PKPO PENDUKUNG REGULASI DAN DOKUMEN

  

PELAYANAN KEFARMASIAN DAN

PENGGUNAAN OBAT

(PENDUKUNG REGULASI DAN

DOKUMEN)

  

PELAYANAN KEFARMASIAN DAN

PENGGUNAAN OBAT

(PENDUKUNG REGULASI DAN

DOKUMEN)

  DR.Dr.Sutoto,M.Kes CURICULUM VITAE: DR.Dr.Sutoto,M.Kes CURICULUM VITAE: DR.Dr.Sutoto,M.Kes

  • Ketua Eksekutif KARS (Komisi Akreditasi R
  • Ketua Eksekutif KARS (Komisi Akreditasi Rumah

  Sakit Seluruh Indonesia),

  Sakit Seluruh Indonesia),

  • Board Member of ASQua (Asia Society for Qualit
  • Board Member of ASQua (Asia Society for Quality in

  Health Care),

  Health Care),

  • Regional Advisory Council dari JCI (J
  • Regional Advisory Council dari JCI (Joint

  Commission Internasioanl) sejak 2013,

  Commission Internasioanl) sejak 2013, • Dewan Pembina MKEK IDI Pusat.

  • Dewan Pembina MKEK IDI Pu>Dewan Pembina A>Dewan Pembina A
  • Pernah menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Rumah • Pernah menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Rumah sakit seluruh Indonesia Periode tahun 2009-2012 dan

  sakit seluruh Indonesia Periode tahun 2009-2012 dan

  2012-2015, Direktur Utama RSUP Fatmawati Jakarta,

  2012-2015, Direktur Utama RSUP Fatmawati Jakarta,

  Direktur Utama RS Kanker Dharmais Pusat Kanker

  Direktur Utama RS Kanker Dharmais Pusat Kanker

  Nasional, serta Plt Dirjen Pelayanan Medis

  Nasional, serta Plt Dirjen Pelayanan Medis

  Kementerian Kesehatan R.I thn 2010

  Kementerian Kesehatan R.I thn 2010

  Pencampuran RESE P 5 tepat ORGANISASI, SELEKSI DAN PENGADAAN , PENYIMPANAN UNDANG UNDANG RUMAH SAKIT

  PP 51/2009. TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN

  

PP 51/2009. TENTANG PEKERJAAN

KEFARMASIAN

PERTANYAANNNYA:

  • • BAGAIMANA ANDA MENJAMIN KEAMANAN, MUTU,

    MANFAAT DAN KHASIAT SEDIAAN FARMASI DALAM PELAYANAN OBAT DI RS ANDA ?.

  RUANG LINGKUP PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH SAKIT

  1. Kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan:

  1. Sediaan Farmasi,

  2. Alat Kesehatan, dan

  3. Bahan Medis Habis Pakai 2. Kegiatan pelayanan farmasi klinik.

  Peraturan Menteri Keehatan R.I. nomer 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah

  Sakit

THE NEW CHAIN DRUG SERVICES TO AVOID

  IDENTIFIKASI

  • Telaah Resep RESEP:

  Pastikan minimal 5R (5

  • Obat disiapkan
  • Tulisan jelas dan

  Right): asisten terbaca

  1. Person

  • Telaah obat
  • Pastikan 3

  2. Drug kondisi: Label obat Ranap:

  3. Dose

  1. Alergi obat 5 info: Identitas,

  4. Route

  2. Kontra nama obat, dosis,

  5. Time indikasi

PERUBAHAN PERAN PARA PROFESI DALAM MPO

  • Kompetensi:
  • Kompetensi:
    • – Kemampuan menulis resep: pemilihan

    • – Kemampuan menulis resep: pemilihan

      obat, indikasi, manfaat, dosis, efek obat, indikasi, manfaat, dosis, efek samping, alergi, interaksi, samping, alergi, interaksi,

  • Perbaikan budaya:
  • Perbaikan budaya:
    • – Penulisan resep
    • – Penulisan resep

    >Singkatan yg dilarang
  • Singkatan yg dilarang
  • Illegible hand writing
  • Illegible hand writing
  • Kepatuhan terhadap standar dan prosedur
  • Kepatuhan terhadap standar dan prosedur
  • Memperhatikan: alergi,kontra indikasi dan
  • Memperhatikan: alergi,kontra indikasi dan interaksi interaksi

  DAFTAR SINGKATAN YANG DILARANG

  

PERAN APOTEKER DALAM

MPO

  • – Medication history
  • – Medication history
  • – Visite  Drug Related Problem
  • – Visite  Drug Related Problem rekonsiliasi obat, PTO, MESO, PIO rekonsiliasi obat, PTO, MESO, PIO
  • – Telaah resep
  • – Telaah resep
  • – Telaah obat
  • – Telaah obat
  • – Supervisi – Supervisi – Pencampuran obat (IV admixture,
  • – Pencampuran obat (IV admixture, cytotoxic} cytotoxic}
  • – Discharge – Discharge

  PERAN PERAWAT DALAM MPO

  • – Memastikan minimal 5 right
  • – Memastikan minimal 5 right sebelum memberikan obat sebelum memberikan obat
  • – Hati hati dalam pemberian dan
  • – Hati hati dalam pemberian dan penyimpanan obat High alert  penyimpanan obat High alert  double check double check
  • – Identifkasi pasien sebelum
  • – Identifkasi pasien sebelum memberi obat memberi obat
  • – Memahami dan selalu
  • – Memahami dan selalu mempraktikkan SPO perintah mempraktikkan SPO perintah lisan/via telepon lisan/via telepon
  • – Melaksanakan tata laksana obat
  • – Melaksanakan tata laksana obat sesuai standar dan kompetensi sesuai standar dan kompetensi

