IMPLIKATUR DALAM NOVEL PERTANYAAN KEPADA KENANGAN KARYA FAISAL ODDANG ARTIKEL PENELITIAN

IMPLIKATUR DALAM NOVEL PERTANYAAN KEPADA KENANGAN KARYA FAISAL ODDANG ARTIKEL PENELITIAN

  Oleh:

KHAIRUNNISA

NIM F1011131078 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK

  

2017

  

IMPLIKATUR DALAM NOVEL PERTANYAAN KEPADA KENANGAN

KARYA FAISAL ODDANG

Khairunnisa, Patriantoro, Henny Sanulita

  

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untan Pontianak

Ema

  

Abstract

The research of implicature based on existence of implicature itself is part of daily

conversation in society. The implicature is speech that thinking by different with what

it saying implies. This research applied descriptive method in qualitative with

documenter technique study. Tool of data collection is the researcher as the key of

instrument and applied the instrument’s help like notes that contains the result of

reading and reviewing the speech that contains conventional and non-conventional

implicature in novel Pertanyaan kepada Kenangan by Faisal Oddang. The result

research shows that there are 116 implicatures and divided into 64 conventional

implicatures and 52 non-conventional implicatures. That implicature classified based

on (1) implicature form in total 35 data of conventional implicatures and 44 data of

non-conventional implicatures. (2) implicature function in total 64 data of

conventional implicatures and 52 data of non-conventional implicatures. (3) illocution

acts in total 25 data of conventional implicatures and perlocution acts in total 28

implicatures data that 1 data of conventional implicature and 27 data of non-

conventional implicature. The combine of illocution and perlocution in total 25 data,

from non-conventional implicatures. (4) lesson plan which is able to be applied in

Curriculum 2013 class XII with second semester.

  Keywords: implicature, illocution, perlocution, lesson plan

  Komunikasi bermula dari sebuah gagasan atau ide yang muncul pada diri seseorang dan menjadi sebuah pesan yang disampaikan atau dikirimkan kepada orang lain dengan menggunakan media tertentu. Pesan yang disampaikan kemudian mendapat timbal balik berupa tanggapan atau jawaban dari orang yang menerima pesan tersebut. Ketika menyampaikan informasi biasanya informasi yang disampaikan komunikator memiliki maksud tersembunyi. Oleh karena itu, mitra tutur harus memahami maksud, makna tuturan, dan konteks yang digunakan dalam pesan tersebut. Konteks tuturan mudah dipahami maksud dan makna tuturannya apabila dikaji dengan pragmatik.

  Pragmatik mencakup studi interaksi antara pengetahuan kebahasaan dan dasar pengetahuan tentang dunia yang dimiliki oleh pendengar atau pembaca (Djajasudarma, 2012:48). Oleh sebab itu, kajian ini lebih banyak berhubungan dengan analisis maksud penutur terhadap tuturannya daripada makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri.

  Pragmatik memiliki kajian atau bidang telaah tertentu, satu di antara kajian pragmatik adalah implikatur. Implikatur adalah menerangkan perbedaan yang sering terdapat antara ‘apa yang diucapkan’ dengan apa yang diimplikasi (Lubis, (2015:73). Tuturan atau pernyataan tersebut berbeda mengenai sesuatu hal yang dipikirkan dengan yang sebenarnya diucapkan tersirat, baik dalam bentuk lisan maupun tulis. Ditinjau dari sudut pandang pragmatik banyak ditemukan implikatur di dalam novel, misalnya tuturan atau respon yang muncul ketika penutur atau mitra tutur melakukan percakapan dengan tokoh lain dalam konteks pembicaraan.

  Alasan peneliti memilih kajian implikatur untuk diteliti; pertama, implikatur sudah menjadi bagian dari tuturan dalam percakapan sehari-hari. Kedua, implikatur penting untuk diketahui agar terhindar dari kesalahpahaman makna yang tersembunyi dalam suatu tuturan.

  Kedua , novel dapat dibaca berulang kali

  Alasan peneliti memilih karya Faisal Oddang sebagai objek penelitian; pertama, Faisal Oddang mampu menjadi pemenang di tengah-tengah sastrawan lama dalam cerpen pilihan Kompas tahun 2014. Kedua, Faisal Oddang merupakan penulis muda kreatif dan berbakat. Ketiga , karya sastra yang dihasilkannya tidak seperti novel pada umumnya yang hanya membahas soal percintaan dan persahabatan, melainkan terdapat unsur kebudayaan Indonesia di dalamnya.

  Upacara adat kematian yang dikenal dengan nama rambu solo bertujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang telah meninggal dunia untuk kembali kepada leluhur mereka di tempat peristirahatan. Suku Toraja percaya bahwa sebelum seluruh prosesi upacara selesai maka orang tersebut belum benar-benar dianggap meninggal dunia. Mereka hanya dianggap sebagai orang sakit atau lemah yang diperlakukan seperti layaknya seseorang yang masih hidup.

  Novel PKK merupakan novel kedua karya Faisal Oddang yang diterbitkan oleh Gagasmedia dengan cetakan pertama tahun 2016. Novel ini memiliki ketebalan buku 185 halaman. Novel PKK menggabungkan kisah fiksi dengan ragam budaya di tanah air, yaitu satu tradisi yang dianut oleh suku Toraja.

