B1J010015 11.
II. TELAAH PUSTAKA
A. Sungai Banjaran
Sungai Banjaran merupakan sungai yang berada di daerah Purwokerto, yang
mengalir dari wilayah Ketenger sebagai daerah hulu, munuju wilayah Sidabowa
sebagai daerah hilir dengan panjang sungai ± 24 km, lebar sungai antara 10-20 m,
kedalam antara 0,2-4 m, dan pada ketinggian 1167 m diatas permukaan laut
(Herisetiyawan, 2006). Pemanfaatan lahan di sekitar Sungai Banjaran digunakan
sebagai area persawahan, pertanian, permukiman penduduk, dan penambangan pasir.
Sungai Banjaran juga dimanfaatkan sebagai pembuangan limbah, baik rumah tangga
maupun pertanian. Aktivitas manusia yang berlebihan akan memberikan dampak
buruk bagi perairan seperti kandungan oksigen menurun, perubahan kecepatan arus,
dan meningkatnya kandungan dari material-material terlarut (Asdak, 1995).
Berdasarkan IMLP (Indeks Mutu Lingkungan Perairan) kualitas air Sungai Banjaran
di daerah hulu termasuk perairan yang berkualitas baik, sedangkan daerah tengah
hingga hilir termasuk perairan yang berkualitas sedang (Astuti, 2000).
Menurut Reynold (1984) kualitas perairan dipengaruhi oleh beberapa
parameter lingkungan. Parameter yang mempengaruhi kualitas perairan terdiri dari
parameter fisik, kimia, dan biologi perairan. Parameter fisik perairan yaitu suhu air,
kecepatan arus, penetrasi cahaya, kedalaman dan TDS; sedangkan parameter kimia
yaitu pH, Dissolved Oxygen (DO), Biological Oxygen Demand (BOD), dan nutrien.
Parameter biologi yaitu organisme yang hidup di perairan tersebut salah satunya
mikrofitobenthos. Parameter yang mempengaruhi kualitas air adalah sebagai berikut:
1. Suhu Air
Peningkatan suhu dapat menyebabkan konsentrasi oksigen terlarut
menurun sehingga mempengaruhi kehidupan organisme perairan. Menurut
Effendi (2003), nilai rata-rata suhu tersebut masih baik untuk pertumbuhan
bio.unsoed.ac.id
organisme perairan berkisar antara 20-30oC.
2. Kecepatan Arus
Kecepatan arus sungai sangat berpengaruh terhadap kemampuannya
dalam mengangkut bahan organik maupun anorganik. Kecepatan arus di sungai
ditentukan oleh kemiringan, kekerasan, kedalaman, dan kelebaran dasarnya
(Odum, 1998). Menurut Welch dan Lindell (1980), terdapat lima kategori arus
yaitu arus yang sangat lambat (< 0,10 m.s-1), lambat (0,10-0,25 m.s-1), sedang
3
(0,25-0,50 m.s-1), cepat (0,50-1 m.s-1), dan sangat cepat (> 1 m.s-1). Kecepatan
arus ini diduga dapat mempengaruhi jenis-jenis mikrofitobenthos yang hidup di
dalamnya. Menurut Whitton (1975) kecepatan arus yang besar dapat mengurangi
jenis organisme yang dijumpai sehingga hanya jenis-jenis yang melekat saja yang
bertahan terhadap arus.
3. Penetrasi Cahaya
Canter dan Hill (1979) menyatakan bahwa kecerahan suatu perairan
dipengaruhi oleh padatan tersuspensi, zat-zat terlarut, partikel-partikel dan warna
air. Banyaknya padatan terlarut dalam perairan akan menurunkan penetrasi
cahaya, sehingga proses fotosintesis menurun. Kemampuan cahaya matahari
untuk menembus sampai ke dasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan air.
Kekeruhan disebabkan oleh materi-materi tersuspensi, jasad renik, dan warna air
(Kordi, 2007).
4. Kedalaman
Kedalaman suatu perairan akan memengaruhi jumlah jenis organisme
biotik. Kedalaman perairan merupakan faktor pembatas kesuburan perairan,
karena mikroalga banyak dijumpai pada kedalaman 5
mg.l-1 (Boyd, 1988).
7. Biology Oxygen Demand (BOD)
Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen
yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik (Salmin,
4
2005). Menurut Wijaya (2009) mengatakan bahwa perairan dengan kandungan
BOD 5,0 − 15 mg.l-1 tergolong perairan yang tercemar sedang dan >15 tergolong
perairan yang tercemar berat.
