Dampak Pariwisata dan Pengembangannya Te

(1)

Dampak Pariwisata dan Pengembangannya Terhadap Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat di Kawasan Danau Toba

Lansekap Wisata

OLEH :

Yensa Margareth Tarigan 1405505002

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR LANSEKAP FAKULTAS PERTANIAN


(2)

(3)

PRAKATA

Puji syukur penyusun panjatkan kehadapan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmatNya-lah Tugas paper Lansekap Wisata telah selesai tepat waktu. Penulisan tugas ini dilakukan untuk memenuhi mata kuliah Lansekap Wisata yang memiliki Tema "Dampak Pariwisata Terhadap Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat". Pada tema ini, penyusun akan membahas mengenai dampak pariwisata dan pengembangannya terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat di kawasan Danau Toba.

Tugas ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan. Semoga tugas ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Sekian dan Terimakasih

Denpasar, Oktober 2016


(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

I. PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...1

1.3 Tujuan...1

II. PEMBAHASAN...2

2.1 Perkembangan Pariwisata di Danau Toba...2

2.2 Pengaruh Pariwisata Terhadap Kehidupan Sosial Budaya...3

III. PENUTUP...6

3.1 Simpulan...6

3.2 Saran...6 DAFTAR PUSTAKA


(5)

(6)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang

Pariwisata merupakan gejala sosial yang sangat kompleks yang tak terpisahkan dari aspek kehidupan sosial, psikologis, ekologis dan ekonomi masyarakat. Hal ini diakibatkan karena adanya kontak antara orang-orang dari negara yang berbeda-beda, dengan berbagai bahasa, ras kepercayaan, paham politik dan tingkat perekonomian. Oleh karena itu, diharapkan masyarakat dengan wisatawan dapat membentuk hubungan saling menguntungkan sehingga berpengaruh terhadap peningkatan sosial ekonomi, khususnya yang berada di lingkungan pariwisata tersebut. Aktivitas wisata yang dilakukan oleh wisatawan melahirkan produk barang dan jasa pariwisata. Industri pariwisata secara langsung menyentuh dan melibatkan masyarakat, sehingga membawa berbagai dampak terhadap masyarakat setempat.

Danau Toba merupakan salah satu objek wisata yang terkenal di Indonesia. Aktifitas pariwisata yang terjadi pada masyarakat dengan para wisatawan, yang telah berlangsung cukup lama tentu memberikan dampak terhadap perubahan kehidupan sosial,ekonomi, maupun budaya masyarakat setempat. Dampak tersebut bisa merupakan dampak positif maupun dampak negatif. Baik dalam tatanan berperilaku, nilai-nilai budaya masyarakat setempat dan barangkali juga mempengaruhi hingga pola pikir masyarakat setempat, yang diadopsi dari wisatawan asing tentunya akan mengubah pola hidup masyarakat daerah tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Bagaimana perkembangan pariwisata di Danau Toba?

1.2.2 Bagaimana pengaruh pariwisata terhadap perubahan sosial budaya masyarakat di Danau Toba?


(7)

Tujuan dibuatnya makalah ini selain untuk memenuhi persyaratan tugas mata kuliah Lansekap Wisata, juga diharapkan mahasiswa bisa mengetahui dampak pariwisata terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat.

II. PEMBAHASAN 2.1 Perkembangan Pariwisata di Danau Toba

Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu dari 10 (sepuluh) destinasi pariwisata unggulan di Indonesia dimana terdapat 339 objek wisata yang tersebar di seluruh daerah yang ada di 33 kabupaten/kota yang

ada di Provinsi Sumatera Utara. Saat ini baru 120 objek wisata yang telah dipasarkan melalui potensi alam, salah satunya adalah kawasan Danau Toba. Objek wisata danau toba menjadi andalan, baik dalam skala provinsi maupun nasional. Terdapat berbagai macam objek wisata tersebar di 8 kabupaten dan masing-masing memiliki karekteristik yang berbeda-beda.

