Analisis Mengenai Susutnya Sawah Karena

Analisis Mengenai Susutnya Sawah Karena Dampak Dari
Keserakahan Manusia
Ando Tri Kurniawan
8111416102
andotrikurniawan@gmail.com
Abstrak
Program ketahanan pangan di Kota Tasimalaya, Jawa Barat terancam, karena
lahan pertanian yang terus menerus tergerus. Banyak lahan sawah diwilayah
ini sudah berubah menjadi pasar, lahan perumahan, gudang, mini market,
warung dan infrastruktur lain. Saat ini lahan pertanian yang tersisa didaerah ini
hanya 5990 hektare. Penyusutan lahan pertaniantidak terhindarkan karena
para petani pemilik lahan tidak bisa bisa menolak dana yang ditawarkan
investoryang akan membangun perumahan atau pertokoan. Hal tersebut
tentunya banyak pertentangan dari masyarakat yang mempunyai lahan
didekatnya. Karena akan mengganggu proses panen. Jika sawah di daaerah ini
semakin berkurang, mata pencaharian petanipun terancam hilang pula.
Sebagaimana yang kita tahu, asupan makan kita sebagian besar berasal dari
pertanian. Padi contohnya, yang dipanen dari sawah. Jika sawah susut,
tentunya padipun berkurang. Jika padi berkurang tentu saja langkah
selanjutnya adalah impor, mau tidak mau harus impor dikarenakan stok padi
menipis dan tentu saja harganya yang melambung tinggi.hal tersebut tentunya
trelihat aneh jika melihat negara kita Indonesia adalah negara agraris. Semua
bahan pertanian bisa kita temukan disini dengan kekayaan alamnya. Maka dari
itulah hukum lingkungan dibuat untuk mengkaji tentang lingkungan dan
dampaknya untuk kehidupan sekarang dan kehidupa pada masa yang akan
datang. Kembali lagi pada permasalahan di Tasikmalaya, disini masyarakat
setempat dan pemerintah lokal harus digaris bawahi, pasalnya merekalah yang
merupakan andil terbesar dan memiliki tanggung jawab besar karena harus
menjaga lingkungannya sendiri. Jangan semata mata tergiur dengan uang
seorang investor yang akan membangun infrastuktur demi ekonomi mereka
sendiri dan tidaka memikirkan kehidupan yang akan datang.
Kata kunci: (pertanian, ekosistem, ekonomi, pangan, masyarakat)
PENDAHULUAN
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang teberntuk oleh hubungan
timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan
menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mepengaruhi 1.
Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang
melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik
sehingga aliran energi menuju kepada suatu siklus.
Ekosistem sawah merupakan ekosistem yang mencirikan ekosistem
pertanian sederhana dan monokultur berdasarkan atas komunitas tanaman
dan pemilihan vegetasinya. Sebenarnya merupakan hubungan komponen yang
membentuk sistem. Ini berarti baik dalam struktur maupun fungsi komponenkomponen tadi adalah suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Sebagai
konsekwensinya apabila salah satu komponen terganggu, maka komponen
1 Puji Hardati, “Pendidikan Konservasi”. (Semarang: Magnum Pustaka Utama, 2015) hlm 2.