B. Struktur Komunitas Mikrofitobenthos
Komunitas adalah kumpulan spesies yang mendiami suatu tempat dimana
populasi-populasi yang ada di dalamnya saling berinteraksi, dan mengalami variasi
dari waktu ke waktu (Basmi, 1995). Odum (1998) menyatakan bahwa struktur
komunitas dikendalikan oleh spesies-spesies yang terdapat dalam suatu habitat
tertentu, sehingga dapat dilihat dari kelimpahan, keanekaragaman dan dominansi
spesies.
Perubahan kondisi perairan yang terjadi dapat digambarkan melalui
keberadaan biota di perairan salah satunya mikrofitobnethos yaitu mikrobenthos
bersifat seperti tumbuhan yang habitatnya di substrat perairan (Jailani & Nur, 2012).
Kemampuan mikrofitobenthos menempel pada substrat menentukan keberadaannya
yang tidak terpengaruhi oleh arus (Osborn, 1983). Penelitian tentang mikroalga
benthik di Sungai Banjaran Kabupaten Banyumas telah dilakukan oleh Marendra
tahun 2007 dengan kondisi lingkungan yang kisaran suhu 19,5- 27 oC, pH 6-6,5,
penetrasi cahaya 35-60,6 cm, kecepatan arus 0,3-0,6 m.s-1, BOD 1,9-3,96 mg.l-1, DO
5,4-6,8 mg.l-1, dan ortofosfat 0,0251-0,77 mg.l-1 ditemukan mikroalga dari divisi
Chrysophyta 86 jenis, Chlorophyta 20 jenis, dan Cyanophyta 4 jenis. Penelitian
tersebut dapat diketahui bahwa beberapa jenis-jenis mikrobenthik yang didapatkan
yaitu Diatoma vulgare, Ulothrix frimbiata , dan Oscillatoria foreani.
C. Hubungan TDS, Nitrat, Ortofosfat terhadap Komunitas Mikrofitobenthos
Senyawa-senyawa terlarut maupun tersuspensi yang masuk ke sungai dapat
merubah faktor fisika, kimia, dan biologi perairan apabila melewati ambang batas
bio.unsoed.ac.id
(Odum, 1998). Total Disolved Solid (TDS) merupakan padatan terlarut yang terdiri
dari senyawa-senyawa organik dan anorganik yang larut air, mineral dan garamgaramnya. Konsentrasi TDS perairan dipengaruhi oleh pelapukan batuan, limpasan
dari tanah dan pengaruh antropogenik (berupa limbah domestik dan industri)
(Effendi, 2003). Menurut Alabster & Lloyd (1982) batas konsentrasi TDS yang baik
untuk sungai adalah
A. Sungai Banjaran
Sungai Banjaran merupakan sungai yang berada di daerah Purwokerto, yang
mengalir dari wilayah Ketenger sebagai daerah hulu, munuju wilayah Sidabowa
sebagai daerah hilir dengan panjang sungai ± 24 km, lebar sungai antara 10-20 m,
kedalam antara 0,2-4 m, dan pada ketinggian 1167 m diatas permukaan laut
(Herisetiyawan, 2006). Pemanfaatan lahan di sekitar Sungai Banjaran digunakan
sebagai area persawahan, pertanian, permukiman penduduk, dan penambangan pasir.
Sungai Banjaran juga dimanfaatkan sebagai pembuangan limbah, baik rumah tangga
maupun pertanian. Aktivitas manusia yang berlebihan akan memberikan dampak
buruk bagi perairan seperti kandungan oksigen menurun, perubahan kecepatan arus,
dan meningkatnya kandungan dari material-material terlarut (Asdak, 1995).
Berdasarkan IMLP (Indeks Mutu Lingkungan Perairan) kualitas air Sungai Banjaran
di daerah hulu termasuk perairan yang berkualitas baik, sedangkan daerah tengah
hingga hilir termasuk perairan yang berkualitas sedang (Astuti, 2000).
Menurut Reynold (1984) kualitas perairan dipengaruhi oleh beberapa
parameter lingkungan. Parameter yang mempengaruhi kualitas perairan terdiri dari
parameter fisik, kimia, dan biologi perairan. Parameter fisik perairan yaitu suhu air,
kecepatan arus, penetrasi cahaya, kedalaman dan TDS; sedangkan parameter kimia
yaitu pH, Dissolved Oxygen (DO), Biological Oxygen Demand (BOD), dan nutrien.
Parameter biologi yaitu organisme yang hidup di perairan tersebut salah satunya
mikrofitobenthos. Parameter yang mempengaruhi kualitas air adalah sebagai berikut:
1. Suhu Air
Peningkatan suhu dapat menyebabkan konsentrasi oksigen terlarut
menurun sehingga mempengaruhi kehidupan organisme perairan. Menurut
Effendi (2003), nilai rata-rata suhu tersebut masih baik untuk pertumbuhan
bio.unsoed.ac.id
organisme perairan berkisar antara 20-30oC.
