KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

1

ABSTRAK

KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO
DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA
DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

Oleh
MITA SUCIATI

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimanakah konflik dalam
novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra
Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan konflik yang terdapat dalam novel 5 cm karya Donny
Dhirgantoro dan menetapkan kelayakan novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro
sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber
data penelitian ini adalah novel yang berjudul 5 cm karya Donny Dhirgantoro.
Data berupa unit-unit teks pada novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Teks
tersebut berupa paparan bahasa yang menggambarkan konflik yang terkandung di
dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro.

Hasil penelitian novel 5 cm ditemukan konflik berupa konflik manusia dengan
dirinya sendiri (konflik batin), konflik manusia dengan manusia, dan konflik

2
Mita Suciati
manusia dengan alam. Pada novel 5 cm tidak ditemukan adanya konflik manusia
dengan masyarakat. Konflik utama dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro
yaitu konflik manusia dengan dirinya sendiri. Konflik utama berupa pertentangan
dalam diri lima tokoh (Arial, Genta, Ian, Riani, dan Zafran) untuk tetap berada
dalam dunia mereka (komunitas lima sahabat) atau memilih keluar, melihat dunia
luar, keluar dari zona nyaman. Konflik utama tersebut memicu timbulnya konflikkonflik lain dalam alur novel 5 cm.

Novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro layak dijadikan sebagai bahan ajar sastra
Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA) karena sesuai dengan kriteria
pemilihan bahan pembelajaran, yaitu dilihat dari aspek bahasa, aspek psikologis,
dan aspek latar belakang budaya.

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
5.1.1 Konflik dalam Novel
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa konflik dalam novel 5 cm
karya Donny Dhirgantoro adalah sebagai berikut.

a. Konflik Manusia dengan dirinya (konflik Batin)
1) Tokoh Arial
(a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama
ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan
empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan untuk
mengutarakan isi hati atau memilih untuk memendam saja perasaan
cintanya pada seorang wanita.

2) Tokoh Genta
(a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama
ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan
empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan untuk
memilih antara cinta atau persahabatan.

3) Tokoh Ian
(a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama
ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan
empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan antara
perasaan rendah diri yang dialami tokoh Ian dengan keinginan untuk tetap
berada dalam komunitas empat sahabatnya; (c) pertentangan antara
perasaan putus asa dengan keinginan untuk segera menyelesaikan kuliah.

4) Tokoh Riani
(a) pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani selama
ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas dengan
empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan untuk
mengakui semua perasaannya terhadap tokoh Zafran dengan kodratnya
sebagai seorang wanita

5) Tokoh Zafran
(a)

pertentangan untuk tetap berada dalam dunia yang telah dijalani

selama ini atau memilih untuk melihat dunia luar/ dunia di luar komunitas
dengan empat sahabatnya, keluar dari zona nyaman; (b) pertentangan
untuk mengungkapkan perasaan cinta terhadap seorang wanita atau
memilih terus memendam perasaan tersebut.

b. Konflik Manusia dengan Manusia
Konflik terjadi antar tokoh (Arial, Genta, Ian, Riani, Zafran), akibat salah satu
tokoh (Ian) bersikap mengadu domba.

c. Konflik Manusia dengan Masyarakat
Pada novel 5 cm, tidak ditemukan adanya konflik manusia dengan masyarakat

d. Konflik Manusia dengan Alam
Konflik manusia dengan alam dalam novel yaitu konflik melawan cuaca
panas, melawan udara yang amat dingin, melawan kondisi alam Mahameru
dengan hutan-hutan lebat, dan melawan alam pendakian yang terjal.

Berdasarkan tiga jenis konflik tersebut, dapat disimpulkan bahwa konflik utama
dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro yaitu konflik manusia dengan dirinya
sendiri. Konflik berupa pertentangan dalam diri masing-masing tokoh untuk tetap
berada dalam dunia mereka sendiri (komunitas lima sahabat) atau memilih keluar,
melihat dunia luar, keluar dari zona nyaman. Konflik utama tersebut memicu
timbulnya konflik-konflik lain dalam alur novel 5 cm.

5.1.2

Kelayakan Konflik dalam Novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro
Sebagai Bahan Ajar Sastra Indosesia di Sekolah Menengah Atas
(SMA)

Novel 5 cm karya donny Dhirgantoro ditinjau dari konflik yang terdapat
didalamnya, layak dijadikan alternatif bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah
Menengah Atas (SMA) karena sesuai dengan kriteria pemilihan bahan
pembelajaran sastra menurut Rahmanto (1993:27). Kriteria pemilihan bahan
pembelajaran tersebut terdiri dari tiga aspek, yaitu aspek bahasa, aspek psikologis,
dan aspek latar belakang budaya.

5.2 Saran
5.2.1

Saran Teoretis

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya
agar dapat mengembangkan penelitian/ kajian yang lebih lanjut, lebih dalam, dan
lebih luas lagi mengenai struktur alur yang terdapat dalam sebuah karya fiksi
khususnya novel.

5.2.2

Saran Praktis

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada
a. siswa agar meneladani sikap para tokoh yang bernilai moral baik, terutama
mengenai sikap yang diambil para tokoh dalam menyelesaikan konflik yang
terjadi. Melalui novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro, siswa diharapkan dapat
mengambil hikmah melalui sikap dan tingkah laku tokoh-tokohnya dalam
menghadapi konflik. Melalui novel tersebut, siswa juga diharapkan dapat
mengembangkan

kepribadian,

memperluas

wawasan

kehidupan,

dan

memotivasi siswa dalam menentukan tujuan hidupnya;
b. guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia agar dalam memilih sebuah
karya sastra untuk mencari konflik dalam novel hendaknya secara kreatif
memilih karya sastra yang erat hubungannya dengan kehidupan siswa seharihari dan dapat memberi inspirasi serta menggugah semangat belajar bagi
siswa. Jadi, siswa tidak hanya mendapat pembelajaran dalam ilmu sastra itu
sendiri, tetapi juga motivasi yang dapat membuat siswa lebih bersemangat
untuk belajar dan meraih cita-cita untuk masa depan mereka; dan

c. guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk menggunakan novel
5 cm Karya Donny Dhirgantoro sebagai alternatif bahan ajar dalam
pembelajaran sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini
berdasarkan pertimbangan dan kriteria-kriteria pembelajaran sastra yang
mencakup aspek bahasa, aspek psikologis, dan aspek latar belakang budaya
bahwa novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro ini layak dijadikan bahan ajar
dalam pembelajaran sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA).