lainnya secara cepat atau lambat akan terpengaruh. Sistem alam ini disebut
sebagai sistem ekologi, yang kemudian disingkat dan menjadi lebih dikenal
sebagai ekosistem.Selain itu ekosistem yang berada di sawah bukanlah
ekosistem alami, akan tetapi sudah berubah sehingga akan sangat rentan
terjadi ledakan suatu populasi di daerah tersebut.
Kemudian Sawah sendiri adalah pertanian yang dilaksanakan di tanah
yang basah atau dengan pengairan. Bersawah merupakan cara bertani yang
lebih baik daripada cara yang lain, bahkan merupakan cara yang sempurna
karena tanah dipersiapkan lebih dahulu, yaitu dengan dibajak, diairi secara
teratur, dan dipupuk. Sawah bukaan baru dapat berasal dari lahan kering yang
digenangi atau lahan basah yang dijadikan sawah.Lahan untuk sawah bukaan
baru umumnya mempunyai status kesuburan tanah yang rendah dan sangat
rendah. Tanah-tanah di daerah bahan induknya volkan tetapi umumnya volkan
tua dengan perkembangan lanjut, oleh sebab itu miskin hara, dengan
kejenuhan basa rendah bahkan sangat rendah.
Padi (Oryza sativa L) tumbuh baik di daerah tropis maupun sub- tropis.
Untuk padi sawah, ketersediaan air yang mampu menggenangi lahan tempat
penanaman sangat penting. Oleh karena air menggenang terus- menerus maka
tanah sawah harus memiliki kemampuan menahan air yang tinggi, seperti
tanah yang lempung. Untuk kebutuhan air tersebut, diperlukan sumber mata
air yang besar kemudian ditampung dalam bentuk waduk (danau). Dari waduk
inilah sewaktu- waktu air dapat dialirkan selama periode pertumbuhan padi
sawah.
Tanah yang baik untuk areal persawahan ialah tanah yang memberikan
kondisi tumbuh tanaman padi. Kondisi yang baik untuk perumbuhan tanaman
padi sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu posisi topografi yang
berkaitan dengan kondisi hidrologi, porositas tanah yang rendah dan tingkat
kemasaman tanah yang netral, sumber air alam, serta kanopinas modifikasi
sistem alam oleh kegiatan manusia. Karakteristik ekosistem sawah ditentukan
oleh penggenangan, tanaman padi, dan tanaman budidaya lainnya. Sawah
tergenang biasanya merupakan lingkungan air sementara yang dipengaruhi
oleh keanekaragaman sinar matahari, suhum pH, konsentrasi O2, dan unsur
hara.
Penyiapan tanah sawah menyebabkan sifat-sifat fisik, kimia, biologi dan
morfologi tanah berubah, keadaan tanah alami berubah menjadi keadaan
tanah buatan dan menyimpang dari keadaan yang dikehendaki oleh
pertanaman yang lain. Untuk dapat melaksanakan pergiliran tanaman dengan
pertanaman lain, biasanya palawija, maka sehabis pertanaman padi, keadaan
tanah harus diubah kembali sehingga sesuai dengan yang diperlukan
pertanaman palawija. Pengubahan keadaan tanah secara bolak-balik berarti
memanipulasi sumber daya tanah secara mendalam, guna tanah, tata guna
air, dan tata guna lingkungan, sehingga dapat menghambat pencapaian
kemaslahatan penggunaan lahan yang berkelanjutan
Keanekaragaman hayati pertanian Indonesia sangat besar. Hal ini
memberikan peluang besar memilih macam tanaman yang sesuai untuk tiap
wilayah ekologi yang ada di Indonesia. Dengan demikian pertanian Indonesia
kalau dapat dikembangkan secara merata berpotensi besar menjadi piranti
handal dalam tata guna lahan. Di wilayah Indonesia manapun pertanian dapat
dibangun dengan konsep agroekosistem karena didukung oleh keanekaan
hayati pertanian Indonesia yang sangat besar. Konsep agroekosistem membuat
pertanian suatu sistem produksi biomassa berguna yang efektif secara

