Analisis Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Kedelai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat

  Analisis Efisiensi Dan Pendapatan Usahatani Kedelai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat

Analisis Efisiensi dan Pendapatan Usahatani Kedelai

di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat

  

Aditya Kusuma Mahabirama

  Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

  

Heny Kuswanti,

Suwarsinah Daryanto

Ratna Winandi

  Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor

  

Abstract: This study aims to analyze efficiency and revenue in soybean farming. In order to attain the objective,

this study uses primary data that are collected from 72 soybean farmers taken purposively. Production factor

analysis using Cobb Douglas production function to analyze factors that affect soybean production showed

that Male Labor, Seeds and Land Area variables had positive effect; meanwhile, Women Labor had negative effect

on soybean farming. Based on the analysis of soybean farming revenue in Garut district, farmers can still earn the

cash revenue compared to the cash cost as much as Rp 2,027,455.92 and earn revenue from the total cost of Rp 968,474.41,

with R/C ratio of 1:35 and 1:14. R/C ratio value indicates that soybean farming in Garut is still feasible and

profitable when cultivated. Efficiency is obtained from a comparison between the Value of Marginal Product

and Marginal Cost. The results showed that the production inputs in soybean farming are not yet efficient. Male

Labor and Manure should be reduced from 89.76 HOK; 591.04 Kg to 80.67 HOK; 115.52 Kg. In addition, Female

Labor and Chemical Fertilizer should not be used since it causes more losses due to using these inputs. Pesticides,

Seeds and Land Area inputs shall be increased from 709.70 ml; 77.27 Kg; 0.35 to 241.98 ml; 297.43 Kg; 9.77 Ha.

  Keywords: efficiency, revenue, soybean farming

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efisiensi dan pendapatan dalam usahatani kedelai. Untuk menjawab

tujuan tersebut penelitian ini menggunakan data primer sebanyak 72 orang petani kedelai yang diambil secara

purposive. Dilakukan analisis faktor produksi menggunakan fungsi produksi Cobb Douglas untuk menganalisis

faktor-faktor produksi yang mempengaruhi usahatani kedelai, diperoleh variabel Tenaga Kerja Pria, Benih dan

Luas Lahan memiliki pengaruh positif, sedangkan Tenaga Kerja Wanita memiliki pengaruh negatif bagi usahatani

kedelai. Berdasarkan analisis pendapatan usahatani kedelai di Kabupaten Garut, petani masih dapat memperoleh

pendapatan atas biaya tunai sebesar Rp 2 027 455.92 dan pendapatan atas biaya total yaitu Rp 968 474.41, dengan

nilai R/C rasio berturut-turut 1.35 dan 1.14. Nilai R/C rasio menunjukkan bahwa usahatani kedelai di Kabupaten

Garut masih layak dan menguntungkan apabila diusahakan. Efisiensi diperoleh berdasarkan perbandingan

antara Nilai Produk Marginal dan Biaya Korbanan Marginal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa input-input

produksi pada usahatani kedelai belum efisien. Input Tenaga Kerja Pria dan Pupuk Kandang harus dikurangi dari

  

89.76 HOK; 591.04 Kg menjadi 80.67 HOK; 115.52 Kg. Sedangkan input Tenaga Kerja Wanita dan Pupuk Kimia

sebaiknya tidak digunakan karena petani akan mengalami kerugian akibat penggunaan input tersebut. Input Pestisida,

Benih dan Luas Lahan harus ditambah dari 709.70 ml; 77.27 Kg; 0.35 Ha menjadi 241.98 ml; 297.43 Kg; 9.77 Ha.

  Kata Kunci: efisiensi, pendapatan, dan usahatani Alamat Korespondensi: Aditya Kusuma Mahabirama, Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Email: aditya_kusuma29@ yahoo. co.id; HP (085216187507)

  A ditya Kusuma Mahabirama, Heny Kuswanti, Suwarsinah Daryanto dan Ratna Winandi

  Dari lima komoditas pangan utama, kedelai merupa- kan salah satu komoditas yang menjadi sorotan utama karena kandungan proteinnya yang cukup tinggi untuk peningkatan gizi masyarakat. Kandungan protein kedelai mencapai 45% dan rendah kolesterol. Selain itu kedelai mengandung zat kalsium, posfor, besi, serat yang tinggi serta mineral lainnya yang baik bagi kesehatan manusia. Selain itu kandungan protein kedelai (35%) lebih tinggi daripada kandungan protein daging (19%). (Kementerian Pertanian 2012).

  Kandungan gizi kedelai yang cukup tinggi meng- akibatkan semakin besarnya permintaan masyarakat. Terlebih dengan pertumbuhan masyarakat Indonesia yang mencapai 237.641 juta jiwa (BPS 2010) dan bersamaan dengan peningkatan taraf hidup masyara- kat, peningkatan pengetahuan akan pentingnya kese- hatan dan sumber makanan yang bergizi, mengaki- batkan konsumsi kedelai semakin meningkat. Terjadi peningkatan konsumsi dari 9 kg per kapita sebelum tahun 2009, menjadi 10 kg per kapita pada tahun 2009 dan 2010. Peningkatan konsumsi kedelai dalam bentuk pangan seperti tahu dan tempe yang tinggi tidak mampu disubstitusi oleh produk pangan lainnya seperti ikan dikarenakan harga ikan yang masih diatas harga tahu dan tempe (Fauziyah 2007).

