Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur).

HUBUNGAN ORANG TUA, MEDIA MASSA, DAN TEMAN DENGAN
SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI BIDANG PERTANIAN
(Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur)

YOGAPRASTA ADI NUGRAHA

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Hubungan Orang Tua, Media Massa,
dan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian: Kasus
Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani,” adalah karya saya dengan arahan dari
komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi
mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Januari 2012

Yogaprasta Adi Nugraha
NRP I 352 090061

ABSTRACT
YOGAPRASTA ADI NUGRAHA. Correlation between Parents, Mass Media,
and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural
Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur). Supervised by SARWITITI S.
AGUNG (Chairperson) and DJOKO SUSANTO (Members).
The study about youth attitude was conducted in order to identify about kinds of
behavior that would be performed by the youth towards agricultural livelihood. By
identifying their attitude, people could be able to estimate response from youth about
agricultural livelihood. The objectives of this study were: 1). To identify youth attitude
towards agricultural activities. 2). To identify internal characteristics of youth,
socialization from parents, mass media exposure, and interaction with peers. 3). To
analyze the correlations between internal factors and youth attitude towards agricultural
livelihood. 4). To analyze the correlations between socialization from parents, mass
media exposure, and interaction with peers with youth attitude towards agricultural
livelihood. 5). To analyze the correlations between perception toward rural condition
and youth attitude towards agricultural livelihood. A number of 65 respondents were
taken as sample. This study resulted several important outputs namely, 1). Majority of
youth supported and agreed to work at agricultural setting 2). Majority of the youth
were categorized late adolescence, low level of education, their parents were owner of
their own farmland, low level in farmland mastery, low level in cosmopolite, low
frequency from parents on telling about agriculture, average level on youth involvement
in helping parents in farming activities, low frequency on mass media exposure, less
than 20 minutes in every opportunity of watching television and also listening radio,
low interaction with peers on agricultural sector, and good perception toward rural
condition 3). There were several variables correlated to youth attitude towards
agricultural livelihood i.e. age, gender, youth involvement in helping parents in farming
activities, intensity on watching television, closeness with peers, and perception towards
further condition of agricultural development.
Keywords: Youth, Attitude, Agricultural Livelihood, Parents, Peers, Mass Media

RINGKASAN
YOGAPRASTA ADINUGRAHA. Hubungan Orang Tua, Media Massa, dan
Teman dengan Sikap Pemuda Terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian: Kasus Pemuda
Tani di Desa Sukatani dan Desa Cipendawa, Kabupaten Cianjur. Dibimbing Oleh
Sarwititi S. Agung dan Djoko Susanto.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi sikap pemuda terhadap
pekerjaan di sektor pertanian hortikultura, (2) Mengindentifikasi karakteristik individu
pemuda, sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan
radio,) dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian dalam menyosialisasikan
pekerjaan di bidang pertanian. (3) Menganalisis hubungan karakteristik pemuda dengan
sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura, (4) Menganalisis
hubungan Sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media massa (televisi dan
radio) dan interaksi dengan teman dari bidang pertanian dengan sikap pemuda terhadap
pekerjaan di sektor pertanian hortikultura, dan (5) Menganalisis hubungan persepsi
pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di
bidang pertanian hortikultura.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian Deskriptif – Korelasional, dengan
metode pengambilan sampel secara cluster. Penelitian ini dilaksanakan di Desa
Sukatani dan Desa Cipendawa di Kecamatan Pacet. 65 orang pemuda yang berumur 13
– 24 tahun, belum menikah, dan orang tuanya merupakan petani dijadikan responden
dalam penelitian ini. Analisis data menggunakan analisis data, Rank Spearman, dan
Koefisien Kontingensi.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Sebagian besar pemuda (66,15%)
sikapnya setuju untuk bekerja di bidang pertanian., (2) Mayoritas pemuda yang
terkategorikan sebagai dewasa awal, merupakan lulusan SD, merupakan pemilik lahan
pertanian yang mereka kelola, dengan luas lahan kurang dari 0,25ha, sebagian besar
pemuda tani tingkat kekosmopolitannya rendah, frekuensi orang tua bercerita mengenai
pertanian tergolong rendah, tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua dalam bidang
pertanian terkategorikan sedang, frekuensi menonton acara pertaniannya rendah,
intensitas untuk sekali menonton acara pertanian kurang dari 20 menit, frekuensi
mendengarkan radio acara pertanian juga rendah, intensitas pemuda mendengarkan
radio kurang dari 20 menit, tingkat kedekatan dengan teman dari bidang pertanian
terkategorikan rendah. Sebagian besar pemuda menilai bahwa terdapat banyak
kesempatan kerja di pedesaan, sumberdaya alam di desa juga memiliki kondisi yang
sangat baik, dan melihat di masa depan akan membaik, (3) Pada karakteristik internal
pemuda, umur dan jenis kelamin mempunyai hubungan nyata dengan sikap pemuda
terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Semakin dewasa umur seorang pemuda maka
sikapnya terhadap pekerjaan di bidang pertanian semakin membaik, (4) Tingkat
pelibatan pemuda oleh orang tua di bidang pertanian, lama menonton acara pertanian,
dan tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian berhubungan nyata dengan
sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian, (5) Persepsi pemuda terhadap
pertanian di masa depan berhubungan nyata dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di
bidang pertanian

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2012
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penyusunan kritik atau tujuan suatu
masalah
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin IPB

HUBUNGAN ORANG TUA, MEDIA MASSA, DAN TEMAN DENGAN
SIKAP PEMUDA TERHADAP PEKERJAAN DI BIDANG PERTANIAN
(Kasus Pemuda di Desa Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur)

YOGAPRASTA ADI NUGRAHA

Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS

Judul Tesis

Nama
Mahasiswa
NRP

: Hubungan Orang Tua, Media Massa, dan Teman
dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di
Bidang Pertanian (Kasus Pemuda di Desa
Cipendawa dan Desa Sukatani, Kecamatan Pacet,
Kabupaten Cianjur)
: Yogaprasta Adi Nugraha
: I352090061