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial memiliki konflik
yang majemuk. Randall Collins (1975) dalam Ritzer (2005:162) mengemukakan
bahwa konflik merupakan proses sentral dalam kehidupan sosial. Ia melihat
bahwa orang memunyai kepentingan sendiri-sendiri, sehingga benturan-benturan
mungkin terjadi karena kepentingan-kepentingan tersebut pada dasarnya saling
bertentangan. Konflik merupakan unsur dasar kehidupan manusia dan tidak dapat
dilenyapkan dari kehidupan budaya manusia. Manusia dapat mengubah saranasarana, asas-asas, atau pendukungnya, tetapi tidak dapat membuang konflik itu
sendiri. Oleh karena itu, tidak dapat dipungkiri bahwa potensi konflik merupakan
naluri kehidupan setiap manusia.

Konflik yang terjadi dalam kehidupan manusia pada umumnya dijadikan sebagai
sumber ilham bagi para sastrawan yang kemudian ditarik dalam khasanah
imajinasi untuk dihayati, direnungkan, diendapkan, kemudian disalurkan dalam
wujud karya sastra. Sebuah karya sastra yang baik sudah seharusnya mengangkat
persoalan dan dimensi kehidupan manusia. Ibarat sebuah cermin, teks sastra
memantulkan nilai-nilai kemanusiaan yang mampu menyentuh kepekaan nurani
pembacanya untuk melakukan pencerahan jiwa. (Jakob Sumardjo, 1984:15)

Prosa (Inggris: prose) sebagai salah satu genre di samping genre-genre lain yang
terdapat dalam dunia kesastraan, menawarkan berbagai permasalahan dalam
kehidupan manusia. Prosa dalam pengertian kesastraan juga disebut sebagai fiksi
(fiction). Fiksi menurut Altenbernd dan Lewis (1966:14) dalam Nurgiyantoro
(1994:2), dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun
biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan
hubungan-hubungan antarmanusia. Fiksi menceritakan berbagai peristiwa
kehidupan manusia dalam interaksinya dengan lingkungan, dengan diri sendiri,
serta interaksinya dengan Tuhan. Peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam sebuah
karya fiksi dihubungkan berdasarkan pola kausalitas atau sebab akibat, sehingga
membentuk suatu alur yang menarik.

Alur merupakan bagian dari struktur cerita rekaan (karya fiksi). Alur (plot)
merupakan unsur fiksi yang penting (jiwa fiksi), bahkan tak sedikit orang yang
menganggapnya sebagai yang terpenting di antara berbagai unsur fiksi yang lain.
Tinjauan struktural terhadap karya fiksi pun sering ditekankan pada pembicaraan
alur. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain,
bagaimana suatu insiden memunyai hubungan dengan insiden lain, bagaimana
tokoh-tokoh harus digambarkan dan berperan dalam tindakan-tindakan itu, dan
bagaimana situasi dan perasaan karakter (tokoh) yang terlibat dalam tindakantindakan itu terikat dalam suatu kesatuan waktu. Kejelasan alur merupakan
kejelasan cerita, kesederhanaan alur berarti kemudahan cerita untuk dimengerti
(Nurgiyantoro, 1994:110).

Sebuah alur memiliki tiga unsur pembangun yaitu peristiwa, konflik, dan klimaks.
Pengembangan alur sebuah karya fiksi akan dipengaruhi oleh bangunan konflik
yang ditampilkan. Konflik merupakan inti dari sebuah alur, sumber adanya cerita.
Ada cerita saja tanpa didasari konflik di dalamnya tidak mungkin ada cerita yang
lengkap dan menarik. Sebuah rentetan cerita tanpa konflik di dalamnya tak akan
ada alur. Kemampuan pengarang untuk memilih dan membangun konflik melalui
berbagai peristiwa akan sangat menentukan kadar kemenarikan cerita yang
dihasilkan.
Konflik adalah sesuatu yang ―dramatik‖, mengacu pada pertarungan antara dua
kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan
(Warren, 1989: 285). Novel sebagai salah satu bentuk karya sastra yang juga
tergolong jenis fiksi, melibatkan permasalahan

atau konflik yang kompleks,

mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis merasa penting untuk mengadakan
penelitian mengenai konflik dalam novel. Objek dalam penelitian ini adalah novel
5 cm karya Donny Dhirgantoro. 5 cm merupakan novel baru dari seorang penulis
baru yang mengangkat konflik-konflik ringan yang membumi khususnya di
kalangan remaja. Selain itu, Isbedy Setiawan mengemukakan bahwa novel 5 cm
mampu menghidupkan kekuatan impian dan cita-cita melalui lima tokoh yang
ada. 5 cm kental dengan nuansa nasionalisme, tanpa terjebak mendoktrin kepada
pembaca. Penulis mengajak pembaca menikmati keindahan alam puncak
Mahameru, saat detik-detik prosesi memperingati ulang tahun Republik
Indonesia. Siapa pun akan bergetar ketika Sang Saka Merah Putih dikibarkan

menantang langit luas. Kecintaan kepada tanah air digambarkan dengan realis dan
logis. Penulis mampu memainkan perasan pembaca melalui peran-peran tokoh
dalam novel 5 cm. (http://isbedystiawanzs.blogspot.com/2008/12/5-cm-danfenomena-novel-popular.html)

Donny Dhirgantoro terbilang baru dalam pentas sastra di Indonesia, tetapi tidak
membuat isi novel ini seperti buatan penulis baru. Dengan gaya penulisan yang
mudah dipahami, membuat novel yang pertama kali terbit pada 21 Mei 2005 ini
patut menjadi bacaan kawulamuda yang menginginkan gaya penulisan berbeda
(http://jiwafreud.blogspot.com/2008/01/mimpi-dari-donny-dhirgantoro.html).

Novel 5 cm adalah sebuah kisah tentang lima anak muda (Arial, Genta, Ian, Riani
dan Zafran) yang telah menjalin persahabatan selama tujuh tahun. Kebiasaan
melakukan berbagai hal bersama membawa mereka pada satu titik yaitu rasa
bosan pada keadaan yang menurut mereka standar-standar saja. Mereka
memutuskan untuk tidak saling berkomunikasi dan bertemu satu sama lain selama
tiga bulan. Selama tiga bulan berpisah itulah masing-masing kembali menjadi diri
sendiri, berjuang sendiri mengejar mimpi dan cita-cita, masing-masing tokoh
memiliki konflik yang harus diselesaikan. Selama tiga bulan berpisah itulah telah
terjadi banyak hal yang membuat hati mereka lebih kaya dari sebelumnya.