Danau Toba adalah aset yang sangat potensial untuk dikembangkan untuk menjaring wisatawan lokal maupun mancanegara. Data dari Dinas Pariwisata Tobasa tercatat, jumlah wisatawan yang berkunjung pada 2012 sebanyak 129.519 orang, terdiri dari 14.833 wisatawan mancanegara dan 114.686 wisatawan domestik. Namun, di beberapa kabupaten besar di Danau toba mengalami penurunan kunjungan wisatawan, salah satunya di Kabupaten Simalungun. Terdapat kecenderungan penurunan kunjungan wisata, dimana selama 20 tahun menunjukkan trend penurunan baik dari jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara. Hal ini memberikan dampak terhadap PAD Sektor Pariwisata cenderung mengalami penurunan.


(8)

Berbeda halnya dengan kabupaten Simalungun, di Kabupaten Toba Samosir, jumlah kunjungan wisatawan semakin meningkat terutama pada objek wisata Lumban Silintong. Lumban Silintong yang memiliki pemandangan alam yang indah, pinggiran pantai Danau Toba yang bertanjung dan berteluk, pantai berpasir dan landai menjadikan tempat ini sangat diminati oleh wisatawan dari dalam maupun luar negeri. Melihat minat kunjungan wisatawan yang semakin meningkat sehingga sebagian penduduk Desa Lumban Silintong melakukan usaha penyediaan barang dan jasa untuk para pengunjung seperti penyediaan penginapan, restaurant, cafe, tempat pemandian, jasa pengangkutan dan berbagai fasilitas pendukung


(9)

3 pariwisata. Kegiatan ini tentu mempunyai pengaruh terhadap masyarakat setempat dalam meningkatkan kesejahteraan. Namun belum diketahui sebesar apa kontribusi sektor wisata terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar lokasi tersebut.

Perkembangan wisata di Danau Toba pada saat ini belum terjadi secara merata dan maksimal, dan berkelanjutan. Hal ini bisa dilihat dari masih adanya keterbatasan akses, lambatnya perkembangan sarana dan prasarana, serta kurangnya pengelolaan kawasan Danau Toba itu sendiri sebagai objek wisata alam. Tidak heran, pada saat ini kita banyak mendengar berbagai wacana pengembangan danau toba sebagai salah satu tujuan utama wisata Indonesia. Tentunya hal ini juga akan memberikan dampak lebih lanjut lagi kepada kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat setempat.

2.2 Pengaruh Pariwisata Terhadap Kehidupan Sosial, Budaya masyarakat di Danau Toba

Sebenarnya potensi wisata Danau Toba sangat besar. Setiap kabupaten di Danau Toba masing-masing memiliki objek wisata baik itu yang menawarkan

keindahan alam, budaya maupun sejarah. Salah satu destinasi wisata yang gencar dipromosikan pemerintah Indonesia melalui program "Visit Indonesia" adalah Kabupaten Samosir dan sekitarnya yang menawarkan keindahan panorama Danau Toba dan budaya penduduk setempat. Namun, jauh sebelum program Visit Indonesia diperkenalkan, Kabupaten Samosir, khususnya di Desa Huta Siallagan Pinda Raya telah dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia yang merupakan Kepingan Surga Samosir. Di desa inilah setiap tahun pemerintah daerah selalu melakukan acara atau pesta tahunan untuk menarik para wisatawan datang berkunjung kesana. Acara ini biasa disebut


(10)

4 dengan Pesta Danau Toba atau dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi Festival Danau Toba, dimana dalam pelaksanaannya pemerintah dan masyarakat lokal tidak hanya memperkenalkan keindahan panorama Danau Toba saja bahkan mempertunjukan aktraksi dan pagelaran seni budaya yang ada di daerah tersebut. Banyaknya wisatawan yang datang berkunjung akan mendapat reaksi dari masyarakat lokal dalam hal berhubungan dan berinteraksi.

Aktifitas pariwisata yang terjadi pada masyarakat Desa Siallagan Pinda Raya dengan para wisatawan yang telah berlangsung selama puluhan tahun tentu memberikan dampak terhadap perubahan kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Baik dalam tatanan berperilaku, nilai-nilai budaya setempat dan barangkali juga mempengaruhi hingga pola pikir masyarakat setempat, yang diserap atau diadopsi dari wisatawan asing tentunya akan mengubah pola hidup masyarakat daerah tersebut.