Disetujui
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, MS
Ketua

Prof. (Ris). Dr. Djoko Susanto, SKM.
Anggota

Diketahui

Koordinator Mayor
Komunikasi Pembangunan
Pertanian dan Pedesaan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Djuara P. Lubis, MS

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

Tanggal Ujian: 27 Desember 2011

Tanggal Lulus :

PRAKATA
Puji dan Syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Lindungan,
dan Kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan

judul

”Hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan sikap pemuda terhadap
pekerjaan di bidang pertanian”

disusun sebagai salah satu syarat bagi mahasiswa

Sekolah Pascasarjana pada Program Studi Komunikasi Pembangunan Pertanian dan
Pedesaan (KMP) untuk memperoleh gelar Magister Sains.
Penelitian dan Penyusunan tesis ini dapat diselesaikan atas bantuan dari semua
pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada:
1. Komisi Pembimbing yaitu Dr. Ir. Sarwititi S. Agung, M.S (Ketua) dan Prof. (Ris).
Dr. Djoko Susanto, SKM (anggota) atas bimbingan, masukan dan sarannya mulai
dari penyususan proposal, pelaksanaan penelitian hingga penyusunan tesis ini.
2. Komisi Penguji, Bapak Dr. Ir. Djuara P. Lubis, M.S yang telah memberikan saran
dan kritik berkaitan dengan penyempurnaan tesis ini.
3. Seluruh staf pengajar yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan kepada
penulis, serta staf administrasi di Mayor Komunikasi Pembangunan Pertanian.
4. Kepala Desa Sukatani dan Desa Cipendawa, Pengelola Gapoktan Multi Tani Jaya
Giri Bapak Suhendar, Kang Iliyudin, Kang Didin, Kang Dilla, dan Pak Abdul
Sidik (PPL) yang telah memberikan masukan – masukan dan membantu
menemani mencari pemuda di Desa Cipendawa dan Sukatani.
5. Orang tua penulis Ibu Ir. Nina Ratna Dewi dan Bapak Ir. Duto Nugroho, M.Si,
kakak dan adik Aditya Pandu Nugraha S.P dan Isya Trihusada Nugraha, S.Pd,
yang senantiasa memberikan kasih sayang dan dukungan atas pengerjaan tesis ini.
6. Cita Septiviani, S.P sebagai orang yang senantiasa memberikan motivasi dan
dukungan dalam pengerjaan tesis ini
7. Teman seperjuangan satu bimbingan (Dini Valdiani, S.Sos, Leonard Dharmawan,
S.P, Rofiah. S.Ag, Dwi Retno Hapsari, S.P, dan Rahmah Awaliah S.P)
8. Teman-teman KMP S2 2009 (Mas Sardi, Mba Cindo, Bu Susy, Bu Asma, Mas
Sigit, Mas Denta, Mba Imani Satriani) atas diskusinya, dukungan, persahabatan
dan persaudaraan serta kebersamaannya. Serta KMP S3 2008, 2009, 2010 (Ibu
Retno, Pak Tri, Mba Ilona, Bu Siti, Bu Ernita, Bu Eni Kardi, Pak Iwan, Ibu Rita,

Pak Edi, Bu Riko, Mba Dyah, Pak Djoko, Ibu Rita, Mba Serly, Pak Zul) atas
diskusinya, dukungan yang telah diberikan.
9. Teman – teman yang sampai saat ini masih memberikan motivasi dan dukungan:
Agi Rihardian, Faith Ahmad, S.E., Fani A. Putra, S.Krim., Putra Fajar Pratama,
S.P. M.M.
10. Tim Sahabat Peneliti (Ivan Triharto, Imam Heriyo, Sonny, Ucok, dan Reisya
Mulyadi).
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan
laporan ini. Oleh karena itu dengan segala keterbukaan saran dan kritik tetap diharapkan
guna kesempurnaan laporan penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi
kita semua. Amin.

Bogor, Januari 2012

Yogaprasta Adi Nugraha

RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Yogaprasta Adinugraha. Lahir di Ungaran Provinsi
Jawa Tengah pada tanggal 7 Desember 1985, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara,
putra dari Bapak Ir. Duto Nugroho, M.Si., dan Ibu Ir. Nina Ratna Dewi.
Penulis menyelesaikan pendidikan di TK Sempur pada tahun 1992, kemudian
melanjutkan ke SDN Sempur Kaler dan tamat pada tahun 1998, penulis menamatkan
pendidikan di SLTPN 3 Bogor pada tahun 2001 dan untuk jenjang Sekolah Menengah
Atas penulis selesaikan di SMUN 2 Bogor pada tahun 2004.
Penulis berhasil masuk ke Institut Pertanian Bogor pada tahun 2004 melalui
jalur Undangan Seleksi Masuk IPB atau yang lebih dikenal dengan sebutan USMI, dan
diterima pada pilihan pertama Program Studi Sosial Ekonomi Industri Peternakan,
Departemen Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas Peternakan.

Selama menduduki

bangku kuliah penulis pernah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Ilmu Penyuluhan
selama satu semester, penulis juga aktif mengikuti beberapa kegiatan kepanitiaan dan
ikut serta dalam organisasi kemahasiswaan. Penulis pada tahun 2005/2006 sempat
menjabat sebagai Kepala Departemen Komunikasi dan Informasi Badan Eksekutif
Mahasiswa Fakultas Peternakan (BEM-D), di tahun yang sama penulis juga menjadi
anggota Departemen Informasi dan Komunikasi HIMASEIP, pada tahun berikutnya
yaitu pada tahun 2006/2007 penulis menjabat sebagai Kepala Departemen Informasi
dan Komunikasi HIMASEIP. Besarnya hobi dalam Olahraga Basket membuat penulis
bergabung dengan Tim Basket SEIP dan sempat meraih gelar juara ketiga pada tahun
2004/2005 dan berhasil meraih gelar juara pertama pada tahun 2005/2006.
Pada tahun 2008 – 2009 penulis pernah bekerja di Universitas Terbuka Sebagai
Associate Researcher Wakil Rektor 4, semenjak tahun 2009 sampai sekarang penulis
bekerja sebagai pendiri usaha Sahabat Peneliti. Penulis pada tahun 2009 diterima
menjadi mahasiswa pascasarjana Mayor Komunikasi Pembangunan Pertanian dan
Pedesaan IPB.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ................................................. ..........................................

vii

DAFTAR GAMBAR ............................................. ..........................................

viii

\DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. ......

ix

PENDAHULUAN ............................................................................................

