis bisa menyelesaikannya dengan semaksimal mungkin. Saran dan kritik yang membangun penulis harapkan agar dapat memberikan manfaat dan kamajuan bagi peningkatan penulis di masa yang akan datang.

Penyusunan penelitian ini tidak akan terlaksana tanpa dukungan, dorongan dari orang tua tercinta dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu, Penulis mengucapkan terima kasih yang sebasar besarnya kapada :


(3)

1. Bapak Prof. Dr. J.M Papasi selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian.

2. Ibu Rismawaty, S.Sos., M.Si. selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia yang telah mengizinkan peneliti untuk melaksanakan penelitian.

3. Ibu Melly Maulin P., S. Sos, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Komputer Indonesia. Juga selaku Dosen Wali, yang telah sabar memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis selama menuntut ilmu di Universitas Komputer Indonesia.

4. Ibu Desayu Eka Surya, S.Sos, M.Si selaku Dosen Kemahasiswaan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia.

5. Bapak Drs. Manap Solihat, M.Si dan Bapak Adiyana Slamet, S. Ip, M.,Si selaku staf dosen tetap Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Komputer Indonesia.

6. Yang saya hormati, Bapak Andi Nurul Huda S.I.Kom , Bapak Inggar Prayoga S.I.Kom , dan Bapak Sanggra Juliano S.I.Kom, selaku staf dosen tetap Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Komputer Indonesia.


(4)

membantu dalam dalam mengurus surat-surat penelitian dan yang surat-surat lainnya.

8. Bapak Drs. Odji Kurniadi, Msi, selaku dosen pembimbing dalam penelitian ini, yang dengan sabar dalam membimbing serta memberikan pengarahan yang sangat berharga kepada peneliti.

9. Bapak H. Yoyo S. Adiredja, selaku Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat, yang telah mengijinkan saya sebagai peneliti untuk dapat melaksanakan penelitian di Redaksi HU Pikiran Rakyat.

10. Bapak Dudi Sugandi, selaku informan kunci dan Redaktur Foto dari HU Pikiran Rakyat.

11. Bapak Galih Sedayu, selaku pegiat fotografi dan informan kunci dalam penelitian ini.

12. Orang tua tercinta yang selalu mendukung dan memberikan dorongan semangat, baik moril ataupun materil pada penulis.

13. Teman-teman satu akademika, khususnya Deden Iman, Ivan Perdana, Reza Aditia, Rino Ahmad M., Gino Yugiman, Chandra Riza A., Demilia Dwi Arina, Popon Nurwitaningsih dan Fitho Karya yang selalu memberikan semangat serta dukungannya, dan membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.

14. Pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, penulis hanya dapat mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya.


(5)

Akhir kata, penulis mengharapkan semoga amal kebaikan yang telah diberikan oleh semua pihak yang terlibat dalam penulisan penelitian ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pihak lain yang berkepentingan.

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Bandung, 21 Juli 2010


(6)

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Karya tulis ini adalah asli dan belum pernah diajukan sebelumnya untuk mendapatkan gelar akademik (Ahli Madya, Sarjana, Master dan Doktor) baik di Universitas Komputer Indonesia maupun Perguruan Tinggi lainnya.

2. Karya tulis ini murni gagasan, rumusan penelitian saya sendiri tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan tim pembimbing.

3. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah dan dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dan jelas ditentukan sebagai acuan dalam naskah yang disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.

4. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguh-sungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh. Karena penyusunan beserta lain sebagainya telah sesuai dengan norma yang berlaku di Perguruan Tinggi ini.

Bandung, 21 Juli 2010

(Satira Yudatama) NIM. 41806121


Dokumen yang terkait

Jurnalisme AIDS Dalam Surat Kabar

0 26 14

Jurnalisme Warga dalam Rubrik Jelajah pada Koran Harian Republika

0 5 120

Kelayakan Berita Citizen Journalism (Studi Analisis Isi Kuantitaif Mengenai Kelayakan Berita dalam Kolom Citizen Journalism Surat Kabar Harian Tribun Jogja periode November 2012-Februari 2013).

0 3 13

KELAYAKAN BERITA CITIZEN JOURNALISM (Studi Analisis Isi Kuantitatif Mengenai Kelayakan Berita dalam Kolom KELAYAKAN BERITA CITIZEN JOURNALISM (Studi Analisis Isi Kuantitatif Mengenai Kelayakan Berita dalam Kolom Citizen Journalism Surat Kabar Harian Trib

0 3 20

PENDAHULUAN KELAYAKAN BERITA CITIZEN JOURNALISM (Studi Analisis Isi Kuantitatif Mengenai Kelayakan Berita dalam Kolom Citizen Journalism Surat Kabar Harian Tribun Jogja Periode November 2012-Februari 2013).

0 5 32

PENUTUP KELAYAKAN BERITA CITIZEN JOURNALISM (Studi Analisis Isi Kuantitatif Mengenai Kelayakan Berita dalam Kolom Citizen Journalism Surat Kabar Harian Tribun Jogja Periode November 2012-Februari 2013).

0 3 74

JURNALISME LINGKUNGANSURAT KABAR INDONESIA JURNALISME LINGKUNGAN SURAT KABAR INDONESIA (Studi Analisis Isi Pemberitaan Bencana Pergerakan Tanah Jawa Barat pada Surat Kabar Kompas dan Pikiran Rakyat Periode Februari – Maret 2010).

0 2 13

Pengelolaan Saung Ohle di Surat Kabar Pikiran Rakyat Bandung.

0 1 1

MOTIF WARGA KARESIDENAN SURAKARTA BERKONTRIBUSI DALAM RUBRIK JURNALISME WARGA (Studi Deskriptif Kualitatif pada Partisipan Citizen Journalism dalam Memproduksi Berita di Rubrik Jurnalisme Warga Koran Solopos)

0 0 18

Campur kode dalam Rubrik Pikiran Pembaca Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat bulan Oktober 2011 - USD Repository

0 0 112