PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA KASUS ISCHIALGIA

BAB I PENDAHULUAN Stroke merupakan penyakit yang terjadi karena terganggunya peredaran darah

  otak yang dapat menyebabkan kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan kelumpuhan bahkan kematian pada penderita stroke. Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu stroke hemoragik dan stroke non hemoragik (Batticaca, 2008).

  Menurut World Health Organization (WHO) dalam Muttaqin (2011) stroke didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan peredarah darah diotak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinik baik lokal maupun global yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang dapat menyebabkan kematian. Stroke Hemoragik merupakan perdarahan yang terjadi karena pecahnya pembuluh darah pada daerah otak tertentu dan stroke non hemoragik merupakan terhentinya sebagaian atau keseluruhan aliran darah ke otak akibat tersumbatnya pembuluh darah otak (Wiwit,2010).

  Stroke merupakan penyebab kematian ketiga setelah jantung dan kanker (Auryn, 2007). Data WHO tahun 2001 tercatat lebih dari 4,6 juta meninggal diseluruh dunia, dua dari tiga kematian terjadi di Negara berkembang (Corwin, 2009). Misbach (2004) survey kesehatan rumah tangga (SKRT) menunjukkan bahwa 37,3 per 100.000 penduduk terkena stroke, stroke merupakan penyebab kematian ketiga di Indonesia.Berdasarkan data WHO (2010) setiap tahunnya terdapat 15 juta orang di seluruh dunia menderita stroke.

  Penyakit stroke telah menjadi masalah kesehatan yang menjadi penyebab utama kecacatan pada usia dewasa dan merupakan salah satu penyebab terbanyak di dunia. Stroke menduduki urutan ketiga sebagai penyebab utama kematian setelah berkembang juga menyumbang 85,5% dari total kematian akibat stroke di seluruh dunia. Dua pertiga penderita stroke terjadi di negara yang sedang berkembang. Terdapat sekitar 13 juta korban baru setiap tahun, dimana sekitar 4,4 juta diantaranya meninggal dalam 12 bulan (WHO, 2010).

  Problem yang muncul pada hemiparese post stroke adalah penurunan kekuatan otot anggota gerak sisi kanan oleh karena terdapat kelainan di saraf pusat, terdapat gangguan keseimbangan dan koordinasi pada anggota gerak sisi kanan tubuh, terdapat spastisitas pada anggota gerak tubuh.

  Metode PNF dikembangkan pertama kali oleh dr. Herman Kabat (neurologi/ psikolog) dari Amerika Serikat pada tahun 1950-an yang kemudian dikembangkan oleh Margaret Knott (fisioterapis) dan Dorothy Voss (okupasi terapis) hingga tahun 1970-an. Pada awalnya PNF lebih ditekankan pada berbagai kasus muskuloskeletal. Tetapi kemudian dikembangkan juga untuk kasus-kasus neurologi termasuk hemiplegia (Ristoari, 2011).

  PNF artinya memberikan kemudahan terhadap gerakan melalui impulsimpuls Proprioseptik. Prinsip umumnya adalah dengan pemberian stimulasi tertentu untuk membangkitkan kembali mekanisme yang latent dan cadangan cadangannya maka akan dicapai suatu gerak fungsional yang normal dan terkoordinasi (Ristoari, 2011).

  Metode PNF dipilih karena terjadi penguatan dan gerak fungsional yang terjadi secara bersamaan, berbeda jika hanya dengan latihan konvensional yaitu penguatan dan gerak fungsional tidak terjadi secara bersamaan (Moraes et al., 2014). Pemilihan metode PNF bertujuan untuk meningkatkan kekuatan, ROM, Koordinasi, seperti halnya rehabilitasi selektif dari pembelajaran gerak dan penguatan atau memperkuat melalui pengulangan. Hal ini terjadi karena teknik PNF mencangkup 3 bidang gerak sekaligus (Moraes et al., 2014).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Kasus

1. Anatomi Fisiologi

  a. Sistem Pyramidalis Sistem pyramidalis adalah serabut-serabut saraf motoris central yang bergabung dalam suatu berkas yang berfungsi menjalankan impuls motorik yang disadari. Traktus ini membentuk pyramidal pada medulla oblongata, karena itulah dinamakan system pyramidal turun dari capsula interna dari cortex cerebri. Kurang lebih sekitar 80 % serabut-serabut ini menyilang garis tengah dalam decussatio pyramidium untuk membentuk traktus corticospinalis lateralis, sisanya turun sebagai tractus corticospinalis anterior.

  Cortex serebri dibagi menjadi dua,hemisperium kiri dan hemisperium kanan yang dihubungkan oleh corpus collasum. Cortex serebri dibagi menjadi 4 lobus,yaitu :

  1) Lobus frontalis terdiri dari area 4 yang merupakan daerah motorik yang utama,area 6 yang merupakan bagian sirkuit traktus ekstrapiramidal,area 8 berhubungan dengan pergerakan mata dan pupil,area 9,10,11 dan 12 adalah daerah asosiasi frontalis

  2) Lobus parietalis terdiri dari area 3,1, dan 2 yang merupakan daerah sensorik post sentralis yang utama,area 4 dan 7 adalah daerah asosiasi

  3) Lobus temporalis terdiri dari area 41 adalah daerah auditorius primer.area 42 merupakan cortex auditorius sekunder atau asosiasi, area 38,40,20,21,dan 22 adalah daerah asosiasi

  4) Lobus occipitalis terdiri dari area 17 yaitu cortex striata,cortex visual yang utama ,area 18 dan 19 merupakan daerah asosiasi visual (Chusid,1993)

  Pada pyramidalis berfungsi pada awal gerakan yang disusun dalam area centrochepal. Jika tractus bekerja sendirian tanpa bantuan dari system extrapyramidalis, maka gerakan yang dihasilkan akan menjadi gerakan yang tidak beraturan.

  b. Sistem Extrapiramidalis 1) Serebrum

  Mengisi bagian depan dan atas rongga tengkorak, yang masing-masing disebut fosa kranialis anterior dan fosa kranialis tengah. Serebrum terdiri atas 2 belahan (hemisfer) besar sel saraf (substansi kelabu) dan serabut saraf (substansi putih). Lapisan luar substansi kelabu disebut korteks. Kedua hemisfer otak itu dipisahkan celah yang dalam, tetapi bersatu kembali pada bagian bawahnya melalui korpus kalosum , yaitu masa substansi putih yang terdiri atas serabut syaraf. Di sebelah bawahnya lagi terdapat kelompok-kelompok substansi kelabu atau ganglia basalis.

