Pengendalian Degradasi Sumberdaya Alam Pesisir Melalui Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (Studi Kasus di Komunitas Nelayan Dan Petambak Kota Bengkulu)

(1)

PEN GEN DALI AN DEGRADASI SU M BERDAY A

ALAM PESI SI R M ELALU I PEM BERDAY AAN

M ASY ARAK AT PESI SI R

(

St udi k a sus di k om unit a s ne la ya n da n pe t a m ba k K ot a Be ngk ulu)

H EN N Y APRI AN T Y

SEK OLAH PASCASARJ AN A

I N ST I T U T PERT AN I AN BOGOR


(2)

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi dengan judul :

Pengendalian Degradasi Sumberdaya Pesisir melalui Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (Studi kasus di komunitas nelayan dan petambak Kota Bengkulu)

adalah karya saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Agustus 2008

Henny Aprianty NRP 995233


(3)

ABSTRACT

HENNY APRIANTY. Degradation Control of Coastal Resources through the Empowerment of the Coastal Community (A Case Study of Fishermen and pond owners in Bengkulu City). Under the guidance of HADI S. ALIKODRA, KOOSWARDHONO,M., ENDRIATMO SOETARTO and LALA M. KOLOPAKING.

There are two phenomena regarding the coastal areas of Bengkulu City. First, in general coastal resources have not been optimally managed. Second, partially the condition of the coastal areas in Bengkulu City has been marked by abrasion, destruction of mangrove trees, destruction of coral riffs, and high volume of sedimentation, unorganized and poor dwelling areas on the coast, not to mention the socio-economic condition of the people which is still below the poverty line.

This research was aimed at studying the condition of natural resources on the coastal area, community structure and institutional structure that marginalize fishing community with the destruction of coastal resources and formulating a strategy to control the degradation of coastal resources through the empowerment of coastal community.

The study used qualitative approach, quantitative approach and Multi-criteria Decision Analysis (MCDA) approach. Qualitative approach primarily used emik approach through a case study. Quantitative approach used a survey method and Multi-criteria Decision Analysis (MCDA) approach with A’WOT technique. The condition of coastal resources was analyzed by analytical method of production surplus for the potential fishery resources, ecological analysis, and correlation analysis of spatial data for the condition of mangrove resources. Community structure of fishermen used the framework of sustainable livelihood. Community institution of fishermen was analyzed with descriptive analysis. The strategy for community empowerment used the analysis of integrated concept, SWOT and AHP.

The research result showed that the condition of coastal resources in Bengkulu City, especially marine fishery resources to have been “over-fishing”, where the actual potential had exceeded conservation potential. It was caused by the increase in production input; at the same time, the catch effort was going down. The mangrove forest in the research area had been degradated while had decreased in size from 2002 until 2007 by 174.94 ha or on the average of 35 ha/year. The destruction of mangrove forest in Teluk Sepang village was due to the change of function from mangrove forest to palm oil plantation, holticulture plantation and the collection area of coal. In the meantime, in Sumberjaya village and Kandang village, the destruction was caused by the opening of coastal ponds and dwelling areas.

In the structure of fishing community, it was revealed that physical capital, human capital, financial capital, natural capital and social capital of the fishermen in Teluk Sepang, Kandang and Sumberjaya were considered low. Social structure was stratified based on the difference in economic condition and kinds of job which places an employer (toke) on the highest social stratification. Employers control production asset and capital. The second layer was occupied by tekong,


(4)

pond owners and cingkau. The lowest layer was occupied by pelacak fishermen and pond labourer. The domination of the upper layer on production asset and capital had brought about the dependence on them, creating a patron-client structure and influencing the production method of coastal community towards natural resources.

The institutional structure of work relationship, institution of result sharing, institution of marketing and capitalization in the research area showed different patterns. Fishermen in Teluk Sepang and Kandang with traditional catch patterns, patron-client structure in the work relationship did not exit. Meanwhile Sumberjaya fishermen with modern fishing patterns (having more variations in catching equipment and catching fleet), the institution of work relationship showed the existence of patron-client relationship. The institution of profit loss sharing among fishermen in Teluk Sepang consisted of divided-into-two and divided-into-three patterns, in Kandang consisted of divided-into-two and divided-into-six pattern, while Sumberjaya fishermen divided the result based on catching tools used. Long fishing net, floating net, fishing tool, and fish trap used divided-into-two pattern. Purse seine used divided-into-four pattern. The marketing system and capitalization of coastal community in the reseach area were controlled by toke,juragan and fish seller (cingkau) as owner capital and production asset. With this description, each structure was controlled by the power which owned the production asset and capital that made it asymmetrical between those who played a role and who didn’t in the production process, which finally created an income gap. The income gap between potential fishermen acted as a trigger for the destruction of coastal resources.

Controlling strategy of coastal resource degradation through the empowerment of coastal community in Bengkulu City is supporting program of the lowest layer coastal community with done communities intervention with step as (a) by creating of institution economic (a family cooperation) based on of relationship social; (b) by activity of conservation and rehabilitation of mangrove forest with developing partisipative community; (c) by the improvement in catching technology based on environmental-friendly principle through a profesion grouping and (d) by improvement silvofishery system in management of pond with developing butoum up.

Keywords: degradation of coastal resources, community structure, community institution, community empowerment.


(5)

RINGKASAN

HENNY APRIANTY. Pengendalian Degradasi Sumberdaya Pesisir melalui Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (Studi kasus pada nelayan dan petambak Kota Bengkulu). Dibimbing oleh HADI S. ALIKODRA, KOOSWARDHONO,M., ENDRIATMO SOETARTO dan LALA M. KOLOPAKING.

Ada dua fenomena yang tergambar di wilayah pesisir Kota Bengkulu, pertama pada umumnya pengelolaan sumberdaya pesisir belum dilakukan secara optimal, kedua secara parsial kondisi sebagian wilayah pesisir Kota Bengkulu mengalami kerusakan seperti abrasi pantai, rusaknya hutan mangrove, rusaknya terumbu karang, serta tingginya sedimentasi, penataan pemukiman di pinggir pantai yang kurang rapi dan kumuh, sementara itu kondisi sosial ekonomi tetap berada dibawah garis kemiskinan, tingginya konflik di wilayah pesisir dan banyak pemakaian alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengkaji kondisi sumberdaya alam wilayah pesisir, struktur masyarakat dan struktur kelembagaan yang memarginalkan masyarakat pesisir dengan tindakan kerusakan sumberdaya pesisir dan merumuskan strategi pengendalian degradasi sumberdaya pesisir melalui pemberdayaan masyarakat pesisir.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, pendekatan kuantitatif dan pendekatan Multicriteria Decision Analysis (MCDA). Pendekatan kualitatif lebih mengutamakan pendekatan emik dengan metode studi kasus. Pendekatan kuantitatif dengan metode survei dan pendekatan multicriteria decision analysis (MCDA) dengan teknik A’WOT. Kondisi sumberdaya alam wilayah pesisir dianalisis menggunakan analisis ekologis dan analisis korelasi data spatial. Struktur masyarakat pesisir menggunakan kerangka sustainable livelihood. Kelembagaan masyarakat pesisir dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Strategi pemberdayaan masyarakat menggunakan analisis konsep keterpaduan SWOT dan AHP.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sumberdaya alam pesisir Kota Bengkulu diantaranya sumberdaya perikanan laut telah terjadi tangkap lebih (overfishing) dikarenakan potensi aktual melebihi potensi lestari. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan input produksi, tetapi upaya tangkap mengalami penurunan. Hutan mangrove di daerah penelitian mengalami degradasi, dimana terjadi penurunan luas dari tahun 2002 sampai tahun 2007 sebesar 174,94 ha atau rata-rata 35 ha/tahun. Penyebab kerusakan hutan mangrove di Kelurahan Teluk Sepang dikarenakan berubahnya fungsi hutan mangrove menjadi perkebunan sawit, perkebunan hortikultura dan tempat penampungan batu bara. Di Kelurahan Kandang dikarenakan pembukaan tambak. Sedangkan di Kelurahan Sumberjaya, dikarenakan pembukaan tambak dan permukiman.

Dalam struktur masyarakat pesisir terungkap bahwa modal fisik, modal manusia, modal finansial, modal alamiah dan modal sosial yang dimiliki di Teluk Sepang, Kandang dan Sumberjaya terkategori rendah. Struktur sosial terstratifikasi berdasarkan perbedaan ekonomi dan jenis pekerjaan yang menempatkan juragan/toke pada lapisan sosial teratas. Juragan/toke menguasai aset produksi dan modal. Lapisan kedua ditempati oleh tekong, petambak dan cingkau. Lapisan paling bawah adalah nelayan pelacak dan buruh tambak.


(6)

Dominasi lapisan atas terhadap aset produksi dan modal menimbulkan ketergantungan relatif tinggi sehingga menciptkan struktur patron klien yang mempengaruhi cara produksi (made of production) masyarakat pesisir terhadap sumberdaya alam.

Struktur kelembagaan hubungan kerja, kelembagaan bagi hasil, kelembagaan pemasaran dan permodalan di daerah penelitian menunjukkan pola yang berbeda. Nelayan Teluk Sepang dan Nelayan Kandang dengan pola nelayan tangkap tradisional, kelembagaan hubungan kerja tidak menunjukkan ada struktur patron klien. Sedangkan nelayan Sumberjaya dengan pola nelayan modern (lebih beragam alat tangkap dan armada penangkapan), kelembagaan hubungan kerja menunjukkan adanya hubungan patron klien. Kelembagaan bagi hasil nelayan Teluk Sepang dengan pola bagi dua dan bagi tiga. Pola bagi hasil Nelayan Kandang bagi dua dan bagi enam. Nelayan Sumberjaya, bagi hasilnya berdasarkan alat tangkap. Alat tangkap jaring payang (gillnet), jaring insang hanyut/udang, pancing, dan bagan perahu mempuyai pola bagi dua. Alat tangkap jaring pukat cincin (purse seine) mempuyai pola bagi empat. Sistem pemasaran dan permodalan nelayan Teluk Sepang di kendalikan oleh bagian pemasaran dari kelompok nelayan, sedangkan pemasaran hasil di Nelayan Kandang dikendalikan toke/juragan/keluarga. Sementara itu sistem pemasaran dan permodalan Nelayan Sumberjaya di kendalikan juragan/toke dan cingkau (pedagang ikan). Dengan gambaran tersebut ternyata masing-masing struktur digerakkan kekuatan yang memiliki asset produksi dan modal sehingga menimbulkan hubungan asimetris antara yang berperan dan yang tidak berperan dalam proses produksi, yang akhirnya menciptakan ketimpangan pendapatan. Ketimpangan pendapatan antar nelayan berpotensi sebagai pemicu kerusakan sumberdaya alam pesisir.

Hubungan kerja, bagi hasil dan pemasaran serta permodalan dalam komunitas petambak sebagian besar digerakkan oleh pemilik modal (juragan/toke/perusahaan ikan) sehingga terbentuk pola hubungan patron klien yang selain merupakan hubungan kerja secara ekonomi juga terjadi hubungan sosial. Semakin menguatnya sistem patron klien dikalangan petambak menciptakan ketidak merataan distribusi pendapatan sehingga menyebabkan kemiskinan yang berpotensi mendorong tindakan merusak sumberdaya alam pesisir.

Strategi pengendalian degradasi sumberdaya pesisir melalui pemberdayaan masyarakat pesisir adalah program pendampingan dengan melakukan intervensi komunitas dengan langkah-langkah pemberdayaan yang bertujuan (a) pembentukan kelembagaan ekonomi (koperasi keluarga) berbasiskan kekerabatan, (b) kegiatan konservasi dan rehabilitasi hutan mangrove dengan pendekatan partisipatif; (c) pengembangan teknologi penangkapan yang ramah lingkungan melalui kelompok-kelompok profesi, dan (d) mengembangkan sistem silvofishery dalam pengelolaan tambak dengan pendekatanm buttom up.

Kata Kunci : degradasi sumberdaya alam pesisir, struktur masyarakat, kelembagaan masyarakat, pemberdayaan masyarakat.


