Efek Pakan Mengandung Isoflavon Kedelai terhadap Bobot Badan dan Kadar Androgen Serum Tikus Jantan

1

EFEK PAKAN MENGANDUNG ISOFLAVON KEDELAI
TERHADAP BOBOT BADAN DAN KADAR
ANDROGEN SERUM TIKUS JANTAN

BINA PERTAMASARI

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

2

ABSTRAK
BINA PERTAMASARI. Efek Pakan Mengandung Isoflavon Kedelai terhadap
Bobot Badan dan Kadar Androgen Serum Tikus Jantan. Dibimbing oleh EDY
DJAUHARI PURWAKUSUMAH dan WARAS NURCHOLIS.
Isoflavon merupakan fitoestrogen yang dapat memberikan efek estrogenik
dan atau antiestrogenik. Kedelai adalah sumber utama penghasil isoflavon.
Isoflavon kedelai diduga antiestrogenik terhadap bobot badan dan kadar androgen
tikus jantan. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh pemberian pakan
mengandung isoflavon kedelai terhadap bobot badan dan kadar androgen tikus
jantan Sprague-Dawley. Dua puluh delapan ekor tikus dibagi ke dalam 7
kelompok yaitu satu kelompok kontrol negatif dan enam kelompok perlakuan
(tiga kelompok diberikan pakan isoflavon serbuk kacang kedelai (K1, K2, K3)
dan tiga kelompok diberikan pakan isolat kacang kedelai (I1, I2, I3)). Parameter
yang diamati meliputi bobot badan, konsumsi-efisiensi pakan, berat feses, dan
kadar androgen serum (testosteron dan dihidrotestosteron). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian pakan isoflavon K2, K3, I1, I2, dan I3
berpengaruh meningkatkan bobot badan tikus jantan sedangkan pakan K1
menurunkan. Semua pakan isoflavon kedelai dalam penelitian ini berpengaruh
signifikan (p0.05)
meningkatkan kadar androgen dihidrotestosteron. Persentase rata-rata tertinggi
dari peningkatan tersebut diamati pada kelompok pakan K2 (325.44%), dan
terendah adalah pada kelompok pakan K1 (175.05%).
Kata kunci: Isoflavon kedelai, bobot badan, antiestrogenik, testosteron,
dihidrotestosteron

3

ABSTRACT
BINA PERTAMASARI. The Effect of Soybean Isoflavone Containing Feed
against Serum Androgen Level of Male Rats. Under supervision of EDY
DJAUHARI PURWAKUSUMAH and WARAS NURCHOLIS.
Isoflavone is a phytoestrogen. It can trigger both of estrogenic and
antiestrogenic effects. Soybean was known as main source of isoflavone. It was
suspected that soybean isovlavone had an antiestrogenic effect against body
weight and androgen level of male rats. The objective of this research was to
examine the influence of soybean isoflavone feeding against the body weight and
androgen level of Sprague-Dawley male rats. Twenty eight rats were divided into
seven groups which consist of one negative control group and six experimental
groups (three groups were given soybean powder feedings (K1, K2, and K3) and
three groups on soybean isolate feedings (I1, I2, and I3). The examined
parameters were body weight, feeding consumption-efficiency, feces weight, and
serum androgen levels (testosterone and dihydrotestosterone). The result showed
that K2, K3, I1, I2, and I3 feeding increased body weight of male rats, whereas
K1 feeding decreased them. The isoflavones used in this research has significantly
reduced (p0.05)
androgen dihydrotestosterone. The highest average percentage of this increase
was seen at the group of K2 feeding (325.44%), while the lowest one was on
group of K1 feeding (175.05%).
Key words: Soybean isoflavone, body weight, antiestrogenic, testosterone
dihydrotestosterone

4

EFEK PAKAN MENGANDUNG ISOFLAVON KEDELAI
TERHADAP BOBOT BADAN DAN KADAR
ANDROGEN SERUM TIKUS JANTAN

BINA PERTAMASARI

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Sains pada
Departemen Biokimia

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

5

Judul Skripsi :rEfek Pakan Mengandung Isoflavon Kedelai terhadap Bobot
Badan dan Kadar Androgen Serum Tikus Jantan
Nama
: Bina Pertamasari
NIM
: G84070008

Disetujui,
Komisi Pembimbing

Drs. Edy Djauhari Purwakusumah, M.Si
Ketua

Waras Nurcholis, S.Si, M.Si
Anggota

Diketahui,

Dr. I Made Artika, M.App.Sc
Ketua Departemen Biokimia

Tanggal lulus:

6

PRAKATA

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang atas rahmat,
nikmat, dan karunia-Nya sehingga memberikan kekuatan bagi Penulis untuk dapat
menyelesaikan penelitian dan penulisan karya ilmiah yang diberi judul Efek
Pakan Mengandung Isoflavon Kedelai terhadap Bobot Badan dan Kadar
Androgen Serum Tikus Jantan. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan April
2011 sampai dengan Desember 2011 di Animal Laboratory, Pusat Studi
Biofarmaka dan Laboratorium Biokimia, Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Edy Djauhari dan Bapak
Waras Nurcholis selaku komisi pembimbing atas bimbingan, saran, dan motivasi
yang telah diberikan. Ungkapan terima kasih terdalam penulis sampaikan kedua
orang tua Penulis Baban Aswin (alm.) dan Rina Suminarsih, S.Pd, M.Pd, serta
kedua adik Penulis Deta Lestari dan Tiray Winandasari yang selalu memberikan
kasih sayang, doa, dan dukungan bagi Penulis. Terima kasih pula kepada Elsa,
Kurnia, Danio selaku rekan kerja, Bapak Aulia, Ibu Susi, dan Ibu Salina, yang
telah memberikan bantuan. Akhir kata, penulis berharap karya ilmiah ini dapat
berguna bagi Penulis sendiri maupun bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Bogor, Juli 2012

Bina Pertamasari

7

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Sukabumi pada 1 Oktober 1989 dari ayah Baban
Aswin (alm.) dan ibu Rina Suminarsih, S.Pd, M.Pd. Penulis merupakan anak
pertama dari tiga bersaudara. Tahun 2007, Penulis lulus dari SMA Negeri 1
Cicurug dan di tahun yang sama Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB)
melalui undangan seleksi masuk (USMI) di Departemen Biokimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
Selama perkuliahan, penulis pernah aktif di sejumlah unit kegiatan
mahasiswa (UKM) dan organisasi kemahasiswaan. Tahun 2007-2008 Penulis
menjadi staf human resources development (HRD) Century IPB. Penulis di tahun
2008-2009 aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM)
IPB menjadi staf Kementerian Pendidikan, dan dilanjutkan pada tahun 2009-2010.
Selain itu di tahun yang sama (2008-2009), Penulis juga aktif di Himpunan
Profesi Community of Research and Education in Biochemistry (CREBs) sebagai
staf divisi Bioanalisis. Tahun 2010-2011 Penulis menjadi sekretaris kementerian
di Kementrian Pengembangan Potensi Sumber Daya Manusia (PPSDM) BEM
KM IPB.
Penulis juga aktif dari tahun 2009 sebagai asisten praktikum Biokimia
Umum untuk Mahasiswa Departemen Biologi, Budi Daya Perairan, dan Fakultas
Kedokteran Hewan dan tahun 2010 sebagai asisten praktikum Pengantar
Penelitian Biokimia untuk mahasiswa Departemen Biokimia. Selain itu, di tahun
2011 penulis menjadi asisten praktikum Biokimia Umum untuk mahasiswa
Departemen Teknologi Hasil Perairan, Budi Daya Perairan, dan Fakultas
Kedokteran Hewan. Selama perkuliahan, Penulis pernah melakukan praktik
lapang di Laboratorium Fisika Kimia PT INDOLAKTO di Sukabumi selama 2
bulan dan menulis laporan ilmiah yang berjudul Analisis Fisika Kimia pada
Produk Akhir Susu Kental Manis Indomilk PT Indolakto. Sebagai pengalaman
profesi, Penulis pernah mengajar di bimbingan belajar mahasiswa “Katalis” tahun
2009-2010.

