Produksi Immunoglobulin Y (Ig Y) anti -Ekskretori/Sekretori (E/S) Fasciola gigantica pada Ayam Petelur

ABSTRACT

JOKO UTOMO Production of Yolk Immunoglobulin Anti-Excretory/Secretory
(E/S) of Fasciola gigantica to Laying Hens . Under direction FADJAR
SATRIJA, SRI MURTINI.

The research was designed to study the method of antibody antiexcretory/secretory (E/S) of Fasciola gigantica production in laying hens. Ten
chickens were divided into two groups, i.e., five chickens/group. Group one was
immunized with antigen E/S of Fasciola gigantica from buffalo and the second
group was immunized with antigen E/S of Fasciola gigantica from sheep. Dose of
immunization was 150 µg/animal. The immunization was done intravenously
(i.v.) without adjuvant at the first time. One week later (second immunization) all
chicken was injected subcutaneously (s.c.) with the antigen that had been added
with Freund’s complete adjuvant with the same volume (1:1). Since the third
immunization until the sixth immunization whereas every immunization was
conducted one week after the previous one, the chicken was injected
subcutaneously with combination of antigen and Freund’s incomplete adjuvant.
The eggs were collected every day after the first immunization. Sera and egg yolk
were tested using agar gel precipitation test (AGPT) to detect the presence of
antibody against antigen E/S of Fasciola gigantica. The result showed that the
chicken immunized with antigen-E/S of Fasciola gigantica from buffalo was able
to develop antibody aster than the chicken immunized with antigen-E/S of
Fasciola gigantica from sheep. The antibody against antigen E/S of Fasciola
gigantica antigen from buffalo appeared in the sera at the 9-week and in the egg
yolk at the 10-week after the first immunization. While the antibody against
antigen E/S of Fasciola gigantica from sheep appeared in the sera at the 10-week
and in the egg yolk at the 11-week after the first immunization.

Keywords: Yolk immunoglobulin, excretory/secretory antigen, Fasciola gigantica

PRODUKSI IMUNOGLOBULIN Y (Ig Y) ANTIEKSKRETORI/SEKRETORI (E/S) Fasciola gigantica PADA
AYAM PETELUR

JOKO UTOMO

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PRODUKSI IMUNOGLOBULIN Y (Ig Y) ANTIEKSKRETORI/SEKRETORI (E/S) Fasciola gigantica PADA
AYAM PETELUR

JOKO UTOMO
B04070022

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Produksi Immunoglobulin Y (Ig
Y) anti-E/S Fasciola gigantica pada Ayam Petelur adalah karya saya dengan
arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari
karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan
dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir skripsi ini.

Bogor, April 2012

Joko utomo
B04070022

Judul Skripsi

: Produksi Immunoglobulin Y (Ig Y) anti -Ekskretori/Sekretori

(E/S) Fasciola gigantica pada Ayam Petelur
Nama Mahasiswa : Joko Utomo
NRP
: B04070022
Program Studi
: Kedokteran Hewan

Disetujui
Pembimbing I

Pembimbing II

drh.H.Fadjar Satrija, M.Sc, Ph.D

Dr.drh.Hj. Sri Murtini, M.Si

NIP. 19641003 198803 1 002

NIP. 19661120 199512 2 001

Diketahui
Wakil Dekan FKH IPB

drh. Agus Setiyono, MS, Ph.D, APVet
NIP. 19630810 198803 1 004

Tanggal Lulus :

UCAPAN TERIMA KASIH
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan atas karunia dan rahmat Allah SWT
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar sarjana kedokteran hewan di Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
Sholawat dan salam selalu tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW.
Dengan selesainya penulisan skripsi ini dalam penulis mengucapakan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Keluarga penulis tercinta Papa, Mama, dan Adik yang selalu memberikan
cinta, kasih sayang, doa, semangat serta dukungannya kepada penulis.
2. Drh. H. Fadjar Satrija, M.Sc, Ph.D dan Dr. drh. Hj. Sri Murtini, M.Si selaku
pembimbing skripsi yang telah memberikan masukan, arahan, nasihat,
perhatian, waktu, didikan, dan kesabaran selama penulisan skripsi ini.
3. Drh. Huda Darusman dan Drh. Min Rahmminiwati, MS. Ph.D selaku
pembimbing akademik yang telah memberikan arahan dan bimbingan
selama penulis menjalani studi.
4. Pegawai laboratorium ilmu penyakit hewan dan Pegawai AJMP FKH IPB
yang telah membantu penulis selama ini.
5. Teman – teman satu perjuangan yang selalu memberikan motivasi sekaligus
saran kepada penulis selama ini.
6. Tema sepenelitian Retno dan Risma yang telah berbagi pengalaman dan
menyatukan segala perbedaan demi kelancaran penelitian dan penyusunan
skripsi masing-masing. semoga kita dapat mendapatkan ilmu dan
pengalaman baru yang bermanfaat
Terima kasih atas segala semangat, inspirasi dan persaudaraan yang luar
biasa. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang telah diberikan.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam tulisan ini,
oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan. Semoga
karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bogor, April 2012

Joko utomo

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kerinci pada tanggal 29 Mei 1990 dari ayah Burman
Salim dan ibu Jumalni Jalil. Penulis merupakan anak pertama dari dua
bersaudara.
Pendidikan Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Umum ditempuh di
Kabupaten Kerinci yang diselesaikan pada Juni 2007. Pada tahun yang sama,
diterima sebagai Mahasiswa Kedokteran Hewan di Institut Pertanian Bogor
melalui jalur Ujian Seleksi Masuk Mahasiswa IPB (USMI).
Selama perkuliahan penulis aktif dalam berbagai organisasi diantaranya
Himpunan Profesi Ruminansia, Himpunan Profesi satwa Liar, Ornithologi dan
Unggas, Dan Ikatan Mahasiswa Kerinci Bogor.

RINGKASAN

JOKO UTOMO. 2012. Produksi Immunoglobulin Y (Ig Y) antiEkskretori/Sekretori (E/S) Fasciola gigantica pada Ayam Petelur. Dibimbing
oleh FADJAR SATRIJA dan SRI MURTINI

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari metode produksi antibodi antiekskretori/sekretori (E/S) Fasciola gigantica pada ayam petelur. 10 ekor ayam
dibagi atas 2 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 5 ekor ayam. Kelompok
pertama diimunisasikan dengan antigen E/S Fasciola gigantica asal kerbau dan
kelompok ke-2 diimunisasikan dengan antigen E/S Fasciola gigantica asal
domba. Dosis imunisasi tersebut sebanyak 150 µg/ekor. Minggu pertama
imunisasi dilakukan melalui intravena tanpa adjuvant. Satu minggu setelahnya
(minggu kedua), semua ayam diinjeksikan antigen kombinasi dengan adjuvant
komplet dengan perbandingan 1:1 melalui subkutan. Minggu ke-3 hingga minggu
ke-6 semua ayam diimunisasi dengan mengkombinasikan antigen dengan
adjuvant inkomplet. Telur di koleksi setiap hari. Serum dan kuning telur di uji
agar gel presipitation (AGPT) untuk mendeteksi ada atau tidaknya antibodi yang
terbentuk. Hasil AGPT menunjukkan bahwa ayam yang diimunisasi dengan
antigen asal kerbau lebih cepat dibandingkan dengan ayam yang diimunisasi
dengan antigen asal domba. Ayam yang diimunisasikan dengan dengan E/S
F.gigantica asal kerbau, antibodi pada serum dan kuning telur ditemukan berturutturut pada minggu ke-9 dan ke-10 setelah imunisasi pertama. Berbeda dengan
ayam yang diimunisasikan dengan dengan E/S F.gigantica asal domba, antibodi
pada serum dan kunig telur ditemukan berturut-turut pada minggu ke-10 dan ke11 setelah imunisasi pertama.