1

Latar Belakang...........................................................................................
Perumusan Masalah........................................................................
Tujuan Penelitian............... ............................................................
Manfaat Penelitian........... .............................................................

1
6
7
8

TINJAUAN PUSTAKA............. .......................................................................

9

Sikap..............................................................................................................
Sistem Ekologi Manusia................................................................................
Keluarga.......................................................................................................
Sosialisasi............ .....................................................................................
Nilai dan Pandangan terhadap Pertanian ..................................................
Sikap terhadap Pekerjaan Pertanian .........................................................
Pemuda.........................................................................................................

9
15
17
18
25
26
28

KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS...... .............................................
Kerangka Berpikir ..................................................................................
Hipotesis................ ..................................................................................

33
33
38

METODE PENELITIAN............. ..........................................................................

39

Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................................
Desain Penelitian ....................................................................................
Populasi dan Sampel ...............................................................................
Data dan Instrumentasi ............................................................................
Validitas dan Reliabilitas .........................................................................
Analisis Data .......... .................................................................................
Definisi Operasional ................................................................................

39
39
40
42
42
45
46

HASIL DAN PEMBAHASAN..........................................................................

53

Gambaran Umum Lokasi Penelitian ......................................................
Karakteristik Internal Pemuda ...............................................................
Peran Agen Sosialisasi ..........................................................................
Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian .........................

53
63
67
75

Hubungan antara Karakteristik Internal pemuda dengan
Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................

79

Hubungan antara Umur Pemuda dengan
Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................

79

Hubungan antara Tngkat Pendidikan Pemuda dengan
Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................

81

Hubungan antara Jenis Kelamin dengan
Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................

81

Hubungan antara Status Kepemilikan Lahan Orang tua Pemuda
dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ............

83

Hubungan antara Luas Lahan Pertanian dengan
Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................

83

Hubungan antara Tingkat Kekosmopolitan Pemuda dengan
Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................

84

Hubungan Sosialisasi oleh Orang Tua, Keterdedahan Media dan Interaksi
dengan Teman dengan Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang
Pertanian....................................................................................................... 84
Hubungan Persepsi Pemuda dengan Sikap Pemuda terhadap
Pekerjaan di Bidang Pertanian ..............................................................

89

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi
Sikap Pemuda terhadap Pekerjaan di Bidang Pertanian ........................

91

Ketertarikan Pemuda terhadap
Pekerjaan di Bidang Pertanian Hortikultura ..........................................

93

KESIMPULAN DAN SARAN

......................................................................

97

Kesimpulan........... .................................................................................
Saran........................ ..............................................................................

97
97

DAFTAR PUSTAKA................... ..................................................................... .

97

LAMPIRAN....................................................................................................... . 102

DAFTAR TABEL
No.

Halaman

1. Tahapan dalam rentang kehidupan...........................................................

30

2. Jumlah pemuda dan proporsi pemuda di dunia...............................................

31

3. Batas wilayah Desa Cipendawa dan Desa Sukatani........................................

53

4. Luas wilayah menurut penggunaan lahan................................................... .

54

5. Kondisi demografi Desa Cipendawa dan Desa Sukatani.............................. .

55

6. Pemilikan lahan pertanian............................................................................ .

57

7. Sebaran umur pemuda.................................................................................. .

63

8. Sebaran tingkat pendidikan pemuda............................................................ .

64

9. Sebaran jenis kelamin pemuda..................................................................... .

64

10. Sebaran status kepemilikan lahan orang tua..........................................

.

65

11. Sebaran luas lahan pertanian sayuran yang di garap orang tua.............

.

65

12. Sebaran tingkat kekosmopolitan pemuda.................................................... .

66

13. Frekuensi orang tua membicarakan pertanian............................................ .

67

14. Tingkat pelibatan pemuda oleh orang tua ......................................................

68

15. Frekuensi pemuda menonton acara pertanian ............................................. ..

69

16. Intensitas menonton acara pertanian............................................................ .

70

17. Frekuensi mendengarkan acara pertanian di radio..........................................

70

18. Intensitas mendengarkan acara pertanian………………................................

71

19. Tingkat kedekatan dengan teman di bidang pertanian............................... .

72

20. Persepsi terhadap kesempatan kerja di desa................................................ .

73

21. Persepsi terhadap kondisi sumberdaya alam di desa.................................. .

74

22. Persepsi terhadap pertanian di masa yang akan datang............................... .

75

23. Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian................................ .

76

24. Sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian (per indikator)....... .

78

25. Hubungan antara karakteristik internal pemuda dengan sikap terhadap
pekerjaan di Bidang Pertanian...................................................................... .

79

26. Hubungan antara sosialisasi oleh orang tua, teman, dan keterdedahan terhadap
media dengan sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian........
.
85
27. Hubungan antara persepsi pemuda terhadap faktor pendorong di pedesaan dengan
sikap terhadap pekerjaan di bidang pertanian ................................. .............
90
28. Faktor agen sosialisasi yang berhubungan dengan sikap pemuda terhadap
pekerjaan di bidang pertanian ......................................................................
92

DAFTAR GAMBAR
No

Halaman

1.

Model sistem ekologi dalam proses sosialisasi...................................

34

2.

Kerangka berpikir hubungan orang tua, media massa, dan teman dengan
sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian .....................

37

Kerangka penarikan sampel ................................................................

41

3.