Pertemuan setelah tiga bulan yang penuh dengan rasa kangen akhirnya terjadi dan
dirayakan dengan sebuah perjalanan. Sebuah perjalanan menuju puncak
Mahameru yang penuh keyakinan, mimpi, cita-cita, dan cinta. Sebuah perjalanan
yang kemudian mengubah mereka menjadi manusia-manusia sesungguhnya,
manusia-manusia baru dengan keyakinan tinggi untuk menggapai mimpi,

cita-cita, dan cinta, bukan cuma seonggok daging yang bisa berbicara, berjalan,
dan punya nama. 5 cm adalah novel yang membangun, ada banyak pelajaran yang
bisa didapat ketika membacanya. Banyak kata-kata yang mampu membakar
semangat dan perjuangan pembaca. Seperti dalam kutipan berikut.
―...begitu juga dengan mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan
kamu, apa yang kamu mau kejar taruh disini.‖ Ian membawa jari
telunjuknya menggantung mengambang di depan keningnya.
―Biarkan dia menggantung mengambang 5 centimeter di depan kening
kamu. Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan bawa mimpi
dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya
bahwa kamu bisa. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa
kamu akan mengejarnya sampai dapat, apa pun itu, segala keinginan,
mimpi, dan cita-cita, keyakinan diri...‖
―..dan sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih
jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih
sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja.
Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya. Serta mulut yang
akan selalu berdoa.‖
―…kamu akan dikenang sebagai seorang yang percaya pada kekuatan
mimpi dan mengejarnya, bukan seorang pemimpi saja., bukan orang biasabiasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah oleh keadaan. Percaya
pada 5 centimeter di depan kening kamu.‖ (5 cm, 362-363)
Betapa pun saratnya pengalaman dan permasalahan kehidupan yang ditawarkan
sebuah karya fiksi (dalam hal ini: novel), ia haruslah tetap merupakan cerita yang
menarik, tetap merupakan bangunan struktur yang koheren, dan tetap memunyai
tujuan estetik dan mendidik. Melalui sarana cerita tersebut pembaca secara tak
langsung dapat belajar, merasakan, dan menghayati berbagai permasalahan
kehidupan yang secara sengaja ditawarkan pengarang. Hal itu akan mendorong
pembaca untuk ikut merenungkan berbagai masalah dalam kehidupan. Oleh
karena itu cerita atau fiksi atau karya sastra pada umumnya, sering dianggap dapat
membuat manusia menjadi lebih arif, atau dapat dikatakan ―memanusiakan
manusia‖.

Sebuah karya sastra yang baik, mengajak orang untuk merenungkan masalahmasalah hidup yang musykil. Sebuah karya sastra mengajak orang untuk saling
mengasihi manusia lain (Mursal Esten, 1987:9). Jakob Sumardjo (1984: 14),
karya sastra berguna untuk mengenal manusia, kebudayan, serta zamannya.

Sudarni dalam Konferensi Internasional Kesusastraan XIX mengemukakan bahwa
dengan sastra orang akan berbudaya, dengan budaya orang akan bermartabat, dan
akhirnya dengan bermartabat orang akan bermanfaat. Pengajaran sastra akan
membantu siswa dalam mengembangkan wawasan terhadap tradisi dalam
kehidupan manusia, menambah kepekaan terhadap berbagai problema personal
dan masyarakat, dan bahkan sastra pun akan menambah pengetahuan siswa
terhadap berbagai konsep teknologi dan sains. (http://www.pusatbahasa.diknas.
go.id/laman/artikel/Sudarni-Bangka_Barat.pdf)

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, tersirat betapa pentingnya pengajaran
sastra di sekolah. Hal tersebut sejalan pula dengan tujuan umum pengajaran sastra
di sekolah yaitu, siswa mampu menikmati, menghayati, memahami, dan
memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas
wawasan kehidupan, meningkatkan pengetahuan, dan kemampuan berbahasa. Hal
ini juga dipertegas dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMA
tahun 2007, mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas XI semester 1.

Standar kompetensi

: (membaca) memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/
terjemahan.

Kompetensi dasar

: menganalisis unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik
novel Indonesia/ terjemahan.

Melalui kegiatan mengapresiasi karya sastra, dalam hal ini mengenai konflik yang
terdapat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro, diharapkan siswa dapat
menikmati dan mengambil hikmah dari novel tersebut, serta dapat mengenal dan
mengamalkan nilai-nilai moral yang dianggap baik dan luhur.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan
sebagai berikut.
―Bagaimanakah konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro dan
kelayakannya sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas
(SMA)?‖.
1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Mendeskripsikan konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro.
b. Menetapkan kelayakan konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro
sebagai bahan ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA).

1.4 Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoretis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoretis yaitu dapat
menambah referensi penelitian dibidang kesastraan, khususnya unsur intrinsik
novel. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi para peneliti
selanjutnya dalam pengembangan teori sastra yang memusatkan perhatian pada
unsur intrinsik novel yaitu konflik yang terdapat dalam alur sebuah karya fiksi.

b. Manfaat Praktis
1) Memberikan pengetahuan kepada pembaca, siswa, dan khususnya guru di
SMP maupun SMA mengenai materi konflik dalam novel, khususnya yang
terdapat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro.
2) Membantu guru Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya guru Sekolah
Menengah Atas (SMA), untuk mendapatkan alternatif bahan ajar sastra
Indonesia di sekolah.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Konflik dalam novel yang berjudul 5 cm karya Donny Dhirgantoro. Untuk
menganalisis konflik dalam novel ini, penulis mengacu kepada pendapat
Gorys Keraf (1981:168) yang membagi konflik yaitu, konflik manusia dengan
dirinya sendiri (konflik batin), konflik manusia dengan manusia, konflik
manusia dengan masyarakat, konflik manusia dengan alam.
b. Kelayakan konflik dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro sebagai bahan
ajar sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA) dilihat berdasarkan
tiga aspek berikut.
1) Bahasa
2) Psikologis
3) Latar belakang budaya

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Terhadap Novel

Istilah novel berasal dari kata Latin novellus yang diturunkan pula dari kata novies
yang berarti ―baru‖. Dikatakan baru karena jika dibandingkan dengan jenis-jenis
sastra lainnya seperti puisi atau drama, maka jenis novel ini muncul kemudian.
Novel merupakan salah satu jenis prosa yang paling banyak dibaca oleh
masyarakat dunia (Tarigan,1984:164).

Novel adalah karangan prosa yang panjang yang mengandung rangkaian cerita
dalam

kehidupan

seseorang

dengan

orang-orang

sekelilingnya

dengan

menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (Depdiknas, 1995: 694).

Novel merupakan ragam tulisan yang merupakan bagian dari prosa fiksi. Novel
memberi peluang untuk hadirnya banyak tokoh, pertikaian dan alur yang
kompleks, pengembangan lingkungan secara lebih luas, eksplorasi terhadap tokoh
secara mendalam (Abrams, 1981:119).

Novel merupakan pengungkapan dari fragmen kehidupan manusia (dalam jangka
yang lebih panjang) dimana terjadi konflik-konflik yang akhirnya menyebabkan
terjadinya perubahan jalan hidup antara para pelakunya (Mursal Esten, 1978: 12).