(7)

© Hak Cipta Milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2008

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tampa mencantumkan atau menyebutkan sumber.

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.


(8)

PEN GEN DALI AN DEGRADASI SU M BERDAY A ALAM PESI SI R M ELALU I PEM BERDAY AAN M ASY ARAK AT PESI SI R

(

St udi k a sus di k om unit a s ne la ya n da n pe t a m ba k K ot a Be ngk ulu

)

H EN N Y APRI AN T Y

Dise rt a si

Se ba ga i sa la h sa t u sya ra t unt uk m e m pe role h ge la r Dok t or pa da

Progra m St udi I lm u Pe nge lola a n Sum be rda ya Ala m da n Lingk unga n

SEK OLAH PASCASARJ AN A

I N ST I T U T PERT AN I AN BOGOR


(9)

Penguji Luar Komisi pada :

Ujian Tertutup : DR. IR. Etty Riani, MS

Ujian Terbuka : 1. Prof. DR. IR. Cecep Kusmana, MS 2. Prof. DR. IR. Abdullah Syarief M., MS


(10)

Judul Disertasi : Pengendalian Degradasi Sumberdaya Pesisir melalui Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (Studi kasus di komunitas nelayan dan petambak Kota Bengkulu)

Nama : Henny Aprianty NRP : 995233

Program Studi : Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Disetujui, Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Hadi S. Alikodra,MS Prof. Dr. Ir. Kooswardhono M, M.Sc Ketua Anggota

Prof. Dr. Endriatmo Soetarto, MA Dr. Ir. Lala M. Kolopaking, MS Anggota Anggota

Diketahui,

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana, Pengelolaan Sumberdaya Alam Dekan

dan Lingkungan

Prof.Dr. Ir. Surjono H. Sutjahtjo,MS Prof. Dr. Ir. Khairil Anwar N, MS


(11)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahirrabil’aalamin. Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkah dan rahmat yang telah dilimpahkan sehingga penulis dapat menyelesaikan disertasi ini. Penulisan disertasi dengan judul: Pengendalian Degradasi Sumberdaya Alam Pesisir melalui Pemberdayaan Masyarakat Pesisir (Studi kasus di komunitas nelayan dan petambak Kota Bengkulu). Pengendalian degradasi sumberdaya alam pesisir Kota Bengkulu dalam bentuk kelembagaan partisipatif yang mengintegrasikan kepentingan ekonomi dan kepentingan lingkungan yang berbasiskan kekerabatan.

Ucapan terima kasih yang tidak terhingga disampaikan kepada Prof. DR. Ir. Hadi S. Alikodra, MS selaku ketua komisi pembimbing, Prof. DR. Ir. Kooswardhono M, MSc, Prof. DR. Endriatmo Soetarto, MA dan DR. Ir. Lala M. Kolopaking, MS selaku anggota komisi pembimbing, atas bimbingan, dorongan semangat dan moril serta nasehat, sehingga penulis dapat menyelesaikan disertasi ini.

Ucapan terima kasih disampaikan pula kepada :

1. Rektor Universitas Prof. DR. Hazairin, SH Bengkulu yang telah memberikan izin tugas belajar di sekolah pascasarjana IPB.

2. Ketua Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Sekolah Pascasarjana IPB yang telah mengarahkan dan memfasilitasi penulis selama mengikuti pendidikan.

3. Penguji luar komisi pada ujian tertutup DR. IR. Etty Riany, MS. Prof. DR. IR. Cecep Kusmana, MS (Guru Besar Departemen Silvikultur, Fakultas kehutanan IPB) dan Prof. DR. IR. Abdulllah Syarief.M, MS. (Peneliti Utama Biologi Satwa Liar pada Puslitbang Hutan dan Konservasi, Departemen Kehutanan) sebagai penguji luas komisi pada ujian terbuka serta seluruh rekan-rekan yang secara langsung maupun tidak langsung telah memotivasi dalam penyelesaian disertasi.

Do’a yang tulus dan ucapan terima kasih penulis sampaikan, khusus untuk suamiku tercinta Zurqani Ridwan, S.Sos, ananda Aurora Hega Ramadhanty,


(12)

Muhammad Adha Ridwan, Ayahnda Drs. Nurdin Kulana, Ibunda Halimah Djapiloes, Kakanda Win Heryati, adinda Nopetri Elmanto dan Ahmad Yani serta keluarga besar yang senantiasa telah memberikan do’a, kesabaran, dorongan, harapan, pengertian dan bantuan yang diberikan selama menempuh pendidikan.

Penulis menyadari bahwa disertasi ini tidak terlepas dari kelemahan dan kekurangan karena kesempurnaan hanyalah milik Allah. Semoga disertasi ini dapat memberikan sumbangan pemikiran dan pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

Bogor, Agustus 2008

Henny Aprianty


(13)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Manna, Bengkulu Selatan pada tanggal 11 April 1971 sebagai anak kedua dari pasangan H. Drs. Nurdin Kulana dan Hj. Halimah Djapiloes. Pendidikan sarjana (S1) di tempuh di Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Bengkulu, lulus pada tahun 1994. Pada tahun 1995, penulis diterima di Program Studi Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) Program Pascasarjana (S2) Universitas Andalas Padang dan menamatkannya pada tahun 1998. Pada tahun yang sama penulis menjadi staf pengajar di Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu. Selanjutnya pada tahun 1999/2000 melanjutkan ke program doktor (S3) pada program studi ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) Sekolah Pascasarjana IPB. Penulis menikah pada tahun 1999 dengan Zurqani Ridwan, S.Sos dan telah dikarunia dua orang anak, yaitu putri pertama Aurora Hega Ramadhanty dan putra kedua Muhammad Adha Ridwan.


(14)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL iii

DAFTAR GAMBAR v

DAFTAR LAMPIRAN vii

I PENDAHULUAN 1

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Tujuan Penelitian 3

1.3. Kerangka Pemikiran 3

1.4. Perumusan Masalah Penelitian 5

1.5. Novelty 6

II TINJAUAN PUSTAKA 7

2.1. Kerusakan Sumberdaya Alam Wilayah Pesisir 7

2.2. Sumberdaya Perikanan Laut 7

2.3. Hutan Mangrove 8

2.4. Struktur Masyarakat Pesisir 16

2.41. Masyarakat nelayan 16

2.4.2. Petambak 19

2.5. Kelembagaan Masyarakat Pesisir 20

2.5.1. Konsep Kelembagaan 20

2.5.2. Sistem Kelembagaan Masyarakat Pesisir 21

2.4. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir 27

III. METODE PENELITIAN 33

3.1. Pemilihan Wilayah Studi dan Waktu Penelitian 33

3.2. Metode Penelitian 34

3.2.1. Pendekatan Penelitian 34

3.2.2. Jenis Data dan Teknik Pengumpulan Data 35

3.2.3. Unit Penelitian dan Jumlah Responden 37

3.2.4. Metode Analisis data 39

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 48

4.1. Eksploitasi Sumberdaya Alam Pesisir di Lokasi Penelitian 48

4.1.1. Usaha Perikanan Tangkap 48

4.1.2. Usaha Budidaya Tambak 54

4.2. Kondisi Sumberdaya Alam Pesisir Kota Bengkulu 58

4.2.1. Sumberdaya Perikanan Laut 58

4.2.2. Mangrove 62


(15)

4.3. Struktur Masyarakat Pesisir Kota Bengkulu 74

4.3.1. Keragaan Modal Struktur Masyarakat Pesisir 77

4.3.2. Pelapisan Sosial 98

4.4. Kelembagaan Masyarakat Pesisir Kota Bengkulu 103

4.4.1. Kelembagaan Perikanan Tangkap 103

4.4.2. Kelembagaan Budidaya Tambak 123

4.5. Pemberdayaan Masyarakat Pesisir 129

4.5.1. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Kota Bengkulu 129

4.5.2. Perencanaan Pengendalian Degradasi Sumberdaya 139

Alam Pesisir melalui Intervensi Komunitas Masyarakat Pesisir Lapisan Bawah V. KESIMPULAN DAN SARAN 144

5.1. Simpulan 144

5.2. Saran 145

DAFTAR PUSTAKA 146

LAMPIRAN 155


(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Karakter sumberdaya yang dihadapi masyarakat nelayan- petani 17

2. Jumlah populasi responden di Kelurahan Sumberjaya 38

3. Daftar 15 informan yang diwawancarai 39

4. Indikator dan parameter kerangka Sustainable livelihood (SL) 42

5. Standar matriks kombinasi SWOT 46

6. Armada penangkapan nelayan di lokasi penelitian tahun 2006 48

7. Perkembangan armada penangkapan berdasarkan jenis mesin motor tahun 2004 dan tahun 2006 49

8. Pendapat responden tentang peningkatan usaha perikanan tangkap 51

9. Jumlah dan jenis produksi perikanan laut di daerah penelitian tahun 2004 dan tahun 2006 51

10. Jenis alat tangkap nelayan di daerah penelitian 53

11. Perkembangan luas tambak di daerah penelitian tahun 2002 dan tahun 2006 55

12. Analisis kualitas air di Kelurahan Kandang 55

13. Pendapat responden tentang berkembangnya usaha budidaya tambak di daerah penelitian 56

14. Perkembangan luas dan produksi tambak di Kota Bengkulu tahun 2002-2006 57

15. Jenis alat tangkap nelayan Kota Bengkulu 58

16. Upaya tangkap dan produksi perikanan laut Kota Bengkulu 59

17. Lokasi mangrove di Propinsi Bengkulu tahun 2002 62

18. Lokasi mangrove di Kota Bengkulu tahun 2002 63

19. Penurunan luas hutan mangrove di daerah penelitian pada tahun 2002 dan tahun 2006 64

20. Luas penutupan lahan (Landcover) di daerah penelitian 73

21. Etnis masyarakat pesisir di daerah penelitian 76

22. Modal fisikal nelayan di daerah penelitian 77

23. Kelompok usia di Teluk Sepang berdasarkan tingkat pendidikan 81

24. Kelompok usia di Sumberjaya berdasarkan tingkat pendidikan 81

25. Kelompok usia di Kandang berdasarkan tingkat pendidikan 82

26. Masalah kesehatan yang dialami masyarakat pesisir di daerah penelitian 83

27. Pendapatan nelayan di daerah penelitian 85

28. Pendapatan petambak di daerah penelitian 86

29. Sumber modal usaha masyarakat pesisir di daerah penelitian 87

30. Penguasaan armada penangkapan berdasarkan etnis di Teluk Sepang 89

31. Penguasaan armada penangkapan berdasarkan etnis di Sumberjaya 89


(17)

32. Penguasaan armada penangkapan berdasarkan etnis di Kandang 89

33. Kondisi sanitasi lingkungan masyarakat pesisir di daerah penelitian 90

34. Dua pilihan masyarakat pesisir Teluk Sepang menghadapi musim paceklik 92

35. Dua pilihan masyarakat pesisir Sumberjaya menghadapi musim paceklik 93

36. Dua pilihan masyarakat pesisir Kandang menghadapi musim paceklik 93

37. Perbandingan tingkat kepercayaan dalam komunitas 94

38. Perbandingan tingkat kepercayaan dengan komunitas lain 94

39. Pendapat masyarakat pesisir berdasarkan prinsip kerjasama 96

40. Stratifikasi sosial masyarakat pesisir Kota Bengkulu dalam pandangan nelayan dan petambak 102

41. Pola hubungan kerja nelayan di daerah penelitian 104

42. Pola bagi hasil Nelayan Teluk Sepang 113

43. Pola bagi hasil Nelayan Kandang 114

44. Pola bagi hasil Nelayan Sumberjaya pada jaring pukat cincin 115

45. Pola bagi hasil Nelayan Sumberjaya pada jaring insang hanyut/udang 115

46. Pola bagi hasil Nelayan Sumberjaya pada jaring payang 116

47. Pola bagi hasil Nelayan Sumberjaya pada bagan perahu 116

48. Pola bagi hasil Nelayan Sumberjaya pada kapal pancing 116

49. Pola hubungan kerja petambak di daerah penelitian 124

50. Pola bagi hasil petambak di daerah penelitian 125

51. Tempat pemasaran hasil panen tambak di daerah penelitian 126

52. Sumber pinjaman modal bagi petambak di daerah penelitian 128

53. Hasil analisis dan akumulasi pendapat responden untuk komponen internal SWOT 130

54. Hasil analisis dan akumulasi pendapat responden untuk komponen eksternal SWOT 131

55. Matriks SWOT untuk penentuan strategi pemberdayaan masyarakat pesisir dalam pengendalian degradasi sumberdaya Pesisir Kota Bengkulu 133