2.2.1 Pergeseran Sistem Kekerabatan

Pola hidup masyarakat Batak Toba yang menjunjung tinggi nilai budayanya menjadi ketertarikan wisatawan dalam melakukan aktifitas wisata ke daerah tersebut. Namun dalam beberapa dekade ini, nilai budaya yang diterima dari para leluhur yang diwariskan kegenerasi berikutnya terkikis oleh kemajuan zaman. Hal ini dilihat dari dampak pariwisata yang membawa budaya-budaya asing masuk kedalam nilai budaya daerah tersebut. Salah satu nilai budaya masyarakat suku Batak Toba yang sangat erat kaitannya dengan pola kehidupan bermasyarakat ialah sistem kekerabatan.

Dalam sistem kekerabatan mencakup primordialis suku, kasih sayang atas dasar hubungan darah, kerukunan unsur-unsur Daliha Na Tolu dan segala yang berkaitan hubungan kekerabatan karena pernikahan.

Selain itu, sistem kekerabatan antar sesama juga kerap dilaksanakan dalam berbagai kegiatan seperti gotong royong dalam suatu acara adat yang akan dilaksanakan. Misalnya sistem gotong royong dalam masyarakat Batak


(11)

5 Toba dikenal dengan istilah marhobas. Namun sekarang ini sifat gotong royong tersebut sudah jarang ditemukan karena pola pikir masyarakat yang semakin maju dan modern menjadikan segalanya serba instan dan semua bisa serba uang. Sehingga dalam perkembanganya sistem tersebut semakin terkikis dan lambat laun akan hilang. Dizaman era globalisasi ini sudah jarang ditemukan masyarakat Batak Toba yang menerapakan nilai budaya ini. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh dari luar yang diserap oleh budaya tersebut.

2.2.2 Perubahan Pola Pikir

Selain pergeseran nilai budaya, perubahan pola hidup dan pola pikir masyarakat juga kerap akan terjadi. Kita dapat dengan mudah menemukan pola hidup sejumlah anak muda di Desa Siallagan Pinda Raya yang berusaha meniru gaya hidup orang barat. Misalanya, cara berbicara, cara berpakaian dan pola interaksi sosial mereka sering diistilahkan kebarat-baratan. Sehingga jarang ditemukan pada masyarakat Batak Toba yang masih menjunjung tinggi nilai kebudayaan yang telah diciptakan oleh para generasi terdahulu.Gejala-gejala perubahan nilai budaya juga dapat kita lihat dalam pesta-pesta adat (terutama pesta perkawinan). Tidak jarang pesta adat didaerah tersebut diwarnai dengan nuansa tradisi barat baik melalui musik, makanan, susunan acara dan sebagainya. Pola pikir masyarakat tentang adat juga sudah banyak berubah. Banyak penduduk yang tidak merasa terikat lagi secara ketat dengan adat istiadat dan tradisi yang lambat laun akan menghilangkan sebagian dari budayanya. Nilai budaya masyarakat Batak Toba yang telah diturunkan secara turun temurun oleh nenek moyang yang dahulu, kini mengalami pergeseran yang secara lambat laun mengubah pola hidup dan pola pikir masyarakat Batak Toba. Meskipun itu akan berdampak baik dan buruk pada suatu komunitas maupun lingkungan itu sendiri.


(12)

6 2.2.3 Konflik Sosial

Ketidakmerataan perkembangan pariwisata Danau Toba, serta buruknya kebijakan pengelolaannya memicu konflik sosial yang terjadi di masyarakat sekitar. Pariwisata di Danau Toba bukanlah sebuah ruang kosong, namun dipengaruhi oleh berbagai aspek dan faktor lainnya yang kompleks. Kondisi Danau Toba sebagai wisata alam juga harus diperhatikan. Kondisi lingkungan dari waktu ke waktu semakin memburuk. Keindahan alam Danau Toba tidak lagi mampu menarik minat turis untuk mengunjunginya dan meningkatkan perekonomian masyarakat di sepanjang Danau Toba. Belakangan, soal keramah-tamahan masyarakat yang dianggap tidak memiliki karakter melayani pun menjadi sorotan, dan disebut sebagai penyebab enggannya turis ke daerah ini. Eksploitasi sumber daya alam Danau Toba tidak hanya memberi dampak negatif pada sektor pariwisata, juga kepada sosial, ekonomi dan budaya masyarakat setempat.