Pendapat serupa dikemukakan Cecep Syamsul Hari (http://cecepsyamsulhari.
webs.com/mencaridanmenemukan.htm), novel adalah sebuah prosa naratif yang
panjang dan kompleks, yang secara imajinatif berjalin dengan pengalaman
manusia melalui suatu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan satu sama
lain dengan melibatkan sekelompok atau sejumlah orang (tokoh, karakter) di
dalam latar yang spesifik.

Novel adalah sebuah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku
tertentu dengan pemeranan dari latar, serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu
yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin sebuah cerita
(Aminuddin, 2004:6)

Sejalan dengan Aminuddin, Tarigan (1991:164) mengemukakan bahwa novel
dibangun oleh jalannya suatu cerita atau alur. Novel adalah suatu cerita yang
panjang yang menceritakan kehidupan pria/ wanita. Karena bentuk novel yang
panjang, cerita tersebut ditulis dalam satu buku/ lebih. Hal ini sesuai dengan
pendapat yang mengatakan bahwa novel adalah sebuah cerita dengan suatu alur
yang cukup panjang mengisi satu buku/ lebih yang menggarap kehidupan pria/
wanita yang bersifat imajinatif. Novel terdiri dari pelaku-pelaku, mulai dari waktu
muda, mereka menjadi tua, mereka bergerak dari satu adegan ke adegan yang lain,
dari suatu tempat ke tempat yang lain (H.E Batus dalam Tarigan, 1991:164).

Sumardjo (1984:66) berpendapat bahwa novel merupakan karya sastra/ cerita
berbentuk prosa dalam ukuran panjang dan luas. Ia mengungkapkan ciri-ciri
pokok novel sebagai berikut.

a. Memiliki alur (plot). Sebuah novel biasanya memunyai plot pokok, yakni
batang tubuh cerita, ditambah/ dirangkai dengan plot-plot kecil. Plot-plot kecil
tadi hanyalah tambahan saja/ anak plot yang harus masih merupakan kesatuan/
bersifat menjelaskan plot utamanya. Karena struktur bentuknya yang luas ini,
maka sebuah novel dapat bercerita panjang lebar dan membahas secara luas
pula.
b. Memiliki tema. Di dalam tema juga terdapat tema utama dan tema-tema
sampingan yang fungsinya sama dengan plot. Inilah sebabnya dalam roman/
novel pengarang dapat membahas hampir semua segi persoalan dari tema
pokok.
c. Karakter. Tokoh-tokoh dalam novel/ roman juga banyak. Ada kalanya
memang hanya melukiskan beberapa tokoh utama saja, sedangkan tokoh lain
hanya digambarkan sekilas, hanya untuk melengkapi penggambaran tokohtokoh utama. Tetapi dalam novel/ roman, pengarang sering menghadirkan
banyak tokoh cerita yang masing-masing digambarkan secara secara lengkap
dan utuh, sehingga roman semacam itu seolah-olah merupakan konsentrasi
kisah beberapa tokoh besar.

Berdasarkan uraian mengenai pengertian novel di atas, penulis mengacu pada
pendapat Cecep Syamsul Hari, novel adalah sebuah prosa naratif yang panjang
dan kompleks, yang secara imajinatif berjalin dengan pengalaman manusia
melalui suatu rangkaian peristiwa yang saling berhubungan satu sama lain dengan
melibatkan sekelompok orang (tokoh, karakter) di dalam latar yang spesifik.
Novel memiliki cerita dengan alur yang kompleks, karakter yang banyak, suasana
cerita beragam, tema yang kompleks, dan setting yang beragam pula.

2.2 Tinjauan Terhadap Alur

Stanton dalam Nurgiyantoro (1994:113) mengemukakan bahwa alur adalah cerita
yang berisi urutan kejadian, tiap kejadian itu dihubungkan secara sebab akibat,
peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.
Foster dalam Nurgiyantoro juga mengemukakan bahwa alur adalah peristiwaperistiwa cerita yang memunyai penekanan pada adanya hubungan kausalitas.
Alur menampilkan kejadian-kejadian yang mengandung konflik yang mampu
menarik atau bahkan mencekam pembaca.

Abrams mengemukakan bahwa alur sebuah karya fiksi merupakan struktur
peristiwa-peristiwa, yaitu sebagaimana yang terlihat dalam pengurutan dan
penyajian berbagai peristiwa tersebut untuk mencapai efek emosional dan efek
artistik tertentu.

Alur ialah urutan peristiwa dari awal hingga akhir dalam sebuah cerita yang
berkaitan dengan perilaku tokoh-tokohnya/ perwatakan. Sebuah alur yang
meyakinkan terletak pada gambaran watak-watak yang mengambil bagian
didalamnya. Peristiwa-peristiwa cerita dalam alur didukung oleh pelukisan watakwatak tokoh dalam suatu rangkian alur yang menceritakan manusia dengan
berbagai persoalan, tantangan dalam kehidupannya. Nurgiyantoro (1995:165)
mengemukakan bahwa watak menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti
ditafsirkan oleh pembaca, lebih merujuk pada kualitas pribadi seorang tokoh.

Alur adalah bagaimana cara pengarang menyusun peristiwa-peristiwa tersebut di
dalam karya sastra yang didasarkan kepada hubungan kausalitas (Esten, 1984:40).

Alur merupakan rangkaian pola tindak-tanduk yang berusaha memecahkan
konflik yang terdapat dalam narasi itu, yang berusaha memulihkan situasi narasi
ke dalam suatu situasi yang seimbang dan harmonis (Keraf, 1992:147).
Pada dasarnya semua pendapat di atas mempergunakan kata ―kunci‖ peristiwaperistiwa yang berhubungan sebab akibat. Berdasarkan uraian mengenai
pengertian alur di atas, penulis mengacu pada pendapat Stanton dalam
Nurgiyantoro, alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, tiap kejadian itu
dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau
menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Alur mengemukakan peristiwa yang
terjadi, dan mengapa hal itu terjadi. Merupakan rentetan peristiwa sebab akibat,
dijalin dengan melibatkan konflik, atau pertikaian yang pada akhirnya terdapat
peleraian.