teknologi, efisien secara ekonomi, dan berkelanjutan menurut wawasan
lingkungan2.
Kasus bermula pada masalah pembangunan, dimana bangunan tersebut
akan berdiri diatas lahan persawahan didaerah kota Tasikmalaya. Mereka tidak
memikirkan untuk generasi yang akan datang jika proyek mereka dibangun
diatas lahan sawah. Kehidupan masyarakat tersebutpun saya kira juga akan
terancam masalah stok ketersediaan pangan. Sawah yang sejatinya adalah
tempat dimana makanan pokok kita tumbuh. Jika sawah tidak ada bagaimana
kita mengisi energi? Apakah kita harus impor beras jika beras lokal tidak ada
ketersediaan stok? Hal ini tentunya tidak wajar mengingat Indonesia adalah
negara agraris. Aneh rasanya jika negara agraris harus mengimpor padi.
Dalam kasus diatas saya akan menganalisa untuk dibahas dalam
beberapa bagian, yang terdiri dari:
1. Merosotnya kualitas lingkungan hidup
2. Masalah dan dampak yang akan timbul jika luas sawah berkurang
3. Peraturan perundang-undangan mengenai lingkungan
PEMBAHASAN
Merosotnya kualitas lingnkungan hidup
Mengingat kompleksnya pengelolaan lingkungan hidup dan permasalahan
yang bersifat lintas sektor dan wilayah, maka dalam pelaksanaan
pembangunan diperlukan perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan
lingkungan hidup yang sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan
yaitu pembangunan ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup yang berimbang
sebagai pilar-pilar yang saling tergantung dan saling memperkuat satu sama
lain. Di dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai fihak, serta ketegasan
dalam penaatan hukum lingkungan.
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup sangat berpengaruh untuk mengatahui
penilaian dan kriteria kualitas air, udara, dan tutupan yang dipantau selama
tahun 2006-2009 itulah yang kemudian menjadi indeksnya3
Diharapkan dengan adanya partisipasi barbagai pihak dan pengawasan
serta penaatan hukum yang betul-betul dapat ditegakkan, dapat dijadikan
acuan bersama untuk mengelola lingkungan hidup dengan cara yang bijaksana
sehingga
tujuan
pembangunan
berkelanjutan
betul-betul
dapat
diimplementasikan di lapangan dan tidak berhenti pada slogan semata. Namun
demikian fakta di lapangan seringkali bertentangan dengan apa yang
diharapkan. Hal ini terbukti dengan menurunnya kualitas lingkungan hidup dari
waktu ke waktu, ditunjukkan beberapa fakta di lapangan yang dapat diamati.
Hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup di daerah dalam
era otonomi daerah antara lain sebagai berikut.
- Ego sektoral dan daerah. Otonomi daerah yang diharapkan dapat
melimbahkan sebagian kewenangan mengelola lingkungan hidup di daerah
belum mampu dilaksanakan dengan baik. Ego kedaerahan masih sering
nampak dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan, hidup, demikian juga ego
sektor. Pengelolaan lingkungan hidup sering dilaksanakan overlaping antar
sektor yang satu dengan sektor yang lain Tumpang tindih perencanaan antar
sektor. Kenyataan menunjukkan bahwa dalam perencanaan program (termasuk

2Ibid., hlm 4
3Ibid., hlm 5.