  JUMLAH APOTEKER RS KELAS A

  • 1 (satu) apoteker sebagai kepala instalasi farmasi Rumah Sakit;
  • 5 (lima) apoteker yang bertugas di rawat jalan yang dibantu oleh paling sedikit 10 (sepuluh) tenaga teknis kefarmasian;
  • 5 (lima) apoteker di rawat inap yang dibantu oleh paling sedikit 10 (sepuluh) tenaga teknis kefarmasian;
  • 1 (satu) apoteker di instalasi gawat darurat yang dibantu oleh minimal 2 (dua) tenaga teknis kefarmasian;
  • 1 (satu) apoteker di ruang ICU yang dibantu oleh paling sedikit 2 (dua) tenaga teknis kefarmasian; 1 (satu) apoteker sebagai koordinator penerimaan dan distribusi yang
  • dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit; dan
  • 1 (satu) apoteker sebagai koordinator produksi yang dapat merangkap melakukan pelayanan farmasi klinik di rawat inap atau rawat jalan dan dibantu oleh tenaga teknis kefarmasian yang jumlahnya disesuaikan dengan beban kerja pelayanan kefarmasian Rumah Sakit.

  Pmk 56/Tahun 2014 Tentang Klasifkasi Dan Perijnan RS

JUMLAH APOTEKER

PMK 56/TAHUN 2014 TENTANG KLASIFIKASI DAN

  (KELAS B ) Pmk 56/Tahun 2014 Tentang Klasifkasi Dan Perijnan RS

JUMLAH TENAGA APOTEKER

  

PMK 56/TAHUN 2014 TENTANG

KLASIFIKASI DAN PERIJNAN RS PSL 43 (KELAS C )

  Pmk 56/Tahun 2014 Tentang Klasifkasi Dan Perijnan RS

  JUMLAH TENAGA APOTEKER PMK 56/TAHUN 2014 TENTANG KLASIFIKASI DAN PERIJNAN RS PSL 54 (KELAS D )

  Pmk 56/Tahun 2014 Tentang Klasifkasi Dan Perijnan RS

  Suggestion for Improving Medication Processes are Challenges for All Hospitals

  1. Ensure allergy information accompanies patients

  2. Use Drug Interaction Software

  

3. Pharmacists review of all medication orders

  

4. Provide reference materials at point of care

  5. Make allergy information available

  6. Place pharmacists in patient care units

  7. Connect medication orders to lab results 

Wakefeld.Douglas.,Implementing Shared Formulary and E-based Medication Order Review to Create "Closed

Loop" Medication Process in Critical Access Hospitals. September 16, 2009,. the 2009 AHRQ Annual

  Conference. Karthikeyan.M,Lalitha.D.,

.A prospective observational study of medication errors in general medicine department in

a tertiary care hospital. Drug Metabolism and Drug Interactions. Volume 28, Issue 1, Pages

  

PKPO 1

PKPO 1

DEPARTEMEN/UNIT/INSTALASI

  

Setiap departemen/unit kerja/ instalasi agar

menyusun dokumen sbb :

  1. Kebijakan Pelayanan

  2. Pedoman pengorganisasian

  3. Pedoman pelayanan

  4. Panduan pelayanan/SPO

  5. Program kerja mutu/program PMKP

  PEDOMAN PENGORGANISASIAN (INSTALASI FARMASI)

  I. Pendahuluan

  II. Gambaran umum RS

  III. Visi, Misi, Falsafah, Nilai & Tujuan RS

  IV. Struktur organisasi RS

  V. Struktur organisasi unit kerja

  VI. Uraian jabatan

  VII.Tata hubungan kerja

  

VIII.Pola ketenagaan dan kualifkasi personil

  IX. Kegiatan orientasi

  X. Pertemuan/rapat

  XI. Pelaporan

  

Permenkes 1197/2004 Tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit

PEDOMAN PELAYANAN UNIT KERJA (INSTALASI FARMASI)

I. Pendahuluan

  III. Standar fasilitas

  1. Latar belakang

   1. Denah ruangan

  2. Tujuan Pedoman

   2. Standar fasilitas

  3. Ruang Lingkup

  IV. Tata laksana Pelayanan pelayanan

  4. Batasan Operasional

  V. Logistik

  5. Landasan hukum

  VI. Keselamatan Pasien

II. Standar Ketenagaan

  VII. Keselamatan Kerja

   1. Kualifkasi SDM

  VIII.Pengendalian Mutu

   2. Distribusi

  IX. Penutup Ketenagaan

PANDUAN PELAYANAN

  I. DEFINISI

  II. RUANG LINGKUP

  III. TATA LAKSANA

IV DOKUMENTASI

UNTUK PERHATIAN

  • Pengadaan obat dan alkes harus dari sumber resmi:
  • Pengadaan obat dan alkes harus dari sumber resmi:
    • – Obat yang dibeli telah memiliki ijin dari Badan POM
    • – Obat yang dibeli telah memiliki ijin dari Badan POM
    • – Alkes yang disediakan harus punya ijin edar dari
    • – Alkes yang disediakan harus punya ijin edar dari

  