Secara teoretis, alur dapat diurutkan atau dikembangkan ke dalam tahap-tahap
tertentu secara kronologis. Namun dalam praktiknya, dalam langkah-langkah
―operasional‖, pengarang tak selamanya tunduk pada teori itu. Alur sebuah karya
fiksi sering tidak menyajikan urutan peristiwa secara kronologis dan runtut,
melainkan penyajian yang dapat dimulai dan diakhiri dengan kejadian yang mana
pun juga tanpa adanya keharusan untuk memulai dan mengakhiri dengan kejadian
awal dan kejadian (ter-) akhir. Dengan demikian, tahap awal cerita tidak harus
berada di awal cerita / dibagian awal teks, melainkan dapat terletak dibagian
manapun. Secara teoretis-kronologis, tahapan alur dikemukakan sebagai berikut.

a. Tahap penyituasian (situasion), merupakan tahap yang berisi pelukisan dan
pengenalan situasi latar dan tokoh (-tokoh) cerita. Tahap ini merupakan tahap
pembukaan cerita, pemberian informasi awal, dan lain-lain. Terutama,
berfungsi untuk melandastumpui cerita yang dikisahkan pada tahap
berikutnya.
b. Tahap pemunculan konflik (generating circumstances), dalam tahap ini
masalah (-masalah) dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik
mulai dimunculkan. Jadi tahap ini merupakan tahap awal munculnya konflik
dan konflik itu sendiri akan berkembang dan atau dikembangkan menjadi
konflik-konflik pada tahap berikutnya.
c. Tahap peningkat konflik (rising action), konflik yang telah dimunculkan pada
tahap

sebelumnya

semakin

berkembang

dan

dikembangkan

kadar

intensitasnya. Peristiwa-peristiwa dramatik yang menjadi inti cerita semakin
mencekam dan menegangkan. Konflik-konflik yang terjadi, internal, eksternal,
ataupun

keduanya,

pertentangan-pertentangan,

benturan-benturan

antar

kepentingan, masalah, dan tokoh yang mengarah ke klimaks semakin tak
dapat dihindari.
d. Tahap klimaks (climax), konflik atau pertentangan-pertentangan yang terjadi,
yang diakui atau ditimpakan kepada para tokoh cerita mencapai titik intensitas
puncak. Klimaks sebuah cerita akan dialami oleh tokoh (-tokoh) utama yang
berperan sebagai pelaku dan penderita terjadinya konflik utama.

e. Tahap penyelesaian (denouement), konflik yang telah mencapai klimaks diberi
penyelesaian, ketegangan dikendorkan. Konflik-konflik yang lain, subsubkonflik atau konflik-konflik tambahan, jika ada, juga diberi jalan keluar,
cerita diakhiri.

2.3 Peristiwa, Konflik, dan Klimaks

Alur dibangun oleh unsur peristiwa. Namun sebuah peristiwa tidak begitu saja
hadir. Peristiwa hadir akibat dari aktivitas tokoh-tokoh di dalam cerita yang
memiliki konflik atau pertentangan dengan dirinya sendiri, tokoh lainnya atau
dengan lingkungan di mana tokoh itu berada.

Selain itu, peristiwa-peristiwa bisa juga disebabkan oleh aktivitas alam yang
menimbulkan konflik dengan manusia. Setiap konflik akan bergerak menuju titik
intensitas tertinggi, dimana pertentangan tak dapat lagi dihindari. Itulah yang
disebut sebagai klimaks. Dengan demikian, sebuah plot dibangun oleh peristiwa,
konflik, dan klimaks.

Peristiwa dapat diartikan sebagai peralihan dari satu keadaan ke keadaan yang lain
(Luxamburg dkk, 1992: 150) dalam Nurgiyantoro (1994: 117). Peristiwa dan
konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan
yang lain, bahkan konflik pada hakikatnya merupakan peristiwa. Ada peristiwa
tertentu yang dapat menimbulkan terjadinya konflik. Sebaliknya, karena terjadi
konflik, peristiwa-peristiwa lain pun dapat bermunculan, misalnya yang sebagai
akibatnya.

Konflik memiliki pengertian pertarungan atau pertentangan antara dua hal yang
menyebabakan terjadinya aksi reaksi. Pertentangan itu bisa berupa pertentangan
fisik atau pertentangan yang terjadi di dalam batin manusia. Konflik merupakan
unsur terpenting dari pengembangan plot. Bahkan bisa dikatakan sebagai elemen
inti dari sebuah karya fiksi. Konflik demi konflik yang disusul oleh peristiwa
demi peristiwa akan menyebabkan konflik menjadi semakin meningkat. Konflik
yang telah sedemikian meruncing disebut klimaks.

2.4 Tinjauan Terhadap Konflik

Konflik adalah percekcokan; perselisihan; ketegangan atau pertentangan di dalam
cerita rekaan atau drama (pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam
diri satu tokoh, pertentangan antara dua tokoh, dan sebagainya) (Depdiknas,
1995:518). Pengertian serupa juga dikemukakan oleh Warren (1989:285), konflik
adalah sesuatu yang ―dramatik‖, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan
yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi dan aksi balasan.

Dengan demikian, konflik dalam pandangan kehidupan yang normal-wajarfaktual, artinya bukan dalam cerita, menyaran pada konotasi yang negatif, sesuatu
yang tak menyenangkan. Itulah sebabnya orang lebih suka menghindari konflik
dan menghendaki kehidupan yang tenang.

Konflik adalah kejadian yang tergolong penting (berupa peristiwa fungsional atau
utama), merupakan unsur yang esensial dalam pengembangan alur. Konflik
merupakan dasar suatu alur. Kemampuan pengarang untuk memilih dan
membangun konflik melalui berbagai peristiwa akan sangat menentukan kadar

kemenarikan, kadar suspense cerita yang dihasilkan. Bahkan sebenarnya, yang
dihadapi dan menyita perhatian pembaca sewaktu membaca suatu karya naratif
adalah (terutama) peristiwa-peristiwa konflik, konflik yang semakin memuncak ,
klimaks, dan kemudian penyelesaian (Burhan Nurgiyantoro,1994:122).

Konflik adalah persaingan dan pertentangan untuk memenangkan kepentingan
atau sumber-sumber daya yang ada dalam mayarakat. Konflik juga merupakan
kegalauan yang bersumber dari ketidaksepahaman antar pendapat beberapa pihak.
Konflik timbul dalam situasi dimana terdapat dua atau lebih kebutuhan, harapan,
keinginan dan tujuan yang tidak berkesesuaian, saling bersaing dan menyebabkan
salah satu tokoh atau lebih merasa ditarik ke arah dua jurusan yang berbeda
sekaligus, dan menimbulkan perasaan yang sangat tidak enak. Jika memunyai
kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih peristiwa itu menimpa
dirinya (Linda L. Davidoff, 1991:178). Namun hal tersebut tidak berlaku untuk
cerita yang diteksnaratifkan. Kehidupan yang tenang, tanpa adanya masalah
(serius) yang memicu munculnya konflik, dapat berarti ―tak akan ada cerita, tak
akan ada alur‖. Peristiwa kehidupan baru menjadi cerita jika memunculkan
konflik, bersifat dramatik, dan karenanya menarik untuk diceritakan.

