LAND ACQUSITION AND RESETTLEMENT ACTION PLAN

  PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA DINAS TATA AIR Public Disclosure Authorized

  Jl. Taman Jatibaru No. 1 Telp. 3803303-3865546-3845266 JAKARTA LAND ACQUSITION AND

  Public Disclosure Authorized

RESETTLEMENT ACTION PLAN

  (LARAP) LOKASI

  Public Disclosure Authorized

SUNTER ATAS DRAIN KELURAHAN JATINEGARA KAUM, KECAMATAN PULOGADUNG JAKARTA TIMUR

  Public Disclosure Authorized Revisi: April, 2017

  

Daftar Isi

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  DAFTAR TABEL

  Tabel 1 Ringkasan Tentang Tanah yang Berpotensi Terkena Proyek .................................................. 5 Tabel 2 Ringkasan Bangunan Terkena Proyek.................................................................................... 5 Tabel 3 Ringkasan Kegiatan Ekonomi Warga yang Berpotensi Terkena Proyek .................................. 6 Tabel 4 Ringkasan Kegiatan Ekonomi Warga yang Berpotensi Terkena Proyek .................................. 7 Tabel 5 Ringkasan tentang Kondisi Ekonomi Warga yang Berpotensi Terkena Proyek ....................... 8 Tabel 6 Ringkasan Sarana dan Prasarana Warga Terkena Proyek ...................................................... 9 Tabel 7 Ringkasan tentang Persepsi dan Aspirasi Warga Terkena Proyek ........................................ 10 Tabel 8 Ringkasan tentang Kelompok Rentan dan Anak Sekolah ..................................................... 10 Tabel 9 Institusi Pelaksana Kegiatan Permukiman Kembali ............................................................. 13 Tabel 10 Rencana Tindak Penanganan Warga Terkena Proyek Sunter Atas Drain ........................... 19

  DAFTAR LAMPIRAN

  Lampiran 1 Contoh Potongan Melintang Rencana Kegiatan Pengerukan di Sunter Atas ................ 21 Lampiran 2 Foto-Foto Kondisi Lokasi Terdampak Proyek ............................................................. 22 Lampiran 3 Rencana Kegiatan dan Lokasi Proyek di Sunter Atas

  …………………………………………………. 23 Lampiran 4 Daftar Warga dan Aset Terkena Proyek

  ……………………………………………………………………….24 Lampiran 5 Sketsa Lokasi Warga Terkena Proyek ........................................................................... 25 Lampiran 6 Ringkasan Bangunan dan WTP Sunter Atas .................................................................. 32 Lampiran 7 Peraturan-Peraturan terkait Pengadaan Tanah dan Permukiman Kembali JUFMP ........ 35

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

  Jakarta Urgent Flood Mitigation Project-JUFMP merupakan inisiatif bersama antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Pemerintah Pusat, dalam hal ini Kementerian PU (sekarang Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), dan Bank Dunia dalam upaya penanganan banjir di Jakarta. Pengendalian banjir di Jakarta membutuhkan rehabilitasi besar terhadap sungai, kanal dan waduk. Rehabilitasi harus disertai perencanaan pengelolaan banjir untuk memastikan sistem beroperasi secara optimum. Hasil simulasi pasca banjir 2007 menunjukkan bahwa pekerjaan fisik di 12 kanal/sungai dan 4 waduk utama di Jakarta dengan mengembalikan sistem dan fungsi pengendalian banjir sesuai desain awal, diperkirakan akan mengurangi 40% luas genangan banjir atau dapat mengamankan sekitar 1 juta warga Jakarta. Sungai/Kanal dan Waduk yang ditangani adalah Sunter (Sunter Atas dan Sunter Bawah), Cengkareng Drain, Ciliwung-Gunung Sahari, Sentiong-Sunter, Waduk Melati, Cideng-Thamrin, Waduk Sunter Selatan, Waduk Sunter Timur III, Waduk Sunter Utara, Angke Bawah, Tanjungan, Banjir Kanal Barat, Grogol-Sekretaris, Pakin-Kali Besar-Jelakeng, Krukut – Cideng dan Semongol (Kamal). Namun, pekerjaan pengerukan Kanal/Sungai dan waduk di Jakarta juga berpotensi menimbulkan dampak sosial berupa terkenanya bangunan milik warga dan pemindahan warga penghuni kawasan yang diperlukan untuk pekerjaan pengerukan. Salah satu potensi dampak terjadi terhadap warga yang menempati badan air (Tanah Negara) di Sunter Atas drain. Untuk itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam hal ini PIU Dinas Tata Air menyusun Land Acquisition and Resettlement Plan (LARAP) untuk kegiatan dimaksud.

  1.2. Gambaran Tentang Proyek 1.2.1. Lokasi Proyek

  Sunter Atas berada di kelurahan Cipinang, Jati, Jatinegara Kaum, Kayu Putih dan Pulogadung, Kecamatan Pologadung. Namun warga yang berpotensi terkena dampak langsung pengerukan dan rahabilitasi embankmen adalah warga di Kelurahan Jatinegara Kaum. Luas wilayah Jatinegara Kaum adalah 123.45 Ha, dengan jumlah penduduk 12.789 jiwa. Komposisi penduduk laki-laki sebanyak 24.197 jiwa dan wanita 10.406 jiwa. Selain itu, jumlah warga negara asing adalah 10 jiwa, laki-laki berjumlah 4 jiwa dan wanita 6 jiwa. Jumlah keluarga tercatat 5.021 KK (-data 2012). Batas wilayah administrasi Jatinegara Kaum adalah:

   Sebelah Timur : Jl. Bekasi Kelurahan Jatinegara.

  : Rel Kereta Api Kelurahan Klender.  Sebelah Selatan : Kali Sunter Kelurahan Cipinang.