DAFTAR LAMPIRAN
No

Halaman

1. Kuesioner Penelitian ................. ... .............................................................. 103
2. Foto – foto .................................. ... .............................................................. 111
3. Hasil olah data SPSS .......................... ........................................................ 113

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertanian merupakan salah satu sektor unggulan yang berkontribusi sebesar 15,3
persen pada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2009. Pertimbangan
lain yang menguatkan bahwa sektor pertanian menjadi sektor unggulan di Indonesia
ketika ekspor produk non-pertanian mengalami penurunan, ekspor produk pertanian
justru mengalami peningkatan tajam. Berangkat dari pertimbangan–pertimbangan itulah
sektor pertanian patut dipertimbangkan sebagai alternatif andalan pembangunan
ekonomi nasional menggantikan sektor industri (high tech industry) yang telah terbukti
tidak sesuai untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan (Syam dan Dermoredjo, 2000).
Daryanto (2009) juga mengatakan bahwa sektor pertanian telah terbukti
memiliki peranan penting bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa.

Hal ini

didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam
pembentukan PDB, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan
perolehan devisa.

Peranan sektor pertanian juga dapat dilihat secara lebih

komprehensif, antara lain: (a) sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu
berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security)
yang erat kaitannya dengan ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi, politik
dan ketahanan nasional (nasional security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan
baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa; (c) sektor pertanian dapat
menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk substitusi
impor; (d) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk sektor industri;
(e) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah
satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f) sektor pertanian mampu menyediakan
modal bagi pengembangan sektor–sektor lain; (g) peran pertanian dalam penyediaan
jasa – jasa lingkungan.
Dalam rangka menjadikan dan mendukung sektor pertanian sebagai sektor
unggulan yang menjadi dasar pembangunan ekonomi negara Indonesia maka pertanian
sangat dipengaruhi oleh 2 (dua) aspek atau faktor penting yang tidak dapat dipisahkan
dari sektor pertanian, yaitu sumberdaya alam (SDA) dan sumberdaya manusia (SDM)
yang menunjang sektor pertanian secara komprehensif dan berkelanjutan. Sumberdaya
alam merupakan peubah yang sifatnya naturally given, sementara itu sumberdaya

2

manusia merupakan subyek atau pelaku pertanian bumi ini yang dapat menjalankan
kegiatan pertanian atau dengan kata lain manusia merupakan motor dari berhasil atau
tidaknya suatu kegiatan pertanian.

Sumberdaya manusia diharapkan bisa sebagai

fasilitator, motor, motivator dan dinamisator pembangunan pertanian agar terjadi
gerakan pembangunan pertanian. Sumberdaya manusia merupakan salah satu faktor
penentu dalam program pembangunan dari segala bidang. Kondisi SDM pertanian
Indonesia saat ini termasuk rendah, khususnya petani yang antara lain bercirikan tingkat
pendidikan yang tergolong relatif rendah. Menurut data BPS 2010 terdapat tenaga
kerja petani sebanyak 41,49 juta orang orang atau 40 persen dari jumlah tenaga kerja
nasional (Deptan, 2005).
Fakta mengkhawatirkan yang tidak bisa dilepaskan juga dari SDM petani di
Indonesia adalah sebanyak 35,5 persen tenaga kerja petani memiliki pendidikan tidak
tamat SD, sedangkan yang tamat SD sebanyak 46,2 persen, sementara itu untuk petani
yang memiliki pendidikan terakhir SLTP terdapat sebesar 12,8 persen dan SLTA
sebesar 5,2 persen. Ironisnya orang yang berkerja di bidang pertanian yang berasal dari
lulusan perguruan tinggi hanya sebesar 0,3 persen. Kondisi ini diperparah lagi dengan
rendahnya minat generasi muda untuk memasuki jalur pendidikan formal di bidang
pertanian yang ditandai dengan rendahnya tingkat pendaftaran pada Sekolah Pertanian
Tingkat Menengah maupun Tingkat Perguruan Tinggi pertanian (Deptan, 2005).
Persoalan ini akan menjadi masalah serius di masa yang akan datang apabila tidak
diantisipasi dengan baik oleh pemerintah. Secara tidak langsung jika dilihat dari tingkat
pendidikan yang dimiliki petani di Indonesia, menunjukan bahwa banyak petani yang
bekerja tidak well-educated sehingga akan berperan terhadap keterbatasan daya pikir,
wawasan, dan kreativitas para petani dalam menghadapi persoalan–persoalan di bidang
pertanian.
Kondisi sebagian besar petani berpendidikan tidak tamat SD dan tamat SD
sebanyak 81,7 persen, hal ini menjadi masalah yang patut dicermati secara mendalam
dan serius. Masalah tidak selesai pada itu saja, hasil survei Badan Pengembangan SDM
Pertanian Kementrian Pertanian dalam Deptan (2005) menunjukkan bahwa 70 persen
dari petani di Indonesia telah berumur di atas 50 tahun. Melalui data tersebut dapat
dilihat bahwa minat pemuda bekerja di sektor pertanian memiliki tendensi menurun.
Rendahnya partisipasi pemuda pada sektor pertanian merupakan permasalahan yang

3

sangat mendasar yang dapat berakibat pada hilangnya generasi (lost of generation)
penerus di bidang pertanian pada masa yang akan datang. Banyak pemuda yang berasal
dari keluarga petani yang justru tidak bekerja di bidang pertanian, mereka lebih memilih
sektor lain selain bidang pertanian (non-pertanian), dan