  Peningkatan konsumsi kedelai, mengakibatkan semakin banyaknya industri pengolahan kedelai. Industri pengolah kedelai dibedakan menjadi dua yaitu Industri Kecil (IK) 241 790 sampai 748 110 ton dan Industri Rumah Tangga (IRT) 932 794 sampai 1 808 916 ton. Industri Kecil dan Menengah (IKM) pengo- lah kedelai berjumlah tidak kurang dari 92 400 unit usaha yang terdiri dari IKM tempe sebanyak 56 760 ribu unit usaha, tahu sebanyak 28 600 ribu unit usaha, kecap 1 500 ribu unit usaha, tauco 2 100 ribu unit usaha dan keripik serta aneka olahan kedelai lainnya 3 430 ribu unit usaha. Industri Kecil Menengah kedelai tersebar hampir di seluruh Indonesia. Potensi dominan usaha ini berada di pulau Jawa utamanya di Jawa Tengah (39%), Jawa Timur (22%), Jawa Barat (13%) dan DIY (8.5 persen).

  Sebagian besar kedelai di dalam negeri dipergu- nakan sebagai bahan baku industri pengolahan pangan 1) yang dapat dijadikan sebagai sumber devisa negara dalam kaitannya dengan ekspor produk pangan olahan. Kaitannya dengan kebutuhan pangan yang meningkat maka kebutuhan kedelai juga akan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kebutuhan kedelai dalam negeri dipasok dari produksi di dalam dan luar negeri.

  Jawa Barat adalah salah satu sentra produksi kedelai nasional. Luas wilayah Jawa Barat mencapai 35 746.26 km 2 (Bank Indonesia 2012), dengan jumlah penduduk mencapai 43 053 732 jiwa (BPS 2010) yang merupakan daerah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Cahyaningsih (2008) mengemukakan bahwa pola konsumsi pangan sumber protein nabati di Jawa Barat didominasi kedelai baik di pedesaan, perkotaan, dan pedesaan+perkotaan pada tahun 2005 dan 2007, kuantitas konsumsi kedelai di perkotaan lebih tinggi daripada pedesaan. Konsumsi kedelai di perkotaan pada tahun 2005 29.4 gr/kap/hr dan pada tahun 2007 30 gr/kap/hr, sedangkan di pedesaan pada tahun 2005 25.4 gr/kap/hr dan pada tahun 2007 24.9 gr/kap/hr. Keadaan ini mengakibatkan tingginya permintaan kedelai di Jawa Barat.

  Namun tingginya permintaan kedelai tidak diim- bangi dengan produksi kedelai itu sendiri. Kabupaten Garut yang merupakan sentra produksi kedelai di Jawa Barat selama tahun 2007 sampai dengan 2010 mengalami kenaikan produksi kedelai, pada tahun 2007 produksi kedelai di Kabupaten Garut yaitu 7 925 ton, sedangkan pada tahun 2011 produksi kedelai men- capai 19 235 ton. Kenaikan produksi kedelai juga

  Jenis Industri

  IK (Ton)

  IRT (Ton) Total (Ton)

  Tempe 329 325 837 936 1 167 261 Tahu 148 120 523 026 671 146 Kecap 15 825 5 238 21 063 Tauco 1 680 4 655 6 335 Kebutuhan Total 494 950 1 370 855 1 865 805 Kebutuhan Per Hari 1 980 9 572 11 552

  Tabel 1. Kebutuhan Kedelai Bagi Industri Kecil Menengah (IKM) Pengolah Kedelai Sumber: Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian (2011)

  Analisis Efisiensi Dan Pendapatan Usahatani Kedelai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat

  diimbangi dengan kenaikan produktivitas kedelai, namun produktivitas kedelai yang dihasilkan masih belum sesuai dengan harapan benih unggul yang telah dikeluarkan pemerintah. Menurut Kementerian Perta- nian (2010), benih varietas unggul memiliki potensi produksi antara 2.16 sampai dengan 3.50 ton per maksimal yang dicapai yaitu pada tahun 2010 hanya 1.68 ton per hektarnya. Apabila dibandingkan dengan negara produsen lain seperti Brazil yang merupakan negara berkembang dengan iklim yang sama dengan Indonesia (FAO 2011) produktivitas kedelai yang dapat dihasilkan adalah 2.95 ton per hektar jauh lebih tinggi dibandingkan produktivitas yang dapat dihasilkan oleh Kabupaten Garut.

KERANGKA PEMIKIRAN

  Untuk meningkatkan produktivitas kedelai di Ka- bupaten Garut, petani dihadapkan pada suatu masalah penggunaan modal dan teknologi yang tepat. Peng- gunaan kombinasi modal seperti pupuk, benih, obat- obatan dan tenaga kerja yang tepat menjadi dasar pilihan tersebut, dengan kata lain intensifikasi dan efisiensi merupakan alternatif pilihan untuk mening- katkan produktivitas kedelai.

  Pilihan terhadap kombinasi penggunaan tenaga kerja, benih, pupuk, obat-obatan yang optimal, akan mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan kata lain suatu kombinasi input dapat menciptakan sejumlah produksi dengan cara yang lebih efisien (Soekartawi, 2002). Namun dalam kenyataannya, masalah peng- gunaan faktor produksi yang terdapat pada usahatani merupakan masalah utama yang selalu dihadapi petani disamping faktor produksi juga masalah keahlian. Seperti diketahui bahwa pendapatan mempunyai hubungan langsung dengan hasil produksi usahatani, sedangkan produksi yang dihasilkan ditentukan oleh keahlian seseorang dalam mengelola penggunaan faktor produksi yang mendukung usahatani seperti lahan, tenaga kerja, modal dan manajemen.