  Fungsi serebrum. Hal ini telah disinggung dalam berbagai hal yang telah diuraikan di atas. Singkatnya adalah : Korteks serebri mengandung pusat-pusat lebih tinggi yang berfungsi mengontrol mental, tingkah laku, pikiran, kesadaran, moral, kemauan, kecerdasan, kemampuan berbicara, bahasa, dan beberapa perasaan khusus.

  Gambar 1. 2 Cerebrum

  2) Talamus Talamus menerima semua informasi sensorik yang datang (kecuali bau) dan secara berturut-turut menyampaikan informasi tersebut melalui berbagai traktus aferen ke bagian ain korteks serebri. Serabut desendens dari korteks serebri juga berjalan ke bawah menuju thalamus. Fungsi korteks serebri bergantung pada penyampaian thalamus. Talamus juga merupakan bagian dari system aktivasi reticular (RAS) , suatu kelompok neuron yang luas yang penting dalam membuat individu terjaga. Talamus menerima informasi nyeri dan menyampaikannya ke korteks serebri.

  3) Hipotalamus Hipotalamus membentuk dasar diensefalon. Hipotalamus merupakan organ saraf dan endokrin penting yang bertanggungjawab untuk mempertahankan homeostasis (kestabilan lingkungan internal). Hipotalamus mengintegrasikan dan mengarahkan informasi mengenai pengaturan suhu tubuh, lapar, dan haus, aktivitas system saraf otonom, dan status emosi. Pengaturan kadar beberapa hormone, termasuk hormone hipofisis.

  Gambar. 3. 2 Hypothalamus

  4) Ganglia Basalis Beberapa kelompok kecil substansi kelabu yang disebut ganglia atau nuclei basalis terbenam dalam massa substansi putih pada setiap hemisfer otak. Ganglia basalis tersusun dari beberapa struktur yang dapat dipisahkan secara anatomis atau fisiologis, yang mencakup nucleus kaudatus dan putamen, dan globus palidus. Struktur ini berhubungan erat dengan massa substansi kelabu yang lain, yaitu thalamus yang terletak ditengah–tengah struktur itu. Semua proyeksi ke dan dari ganglia basalis yang tidak perlu, mengontrol gerakan yang sangat terampil yang memerlukan pola dan kecepatan respons tanpa pemikiran yang disengaja.

  Gambar. 4. 2 Ganglia Basalis

  5) Batang Otak Batang otak terdiri atas otak tengah (diensefalon), pons Varoli dan medulla Oblongata. Otak tengah mengandung pusat-pusat yang mengendalikan keseimbangan dan gerakan-gerakan mata. Pons Varoli memiliki banyak serabut yang berjalan menyilang pons untuk menghubungkan kedua lobus serebelum; dan menghubungkan ke korteks serebri. Medula oblongata mengandung nucleus atau badan sel dari berbagai saraf otak yang penting. Selin itu, medulla oblongata mengandung “pusat-pusat vital” yang berfungsi mengendalikan pernapasan dan system kardio-vaskuler

  Gambar. 5. 2 Batang Otak

  6) Serebelum Serebelum adalah bagian terbesar dari otak belakang. Serebelum mempunyai hubungan dengan berbagai bagian lain system persarafan.

  Tetapi hubungannya yang terutama adalah dengan hemisfer serebri pada sisi yang lain dengan batang otak. Selain itu, serebelum menerima serabut dari sumsum tulang beakang dan berhubungan dengan pusat-pusat reflex penglihatan pada atap otak tengah (diensefalon), dengan thalamus, dengan serabut-serabut saraf pendengaran.

  Fungsi serebelum adalah mengatur sikap dan aktivitas sikap badan. Serebelum berperan penting dalam koordinasi otot dan menjaga keseimbangan. Bila serabut kortiko-spinal yang melintas dari korteks serebri ke sumsum tulang belakang mengalami penyilangan, dan dengan demikian mengendalikan gerakan sisi lain tubuh , hemisfer, serebeli mengendalikan tonus otot dan sikap pada sisinya sendiri.

  Gambar. 4. 2. Cerebellum

  c. Vaskularisasi Pada Otak

  a. Fungsi darah: membawa O2, glukose dan nutrisi lainnya serta mengangkut CO2, asam laktat dan sisa metabolisme lainnya b. Otak memiliki berat 2% dr seluruh berat badan tapi mengkonsumsi darah 15% dari curah jantung & 25% dari oksigen yang inspirasi c. Otak sangat rentan terhadap ischemik & hipoxia. Gangguan vaskuler otak dlm detik sudah menimbulkan gejala gagguan neurologis, dalam menit sudah bersifat irreversible.

  d. Ada 4 arteri utama yang mensuplai darah ke otak yaitu sepasang arteri vertebralis dan sepasang arteri karotis interna yang membentuk anyaman “circulus willisi” di dasar otak

  

Gambar. 7. 2. Vaskularisasi Otak

2. Patologi

  a. Defenisi Hemiparesis adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progesif cepat, berupa deficit neurologis fokal, atau/dan global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatic (sumber : Kapita Selekta Kedokteran JilidII).