pengelolaan lingkungan hidup) terjadi tumpang tindih antara satu sektor dan
sektor lain.
- Lemahnya implementasi paraturan perundangan. Peraturan perundangan
yang berkaitan dengan lingkungan hidup, cukup banyak, tetapi dalam
implementasinya masih lemah. Ada beberapa pihak yang justru tidak
melaksanakan peraturan perundangan dengan baik, bahkan mencari
kelemahan dari peraturan perundangan tersebut untuk dimanfaatkan guna
mencapai tujuannya.
- Lemahnya penegakan hukum lingkungan khususnya dalam pengawasan.
Berkaitan dengan implementasi peraturan perundangan adalah sisi
pengawasan pelaksanaan peraturan perundangan. Banyak pelanggaran yang
dilakukan (pencemaran lingkungan, perusakan lingkungan), namun sangat
lemah didalam pemberian sanksi hukum.
- Pemahaman masyarakat tentang lingkungan hidup. Pemahaman dan
kesadaran akan pentingnya lingkungan hidup sebagian masyarakat masih
lemah dan hal ini, perlu ditingkatkan. Tidak hanya masyarakat golongan
bawah, tetapi dapat juga masyarakat golongan menegah ke atas, bahkan yang
berpendidikan tinggi pun masih kurang kesadarannya tentang lingkungan
hidup.
Kegiatan pembangunan di Indonesia hingga kini masih mengabaikan
kelestarian fungsi lingkungan hidup, sehingga daya dukung lingkungan
menurun dan ketersediaan sumber daya alam juga terjadi karena kemampuan
IPTEK yang rendah4. Dalam dokumen rencana pembangunan jangka panjang
nasional 2005-2025 diakui bahwa sumber daya alam dan lingkungan hidup
memililki peran ganda, yaitu sebagai modal pembangunan sekaligus sebagai
penopang sistem kehidupan5.
Masalah dan dampak yang akan timbul jika luas sawah berkurang
Dengan julukan Negara agraris yang dijunjungnya, tentu saja Indonesia
memiliki banyak sekali potensi pertanian atau perkebunan yang bisa dijadikan
sumber perekonomian Negara. Akan tetapi, seiring berkembangnya sistem
perekonomian serta meningkatnya jumlah penduduk, maka kebutuhan lahan
untuk kepentingan dalam bidang selain pertanian semakin meningkat pula.
Berdasarkan data statistik tahun 2014, luas lahan pertanian di Indonesia
mencapai angka 41.5 juta Hektar. Dari jumlah tersebut, dapat dibagi menjadi
tiga kategori yakni hortikultura 567 ribu hektar, tanaman pangan 19 juta
hektar, dan terakhir tanaman perkebunan sebesar 22 juta hektar.Berikut
beberapa dampak alih fungsi lahan pertanian :
1. Berkurangnya lahan pertanian.
Dengan adanya alih fungsi lahan menjadi non-pertanian, maka otomatis
lahan pertanian menjadi semakin berkurang. Hal ini tentu saja memberi
dampak negatif ke berbagai bidang baik secara langsung maupun tidak
langsung.
2. Menurunnya produksi pangan nasional
Akibat lahan pertanian yang semakin sedikit, maka hasil produksi juga
akan terganggu. Dalam skala besar, stabilitas pangan nasional juga akan sulit
tercapai. Mengingat jumlah penduduk yang semakin meningkat tiap tahunnya

4Eko handoyo, “Aspek Hukum Pengelolaan Lingkungan Hidup”, Jurnal Pandecta, vol3 : no2,
Desember 2009, hlm 9-15.
5Ibid., hlm 7

