Teori Tingkah Laku Konsumen Analisis Kur

TEORI TINGKAH LAKU KONSUMEN : ANALISIS KURVA
KEPUASAN SAMA

Anggota Kelompok :
1. Eky Anindito

- 141160097

2. Aldo Ghaffar Juniar

- 141160099

3. Winarsih Febiyanti

- 141160134

4. Ichsanul Fikri

-

KURVA KEPUASAN SAMA
Menyatakan kepuasan dalam angka-angka adalah sesuatu yang tidak mudah
diukur.

Untuk

mengembangkan

menghindari
suatu

kelemahan

pendekatan

ini Sir

baru

utnuk

John R. Hicks
mewujudkan

telah
prinsip

pemaksimuman kepuasan oleh seorang konsumen yang mempunyai pendapatan
terbatas.
Kurva kepuasan sama didefinisikan sebagai suatu kurva yang menggambarkan
gabungan barang-barang yang akan memberikan kepuasan yang sama besarnya.
Untuk menggambarkan kurva kepuasan sama perlu dimisalkan bahwa seorang
konsumen hanya akan membeli dan mengkonsumsi dua macam barang.

Kombinasi Barang yang Mewujudkan Kepuasan Sama
Tabel gabungan makanan dan pakaian yang memberikan kepuasan sama

Ditunjukan enam buah gabungan makanan dan pakaian yaitu gabungan A, B, C,
D, E ataupun F yang akan memberikan kepuasan sama besarnya kepada seorang
konsumen. Artinya, kepuasan yang diperoleh konsumen jika mengkonsumsi 10
makanan dan 2 pakaian (gabungan A) sama dengan jika konsumen tersebut
mengkonsumsi 7 makanan dan 3 pakaian (gabungan B), 5 makanan dan 4 pakaian
(gabungan C) atau gabungan makanan dan pakaian lainnya yang terdapat dalam
tabel.
Karena memberikan kepuasan yang sama besarnya maka dikatakan konsumen
bersikap “indifference” yaitu sikap tak acuh dalam membuat pilihan. Sehingga
dalam bahasa Inggris, analis ini dinamakan indifference curve analysis.

Jika gabungan A, B, C, D, E, dan F dibuat titik-titik maka akan menggambarkan
hubungan dan diperoleh kurva kepuasan sama.
Gambar kurva kepuasan sama

Tingkat Penggantian Marjinal
Tingkat penggantian marjinal adalah penggantian yang menggambarkan besarnya
pengorbanan atas konsumsi suatu barang untuk menaikkan konsumsi satu barang
lainnya dan pada waktu yang sama tetap mempertahankan tingkat kepuasan yang
diperoleh konsumen.
Perubahan yang berlaku apabila konsumen menukar gabungan barang yang
dikonsumsi yaitu dimisalkan konsumen menukar konsumsi gabungan A menjadi
gabungan B dapat menaikkan konsumsi pakaian dari 2 menjadi 3 unit, dan
pengurangan konsumsi makanan dari 10 menjadi 7 unit. Keadaan ini berarti
bahwa untuk mempertahankan tingkat kepuasan yang dinikmati konsumen maka
kenaikkan konsumsi satu unit pakaian harus dibayar dengan pengurangan 3 unit

konsumsi pakaian. (ingat: setiap gabungan memberikan kepuasan yang sama
besarnya).
Tingkat

penggantian

marjinal

berikutnya

apabila

konsumen

mengubah

konsumsinya dari gabungan B menjadi gabungan C agar tingkat kepuasan tidak
mengalami perubahan maka diperoleh kenaikkan satu unit pakaian dan 2 unit
makanan dikorbankan. Sehingga tingkat penggantian marjinalnya adalah 2. Hal
ini juga berlaku pada gabungan barang C ke gabungan barang D, gabungan barang
D ke gabungan barang E, dan gabungan barang E ke gabungan barang F.
Tabel tingkat penggantian marjinal

Terlihat bahwa tingkat penggantian marjinal bertambah kecil. Tingkat
penggantian marjinal yang semakin kecil ini disebabkan oleh:
1. Pada waktu konsumen mempunyai barang Y yang jumlahnya relatif lebih
banyak dan barang X yang jumlahnya relatif lebih sedikit, diperlukan
pengurangan konsumsi yang besar atas barang Y untuk memperoleh satu
tambahan barang X; akan tetapi
2. Semakin sedikit barang X yang telah diperoleh, semakin sedikit
pengurangan konsumsi barang Y yang harus dilakukan untuk memperoleh
satu barang X.