  • i ln X i
  • U (2) di mana  i

  Petani kedelai nantinya akan menemui perma- salahan pada produktivitas, harga faktor produksi (benih, tenaga kerja, pupuk dan pestisida) yang dipastikan semakin bertambah mahal setiap tahunnya yang mengakibatkan kebutuhan modal bertambah, sedangkan harga kedelai berfluktuasi. Oleh sebab itu masih diperlukannya suatu analisis atau kajian terha- dap faktor-faktor tersebut. Sehingga tujuan dari peneli- tian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor produksi, besarnya pendapatan, dan efisiensi usahatani kedelai di Kabupaten Garut.

  Kerangka pemikiran dalam penelitian ini didasar- kan dari pemahaman bahwa input yang ada semakin terbatas. Input yang terbatas tersebut seperti lahan dan tenaga kerja, sedangkan input lainnya seperti pupuk baik pupuk kandang dan kimia, pestisida, dan benih, memerlukan suatu kombinasi antara faktor- faktor produksi tersebut agar dapat menghasilkan kuantitas produksi yang maksimal. Suratiyah (2011) mengemukakan bahwa diperlukan penggunaan faktor-faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga usaha tersebut memberikan pendapatan semaksimal mungkin.

  Dari adanya keterbatasan faktor produksi maka diperlukan suatu cara guna mengetahui faktor-faktor produksi manakah yang mempengaruhi usahatani di Kabupaten Garut. Faktor-faktor produksi yang mem- pengaruhi usahatani kedelai dapat diperoleh dengan menggunakan analisis fungsi produksi Cobb-Douglas. Secara matematis fungsi Cobb-Douglas dinyatakan sebagai berikut: Y i = 

  X i

  i+ei

  (1) Agar fungsi produksi di atas dapat ditaksir, maka persamaan tersebut perlu ditransformasikan ke dalam bentuk linier sehingga menjadi: ln Y i = ln

  

  dapat dihitung sebagai nilai elastisitas faktor produksi (Djauhari 1999), variabel u adalah merupakan

  error term dari observasi ke-i.

  Untuk menganalisis pendapatan usahatani kedelai didasarkan dari pengurangan antara penerimaaan usahatani kedelai dengan biaya-biaya yang mucul da- lam usahatani kedelai, sedangkan R/C rasio digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan usahatani kedelai (Soekartawi 1986). Namun dari hasil analisis penda- patan usahatani belum dapat menganalisa seberapa besar efisiensi usahatani kedelai tersebut. Usahatani dikatakan mencapai efisiensi ekonomi bila tercapai keuntungan maksimum yaitu Nilai Produk Marginal (NPM) untuk faktor produksi sama dengan Biaya Korbanan Marginal (BKM) faktor produksinya terse- but (Doll dan Orazem 1984). Nilai Produk Marginal merupakan hasil kali antara harga produk dengan pro- duk marginal, sedangkan Biaya Korbanan Marginal

  • 7 : elastisitas faktor produksi;

      Analisis Efisiensi

      Analisis Faktor-Faktor Produksi

      30), rata-rata sampel akan terdistribusi di sekitar rata-rata populasi yang mendekati distribusi normal (Cooper dan Emory 1996). Oleh karena itu pengam- bilan sampel sebanyak 72 orang petani kedelai sudah memenuhi kriteria teorema batas sentral.

      theorem ) untuk ukuran sampel yang cukup besar, (n 

      Berdasarkan teorema batas sentral (central limit

      purposive sampling yang dilakukan sengaja pada sejumlah petani kedelai yaitu sebanyak 72 orang.

      Data primer diperoleh melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner kepada petani responden dan data sekunder diperoleh dari instansi- instansi terkait dan pustaka yang relevan dengan penelitian ini. Pengambilan contoh petani kedelai yang akan dijadikan responden adalah berdasarkan

      Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) yang didasarkan bahwa Kabupaten Garut merupakan sentra kedelai di Jawa Barat pada tahun 2010 dengan share 34.5% (BPS 2011).

      Gambar 1. Alur Kerangka Pemikiran Konseptual METODE Lokasi, Sumber dan Metode Pengumpulan Data

      tersebut (Sukaesih, 2001; Tahir, et al., 2010), dapat dilihat pada persamaan sebagai berikut:

      input (Biaya Korbanan Marginal) faktor produksi

      Efisiensi input dihitung dengan Nilai Produk Marginal (NPM). NPM didefinisikan sebagai nilai yang meningkatkan hasil output dari penambahan unit X, ketika Y dijual dengan harga konstan (Debertin, 1986). Efisiensi terjadi jika NPM sama dengan harga

      Analisis R/C rasio dalam usahatani menunjukkan perbandingan antara nilai output terhadap nilai input- nya yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan dari usahatani yang dilaksanakan (Soekartawi, 1986). Rumus analisis imbangan penerimaan dan biaya usahatani adalah sebagai berikut: R/C rasio = TR/TC (7) di mana: TR: total penerimaan usahatani yang dijual dalam bentuk kedelai (Rp); TC: total biaya usahatani (Rp). Tanda dan besaran parameter yang diharapkan R/C > 1.