8

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ x
PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................... 1
Kedelai ............................................................................................................ 1
Isoflavon .......................................................................................................... 2
Bobot Badan .................................................................................................... 4
Estrogenik dan Antiestrogenik ......................................................................... 4
Androgen ......................................................................................................... 4
Hewan Coba .................................................................................................... 6
Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) ................................................. 7
BAHAN DAN METODE .................................................................................... 7
Bahan dan Alat ................................................................................................ 7
Metode............................................................................................................. 7
HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................ 9
Pengaruh Perlakuan Pemberian Pakan terhadap Bobot Badan Hewan Coba .... 9
Pengaruh Perlakuan Pemberian Pakan terhadap Kadar Testosteron dan
dihidrotestosteron Hewan Coba ...................................................................... 13
SIMPULAN DAN SARAN ............................................................................... 17
Simpulan........................................................................................................ 17
Saran.............................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 18
LAMPIRAN ...................................................................................................... 23

9

DAFTAR TABEL
Halaman
1 Komposisi zat gizi kedelai 100 gram bahan kering .......................................... 2
2 Kadar isoflavon pada berbagai bahan makanan ............................................... 3
3 Kadar protein pakan perlakuan ....................................................................... 8
4 Bobot badan, konsumsi pakan, efisiensi pakan, dan berat feses .................... 13
5 Kadar testosteron dan DHT .......................................................................... 17

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Tanaman kedelai ............................................................................................. 2
2 Biosintesis isoflavon ....................................................................................... 3
3 Biosintesis androgen ....................................................................................... 5
4 Tikus Sprague-Dawley .................................................................................... 7
5 ELISA reader .................................................................................................. 7
6 Bobot badan selama perlakuan ...................................................................... 10
7 Konsumsi pakan kelompok tikus ................................................................. 11
8 Berat feses selama perlakuan ......................................................................... 12
9 Kadar testosteron dan DHT kelompok tikus .................................................. 16

10

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Diagram penelitian secara umum .................................................................. 24
2 Rancangan percobaan.................................................................................... 25
3 Komposisi bahan untuk pembuatan 50 kg pakan ........................................... 26
4 Analisis testosteron ....................................................................................... 27
5 Analisis dihidrotestosteron ............................................................................ 28
6 Koefisien korelasi Pearson bobot badan, konsumsi pakan, efisiensi pakan,
dan berat feses hewan coba ........................................................................... 29
7 Data bobot badan tikus selama perlakuan ...................................................... 30
8 Data konsumsi pakan tikus selama perlakuan ............................................... 31
9 Data berat feses tikus selama perlakuan ......................................................... 32
10 Koefisien korelasi Pearson kadar testosteron dan dihidrotestosteron.............. 33
11 Hasil analisis statistik kadar testosteron dan dihidrotestosteron...................... 34
12 Data dan kurva standar testosteron hewan coba ............................................. 35
13 Data dan kurva standar dihidrotestosteron hewan coba ................................. 37
14 Data konsentrasi isoflavon ........................................................................... 39

1

PENDAHULUAN
Kedelai merupakan komoditas tanaman
pangan terpenting ketiga setelah padi dan
jagung. Tanaman ini kaya akan protein nabati
yang
sangat
penting
dalam rangka
peningkatan gizi masyarakat karena aman
bagi kesehatan dan murah harganya. Kedelai
biasanya dikenal sebagai tanaman pangan dan
sayuran. Namun kini diketahui bahwa kedelai
juga berkhasiat sebagai obat. Hal ini
dikarenakan oleh adanya senyawa bioaktif
pada kedelai yang bermanfaat menjaga dan
memperbaiki sistem fisiologis, maupun
pencegahan penyakit, terutama terdapat pada
bagian biji (Asih 2009). Senyawa bioaktif
tersebut adalah isoflavon (Okamato et al.
2006). Isoflavon umum ditemukan pada
kacang-kacangan dan utama ditemukan pada
kedelai (Cornwell et al. 2004).
Isoflavon dikenal sebagai fitoestrogen
karena struktur molekul isoflavon mirip
dengan struktur estrogen endogen. Hal ini
menyebabkan isoflavon dapat berikatan
dengan reseptor estrogen (RE), dan mampu
memberikan efek estrogenik dan atau efek
antiestrogenik (Robertson 2000).
Penelitian
banyak
menyoroti
efek
estrogenik isoflavon di antaranya isoflavon
dapat
membantu
meringankan
gejala
pascamenopause dan melindungi terhadap
penyakit kronik, seperti kanker payudara dan
endometrium (Anupongsanugool et al. 2005).
Namun perlu diketahui isoflavon dapat pula
bersifat antiestrogenik. Rendahnya kejadian
kanker prostat dan ginekomastia pada pria di
negara-negara Asia, seperti Cina dan Jepang
dibandingkan dengan kejadian di Amerika,
diduga akibat efek antiestrogenik dari
isoflavon kedelai yang dikonsumsi tinggi di
Asia (White et al. 2010).
Efek antiestrogenik isoflavon pada pria
berbentuk kompetisi isoflavon dengan
estrogen endogen dalam mengikat RE.
Keterikatan
isoflavon
dengan
RE
mengakibatkan estrogen endogen tinggi.
Normalnya ketika estrogen endogen tinggi,
akan terjadi umpan balik negatif sekresi
gonadotropin releasing hormone (GnRH)
hipotalamus, yang selanjutnya mengurangi
sensivitas
hipofisis
anterior
dalam
memproduksi luteinizing hormone (LH),
kemudian menurunkan sintesis testosteron di
sel Leydig, menyebabkan kadar testosteron
berkurang, dan menghambat aromatisasi
testosteron (Hoffman et al. 2009). Namun,
ketika isoflavon berikatan dengan RE,
isoflavon diduga memicu terjadinya inhibisi