yang lebih ironis banyak

pemuda yang berasal dari wilayah sentra pertanian justru memilih keluar bidang
pertanian. Terdapat pula citra pertanian yang lebih diidentikkan sebagai pekerjaan kotor
dan tidak mendatangkan keuntungan atau benefit secara cepat.
Pertanian yang berkualitas, maju dan berkelanjutan tidak dapat dilepaskan
sumberdaya manusia yang berkualitas. Peranan agen–agen pembangunan dalam
mencitrakan pertanian secara baik kepada pemuda sangat penting dalam rangkat
menjaga agar pemuda tetap bertahan di bidang pertanian. Perilaku pemuda pedesaan
yang bertahan maupun yang keluar dari bidang pertanian tidak terlepas dari adanya
pengaruh dari kebijakan–kebijakan pemerintah yang sifatnya membangun (generating
knowledge) dan memberikan harapan yang positif kepada para pemuda. Akan tetapi
ketidaktertarikan maupun ketertarikan pemuda untuk bekerja di bidang pertanian tidak
semata–mata menjadi tanggung jawab pemerintah, karena pembentukkan perilaku tidak
dapat dilepaskan dari pengaruh sistem–sistem terdekat yang berada di sekitar pemuda
yang terbentuk melalui suatu proses sosialisasi dari agen–agen terdekat dengan pemuda
(mikro level), karena bagaimana pun gencarnya komunikasi yang dilakukan oleh agen–
agen pembangunan dalam rangka merubah perilaku pemuda, selama lingkungan sekitar
pemuda tidak sejalan maka akan sulit merubah sikap ataupun perilaku pemuda tersebut.
Tinggi rendahnya partisipasi pemuda di bidang pertanian diawali dari sikap
pemuda terhadap pertanian itu sendiri, sementara itu salah satu faktor yang sangat
penting dalam membentuk sikap adalah sosialisasi, seperti yang dikatakan oleh Mar’at
(1981) sikap merupakan buah atau hasil dari sosialisasi. Berangkat dari pemahaman
yang disebutkan oleh Mar’at (1981), maka sikap pemuda yang berada di wilayah
pertanian sebenarnya terbentuk melalui sosialisasi yang berasal dari dalam (mikro)
orang tua, teman (peers), dan media massa (mass media). Sosialisasi tersebut dilakukan
dalam proses komunikasi yang terjadi sehari–hari yang dijalani oleh pemuda tersebut.
Orang tua, teman, dan media massa (radio, televisi) merupakan komponen atau unit
terkecil dalam suatu sistem sosial yang berhubungan langsung dengan pembentukkan
karakter suatu individu (mikro level) oleh karena itu pengaruh ketiga aspek tersebut

4

sangat berperan penting dalam menentukan kualitas pembentukkan kepribadian
pemuda. Sosialisasi oleh orang tua merupakan aspek penting karena setiap anggota
keluarga terikat satu sama lain melalui proses komunikasi. Keluarga mengembangkan
serangkaian pesan, perilaku dan harapan tertentu melalui proses komunikasi (Suleeman,
1990). Ketika berbicara mengenai keluarga, maka akan berbicara mengenai keluarga
sebagai sebuah sistem yang terdiri dari subsistem–subsistem yang saling mempengaruhi
dan dipengaruhi.
Penelitian mengenai pemuda dan pertanian telah dilakukan sebelumnya oleh
Lubis dan Sutarto (1991),

Pranadji (1999), Rozany (1999), Herlina (2002). Pada

penelitian yang dilakukan oleh Pranadji, Rozany, dan Herlina ditemukan fakta bahwa
pemuda kurang tertarik untuk bekerja di bidang pertanian dikarena beberapa hal yaitu:
pekerjaan

di

bidang

pertanian

kurang

menjanjikan

dari

segi

ekonomi,

kurang”terhormat”, merupakan pekerjaan yang kotor, melelahkan, dan tidak bergengsi.
Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Lubis dan Sutarto (1991) menghasilkan
temuan yang berbeda dari penelitian–penelitian lainnya, ada konsistensi yang kuat
antara pekerjaan utama orang tua dengan pekerjaan anaknya. Berpijak pada beberapa
faktor pendorong dan penarik seperti lahan, hubungan sosial, modal, pasar, pola kerja
dan aksesibilitas terhadap teknologi, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa nilai
pertanian masih memiliki daya tarik bagi pemuda. Selain pengaruh sosialisasi dalam
keluarga ketertarikan ini mendapatkan dukungan yang kuat dari ketidaksesuaian mental
pemuda ketika memasuki dunia kerja di sektor pertanian.
Penelitian yang dilakukan oleh Rozany, Pranadji, Lubis dan Sutarto dilakukan di
wilayah pertanian tanaman pangan, sementara penelitian Herlina dilakukan di wilayah
perkebunan, sementara pada penelitian ini dilakukan di wilayah pertanian hortikultura
(sayuran). Pertimbangan pemilihan komoditas hortikultura karena hortikultura memiliki
perbedaan dengan komoditas pertanian lainnya seperti tanaman pangan dan tanaman
perkebunan. Komoditas hortikultura merupakan komoditas komersial (high value
commodity) yang memiliki nilai ekonomi yang cenderung masih tinggi dibandingkan
dengan tanaman pangan maupun perkebunan (Saptana et al., 2006), selain hal itu
produksi tanaman hortikultura (sayur dan buah-buahan) masih belum mampu memenuhi
permintaan masyarakat akan kebutuhan sayuran dan buah–buahan masyarakat.
Pertimbangan – pertimbangan tersebut menjadi dasar bahwa minat pemuda di bidang

5

pertanian hortikultura kemungkinan akan berbeda dengan minat pemuda dari bidang
pertanian pangan maupun perkebunan.
Penelitian yang dilakukan Herlina, Rozany, Pranadji, Lubis dan Sutarto tidak
melihat bagaimana ekologi membentuk sikap seorang pemuda, tetapi melihat faktor–
faktor yang menyebabkan migrasinya pemuda dari bidang pertanian ke bidang nonpertanian, sementara penelitian mengenai sosialisasi yang dilakukan oleh agen–agen
sosialisasi (orang tua, media massa, dan teman) dalam membentuk sikap pemuda
terhadap pekerjaan di bidang pertanian diharapkan dapat memberikan gambaran
mengenai bagaimana sosialisasi terkait dengan bidang pertanian dalam keluarga,
sosialisasi pertanian dengan sesama teman dan media massa ini dapat memberikan
pengaruh terhadap sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Rendahnya
partisipasi pemuda di bidang pertanian bisa jadi mungkin karena terdapat rendahnya
penerusan nilai-nilai pertanian dari orang tua, teman dan media massa yang semakin
tidak mendukung pemuda di wilayah pertanian untuk bekerja di sektor pertanian.
Interaksi dengan orang tua, teman dan media massa (konteks mikro) sangat memegang
peranan penting dalam mempengaruhi proses sosialisasi nilai–nilai dalam suatu
keluarga termasuk dalam menentukan pekerjaan mereka. Tidak dapat dipungkiri pada
tataran mikro pergeseran nilai kerja pemuda di pedesaan tidak terlepas dari peranan
keluarga dan masyarakat.

