PENGARUH MYOFASCIAL RELEASE DAN STRETCHING TERHADAP PENURUNAN NYERI FASCIITIS PLANTARIS PADA SALES Pengaruh Myofascial Release Dan Stretching Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis Plantaris Pada Sales Promotion Girls Pengguna High Heels di Matahari Departme

(1)

PENGARUH MYOFASCIAL RELEASE DAN STRETCHING TERHADAP PENURUNAN NYERI FASCIITIS PLANTARIS PADA SALES

PROMOTION GIRLS PENGGUNA HIGH HEELS DI MATAHARI DEPARTMENT STORE SOLO SQUARE

SURAKARTA

PUBLIKASI ILMIAH

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Program Studi S1 Pada Jurusan Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan

Disusun oleh : RIZA MUFTI SEPTIANI

J 120151125

PROGRAM STUDI S1 FISIOTERAPI TRANSFER FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2016


(2)

(3)

(4)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam naskah publikasi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar keserjanaan di suatu perguruan tinggi dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila kelak terbukti dalam pernyataan saya di atas, maka akan saya pertanggung jawabkan sepenuhnya.

Surakarta, 11 Agustus 2016 Penulis

Riza Mufti Septiani J120151125


(5)

PENGARUH MYOFASCIAL RELEASE DAN STRETCHING TERHADAP PENURUNAN NYERI FASCIITIS PLANTARIS PADA SALES PROMOTION GIRLS PENGGUNA HIGH HEELS DI MATAHARI

DEPARTMENT STORE SOLO SQUARE SURAKARTA

ABSTRAK

Latar Belakang: Fasciitis plantaris adalah suatu kondisi terjadinya peradangan yang terjadi akibat overstretch pada Fascia plantaris. Fascia plantaris (aponeurosis) adalah serabut fibrosus dari jaringan ikat yang berasal dari tuberositas medial kalkaneus berjalan longitudinal ke metatarsophalangeal joint membentuk arkus longitudinal medial pada kaki.

Tujuan Penelitian: untuk megetahui pengaruh pemberian Myofascial Release dan Stretching terhadap penurunan nyeri Fasciitis plantaris pada Sales Promotion Girls pengguna High heels di PT. Matahari Solo Square Surakarta.

Metode Penelitian: Jenis penelitian ini adalah Eksperiment, dengan menggunakan pendekatan Quasi Eksperiment atau Eksperiment semu karena semua variabel tidak semua dikontrol oleh peneliti dengan desain penelitiannya adalah Pre and Post test with two Group Desain. Hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan program SPSS. Uji pengaruh dengan menggunakan Wilcoxon test sedangkan uji beda pengaruh dengan menggunakan Mann Whitney. Hasil Penelitian: Pada kelompok I adanya pengaruh Myofascial Release terhadap penurunan nyeri dengan nilai signifikan p=0,006 (p<0,05). Sedangkan pada kelompok II adanya pengaruh Stretching terhadap penurunan nyeri dengan nilai signifikan p=0,002 (p<0,05). Pada uji beda pengaruh antara Myofascial Release dan Stretching didapatkan nilai p=0,007 (p<0,05).

Kesimpulan: Ada pengaruh yang signifikan pemberian myofascial release dan stretching terhadap penurunan nyeri fasciitis plantaris. Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara pemberian myofascial release dengan stretching terhadap penurunan nyeri fasciitis plantaris. Stretching lebih baik di dalam menurunkan nyeri pada pasien fasciitis plantaris dibandingkan dengan Myofascial release. Kata Kunci: Fasciitis Plantaris, Myofascial Release, Stretching.

ABSTRACT

Latar Belakang : Fasciitis plantaris is a condition of inflammation that results from the occurrence of overstretch in the Fascia plantaris. Plantaris (aponeurosis) fascia is fibers fibrosus of connective tissue that is derived from the medial calcaneus tuberosity runs longitudinally to the metatarsophalangeal joint medial longitudinal arkus forming in the legs.