mekanisme umpan balik negatif estrogen
terhadap GnRH (Shabsigh et al. 2005).
Isoflavon berikatan dengan RE, diduga
mencegah estrogen dari membatasi pelepasan
GnRH. GnRH kemudian menstimulasi
hipofisis anterior untuk melepaskan LH,
sehingga
terjadi
peningkatan
sintesis
testosteron oleh testis, dan terjadi peningkatan
kadar testosteron (Shabsigh et al. 2005).
Menurut Astuti dan Sutyarso (2010),
pemberian tepung kedelai kaya isoflavon
dengan dosis isoflavon 1.5 mg/ekor/hari
terhadap tikus jantan strain Sprague-Dawley
dapat menyebabkan peningkatan kadar
hormon testosteron serum.
Efek antiestrogenik isoflavon lainnya
adalah isoflavon diduga dapat meningkatkan
katabolisme sel lemak sehingga dapat
menurunkan kadar lemak tubuh, dan berakibat
pada turunnya bobot badan (Tolman et al.
2008). Hal ini bermanfaat karena obesitas dan
kelebihan berat badan merupakan faktor risiko
penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2,
penyakit kardiovaskular, serta rendahnya
kadar testosteron (Kuntana 2009). Menurut
Zhang et al. (2009) konsumsi isoflavon
kedelai dosis 1.5 dan 4.5 g/kg bb/ekor/hari
dapat menyebabkan penurunan bobot badan
pada tikus jantan Sprague-Dawley. Namun
penelitian mengenai pengaruh berbagai
macam pakan isoflavon kedelai (serbuk
kacang kedelai dan isolat kacang kedelai)
terhadap bobot badan dan kadar androgen
tikus
jantan
Sprague-Dawley
belum
dilakukan.
Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh
pemberian pakan mengandung isoflavon
kedelai terhadap bobot badan dan kadar
androgen tikus jantan Sprague-Dawley.
Hipotesis penelitian ini adalah pemberian
pakan mengandung isoflavon kedelai mampu
menurunkan bobot badan, serta meningkatkan
kadar testosteron dan dihidrotestosteron tikus
jantan Sprague-Dawley. Penelitian ini
diharapkan memberikan informasi kepada
masyarakat mengenai manfaat isoflavon
kedelai sehingga dapat dijadikan pengobatan
alternatif penyakit kekurangan androgen.

TINJAUAN PUSTAKA
Kedelai
Tanaman kedelai termasuk kingdom
Plantae, divisi Spermatophyta, subdivisi
Angiospermae, kelas Dikotiledon, ordo
Polipetales, famili Leguminosae, genus
Glycine, dan spesies Glycine max L. Merill
(Gambar 1). Kedelai dapat tumbuh baik di

2

daerah dengan ketinggian maksimal 500 m di
atas permukaan laut. Akar kedelai adalah akar
tunggang dengan bintil-bintil yang menempel
pada akar yang merupakan kumpulan bakteri
Rhizobium. Batang kedelai beruas-ruas 3-6
cm, cabang tumbuh tegak, berdaun lebar, dan
tinggi berkisar antara 30-100 cm. Daun
kedelai termasuk daun majemuk dengan tiga
buah anak daun, bentuk oval, dan ujung
lancip. Bunga kedelai berbentuk seperti kupukupu, warnanya ungu atau putih, dan muncul
pada ketiak daun. Buah kedelai berbentuk
polong, berisi 4 biji setiap polong, dan warna
polong kuning kecoklatan atau abu-abu
(Marsudi 2007). Biji kedelai dibedakan atas
tiga warna, yaitu kuning, hitam, dan hijau,
yang secara kimia tidak terdapat perbedaan
komposisi gizi (Astawan 2009).
Kedelai mengandung sekitar 35-45%
protein, 12-30% karbohidrat, 18-32% lemak,
dan 7% air per 100 gram (Ristek 2012), serta
sejumlah vitamin, yakni vitamin B kompleks
(Fafioye et al. 2005), mineral seperti kalsium,
tembaga, besi, magnesium, mangan, kalium,
natrium, seng (Ibrahim et al. 2008), dan serat
(Tabel 1). Kedelai memiliki 8 asam amino
esensial yaitu isoleusin, leusin, lisin, treonin,
valin, metionin, fenilalanin, dan triptofan,
dengan asam amino pembatas metionin dan
sistein, serta kandungan asam amino yang
cukup tinggi lisin dan treonin. Kandungan
lisin yang tinggi dalam kedelai sangat
menguntungkan, karena pada umumnya
makanan pokok sangat miskin akan lisin.
Kombinasi
kedelai
dengan
sumber
karbohidrat seperti beras, jagung, sagu, terigu,
dan singkong adalah sangat baik untuk
kelengkapan gizi (Astawan 2009). Kedelai
juga kaya akan asam amino glisin dan arginin
yang berperan aktif menurunkan kadar
kolesterol, rendah kandungan asam amino
bersulfur yang dapat mencegah osteoporosis,
dan komponen antikanker antara lain inhibitor
protease, fitat, saponin, fitosterol, dan asam
lemak omega-3 (Silalahi 2006).

Gambar 1 Tanaman kedelai (Deptan 2012)

Tabel 1 Komposisi zat gizi kedelai dalam 100
gram bahan kering
Zat gizi kedelai
Abu
Protein
Lemak
Karbohidrat
Serat
Kalsium
Fosfor
Besi
Tiamin
Riboflavin
Niasin
Asam pantotenat
Piridoksin
Biotin
Kobalamin
Asam amino esensial

Jumlah
6.1 gram
46.2 gram
19.1 gram
28.2 gram
3.7 gram
254 mgram
781 mgram
11 mgram
0.48 mgram
0.15 mgram
0.67 mgram
430 mkg
180 mkg
35 mkg
0.2 mkg
17.7 gram

Sumber: Astawan (2009)

Isoflavon
Isoflavon termasuk golongan senyawa
flavonoid, salah satu metabolit sekunder
tanaman, dicirikan sebagai deretan senyawa
C6-C3-C6, dan melimpah pada tanaman
polong-polongan (Gueven 2011). Isoflavon
pada tanaman berfungsi sebagai fitoaleksin
(Robinson 1995). Fitoaleksin adalah suatu
senyawa antimikrobial yang dibiosintesis dan
diakumulasikan oleh tanaman setelah terjadi
infeksi dari mikroorganisme patogen, terpapar
senyawa kimia tertentu, atau iradiasi dengan
sinar ultraviolet yang berguna mencegah
patogenisasi. Isoflavon juga merupakan
persinyalan yang dibentuk oleh kedelai guna
menarik bakteri rizhobial (Barnes 2010).
Biosintesis isoflavon ditunjukkan pada
Gambar 2.
Prekursor biosintesis isoflavon adalah
asam amino L-fenilalanin. Enzim fenilalanin
amonia liase (PAL) mengkatalisis hilangnya
gugus amina dari asam amino fenilalanin
menghasilkan asam sinamat. Reaksi kedua
dan ketiga, sinamat 4-hidroksilase (C4H) dan
4-kumarat KoA ligase (4CL) mengkonversi
asam sinamat menjadi p-kumariol-KoA.
Kalkon sintase (CHS) selanjutnya melakukan
katalisis pada kondensasi p-kumaroil-KoA
dengan tiga molekul malonil-KoA untuk
membentuk kerangka flavonoid C15, kalkon.
Tanaman legum menghasilkan dua jenis
kalkon, tetrahidroksi kalkon (naringenin
kalkon)
dan
trihidroksi
kalkon
(isoliquiritigenin kalkon) dengan reaksi
enzimatik tambahan yang dikatalisis oleh
kalkon reduktase (CHR), sedangkan tanaman
non-legum hanya menghasilkan naringenin
kalkon (Dhaubhadel et al. 2003).