Akibat dari tingkat penggantian marjinal yang semakin kecil maka kurva
kepuasan sama semakin lama semakin kurang kecondongannya atau
bentuk kurva kepuasa sama adalah cekung ke titik 0.

Peta Kurva Kepuasan Sama

Kurva U1, U2, U3, dan U4 adalah sekumpulan kurva kepuasan sama dari
seorang konsumen yang memgkonsumsi makanan dan pakaian. Tingkat
kepuasan yang digambarkan kurva U4 lebih besar daripada kurva yang
lain. Kurva U3 tingkat kepuasannya lebih besar dari kurva U1 dan kurva
U2. Sedangkan kurva U2 tingkat kepuasannya lebih besar dari kurva U1.
Sehingga diperoleh, setiap kurva kepuasan sama yang lebih tinggi
menggambarkan tingkat kepuasan yang lebih besar.
Jadi, dapat disimpulankan berikut:
1. Gabungan yang digambarkan oleh kurva yang berada dibawah kurva
yang pertama adalah lebih sedikit jumlahnya. Ini berarti kepuasan yang
diperoleh konsumen lebih sedikit.

2. Gabungan yang digambarkan oleh kurva yang berada diatas kurva
yang pertama adalah lebih banyak jumlahnya. Maka kepuasan yang
diperoleh konsumen juga lebih banyak.

GARIS ANGGARAN PENGELUARAN
Budget Line (Garis Anggaran Pengeluaran) adalah garis yang menunjukkan
berbagai gabungan barang-barang yang dapat dibeli oleh sejumlah pendapatan
tertentu. (Batas keuangan konsumen untuk membeli)
Faktor yang dapat merubah Budget Line :
1. Perubahan Harga. Jika harga suatu barang naik, maka Budget Line akan
mengarah ke titik Origin dan jika harga suatu barang turun, maka Budget
Line akan bergeser menjauhi titik 0.
2.

Perubahan Pendapatan. Jika pendapatan naik, Budget Line akan bergeser
ke kanan/ menjauhi titk Origin. Dan sebaliknya.

Contoh Angka
Dalam analisis ini dimisalkan konsumen akan membeli makanan dan pakaian.
Misalkan seorang konsumen menyediakan uang sebanyak Rp 90000 untuk
membeli makanan dan pakaian. Harga makanan adalah Rp 6000 setiap unit dan
harga pakaian Rp 9000 setiap unit. Berdasarkan pemisalan ini, didalam Tabel 8.2
ditunjukkan beberapa gabungan makanan dan pakaian yang dapat dibeli oleh uang
sebesar Rp 90000 yang dimiliki konsumen tersebut.
Kalau konsumen tersebut membeli 15 unit makanan, ia harus membayar 15x Rp
6000 = Rp 90000. Oleh karena itu tidak seunit pakaian pun dapat dibelinya.
Gabungan menggambarkan keadaan ini. Gabungan F menggambarkan keadaan
sebaliknya. Konsumen tersebut membeli 10 unit pakaian dan untuk pembelian ini
ia harus membayar sebanyak 10x Rp 9000 = Rp 90000. Dengan demikian tidak
seunit makanan pun dibelinya. Dalam kenyataan, kedua gabungan tersebut tidak
akan menjadi pilihan konsumen. Biasanya konsumen akan membeli kedua jenis
barang tersebut. Oleh sebab itu gabungan B sampai E adalah beberapa gabungan
makanan dan pakaian yang lebih mungkin dibeli dengan menggunakan uang yang
dimiliki oleh konsumen diatas.