ABSTRACT

JOKO UTOMO Production of Yolk Immunoglobulin Anti-Excretory/Secretory
(E/S) of Fasciola gigantica to Laying Hens . Under direction FADJAR
SATRIJA, SRI MURTINI.

The research was designed to study the method of antibody antiexcretory/secretory (E/S) of Fasciola gigantica production in laying hens. Ten
chickens were divided into two groups, i.e., five chickens/group. Group one was
immunized with antigen E/S of Fasciola gigantica from buffalo and the second
group was immunized with antigen E/S of Fasciola gigantica from sheep. Dose of
immunization was 150 µg/animal. The immunization was done intravenously
(i.v.) without adjuvant at the first time. One week later (second immunization) all
chicken was injected subcutaneously (s.c.) with the antigen that had been added
with Freund’s complete adjuvant with the same volume (1:1). Since the third
immunization until the sixth immunization whereas every immunization was
conducted one week after the previous one, the chicken was injected
subcutaneously with combination of antigen and Freund’s incomplete adjuvant.
The eggs were collected every day after the first immunization. Sera and egg yolk
were tested using agar gel precipitation test (AGPT) to detect the presence of
antibody against antigen E/S of Fasciola gigantica. The result showed that the
chicken immunized with antigen-E/S of Fasciola gigantica from buffalo was able
to develop antibody aster than the chicken immunized with antigen-E/S of
Fasciola gigantica from sheep. The antibody against antigen E/S of Fasciola
gigantica antigen from buffalo appeared in the sera at the 9-week and in the egg
yolk at the 10-week after the first immunization. While the antibody against
antigen E/S of Fasciola gigantica from sheep appeared in the sera at the 10-week
and in the egg yolk at the 11-week after the first immunization.

Keywords: Yolk immunoglobulin, excretory/secretory antigen, Fasciola gigantica

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang
wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya
tulis dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL…………………………………………………………

i

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………..

ii

PENDAHULUAN…………………………………………………….…..

1

Latar Belakang………………………………………………….….

1

Tujuan Penelitian…………………………………………..…….…

2

Manfaat Penelitian…………………………………………………

2

TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………….

3

Morfologi dan Siklus Hidup……………………………………….
Gambaran Umum Fascioloa gigantica……………………………
Gejala………………………………………………………………
Diagnosa……………………………………………………………
Ayam Petelur ………………………………………………………
Sistem Kekebalan Unggas…………………………………………
Immunoglobulin Y…………………………………………………
Pemanfaatan Immunoglobulin Y…………………………………..
Antigen Ekskretori/Sekretori………………………………………

3
3
5
5
5
6
7
9
9

BAHAN DAN METODE…………………………………………………

11

Tempat dan Waktu…………………………………………………
Hewan Coba………………………………………………………..
Metode kerja……………………………………………………….
1 Isolasi dan Produksi Cacing Fasciola gigantica………………
2 Pengukuran kosentrasi protein E/S……………………………
3 Imunisasi ayam coba .............................………………………
4 Teknik pengambilan darah …………………………………....
5 Pembuatan antigen terlarut…………………………………….
6 Uji Agar gel Presipitation Test (AGPT)…………………….…
7 Pemurnian Ig Y dari Kuning Telur…………………………....
HASIL DAN PEMBAHASAN…………………………………………..

11
11
11
11
12
13
13
14
14
15
16

Pengujian Serum dan Kuning Telur
Pengujian IgY yang Dimurnikan dari Kuning Telur

16
20

SIMPULAN DAN SARAN……………………………………………….

23

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………..

24

DAFTAR TABEL
Halaman
1.

Tata cara pengisian larutan BSA dan Aquades…………………..

12

2.

Tata cara penyuntikkan antigen………………………………….

13

3.

Data hasil AGPT…………………………………………………

18

i

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1.

Sikus hidup Fasciola spp……………………………………………

4

2.

Hasil AGPT (1)………………………………………………….......

16

3.

Hasil AGPT (2)………………………………………………………

17

4.

Hasil AGPT (3)………………………………………………………

20

ii

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Fasciolosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing famili
Trematoda dengan spesies utama Fasciola gigantica dan Fasciola hepatica
(Winarsih et al. 1996). Fasciola hepatica merupakan cacing hati yang tersebar di
wilayah empat musim (subtropis), sedangkan Fasciola gigantica merupakan
cacing hati yang banyak hidup pada daerah yang beriklim tropis basah (Satrija et
al. 2009). Kedua jenis cacing ini merupakan parasit yang sangat merugikan bagi
ternak maupun peternak.

Kerugian yang ditimbulkan oleh fasciolosis berupa

penurunan bobot badan, berkurangnya hasil produksi, pengafkiran organ tubuh
terutama hati, kematian, dan penurunan pendapatan peternak (Estuningsih et al.
2004). Kerugian ekonomis akibat fasciolosis pada ditafsirkan mencapai 439-525
juta Dollar Australia (Copeman dan Copland 2008).
Pengendalian fasciolosis di Indonesia menghadapi beberapa masalah salah
satunya adalah sulitnya mendiagnosa infeksi F. gigantica pada ruminansia di awal
infeksi karena masa prepaten infeksi cacing ini lama. Salah satu diagnosa yang
dapat dilakukan dalam mendiagnosa penyakit kecacingan adalah pemeriksaan
adanya antigen ekskretori/sekretori (E/S) cacing ini baik dalam sirkulasi darah
maupun feses. Menurut Satrija et al. (2009), keberadaan E/S F. gigantica dapat
dideteksi keberadaannya melalui pemeriksaan serologis menggunakan enzymelinked immunosorbant assay (ELISA).

Prinsip metode pemeriksaan tersebut

adalah adanya ikatan spesifik antara antigen dan antibodi yang akan dideteksi
(Burgess 1995). Oleh karena itu, untuk melakukan pemeriksaan E/S F. gigantica
menggunakan ELISA diperlukan antibodi anti- F. gigantica.
Antibodi anti-F.gigantica dapat diproduksi menggunakan hewan coba, salah
satunya adalah ayam. Antibodi anti-E/S F. gigantica yang dihasilkan oleh ayam
berupa imunoglobulin yolk (Ig Y) anti-E/S F. gigantica. Ig Y yang dihasilkan
dalam kuning telur merupakan respon sistem kebal terhadap masuknya antigen ke
dalam tubuh. Imunoglobulin yang terbentuk dalam darah induk ayam akibat
respon tersebut dapat ditransfer ke dalam kuning telur (Li-Chan 2000).