3

Naringenin kalkon dan isoliquiritigenin
kemudian dikonversi ke flavanon. Naringenin
kalkon dikonversi ke naringenin flavanon dan
isoliquiritigenin dikonversi ke liquiritigenin
oleh enzim kalkon isomerase (CHI). Migrasi
aril untuk menciptakan isoflavon dimediasi
oleh isoflavon sintase (IFS). Reaksi ini juga
membutuhkan reduksi nicotinamide adenine
dinucleotide phosphate (NADPH) dan
molekul oksigen sehingga menghasilkan 2hidroksiisoflavanon. Hasil reaksi dari IFS, 2hidroksiisoflavanon, sangat tidak stabil dan
mengalami dehidrasi dengan membentuk
ikatan ganda antara C2 dan C3 oleh
dehidratase untuk membentuk genistein atau
daidzein (Dhaubhadel et al. 2003).
Empat bentuk isoflavon pada kedelai,
yaitu aglikon (bentuk bebas) yang terdiri atas
genistein, daidzein, dan glisitein, bentuk
glikosida yang beranggotakan genistin,
daidzin, dan glisetin, bentuk asetilglikosida
yang terdiri atas 6''-O-asetilgenistin, 6''-Oasetildaidzin, dan 6''-O-asetilglisetin, dan
bentuk malonilglikosida yang terbagi atas 6''O-malonilgenistin, 6''-O malonildaidzin, 6''-Omalonilglisetin. Isoflavon pada olahan kedelai
non-fermentasi umumnya berada dalam
bentuk glikosida, yaitu 64 % genistin, 23 %
daidzin, dan 13 % glisetin. Bentuk fermentasi
kedelai seperti tempe, isoflavon berada dalam
bentuk aglikon (Astawan 2009).

Tabel 2 Kadar isoflavon pada berbagai bahan
makanan
Produk
Kacang kedelai
Biji bunga matahari
Kacang tanah
Gandum
Beras
Jagung
Bawang putih
Asparagus
Wortel
Ubi jalar

Kadar isoflavon
(µg/100g)
863
396
161
490
297
230
407
374
346
295

Sumber: Wirakusumah (2007)

Kedelai
serta
produk
olahannya
merupakan sumber isoflavon, dan hanya
sejumlah kecil ditemukan di tanaman lain
(Tabel 2) (Barnes 2010). Konsumsi isoflavon
dari kedelai diketahui dapat melindungi
terhadap penyakit yang berkaitan dengan usia
misalnya penyakit jantung dan osteoporosis,
kanker tertentu misalnya payudara dan
prostat, dan gejala postmenopausal misalnya
hot flushes (Lephart 2004).
Telah
diketahui
berbagai
teknik
pengolahan kedelai utuh. Tempe, tauco, tahu,
susu kedelai, kecap merupakan produk hasil
olahan kedelai. Proses pengekstrakan minyak
dari kedelai akan menghasilkan bungkil
kedelai dengan kadar protein hingga 40%, dan

Gambar 2 Biosintesis isoflavon (Dhaubhadel et al. 2003)

4

dapat diolah lebih lanjut menjadi konsentrat
protein kedelai atau isolat protein kedelai.
Isolat protein kedelai merupakan salah satu
hasil isolasi protein dari kedelai yang
memiliki kemurnian protein paling tinggi (di
atas 90% berdasarkan berat kering) sehingga
produk ini hampir terbebas dari zat-zat lain,
seperti karbohidrat, serat, dan lemak (Permadi
2011).
Menurut Astawan (2009), isolat protein
kedelai dibuat dengan cara melarutkan protein
tepung kedelai dengan larutan basa encer pada
pH 7-9, serta membuang endapan tidak
larutnya dengan cara pemusingan atau
penyaringan. Ekstrak yang didapat kemudian
diasamkan sampai pH-nya mencapai 4.5 agar
terjadi pengendapan protein. Endapan protein
ini selanjutnya dinetralkan dengan basa dan
dikeringkan dengan pengering semprot (spray
dryer) sampai diperoleh bentuk tepung. Jadi,
pada prinsipnya isolat protein kedelai
diperoleh dengan cara pengendapan seluruh
protein pada titik isoelektrik yaitu pH
sehingga seluruh protein menggumpal. Isolat
protein kedelai telah banyak diaplikasikan
dalam industri pangan seperti produk daging
tiruan, karena isolat protein kedelai memiliki
sifat fungsional (di luar sifat nutrisi) yang
dapat menyumbangkan karakteristik yang
diinginkan pada makanan.
Bobot Badan
Bobot badan adalah ukuran tubuh dalam
sisi beratnya yang ditimbang dalam keadaan
tanpa perlengkapan apapun. Bobot badan
diukur dengan alat ukur bobot badan dengan
satuan gram (g) atau kilogram (kg). Bobot
badan merupakan ukuran yang lazim atau
sering dipakai untuk menilai kesehatan atau
keadaan gizi. Bobot badan diketahui maka
akan dapat memperkirakan tingkat kesehatan
atau gizi. Bobot badan dianjurkan untuk
mengukur kesehatan dan keadaan gizi karena
mudah dilihat perubahannya dalam waktu
singkat, memberikan gambaran keadaan gizi
pada saat sekarang dan kesehatan bila
dilakukan
secara
periodik,
ketelitian
pengukuran
tidak
dipengaruhi
oleh
keterampilan yang mengukur, dan alat ukur
mudah diperoleh (Muntaha 2011).
Pertumbuhan bobot badan dapat dikatakan
secara sederhana adalah perubahan ukuran
yang meliputi perubahan berat, bentuk,
dimensi linear, dan komposisi tubuh, termasuk
perubahan komponen-komponen tubuh seperti
otot, lemak, tulang, dan organ, serta
komponen-komponen kimia, terutama air,
lemak, protein, dan abu. Faktor jenis kelamin,