Budaya pedesaan kerap membuat proses pengambilan

keputusan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik, sosial, dan ekonomi,
konteks ini menyoroti otonomi pribadi atau nilai subyektivitas sebagai faktor paling
dominan dalam proses pengambilan keputusan seseorang Herlina (2002).
Perumusan Masalah
Pertanian menjadi salah satu sektor unggulan di Indonesia, tetapi akhir–
akhir ini sektor pertanian mengalami berbagai permasalahan. Dewasa ini terdapat
indikasi bahwa pertanian sering dianggap sebagai pekerjaan kotor yang tidak
menjanjikan (Muksin, 2007), tetapi terdapat pula orang yang beranggapan petani
sebagai pekerjaan yang menjanjikan, perbedaan sikap tersebut yang kemudian
berdampak

kepada cara pandang petani terhadap pertanian itu sediri sehingga

ditenggarai mempengaruhi pertisipasi pemuda di bidang pertanian. Menurut data dari
Badan Pengembangan SDM Pertanian Deptan dalam Renstra (2005-2009) menunjukkan
bahwa 70 persen dari petani di Indonesia telah berumur di atas 50 tahun (Deptan, 2005).

6

Hal tersebut mengindikasikan pertanian di Indonesia mulai ditinggalkan pemuda. Tidak
sedikit pemuda yang berasal dari keluarga petani mulai meninggalkan pertanian dan
lebih memilih sektor non-pertanian, tetapi bukan berarti tidak ada pemuda yang berasal
dari keluarga petani yang terus bekerja di bidang pertanian. Kurangnya minat angkatan
kerja muda untuk bekerja dan berusaha di sektor pertanian menjadi salah satu
kekhwatiran dalam pembangunan sektor ini.
Sebagai negara agraris yang meletakan pembangunan perekonomian
pada pertanian, dalam jangka pendek maupun jangka panjang fenomena rendahnya
minat pemuda akan membawa konsekuensi tersendiri.

Kelangkaan sumberdaya

manusia di sektor pertanian atau keterlibatan sebagian besar tenaga kerja pertanian yang
setengah terpaksa akibat tidak terbukanya alternatif lain, mengakibatkan proses
produksi tidak optimal. Produktivitas tenaga kerja mengalami hal yang sama. Hal ini
akan menghambat perkembangan pembangunan itu sendiri, tetapi masih terdapat pula
pemuda yang berasal dari keluarga pertanian yang tetap bekerja di bidang pertanian dan
tidak memilih bidang di luar sektor pertanian. Artinya terdapat perbedaan sikap pemuda
dalam memandang sektor pertanian sebagai pekerjaan masa depan. Pengaruh dari orang
tua. teman, dan media massa akan sangat menentukan cara berpikir, bersikap, dan
berperilaku seorang. Sikap pemuda terhadap pertanian akan dipengaruhi melalui tiga
aspek besar yaitu aspek mikro (orang tua, teman dan media massa), aspek meso
(lingkungan sekitar), dan aspek makro (Brofenbrenner dalam Puspitawati 2006).
Penelitian ini hanya melihat aspek mikro (orang tua, teman, dan media massa) dalam
memberikan pengaruh terhadap sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian .
Penelitian mengenai hubungan orang tua, teman, dan media massa
terhadap sikap pemuda terhadap pertanian diharapkan dapat memberikan gambaran
mengenai bagaimana orang tua, media massa, dan teman dalam menyosialisasikan
pertanian, dan apakah sosialisasi pada tataran keluarga, teman dan media massa secara
nyata dapat mempengaruhi sikap pemuda terhadap pertanian. Berangkat dari uraian
tersebut maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura?
2. Bagaimanakah karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua,
keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan
teman di bidang pertanian?

7

3. Apakah terdapat hubungan karakteristik individu pemuda dengan sikap pemuda
terhadap pekerjaan di bidang pertanian pertanian hortikultura?
4. Apakah terdapat hubungan sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap
media massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dengan sikap
pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura?
5. Apakah terdapat hubungan antara persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan
dengan sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji hubungan antara
karakteristik pemuda, dan sosialisasi (orang tua, media massa, dan teman) dalam
membentuk sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian. Secara spesifik
penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi sikap pemuda terhadap pekerjaan di sektor pertanian
hortikultura.
2. Mengindentifikasi karakteristik individu pemuda, sosialisasi oleh orang tua,
keterdedahan terhadap media massa (televisi dan radio,) dan interaksi dengan
teman di bidang pertanian.
3. Menganalisis hubungan karakteristik individu pemuda dengan sikap pemuda
terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura.
4. Menganalisis hubungan Sosialisasi oleh orang tua, keterdedahan terhadap media
massa (televisi dan radio) dan interaksi dengan teman dengan sikap pemuda
terhadap pekerjaan di sektor pertanian hortikultura.
5. Menganalisis hubungan persepsi pemuda terhadap kondisi di pedesaan dengan
sikap pemuda terhadap pekerjaan di bidang pertanian hortikultura.
Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada:
1.

Pemerintah, dalam rangka meningkatkan minat pemuda diharapkan melalui
penelitian ini pemerintah dapat lebih memperhatikan peranan agen sosialisasi

8

primer (orang tua, teman), karena tanpa ada dukungan sosialisasi dari orang tua,
teman, maka kebijakan pemerintah tidak akan berpengaruh pada pemuda.
2.

Peneliti, dapat memahami secara komprehensif bagaimana proses sosialisasi
yang dilakukan oleh orang tua, teman, dan media massa dalam membentuk
sikap pemuda terutama pemuda di bidang pertanian

3.

Bidang komunikasi pembangunan, memberikan sumbangan pemikiran bahwa
komunikasi pembangunan tidak akan berjalan secara optimal tanpa dibarengi
oleh komunikasi pada tataran level mikro.