  Hemiparesis adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran

  Kondisiadalah kondisi dimana terjadinya kelemahan pada sebelah atau sebagian kanan/kiri tubuh (Lengan, tungkai dan wajah) yang berlawanan dengan lesi yang terjadi di otak.

  b. Etiologi 1) Hemiparese Post NHS Kebanyakan stroke yang terjadi merupakan stroke iskemik.

  Penyebab stroke iskemik adalah penyumbatan aliran darah.Penyumbatan dapat terjadi karena penumpukan timbunan lemak yang mengandung kolesterol (sisebut plak) dalam pembuluh darah besar (arteri karotis) atau pembuluh darah sedang (arteri serebri) atau pembuluh darah kecil. Penyumbatan pada pembuluh darah kecil tidak memberikan dampak stroke yang parah. Biasanya disebut infarction lacunar.

  Plak menyebabkan dinding dalam arteri menebal dan kasar sehingga aliran darah tidak lancar , mirip aliran darah yang terhalang oleh batu. Berbeda dengan air, darah yang kental akan tertahan dan menggumpal (thrombosis), sehingga aliran darah menjadi semakin lambat. Akibatnya, otak akan mengalami kekurangan pasokan oksigen. Jika kelambatan pasokan oksigen ini berlarut, sel-sel jaringan otak akan mati. Tidak heran ketika bangun tidur, korban stroke akan merasa sebelah badannya kesemutan. Hal itu terus berlanjut pada hari yang sama, sehingga ia akan menjadi lemas dan lumpuh. Mungkin juga kelumpuhan itu sudah terjadi di saat ia masih tertidur, sehingga waktu bangun ia sudah tidak bisa apaapa lagi.

  Ditinjau dari lokasi terbentuknya gumpalan, stroke iskemik otak dan stroke trombotik yaitu bila terjadi pada arteri otak. Stroke embolik seringkali terjadi di jantung dan kemudian terbawa oleh aliran darah hingga kepembuluh di otak. Meskipun beruuran kecil, gumpalan tersebut dapat menyumbat pembuluh darah di otak. Pada stroke trombotik, gumpalan baru terbentuk dalam pembuluh darah di otak dan setelah sekian waktu gumpalan tersebut akan membesar hingga menyumbat aliran darah. 2) Hemiparese Post HS

  Sekitar 20 persen kasus stroke lainnya terjadi karena salah satu ruangruang pada sel-sel otak serta merusak jaringan otak di sekitarnya (intracerebral hemorrhage). Ada pula pendarahan yang terjadi dalam ruangan sekitar otak (subarachnoid hemorrhage). Dampaknya paling mencelakakan, karena cairan yang mengelilingi otak (cerebrospinal) akan mengalir mengelilingi otak dan menyebabkan pembuluh darah di sekitarnya menjadi kejang sehingga menyumbat pasokan darah ke otak. Karena itulah, subarachnoid hemorrhage dapat meninggalkan dampak kelumpuhan yang sangat luas, bahkan risiko kematian sekitar 50 persen.

  Salah satu penyebab stroke hemoragik adalah penyumbatan pada dinding pembuluh darah yang rapuh (aneurisme), mudah menggelembung, dan rawan pecah, yang umumnya terjadi pada usia lanjut atau karena factor keturunan (genetik). Tetapi, yang paling umum, kerapuhan terjadi karena mengerasya dinding pembulih darah akibat tertimbun plak atau dikenal sebagai arteiosklerosis. Keadaan ini akan lebih diperburuk bila terdapat gejala hipertensi dan stress. Pembuluh darah yang sudah rengas dengan sendirinya akan mudah misalnya saat seseorang sedang melakukannn latihan olah raga berat atau mengalami perubahan emosi yang berat. Stroke yang terjadi pada usia muda biasanya adalah tipe hemoragik ini. Penyebab lain stroke hemoragik adalh akibat kekusutan pembuluh darah (ateriovenous malformation) atau adanya pembuluh kapiler yang kurang berfungsi, yaitu tidak letur lagi dan mudah pecah.

  Gambar 8. 2 stroke iskemik (biru), stroke hemorage (pink)

  c. Tanda dan Gejala

  Adapun tanda-tanda dan gejala yang terdapat pada hemiparese disesuaikan dengan stadiumnya, yaitu:

  1) Stadium akut Paralisis, pupil mata melebar. Kadang satu pupil lebih lebar dari yang lain disebabkan oleh paralysis dari iris/otot mata, denyut jantung dan nadi tidak teratur biasanya lambat. Anggota gerak yang terkena menjadi fleksid paralysis, semua reflek hilang. Pada stadium ini terjadi penurunan kesadaran yang dinamakan opopletik fit. Serangan ini dapat didahului dengan sakit kepala, pusing tapi kadang-kadang tanpa keluhan, maka penderita menjadi pucat, nafas bersuara berat karena saluran nafas terhalang oleh lidah.

  2) Stadium recovery Stadium ini dimulai dengan tanda pulsa/denyut nadi menjadi lebih cepat, temperatur/suhu tubuh naik, penderita gelisah, mudah terkejut dan kadang sulit tidur. Sistem reflek kembali seperti semula pada system sehat, otot yang mengalami fleksid paralisis menjadi spastik. Kebanyakan otot yang terserang berada dalam keadaan fleksid untuk beberapa hari sampai 2 atau 3 minggu, terutama pada daerah lengan dan jari tangan.