(6)

Research Objectives : to know how the granting of Myofascial Release and Stretching against a decrease in pain Fasciitis plantaris on Sales Promotion Girls High heels user PT. Matahari Square Solo, Surakarta

Research Methods : This type of research is alphabets experiment, using the approach of Quasi alphabets experiment or pseudo alphabets experiment because all variables are not all controlled by researchers with the research design is a Pre and Post test with two Group design. The research results were analyzed using the SPSS program. Test of influence by using the Wilcoxon test while the test different influences using Mann Whitney

Research Results : On the existence of the Group I the influence of Myofascial Release against a decrease in pain with significant value p = 0.006 (p < 0.05). While in Group II the presence of the influence of Stretching against a decrease in pain with significant value p = 0.002 (p < 0.05). On the influence of different test between Stretching and Myofascial Release obtained the value of p = 0.007 (p < 0.05).

Conclusion : There is a significant influence on the awarding of myofascial release and stretching against a decrease in pain fasciitis plantaris. There is a difference significant influence between the granting of myofascial release with stretching against a decrease in pain fasciitis plantaris. Stretching is better in lowering a patient's pain fasciitis plantaris compared with Myofascial release. Key Words: Fasciitis Plantaris, Myofascial Release, Stretching.

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fasciitis plantaris adalah suatu kondisi terjadinya peradangan yang terjadi akibat overstretch pada Fascia plantaris (Lawson, 2007). Fascia plantaris (aponeurosis) adalah serabut fibrosus dari jaringan ikat yang berasal dari tuberositas medial kalkaneus berjalan longitudinal ke metatarsophalangeal joint membentuk arkus longitudinal medial pada kaki. Fasciitis plantaris biasanya timbul secara bertahap, tetapi dapat juga terjadi dengan tiba-tiba dan langsung nyeri hebat. Fasciitis plantaris biasanya unilateral tetapi diatas 30% kasus dijumpai bilateral fasciitis plantaris (Lawson, 2007).

Myofascial Release adalah suatu ilmu untuk mengobati penyakit tertentu dengan manipulasi yang sistematis (Mark, 2007). Pada umumnya yang berarti kelompok prosedur yang biasanya dikerjakan dengan tangan. Myofascial Release (MFR) mengacu pada teknik pijat, petunjuk untuk peregangan fascia dan melepaskan ikatan antara fascia dan integumen, otot, tulang, dengan tujuan untuk


(7)

menghilangkan rasa sakit, meningkatkan jangkauan gerak dan menyeimbangkan tubuh (Mark, 2007).

Stretching adalah suatu istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan suatu maneuver terapeutik yang digunakan untuk memperpanjang struktur jaring lunak yang memendek secara patologis, dimana gerakannya menjahukan origo dan insersio, juga untuk meningkatkan ROM (Kisner & Collby, 2010). Tujuan dari Terapi latihan Stretching akan membantu meluruskan kembali abnormal crosslink pada arah ketegangan sehingga akan membantu perbaikan pada jaringan parut (Walker,1971 dikutip oleh Theresia Rica,2010).

1.2 Rumusan Masalah

Apakah ada perbedaan pengaruh pemberian Myofascial Release dan Stretching terhadap penurunan nyeri Fasciitis plantaris pada Sales Promotion Girls pengguna High heels di PT. Matahari Solo Square Surakarta.

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pengaruh pemberian Myofascial Release dan Stretching terhadap penurunan nyeri Fasciitis plantaris pada Sales Promotion Girls pengguna High heels di PT. Matahari Solo Square Surakarta. 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 High Heels

Sepatu High Heels adalah sepatu yang meningkatkan tumit kaki si pemakai secara signifikan lebih tinggi dari jari. Ketika kedua tumit dan jari-jari kaki diangkat, seperti dalam sepatu platform, umumnya tidak dianggap sebagai “hak tinggi” (Riani, 2013).