1

Perpindahan Ig Y tersebut dalam tubuh unggas ke anaknya dapat terjadi melalui
dua tahap yaitu:
(a) Ig Y dipindahkan dari serum ke dalam kuning telur sebagaimana transfer
antibodi cross-placental mamalia. Keberadaan reseptor Ig Y pada oosit akan
mengikat dan memindahkan seluruh Ig Y serum ke telur
(b) pemindahan Ig Y dari kuning telur ke embrio.
Produksi Ig Y memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan
produksi imunoglobulin lainnya. Adapun keunggulan tersebut adalah: (a) proses
pengebalan hewan mudah dilakukan, (b) menghasilkan antibodi dalam jumlah
besar, dan (c) purifikasi antibodi dari kuning telur dapat dilakukan dengan mudah.
Perkembangan penyakit pada hewan membuat para peneliti mencari cara
memberantas, mengobati maupun mendeteksi secara dini penyakit tersebut yang
akurat. Pendeteksian penyakit secara dini memungkinkan peneliti menggunakan
antibodi

(Immunoglobulin)

asal

hewan

salah

satunya

penggunaan

immunoglobulin Y pada kuning telur. Tulisan ini menitiberatkan pada cara
memproduksi immunoglobulin Y anti- F. gigantica asal kuning telur sebagai
bahan untuk diagnosa fasciolosis pada hewan.
Tujuan
Penelitian

ini

bertujuan

untuk

mempelajari

metode

produksi

ImunoglobulinY anti E/S Fasciola gigantica pada kuning telur ayam petelur
sebagai bahan diagnosa fasciolosis dengan uji serologis.
Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah dapat memberikan kemudahan dalam
penyediaan bahan penelitian yang berkaitan dengan diagnosis fasciolosis dan
memberikan pengetahuan tentang cara produksi Imunoglobulin Y anti E/S
Fasciola gigantica pada kuning telur .

2

TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Taksonomi Fasciola gigantica
Fasciola spp yang lebih dikenal dengan nama cacing hati merupakan
trematoda paling penting sebagai penyebab kerugian ekonomi pada ternak
ruminansia di seluruh dunia. Selain ruminansia cacing ini dapat menginfeksi
beberapa jenis hewan lainnya seperti babi, kelinci, anjing, rusa, marmot, kuda, dan
bahkan manusia. Kasus infeksi cacing Fasciola pada manusia pernah ditemukan
di Kuba, Prancis selatan, Inggris dan Aljazair (Satrija et al. 2009).
Cacing hati yang biasa ditemukan di Indonesia adalah spesies Fasciola
gigantica, sedangkan spesies Fasciola hepatica umumnya ditemukan pada ternak
yang diimpor ke Indonesia (Kusumamiharja 1992). Hal ini dikarenakan inang
antara yang berperan dalam siklus hidup Fasciola hepatica yaitu Lymnea
truncatula tidak ditemukan di Indonesia, sedangkan inang antara Fasciola
gigantica

yaitu

Lymnea

rubiginosa

adalah

siput

endemik

Indonesia

(Kusumamihardja 1992; Mitchell 2007).
Menurut Levine (1990), cacing Fasciola spp mempunyai klasifikasi sebagai
berikut:
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Platyhelminthes

Class

: Trematoda

Subclass

: Digenea

Family

: Fasciolidae

Genus

: Fasciola

Spesies

: Fasciola gigantica dan Fasciola hepatica

Morfologi dan Siklus Hidup
Cacing Fasciola gigantica dewasa berbentuk seperti daun, dalam keadaan
segar warnanya abu-abu coklat.

Ukuran cacing ini 14-54 mm.

Cacing ini

memiliki dua batil hisap yang berukuran sama besar untuk menempel pada
inangnya, yaitu batil hisap ventral (acetabulum), serta batil hisap oral (oral
sucker) yang berfungsi juga sebagai lubang mulut.

Cacing dewasa dapat

3

dibedakan dari Fasciola hepatica karena ukuran tubuh lebih pendek, dan kerucut
kepala lebih panjang. Alat reproduksi terletak lebih posterior, dan batil isap perut
lebih kecil (Noble dan Noble 1989).
Siklus hidup Fasciola gigantica mirip dengan F. hepatica. Cacing Fasciola
dewasa berada dalam saluran empedu mamalia sebagai induk semangnya, cacing
dewasa tersebut menghasilkan telur-telur yang terbawa oleh cairan empedu,
masuk ke dalam lumen usus dan keluar ke alam bebas bersama tinja. Telur cacing
dalam tinja ruminansia atau hewan yang berada di lingkungan berair akan
berkembang membentuk mirasidium. Telur akan menetas dan mirasidium ini
akan keluar dan mencari siput sebagai inang antaranya (Ross 1996).
Mirasidium yang berhasil masuk ke dalam siput akan berkembang dan
memperbanyak diri menjadi larva selanjutnya menjadi sporokista, redia dan
serkaria (Gambar 1). Selanjutnya serkaria menempel di tanaman air,
menanggalkan ekornya membentuk kista larva (metaserkaria) yang merupakan
stadium infektif dari cacing hati (Satrija et al. 2009). Hewan akan terinfeksi bila
memakan tanaman yang mengandung metaserkaria.

Di dalam tubuh hewan,

metaserkaria mengalami ekskistasi di dalam usus halus. Cacing muda yang keluar
dari kista selanjutnya akan menembus usus dan bermigrasi ke hati. Di dalam hati
cacing akan berkembang menjadi dewasa di dalam saluran empedu (Satrija et al.
2009).

Gambar 1. Siklus hidup Fasciola spp (www.dfpd.cdc.htm)
4

Gejala
Tingkat keparahan fasciolosis pada ruminansia bervariasi mulai dari infeksi
akut yang mematikan pada domba sampai infeksi asimptomatik pada sapi.
Fasciolosis domba terjadi musiman dengan manifestasi klinis berupa anemia dan
kematian mendadak. Fasciolosis subakut ditandai dengan jaundice, anemia dan
penurunan berat badan, serta kematian domba umur 8-20 minggu. Fasciolosis
kronis terjadi sepanjang musim yang ditandai dengan anemia, perlambatan
kondisi umum dan produktivitas kerja (Satrija et al. 2009).
Diagnosa
Infeksi Fasciola dapat didiagnosa melalui pemeriksaan mikroskopik untuk
mengindentifikasi keberadaan telur Fasciola dalam tinja dengan metode
sedimentasi atau filtrasi bertingkat.