  3) Stadium spastisitas Keadaan otot dan reflek sudah mulai kembali, tetapi berlebihan, timbul ankle klonus dan reflek patologi (babinski sign). Lengan masih dalam keadaan serangan yang lebih berat dibanding dengan tungkai dan wajah. Biasanya lengan terfiksir melekat pada badan dengan posisi adduksi shoulder, semi fleksi elbow, lengan bawah pronasi, wrist dan finger fleksi ini merupakan posisi karakteristik. Tungkai terfiksir pada ibu jari oposisi, posisi lutut ekstensi, plantar fleksi, eksternal rotasi dan mengalami drop foot. Bila wajah yang terkena serangan, dampaknya lebih ringan dan yang terkena adalah wajah bagian bawah. Lidah akan membelok ke samping d. Proses Patologi Gangguan Gerak dan Fungsi Secara umum penyebab hemiparese akibat stroke. Stroke karena adanya pendarahan di otak (stroke haemorrage) dan adanya penyumbatan di pembuluh darah di otak (stroke non haemorrage). Pada stroke hemoragik dengan perdarahan intraserebral, yang paling sering terjadi akibat cedera vaskuler yang dipicu oleh hipertensi dan rupture salah satu dari banyak arteri kecil yang menembus jauh ke dalam jaringan otak (Hartwig S M, 2002).

  Perdarahan intraserebral biasanya timbul pada ganglia basalis, talamus, lobus serebri, batang otak dan serebelum. Kerusakan jaringan primer dan distorsi terjadi saat pembentukan hematom pada waktu darah menyebar diantara celah substansia alba. Perdarahan umumnya timbul akibat rupturnya arteri kecil oleh efek degenerative dan hipertensi kronik.

  Gambar. 9. 2. Stroke Hemorrhage

  Onset dari gejala biasanya bersifat akut, dengan sakit kepala dan juga penurunan kesadaran. Gejala lain tergantung pada ukuran dan lokasi dari hemoragik. Satu jenis hemoragik yang harus segera diketahui pada evaluasi awal adalah cerebral hemoragik, karena dapat menyelamatkan jiwa. Cerebral hemoragik berarti perdarahan yang masuk ke dalam cerebellum, di mana Gejalanya biasanya berupa kehilangan keseimbangan atau kepeningan, dan inkoordinasi (terutama masalah saat berjalan), sakit kepala, nausea dan vomiting. Pada perdarahan subaraknoid biasanya disebabkan oleh aneurisma atau malformasi vaskuler. Gejalanya klinis klasik dari perdarahan subaraknoid adalah sakit kepala mendadak yang sakit dan menyiksa, perubahan kesadaran, nausea dan vomiting. Gejala lain tergantung pada lokasi dan ukuran dari perdarahan hemoragik (Brass M Lawrence, 1997).

  B. Tinjauan Tentang Assesment dan Pengukuran Fisioterapi

  C. Tinjauan Tentang Intervensi Fisioterapi

1. Stimulasi Elektris

  Stimulasi elekstris atau Electrical Stimulation adalah salah satu modalitas fisioterapi dengan menggunakan arus listrik untuk mengontraksikan salah satu otot ataupun grup otot (Inverarity, 2005). Jenis alat listrik yang bisa digunakan Interrupted Direct Current, Interferensi dan TENS (Kuntono, 2007).

  Sistem saraf pusat mempunyai kemampuan yang sangat progress untuk penyembuhan dari cidera atau injury melalui proses collateral

  sprouting dan synaptic reclamation. Neural plasticity merupakan hal yang

  yang penting untuk mendidik kembali fungsi otot dan aplikasi fasilitasi. Pada stroke dengan spastisitas, electrical stimulation akan mengurangi spastisitas melalui mekanisme reciprocal inhibition, yaitu kemampuan otak untuk memodifikasi dan mereorganisasi fungsi yang mengalami cidera atau injury atau kerusakan disebut dengan neural plasticity. Pada fase ini adalah awal perbaikan fungsional neurology berupa perbaikan primer oleh penyerapan kembali oedema di otak dan membaiknya sistem vaskularisasi. Kemampuan

  (bahaya-bahaya) melalui penyatuan neural kembali yang dikelompokkan menjadi :

  a. Collateral Sprouting

  Merupakan respon neuron daerah yang tidak mengalami cedera dari sel-sel yang utuh ke daerah yang denervasi setelah cedera. Perbaikan sistem saraf pusat dapat berlangsung beberapa bulan atau tahun setelah cedera dan dapat terjadi secara luas di otak.

  b. Unmasking Dalam keadaan normal banyak akson dan sinaps yang tidak aktif.

  Apabila jalur utama mengalami kerusakan maka fungsinya akan diambil oleh akson dan sinaps yang tidak aktif tadi. Menurut Wall dan Kabat, jalur sinapsis mempunyai mekanisme homeostatik, dimana penurunan masukan akan menyebabkan naiknya eksitabilitas sinapsnya.

  c. Diaschisia (Dissipation of diachisia)

  Diaschisia (Dissipation of diachisia) keadaan dimana terdapat hilangnya kesinambungan fungsi atau adanya hambatan fungsi dari traktus-traktus sentral di otak.

  Tujuan pemberian electrical stimulation pada pasien stroke adalah sebagai mucle re-edukasi dan facilitation. Stimulasi elektris pada prinsipnya harus menimbulkan kontraksi otot, sehingga akan merangsang golgi tendon dan muscle spindle. Rangsangan pada muscle spindle dan golgi tendon akan diinformasikan melalui afferent ke susunan saraf pusat sehingga akan mengkontribusikan fasilitasi dan inhibisi. Rangsangan elektris yang berulang- ulang akan memberi informasi ke supraspinal sehingga terjadi pola gerak terintegrasi dan menjadi gerakan-gerakan pola fungsional. Selain itu juga memberikan fasilitasi pada otot yang lemah dalam melakukan gerakan (Kuntono, 2007).