Dirjen Yanfar(PMK 1190/2010 .TENTANG IZIN

Dirjen Yanfar(PMK 1190/2010 .TENTANG IZIN

EDAR ALAT KESEHATAN EDAR ALAT KESEHATAN DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA, DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA,

  • Cara mengecek ijin obat dengan  melihat kode yang ada di
  • Cara mengecek ijin obat dengan  melihat kode yang ada di kemasan obat tersebut: kemasan obat tersebut:

  1. Huruf pertama adalah D (obat dengan nama dagang),

  1. Huruf pertama adalah D (obat dengan nama dagang),

  G (obat generik) G (obat generik)

  2. Digit kedua adalah B (obat bebas), T (obat bebas

  2. Digit kedua adalah B (obat bebas), T (obat bebas

  tidak terbatas), K (obat keras), P (psikotropika), dan tidak terbatas), K (obat keras), P (psikotropika), dan N (narkotika). N (narkotika).

  3. Digit ketiga adalah huruf L (obat lokal) dan I (obat

  3. Digit ketiga adalah huruf L (obat lokal) dan I (obat Pmk ijin

  impor) impor) edar "3 digit tersebut diikuti oleh 12 digit angka dan huruf.

  "3 digit tersebut diikuti oleh 12 digit angka dan huruf.

  

PMK 1190/2010 .TENTANG IZIN EDAR ALAT KESEHATAN

DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA

  • Pasal 5
  • Pasal 5
  • (1) Alat kesehatan dan/atau PKRT yang akan
  • (1) Alat kesehatan dan/atau PKRT yang akan diimpor, digunakan dan/atau diedarkan di wilayah diimpor, digunakan dan/atau diedarkan di wilayah Republik Indonesia harus terlebih dahulu memiliki Republik Indonesia harus terlebih dahulu memiliki izin edar. izin edar.
  • (2) Izin edar sebagaimana dimaksud pada ayat
  • (2) Izin edar sebagaimana dimaksud pada ayat

  (1) diberikan oleh Direktur Jenderal atau pejabat (1) diberikan oleh Direktur Jenderal atau pejabat yang ditunjuk. yang ditunjuk.

  

PELAYANAN FARMASI KLINIK

STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN

KMK 58/2014

  

pasal 3

PELAYANAN FARMASI KLINIK

STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN

KMK 58/2014

  

pasal 3

REVIEW TAHUNAN OBAT

  • Review tahunan mengumpulkan semua informasi dan pengalaman berhubungan dengan manajemen pengobatan

  Data untuk review :

  • Masalah yang terkait dengan
    • – Seleksi dan pengadaan obat
    • – Penyimpanan – Pemesanan/peresepan dan pencatatan (transcribe)
    • – Persiapan (preparing) dan penyaluran (dispensing)
    • – Pemberian dan pemantauan

  • Monitoring sebagai hasil perubahan di dalam formularium

  (formulary), seperti penambahan dan pengurangan obat

  • Monitoring kesalahan obat dan KNC (near misses)
  • Pertimbangan untuk praktek berbasis bukti (EBM) yang baru

  

PKPO2

SELEKSI DAN PENGADAAN

PKPO2

SELEKSI DAN PENGADAAN

CONTOH KRITERIA PEMILIHAN OBAT UNTUK MASUK

  

FORMULARIUM:

1. Mengutamakan penggunaan obat generik.

  2. Perbandingan obat generik : original: me too= x:y:z

  3. Memiliki rasio manfaat-risiko (beneft-risk ratio) yang paling menguntungkan penderita.

  4. Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas.

  5. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan.

  6. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan

  7. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien

  8. Memiliki rasio manfaat-biaya (beneft-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tidak langsung.

  9. Obat lain yang terbukti paling efektif secara ilmiah dan aman (evidence based medicines) yang paling dibutuhkan untuk pelayanan, dengan harga yang terjangkau

  Contoh Kriteria Penghapusan Obat :

  • Obat-obat yang jarang digunakan (slow moving) akan dievaluasi.
  • Obat-obat yang tidak digunakan (death

  stock) setelah waktu 3 (tiga) bulan maka akan diingatkan kepada dokter-dokter terkait yang menggunakan obat tersebut.

  Apabila pada 3 (tiga) bulan berikutnya tetap tidak/kurang digunakan, maka obat tersebut dikeluarkan dari buku formularium.

  • Obat-obat yang dalam proses penarikan oleh Pemerintah/BPOM atau dari pabrikan.

SUPERVISI OLEH APOTEKER

  Penyimpanan Penyimpanan

  • Obat narkotika psikotropika
  • Obat narkotika psikotropika
  • Gas medis
  • Gas medis
  • B3
  • B3
  • Obat emergensi
  • Obat emergensi

CONTOH KRITERIA PEMILIHAN OBAT UNTUK MASUK

  

FORMULARIUM:

1. Mengutamakan penggunaan obat generik.

  2. Perbandingan obat generik : original: me too= x:y:z

  3. Memiliki rasio manfaat-risiko (beneft-risk ratio) yang paling menguntungkan penderita.

  4. Mutu terjamin, termasuk stabilitas dan bioavailabilitas.

  5. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan.

  6. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan

  7. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan penerimaan oleh pasien

  8. Memiliki rasio manfaat-biaya (beneft-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tidak langsung.

  9. Obat lain yang terbukti paling efektif secara ilmiah dan aman (evidence based medicines) yang paling dibutuhkan untuk pelayanan, dengan harga yang terjangkau

  Contoh Kriteria Penghapusan Obat :

  • Obat-obat yang jarang digunakan (slow moving) akan dievaluasi.
  • Obat-obat yang tidak digunakan (death

  stock) setelah waktu 3 (tiga) bulan maka akan diingatkan kepada dokter-dokter terkait yang menggunakan obat tersebut.