(13)

III. PENUTUP 3.1 Simpulan

Pariwisata merupakan hal yang tak terpisahkan dari aspek kehidupan sosial, psikologis, ekologis dan ekonomi masyarakat. Perkembangan pariwisata dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Walapun perkembangan wisata pada kawasan danau toba belum merata dan berkelanjutan, kehidupan sosial ekonomi budaya masyarat setempat sudah mengalami perubahan baik itu yang bernilai positif maupun negatif. Dampak negatif perkembangan wisata dapat dihindari dengan; beradaptasi terhadap perkembangan namun tidak menghilangkan kearifan lokal, menyeleksi, mengadopsi (akulturasi) dengan tidak menghilangkan kebudayaan asli. Berbagai wacana menyangkut pembangunan Kawasan Danau Toba sebagai salah satu daya tarik wisata di Indonesia sangat patut diapresiasi, dan tentunya pembangunan ini harus didukung oleh masyarakat sekawasan Danau Toba. Pembangunan ini hedaknya mampu mengatasi akar persoalan dan menjawab keprihatinan atas rusaknya ekosistem di Kawasan Danau Toba, dan juga mengatasi berbagai konflik sosial yang terjadi di daerah ini.

3.2 Saran

Pembangunan Kawasan Danau Toba harus menjadikan masyarakat lokal sebagai subjek atau pelaku pembangungan, bukan objek atau penonton. Peran serta atau pelibatan masyarakat (adat/lokal) mutlak diperlukan, sehingga lahir

sense of belonging (rasa memiliki) dari masyarakat. Untuk itu menjadi sangat penting dan sangat prioritas peningkatan SDM/kapasitas masyarakat agar mampu menjadi pelaku perubahan di daerah ini. Pepatah Batak mengatakan:


(14)

sesuatu perlu bijaksana dan mempertimbangkan dampak baik-buruknya, jangan hanya karena keinginan yang serba cepat atau instan sehingga hasilnya pun tidak maksimal dan justru tidak membawa kebaikan bagi masyarakat dan lingkungan).


(15)

DAFTAR PUSTAKA

Siahaan, A.S. (2015). Kontribusi Sektor Wisata Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Lumban Silintong, Kecamatan Balige, Kabupaten

Toba Samosir.

[Online].Tersedia:http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/45206/4/Chap ter%20I.pdf[26 Maret 2016]

Simarmata, Melamsel. (2015). PERKEMBANGAN OBJEK WISATA BUDAYA DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT BATAK TOBA DI DESA SIALLAGAN KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR, SKRIPSI.UNIMED.[Online]. Tersedia : http://digilib.unimed.ac.id/8267/ [26 Maret 2016]

Nainggolan, Theodora. (2006) ANALISIS PEMANFAATAN KAWASAN WISATA DANAU TOBA TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH DAN PENGARUHNYA BAGI PENDAPATAN DAERAH, THESIS. USU. [Online]: http://library.usu.ac.id/download/ft/06012223.pdf [26 Maret 2016]

Simanjuntak, Suryati. (2016). Berbagai Wacana Pembangunan Kawasan Danau Toba. [Online]. Tersedia : http://literasi.co/2016/03/berbagai-wacana-pembangunan-kawasan-danau-toba/Berbagai Wacana Pembangunan Kawasan Danau Toba [1 Oktober 2016]

Surwiyanta, Ardi .(2003). DAMPAK PENGEMBANAGAN PARIWISATA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA DAN EKONOMI. [Online]. Tersedia : http://download.portalgaruda.org/article.php? article=183265&val=6352&title=DAMPAK%20PENGEMBANGAN

%20PARIWISATA%20TERHADAP%20KEHIDUPAN%20SOSIAL %20BUDAYA%20DAN%20EKONOMI [1 Oktober 2016]


(1)

4 dengan Pesta Danau Toba atau dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi Festival Danau Toba, dimana dalam pelaksanaannya pemerintah dan masyarakat lokal tidak hanya memperkenalkan keindahan panorama Danau Toba saja bahkan mempertunjukan aktraksi dan pagelaran seni budaya yang ada di daerah tersebut. Banyaknya wisatawan yang datang berkunjung akan mendapat reaksi dari masyarakat lokal dalam hal berhubungan dan berinteraksi.

Aktifitas pariwisata yang terjadi pada masyarakat Desa Siallagan Pinda Raya dengan para wisatawan yang telah berlangsung selama puluhan tahun tentu memberikan dampak terhadap perubahan kehidupan sosial budaya masyarakat setempat. Baik dalam tatanan berperilaku, nilai-nilai budaya setempat dan barangkali juga mempengaruhi hingga pola pikir masyarakat setempat, yang diserap atau diadopsi dari wisatawan asing tentunya akan mengubah pola hidup masyarakat daerah tersebut.