hormon, kastrasi, serta genotif mempengaruhi
pertumbuhan bobot badan. Konsumsi protein
dan energi yang lebih tinggi akan
menghasilkan laju pertumbuhan bobot badan
yang lebih cepat (Soeparno 1992).
Estrogenik dan Antiestrogenik
Estrogen diproduksi dalam ovarium dan
testis. Reseptor estrogen berada di inti,
sebagian kecil (2-3%) berada pada membran
sel, dan membentuk dimer ketika berikatan
dengan
estrogen.
Dimer
kemudian
berinteraksi dengan elemen reseptor estrogen
(ERE) yang mengatur transkripsi gen
responsif estrogen untuk menghasilkan efek
estrogenik atau agonis estrogen. Bentuk
dominan estrogen endogen dalam tubuh
adalah 17β-estradiol, meskipun senyawa yang
dapat menginduksi dimerisasi reseptor
estrogen, dan selanjutnya mengikat ERE, bisa
dianggap estrogen. Efek antiestrogenik atau
antagonis estrogen dapat terjadi ketika
senyawa mampu dapat berikatan dengan
reseptor estrogen namun menghambat respon
estrogen dengan cara pembentukan dimer
tidak terjadi atau konfigurasi yang benar
untuk mengaktifkan ERE tidak tercapai
(Robertson 2000). Beberapa senyawa
bertindak sebagai estrogenik dan juga
antiestrogenik disebut sebagai selektif
estrogen receptor modulator (SERM)
(Vissac-Sabatier 2003).
Senyawa-senyawa SERM secara struktural
mirip dengan 17β-estradiol sehingga molekulmolekul senyawa yang mirip dengan estradiol
ini dianggap memiliki aktivitas agonis
sekaligus antagonis estrogen (Vissac-Sabatier
2003). Antiestrogen tamoxifen, sebagai,
contoh bertindak sebagai antiestrogenik dalam
jaringan payudara tetapi sebagai estrogenik
dalam rahim, tulang, dan sistem pembuluh
darah (Cornwell et al. 2004).
Androgen
Androgen
adalah
hormon
yang
bertanggungjawab terhadap berbagai sifat
maskulinisasi tubuh (Umam 2010). Hormon
ini disintesis di testis, kelenjar adrenal, serta
dalam jaringan perifer seperti prostat dan kulit
(Hsing 2001). Androgen pada pria memainkan
peran
penting
dalam
pengembangan,
pemeliharaan, serta regulasi dari fenotip dan
fisiologi reproduksi pria (Gobinet et al. 2002)
Lima androgen utama dalam tubuh pria yaitu
dehidroepiandrosteron, dehidroepiandrosteron
sulfat, dihidrotestosteron, androstenedion, dan
testosteron (Hsing 2001). Jalur biosintesis
androgen ditunjukkan pada Gambar 3.

5

Biosintesis
androgen
memerlukan
kolesterol sebagai prekursornya. Kolesterol
dapat disintesis di dalam kelenjar andrenal
atau diambil dari plasma darah. Kolesterol
yang diambil dari plasma darah memerlukan
high density lipoprotein (HDL), sebagai
komponen plasma darah yang memberikan
kolesterol
kepada
kelenjar
adrenal.
Pengambilan kolesterol dari HDL dipacu oleh
adrenocorticotropic
hormone
(ACTH)
(Kapsul 2007).
Kolesterol dengan demikian jika diambil
dari darah, sintesis kolesterol oleh kelenjar
adrenal dihambat tetapi jika pengambilan
kolesterol dari plasma darah menurun, sintesis
kolesterol oleh kelenjar adrenal meningkat.
Bila kolesterol tidak segera digunakan untuk
sintesis androgen dan hormon steroid lainnya,
maka kolesterol disimpan di dalam kelenjar
adrenal sebagai ester kolesterol. Ester
kolesterol yang akan digunakan untuk sintesis
androgen atau steroid lainnya dihidrolisis oleh
hidrolase ester sterol yang diaktifkan oleh
fosforilasi melalui protein kinase yang
kerjanya bergantung pada cyclic adenosine
monophosphate (cAMP) (Kapsul 2007).
Langkah awal dalam jalur biosintesis
testosteron tersebut adalah konversi C27
kolesterol ke C21 steroid pregnenolon. Reaksi
ini dikatalisis oleh enzim pemutus rantai
samping
sitokrom
P450
(P450scc).
Pregnenolon berdifusi menembus membran

mitokondria dengan bantuan steroidogenic
acute regulatory protein (StAR) dan
selanjutnya dimetabolisme oleh enzim yang
ada di retikulum endoplasma halus.
Pregnenolon dalam sel Leydig dikonversi ke
progesteron
oleh
kerja
enzim
3-βhidroksisteroid dehidrogenase (3β HSD)
(Kapsul 2007).
Enzim 17-α-hidroksilase mengkatalisis
pengubahan progesteron menjadi 17-αhidroksiprogesteron, yang selanjutnya diubah
menjadi
androstenedion,
prekursor
testosteron,
oleh
enzim
C17,20–liase.
Androstenedion kemudian dikatalisis oleh 17–
β-hidroksisteroid dehidrogenase menjadi
testosteron. Sel Leydig juga mengekspresikan
sitokrom P450 aromatase, yang mengkatalisis
aromatisasi dari testosteron ke estradiol
(Kapsul 2007).
Androgen juga memiliki jalur biosintesis
lain, tidak melalui progesteron tetapi melalui
dehidroepiandrosteron. Pregnenolon yang
terbentuk dari kolesterol diubah menjadi 17-αhidroksipregnenolon dengan bantuan enzim
17-α-hidroksilase. 17-α-hidroksipregnenolon
selanjutnya diubah oleh C17,20–liase menjadi
dehidroepiandrosteron, dan androstenedion
terbentuk dengan bantuan enzim 3βhidroksisteroid dehidrogenase. Testosteron
kemudian terbentuk dengan bantuan enzim
17-β-hidroksisteroid dehidrogenase (Kapsul
2007).

Gambar 3 Biosintesis androgen (Murray et al. 2003)

6

Tiga komponen penting dalam produksi
androgen dalam sistem reproduksi pria yaitu
hipotalamus, hipofisis anterior, dan testis,
yang membentuk sistem yang disebut dengan
hipotalamus-hipofisis-gonad
atau
HHG
(Emanuele dan Emanuele 1998). GnRH dari
hipotalamus menstimulasi hipofisis anterior
untuk mensekresikan FSH dan LH. FSH
bertugas menstimulasi sel Sertoli untuk
memproduksi androgen binding protein
(ABP), dengan adanya ABP, testosteron
mendukung spermatogonesis, sementara LH
bertugas menstimulasi sel Leydig untuk
memproduksi testosteron. Jika testis mulai
memproduksi testosteron terlalu banyak, hal
ini dirasakan oleh otak, dan hipotalamus akan
mengirimkan sinyal GnRH ke hipofisis untuk
mereduksi sintesis LH. LH berkurang pada
gilirannya memicu produksi perlambatan
sintesis testosteron. Jika testis mulai
memproduksi testosteron terlalu sedikit,
hipotalamus akan mengirimkan sinyal ke
kelenjar hipofisis untuk membuat LH
berlebih, yang merangsang testis untuk
membuat
testosteron
lebih
banyak
(Cunningham et al. 2003).
Hewan Coba
Hewan percobaan adalah hewan yang
sengaja dipelihara dan diternakkan untuk
dipakai sebagai hewan model dalam
mempelajari dan mengembangkan berbagai
bidang ilmu dalam skala penelitian atau
pengamatan laboratorik (Malole dan Pramono
1989). Syarat hewan sebagai hewan coba
adalah sedapat mungkin hewan percobaan
bebas
dari
mikroorganisme
patogen,
mempunyai kemampuan dalam memberikan
reaksi imunitas yang baik, kepekaan terhadap
sesuatu penyakit, performa atau prestasi
hewan percobaan yang dikaitkan dengan sifat
genetiknya (Sulaksono 1987). Hewan
percobaan terbagi atas 5 kelompok, yaitu
hewan laboratorium berukuran kecil, seperti
mencit, tikus, dan kelinci, karnivora, seperti
kucing dan anjing, primata, seperti Macaca
dan babon, kelompok domestik besar, seperti
domba, sapi, dan kelompok hewan lainnya,
seperti unggas (Wolfensohn dan Lloyd 1998).
Pemilihan hewan percobaan untuk
penelitian biasanya didasarkan pada tujuan
penelitian yang akan dilakukan. Kelinci
misalnya merupakan hewan percobaan yang
cocok dan paling sering digunakan untuk
penelitian tentang hiperkolesterolemia karena
kelinci memiliki cadangan lemak tubuh yang
banyak (Sirois 2005) dan peka terhadap
kolesterol (Muliasari 2009). Berbeda dengan