   Sebelah Barat

1.2.2. Rencana Kegiatan JUFMP di Sunter Atas Drain

  Penanggung jawab pelaksanaan pekerjaan pengerukan dan rehabilitasi embankmen Sunter Atas drain adalah Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC Cilicis), Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan. Kegiatan fisik akan dilaksanakan selama 14 bulan, mulai Mei 2017- Juni 2018. Pekerjaan di Sunter Atas meliputi:  Pengerukan lumpur sepanjang 5.150 m (volume 79.900 M3)  Pengangkutan dan pembuangan lumpur ke CDF Ancol, di Ancol Timur  Rehabilitasi embankmen sepanjang 1,850 m1 (sporadis di 7 lokasi)

  Pekerjaan pengerukan dan rehabilitasi embankmen di Sunter Atas drain akan berdampak terhadap bagian kecil dari beberapa bangunan-bangunan diatas badan sungai seperti pagar, tembok bagian belakang bangunan dan teras. Gambar Contoh Rencana Kegiatan disajikan pada Lampiran 1.

1.3. Potensi Dampak Pengerukan dan Rehabilitasi Embankment di Sunter Atas

  Pengerukan dan rehabilitasi embankmen di Sunter Atas tidak melakukan pelebaran badan sungai, tetapi mengembalikan fungsi sungai sesuai dengan desain awal. Dampak kegiatan pengerukan dan rehabilitasi embankmen terjadi terhadap bangunan-bangunan yang memanfaatkan badan sungai Sunter Atas. Dibawah ini diuraikan dampak-dampak tersebut.

a. Kegiatan yang memerlukan pengadaan tanah

  Pada tahun 2010, Kementerian Pekerjaan Umum menyusun dokumen DED pengerukan dan rehabilitasi embankmen. Apabila DED diimplementasikan diperkirakan berdampak terhadap 722 bangunan milik warga (draft LARAP 2010-Direkorat Sungai dan Pantai, Kementerian Pekerjaan Umum). Warga yang berpotensi terkena proyek (WTP) dikategorikan sebagai

  “Encroachers” dan “Squatter”. Bangunan-bangunan yang akan terdampak oleh proyek adalah bangunan diatas sungai - 2 meter dari embankmen. Kemudian PIU DKI Jakarta melakukan resurvei berdasar review DED yang disusun oleh CPIU. Resurvei dilaksanakan antara Oktober 2013-Maret 2014, Resurvei berdasar hasil review DED menyimpulkan bahwa warga yang mungkin terkena proyek berjumlah 111 KK, kemudian PIU DKI Jakarta mengumumkan Cut of Date pada April 2014, dan menetapkan Jumlah WTP di Sunter Atas sebanyak 111 KK. Disisi lain, pemerintah Kota Jakarta Timur melalui Kecamatan Pulaugadung, Kelurahan Kayu Putih, Pulogadung, Jatinegara Kaum dan Kelurahan Jati menyelenggarakan penertiban pada Oktober 2014-April 2015. Penertiban menyasar 859 unit bangunan di atas trotoar, drainase, taman dan jalan lingkungan dikawasan tersebut. Dari 859 bangunan yang ditertibkan, sebanyak 31 bangunan tercatat dalam

  “cut of date”, ke 31 bangunan tersebut meliputi 28 kandang ayam dan 3 rumah tinggal. Pelaksanaan penertiban oleh pemerintah DKI Jakarta tidak memberi kompensasi kepada warga terkena penertiban.

b. Letak bangunan yang akan terkena dampak JUFMP

  Encroacher dan Squatter di Sunter Atas drain merupakan isu yang harus ditangani pada

  kegiatan proyek Jakarta Urgent Flood Mitigation Project-JUFMP/Jakarta Emergeny Dredging Initiative-JEDI. Letak bangunan berada di atas badan sungai. Apabila hasil review DED diimplementasikan, diperkirakan akan berdampak terhadap bagian kecil dari bangunan- bangunan warga, sehingga pemilik masih dapat memanfaatkan bangunan atau tidak perlu dipindahkan (relokasi). Bagian bangunan terkena proyek antara lain dapur, pagar, dan tembok rumah paling belakang. Kondisi bangunan pada umumnya semi permanen dan darurat. (Lampiran 2 : Foto-Foto lokasi bangunan yang berpotensi terkena proyek)

1.4. Tujuan Penyusunan LARAP

  LARAP bertujuan untuk menjelaskan prinsip-prinsip, prosedur- prosedur dan tata cara pengorganisasian yang akan diterapkan dalam permukiman kembali, yaitu: a.

  Menguraikan cara/upaya meminimalkan pemindahan warga dan menguraikan secara spesifik pilihan kompensasi kepada WTP.

  b. Menetapkan secara rinci bantuan permukiman kembali dan bantuan secara khusus.

  c. Menguraikan secara rinci rencana kerja pengadaan tanah dan permukiman kembali.

  

II. KARAKTERISTIK WARGA, TANAH DAN BANGUNAN YANG AKAN TERKENA

PROYEK

  Dokumen draft LARAP yang disusun oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum tahun 2010 menyebutkan bangunan akan terkena proyek berjumlah 722 unit meliputi hunian, perkantoran, perdagangan, dan fasilitas umum. Kemudian dilakukan review DED dan pembaharuan data pada Oktober 2013-April 2014. Hasil pembaharuan data berdasar review DED adalah 111 KK (476 jiwa) yang memanfaatkan badan air Sunter Atas drain akan terdampak proyek, mereka meliputi: (i) 105 bangunan (perorangan/perusahaan/fasum-fasos), (ii) 4 petak sebagai ladang/kebun; dan (iii) 2 petak tanah kosong. Terdapat 2 KK yang memiliki lebih dari 1 petak/asset.

  Pemerintah wilayah Jakarta Timur melalui kecamatan Pulogadung, kelurahan Kayu Putih, Kelurahan Pulogadung, Kelurahan Jati Negara Kaum dan Kelurahan Jati melakukan penertiban di sekitar Sunter Atas drain pada November 2014-April 2015. Penertiban dilaksanakan dalam rangka perbaikan lingkungan. Penertiban tersebut membongkar 859 unit bangunan. Dari 859 bangunan yang telah dibongkar, terdapat 31 unit merupakan bagian dari WTP proyek JUFMP/JEDI. Ke 31 bangunan meliputi 28 kandang ayam dan 3 rumah tinggal, ketiga rumah tinggal hanya terkena pembongkaran sebagian, yaitu teras dan pagar depan, sehingga pemilik masih dapat menghuni bangunan. Sedangkan 28 kandang ayam dibongkar atau dipindahkan oleh pemiliknya disekitar lokasi, dari 28 kandang ayam tersebut terdapat seorang penjaga kandang yang juga bekerja sebagai pemungut sampah di lingkungan RW 05, Kelurahan Jatinegara Kaum. Penjaga kandang difasilitasi pengurus RW 05 tinggal di sekitar RW tersebut.