Di dalam sebuah novel biasanya dimunculkan lebih dari satu konflik, misalnya
dengan adanya beberapa tokoh (utama) yang memiliki konflik (-konflik) sendiri,
walau kadar keutamaannya berbeda. Masing-masing konflik membangun alur
sendiri sehigga mereka akan sampai pada klimaks dan peleraian sendiri pula.

Konflik yang baik adalah konflik yang secara logika cerita memang wajar terjadi,
dan keberadaannya memang diperlukan untuk menggerakkan cerita, atau
menegaskan tema yang dipilih pengarang.

Gorys Keraf dalam buku Argumentasi dan Narasi (1981:168), membagi konflik
menjadi empat yaitu, konflik manusia dengan dirinya sendiri (konflik batin),
konflik manusia dengan manusia, konflik manusia dengan masyarakat, konflik
manusia dengan alam.

2.5 Konflik Manusia dengan Dirinya Sendiri

Konflik manusia dengan dirinya sendiri (atau: konflik batin) adalah konflik yang
terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh (atau: tokoh-tokoh) cerita. Ia lebih
merupakan permasalahan intern seorang manusia. Misalnya, hal itu terjadi akibat
adanya pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda,
harapan-harapan, atau masalah-masalah lainnya. Suatu pertarungan individual
melawan dirinya sendiri.

Dalam konflik ini timbul kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan dalam batin
seseorang, keberanian melawan ketakutan, kejujuran melawan kecurangan,
kekikiran melawan kedermawanan, antara keinginan tokoh untuk hidup
berkecukupan dengan tekadnya untuk tidak korupsi, dan sebagainya. Konflik
manusia dengan dirinya sendiri dapat dilihat pada kutipan berikut ini.
Lastri menagis tersedu-sedu di bawah pohon trembesi. Di sana, di dahan
trembesi, elang jantan sibuk merayu elang betina. Di atasnya, langit siang
begitu cerah, tetapi langit di hati Lastri begitu gundah. Lastri terjebak pada
keadaan yang tak berdaya. Akankah kehampaan kehidupan seorang anak
akan terus ia pilih, ataukah sepotong cinta yang harus ia korbankan demi
menuruti keinginan orang tuanya?

Kecantikan Lastri tidak mampu memberikan jawabannya. Kecerdasannya
memang mampu memberi tahu kepadanya bahwa terkadang seorang gadis
memang bisa saja terjebak pada dilema cinta — cinta pada orang tua
ataukah cinta kepada jiwanya. Kecerdasannya memberi tahu bahwa kedua
cinta itu harus bisa terdamaikan.Mencintai kedua orang tua seharusnya
tidak perlu mengorbankan harapan dan keinginan sendiri sebagai seorang
gadis yang akan memikat seorang laki-laki pujaan. Tetapi kecerdasannya
ternyata tidak mampu menolong mengatasi dilema itu ketika dia sendiri
yang mengalaminya. (Kafilah-Kafilah Cinta, 2008:206)

Kutipan di atas menunjukkan bagaimana tokoh Lastri sedang mengalami konflik
dalam dirinya. Muncul pertentangan dalam diri tokoh Lastri, ia sebagai seorang
gadis desa berada di antara pilihan untuk mengikuti keinginan kedua orang tuanya
untuk dijodohkan dengan lelaki yang tidak ia cintai atau memilih mengikuti kata
hatinya, memilih lelaki yang memang dicintainya dan menentang keinginan orang
tuanya.

Konflik manusia dengan dirinya sendiri (konflik batin), dapat pula dilihat pada
kutipan berikut.
Berkali sudah aku berusaha mencari tahu di mana Salmi Bulan, adakah ia
memang dimangsa kematian, atau ia diselamatkan tentara sewaan, dan
akhirnya menjadi wanita simpanan, atau dijadikan istri secara paksa.
Bertahun-tahun aku memendam kesedihan sendiri. Rasanya ada teriakan
khianat dan umpatan keserongan jika aku menyenangkan diriku dengan
wanita lain, sementara Salmi Bulan belum kuketahui hidup atau mati.
Bukankah ia telah sah menjadi istri, dan aku suami, meskipun kami baru di
atas pelaminan? Tetapi, jika Salmi sendiri sudah bersuami?
(Percintaan Angin, 2003:53)

Pada kutipan di atas, tokoh aku berada dalam situasi konflik yaitu pertentangan
dalam diri tokoh aku antara keinginan untuk tetap setia dan mencari istrinya,
Salmi Bulan yang telah lama menghilang atau memilih melupakan dan mencari
wanita lain. Dalam diri tokoh aku muncul dugaan-dugaan, bahwa kemungkinan
Salmi Bulan justru telah bersuami lagi.

2.6 Konflik Manusia dengan Manusia (antar manusia)

Konflik antar manusia adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak antara
manusia dengan manusia atau masalah–masalah yang muncul akibat adanya
hubungan antarmanusia. Ia antara lain berwujud perkelahian antara seorang
dengan seorang yang lain karena masalah-masalah pribadi, atau kasus-kasus
hubungan antar manusia lainnya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.
Dengkurannya semakin keras. Kali ini masalah di antara kita sudah
selesai, kedudukannya sudah berubah. Aku melompat dari meja yang lebih
rendah. Kuguncang bahunya dengan keras: ―Ayah, bangunlah.‖
Ia tak akan pernah memahamiku. Kami akan selalu merasa asing terhadap
satu sama lainnya. Seperti dua kolam di halaman yang sama tanpa adanya
terusan yang menghubungkan keduanya. Quang telah meninggal. Tali
penghubung terakhir antara kami telah terputus.
―Keluarga kita tidak ikut bertanggung jawab atas gerakan perlawanan.
Aku anak tertua. Sudah menjadi kewajibanku untuk pergi. Tetapi ia
berbeda. Ia sangat pandai, berhasil memenangkan pernghargaan kedua
dalam kompetisi matematika tingkap provinsi. Ia ingin belajar ilmu
komputer. Aku menulis surat kepadamu tentang hal itu...‖
Dengan gusar, ayahku bicara: ―Surat apa? Aku tidak ingat ada surat.‖
―Kau sebenarnya mengetahui betul surat apa itu.‖
―Oh, jadi kau menuduhku berbohong?‖
―Aku menerima surat dari Quang. Ia bilang ia ingin belajar ilmu komputer,
tetapi kau mendesaknya untuk mendaftarkan dirinya ke dinas militer. Ia
bilang kau yang menyuruhnya, ‗Pada masa perang, masa depan menjadi
milik para pejuang.‘ Kau bahkan menghadiri pertemuan partai yang
memutuskan untuk memobilisasinya. Itu fakta.
―Tidak banyak orang yang memiliki kecerdasan seperti dia. Ia bisa saja
menjadi...‖ Tiba-tiba saja, aku tidak dapat lagi meneruskan ucapanku.
Rasanya leherku tercekik. Tidak ada gunanya berbicara dengan
ayahku.(Novel Tanpa Nama, 2007:137-138)
Pada kutipan di atas, terjadi konflik manusia dengan manusia, yaitu konflik antara
tokoh Aku dengan ayah. Tokoh aku merasa marah ketika mendapat kabar tentang
kematian adiknya akibat berjuang di medan perang. Tokoh aku menyalahkan ayah
karena tokoh ayah yang telah memaksa adiknya untuk mendaftarkan diri ke dinas
militer.