2. Kecepatan Arus
Kecepatan arus sungai sangat berpengaruh terhadap kemampuannya
dalam mengangkut bahan organik maupun anorganik. Kecepatan arus di sungai
ditentukan oleh kemiringan, kekerasan, kedalaman, dan kelebaran dasarnya
(Odum, 1998). Menurut Welch dan Lindell (1980), terdapat lima kategori arus
yaitu arus yang sangat lambat (< 0,10 m.s-1), lambat (0,10-0,25 m.s-1), sedang
3
(0,25-0,50 m.s-1), cepat (0,50-1 m.s-1), dan sangat cepat (> 1 m.s-1). Kecepatan
arus ini diduga dapat mempengaruhi jenis-jenis mikrofitobenthos yang hidup di
dalamnya. Menurut Whitton (1975) kecepatan arus yang besar dapat mengurangi
jenis organisme yang dijumpai sehingga hanya jenis-jenis yang melekat saja yang
bertahan terhadap arus.
3. Penetrasi Cahaya
Canter dan Hill (1979) menyatakan bahwa kecerahan suatu perairan
dipengaruhi oleh padatan tersuspensi, zat-zat terlarut, partikel-partikel dan warna
air. Banyaknya padatan terlarut dalam perairan akan menurunkan penetrasi
cahaya, sehingga proses fotosintesis menurun. Kemampuan cahaya matahari
untuk menembus sampai ke dasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan air.
Kekeruhan disebabkan oleh materi-materi tersuspensi, jasad renik, dan warna air
(Kordi, 2007).
4. Kedalaman
Kedalaman suatu perairan akan memengaruhi jumlah jenis organisme
biotik. Kedalaman perairan merupakan faktor pembatas kesuburan perairan,
karena mikroalga banyak dijumpai pada kedalaman 5
mg.l-1 (Boyd, 1988).
7. Biology Oxygen Demand (BOD)
Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen
yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik (Salmin,
4
2005). Menurut Wijaya (2009) mengatakan bahwa perairan dengan kandungan
BOD 5,0 − 15 mg.l-1 tergolong perairan yang tercemar sedang dan >15 tergolong
perairan yang tercemar berat.
B. Struktur Komunitas Mikrofitobenthos
Komunitas adalah kumpulan spesies yang mendiami suatu tempat dimana
populasi-populasi yang ada di dalamnya saling berinteraksi, dan mengalami variasi
dari waktu ke waktu (Basmi, 1995). Odum (1998) menyatakan bahwa struktur
komunitas dikendalikan oleh spesies-spesies yang terdapat dalam suatu habitat
tertentu, sehingga dapat dilihat dari kelimpahan, keanekaragaman dan dominansi
spesies.
Perubahan kondisi perairan yang terjadi dapat digambarkan melalui
keberadaan biota di perairan salah satunya mikrofitobnethos yaitu mikrobenthos
bersifat seperti tumbuhan yang habitatnya di substrat perairan (Jailani & Nur, 2012).
Kemampuan mikrofitobenthos menempel pada substrat menentukan keberadaannya
yang tidak terpengaruhi oleh arus (Osborn, 1983). Penelitian tentang mikroalga
benthik di Sungai Banjaran Kabupaten Banyumas telah dilakukan oleh Marendra
tahun 2007 dengan kondisi lingkungan yang kisaran suhu 19,5- 27 oC, pH 6-6,5,
penetrasi cahaya 35-60,6 cm, kecepatan arus 0,3-0,6 m.s-1, BOD 1,9-3,96 mg.l-1, DO
5,4-6,8 mg.l-1, dan ortofosfat 0,0251-0,77 mg.l-1 ditemukan mikroalga dari divisi
Chrysophyta 86 jenis, Chlorophyta 20 jenis, dan Cyanophyta 4 jenis. Penelitian
tersebut dapat diketahui bahwa beberapa jenis-jenis mikrobenthik yang didapatkan
yaitu Diatoma vulgare, Ulothrix frimbiata , dan Oscillatoria foreani.
C. Hubungan TDS, Nitrat, Ortofosfat terhadap Komunitas Mikrofitobenthos
Senyawa-senyawa terlarut maupun tersuspensi yang masuk ke sungai dapat
merubah faktor fisika, kimia, dan biologi perairan apabila melewati ambang batas
bio.unsoed.ac.id
(Odum, 1998). Total Disolved Solid (TDS) merupakan padatan terlarut yang terdiri
dari senyawa-senyawa organik dan anorganik yang larut air, mineral dan garamgaramnya. Konsentrasi TDS perairan dipengaruhi oleh pelapukan batuan, limpasan
dari tanah dan pengaruh antropogenik (berupa limbah domestik dan industri)
(Effendi, 2003). Menurut Alabster & Lloyd (1982) batas konsentrasi TDS yang baik
untuk sungai adalah