(18)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka pemikiran pengendalian degradasi sumberdaya pesisir Kota

Bengkulu melalui pemberdayaan masyarakat pesisir 5

2. Lokasi penelitian di Kota Bengkulu 33

3. Rangkaian kerja analisis SWOT 46

4. Proses hirarki penentuan prioritas strategi pengendalian degradasi sumberdaya pesisir melalui pemberdayaan masyarakat pesisir 47

5. Perkembangan armada penangkapan Nelayan Teluk Sepang menurut jenis mesin di Kota Bengkulu tahun 2004 dan tahun 2006 49

6. Perkembangan armada penangkapan Nelayan Sumberjaya menurut jenis mesin di Kota Bengkulu tahun 2004 dan tahun 2006 49

7. Perkembangan armada penangkapan nelayan Kandang menurut jenis mesin di Kota Bengkulu tahun 2004 dan tahun 2004 50

8. Perkembangan produksi perikanan Laut di daerah penelitian tahun 2004 dan tahun 2006 51

9. Perkembangan jenis alat tangkap nelayan di daerah penelitian tahun 2004 dan tahun 2006 53

10. Perkembangan luas tambak di daerah penelitian tahun 2004 dan tahun 2006 55 11. Perkembangan luas dan produksi tambak di daerah penelitian 57

12. Produksi aktual, potensi lestari dan upaya tangkap sumberdaya perikanan laut Kota Bengkulu tahun 1990-2006 60

13. Perkembangan armada tangkap di Kota Bengkulu tahun 1990-2006 61

14. Penurunan luas mangrove di daerah penelitian 64

15. Sebaran mangrove di Kelurahan Sumberjaya tahun 2002 66

16. Sebaran mangrove di Kelurahan Sumberjaya tahun 2007 67

17. Sebaran mangrove di Kelurahan Teluk Sepang tahun 2002 68

18. Sebaran mangrove di Kelurahan Teluk Sepang tahun 2007 69

19. Sebaran mangrove di Kelurahan Kandang tahun 2002 70

20. Sebaran mangrove di Kelurahan Kandang tahun 2007 71

21. Pola I hubungan kerja Nelayan Teluk Sepang 106

22. Pola II hubungan kerja Nelayan Teluk Sepang 106

23. Pola I hubungan kerja nelayan sampan di Kandang 106

24. Pola II hubungan kerja Nelayan Kandang 107

25. Pola hubungan kerja tekong dan pelacak di Sumberjaya 108

26. Pola hubungan kerja juragan/toke dan nelayan di Sumberjaya 110

27. Distribusi pemasaran ikan pada komunitas Nelayan Teluk Sepang 117


(19)

28. Distribusi pemasaran udang pada komunitas Nelayan Teluk Sepang 118

29. Distribusi pemasaran hasil tangkapan Nelayan Kandang 119

30. Distribusi pemasaran ikan nelayan jaring payang/bagan perahu/pancing 120

31. Distribusi pemasaran ikan nelayan jaring hanyut/udang 120

32. Distribusi pemasaran ikan nelayan pikat cincin 121

33. Pola hubungan kerja kegiatan pertambakan di daerah penelitian 124

34. Rantai perdagangan hasil panen tambak di daerah penelitian 127

35. Hasil analisis matrik SWOT dengan kombinasi faktor internal dan eksternal 132

36. Strategi pemberdayaan masyarakat pesisir dengan komponen prioritas SWOT 135

37. Prioritas komponen kekuatan (Strength) 135

38. Prioritas komponen kelemahan (Weaknesses) 136

39. Prioritas komponen peluang (Opportunity) 137

40. Prioritas komponen ancaman (Treaths) 138

41. Prioritas kriteria pemberdayaan masyarakat pesisir Kota Bengkulu 139

42. Prioritas strategi pemberdayaan masyarakat pesisir Kota Bengkulu 139


(20)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran hal

1. Pedoman wawancara pokok penelitian struktur sosial 155 2. Kuesioner penentuan strategi pemberdayaan masyarakat pesisir

alam pengendalian degradasi sumberdaya pesisir Kota Bengkulu 156 3. Tabel keragaan modal struktur masyarakat pesisir

di daerah penelitian 157

4. Gambaran umum daerah penelitian 158


(21)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Wilayah pesisir merupakan wilayah yang memberikan kontribusi produksi perikanan yang sangat besar dan tempat aktivitas manusia paling banyak dilakukan; bahkan menurut MacDonald (2005), sekitar 70% penduduk dunia tinggal di wilayah pesisir, sehingga menjadikan kawasan ini terkonsentrasi berbagai pusat kegiatan ekonomi seperti perikanan, pariwisata, perhubungan, perindustrian, pemukiman, pertahanan dan keamanan (Clark, 1998; Supriharyono, 2000; MacDonald, 2005). Begitu beragamnya aktivitas di wilayah pesisir, menjadikan wilayah pesisir sebagai sumber konflik dari berbagai kepentingan, sehingga sangat rentan dari berbagai dampak kegiatan seperti pencemaran, pantai yang terabrasi, banjir rob, kerusakan hutan mangrove, kerusakan padang lamun dan kerusakan terumbu karang (Dahuri, 2001; Bengen, 2002). Di beberapa wilayah pesisir Indonesia, seperti pesisir Pantai Utara Jawa, Teluk Jakarta, Selat Malaka, Pesisir Kepulauan Riau, Pantai Utara Kalimantan Barat dan lain-lain, telah mengalami eksploitasi berlebihan terhadap mangrove dan terumbu karang, tangkap lebih (overfishing), abrasi pantai dan pencemaran (Cincin-Sain, 1998). Bahkan Angka-angka kerusakan sumberdaya alam pesisir menunjukan tingkat sangat mengkhawatirkan seperti 72% terumbu karang rusak (22% baik dan 6% sangat baik) dan 40% hutan mangrove rusak (Alikodra, 2005).

Kota Bengkulu merupakan salah satu wilayah pesisir di Propinsi Bengkulu yang terletak di kawasan Pantai Barat Sumatera, secara geografis, Kota Bengkulu memiliki garis pantai ±60 km dengan 60% masyarakatnya terkonsentrasi di wilayah pesisir dan memanfaatkan sumberdaya alam pesisir sebagai sumber mata pencaharian. Ada dua fenomena bertolak belakang yang tergambar dari wilayah pesisir Kota Bengkulu, yaitu pertama, pada umumnya pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir belum dilakukan secara optimal, dan kedua, secara parsial kondisi sebagian wilayah pesisir Kota Bengkulu mengalami kerusakan seperti terjadinya abrasi pantai yang menyebabkan kemunduran garis pantai 1-5 m/tahun. Selain itu juga telah terjadi pengikisan daerah pemukiman nelayan sebesar 50 meter ke dalam di beberapa kelurahan Kota Bengkulu (Dinas


(22)

Kimparswil Propinsi Bengkulu,1998). Penyebab terjadinya abrasi pantai selain disebabkan faktor alamiah, dikarenakan adanya kegiatan penambangan pasir laut. Hal lain yang juga cukup mengkhawatirkan adalah terjadinya alih fungsi lahan di wilayah pesisir Kota Bengkulu menjadi sawah, perkebunan rakyat dan perkebunan besar sehingga terjadi penyusutan hutan mangrove di wilayah pesisir (Laporan Fakultas Kehutanan IPB, 2000), serta tingginya sedimentasi sehingga terjadi pendangkalan alur pelabuhan (Perum Pelindo II Pulau Baai, 1993).

Sementara itu, kondisi sosial ekonomi masyarakatnya tetap berada dibawah garis kemiskinan, dari 162.960 jiwa penduduk di wilayah pesisir 70% masih tergolong miskin (BPS Kota Bengkulu, 2003). Permasalahan kemiskinan ini terlihat dari rendahnya tingkat pendapatan masyarakat pesisir serta tingginya konflik di wilayah pesisir, masih banyaknya pemakaian alat tangkap yang tidak ramah lingkungan (trawl), penangkapan menggunakan bom serta pembangunan fasilitas sumberdaya pesisir dan laut seperti Tempat Pelelangan Ikan (TPI) banyak tidak berfungsi (Dinas perikanan dan kelautan, 2000).

Dari uraian di atas menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah pesisir Kota Bengkulu tidak terlepas dari pemanfaatan wilayah pesisir yang hanya berorientasi ekonomi dari pihak pemerintah daerah selaku penanggung jawab kegiatan pembangunan dan penentu kebijakan serta masyarakat pesisir yang memanfaatkan sumberdaya pesisir secara langsung. Berbagai macam dampak negatif yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan tersebut harus ditanggung oleh masyarakat pesisir. Dengan hilangnya mangrove, masyarakat pesisirlah yang terutama harus merasakan intrusi air laut ke dalam sumber-sumber air tawar, berkurangnya hasil tangkapan ikan dan udang, pengaruh abrasi pantai, serta lingkungan pantai yang gersang. Kondisi ini memunculkan ketidakberdayaan masyarakat pesisir mengatasi tekanan hidup yang semakin tinggi, sehingga memaksa mereka mengeksploitasi sumberdaya perikanan laut secara berlebihan sehingga terjadi kerusakan pada biota laut, terancamnya pemukiman masyarakat pesisir, terancamnya mata pencaharian masyarakat pesisir. Jika keadaan tersebut berlanjut, maka ekosistem wilayah pesisir akan mengalami kerusakan yang tidak mudah untuk segera dipulihkan.


(23)

Dalam rangka mencegah kerusakan lingkungan yang lebih luas, gagasan tentang pengendalian degradasi sumberdaya alam pesisir yang masih tersisa perlu terus dilakukan. Pengendalian wilayah pesisir memerlukan upaya yang efektif dari masyarakat pesisir dalam mengatasi masalah lingkungan, menghasilkan perubahan ekonomi dan dapat diterima oleh masyarakat. Selama ini strategi pengendalian degradasi sumberdaya alam wilayah Kota Bengkulu belum secara holistik dan menyeluruh dilakukan, terutama pada masyarakat pesisir sebagai pelaku utama dalam memanfaatkan sumberdaya alam pesisir. Untuk itu diperlukan penelitian yang mengkaji sumberdaya alam pesisir dan karakteristik masyarakat pesisir untuk menentukan strategi yang efektif dan sesuai bagi pembangunan wilayah pesisir.

1.2. Tujuan Penelitian

1. Mengkaji kondisi sumberdaya perikanan laut, sumberdaya mangrove di wilayah pesisir Kota Bengkulu

2. Mengkaji struktur masyarakat dan struktur kelembagaan yang memarginalkan masyarakat pesisir dengan tindakan kerusakan sumberdaya pesisir

3. Merumuskan strategi pengendalian degradasi sumberdaya pesisir melalui pemberdayaan masyarakat pesisir

1.3. Kerangka Pemikiran

Degradasi sumberdaya alam pesisir terjadi akibat adanya aktivitas manusia dan pembangunan sektor perikanan, pertanian, perkebunan, perindustrian dan permukiman. Semakin tinggi pertumbuhan dan pesatnya pembangunan di wilayah pesisir maka tekanan ekologis terhadap sumberdaya pesisir semakin meningkat. Meningkatnya tekanan ini tentu dapat mengancam keberadaan dan keberlangsungan sumberdaya pesisir. Jika tekanan tersebut dibiarkan terus menerus, maka hasilnya akan menyebabkan penyusutan dan habisnya sumberdaya alam pesisir (Soemarwoto, 1997). Kerusakan sumberdaya pesisir tersebut berdampak pada terancamnya mata pencaharian masyarakat pesisir sehingga memunculkan permasalahan pemiskinan. Proses pemiskinan yang dialami


(24)

masyarakat pesisir berdampak pada keseimbangan antara sistem alam dan sistem sosial di wilayah pesisir.