2.7 Konflik Manusia dengan Masyarakat

Konflik manusia dengan masyarakat adalah konflik yang disebabkan oleh adanya
kontak sosial antara manusia dengan manusia dalam struktur masyarakat luas. Ia
antara lain berwujud masalah suatu kelompok manusia dalam negara melawan
pemerintah negara itu, sebuah negara melawan negara yang lain, saingan atau
pertarungan dalam perdagangan, persaingan antara kelompok-kelompok dalam
masyarakat, atau kasus-kasus hubungan sosial lainnya.

Masyarakat merupakan sebuah komunitas yang saling bergantung satu sama lain.
Umumnya istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang
hidup bersama dalam satu komunitas teratur. Masyarakat adalah sejumlah
manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka
anggap sama (Depdiknas, 1995:635). Sebuah masyarakat hidup dan bekerja sama
dalam waktu yang relatif lama dan mampu membuat keteraturan dalam kehidupan
bersama dan mereka menganggap sebagai satu kesatuan sosial.

Masyarakat tidak begitu saja muncul seperti sekarang ini, tetapi adanya
perkembangan yang dimulai dari masa lampau sampai saat sekarang ini.
Masyarakat ini kemudian berkembang mengikuti perkembangan zaman sehingga
kemajuan yang dimiliki masyarakat sejalan dengan perubahan yang terjadi secara
global. Masyarakat seperti ini dikenal sebagai masyarakat besar, seperti dalam
sebuah negara.

Di dalam sebuah masyarakat besar pasti muncul kelompok kecil (small group).
Hal itu disebabkan karena manusia mungkin tidak memunyai kepentingan-

kepentingan sama. Manusia memerlukan perlindungan dari rekan-rekannya.
Manusia memunyai kemampuan yang terbatas di dalam pergaulan hidup, keadaan
demikian menyebabkan timbulnya kelompok kecil yang merupakan wadah orang
yang mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama. Kelompok kecil (small
group) adalah suatu kelompok yang secara teoretis terdiri dari paling sedikit dua
orang, dimana orang-orang saling berhubungan untuk memenuhi tujuan-tujuan
tertentu dan yang menganggap hubungan itu sendiri penting baginya. Small group
pada hakikatnya merupakan sel yang menggerakkan suatu organisme yang
dinamakan masyarakat. (Soekanto, 2007:144)

Sebuah kehidupan bermasyarakat tidak akan terlepas dari konflik, konflik
merupakan gelajala alamiah yang tidak dapat dielakkan. Menurut Ralf Dahrendorf
dalam Ritzer (2005:153), konflik menyebabkan perubahan dan perkembangan.
Dahrendorf mengemukakan bahwa segera setelah kelompok konflik muncul,
kelompok itu melakukan tindakan yang menyebabkan perubahan dalam struktur
sosial. Konflik membantu fungsi komunikasi. Sebelum konflik, kelompokkelompok mungkin tidak percaya terhadap posisi musuh mereka, tetapi akibat
konflik, posisi dan batas antar kelompok ini sering menjadi diperjelas. Karena itu,
individu bertambah mampu untuk memutuskan mengambil tindakan yang tepat
dalam hubungannya dengan musuh mereka. Konflik juga memungkinkan pihak
yang bertikai menemukan ide, menemukan kekuatan relatif mereka dan
meningkatkan kemungkinan untuk saling mendekati atau saling berdamai.

Kutipan berikut ini merupakan contoh konflik antara manusia dengan pemerintah,
yaitu terjadi antara anggota pers dengan pemerintah Hindia Belanda, yang diambil
dari novel Kembang Jepun karya Remy Sylado.

Sehabis J.A. Nieland membacakan dakwaannya, hakim ketua memalu
meja, lalu bertanya kepada Tjak Broto, ―Apa tuan paham dakwaan
terhadap diri tuan?‖
―Maaf beribu maaf, tuan hakim, saya tidak paham sama sekali.‖
―Tuan tidak paham pada beberapa bagian dakwaan, atau salah satu bagian
saja?‖
―Maksud saya, tuan hakim, saya tidak paham jalan logika tuan jaksa, yang
mengatakan saya membangkang pada peraturan pemerintah Hindia
Belanda, dan bahwa yang saya tulis itu isapan jempol untuk menghasut
rakyat.‖
..........................
―Kalau begitu apa motivasi tuan menulis semua itu?‖ kata Nieland.
―Saya ingin membantu pemerintah Hindia Belanda untuk informasi yang
betul. Tugas pers adalah memberikan informasi yang benar bagi segenap
pembaca, baik pemerintah maupun rakyat. Pemerintah Hindia Belanda
selama ini memperoleh informasi yang tidak benar, sebab infomasi itu
datang dari para demang, wedana, bupati yang korup, karena terlalu asyik
mementingkan pribadi...‖ (Kembang Jepun, 2004:77)
Pada kutipan di atas, Tjak Broto sebagai seorang anggota pers koran Tjahaya
Soerabaya dituduh Pemerintah Hindia Belanda menulis berita bohong terkait
kelalaian pemerintah menangani mandor dan makelar kuli kontrak, menyebabkan
kuli kontrak hidup sengsara di luar Jawa. Pemerintah Hindia Belanda di Surabaya
sebenarnya telah sejak lama memperhatikan Tjahaya Soerabaja sebagai suara
pembela gerakan nasional sehingga pemerintah berusaha melakukan pembredelan
terhadap koran tersebut. Konflik akhirnya berujung di meja pengadilan.