2. Terapi Latihan

  Terapi latihan atau exercise therapy merupakan salah satu usaha pengobatan dalam fisioterapi yang dalam pelaksanaannya mengunakan latihanlatihan gerakan tubuh baik secara aktif maupun pasif (Priatna, 1985). Dengan di berikan terapi latihan dapat menjaga dan meningkatkan kekuatan otot, menjaga dan meningkatkan lingkup gerak sendi, mencegah kontraktur, mencegah atrofi otot, serta memajukan kemampuan penderita yang telah ada untuk dapat melakukan gerakan-gerakan yang berfungsi serta bertujuan, sehingga dapat beraktifitas normal.

  Metode terapi latihan yang umumnya digunakan pada kondisi hemiparese adalah metode PNF dan metode Bobath

a. Propioceptif Neuromuscular Facilitation (PNF)

  PNF adalah fasilitasi pada sistem neuromuscular dengan merangsang propioceptif (reseptor sendi). Metode ini berusaha memberikan rangsangan-rangsangan yang sesuai dengan reaksi yang dikehendaki, yang pada akhirnya akan dicapai kemampuan atau gerakan yang terkoordinasi. Dengan pola gerakan aktivitas yang bersifat spiral dan diagonal. Gerakan ini menyerupai atau sesuai dengan gerakan-gerakan yang digunakan dalam olah raga dan aktivitas sehari-hari. Sifat spiral dan diagonal tersebut juga sesuai dengan karakteristik susunan system skeletal, sendi-sendi, dan struktur ligament yang sifatnya juga spiral dan memutar. Tiap diagonal terdiri dari pola-pola yang saling berlawanan satu dengan yang lain. Tiap pola mempunyai komponen besar yaitu flexi dan extensi (Kuntono,2002). Teknik-teknik yang digunakan adalah

  b. Rhythmical Initiation

  Tekhnik yang dipakai untuk agonis yang menggunakan gerakan- gerakan pasif, aktif, dan degan tahanan. Tujuan diberikan latihan ini : 1) Untuk normalisasi kecepatan gerak 2) Untuk sebagai permulaan gerak atau mengarahkan gerak.

  3) Untuk perbaikan koordinasi gerak dan rasa gerak. 4) Untuk relaxasi dan belajar tentang gerak

  c. Timing For Emphasis

  Bentuk gerakan dimana bagian yang lemah dari gerakan mendapat ekstra stimulasi bagian yang lebih kuat. Tujan diberi latihan ini :

  1) Untuk penguatan otot bagan dari satu pola gerak 2) Untuk mobilisasi

  d. Slow Reversal

  Teknik dimana kontraksi isotonic dilakukan bergantian antara agonis dan antagonis tanpa terjadi pengendoran otot. Tujuan diberikan latihan ini: 1) Untuk perbaikan mobilisasi.

  2) Untuk menaikkan tingkat relaxasi.

  4) Untuk belajar gerakan, 5) Untuk perbaikan koordinasi.

  6) Untuk meningkatkan daya tahan.

  e. Bobath

1) Pengertian bobath Metode bobath diperkenalkan oleh Karel dan Bertha bobath.

  Metode ini digunakan sebagai aplikasi assessment dan penanganan pada penderita stroke dan kondisi-kondisi neurologi lainnya, kususnya susunan saraf pusat. Prinsip bobath adalah teori plastisitas otak dan dengan merangsang terus menerus dapat membangkitkan sel-sel saraf otak yang tertidur.

  Metode bobath pada awalnya memiliki konsep perlakuan yang didasarkan atas inhibisi aktivitas abnormal reflex dan pembelajaran kembali gerak normal, melalui penanganan manual dan fasilitasi. Dengan perkembangan ilmu dan teknologi, maka konsep bobath juga mengalami perkembangan dimana penggunakan pendekatan problem solving dengan cara pemeriksaan dan tindakan secara individual yang diarahkan pada tonus, gerak dan fungsi akibat lesi pada system saraf pusat.

2) Tujuan intervensi bobath

  Tujuan dari intervensi metode bobath adalah optimalisasi fungsi dengan peningkatan kontrol postural dan gerakkan selektif melalui fasilitasi, sebagaimana yang dinyatakan oleh IBITA tahun 1995.

  Tujuan yang akan dicapai dengan konsep bobath:

  a) Melakukan identifikasi pada area-area spesifik otot-otot antigravitasi yang mengalami penurunan tonus.

  b) Meningkatkan kemampuan input propioceptive.

  c) Melakukan identifikasi tentang gangguan fungsi setiap individu dan mampu melakukan aktivitas fungsi yang efesien ”normal”.

  d) Fasilitasi specific motor activity.

  e) Minimalisasi gerakan kompensasi sebagai reeaksi dari gangguan gerak.

  f) Mengidentifikasi kapan dan bagaimana gerakan menjadi lebih efektif

3) Prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam intervensi bobath.

  a) Pola Gerakan  Gerakan yang ada dalam suatu pola yang telah dikontrol oleh system persarafan, yaitu saraf pusat (bukan gerakan perotot).

   Gerakan yang dilakukan untuk meningkatkan aktivitas anak dilakukan berdasarkan pada pola gerakan dan perkembangam normal.