  Pengarang membangun dunia imajinasi yang penuh dengan percakapan dan kejadian di dalam suatu novel. Pengarang seolah-olah mengajak pembaca untuk masuk ke dalam dunia imajinasi pengarang. Ketika tokoh-tokoh yang terdapat di dalam novel melakukan percakapan, hal tersebut sama halnya dengan berinteraksi atau berkomunikasi yang juga terjadi di kehidupan nyata. Terkadang ketika berkomunikasi, penutur seringkali menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang sebenarnya diucapkan. Demikian pula pada novel yang berjudul PKK karya Faisal Oddang, yang terdapat banyak kalimat atau percakapan yang menyiratkan maksud tertentu di dalam tuturan para tokoh.

  Nurgiyantoro (2013:13), mengemukakan bahwa novel bersifat bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, rinci, detail, dan melibatkan berbagai permasalahan yang

  sehingga dapat diinterpretasikan maksud isi cerita. Ketiga, isi cerita yang terdapat di dalam novel dapat menghibur dan mudah dipahami.

  Pragmatik merupakan kajian bahasa yang ada di dalam kehidupan sehari-hari. Pragmatik memerlukan penutur, mitra tutur, dan konteks. Hal-hal tersebut terdapat di dalam novel. Alasan peneliti memilih novel sebagai objek kajian implikatur; pertama, novel menceritakan kehidupan manusia yang saling berinteraksi antarsesama manusia maupun lingkungannya.

  Ketiga , untuk memahami bentuk-bentuk bahasa

  Bentuk tuturan yang mengandung implikatur dalam novel ini meliputi: implikatur konvensional dan implikatur nonkonvensional. Siswo (dalam Rohmadi, 2010:60), mengatakan bahwa implikatur konvensional adalah makna ujaran secara konvensional atau secara umum diterima oleh masyarakat, sedangkan implikatur nonkonvensional adalah ujaran yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya.

  Pertanyaan kepada Kenangan karya Faisal Oddang (selanjutnya akan disebut PKK).

  Peneliti meneliti bentuk tuturan yang mengandung implikatur di dalam novel

  sulit dipahami, sehingga peneliti bermaksud untuk menafsirkan makna dari kalimat dan percakapan tersebut agar memudahkan pembaca memahami isi cerita.

  Kenangan yang memiliki makna ganda dan

  yang implikatif perlu adanya analisis yang mendalam agar maksud terselubung di dalam teks benar-benar dipahami oleh mitra tutur. Selain itu, peneliti melihat terdapat kalimat dan percakapan pada novel Pertanyaan kepada

  Novel PKK dipilih sebagai objek penelitian dengan alasan; pertama, percakapan yang ada di dalam novel PKK menunjukkan banyak implikatur di dalam dialog antartokoh yang perlu dimengerti maksud dan maknanya.

  Ketiga , belum pernah ada penelitian yang

  membahas novel PKK berkaitan dengan penelitian bahasa. Ketertarikan peneliti memilih novel PKK karena novel ini tidak hanya menceritakan kisah cinta dan persahabatan di dalam suatu kehidupan, tetapi juga kebudayaan masyarakat Indonesia yaitu kebudayaan Toraja yang dikenal dengan rambu solo. Selain itu, novel PKK juga terdapat kata-kata bijak khususnya tentang cinta yang dapat memotivasi pembaca untuk menuju ke arah yang lebih baik. Hal-hal tersebut sangat sesuai untuk dijadikan alasan peneliti menjadikan novel PKK sebagai objek penelitian.

  Bermula dari tradisi rambu solo, Faisal Oddang menjadikan permulaan untuk menuturkan kisah Rinai, Lamba, dan Wanua.

  Mereka adalah tokoh-tokoh dalam PKK. Kebudayaan Toraja terdapat di dalam setting atau latar cerita novel tersebut. Cerita bermula dari tradisi yang membuat hati Rinai patah hati. Cinta dikalahkan oleh sesuatu yang beratus- ratus tahun lamanya, yaitu adat. Ketika Lamba memilih untuk mengikuti petuah leluhur daripada memperjuangkan perasaannya, sedangkan Rinai yang tidak mampu menuntut harapan atas kehilangan. Kemudian Ia bertemu Wanua yang telah menyadarkannya untuk kembali yakin pada sebuah harapan.

  Faisal Oddang menceritakan kisah antara keinginan manusia dan adat istiadat dalam masyarakat. Ia mengisahkan persoalan cinta Rinai dan Lamba tentang rencana pernikahan mereka. Menikah adalah fitrah kehidupan manusia ketika dua orang saling mencintai dan siap menjalin hubungan dengan ikatan yang sah. Rinai merasa bahwa dirinya tidak diperjuangkan lagi oleh Lamba, sedangkan Lamba lebih memilih tuntutan adat istiadatnya daripada cintanya.