Keseimbangan secara sosial, ekonomi dan ekologi pada tingkat sumberdaya alam dan lingkungan mampu menciptakan kelestarian sumberdaya alam (Odum, 1971; FAO, 2004). Apabila terjadi sebaliknya, maka tingkat degradasi sumberdaya perikanan laut, sumberdaya mangrove akan semakin parah. Di tingkat masyarakat nelayan, adanya keseimbangan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup, kesejahteraan hidup, kualitas pendidikan, peningkatan akses terhadap sumberdaya, berkembangnya kapasitas dan kelembagaan nelayan, dan jika sebaliknya akan menyebabkan kemiskinan itu menjadi permanen.

Sebagai sebuah komunitas di wilayah pesisir, masyarakat pesisir mempuyai struktur masyarakat dan struktur kelembagaan yang menggerakan kehidupan mereka menghadapi sumberdaya pesisir. Struktur masyarakat pesisir dikaji dari modal fisik, modal manusia, modal sosial, modal finansial, dan modal alamiah. Struktur kelembagaan masyarakat pesisir dikaji dari struktur kelembagaan kerja, kelembagaan bagi hasil dan kelembagaan pemasaran dan permodalan. Diduga ada sistem dalam struktur masyarakat dan struktur kelembagaan masyarakat pesisir yang menjadi faktor penyumbang terjadinya tindakan kerusakan lingkungan.

Dalam rangka mencegah kerusakan sumberdaya tersebut, perlu keterlibatan masyarakat pesisir yang melembaga, yang secara sadar dan bertanggung jawab melibatkan diri dalam pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan. Untuk itu perlu pemberdayaan masyarakat yang mampu meningkatkan pendapatan dan status sosial ekonomi. Kerangka pemikiran dalam penelitian pengendalian degradasi sumberdaya melalui pemberdayaan masyarakat pesisir dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.


(25)

Gambar 1. Kerangka pikir pengendalian degradasi sumberdaya pesisir Kota Bengkulu melalui pemberdayaan masyarakat pesisir (Sumber: dimodifikasi dari Masyhudzulhak, 2004 dan M. Karim, 2005)

1.4. Perumusan Masalah Penelitian

Masyarakat pesisir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan pembangunan di wilayah pesisir. Masyarakat pesisir memanfaatkan sumberdaya alam di wilayah pesisir sebagai sumber mata pencaharian. Pemanfaatan sumberdaya alam di wilayah pesisir yang tidak terkendali dan tidak memperhatikan aspek keberlanjutan dapat menyebabkan terjadinya abrasi pantai, pencemaran pantai, overfishing, kerusakan ekosistem mangrove, terumbu karang dan ekosistem laut lainnya.

Abrasi pantai terjadi disebabkan tidak optimalnya penahan gelombang dan banyaknya aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti pengrusakan karang pantai, penebangan bakau, penambangan pasir, serta bangunan yang melewati garis pantai. Pencemaran pantai bersumber dari kegiatan industri (pertambangan timah dan minyak, angkutan laut dan pariwisata bahari), kegiatan rumah tangga, dan kegiatan pertanian. Overfishing dipicu beberapa hal, seperti

Wilayah pesisir

Struktur masyarakat Struktur kelembagaan

Alternatif Strategi SWOT

Status sumberdaya Alam

Tindakan merusak

MAHP

Prioritas Pemberdayaan Degradasi Sumberdaya Pesisir rusak


(26)

banyaknya kegiatan penangkapan ikan yang berukuran belum layak tangkap serta lajunya penangkapan yang melebihi nilai maximum sustainable yield (MSY).

Penangkapan ikan yang menggunakan cara-cara merusak seperti penggunaan bom dan potassium, terutama di sekitar terumbu karang, mengakibatkan kerusakan ekosistem terumbu karang untuk jangka panjang, tanpa terkecuali ikan-ikan yang bukan merupakan tujuan penangkapan. Kerusakan mangrove sebagian besar disebabkan konversi lahan, penebangan kayu dan pencemaran oleh berbagai kegiatan pembangunan.

Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan dapat disimpulkan bahwa menurunnya sumberdaya alam di wilayah pesisir diakibatkan oleh aktivitas manusia terutama masyarakat pesisir. Oleh sebab itu, pokok permasalahan dalam penelitian dirumuskan sebagai berikut :

1. Bagaimana kondisi sumberdaya perikanan laut, sumberdaya mangrove di wilayah pesisir Kota Bengkulu ?

2. Bagaimana struktural masyarakat pesisir Kota Bengkulu ? Adakah struktur kelembagaan masyarakat pesisir menjadi faktor penyumbang terjadinya degradasi sumberdaya pesisir ?

3. Bagaimana strategi pengendalian degradasi sumberdaya pesisir melalui pemberdayaan masyarakat pesisir yang efektif dalam meningkatkan kesejahteraan dan lingkungan secara berkelanjutan?

1.5. Novelty

Penelitian-penelitian mengenai masyarakat pesisir di Propinsi Bengkulu selama ini masih bersifat sporadik dan bersifat parsial, sedangkan dalam penelitian ini sifat dasarnya adalah bersandarkan pada pendekatan secara holistik dan mendalam dengan memfokuskan apa yang dimiliki oleh masyarakat pesisir. Konsep ini digunakan sebagai tolak ukur dalam pemberdayaan masyarakat pesisir yang karakteristiknya berbeda secara sosiologis dan ekologis karena penyeragaman cara pemberdayaan akan menimbulkan kegagalan dalam implementasi program, seperti yang sering terjadi sampai saat ini. Output dari penelitian ini adalah pembentukan kelembagaan ekonomi partisipatif berbasiskan kekerabatan dalam pelestarian sumberdaya pesisir Kota Bengkulu.


(27)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kerusakan Sumberdaya Alam Wilayah Pesisir

Ekosistem wilayah pesisir dan laut merupakan suatu himpunan integral komponen hayati dan nir-hayati, mutlak dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dan meningkatkan mutu kehidupan. Komponen hayati dan nir-hayati secara fungsional berhubungan satu sama lain dan saling berinteraksi membentuk suatu ekosistem (Odum, 1983). Ekosistem wilayah pesisir terdiri dari hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun, estuaria, ekosistem pantai dan ekosistem pulau-pulau kecil (Dahuri et.al., 2001; Bengen, 2002). Dengan adanya tekanan pertumbuhan penduduk dan banyaknya aktivitas pembangunan di pesisir untuk berbagai kegiatan (permukiman, pertanian, industri, perkebunan), maka tekanan ekologis terhadap ekosistem dan sumberdaya pesisir semakin meningkat pula (Bengen, 2002).

Permasalahan penting di wilayah pesisir adalah kerusakan hutan mangrove, kerusakan terumbu karang, pencemaran, akumulasi limbah dan abrasi pantai. Menurut Budhisantoso (1998), permasalahan utama yang dihadapi dalam pengembangan pengelolaan kawasan pesisir, adalah menyusutnya persediaan sumberdaya, khususnya hutan mangrove, dan merosotnya mutu lingkungan.

2.2. Sumberdaya Perikanan Laut

Sumberdaya perikanan merupakan sumberdaya alam yang didukung oleh sumberdaya manusia, modal, teknologi dan informasi, yang mencakup seluruh potensi lautan maupun perairan daratan yang dapat didayagunakan untuk kegiatan usaha perikanan (Setyohadi, 1997). Indonesia memiliki potensi sumberdaya perikanan yang relatif besar, akan tetapi sumberdaya ini belum dimanfaatkan secara optimal. Menurut Aziz et al. (1998), potensi lestari sumberdaya perikanan laut Indonesia adalah sebesar 6,18 juta ton pertahun, yang terdiri dari potensi ikan pelagis besar 975,05 ribu ton, ikan pelagis kecil 3,23 juta ton, ikan demersal 1,78 juta ton, ikan karang konsumsi 75 ribu ton, udang penaid 74,00 ribu ton, lobster 4,80 ribu ton, dan cumi-cumi 28,25 ribu ton.


(28)

Meskipun secara keseluruhan pemanfaatan sumberdaya perikanan baru mencapai 58%, namun beberapa jenis ikan telah mengalami gejala tangkap lebih (over fishing) di beberapa perairan nusantara. Hal ini disebabkan adanya ketimpangan struktur armada penangkapan yang didominasi oleh perahu kapal tanpa motor. Dengan komposisi ini, maka kawasan perairan yang mengalami tekanan eksploitasi yang besar adalah perairan pantai (Dahuri et. al, 2001).

Secara umum sumberdaya perikanan dapat dikelompokkan kedalam empat kelompok yaitu sumberdaya ikan demersal, sumberdaya pelagis kecil, sumberdaya pelagis besar dan sumberdaya biota laut (Naamin, 1987). Sumberdaya ini apabila dalam eksploitasinya tidak mematuhi aturan atau melampaui produksi tahunan bersih, maka kehancuran sumberdaya menjadi tinggi. Hal ini berarti bahwa sumberdaya tersebut akan menipis atau terkuras dengan berjalannya waktu (Baskoro et al., 2004).

2.3. Hutan Mangrove

Asal kata mangrove tidak diketahui pasti dan terdapat beberapa pendapat mengenai hal tersebut. MacNae (1968) menyebutkan, kata mangrove merupakan perpaduan antara Bahasa Portugis mangue dan Bahasa Inggris grove. Sementara menurut Mastaller (1997), kata mangrove berasal dari Bahasa Melayu Kuno mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avicennia dan digunakan sampai saat ini di Indonesia bagian timur. Kata mangrove menurut Odum (1983), berasal dari kata mangal yang menunjukkan komunitas suatu tumbuhan.

Beberapa ahli mengemukakan defenisi hutan mangrove, seperti Steenis (1978), yang dimaksud dengan mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh diantara garis pasang surut. Soerianegara dan Indrawan (1982), menyatakan bahwa hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di daerah pantai, biasanya terdapat di daerah teluk dan dimuara sungai oleh : (1) tidak terpengaruh iklim; (2) dipengaruhi pasang surut; (3) tanag tergenang air laut; (4) tanah rendah pantai; (5) hutan tidak mempuyai struktur tajuk; (6) jenis-jenis pohonnya biasanya terdiri atas api-api (Avicennia sp.), pedada (Sonneratia sp.), bakau (Rhizophora sp.), lacang (Bruguiera sp.), nyirih (Xylocarpus sp.), nipah (Nypah sp.) dan lain-lain. Saenger


(29)

et al. (1983) menyebutkan bahwa mangrove merupakan formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di pantai daerah tropis dan sub tropis.

Pengertian hutan mangrove, menurut Alikodra (1998), adalah suatu formasi hutan yang dipengaruhi pasang surut air laut dengan keadaan tanah yang anaerobik. Walaupun tidak tergantung pada iklim, tetapi umumnya hutan mangrove tumbuh dengan baik di daerah tropika pada daerah pesisir yang terlindung, seperti delta dan estuaria. Menurut Bengen (2002), hutan mangrove sendiri merupakan komunitas vegetasi pantai tropis dan sub tropis yang terdiri yang terdiri atas beberapa jenis spesies yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur.

Fungsi dan Manfaat Mangrove

Soewito (1984), Marsoedi (1997), Khazali (1999), Alikodra (2000) dan Bengen (2002) menyatakan bahwa secara umum fungsi hutan mangrove, baik bagi manusia, organisme lain dan lingkungan abiotik adalah :

1. Fungsi fisik, yaitu sebagai pencegahan terjadinya intrusi air laut, penahan abrasi, penahan angina, pengendali banjir dan perendam pencemaran.

2. Fungsi biologis, yaitu sebagai sumber kesuburan perairan, tempat berkembang biak, perlindungan dan asuhan biota laut, seperti ikan, udang, kerang dan burung serta berbagai penghasil sumber makanan penting bagi kehidupan sekitarnya.