Gabungan

Makanan (unit)

Pakaian (unit)

A
B
C
D
E
F

15
12
9
6
3
0

0
2
4
6
8
10

Berdasarkan data dalam tabel 8.2 dalam gambar 8.3 ditunjukkan garis anggaran
pengeluaran (Budget Line). Seperti telah didefinisikan sebelumnya, setiap titik
pada garis tersebut merupakan gabungan makanan dan pakaian yang dapat dibeli
oleh dana yang dibelanjakan konsumen (Rp 90000). Titik A sampai F
menggambarkan gabungan barang seperti yang ditunjukkan dalam table 8.2, yaitu
yang dapat dibeli oleh konsumen dengan uang sebanyak Rp 90000.

Titik yang berada diatas garis anggaran pengeluaran -–misalnya titik Y—yang
menunjukkan gabungan 10 unit pakaian dan 9 unit makanan, menggambarkan
gabungan yang tidak dapat dibeli oleh uang yang dimiliki oleh konsumen. Jumlah
yang harus dibayarkan adalah lebih tinggi dari uang yang tersedia. Karena harga
pakaian adalah Rp 9000 dan harga makanan adalah Rp 6000 maka gabungan
barang yang ditunjukkan oleh titik Y memerlukan uang sebanyak (10 x Rp 9000 +
9 x Rp 6000) = Rp 144000. Sedangkan konsumen tersebut hanya mempunyai
uang sebesar Rp 90000, yang artinya diperlukan Rp 54000 lagi untuk membeli

gabunan tersebut. Titik X adalah gabungan barang yang dapat dibeli dan uang
yang tersedia masih tersisa. Untuk membeli gabungan barang yang ditunjukkan
oleh titik X memerlukan uang sebanyak (3 x Rp 9000 + 6 x Rp 6000) = Rp 63000.
Sehingga uang yang tersedia masih tersisa sebesar Rp 27000.

Efek Perubahan Harga atau Pendapatan
Bagaimana perubahan harga atau pedapatan dapat mempengaruhi garis anggaran
pengeluaran? Uraian berikut akan menjawabkan pertanyaan tersebut.
Akibat Perubahan Harga
Perubahan garis anggaran pengeluaran yang disebabkan oleh perubahan harga
ditunjukkan oleh gambar 8.4 (i). Dimisalkan pendapatan konsumen Rp 90000,
harga makanan Rp 6000 dan harga pakaian Rp 9000. Maka pada permualaannya
garis anggaran pengeluaran adalah AB. Selanjutnya dimisalkan harga pakaian
naik menjadi Rp 15000 sedangkan harga makan tetap. Akibat dari perubahan ini,
pendapatan sebanyak Rp 90000 hanya dapat membeli 6 unit pakaian. Berarti garis
anggaran pengeluaran bergerak dari AB kearah seperti yang ditunjukkan oleh
anak panah a, yaitu menjadi garis AC. Sekarang misalkan pula harga pakaian
menjadi Rp 6000 yang menyebabkan pertambahan jumlah pakaian yang dapat
dibeli, yaitu menjadi 15 unit apabila semua pendapatan digunakan untuk membeli
pakaian. Maka garis anggaran pengeluaran sekarang berubah kearah anak panah
b, yaitu menjadi AD.
Bagaimanakah bentuk perubahan terhadap garis anggaran pengeluaran apabila
harga berubah secara propsional? Perubahan harga yang seperti itu menyebabkan
perubahan yang sejajar, yaitu garis anggaran penglearan yang baru adalah sejajar
dengan yang lama.

Akibat Perubahan Pendapatan
Gambar 8.4 (ii) menunjukkan akibat dari perubahan pendapatan konsumen atas
kemampuannya membeli pakaian dan makanan. Pemisalan permulaan