  Sebuah novel memiliki alur kisah kehidupan. Kisah ini dapat diungkapkan dengan gaya (style), cerita, narasi atau percakapan tokoh. Percakapan dalam sebuah novel memiliki konteks sesuai dengan situasi yang terdapat dalam novel tersebut. Novel yang di dalamnya terdapat banyak percakapan atau

  Menurut Searle (dalam Rohmadi, 2010:32), tindak tutur adalah produk atau hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu dan merupakan kesatuan terkecil dari komunikasi linguistik yang dapat berwujud pernyataan, pertanyaan perintah atau yang lainnya. Tindak tutur merupakan kegiatan seseorang mengucapkan tuturan kepada mitra tutur dalam menyampaikan sesuatu hal. Tindak tutur dalam peristiwa tutur merupakan dua gejala yang terjadi pada suatu proses komunikasi. Austin (dalam Leech, 1993:316), mengatakan tuturan dan tindak tutur beraneka ragam jenisnya, satu di antara klasifikasi berdasarkan sifat hubungannya mencakup tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi. Lokusi adalah tindak dalam memberikan informasi tanpa adanya maksud dan tujuan tertentu. Searle (dalam Rahardi, 2005:35

  —36), mengatakan tindak ilokusi (the act of doing something) adalah tindak melakukan sesuatu dengan maksud dan fungsi tertentu, sedangkan tindak perlokusi (the

  act of affecting someone) adalah tindak yang

  menumbuhkan pengaruh (effect) kepada mitra tutur.

  Peneliti melihat dalam novel PKK, terdapat beberapa percakapan yang perlu dikaji menggunakan tindak tutur ilokusi dan perlokusi. Peneliti tertarik untuk mengkaji tindak tutur ilokusi dan perlokusi selain mengkaji menggunakan bentuk implikatur. Alasan peneliti tertarik untuk mengkaji tindak tutur selain mengkaji bentuk implikatur karena kehidupan manusia yang tidak lepas dari tindak tutur dan peristiwa tutur sebagai proses untuk menyampaikan informasi kepada mitra tutur.

  Penelitian ini berkaitan erat dengan Kurikulum 2013 pada mata pelajaran bahasa Indonesia untuk SMA/MA kelas XII yaitu menginterpretasi makna teks dalam novel.

  Menginterpretasi adalah memberi penafsiran terhadap makna tersirat atau maksud tersembunyi. Interpretasi juga berarti pemberian kesan, pendapat, atau pandangan terhadap sesuatu. Menginterpretasi novel baik secara lisan maupun tulis, pembaca harus memahami maksud dari kalimat atau percakapan yang terdapat dalam novel agar tidak mengalami kesulitan dalam membaca karya fiksi Penelitian ini berkontribusi pada mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya Kurikulum 2013 kelas XII semester genap dengan Kompetensi Inti (KI) 3. Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metode sesuai dengan kaidah keilmuan. Kompetensi Dasar (KD) 3.1 Menginterpretasi makna teks cerita sejarah, berita, iklan, editorial/opini, dan cerita fiksi dalam novel baik secara lisan maupun tulis.

  Berdasarkan judul penelitian “Implikatur dalam Novel Pertanyaan kepada Kenangan Karya Faisal Oddang” adalah suatu perbedaan tentang apa yang diucapkan dengan yang ingin sebenarnya diucapkan baik yang terungkap maupun yang tidak terungkap yang terdapat di dalam novel Pertanyaan kepada Kenangan karya Faisal Oddang.

  Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Data yang didapatkan dipaparkan atau dideskripsikan sesuai dengan fakta yang ada atau yang sebenarnya. Menurut Sugiyono (2014:2), metode penelitian adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dibuktikan, dan dikembangkan suatu pengetahuan sehingga pada gilirannya dapat digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah. Peneliti berusaha untuk mendeskripsikan masalah dalam penelitian ini, yaitu wujud implikatur, fungsi implikatur, tindak tutur ilokusi dan perlokusi, dan rencana implementasi pembelajaran dalam novel PKK karya Faisal Oddang.

  Bentuk penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian kualitatif yang sifatnya deskriptif analitik, yaitu hasil analisis datanya berupa pemaparan mengenai hal yang diteliti dan disajikan dalam bentuk naratif. Bentuk penelitian kualitatif menurut peneliti untuk cermat dalam menyusun data hasil penelitian secara sistematis. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2012:4), sebuah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang maupun perilaku yang dapat diamati. Sesuai dengan definisi tersebut, Kirk dan Miller (dalam Moleong, 2012:4), mendefinisikan bahwa metode kualitatif sebagai suatu tradisi dalam ilmu pengetahuan yang bergantung pada pengamatan seseorang.

  Data dari penelitian ini adalah kalimat- kalimat atau percakapan yang mengandung implikatur konvensional dan nonkonvensional pada novel PKK karya Faisal Oddang, sedangkan Sumber data dalam penelitian ini adalah novel yang berjudul PKK, yang merupakan novel kedua karya Faisal Oddang yang berkisah tentang persahabatan, kisah cinta, dan budaya Toraja. Diterbitkan oleh Gagasmedia dengan cetakan pertama 2016. Novel ini memiliki ketebalan buku 185 halaman. Lofland (dalam Moleong, 2012:157), mengatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.

  Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang digunakan dalam penelitian karena tujuan dari penelitian adalah mendapatkan data. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik tidak langsung berupa teknik studi dokumenter. Menurut Moleong (2012:217), dokumen sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data dimanfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk meramalkan. Teknik dalam pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah membaca novel yang akan dijadikan sumber data, menyeleksi kalimat dan tuturan yang memiliki ciri implikatur konvensional dan nonkonvensional, mengklasifikasikan wujud implikatur dari data implikatur konvensional dan nonkonvensional, mengklasifikasikan fungsi implikatur dari data implikatur konvensional dan nonkonvensional, dan mengklasifikasikan ilokusi dan perlokusi dari data implikatur konvensional dan nonkonvensional.