2.2 Fasciitis Plantaris

Fasciitis Plantaris adalah suatu kondisi adanya peradangan pada jaringan lunak ditempatkan perlekatan aponeurosis plantaris pada bagian bawah dari tuberositas calcaneal (Crawford, 2010). “Plantar” adalah telapak kaki. “Fascia” adalah jaringan pita yang sangat tebal (fibrosa) yang membentang dibawah bagian kulit dan membentuk pembungkus bagi otot dan berbagai organ tubuh. “itis”


(8)

adalah peradangan. Fascia plantaris adalah jaringan collagen padat seperti tendon pada dasar kaki yang berorigo di medial tuberositas calcaneal dan berjalan ke anterior kemudian terbelah menjadi lima. Masing-masing menuju sendi metatarsofalangeal dan masing-masing dialuri oleh tendon fleksor kemudian melekat pada sisi luar dan dalam dari sendi tersebut.

2.3 Myofascial Release

Fascia adalah jaringan ikat yang sulit yang menyebar di seluruh tubuh dari kepala sampai kaki. Secara umum, Sistem fascia berfungsi sebagai dukungan, stabilitas dan bantalan juga sistem penggerak dan fleksibilitas dinamis membentuk otot. Peregangan fascia adalah mekanisme respon perlindungan terhadap trauma. Saat fascia kehilangan kelenturan dan menjadi terbatas, maka hal tersebut merupakan sumber ketegangan ke seluruh tubuh. Substansi dasar membeku, collagen menjadi padat dan berserat, dan elastin kehilangan ketahanan nya. Seiring waktu ini dapat menyebabkan biomekanik otot menjadi rawan cedera, yang dapat merubah keselarasan struktural, dan penurunan kekuatan, daya tahan, dan koordinasi motorik. Selanjutnya, pasien kesakitan dan kapasitas fungsional hilang.

2.4 Stretching

Stretching adalah suatu istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan suatu maneuver terapeutik yang digunakan untuk memperpanjang struktur jaring lunak yang memendek secara patologis, dimana gerakannya menjauhkan origo dan insersio, juga untuk meningkatkan ROM (Kisner & Collby, 2010).

3. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah Eksperiment, dengan menggunakan pendekatan Quasi Eksperiment atau Eksperiment semu karena semua variabel tidak semua dikontrol oleh peneliti dengan desain penelitiannya adalah Pre and Post test with two Group Desain yaitu membandingkan dua kelompok antara kelompok perlakuan yang diberikan myofascial release dengan kelompok perlakuan yang


(9)

diberikan stretching. Penelitian ini mengambil 21 orang, dengan 9 orang sebagai kelompok perlakuan yang diberikan Myofascial release dan 12 orang sebagai kelompok perlakuan yang diberikan Sretching.

4. HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian Berdasarkan Responden

4.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia, Tinggi Heels, IMT Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur, Tinggi Heels, IMT Kategori Kelompk 1 Kelompok 2

Frekuensi Presentase Frekuensi Presentase

Umur 20-21 5 33,3% 2 16,7%

22-23 2 22,2% 6 50%

24-25 2 22,2% 4 33,4%

Tinggi Heels

5Cm 9 100% 12 100%

BB 45-46 5 55,5% 6 50%

47-48 2 22,2% 2 16,7%

49-50 1 11,1% 3 25%

51-52 1 11,1% 1 8,3

TB 155-156 5 55,5% 7 58,3%

157-158 2 22,2% 3 25%

159 2 22,2% 2 16,7%

Sumber : Data Primer, 2016 4.2 Analisis Data

4.2.1 Uji Pengaruh (pre test-post test kelompok 1) Tabel 4.2

Hasil Uji Pengaruh Pre Test-Post Test Kelompok 1

Keadaan N Mean SD Sign (p)

Sebelum 9 5,000 0,707

0,006

Sesudah 9 3,666 1,000

Selisih 1,334

Sumber : Data Primer, 2016


(10)

4.2.1 Uji Pengaruh (pre test-post test kelompok 2) Tabel 4.3

Hasil Uji Pengaruh Pre Test-Post Test Kelompok 2

Keadaan N Mean SD Sign (p)