anjing, kucing, dan tikus yang resisten
terhadap pakan kolesterol (Sirois 2005).
Primata merupakan hewan yang sangat
cocok digunakan dalam penelitian ilmiah yang
ada kaitannya dengan manusia karena
kekerabatan, serta kemiripan anatomis,
fisiologis, dan patologis. Namun penggunaan
hewan coba primata menemui banyak kendala
seperti sulitnya pengadaan hewan, perawatan
yang rumit dan mahal, penanganan yang sulit,
serta adanya bahaya penyakit menular (Sirois
2005). Hewan percobaan lain yang memiliki
karakter fisiologis mirip dengan manusia
maupun mamalia lain adalah tikus. Tikus
terdiri atas dua spesies, yaitu tikus hitam
(Rattus rattus) dan tikus putih (Rattus
norvegicus). Spesies yang sering dipakai
sebagai hewan model pada penelitian
mengenai mamalia adalah Rattus norvegicus
(Malole dan Pramono 1989).
Rattus norvegicus merupakan kingdom
Animalia, famili Muridae, sub famili Murinae,
ordo Rodentia, sub ordo Myomorpha, genus
Rattus, dan spesies Rattus norvegicus. Tikus
putih memiliki 5 macam basic stock yaitu
Long Evans, Osborne Mendel, Sherman,
Sprague-Dawley, dan Wistar (Lane dan Petter
1976). Rattus norvegicus memiliki ciri rambut
berwarna putih dan mata berwarna merah
(Malole dan Pramono 1989). Tikus yang baru
lahir biasanya memiliki berat badan 5-6 gram
dan memiliki kecepatan tumbuh 5 gram/hari.
Berat badan tikus dewasa rata-rata 200-250
gram, tetapi bervariasi tergantung pada
galurnya. Tikus jantan tua dapat mencapai 500
gram dan tikus betina jarang lebih dari 350
gram. Galur Sprague-Dawley paling besar
hampir sebesar tikus liar (Gambar 4) (Smith
dan Mangkoewidjojo 1988).
Rattus
norvegicus
sebagai
hewan
percobaan, memiliki beberapa keunggulan,
yaitu pemeliharaan dan penanganan mudah,
kemampuan reproduksi tinggi dan masa
kebuntingan singkat, serta cocok untuk
berbagai penelitian (Malole dan Pramono
1989). Tikus putih banyak digunakan pada
penelitian-penelitian toksikologi, metabolisme
lemak, obat-obatan, maupun mekanisme
penyakit infeksius (Berata et al. 2010).
Penelitian yang telah pernah dilakukan
menggunakan Rattus norvegicus adalah
penelitian tentang hipertensi, diabetes
insipidus, katarak, obesitas, diabetes melitus,
dan lain-lain (Sirois 2005). Tikus Rattus
norvegicus juga diketahui merupakan hewan
model yang baik digunakan untuk penelitian
yang berkaitan dengan reproduksi (Tamboss
2001).

7

Gambar 4 Tikus Sprague-Dawley
Tikus Sprague-Dawley memiliki ciri-ciri
berwarna albino putih, berkepala kecil, dan
ekornya lebih panjang daripada badannya.
Keuntungan utamanya adalah ketenangan dan
kemudahan penanganannya. Dua sifat utama
yang membedakan tikus dengan hewan
percobaan lain, yaitu tikus tidak dapat muntah
karena struktur anatomi yang tidak lazim pada
tempat bermuara esofagus ke dalam lambung
sehingga mempermudah dalam perlakuan
pencekokan, dan tidak mempunyai kantong
empedu (Smith dan Mangkoewidjojo 1988).
Enzym-linked immunosobent assay (ELISA)
ELISA merupakan suatu metode uji
serologis. Prinsip kerja dari ELISA adalah
adanya ikatan antigen dengan antibodi
spesifik. Ikatan antigen antibodi akan dilabel
dengan enzim dan substrat yang akan
memberikan warna, dan dibaca pada ELISA
reader (Rasmana 2009). Metode ELISA
dibagi 2 jenis teknik yaitu teknik kompetitif
dan non kompetitif. Teknik non kompetitif ini
dibagi menjadi dua yaitu sandwich dan
indirect. Pemeriksaan hormon biasanya
menggunakan teknik kompetitif dan sandwich
(Asihara dan Kasahara 2001).
Keuntungan metode ELISA yaitu sangat
sensitif, spesifik, analisisnya cepat, hasil
analisis dapat disimpan dalam jangka waktu
yang lama, dapat memeriksa beberapa
parameter sekaligus, peralatan mudah didapat,
dan tidak menggunakan zat radiasi. Kerugian
metode
ELISA
adalah
pemeriksaan
menggunakan enzim sebagai label cukup
kompleks karena aktivitas enzim dipengaruhi
oleh berbagai faktor (Asihara dan Kasahara
2001). Hasil uji ELISA dibaca menggunakan
ELISA reader.
ELISA
reader
adalah
jenis
spektrofotometer khusus (Gambar 5). Berbeda
dengan spektrofotometer konvensional yang
memfasilitasi pembacaan pada berbagai
panjang gelombang, ELISA reader memiliki
filter atau kisi-kisi difraksi yang membatasi
rentang panjang gelombang, umumnya antara

400-750
nm
(nanometer).
Beberapa
pembacaan beroperasi dijangkauan ultraviolet
dan melakukan analisis antara 340-700 nm.
Sistem optik yang banyak digunakan adalah
serat optik untuk memasok cahaya ke sumur
microplate berisi sampel. Beberapa ELISA
reader juga menggunakan sistem cahaya
berkas ganda. Sampel uji diletakkan di plate
khusus. Plate umumnya terdiri atas 8 kolom
dengan 12 baris dengan total 96 sumur,
namun ada juga plate dengan jumlah sumur
yang lebih besar. Lokasi dari sensor optik
ELISA reader bervariasi, ada yang terletak di
atas plate sampel atau langsung di bawah
sumur plate (WHO 2009).