dalam

gambaran tersebut adalah sama seperti dalam menerangkan akibat perubahan
harga, yaitu pendapatan Rp 90000, harga makanan Rp 6000 dan harga pakaian
Rp 9000. Maka pada pemulaannya garis anggaran pengeluaran adalah PQ. Kalau
harga tetap dan pendapatan menurun menjadi Rp 54000, maka konsumen hanya
dapat membeli sebanyak 9 unit makanan atau 6 unit pakaian. Dengan demikian
garis anggaran pengeluaran telah bergeser secara sejajar kekiri yaitu seperti yang
di tunjukkan oleh garis RS. Sebaliknya pula, kenaikan pendapatan menyebabkan
garis anggaran pengeluaran berpindah sejajar ke kanan. Sebagai contoh, misalkan
pendapaan naik menjadi Rp 108000 sedangkan harga makanan dan pakaian tidak
berubah. pendapatan tersebut akan dapat membeli 18 unit makanan atau 12 unit
pakaian. Maka garis anggaran pengeluaran berpindah kearahkanan, yaitu menjadi
garis TU.

SYARAT UNTUK MENCAPAI KEPUASAN MAKSIMUM
Dengan diketahuinya cita rasa konsumen (yang ditunjukkan oleh kurva kepuasan
sama) dan berbagai gabungan barang yang mungkin dibeli konsumen (yang
ditunjukkan oleh garis anggaran pengeluaran) dapatlah sekarang ditunjukkan
keadaan dimana konsumen akan mencapai kepuasan yang maksimum. Untuk
maksud tersebut, garis anggaran pengeluaran dan peta kepuasan sama
digambarkan dalam satu grafik dan ini dapat dilihat dalam Gambar 8.5.
Dalam menggambarkan garis anggaran pengeluaran dimisalkan konsumen
tersebut akan berbelanja sebanyak Rp 150.000. Barang yang dikonsumsinya
adalah makanan dan pakaian dimana harga masing-masing barang tersebut adalah
Rp 2.500 dan Rp3.000. Garis anggaran pengeluaran yang dibuat berdasarkan
kepada pemisalan ini memotong kurva kepuasan sama U1 di A dan D; memotong
kurva kepuasan sama U2 di B dan C, menyinggung kurva kepuasan sama U 3 di E.
Kurva kepuasan sama U4 tidak dipotong atau disinggungnya sama sekali.
Keadaan bagaimanakah yang menyebabkan konsumen itu mencapai kepuasan
yang maksimum ? Sudah jelas bahwa kurva U4 adalah yang memberi kepuasan
yang lebih tinggi daripada kurva kepuasan sama lainnya. Tetapi kurva ini berada
diatas garis anggaran pengeluaran. Dengan demikian gabungan makanan dan
pakaian yang ditunjukkannya tidak dapat dibeli oleh pendapatan yang tersedia.
Jadi kurva U4 menunjukkan tingkat kepuasan yang tidak dapat dijangkau
konsumen.

Sekiranya konsumen ingin mengkonsumsi gabungan barang seperti yang
ditunjukkan oleh titik A, B, C, atau D maka kepuasannya belum mencapai tingkat
yang maksimum. Karena, kalau konsumen itu bergerak sepanjang garis anggaran
pengeluaran masih ada titik lain yang berada pada kurva kepuasan sama yang
lebih tinggi. Titik tersebut adalah titik E yang terletak pada kurva U 3. Tidak ada
titik lain yang terletak pada garis anggaran pengeluaran dan terletak pula pada
kurva kepuasan sama yang lebih tinggi dari U3. Berdasarkan analisis ini dapatlah
disimpulkan bahwa seorang konsumen akan mencapai kepuasan yang maksimum
apabila ia mencapai titik dimana garis anggaran pengeluaran menyinggung
kurva kepuasan sama. Titik E menunjukkan bahwa gabungan barang yang
memberi kepuasan maksimum terdiri dan 30 unit makanan dan 25 unit pakaian.