Sebelum 12 4,916 0,792

0,002 Sesudah 12 2,333 1,073

Selisih 2,583

Sumber: Data Primer, 2016

4.2.3 Uji beda Pengaruh (kelompok 1 dan kelompok 2) Tabel 4.7

Hasil Uji Beda Kelompok 1 dan Kelompok 2

Uji Mann-Whitney Z p-value Kesimpulan

Kelompok 1 – Kelompok 2 -2,683 0,007 Diterima Sumber : Data Primer, 2016

5. PEMBAHASAN

Dari hasil Mann-Whitney antara kelompok Myofascial release dengan Stretching setelah perlakuan, didapatkan nilai p= 0,005 dan nilai p<0,05. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penurunan nyeri yang signifikan antara kelompok Myofascial release dengan stretching. Dalam penelitian ini hasil yang diberikan perlakuan stretching lebih baik dari myofascial release dalam menurunkan nyeri fasciitis plantaris karena mempunyai manfaat yaitu untuk memacu sirkulasi dan proses metabolisme struktur jaringan sendi sehingga meningkatkan kelenturan jaringan ikat sendi, meningkatkan lingkup gerak sendi (LGS) dan mengurangi nyeri akibat spasme (Kisner, 2007). Apabila culf muscle terulur dan rileksasi, maka pembebanan pada fascia akan berkurang dan rasa nyeripun juga berkurang (Evjenth et al., 2006). Dan stretching juga dapat mempengaruhi dua otot, yaitu culf muscle dan fascia. jadi jika hanya diberikan myofascial release saja, culf muscle belum rileksasi atau belum terulur sehingga pemberian latihan kurang maksimal. Selain manfaat stretching, faktor dari responden juga berpengaruh


(11)

terhadap hasil, yaitu kegiatan responden setelah bekerja atau di luar pekerjaan tidak begitu berat sehingga nyeri yang dirasakan tidak terlalu tinggi.

6. PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Penelitian yang berjudul “Pengaruh Myofascial release dan Stretching Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis plantaris pada Sales Promotion Girls Pengguna High Heels di Matahari Departemen Store Solo Square Surakarta” dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Ada pengaruh yang signifikan pemberian myofascial release terhadap penurunan nyeri fasciitis plantaris.

2. Ada pengaruh pemberian stretching terhadap penurunan nyeri fasciitis plantaris.

3. Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara pemberian myofascial release dengan stretching terhadap penurunan nyeri fasciitis plantaris. 4. Stretching lebih baik di dalam menurunkan nyeri pada pasien fasciitis

plantaris dibandingkan dengan Myofascial release. 6.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, peneliti dapat menyarankan: (1) kepada seluruh masyarakat, hendaknya senantiasa menjaga kesehatan tubuh khususnya kaki, yang mana kaki berperan besar dalam kehidupan sehari – hari untuk bekerja dan berpindah tempat. Sehingga kaki harus dijaga agar tidak terlalu overuse dalam penggunaan sepatu high heels. Sehingga penyakit fasciitis plantaris dapat terhindarkan, (2) bagi para pekerja SPG menggunakan hak tinggi yang sewajarnya saja, dan dapat menerapkan latihan yang sudah diberikan terapis di rumah, (3) kepada peneliti selanjutnya, perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut tentang perbandingan antara myofascial release dengan stretching terhadap penurunan nyeri fasciitis plantaris dengan responden yang lebih banyak atau responden masyarakat umumnya.


(12)

DAFTAR PUSTAKA

Crawford F, Atkins D, Edwards J. 2010. Interventions for treating plantar heel pain (Cochrane Review). In: The Cochrane Library, Issue 1. Oxford: Update Software;. www.update-software.com/cochrane.

Kisner, C., Colby, LA. 2010. Resistance Exercise. Therapeutic exercise foundations and techniques; Edisi ke-4. Philadelphia, hal 40-124.