  Apabila pada 3 (tiga) bulan berikutnya tetap tidak/kurang digunakan, maka obat tersebut dikeluarkan dari buku formularium.

  • Obat-obat yang dalam proses penarikan oleh Pemerintah/BPOM atau dari pabrikan.

  

PENGADAAN SAAT STOK KOSONG

PENGADAAN SAAT STOK KOSONG PROSEDUR PENANGANAN BILA TERJADI KETIDAKTERSEDIAAN STOK OBAT DI RS

1. Konfrmasi ke dokter tentang

  1. Konfrmasi ke dokter tentang ketersediaan obat substitusi ketersediaan obat substitusi

2. Kontak suplier/apotek kerjasama

  2. Kontak suplier/apotek kerjasama untuk men suplai untuk men suplai

  

PENYIMPANAN

PENYIMPANAN Contoh Kebijakan Umum Penyimpanan Perbekalan Farmasi

  Kebijakan Penyimpanan Obat RS XYZ:

  • Disesuaikan dengan bentuk Sediaan dan jenisnya, suhu penyimpanan dan stabilitasnya,sifat bahan, danketahanan terhadap Cahaya (lihat petunjuk penyimpanan masing-masing obat
  • Obat disusun alphabetis
  • Sistem FIFO (First in frst out} atau FEFO( frst expired frst out)
  • Obat-obatan dan bahan kimia yang digunakan untuk mempersiapkan obat diberi label: isi, tanggal kadaluwarsa dan peringatan Elektrolit pekat konsentrat dilarang disimpan di unit
  • pelayanan Unit tertentu yang dapat menyimpan elektrolit konsentrat
  • harus dilengkapi dengan SPO Khusus untuk mencegah penatalaksanaan yang kurang hati-hati
  • Obat high alert diberi stiker HIGH ALERT, obat NORUM/LASA diberi stiker NORUM/LASA

  PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PEREDARAN, PENYIMPANAN,

  PEMUSNAHAN, DAN PELAPORAN NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA, DAN PREKURSOR FARMASI

  Pasal 25

  • (1) Tempat penyimpanan Narkotika, Psikotropika, dan
  • (1) Tempat penyimpanan Narkotika, Psikotropika, dan

  Prekursor Farmasi dapat berupa gudang, ruangan, atau Prekursor Farmasi dapat berupa gudang, ruangan, atau lemari khusus.

  lemari khusus.

  • (2) Tempat penyimpanan Narkotika dilarang
  • (2) Tempat penyimpanan Narkotika dilarang

  digunakan untuk menyimpan barang selain digunakan untuk menyimpan barang selain Narkotika. Narkotika.

  • (3) Tempat penyimpanan Psikotropika dilarang
  • (3) Tempat penyimpanan Psikotropika dilarang

  digunakan untuk menyimpan barang selain digunakan untuk menyimpan barang selain Psikotropika. Psikotropika.

  • (4) Tempat penyimpanan Prekursor Farmasi dalam
  • (4) Tempat penyimpanan Prekursor Farmasi dalam

  bentuk bahan baku dilarang digunakan untuk bentuk bahan baku dilarang digunakan untuk

menyimpan barang selain Prekursor Farmasi dalam

menyimpan barang selain Prekursor Farmasi dalam

bentuk bahan baku. bentuk bahan baku.

  Gudang khusus

  • (1) Gudang khusus sebagaimana dimaksud dalam
  • (1) Gudang khusus sebagaimana dimaksud dalam

  Pasal 25 ayat (1) harus memenuhi persyaratan Pasal 25 ayat (1) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: sebagai berikut:

  • a. dinding dibuat dari tembok dan hanya
  • a. dinding dibuat dari tembok dan hanya mempunyai pintu yang dilengkapi dengan pintu mempunyai pintu yang dilengkapi dengan pintu jeruji besi dengan 2 (dua) buah kunci yang jeruji besi dengan 2 (dua) buah kunci yang berbeda; berbeda;
  • b. langit-langit dapat terbuat dari tembok beton
  • b. langit-langit dapat terbuat dari tembok beton atau jeruji besi; atau jeruji besi;
  • c. jika terdapat jendela atau ventilasi harus
  • c. jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi dengan jeruji besi; dilengkapi dengan jeruji besi;
  • d. gudang tidak boleh dimasuki oleh orang lain
  • d. gudang tidak boleh dimasuki oleh orang lain tanpa izin Apoteker penanggung jawab; dan tanpa izin Apoteker penanggung jawab; dan
  • e. kunci gudang dikuasai oleh Apoteker • e. kunci gudang dikuasai oleh Apoteker

  Apoteker penanggung jawab/Apoteker yang

  (2) Ruang khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat

  • (1) harus memenuhi syarat sebagai berikut:
  • a. dinding dan langit-langit terbuat dari bahan yang kuat;
  • b. jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi dengan jeruji besi;
  • c. mempunyai satu pintu dengan 2 (dua) buah kunci yang berbeda;
  • d. kunci ruang khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab/Apoteker yang ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan; dan
  • e. tidak boleh dimasuki oleh orang lain tanpa izin
  • (1) harus memenuhi syarat sebagai berikut:
  • a. dinding dan langit-langit terbuat dari bahan yang kuat;
  • b. jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi dengan jeruji besi;
  • c. mempunyai satu pintu dengan 2 (dua) buah kunci yang berbeda;
  • d. kunci ruang khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab/Apoteker yang ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan; dan
  • e. tidak boleh dimasuki oleh orang lain tanpa izin