2.1 Uraian Tanah Terkena Proyek

  Pemanfaat badan sungai Sunter Atas yang berpotensi terkena proyek berjumlah 111 KK (saat ini tersisa 80 KK, sedangkan 31 KK telah dibongkar pada pelaksanaan penertiban November 2014- April 2015). Badan air yang dimanfaatkan oleh warga seluas 524.104 m2. Mengenai status penguasaan tanah : (i) 11 KK (10%) sebagai penggarap, (ii) 100 KK (90%) sebagai pemilik tanah, penyewa/lainnya (numpang dan over garapan) dan Fasilitas Umum/Sosial. Dari hasil survei sensus didapatkan pengakuan penguasaan atas tanah : (i) Sertifikat Hak Milik sebanyak 8 orang (7%); (ii) AJB Kelurahan/Akte Notaris sebanyak 69 orang (62%); (iii) girik

  “letter C” sebanyak 3 orang (3%); (iv) tidak menjawab 6 orang (5%); (v) menempati tanah orang lain sebanyak 19 orang (17%) dan (vi) Tanah Negara 6 (5%).

  Tabel 1: Ringkasan tentang tanah yang bepotensi terkena proyek No Uraian tentang Tanah Jumlah Jawaban Responden dan persentase (%) Keterangan

  1. Status Penguasaan tanah Tanah Negara Tanah Milik

  (5%) (89%)

  2 Kepemilikan tanah ditempat lain Ada Tidak ada Tidak Jawab Fasum-fasos

  (19%) (70%) (4,50%) (6%)

  3. Cara mendapat tanah Membeli Warisan/Hibah Lain-lain Tidak Jawab (57%) (5%) (31%) (2%)

  Lain-lain: kandang ayam dan tanah kosong

4. Pemanfaatan Hunian Usaha Ladang Fasum Lain-lain

  (63%) (9%) (5%) (6%) (17%)

2.2. Ringkasan Bangunan Terkena Proyek

  1. Tempat Tinggal (50%) Kondisi bangunan: Permanen, Semi Permanen dan Darurat

  2. Tempat Tinggal dan Usaha (24%)

  3. Tempat Usaha (8%)

  4. Kandang Ayam (6%)

  5. Fasum-Fasos (6%)

  J U M L A H : (100%)

  Bangunan warga yang berpotensi terkena proyek berjumlah 105 unit meliputi: (i) tempat tinggal (50%) ;(ii) tempat tinggal dan usaha (24%); (iii) tempat usaha (8%); (iv) kandang ayam, ladang, kolam (6%); dan (v) Fasum-fasos (6%), dengan kualitas bangunan permanen, semi permanen dan darurat.

  Tabel 2: Ringkasan tentang bangunan terkena proyek No. Bentuk Kehilangan Jumlah Keterangan

2.3 Uraian Warga Terkena Proyek

2.3.1. Profil Warga Terkena Proyek

  Profil warga terkena proyek Upper Sunter adalah sebagai berikut: Jenis Kelamin terdiri dari: (i) laki-laki 87 orang (78%) dan wanita 13 orang (12%).

  Usia : berusia 40 s/d 50 tahun sebanyak 25%; berusia 50 s/d 55 tahun sebanyak 24%; berusia

  produktif 30 s/d 40 tahun sebanyak 22%; berusia lebih dari 55 tahun (18%); dan berusia 20 s/d 30 tahun (1%); dan (10%) tidak menjawab/tidak diketahui pemiliknya.

  Pendidikan: yang terbanyak menyatakan tamat SLTA/MA/Sederajat (38%), yang menyatakan

  tamat SD/MI/Sederajat (25%), tamat SLTP/MTs/sederajat (17%), yang menyatakan tidak sekolah (6%), tamatan Sarjana (S1) (3%), akademi (D1/D2/D3) (1%) dan tidak menjawab/tidak diketahui pemiliknya (10%).

  Pekerjaan Utama Kepala Keluarga adalah wiraswasta/pedagang (25%), pegawai swasta (27%),

  buruh (13%), ibu rumah tangga (7%), lain lain-tidak bekerja, pemulung atau serabutan (7%), pengemudi (5%), TNI/Polisi (5%), PNS (1 %) dan tidak menjawab/tidak diketahui (10%). Terkait dengan status perkawinan responden, menyatakan menikah (78%), janda (8%), duda (2%), belum menikah (2%) dan tidak menjawab/tidak diketemukan orangnya (10%).

  Tabel 3: Ringkasan tentang profil warga terkena proyek Ket. No. Uraian Profil Profil Warga (Jumlah dan Persentase)

  1. Jenis Pria Wanita (10%) tidak Kelamin menjawab/tidak (78%) (12%) diketahui

  2. Usia (tahun) 20-30 30-40 40-50 50-55 >55 pemiliknya (1%) (22%) (25%) (24%) (18%)

  3. Pendidikan Tidak Tamat SD SMP SLTA S1/Diploma Sekolah Sederajat sederajat (6%) (25%) (17%) (38%) (4%)

  4. Pekerjaan PNS/TNI/Pol. Ibu Rumah Pegawai Pengemudi Utama KK Tangga Swasta (5%) (7%) (22%) (5%) Buruh Wiraswasta Lain-lain

  (13%) (31%) (7%)

  5. Status Menikah Duda Janda Belum perkawinan Menikah (78%) (2%) (8%) (2%)

6. Asal usul Suami Suami-Istri Istri asli-Suami

  • –istri Warga Asli setempat pendatang pendatang (70%) (19%) (1%)

  7 KTP Tidak ber KTP KTP : alamat sesuai lokasi KTP tidak sesuai lokasi (2%) (68%) (21%)

  Asal

  • –Usul dan Status Kependudukan: Warga yang menyatakan suami dan isteri penduduk asli

  (70%), suami dan isteri pendatang (19%), dan Istri asli-suami pendatang (1%). Terkait dengan kepemilikan KTP yang menyatakan memiliki KTP sesuai dengan alamat asset terkena dampak sebanyak 75 (68%), memiliki KTP tetapi alamat berbeda dengan asset terkena dampak 21%, sementara yang tidak memiliki KTP sebanyak 2% dan tidak menjawab/tidak diketemukan pemiliknya 10%.

  2.3.2. Kegiatan Ekonomi Warga di Lokasi Rencana Proyek

  Jenis usaha warga yang berpotensi terkena proyek adalah : (56%) tidak berusaha di lokasi/hanya tempat tinggal, dan lahan kosong, yang menyatakan lainnya (peternakan, ladang, gudang) 25%, menyatakan usaha warung sembako/warung makan/kantor 13%. Tentang pola kepemilikan usaha, terbanyak adalah tidak menjawab (tidak memiliki usaha) 56%, menyatakan usaha milik sendiri 36%, bagi hasil sebanyak 2%. Untuk tempat usaha ditempat lain adalah 56% tidak menjawab, 37% memiliki usaha ditempat lain, yang menjawab tidak memiliki usaha ditempat lain adalah 1%. Adapun rencana usaha setelah terkena proyek jawaban adalah tidak menjawab (56%), meneruskan usaha yang sama/tetap (23%), yang menjawab lainnya (tidak bisa usaha lagi karena butuh lahan) (15%) dan akan memulai usaha baru (2%).

  Tabel 4: Ringkasan tentang kegiatan ekonomil warga terkena proyek No. Uraian Hasil Survei

  1. Jenis usaha warga terkena Ternak,/Kolam Usaha ditempat Warung makan, proyek ikan/Tani/Gudang lain sembako, kantor (25%) (56%) (13%)

  2. Pola kepemilikan usaha Milik sendiri Bagi hasil Lain-lain (36,%) (2%) (56%)

  3. Usaha di tempat lain Tidak ada Ada (56%) (37%)

  4. Rencana Usaha setelah Tetap usaha yang Buka usaha baru Tidak usaha lagi terkena proyek sama (23%) (2%) (14%)

  2.3.3. Kondisi Ekonomi Warga Terkena Proyek

  Warga yang berpotensi terkena proyek penghasilan Rp 1.000.000,- s.d. Rp 2.000.000,- per bulan sebanyak (39%), yang menyatakan total pendapatan dari seluruh anggota keluarga > Rp 3.000.000,- per bulan sebanyak (20%), yang menyatakan total pendapatan Rp 2.000.000,- s.d.

  Rp 3.000.000,- per bulan (16.22%), yang menyatakan Rp 500.000,- s.d. Rp 1.000.000 ,- per bulan (14.41%), yang menyatakan Rp.< Rp 500.000,- per bulan sebanyak 1%, dan tidak menjawab/tidak diketahui pemiliknya (4%). Sedangkan tentang total pengeluaran untuk seluruh anggota keluarga sebesar Rp 1.000.000,- s.d. Rp 2.000.000,- per bulan (42%), Rp 2.000.000,- s.d. Rp 3.000.000,- per bulan (21%), yang menjawab sebesar > Rp 3.000.000,- per bulan (16%), yang menjawab Rp 500.000,- s.d. Rp 1.000.000 ,- per bulan (10%) dan hanya 1% yang menjawab < Rp. 500.000,- per bulan, dan tidak menjawab/tidak diketahui pemiliknya (3.60%). Terkait dengan pengeluaran biaya transportasi keluarga diperoleh gambaran (13%) warga mengeluarkan kurang dari Rp. 10.000/hari, dan (55%) mengeluarkan biaya transport Rp.

  10.000 – Rp.25.000/hari, dan diatas Rp. 25.000/hari sebanyak (21%).

  Tabel 5: Ringkasan tentang kondisi ekonomil warga terkena proyek No. Uraian Hasil Survei

  1. Anggota keluarga selain KK Ada Tidak Ada yang bekerja (27%) (59%)

  

2. Total pendapatan < 500.000 500rb-1juta 1 juta-2juta

seluruhnya (Rp/bulan) (1%) (14%) (39%)

  2 juta-3juta  3juta (16,%) (20%)

  

3. Total pengeluaran < 500.000 500rb-1juta 1 juta-2juta

(Rp/bulan) (1%) (10%) (42%) 2 juta-3juta  3juta (21%) (16%)

  

4. Biaya transpotasi keluarga < 10.000 Rp. 10rb-25rb >Rp.25rb

(Rp/hari) (13%) (55%) (21%)

2.3.4. Sarana dan Prasarana Warga

  Penggunaan listrik PLN sebagai sumber penerangan, pada umumnya distribusi langsung dari PLN (94%), warga yang tidak memiliki penerangan listrik sebesar (5%) dan bersumber dari listrik tetangga (2%). Kebutuhan air minum diperoleh gambaran (8%) warga mengandalkan PAM, (78%) membeli air secara eceran dan sisanya lain-lain (14%)- lain lain yang dimaksud adalah sumur pompa dan sumur timba. Terkait dengan air untuk keperluan MCK, sebagian besar warga menggunakan sumur pompa dan PAM, tidak terdapat warga yang memanfaatkan air sungai.

  Mengenai alat transportasi warga, sebagian besar menggunakan sepeda motor (45%), berjalan kaki (14%), angkutan umum (19%), mobil pribadi/dinas (10%), sepeda (3%), dan lainnya (10%).

  Tabel 6: Ringkasan tentang sarana dan prasaran warga terkena proyek No. Uraian Hasil Survei

  1. Sumber Penerangan PLN-sendiri PLN-dari tetangga Generator sendiri/dari tetangga Tidak listrik

  (94%) (13%) (2%) (5%)

  2. Air minum PAM:sendiri PAM: dari tetangga Sungai/Waduk Eceran/Pikul/Ga lon

  (6%) (2%) - (78%)

Sumur Lainnya

(2%) (6%)

  3. MCK PAM:sendiri PAM: dari tetangga Sungai/Waduk Eceran/Pikulan/ Galon

  (9%) (5%) (1%)

Sumur Lainnya

(75,68%) (9,91%)

  3. Kepemilikan Jamban Jamban sendiri Jamban umum

  Sungai Lainnya (59,46%) (3,60%) (28,83%) (3,60%)

  4. Alat transportasi Jalan kaki Sepeda Sepeda Motor Pribadi & Dinas Kendaraan umum

  (13,51%) (2,70%) (45,05%) (18,92%) Mobil Dinas & Pribadi Lainnya

  (9,91%) (9,91%)

2.3.5. Persepsi dan Aspirasi

  Warga yang memanfaatkan badan air Sunter Atas drain sebagian besar sudah mengetahui keberadaan/rencana proyek JUFMP (46%) dan tidak tahu (44%). Mereka mengetahui rencana proyek dari Camat, Lurah, RT/RW, tokoh masyarakat, media dan tetangga. Pendapat mereka, apabila harus dipindah ke Rusunawa, (6%) warga “tidak setuju” dan (32%) menyatakan “setuju”, dan tidak menjawab (56%).

  Tabel 7: Ringkasan tentang persepsi dan aspirasi warga terkena proyek

  No Uraian Hasil Survei

  1. Keberadaan proyek Tahu Tidak Tahu (46%) (44%)

  

2. Sumber Informasi Aparat (Camat, Tokok masyarakat Tetangga

lurah, RT/RW

(60%) (7%) (18%) Media Lain-lain

  (2%) (3%)

  

3. Pendapat bila harus Tidak setuju Setuju Tidak

pindah ke Rusunawa menjawab (6%) (32%) (56%)

  Ganti rugi Jangan terjadi Yang terbaik

4. Harapan/Usulan Setuju

  penggusuran untuk warga dikeruk (5%) (5%) (22%) (6%)

  Tidak usul (62%)

  Harapan/usulan warga terhadap rencana Pengerukan Sunter Atas drain diantaranya adalah: setuju dengan proyek agar tidak banjir, diberikan ganti rugi atas asset yang hilang dan jangan terjadi penertiban .

2.3.6. Kelompok Rentan dan Anak Sekolah

  Kelompok rentan dalam uraian ini meliputi usia (antara 55 tahun keatas) dan bergantung kepada orang lain. Sebagai indikator kondisi ekonomi “Parameter Sayogyo”, seseorang dikatakan berada dibawah garis kemiskinan jika pendapatan pertahunnya setara dengan 480 Kg beras. Dengan asumsi harga beras sekarang Rp. 8000/kg, maka orang yang berpenghasilan kurang dari Rp. 320.000/bulan atau Rp. 1.280.000 keluarga/bulan dianggap hidup dibawah garis kemiskinan. Terkait dengan anak-anak yang masih sekolah diperkirakan berjumlah 96 anak.

  Tabel 8: Ringkasan Tentang Kelompok Rentan dan Anak Sekolah No. Uraian Hasil Survei (KK)

  1. Kelompok Rentan Miskin KK Perempuan

  17

  9 Usia Lanjut Tidak punya tanah/rumah ditempat lain

  20

  41

  No. Uraian Hasil Survei (KK)

  2. Anak Sekolah SD : 27 orang SMP : 39 orang SMA : 30 orang

2.4. Analisis Hukum

  Analisis hukum terhadap peraturan perundang undangan diperlukan untuk memastikan efektifnya pelaksanaan kegiatan permukiman kembali di Sub-proyek Upper Sunter, analisis meliputi aspek: a. Aspek Perencanaan, Penyelenggaraan dan Pelaksanaan.

  Peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum pelaksanaan pengadaan tanah, yaitu Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dan peraturan-peraturan perubahannya, Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 5 tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah, yang kemudian dirubah dengan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 6 Tahun 2015.

  Kerangka Kebijakan Permukiman Kembali (KKPK) yang menjadi landasan Rencana Permukiman Kembali (RPK), yang disusun tahun 2010 masih menggunakan dasar hukum peraturan perundang-undangan yang lama yaitu Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005 tentang PengadaanTanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Sebagai mana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 65 tahun 2006 serta peraturan pelaksanaannya. Untuk itu dalam penyusunan Rencana Permukiman Kembali perlu disesuaikan dengan menggunakan peraturan perundang-undangan yang baru. Sebagai penyesuaian dengan peraturan perundang- undangan yang baru, yaitu UU No.2 Tahun 2012, Perpres No.71 Tahun 2012 dan peraturan- peraturan perubahan serta Peraturan Ka.BPN No.5 Tahun 2012 dan peraturan perubahan, apabila diperlukan pengadaan tanah tugas maka fungsi P2T digantikan oleh Tim Persiapan Pengadaan Tanah yang dibentuk oleh Gubernur.

b. Aspek Pendanaan

  Pendanaan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum dilakukan oleh Instansi yang memerlukan tanah, dituangkan dalam dokumen penganggaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yaitu ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan mengenai tata cara pembayaran dalam rangka pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta pelaksanaan dan pertanggung jawaban biaya operasional dan biaya pendukung. Pendanaan Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum bersumber dari APBD sebagaimana diuraikan dalam Kerangka Kebijakan Permukiman Kembali (KKPK), Keputusan Gubernur DKI No 1363/2011 tentang Pembentukan Tim Pelaksana Pembebasan Tanah dan Permukiman Kembali JUFMP, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.02/2013 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 tahun 2012. Alokasi dana penyelenggaraan Pengadaan Tanah terdiri dari biaya ganti rugi, operasional, dan pendukung kegiatan: a. perencanaan;

  b. persiapan;

  c. pelaksanaan;

  d. penyerahan hasil;

  e. administrasi dan pengelaan; dan f. sosialisasi.

c. Aspek Kebijakan Permukiman Kembali

  Pelaksanaan Jakarta Urgent Flood Mitigation Project/Jakarta Emergency Dredging Initiative (JUFMP/JEDI) yang melibatkan relokasi warga, pelaksanaannya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sehingga Gubernur Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan Instruksi Gubernur Nomor 48 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Permukiman Kembali Warga yang Terkena Dampak Proyek JUFMP/JEDI.

  Instruksi Gubernur tersebut berisi penugasan kepada aparat pemerintah DKI Jakarta untuk mendukung dan memfasilitasi pelaksanaan permukiman kembali warga yang terkena proyek JUFMP/JEDI. Kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menangani warga penghuni bantaran sungai/kanal dan waduk yang terkena dampak proyek JUFMP/JEDI adalah relokasi ke

  “Rusunawa”, dimana pelaksanaannya mengacu kepada Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 111 Tahun 2014 tentang Mekanisme Penghunian Rumah Susun Sederhana Sewa. Sedangkan untuk bangunan di atas tanah milik, mekanismenya sesuai Undang-undang dan peraturan yang berlaku.

2.5. Kelembagaan

  Dalam pelaksanaan penanganan warga terkena proyek, Gubernur Provinsi DKI Jakarta memberikan penugasan kepada institusi di Lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tabel dibawah menguraikan institusi dan tugasnya dalam rangka pengerukan Sunter Atas.

  Tabel 9: Institusi Pelaksana Kegiatan Permukiman Kembali Warga Terkena Proyek Sunter Atas NO.

INSTANSI TANGGUNGJAWAB WAKTU PELAKSANAAN SUMBER DANA

  APBD

  5. Walikota Jakarta Timur mengkoordinasikan aparat di Kecamatan Pulogadung dan Kelurahan Jatinegara Kaum dalam melaksanakan proses permukiman kembali warga terkena proyek pengerukan Sunter Atas

  1. Sekretaris Daerah mengkoordinasikan seluruh kegiatan dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta atas pelaksanaan kegiatan permukiman kembali

  APBD

  yang telah diverifikasi Camat dan Lurah (data terlampir) Selama proses permukiman kembali : persiapan dan pelaksanaan

  Sunter Atas

  6. Kepala DInas Tata Air  Menetapkan dan mengumumkan data warga terkena proyek

  APBD

  Selama proses permukiman kembali : persiapan, pelaksanaan dan pemantauan

  APBD

  2. Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Membantu Sekda dalam mengkoordinasikan seluruh kegiatan dukungan Pemprov DKI Jakarta

  Selama proses permukiman kembali : persiapan, pelaksanaan dan pemantauan

  Selama proses permukiman kembali : persiapan, pelaksanaan dan pemantauan

  APBD

  Selama proses permukiman kembali : persiapan, pelaksanaan dan pemantauan

  3. Asisten Pemerintahan membantu Sekretaris Daerah mengkoordinasikan para Walikota dalam melaksanakan proses permukiman kembali

  APBD

  Selama proses permukiman kembali : persiapan, pelaksanaan dan pemantauan

  4. Kepala Bappeda Provinsi DKI Jakarta mengkoordinasikan perencanaan dan mengalokasikan anggaran SKPD terkait pelaksanaan JUFMP/JEDI, termasuk permukiman kembali warga terkena proyek Sunter Atas

  NO.

INSTANSI TANGGUNGJAWAB WAKTU PELAKSANAAN SUMBER DANA

  7. Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemda

  12. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Membantu warga melakukan pengosongan, pembongkaran bangunan dan pengamanan lahan yang sudah dibebaskan

  APBD

  Selama proses permukiman kembali : persiapan, pelaksanaan

  Mengkoordinasikan aparat Kelurahan Papanggo dalam sosialisasi dan proses permukiman kembali

  Sunter Atas

  14. Camat Pulo Gadung Verifikasi data warga terkena proyek

  APBD

  Selama proses permukiman kembali : persiapan, pelaksanaan dan pemantauan

  13. Kepala Biro Prasarana dan Sarana Kota melaksanakan monitoring dan mengkoordinasikan pelaksanaan proyek JUFMP/JEDI, termasuk proses permukiman kembali

  APBD

  Selama proses permukiman kembali : persiapan, pelaksanaan

  APBD

   menyediakan rumah susun sewa dan mengalokasi unit Rusunawa bagi warga terkena proyek  melakukan pendampingan warga yang terpindahkan Selama proses persiapan dan pelaksanaan pemindahan warga

   melaksanakan pendampingan proses permukiman kembali warga terkena proyek, baik melalui relokasi ke Rusunawa yang telah disediakan maupun opsi kompensasi lainnya

  11. Kepala Dinas Sosial, Dinas UMKM, Dinas Tenaga Kerja

  APBD

  Menyediakan layanan ksehatan dan pendidikan serta transportasi Selama proses permukiman kembali persiapan, pelaksanaan

  10. Kepala Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan

  APBD

  9. Kepala Dinas kependudukan dan Catatan Sipil memberikan layanan kependudukan bagi warga terpindahkan dari tempat asal ke lokasi rusun atau lokasi lain yang dituju Selama proses permukiman kembali persiapan, pelaksanaan

  APBD

  Selama proses permukiman kembali : persiapan, pelaksanaan

  8. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan menyediakan dokumentasi, press release, dan publikasi di media Pemerintah Provinsi DKI Jakarta

  APBD

  Menyediakan bantuan pemulihan usaha/penghasilan Selama proses permukiman kembali persiapan, pelaksanaan

  NO.

INSTANSI TANGGUNGJAWAB WAKTU PELAKSANAAN SUMBER DANA

  15. Lurah Jatinegara Kaum Melakukan verifikasi data warga terkena proyek Melaksanakan proses permukiman kembali

  Selama proses permukiman kembali : persiapan, pelaksanaan dan pemantauan

  APBD

  16. UPT Rusunawa Melakukan pendataan kapasitas Rusunawa di wilayahnya untuk dihuni warga terkena proyek Melakukan proses pemindahan warga Selama proses permukiman kembali : persiapan, pelaksanaan

  APBD

III. RENCANA PELAKSANAAN PENANGANAN WARGA TERKENA PROYEK

3.1. Kebijakan Pemerintah DKI Jakarta Terhadap Penghuni Sungai/Kanal/Waduk

  Kegiatan pengerukan Sunter Atas drain tidak akan melibatkan pelebaran saluran, tetapi mengembalikan fungsi badan sungai/kanal sesuai desain awal, dimana bantaran Sungai/ Kanal yang diokupasi warga akan dikembalikan fungsinya. Dalam upaya refungsi kembali Sungai/Kanal, pemerintah tidak memberi kompensasi terhadap tanah, bangunan dan asset diatasnya. Kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah:

a. Memukimkan warga ke tempat yang layak

  Bangunan diatas sungai/kanal yang berpotensi terkena dampak pengerukan dan rehabilitasi embankmen pada umumnya encroacher dan squatter. Apabila harus dibongkar, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan memukimkan/pindah /tinggal ditempat yang lebih layak, yaitu Rusunawa. Pertimbangan pemindahan ke Rusunawa karena mahal dan sulitnya mendapatkan tanah untuk hunian horizontal di Jakarta. Kebijakan pemerintah DKI Jakarta dalam memukimkan warga dari badan sungai/waduk/bawah jalan tol/taman dan tempat public lainnya ke Rusunawa dengan memberikan fasilitasi/kemudahan diantaranya:  Subsidi atas sewa bagi warga terprogram;  Dibebaskan dari sewa bulanan selama + 6 bulan;  Diupayakan memperoleh bantuan peralatan rumah tangga (misal berupa perabot RT) melalui skema partisipasi/peran serta swasta;  Fasilitasi pindah bagi anak sekolah yang ingin pindah sekolah di dekat Rusunawa;  PAUD, pelayanan kesehatan, taman/tempat bermain, tempat berdagang di Rusunawa.  Transportasi gratis bus umum (busway) bagi penghuni Rusunawa;  Penyiapan lapangan kerja bagi warga yang memiliki keahlian;  Fasilitasi pulang kampung bagi warga ber KTP Non DKI Jakarta;  Diberi bantuan transportasi mengangkut harta benda dari lokasi lama ke lokasi baru;  Fasilitas kesehatan melalui Kartu Jakarta Sehat;  Kartu Jakarta Pintar bagi warga miskin sebagai bagian dari program sekolah gratis sampai tingkat SLTA.

  Persyaratan, cara pendaftaran dan penetapan untuk mengajukan/mendapatkan Rusunawa diatur dalam Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 111 Tahun 2014 tentang Mekanisme Penghunian Rumah Susun Sederhana Sewa.

  Kegiatan JUFMP di Sunter Atas drain tidak melibatkan relokasi warga, karena bangunan yang akan terkena proyek hanya sebagian kecil dari bangunan tersebut (<20%) seperti pagar belakang, tembok toilet/WC, kandang ayam dan sejenisnya. Dampak yang mungkin timbul adalah kerusakan/rubuhnya bangunan akibat pengoperasin alat berat dalam kegiatan rehabilitasi embankmen dan pengerukan.

  b. Kompensasi atas tanah

  Memanfaatkan Tanah Negara seperti badan sungai/kanal dan waduk merupakan tindakan yang tidak bijaksana dan tidak dibenarkan oleh Undang-Undang maupun Perda, untuk itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak memberi kompensasi atas upaya mengembalikan fungsi badan air di Sunter Atas yang dimanfaatkan warga selama ini. Sedangkan untuk pemilikan tanah yang sah, maka mekanismenya akan diatur sesuai dengan Undang-undang dan peraturan yang berlaku.

  c. Kompensasi atas Bangunan

  Mendirikan tempat tinggal/tempat usaha dan memanfaatkan badan air merupakan salah satu bentuk penyerobotan yang melanggar Peraturan Daerah tentang Ketertiban Umum karena mengganggu kelancaran aliran drainase sekitar dan mengakibatkan banjir. Untuk itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak memberi ganti rugi atas bangunan yang terpaksa harus dibongkar terkena pengerukan dan perbaikan embankemen dalam rangka pengembalian fungsi sungai.

  d. Meminimalkan Permukiman Kembali.

  Sesuai dengan kebijakan permukiman kembali JUFMP, bahwa permukiman kembali sedapat mungkin dapat dihindari atau diminimalkan, dengan mencari berbagai alternatif desain proyek yang layak. Dengan melihat kondisi Sunter Atas drain saat ini, baik dari aspek fisik maupun aspek sosial, untuk segera merealisasi normalisasi sungai (pengerukan dan rehabilitasi embankment) telah dilakukan revisi DED dengan mempertimbangkan:  Kondisi fisik sungai telah mengalami pendangkalan, sehingga perlu segera dikeruk.

  • Pengerukan dan rehabilitasi embankmen segera dilaksanakan dilokasi-lokasi yang tidak mengganggu bangunan penduduk,
  • Pelaksanaan pengerukan dan rehabilitasi embankmen tidak akan mengakibatkan relokasi penduduk, karena hanya sebagian kecil bangunan yang akan terganggu oleh aktivitias proyek,
  • Apabila terpaksa harus terjadi pembongkaran bangunan, pelaksanaannya akan
berpedoman pada Surat Gubernur Provinsi DKI Jakarta kepada Direktur Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 457/- 1.781 tentang Pelaksanaan JUFMP/JEDI Paket 6 dan prinsip-prinsip Kerangka Kebijakan Permukiman Kembali (KKPK) JUFMP.

  3.2. Monitoring dan Evaluasi

  Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR yang diwakili oleh CPIU dibantu konsultan supervisi berperan sebagai pengawas internal proyek. Pada tingkat CPIU, Laporan Bulanan akan diserahkan kepada Direktur Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Sedangkan di tingkat PIU DKI Jakarta akan diserahkan kepada Gubernur Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Tata Air dan Sekretaris Daerah Provinsi. Monitoring dimulai sejak persiapan penyusunan LARAP, Laporan Kemajuan dan Monitoring akan tersedia bagi warga terkena proyek dan diupload dalam Web JUFMP dan Web WB.

  3.3. Penanganan Keluhan

  Penanganan keluhan terkait JUFMP termasuk aspek warga terkena proyek akan ditangani secepat mungkin dan diselesaikan di Posko-ditempat warga menyampaikan keluhan (dalam kurun waktu 14 (empat belas) hari. Proses penanganan keluhan difasilitasi oleh Tenaga Ahli Penanganan Keluhan dari Konsultan Supervisi yang bertugas dilapangan. Keluhan dapat disampaikan melalui SMS, Email/Web, datang langsung ke Posko.

  POSKO - Penanganan Keluhan di lokasi (Sub-proyek): Keluhan dapat disampaikan secara

  langsung/tidak langsung, tertulis /atau tidak tertulis, selanjutnya akan dicatat, diverifikasi dan disampaikan kepada institusi yang berwenang/ CPIU/PIU Cilicis/ PIU Dinas Tata Air DKI Jakarta.

  TINGKAT KOTA: Apabila warga kecewa/tidak puas/belum mendapat tanggapan dari PIU, dapat

  menyampaikan keluhan kepada Kantor Walikota. Walikota akan mengambil tindakan untuk membantu penyelesaian keluhan, Walikota bertangung jawab mendokumentasikan dan menyimpan arsip keluhan yang ditangani.