Lawson. 2007. Standard of Care: Plantar Fasciitis. Brighamand Women’s Hospital Department of Rehabilitation Services Physical Therapy hal : 1 Mark F., Barnes. 2008. The Basic Science of Myofascial Release: morphologic

change in connective tissue

http://www.lebauerpt.com/uploads/1/3/9/4/1394925/mark_barnes_the_ba sic_science_of_mfr.pdf

Riani. 2013. Sepatu High Heels. Diakses tanggal: 23/03/2016 dari http://rianifauziyah87.wordpress.com

Theresia, R. 2010. Perbedaan Pengaruh Ultrasound (US) dan Terapi Latihan dan Ultrasound (US) dan Massage terhadap Penurunan Nyeri pada Pasien Plantar Fascitiis, Jakarta.

7


(13)

(1)

adalah peradangan. Fascia plantaris adalah jaringan collagen padat seperti tendon pada dasar kaki yang berorigo di medial tuberositas calcaneal dan berjalan ke anterior kemudian terbelah menjadi lima. Masing-masing menuju sendi metatarsofalangeal dan masing-masing dialuri oleh tendon fleksor kemudian melekat pada sisi luar dan dalam dari sendi tersebut.

2.3 Myofascial Release

Fascia adalah jaringan ikat yang sulit yang menyebar di seluruh tubuh dari kepala sampai kaki. Secara umum, Sistem fascia berfungsi sebagai dukungan, stabilitas dan bantalan juga sistem penggerak dan fleksibilitas dinamis membentuk otot. Peregangan fascia adalah mekanisme respon perlindungan terhadap trauma. Saat fascia kehilangan kelenturan dan menjadi terbatas, maka hal tersebut merupakan sumber ketegangan ke seluruh tubuh. Substansi dasar membeku, collagen menjadi padat dan berserat, dan elastin kehilangan ketahanan nya. Seiring waktu ini dapat menyebabkan biomekanik otot menjadi rawan cedera, yang dapat merubah keselarasan struktural, dan penurunan kekuatan, daya tahan, dan koordinasi motorik. Selanjutnya, pasien kesakitan dan kapasitas fungsional hilang.

2.4 Stretching

Stretching adalah suatu istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan suatu maneuver terapeutik yang digunakan untuk memperpanjang struktur jaring lunak yang memendek secara patologis, dimana gerakannya menjauhkan origo dan insersio, juga untuk meningkatkan ROM (Kisner & Collby, 2010).

3. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah Eksperiment, dengan menggunakan pendekatan Quasi Eksperiment atau Eksperiment semu karena semua variabel tidak semua dikontrol oleh peneliti dengan desain penelitiannya adalah Pre and Post test with two Group Desain yaitu membandingkan dua kelompok antara kelompok perlakuan yang diberikan myofascial release dengan kelompok perlakuan yang


(2)

diberikan stretching. Penelitian ini mengambil 21 orang, dengan 9 orang sebagai kelompok perlakuan yang diberikan Myofascial release dan 12 orang sebagai kelompok perlakuan yang diberikan Sretching.

4. HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Penelitian Berdasarkan Responden

4.1.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia, Tinggi Heels, IMT Tabel 4.1

Distribusi Frekuensi Berdasarkan Umur, Tinggi Heels, IMT

Kategori Kelompk 1 Kelompok 2

Frekuensi Presentase Frekuensi Presentase

Umur 20-21 5 33,3% 2 16,7%

22-23 2 22,2% 6 50%

24-25 2 22,2% 4 33,4%

Tinggi Heels

5Cm 9 100% 12 100%

BB 45-46 5 55,5% 6 50%

47-48 2 22,2% 2 16,7%

49-50 1 11,1% 3 25%

51-52 1 11,1% 1 8,3

TB 155-156 5 55,5% 7 58,3%

157-158 2 22,2% 3 25%

159 2 22,2% 2 16,7%

Sumber : Data Primer, 2016 4.2 Analisis Data

4.2.1 Uji Pengaruh (pre test-post test kelompok 1) Tabel 4.2

Hasil Uji Pengaruh Pre Test-Post Test Kelompok 1

Keadaan N Mean SD Sign (p)