2.2.1 Pergeseran Sistem Kekerabatan

Pola hidup masyarakat Batak Toba yang menjunjung tinggi nilai budayanya menjadi ketertarikan wisatawan dalam melakukan aktifitas wisata ke daerah tersebut. Namun dalam beberapa dekade ini, nilai budaya yang diterima dari para leluhur yang diwariskan kegenerasi berikutnya terkikis oleh kemajuan zaman. Hal ini dilihat dari dampak pariwisata yang membawa budaya-budaya asing masuk kedalam nilai budaya daerah tersebut. Salah satu nilai budaya masyarakat suku Batak Toba yang sangat erat kaitannya dengan pola kehidupan bermasyarakat ialah sistem kekerabatan.

Dalam sistem kekerabatan mencakup primordialis suku, kasih sayang atas dasar hubungan darah, kerukunan unsur-unsur Daliha Na Tolu dan segala yang berkaitan hubungan kekerabatan karena pernikahan.

Selain itu, sistem kekerabatan antar sesama juga kerap dilaksanakan dalam berbagai kegiatan seperti gotong royong dalam suatu acara adat yang akan dilaksanakan. Misalnya sistem gotong royong dalam masyarakat Batak


(2)

5 Toba dikenal dengan istilah marhobas. Namun sekarang ini sifat gotong royong tersebut sudah jarang ditemukan karena pola pikir masyarakat yang semakin maju dan modern menjadikan segalanya serba instan dan semua bisa serba uang. Sehingga dalam perkembanganya sistem tersebut semakin terkikis dan lambat laun akan hilang. Dizaman era globalisasi ini sudah jarang ditemukan masyarakat Batak Toba yang menerapakan nilai budaya ini. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh dari luar yang diserap oleh budaya tersebut.

2.2.2 Perubahan Pola Pikir

Selain pergeseran nilai budaya, perubahan pola hidup dan pola pikir masyarakat juga kerap akan terjadi. Kita dapat dengan mudah menemukan pola hidup sejumlah anak muda di Desa Siallagan Pinda Raya yang berusaha meniru gaya hidup orang barat. Misalanya, cara berbicara, cara berpakaian dan pola interaksi sosial mereka sering diistilahkan kebarat-baratan. Sehingga jarang ditemukan pada masyarakat Batak Toba yang masih menjunjung tinggi nilai kebudayaan yang telah diciptakan oleh para generasi terdahulu.Gejala-gejala perubahan nilai budaya juga dapat kita lihat dalam pesta-pesta adat (terutama pesta perkawinan). Tidak jarang pesta adat didaerah tersebut diwarnai dengan nuansa tradisi barat baik melalui musik, makanan, susunan acara dan sebagainya. Pola pikir masyarakat tentang adat juga sudah banyak berubah. Banyak penduduk yang tidak merasa terikat lagi secara ketat dengan adat istiadat dan tradisi yang lambat laun akan menghilangkan sebagian dari budayanya. Nilai budaya masyarakat Batak Toba yang telah diturunkan secara turun temurun oleh nenek moyang yang dahulu, kini mengalami pergeseran yang secara lambat laun mengubah pola hidup dan pola pikir masyarakat Batak Toba. Meskipun itu akan berdampak baik dan buruk pada suatu komunitas maupun lingkungan itu sendiri.


(3)

6 2.2.3 Konflik Sosial

Ketidakmerataan perkembangan pariwisata Danau Toba, serta buruknya kebijakan pengelolaannya memicu konflik sosial yang terjadi di masyarakat sekitar. Pariwisata di Danau Toba bukanlah sebuah ruang kosong, namun dipengaruhi oleh berbagai aspek dan faktor lainnya yang kompleks. Kondisi Danau Toba sebagai wisata alam juga harus diperhatikan. Kondisi lingkungan dari waktu ke waktu semakin memburuk. Keindahan alam Danau Toba tidak lagi mampu menarik minat turis untuk mengunjunginya dan meningkatkan perekonomian masyarakat di sepanjang Danau Toba. Belakangan, soal keramah-tamahan masyarakat yang dianggap tidak memiliki karakter melayani pun menjadi sorotan, dan disebut sebagai penyebab enggannya turis ke daerah ini. Eksploitasi sumber daya alam Danau Toba tidak hanya memberi dampak negatif pada sektor pariwisata, juga kepada sosial, ekonomi dan budaya masyarakat setempat.