Diagnosa dini infeksi sebelum cacing

menghasilkan telur dapat dilakukan dengan metode ELISA untuk mendeteksi
keberadaan antigen eksretori-sekretori (E/S) dalam tinja (Satrija et al.2009).
Ayam Petelur
Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus
untuk diambil telurnya. Ayam petelur merupakan ayam hasil seleksi genetik dari
ayam domestik. Ayam domestik berasal dari ayam hutan yang ditangkap dan
dipelihara sehingga menjadi unggas yang terdomestikasi. Tahun demi tahun ayam
dari berbagai wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar genetik untuk
mendapatkan ayam yang memiliki produksi telur atau daging yang tinggi pada
waktu singkat.

Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal

dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam
petelur. Selain itu, seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian
dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat. Persilangan dan seleksi itu
dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada
sekarang ini. Dalam setiap kali persilangan, sifat jelek dibuang dan sifat baik
dipertahankan (terus dimurnikan). Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam
petelur unggul (Anonim 2011). Ayam petelur terdiri dari beberapa tipe, tipe
ringan berasal dari bangsa White Leghorn, tipe medium dari Rhode Island Red,

5

Australop dan Barred Plymouth Rock, sedangkan tipe berat dari bangsa New
Hampshire, White Plymouth Rock dan Cronish (Amrullah 2004).
Sistem Kekebalan Unggas
Tubuh makhluk hidup memiliki suatu sistem yang disebut sistem kekebalan
yang memberikan respon dan melindungi tubuh terhadap bahan asing. Respon
kekebalan sangat bergantung pada kemampuan sel-sel kekebalan mengenali
molekul asing (antigen) dan kemudian membangkitkan reaksi yang tepat untuk
menyingkirkan sumber antigen bersangkutan.

Sistem pengenalan antigen

dilakukan oleh unsur sistem kekebalan yaitu sel limfosit dan fase efektornya yang
melibatkan berbagai jenis sel- sel dalam sistem kekebalan lainnya (Kresno 1996).
Sistem kekebalan ayam terdiri dari bursa fabricius, sumsum tulang, limpa,
timus, kelenjar Herderian, limfonodus, sirkulasi limfosit dan jaringan limfoid
ditraktus alimentarius. Sel pembentuk antibodi (sel B) diproduksi oleh bursa
fabricius, sedangkan sumsum tulang adalah sumber dari bakal sel limfosit. Limpa
adalah pusat proliferasi sel plasma dan sel B memori. Unggas tanpa limpa akan
mengalami penurunan produksi antibodi. Timus merupakan tempat pematangan
bakal sel T yang berdiferensiasi menjadi limfosit T. Aktivitas limfosit T pada
unggas sama dengan limfosit T pada mamalia (Larsson et al.1993).
Bursa Fabricius adalah organ limfoid yang fungsinya sebagai tempat
pendewasaan dan diferensiasi bagi sel dari sistem pembentuk antibodi. Bursa ini
pun berfungsi sebagai organ limfoid sekunder yaitu dapat menangkap antigen dan
membentuk antibodi, juga memiliki sebuah pusat kecil sel T tepat dibelakang
lubang salurannya (Tizard 2004). Sistem kekebalan saat terpapar oleh zat yang
dianggap asing, maka ada dua jenis respon kekebalan yang mungkin terjadi yaitu
respon kebal nonspesifik dan respon kebal spesifik. Respon kebal nonspesifik
umumnya merupakan imunitas bawaan (innate immunity) artinya respon terhadap
zat asing dapat terjadi walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar pada
saat tersebut.

Respon kekebalan spesifik merupakan respon tumbuh yang

sebelumnya pernah terpapar oleh antigen tertentu (Kresno 1996). Perbedaan yang
utama dari kedua jenis respon kekebalan ini adalah respon kebal spesifik memiliki
tingkat spesialisasi yang cukup tinggi (ini berarti mekanisme respon imun

6

terhadap berbagai jenis antigen tidak sama), mampu mengenal kembali antigen
yang pernah dijumpainya (memiliki memori), sehingga paparan berikutnya
meningkatkan efektifitas mekanisme pertahanan tubuh (Kresno 1996).
Periode

lag

(keterlambatan)

adalah

waktu

antigen

pertama

kali

diimunisasikan ke dalam tubuh dan belum terlihat suatu reaksi dari tubuh tersebut.
Antibodi baru akan ditemukan sekitar satu minggu setelah dimasukkannya antigen
pertama kali, dan kadarnya dalam serum akan meningkat dan mencapai
puncaknya pada 10-14 hari selanjutnya mengalami penurunan. Pemberian antigen
kedua akan diikuti dengan pembentukan antibodi dengan periode lag yang lebih
cepat yakni 3 atau 4 hari. Jumlah antibodi yang ditemukan meningkat dengan
cepat ke tingkat yang tinggi sebelum menurun kembali dengan lambat (Tizard
2004).
Sel B adalah sel yang bertanggung jawab atas pembentukan imunoglobulin
(Ig) dan merupakan 5-15% dari limfosit dalam sirkulasi darah.

Sel B yang

terdapat dalam sumsum tulang dan belum pernah terpapar pada antigen, umumnya
menunjukkan respon yang lebih lambat dibandingkan dengan sel B yang terdapat
dalam jaringan limfoid perifer.

Perangsangan antigen pada limfosit B akan

menyebabkan sel B mengalami proses perkembangan melalui dua jalur, yaitu
berdiferensiasi menjadi sel plasma yang membentuk imunoglobulin, dan
membelah dan lalu kembali dalam keadaan istirahat sebagai limfosit B memori.
Pembentukan sel B memori adalah suatu proses yang bergantung pada proses sel
T, sedangkan yang merangsang sel B tanpa sel T tidak merangsang pembentukan
sel memori (Kresno 1996).

Immunoglobulin Y
Immunoglobulin Y (Ig Y) merupakan antibodi yang terdapat di dalam
serum darah dan kuning telur pada hewan amfibi, reptil dan unggas.
Imunoglobulin Y merupakan antibodi humoral utama pada ayam. Zat ini pertama
kali ditemukan oleh Klemperer pada tahun 1893, yang menggambarkan adanya
kekebalan pasif terhadap toksin tetanus yang diturunkan dari induk ke anak ayam.
Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya induk ayam adalah produsen antibodi (Ig
Y) yang sangat potensial. Telur merupakan sumber Ig Y yang sangat penting,