   Dilakukan pada gerakan yang dikarenakan oleh

   Kompensasi / adaptasi terhadap abnormalitas. Tujuan penerapan bobath : o Seluruh gerakan diajarkan dalam kondisi yang normal atau kondisi yang mendekati normal. o Meningkatkan kwalitas dari gerakan. o Harus memahami pola – pola gerakan yang abnormal untuk menimbulkan lebih banyak pola gerakan yang normal.

  b) Konsep / prinsip kerja terapi bobath, meliputi ; o Fasilitasi Suatu bentuk bantuan yang diberikan untuk memudahkan pasien dalam melaksanakan aktivitasnya sehari – hari, hal ini dapat dikakukan dengan tehnik posisioning. Fasilitasi adalah salah satu cara yang menggunakan kontrol sensory dan proprioceptive untuk mempermudah gerakan. Pemberian fasilitasi adalah bagian dari satu proses belajar secara aktif (IBITA 1997) dimana individu memungkinkan untuk mengatasi inersia, inisiatif, melanjutkan atau menyelesaikan satu tugas fungsional. Pemberian fasilitasi digunakan untuk membantu individu dalam pemecahan masalah, memungkinkan dia untuk melakukan gerakan yang sebaik mungkin selama bekerja. Memberikan kinerja fasilitasi -terhadap performance bisa ditingkatkan dengan pengulangan dalam latihan.

  Pada pendekatan bobath maka fisioterapi memberikan fasilitasi normal dan bukan pasif, karena dari gerak aktif pasien yang akan memungkinkan terjadinya proses pembelajaran motorik pada pasien. Salah satu yang dapat diberikan yaitu pegangan fisioterapi dalam bentuk lumbrikal. Dengan posisi lumbrikal maka informasi yang diberikan oleh fisioterapi saat melakukan fasilitasi gerakan akan lebih mudah untuk dimengerti pasien. Selain itu juga posisi lumbrikal akan meminimalisasikan support saat gerak dilakukan, sehingga member kecenderungan pasien bergerak secara lebih aktif.

  o Stimulasi

  Merupakan suatu bentuk pemberian rangsangan yang terdiri dari dua bentuk antara lain ;  Stimulasi verbal (dengan aba – aba, suara/bunyi – bunyian)  Stimulasi non verbal (menggunakan rangsang taktil dan propioseption).

  o Stability

  Merupakan salah satu bagian dari teknik terapi yang bertujuan untuk membentuk stability untuk mengurangi gerakan yang abnormal. Stabilisasi yang diberikan antara lain postural stability dan proximal stability.

BAB III PROSES FISIOTERAPI A. Identitas Umum Nama : Tn. D Usia : 43 Tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Jalan Damai Agama : Islam Pekerjaan : Wiraswasta B. Anamnesis Khusus

  1. Keluhan Utama : Kelemahan

  2. Letak Keluhan : Lengan dan tungkai sisi kiri 3. Kapan Terjasi : Sejak 11 bulan yang lalu.

  4. Riwayat Perjalanan Penyaktit : Kurang lebih 11 bulan yang lalu pasien mengalami stroke kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk menerima perawatan. Setelah mengalami stroke pasien kemudian merasakan kelemahan pada lengan dan tungkai kirinya.

  5. Riwayat Penyakit Sekarang : Hipertensi

  6. Riwayat Penyakit Dahulu : -

C. Pemeriksaan Vital Sign

  1. Tekanan Darah : 120/70 mmHg

  3. Pernafasan : 20 kali per menit

  o

  4. Suhu : 36 C

  D. Inspeksi/Observasi

  1. Statis :

  a. Tremor pada tangan b. Ekstremitas atas tampak fleksi elbow + pronasi.

  c. Ekstremitas tampak eksternal hip.

  2. Dinamis : Saat berjalan pasien cenderung bertumpu pada sisi yang sehat dan kaki yang mengalami kelemahan memutar keluar saat melangkah ke depan.

  E. Pemeriksaan Spesifik & Pengukuran Fisioterapi

  a. Tes Kognitif : Pasien di ajak berbicara dengan memberikan beberapa pertanyaan.

  Hasil : Pasien merespon dan menjawab setiap pertanyaan yang diberikan dengan baik.

  b. Pemeriksaan Manual Muscle Testing (MMT) :

  Tabel. 1. 3. Hasil dari pemeriksaan MMT

  Gerakan Nilai Gerakan Nilai Fleksor Shoulder

  3 Radial Deviation

  3 Ekstensor Shoulder

  3 Ulnar Deviation

  3 Adduktor Shoulder

  3 Ekstensor Hip

  4 Fleksor Elbow

  3 Abduktor Hip

  4 Ekstensor Elbow

  3 Adduktor Hip

  4 Fleksor Wrist

  3 Dorso fleksi

  4 Ekstensor Wrist

  3 Plantar fleksi

  4 Hasil :

  a. Ekstremitas atas sinistra : Adanya kontraksi otot, adanya pergerakan sendi full ROM dan mampu melawan gravitasi b. Ekstremitas bawah sinistra : Adanya kontraksi otot, adanya pergerakan sendi full ROM, mampu melawan gravitasi dan tahanan minimal.

  c. Tes Tonus Otot (Skala ASWORTH): Grade Keterangan

  Tidak ada peningkatan tonus otot

  1 Ada peningkatan sedikit tonus otot, ditandai dengan terusnya tahanan minimal pada akhir ROM pada waktu sendi digerakkan fleksi atau ekstensi

  2 Ada peningkatan sedikit tonus otot, ditandai dengan adanya pemberhentian gerakan pada pertengan ROM dan adanya tahanan minimal sepanjang sisa ROM

  3 Peningkatan tonus otot lebih nyata sepanjang sebagian besar ROM tapi sendi masih mudah digerakkan

  4 Peningkatan tonus otot sangat nyata sepanjang ROM, gerak pasif sulit dilakukan

  5 Sendi atau ekstremitas kaku/rigid pada gerakan fleksi atau ekstensi Hasil : Ada peningkatan sedikit tonus otot, ditandai dengan terusnya tahanan minimal pada akhir ROM pada waktu sendi digerakkan fleksi atau ekstensi (Tonus Otot nilai 1)

  d. Refleks Fisiologis :