      A ditya Kusuma Mahabirama, Heny Kuswanti, Suwarsinah Daryanto dan Ratna Winandi

       : pendapatan usahatani kedelai (Rp).

      atas biaya total = TR – TC (6) di mana: TR: total penerimaan usahatani yang dijual dalam bentuk kedelai (Rp); Y: jumlah produksi kedelai (kg); P y : harga kedelai (Rp); TC: total biaya usahatani (Rp);

      

      Pendapatan total usahatani merupakan selisih antara penerimaan total dengan pengeluaran total (Soekartawi, 1986). Rumus penerimaan, total biaya dan pendapatan adalah: TR = Y P y (4) TC = biaya tunai + biaya diperhitungkan (5)

      Analisis Pendapatan dan R/C Rasio

      U: error term. Tanda dan besaran parameter yang diharapkan:  1 -  7 > 0

      : intersep;  1

      (ha); 

       6 ln X 6 +  7 ln X 7 + U (3) 1 pria (HOK); X 2 : tenaga kerja wanita (HOK); X 3 : pupuk kimia (kg); X 4 : pupuk kandang (kg); X 5 : pestisida (ml); X 6 : benih (kg); X 7 : luas lahan kedelai

      X 4 +  5 ln X 5 +

      sama dengan harga dari masing-masing faktor pro- duksi. terdapat 7 variabel bebas yang dimasukkan ke dalam persamaan (3) maka secara matematis model persamaan pendugaan fungsi produksi adalah: ln Y = ln  +  1 ln X 1 +  2 Ln X 2 +  3 Ln X 3 +  4 ln

      Penentuan variabel penelitian adalah merupakan proses pertama dari pembentukan model. Di mana

      Analisis Efisiensi Dan Pendapatan Usahatani Kedelai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat

      NPM x =P x atau NPM x /P x =1 atau NPM x /BKM x =1(8) di mana: NPM x : nilai produk marginal faktor produksi x; P x =BKM x : harga faktor produksi x. Tanda dan besaran parameter yang muncul NPM x /BKM x > 1, artinya penggunaan input X belum efisien, sehingga input X perlu ditambah; NPM x /BKM x < 1, artinya perlu dikurangi, NPM x /BKM x = 1, artinya penggunaan input X sudah efisien (Tahir, et al., 2010).

      HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Kedelai

      Dari hasil analisis regresi menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas dihasilkan nilai R-sq sebesar 93.9% yang ditunjukkan oleh Tabel 1, yang berarti bahwa produksi kedelai dipengaruhi oleh seluruh variabel sebesar 93.9% dan sisanya 6.1% dipenga- ruhi oleh variabel-variabel lainnya yang tidak dimasuk- kan dalam persamaan fungsi produksi. Persamaan regresi yang diperoleh dari hasil analisis fungsi Cobb- Douglas adalah sebagai berikut: ln Y = 5.29 + 0.360 ln X 1 – 0.416 Ln X 2 – 0.0484 Ln X 3

    • 0.0073 ln X
    • 4 + 0.0229 ln X 5 + 0.534 ln X 6 + 0.817 ln X 7 terlihat pada Tabel 2 di mana dari tujuh variabel yang diamati tiga variabel yaitu Pupuk Kimia, Pupuk Kan- dang dan Pestisida tidak memberikan pengaruh yang nyata sampai dengan taraf  = 0.2. Sedangkan empat variabel yang nyata pada taraf  = 0.01 yaitu Tenaga kerja Pria, Tenaga Kerja Wanita, Benih dan Luas Lahan. Hal ini menunjukkan bahwa keempat input ini mempunyai peranan yang besar dalam proses produksi dalam usahatani kedelai di Kabupaten Garut.

        Tenaga Kerja Pria, Benih dan Luas Lahan memberi- kan pengaruh positif dalam usahatani kedelai, namun Tenaga Kerja Wanita mempunyai pengaruh yang negatif terhadap usahatani kedelai di Kabupaten Garut. Luas lahan memiliki nilai elastisitas terbesar dibandingkan keempat variabel lainnya yang dapat diartikan bahwa Luas Lahan memiliki kontribusi terbe- sar dalam usahatani kedelai. Apabila terjadi perubahan terhadap variabel Tenaga Kerja Pria, Tenaga Kerja Wanita, Benih dan Luas Lahan masing-masing sebe- sar satu persen maka akan terjadi perubahan masing- masing sebesar 0.360; -0.416; 0.534; 0.817% sesuai dengan tanda koefisien masing-masing variabel dengan kata lain apabila terjadi peningkatan Tenaga Kerja Pria sebesar 1% maka produksi kedelai akan meningkat sebesar 0.360% atau jika Tenaga Kerja Pria berkurang sebesar 1% maka produksi kedelai akan menurun sebesar 0.360%. Apabila terjadi peningkatan Tenaga Kerja Wanita sebesar 1% maka sedangkan apabila terjadi pengurangan Tenaga Kerja Wanita sebesar 1% maka produksi kedelai akan me- ningkat sebesar 0.416%. Untuk variabel Benih apabila terjadi peningkatan penggunaan sebesar 1% maka produksi kedelai akan meningkat sebesar 0.534%, sedangkan apabila terjadi pengurangan penggunaan Benih sebesar 1% maka produksi kedelai akan menu- run sebesar 0.534%. Begitu pula dengan penggunaan Luas Lahan, apabila terjadi peningkatan penggunaan sebesar 1% maka produksi kedelai akan meningkat sebesar 0.817, sedangkan apabila terjadi penurunan penggunaan Luas Lahan sebesar 1% maka produksi kedelai akan mengalami penurunan produksi sebesar 0.817%. Sedangkan hasil penelitian Sulastri (2011) menyebutkan pada usahatani kedelai lahan tegal di Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo variabel Pupuk Organik mempunyai pengaruh yang nyata terhadap produksi usahatani kedelai di daerah tersebut sedangkan variabel Tenaga Kerja Pria, Tenaga Kerja Wanita, Benih dan Luas Lahan tidak berpengaruh nyata. Namun pada usahatani kedelai lahan sawah di Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo variabel Tenaga Kerja Pria, Tenaga Kerja Wanita, Benih dan Luas Lahan mempunyai pengaruh yang nyata terha- dap produksi usahatani kedelai di daerah tersebut sama halnya seperti dalam penelitian ini.