7

selain itu Ig Y unggas lebih tahan terhadap suhu dan perubahan pH dibandingkan
dengan Ig G serta tidak menyebabkan reaksi silang dengan komponen struktural
jaringan dan sel darah mamalia (Larsson et al.1993). Ayam dapat digunakan
untuk memproduksi antibodi selama masa produksi telurnya. Ayam yang telah
digunakan untuk memproduksi antibodi selama 3 bulan harus di imunisasi booster
setiap bulan berikutnya untuk memastikan antibodi yang tetap tinggi. Ayam
mampu menghasilkan antibodi dengan aviditas yang tinggi segera setelah
dilakukan satu kali vaksinasi. Aviditas yang sama dapat ditemukan pada domba
setelah empat kali vaksinasi (Warr et al.1995).
Immunoglobulin Y terdiri atas 4 rantai polipeptida dasar yang terdiri atas
dua rantai berat (heavy chain) yang identik dan dua rantai ringan (light chain)
yang identik. Setiap rantai ringan terikat pada rantai berat melalui ikatan disulfide
(S-S), demikian pula rantai berat satu dengan lainnya dihubungkan dengan ikatan
S-S. Enzim proteolitikpapin dapat memecah struktur ini menjadi tiga fragmen
yaitu 2 fragmen yang memiliki susunan sama terdiri atas rantai berat (H) dan
rantai ringan (L), fragmen ini dapat bereaksi dengan antigen sehingga disebut
fragmen antibody binding site (Fab) serta satu fragmen yang tidak dapat mengikat
antigen, tetapi terkristalkan disebut Fc. Fragmen Fab dibentuk oleh dominan
terminal N, sedangkan fragmen Fc dibentuk oleh dominan terminal C dengan Fc
dihubungkan dengan leher atau hinge yang fleksibel (Wibawan et al.2003).
Immunoglobulin Y adalah protein yang sensitif terhadap denaturasi,
aktifitas Ig Y mampu bertahan setelah dipanaskan selama 15 menit pada suhu 70
°C. Inkubasi pada pH 4 dapat ditoleransi dengan baik, tetapi pada pH 2 suhu 37
°C aktifitas antibodi akan turun secara cepat (Shimizu et al. 1992). Sedangkan
menurut Larsson et al.(1993), Ig Y relativ stabil untuk dipertahankan aktivitasnya
jika disimpan pada suhu ruang. Aktivitas Ig Y dapat dipertahankan dengan baik
jika disimpan pada suhu 37 °C untuk jangka waktu 1 bulan atau pada suhu kamar
untuk jangka 6 bulan dan aktivitas Ig Y dapat dipertahankan selama 10 tahun jika
disimpan pada suhu 4 °C.
Analisis antibodi ayam secara fungsional setara dengan antibodi kelinci atau
mamalia dan telah berhasil diuji menggunakan metode preparasi afinitas kolom,
analisa western blot, ELISA, immonohistokimia maupun Sodium Dodecyl

8

Sulphate-Polyacrilamide

Gel

Electrophoresis

(SDS-PAGE)(Gordon

1983,

Carlander 2002).
Pemanfaatan Imunoglobulin Y
Produksi Ig Y sebagai sumber antibodi terhadap antigen tertentu memiliki
beberapa keuntungan yaitu: a) biaya pemeliharaan ayam relatif lebih murah, b)
kandungan Ig Y tinggi di dalam telur dan dapat diproduksi dalam jumlah besar, c)
immunoglobulin Y menghasilkan respon imun yang lebih spesifik dan tidak
memiliki efek samping karena tidak bereaksi dengan Ig G mamalia d) memiliki
daya simpan yang lebih lama, e) jarak filogenik antara unggas dan mamalia sangat
jauh sehingga tidak menunjukkan reaksi silang dengan komponen jaringan
mamalia. Beberapa kelebihan yang dimiliki Ig Y akan menjadi hal pendukung
potensi ayam sebagai inang untuk memproduksi Ig Y spesifik terhadap antigen
tertentu sehingga dapat digunakan sebagai perangkat imunodiagnostik dan imuno
terapi.
Antigen Ekskretori/Sekretori (E/S)
Cacing umumnya melepaskan protein ekskretori/sekretori sebagai produk
metabolisme.

E/S dapat berperan sebagai molekul antigen pemicu respon

kekebalan spesifik (Rhoads dan Fetterer 1997).

Antigen Ekskretori/Sekretori

cacing umumnya antigen yang imunogenik dan terdiri dari makromolekul protein,
polisakarida, polipeptida, atau polimer sintetik misalnya polivinilpirolidon (PVP).
Namun hanya bagian tertentu saja yang dapat berikatan dengan situs pengikatan
antigen dari antibodi anti cacing parasitik baik golongan cestoda, trematoda,
maupun nematoda (Guyton dan Hall 2007). Ekskretori/Sekretori juga merupakan
metabolit senyawa protease yang dihasilkan oleh cacing.

Enzim proteolitik

tersebut berperan penting untuk proses perkembangan dan kelangsungan hidup
seperti penetasan telur, molting, serta penetrasi dan migrasi cacing ke jaringan
inang definitif.

E/S yang dihasilkan oleh cacing parasitik berperan sebagai

antigen yang memicu kehadiran antibodi dalam tubuh (Balqis 2004).
Ciri pokok antigenitas suatu bahan atau senyawa ditentukan dari limitasi
fisikokimiawi serta derajat keasingan (Tizard 2004). Limitasi fisikokimiawi suatu
bahan atau senyawa dapat berupa ukuran molekulnya. Suatu antigen agar dapat
9

bersifat antigenik harus besar, kaku dan memiliki struktur kimia kompleks. Ciri
pokok yang kedua yaitu derajat keasingan atau tingkat keasingan suatu bahan atau
senyawa di dalam tubuh. Selain limitasi fisikokimiawi dan derajat keasingan,
antigenitas suatu bahan atau senyawa juga ditentukan oleh derajat keasingan
antigen dalam tubuh (Kindt et al. 2007).
Protein merupakan antigen yang terbaik karena ukuran dan kerumitan
strukturnya. Hampir semua protein yang berat molekulnya lebih besar dari 8000
dalton bersifat antigenik. Antigen E/S mengandung glikoprotein yang menutupi
kulit cacing dan juga susunannya berupa enzim sehingga mempermudah migrasi
cacing (Bird dan Jean 1991). Oleh karena itu, antigen E/S sering digunakan untuk
kontrol biologi, pembuatan vaksin, atau bahan untuk memanipulasi respon
kekebalan inang (Wulandari 2004).
Ikatan antigen antibodi merupakan ikatan yang kuat karena merupakan
ikatan hidrogen multipel, ikatan ion, dan interaksi hidrofobik (Perez 2000).
Antigen untuk dapat memicu pembentukan antibodi harus memiliki dua epitop,
dan sedikitnya satu epitop harus mampu menggertak rangsangan limfosit T.
Epitop antigen yang berbeda pada suatu molekul protein dapat menggertak
respons subpopulasi limfosit T yang berlainan, salah satu epitop mungkin
menggertak respons limfosit T helper (Th), tetapi epitop yang lain mungkin
menggertak respon limfosit T supresor (Ts) (Kresno 1996)

10

BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2009 hingga Februari 2010.
Penelitian dilakukan di kandang pemeliharaan hewan coba Fakultas Kedokteran
Hewan Institut Pertanian Bogor (FKH IPB) dan Laboratorium Terpadu
Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (IPHK)
FKH IPB.