Gambar 5 ELISA reader

BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan-bahan yang digunakan dalam
penelitian adalah kasein, serbuk kacang
kedelai, isolat kacang kedelai, minyak jagung,
mineral, serat, vitamin, maizena, air, eter, kit
ELISA testosteron, dihidrotestosteron, tisu,
dan tikus putih jantan galur Sprague-Dawley
berumur ±2 bulan yang diperoleh dari Pusat
Studi Biofarmaka, Bogor.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian
adalah masker, sarung tangan, kandang
ukuran 50x30x10 cm, serbuk kayu, timbangan
digital, neraca analitik, tabung reaksi kecil,
toples, gunting, pinset, nampan, spoit,
Eppendorf, sentrifus, freezer, mikropipet,
pipet multichannel, tip, dan seperangkat alat
ELISA.
Metode
Pembuatan Pakan Perlakuan
Komposisi pakan perlakuan disesuaikan
dengan anjuran Association of Official
Analytical
Chemists
(AOAC)
(1984)
(Lampiran 2). Pakan terdiri atas kasein,
serbuk kacang kedelai atau isolat kacang
kedelai, minyak jagung, mineral, vitamin,
maizena, dan air. Semua bahan pakan diaduk
hingga homogen kemudian dilakukan
pemadatan hingga bentuk akhir pakan menjadi
bentuk pelet. Tujuh macam pakan yang dibuat
dilakukan analisis kadar protein, isoflavon

8

daidzein bebas, total, genistein bebas, dan
total di Southeast Asian Food and
Agricultural Science and Technology Center
IPB (SEAFAST Center IPB).
Perlakuan dan Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan hewan
percobaan berupa tikus putih jantan SpragueDawley sebanyak 28 ekor. Tikus ditempatkan
dalam kandang berukuran 50x30x10 cm, 1
ekor per kandang, beralaskan serbuk kayu,
dengan kondisi cahaya dan ventilasi cukup,
dan suhu ruang. Tikus dibagi menjadi 7
kelompok secara acak. Setiap kelompok
terdiri atas 4 ekor tikus.
Pemberian perlakuan dilakukan selama 1
bulan. Perlakuan yang digunakan adalah
perlakuan pakan. Kelompok kontrol adalah
kelompok kontrol negatif yang selama
perlakuan diberi pakan kasein dan air. Pakan
kasein merupakan pakan yang seluruh
kandungan proteinnya bersumber dari kasein
dan tanpa mengandung isoflavon. Kelompok
lainnya merupakan kelompok perlakuan.
Pakan perlakuan merupakan pakan yang
masing-masing kandungan protein dan
isoflavon bersumber dari masing-masing
isoflavon kedelai (serbuk kacang kedelai atau
isolat kacang kedelai).
Kelompok K1 diberikan pakan perlakuan
serbuk kacang kedelai 100% dan air.
Kelompok K2 diberikan pakan perlakuan
serbuk kacang kedelai 50% dan air. Kelompok
K3 diberikan pakan perlakuan serbuk kacang
kedelai 10% dan air. Kelompok I1 diberikan
pakan perlakuan isolat kacang kedelai 100%
dan air. Kelompok I2 diberikan pakan
perlakuan isolat kacang kedelai 50% dan air.
Kelompok I3 diberikan pakan perlakuan isolat
kacang kedelai 10% dan air.
Pakan 100% merupakan pakan yang
seluruh kandungan proteinnya masing-masing
dan isoflavonnya bersumber dari masingmasing isoflavon kedelai (serbuk kacang
kedelai atau isolat kacang kedelai). Kelompok
pakan 50% merupakan pakan yang 50%
kandungan proteinnya dan isoflavonnya
bersumber dari masing-masing isoflavon
kedelai dan 50% bersumber dari kasein.
Kelompok 10% merupakan 10% kandungan
protein dan isoflavon pakan bersumber dari
masing-masing isoflavon kedelai dan 90%
dari kasein. Komposisi pakan per kelompok
dapat dilihat pada Lampiran 3. Kadar protein
pada masing-masing pakan perlakuan
ditunjukkan pada Tabel 3. Konsumsi pakan
dan berat feses hewan coba ditimbang, dan
diamati setiap harinya.

Tabel 3 Kadar protein pakan perlakuan
Tipe pakan
Kontrol
Kedelai 100%
Isolat 100%

Unit
%
%
%

Kadar protein
19.10
26.80
25.58

Pengambilan Darah
Pengambilan darah dilakukan melalui
pembuluh darah vena ekor. Sebelum
pengambilan darah suhu tubuh tikus
ditingkatkan terlebih dahulu dengan tikus
ditempatkan dibawah terik matahari. Hal ini
membantu untuk melebarkan pembuluh darah
sebelum perdarahan. Namun tidak boleh
terlalu panas karena dapat menyebabkan
dehidrasi dan hipertemia. Ekor tikus
dibersihkan dengan alkohol 70%. Alkohol
berfungsi sebagai disinfeksi ekor (Joslin
2009). Ujung ekor dipotong 1 cm dengan
menggunakan gunting. Ketika dibutuhkan
penambahan darah, ekor dapat dipotong
kembali hanya 2-3 mm. Pemotongan ekor
terlalu pendek dapat menyebabkan trauma
pada tulang rawan (Hoff 2002). Ekor tikus
diurut hingga darah menetes. Tetesan darah
ditampung dalam tabung reaksi kecil. Tikus
kemudian dikorbankan dengan cara dibius
dengan eter, dan dilakukan nekropsi untuk
pengambilan darah dari jantung. Darah
kemudian didiamkan 15 menit, disentrifus
pada 3000 g selama 30 menit, dan diambil
serumnya. Serum dimasukkan tabung
Eppendorf dan disimpan -2°C sampai siap
dianalisis.
Penentuan Kadar Testosteron
Penentuan kadar testosteron dilakukan
dengan menganalisis serum darah tikus
percobaan dengan menggunakan kit ELISA.
Metode yang digunakan mengacu pada
Innovation Beyond Limits International (IBL
International) (2007). Sebanyak 25 µL blanko,
standar, dan sampel serum darah tikus
masing-masing dimasukkan ke dalam sumur
microtiter plate, ditambahkan masing-masing
200 µL enzim konjugat, kemudian diaduk
selama 10 detik. Campuran larutan
diinkubasikan selama 60 menit pada suhu
ruang (tanpa menutup plat). Isi sumur-sumur
dikeluarkan secara cepat, dicuci sebanyak 3
kali dengan menggunakan wash solution (400
µL per sumur). Sumur-sumur diletakkan
secara terbalik pada kertas absorben untuk
membuang sisa-sisa tetesan yang ada. Setelah
itu ditambahkan 200 µL substrate solution
pada tiap-tiap sumur, kemudian diinkubasikan
selama 15 menit pada suhu ruang. Sebanyak