        Untuk mengetahui skala usaha dapat dilakukan dengan menjumlahkan nilai koefisien dari tujuh varia- bel input. Nilai penjumlahan yang diperoleh adalah 1.277, yang berarti skala usaha usahatani kedelai di Kabupaten Garut berada pada increasing return to

        scale (IRS) yaitu tambahan output lebih besar dari-

        pada tambahan input, karena koefisien bertanda positif dan lebih besar dari satu. Sehingga apabila penggunaan faktor-faktor produksi ditambah bersama-sama seca- ra proporsional sebesar satu persen, maka produksi kedelai akan meningkat sebesar 1.277%. Sebaliknya apabila input dikurangi secara bersama-sama sebesar 1% maka produksi kedelai akan menurun sebesar 1.277%.

        6.9 R-sq=93.9% R-sq(adj)=93.2% Durbin-Watson=1.531

        4.20 0.000

        7.11 0.000

        4.9 Luas Lahan 0.817

        6.42 0.000

        3.2 Benih 0.534

        1.7 Pestisida 0.023 0.039 0.59 0.560

        3.1 Pupuk Kandang 0.007 0.028 0.26 0.796

        0.080 -5.21 0.000

        3.6 Tenaga Kerja Wanita

        0.360 * 0.086

        VIF Konstanta 5.289 0.549 9.63 0.000 Tenaga Kerja Pria

        Variabel Koefisien Standar Error T P

        Tabel 2. Hasil Pendugaan Fungsi Produksi Usahatani Kedelai Sumber: Data diolah (2013) Keterangan: *) signifikan pada  = 0.01

      • * 0.115

        Efisiensi ekonomi pada usahatani kedelai dapat dilihat dari perbandingan NPM dengan BKM. Peng- gunaan faktor produksi yang optimal dan telah

        Analisis Efisiensi

        Selisih antara pendapatan atas biaya tunai dengan biaya total adalah Rp 1 058 981.51. Jika dilihat dari nilai R/C rasio, R/C rasio atas biaya tunai lebih besar yaitu 1.35 bila dibandingkan dengan nilai R/C rasio atas biaya total yaitu 1.14. Nilai R/C rasio yang didapat pada penelitian ini tidak berbeda jauh dengan nilai R/ C rasio yang diperoleh dari penelitian Meryani (2008) dimana nilai R/C rasio 1.35 untuk polong tua dan 1.27 untuk polong muda. Sulastri (2011) mengemukakan pada usahatani kedelai di Kecamatan Sukorejo Kabu- paten Ponorogo nilai R/C rasio pada lahan tegal 1.82 dan pada lahan sawah sebesar 2.52. Sedangkan berda- sarkan Nurasa (2009) nilai R/C rasio usahatani kedelai di Jawa Barat pada tahun 2009 untuk SLPTT 1.92 dan untuk non-SLPTT 1.25. Nilai R/C rasio usahatani kedelai di Jawa Barat pada tahun 2009 lebih tinggi nilainya bila dibandingkan dengan nilai R/C rasio yang diperoleh pada Kabupaten Garut tahun 2013, sehingga usahatani kedelai lebih menguntungkan pada tahun 2009 dibandingkan pada tahun 2013. Secara keselu- ruhan nilai R/C rasio Kabupaten Garut lebih kecil bila dibandingkan dengan penelitian lainnya.

        Dari Tabel 3 analisis usahatani kedelai di Kabu- paten Garut Provinsi Jawa Barat dapat dilihat bahwa biaya tertinggi yang dikeluarkan untuk biaya tunai ada- lah dipergunakan untuk Tenaga Kerja Luar Keluarga Pria sebesar 40.43%, sedangkan untuk biaya tidak tunai atau biaya yang diperhitungkan biaya terbesar dipergunakan untuk Tenaga Kerja Keluarga Pria sebesar 65.77% dari total biaya yang dikeluarkan. Nurasa (2009) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa persentase biaya Tenaga Kerja pada usahatani kedelai di Jawa Barat untuk petani peserta SLPTT 64% dan untuk petani non-SLPTT 72%. Meryani (2008) menyatakan bahwa biaya Tenaga Kerja yang dikeluarkan oleh petani pada usahatani kedelai polong tua di Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur juga sebagian besar dipergunakan untuk tenaga kerja baik luar keluarga dan tenaga kerja keluarga yaitu sebesar 49.80% dan 62.42%. Sehingga dalam usahatani kedelai, biaya terbesar yang dikeluarkan dipergunakan untuk Tenaga Kerja.

        Analisis usahatani kedelai terdiri dari analisis penerimaan, biaya dan pendapatan. Penerimaan usahatani kedelai terdiri dari penerimaan tunai. Peneri- maan tunai adalah penerimaan yang diterima oleh petani dalam bentuk uang tunai hasil dari penjualan produksi usahataninya. Biaya yang dikeluarkan dalam usahatani terdiri dari dua jenis biaya yaitu biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai digunakan untuk melihat seberapa besar likuiditas tunai yang dibutuhkan petani untuk menjalankan kegiatan usaha- taninya. Biaya tidak tunai digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika penyusutan, sewa lahan dan nilai kerja keluarga diper- hitungkan. Pendapatan dianalisis berdasarkan biaya tunai dan biaya tidak tunai atau biaya yang diperhitung- kan.