Hewan coba
Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam petelur ras
Hysex Brown umur 24 minggu sebanyak 10 ekor. Ayam-ayam tersebut dipelihara
secara individual di dalam kandang batere. Setiap ayam diperlakukan dengan
kondisi yang sama, baik dari segi makan, minum, maupun kondisi kandang.
Sebelum diberi perlakuan, ayam tersebut dilakukan pemeriksaan status parasit
pencernaan menggunakan metode Mc Master. Hal ini untuk memastikan hewan
coba bebas dari penyakit pencernaan akibat parasit yang dapat mempengaruhi
produksi telur.
Metode Penelitian
1

Isolasi dan Produksi Antigen E/S Fasciola gigantica
Antigen yang digunakan untuk imunisasi dalam penelitian ini adalah antigen

E/S Fasciola gigantiaca asal domba dan kerbau dari hasil penelitian Satrija
(2009). F. gigantica dewasa dikoleksi dari hati kerbau di Rumah Potong Hewan
(RPH) Kota Bekasi serta hati domba dari Tempat Pemotongan Hewan (TPH) di
Empang-Kota Bogor. Antigen berupa E/S F. gigantica diproduksi dan diisolasi
dari cacing dewasa menurut metode Satrija et al. (2007) yang dimodifikasi.
Protein E/S F. gigantica yang didapat selanjutnya disimpan dalam tabung mikro
volume 1.5 ml pada suhu -20 ºC sampai digunakan sebagai antigen untuk
imunisasi ayam.

11

2

Pengukuran Kosentrasi Protein E/S Fasciola gigantica
Konsetrasi protein E/S dihitung dengan metode Bradford menggunakan

spektofotometer pada panjang gelombang 590 nm. Metode Bradford digunakan
secara luas untuk menghitung titer protein secara kuantitatif.

Metode ini

menggunakan pereaksi commasie briliant blue. Larutan standar protein yang
digunakan adalah bovine serum albumin (BSA). Larutan Bradford yang terdiri
dari 100 mg commasie briliant blue yang dilarutkan dalam 59 ml etanol 95% dan
ditambahkan sebanyak 100 ml asam fosfat 85% (w/v), serta diencerkan dengan
dua kali pengenceran terlebih dahulu dengan aquabides hingga volume larutan
mencapai 1 liter, kemudian disaring. Setelah itu, 10 ml larutan Bradford yang
telah diencerkan ditambahkan 90 ml aquabides menjadi 100 ml larutan yang
merupakan larutan Bradford dengan dua kali pengenceran. Sebanyak 10 mg BSA
dilarutkan dalam 10 ml aquabides hingga homogen. Sebelas buah tabung reaksi
yang telah disterilisasi diisi dengan larutan larutan BSA dan aquabides sesuai
dengan Tabel 1.

Tabel 1 Tata cara pengisian larutan BSA
Konsentrasi protein

Tabung

Larutan BSA (µl)

Aquabides (µl)

1

0

1000

0

2

100

900

100

3

200

800

200

4

300

700

300

5

400

600

400

6

500

500

500

7

600

400

600

8

700

300

700

9

800

200

800

10

900

100

900

11

1000

0

1000

standar (µg/ml)

Sebanyak 100 µ l dari masing-masing tabung tersebut diambil dan
dimasukkan ke dalam tabung steril lainnnya sesuai urutan tabungnya. Masingmasing tabung yang telah berisi 100 µ l BSA berbagai konsentrasi tersebut

12

selanjutnya ditambahkan 5 ml larutan Bradford.

Kurva standar konsentrasi

protein dibuat berdasarkan absorbansi dari masing-masing konsentrasi standar
menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 590 nm. Protein E/S
selanjutnya diambil 100 µl dan dimasukkan kedalam tabung reaksi serta
ditambahkan larutan Bradford 5 ml.

Larutan E/S tersebut kemudian dibaca

konsentrasinya menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 590
nm. E/S yang telah diketahui konsentrasi proteinnya selanjutnya di-aliquot dalam
tabung mikrobervolume 1 ml dan disimpan pada suhu -20°C sampai digunakan.

3

Imunisasi Ayam Coba
Imunisasi dengan antigen E/S F. gigantica dilakukan terhadap 10 ekor ayam

betina berumur 24 minggu dengan interval vaksinasi dua minggu sesuai dengan
protokol Table 2. Penyuntikan antigen (imunisasi) pada ayam dilakukan melalui
rute intravena dan subkutan dengan dosis 150 µg/ekor.

Tabel 2 Tata cara penyuntikan antigen
Kelompok

Penyuntikan (minggu ke-)

Antigen
E/S F. gigantica asal

1

0

1

3

5

7

Tanpa adjuvant

FAC

FAI

FAI

FAI

Tanpa adjuvant

FAC

FAI

FAI

FAI

domba
E/S F. gigantica asal

2

kerbau
Keterangan:
Tanpa adjuvant (rute intravena)
FAC = Freund’s complete adjuvant (rute subkutan)
FAI

4

= Freund’s incomplete adjuvant (rute subkutan)

Teknik Pengambilan Darah dan Pengumpulan Kuning Telur
Pengambilan darah ayam dilakukan satu minggu setelah imunisasi ketiga

melalui vena brachialis sebanyak 1.5 ml menggunakan spuit 3 ml. Darah yang
dikoleksi diletakkan dengan posisi miring dan diinkubasi selama 30 menit sampai
1 jam pada suhu ruang. Darah tersebut selanjutnya disimpan dalam suhu 4 ºC
selama 24 jam.

Serum yang telah terbentuk selanjutnya dipanen dengan

meletakkannya dalam tabung mikro dan disimpan dalam suhu -20 ºC hingga akan

13

digunakan. Seiring dengan pengambilan darah juga dilakukan pengumpulan telur
ayam bila ada yang bertelur. Setiap butir telur diberi label nomor ayam dan
tanggal pengeluaran telur. Kuning telur dari masing-masing telur yang dipanen
dipisahkan dari putih telur lalu disimpan di freezer (refrigator -20 ºC) dan diberi
tanda.

5

Pembuatan Antigen Telarut
Antigen dan antibodi harus harus dapat berdifusi dengan baik dalam uji

presipitasi menggunakan media agar. Difusi dalam media agar dapat terjadi bila
komponen antigen tersebut dalam ukuran kecil sehingga mudah terlarut. Antigen
E/S Fasciola gigantica agar dapat terlarut harus dipecah molekulnya agar menjadi
ukuran molekulnya lebih kecil. Pemecahan molekul dilakukan menggunakan alat
sonikator Bioruptor™ . E/S Fasciola gigantica sebanyak 2.5 ml dimasukkan ke
dalam tabung sonifikasi lalu dimasukkan dalam sonikator Bioruptor™ yang berisi
air bersuhu 4 ºC. Hal ini bertujuan untuk mendinginkan tabung dan mencegah
kerusakan antigen karena panas yang ditimbulkan selama proses berlangsung.
Proses sonikasi dilakukan selama 5 menit dengan frekuensi 50000 Hz.