Konflik manusia dengan masyarakat, dapat pula dilihat pada kutipan berikut.
Ternyata di luar, mahasiswa mulai menggelar demo. Beberapa orang
mengangkat poster dan merentang spanduk. Spanduk kebanyakan berisi
penolakan kehadiran sang menteri yang menurut mahasiswa tengah

mencari dukungan politik. Sang menteri dianggap menggunakan kampus
untuk mencari dukungan mencalonkan diri jadi presiden!
....................................
Suasana semakin hiruk pikuk, ketegangan mulai menjalar membuat panik
mahasiswa yang rada penakut. Beberapa mahasiswa bernyali batu
mencoba maju dari barisan, meneriaki aparat yang menyambut dengan
ayunan pentungan yang menyambar ke sana kemari, meninggalkan memar
memerah di berbagai tempat pada tubuh-tubuh mahasiswa. Keberingasan
dari kedua pihak mulai menggumpal. Wajah-wajah keras pasukan
berhadapan dengan wajah-wajah marah mahasiswa yang merasa kegiatan
mereka di kampus sendiri diintervensi aparat. (Epigram, 2006:63)

Kutipan di atas merupakan contoh konflik yang terjadi di sebuah kampus. Konflik
terjadi antara mahasiswa dengan aparat keamanan. Mahasiswa menolak
kedatangan seorang menteri ke kampus mereka. Mahasiswa merasa bahwa sang
menteri tengah mencari dukungan politik. Sang menteri dianggap menggunakan
kampus untuk mencari dukungan guna mencalonkan diri menjadi presiden.
Mahasiswa menolak kampus mereka dipolitisir. Meskipun maksudnya memang
belum jelas, tetapi sebagian kecil aktivis mahasiswa menanggapinya dengan
serius. Akhirnya terjadi keributan antara aparat dan mahasiswa, saat para
mahasiswa menggelar demonstrasi.

2.8 Konflik Manusia dengan Alam

Konflik manusia dengan alam adalah konflik yang disebabkan adanya perbenturan
antara tokoh dengan elemen alam. Suatu pertarungan yang dilakukan oleh seorang
tokoh atau manusia secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melawan kekuatan
alam yang mengancam hidup manusia itu sendiri. Hal ini dapat dilihat pada
kutipan berikut.
Hujan. Kepadanya tanah-tanah kering dan tandus berharap. Tanah-tanah
sawah terbengkalai dalam pelukan kemarau, bermimpi tentang kesejukan
yang ditawarkan selokan.

Sungai Serang yang mengalir gagah di tahun 80-an yang mengalir di utara
Pedukuhan Tempel, kini seumpama liukan ular kurus yang kelaparan dan
tak terurus. Dengan dipimpin sesepuh dukuh, warga tempel sebenarnya
telah menjalankan shalat istisqo‘ sebanyak 3 kali, tapi hujan juga tidak
datang-datang. Musim kemarau begitu menyengsarakan warga Dukuh
Tempel. Semua warga masih ingat, tiga bulan yang lalu, tetua Dukuh
Tempel membuat kesepakatan bersama warga dukuh. Tidak ada warga
yang tidak tahu bahwa hanya ada dua sumur yang masih menyimpan air.
Dari dua sumur itu, hanya satu sumur saja yang boleh digunakan, sebab
sumur yang satunya hanya boleh digunakan untuk keperluan masjid.
Barang siapa ketahuan menggunakannya, maka ia pantas untuk ―di
massa‖— sebuah istilah yang dipakai warga untuk menghakimi dia yang
ketahuan mengambil air dari sumur tersebut.
(Kafilah-Kafilah Cinta, 2008:3)

Berdasarkan kutipan tersebut terlihat konflik yang dialami Warga Dukuh Tempel
dengan alam, yaitu melawan kemarau yang berkepanjangan. Betapa kemarau
menyengsarakan warga dukuh tersebut. Warga Tempel akhirnya membuat sebuah
kesepakatan untuk mengatasi masalah kemarau di dukuh mereka yaitu dengan
mengatur pemakaian air seluruh warga dukuh tersebut. Kutipan di atas
menggambarkan bagaimana manusia bertarung melawan alam atau melawan
bencana yang ditimbulkan oleh sebagian dari lingkungannya.

2.9 Pembelajaran Sastra (Novel) di Sekolah Menengah Atas (SMA)

Pembelajaran sastra (dalam hal ini: kegiatan mengapresiasi novel) di sekolah
sangat penting. Dalam karya sastra khususnya novel banyak pelajaran dan nilainilai positif yang dapat diambil. Kegiatan mengapresiasi karya sastra berkaitan
erat dengan upaya mempertajam perasaan, penalaran, dan daya khayal, serta
kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan.

S. Effendi dalam Supriyadi (1996:310) mengemukakan bahwa apresiasi sastra
adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh
pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang
baik terhadap cipta sastra.

Yus Rusyana dalam Supriyadi (1996:310), apresiasi sastra dapat diterangkan
sebagai pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra dan
kegairahan kepadanya, serta kenikmatan yang timbul sebagai akibat semua itu.
Dalam mengapresiasi sastra, seseorang mengalami (dari hasil sastra itu)
pengalaman yang telah disusun oleh pengarangnya. Panuti dalam Supriyadi juga
menyebutkan bahwa apresiasi sastra ialah penghargaan (terhadap karya sastra)
yang didasarkan pada pemahaman. Untuk memahami dan menghayati karya
sastra, siswa diharapkan langsung membaca karya sastra, bukan membaca
ringkasannya.

Sapardi Djoko Damono juga mengemukakan bahwa siswa harus diarahkan untuk
membaca buku sebanyak-banyaknya. Cara itu akan lebih membuka wawasan
siswa. Salah satu sumber bacaan bagi siswa adalah novel. Porsi bacaan yang
dibaca oleh siswa harus dibuat secara berjenjang. Hal tersebut bertujuan agar
pelajaran sastra bisa berlangsung sistematis. Penjenjangan jumlah bacaan yang
dibaca siswa akan membuat penumbuhan kecerdasan siswa berkembang dari
tahun ke tahun. Wawasan siswa tidak mandek pada sumber bacaan yang itu-itu
saja. (http://pendis.depag.go.id.lama/cfm/index.cfm?fuseaction=kajianBerita&
Berita_ID=9428&sub=7)

Pada dasarnya tujuan umum pengajaran sastra di sekolah yaitu, siswa mampu
menikmati, menghayati, memahami, dan memanfaatkan karya sastra untuk
mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, meningkatkan
pengetahuan, dan kemampuan berbahasa. Novel sebagai salah satu jenis karya
sastra yang termasuk dalam genre prosa dapat dijadikan alternatif bahan
pembelajaran sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA).

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SMA tahun 2007, mata
pelajaran bahasa dan Sastra Indonesia yang terkait dengan konflik dalam novel,
terdapat pada kelas XI semester 1. Standar Kompetensi: (membaca) memahami
berbagai hikayat, novel Indonesia/ terjemahan. Kompetensi Dasar: menganalisis
unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik novel Indonesia/ terjemahan.

Melalui kegiatan mengapresiasi unsur-unsur dalam karya sastra, dalam hal ini
konflik dalam novel, memungkinkan siswa untuk menambah wawasan tentang
permasalahan-permasalahan hidup, serta cara mengatasinya. Selain itu, siswa juga
dapat mengambil nilai-nilai moral yang terkandung dalam novel.

Rahmanto (1993:27) mengemukakan

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2961 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 756 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 653 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 424 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 579 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 973 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 888 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 539 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 797 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 959 23