EFEK PERUBAHAN PENDAPATAN DAN HARGA
Apakah yang terjadi kepada keseimbangan permaksimuman kepuasan konsumen
apabila pendapatan atau harga mengalami perubahan ? Tentunya keseimbangan
tersebut akan mengalami perubahan. Kalau titik-titik keseimbangan yang
diwujudkan oleh perubahan pendapatan dihubungkan maka akan terdapat suatu
kurva yang dinamakan garis pendapatan-konsumsi. Suatu kurva juga akan
diperoleh apabila dihubungkan titik keseimbangan yang diwujudkan oleh
perubahan harga dan kurva itu dinamakan garis harga-konsumsi. Uraian berikut
menerangkan cara membentuk garis pendapatan-konsumsi dan garis hargakonsumsi.
Garis Pendapatan-Konsumsi

Perubahan pendapatan seperti yang telah diterangkan dapat memindahkan garis
anggaran pengeluaran sejajar dengan yang asal. Pertambahan pendapatan akan
memindahkan garis itu keatas dan pengurangan pendapatan memindahkan garis
itu kebawah. Pada setiap garis anggaran pengeluaran akan terdapat satu kurva
kepuasan sama yang menyinggung garis tersebut. Titik persinggungan tersebut
adalah

keseimbangan

pemaksimuman

kepuasan

yang

baru.

Bagimana

keseimbangan-keseimbangan tersebut terwujud digambarkan oleh contoh dalam
Gambar 8.6.

Pada waktu pendapatan adalah Y, garis anggaran pengeluaran adalah seperti
ditunjukkan oleh garis a. Dengan demikian E adalah keseimbangan yang
menggambarkan pemaksimuman kepuasan. Selanjutnya dimisalkan pendapatan
naik ke Y1 dan ini menyebabkan garis anggaran pengeluaran telah menjadi garis
b. Keseimbangan yang baru adalah E1. Pertambahan pendapatan lebih lanjut
memindahkan keseimbangan, misalnya ke E2. Garis pendapatan-konsumsi
adalah garis yang bermula dari titik origin (0) dan melalui titik-titik keseimbangan
E, E1, E2 dan seterusnya.
Garis Harga-Konsumsi
Perubahan harga akan mengubah kecondongan garis anggaran pengeluaran.
Dalam gambar 8.7 dimisalkan pada mulanya garis anggaran pengeluaran adalah

garis AB. Garis itu disinggung oleh kurva kepuasan sama U3 dititik E yang
menunjukkan kedudukan yang mencipatakan kepuasan maksimum kepada
konsumen.
Selanjutnya dimisalkan pendapatan tetap dan harga makanan tetap, tetapi harga
pakaian berubah dimisalkan harga pakaian naik. Akibatnya, garis anggaran
pengeluaran pindah menjadi garis AC dan garis ini disinggung oleh kurva
kepuasan sama U2 dititik E1 dan ini merupakan titik keseimbangan kepuasan
konsumen yang baru. Harga pakaian dimisalkan naik kembali sehingga garis
anggaran pengeluaran berubah menjadi seperti yang ditunjukkan oleh garis AD.
Kurva kepuasan U1 menyinggungnya dititik E2 berarti titik ini adalah titik
keseimbangan yang baru. Apabila titik E, E1, E2 dan titik-titik keseimbangan
seperti itu dihubungkan maka diperoleh kurva yang dinamakan garishargakonsumsi.

EFEK PENGGANTIAN DAN EFEK PENDAPATAN
Ketika menjelaskan perkaitan antara teori nilai guna dan teori permintaan telah
diuraikan bahwa hukum permintaan, yang menyatakan bahwa ceteris paribus,
kalau harga naik permintaan berkurang atau sebaliknya jika harga turun
permintaan bertambah, dapat diterangkan dengan menganalisis dua faktor: efek
penggantian dan efek pendapatan. Dalam uraian itu pada hakikatnya
diterangkan bahwa penurunan harga akan menambah permintaan karena:
 Konsumen lebih banyak mengkonsumsi barang itu dan mengurangi
konsumsi barang lain (efek penggantian)
 Penurunan harga menambah pendapatan riil konsumen dan kenaikan
pendapatan riil ini akan menambah konsumsi berbagai barang (efek
pendapatan)
Dengan menggunakan analisis kurva kepuasan sama, kedua faktor ini dapat
dipisahkan, yaitu dapat ditunjukkan bagian dari pertambahan permintaan yang
disebabkan oleh efek penggantian dan bagian dari pertambahan permintaan yang
disebabkan oleh efek pendapatan.