6

Uji Agar Gel Presipitation Test (AGPT) Sebagai Uji Spesifitas Antigen
Pengujian spesifitas Ig Y anti-E/S Fasciola gigantica dilakukan dengan uji

presipitasi agar (AGPT) untuk melihat adanya presipitasi yang terjadi antara Ig Y
anti-E/S F. gigantica dengan E/S F. gigantica yang diuji. Medium agar AGPT
dibuat dari campuran 1 gram agarose, 50 ml PBS, pH 7.2 dan 50 ml aquadest.
Campuran dipanaskan hingga mendidih, kemudian didinginkan sampai suhunya
turun menjadi 60 °C. Larutan agar lalu dituang ke gelas objek sebanyak 4 ml
pada setiap slide-nya dan dibiarkan pada suhu ruang hingga agar memadat. Agar
yang telah memadat dibuat lubang dengan menggunakan perforator agar. Antigen
dan antibodi yang diuji diteteskan ke dalam masing-masing lubang yang telah
ditentukan sebelumnya. Selanjutnya agar disimpan pada suhu kamar selama 24
jam. Garis presipitasi akan terbentuk bila dalam kuning telur atau serum terdapat
antibodi yang homolog dengan antigen yang diujikan.

14

7

Pemurnian Ig Y dari Kuning Telur
Kuning telur yang menunjukkan hasil positif pada uji AGPT, selanjutnya

dimurnikan Ig Y-nya dari kuning telur menggunakan kit eggstract® Ig Y
(PROMEGA). Kuning telur dilarutkan dalam larutan Presipitat A sebanyak tiga
kali volume kuning telur. Larutan tersebut diaduk dengan stire selama lima menit.
Selanjutnya larutan tersebut disentrifuse pada kecepatan 10000 g pada suhu 4 ºC
selama 15 menit. Lalu supernatan disaring dengan kasa steril 4 lapis. Filtrat hasil
penyaringan ditambahkan larutan presipitat B dan diaduk.

Selanjutnya

disentrifuse pada kecepatan 10000 g pada suhu 4 ºC selama lima belas menit.
Filtrate hasil sentrifugasi dibuang dan pellet hasil sentrifuse resuspensi dengan
PBS sampai volume awal.

Hasil dari proses ini merupakan Ig Y dengan

kemurnian ± 60 %. Ig Y dengan kemurnian 90 % didapat apabila dilakukan
dengan melakukan langkah yang sama sebanyak 2 kali. Hasil pemurnian tersebut
merupakan Ig Y anti-E/S F. gigantica.

Konsentrasi Ig Y dihitung dengan

spektrofotometer pada panjang gelombang 595 nm dengan metode Bradford.

15

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengujian Serum dan Kuning Telur
Hasil AGPT memperlihatkan pembentukan garis presipitasi yang berwarna
putih pada pengujian serum dan kuning telur tiga dari sepuluh ekor ayam yang
diimunisasi dengan antigen E/S F. gigantica (Gambar 2 dan 3). Dari ketiga ekor
ayam tersebut dua ekor diimunisasi dengan antigen E/S dari cacing yang diisolasi
baik domba, dan seekor lainnya dengan antigen cacing yang berasal dari kerbau.
Hal ini menunjukan bahwa ketiga ekor ayam tersebut memberikan respon
terhadap antigen E/S F. gigantica yang disuntikkan dengan membentuk antibodi
spesifik terhadap kedua jenis antigen.

(a)

(b)

Gambar 2 Hasil AGPT (1); (a) presipitasi antibodi anti E/S Fasciola gigantica
asal kerbau pada minggu ke-9 (serum); (b) presipitasi antibodi anti
E/S Fasciola gigantica asal kerbau pada minggu ke-12 (kuning telur)

Prinsip uji presipitasi agar (AGPT) adalah reaksi pengendapan antigen oleh
antibodi spesifik. Pengendapan antigen ini diperlihatkan dengan adanya garis
presipitasi pada media agar. Garis presipitasi dapat muncul bila antibodi pada
serum maupun kuning telur homolog terhadap antigen yang digunakan. Gambar 2
dan 3 memperlihatkan adanya pembentukan garis presipitasi berwarna putih baik
pada sampel serum maupun sampel kuning telur. Pembentukan garis presipitasi
16

diinisiasi oleh terbentuknya kompleks molekul antigen-antibodi yang saling
bereaksi diikuti dengan proses agregasi serta sedimentasi kompleks tersebut.
Pembentukan garis presipitasi tersebut melibatkan ion antigen divalen atau
multivalen dan sangat tergantung pada proporsi antigen terhadap antibodi (Barriga
1981).

Reaksi ini juga dipengaruhi oleh pH, suhu, avinitas atau kestabilan

kompleks antigen-antibodi dan afinitas atau kekuatan ikatan kompleks antibodiantigen (Tizzard 2004).

(a)

(b)

Gambar 3 Hasil AGPT (2); (a) presipitasi antibodi anti E/S Fasciola gigantica
asal domba pada minggu ke-10 (serum); (b) presipitasi antibodi anti
E/S Fasciola gigantica asal domba pada minggu ke-13 (kuning telur)

Hasil AGPT asal kerbau terlebih dulu memperlihatkan adanya antibodi
spesifik terhadap F. gigantica baik dalam serum maupun kuning telur. Pada ayam
yang diimunisasikan dengan E/S F. gigantica asal kerbau, antibodi pada serum
dan kuning telur ditemukan berturut-turut pada minggu ke-9 dan ke-10, sedangkan
pada ayam yang diimunisasikan dengan antigen E/S F. gigantica asal domba
antibodi pada serum dan kuning telur ditemukan berturut-turut pada minggu ke-10
dan ke-11 (Tabel 3).
Perbedaan waktu terdeteksinya antibodi tersebut dipengaruhi oleh beberapa
faktor, diantaranya konsentrasi antibodi dalam serum maupun kuning telur pada
saat pengujian. Pengujian keberadaan antibodi dengan uji AGPT memerlukan
kosentrasi antibodi minimal sebesar 30 mg/ml (Tizzard 2004).

Konsentrasi
17

antibodi saat pengujian AGPT yang kurang dari ambang batas tersebut, maka
hasil uji akan memperlihatkan hasil negatif.

Tabel 3 Data Hasil AGPT E/S F.gigantica terhadap serum dan kuning telur
Antigen

Sampel

E/S Fasciola
gigantica asal
kerbau

Hasil AGPT (minggu ke-)
0

1

4 5 6 7 8 9 10

11

12

13

14

Serum

-

-

-

-

-

-

-

+ +

+

+

+

+

Kuning

-

-

-

-

-

-

-

-

+

++

++

++

+

telur

E/S Fasciola

Serum

-

-

-

-

-

-

-

-

+

+

+

+

+

gigantica asal

Kuning

-

-

-

-

-

-

-

-

-

+

++

++

++

domba

telur

Keterangan : - Tidak Terbentuk Presipitasi
+ Terbentuk Presipitasi
++ Penebalan Presipitasi