  Alat pengumpulan data yang digunakan sebagai instrumen kunci, yaitu sebagai perencana, pelaksana, penganalisis, dan pelapor hasil penelitian. Selain itu, peneliti menggunakan instrumen bantu, yaitu berupa catatan-catatan yang berisi hasil membaca dan menelaah kalimat atau percakapan yang mengandung implikatur konvensional dan nonkonvensional pada novel PKK karya Faisal Oddang.

  Pengujian keabsahan data ini dilakukan untuk memastikan kebenaran dan keakuratan data yang didapatkan. Pengujian ini dilakukan dengan dua cara, yaitu teknik ketekunan pengamatan dan kecukupan referensi. Ketekunan pengamatan dilakukan oleh peneliti dalam mengadakan pengamatan secara rinci dan teliti terhadap faktor-faktor yang dapat memengaruhi penelitian. Kurangnya ketekunan pengamatan akan berdampak pada hasil penelitian. Ketekunan ini juga membuat peneliti lebih fokus dalam membaca dan mencatat data implikatur konvensional dan nonkonvensional pada novel PKK karya Faisal Oddang. Kecukupan referensi yang digunakan dapat menjadi patokan untuk menguji dalam penafsiran data. Kecukupan referensi dapat dilakukan dengan membaca literatur-literatur yang berkaitan dengan implikatur dan tindak tutur ilokusi dan perlokusi. Jika, literatur tidak mencukupi maka peneliti mencari literatur lain sampai mampu menjawab persoalan yang dibahas.

  Langkah-langkah yang dilakukan dalam menganalisis data sebagai berikut. 1) Menganalisis dan menginterpretasi wujud, 2) Menganalisis dan menginterpretasi fungsi implikatur dengan teknik konteks isi kalimat, 3) Menganalisis dan menginterpretasi bentuk ilokusi dengan teknik relasi makna konteks kalimat, 4) Menganalisis dan menginterpretasi bentuk perlokusi dengan teknik relasi makna konteks kalimat, 5) Implementasi pembelajaran menginterpretasi teks cerita novel dengan teknik keterkaitan judul penelitian. Peneliti membuat implementasi pembelajaran berdasarkan kaitan dengan judul penelitian yang diteliti dan diterapkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaraan (RPP) pada Kurikulum 2013, dan 6) Membuat simpulan mengatakan bahwa analisis data merupakan upaya yang dilakukan untuk mengklasifikasi, mengelompokkan data, menyamakan data yang sama dan membedakan data yang berbeda.

  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian

  Rahardi (2005:93 —117), membagi wujud implikatur menjadi tujuh belas macam yang dibagi secara pragmatik imperatif. Wujud implikatur tersebut adalah wujud perintah, suruhan, permintaan, permohonan, desakan, bujukan, imbauan, persilaan, ajakan, permintaan izin, mengizinkan, larangan, harapan, umpatan, pemberian ucapan selamat/apresiasi, anjuran, dan ngelulu/sindiran.

  Wujud pragmatik imperatif adalah realisasi maksud imperatif menurut makna pragmatiknya. Berdasarkan teori Rahardi tersebut, data yang didapatkan yaitu sebanyak 116 implikatur yang diklasifikasikan menjadi 64 data implikatur konvensional dan 52 data implikatur nonkonvensional.

  Hasil analisis berdasarkan wujud implikatur, sebanyak 64 data implikatur konvensional memiliki wujud sesuai dengan yang dikemukakan Rahardi (2005:93

  —117) berjumlah 35 data 29 data tidak termasuk ke dalam 17 wujud yang telah dikemukakan oleh Rahardi. Wujud yang tidak ditemukan di dalam data implikatur konvensional yaitu wujud suruhan, permohonan, imbauan, persilaan, mengizinkan, umpatan, dan anjuran. Sementara itu, wujud yang paling banyak ditemukan dalam data implikatur konvensional adalah wujud “ngelulu” atau sindiran.

  Sebanyak 52 data implikatur nonkonvensional, data yang memiliki wujud sesuai dengan yang dikemukakan Rahardi (2005:93

  —117) berjumlah 44 data. 8 data tidak termasuk ke dalam 17 wujud yang telah dikemukakan oleh Rahardi. Wujud yang tidak ditemukan di dalam data implikatur nonkonvensional yaitu wujud imbauan dan anjuran. Sementara itu, wujud yang paling banyak ditemukan dalam data implikatur nonkonvensional adalah wujud “ngelulu” atau sindiran. Chaer (2010:79), membagi fungsi implikatur dalam tuturan menjadi enam bagian. Fungsi utama tuturan jika dilihat dari pihak penutur adalah fungsi menyatakan (deklaratif), fungsi menanyakan (interogatif), fungsi menyuruh (imperatif) termasuk di dalamnya fungsi melarang, fungsi memintaa maaf, dan fungsi mengeritik. Akan tetapi jika dilihat dari pihak lawan tutur terdapat fungsi komentar, fungsi menjawab, fungsi menyetujui termasuk di dalamnya fungsi menolak, fungsi menerima atau menolak maaf, dan fungsi menerima atau menolak kritik. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan Chaer tersebut, data sebanyak 116 implikatur yang diklasifikasikan menjadi 64 data implikatur konvensional dan 52 data implikatur nonkonvensional.