TINJAUAN PUSTAKA
Sikap
Definisi Sikap
Thurstone dalam Walgito (2003), memandang sikap sebagai suatu tindakan afeksi
baik yang bersifat positif maupun negatif dalam hubungannya dengan obyek–obyek
psikologis. Afeksi yang positif, yaitu afeksi senang, sedangkan afeksi yang negatif adalah
afeksi yang tidak menyenangkan. Menurut Mar’at (1981), sikap merupakan suatu kondisi
psikologis yang didasarkan pada konsep evaluasi berkenaan pada obyek tertentu,
menggugah motif untuk bertingkah laku. Mara’at (1981) juga menyebutkan bahwa bahwa
sikap merupakan produk dari sosialisasi di mana seseorang bereaksi sesuai dengan
rangsang yang diterimanya. Jika sikap mengarah pada obyek tertentu berarti penyesuaian
diri terhadap obyek tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kesediaan untuk
bereaksi dari orang tersebut kepada obyek.
Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai obyek atau
situasi yang relatif ajeg, yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar
kepada orang tersebut untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang
dipilihnya (Walgito, 2003).
Menurut Rakhmat (2005), ada lima hal yang bisa disimpulkan dari berbagai definisi
mengenai sikap. Pertama, sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan
merasa dalam menghadapi obyek, ide, situasi atau nilai. Sikap merupakan kecenderungan
untuk berperilaku dengan cara–cara tertentu menghadapi obyek sikap. Obyek sikap boleh
berupa benda, orang, tempat, gagasan, situasi atau kelompok. Jadi pada kenyataannya tidak
ada sikap yang berdiri sendiri. Sikap harus diikuti oleh kata “terhadap’’, atau pada obyek
sikap. Kedua, sikap mempunyai daya pendorong atau motivasi. Sikap bukanlah sekedar
rekaman masa lalu, tetapi menentukan juga apakah orang harus pro dan kontra terhadap
sesuatu, menentukan apa yang disukai, diharapkan dan diinginkan; meyampingkan apa
yang tidak diinginkan, apa yang harus dihindari.

Ketiga sikap relatif lebih menetap.

Berbagai studi menunjukan bahwa sikap politik kelompok cenderung dipertahankan dan
jarang mengalami perubahan.

Keempat, sikap mengandung aspek evaluatif, artinya

10

mengandung nilai menyenangkan atau tidak menyenangkan. Kelima, sikap timbul dari
pengalaman, tidak dibawa sejak lahir, tetapi merupakan hasil belajar. Karena itu sikap
dapat diperteguh atau diubah.
Struktur Sikap
Menurut Walgito (2003), sikap mengandung tiga komponen yang membentuk
struktur sikap, yaitu komponen kognitif (komponen perseptual), komponen afektif
(Komponen emosional), dan komponen konatif (komponen perilaku). Komponen kognitif
merupakan komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu
hal yang berhubungan dengan bagaimana orang berpersepsi terhadap obyek sikap.
Komponen afektif yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau rasa tidak
senang terhadap obyek sikap. Rasa senang merupakan hal positif, sedangkan rasa tidak
senang merupakan hal yang negatif.

Komponen konatif merupakan komponen yang

berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap obyek sikap.

Komponen ini

menunjukkan intensitas sikap, yaitu besar kecilnya kecenderungan bertindak atau
berperilaku seseorang terhadap obyek sikap.
Ciri–Ciri Sikap
Menurut Walgito (2003), sikap memiliki ciri–ciri di antaranya adalah sikap tidak
dibawa sejak lahir, sikap itu berhubungan dengan obyek sikap, sikap dapat tertuju pada satu
obyek saja, tetapi juga dapat tertuju pada sekumpulan obyek–obyek, sikap bisa berlangsung
lama atau sebentar, sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi.
1. Sikap tidak dibawa sejak lahir
ini berarti manusia pada saat dilahirkan belum membawa sikap–sikap tertentu pada
suatu obyek. Karena sikap tidak dibawa sejak individu dilahirkan, ini berarti bahwa
sikap itu terbentuk dalam perkembangan individu yang bersangkutan. Oleh karena itu
sikap terbentuk dan dibentuk, maka sikap dapat dipelajari, dan karena itu sikap dapat
berubah.

2. Sikap itu selalu berhubungan dengan obyek sikap

11

Sikap selalu terbentuk atau dipelajari dalam hubungannya dengan obyek-obyek tertentu,
yaitu melalui proses persepsi terhadap obyek tersebut. Hubungan yang positif atau
negatif antara individu dengan obyek tertentu, akan menimbulkan sikap tertentu pula
dari individu terhadap obyek tertentu.
3. Sikap dapat tertuju pada satu obyek saja, tetapi dapat tertuju pada sekumpulan obyek–
obyek
Bila seseorang mempunyai sikap negatif pada orang lain maka orang tersebut akan
mempunyai kecenderungan untuk menunjukan sikap negatif pula kepada kelompok di
mana seseorang tersebut tergabung di dalamnya. Di sini terlihat adanya kecenderungan
untuk menggeneralisasikan obyek sikap.
4. Sikap dapat berlangsung lama atau sebentar
Kalau sikap telah terbentuk dan telah merupakan nilai dalam kehidupan seseorang,
secara relatif sikap itu akan bertahan lama pada diri orang yang bersangkutan.Sikap
tersebut akan sulit berubah, dan kalaupun dapat berubah akan memakan waktu yang
relatif lama. Tetapi sebaliknya bila sikap belum mendalam ada dalam diri seseorang,
maka sikap tersebut secara relatif tidak bertahan lama, dan sikap tersebut akan mudah
berubah.
5. Sikap itu mengandung faktor perasaan dan motivasi
Ini berarti bahwa sikap terhadap sesuatu obyek tertentu akan selalu diikuti oleh
perasaan tertentu yang dapat bersifat positif (yang menyenangkan) tetapi juga dapat
bersifat negatif (yang tidak menyenangkan) terhadap obyek tersebut. Di samping itu
sikap juga mengandung motivasi, ini berarti sikap itu mempunyai daya dorong bagi
individu untuk berperilaku secara tertentu terhadap obyek yang dihadapinya.
Mar’at (1981) juga telah merumuskan dan merangkum perumusan sikap secara umum
maka dapat dikatakan:
1. Attitude are learned, hal ini berarti sikap tidaklah merupakan sistem fisiologis ataupun
diturunkan.