3. Fungsi kimia, yaitu sebagai tempat terjadinya proses dekomposisi bahan organik dan proses kimia lainnya yang berkaitan dengan tanah hutan mangrove.

4. Fungsi ekonomi, yaitu sebagai sumber bahan bakar dan bangunan, bahan baku industri, lahan pertanian, tempat berburu, bahan dasar obat-obatan, bahan penyamak dan tempat pariwisata. Fungsi ekonomi hutan mangrove juga terkait dengan tingkat produksi perikanan Indonesia. Hal ini dilihat dari daerah perikanan potensial seperti perairan sebelah timur Sumatera, pantai selatan dan timur Kalimantan, pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya.


(30)

5. Fungsi sosial, yaitu proses interaksi antara masyarakat sekitar dengan hutan mangrove dimana masyarakat melakukan pemanfaatan secara berkesinambungan terhadap hutan mangrove tersebut. Hal ini secara implisit terkait dengan sistem hukum adat yang berlaku dalam masyarakat.

Dari fungsi tersebut, ekosistem hutan mangrove melahirkan manfaat ganda bagi manusia ditinjau dari dua segi, menurut Marsoedi (1997), Alikodra (1998), Rewana et al. ( 2001) dan Dahuri (2004), yaitu :

1. Manfaat ekologi, yang lebih ditekankan pada kemampuannya dalam mendukung lingkungan pantai, yaitu sebagai hutan di kawasan air payau, penahan angin, penahan ombak, menyaring bahan-bahan pencemar, tempat persembunyian ikan dan binatang perairan lainnya, seperti udang, ikan dan kepiting. Kontribusi yang penting dari hutan mangrove dengan ekosistem pantai adalah serasah daunnya. Diperkirakan hutan mangrove mampu menghasilkan bahan organisk dari serasah daun sebanyak 7-8 ton/hektar/tahun. Tingginya produktivitas ini disebabkan karena hanya 7% dari dedaunan yang dihasilkan, dikonsumsi langsung oleh hewan di dalamnya, sedangkan sisanya oleh mikroorganisme (terutama kepiting) dan mikroorganisme pengurai diubah sebagai detritus atau bahan organik mati dan memasuki sistem energi.

2. Manfaat ekonomi, dimana hutan mangrove berkemampuan dalam penyediaan produk yang dapat diukur dengan uang. Beberapa produk dari hutan mangrove yang bernilai ekonomi adalah ikan dan kayu.

Jenis dan Penyebaran

Jenis utama mangrove yang umumnya dijumpai di Indonesia terdiri dari delapan famili dan duabelas genus, menurut Rewana et al. (2001) di dominasi oleh bakau (Rhizophora sp.), api-api ( Avicennia alba), tancang (Bruguiera sp.), dan nipah (Nypah fructicans).

Hutan mangrove tersebar di pantai-pantai teluk yang dangkal, estuaria, delta dan daerah pantai yang terlindung (Bengen, 2002). Berdasarkan jenis pohon penyusun formasi hutan mangrove dari arah laut ke daratan, maka hutan mangrove dapat dibedakan mejadi beberapa zonasi, yaitu :


(31)

1. Zona Avicennia sp.

Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir, sering ditumbuhi oleh Avicennia sp. Pada zona ini biasa berasosiasi dengan Sonneratia sp., yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik.

2. Zona Rhizophora sp.

Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora sp. Di zona ini juga dijumpai Bruguiera sp. dan Xylocarpus sp.

3. Zona Bruguiera sp

Di dominasi oleh Bruguiera sp. 4. Zona Nypah sp.

Zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah yang biasa di tumbuhi oleh Nypah fructicans dan beberapa spesies palem lainnya.

Menurut Alikodra (1998), terdapat tiga faktor utama yang menentukan tumbuh dan menyebarnya jenis-jenis mangrove tersebut, yaitu :

1. Kondisi dan tipe tanah, seperti keras atau lembek, berpasir atau berlumpur. 2. Salinitas, seperti variasi rata-rata harian maupun tahunan, frekuensi,

kedalaman dan lamanya penggenangan

3. Ketahan jenis-jenis mangrove terhadap arus ombak.

Ketergantungan terhadap jenis tanah, ditambahkan Alikodra (1998), ditunjukkan oleh genus Rhizophora, di mana R. Mucronata merupakan ciri umum untuk tanah yang berlumpur dalam, R. Apiculata untuk tanah berlumpur dangkal, dan R. Stylosa yang erat hubungannya dengan pantai berpasir atau berkarang yang sudah memiliki lapisan lumpur atau pasir. Ketergantungan ini terhadap kadar garam ditunjukkan apabila hubungan antara muara sungai maupun danau dengan laut bebas terpisah, sehingga salinitas menurun akibat kurangnya pengaruh pasang surut, sehingga jenis yang dominan adalah Lumnitzera sp. dan Xylocarpus granatum.

Penyebab Kerusakan Mangrove

Secara garis besar ada dua faktor penyebab kerusakan hutan mangrove, yaitu : (1) Faktor manusia yang merupakan faktor dominan penyebab kerusakan


(32)

hutan mangrove dalam hal pemanfaatan lahan yang berlebihan; (2) Faktor alam, seperti banjir, kekeringan dan hama penyakit, yang merupakan faktor penyebab yang relatif kecil (Tirtakusumah, 1994). Menurut Supriharyono (2000), kerusakan hutan mangrove terutama di sebabkan banyaknya konversi hutan mangrove untuk dijadikan tambak. Faktor-faktor yang mendorong aktivitas manusia untuk memanfaatkan hutan mangrove dalam rangka mencukupi kebutuhannya sehingga berakibat rusaknya hutan (Perum Perhutani, 1994), antara lain :

a. Keinginan untuk membuat pertambakan dengan lahan yang terbuka dengan harapan ekonomis dan menguntungkan, karena mudah dan murah.

b. Kebutuhan kayu bakar yang sangat mendesak untuk rumah tangga, karena tidak ada pohon lain di sekitarnya yang bisa di tebang.

c. Rendahnya pengetahuan masyarakat akan berbagai fungsi hutan mangrove.

d. Adanya kesenjangan sosial antara petambak tradisional dengan pengusaha tambak modern, sehingga terjadi proses jual beli lahan yang sudah tidak rasional.

Tekanan pada ekosistem mangrove yang berasal dari dalam, disebabkan karena pertumbuhan penduduk dan yang diluar sistem karena reklamasi lahan dan eksploitasi mangrove yang makin meningkat telah menyebabkan perusakan menyeluruh atau sampai tingkat-tingkat kerusakan yang berbeda-beda. Di beberapa tempat ekosistem mangrove telah diubah sama sekali menjadi ekosistem lain. Terdapat ancaman yang semakin besar terhadap daerah mangrove yang belum diganggu dan terjadi degradasi lebih lanjut dari daerah yang mengalami tekanan baik oleh sebab alami maupun oleh perbuatan manusia (UNDP/UNESCO, 1984).

Menurut Soesanto dan Sudomo (1994), kerusakan ekosistem mangrove dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain : (1) Kurang dipahaminya kegunaan ekosistem mangrove; (2) Tekanan ekonomi masyarakat miskin yang bertempat tinggal dekat atau sebagai bagian dari ekosistem mangrove; (3) Karena pertimbangan ekonomi lebih dominan daripada pertimbangan lingkungan hidup.


(33)

Menurut Sugandhy (1994), beberapa permasalahan yang terdapat di kawasan hutan mangrove berkaitan dengan upaya kelestarian fungsinya adalah : 1. Pemanfaatan ganda yang tidak terkendali. Pemanfaatan ganda antar berbagai

sektor dan penggunaan sumberdaya yang berlebihan telah menyebabkan terjadinya pengikisan pantai oleh air laut. Sesuai dengan fungsi hutan mangrove sebagai penahan ombak. Di beberapa daerah, kawasan pantai hutan mangrove sudah bnayak yang hilang sehingga lahan pantai terkikis oleh ombak. Di wilayah Teluk Jakarta pemanfaatan yang ada sekarang saling berkompetisi, seperti perluasan areal pelabuhan, industri, transportasi laut, permukiman dan kehutanan. Demikian juga di Bali, khususnya di kawasan hutan mangrove Suwung, pembangunan landasan udara Ngurah Rai Bali menyebabkan pantai Kuta terabrasi. Pemanfaatan demikian yang kurang menguntungkan ditinjau dari aspek keseimbangan lingkungan wilayah pesisir. Di samping itu, pengelolaan hutan mangrove belum berkembang, baik dalam hal silvikultur, sumberdaya manusia, kelembagaan, perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasannya. Akibatnya banyak yang terjadi perusakan hutan mangrove seperti penebangan yang tidak terkendali, sehingga pemanfaatannya melampaui kemampuan sumberdaya alam untuk meregenerasi.

2. Permasalahan tanah timbul akibat sedimentasi yang berkelanjutan. Di daerah muara sungai banyak dijumpai tanah timbul karena endapan lumpur yang terus menerus terbawa dari daerah hulu sungai. Permasalahan utama yang muncul adalah tentang status tanah timbul tersebut. Karena lokasinya berdekatan dengan lahan kehutanan, maka sering terjadi status penguasaannya langsung menjadi kawasan hutan, walaupun oleh masyarakat setempat dimanfaatkan untuk kepentingan mereka, tanpa mengindahkan status tanahnya. Hal ini sering menimbulkan konflik penguasaan. Contoh : kasus kawasan di Segara Anakan, dan kawasan Pantura Jawa, kawasan Sulawesi Selatan dan lain-lain.

3. Konversi hutan mangrove. Hampir semua bentuk pemanfaatan lahan di wilayah pesisir berasal dari konversi hutan mangrove. Hutan mangrove sepanjang pantai utara Jawa, Bali Selatan dan Sulawesi Selatan bagian barat telah dikonversi menjadi kawasan pemukiman, tambak, kawasan industri,


(34)

pelabuhan, ladang garam dan lain-lain. Kebanyakan konversi hutan mangrove menjadi bentuk pemanfaatan lain belum banyak ditata berdasarkan kemampuan dan peruntukkan pembangunan, sehingga menimbulkan kondisi yang kurang menguntungkan dilihat dari manfaat regional dan nasional. Oleh karena itu pemanfaatan hutan mangrove yang tersisa atau upaya rehabilitasinya harus sesuai dengan potensi dan rencana pemanfaatan yang lainnya dengan mempertimbangkan kelestarian ekosistem, manfaat ekonomi dan penguasaan teknologi.

4. Permasalahan sosial ekonomi. Meningkatnya pertumbuhan penduduk dan laju pembangunan di wilayah pesisir, khususnya Jawa, Bali, Sulawesi dan Lampung menyebabkan timbulnya ketidak seimbangan antara permintaan kebutuhan hidup, kesempatan dengan persediaan sumberdaya alam pesisir yang ada. Upaya pengembangan pertanian intensif (coastal agriculture), dan kegiatan serta kesempatan yang berorientasi kelautan masih terbatas dikembangkan. Di pantai utara Jawa, hampir semua hutan mangrove telah habis dirombak menjadi kawasan permukiman, perhotelan, tambak dan sawah yang berorientasi kepada ekosistem daratan. Pemanfaatan sumberdaya alam wilayah pesisir mestinya tidak hanya terbatas pada hutan mangrove atau tambak saja tapi juga eksploitasi terumbu karang yang telah melampaui batas, sehingga sulit dapat dipulihkan kem bali. Hal ini terjadi di Bali Selatan, pantai utara Jawa Tengah.

5. Permasalahan kelembagaan dan pengaturan hukum kawasan pesisir dan lautan. Sering terjadi tumpang tindih, konflik dan ketidak jelasan kewenangan antara instansi sektoral pusat dan daerah. Hal tersebut menyebabkan simpang siur tanggung jawab dan prosedur perizinan untuk kegiatan pembangunan pesisir dan lautan. Contohnya seperti pembukaan lahan di kawasan pesisir, usaha penggalian pasir, reklamasi, penangkapan ikan dan pengambilan terumbu karang dan lain-lain. Akibat tersebut menyebabkan terus meningkatnya perusakan ekosistem kawasan pesisir dan lautan khususnya kawasan hutan mangrove.