Sebelum 9 5,000 0,707

0,006

Sesudah 9 3,666 1,000

Selisih 1,334

Sumber : Data Primer, 2016


(3)

4.2.1 Uji Pengaruh (pre test-post test kelompok 2) Tabel 4.3

Hasil Uji Pengaruh Pre Test-Post Test Kelompok 2

Keadaan N Mean SD Sign (p)

Sebelum 12 4,916 0,792

0,002

Sesudah 12 2,333 1,073

Selisih 2,583

Sumber: Data Primer, 2016

4.2.3 Uji beda Pengaruh (kelompok 1 dan kelompok 2) Tabel 4.7

Hasil Uji Beda Kelompok 1 dan Kelompok 2

Uji Mann-Whitney Z p-value Kesimpulan

Kelompok 1 – Kelompok 2 -2,683 0,007 Diterima

Sumber : Data Primer, 2016 5. PEMBAHASAN

Dari hasil Mann-Whitney antara kelompok Myofascial release dengan Stretching setelah perlakuan, didapatkan nilai p= 0,005 dan nilai p<0,05. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan penurunan nyeri yang signifikan antara kelompok Myofascial release dengan stretching. Dalam penelitian ini hasil yang diberikan perlakuan stretching lebih baik dari myofascial release dalam menurunkan nyeri fasciitis plantaris karena mempunyai manfaat yaitu untuk memacu sirkulasi dan proses metabolisme struktur jaringan sendi sehingga meningkatkan kelenturan jaringan ikat sendi, meningkatkan lingkup gerak sendi (LGS) dan mengurangi nyeri akibat spasme (Kisner, 2007). Apabila culf muscle terulur dan rileksasi, maka pembebanan pada fascia akan berkurang dan rasa nyeripun juga berkurang (Evjenth et al., 2006). Dan stretching juga dapat mempengaruhi dua otot, yaitu culf muscle dan fascia. jadi jika hanya diberikan myofascial release saja, culf muscle belum rileksasi atau belum terulur sehingga pemberian latihan kurang maksimal. Selain manfaat stretching, faktor dari responden juga berpengaruh


(4)

terhadap hasil, yaitu kegiatan responden setelah bekerja atau di luar pekerjaan tidak begitu berat sehingga nyeri yang dirasakan tidak terlalu tinggi.

6. PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Penelitian yang berjudul “Pengaruh Myofascial release dan Stretching Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis plantaris pada Sales Promotion Girls Pengguna High Heels di Matahari Departemen Store Solo Square Surakarta” dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Ada pengaruh yang signifikan pemberian myofascial release terhadap penurunan nyeri fasciitis plantaris.

2. Ada pengaruh pemberian stretching terhadap penurunan nyeri fasciitis plantaris.

3. Ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara pemberian myofascial release dengan stretching terhadap penurunan nyeri fasciitis plantaris.

4. Stretching lebih baik di dalam menurunkan nyeri pada pasien fasciitis plantaris dibandingkan dengan Myofascial release.

6.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang ada, peneliti dapat menyarankan: (1) kepada seluruh masyarakat, hendaknya senantiasa menjaga kesehatan tubuh khususnya kaki, yang mana kaki berperan besar dalam kehidupan sehari – hari untuk bekerja dan berpindah tempat. Sehingga kaki harus dijaga agar tidak terlalu overuse dalam penggunaan sepatu high heels. Sehingga penyakit fasciitis plantaris dapat terhindarkan, (2) bagi para pekerja SPG menggunakan hak tinggi yang sewajarnya saja, dan dapat menerapkan latihan yang sudah diberikan terapis di rumah, (3) kepada peneliti selanjutnya, perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut tentang perbandingan antara myofascial release dengan stretching terhadap penurunan nyeri fasciitis plantaris dengan responden yang lebih banyak atau responden masyarakat umumnya.