9

100 µL stop solution pada tiap-tiap sumur
ditambahkan untuk menghentikan reaksi
enzimatik, dan diamkan selama 10 menit.
Setelah 10 menit, densitas optik (OD) dibaca
pada panjang gelombang 415 nm dengan
menggunakan microtiter plate reader.
Penentuan Kadar Dihidrotestosteron
Penentuan
kadar
dihidrotestosteron
didasarkan pada metode IBL International
(2006) dengan menganalisis serum darah tikus
percobaan dengan menggunakan kit ELISA.
Sebanyak 50 µL dipipet dari masing-masing
blanko, standar, dan sampel serum darah tikus
ke dalam sumur berlabel yang sesuai beberapa
kali, kemudian 100 µL larutan konjugat
dipipet ke dalam tiap-tiap sumur (dengan
pipet multichannel). Campuran larutan
diinkubasi di dalam plate shaker (sekitar 200
rpm) selama 1 jam dalam suhu ruang. Sumursumur dicuci sebanyak 3 kali dengan
menggunakan 300 µL bufer pencuci yang
telah diencerkan per sumur dan plat
diletakkan secara perlahan-lahan pada kertas
tisu untuk memastikan bahwa plat benar-benar
kering. Setelah itu 150 µL substrat 3,3,5,5tetrametilbenzidin (TMB) dipipet ke dalam
tiap-tiap sumur dengan interval waktu yang
tepat, kemudian diinkubasi di dalam plate
shaker selama 10-15 menit pada suhu ruang
(sampai kalibrator A memiliki warna biru tua
untuk mendapatkan nilai OD yang
diinginkan). Sebanyak 50 µL stopping
solution dipipet ke dalam tiap-tiap sumur
dengan interval waktu yang tepat, dan
diamkan selama 20 menit. Setelah 20 menit,
plat dibaca dengan menggunakan microwell
plate reader dengan panjang gelombang 490
nm.
Analisis Data
Analisis data penelitian yang diperoleh
mengacu pada Mattjik (2002). Rancangan
percobaan yang digunakan adalah rancangan
acak lengkap. Model persamaan yang
digunakan adalah sebagai berikut:
Yij= µ + τi+ εij
Keterangan:
yij= pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan
ke-j
µ = pengaruh rataan umum
τi = pengaruh perlakuan ke-i, i=1,2,3,4,5,6,7
εij= pengaruh galat perlakuan ke-i dan ulangan
ke-j
i1 = kelompok kontrol
i2 = kelompok perlakuan K1
i3 = kelompok perlakuan K2
i4 = kelompok perlakuan K3

i5 = kelompok perlakuan I1
i6 = kelompok perlakuan I2
i7 = kelompok perlakuan I3
Data bobot badan, konsumsi pakan,
efisiensi pakan, berat feses, dan kadar
androgen diolah dengan analisis one-way
analysis of varians (ANOVA) pada tingkat
kepercayaan 95% dan taraf α=0.05, dan uji
lanjut yang digunakan adalah uji Duncan.
Pengolahan data statistika ini menggunakan
perangkat lunak Statistical Product and
Service Solution (SPSS) versi 17.0. Korelasi
antara data yang diperoleh dihitung
menggunakan koefisien korelasi Pearson (r).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Perlakuan Pemberian Pakan
terhadap Bobot Badan Hewan Coba
Hewan coba yang digunakan pada
penelitian ini adalah tikus Sprague-Dawley
jantan berumur ±2 bulan. Tikus betina tidak
digunakan karena kondisi hormonal yang
berfluktuasi pada waktu beranjak dewasa,
sehingga dikhawatirkan akan memberikan
respon
yang
berbeda,
dan
dapat
mempengaruhi hasil penelitian. Selain itu
parameter yang diuji pada penelitian ini
adalah androgen. Kadar androgen pada betina
lebih rendah jika dibandingkan dengan jantan
sehingga
untuk
memudahkan
dalam
mendapatkan kadar androgen digunakan tikus
jantan (Dabbs et al. 1997).
Hewan percobaan yang sehat merupakan
faktor penting dan merupakan syarat untuk
memenuhi asumsi percobaan. Kondisi hewan
yang sehat berguna untuk memperkecil galat
percobaan. Bobot badan merupakan parameter
yang mudah diukur dan diamati untuk
memantau kondisi kesehatan tikus (Tara
2011). Bobot badan tikus rata-rata pada akhir
adaptasi atau awal perlakuan (minggu ke-0)
sebesar 142.61 gram dengan bobot badan
berkisar antara 116-162 gram (Lampiran 7).
Menurut lembaga riset Ace Animal (2006)
dalam Meutia (2011), bobot badan tikus jenis
Sprague-Dawley pada usia 59-61 hari adalah
275-299 gram. Bobot tikus Sprague-Dawley
penelitian lebih rendah 50.31% yang
dilaporkan Ace Animal (2006). Hal ini diduga
disebabkan perbedaan kadar protein pada
pakan, konsumsi pakan, ataupun faktor
genetik tikus percobaan.
Setelah dilakukan adaptasi, hewan coba
kemudian masuk masa perlakuan. Perlakuan
yang diberikan adalah perlakuan pakan selama
1 bulan. Terlihat setelah perlakuan bobot
badan
tikus
mengalami
perubahan.

10

Peningkatan bobot badan terjadi pada K2, K3,
dan I1. Kontrol, I2, dan 13 juga mengalami
peningkatan bobot badan tetapi fluktuatif.
Bobot badan kelompok tikus meningkat dari
rata-rata
142.83±10.31
g
menjadi
165.29±17.80 g dengan presentase kenaikan
sebesar 15.72%. Berbeda dengan kelompok
lainnya, kelompok K1 mengalami penurunan
bobot badan dengan presentase penurunan
sebesar 3.72%, menurun dari rata-rata bobot
badan 141.25±14.75 g menjadi 136±20.51 g
(Gambar 6). Penurunan bobot badan ini
diduga disebabkan tikus mengalami sakit
diare selama masa perlakuan. Fluktuasi bobot
badan yang terjadi diduga karena nafsu makan
yang berbeda-beda antar tikus dengan tikus
yang lainnya.
Bobot badan kelompok tikus yang
diberikan pakan perlakuan kecuali K1 lebih
besar jika dibandingkan dengan bobot badan
kelompok tikus yang diberi pakan kontrol
(tanpa kandungan isoflavon) (Tabel 4). Hal ini
menunjukkan
bahwa
isoflavon
yang
terkandung dalam pakan diduga berpengaruh
meningkatkan bobot badan. Hasil uji korelasi
Pearson juga menunjukkan terdapat korelasi
antara kandungan isoflavon pada pakan
dengan pertambahan bobot badan kelompok
tikus perlakuan pakan kacang kedelai (K)
(0.7

Dokumen yang terkait

Efek Pakan Mengandung Isoflavon Kedelai terhadap Bobot Badan dan Kadar Androgen Serum Tikus Jantan