  Hasil analisis berdasarkan fungsi implikatur, Sebanyak 64 data implikatur konvensional, telah diteliti bahwa semua data memiliki fungsi implikaturnya sesuai dengan masing-masing tuturan. Pendapat yang dikemukakan Chaer (2010:79) mengenai fungsi tuturan implikatur dikemukakan terdapat 5 fungsi implikatur dan terbagi lagi ke dalam beberapa bagian sehingga menjadi 16 fungsi tuturan implikatur. Fungsi tuturan implikatur yang tidak ditemukan di dalam data implikatur konvensional; pertama, fungsi menyatakan yang termasuk dalam bagian menyatakan selamat, kedua fungsi menanyakan yang termasuk dalam bagian menanyakan meminta pengakuan dan menanyakan meminta pendapat, dan ketiga fungsi memerintah yang termasuk ke dalam bagian menyetujui dan menolak. Sementara itu, fungsi yang paling banyak ditemukan dalam data implikatur konvensional adalah fungsi menyatakan yang termasuk ke dalam bagian tuturan penjelasan.

  Sebanyak 52 data implikatur nonkonvensional, telah diteliti bahwa semua data memiliki fungsi implikaturnya sesuai dengan masing-masing tuturan. Pendapat yang dikemukakan Chaer (2010:79) mengenai fungsi tuturan implikatur dikemukakan terdapat 5 fungsi implikatur dan terbagi lagi ke dalam beberapa bagian sehingga menjadi 16 fungsi tuturan implikatur. Fungsi tuturan implikatur yang tidak ditemukan di dalam data implikatur yang termasuk dalam bagian menyatakan informasi dan menyatakan selamat, kedua fungsi mengeritik. Sementara itu, fungsi yang paling banyak ditemukan dalam data implikatur nonkonvensional adalah fungsi menanyakan yang termasuk ke dalam bagian menanyakan meminta pengakuan.

  Searle (dalam Rahardi, 2005:35 —36) menjelaskan mengenai tindak tutur ilokusi dan perlokusi bahwa tindak ilokusi (the act of doing

  something ) adalah tindak melakukan sesuatu

  dengan maksud dan fungsi tertentu. Tuturan “Tanganku gatal” yang diucapkan penutur bukan hanya dimaksudkan untuk memberitahu mitra tutur bahwa pada saat itu penutur mengalami rasa gatal ditangannya. Akan tetapi, penutur menginginkan mitra tutur melakukan tindakan berkaitan dengan rasa gatal pada tangannya itu. Tindak perlokusi (the act of

  affecting someone) adalah tindak yang

  menumbuhkan pengaruh (effect) kepada mitra tutur.

Tuturan “Tanganku gatal”, misalnya dapat menumbuhkan rasa takut kepada mitra

  tutur. Rasa takut itu muncul, misalnya karena yang menuturkan tuturan itu berprofesi sebagai tukang pukul yang pada kesehariannya sangat erat dengan kegiatan memukul dan melukai orang lain.

  Berdasarkan beberapa pendapat ahli, dapat disimpulkan bahwa ilokusi adalah tindak melakukan sesuatu dengan maksud-maksud komunikatif dan fungsi tertentu. Penutur tidak hanya memberikan informasi kepada mitra tutur tetapi menginginkan tindakan dari tuturan penutur berkaitan dengan ucapannya. Perlokusi adalah tindak yang memiliki fungsi yang bermaksud untuk menumbuhkan pengaruh kepada mitra tutur atau efek yang dihasilkan dari tuturan penutur.

  Hasil analisis data berdasarkan tindak tutur ilokusi dan perlokusi, tindak tutur yang paling sedikit ditemukan dari data implikatur konvensional dan implikatur nonkonvensional adalah tindak tutur komisif dengan jenis penawaran dengan jumlah 1 data dan gabungan antara tindak tutur deklarasi dengan perlokusi dengan jumlah 1 data. Sementara itu, tindak tutur yang paling banyak ditemukan dari data yang ada adalah perlokusi dengan jumlah 28 Hasil analisis berdasarkan implementasi pembelajaran berkaitan dengan judul penelitian peneliti adalah dengan dibuatnya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dapat digunakan oleh setiap pendidik sebagai pedoman umum untuk melaksanakan pembelajaran kepada peserta didiknya. RPP di dalamnya berisi petunjuk secara rinci tiap-tiap pertemuan, tujuan pembelajaran, materi ajar atau bahan pembelajaran, kegiatan belajar mengajar, media, dan evaluasi atau penilaian terhadap hasil belajar peserta didik. RPP yang dibuat oleh guru memudahkannya untuk mengajar dengan sistematis tanpa keluar dari tujuan, ruang lingkup materi, dan strategi mengajar. Kajian implikatur dalam novel dapat disisipkan dalam pembelajaran menginterpretasi teks cerita novel. Materi tersebut akan dipelajari pada tingkat SMA/MA kelas XII dalam Kurikulum 2013 yaitu pada KD 1.3 Menginterpretasi makna teks cerita sejarah, berita, iklan, editorial/opini, dan cerita fiksi dalam novel baik secara lisan maupun tulis.

  Teks yang dapat diinterpretasi maknanya satu di antaranya adalah novel baik secara lisan maupun tulis. Peneliti mengkhususkan penelitian ini dengan menginterpretasi makna teks cerita dalam novel secara tulis. Kompetensi Dasar tersebut dapat dicapai dengan novel

  pertanyaan kepada kenangan karya Faisal

  Oddang. Oleh karena itu, novel dapat dipelajari oleh peserta didik, selain tercantum dalam KD juga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

  Pembahasan Penelitian Analisis Wujud Implikatur

  Hasil analisis wujud implikatur ditemukan di dalam novel pertanyaan kepada kenangan karya Faisal Oddang yang mengandung implikatur konvensional dengan wujud desakan pada data no 47, sebagai berikut.