sehingga kebutuhan pangan juga bertambah, namun lahan pertanian justru
semakin berkurang.
3. Mengancam keseimbangan ekosistem
Dengan berbagai keanekaragaman populasi di dalamnya, sawah atau
lahan-lahan pertanian lainnya merupakan ekosistem alami bagi beberapa
binatang. Sehingga jika lahan tersebut mengalami perubahan fungsi, binatangbinatang tersebut akan kehilangan tempat tinggal dan bisa mengganggu ke
permukiman warga. Selain itu, adanya lahan pertanian juga membuat air hujan
termanfaatkan dengan baik sehingga mengurangi resiko penyebab banjir saat
musim penghujan.
4. Sarana prasarana pertanian menjadi tidak terpakai
Untuk membantu peningkatan produk pertanian, pemerintah telah
menganggarkan biaya untuk membangun sarana dan prasarana pertanian.
Dalam sistem pengairan misalnya, akan banyak kita jumpai proyek-proyek
berbagai jenis jenis irigasi dari pemerintah, mulai dari membangun bendungan,
membangun drainase, serta infrastruktur lain yang ditujukan untuk pertanian.
Sehingga jika lahan pertanian tersebut beralih fungsi, maka sarana dan
prasarana tersebut menjadi tidak terpakai lagi.
5. Banyak buruh tani kehilangan pekerjaan
Buruh tani adalah orang-orang yang tidak mempunyai lahan pertanian
melainkan menawarkan tenaga mereka untuk mengolah lahan orang lain yang
butuh tenaga. Sehingga jika lahan pertanian beralih fungsi dan menjadi
semakin sedikit, maka buruh-buruh tani tersebut terancam akan kehilangan
mata pencaharian mereka.
6. Harga pangan semakin mahal
Ketika produksi hasil pertanian semakin menurun, tentu saja bahan-bahan
pangan di pasaran akan semakin sulit dijumpai. Hal ini tentu saja akan
dimanfaatkan sebaik mungkin bagi para produsen maupun pedagang untuk
memperoleh keuntungan besar. Maka tidak heran jika kemudian harga-harga
pangan tersebut menjadi mahal
7. Tingginya angka urbanisasi
Sebagian besar kawasan pertanian terletak di daerah pedesaan. Sehingga
ketika terjadi alih fungsi lahan pertanian yang mengakibatkan lapangan
pekerjaan bagi sebagian orang tertutup, maka yang terjadi selanjutnya adalah
angka urbanisasi meningkat. Orang-orang dari desa akan berbondong-bondong
pergi ke kota dengan harapan mendapat pekerjaan yang lebih layak. Padahal
bisa jadi setelah sampai di kota keadaan mereka tidak berubah karena
persaingan semakin ketat6.
Dari 7 dampak tersebut betapa mengerikannya jika lahan pertanian dialih
fungsikan dan untuk pengembalian pada kondisi awal sangatlah sulit karena
sudah terlanjur merambat semakin besar tak bisa terelakan.
Faktor Pendorong terjadinya Alih Lahan Pertanian
Sejak dahulu, jumlah lahan pertanian Indonesia sendiri cenderung
menurun dari tahun ke tahun akibat adanya alih fungsi lahan menjadi nonpertanian. Alih fungsi atau konversi lahan didefinisikan sebagai berubahnya
fungsi awal lahan menjadi fungsi lainnya baik dari sebagian maupun
keseluruhan lahan akibat adanya faktor-faktor tertentu. Berikut ialah faktorfaktor pendorong terjadinya alih fungsi lahan pertanian :
6 Ischak, ”Urbanisasi dan dampaknya thd lingkungan”, diakses dari id.portalgaruda.org,
pada tanggal 15 September 2017. Pukul 11.03.