(4)

III. PENUTUP 3.1 Simpulan

Pariwisata merupakan hal yang tak terpisahkan dari aspek kehidupan sosial, psikologis, ekologis dan ekonomi masyarakat. Perkembangan pariwisata dapat memberikan dampak positif maupun negatif bagi kehidupan sosial, ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Walapun perkembangan wisata pada kawasan danau toba belum merata dan berkelanjutan, kehidupan sosial ekonomi budaya masyarat setempat sudah mengalami perubahan baik itu yang bernilai positif maupun negatif. Dampak negatif perkembangan wisata dapat dihindari dengan; beradaptasi terhadap perkembangan namun tidak menghilangkan kearifan lokal, menyeleksi, mengadopsi (akulturasi) dengan tidak menghilangkan kebudayaan asli. Berbagai wacana menyangkut pembangunan Kawasan Danau Toba sebagai salah satu daya tarik wisata di Indonesia sangat patut diapresiasi, dan tentunya pembangunan ini harus didukung oleh masyarakat sekawasan Danau Toba. Pembangunan ini hedaknya mampu mengatasi akar persoalan dan menjawab keprihatinan atas rusaknya ekosistem di Kawasan Danau Toba, dan juga mengatasi berbagai konflik sosial yang terjadi di daerah ini.

3.2 Saran

Pembangunan Kawasan Danau Toba harus menjadikan masyarakat lokal sebagai subjek atau pelaku pembangungan, bukan objek atau penonton. Peran serta atau pelibatan masyarakat (adat/lokal) mutlak diperlukan, sehingga lahir sense of belonging (rasa memiliki) dari masyarakat. Untuk itu menjadi sangat penting dan sangat prioritas peningkatan SDM/kapasitas masyarakat agar mampu menjadi pelaku perubahan di daerah ini. Pepatah Batak mengatakan: Hatop Adong Pinareakna, Lambat Adong Pinaimana (dalam memutuskan


(5)

sesuatu perlu bijaksana dan mempertimbangkan dampak baik-buruknya, jangan hanya karena keinginan yang serba cepat atau instan sehingga hasilnya pun tidak maksimal dan justru tidak membawa kebaikan bagi masyarakat dan lingkungan).


(6)

DAFTAR PUSTAKA

Siahaan, A.S. (2015). Kontribusi Sektor Wisata Terhadap Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Lumban Silintong, Kecamatan Balige, Kabupaten

Toba Samosir.

[Online].Tersedia:http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/45206/4/Chap ter%20I.pdf[26 Maret 2016]

Simarmata, Melamsel. (2015). PERKEMBANGAN OBJEK WISATA BUDAYA DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT BATAK TOBA DI DESA SIALLAGAN KECAMATAN SIMANINDO KABUPATEN SAMOSIR, SKRIPSI.UNIMED.[Online]. Tersedia : http://digilib.unimed.ac.id/8267/ [26 Maret 2016]

Nainggolan, Theodora. (2006) ANALISIS PEMANFAATAN KAWASAN WISATA DANAU TOBA TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH DAN PENGARUHNYA BAGI PENDAPATAN DAERAH, THESIS. USU. [Online]: http://library.usu.ac.id/download/ft/06012223.pdf [26 Maret 2016]

Simanjuntak, Suryati. (2016). Berbagai Wacana Pembangunan Kawasan Danau Toba. [Online]. Tersedia : http://literasi.co/2016/03/berbagai-wacana-pembangunan-kawasan-danau-toba/Berbagai Wacana Pembangunan Kawasan Danau Toba [1 Oktober 2016]

Surwiyanta, Ardi .(2003). DAMPAK PENGEMBANAGAN PARIWISATA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA DAN EKONOMI. [Online]. Tersedia : http://download.portalgaruda.org/article.php? article=183265&val=6352&title=DAMPAK%20PENGEMBANGAN

%20PARIWISATA%20TERHADAP%20KEHIDUPAN%20SOSIAL %20BUDAYA%20DAN%20EKONOMI [1 Oktober 2016]