6. Permasalahan informasi kawasan pesisir. Keberadaan data dan informasi serta ilmu pengetahuan teknologi yang berkaitan dengan tipologi ekosistem


(35)

pesisir, keanekaragaman hayati, lingkungan sosial budaya, peluang ekonomi dan peran serta keluarga, sumberdaya hutan mangrove masih terbatas sehingga belum dapat mendukung penataan ruang kawasan pesisir, pembinaan dalam pemanfaatan secara lestari, perlindungan kawasan serta rehabilitasi.

Menurut Alikodra (1998), beberapa masalah yang perlu segera diatasi agar kerusakan hutan mangrove tidak berkelanjutan adalah :

1. Data dan informasi serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan sumberdaya hutan mangrove masih terbatas sehingga belum mendukung tata ruang, pembinaan, pemanfaatan yang lestari dan perlindungan serta rehabilitasinya.

2. Belum berkembangnya pengelolaan hutan mangrove, baik dalam hal silvikultur, sumberdaya manusia, perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan maupun pengawasannya, hal ini mengakibatkan terjadinya degradasi hutan mangrove yang tidak terkendali

3. Kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di sekitar hutan mangrove belum sepenuhnya mendukung pengelolaan hutan mangrove secara lestari, terutama dalam hal pendidikan, pengetahuan, kesadaran, keterbatasan dan kesempatan berusaha

4. Pengelolaan kawasan hutan mangrove merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat, namun keikutsertaan secara aktif dari masyarakat dalam proses perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pemanfaatannya masih terbatas, sehingga persepsi dan keperdulian antara pengelola dan pengguna hutan mangove berbeda-beda.

5. Mekanisme pendanaan yang belum memadai untuk program-program pengelolaan hutan mangrove yang meliputi perlindungan, pelestarian, penelitian dan pemanfaatan yang lestari dengan melibatkan berbagai unsur pokok seperti sarana dan prasarana.


(36)

2.4. Struktur Masyarakat Pesisir

Masyarakat pesisir merupakan kelompok orang yang tinggal di daerah pesisir dan sumber penghidupan ekonominya bergantung secara langsung pada pemanfaatan sumberdaya pesisir (Nikijuluw, 2001). Dengan demikian, terdapat masyarakat pesisir yang bergantung pada pemanfaatan sumberdaya perikanan dan non perikanan. Pemanfaatan sumberdaya perikanan antara lain terdiri dari nelayan, pembudidaya ikan dan biota laut lainnya, pengolah dan pemasaran. Pemanfaatan sumberdaya pesisir non perikanan diantaranya penyedia jasa lingkungan, dan pemanfaat energi tremal dan bahan tambang. Departemen Kelautan dan Perikanan (2002) menyebutkan masyarakat pesisir meliputi nelayan yaitu orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan, pembudidaya ikan di laut, petambak, wanita nelayan dan pengolah ikan, dan lembaga pemasaran hasil perikanan. Penelitian ini difokuskan pada pemanfaat sumberdaya pesisir yaitu masyarakat nelayan dan petambak.

2.4.1. Masyarakat Nelayan

Satria (2002) menyebutkan bahwa karakteristik masyarakat nelayan berbeda dengan masyarakat petani. Masyarakat nelayan memiliki karakter yang lebih keras, tegas dan terbuka, dikarenakan masyarakat pesisir menghadapi sumberdaya yang bersifat open access. Sifat sumberdaya semacam ini memungkinkan semua orang dapat mengeksploitasinya, sehingga beban resiko yang harus ditanggung oleh nelayan menjadi sangat tinggi. Sebaliknya masyarakat petani berhadapan dengan sumberdaya yang relatif terkontrol. Menurut Bahri (1995), lingkungan fisik nelayan sifatnya sulit diramalkan serta target operasi penangkapannya hidup dan liar. Hal ini membuat usaha perikanan mempuyai resiko kerusakan dan kerugian yang tinggi serta pola pendapatan yang besarannya fluktuatif.


(37)

Tabel 1. Karakter sumberdaya yang dihadapi masyarakat nelayan-petani

Sektor Nelayan Petani Sumberdaya alam yang

dihadapi

• Ketergantungan pada produktivas laut

• Sulit untuk diperkirakan

• Resiko tinggi

Common property

• Ketergantungan pada lahan

• Dapat diperkirakan

• Resiko kecil

• Sifatnya permanen

Privat proverty

Mobilitas Tinggi karena mengarungi laut dari satu daerah ke daerah lain untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal

Rendah karena sumberdaya alam yang dihadapi permanen

Sumber : diadopsi dari Satria, 2002

Berkaitan dengan perbedaan karakteristik tersebut, kehidupan keluarga nelayan menghadapi aktivitas ekonomi yang tidak pasti, dimana pendapatan yang bersifat harian dan tidak bisa ditentukan jumlahnya. Selain itu pendapatan juga sangat tergantung oleh musim maupun status nelayan itu sendiri (pemilik atau anak buah kapal). Seafdec (1978) membuat pengelompokan aktivitas perikanan untuk Indonesia berdasarkan perbedaan ukuran kapal dan perbedaan antara perahu tanpa motor dengan kapal. Di Filipina nelayan yang menggunakan perahu untuk menangkap ikan yang berukuran lebih dari tiga ton dikategorikan sebagai nelayan komersil, sedangkan perahu yang berukuran kurang dari tiga ton atau tanpa menggunakan perahu disebut nelayan desa. Sedangkan di Hongkong dan di Singapura dibedakan antara usaha perikanan daerah pantai dan lepas pantai. Di Thailand perbedaan itu atas dasar tipe peralatan penangkapan yang dipakai (Smith, 1979). Di Malaysia klasifikasi nelayan ditentukan berdasarkan tingkat pendapatan bulanan. Nelayan yang mempuyai penghasilan Rp. 744.000 dikategorikan sebagai nelayan susah atau miskin, sedangkan nelayan yang mempuyai penghasilan antara Rp.1.800.000-3.600.000 sebulan dikategorikan kedalam nelayan senang (Hasyim dan Wan, 1980).

Firth (1975) menggambarkan struktur masyarakat nelayan dengan menghubungkan alat tangkap yang digunakan. Sedangkan Kusnadi (2002) menggolongkan masyarakat nelayan dapat dilihat dari tiga sudut pandang.


(38)

Pertama, dari segi penguasaan alat produksi, terbagi menjadi pemilik (yang memiliki) dan buruh (yang tidak memiliki alat produksi dan memberikan tenaganya untuk memperoleh imbalan dengan hak-hak yang terbatas). Kedua, dari tingkat skala investasi modal usahanya, terbagi menjadi nelayan besar dan nelayan kecil. Nelayan besar yang menanamkan modalnya dalam jumlah besar dan sebaliknya untuk nelayan kecil. Ketiga, dari tingkat penggunaan teknologi penangkapan yang digunakan, terbagi menjadi nelayan modern dan nelayan tradisional.

Kusnadi (2000) menyatakan bahwa nelayan tradisional disamakan dengan nelayan subsistensi, pra industri, berskala kecil dan beroperasi di perairan pantai, sedangkan nelayan modern diasosiasikan dengan ciri-ciri usaha yang bersifat komersial, industri, berskala besar, dan beroperasi di daerah lepas pantai. UU No 9 tahun 1985 berdasarkan status pengusahaannya nelayan dibedakan antara nelayan pemilik dan nelayan pekerja (buruh). Nelayan pemilik adalah orang atau badan hukum yang dengan hak apapun berkuasa atas sesuatu kapal atau perahu yang digunakan dalam usaha penagkapan ikan. Sedangkan nelayan pekerja adalah semua orang yang sebagai kesatuan dengan menyediakan tenaga kerjanya turut serta dalam usaha penangkapan ikan di laut.

Manurung (1978) menyatakan bahwa atas dasar aspek ekonomi dan tingkat inovasi nelayan yang saling berinteraksi, maka nelayan kecil mempuyai kriteria sebagai berikut :

1. Pendapatan perkapita lebih rendah dari garis kemiskinan yakni tingkat pendapatan dibawah 240 kg nilai tukar beras/orang/tahun seperti yang dikemukakan dalam konsep Sayogjo;

2. Nelayan pemilik usaha kecil dengan anak buah perahu motor atau layar sama atau lebih kecil tiga orang;

3. Nelayan yang tidak memiliki alat produksi seperti perahu dan alat tangkap, nelayan ini bisa disebut nelayan buruh (pandega);

4. Nelayan kecil umumnya memiliki tenaga kerja keluarga yang dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan keluarga;

5. Modal usaha yang relatif kecil, antara lain untuk satu unit alat tangkap yang sederhana diperkirakan seharga Rp. 25.000 sampai dengan harga


(39)

Rp. 150.000 dan kadang-kadang dilengkapi dengan sebuah perahu tanpa motor seharga kira-kira Rp. 150.000 sampai dengan Rp. 250.000 sehingga kemampuan mereka untuk melakukan usaha penangkapan terbatas hanya di pesisir pantai dan di muara-muara sungai; dan

6. Tingkat pendidikan, keterampilan dan inovasi nelayan dan anggota keluarga nelayan relatif rendah

2.4.2. Petambak

Petambak adalah masyarakat yang kegiatan utamanya membudidayakan ikan atau sumberdaya laut lainnya yang berbasis pada daratan dan perairan dangkal di wilayah pantai. Pollnac (1988) mengemukakan bahwa nelayan membentuk masyarakatnya sendiri dengan karakter sosio-budaya yang khas, sebagai hasil adaptasi mereka pada habitat pantai dan laut dimana pemenuhan kebutuhan hidup diperoleh. Nelayan tergantung pada kemudahan bersama dan memiliki hak yang sama terhadap sumberdaya dan hanya perlu menangkap apa yang berkembang secara alamiah. Berbeda dengan petambak yang dalam pola kerjanya lebih menyerupai pertanian atau peternakan.

Aksesibilitas petambak terhadap sumberdaya alam relatif lebih baik dibanding nelayan penangkap ikan. Ketergantungan mereka tidak terbatas pada sektor kegiatan yang berbasis pada laut tetapi juga pada daratan. Kondisi ini selain memberikan alternatif lebih banyak bagi pengembangan ekonomi masyarakat. Petambak umumnya membudidayakan tambak, mengusahakan kerang-kerangan, rumput laut, dan ikan di perairan dangkal. Selain itu, petambak juga mempuyai akses terhadap lahan yang dapat mereka manfaatkan untuk sumber penghasilan alternatif.

Petambak memiliki kegiatan produksi agak berbeda dengan nelayan tangkap. Jika nelayan tangkap menggantungkan nasibnya sepenuhnya pada hasil laut yang sifatnya open access (setiap individu/kelompok nelayan mempuyai hak yang sama untuk memanfaatkan sumberdaya laut), maka petambak menggantungkan usahanya dengan mengelola lahan tambak. Oleh karena itu lahan tambak menjadi salah satu faktor produksi pembatas disertai teknik


(40)

pemeliharaan yang spesifik (tradisional, semi intensif atau intensif) agar dapat menghasilkan komoditi perikanan yang diharapkan.

Dalam struktur masyarakat petambak ditemui berbagai status, fungsi dan peran dari individu-individu yang saling berinteraksi, membentuk suatu jaringan sosial dalam melaksanakan kegiatan pertambakan. Kegiatan tersebut meliputi hubungan kerja dan pemasaran hasil produksi. Status, fungsi dan peran dari masing-masing individu menjadi dasar terbentuknya pelapisan sosial, yaitu kelompok pemilik modal yang mengumpulkan dan membeli hasil produksi perikanan dan petambak yang melakukan usaha budidaya tambak terdiri dari petambak pemilik, buruh tambak, para eksportir perusahaan perikanan dan seterusnya (Purnamasari, 2002).