  Kepalaku berdentam, pohon-pohon Tarra yang kini tepat di depanku kembali membawaku ke satu nama; Wanua.

  (PKK, H67, B20 —22)

  Kalimat tersebut merupakan narasi yang pada tuturan tersebut ialah Rinai kembali mengingat Wanua saat Ia berada di lokasi objek wisata baby grave Kambira bersama Karra.

  Rinai mengingat Wanua karena Ia pernah ke lokasi tersebut bersamanya. Saat Rinai bersama Karra di baby grave, pikirannya dipenuhi dengan Wanua saat bersamanya di tempat itu. Tidak dapat dipungkiri meskipun Rinai tidak bermaksud untuk mengingat kenangannya bersama Wanua, tetapi kepalanya dikuasai dengan bayang-bayang Wanua yang mendesak tanpa harus menolak pikiran itu. Kalimat tersebut memberikan maksud bahwa Rinai selalu mengingat seseorang tidak hanya dari aroma tubuh, tetapi juga dari tempat atau lokasi yang pernah Ia kunjungi bersama orang terdekatnya seperti Wanua.

  Hasil analisis wujud implikatur ditemukan di dalam novel pertanyaan kepada kenangan karya Faisal Oddang yang mengandung implikatur nonkonvensional dengan wujud persilaan pada data no 1, sebagai berikut.

   Rinai : sudah lama menunggu? (tanyaku basa-basi). Wanua : tidak apa-apa.

  (PKK, H5, B11 —13)

  Situasi atau konteks pada tuturan tersebut adalah Wanua menunggu Rinai di Kedai Kopi Tongkonan untuk membicarakan sesuatu hal. Saat Rinai tiba di Kedai itu Ia bertanya, Wanua menunggu lama kedatangannya atau tidak. Secara tersirat Wanua mengatakan bahwa Ia menunggu lama kedatangan Rinai tetapi tidak masalah. Percakapan tersebut memberikan maksud bahwa Rinai sekadar basa-basi menanyakan ketidaknyamanannya datang terlambat dan Wanua merasa tidak keberatan menunggu lama serta mempersilakan Rinai untuk segera duduk.

  Data 1 termasuk implikatur nonkonvensional dan termasuk dalam wujud persilaan. Tuturan tersebut secara tersirat bermakna silakan walaupun secara langsung atau imperatif tidak menunjukkan adanya penanda kesantunan silakan dan dipersilakan. Kalimat “tidak apa-apa” tersirat makna memperbolehkan atau mempersilakan Rinai untuk duduk di hadapannya.

  Analisis Fungsi Implikatur

  Analisis Tindak Tutur Ilokusi dan Perlokusi

  (PKK, H69, B13 —15)

  Rinai : ya, Tenri? Tenri : halo, Kak, Halo, (terdengar suara Tenri yang terburu-buru di sambung telepon kami).

  mengandung implikatur nonkonvensional pada data no 25, sebagai berikut.

  kenangan karya Faisal Oddang yang

  Hasil analisis tindak tutur perlokusi ditemukan di dalam novel pertanyaan kepada

  Tuturan tersebut menyatakan bahwa mencintai seseorang berarti bersedia dan menerima risiko untuk disakiti atau dibahagiakan oleh orang yang dicintai. Tuturan tersebut disampaikan oleh Rinai dengan maksud menyindir Wanua dan Lamba, orang yang pernah dan Ia cintai. Tuturan tersebut tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu, tetapi juga menginginkan Wanua dan Lamba untuk melakukan tindakan berkaitan dengan ucapan tersebut. Tuturan tersebut mempunyai maksud dan tujuan sindiran kepada Wanua dan Lamba bahwa Rinai memiliki keberanian untuk mencintai lawan jenis walaupun Ia tidak tahu akan dibahagiakan atau malah dilukai oleh cinta. Berdasarkan analisis yang ada, tuturan tersebut termasuk ke dalam tindak tutur ilokusi asertif dalam jenis menyatakan.

  (PKK, H35, B1 —2)

  Mencintai adalah menyerahkan diri untuk dibahagiakan atau dilukai.

  mengandung implikatur konvensional dengan bagian tindak tutur ilokusi asertif pada data no 30, sebagai berikut.

  kenangan karya Faisal Oddang yang

  Hasil analisis tindak tutur ilokusi ditemukan di dalam novel pertanyaan kepada

  2. Wanua berkata ikuti saja!, kepada Rinai mungkin karena tidak ingin Rinai banyak berbicara atau mungkin Wanua yang tidak ingin banyak berbicara.

  Hasil analisis fungsi implikatur ditemukan di dalam novel pertanyaan kepada kenangan karya Faisal Oddang yang mengandung implikatur konvensional dengan fungsi meminta maaf pada data no 42, sebagai berikut.

  mengapa kamu mengajakku bertemu di sini? , atau mungkin hal apa yang ingin kau bicarakan padaku?.