        A ditya Kusuma Mahabirama, Heny Kuswanti, Suwarsinah Daryanto dan Ratna Winandi Analisis Usahatani Kedelai

      • -0.416 *
        • * 0.083

        Analisis Efisiensi Dan Pendapatan Usahatani Kedelai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat

        21.02

        6 TK Luar Kel. Wanita (HOK) 68.14 23 248.28 1 584 187.43

        27.19 Total Biaya Tunai 5 826 000.81

        100.00 C Biaya yang diperhitungkan

        1 Penyusutan 9.44 692.87 6 543.75

        0.62

        2 Sew a Lahan (Ha) 0.35 636 032.34 222 611.32

        3 TK Kel. Laki (HOK) 20.72 33 620.04 696 498.90

        5 TK Luar Kel. Pria (HOK) 69.04 34 117.98 2 355 603.52

        65.77

        4 TK Kel. Wanita (HOK) 5.91 22 546.36 133 327.55

        12.59 Total Biaya 1 058 981.52

        100.00 D Total Biaya (B+C) 6 884 982.32

        E Pendapatan atas biaya tunai (A-B) 2 027 455.92

        F Pendapatan atas biaya total (A-D) 968 474.41 G R/C atas biaya tunai (A/B)

        1.35 H R/C atas biaya total (A/D)

        40.43

        1.71

        mencapai keuntungan yang maksimum terjadi pada saat rasio NPM dan BKM sama dengan satu, sehing- ga kondisi tersebut dapat dikatakan usahatani kedelai efisien secara ekonomi. Hasil analisis efisiensi usaha- tani kedelai dapat dilihat pada Tabel 4 sebagai berikut.

        No Input Jumlah

      Harga

      (Rp)

        Pada Tabel 4 menunjukkan bahwa rasio antara NPM dan BKM pada variabel Tenaga Kerja Pria, Tenaga Kerja Wanita, Pupuk Kimia, dan Pupuk Kandang mempunyai nilai di bawah satu, yang berarti penggunaan input-input tersebut belum efisien sehingga penggunaan input tersebut perlu dikurangi atau dihilangkan. Nilai rasio NPM dan BKM untuk variabel input Tenaga Kerja Pria 0.89 berarti bahwa setiap penambahan Tenaga Kerja Pria sebesar 1 HOK akan meningkatkan penerimaan sebesar Rp 30 559.63, dikarenakan biaya tambahan (BKM/Marginal Cost) untuk membayar 1 HOK pria adalah Rp 34 003.05 yang lebih besar daripada penerimaan yang akan dihasilkan, maka sebaiknya Tenaga Kerja Pria dikurangi. Tenaga

        Kerja Pria akan optimal pada saat penggunaan sebesar

        80.67 HOK. Nilai rasio NPM dan BKM untuk varia- bel input Tenaga Kerja Wanita -1.84 berarti bahwa setiap penambahan Tenaga Kerja Wanita sebesar 1 HOK akan meningkatkan penerimaan sebesar Rp -42 779.27, dikarenakan biaya tambahan (BKM/

        Marginal Cost ) untuk membayar 1 HOK wanita ada-

        lah Rp 23 193.18, biaya yang dikeluarkan lebih besar dan tidak akan memperoleh pendapatan akibat peneri- maan yang sudah bernilai negative (rugi). Nilai input optimal yang menunjukkan nilai negatif yaitu -136.66 menunjukkan bahwa penggunaan input Tenaga Kerja Wanita mempunyai nilai yang lebih rendah dari 0 (nol) maka sebaiknya petani kedelai dalam melakukan usahatani kedelai di Kabupaten Garut tidak meng- gunakan Tenaga Kerja Wanita. Nilai rasio NPM dan BKM untuk variabel input Pupuk Kimia juga bernilai negatif yaitu -0.82 berarti bahwa setiap penambahan Pupuk Kimia sebesar 1 Kg akan meningkatkan

        Tabel 3 Analisis Usahatani Kedelai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat Sumber: Data diolah (2013)

        Biaya Input (Rp) Total (Rp) Propor si (%) A Penerimaan 1 242.42 6 321.10

        4 Pestisida (ml) 709.70 140.41 99 647.02

        7 853 456.73 B Biaya Tunai

        1 Benih (kg) 77.27 13 669.29 1 056 225.68

        18.13

        2 Pupuk An-organik (kg) 203.45 2 198.20 447 223.83

        7.68

        3 Pupuk Organik (kg) 591.04 479.01 283 113.33

        4.86

        1.14

        9.77 Rata-rata Produksi Kedelai (Kg/Ha) 1 204.18 Harga Kedelai (Rp/Kg) 6321.10

        89.76 0.360 30 559.63 34 003.05

        28.11

        0.35 0.817 17 881 936.48 636 032.34

        3.85 297.43 Luas Lahan (Ha)

        77.27 0.534 52 617.05 13 669.29

        Pestisida (ml) 709.70 0.023 245.72 140.41 1.75 1 241.98 Benih (Kg)

        74.09

        80.67 Tenaga Kerja Wanita (HOK)

        0.89

        Variabel Rata-Rata Input Koefisien NPM BKM NPM/BKM Input Optimal Tenaga Kerja Pria (HOK)