2.5. Kelembagaan Masyarakat Pesisir 2.5.1. Konsep Kelembagaan

Kelembagaan adalah suatu perangkat aturan-aturan yang dikukuhkan dengan sanksi oleh anggota komunitas pendukung kelembagaan tersebut. Aturan-aturan tersebut memudahkan koordinasi dan kerjasama diantara masyarakat pemakai sumberdaya, yang membantu mereka membentuk harapan-harapan yang sewajarnya dimiliki setiap orang dalam hubungannya dengan orang lain (Hayami dan Kikuchi, 1981). Sedangkan Koentjaraningrat (1985), menyatakan bahwa kelembagaan adalah suatu sistem tata kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kompleks kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.

Menurut Poloma (2000), yang dimaksud dengan kelembagaan adalah organisasi atau kaidah-kaidah baik formal maupun informal, yang mengatur perilaku dan tindakan anggota masyaraklat tertentu, baik dalam kegiatan rutin sehari-hari maupun dalam usahanya untuk mencapai tujuan tertentu. Lembaga-lembaga dalam masyarakat ada yang bersifat asli berasal dari adat kebiasaan yang turun temurun, tetapi ada pula yang baru diciptakan baik dari dalam maupun dari luar masyarakat desa tersebut. Menurut Pakpahan (1991), kelembagaan dicirikan oleh tiga hal yaitu: hak-hak kepemilikan (property right), yang berupa hak atas


(41)

benda materi atau non materi, batas yuridiksi, aturan representasi (rule of representation).

Menurut Soedjatmoko (1980), suatu institusi atau lembaga adalah suatu rangkaian hubungan antar manusia yang teratur dan yang disahkan secara sosial, yang menentukan hak, kewajiban dan sifat hukum dengan orang lain. Lembaga-lembaga ini terwujud di berbagai aspek kehidupan bermasyarakat seperti kontrak sewa atau kontrak kerja, pola bagi hasil di bidang pertanian atau bidang perikanan, pola pewarisan tanah dan sebagainya. Lembaga-lembaga ini penting karena lembaga dapat menjamin kemantapan, kepastian dalam interaksi sosial dan pada tata tertib masyarakat terjamin, tanpa ini hubungan sosial bisa menjadi kacau. Pola hirarki dalam suatu masyarakat, pola diskriminasi, sifat dualistik dalam suatu masyarakat, pola-pola asimetris, pola-pola ketergantungan yang timpang dalam pembagian keuntungan dan yang bersifat eksploitatif juga merupakan pola-pola struktural.

Davis dan Nort dalam Hayami dan Kikuchi (1981) mengklasifikasikan kelembagaan dalam dua sub kategori, yaitu :

1. Lingkungkan pranata dasar (the basic institusional environment) yakni seperangkat aturan-aturan keputusan dasar dan hak-hak pemilikan yang dapat dispesifikasikan ke dalam hukum formal, atau prinsip-prinsip adat kebiasaan yang dianggap suci oleh tradisi.

2. Susunan pranata sekunder (the secondary institusional arrangement), yakni bentuk-bentuk persetujuan khusus yang mengatur cara-cara bagaimana unit-unit ekonomi dapat berkompetisi atau bekerjasama dalam pemanfaatan sumberdaya.

Di dalam masyarakat, lingkungan pranata dasar merupakan prinsip-prinsip tradisional seperti tolong menolong dan pemerataan pendapatan diantara anggota masyarakat. Adapun contoh susunan pranata sekunder antara lain adalah bentuk-bentuk perjanjian khusus untuk memperkerjakan tenaga kerja.

2.5.2. Sistem Kelembagaan Masyarakat Pesisir

Menurut Anwar (2002), masyarakat pesisir yang bermukim di wilayah pesisir mempuyai institusi tradisional yang telah lama dianut dan dipegang secara


(42)

turun temurun hingga sekarang dalam hal pengelolaan sumberdaya perikanan. Institusi ini bertanggung jawab terhadap manajemen lingkungan menurut keahlian orang-orang yang terlibat dalam kegiatan produksi tradisional tersebut.

Kelembagaan Hubungan Kerja

Dalam kehidupan masyarakat pesisir terdapat kelembagaan hubungan kerja. Di beberapa wilayah pesisir di Indonesia, sistem kelembagaan ini memiliki karakteristik tersendiri seperti di Sulawesi Selatan di kenal hubungan antara punggawa-sawi (Salman dan Taryoto, 1992), di pantai utara Jawa dikenal hubungan antara juragan-pandega (Mubyarto dkk, 1984), sedangkan di Sumatera Utara terdapat hubungan antara tauke-nelayan (Mintoro et al., 1993).

Adanya kelembagaan hubungan kerja dalam masyarakat nelayan tidak terlepas dari kondisi sumberdaya laut yang bersifat open access, dengan sifat ini semua individu baik nelayan maupun pengusaha perikanan laut merasa mempuyai hak untuk mengeksploitasi sumberdaya laut sesuai dengan kemampuan masing-masing. Hal itu mengakibatkan sumberdaya tersebut relatif dapat dikuasai oleh anggota masyarakat yang mampu menguasai teknologi maju, baik teknologi alat tangkap maupun sarana penunjang lainnya. Kelompok ini menjadi lapisan masyarakat yang secara finansial mampu membeli peralatan tangkap yang lebih besar. Untuk mengatasi resiko fisik dan akibatnya dalam pengoperasian jenis alat tangkap cukup besar dilakukan dalam suatu organisasi kerja. Pada penggunaan cara ini diharapkan resiko fisik yang dihadapi saat pengoperasian alat tangkap dapat dikurangi dan keselamatan serta hasil penangkapan dapat lebih ditingkatkan (Pollnac, 1988).

Dari berbagai hasil penelitian, dapat dikatakan bahwa setiap unit alat tangkap merupakan unit organisasi kecil. Pada setiap unit organisasi kecil itu terdapat pemimpin dan pengikut (Salattang, 1982). Oleh Susilawati (1986) dikatakan bahwa organisasi kerja tersebut menunjukkan hubungan seperti relasi antara kepala rumah tangga (juragan) dan anggota rumah tangga (pendega). Adapun jumlah anggota setiap unit alat tangkap tergantung kepada jenis alat tangkap dan teknologi yang digunakan, yakni untuk purse seine 37 orang, jaring


(43)

insang hanyut 10 orang, jaring payang 17 orang dan otter trawl 67 orang (Lembaga Penelitian IPB, 1983).

Kelembagaan masyarakat petambak terdapat struktur yang terdiri dari status dan peranan tertentu dari anggotanya, yang terbentuk berdasarkan kepemilikan aset produksi (lahan, sarana produksi maupun modal keuangan). Hasil kajian Salman dan Taryoto (1992) di desa Manakku, Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa pada kelompok petambak terdapat lapisan sosial yang terdiri dari lapisan atas (petambak pemilik), lapisan menengah (petambak penyewa dan petambak penggarap). Sedangkan jaringan relasi sosial yang berlangsung berporos pada penyerahan hak garap tambak dari pemiliknya kepada orang lain melalui hubungan persewaan berdasarkan kontrak yang bersifat formal, hubungan penggarapan yang berdasarkan perjanjian bagi hasil dan hubungan berpola patron klien yang lebih informal tidak semata-mata hubungan ekonomi tetapi meluas kearah hubungan sosial. Pola hubungan yang terjadi antara petambak pemilik dengan petambak penyewa walaupun mirip transaksi jual beli nemun secara tidak langsung mengandung unsur hubungan bantu membantu. Antara petambak pemilik dengan penyakap walaupun tersamar potensi sub-ordinasi eksploitasi namun masih terdapat mekanisme bantu membantu, sementara antara petambak pemilik dengan sawi terbentuk pola hubungan patron klien yang selain merupakan hubungan kerja secara ekonomis juga terjadi hubungan sosial secara lebih luas.

Kelembagaan Bagi Hasil

Sistem bagi hasil perikanan lebih merupakan ikatan antara nelayan pemilik dengan nelayan buruh yang bersifat lokal dan sangat berbeda antar daerah maupun peralatan yang digunakan. Sistem bagi hasil merupakan suatu kelembagaan ekonomi yang terdapat di masyarakat nelayan sering kali masih bersifat asli dan merupakan adat kebiasaan masyarakat nelayan secara turun temurun. Menurut Taryoto et.al (1993), umumnya sistem bagi hasil yang berlaku adalah (1) pembagian hasil antara pemilik modal dengan nelayan yang kelaut (nahkoda dengan anak buah kapal), (2) pembagian antara nahkoda dengan anak buah kapal. Besarnya bagian untuk masing-masing golongan nelayan dapat berbeda,


(44)

tergantung pada teknologi yang diterapkan dan komponen biaya yang ditanggung masing-masing pihak.

Di Sulawesi Selatan dalam pengoperasian suatu jenis alat tangkap yang membentuk kelompok kerja, dikenal peran sebagai juragan (punggawa) dan pekerja (sawi). Bagi hasil yang diterima punggawa sebagai pemilik alat tangkap dan modal lebih besar dibandingkan dengan hasil yang diterima sawi. Sedangkan bagi hasil dikalangan sawi sendiri diatur sesuai dengan tugas dan fungsi dari sawi tersebut dalam organisasi kerja (Salman dan Taryoto, 1992). Hasil Penelitian Mubyarto dkk (1984) di daerah Jepara (Jawa Tengah) menunjukkan bahwa besarnya bagi hasil yang diterima setiap anggota alat tangkap jaring dogol (jaring untuk menangkap ikan teri yang terbuat dari serat goni dan ditarik dengan kapal motor) berbeda dengan bagi hasil yang diterima oleh setiap anggota kelompok kerja alat tangkap payang (jaring yang digunakan untuk menangkap ikan layang atau lemuru yang terbuat dari serat nilon dan ditarik dengan kapal motor).

Kelembagaan bagi hasil masyarakat petambak umumnya berlaku sistem bagi hasil 3:1, artinya tiga bagian hasil penen untuk pemilik tambak dan satu bagian untuk penjaga empang setelah dikurangi biaya produksi. Namun ada pula yang menggunakan sistem bagi hasil 75% untuk pemilik tambak dan 25% untuk penjaga empang yang memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya, itupun setelah dipotong biaya produksi atau 80% untuk pemilik empang dan 20% untuk penjaga empang yang kebutuhan hidupnya diprnuhi oleh pemilik tambak, setelah dipotong biaya produksi. Pemenuhan kebutuhan hidup penjaga empang biasanya dicukupi oleh pemilik tambak, sedangkan kebutuhan modal operasional akan dipenuhi oleh penggawa yang menjadi patronnya; seorang ponggawa akan meminta bantuan pada ponggawa yang lebih besar atau pada perusahaan eksportir dengan sebuah kesepakatan yang berujung pada penyerahan sepenuhnya hasil tambak kepada pemberi pinjaman modal. Dalam banyak kasus; seorang petambak yang memiliki hubungan baik dengan perusahaan eksportir, dapat langsung mendapatkan bantuan modal bagi kegiatan usahanya dan mendapat selisih keuntungan yang lebih baik karena menjual hasil produksi tambaknya langsung pada perusahaan tersebut dibandingkan melalui perantara ponggawa.


(45)

Kelembagaan Pemasaran dan Permodalan

Lembaga pemasaran yang dimaksud adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi pemasaran dimana barang-barang bergerak dari pihak produsen sampai ke konsumen. Termasuk dalam kelembagaan ini adalah produsen, pedagang perantara dan lembaga pemberi jasa lainnya. Pemilihan bentuk saluran pemasaran yang panjang tentunya akan melibatkan berbagai stakeholder dalam saluran tersebut. Semakin panjang suatu rantai pemasaran, semakin tinggi harga akhir yang ditanggung konsumen dibandingkan harga jual pertama dari tangan produsen. Kelebihan ini mencerminkan insentif yang dikehendaki oleh pelaku rantai pemasaran sebagai pengganti dari fungsi pengangkutan, pergudangan, grading, dan lain-lain yang mereka keluarkan (Karsyono dan Syafat, 2000).