  1) Biceps Refleks

  Fisioterapi memegang lengan pasien yang di semiflexikan sambil menempatkan ibu jari di atas tendon m. Biceps, lalu ibu jari diketuk Hasil : Positif

  2) Tricep Refleks

  Fisioterapi memegang lengan bawah pasien yang di semiflexikan.Setelah itu, ketok pada tendon m. Triceps, yang berada sedikit di atas olekranon. Hasil : Positif

  3) Knee pess Refleks

  Tungkai diflexikan dan digantungkan, lalu ketok pada tendon m Quadriceps Femoris (dibawah patella pada tuberositas tibia) Hasil : Positif

  4) Achilles pess Refleks

  Tungkai bawah diflexikan sedikit, kemudian Fisioterapi memegang kaki pada ujungnya untuk memberikan sikap dorsoflexi ringan pada kaki setelah itu tendon Achilles di ketuk e. Refleks Patologis 1) Babinsky

  Hasil : Positif 2) Chaddock

  Hasil : Negatif 3) Gordon

  Hasil : Negatif 4) Oppenheim

  Hasil : Negatif

  f. Tes Sensorik Hasil : Pasien dapat merasakan

  g. Tes Koordinasi 1) Tes Finger to Nose Hasil : sulit dilakukan pada ekstremitas yang lemah.

  2) Tes Finger to Finger Terapist Hasil : mampu dilakukan

  3) Tes Heel to Knee, Heel to Toe Hasil :

  h. Tes Keseimbangan

  1) Berdiri tanpa support dengan mata tertutup.

  Instruksi :Silahkan berdiri dengan tutup mata selama 10 detik. 0 : membutuhkan bantuan untuk menjaga supaya tidak jatuh 1 : tidak bisa dengan menutup mata selama 3 detik tetapi mampu berdiri tegak 2 : mampu berdiri selama 3 detik 3 : mampu berdiri selama 10 detik dengan pengawasan 4 : mampu berdiri selama 10 detik dengan aman

  Hasil : Nilai 2, mampu berdiri selama 3 detik

  2) Berdiri tanpa support kedua kaki rapat Instruksi : silahkan merapatkan kaki dan berdiri tanpa pegangan selama 1 menit.

  0: membutuhkan bantuan saat berdiridan tidak mampu bertahan selama 15 detik 1 : membutuhkan bantuan saat berdiri dan mampu berdiri selama 15 detik 2 : tidak mampu berdiri selama 30 detik 3 : mampu berdiri selama 1 menit dengan pengawasan 4 : mampu berdiri selama 1 menit secara aman Hasil : Nilai 4, mampu berdiri selama 1 menit secara aman.

  3) Duduk tanpa bersandar tetapi kaki bertumpu ke lantai Instruksi : Silahkan duduk dengan tangan terlipat di perut.

  0 : tidak dapat duduk selama 10 detik tanpa bantuan 1 : dapat duduk selama 10 detik 2 : dapat duduk selama 30 detik 3 : dapat duduk selama 2 menit dengan pengawasan

  

Hasil : Nilai 4, dapat duduk dengan aman selama 2 menit

  4) Berdiri dari posisi duduk Instruksi : Silahkan berdiri. Coba untuk tidak menggunakan tangan.

  0 : memerlukan bantuan dua tangan untuk berdiri 1 : memerlukan bantuan satu tangan untuk berdiri 2 : dapat berdiri menggunakan tangan setelah mencoba beberapa kali 3 : dapat berdiri secara independen dan menggunakan tangan 4 : dapat berdiri tanpa menggunakan tangan dan mantap secara independent.

  Hasil : Nilai 4, dapat berdiri tanpa menggunakan tangan dan mantap secara independent.

  i. Tes Pemeriksaan Fungsional

  Menggunakan Index Barthel

  Aktivitas Score Makan dan Minum

   Tidak dapat dilakukan sendiri  Membutuhkan bantuan

  10  Dapat melakukan sendiri Bathing (Mandi )

   Bergantung sepenuhnya

  10  Memerlukan bantuan, tapi tidak sepenuhnya  Dapat melakukan sendiri atau mandiri Grooming ( Perawatan diri)

  5  Membutuhkan bantuan perawatan  Memerlukan bantuan, tapi tidak sepenuhnya

   Mandiri Dressing ( Berpakaian )  Bergantung sepenuhnya

  10  Memerlukan bantuan,tapi tidak sepenuhnya  Mandiri Fecal ( Buang air besar )

   Inkontinensi  Kadang terjadi inkontinensi

  10  Bisa mengontrol agar tidak inkontinensi Urinary (Buang air kecil )  Inkontinensi memerlukan katerisasi

  10  Kadang terjadi inkontinensi  Bisa mengontrol agar tidak inkontinensi Toileting  Bergantung sepenuhnya

  10  Memerlukan bantuan  Mandiri Transfering  Tidak mampu,tidak ada keseimbangan duduk  Memerlukan bantuan

  10  Memerlukan bantuan minimal  Mandiri Walking  Immobile atau > 50 yard  Menggunakan kursi roda secara mandiri

  10  Berjalan dengan bantuan seseorang  Mandiri sepenuhnya

   Tidak mampu  Memerlukan bantuan

   Mandiri Total : 95 Penilaian 0-20 = Ketergantungan Penuh 21-61 = Ketergantungan Berat 62-90 = Ketergantungan Moderat 91-99 = Ketergantungan ringan 100 = Mandiri

  Hasil yang diperoleh pasien masih ketergantungan ringan

F. Diagnosa dan Problematik Fisioterapi (Sesuai Konsep ICF)

  1. Diagnosa Fisioterapi “Gangguan Muscle Power & Muscle Tonus Sisi Sinistra Et Causa Hemiparese Post Non Hemorrhage Stroke”.