a. Pertumbuhan penduduk yang pesat
Dengan jumlah daratan yang tetap, namun jumlah penduduk yang terus
meningkat, tentu dapat menyebabkan berbagai dampak bagi lingkungan
tempat tinggal mereka. Salah satunya yakni adanya alih fungsi lahan pertanian
menjadi lahan non-pertanian guna memenuhi berbagai kebutuhan hidup yang
juga meningkat.
b. Kenaikan kebutuhan masyarakat untuk permukiman
Adanya pertumbuhan demografi tentu saja juga menuntut kebutuhankebutuhan dasar termasuk tempat tinggal. Ketika lahan di daerah permukiman
sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan yang diminta, maka konversi lahan
pertanian menjadi kawasan rumah menjadi pilihan sebagai salah satu solusi
permasalahan tersebut.
c. Tingginya biaya penyelenggaraan pertanian
Untuk mengolah sawah atau lahan pertanian dari lapisan tanah agar
mendapatkan hasil yang optimal tentu saja membutuhkan modal yang tidak
sedikit, belum lagi jika barang-barang pertanian tersebut mengalami kenaikan
seperti pada saat naiknya harga bahan bakar minyak, maka harganya bisa
melambung menjadi dua kali lipat. Kenaikan harga pupuk, benih pertanian,
biaya irigasi, hingga harga sewa tenaga petani membuat para pemilik sawah
mempertimbangkan untuk menjual sawah mereka atau mengalihkan fungsi
lahan menjadi bangunan atau tempat wirausaha7.
Cukup 3 faktor saja yang saja perlihatkan, dan itu saja sudah banyak
masalah yang ditimbulkan. Belum juga faktor lainnya.
Peraturan Perundang-Undangan Tentang Lingkungan.
Indonesiapun seperti negara lain baru bangkit memperhatikan lingkungan,
setelah dekarasi Srockholm 1972. Bahkan UU tentang Ketentuan Pokok
Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai peraturan payung untuk lingkungan
baru tercipta setelah lewat sepuluh tahun. UU tsb ialah UU Nomor 4 tahun
1982. Sekarang diubah dengan UU Nomor 23 tahun 1997. Bertumpu pada
undang-undang ini, seharusnya dilanjutkan dengan penciptaan beberapa
undang-undang sektoral dan juga peraturan pelaksanaan berupa peraturan
pemerintah. Akan tetapi masih sangat sedikit Undang-Undang dan peraturan
pelaksanaan yang tercipta, sehingga banyak ketentuan yang tercantum
didalam UU yang tidak dijalankan.
UU yang telah tercipta adalah UU nomor 5 tahun 1992 tentang Benda
Cagar Budaya yang meggantikan monumenten ordonnantie yang berlaku sejak
masa kolonial.
Penting juga diketahui tentang dibentuknya Badan Pengendalian Dampak
Linglungan (BAPEDAL) berdasarkan keppres no 23 tahun 1990 diubah dengan
keppres no 77 tahun 1994. Disamping itu telah diciptakan juga beberapa
peraturan yang lebih rendah berupa peraturan menteri.
Di dalam UULH ada bebrapa asas penting dianaranya:
1. Asas Prevensi (prevention priciple)
2. Asas pencemar membayar (polluters pay principples)
3. Asas kerja sama (coorperation principle)
Ketiga asas tersebut secara tersurat dan tersirat terdapat pula didalam
UULH pasal 5. Selain ketiga asas tersebut ada juga asas yang lain diantaranya:
7 Mohammad Akib, “Pergeseran Paaradigma Penegakan Hukum Lingkungan”, Jurnal
Masalah-Masalah Hukum, vol43 : no1, Januari 2014, hlm 124.