Menurut Kusnadi (2001), di negara berkembang pekerjaan nelayan tidak selalu menyenangkan karena rasionalisasi dari hubungan kredit dan pemasaran (proses ekonomi), keadaan ini disebabkan oleh lima hal yaitu (1) kondisi pasar tidak bersifat bersaing sempurna, sehingga usaha ini mengarah pada monopoli, (2) hubungan nelayan kecil dengan para trader dalam bentruk kontrak cenderung menguntungkan trader, (3) berkaitan dengan permintaan dan penawaran ikan melalui penjualan ikan oleh nelayan kecil yang diikat dengan bunga yang tinggi sebagai imbalan kredit yang diterimanya dari pedagang, sehingga pedagang bebas melakukan proteksi melalui struktur pasar monopsonistik. Adanya kredit tersebut, mengharuskan nelayan untuk menjual hasil tangkapannya kepada pedagang dengan harga yang relatif rendah, sebagai angsuran pembayaran hutang, (4) tidak adanya organisasi nelayan yang solid, sehingga lebih menguntungkan pedagang dan pabrik pengolahan ikan (5) adanya hubungan kumulatif antara pemberi kredit dengan penerima kredit dalam pemasaran hasil-hasil perikanan mengikuti mekanisme yang dikembangkan sepanjang waktu.

Sikap nelayan yang serba tergantung, maka sumber kredit yang paling penting bagi nelayan adalah pedagang pengumpul. Pedagang tidak hanya memberikan kredit dalam bentuk uang tetapi juga dalam bentuk alat produksi alat produksi dan kebutuhan lainnya dengan jaminan adalah nelayan harus menjual hasil tangkapannya dengan harga yang telah disepakati sebelumnya, yang


(1)

Lampiran 2. Kuesioner Prioritas Strategi Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Dalam Pengendalian Degradasi Sumberdaya Alam Pesisir di Kota Bengkulu

FOKUS

FAKTOR SWOT

KRITERIA

ALTERNATIF STRATEGI

Dalam penelitian ini, Bapak/Ibu/Sdr responden dimohon untuk dapat memberikan nilai perbandingan antar elemen berdasarkan Angka Skala yang telah di tetapkan (Tabel 1). Pertimbangan nilai intensitas kepentingan antar elemen didasarkan pada logika, intuisi, kepakaran dan pengalaman Bapak/Ibu/Sdr responden dalam memahami permasalahan pemberdayaan masyarakat pesisir Kota Bengkulu ini.

Tabel 1. Skala Perbandingan Pasangan (Saaty, 1993)

Intensitas Keterangan

Penjelasan Kepentingan

1 Kedua elemen sama pentingnya Kedua

elemem mempuyai pengaruhyang sama

pentingnya

3 Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada Pengalaman dan penilaian sedikit menyokong satu

elemen yang lainnya elemen dibandingkan elemen lainnya

5 Elemen yang satu sedikit lebih cukup daripada elemen Pengalaman dan penilaian sangat kuat menyokong lainnya

satu elemen dibanding elemen lainnya

7 Satu elemen jelas lebih penting daripada elemen lainnya Satu elemen yang kuat disokong dan dominannya

Prioritas Strategi Pengendalian Degradasi Sumberdaya Alam Pesisir Melalui Pemberdayaan pesisir Kota Bengkulu

Kekuatan (Strength)

Kelemahan (Weaknesses)

Peluang (Opportunities)

Ancaman (Threats

Pembentukan kelembagaan ekonomi (koperasi keluarga) berbasiskan kekerabatan

Pengembangan system silvofishery dalam pengelolaan tambak dengan pendekatan

buttom up

Pembentukan kelembagaan ekonomi dan pelestarian sumberdaya pesisir

Rehabilitasi ekosistem pesisir yang telah mengalami degradasi.

Pengembangan teknologi penangkapan yang ramah lingkungan melalui kelompok-kelompok profesi

Kegia rehabi denga Program pendampingan dengan

melakukan intervensi komunitas

Peningkatan peran dalam memanfaatk secara lestari


(2)

telah terlihat dalam praktek

9 Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya Bukti yang mendukung elemen memiliki tingkat

penegasa n tertinggi yang mungkin

menguatkan 2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan Nilai ini diberikan bila ada dua kompromi di antara

dua pilihan

Kebalikan Jika untuk aktifitas i mendapatkan satu angka bila dibandingkan dengan aktifitas j, maka j mempuyai nilai

kebalikannya bila dibandingkan dengan i

Hierarki 1. Perbandingan Antar Faktor terhadap Fokus (Tujuan)

FOKUS

FAKTOR

Pendekatan pemberdayaan masyarakat pesisir Kota Bengkulu dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kekuatan (Strength), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan Ancaman (Threats).

Pertanyaan :

Bagaimana perbandingan tingkat kepentingan antar faktor-faktor tersebut terhadap pendekatan pemberdayaan masyarakat pesisir Kota Bengkulu

Perbandingan nilai tingkat kepentingan faktor terhadap tujuan

Kekuatan Kelemahan Peluang Ancaman Kekuatan

Kelemahan Peluang Ancaman

Prioritas Strategi Pengendalian Degradasi Sumberdaya Pesisir Melalui Pemberdayaan Nelayan K

Kekuatan (Strength)

Kelemahan (Weaknesses)

Peluang (Opportunities)


(3)

Hierarki 2. Perbandingan kriteria terhadap Faktor

FAKTOR

KRITERIA

Faktor-faktor yang mempengaruhi pendekatan pemberdayaan masyarakat nelayan Kota Bengkulu dipengaruhi oleh strategi yang dilakukan.

Pertanyaan : Bagaimana perbandingan tingkat kepentingan antar aktor-aktor tersebut dalam mempengaruhi faktor-faktor yang mempengaruhi pemberdayaan masyarakat nelayan ?

Pembentukan kelembagaan ekonomi dan pelestarian sumberdaya pesisir

Rehabilitasi ekosistem pesisir yang telah mengalami degradasi.

Program pendampingan dengan melakukan intervensi komunitas

Peningkatan p masyarakat pe memanfaatka

Pembentukan kelembagaan ekonomi dan pelestarian sumberdaya pesisir

Rehabilitasi ekosistem pesisir yang telah mengalami degradasi.

Program pendampingan dengan melakukan intervensi komunitas

Peningkatan peran serta masyarakat pesisir dalam memanfaatkan sumberdaya pesisir

Hierarki 3. Perbandingan kriteria terhadap alternatif strategi

KRITERIA

ALTERNATIF

STRATEGI Kekuatan

(Strenght)

Kelemahan

(Weaknesses) Peluang (opportunities)

Pembentukan kelembagaan ekonomi dan pelestarian sumberdaya pesisir

Rehabilitasi ekosistem pesisir yang telah mengalami degradasi.

Program pendampingan dengan melakukan intervensi komunitas

Peningkatan pe masyarakat pes memanfaatkan

Pembentukan kelembagaan ekonomi dan pelestarian sumberdaya pesisir

Rehabilitasi ekosistem pesisir yang telah mengalami degradasi.

Program pendampingan dengan melakukan intervensi komunitas

Peningkatan peran masyarakat pesisir memanfaatkan sum

Pembentukan kelembagaan ekonomi (koperasi keluarga) berbasiskan kekerabatan

Pengembangan teknologi penangkapan yang ramah lingkungan melalui kelompok-kelompok profesi

Pengembangan system silvofishery dalam pengelolaan tambak dengan pendekatan

Keg reha man pend


(4)

Pertanyaan :

Bagaimana perbandingan tingkat kepentingan dari alternatif strategi yang akan dicapai berdasarkan kriteria dalam pendekatan pemberdayaan masyarakat nelayan Kota Bengkulu ?

Perbandingan nilai tingkat kepentingan alternatif strategi

Pembentukan kelembagaan ekonomi (koperasi keluarga) berbasiskan kekerabatan

Pengembangan teknologi penangkapan yang ramah lingkungan melalui kelompok-kelompok profesi

Pengembangan system silvofishery dalam pengelolaan tambak dengan pendekatan buttom up

Ke reh ma pen

Pembentukan kelembagaan ekonomi (koperasi keluarga) berbasiskan kekerabatan Pengembangan teknologi penangkapan yang ramah lingkungan melalui kelompok-kelompok profesi

Pengembangan system silvofishery dalam pengelolaan tambak dengan pendekatan

buttom up

Kegiatan konservasi dan rehabilitasi hutan mangrove dengan pendekatan partisipatif

Apabila Bapak/Ibu/Sdr. Responden memiliki saran, pendapat, dan masukan tentang program pendekatan pemberdayaan masyarakat nelayan Kota Bengkulu, silahkan menulisnya di halaman ini.


(5)

Lampiran 3. Tabel Keragaan Modal struktur masyarakat nelayan di Kelurahan Teluk Sepang, Sumberjaya dan Kandang

Jenis Modal Kategori Selang skor Kelurahan Teluk Sepang

Kelurahan Sumberjaya

Kelurahan Kandang Modal Manusia Rendah

Tinggi

24-52 53-80 Jumlah

25,5 74,5 100,0

50,0 50,0 100,0

24,7 75,3 100,00 Modal fisikal Rendah

Tinggi

137-175 176-212 Jumlah

46,4 53,6 100,0

66,5 33,5 100,0

53,8 46,2 100,00 Modal Finansial Rendah

Tinggi

11-19 20-27 Jumlah

82,7 17,3 100,0

80,5 19,5 100,0

80,3 19,7 100,00 Modal Sosial Rendah

Tinggi

63-93 94-124 Jumlah

68,2 31,8 100,0

62,7 37,3 100,0

62,3 37,7 100,00 Modal Alamiah Rendah

Tinggi

23-33 34-42 Jumlah

82,7 17,3 100,0

55,7 44,3 100,0

58,3 41,7 100,00


(6)

ABSTRACT

HENNY APRIANTY. Degradation Control of Coastal Resources through the Empowerment of the Coastal Community (A Case Study of Fishermen and pond owners in Bengkulu City). Under the guidance of HADI S. ALIKODRA, KOOSWARDHONO,M., ENDRIATMO SOETARTO and LALA M. KOLOPAKING.

There are two phenomena regarding the coastal areas of Bengkulu City. First, in general coastal resources have not been optimally managed. Second, partially the condition of the coastal areas in Bengkulu City has been marked by abrasion, destruction of mangrove trees, destruction of coral riffs, and high volume of sedimentation, unorganized and poor dwelling areas on the coast, not to mention the socio-economic condition of the people which is still below the poverty line.

This research was aimed at studying the condition of natural resources on the coastal area, community structure and institutional structure that marginalize fishing community with the destruction of coastal resources and formulating a strategy to control the degradation of coastal resources through the empowerment of coastal community.

The study used qualitative approach, quantitative approach and Multi-criteria Decision Analysis (MCDA) approach. Qualitative approach primarily used emik approach through a case study. Quantitative approach used a survey method and Multi-criteria Decision Analysis (MCDA) approach with A’WOT technique. The condition of coastal resources was analyzed by analytical method of production surplus for the potential fishery resources, ecological analysis, and correlation analysis of spatial data for the condition of mangrove resources. Community structure of fishermen used the framework of sustainable livelihood. Community institution of fishermen was analyzed with descriptive analysis. The strategy for community empowerment used the analysis of integrated concept, SWOT and AHP.

The research result showed that the condition of coastal resources in Bengkulu City, especially marine fishery resources to have been “over-fishing”, where the actual potential had exceeded conservation potential. It was caused by the increase in production input; at the same time, the catch effort was going down. The mangrove forest in the research area had been degradated while had decreased in size from 2002 until 2007 by 174.94 ha or on the average of 35 ha/year. The destruction of mangrove forest in Teluk Sepang village was due to the change of function from mangrove forest to palm oil plantation, holticulture plantation and the collection area of coal. In the meantime, in Sumberjaya village and Kandang village, the destruction was caused by the opening of coastal ponds and dwelling areas.

In the structure of fishing community, it was revealed that physical capital, human capital, financial capital, natural capital and social capital of the fishermen in Teluk Sepang, Kandang and Sumberjaya were considered low. Social structure was stratified based on the difference in economic condition and kinds of job which places an employer (toke) on the highest social stratification. Employers control production asset and capital. The second layer was occupied by tekong,