Dalam gambar 8.8 pada mulanya dimisalkan garis anggaran pengeluaran adalah
ditunjukkan oleh garis AB. Maka E adalah titik keseimbangan yang pada mulanya
wujud. Keseimbangan ini menunjukkan bahwa jumlah pakaian yang dikonsumsi
adalah Q. Seterusnya dimisalkan harga pakaian turun dan penurunan ini
mengakibatkan garis anggaran pengeluaran berubah menjadi AC. Maka
keseimbangan pindah ke E1. Perpindahan ini menunjukkan bahwa jumlah pakaian
yang dikonsumsikan telah menjadi bertambah banyak, yaitu jumlahnya telah
menjadi Q1. Kenaikan konsumsi pakaian dari Q menjadi Q1 disebabkan oleh efek
penggantian maupun efek pendapatan.

Untuk memisahkan efek penggantian dan efek pendapatan tersebut perlulah
dilihat keadaan keseimbangan yang tidak dipengaruhi oleh efek pendapatan.
Keadaan seperti itu dapat dibuat dengan menentukan keadaan keseimbangan
dimana pendapatan riil konsumen dianggap tetap. Pendapatan riil dapat dianggap
tidak mengalami perubahan apabila jumlah barang yang dibelinya memberi
kepuasan yang sama seperti sebelum ada perubahan harga, yaitu kepuasan seperti
yang ditunjukkan kurva U1. Garis anggaran pengeluaran A1B1 adalah sejajar
dengan AC dan menyinggung kurva kepuasan sama U 1 (pada titik D). Maka garis

A1B1 menggambarkan gabungan yang dapat dibeli dengan pendapatan riil yang
sama besarnya dengan yang berlaku sebelum penurunan harga pakaian.
Dapat dilihat dari Gambar 8.8 bahwa walaupun pendapatan riil dianggap tetap,
namun keseimbangan untuk mencapai kepuasan maksimum telah pindah dari titik
E ketitik D. Ini menggambarkan bahwa konsumsi pakaian bertambah sebesar QQ2
sedangkan konsumsi makanan berkurang dari M menjadi M 2 unit. Kenaikan
konsumsi pakaian ini disebabkan oleh efek penggantian.
Telah diterangkan bahwa efek penggantian menyebabkan konsumen menambah
konsumsi barang yang telah menjadi lebih murah dan mengurangi konsumsi
barang lain. Sedangkan efek pendapatan, yaitu sebagai akibat dari kenaikan
pendapatan riil, konsumsi keatas kedua barang bertambah. Gambar 8.8
menggambarkan keadaan ini dengan jelas. Pergeseran keseimbangan dari titik E
ketitik D (yang disebabkan oleh efek penggantian) menambah konsumsi pakaian
tetapi mengurangi konsumsi makanan. Pergeseran keseimbangan selanjutnya
yaitu dari titik D ketitik E1 (yang disebabkan oleh efek pendapatan) akan
menambah konsumsi pakaian (sebanyak Q2Q1) maupun makanan (sebanyak M2
M1).

MEMBENTUK KURVA PERMINTAAN
Telah ditunjukkan bahwa sifat permintaan konsumen, yaitu kalau harga turun
ceteris paribus

permintaan bertambah dan kalau harga naik permintaan

berkurang, dapat diterangkan dengan menggunakan teori nilai guna. Selain
dengan cara itu sifat permintaan konsumen dapat pula diterangkan dengan
menggunakan analisis kurva kepuasan sama. Cara menerangkan sifat permintaan
konsumen dengan menggunakan analisis kurva kepuasan sama adalah seperti
yang ditunjukkan dalam Gambar 8.9.
Dalam membuat Gambar 8.9 (i) dimisalkan pendapatan konsumen adalah tetap
sebesar Y dan pada permulaannya harga makanan adalah P m dan harga pakaian
adalah Pa. Dengan demikian dan pada permulaannya garis a menggambarkan garis
anggaran pengeluaran konsumen tersebut. Garis a menyinggung kurva kepuasan
sama U1 di titik E. Oleh karena itu jumlah pakaian yang dikonsumsi adalah Q unit.