Tetapi diungkapkan bahwa sikap dipandang sebagai hasil belajar dan

diperoleh melalui pengalaman dan interaksi yang berulang – ulang dengan lingkungan.

12

2. Attitudes are referent, Sikap selalu dihubungkan dengan obyek sikap seperti manusia,
wawasan, pristiwa, ataupun ide.
3. Attitudes are social learning, yang berarti bahwa sikap diperoleh dalam berinteraksi
dengan manusia lain, baik di rumah, sekolah, tempat ibadah, ataupun tempat lainnya
melalui nasihat, teladan, atau percakapan
4. Attitudes have readiness to respond, yang berarti adanya kesiapan untuk bertindak
dengan cara – cara tertentu terhadap obyek
5. Attitude are affective, yang berarti bahwa perasaan dan afeksi merupakan bagian dari
sikap, akan tampak pada pilihan yang bersangkutan, apakah positif, negatif, ataukah
ragu – ragu
6. Attitudes are very intensive, yang berarti bahwa tingkat intensitas sikap terhadap suatu
obyek bisa kuat ataupun bisa lemah.
Pembentukan Sikap
Azwar (1995) mengemukakan bahwa sikap merupakan proses evaluatif yang
dilakukan individu. Oleh karena itu, mempelajari sikap berarti perlu juga mempelajari
faktor-faktor yang mempengaruhi proses evaluatif sebuah sikap, yaitu:
1. Faktor-faktor genetik dan fisiologik: Sebagaimana dikemukakan bahwa sikap
dipelajari, namun demikian individu membawa ciri sifat tertentu yang menentukan arah
perkembangan sikap ini. Di lain pihak, faktor fisiologik ini memainkan peranan
penting dalam pembentukan sikap
2. Pengalaman Personal: Faktor lain yang sangat menentukan pembentukan sikap adalah
pengalaman personal atau orang yang berkaitan dengan sikap tertentu. Pengalaman
personal yang langsung dialami memberikan pengaruh yang lebih kuat daripada
pengalaman yang tidak langsung. Terdapat dua aspek yang secara khusus memberi
sumbangan dalam membentuk sikap, pertama adalah peristiwa yang memberikan kesan
kuat pada individu (salient incident), yaitu peristiwa traumatik yang mengubah secara
drastis kehidupan individu, misalnya kehilangan anggota tubuh karena kecelakaan.
Kedua yaitu munculnya obyek secara berulang-ulang (repeated exposure).

13

3. Pengaruh orang tua: Orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan anakanaknya. Sikap orang tua akan dijadikan role model bagi anak-anaknya.

Contoh

peristiwa yang dapat digunakan untuk menjelaskan hal ini adalah orang tua pemusik,
akan cenderung melahirkan anak-anak yang juga senang musik.
4. Kelompok sebaya atau kelompok masyarakat memberi pengaruh kepada individu. Ada
kecenderungan bahwa seorang individu berusaha untuk sama dengan teman
sekelompoknya (Ajzen menyebutnya dengan normative belief).
5. Media massa adalah media yang hadir di tengah tengah masyarakat. Berbagai riset
menunjukkan bahwa foto model yang tampil di media masa membangun sikap
masyarakat bahwa tubuh langsing tinggi adalah yang terbaik bagi seorang wanita.
Perubahan Sikap
Sikap bisa diubah dengan berbagai cara. Seseorang bisa menerima informasi baru
dari manusia maupun melalui media massa yang mampu mengubah komponen
pengetahuan dari sikap seseorang itu. Semenjak adanya kecenderungan untuk konsisten di
antara komponen–komponen sikap, perubahan komponen kognitif akan direfleksikan
kepada perubahan komponen afektif dan juga perubahan pada komponen konatif. Sikap
juga bisa berubah melalui pengalaman langsung terhadap suatu obyek sikap (Triandis,
1971).
Suranto (1999), ada empat faktor yang menentukan sikap yaitu faktor fisiologis,
faktor pengalaman, faktor kerangka acuan dan faktor komunikasi sosial.
1. Faktor fisiologis mencakup umur
Pada umumnya anak muda memiliki sikap yang lebih radikal, orang dewasa bersikap
lebih moderat.
2. Faktor pengalaman turut mempengaruhi sikap seseorang.

Mereka yang pernah

mengalami peperangan yang mengerikan akan memberikan sikap negatif terhadap
peperangan.
3. Faktor kerangka acuan sangat berpengaruh terhadap sikap seseorang. Sesuai tidaknya
obyek sikap terhadap kerangka acuan akan berhubungan dengan sikap positif ataupun
negatif orang tersebut terhadap suatu obyek.

14

4. Faktor komunikasi sosial yang berbentuk informasi dari seseorang kepada orang lain
dapat mengakibatkan perubahan sikap terhadap orang tersebut.
Menurut Suranto (1999), perubahan sikap yang mengarah kepada pengambilan
keputusan untuk mengadopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh karakteristik pribadi,
karakteristik sosial, kebutuhan akan inovasi dan sistem sosial yang berlaku. Dalam kaitan
ini yang dimaksud karakteristik pribadi mencakup aspek seperti umur, tingkat pendidikan,
dan status seseorang dalam bidangnya.
Menurut Mar’at (1981), teori stimulus respon menitikberatkan pada perubahan
sikap yang dapat dipengaruhi “kualitas rangsangan yang berkomunikasi dengan
organisme”. Karakteristik dari komunikator (sumber) menentukan keberhasilan tentang
perubahan sikap seperti kredibilitasnya, kepem

Dokumen yang terkait

Correlation between Parents, Mass Media, and Peers with Youth Attitude Towards Agricultural Livelihood (Case: Agricultural Youth in Subdistrict of Pacet, District of Cianjur).