        Tabel 4. Analisis Efisiensi dan Input Optimal Usahatani Kedelai di Kabupaten Garut Sumber: Data diolah (2013)

      • -0.82 -167.69
        • Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi kede- lai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat yaitu

        Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpul- kan:

        KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

        032.34, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk mem- perluas Luas Lahan lebih kecil dibandingkan dengan penerimaan, maka petani kedelai di Kabupaten Garut dapat menambah penggunaan Luas Lahan sampai dengan batas optimal input. Input Luas Lahan akan optimal pada saat penggunaan sebesar 9.77 Ha.

        nal Cost ) untuk 1 Ha Luas Lahan adalah Rp 636

        Untuk variabel lainnya seperti Pestisida, Benih dan Luas Lahan memiliki nilai rasio NPM/BKM lebih dari satu. Hal ini berarti bahwa penggunaan input- input tersebut masih belum efisien, namun perlu ditambah penggunaannya. Nilai rasio NPM dan BKM untuk variabel input Pestisida 1.75 berarti bahwa se- tiap penambahan Pestisida sebesar 1 ml akan mening- katkan penerimaan sebesar Rp 245.72, dikarenakan biaya tambahan (BKM/Marginal Cost) untuk membayar 1 ml Pestisida adalah Rp 140.41, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk membeli Pestisida lebih kecil dibandingkan dengan penerimaan, maka petani kedelai di Kabupaten Garut dapat menambah peng- gunaan Pestisida sampai dengan batas optimal input. Pestisida akan optimal pada saat penggunaan Pesti- sida sebesar 1 241.98 ml. Nilai rasio NPM dan BKM untuk variabel input Benih 3.85 berarti bahwa setiap penambahan penggunaan Benih sebesar 1 Kg akan meningkatkan penerimaan sebesar Rp 52 617.05, dikarenakan biaya tambahan (BKM/Marginal Cost) untuk membayar 1 Kg Benih adalah Rp 13 669.29, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk membeli Benih lebih kecil dibandingkan dengan penerimaan, maka petani kedelai di Kabupaten Garut dapat menambah penggunaan Benih sampai dengan batas optimal input. Penggunaan input Benih akan optimal pada saat penggunaan sebesar 297.43 Kg. Nilai rasio NPM dan BKM untuk variabel input Luas Lahan 28.11 berarti bahwa setiap penambahan Luas Lahan sebesar 1 Ha akan meningkatkan penerimaan sebesar Rp 17 881 936.48, dikarenakan biaya tambahan (BKM/Margi-

        1 Kg Pupuk Kimia adalah Rp 2 198.20, mengakibatkan petani tidak akan memperoleh pendapatan lebih apabila menggunakan Pupuk Kimia. Nilai input optimal yang negatif yaitu -167.69 menunjukkan bahwa penggunaan input Pupuk Kimia mempunyai nilai yang lebih rendah dari 0 (nol) maka sebaiknya petani kedelai dalam melakukan usahatani kedelai di Kabupaten Garut tidak menggunakan Pupuk Kimia. Nilai rasio NPM dan BKM untuk variabel input Pupuk Kandang 0.19 berarti bahwa setiap penambahan Pu- puk Kandang sebesar 1 Kg akan meningkatkan pene- rimaan sebesar Rp 93.63, dikarenakan biaya tambah- an (BKM/Marginal Cost) untuk membayar 1 Kg Pupuk Kandang adalah Rp 479.01 yang mengakibat- kan biaya yang dikeluarkan untuk membeli Pupuk Kandang lebih besar daripada penerimaan yang akan dihasilkan maka sebaiknya penggunaan Pupuk Kan- dang dikurangi. Penggunaan input Pupuk Kandang akan optimal pada saat petani kedelai menggunakan sebanyak 115.52 Kg.

        penerimaan sebesar Rp -1 811.92, dikarenakan biaya tambahan (BKM/Marginal Cost) untuk membayar

        A ditya Kusuma Mahabirama, Heny Kuswanti, Suwarsinah Daryanto dan Ratna Winandi

      • 0.416 -42 779.27 23 193.18 -1.84 -136.66 Pupuk Kimia (Kg) 203.45
      • 0.048 -1 811.92 2 198.20
      •   Analisis Efisiensi Dan Pendapatan Usahatani Kedelai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat

          Tenaga Kerja Pria, Tenaga Kerja Wanita, Benih dan Luas Lahan yang berpengaruh nyata pada taraf  = 0.01. Tenaga Kerja Pria, Benih dan Luas Lahan memiliki pengaruh positif dengan nilai 0.360; 0.534; 0.817. Sedangkan Tenaga Kerja Wanita memiliki pengaruh yang negatif dengan elastisitas yang terbesar yaitu 0.817 yang berarti Luas Lahan memiliki kontribusi terbesar dalam produksi kedelai di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat.

        • Pendapatan petani atas biaya tunai yaitu Rp 2 027 455.92, masih lebih besar Rp 1 058 981.51 dibandingkan dengan pendapatan petani atas biaya total yaitu Rp 968 474.41. Nilai R/C rasio atas biaya total lebih kecil yaitu 1.14 bila diban- dingkan dengan nilai R/C rasio atas biaya tunai yaitu 1.35. Secara keseluruhan nilai R/C rasio menunjukkan bahwa usahatani kedelai di Kabu- paten Garut masih layak dan menguntungkan apabila diusahakan.
        • Penggunaan input-input produksi pada usahatani kedelai di Kabupaten Garut belum efisien. Input-

        DAFTAR RUJUKAN

          input produksi seperti Tenaga Kerja Pria dan

          Pupuk Kandang penggunaannnya harus dikurangi dari 89.76 HOK dan 591.04 Kg menjadi 80.67 HOK dan 115.52 Kg. Sedangkan Tenaga Kerja Wanita dan Pupuk Kimia sebaiknya petani tidak menggunakan kedua input tersebut karena petani akan mengalami kerugian akibat penggunaan input tersebut. Untuk input Pestisida, Benih dan Luas Lahan penggunaannya harus ditambah dari 709.70 ml, 77.27 Kg, 0.35 Ha menjadi 1 241.98 ml, 297.43 Kg, 9.77 Ha.

          Saran

          [BI] Bank Indonesia. 2012. Profil Provinsi Jawa Barat. Info Bisnis Regional. Jakarta. www.bi.go.id/ (2 November 2012). [BPS]Badan Pusat Statistik. 2010. Penduduk Indonesia Menurut Provinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan

          2010. Jakarta. www.bps.go.id/ (2 November 2012). ____________. 2011a. Jawa Barat dalam Angka 2011.

          Garut: badan Pusat Statistik Kabupaten Garut. Cahyaningsih, R. 2008. Analisis Pola Konsumsi Pangan di Provinsi Jawa Barat. Skripsi Sarjana. Bogor: Program

          Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Cooper, D.R., Emory, C.W. 1996. Metode Penelitian Bisnis.

          Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Debertin, D.L. 1986. Agricultural Production Economics.

          New York: Macmillan Publishing Company. Djauhari A. 1999. Pendekatan Fungsi Cobb-Douglas dengan Elastisitas Variabel dalam Studi Ekonomi Produksi: Suatu Contoh Aplikasi pada Padi Sawah.

        • Perlunya perhatian khusus dari pemerintah dae- rah agar usahatani kedelai di Kabupaten Garut dapat berlangsung terus menerus dan terjadi pe- ningkatan produksi kedelai. Perhatian pemerintah daerah tersebut dapat diaplikasikan dalam bentuk bantuan mesin pengolahan tanah tadah hujan, saluran irigasi, alat perontok kedelai, tempat penjemuran kedelai, benih unggul serta dalam hal kebijakan harga jual kedelai agar nantinya petani tidak menjual kedelai dengan harga yang terlalu rendah.
        • Untuk peningkatan produksi yang lebih baik lagi peran Penyuluh Lapang dalam hubungan dengan petani kedelai sangat besar di Kabupaten Garut, khususnya dalam hal peningkatan pelatihan-pela- tihan teknik budidaya kedelai, peningkatan mana- jerial petani terutamanya dengan manajemen kan usahatani kedelai.
        • Dalam melakukan usahataninya petani kedelai sebaiknya melakukan usahatani kedelai sesuai anjuran dari Penyuluh Lapang mengenai cara- cara usahatani kedelai yang baik, agar nantinya didapatkan hasil produksi kedelai yang maksimal, sehingga nantinya petani dapat memperoleh pen- dapatan yang lebih baik.

          Informatika Pertanian Vol. 8:507–516. Doll, J.P., Orazem, F. 1984. Production Economics (Theory and Applications). New York: John Wiley & Sons.

          [FAO] Food and Agriculture Organization. 2011. Produc- tion. www.faostat.fao.org/ (2 November 2012). Fauziyah, E. 2007. Analisis Efisiensi Usahatani Kedelai di Desa Sukosari Kecamatan Gondanglegi. Embryo Vol. 4(I):24–30.

          Kementerian Pertanian. 2010. Rencana Strategis Kemen- terian Pertanian Tahun 2010-2014. Jakarta: Kemen- terian Pertanian Republik Indonesia.

          Bandung: Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat. ___________. 2011b. Kabupaten Garut dalam Angka 2011.

          A ditya Kusuma Mahabirama, Heny Kuswanti, Suwarsinah Daryanto dan Ratna Winandi Kementerian Pertanian. 2012. Pembuatan Susu dan Bubuk

          Kedelai. Jakarta. www.cybex.deptan.go.id/ (2 Novem- ber 2012).

          Meryani, N. 2008. Analisis Usahatani dan Tataniaga Kedelai di Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Skripsi Sarjana. Bogor: Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Nurasa T. 2009. Usahatani Kedelai Peserta SLPTT

          Berdasarkan Agroekosistem Lahan Kering, Lahan Sawah Irigasi dan Lahan Sawah Tadah Hujan. www.pse.litbang.deptan.go.id/ (3 Juli 2013). Soekartawi, S. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian untuk Perkembangan Petani Kecil. Jakarta: UI Press. Soekartawi. 2002. Analisis Usahatani. Jakarta: UI Press.

          Sukaesih, E. 2001. Analisis Fungsi Produksi Padi Sawah di Jawa Barat. Skripsi Sarjana. Bogor: Jurusan Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor. Sulastri, S., Yuliati, Y., Soemarno. 2011. Analisis Usahatani Kedelai (Glycine max L) yang Berkelanjutan di

          Kecamatan Sukorejo Kabupaten Ponorogo. Tesis Magister. Malang: Universitas Brawijaya. Suratiyah K. 2011. Ilmu Usahatani. Jakarta: Penebar Swadaya. Tahir, A.G., Darwanto, D.H., Mulyo, J.H., Jamhari. 2010.

          Analisis Efisiensi Produksi Sistem Usahatani Kedelai di Sulawesi Selatan. Jurnal Agro Ekonomi Vol. 28 (II): 133–151.