  Apoteker penanggung jawab/Apoteker yang

  (3) Lemari khusus

  • (3) Lemari khusus sebagaimana dimaksud dalam
  • (3) Lemari khusus sebagaimana dimaksud dalam

  Pasal 25 ayat (1) harus memenuhi syarat sebagai Pasal 25 ayat (1) harus memenuhi syarat sebagai berikut: berikut:

  • a. terbuat dari bahan yang kuat;
  • a. terbuat dari bahan yang kuat;
  • b. tidak mudah dipindahkan dan mempunyai
  • b. tidak mudah dipindahkan dan mempunyai

  2 (dua) buah kunci yang berbeda; 2 (dua) buah kunci yang berbeda;

  • c. harus diletakkan dalam ruang khusus di sudut
  • c. harus diletakkan dalam ruang khusus di sudut gudang, untuk Instalasi Farmasi Pemerintah; gudang, untuk Instalasi Farmasi Pemerintah;
  • d. diletakkan di tempat yang aman dan
  • d. diletakkan di tempat yang aman dan

  tidak terlihat oleh umum, untuk Apotek, tidak terlihat oleh umum, untuk Apotek,

  Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas, Instalasi Farmasi Klinik, dan Lembaga Ilmu Instalasi Farmasi Klinik, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan ; dan Pengetahuan ; dan

  • e. kunci lemari khusus dikuasai oleh
  • e. kunci lemari khusus dikuasai oleh
  • • Penyimpanan Narkotika, Psikotropika,

  • • Penyimpanan Narkotika, Psikotropika,

    dan Prekursor Farmasi wajib dan Prekursor Farmasi wajib

    memenuhi Cara Produksi Obat yang

    memenuhi Cara Produksi Obat yang

    Baik, Cara Distribusi Obat yang Baik, Baik, Cara Distribusi Obat yang Baik, dan/atau standar pelayanan dan/atau standar pelayanan kefarmasian sesuai dengan kefarmasian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- ketentuan peraturan perundang- undangan. undangan.

  • (1) Apotek, Instalasi Farmasi • (1) Apotek, Instalasi Farmasi

  Rumah Sakit, Puskesmas, Instalasi Rumah Sakit, Puskesmas, Instalasi Farmasi Klinik, dan Lembaga Ilmu Farmasi Klinik, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan harus memiliki Pengetahuan harus memiliki tempat penyimpanan Narkotika tempat penyimpanan Narkotika atau Psikotropika berupa lemari atau Psikotropika berupa lemari khusus. khusus.

  • (2) Lemari khusus sebagaimana

  • (2) Lemari khusus sebagaimana

  

dimaksud pada ayat (1) berada

dimaksud pada ayat (1) berada

dalam penguasaan Apoteker dalam penguasaan Apoteker

  • (1) Industri Farmasi yang memproduksi Prekursor • (1) Industri Farmasi yang memproduksi Prekursor Farmasi dalam bentuk obat jadi, PBF yang Farmasi dalam bentuk obat jadi, PBF yang menyalurkan Prekursor Farmasi dalam bentuk menyalurkan Prekursor Farmasi dalam bentuk obat jadi, atau Instalasi Farmasi Pemerintah harus obat jadi, atau Instalasi Farmasi Pemerintah harus menyimpan Prekursor Farmasi dalam bentuk obat menyimpan Prekursor Farmasi dalam bentuk obat jadi dalam gudang penyimpanan obat yang aman jadi dalam gudang penyimpanan obat yang aman berdasarkan risiko.

  analisis berdasarkan risiko. analisis

  • (2) Apotek, Puskesmas, Instalasi Farmasi (2) Apotek, Puskesmas, Instalasi Farmasi

  

Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, dan

Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, dan

Lembaga Ilmu Pengetahuan harus Lembaga Ilmu Pengetahuan harus menyimpan Prekursor Farmasi dalam menyimpan Prekursor Farmasi dalam bentuk obat jadi di tempat penyimpanan bentuk obat jadi di tempat penyimpanan obat yang aman berdasarkan analisis risiko. obat yang aman berdasarkan analisis risiko.

  BAB IV PEMUSNAHAN Pasal 37

  • Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan
  • Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan

    Prekursor Farmasi hanya dilakukan dalam

    Prekursor Farmasi hanya dilakukan dalam

    hal: a. diproduksi tanpa memenuhi standar hal: a. diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan/atau dan persyaratan yang berlaku dan/atau tidak dapat diolah kembali; b. telah tidak dapat diolah kembali; b. telah

  kadaluarsa; c. tidak memenuhi syarat kadaluarsa; c. tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau untuk kesehatan dan/atau untuk pengembangan ilmu pengetahuan, pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk sisa penggunaan; d. termasuk sisa penggunaan; d. dibatalkan izin edarnya; atau e. dibatalkan izin edarnya; atau e. berhubungan dengan tindak pidana. berhubungan dengan tindak pidana.

  • (1) Pemusnahan sebagaimana
  • (1) Pemusnahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 huruf a dimaksud dalam Pasal 37 huruf a sampai dengan huruf d dilaksanakan sampai dengan huruf d dilaksanakan

    oleh Industri Farmasi, PBF, Instalasi

    oleh Industri Farmasi, PBF, Instalasi

    Farmasi Pemerintah, Apotek, Instalasi Farmasi Pemerintah, Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, Lembaga Ilmu Farmasi Klinik, Lembaga Ilmu Pengetahuan, Dokter atau Toko Obat. Pengetahuan, Dokter atau Toko Obat.

  • Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi • Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi harus dilakukan dengan: harus dilakukan dengan:
  • a. tidak mencemari lingkungan; dan
  • a. tidak mencemari lingkungan; dan
  • a. tidak membahayakan kesehatan masyarakat. Pasal 40
  • a. tidak membahayakan kesehatan masyarakat. Pasal 40

  Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

  • a. penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas
  • a. penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas distribusi/fasilitas pelayanan kefarmasian/pimpinan distribusi/fasilitas pelayanan kefarmasian/pimpinan lembaga/dokter praktik perorangan menyampaikan surat lembaga/dokter praktik perorangan menyampaikan surat pemberitahuan dan permohonan saksi kepada: 1. Kementerian pemberitahuan dan permohonan saksi kepada: 1. Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan, bagi Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan, bagi Instalasi Farmasi Pemerintah Pusat; 2. Dinas Kesehatan Provinsi Instalasi Farmasi Pemerintah Pusat; 2. Dinas Kesehatan Provinsi dan/atau Balai Besar/Balai Pengawas Obat dan Makanan dan/atau Balai Besar/Balai Pengawas Obat dan Makanan setempat, bagi Importir, Industri Farmasi, PBF, Lembaga Ilmu setempat, bagi Importir, Industri Farmasi, PBF, Lembaga Ilmu Pengetahuan, atau Instalasi Farmasi Pemerintah Provinsi; atau Pengetahuan, atau Instalasi Farmasi Pemerintah Provinsi; atau

3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan/atau

  

3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan/atau

Balai Besar/Balai Pengawas Obat dan Makanan Balai Besar/Balai Pengawas Obat dan Makanan setempat, bagi Apotek, Instalasi Farmasi setempat, bagi Apotek, Instalasi Farmasi

  • Dalam hal Pemusnahan Narkotika,
  • Dalam hal Pemusnahan Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor Farmasi Psikotropika, dan Prekursor Farmasi

    dilakukan oleh pihak ketiga, wajib

    dilakukan oleh pihak ketiga, wajib

    disaksikan oleh pemilik Narkotika,

    disaksikan oleh pemilik Narkotika,

    Psikotropika, dan Prekursor Farmasi Psikotropika, dan Prekursor Farmasi

    dan saksi sebagaimana dimaksud

    dan saksi sebagaimana dimaksud

    dalam Pasal 40 huruf b. dalam Pasal 40 huruf b.

  

Bagian Kedua Pelaporan

  • (5) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat
  • (5) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat

  (1) sampai dengan ayat (4) paling sedikit terdiri (1) sampai dengan ayat (4) paling sedikit terdiri atas: a. nama, bentuk sediaan, dan kekuatan atas: a. nama, bentuk sediaan, dan kekuatan

  Narkotika, Psikotropika, dan/atau Prekursor Narkotika, Psikotropika, dan/atau Prekursor Farmasi; b. jumlah persediaan awal dan Farmasi; b. jumlah persediaan awal dan akhir bulan; c. tanggal, nomor dokumen, akhir bulan; c. tanggal, nomor dokumen, dan sumber penerimaan; d. jumlah yang dan sumber penerimaan; d. jumlah yang

diterima; e. tanggal, nomor dokumen, dan

diterima; e. tanggal, nomor dokumen, dan

tujuan penyaluran; f. jumlah yang tujuan penyaluran; f. jumlah yang disalurkan; dan g. nomor batch dan disalurkan; dan g. nomor batch dan kadaluarsa setiap penerimaan atau kadaluarsa setiap penerimaan atau

penyaluran dan persediaan awal dan akhir.

penyaluran dan persediaan awal dan akhir.

  

Bagian Kedua Pelaporan

  • (6) Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit,
  • (6) Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit,

  Instalasi Farmasi Klinik, Lembaga Ilmu Instalasi Farmasi Klinik, Lembaga Ilmu Pengetahuan, dan dokter praktik perorangan Pengetahuan, dan dokter praktik perorangan

  wajib membuat, menyimpan, dan wajib membuat, menyimpan, dan menyampaikan laporan pemasukan dan menyampaikan laporan pemasukan dan penyerahan/penggunaan Narkotika dan penyerahan/penggunaan Narkotika dan

Psikotropika, setiap bulan kepada Kepala

Psikotropika, setiap bulan kepada Kepala

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan

Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan

tembusan Kepala Balai setempat. (7) tembusan Kepala Balai setempat. (7) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (6) paling sedikit terdiri atas: a. nama, ayat (6) paling sedikit terdiri atas: a. nama, bentuk sediaan, dan kekuatan Narkotika, bentuk sediaan, dan kekuatan Narkotika,

Psikotropika, dan/atau Prekursor Farmasi;

Psikotropika, dan/atau Prekursor Farmasi;

  TUJUAN :

MENCEGAH

HILANGNYA OBAT NARKOTIKA

  CONTOH LEMARI OBAT NARKOTIKA (Narcotic cabinet)

  • • Harus ada

    penanggung jawab setiap shift
  • Harus ada bukti serah terima per TUJUAN :

    MENCEGAH

    HILANGNYA OBAT NARKOTIKA
  • • Harus ada

    penanggung jawab setiap shift
  • Harus ada bukti serah terima per

  • DRUG

  REFRIGERATOR:

  • HANYA UNTUK

  MENYIMPAN OBAT

  • SUHU HARUS

  DIMONITOR SETIAP HARI

  1. DILARANG MENYIMPAN DUA JENIS OBAT ATAU LEBIH DALAM SATU BOX

  2. DILARANG MENYIMPAN OBAT LASA DALAM SATU BOX

  • OBAT

  HIGH ALERT DISIMPAN DALAM SATU RAK

  • DIBERI

  LABEL HIGH ALERT CONTOH LASA (LOOK ALIKE SOUND ALIKE) NORUM ( NAMA OBAT RUPA MIRIP)

TALLMAN LETTERING

   hidrOXYzine

  • hidraALAzine
  • ceREBYx
  • vinBLASTine
  • chlorproPAMID E • glipiZIde
  • DAUNOrubicin e

   ceLEBRex

   vinCRIStine

   chlorproMAZINE

   glYBURIde

   dOXOrubicine

  Look Alike Sound Alike

  • Dilarang disimpan berjejeran

LAS LAS

  • Diberi label

  A A LASA UPAYA PENCEGAHAN KESALAHAN

PENANGAN OBAT LASA

  • TallMan Lettering:
    • – Smart Pumps, Automated Dispensing

      Cabinets, Medication Administration

      Record, Central pharmacy, Storeroom, IV room and satellites

  • Labelling similar products
    • – Example: Ephedrine and Promethazine

  LAS A LASA CONTOH LASA ( look alike sound alike ) ( Nama Obat ,Rupa dan Ucapan Mirip )

  Sediaan injeksi dengan kekuatan berbeda yang memiliki

kemasan luar berbeda tetapi kemasan dalam (ampul)

hampir sama

  LAS A

OBAT HIGH ALERT: KATAGORI OBAT

  HIGH ALERT (ISMPs)

  1

  2

  3

  4

  5

  6

  7

  8

  HIGH

OBAT HIGH ALERT: KATAGORI OBAT

  ALERT (ISMPs)

  9

  1

  1

  1

  1

  2

  1

  3

  1

  4

  • ISMP: Institute for Safe Medication

  HIGH

OBAT HIGH ALERT: KATAGORI OBAT

  ALERT (ISMPs)

  1

  7

  1

  8

  1

  9

  2

  2

  1

  2

  2

  2

  3

  2

  4

DAFTAR OBAT HIGH ALERT

  1 Amiodarone IV

  2 Colcichine Injection

  3 Heparin, Low moluculer weigt injection

  4 Heparin Unfractionated IV

  5 Insulin SC dan IV

  6 Lidocaine IV

  7 Magnesium SUlfat Injecion

  8 Methotrxate oral non oncologic use

  9 Netiride

  10 Nitroprusside sodium for injection

  11 Potasium Cloride for injection concentrate

  12 Potasium Phospate injection

  13 Sodium Chloride injection hypertonic >0.9%

  14 Warfarin HIGH

  ALERT DAFTAR ELEKTROLIT KONSENTRAT

CONTOH: KEBIJAKAN PENANGANAN OBAT HIGH

  ALERT

  • DEFINISI:
    • Obat berisiko tinggi yang menyebabkan bahaya

  yang bermakna bila digunakan secara salah

  • KETENTUAN :

  1. Setiap unit yan obat harus punya daftar obat high alert, Obat LASA, Elektrolit Konsentrat, serta panduan penata laksanaan obat high alert

  2. Setiap staf klinis terkait harus tahu penata laksanaan obat high alert

  3. Obat high alert harus disimpan terpisah, akses terbatas, diberi label yang jelas

  4. Instruksi lisan obat high alert hanya boleh dalam keadaan emergensi, atau nama obat harus di eja perhuruf HIGH ALERT

CONTOH:KEBIJAKAN PENYIMPANAN OBAT HIGH

  1. Tempelkan stiker obat high alert pada setiap dos obat

  2. Beri stiker high alert pada setiap ampul obat high alert yang akan diserahkan kepada perawat

  3. Pisahkan obat high alert dengan obat lain/ dalam rak tersendiri

  4. Simpan obat sitostatika secara terpisah dari obat lainnya dan diberi stiker high alert

  5. Simpan Obat Narkotika secara terpisah dalam

lemari terkunci double, setiap pengeluaran harus

diketahui oleh penanggung jawabnya dan dicatat

  6. Sebelum perawat memberikan obat high alert

lakukan double check kepada perawat lain untuk

memastikan 5 benar (pasien, obat, dosis , rute,

  HIGH waktu)

  ALERT Look alike High Alert Drugs

  HIGH ALERT

  • Semua obat high alert

  HIGH ALERT disimpan dalam rak tersendiri

CONTOH STIKER OBAT HIGH ALERT PADA

PENYIMPANAN B3

TATA LAKSANA B3:

  1. inventarisasi bahan & limbah berbahaya  bahan kimia, bahan kemoterapi, bahan dan limbah radioaktif, gas dan uap berbahaya serta limbah medis dan infeksius lain sesuai ketentuan.

  2. penanganan, penyimpanan dan penggunaan bahan berbahaya;

  3. pelaporan dan investigasi dari tumpahan, paparan (exposure) dan insiden lainnya;

  4. pembuangan limbah berbahaya yang benar; 5. peralatan dan prosedur perlindungan yang benar pada saat penggunaan, ada tumpahan (spill) atau paparan (exposure);

  6. pendokumentasian, meliputi setiap izin dan perizinan/lisensi atau ketentuan persyaratan lainnya;  MSDS (material safety data sheet)

  GAS MEDIS GAS MEDIS

  TABUNG OKSIGEN

  • Diruang rawat harus tabung harus bersih atau diberi sarung bersih, sarung diberi tulisan isi gasnya
  • Diberi pengaman berupa troli yang dirantai, untuk menghindari tabung jatuh.
  • Tabung harus diberi tulisan isi dari gas yang ada didalamnya

PMK 1439 TAHUN 2002 TENTANG GAS MEDIS

  PMK 4 thn 2016 TENTANG GAS MEDIS DAN VAKUM MEDIS PADA FASYANKES

  d. Tabung baja Gas Medik di cat dengan warna yang berbeda dan diberi label sesuai dengan jenis gas yaitu :   1) Oksigen medis berwarna putih   2) Dinitrogen oksida berwarna biru tua   3) Karbon dioksida berwarna abu- abu   4) Nitrogen berwarna hitam

  

PMK 4 thn 2016 TENTANG GAS MEDIS DAN VAKUM MEDIS PADA

FASYANKES

  Tabung Gas Medik harus   dilengkapi dengan :

  a. Identifkasi Stamp Pada Botol Baja meliputi :

  1) Identitas / Merk Pabrik 2) Jenis Gas yang diisikan   3) Bulan – Tahun Pembuatan

  4) Tekanan Pengetesan (dalam   Kg / Cm2) 5) Tekanan Pengisian (dalam   Kg / Cm2)   6) Nomor Seri Cylinder 7) Volume Kapasitas air   (dalam liter) 8) Berat cylinder Kosong (tanpa kran dan tutup) b. Diberikan label yang jelas meliputi :   1) Nama Perusahaan   2) Nama Gas   3) Kandungan purity   4) Volume (isi tabung)   5) Tekanan gas   6) Tanggal pengisian   7) Nomor Tabung   8) Masa uji tabung  

  c. Diberikan stiker tanda “ Hazard “ yang menyebutkan :   1) Sifat gas   2) Peringatan–peringatan   3) Pertolongan pertama   4) Nama Produsen

  

PMK 4 thn 2016 TENTANG GAS MEDIS DAN VAKUM MEDIS PADA

FASYANKES

  

Medication History

  

Contoh :

Medication History

  Label identitas pasien Riwayat alergi

  Tgl Daftar obat yang Seberapa berat alerginya? Reaksi

menimbulkan alergi R=ringan alreginya

S=Sedang

  

B=Berat

  Semua jenis obat ; obat resep, bebas, herbal atau tcm yg dibawa dari rumah

  Tangg Nama obat Dosis/ berapa lama Alasan Berlanjut al frekuensi makan obat saat rawat inap ? Ya tida k 1.

  2.

  3.

  4. NAMA DAN TANDA TANGAN YANG MELAKUKAN INTERVIU

  PENYIMPANAN OBAT KHUSUS

OBAT EMERGENSI

  • Tersedia di semua unit pelayanan
  • Tersedia di semua unit pelayanan sesuai kebutuhan dalam standar sesuai kebutuhan dalam standar
  • Prosedur, menjaga dan melindungi
  • Prosedur, menjaga dan melindungi dari kehilangan dan pencurian dari kehilangan dan pencurian
  • Di monitor/supervisi, jangan sampai
  • Di monitor/supervisi, jangan sampai kosong, tak sesuai standar, misal ada kosong, tak sesuai standar, misal ada obat yg kadaluwarsa atau setelah obat yg kadaluwarsa atau setelah dipakai tak segera diganti dipakai tak segera diganti

  Contoh: Kebijakan Penyimpanan Obat Emergensi

  • Tempat menyimpan : TROLI/KIT/LEMARI/KOTAK OBAT EMERGENSI • Akses terdekat dan selalu siap pakai .
  • Terjaga isinya/aman kunci plastik dg no register
  • Isi sesuai standar di masing-masing unit
  • Tidak boleh dicampur obat lain
  • Dipakai hanya untuk emergensi saja dan sesudah Pakai harus melaporkan untuk segera diganti
  • Di cek secara berkala apakah ada yg

  Kunci Plastik Disposable dengan nomor register

  TROLI EMERGENSI

TAS EMERGENSI

PENARIKAN OBAT

  Penilaian    

   Elemen PPI. 7.1.1.

  

Ada kebijakan dan Kebijakan & prosedur Kebijakan alat

prosedur yang untuk alkes dan obat kadaluwarsa konsisten dengan yang kadaluwarsa  peraturan dan koordinasi dengan perundangan di farmasi RS tingkat nasional Kadaluwarsa juga dan ada standar termasuk alat-alat profesi yang sterilisasi yang sudah

  

PERESEPAN / PERMINTAAN

OBAT DAN INSTRUKSI

PENGOBATAN

PERESEPAN / PERMINTAAN

  

OBAT DAN INSTRUKSI

PENGOBATAN

CONTOH: ISI KEBIJAKAN PERESEPAN

  • Hanya Yang Berhak Menulis Dan Memesan Resep Saja Yangdilayani (Tersedia Daftar Staf Medis Yang Berhak Menulis Resep/ Daftar •

  Petugas Yang Berhak Memesan Resep Di Instalasi Farmasi)

Lanjutkan membaca

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

56 1234 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 346 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 285 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

4 197 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 268 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 363 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 331 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

6 190 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 343 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 385 23