- Asas pembangunan berwawasan lingkungan atau biasa disebut
pembangunan berkesinnambungan. Asas ini berarti dalam membangun harus
selalu memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan. Sedapat mungkin
dalam pembangunan seutuhnya ini termasuk pembangunan dan pemeliharaan
lingkungan apa yang dapat diambil dari sumber yang dapat diperbarui segera
dilakukan penggantinya, misal penebangan hutan harus diganti dengan
reboisasi dan penanaman tanaman industri. Dan bagi sumber yang tak dapat
diperbarui diberikan alternatif.
- Asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan dan asas manfaat
bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan hidup dalam rangka pembangunan berkalanjutan.8
KESIMPULAN
Dari permasalahan merosotnya kualitas lingkungan hidup dapat diartikan
bahwa lingkungan yang sehat, yang baik, yang layak untuk berkembang biak
makhluk hidup adalah lingkungan yang dijaga oleh makhluk hidup disekitar
daerah tersebut. Lingkungan yang dapat memberikan timbal balik kepada
makhluk hidup sekitar, bukan hanya menggunakan, mengambil dan melakukan
seenaknya saja, tetapi harus memikirkan untuk generasi yang akan datang
pula.
Kemudian kajian tentang menyusutnya luas sawah, itu disebabkan karena
siapa? Karena masyarakat dan pemerintah setempat yang terlalu memikirkan
ekonomi dan diri sendiri. Kemudian mereka tidak pernah memikirkan
bagaimana jika harga pangan lokal naik, pastipun mereka tidak memikirkan
pula jika pemerintah tiba-tiba mengimpor bahan pangan karena stok dalam
negeri habis. Selanjutnya gerakan mereka hanya mengeluh, lahan pekerjaan
tak ada, dan semua itu berakhir pada aksi demonstrasi.
Yang selanjutnya peraturan yang mengatur tentang lingkungan.
Pemerintah sudah bagus membuat berbagai peraturan mengenai lingkungan.
Dari hal terbesar secara umum lingkungan, sampai dikerucutkan secara details
pemerintah juga membuat peraturan tersebut. Pemerintah sudah bagus dalam
menjalankan program kerjanya, akan tetapi kembali kepada manusia itu
sendiri. Peraturan yang dibuat untuk dipatuhi atau malah untuk dilangar?
Kesadaran hukum manusia memang sulit untuk diperbaiki. Tidaklah mudah
mengubah mainset seseorang untuk melakukan apa yang kita pikirkan.
Dan terakhir yang menyumbang kerusakan lingkungan paling besar
dibumi adalah sampah. Memang masalah ini tidak saya singgung dalam
perumusan masalah, agar ini menjadi solusi. Sampah telah menjadi
permasalahan yang sedari dulu tidak pernah hilang. Apa sebabnya sampai
sampah lebih banyak dari populasi manusia? Mungkin pola pikir kita yang perlu
dibenahi, atau gaya hidup kita memang sangat akrab dengan sampah.
Slogan anti sampah harus kita ganti. Kita masih terperangkap dengan pola
pikir bahwa sampah harus dibuang. Sejak kecil orang tua dan guru sekolah
selalu berpesan bahwa “Buanglah sampah pada tempatnya” mungkin lantaran
bahwa yang ada dipikiran kita adalah:
1. Ketika sampah sudah dibuang dari luar rumah maka sudah selesai.
2. Setelah sampah dibuang, kitapun bisa menghasilkan sampah baru.
Pola pikir yang seperti inilah yang seharusnya kita hilangkan dan jangan
ajarkan pada generasi yang akan datang. Haruslah kita sadari bahwa apa yang
terjadi setelah sampah dibuang dari rumah dan kemudian hilang dan bersih
8Andi Hamzah, “Penegakan Hukum Lingkungan”. (Jakarta: Sinar Grafika, 2008) hlm 30-36.

begitu saja hilang ditelan bumi? Apakah lahan untuk pembuangan sampah dari
rumah kita akan mencukupi? Itu saja baru dari rumah kita, belum rumah
lainnya, rumah satu desa, bahkan beberapa desa. Dan lahan untuk
pembuangan sampah akan habis pada waktunya. Gaya hidup dan pola pikir
kita mengenai sampah musti dibenahi dan dirubah. Jangan lagi menuliskan
“BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA” tetapi kurangilah sampah dan pikirkan
cara menghilangkan sampah tersebut. Perubahan kecil dalam gaya hidup inilah
saya yakin bahwa akan memberikan dampak yang signifikan bagi penanganan
masalah sampah dan pengelolaan sampah disekitar kita.
DAFTAR PUSTAKA
Akib, Muhammad. 2014. Pergeseran Paradigma Penegakan Hukum
Lingkungan. Semarang: Jurnal Masalah-Masalah Hukum. Vol 43, no1 : 124.
Hamzah, Andi. 2008. Penegakan Hukum Lingkungan, Jakarta: Sinar
Grafika.
Handoyo, Eko. Aspek Hukum Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Semarang: Jurnla Pandecta. Vol3, no2, : 7.
Hardati, Puji. 2015. Pendidikan Konservasi, (Semarang: Magnum
Pustaka.
Ischak. 2001. Urbanisasi dan Dampaknya Terhadap Lingkungan.
Id.portalgaruda.org, diakses pada 15 September 2017 pukul 11.03.
UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.

Koran “Media Indonesia” terbit pada Kamis, 31 Agustus 2017.
Pada kolom humaniora halaman 24

Dokumen yang terkait

Dokumen baru