  2. Problematika Fisioterapi

  a. Impairment (Body Structure & function) 1) Adanya kelemahan pada lengan dan tungkai kiri 2) Gangguan tonus otot

  b. Activity Limitation 1) Kesulitan dalam berjalan 2) Kesulitan dalam mengambil dan menggenggam benda

  c. Participation Retriction

  2) Hambatan dalam melakukan pekerjaannya sehari-hari

  G. Tujuan Intervensi Fisioterapi

  1. Tujuan jangka pendek

  a. Memperkuat otot lengan dan tungkai kiri

  b. Menurunkan tonus

  c. Memperbaiki pola berjalan

  2. Tujuan jangka Panjang Mengembalikan kemampuan fungsi gerak pasien

  H. Program Intervensi Fisioterapi

  1. Infra Red Rays

  a. Tujuan : untuk melancarkan sirkulasi darah, meningkatkan metabolisme jaringan dan elastisitas jaringan otot.

  b. Teknik : posisi tidur terlentang, kemudian di lakukan pemasangan alat dan arahkan ke lengan dan tungkai.

  c. Time : 10 Menit

  2. Electrical Stimulasi

  a. Tujuan : Merangsang otot dan saraf berkontraksi

  b. Teknik : posisi tidur terlentang, lalu di lakukan pemasangan alat, kemudian pad diletakkan di lengan, setelah itu pad dipindahkan ke tungkai. c. Time : 10 menit

  3. Active Exercise

  a. Tujuan : Mempertahankan sifat fisiologis otot

  b. Teknik : Pasien diminta untuk menggerakkan lengan dan tungkai secara mandiri.

  c. Dosis : 8x repetisi

  4. Passive Exercise

  a. Tujuan : Mempertahankan sifat fisiologis otot

  b. Teknik : Fisioterapi menggerakkan lengan dan tungkai pasien

  c. Dosis : 8x repetisi

I. Evaluasi Fisioterapi J. Follow-Up K. Edukasi

  Menganjurkan dan memberikan contoh kepada pasien untuk mengerakkan lengan dan tungkai sisi kiri agar sifat fisiologis otot tetap baik

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Hemiparesis adalah istilah medis untuk menggambarkan suatu kondisi

  adanya kelemahan pada salah satu sisi tubuh atau ketidakmampuan untuk menggerakkan anggota tubuh pada satu sisi. Istilah ini berasal dari kata hemi yang berarti separuh, setengah, atau satu sisi dan paresis yang berarti kelemahan.

  Penyebab utama terjadinya hemiparesis adalah adanya kerusakan otak pada salah satu sisi. Kerusakan otak pada sisi tertentu akan menyebabkan terjadinya kerusakan anggota tubuh pada sisi yang berlawanan. Kerusakan otak yang paling utama disebabkan oleh stroke. Stroke adalah gangguan peredaran darah di otak, bisa berupa perdarahan atau penyumbatan. Lokasi peredaran darah mana yang terganggu di otak menentukan bagian tubuh yang akan mengalami gangguan. Gangguan peredaran darah di otak sebelah kanan akan mengakibatkan gangguan pada tubuh sisi sebelah kiri, sedangkan gangguan peredaran darah di otak sebelah kiri akan mengakibatkan gangguan pada tubuh sisi sebelah kanan.

  Dengan melakukan terapi dengan baik, maka pasien yang mengalami hemiparesis dapat sembuh dengan baik. Ada yang mengalami perbaikan, ada juga yang sampai benar-benar sembuh total. Hal tersebut tergantung dari derajat keparahan sebelumnya dan intensitas terapi yang dilakukan.

B. Saran

  1. Bagi fisioterapis : sebelum melakukan tindakan terapi hendaknya melakukan pemeriksaan yang teliti, sistematis dan terarah sehingga diperoleh informasi yang lengkap mengenai permasalahan yang dihadapi pasien.

  2. Bagi keluarga pasien : perlunya keteribatan dan dukungan dari keluarganya selama proses terapi atau penyembuhan agar pasien merasa semangat dalam proses terapi atau penyembuhan

  3. Bagi pasien : agar selalu melakukan latihan-latihan yang dicontohkan oleh fisioterapis. Dan selalu menggunakan lengan dan tungkai kiri untuk beraktivitas. Dengan begitu dapat menjaga serta memelihara fungsi lingkup gerak sendi pasien.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Wijayanti .E,P . 2009. Penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi hemiparese dextra post stroke hemoragik di RSUP Dr Kariadi Semarang. KTI.Surakarta: Universitas muhammadiyah Surakarta.

  2. Puspita.N,P. 2017. Penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi hemiparese dextra di RSUP Dr Morowardi Surakarta.KTI.Surakata: Universitas

  3. Anisa.I,V.2012. Penatalaksanaan fisioterapi pada kondisi hemiparese dextra post stroke hemoragik stadium recovery dengan metode re-learning programme di RSAL Ramelan Surabaya. KTI.Surakarta: Universitas muhammadiyah Surakarta.

  4. Arisuma.D.2008 . Penatalaksanaan terapi latihan pada kasus hemiparese post stroke hemoragik dextra di RSUD Sragen. KTI.Surakarta: Universitas muhammadiyah Surakarta.

  5. Putra.A,K.2015.Hemiparese.artikel.dapur fisio.

  6. Sulfandy.2012.PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI PADA GANGGUAN FUNGSIONAL LENGAN DAN TUNGKAI SISI SINISTRA AKIBAT HEMIPARESE POST STROKE HEMORAGIC STROKE.artikel.

  7. Djohan Aras,Hasnia Ahmad,Andy Ahmad,The new concept of physical therapist Test and Measurement,Makassar.2016

Dokumen yang terkait

Dokumen baru