Seterusnya, misalkan pendapatan dan harga makanan tidak mengalami perubahan,
tetapi harga pakaian menurun dan sekarang telah menjadi P b. Dengan perubahan
ini maka garis anggaran pengeluaran sekarang ditunjukkan oleh garis b. Ia
disinggung

kurva

kepuasan

sama

U2 di

titik

E1.

Keseimbangan

ini

menggambarkan bahwa pakaian yang dikonsumsi telah meningkat menjadi Q1
unit. Misalkan penurunan lebih lanjut berlaku keatas harga pakaian, yaitu
sekarang harganya adalah Pc.

Penurunan harga ini memindahkan lagi garis anggaran pengeluaran, yaitu
sekarang ditunjukkan oleh garis c. Kurva U3 disinggung oleh garis c di E2 yang
menunjukkan bahwa konsumsi pakaian sekarang telah semakin bertambah dan
menjadi sebanyak Q2.
Uraian yang baru saja dibuat ini menunjukkan bahwa perubahan harga pakaian
mengakibatkan perubahan keatas jumlah pakaian yang dibeli dan dikonsumsi.
Dalam Gambar 8.9 (ii) ditunjukkan hubungan antara harga pakaian dan jumlah
pakaian yang diminta. Titik A menggambarkan kedudukan konsumen ketika
belum berlaku

perubahan harga, yaitu harga pakaian adalah P a dan jumlah

pakaian yang diminta adalah Q unit. Titik B menggambarkan keadaan ketika
harga pakaian turun menjadi Pb dan pada harga tersebut jumlah yang diminta telah
menjadi Q1.
Keadaan yang terakhir, yaitu ketika harga pakaian telah menjadi P c. ditunjukkan
oleh titik C. Pada harga tersebut jumlah pakaian yang diminta adalah Q 2. Kurva
DD yang dibuat melalui ketiga titik diatas merupakan kurva permintaan keatas

pakaian dan bentuknya tidak berbeda dengan kurva permintaan yang diterangkan
dalam Bab Empat.


Dokumen yang terkait

Analisis Komparasi Internet Financial Local Government Reporting Pada Website Resmi Kabupaten dan Kota di Jawa Timur The Comparison Analysis of Internet Financial Local Government Reporting on Official Website of Regency and City in East Java

19 794 7

Analisis komparatif rasio finansial ditinjau dari aturan depkop dengan standar akuntansi Indonesia pada laporan keuanagn tahun 1999 pusat koperasi pegawai

14 339 84

Analisis Komposisi Struktur Modal Pada PT Bank Syariah Mandiri (The Analysis of Capital Structure Composition at PT Bank Syariah Mandiri)

22 283 6

Analisis Konsep Peningkatan Standar Mutu Technovation Terhadap Kemampuan Bersaing UD. Kayfa Interior Funiture Jember.

2 204 9

FREKWENSI PESAN PEMELIHARAAN KESEHATAN DALAM IKLAN LAYANAN MASYARAKAT Analisis Isi pada Empat Versi ILM Televisi Tanggap Flu Burung Milik Komnas FBPI

10 141 3

Analisis Sistem Pengendalian Mutu dan Perencanaan Penugasan Audit pada Kantor Akuntan Publik. (Suatu Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Aria, Sukimto dan Rekan)

136 602 18

Analisis Penyerapan Tenaga Kerja Pada Industri Kerajinan Tangan Di Desa Tutul Kecamatan Balung Kabupaten Jember.

7 66 65

Analisis Pertumbuhan Antar Sektor di Wilayah Kabupaten Magetan dan Sekitarnya Tahun 1996-2005

3 55 17

Analisis tentang saksi sebagai pertimbangan hakim dalam penjatuhan putusan dan tindak pidana pembunuhan berencana (Studi kasus Perkara No. 40/Pid/B/1988/PN.SAMPANG)

8 83 57

Analisis terhadap hapusnya hak usaha akibat terlantarnya lahan untuk ditetapkan menjadi obyek landreform (studi kasus di desa Mojomulyo kecamatan Puger Kabupaten Jember

1 83 63

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1860 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 488 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 432 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 260 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 571 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 502 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 319 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 491 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 585 23