(5)

DAFTAR PUSTAKA

Crawford F, Atkins D, Edwards J. 2010. Interventions for treating plantar heel pain (Cochrane Review). In: The Cochrane Library, Issue 1. Oxford: Update Software;. www.update-software.com/cochrane.

Kisner, C., Colby, LA. 2010. Resistance Exercise. Therapeutic exercise foundations and techniques; Edisi ke-4. Philadelphia, hal 40-124.

Lawson. 2007. Standard of Care: Plantar Fasciitis. Brighamand Women’s Hospital Department of Rehabilitation Services Physical Therapy hal : 1 Mark F., Barnes. 2008. The Basic Science of Myofascial Release: morphologic

change in connective tissue

http://www.lebauerpt.com/uploads/1/3/9/4/1394925/mark_barnes_the_ba sic_science_of_mfr.pdf

Riani. 2013. Sepatu High Heels. Diakses tanggal: 23/03/2016 dari http://rianifauziyah87.wordpress.com

Theresia, R. 2010. Perbedaan Pengaruh Ultrasound (US) dan Terapi Latihan dan Ultrasound (US) dan Massage terhadap Penurunan Nyeri pada Pasien Plantar Fascitiis, Jakarta.


(6)

Dokumen yang terkait

PENGARUH MYOFASCIAL RELEASE DAN STRETCHING TERHADAP PENURUNAN NYERI FASCIITIS PLANTARIS PADA SALES Pengaruh Myofascial Release Dan Stretching Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis Plantaris Pada Sales Promotion Girls Pengguna High Heels di Matahari Departme

3 19 17

BAB 1 Pengaruh Myofascial Release Dan Stretching Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis Plantaris Pada Sales Promotion Girls Pengguna High Heels di Matahari Department Store Solo Square Surakarta.

0 1 5

EFEK ACTIVE STRETCHING OTOT PLANTAR FLEXOR ANKLE TERHADAP PENURUNAN NYERI FASCIITIS PLANTARIS Efek Active Stretching Otot Plntar Flexor Ankle Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis Plantaris.

1 14 15

EFEK ACTIVE STRETCHING OTOT PLANTAR FLEXOR ANKLE TERHADAP PENURUNAN NYERI FASCIITIS PLANTARIS Efek Active Stretching Otot Plntar Flexor Ankle Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis Plantaris.

1 6 66

PENDAHULUAN Efek Active Stretching Otot Plntar Flexor Ankle Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis Plantaris.

0 5 4

PENGARUH PEMBERIAN MYOFASCIAL RELEASE TERHADAP PENURUNAN NYERI DAN DISABILITAS PADA Pengaruh Pemberian Myofascial Release Terhadap Penurunan Nyeri Dan Disabilitas Pada Penderita Myofascial Trigger Point Syndrome Otot Upper Trapezius.

0 1 18

PENGARUH AUTO STRETCHING TERHADAP PENURUNAN NYERI FASCIITIS PLANTARIS PADA SALES Pengaruh Auto Stretching Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis Plantaris Pada Sales Promotion Girls Pengguna High Heels Di Matahari Departement Store Pekalongan.

0 0 18

PENDAHULUAN Pengaruh Auto Stretching Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis Plantaris Pada Sales Promotion Girls Pengguna High Heels Di Matahari Departement Store Pekalongan.

0 3 4

PENGARUH AUTO STRETCHING TERHADAP PENURUNAN NYERI FASCIITIS PLANTARIS PADA SALES Pengaruh Auto Stretching Terhadap Penurunan Nyeri Fasciitis Plantaris Pada Sales Promotion Girls Pengguna High Heels Di Matahari Departement Store Pekalongan.

0 5 15

HUBUNGAN LAMA PEMAKAIAN HIGH HEELS DENGAN RESIKO FASCIITIS PLANTARIS PADA SALES PROMOTION Hubungan Lama Pemakaian High Heels Dengan Resiko Fasciitis Plantaris Pada Sales Promotion Gilrs (SPG) PT. Sri Ratu Madiun.

0 1 22