  1. Tuturan Rinai yang mengatakan ada apa?, secara tersirat menanyakan kepada Wanua

  Tuturan tersebut memerintah untuk menyuruh Rinai untuk ikuti saja kemana Wanua pergi. Wanua membawa Rinai ke Pulau Samalona untuk membicarakan suatu hal. Tuturan tersebut memunculkan implikatur sebagai berikut.

  (PKK, H144, B11 —12)

  Rinai : ada apa? Wanua : ikuti saja!

  Hasil analisis wujud implikatur ditemukan di dalam novel pertanyaan kepada kenangan karya Faisal Oddang yang mengandung implikatur nonkonvensional dengan fungsi memerintah (menyuruh) pada data no 43, sebagai berikut.

  3. Rinai adalah pengingat yang baik. Apalagi dengan kesalahan orang-orang yang telah menyakiti dirinya.

  2. Rinai secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya tidak akan semudah itu melupakan semua kesalahan Lamba.

  1. Rinai selalu mengingat dengan baik kesalahan Lamba, walaupun Ia telah memaafkan semua kesalahannya.

  Tuturan tersebut memiliki maksud bahwa Rinai memaafkan kesalahan Lamba di masa lalu, tetapi tidak dapat melupakan semua kesalahannya. Tuturan Rinai secara tersirat memaafkan kesalahan Lamba. Tuturan tersebut memunculkan implikatur sebagai berikut.

  (PKK, H63, B1 —2)

  Semua kesalahan bisa saja dimaafkan, tetapi memaafkan jauh lebih mudah daripada melupakan.

  Tuturan yang dinyatakan oleh Tenri kepada Rinai adalah respon atau tanggapan ucapan Rinai sebagai penutur. Tuturan tersebut menumbuhkan pengaruh (efek) kepada Tenri sebagai mitra tutur. Tuturan tersebut merupakan apa menghubungi dirinya. Mitra tutur menanggapi tuturan penutur dengan ucapan (verbal), dengan harapan penutur memahami maksud dari tuturan tersebut bahwa Tenri tidak dapat mendengar suara Rinai dengan baik saat menelepon.

  Analisis Implementasi Pembelajaran

  Adapun uraian mengenai rencana implementasi pembelajaran menginterpretasi makna teks dalam novel, sebagai berikut. 1) Identitas mata pelajaran

  4) Tujuan pembelajaran Tujuan pembelajaran adalah ketercapaian perubahan perilaku atau kompetensi pada peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Cara merumuskan tujuan pembelajaran harus mengandung unsur A (Audience), B (Behaviour), C (Conditioning), D (Degree), biasanya unsur Conditioning berada diawal kalimat tujuan, baru diikuti unsur yang lain. Setelah melewati serangkaian kegiatan pembelajaran menginterpretasi makna teks novel melalui pendekatan saintifik dengan model discovery learning dan inquiry learning, metode diskusi dan penugasan, peserta didik mampu mencapai tujuan pembelajaran sebagai berikut.

  c.

  Menceritakan kembali teks cerita fiksi dalam novel secara tulis.

  b.

  Menemukan makna teks cerita fiksi dalam novel.

  a.

  Indikator kompetensi adalah kompetensi dasar yang dapat dijadikan untuk menilai ketercapaian hasil pembelajaran dan tolok ukur penguasaan peserta didik terhadap pokok bahasan atau mata pelajaran tertentu. Indikator pencapaian kompetensi disesuaikan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur. Indikator yang dirumuskan untuk mencapai KD 3.1 disesuaikan dengan materi menginterpretasi makna novel.

  3.1 Menginterpretasi makna teks cerita sejarah, berita, iklan, editorial/opini, dan cerita fiksi dalam novel baik secara lisan maupun tulis.

  Kompetensi Kompetensi Dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dicapai peserta didik dalam suatu bidang pelajaran tertentu, sebagai rujukan dalam penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran. KD dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, pada materi menginterpretasi novel adalah KD

  dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan. 3) Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian

  d.

  konseptual, prosedural, dan metakognitif beradasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

  c.

  (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro aktif, serta menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

  b.

  Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.

  a.

  Kompetensi inti untuk materi menginterpretasi makna teks dalam novel, sebagai berikut.

  Identitas mata pelajaran meliputi satuan pendidikan, mata pelajaran, kelas, semester, jumlah pertemuan, dan alokasi waktu. Rencana Implementasi Pembelajaran akan dilakukan pada jenjang pendidikan SMA/MA, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, kelas XII semester genap, dengan jumlah pertemuan sebanyak dua kali dan alokasi waktu 4x45 menit. 2) Kompetensi Inti

Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli

Menyampaikan tanggapan terhadap isi teks cerita fiksi dalam novel

Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi pengetahuan faktual

Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak

  a.

  Setelah membaca suatu novel, siswa mampu menemukan makna teks cerita fiksi secara tersirat dalam novel dengan tepat dan benar.

  b.

  Setelah menemukan makna teks cerita fiksi secara tersirat, siswa mampu menceritakan kembali teks cerita fiksi dalam novel secara tulis dengan kreatif.

  c.