  TINGKAT PROVINSI: apabila keluhan tidak mendapat tanggapan dari Walikota, warga dapat

  menyampaikan keluhan kepada Gubernur. Waktu yang diperlukan untuk penanganan keluhan sekitar 30 (tiga puluh) hari.

  Langkah terakhir: apabila warga kecewa dan atau tidak menerima tanggapan dari Gubernur, keluhan dapat dibawa ke pengadilan untuk penyelesaian secara hukum.

3.4. Rencana Pelaksanaan

  Penanganan warga Terkena Proyek Pengerukan Sunter Atas melalui beberapa thap kegiatan seperti sosialisasi, konsultasi, survei sensus, cut of date, review DED dan penetapan warga terkena proyek. Pada akhirnya kegiatan pengerukan dan rehabilitasi embankmen akan dilaksanakan berdasarkan hasil Mutual Check (MC)-0 yang akan dilakukan bersama antara BBWSCC “Cilicis”selaku penanggungjawab, Kontraktor Pelaksana dan Konsultan Supervisi. Pelaksanaan secara keseluruhan disajikan pada tabel dibawah.

  Tabel 10: Rencana Tindak Penanganan Warga Terkena Proyek Sunter Atas No Program dan Kegiatan Waktu Pelaksanaan Penanggung Jawab Tahun Anggaran

  1. Pembentukan Tim Pelaksana Pengadaan Tanah(berdasarkan Instruksi Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 48 Tahun 2014)

  30 Mei 2014 Bappeda 2014

  2. Penyusunan Dokumen RP Agustus 2014 Dinas PU 2013

  • – 14

  18 Maret 2014 Dinas PU 2014

  9. Penandatanganan Kontrak April 2017 BBWSCC “Cilicis”

  Mei 2017-Juli

2018

BBWSCC “Cilicis” 2017-18

  2) Kontraktor akan bertanggungjawab atas kerusakan/pembongkaran bangunan yang terjadi akibat aktivitas proyek.

  Mei 2017-Juli

2018

BBWSCC “Cilicis”

  12. Pelaksanaan Pengerukan dan rehabilitasi embakment: 1) Kegiatan pengerukan dan pemasangan sheet pile akan dilaksanakan tanpa mengakibatkan pemindahan warga terkena proyek

  11. Mutual Check (MC)-0 Mei 2017 Cilicis; Kontraktor; CSC 2017

  10. Konsultasi Masyarakat dan berita acara konsultasi Mei-Juni 2017 BBWSCC “Cilicis”

  30 Mei 2016 s/d Maret 2017 BBWSCC “Cilicis” 2017 -2018

  4. Penetapan Warga Terkena Proyek

  8. Pelelangan

  Review DED menghindari seluruh bangunan yang berpotensi terkena proyek

  3. Cut off date

  6. Revisi Dokumen RP Maret 2016 Dinas Tata Air 2016

  5. Pendataan Ulang Warga Terkena Proyek Juli 2015 Dinas Tata Air 2015

  18 Maret 2014 Dinas PU 2014

  7. Minimalisasi Warga terdampak proyek melalui REVIEW DED Januari-Juni 2016 CPIU

  L A M P I R A N – LAMPIRAN

  LAMPIRAN 1: CONTOH GAMBAR POTONGAN MELINTANG RENCANA KEGIATAN DI SUNTER ATAS (Sta 10 + 100 dan Sta. 14+650: Dilokasi yang berdampak terhadap bangunan warga)

  Keterangan: Pekerjaan pengerukan lumpur dan rehabilitasi embankmen akan menghindari bangunan warga, dan dilakukan dari dalam Sungai dengan menggunakan pontoon

  LAMPIRAN 2: FOTO-FOTO KONDISI LOKASI PROYEK DI SUNTER ATAS DRAIN

  Sunter Atas: Bangunan yang berpotensi terdampak kegiatan embankmen Sunter Atas:Pendangkalan Sungai (lumpur yang akan di keruk)

  Sunter Atas: Sebagian bangunan yang berpotensi terdampak kegiatan pengerukan Sunter Atas : Pendangkalan Sungai (Lumpur yang akan di keruk)

  Sunter Atas: Bangunan yang berpotensi terdampak kegiatan pengerukan Sunter Atas: Sebagian akses kendaraan pengangkut lumpur

  23 | P a g e

  LAMPIRAN 3: LOKASI RENCANA PROYEK Panjang Pengerukan 5.150 m (77.900 M 3 )

  Rehabilitasi Embankmen 1.850 M Sta. 10+150 (Awal Proyek)

  Sta. 15+300 (Akhir Proyek)

  LAMPIRAN 4: DAFTAR WARGA DAN ASET TERKENA PROYEK

  LAMPIRAN 5: SKETSA LOKASI WARGA TERKENA PROYEK

  LAMPIRAN 5: SKETSA LOKASI WARGA TERKENA PROYEK (Lanjutan)

  LAMPIRAN 5: SKETSA LOKASI WARGA TERKENA PROYEK (Lanjutan)

  LAMPIRAN 5: SKETSA LOKASI WARGA TERKENA PROYEK (Lanjutan)

  LAMPIRAN 5: SKETSA LOKASI WARGA TERKENA PROYEK (Lanjutan)

  LAMPIRAN 5: SKETSA LOKASI WARGA TERKENA PROYEK (Lanjutan)

  LAMPIRAN 5: SKETSA LOKASI WARGA TERKENA PROYEK (Lanjutan)

  LAMPIRAN 6: RINGKASAN BANGUNAN TERKENA PROYEK DAN WTP SUNTER ATAS DRAIN No. Category of PAPs Structure Number/PAPs Area (m2) Hak-Hak Pilihan atas hak Total Affected Partially 1 Perkiraan Biaya (RP) Affected Total Affected Partially Affected Jumlah bangunan/Jumlah WTP 1 2 3 4 1 2 3 4 1. Persons who own and occupy dwellings and other structures 111/444 80/320 Compensation for the loss of dwellings and other structures at replacement costs and resettlement assistance Number of structures/renters Number of structures that partially affected/renters Number who need to move out Number who no need to move out Preference of resettlement assistance 2 Estimated costs 1 2 3 4 1 2 3 4 2. Renters Resettlement assistance Number of PAPs # of PAPs with types 3 of livelihoods affected Preference of rehab. support 4 Estimated costs

  1 2 3

4