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa antibodi anti E/S F. gigantica
asal kerbau pada serum maupun kunig telur terbentuk lebih cepat dibandingkan
dengan antibodi terhadap E/S F. gigantica asal domba. Hal ini berbeda dengan
hasil penelitian Setyaningsih (2011) yang menggunakan antigen yang sama tetapi
dengan hewan coba kelinci. Perbedaan tersebut terletak pada waktu pembentukan
antibodi anti E/S F. gigantica asal kerbau maupun asal domba pada serum.
Berdasarkan hasil AGPT serum penelitian tersebut menyebutkan bahwa Ig G antiE/S F. gigantica asal domba terbentuk lebih cepat dibandingkan dengan antibodi
terhadap E/S F. gigantica asal kerbau. Kelinci yang diimunisasi dengan antigen
E/S Fasciola gigantica asal domba sudah menunjukkan adanya pembentukkan
antibodi terhadap E/S Fasciola gigantica asal domba pada minggu ke-4. Berbeda
dengan kelinci yang disuntik antigen E/S Fasciola gigantica asal kerbau, antibodi
yang terbentuk pada serum terhadap E/S Fasciola gigantica asal kerbau, baru
dapat dideteksi pada minggu ke 12. Sedangkan berdasarkan hasil AGPT pada
penelitian ini, ayam yang diimunisasi dengan antigen E/S Fasciola gigantica asal
domba baru menunjukkan adanya pembentukkan antibodi terhadap E/S Fasciola
gigantica asal domba pada minggu ke-10. Berbeda dengan ayam yang disuntik

18

antigen E/S Fasciola gigantica asal kerbau, antibodi yang terbentuk pada serum
terhadap E/S Fasciola gigantica asal kerbau, baru dapat dideteksi pada minggu
ke-9. Hal ini menujukkan bahwa perbedaan waktu untuk menimbulkan respon
pembentukan antibodi pada inang (hewan yang diinjeksi imunogen) dapat
bervariasi dan tergantung pada imunogenitas, bentuk, dan stabilitas stimulan,
spesies hewan, rute injeksi, serta sensitivitas uji yang digunakan untuk mendeteksi
antibodi pertama yang terbentuk (Hercowitz 1978).

Respon induk semang

terhadap imunogen yang diberikan tidak hanya ditentukan oleh sifat fisikokimia
imunogen, namun juga ditentukan oleh beberapa faktor terkait induk semang,
termasuk ke dalamnya yaitu genetik, umur, status nutrisi, dan efek sekunder yang
diturunkan dari suatu proses penyakit (Jackson 1978). Ayam yang digunakan
pada penelitian ini memiliki rataan umur, bobot badan, jenis kelamin, dosis
injeksi, nutrisi, serta rute injeksi yang sama, sehingga perbedaan waktu antibodi
antara semua ayam dapat disebabkan karena adanya karakter antigen protein E/S
F. gigantica.
Perbedaan karakter E/S F. gigantica pada inang yang berbeda dapat
mempengaruhi respon pembentukan antibodi.

Kedua jenis antigen tersebut

merupakan protein yang berasal dari spesies cacing yang sama, namun E/S F.
gigantica yang dihasilkan dapat memiliki karakter protein yang berbeda.
Morfologi inang asal F. gigantica yang berbeda akan mempengaruhi profil protein
E/S yang dihasilkan. Perbedaan morfologi protein E/S F. gigantica tergantung
pada inang definitifnya (Ashour et al. 1999).

Berdasarkan elektroforesis

menggunakan SDS-PAGE, antigen E/S F. gigantica dari isolat asal kerbau
memiliki 9 pita protein dengan berat molekul berkisar antara 14-80 kDa (Satrija
2009), sedangkan E/S F. gigantica dari isolat asal sapi memiliki 6 pita protein
dengan berat molekul berkisar antara 15-42 kDa (Meshgi et al. 2008).
Antigen somatik F. gigantica dan E/S F. hepatica dari isolat asal sapi
memiliki jumlah pita protein yang berbeda.

Antigen somatik F. hepatica

memiliki 8 pita protein dengan berat molekul berkisar antara 18-62 kDa,
sedangkan antigen somatik F. gigantica memiliki 11 pita protein dengan berat
molekul berkisar antara 18-68 kDa (Meshgi et al. 2008). Perbedaan karakter
protein Fasciola disebabkan oleh spesies cacing yang sama dari inang yang

19

berbeda, spesies cacing yang berbeda dari inang yang sama ataupun karena variasi
geografis (Ashour et al. 1999; Meshgi et al. 2008).

Pengujian IgY yang Dimurnikan dari Kuning Telur
Kuning telur yang mengandung antibodi anti E/S F. gigantica asal domba
dan asal kerbau dimurnikan menggunakan kit eggstract® Ig Y (PROMEGA)
media. Antibodi berupa IgY anti-F. gigantica hasil pemurnian diuji kembali
dengan AGPT menggunakan antigen E/S F. gigantica. Presipitasi pada hasil
AGPT menunjukkan bahwa Ig Y yang dihasilkan mampu mengikat antigen E/S F.
gigantica (Gambar 4). Ig Y yang dihasilkan dari kuning telur pada penelitian ini
dapat menjadi sumber bahan diagnostik untuk menguji antigen E/S Fasciola
gigantica.

(a)

(b)

Gambar 4 Hasil AGPT (3); (a) presipitasi Ig Y dengan antigen E/S Fasciola
gigantica asal domba pada (b) presipitasi Ig Y dengan antigen E/S
Fasciola gigantica asal kerbau (Ig Y terletak ditengah)

Pembentukan antibodi ayam juga dapat dipengaruhi oleh antigenitas protein
E/S F. gigantica yang disuntikkan.

Ciri pokok antigenitas suatu bahan atau

senyawa ditentukan dari limitasi fisikokimiawi serta derajat keasingan (Tizzard
2004). Limitasi kimiawi suatu bahan atau senyawa yaitu ukuran molekul antigen
harus besar, kaku dan memiliki struktur kimia yang kompleks (Kindt et al. 2007).
Struktur kimia protein E/S F. gigantica yang besar dan kompleks, akan
menghasilkan antibodi yang semakin cepat. Sifat antigenik atau imunogenik E/S
20

dari cacing golongan nematoda dan trematoda berasal dari kutikula dan tegumen
(Lightowlers dan Rickard 1988).
Proses pembentukan Ig Y bermula dari makrofag yang berfungsi sebagai
antigen presenting cell (APC) akan memfragmentasi antigen dan akan
mempresentasikan antigen tersebut ke sel limfosit melalui molekul major
histocompasibility complex (MHC) yang terletak di permukaan makrofag. Sel T
hanya bereaksi dengan antigen asing jika antigen tersebut ditampilkan pada
permukaan APC bersama-sama dengan MHC. Sel Th mengenali antigen yang
berikatan dengan molekul MHC kelas II (MHC II) dan sel Tc mengenali antigen
yang berikatan dengan molekul MHC kelas I (MHC I). MHC II akan membawa
antigen yang disajikan oleh APC kepada sel Th. Interaksi antara sel Th dan APC
akan menginduksi pengeluaran sitokin atau interleukin. Sitokin dan interleukin
berfungsi sebagai alat komunikasi antar sel.

Sitokin dan interleukin akan

menginduksi pematangan sel limfosit B menjadi sel plasma yang akan
menghasilkan antibodi (Wibawan et al. 2003)
Netralisasi antigen terja

Dokumen yang terkait

Produksi Immunoglobulin Y (Ig Y) anti -Ekskretori/Sekretori (E/S) Fasciola gigantica pada Ayam Petelur