  Setelah menceritakan kembali teks cerita fiksi dalam novel secara tulis, siswa mampu memberikan tanggapan terhadap isi teks cerita fiksi dalam novel secara tulis dengan kritis dan benar. 5)

  akan dijabarkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 9)

  data collection, data procession, dan verification ), dan penutup. Secara rinci kegiatan

  Kegiatan Pembelajaran Kegiatan pembelajaran secara umum terbagi menjadi tiga tahap yaitu pendahuluan, kegiatan inti (stimulation, problem statement,

  digunakan adalah buku siswa dan novel-novel mendidik lainnya. 8)

  Projector . Sumber pembelajaran yang dapat

Materi Pembelajaran

Penilaian atau Evaluasi

  Memberikan Tanggapan Terhadap Isi Teks Cerita dalam Novel. 6)

  Media adalah alat bantu dalam proses belajar mengajar yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan peserta didik. Alat dalam pembelajaran adalah setiap peralatan yang menunjang proses belajar mengajar untuk mempermudah guru dalam menyampaikan materi. Media pembelajaran yang digunakan adalah power point dan novel Pertanyaan yang digunakan adalah laptop dan LCD

  c.

  Menceritakan Kembali Teks Cerita Fiksi dalam Novel secara Tulis.

  b.

  Menemukan Makna Teks Cerita Fiksi Tersirat dalam Novel.

  a.

  Menurut Nurgiyantoro (2014:86) dalam menilai hasil belajar peserta didik haruslah menentukan kompetensi apa yang diukur dengan tes, nontes, bentuk tertulis atau lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri. Peneliti menilai kemampuan peserta didik dengan tes baik dalam bentuk tertulis.

  SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

  Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat 116 data implikatur yang terbagi menjadi 64 data implikatur konvensional dan 52 data implikatur nonkonvensional. Wujud implikatur yang paling banyak ditemukan dari data implikatur konvensional dan data implikatur nonkonvensional adalah wujud “ngelulu” atau sindiran dengan jumlah 21 data. Fungsi implikatur yang paling banyak ditemukan dari data yang ada adalah fungsi menyatakan dengan bagian tuturan penjelasan yang berjumlah 40 data. Tindak tutur yang paling banyak ditemukan dari data implikatur konvensional dan data implikatur nonkonvensional adalah tindak tutur perlokusi dengan jumlah 28 data. Kajian implikatur dalam novel dapat disisipkan dalam pembelajaran menginterpretasi teks cerita dalam novel. Materi tersebut akan dipelajari pada tingkat SMA/MA kelas XII dalam Kurikulum 2013 yaitu pada KD 1.3 Menginterpretasi makna teks cerita sejarah, berita, iklan, editorial/opini, dan cerita fiksi dalam novel baik secara lisan maupun tulis. Novel Pertanyaan kepada Kenangan karya

  Materi pembelajaran merupakan alat dan teks yang dperlukan untuk perencanaan dan penelaah implementasi pembelajaran dan membantu terlaksananya kegiatan belajar mengajar. Secara garis besar materi yang perlu diajarkan dalam pembelajaran menginterpretasi makna teks cerita dalam novel, sebagai berikut.

Metode Pembelajaran

  Metode pembelajaran yang digunakan pada materi menginterpretasi makna teks cerita pada novel adalah metode diskusi dan penugasan. Metode diskusi adalah bertukar informasi, pendapat, dan pengalaman secara teratur dengan maksud untuk mendapatkan hasil diskusi bersama tentang permasalahan atau topik yang sedang dibahas. Metode penugasan adalah guru memberikan tugas tertentu kepada peserta didik terkait dengan materi atau bahan ajar yang diberikan dalam kegiatan pembelajaran. 7)

Media, Alat, dan Sumber Pembelajaran

  mencapai KD 1.3 Menginterpretasi makna teks cerita sejarah, berita, iklan, editorial/opini, dan cerita fiksi dalam novel baik secara lisan maupun tulis.

  kualitatif

  Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B . Bandung: Alfabeta.

  dan Analisis . Surakarta: Yuma Pustaka

  Jakarta: Erlangga. Rohmadi, Muhammad. 2010. Pragmatik: Teori

  Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia .

  Yogyakarta. Oddang, Faisal. 2016. Pertanyaan kepada Kenangan . Jakarta: GagasMedia.

  Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi . Yogyakarta: BPFE-

  . Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nurgiyantoro, Burhan. 2013. Teori Pengkajian Fiksi . Yogyakarta: Gajah Mada University. Nurgiyantoro, Burhan. 2014. Penilaian

  Jakarta: Raja Grafindo Persada. Moleong, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian

  Saran

  Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik . Jakarta: Universitas Indonesia. Lubis, Hamid Hasan. 2015. Analisis Wacana Pragmatik . Bandung: CV Angkasa. Mahsun. 2014. Metode Penelitian Bahasa.

  Jakarta: Rineka Cipta. Djajasudarma, Fatimah. 2012. Wacana dan Pragmatik . Bandung: PT Refika Aditama.

  DAFTAR RUJUKAN Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa.

  selanjutnya dapat meneruskan kajian peneliti agar penelitian tersebut dapat dipahami oleh masyarakat dalam memahami maksud tuturan. Peneliti juga mengharapkan agar penelitian selanjutnya mengenai kajian implikatur tidak hanya dikaitkan dengan tindak tutur tetapi juga dengan kajian bahasa lainnya agar dapat memperkaya khazanah pengetahuan pembaca dan peneliti selanjutnya.

  b.

  Peneliti mengharapkan dengan adanya analisis dalam kajian implikatur, pembaca dapat memahami dan menafsirkan dengan baik maksud dari sebuah tuturan. Salah dalam menafsirkan tuturan akan berbeda pula maksud dari sebuah tuturan yang disampaikan penutur.

  a.

  Sesuai dengan penelitian dan hasil analisis, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut.